Tags

,


Strange Girl copy

|| Chapter One || Chapter Two|| Chapter Three || Chapter Four ||Chapter Five || Chapter Six || Chapter Seven || Chapter Eight || Chapter Nine ||

JOAH –Strange Girl “Chapter Ten

Minhye dan Minho memilih untuk membisu sejak mereka memasuki mobil dan melaju di jalanan. Minho sibuk dengan jari-jarinya yang mengetuk-ngetuk setir sembari sesekali melirik Minhye yang tampak masam. Minhye menyadarinya. Dia mulai merasa risih oleh tatapan itu dan memalingkan wajahnya ke luar jendela. Dia mulai tak sabar. Decit rem yang sesungguhnya tidak begitu memekakkan telinga seolah menjadi aba-aba bagi salah satu diantara mereka untuk membuka mulut.

“Minhye-ya… maksud Oppa–.”

Potong Minhye, “Pintunya terkunci, aku mau turun.”

“Minhye-ya dengarkan dulu,” mohon Minho.

“Pintunya, tolong!” eja Minhye.

“Baiklah.” Pada akhirnya Minho mengalah. Dia menekan tombol unlock enggan. “Kamu akan menuruti kata Oppa kan?”

Minhye mendesis, “Aneh. Tidak masuk akal.”

“Minhye-ya!”

Minhye tak indahkan panggilan Minho. Dia terus berjalan menuju gerbang berwarna merah bata. Menekan beberapa digit angka pada panel keamanan. Tak lupa membanting gerbang itu pelan seolah ingin menjelaskan lagi pada Minho bahwa dirinya tengah marah. Dia tidak akan mau mendengarkan Minho lagi.  Mungkin, setidaknya untuk saat ini.

-Chapter Ten-

“Minhye-ya!” panggil Kyuhyun dengan nada menggoda. “Mwohaeyo?”

Minhye menurunkan buku tebal yang tengah dia baca. “Tidak lihat?”

Kyuhyun menautkan alisnya. “Judes sekali.”

“Memang biasanya begini ‘kan?” Minhye kembali mengangkat buku itu dan menutupi wajahnya.

“Betul juga sih,” kekeh Kyuhyun. “Bagaimana hubunganmu dengan Minho?”

“Bagaimana apanya?” jawab Minhye acuh tak acuh. Masih menenggelamkan wajahnya dalam buku.

“Ya, bagaimana… sudah sampai mana? Berjalan seperti apa? Kamu tidak mungkin merahasiakannya dari Oppa ‘kan? Ayolah…. saatnya bercerita!”

“Aku tak mengerti maksud Oppa.”

Kyuhyun memutar bola matanya. “Kamu ini, makin hari makin bodoh saja.”

Minhye mendesis, “Begitupun Oppa.”

Mwo?” Kyuhyun berang. “Baiklah…. aku akan bertanya dengan pelan. Kamu dan Minho pacaran. Jadi, bagaimana rasanya? Senang sekali? Bangga? Sombong?” Kyuhyun menekan-nekankan telunjuknya pada pundak Minhye. “Ayo… saatnya pamer. Biasanya juga begitu.”

Minhye menghela napas berat di balik bukunya. Kyuhyun tidak mungkin tahu. Kalau sampai Kyuhyun tahu, deretan pertanyaannya akan semakin panjang. Minhye memejamkan matanya. Kemudian menarik napas dan menghembuskannya dengan perlahan. Berelaksasi, mencoba untuk tenang.

“Siapa yang pacaran?” tanya Minhye balik.

Rahang bawah Kyuhyun hampir menyentuh tanah. “Anak ini.”

“Apa? Ada yang salah?”

Kyuhyun gemas ingin menjitak kepala Minhye. “Kamu bertengkar dengan Minho, eoh?”

“Tidak,” Minhye kembali mengangkat buku itu menutup wajahnya.

“Yak…,” Kyuhyun merampas buku yang dibaca Minhye. “Katakan pada Oppa, kamu bertengkar dengan Minho?”

Minhye mendengus, “Tidak, Oppa-ku sayang.”

“Lalu, kenapa kamu tidak mau mengakui kalau kamu dan Minho PACARAN sekarang.”

Minhye memutar bola matanya. “Siapa juga yang–.”

Potong Kyuhyun, “Kalian TIDAK pacaran?”

Minhye diam. Tidak memberikan jawaban ataupun sedikit petunjuk untuk Kyuhyun tebak sendiri.

“Hey… ini tidak lucu. Kalian? Ya Tuhan.” Kyuhyun geleng-geleng kepala. “Apa maunya Choi Minho itu, ha? Kenapa dia…?”kehabisan kata-kata. “Atau jangan-jangan kamu yang….”

“Apa?” tantang Minhye. “Aku apa?”

Wajah kesal Kyuhyun luntur. “A…a…a… jadi kamulah masalahnya.”

Minhye menautkan alisnya. “Aku? Kenapa aku?”

“Mana aku tahu!” Kyuhyun menaikkan kedua pundaknya. “Bukannya kamu sendiri yang lebih tahu? Tetapi, Oppa tersayangmu ini bisa menebak.”

“Apa?”

Sejak awal Kyuhyun memang ingin menggoda Minhye. Walaupun skenario sebelumnya gagal total, menurutnya skenario dadakan ini akan lebih fantastis. Dia tersenyum jahil, menaik-turunkan alisnya bergantian.  Tingkahnya berhasil membuat Minhye berdecak.

“APA!!!” bentak Minhye.

“Menurut penerawanganku,” Kyuhyun berlagak bak ahli nujum. “Katakan pada pemuda pertama bahwa kamu menyukai pemuda kedua melebihi pemuda pertama. Jangan ragu saat mendekati pemuda kedua. Kalian cocok, sangat cocok. Pemuda kedua tidak akan bertingkah pengecut seperti pemuda pertama. Dia tidak akan pernah menggelengkan kepalanya untukmu. Pemuda kedua patuh seperti budak di hadapanmu.”

Minhye melongo. “Oppa mabuk?”

-Chapter Ten-

Minhye menyandarkan kepalanya pada jendela bus. Matanya menerawang ke luar jendela. Tidak ada senyum di wajahnya. Selang beberapa menit, dia akan menghela napas. Orang yang melihatnya pasti beranggapan bahwa dia sedang sangat kesusahan, terlalu banyak pikiran. Memang begitu keadaannya.

Decit rem bus menyadarkan Minhye dari lamunan. Dia segera berdiri dari tempat duduknya begitu mengenal pemandangan di luar bus. Dia sudah sampai di tempat tujuan. Begitu kakinya menapak pada trotoar, angin dingin berhembus. Selain membawa hawa dingin yang menusuk tulang, angin kencang itu juga membawa suara teriakan-teriakan histeris dari ujung jalan.

Minhye berlari kecil untuk menyebunyikan keantusiasannya, walaupun tampaknya tak berhasil. Masih dalam keadaan berlari kecil, Minhye memasang topi dan juga masker yang dia bawa dari rumah. Tanpa dia sadari, penampilannya yang serba hitam mengundang curiga orang lain. Akibatnya, dia hampir dikeluarkan dari barisan yang mengantri masuk ke dalam sebuah toko sekaligus kafe yang tengah naik daun di Gangnam. Beruntung sebuah kartu identitas menyelamatkannya.

-Chapter Ten-

Kyungsoo melirik Minseok yang berada di ujung meja yang berlawanan dengannya. Jongdae dan Junmyeon tak acuhkan mereka berdua. Tetapi sepertinya Minseok tak ambil pusing karena dia mendapatkan kesibukan sendiri. Kyungsoo mendengus kesal, tak ada teman untuk diajak bicara. Dinding abal-abal di sebelah kirinya seolah mengukungnya. Dalam hati, dia menyalahkan pihak penyelenggara yang memberikan sekat-sekat dan membagi mereka menjadi empat orang dalam satu bilik. Untuk pertama kalinya sejak dia mengenal Chanyeol dan Baekhyun, dia ingin sekali bersama mereka.

“Kyungsoo-ssi!”

Kyungsoo tak kunjung menyahut. Entah kemana jiwanya melayang. Tangannya yang menopang dagu dan pandangnya yang kosong, jelas pertanda bahwa tak ada penunggu jasadnya itu. Alih-alih pemilik nama yang menoleh karena telah berkali-kali dipanggil, Jongdae-lah yang menggantikannya. Dia tersenyum malu akan tingkah rekannya itu. Senyumnya masil lebar saat menggoyang-goyangkan tubuh Kyungsoo sekencang mungkin.

“Kyungsoo-ya!” panggil Jieun, bukan orang yang sebelumnya memanggil, sambil membuat tepukan keras di depan wajah Kyungsoo. “Do Kyungsoo!” ulangnya lagi dengan nada seperti memanggil anak kecil untuk diminta tidur siang.

Kyungsoo mengerjapkan matanya sebanyak lima kali sebelum jiwanya kembali semuanya. “Ye?”

Jieun mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaketnya. “Still awake, eoh? Himnae!”

Mian,” Kyungsoo nyengir kuda. “Thank. Ada apa?”

“Ini vitamin, minumlah. Tadi kamu minta roti kan? Ini juga ada permen. Ada lagi?”

“Tidak… terima kasih? Banyak orang di luar?”

Jieun mengangguk, “Ini ada biskuit dan coklat, mau? Aku beli banyak.”

“Tidak ini saja, yang lain mungkin mau nanti.”

“Kamu baik-baik saja?”

Jongdae menyambar, “Dia biaik-baik saja. Memang kelihatannya sedikit lesu, karena… eum… kamu tahulah. Ada jelly? Aku mau.”

“Karena apa?” Jieun tidak dapat menangkap umpan yang diberikan Jongdae. “Sesuatu yang buruk terjadi?”

Jongdae menyambar jelly yang disodorkan Jieun. “Sudahlah… kalian berdua sama saja. Percuma menjelaskan.” Dia mengecilkan suaranya, “Tidak siaran?”

“Sehabis ini aku pergi. Sebelum kalian selesai, aku sudah kembali,” Jieun balas berbisik.

“Chanyeol suka sekali yang itu,” celetuk Jongdae sambil lalu saat Jieun satu per satu mengecek makanan di dalam kantung plastik.

Jieun pura-pura tidak dengar. “Kyungsoo-ya, jangan melamun terus. Wrap up that blank face.

Ara!”

Kyungsoo kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri setelah Jieun pergi dan Jongdae sibuk mengobrol LAGI dengan orang lain tentunya selain dia. Lagu-lagu favoritnya terputar tanpa tumpang tindih dalam benaknya. Menjadi musik latar yang mengiringi penggalan-penggalan ingatannya. Dia mendesah berat, menyerah karena tak menemukan satupun titik cahaya untuk masalahnya. Hatinya menjerit memintanya untuk setidaknya mencoba maju, sedangkan akal sehatnya menentang keras. Akal sehatnya berkata, tidak ada kesempatan. Dan dia menyetujui hal itu.

“Kyungsoo-ya, sudah mulai. Ayo, berhenti memasang wajah itu! Ganti! Cepat!” Jongdae menyikutnya.

Penggemar pertama yang meminta tanda tangan Kyungsoo menjerit-jerit hampir tak sadarkan diri. Penggemar kedua yang meminta tanda tangannya, menembakinya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang telah dia lakukan sejak dua hari yang lalu. Detik berganti menit, menit berganti jam. Dari jumlah tanda tangan yang dia bubuhkan masih dapat dihitung dengan jari, hingga tak terhitung lagi. Jari-jemarinya keram, hampir mati rasa. Botol-botol air mineral kosong menggelinding di bawah meja. Ajaibnya, kesan ramah pada wajah Kyungsoo tak kunjung luntur.

Ireumi?” tanya Kyungsoo dengan suara yang masih normal, atau dipaksa normal. Tidak ada jawaban. “Annyeong haseyo,” sapanya ramah. Kepala agak dia tengadahkan agar dapat menatap fans-nya itu. “Hai.” Dia melambaikan tangannya. “Kyungsoo imnida,” godanya. Tetap tak ada respon.

Wae geurae?” bisik Jongdae. Fans yang tadi meminta tanda tangannya sudah pergi, dan dia menunggu fans operan dari Kyungsoo. Tetapi fans itu malah berdiri diam, mematung.

Molla,” balas Kyungsoo. Bingung dan merasa aneh. Dia pun memutuskan memberikan tanda tangannya saja tanpa pesan apalagi ditujukan untuk siapa. “Ini. Tetap dukung EXO, eoh?”

Fans yang berbaju serba hitam itu tidak menjawab apa-apa. Dia tidak bergeser ke sisi kirinya, tidak juga mengambil foto yang telah ditandatangani Kyungsoo, melainkan memutar badan dan pergi begitu saja. Jongdae, Minseok dan Junmyeon terkena serangan jantung ringan seketika. Mulut mereka terbuka seperti orang tolol.

Jongdae mendekatkan kepalanya perlahan mendekati Kyungsoo. “Nugu?”

“Kenapa bertanya padaku? Mana aku tahu?” balasnya sewot. “Seandainya pun dia tidak pakai masker, mana aku tahu.”

Hyeong,” didekatinya Junmyeon. “Tadi itu Minhye kan? Posturnya mirip Minhye. Benar tidak?”

Junmyeon mendelik, “Kim Jongdae, syuuut.”

-Chapter Ten-

Lorong-lorong dan juga lift di gedung agensi artis nomor satu di Korea Selatan itu terlihat lengang, hampir tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya sesekali terdengar dentuman musik bercampur samar-samar pekik nyaring seseorang yang berlatih vokal dari ruang-ruang latihan. Di lantai yang lebih bawah, ruang-ruang rapat penuh sesak. Staf-staf dengan jabatan yang lebih rendah berkumpul pada ruangan masing-masing guna mengevaluasi perkerjaan selama satu tahun terakhir.

Suara langkah kaki Sehun yang berlari di lorong memecah kesunyian, tidak ada satu orang pun yang terusik. Tentu saja. Sehun tidak memperlambat langkahnya sampai dia menemukan ruangan latihan dengan pintu yang tertempeli gambar bintang. Gambar bintang seadanya itu dicetak dengan printer biasa pada selembar kertas putih ukuran A4.

Sehun memasuki ruang latihan itu tanpa mengetuk pintu. “Hyeongdeul!” Mereka menoleh serempak. “Aku tahu… aku tahu!”

“Tahu apa?” tanya Luhan enggan. “Dari mana saja kamu? Kita tidak mulai-mulai latihan karenamu.”

Sehun sedikit membanting dirinya saat mengambil tempat duduk di lantai. “Aku ada berita heboh.” Tidak ada yang memberi tanggapan. Diapun melanjutkan, “Kemarin…setelah acara fans signing  di Gangnam, terjadi kasus heboh.”

“Apa?” Baekhyun sengaja bertanya agar Sehun merasa ceritanya menarik untuk didengarkan.

“Katanya…tadi aku tidak sengaja menguping,” Sehun menggaruk tengkuk. “Aku kebetulan lewat saat mau ke toilet. Coordi Noonadeul, ramai membicarakannya di ruang coordi dekat ujung lorong sana.”

Jongin berdecak, “Langsung saja ke inti BERITA.”

“Oke!” Sehun menegakkan punggungnya. “SEORANG FANS TERTANGKAP BASAH.” Dia membusungkan dadanya bangga.

“Tertangkap basah APA?” Jongin berang. “Kamu ini, yang jelas dong.”

“Aku tidak tahu apa,” jawab Sehun enteng. “…yang pasti, fans itu dalam masalah. Katanya, rekaman CCTV akan menjadi bukti yang memberatkannya. Dia akan dituntut. Noonadeul bilang, gadis fans itu memang mencurigakan sejak awal. Pakaiannya serba hitam, pakai masker  dan topi, tidak banyak bicara, tingkahnya mencurigakan. Celingukan kesana-kemari. Selalu sembunyi di belakang fans lain. Menghindari tatapan security. Pokoknya begitulah, mencurigakan.”

“Kamu ini cerita apa sih? Yang lengkap dan jelas, jangan cuma potongan-potongan saja,” Tao berusaha meluapkan kekesalannya dengan kemampuan bahasanya yang terbatas. “Sudahlah, kita mulai latihan saja.”

“Yak… aku menceritakan semua yang kudengar. Semua itu yang aku dengar, memang cuma sepenggal-sepenggal saja. Bisakah kalian tertarik saja sedikit. Ayolah!” rengeknya.

“Sudahlah, latihan Oh Sehun,” bujuk Kyungsoo. “Ayo, bangun! Bangun!”

Sehun menuruti perkataan Kyungsoo dengan setengah hati. Luhan membantu Kyungsoo membujuk Sehun agar segera bergerak. Dalam hati, Luhan tertawa terbahak-bahak melihat wajah Sehun yang tertekuk menahan sebal. Dia dan Kyungsoo terus berusaha menenangkan adik kecil mereka itu.

Hyeong!” Jongdae mendekati Junmyeon.

“Apa?”

Fans yang dimaksud Sehun, gadis aneh kemarin kan? Yang lari setelah mendapat tanda tangan Kyungsoo. Hyeong ingat?”

“Dia tidak MENDAPAT TANDA TANGAN KYUNGSOO,” perjelas Junmyeon. “Mungkin saja, kita tidak tahu. Lagian, bukan urusan kita kan? Manajemen yang akan mengurus.”

Jongdae berdecak kesal. “Hyeong!” rengeknya. “Minhye,” bisiknya. “Hanya orang tolol yang tidak tahu kalau dia selalu nongol di acara fans signing kita. Serba hitam. Hampir selalu diam. Nama selalu berbeda. Ayolah Hyeong. Minhye, Hyeong. Minhye. Choi Minhye.”

“Kamu tahu?” Lama bagi Junmyeon untuk memahami celoteh Jongdae.

“Sudah aku bilang…hanya orang yang terlampau polos saja –aku menghaluskan istilahku–yang tidak mengenalinya. Aku tidak termasuk di dalamnya. Dia pasti ada dimanapun ada fans signing kita, pasti. Aku mengenalinya dalam sekali lihat. Hyeong juga menyadari itu kan?”

Aish… bocah itu. Masalah apa lagi sekarang?”

-Chapter Ten-

Gamsahamnida. Annyeong haseyo,” Minhye bertingkah sesopan mungkin sampai pintu di hadapannya tertutup rapat dan orang yang ada di dalam sana tidak melihatnya. Begitu kedua hal itu terwujud, ekspresi wajahnya berubah. Senyuman abadi andalannya menghilang dalam jentikan jari.

“Minhye-ya,”  sapa lembut pemuda yang usianya lima tahun lebih tua dari Minhye itu. “Apa yang kamu lakukan di sini? Menjaga pintu?”

Minhye mengerjap-ngerjapkan matanya, Minseok melakukan hal sama sembari tersenyum menggoda. Sebal karena Minseok menirunya, Minhye cemberut. Bibirnya mengerucut dan dia memaksa matanya untuk melotot dengan garang. Minseok mengambil kesempatan itu lagi untuk menggoda Minhye. Sama seperti sebelumnya, dia menirukan setiap gerak-gerik Minhye.

“Umin-ge!”

Minseok tertawa terbahak. “Lama tidak jumpa.”

Oppa merindukanku?” tanya Minhye manja.

Minseok pura-pura berpikir, “Eum… sedikit.”

Mwoya?”

Di belakang Minseok, Junmyeon setengah berlari menghampiri. “Hyeong, aku mencarimu dari tadi.” Dia berpaling pada Minhye, “Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Maksud Oppa?” tanya Minhye balik. “Aku tidak boleh datang ke SM tercinta ini?”

“Kita bicarakan nanti, jangan di sini,” ucapnya serius.

Oppa ini kenapa sih? Memangnya kenapa kalau di sini? Tidak ada orang, hanya kita berdua.”

Junmyeon meraih lengan Minhye. “Kita ke ruang latihan saja.”

“Memangnya ada hal serius apa?” Minseok yang merasa tidak diikutsertakan dalam perbicaraan angkat bicara. “Hey kalian… aku ada di sini.” Dia segera menyusul dua anak manusia yang mengabaikan keberadaannya itu.

-Chapter Ten-

“Kyungsoo-ya!” Kyungsoo tidak menyahut, apalagi sekedar menoleh. “Kyuuungsoo-ya.” Dia tetap tak terusik. “Kyungsoo-yaaa! Kyuuungsoo-yaaa! Kyuuuungsooo-ya! Dyo-ya! Dyooo-ya!”

“Hentikan!” ucapnya geram.

“Dyyyyoooooo-yaaaaa!” Chanyeol makin menjadi.

“Hentikan, kataku,” larangnya, masih dengan nada datar dan tanpa menatap manusia yang menggangunya itu.

“Dooooo Kyuuuungsoo!”

Dia menoleh ke arah Chanyeol. “HENTIKAN!”

Chanyeol cengar-cengir dan segera mengganti korban kejailannya. Kyungsoo geleng-geleng kepala dengan rasa lega yang tidak perlu dibanggakan. Saat dia lengah, Chanyeol pasti akan kembali padanya. Mungkin akan memboyong Baekhyun dan juga Jongdae untuk MENYERANGNYA. Dia memang perlu diberi penghargaan atas kesabaran tingkat dewanya menghadapi The Three Beagles itu.

Suara pintu yang dibuka dengan kasar berhasil menarik perhatian Kyungsoo sepenuhnya. Alisnya menyatu saat mendapati Junmyeon menarik paksa Minhye masuk ruang latihan dengan Minseok membuntuti di belakang. Dia mencium ada sesuatu yang tidak beres.

“Junmyeon Hyeong… Minhye-ya… ada apa ini?” Jongin seolah mewakili semua yang merasakan atmosfer panas antara Minhye dan Junmyeon. “Apa yang terjadi?”

“Kemana kamu kemarin?” Junmyeon mulai menyerang Minhye tanpa memedulikan Jongin apalagi yang lain. “Jawab yang jujur, kemana kamu kemarin?”

Minhye mendesis, darahnya mendidih. Dia sama sekali tidak mengerti mengapa Junmyeon bertingkah aneh seperti itu. “Oppawhat going on?”

“Jawab saja pertanyaanku, jangan bertanya balik.”

“Apa perlu aku menceritakan semua kegiatanku kemarin?” Minhye merasa mendapat ilham tentang maksud dibalik sikap Junmyeon. “Aku ada jadwal kuliah pagi, jadi otomatis sejak jam 8 pagi aku sudah di Kampus sampai jam 10-an. Aku pulang. Kemudian keluar lagi sekitar jam 12 kurang….”

“Kemana?” Potong Junmyeon.

“Gangnam, wae?”

“Gangnam? Choi Minhye….,” Junmyeon kehabisan kata-kata.

“Memangnya kenapa?”

Junmyeon memelototinya. “Jangan pura-pura tidak tahu. Apa yang dikatakan mereka?”

“Mereka siapa?” Minhye bingung bukan kepalang.

“Tadi kamu dari ruang ITU kan? Apa yang mereka katakan?”

Minhye membekap mulutnya yang sempat terbuka lebar tanpa dia sadari. “Bagaimana Oppa tahu?”

“Tidak penting bagaimana aku tahu. Apa saja yang mereka katakan?”

“Tapi Oppa…,” Minhye melihat kanan-kiri kemudian mendekati wajah Junmyeon. “….aku tidak mau yang lain tahu. Bisa kita membahasnya berdua saja?”

“CHOI MINHYE!”

“JANGAN MEMBENTAKKU!” balas Minhye tak kalah kencang dari suara Junmyeon sebelumnya.

Junmyeon berusaha menahan diri. “Sebaiknya kamu pulang sekarang! Jangan kemari lagi bila perlu! Kamu itu…,” Junmyeon berusaha memilih kata-kata yang lebih halus. “…. masalah yang kamu buat lagi kali ini, sungguh… Kapan kamu akan…? Kamu ini selalu….” Junmyeon merasa sebaiknya dia tidak meluapkan semua rasa kesalnya. “Pulanglah!”

“AKU TIDAK MAU PULANG. AKU AKAN TERUS DI SINI, BILA PERLU SELAMANYA,” omel Minhye. “Oppa sama saja dengan Minho Oppa. Aku tidak pernah mau membuat masalah untuk orang lain. Aku tidak sengaja melakukannya. Oppa kira aku tidak punya OTAK untuk berpikir? Oppa kira aku tidak pernah mempertimbangkan segala sesuatu sebelum bertindak? AKU BUKAN ANAK KECIL LAGI.” Minhye menarik napas panjang. Lanjutnya, “Oppa tidak perlu bersekongkol dengan Minho Oppa.”

“Bersekongkol?” Junmyeon terheran-heran.

“Aku ke sini bukan karena aku yang mau, tapi CEO Ahjussi yang memintaku. Laporkan itu pada CHOI MINHO ITU.” Bahu Minhye turun-naik beraturan. “Aku heran, mengapa Oppa sepaham dengan CHOI MINHO ITU untuk membuatku jauh-jauh dari perusahaan. Ah… aku salah dari EXO, kalian semua. Atau jangan-jangan Oppa yang meminta Minho Oppa untuk menjauhkanku dari kalian semua,” ditatapnya Junmyeon dengan tajam. “Kalian benci padaku, eoh? Apa karena insiden foto dengan Kyungsoo? Iya, aku memang salah. Aku yang melakukannya. Aku yang secara sadar meng-upload-nya ke situs itu. Asal kalian semua tahu, aku tidak melakukannya untuk menyusahkan kalian semua. Aku tidak akan pernah melakukannya jika tahu bahwa hal itu bisa menyakiti Kyungsoo, kalian semua.”

“Minhye-ya,” Jongin berusaha menenangkannya.

Minhye mulai sesenggukan. “Aku pikir Oppadeul menyukaiku. Ternyata tidak. Aku hanya anak kecil yang menyusahkan.” Dipandanginya semua orang dalam ruangan itu dengan mata berkaca-kaca hingga berakhir pada Kyungsoo. “Mianhae… Kyungsoo-ya.

Tidak ada yang mencegah Minhye untuk keluar dari ruang latihan itu. Semua orang diam terpaku. Bingung. Heran. Merasa tolol. Junmyeon mengalami shock berat. Amarahnya yang semula meletup-letup, padam sudah. Kini berganti menjadi rasa bersalah. Selalu seperti itu.

“Kenapa Minhye keluar dari sini dengan wajah yang…. eum… tidak mengenakkan?” Sehun yang baru datang bersama Tao memecah kesunyian. “Hyeongdeul…. apa yang terjadi?”

Jongin menatap Junmyeon, menyalahkannya. “Hyeong tidak pernah belajar dari kesalahan sebelumnya, eoh?”

“Apa yang terjadi?” Tao ulang bertanya. “Jumyoen Hyeong membuat Minhye menangis lagi?”

Hyeong, apa yang kamu lakukan?” Kyungsoo angkat bicara. “Apa benar Hyeong dan Minho Hyeong melarang Minhye untuk bertemu kita semua?”

Junmyeon segera mengelak begitu tersadar dari lamunannya. “Anio… Aku bahkan tidak mengerti dengan ucapan Minhye tadi.”

Mwoya?” cibir Baekhyun. “Hyeong benar-benar melukai hati Minhye kali ini. Dia pasti tidak akan pernah lagi mau bertemu dengan kita-kita.”

“Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran Hyeong,” cerca Kyungsoo. “Hyeong membuatku terlihat buruk.”

Hyeong membuat KITA SEMUA terlihat jahat,” perjelas Jongin. “Seharusnya Hyeong memberinya selamat, bukan memarahinya. Dia mendapat tawaran untuk bergabung kembali dengan perusahaan. Aku rasa mereka baru selesai membicarakannya saat Hyeong menyeret Minhye ke mari.”

-Chapter Ten-

Tepat pukul 9 malam, bel rumah keluarga Cho berbunyi. Minhye menyeret-nyeret kakinya menuju pintu depan. Dia sedang sendiri di rumah. Jika Ibu Kyuhyun, bibinya, ada di rumah maka dia tidak perlu bersusah payah menyambut tamu yang tak tahu jam malam ini. Minhye mengintip dari interkom, dia tidak melihat apa-apa kecuali warna hitam. Dia memuji dirinya karena memutuskan untuk mengecek terlebih dahulu siapa tamu itu.

“Siapa di sana?” suara Minhye mengudara nyaring di sisi sebaliknya. “Halo? Mencari siapa?”

Ini aku, Minhye-ya. Lihat apa yang aku bawa!”

Minhye kembali melihat ke layar interkom. Kali ini dia melihat dua orang pemuda, yang satu lebih tinggi dari yang lain. Kedua pemuda itu memakai topi untuk menutupi wajah mereka. Pemuda yang lebih tinggi menunjukkan sebuah kantung plastik penuh ke depan kamera. Minhye memperhatikan tulisan yang ada di kantung plastik itu.

“Kamu mencoba menyogokku, eoh?”

Tentu saja tidak. Ini hanya hadiah untukmu. Ada dua kantung penuh. Semuanya baru saja terbit.”

Minhye berjingkrak kegirangan. “Berhenti menipuku. Aku bukan anak kecil yang akan termakan omongan manis murahanmu,” katanya judes.

Ayolah Choi Minhye. Seunghwan Hyeong sudah pergi dan akan kembali untuk menjemput satu jam lagi. Apa kamu tega membuat kita menunggu di luar? Lalu, harus aku apakan buku-buku ini? Apa aku buang saja?”

Minhye menggeleng-geleng kencang. “Jangan-jangan! Oke, masuklah.”

Butuh waktu sekitar lima menit berjalan dari gerbang menuju beranda rumah. Minhye sudah menunggu di depan pintu yang terbuka lebar sembari berkacak pinggang. Dia berdiri dengan bertumpu pada kakinya kirinya, sedangkan kaki kanan mengetuk-ngetuk lantai. Ketukkan itu seirama dengan detak jarum jam di dinding ruang tengah.

Minhye menuntun kedua tamunya menuju ruang tengah tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dia meminta mereka berdua untuk duduk hanya dengan isyarat saja. Dia bahkan tidak menanyakan jenis minuman yang diinginkan Sang Tamu.

“Hanya ada jus jeruk kemasan di kulkas dan juga biskuit ini.”

Seolah mendapat izin untuk berbicara, Jongin –pemuda yang lebih tinggi– angkat bicara. “Gomawo. Cho Ahjumma di mana? Kyuhyun Hyeong?”

“Cho Eomma  mungkin dalam perjalanan pulang, Appa keluar kota lagi. Kyu Oppa, sudah pasti di dorm,” tutur Minhye datar. “Jadi, sebenarnya ada apa kalian kemari?” Cara Minhye bertanya mirip pejabat tingkat atas yang enggan menanggapi bawahannya yang hendak mencari muka. “Kalian tahu jam berapa ini kan?” Kedua tangannya terlipat di depan dada.

“Maaf mengganggu malam-malam. Memang bukan waktu yeng tepat untuk bertamu.” Akhirnya ada suara lain yang terdengar selain suara Jongin dan Minhye.

Minhye berdehem, kerongkongannya tiba-tiba kering kerontang. “Eum… tidak apa-apa, asal ada tujuan yang jelas,” nada suaranya tetap dipertahannya sejutek mungkin.

Suasana berubah menjadi kaku. Jongin juga heran pada dirinya sendiri karena merasa canggung. Dia tertular dua orang yang ada di sini kanan dan kirinya. Lehernya mulai terasa pegal karena berulang kali menoleh ke kanan kemudian ke kiri lalu ke kanan lagi. Terus berulang seperti itu. Pada akhirnya, sampai juga dia pada batas kesabarannya.

“Tunggu dulu,” dengus Jongin. “Hyoeng bilang akan mengurus semua dan aku hanya perlu menemani. Jadi, tunggu apa lagi?” Jongin bergidik, “Hyeong, jangan menatapku sepeti itu.”

Minhye menegakkan kepalanya yang sedari tadi tertunduk. “W…we…wae geurae?” tanya terbatas-bata.

Jeongmal mianhae.” Permintaan maaf ini terdengar seperti diucapakan sambil berkumur-kumur.

“K…k…k…ke…kenapa minta maaf?” Minhye menyesal telah membuka mulutnya, suaranya terdengar seperti orang menelan bola bekel.

“Kamu baik-baik saja ‘kan? Hyeong sangat keterlaluan waktu itu…. Sungguh, dia tidak bermaksud. Semuanya hanya kesalahpahaman.”

Minhye berdehem untuk kesekian kalinya, takut kalau suara akan terdengar seperti sebelumnya. “Eum…. Aku baik-baik saja. Tidak perlu mengkhawatirkanku.”

Jinja?”

N…n…ne…ne!” Tulang di kaki Minhye serasa melunak. Beruntung sekarang dia sedang duduk. “Gwaenchana. JEONGMAL.”

“Benarkah? Kamu yakin?”

Ne!”

Jinja?”

“AKU BAIK-BAIK SAJA, DO KYUNGSOO! BERHENTI BERTANYA-TANYA SEPERTI ITU. MENYEBALKAN, TAHU!?” Minhye berteriak sekuat tenaga.

Jongin yang menjadi penonton dan pendengar setia hanya bisa terkikik tertahan. Seumur hidupnya, tidak pernah dia mendapati adegan kekanak-kanakan seperti ini menarik untuk di simak. Dia bahkan tidak pernah melihat Minhye marah dengan cara seperti ini. Marah yang bukan karena dia merasa marah, tetapi marah untuk menyembunyikan rasa malu. Dia gemas ingin mencubit pip Minhye yang memerah seperti tomat.

“Lagian, apa peduli kalian?” Minhye mengangkat dagunya tinggi-tinggi. Sebenarnya dia berusaha untuk menyembunyikan wajahnya. “Maksudku, mengapa kalian yang ke sini? Seharusnya, KIM JUNMYEON ITU yang ke sini.”

“Itu…ppptt,” Jongin segera membungkam mulutnya sendiri. Dia tidak pernah terbiasa dengan cara Minhye menyebut nama orang yang membuatnya marah, terdengar kasar dan lucu dalam waktu yang sama. “Aku mau ke toilet dulu,” bohongnya tetapi terdengar meyakinkan karena suaranya yang menahan tawa itu mirip dengan suara orang yang benar-benar perlu ke toilet segera. Begitu juga ekspresi wajahnya.

Bola mata Minhye hendak melompat dari liangnya. Bukan karena ketidaksopanan Jongin , tetapi karena Jongin tega membuat dia hanya berdua saja dengan Kyungsoo. Padahal jelas-jelas hawa super buruk berputar-putar di sekitar mereka. Lama-lama dia bisa mati tercekik oleh gas beracun tak terdaftar yang bernama GAS KIKUK DAN CANGGUNG BUKAN MAIN.

“Eum… buku apa saja yang kalian beli?” Minhye menjulur-julurkan lehernya untuk mengintip ke dalam kantung plastik yang berada di dekat kaki Kyungsoo. “Jongin biasanya payah memilih.” Oh Tuhan… awkward sekali, pikir Minhye.

Kyungsoo tiba-tiba tersenyum sumringah. Dia menggeser kantung-kantung itu ke kaki Minhye. “Hampir saja lupa, padahal ini semua untukmu. Semoga suka. Aku sudah browsing sana-sini sebelum membeli. Katanya, semuanya recommended. Jongin bilang, mungkin kamu belum punya semua.”

Really?” mata Minhye berbinar-binar. “Gomawo, Kyungsoo-ya.” Minhye mulai hanyut dalam dunianya sendiri begitu menyentuh dan mencium aroma buku-buku baru nan fresh itu. “Oh my God, aku sangat suka yang ini. Aku memang berencana membelinya, tapi uangnya belum terkumpul,” dia tertawa kecil. “Wuah… Kyungsoo-ku memang jjang! Selalu.”

“Ah…. ne,” Kyungsoo berusaha untuk tidak terdengar girang.

“Oh ya….” Minhye memutuskan untuk menjadi tuan rumah yang baik, bukan mengabaikan tamunya begitu saja. “Oo!” Dia segera mengurungkan niatnya setelah tanpa sengaja melihat tepat ke mata Kyungsoo. “Eum… Gomawo,” ulangnya. Padahal bukan hal itu yang ingin dia ucapkan.

“Jangan berterima kasih padaku. Semua ini dari Junmyeon Hyeong,” tutur Kyungsoo sambil menggesekkan kartu tak terlihat di udara. “Aku hanya membantu untuk menyampaikannya padamu. Hyeong sangat menyesal. Dia tidak bermaksud memarahimu. Dia uring-uringan terus sepanjang hari karena merasa sangat bersalah. Kami semua juga sama.” Kyungsoo terdiam sejenak. Jantungnya berdetak bertalu-talu dan hampir mengoyak dadanya. “Eum… Aku juga sangat menyesal. Hyeong marah padamu karena aku. Dia hanya sedang menjalankan tugasnya sebagai Hyeong untukku. Jadi, maafkan Junmyeon Hyeong. Jebal.”

Minhye mengerjap matanya beberapa kali sembari menggigit bibir atas dan bawah bergantian. “Aku beri tahu ya? Sebenarnya aku tidak sudi memaafkan KIM JUNMYEON ITU. Eum…. jangan bilang siapa-siapa ya? Aku mau memaafkannya karenamu. Tetapi tidak sepenuhnya memaafkannya. KIM JUNMYEON ITU masih dalam masa percobaan. Dan… aku tidak marah padamu. Tidak pernah sama sekali. Mungkin malah yang terjadi adalah sebaliknya. Akulah yang seharusnya minta maaf padamu.” Minhye mengulurkan tangannya. “Mau memaafkanku, Kyungsoo-ya? Skor kosong-kosong.”

Kyungsoo tersenyum kecil. “Eum… impas.” Diraihkan tangan Minhye, mereka pun berjabat tangan.

Yeogsi, uri Kyungsoo.” Minhye memiringkan kepalanya. “Kamu tahu? Aku jadi semakin menyukaimu. Kyungsoo-ku memang baik hati.”

-Chapter Ten-

Siang ini tidak bisa dikatakan cerah. Bila ada yang berkata bahwa siang ini cerah maka orang tersebut perlu menemui psikiater. Tidak seperti orang-orang di sekitarnya, mendung di langit sama sekali tidak mempengaruhi Minhye. Dia punya matahari sendiri. Bahkan matahari itu tepat di atas kepalanya, mengikuti kemanapun dia pergi. Matahari itu tidak akan membakarnya.

Annyeng haseyo, Noona!” sapanya. “Siang yang cerah, bukan?”

Sebelah alis Jieun terangkat. Dilihatnya langit yang ada di atas kepalanya. “Cerah katamu?”

Minhye mengangguk antusias. “NeNoona mau ke mana?”

Jieun yang sudah merasa sedikit pusing sejak tadi, bertambah pusing mendengar ocehan Minhye. “Mau ke salon untuk membuat janji.”

“Semangat Noona-ku, gembiralah selalu seperti langit yang cerah. Himnae!”

Jieun baru akan membuka mulutnya untuk menyadarkan Minhye, tetapi gadis yang 2 tahun lebih muda darinya itu malah pergi begitu saja. Tak ada yang perlu bertanya tentang perasaan Minhye sekarang. Dia dengan jelas-jelas memamerkannya. Berjalan sambil berjingkrak-jingkrak. Nada-nada yang disenandungkannya begitu ceria. Siapa yang tidak akan iri dengannya.

Yeoboseyo?” Ponselnya menempel di telinga kiri. “Kyungsoo-ya, kamu masih di ruang latihan kan? Jangan kemana-mana sampai aku datang!” perintahnya.

Arasseo…sebentar lagi aku akan pergi. Jadi cepatlah!”

Minhye menghentikan langkahnya. “Mwo? Kemana?”

Aku ada shooting.”

“Oke… Tunggu aku lima menit lagi. Jangan pergi sebelum aku datang. Arasseo?”

Minhye tidak perlu mendengar jawaban dari Kyungsoo. Dia langsung mematikan sambungan telepon. Tidak lebih dari dua langkah dia berjalan, pintu di sebelahnya terbuka. Minhye acuh tak acuh dan berniat terus saja berjalan, bahkan dia terpikir untuk berlari agar segera dapat menemui Kyungsoo dan memberikan makanan yang dia buat sendiri. Namun seseorang menarik lengan kanannya kemudian menariknya kencang. Minhye sempat mengambil ancang-ancang untuk berteriak, tetapi mulutnya dibekap secepat tubuhnya di seret memasuki sebuah ruangan.

“Sssst… ini aku.”

Minhye menarik tangan yang menutup separuh wajahnya dengan tak sabar. “Oppa!” pekiknya nyaring. “Apa yang Oppa lakukan, eoh?”

“KEJUTAN!” teriak empat pemuda yang tiba-tiba muncul di belakang Minho. Dialah yang tadi seolah-olah menjadi penculik Minhye.

Mwoya?” Minhye tak tertarik sama sekali, balik kanan, kemudian berjalan menuju pintu. Tangannya tak jadi menyentuh gagang pintu tatkala merasakan ada yang mencengkram lengannya. “Wae geurae?” tanyanya acuh tak acuh dengan mata yang tertuju pada tangan yang menahannya.

“Mau ke mana? Kamu tidak merindukan Oppa?”

Wanjeon bogosipeul, Oppa-ya. Hajiman,” perlahan Minhye melepaskan cengkraman yang menahannya. “Aku ada janji dan harus di tempat dalam lima menit.”

“Minhye-ya.”

“Apa lagi?” Pipi Minhye memerah begitu menyadari –dengan sangat lamban–ada empat orang lainnya di ruangan itu yang menyaksikan adegan telenovelanya. “Oppa! Oppa membuatku malu, tahu!” Dia segera menghilang di balik pintu.

“Aish…!”

“Minho­-yatiming-nya kurang tepat.” Jinki berusaha menenangkan Minho. “Kamu dengar sendiri kalau dia ada janji.”

Minho membanting kotak berwarna merah yang sejak tadi dia sembunyikan di balik punggungnya. Dia sama sekali tidak berniat untuk meminta maaf. Dia lebih memilih pergi begitu saja, meninggal keempat rekannya mengelus dada dan tak henti-hentinya geleng kepala.

-Chapter Ten-

Minhye ingin sekali segera duduk. Tak penting empuk ataupun keras. Dia hanya ingin mengistirahatkan kakinya. Dia sudah menyusuri tiap ruang dan sudut di gedung SM, tetapi orang yang dia cari tak kunjung ditemukan. Setiap orang yang dia tanya tidak tahu pasti dimana orang yang dia cari berada. Kegiatan mencari orang yang tak jelas di mana rimbanya memang menguras tenaga.

Omona, lelahnya. Huuh…,”keluhnya.

Rasanya lega tiada tara ketika akhirnya dia menemukan sofa panjang yang kosong. Minhye menghempaskan tubuhnya pelan pada sofa tersebut. Sepertinya dia akan bisa tidur nyenyak juga di sofa itu. Kenyaman yang didapati membuat Minhye tak ingin berhenti berbaring. Tanpa disadarinya, dia mulai menutup matanya perlahan.

“Sebaiknya jangan tidur di sini?” Kyungsoo yang entah datang dari mana tiba-tiba berdiri di dekat sofa tempat Minhye berbaring nyaman.

Mata Minhye terbuka dengan sangat cepat. “Ara!” katanya sambil tangannya menepuk-nepuk permukaan sofa di sebelahnya sebagai isyarat Kyungsoo untuk duduk.

“Sudah ketemu Minho Hyeong?”

Minhye menggeleng lesu. “Pesanku tidak dibalas. Telepon juga tidak diangkat. Dia pasti sangat sibuk. Dia tidak ada dimana-mana. Penat mencarinya. Apa mungkin dia sudah ke Jepang lagi?”

“Dia akan pergi begitu saja tanpa memberi tahumu?”

“Tentu saja tidak. Dia selalu berpamitan. Mungkin saja dia sangat sibuk kali ini. Apa mungkin….?” Minhye memutar badannya menghadap Kyungsoo. “…kemarin hanya imajinasiku? Maksudku, Minho Oppa sebenarnya belum kembali.”

Kyungsoo mencoba mengingat-ingat. “Kurasa, semalam aku juga melihatnya.”

“Kalau begitu, kenapa dia tidak terlihat dimana-mana? Dia tidak ada di rumahnya. Di dorm juga tidak ada siapa-siapa.”

“Sudah tanya Jinki Hyeong atau Taemin-goon?”

“Mereka sama saja, tidak bisa dihubungi. Semuanya lenyap ditelan bumi.” Tanpa permisi Minhye menyandarkan kepalanya begitu saja di bahu Kyungsoo. “Minho Oppa menyebalkan. Mereka semua menyebalkan,” gerutunya. “Kemana lagi aku harus mencari?”

Bak tersengat listrik, otot dan tulang di punggung Kyungsoo mengeras. Tidak dapat digerakkan sama sekali. “Eum…?”

Minhye menegakkan kepalanya kembali. “Aku menyerah! Terserah! Aku tidak peduli CHOI MINHO ITU berada di mana!” Kesalnya lenyap bersama hembusan napas. “Sesibuk apa sih sampai tidak bisa membalas pesanku? Kejam sekali,” keluhnya untuk kesekian kalinya. “Kyungsoo-ya?” Tidak ada jawaban. “Kyungsoo-ya? Jalja?”

Nde?! Eung… jam berapa sekarang?”

Minhye mengangkat pergelangan tangannya setinggi hidung. “Jam 1 lebih eum… 23 menit. Omona, aku belum makan siang!”

Jinja?”

Ne… Dari kampus, aku langsung ke sini. Naik-turun, berputar-putar, bertanya kesana-kemari. Tak terasa waktu makan siang lewat begitu saja.” Minhye melirik Kyungsoo dan tersenyum licik. “Jjajangmyeon meoggosipeun.”

Nde?” Kyungsoo tidak menangkap sinyal yang diberikan Minhye.

Jjajangmyeon meoggosipeun! Kamu tahu restoran cina sekitar sini yang enak?”

“Aaahh!”

Minhye terkekeh, “Kamu belum makan juga ‘kan? Jjangmyeon juseyo.”

Jjajangmyeon saja?”

Minhye mengangguk. “Thank Kyu. Yeogsi, uri Kyungsoo.”

-Chapter Ten-

Siapa yang tidak akan senang bukan kepalang jika mendapatkan makanan gratis. Apalagi jika bisa memilih makanan yang diinginkan, bahkan bisa menentukan porsinya. Orang kaya sekalipun akan sangat senang, tentu dalam level berbeda dengan orang biasa. Apa mungkin semua hal itu yang membuat Minhye sangat senang? Tentu saja tidak. Ucapan syukur karena mendapatkan makanan gratis hanyalah kedok.

Gomawoyeo,” ucap Minhye manja. “Enak juga ya kalau punya banyak uang.”

Kyungsoo mendengus sambil tertawa kecil. “Ani… banyak uang dari mana?”

Aigoo… Tuan Aktor pintar sekali ya.”

“Hentikan.”

“Baiklah saya mengerti, Aktor Do.”

“Hentikan!” gertak Kyungsoo acuh tak acuh. Dia segera menekan tombol kontrol lift di dinding agar Minhye tak melihat senyum tipisnya.

Arasseo,” Minhye mencebik. “Seandainya kita bisa makan di luar,” gumamnya.

Mworago?”

Minhye segera berpura-pura memperhatikan screen kecil yang berkedip-kedip menampilkan tanda panah menunjuk ke bawah. “Lift-nya lama juga ya?”

Ne!”

Minhye tertawa canggung sendirian. Tingkahnya itu jelas membuatnya terlihat semakin aneh. Dalam diam dia berharap pintu lift tiba-tiba terbuka, lalu sebuah portal menyedotnya, menerbangkannya jauh sekali ke dunia yang tak dia kenal. Hanya dia saja, tidak dengan Kyungsoo.

Ting! Pintu lift terbuka perlahan.

“Oh… Minho Oppa,” jerit Minhye kegirangan. “Akhirnya….”

Tanpa basa-basi, Minho menarik lengan Minhye seperti yang dia lakukan  terakhir kali. Minhye tetap saja tersenyum kegirangan tanpa tahu apa yang terjadi. Dia melambai-lambai dengan santai, meminta Kyungsoo untuk segera masuk ke dalam lift  itu juga. Tetapi, Kyungsoo tak bergerak sama sekali.

“Kyungsoo-ya, apa yang kamu lakukan? Kenapa diam saja?”

Tidak ada jawaban dari Kyungsoo. Dia hanya menatap lurus ke dalam lift. Entah kepada siapa, Minho atau Minhye. Minhye mendesis kesal. Dia mencoba untuk menarik Kyungsoo masuk, tetapi cengkraman di pergelangan tangannya mengerat. Dia memekik kecil, kesakitan.

Minho tak menggubris pelototan Minhye. Lengannya yang panjang terulur ke arah panel kontrol di sebelah kirinya. Dia tidak berhenti menekan salah satu tombol kontrol itu sampai pintu lift benar-benar tertutup. Meskipun begitu, genggamannya pada pergelangan tangan Minhye tak mengendur.

Oppa… Kyungsoo… kita mau kemana? Kyungsoo…”

Minho tetap diam seribu bahasa. Pintu lift kembali terbuka begitu mencapai baseman. Rengekan Minhye makin menjadi karena Minho kembali memaksanya untuk ikut.

Oppa, sakit. Lepaskan!”

“Masuklah!” perintah Minho dengan dingin.

Mau tak mau, Minhye masuk juga ke dalam mobil. Minho membukakan sekaligus menutupkan pintu mobil itu untuknya. Minhye berencana kabur saat Minho lengah, tetapi gagal. Minho berhasil meraih kembali lengannya, lalu menariknya agar kembali duduk. Dia juga menutup pintu mobil kembali dari dalam, tak lupa menguncinya.

Oppa, ini namanya penculikan!” cerca Minhye.

“Pakai sabuk pengamanmu.”

Minhye menghentak-hentakkan kakinya. “Oppa ini mengganggu saja. Kyungsoo meneraktirku jjajangmyeon. Aku belum sempat memakannya. Kyungsoo pasti masih bingung karena Oppa menculikku seperti ini tanpa bilang apa-apa. Bagaimana kalau Kyungsoo masih menunggu di depan lift seperti orang bodoh? Oppa tahu sendiri kalau Kyungsoo itu….”

“DIAM!”

Minhye terkejut setengah mati. Wajahnya cemberut, “Buka pintunya!” Suaranya tertahan di kerongkongan. “BUKA PINTUNYA!” Dia berusaha membuka pintu tetapi terkunci. “Buka pintunya! Buka pintunya! Buka pintunya! Kubilang, Buka pintunya!”

Tahu usahanya sia-sia, Minhye menyerah. Kedua tangannya tertangkup di depan wajah. Suara tangisnya sayup-sayup terdengar. Sesal memang selalu datang terlambat. Rasa menyesal Minho semakin menjadi begitu menyadari dia juga telah menyakiti Minhye secara fisik. Cengkaramannya meninggal jejak merah yang sangat jelas di pergelangan tangan Minhye, bahkan mendekati keungu-unguan.

“Aku benci Oppa,” ucap Minhye di sela tangisnya.

Tangan Minho yang terulur untuk meraih puncak kepala Minhye tertahan di udara. “Mianhae,” katanya tanpa suara.

to be continued….

 

Unseen scene:

 

Beberapa hari yang lalu…

Setelah berhasil meyakinkan security dengan kartu identitasnya, Minhye dapat bergabung dalam antrian terpanjang yang pernah terjadi di Gangnam. Dia tersenyum lebar di balik masker-nya. Hal yang wajar jika dia melompat kegirangan. Tidak akan ada yang mempedulikannya. Semua yang ada dalam antrian sama saja dengannya. Bersorak kegirangan karena menjadi salah satu gadis beruntung hari ini.

Minhye memincingkan matanya. Dia mengenali seseorang di kejauhan. “Minseok Oppa!” panggilnya sambil melambaikan tangan.

Pemuda yang dipanggilnya mendekat. “Ye?”

“Ini aku!” Minhye melepas masker-nya. “Lama tidak bertemu, Oppa.”

“Choi Minhye? Hampir aku tidak mengenalimu.” Minseok mengacak-acak rambut Minhye. “Kamu sudah besar saja. Minho pasti tidak bisa menolakmu lagi kali ini.”

“Sssst,” potong Minhye buru-buru. “Oppa, kecilkan suaramu. Bisa mati aku kalau yang lain dengar.”

“Tidak akan… bukan cuma adikku saja yang bernama Minho. Mereka tidak akan tahu kalau MINHO ITU yang kita maksud.”

Minhye mendekati telinga pemuda yang bernama Minseok itu. “Bisa saja dia mengenali Oppa. Siapa yang tidak tahu Choi Minseok? Sangat tampan, mengalahkan artis papan atas seperti Choi Minho,” bisiknya.

Aigoo… adik iparku pintar merayu. Kajja, temani Oppa berkeliling.”

“Tapi Oppa…”

“Tidak ada tapi-tapian. Kamu harus menemaniku, adik ipar yang manis.”

 

 

Dua hari yang lalu…

“Yak… cepatlah! Kyuhyun  Hyeong bilang dia dan Minhye dalam perjalanan ke perusahaan,” teriak Minho dari depan pintu keluar. “Cepat!”

“Iya!” balas Taemin dari kamarnya. “Memangnya sudah pasti dia akan ke sana?”

“Iya, Kyuhyun Hyeong akan mengulur waktu untuk kita. Jangan lupa kue di kulkas!” teriak Minho lagi.

Kepala Kibum terjulur dari dapur. “Lilinnya mana?”

“Ada di atas kulkas,” jawab Taemin, masih dari dalam kamar.

“Cepatlah!” Kali ini nada memerintah keluar dari mulut Minho. “Cepat!”

“Yak… cuma untuk hari ini kamu bisa seenaknya memerintah ini-itu,” omel Kibum. “Tapi, kalau kamu mulai keterlaluan. Awas saja!” ancamnya.

Akhirnya Taemin keluar dari kamarnya. “Aku menyesal mengiyakan syarat itu.”

Jonghyun tertawa geli dari arah kamar mandi.  Dia dan Jinki tidak merasa berat dengan permintaan Minho untuk tidak merayakan apalagi membelikannya kado di hari ulang tahunnya tiga hari lalu. Sebagai gantinya, Minho ingin merayakan ulang tahunnya saat kembali ke Korea. Tentunya bersama Minhye karena Minhye juga berulang tahun pada tanggal dan bulan yang sama dengannya.