Attention: Where is JOAH the series?

Hallo… Long time no see
Yah… walaupun gag ada yang nyari ataupun penasaran, author tetap mau kasih tahu aja. Aku gag melarikan diri loh, cuma hiatus tanpa pemberitahuan.

By the way, bukan itu inti dari pengumuman ini. Lalu apa? Dimana postingan JOAH the series?

Tidak dihapus kok, hanya di-private. Alasannya, selama ini kan tuh dua FF hanya di-publish di sini. Nah… Skrng sudah mulai di-publish di WP lain. Biar ada yg mungkin ngintip sedikit doang, syukur kalau ada yg baca. JOAH yg di-publish di WP lain itu sudah di-upgrade dikit loh. Kalau penasaran, monggo mampir ke tuh WP lain.

Cukup sekian pengumuman aneh ini.
Bye… Pyong

WP lain: saykoreanfanfiction.wordpress.com

Advertisements

JOAH -Strange Girl “Chapter Ten”

Tags

,

Strange Girl copy

|| Chapter One || Chapter Two|| Chapter Three || Chapter Four ||Chapter Five || Chapter Six || Chapter Seven || Chapter Eight || Chapter Nine ||

JOAH –Strange Girl “Chapter Ten

Minhye dan Minho memilih untuk membisu sejak mereka memasuki mobil dan melaju di jalanan. Minho sibuk dengan jari-jarinya yang mengetuk-ngetuk setir sembari sesekali melirik Minhye yang tampak masam. Minhye menyadarinya. Dia mulai merasa risih oleh tatapan itu dan memalingkan wajahnya ke luar jendela. Dia mulai tak sabar. Decit rem yang sesungguhnya tidak begitu memekakkan telinga seolah menjadi aba-aba bagi salah satu diantara mereka untuk membuka mulut.

“Minhye-ya… maksud Oppa–.”

Potong Minhye, “Pintunya terkunci, aku mau turun.”

“Minhye-ya dengarkan dulu,” mohon Minho.

“Pintunya, tolong!” eja Minhye.

“Baiklah.” Pada akhirnya Minho mengalah. Dia menekan tombol unlock enggan. “Kamu akan menuruti kata Oppa kan?” Continue reading

SECRET

Tags

 

Secret

SECRET

Aku memang punya perasaan yang tidak enak saat dia menjemputku. Dia biasanya akan menjemputku kalau kita memang memiliki janji jauh-jauh hari. Dia tidak akan muncul di depan rumahku jika bukan aku yang memintanya. Dia tidak akan berada di depan pintu rumahku jika hanya untuk mengajakku keluar bermain-main.

Tetapi kali ini lain. Dia memberi tahu kedatangannya tepat setelah dia ada di depan pintu rumah. Bahkan hari ini dialah yang pertama kali menghubungiku. Dia yang biasanya tidak sudi menungguku untuk sekedar menyisir rambut, kini bersedia menunggu bahkan untuk waktu yang lebih lama. Dia yang tidak pernah berinisiatif untuk mengajakku keluar, kini memaksaku untuk ikut dengannya.

“Minumlah!” perintahnya dengan lembut namun terdengar acuh tak acuh. Continue reading

Without You…

Tags

Withou you

Dia berdandan dengan cantik hari ini. Sangat cantik. Tidak ada yang harus dirayakan, dia hanya ingin tampil maksimal hari ini. Sebenarnya, dia ada janji dengan seseorang yang istimewa di hati. Janji yang biasa saja, janji yang biasa seperti sebelum-sebelumnya. Jadi, hal itu tidak bisa juga dijadikan alasan untuknya harus terlihat “sangat cantik” hari ini.

Ingin rasanya dia memuji diri sendiri, memuji bayangannya di cermin itu. Rambut hitam ikal yang tertata rapi, pipi yang merona merah, bibir yang semerah ceri, hingga mata yang berkilau bak permata. Dia memang sangat cantik hari ini. Bahkan tanpa menaburkan sedikit pun bedak ataupun memoleskan pemerah bibir. Dia merasa heran sendiri.

Dia tersipu sendiri. Malu karena mengagumi kecantikannya sendiri. Dia mendesis dan mengomel. Dia memang tidak tahu diri. Narsis atau apalah istilah yang lebih tepat. Masih sembari menggeleng-geleng kecil, Dia mengambil jepitan rambut pada sebuah kotak kaca kecil. Jepitan itu terbuat dari perak dengan hiasan menyerupai bunga sakura putih. Pada kelima kelopak sakura itu terdapat masing-masing satu buah manik yang berkilau. Dia menyematkannya di rambut. Sangat cocok untuknya, sangat cantik.

***

Pemuda itu terkejut setengah mati. Dia tersenyum canggung dan salah tingkah. Lidahnya kelu, tak tahu harus mengatakan apa. Haruskah memulai dengan “Hai” atau “Halo”. Tidak ada yang berbeda dengan makna kedua kata itu. Tetapi menurutnya, dia tetap harus memilih sapaan yang tepat.

“Lama tak berjumpa, Kyuhyun Oppa,” sapa gadis itu terlebih dahulu. Continue reading

Le Obsédé -Skenario

le obsede

Korbanku terus berlari dan sesekali menoleh ke belakang. Tak jarang dia akan tersungkur karena tersandung kakinya sendiri. Tanpa membuang waktu dia akan kembali berdiri. Kemudian berlari lagi walaupun dengan sebelah kaki yang terseret-seret.

Senang melihatnya ketakutan seperti itu. Puas melihat wajahnya yang memerah dan berurai airmata. Teriakkannya bagaikan musik klasik karangan musisi-musisi terkenal, Bethoven contohnya. Walaupun sejujurnya aku lebih suka musik ber-genre pop. Namun sama dengan musik klasik, teriakkan meminta tolong dan rintihan putus asa itu menenangkan hatiku.

Aku masih mengawasinya. Dan dia masih terus berlari tak tentu arah. Bahkan hanya berputar-putar saja. Aku memang tepat memilih tempat ini. Seisi bangunan terlihat sama. Banyak sekali pintu dan lorong yang akan membuat siapapun kebingungan. Mirip seperti labirin. Tetapi bukan labirin, hanya sebuah bangunan tua zaman penjajahan dulu.

Rupanya sudah waktunya. Bosan juga melihatnya terus hidup. Dia juga sepertinya telah menyerah. Jadi, aku akan menerimanya. Mengakhiri siksaan fisik yang tak seberapa. Aku yakin, dia lebih menderita secara batin. Akupun tak ingin ada di tempat asing yang mengerikan dan dibayang-bayangi aura pembunuh berdarah dingin. Tak pernah ingin.

Keadaan ruangan yang hampir tanpa penerangan membuatku aksiku semakin mengagumkan. Jika aku berada dalam posisi korban, aku juga pasti akan sangat ketakutan melihat sosok hitam yang mencurigakan mendekat. Tentu saja aku akan berpikir bahwa ternyata sudah waktunya Si Pembunuh menghabisi nyawaku. Membayangkan atau lebih tepatnya menebak pikiran korbanku ini membuatku sangat bersemangat, hampir berjingkrak-jingkrak.

“Siapa di sana? Apa maumu? Apa yang kau lakukan padaku?”

Aku sempat terkesima. Mendengarnya berbicara dengan normal, bukan berteriak memaki atau menjerit minta tolong seperti sebelumnya, membuatku ingin berlari dan memeluknya dengan erat hingga dia merasa sesak. Bahkan aku juga terbayang untuk menggoreskan ujung pisau yang aku pegang di dahinya. Menulis namaku di sana. Oh Tuhan, pekikku dalam hati. Ide yang cemerlang.

“Hey… kau ada di sana ‘kan?” suaranya bergetar.

Tidak pernah terbersit di kepalaku rasa takut untuk mendekat. Dia tidak mungkin lebih kuat dariku, tidak akan mungkin untuk beberapa jam ke depan. Aku tidak mungkin melakukan semua ini tanpa persiapan matang. Setelah mendapatkannya dengan paksa kemarin, tak lupa memberinya sedikit obat yang akan membuatnya tak bertenaga. Melemaskan ototnya.

“Ruby?” tanyanya tiba-tiba.

Aku melangkah menuju sisi yang sedikit lebih terang. “Hai,” sapaku kikuk.

“Kamu… emm.”

Aku tersenyum miris. Dia tidak mengenalku. Aku memang tidak terkenal di kampus. Tapi setidaknya dia seharusnya merasa pernah melihatku. Kita memiliki sekitar empat kelas yang sama pada semester ini. jahatnya, pikirku.

“Aku Niken,” ucapku ragu.

“Ah… iya, aku tahu kau.” Dia melirik pisau yang aku genggam di sisi tubuhku. “Jadi, ini ulahmu?”

“Ya… begitulah,” jawabku girang.

“Apa maumu?” Lidahnya masih kaku rupanya.

Pardon?”

Dia terlihat berpikir. “Apa yang bisa aku lakukan untukmu agar kau melepaskanku?”

Aku mendekatinya dengan cepat. Wajahku tepat berada di depan hidungnya. “Jadilah pacarku!” Continue reading