anime-couple-ao-haru-ride-kou-manga-favim-com-3225169

Tiit..tit…tit..tiit…

Aku selalu berharap dia akan selalu ada bersamaku. Aku selalu memohon agar dia tak pernah meninggalkanku. Aku ingin dia, yang aku inginkan hanya dia. Dia seorang, hanya dia. Aku tidak butuh pangeran tampan nan baik hati dan sempurna. Aku sama sekali tak ingin pewaris utama sebuah perusahan multinasional yang memperlakukanku bak ratu sejagad.

Aku hanya inginkan dia. Dia yang sekarang. Dia yang apa adanya. Dia yang menerima segala kekuranganku. Dia yang melengkapiku. Dia yang memperlakukanku bak porselen yang rapuh. Dia yang mengerti diriku, memahami setiap inci perasaanku. Dia. Aku hanya inginkan dia dengan segala keegoisan ini.

“Apa yang kamu  pikirkan, Dear?”

Aku tersenyum, “Kamu.”

“Aku?” Dia menatapku dengan mata teduhnya. “Mengapa aku?”

Tiit..tit…tit..tiit…

“Aku tidak tahu,” gelengku kecil. “Aku tidak bisa memilih. Otakku bekerja dengan sendirinya.”

Dia terkekeh, “Sebegitu memikatnyakan aku sehingga selalu memenuhi pikiranmu? Sehebat itukah aku?”

Aku berpikir sejenak, kemudian mengangguk kencang. “Aku tak ingin mengenyahkanmu dari dalam otakku.”

“Mengapa?”

“Karena…,” aku terdiam sejenak. Kerongkonganku tiba-tiba tercekat.

Tiit..tit…tit..tiit…

“Mengapa, Dear? Katakan saja, tidak apa-apa.”

Aku memandanganya lekat-lekat. “Karena…,” senyumku merekah. Lanjutku, “…aku tidak ingin menangis.”

Senyum di wajah dengan mata teduh yang selalu memandangku dengan tatapan yang tak dapat kuartikan itu melebur dalam hitungan detik. “Maafkan aku.”

“Hentikan! Bukan salahmu,” pekikku kecil. “Aku senang, sangat bahagia. Aku selalu bahagia hanya dengan memikirkanmu. Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir. Aku mulai terbiasa seperti ini.”

“Maafkan aku, Dear. Aku berjanji, suatu hari nanti… suatu hari nanti, aku akan terbangun dari tidur panjangku dan berlari ke arahmu kemudian memelukmu dengan erat. Aku akan berada di dekatmu selalu. Menggenggam tanganmu. Membisikkan kata cinta padamu setiap detiknya.” Dia terdiam sejenak. “Aku berjanji…,” tambahnya. “…untuk selalu ada di sisimu. Meminjamkan bahuku padamu saat kamu ingin menangis.”

Tiit..tit…tit..tiit…

“Aku tahu,” jawabku singkat sambil tersenyum dengan lebar. “Aku tahu, suatu hari nanti kamu akan memelukku dengan sangat erat. Aku tahu.”

Tiit..tit…tit..tiit…

-FIN-