le obsede

Korbanku terus berlari dan sesekali menoleh ke belakang. Tak jarang dia akan tersungkur karena tersandung kakinya sendiri. Tanpa membuang waktu dia akan kembali berdiri. Kemudian berlari lagi walaupun dengan sebelah kaki yang terseret-seret.

Senang melihatnya ketakutan seperti itu. Puas melihat wajahnya yang memerah dan berurai airmata. Teriakkannya bagaikan musik klasik karangan musisi-musisi terkenal, Bethoven contohnya. Walaupun sejujurnya aku lebih suka musik ber-genre pop. Namun sama dengan musik klasik, teriakkan meminta tolong dan rintihan putus asa itu menenangkan hatiku.

Aku masih mengawasinya. Dan dia masih terus berlari tak tentu arah. Bahkan hanya berputar-putar saja. Aku memang tepat memilih tempat ini. Seisi bangunan terlihat sama. Banyak sekali pintu dan lorong yang akan membuat siapapun kebingungan. Mirip seperti labirin. Tetapi bukan labirin, hanya sebuah bangunan tua zaman penjajahan dulu.

Rupanya sudah waktunya. Bosan juga melihatnya terus hidup. Dia juga sepertinya telah menyerah. Jadi, aku akan menerimanya. Mengakhiri siksaan fisik yang tak seberapa. Aku yakin, dia lebih menderita secara batin. Akupun tak ingin ada di tempat asing yang mengerikan dan dibayang-bayangi aura pembunuh berdarah dingin. Tak pernah ingin.

Keadaan ruangan yang hampir tanpa penerangan membuatku aksiku semakin mengagumkan. Jika aku berada dalam posisi korban, aku juga pasti akan sangat ketakutan melihat sosok hitam yang mencurigakan mendekat. Tentu saja aku akan berpikir bahwa ternyata sudah waktunya Si Pembunuh menghabisi nyawaku. Membayangkan atau lebih tepatnya menebak pikiran korbanku ini membuatku sangat bersemangat, hampir berjingkrak-jingkrak.

“Siapa di sana? Apa maumu? Apa yang kau lakukan padaku?”

Aku sempat terkesima. Mendengarnya berbicara dengan normal, bukan berteriak memaki atau menjerit minta tolong seperti sebelumnya, membuatku ingin berlari dan memeluknya dengan erat hingga dia merasa sesak. Bahkan aku juga terbayang untuk menggoreskan ujung pisau yang aku pegang di dahinya. Menulis namaku di sana. Oh Tuhan, pekikku dalam hati. Ide yang cemerlang.

“Hey… kau ada di sana ‘kan?” suaranya bergetar.

Tidak pernah terbersit di kepalaku rasa takut untuk mendekat. Dia tidak mungkin lebih kuat dariku, tidak akan mungkin untuk beberapa jam ke depan. Aku tidak mungkin melakukan semua ini tanpa persiapan matang. Setelah mendapatkannya dengan paksa kemarin, tak lupa memberinya sedikit obat yang akan membuatnya tak bertenaga. Melemaskan ototnya.

“Ruby?” tanyanya tiba-tiba.

Aku melangkah menuju sisi yang sedikit lebih terang. “Hai,” sapaku kikuk.

“Kamu… emm.”

Aku tersenyum miris. Dia tidak mengenalku. Aku memang tidak terkenal di kampus. Tapi setidaknya dia seharusnya merasa pernah melihatku. Kita memiliki sekitar empat kelas yang sama pada semester ini. jahatnya, pikirku.

“Aku Niken,” ucapku ragu.

“Ah… iya, aku tahu kau.” Dia melirik pisau yang aku genggam di sisi tubuhku. “Jadi, ini ulahmu?”

“Ya… begitulah,” jawabku girang.

“Apa maumu?” Lidahnya masih kaku rupanya.

Pardon?”

Dia terlihat berpikir. “Apa yang bisa aku lakukan untukmu agar kau melepaskanku?”

Aku mendekatinya dengan cepat. Wajahku tepat berada di depan hidungnya. “Jadilah pacarku!”

 

 

“Aih.”

“Huek.”

“Yiek.”

Suara keluhan itu menyerbuku. Aku menggeram pasrah. Respon mereka selalu begitu. Tidak ada yang salah. Semua itu keren.  Aku merencanakan semuanya dengan sangat baik. Ini skenario terbaik. Aku terjaga selama empat hari berturut-turut untuk menyusunnya.

What?” tanyaku tak terima.

“Halo, Niken lihat aku.”

Aku melihat ke arahnya. “What?”

“Rencana yang payah. Bisakah kamu hentikan semua ini? Jangan baca novel-novel mengerikan ini.”

Aku menoleh ke kanan. “Eka, bantu aku.”

“Huh… Aku lebih menentang ide ini dibandingkan Nana. Lagian, obat apa maksudmu itu?

“Aku belum menentukannya. Aku rasa Apoteker lebih tahu.”

Nana melempar kotak susu siap minum kosong ke arahku. “Baiklah, anggap saja skenario ini cemerlang. Menyatakan cinta ala psikopat. Yang paling penting adalah, siapa targetnya?”

Aku hendak membuka mulut, tetapi Eka mendahului. “Jangan Adit lagi. Dia sudah punya pacar sekarang.”

Aku menekuk wajah. “Eum.”

“Baiklah,” Nana menepuk pundakku sekali. “Selain menyelesaikan skripsimu, sepertinya kamu harus mulai mencari calon korbanmu.”

“Jangan Adit. Jangan juga Galang.”