Tags


 

Secret

SECRET

Aku memang punya perasaan yang tidak enak saat dia menjemputku. Dia biasanya akan menjemputku kalau kita memang memiliki janji jauh-jauh hari. Dia tidak akan muncul di depan rumahku jika bukan aku yang memintanya. Dia tidak akan berada di depan pintu rumahku jika hanya untuk mengajakku keluar bermain-main.

Tetapi kali ini lain. Dia memberi tahu kedatangannya tepat setelah dia ada di depan pintu rumah. Bahkan hari ini dialah yang pertama kali menghubungiku. Dia yang biasanya tidak sudi menungguku untuk sekedar menyisir rambut, kini bersedia menunggu bahkan untuk waktu yang lebih lama. Dia yang tidak pernah berinisiatif untuk mengajakku keluar, kini memaksaku untuk ikut dengannya.

“Minumlah!” perintahnya dengan lembut namun terdengar acuh tak acuh.

Aku menelan ludah dengan susah payah. Tanganku serasa tidak bertenaga untuk meraih gelas di hadapanku. Minuman ini adalah minuman pertama yang dia pesankan untukku setelah sekian lama mengenalnya.  Ada rasa senang yang tak terhingga karena rupanya setidaknya ada satu hal yang dicatat tentangku di otaknya.

“Ada apa?” tanyaku ragu. “Apa terjadi sesuatu?”

Dia memandangku dengan tatapan selidik. Matanya seolah berbicara bahwa aku sebaiknya jangan pura-pura tidak tahu. Mata itu seolah memintaku untuk membuka mulut lebih dahulu, berterus terang, dan meminta penjelasan yang panjang. Aku segera menunduk, tak sanggup lagi mendapat tekanan itu.

“Ada apa?” ulangku lagi dengan suara yang mirip cicit tikus.

“Kamu benar-benar tidak tahu?” nada bertanyanya begitu dingin menusuk tulang.

“Apa?”

Dia terkekeh, “Kamu benar-benar tidak tahu? Sunggung-sungguh tidak ada yang terlintas di benakmu?”

Tanganku segera menyambar gelas Cappucino ice di atas meja. Tanganku sedikit gemetar, tetapi aku yakin dia tidak menyadarinya. Dadaku terasa sakit karena meminum sekaligus minuman dingin ini. Namun bukan itu yang terpenting. Akan ada yang lebih sakit lagi dari ini. Aku yakin sekali.

“Mei sudah bilang semuanya,” tuturnya dengan serius.

Aku menatapnya selama beberapa detik karena terkejut, tetapi segera aku alihkan pada embun di permukaan gelas yang tengah kugenggam dengan erat. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi selama beberapa saat. Mungkin menungguku untuk memberi tanggapan. Sayangnya aku hanya diam membisu. Dia pun melanjutkan.

“Kenapa tidak keluar dari mulutmu sendiri? Kenapa harus lewat Mei?”

Kukumpulkan keberanianku, “Apa? Tentang apa?”

“Kamu benar-benar tidak tahu?” tatapan penuh selidik dan mencibir itu kembali menghujamku. “Benar-benar tidak ada ide tentang kira-kira apa yang Mei katakan padaku?”

“Apa yang kamu bicarakan? Apa yang kamu harap aku katakan?” tantangku. Keberanianku sepertinya telah kembali walaupun tak akan bertahan lama.

Dia tertawa kecil. “Begini lebih baik. Lebih nyaman untukku berbicara padamu. Tetaplah seperti ini agar aku lebih bebas berbicara.”

Gengaman pada gelas kupererat. “Apa maksudmu?”

“Haruskah aku yang berbicara? Bukankah akan lebih enak untuk kita berdua bila kamu yang mengatakannya?”

Kerongkonganku tercekat seketika. Udara di sekitarku tiba-tiba tidak ada sama sekali. Rasanya begitu menyesakkan. Aku kehabisan kata-kata. Aku tak tahu kata apa yang akan kuat untuk membalasnya. Aku kalah telak bahkan sebelum aku maju.

“Memangnya Mei bilang apa?”

Sungguh menyedihkan. Aku menyesal bersuara. Rasanya seperti menelan bola bekel saat aku mengeluarkan pertanyaan singkat itu. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi pemuda di hadapanku ini saaat mendengar pertanyaanku itu. Aku menatap ke arahnya, namun sebenarnya aku memandang dinding di belakangnya.

“Bukannya kamu sudah tahu? Kamu yang mengaturnya. Kamu di balik semua tindakan Mei. Aku mengenal Mei dengan baik, sebaik aku mengenalmu. Dia tidak akan melakukan hal itu jika bukan kamu yang menyuruhnya.”

Aku mendengus, “Benarkah? Aku lupa kalau kamu selalu ahli menebak pergerakanku, semua isi kepalaku. Tidak ada yang mengenalku sebaik dirimu. Yah… aku hampir saja lupa.”

“Langsung saja, kamu masih tidak mau mengaku. Aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu.”

Dia memang selalu menyebalkan. Aku memang tidak pernah menang melawannya. Tidak pernah menang pada pertempuran kedua dan selanjutnya namun selalu berdiri di atasnya saat pertempuran pertama. Entah memang itu adalah taktiknya atau memang aku selalu menggunakan strategi yang sama. Yang jelas, untuk pertempuran kali ini dia ingin menunjukkan bahwa aku harus kalah sejak awal. Tidak ada kesempatan untukku tertawa.

“Apa yang ingin kamu dengar? Apa? Bukankah Mei sudah mengatakan semuanya? Kamu sendiri yang bilang kalau aku yang menyuruh Mei. Sama saja bukan?”

Rupanya dia mulai kesal. “Apa susahnya mulutmu itu mengatakannya secara langsung padaku? Kamu merasa rendah jika melakukannya? Jangan keras kepala seperti biasanya.”

Kuku-kuku jariku beradu dengan permukaan gelas yang masih saja aku genggam di atas pangkuanku. Aku tidak langsung menanggapinya dan itu membuatnya semakin tak sabar. Dia meminum cairan berwarna biru itu sampai tandas. Kemudian menatapku lagi dengan harapan lebih bahwa aku akan membuka mulut.

“Aku mengerti saat kamu marah padaku karena aku tidak lagi memperhatikan kalian berdua. Memperhatikan dirimu lebih tepatnya. Kamu sendiri tahu, penyebab aku tidak ke rumahmu lagi. Semua karena keadaan, bukan kemauanku. Aku bisa bersabar menghadapi kekeraskepalaanmu selama ini. Aku sudah bersabar cukup lama. Tetapi rasanya aku sudah mencapai batasku kali ini. Kamu tahu itu? Sekali ini saja, untuk sekali ini saja. Bisakah kamu berhenti menjunjung tinggi egomu?”

“Apa maksudmu dengan–.”

Dia memotong, “Kamu menyukaiku ‘kan?”

Gerakkan kepalaku reflek mengarahkanku padanya. Mata kami bertemu. Rasanya tidak nyaman sama sekali. Sudut bibirnya terangkat untuk sepersekian detik. Rupanya dia sudah merasa menang karena berhasil membuatku memasang ekspresi bodoh ini.

“Aku menyukaimu?” Aku berusaha tertawa senatural mungkin. “Mana mungkin aku–.”

“Kamu menyukaiku,” potongnya lagi. “Kenapa baru sekarang?” Dia mencodongkan tubuhnya ke depan, mencoba untuk mengintimidasiku. “Kenapa dulu kamu tidak menyukaiku? Kenapa baru sekarang? Kenapa kamu tidak menyukaiku 2 tahun yang lalu?”

Aku mendorong pundaknya agar kembali ke tempat duduknya. Gelas yang ada di atas pangkuanku telah berpindah ke atas meja. Terdengar suara ketukan yang cukup kencang saat dasar gelas beradu dengan permukaan meja. Aku mengambil tisu dan mengeringkan telapak tanganku yang basah karena embun dari gelas.

“Mei yang bilang begitu? Dia pasti mengerjaimu. Dia tahu kalau dulu kamu yang menyu–.”

“Menyukaimu? Ya… aku akui, 2 tahun lalu aku menyukaimu. Sangat menyukaimu. Tetapi, bukankah itu dulu?”

Aku mengangguk mengiyakan.

Lanjutnya, “Sekarang aku ingin mendengar darimu. Kamu menyukaiku. Benar?”

Otakku bekerja dengan keras. Memilah ucapan yang seharusnya dan tidak seharusnya aku katakan. Sesekali kulirik dirinya. Dia sama sekali tidak melepas tatapannya dariku. Tangannya terlipat di depan dada. Punggungnya bersandar dengan nyaman. Gerak tubuhnya seolah mengatakan bahwa dia punya banyak waktu untuk menunggu sesuatu keluar dari mulutku.

“Apa lagi yang Mei katakan padamu?”

Dia terkekeh sembari mengusap-usap tengkuknya. “Apa susah sekali untuk bilang ‘iya’ atau ‘tidak’? Aku hanya butuh mendengar salah satu di antara kedua kata itu.”

“Pasti terjadi salah paham. Mei–.”

“Berhenti berbeli-belit. Cepat jawab. Apa kamu sadar? Kamu terlihat begitu menyedihkan karena berusaha mengelak.”

Tanganku terkepal dengan kuat. Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Menatap dengan yakin. Aku yakin, aku pasti menyesali keputusan ini. Tetapi aku tidak tahan lagi harus berusaha lari dan bersembunyi. Aku akui, aku yang meminta Mei melakukannya. Aku yang mengatur setiap kata yang harus Mei ucapkan. Aku sudah bertindak sejauh itu. Tidak sepatutnya aku mundur sekarang. Sudah sangat terlambat.

“Iya. Aku menyukaimu.”

Dia tersenyum manis. “Senang mendengarnya. Bukankah lebih bagus kamu sendiri yang mengatakannya? Untuk apa meminta bantuan orang lain. Inilah dirimu yang sesungguhnya.”

“Bukan aku yang meminta Mei,” bohongku. Tentu saja aku harus menjaga harga diriku. “Aku memang bercerita padanya. Tetapi aku tidak pernah memintanya untuk mengatakannya padamu.”

Dia tersenyum mengejek. “Eum… Mengapa baru menyukaiku sekarang? Apa yang kamu lihat dariku sekarang? Kenapa butuh waktu sangat lama?”

“Aku tidak tahu. Mungkin karena aku sudah mengenalmu dengan sangat baik. Aku mungkin merasa yakin bahwa kamu orang yang baik untukku. Bisa dikatakan, tidak ada yang meragukanku.”

“Benarkah?” Dia berpura-pura berpikir. “Bukan karena sekarang aku lebih tampan? Kamu menyukai aku yang sekarang karena aku lebih tampan. Aku yakin, kamu menolakku dulu karena masalah penampilan.”

Rasanya aku ingin meledak mendengar betapa arogannya dia. “Terserah apa katamu,” kupalingkan wajahku.

“Kamu tidak ingin mendengar jawabanku?” godanya.

Dia sunggung-sungguh menyebalkan. “Tidak. Aku tidak peduli dan aku tidak mengharapkannya.”

“Aku tidak bisa. Aku tidak menyukaimu, seperti dulu.”

Aku tertegun. Cukup lama juga bagiku untuk mencerna kata-katanya. Akhirnya aku mengerti, sangat paham. Hanya satu hal yang mengganjal di hatiku, aku tidak dapat menangkap ekspresi dalam ucapannya. Aku tidak tahu apakah dia merasa tak enak hati atau menertawakanku. Aku kebas.

“Aku yang sekarang berbeda dengan aku yang dulu,” tambahnya.

Aku beranjak dari tempat dudukku. Mataku rasanya panas. “Jangan temui aku lagi. Tolong anggap semua ini tidak pernah terjadi. Anggap kita tidak pernah saling kenal. Bodoh sekali aku ini. Ternyata aku sama sekali tidak mengenal dirimu. Semuanya berubah, seperti katamu, dulu dan sekarang berbeda. Ini semua salahku.” Aku menarik napas sejenak. “Apa yang telah aku lakukan?” tanyaku lebih kepada diri sendiri.

Dia tidak berucap atau melakukan apapun saat aku pergi meninggalkannya. Dia masih diam di tempat duduknya. Entah memandangi kepergianku. Entah bersorak gembira. Aku tidak peduli. Aku bahkan tidak ingin memikirkannya. Kesalku sudah cukup untuk membunuhku sekarang.

Aku memang tidak punya harga diri, gadis yang menyedihkan. Tindakanku memang sangat kekanak-kanakkan. Aku sudah memikirkan matang-matang dengan pertimbangan yang cukup untuk melakukan semua ini. Tetapi tetap saja berhasil melukai harga diriku.

Aku memang licik dan cerdik. Setidaknya begitulah menurutku sebelum kejadian hari ini. Namun kenyataannya aku sangat polos, bodoh dan tolol. Pertimbangan yang membuatku yakin untuk mempertaruhkan harga diriku adalah sebuah janji. Menurutku hal itu memang sebuah janji. Janji darinya yang selalu kupegang teguh hingga hari ini. Aku tidak tahu bahwa janji itu sudah kadarluarsa sehingga aku nekad bertindak seperti ini.

……Aku menyukaimu. Aku tahu kamu marah karena hal ini begitu mendadak. Tidak apa-apa. kamu tidak perlu membalas perasaanku sekarang. Aku akan menunggu sampai kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku…..

Penggalan ingatan itu yang aku ingat dari 2 tahun yang lalu. Entah aku yang salah mengingat atau seperti dugaanku sebelumnya bahwa janji itu telah kadaluarsa. Apapun kenyataannya, harga diriku sudah tak ada nilainya lagi. Hatiku sudah terlanjur terluka. Aku yakin seratus persen, aku akan terlihat lebih menyedihkan lagi jika mengungkit-ungkit prihal janji itu. Apa yang aku harapkan. Bodoh.

Aku memang keras kepala dan egois. Tidak ada yang bisa aku lakukan dengan hal itu. Semua sudah terjadi dan aku tidak bisa menghapusnya. Aku tidak bisa memutar waktu kembali. Aku hanya bisa menyesali. Menyesali karena mengenali cinta sejati yang salah.

FIN