Tags


Withou you

Dia berdandan dengan cantik hari ini. Sangat cantik. Tidak ada yang harus dirayakan, dia hanya ingin tampil maksimal hari ini. Sebenarnya, dia ada janji dengan seseorang yang istimewa di hati. Janji yang biasa saja, janji yang biasa seperti sebelum-sebelumnya. Jadi, hal itu tidak bisa juga dijadikan alasan untuknya harus terlihat “sangat cantik” hari ini.

Ingin rasanya dia memuji diri sendiri, memuji bayangannya di cermin itu. Rambut hitam ikal yang tertata rapi, pipi yang merona merah, bibir yang semerah ceri, hingga mata yang berkilau bak permata. Dia memang sangat cantik hari ini. Bahkan tanpa menaburkan sedikit pun bedak ataupun memoleskan pemerah bibir. Dia merasa heran sendiri.

Dia tersipu sendiri. Malu karena mengagumi kecantikannya sendiri. Dia mendesis dan mengomel. Dia memang tidak tahu diri. Narsis atau apalah istilah yang lebih tepat. Masih sembari menggeleng-geleng kecil, Dia mengambil jepitan rambut pada sebuah kotak kaca kecil. Jepitan itu terbuat dari perak dengan hiasan menyerupai bunga sakura putih. Pada kelima kelopak sakura itu terdapat masing-masing satu buah manik yang berkilau. Dia menyematkannya di rambut. Sangat cocok untuknya, sangat cantik.

***

Pemuda itu terkejut setengah mati. Dia tersenyum canggung dan salah tingkah. Lidahnya kelu, tak tahu harus mengatakan apa. Haruskah memulai dengan “Hai” atau “Halo”. Tidak ada yang berbeda dengan makna kedua kata itu. Tetapi menurutnya, dia tetap harus memilih sapaan yang tepat.

“Lama tak berjumpa, Kyuhyun Oppa,” sapa gadis itu terlebih dahulu.

Kyuhyun menggaruk tengkuknya. Kemudian mengangguk pelan. Dia ragu-ragu untuk menatap gadis yang berdiri di depannya. Dia masih sangat terkejut. Dan sejujurnya merasa aneh. Jantungnya berdetak dengan kencang. Sesuatu perasaan yang aneh meledak-ledak di dalam dirinya. Pipinya pun rasanya mulai memanas.

Oppa, baik-baik saja ‘kan?”

Gadis itu menyentuh pundak Kyuhyun. Bersamaan dengan itu mata Kyuhyun melebar. Rasanya dia baru saja tersengat listrik bertegangan rendah, tetapi cukup mengagetkannya. Ekspresi wajahnya itu membuat gadis yang berada di hadapannya itu semakin khawatir.

Oppa?”

Kyuhyun segera menegakkan kepalanya. “Aku baik-baik saja,” Kyuhyun berusaha tersenyum dengan normal. “Hai!”

Gadis itu membalas senyumnya. “Mau menemaniku makan sesuatu yang manis?”

Gadis itu memang tidak berniat meminta persetujuan Kyuhyun. Dia segera menarik lengan Kyuhyun. Kyuhyun mengikuti dengan pasrah. Tidak bisa menolak dan juga tidak ada niat untuk menolak. Dia masih teramat sangat terkejut. Dia masih berada di atas awan sana.

***

Kyuhyun tertawa terbahak-bahak. Lama sekali dia tidak seperti ini. Sudah lama dia tidak tertawa dengan lepas seperti ini dengan perasaan yang sangat senang. Gadis di hadapannya pun tak henti-hentinya tertawa. Tawa yang khas, sangat menawan. Tawa itu merdu sekali. Menggelitik gendang telinga Kyuhyun dengan lembut. Membuatnya merasa tenang dan damai.

Setiap kata yang meluncur dari bibir gadis itu bagaikan implus yang selalu bisa menarik sudut-sudut bibirnya ke atas. Dia bahkan hampir tak berkedip menatap gadis itu. Seolah tak ingin terlewat barang sedetikpun untuk merekam tiap gerak otot wajah manis gadis itu. Dia ingin merekamnya secara lengkap di ingatannya.

“Kamu sudah punya pacar?”

Pertanyaan itu membuat Kyuhyun terasadar. “Apa katamu?”

“Kamu sudah punya pacar belum?” ulang gadis itu dengan perlahan.

Kyuhyun nyengir kuda. “Eum… begitulah,” jawabnya ambigu.

Alis gadis itu terangkat sebelah. “Begitu bagaimana? Sudah atau belum?”

“Memangnya ada apa bertanya? Mau menginterogasiku kemudian melapor pada Noona?”

Gadis itu mencibir, “Cih… memangnya aku ini mata-mata Eonni?”

“Memang biasanya begitu.”

“Kamu tidak ada janji dengannya hari ini? Maksudku pacarmu. Aku tak mau disalahkan nanti.”

Kyuhyun mematung.  Dia baru teringat sesuatu. Matanya gencar mencari sesuatu yang bisa menunjukkan waktu. Didapatinya sebuah jam dinding tepat di belakangnya. Sial. Dia lupa. Dia terlambat. Dan dia mulai panik.

“Cepat telepon dia. Katakan kamu akan datang sebentar lagi. Dan bilang saja kalau semua itu karena aku,” gadis itu menyodorkan sebuah ponsel. Ponsel Kyuhyun.

***

Diperhatikannya Kyuhyun dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dia terlihat berantakan. Kemejanya basah oleh peluh. Napasnnya tak beraturan. Pemuda bermarga Cho itu berusaha untuk berbicara kepadanya, namun tidak bisa. Suaranya susah untuk keluar karena tenggorokan yang kering.

“Sudah aku bilang, tidak apa-apa. Aku bisa pulang saja. Kita bisa melakukannya lain kali, Tuan Cho,” ucapnya dengan tenang.

Kyuhyun menegakkan tubuhnya. Katanya terengah-engah, “Aku bilang, aku akan datang. Jadi, tunggu aku. Nyonya Cho.”

Dia mendesis, mengejek. “Margaku Lee. Oppa bisa dibunuh orang tuaku kalau terus-menerus mengganti margaku tanpa izin.”

“Memangnya kamu belum tahu. Sejak kamu menjadi milikku, namamu berganti menjadi Cho Sarang.” Kyuhyun mengembangkan senyum khasnya.

Gadis itu, Lee Sarang, tersipu. “Terserah apa kata Oppa. So, why you so late?”

“Si Monyet itu menahanku.”

Senyum Sarang menghilang. Raut wajahnya berubah sendu namun Kyuhyun tidak menyadarinya. “Mau apa lagi dia sama Oppa?”

“Memaksaku menemaninya makan.”

“Oh…,” terselip nada tak percaya. Lagi-lagi Kyuhyun tidak menyadarinya.

“Ayo… aku antar kamu pulang setelah kita makan beberapa mangkuk es krim.”

“Baiklah.”

Sarang memperhatikan wajah Kyuhyun. Kemudian beralih pada tangannya yang berada dalam genggaman tangan Kyuhyun. Kyuhyun menggenggam tangannya dengan erat, sedangkan dia tak berniat untuk melakukan hal yang sama.

“Kamu terlihat sangat cantik hari ini,” puji Kyuhyun. “Jepitan rambut itu sangat cocok untukmu. Sudah kuduga. Aku memang punya selera yang bagus. Bukan begitu, Sarang-ah?”

Sarang terdiam.

***

Kyuhyun berlari sekuat tenaga. Dia sudah terlambat. Ponselnya mati sehingga tidak dapat mengabari Sarang bahwa dia akan datang terlambat. Pekerjaannya hari ini memang tidak banyak. Hanya saja karena kedua Hyeong tertuanya itu tidak bisa serius saat pre-recording, mereka harus mengulang beberapa kali. Dan hal itu memakan waktu yang lama.

Penutup wajah yang Kyuhyun kenakan membuatnya semakin sulit bernapas. Tetapi dia tidak mau ambil resiko dikenali orang-orang yang dia lewati. Dia tidak mau memancing kegaduhan. Dia hanya ingin menjadi Cho Kyuhyun saat ini. Bukannya selebriti.

Kyuhyun memelankan langkahnya begitu memasuki area taman yang cukup sepi. Dia melepas penutup wajahnya agar bisa menarik napas dengan leluasa. Langit senja terlihat begitu indah. Dia berjalan sambil mendongak, menatap langit.

“Maaf aku terlambat. Teuk dan Chul Hyeong mengacaukan pre-recording,” ujarnya sembari masih menatap langit. “Ponselku mati, jadi tidak bisa menghubungimu.”

Tidak ada jawaban. Tetapi Kyuhyun tahu kalau Sarang sedang memperhatikannya. Dia mengambil tempat duduk di sebelah Sarang. Kepalanya tetap mendongak menatap langit senja. Beberapa saat dia terdiam. Menunggu Sarang untuk berbicara. Sayangnya, tidak juga terdengar suara. Kyuhyun menegakkan kepalanya, menoleh ke arah Sarang.

“Ada apa denganmu? Sakit?”

Sarang tetap membisu. Kepalanya tertunduk. Kedua tangannya memainkan jepitan rambut perak. Kyuhyun memiringkan kepalanya tidak mengerti. Diperhatikannya Sarang dengan seksama. Gadis itu bergeming.

“Sarang-ah, kamu baik-baik saja?”

Hening.

“Sarang-ah, berbicaralah. Kamu membuatku takut.” Kyuhyun mulai khawatir. “Sarang­-ah!”

Tidak ada respon.

“Sarang-ah, aku akan pergi kalau kamu masih tetap diam.”

Sarang menegakkan kepalanya. Dia tiba-tiba berdiri. Tangan kanannya terangkat ke atas kepala kemudian terayun dengan cepat ke depan. Sesuatu yang berkilau melayang di udara. Selanjutnya mendarat di area lapang berumput di dekat danau. Benda itu berkilau sejenak kemudian lenyap.

“Kita tidak perlu bertemu lagi.” Kalimat pertama yang meluncur dari mulut Sarang.

Kyuhyun melongo, tidak mengerti.

“Kita akhiri saja,” jelas Sarang. Suaranya bergetar.

“Ada apa denganmu? Apa maksudmu?”

Sarang memberanikan diri menatap wajah Kyuhyun. “Putus. Kita putus.”

“Apa? Kenapa?”

Sarang tidak menjawab. Dia hanya menatap Kyuhyun. Meminta Kyuhyun untuk menebaknya sendiri.

“Apa karena aku beberapa hari ini selalu terlambat pada janji kencan kita? Aku sudah bilang alasannya ‘kan? Bukankah kamu bilang kamu akan selalu mengerti? Lalu kenapa sekarang begini?” Nada suara Kyuhyun mulai meninggi.

Sarang mendesah keras, “Oppa hanya terpikir alasan itu?”

“Lalu apa lagi?” Kyuhyun tiba-tiba teringat sesuatu, “Oh… apa karena adegan kissing itu? Itu hanya acting. Jangan bersikap seperti anak kecil. Hal-hal sepele seperti ini tidak perlu kita perdebatkan. Sebagai pacarku, kamu seharusnya mengerti ‘kan? Semua itu hanya tuntutan profesi.”

Sarang berang. Kedua tangannya terkepal di samping tubuhnya. Ditatapnya Kyuhyun dengan murka. Matanya mulai terasa panas dan perih. Dia mengigit bibir bawahnya. Menahan dirinya agar tak meledak.

“Sarang-ah, jangan seperti anak kecil begini. Merajuk tak jelas. Oppa lelah dan sedikit kesal hari ini. Jangan menambah masalah. Oppa tak punya waktu untuk memikirkan masalah sepele seperti ini. Jadi, lebih baik sekarang kita makan malam seperti rencana semula.”

“Se-pe-le?” eja Sarang. “Menurutmu ini sepele? Kamu menganggap hal ini sepele? Kekesalanku ini hal sepele untukmu?”

Kyuhyun terperanjat. Sarang tidak pernah berbicara dengan cara seperti itu padanya. “Sarang-ah?”

“Aku muak denganmu, Cho Kyuhyun!” pekik Sarang. “Aku benci padamu!”

“Apa katamu?” Kyuhyun terpancing emosi.

“Aku menyesal pernah suka padamu! Aku menyesal membuang waktuku menunggumu setiap saat! Aku menyesal mengenalmu!”

Sarang tidak menunggu Kyuhyun membalas ucapannya. Dia membalik badan dan pergi meninggalkan Kyuhyun yang berdiri mematung kehabisan kata-kata. Tak beberapa lama, Kyuhyun juga meninggalkan tempat pertengkaran mereka itu. Dia tidak berniat mengejar Sarang. Dia teramat sangat marah saat ini.

***

Kyuhyun terbangun dengan setengah hati karena ponselnya yang berdering sangat kencang. Dia mengerang, meraba-raba sisi ranjang di dekat kepalanya. Tangannya tak kunjung menemukan ponsel pembuat keributan itu. Sementara di ranjang sebelah, Eunhyuk mengumpat kecil karena tidurnya terganggu.

“Halo?” Kyuhyun berhasil meraih ponselnya. “Iya…iya… Aku sudah bangun, Sarang­-ah.”

“Hyeong… ini aku Minho,” sahut suara di seberang sambungan telepon.

“Minho?!!”

Kyuhyun membuka mata lebar-lebar. Diperhatikannya layar ponsel. Nama Minho plus wajahnya terpampang di sana. Kyuhyun mengumpatkan kata yang sama dengan Eunhyuk tadi sembari memukul kepalanya sendiri.

Maaf… ada apa menelepon pagi-pagi begini?”

“Hyeong sendiri yang memintaku membangunkan Hyeong. Bagaimana sih?”

Kyuhyun tersenyum dengan bodoh. “Oh… terima kasih. Aku sudah bangun.”

Ya sudah.

Sambungan telepon terputus. Kyuhyun pun melamun. Dipandanginya layar ponsel hitam itu. Lama dia menyelami ingatannya. Alasan dia meminta Minho membangunkannya. Begitu dia teringat, dia pun menghela napas. Kedua telapak tangannya dia sapukan di wajahnya. Dia baru ingat bahwa dua hari yang lalu, dia dan Sarang telah mengakhiri hubungan mereka.

“Mengapa beberapa hari ini Minho yang membangunkanmu? Ada apa dengan Sarang? Dia sakit?” tanya Eunhyuk dengan mata masih terpejam rapat.

“Aku tidak tahu,” jawab Kyuhyun enggan.

“Kalian bertengkar?” interogasi Eunhyuk.

“Kita sudah putus.”

What?” pekik Eunhyuk. “Wae?”

Kyuhyun mendelik kesal. “Bukan urusanmu! Lagian, mengapa Hyeong selalu tidur di sini?”

***

Suara blender yang mendengung mengalahkan suara musik yang diputar Sarang dengan volume maksimal. Perlahan stoberi itu mulai hancur dan berubah menjadi cairan merah kental. Blender itu dia matikan, dan musik pop itu kembali menguasai seluruh ruang di apartemen kecil Sarang.

Sarang meneguk perlahan jus stroberi yang dia buat sebelum menyantap roti panggangnya. Dia mengigit enggan rotinya sembari bergumam, mengikuti musik pop yang mengalun kencang. Dia hafal di luar kepala lagu itu. Dia sangat suka lagu itu, terlepas dari siapa penyanyinya.

Sarang menghela napas. Matanya terpaku pada jam di dinding yang menunjukkan pukul 10 pagi. “Si Bodoh itu sudah bangun belum?” tanyanya pada diri sendiri.

Diambilnya ponsel yang terpasang pada speaker, musik pun berhenti. Sarang menghempaskan tubuhnya di sofa. Kedua tangannya menggenggam ponsel sedangkan roti panggangnya, dia tahan di mulut dengan gigi. Salah satu telunjuknya menari di layar ponsel. Saat dia akan menekan tanda memanggil pada layar ponsel, telunjuknya berhenti di udara. Dia baru teringat, dua hari yang lalu hubungannya dengan Kyuhyun berakhir.

***

Seluruh mata memandang Kyuhyun dengan heran. Tingkah Kyuhyun membuat mereka jengah. Mereka ingin bertanya, tetapi tak tahu harus memulai dari mana. Mereka ingin memerotes Kyuhyun, tetapi iba menatap wajah Kyuhyun yang bagaikan kehilangan gairah hidup. Akhirnya mereka memilih untuk diam dan bersabar. Menunggu Kyuhyun membuka diri.

Kyuhyun beralih pada pemandangan di luar jendela mobil setelah bosan menatap ponselnya. Dia segera merapat dirinya ke jendela begitu mengenali daerah yang mereka lewati. Tepat setelah itu mobil berhenti karena jalanan yang macet. Kyuhyun semakin merapat dirinya bak cicak ke jendela mobil. Bola matanya bergerak kesana-kemari.

“Ada apa?” tanya Leeteuk.

Tak mendapat jawaban. Leeteuk pun ikut merapatkan dirinya ke jendela. Dia mencoba memahami apa yang tengah dipikirkan pemuda yang sudah dia anggap adiknya sendiri itu. Dia pun mengenali lingkungan sekitar mereka. Matanya pun segera mencari-cari pada kerumunan orang di halte bis.

Hyeong… bolehkan kita memberikan tumpangan pada seseorang?” tanyanya tiba-tiba pada manajer yang tengah menyupir.

“Siapa?”

“Lee Sarang,” jawab Leetuk singkat sembari tersenyum.

Kyuhyun menolehkan kepalanya, memandang Leeteuk dengan mata membulat sempurna. Leetuk tersenyum menggoda.

Hyeong,” rengek Kyuhyun.

“Apa? Ini bukan untukmu. Aku dan Sarang sangat dekat, kamu tahu itu. Jadi, aku hanya mau mengobrol dengannya. Sudah lama tidak mendengar ocehannya.”

Kyuhyun memasang wajah kesal. “Hyeong.”

“Apa lagi? Bukan urusanku kalau kamu ada masalah dengan Sarang. Aku tidak peduli kamu merasa tak nyaman Sarang bergabung dalam mobil ini.”

Kyuhyun tak tahu harus berkata apa.

“Bukankah kalian sudah putus?” sambung Donghae. “Kalau begitu aku boleh mendekatinya? Bolehkah Hyeong?”

Leeteuk terkekeh, “Tentu saja. Kalau Sarang berkenan, kenapa tidak?”

Kyuhyun mendengus, “Sarang tidak akan mau.”

“Begitu juga padamu. Makanya dia memutuskanmu,” sindir Ryewook.

Kyuhyun menahan diri untuk tidak mengamuk. Dia pura-pura untuk tidur dan mencoba mengabaikan tawa seluruh isi mobil.

“Minta maaf padanya. Jangan keras kepala. Kamu mencintainya ‘kan?”

Kyuhyun tetap diam, walaupun dalam hati dia menimbang-nimbang saran Leeteuk.

***

Teriakkan gadis-gadis memenuhi salah satu studio stasiun televisi. Sebuah set panggung terlihat sudah siap digunakan. Kamera berjejer di depan panggung itu, sekitar lima kamera.  Pagar pembatas dari besi membatasi area kamera dan panggung dengan penonton yang mulai menggila. Balon-balon berwarna biru teracung bersamaan dengan nama-nama yang teriakkan dengan lantang.

Di tengah-tengah lautan penggemar itu Sarang berusaha bersabar. Dia memperbaiki kacamatanya yang menuruni hidung karena senggolan di kiri-kanannya. Dia mengaduh beberapa kali, namun tak ada yang hiraukannya. Apalagi meminta maaf. Tetapi, Sarang akan tetap bersabar.

Teriakkan yang beraturan itu berubah menjadi jerit histeris. Sarang mengelus dada karena terkejut. Dia segera mengangkat kepalanya. Berjinjit untuk menambahkan tinggi badan agar dapat melihat di antara acungan-acungan balon, lightstick dan berbagai macam tetek-bengek yang selalu dibawa penggemar-penggemar fanatik itu dimanapun Sang Idola muncul.

Jauh di depan sana, 8 orang pemuda berjejer. Mereka menyapa penggemarnya dengan ramah. Tak lupa membungkuk hormat sebagai rasa terima kasih karena para penggemar mau datang mendukung mereka. Sedikit bercanda dan menggoda sebagai bagian dari fan-service. Dan yang tidak pernah bosan adalah memperkenalkan diri mereka walaupun seluruh dunia sudah tahu siapa mereka.

Akhirnya usaha Sarang membuahkan hasil. Dia mendapatkan posisi yang pas untuk melihat salah satu dari pemuda yang berjejer di depan sana. Diperhatikannya wajah pemuda itu. Diperhatikannya lekat-lekat untuk memastikan bahwa rupa wajah yang dia simpan dalam memorinya itu tidak berbeda dengan yang asli. Pemuda itu tersenyum. Lengkap sudah koleksi ingatan.

***

Udara yang dingin membelai tanpa ampun. Trotoar jalan yang biasanya ramai berubah lengang. Terlihat beberapa orang yang melintas. Itupun dengan harapan segera sampai di rumah atau tempat hangat lainnya. Suatu pemikiran yang berbanding terbalik dengan Kyuhyun. Kyuhyun bahkan tidak berniat untuk berteduh dari salju yang mulai turun. Dia punya urusan yang sangat mendesak. Dia harus menemukan sesuatu sebelum salju menutupi seluruh permukaan tanah.

Satu jam berlalu sejak Kyuhyun memulai misi pencariannya pada sebuah daerah lapang dengan rumput setengah mengering di pinggir danau. Tengkuknya memang telah merasakan pegal sejak beberapa menit yang lalu, akibat terlalu banyak menunduk. Sekarang dia memilih untuk merangkak di rumput. Meraba sana-sini pada permukaan rumput yang perlahan-lahan tertutup salju.

Tangan Kyuhyun kebas. Giginya juga bergemeletuk sedari tadi. Usahanya tak kunjung membuahkan hasil. Sebuah bisikkan memintanya untuk menyerah. Tetapi dia menolaknya mentah-mentah. Dia tidak akan menyerah, tidak untuk kali ini.

Tanpa Kyuhyun sadari, seseorang menghalau salju menimpa dirinya. Kyuhyun tak akan pernah menyadari hal itu jika saja tidak melihat ujung sepatu seseorang di hadapannya. Kyuhyun segera berdiri. Dia salah tingkah, bahkan terpikir untuk berlari menghindar.

“Hai,” sapanya kaku.

Gagang payung tersodor di depan wajah Kyuhyun. Dengan tampang bodohnya Kyuhyun menerima payung itu. Dia juga mematung begitu saja saat syal merah dililitkan di lehernya. Dia pun pasrah saat penutup telinga dipasangkan padanya.

“Ayo pulang!” pinta sebuah suara hangat yang mampu melumerkan Kyuhyun seperti salju.

“Sarang­-ah, maafkan aku.”

Sarang tersenyum lembut. “Aku yang seharusnya meminta maaf. Benar kata Oppa, aku memang seperti anak kecil yang suka merengek.”

“Tidak… aku yang salah. Selalu mengingkari janji dan…,” Kyuhyun tidak melanjutkan kalimatnya.

“Apa?” tanya Sarang tanpa memaksa untuk mendapat jawaban.

“Aku berbohong padamu.”

Sarang meraih gagang payung yang Kyuhyun gengam. “Sudahlah… di sini dingin. Ayo pergi. Aku ingin–.”

Belum sempat Sarang menyelesaikan ucapannya, sebuah pelukkan membuatnya terdiam. Gagang payung itu pun terlepas dari genggamannya. Kali ini Sarang-lah yang terdiam mematung. Pelukkan hangat Kyuhyun membekukan otaknya.

“Aku mencintamu. Maafkan aku, tolong maafkan aku kali ini. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak akan pernah bisa tanpamu. Tolong maafkan aku,” pinta Kyuhyun. “Aku mohon, aku sangat mencintaimu.”

Sarang mengerjapkan matanya beberapa kali. Butuh waktu lama baginya untuk mencerna semuanya. Kyuhyun tidak pernah seperti ini sebelumnya. Kejadian ini begitu mengejutkan baginya.

“Sarang-ah… aku mencintamu. Sangat mencintaimu.”

“Eum… aku juga,” Sarang membalas pelukkan Kyuhyun. “Aku juga hampir gila karena tidak mendapat gangguan darimu beberapa hari ini.”

Kyuhyun terkekeh, “Benarkah?”

Sarang cepat-cepat mendorong Kyuhyun, melepas pelukkannya. “Menyebalkan sekali,” desisnya.

“Walaupun begitu, kamu tetap mau denganku,” goda Kyuhyun.

Sarang memutar bola matanya. Dipungutnya payung yang tadi terjatuh. Dipayunginya Kyuhyun dengan enggan.

“Ayo pulang. Aku tidak mau disalahkan jika Oppa sampai sakit.”

“Tunggu dulu!” cegah Kyuhyun.

“Apa lagi?”

“Aku belum menemukannya.”

“Apa?”

“Jepitan rambut yang aku berikan padamu. Kamu membuangnya ke sekitar sini.”

Sarang tersenyum nakal, “Aku sudah menemukannya.”

“Apa? Kapan? Bagimana?”

“Hari itu. Setelah Oppa pergi, aku kembali dan mencarinya. Untung saja ketemu.”

Kyuhyun mengeluarkan senyum jahilnya. “Rupanya kamu yang lebih tidak bisa hidup tanpaku. Kamu bahkan tidak bisa bertahan selama beberapa menit saja,” Kyuhyun berdecak meremehkan.

“Terserah apa kata Oppa. Aku tidak peduli. Yang terpenting adalah Oppa milikku. Titik.”

Kyuhyun tertawa terbahak-bahak. Dia kembali memeluk Sarang dengan gemas. Sebenarnya dialah yang tidak bisa hidup tanpa Sarang. Tidak akan bisa bahkan untuk sedetikpun. Rasanya begitu tersiksa. Dia tidak mau mencobanya untuk kedua kalinya. Dia tidak akan mau kehilangan Sarang bahkan untuk sepersekian detik lagi.

***

Beberapa hari sebelum hari mereka putus…..

Sarang tengah memperbaiki letak jepitan rambut istimewanya pada sebuah cermin di toilet perempuan. Setelah lama menimbang-nimbang, dia memutuskan untuk membuntuti Kyuhyun hari ini. Dia hanya ingin terlihat hebat pada kencannya kali ini dengan berpura-pura tahu segala aktivitas Kyuhyun hari ini. Setidaknya 3 jam sebelum janji temu mereka.

Sejauh ini Kyuhyun belum keluar dari perusahaan agensi artisnya. Sarang sempat menghubungi beberapa saat lalu untuk menanyakan dimana keberadaanya. Sarang tidak berbaur dengan para penggemar. Dia sekarang berada di dalam gedung yang sama dengan Kyuhyun. Tidak susah, beberapa coordi mengenalnya. Dia bisa masuk dan berpura-pura menjadi coordi tanpa diketahui penggemar Kyuhyun di luar sana.

Dua jam sudah Sarang menunggu di lobi. Akhirnya Kyuhyun terlihat juga. Sarang tergoda untuk menyapa, tetapi dia menahan diri. Dibenamkan wajahnya di balik majalah yang dia bawa. Dia memang penuh persiapan. Apapun akan dia lakukan untuk mengerjai Kyuhyun.

Tiba-tiba seorang gadis menghampiri Kyuhyun. Gadis itu bergelayut dengan manja. Tidak ada penolakan dari Kyuhyun. Yang ada adalah sebaliknya. Kyuhyun terlihat begitu menikmati. Terlihat dari senyumnya, tingkahnya, serta pipinya yang merona merah.

Sarang mengenali gadis itu. Kyuhyun pernah membicarakannya. Dia adalah cinta pertama Kyuhyun. Junior sekaligus teman kakak perempuannya. Alasan itulah yang membuat Kyuhyun seperti kehilangan akal begitu. Gadis itu menyeretnya pun dia terima begitu saja.

Sarang mengelus dada. Dia tidak akan berlari menghampiri mereka dan memaki ini-itu. Dia mencoba untuk mengerti. Cinta pertama memang memiliki kesan yang berbeda bagi setiap orang. Dia bisa maklum. Dia mungkin hanya akan menggoda Kyuhyun nanti. Kyuhyun pasti akan memberitahunya. Pasti itu.

***

THE END

Author note:

Lagi iseng aja. Selesai dalam beberapa jam saja nih. Anggap pemanasan untuk kisah-kisah yang belum sempat diterusin. Aku akan comeback sebentar lagi. hehe…. Doakan ujian skripsi lancar. Buat Fatiyyatun a.k.a Tia a.k.a Mrs.Cho … anggap aja ini spesial buatmu. Hahahaha….