Tags


medusa copy

 

Title                 : Medusa –Wedding Dress

Author                        : Miss Fox

Main Casts      : Lee Jinki (Onew)| Han Hyora (OC)

Support Casts            : SHINee’s member and others.

Genre              : Romance

Length                        : One-Shoot

Rating             : PG-15

Summary        :

“Menikahlah denganku.”

……

Maafkan aku, Jinki Oppa.

Medusa –Wedding Dress

S Boutique. 01 September, 11:00 am.

Menikahlah denganku, Oppa.

Oppa akan menjadi ayah dari bayi yang aku kandung.

Aku mencintaimu, Jinki Oppa.

“Tuan… Tuan Lee!”

Dia benar-benar mengagetkanku. Tidak mau membuatnya merasa bersalah, aku mengembangkan senyum. Dia menyambut senyumku dengan ramah.

“Tuan, Anda bisa melihatnya sekarang,” ucapnya dengan sopan.

Aku hanya mengangguk kecil tanpa lupa mengembangkan senyum. Wanita berseragam hitam formal itu mempersilahkanku untuk mengikutinya. Ruangan bernuansa  vintage dengan bohlam-bohlam kecil memenuhi setiap sudutnya. Manekin-manekin berkulit putih berjejer dengan gaun-gaun super mewah mereka. Aku memang tidak mengerti masalah seperti ini. Sebagai orang awam, aku hanya akan mengagumi keindahan mereka.

“Tuan silahkan duduk.”

Sofa mewah berwarna krem  bertengger di tengah ruangan dengan penerangan maksimal. Aku perlahan duduk di atasnya. Berusaha menghempaskan diri sepelan mungkin dan memposisikan diri dengan nyaman. Secangkir kopi dengan kepulan asap di atasnya tersaji untukku.

“Nona terlihat sangat cantik, Tuan.”

“Tentu saja,” ada rasa bangga yang membeludak.

“Tuan dan Nona pasangan yang begitu serasi,” pujinya lagi.

Aku hanya tertawa kecil sembari menatapnya yang tersenyum lebar. “Aku tahu. Aku sangat beruntung, bukan?”

Setelah puas karena berhasil membuatku merasa nyaman dengan pujian-pujiannya, pelayan yang menurut tebakanku adalah pelayan baru di butik ini berlalu menuju arah tirai besar di hadapanku. Tirai berwarna merah muda itu, aku tidak sabar untuk membukanya. Makhluk paling indah di dunia ini berada di sana.

Sreg!

Tirai itu terbuka perlahan. Dua orang pelayan lainnya perlahan menyingkir dari  panggung kecil di balik tirai. Cermin  besar yang menjadi latar belakang panggung kecil itu memantulkan bayanganku. Aku tidak yakin bagaimana ekspresiku yang terpantul di cermin itu, aku tidak peduli. Mata ini hanya ingin terfokus pada manekin hidup di tengah-tengah panggung. Dia sangat sempurna.

Oppa!”

Beberapa kali kata itu menggema. Namun  tetap saja tidak menyadarkanku dari alam penuh keindahan ini. Tidak ada yang dapat mengalihkan semua ini. Aku rasa malaikat maut pun tidak berhak membutakan mataku saat ini.

Oppa! Jinki Oppa!” Nada suaranya meninggi.

“Iya?”

“Bagaimana menurut Oppa? Apa ini tidak terliat aneh?” dia memutar tubuh mungilnya menghadap cermin. “Aku terlihat seperti  Garfield,” gerutunya setelah cukup lama memikirkan julukan yang tepat.

Aku menghampirinya dengan senyum yang tidak dapat aku kontrol. “Kamu sangat cantik, sayang!” pujiku.

“Jangan mencoba untuk membohongiku,” dia mengerucutkan bibir mungil merah cherry-nya.

“Kamu memang cantik, selalu cantik,” aku terkekeh.

“Apa yang lucu?”

Tanganku melingkar di pinggulnya, daguku bertopang di pundaknya. “Kamu cantik,” ucapku dengan penuh keseriusan.

“Benarkah? Aku rasa tidak,” tatapan tajamnya seolah menelanjangi bayangannya sendiri. “Aku terlihat seperti Garfield dengan perut buncit ini.”

Jitakkan ringan mendarat  di kepalanya. “Sejak kapan Garfield mengenakan gaun pengantin, eoh?”

“Mungkin saja,” dia menjulurkan lidahnya.

“Han Hyora-ssi…  Kalau aku bilang kamu cantik, hukumnya mutlak. Tidak dapat diganggu gugat.”

Oppa,” jarinya yang lentik menyetuh punggung tanganku yang berada di atas perutnya. “Apakah semua akan baik-baik saja?”

“Emm…?”

“Aku merasa tidak enak dengan ibumu. Tidak seharusnya Oppa menikahiku.”

Mengapa dia harus membahas hal itu?, pikirku. Untuk kesekian kalinya dia membahas hal yang barang tentu jawabannya akan sama. Aku mencintainya. Bukti itu tidak pernah cukup untuknya, tidak pernah membuatnya merasa tenang. Segala pemikiran tentang hal-hal buruk yang tentu saja tidak akan pernah terjadi membuat dia ragu.

“Hyora-ya… aku mencintaimu. Cukup itu yang menjadi alasanku menikahimu, dan–“

Oppa,” dia memotong ocehanku. “Ibumu tidak akan suka jika dia tahu yang sebenarnya.”

“Apa? Tentang anak kita?”

Wajahnya berubah murung. Dia mengangguk kecil sebelum menekuk wajahnya.

“Kamu tahu, gaun ini adalah milik ibuku dulu. Dia selalu bercita-cita memberikannya pada gadis yang akan menjadi istriku. Ibu sangat senang saat mengetahui aku akan menikah. Aku akan menikahi gadis yang sangat aku cintai. Ibuku hanya mau tahu satu alasan itu. Gadis  yang aku cintai berarti adalah pilihan terbaik untukku.”

“Tetapi, kalau ibumu tahu–“

Selaku, “Dia tahu, dia tahu kamu hamil. Dia tahu tentang anak kita. Dan dia sangat senang. Ibu menerimamu dengan tagan terbuka. Dia sangat senang akan mendapatkan seorang cucu darimu, dari kita. Apa semua itu terlihat palsu di matamu?”

Dia terdiam, menelan kembali kata-kata yang ingin dia lontarkan. Matanya tertuju pada cermin, menatap penuh selidik bayangannya sendiri. Tatapan itu pun terpusat pada bagian perutnya yang memang membuncit. Aku dapat menebak dari wajahnya bahwa dia akan memulai perdebatan itu lagi.

“Gara-gara aku gaun cantik ini harus didesain ulang seperti ini,” gerutunya lagi lebih untuk dirinya sendiri.

“Hyora-ya… bisakah kamu berhenti menggerutu? Gaun pengantin ini milikmu sekarang. Kamu bebas melakukan apapun padanya.”

Dia terlihat berpikir, hendak berkomentar lagi.

“Ibu bilang tidak apa-apa. Karena dia telah memberikannya pada calon istri anak kesayangannya yang tampan ini,” bualku.

Hyora menatapku tak percaya. Dia mendengus sejenak kemudian terkekeh. Sebelah tangannya diposisikan untuk menutup mulutnya. Dia berusaha menyembunyikan gigi-giginya dan juga suara tawanya yang khas.

“Kenapa? Apa yang lucu?” protesku. Suasana yang awalnya tegang berubah santai.

“Tidak ada,”  jawabnya singkat dan terdengar tidak jelas karena punggung tangannya yang masih menghalangi di depan mulut.

“Kamu berani menertawakanku, ha?”

Dia menggeleng kencang. “Oppa, apakah akan baik-baik saja?” tanyanya lagi.

Aku mulai gemas padanya. Sentilan kecil mendarat di dahinya. “Hentikan! Jangan dibahas lagi. Kamu hanya perlu fokus pada kesehatanmu. Jangan sampai terlalu lelah, eoh? Kasihan anak kita.”

-xxx-

Jinki’s House. 30 September, 10:12 pm.

Sebelumnya aku selalu berpikir bahwa tidak perlu segera pulang ke rumah setelah pulang kerja. Biasanya aku akan mencari teman untuk diajak minum segelas atau dua gelas wine. Tak jarang juga memilih untuk pergi sendiri. Tetapi, sejak sekitar enam minggu yang lalu kebiasaanku berubah. Aku selalu ingin segera sampai di rumah. Secepat yang aku bisa.

Enam minggu lalu, aku masih merasa wine-lah yang dapat menghempaskan stres dan penat yang aku rasakan. Kali ini berbeda, pulang ke rumah dan menemui gadis yang sebentar lagi menjadi istriku itulah obat yang paling mujarab. Aku pun segera berlari menuju beranda rumah karena tak sabarnya setelah memarkirkan mobil sembarangan.

“Kamu sudah pulang, Jinki-ya?”

Aku menghampiri wanita paruh baya itu. Kemudian memeluknya dengan erat. Dia tertawa geli mendapati aku memperlakukannya seperti ini. Alih-alih membalas pelukannya, wanita yang sangat kucintai ini menepuk-nepuk punggungnya. Tidak terasa sakit, malah begitu nyaman.

“Kamu terlihat sangat senang, Anakku. Kamu tak pernah terlihat sebahagia ini sebelumnya. Eomma jadi iri,” canda Kim Haneul, Ibuku. “Anakku yang baik dan tampan akhirnya akan menjadi milik wanita lain. Apakah aku harus cemburu dan merebutmu darinya?”

Aku melepas pelukanku dan tertawa terbahak. “Eomma, aku tetap milikmu. Hanya saja, cuma seperempat bagian saja.”

“Baiklah, daripada tidak sama sekali.” Senyumnya yang lebar membuat sudut-sudut matanya berkerut.

“Hyora di mana?”

Ibu menyodorkan segelas air. “Dia sudah tidur. Eomma menyuruhnya untuk segera beristirahat. Dia terlihat begitu lemah dan pucat. Dia–“

“Hyora sakit?” potongku yang berujung tersedak oleh air yang tengah aku minum.

“Tentu saja tidak, memang begitu kalau sedang hamil muda,” jelas Ibu. “Kamu juga harus beristirahat. Dua hari lagi kalian akan menikah. Bagaimana jadinya pernikahan kalian kalau kedua pengantinnya terlihat seperti zombi?”

Aku menghela napas lega. “Syukurlah.”

“Sana, kamu juga tidur. Di kamarmu!” tekan Ibu pada kata ‘kamarmu’ sembari menepuk punggungku dengan kencang.

“Haneul-ssi, sakit tahu!” jeritku.

Ibu sudah mengangkat tangannya, ingin memukulku lagi. Tanpa membuang waktu, aku mengambil langkah seribu. Menghindari amukkannya. Aku menaiki anak tangga dengan cepat sembari tetap terfokus pada omelan-omelan yang dilontarkan ibu karena aku sangat tidak sopan meneriakkan nama gadisnya. Dia tidak benar-benar marah. Kami biasa bercanda seperti itu.

Senyumku melebar sampai menyentuh telinga. Otakku dipenuhi khayalan-khayalan tentang peristiwa bersejarah dalam hidupku yang akan terjadi dua hari lagi. Membayangkan diriku mengenakan setelan tuxedo hitam menghadap seorang pastur tua. Sedangkan di sebelahku berdiri calon pendamping hidupku yang berbalut gaun putih nan cantik. Kemudian title ‘calon’ itu akan lenyap saat kami mengucapkan dua kata sakral, saya bersedia. Rasanya aku akan terbang karena terlalu bahagia.

-xxx-

Perlahan kubuka pintu di depanku. Sangat hati-hati agar tidak mengeluarkan sedikit suara pun. Ruangan di balik pintu itu hampir tanpa penerangan, kecuali karena adanya lampu tidur. Aku menahan napas saat berusaha melewati pintu yang hanya kubuka selebar tiga jengkal.

Tanpa menutup pintu, aku masuk lebih dalam ke kamar itu. Mendekati ranjang yang tepat berada di tengah ruangan. Kudekati dengan perlahan pinggir ranjang. Calon istriku, begitulah aku memanggilnya belakangan ini, tengah tertidur lelap sembari memeluk sebuah buku bersampul hijau.

Kuperhatikan wajahnya dengan seksama. Walaupun terlihat pucat dengan tulang pipi yang membentuk garis begitu jelas di wajahnya, dia tetap terlihat sangat cantik. Bukan. Bukan karena kecantikannyalah aku jatuh cinta padanya. Tidak ada alasan, tidak ada penyebab. Seperti kata orang kebanyakan, tiada alasan untuk mencintai seseorang.

Menatap wajahnya dalam jarak yang begitu dekat ini membawaku pada angan-angan suatu cerita hidup yang akan aku jalani dengannya setelah mengucap janji sehidup-semati di depan altar beberapa hari lagi. Kisah yang indah dan akan membuat orang lain iri. Ya. Jalan seperti itulah yang aku inginkan. Aku ingin seisi dunia ini iri padaku karena memilikinya.

Kulihat sesuatu yang berkilau menuruni puncak hidungnya. Senyumku pun memudar. Bayang-bayang kebahagiaan itu tiba-tiba berubah hitam. Dia menangis, gumamku dalam hati. Tanpa kusadari, tanganku bergerak untuk menghapus airmata itu. Terasa hangat. Dan, menyayat.

Dia mengerang dan sedikit tersentak. “Oh! Oppa?”

Aku mengangguk pelan. “Emm… maaf membuatmu terbangun.”

Oppa sudah makan?” tanyanya dengan suara sedikit serak. “Mau aku buatkan sesuatu?”

“Tidak perlu,” cegahku segera. “Tidurlah kembali!”

“Biar aku–.”

“Ssst… tidur saja!” gertakku.

Dia tak lagi bersuara sejak kutarik selimut beraksen bunga-bunga itu menutupi tubuh mungilnya. Matanya tak terpejam. Dia belum kembali tidur. Tatapannya yang menerawang membuatku menghela napas namun tak ingin mengintrupsinya. Saat ini pun, aku berusaha melangkah ke luar tanpa disadarinya.

Oppa…,” panggilnya.

“Iya… tidurlah!” Aku menatapnya dari balik pudak kiriku.

Mata sayunya menatapku memohon. “Bisakah Oppa di sini sampai aku tertidur?”

“Emm?”

“Temani aku sampai aku tidur. Bolehkah, Jinki Oppa?”

Aku terkekeh, “Baiklah, Nona. Tetapi… karena aku sangat lelah, aku akan berbaring di sebelahmu. Tidak keberatan?”

Dia tersenyum tipis dan mengangguk kecil. “Nyanyikan aku sebuah lagu,” pintanya setelah aku merebahkan diri di sampingnya.

“Bagaimana mungkin kamu meminta Oppa menyanyi dengan memunggungi Oppa, eoh?” rajukku. “Jangan harap–.” Aku tertegun seketika.

Dia mengejutkanku dengan tindakannya yang tak terduga ini. Wajahnya yang terbenam di dadaku membuatku susah bernapas. Tangannya yang melingkar di pinggangku dan memelukku dengan erat membuatku jantungku berdetak seratus kali lebih cepat dari biasanya. Wajahnya dekat dengan dadaku, sudah barang tentu dia mendengar detak jantung yang tak karuan ini. Lihat. Pundaknya bergerak naik-turun, dia menertawakanku.

“Hey…hey… jangan tertawa. Jantungku memang seperti itu, memang berbeda dari manusia pada umumnya. Bawaan gen,” bohongku.

“Nyanyikan lagu untukku, Oppa. Aku mohon.”

Untuk kesekian kalinya, otot-otot wajahku harus mengendur. Garis bibirku pun kembali melengkung ke bawah. Suaranya yang serak dan terputus-putus membuatku menyadari bahwa dia tak tertawa sama sekali, melainkan sebaliknya.

“Hyora-ya?” Dia tak menjawab, aku juga tak mengharapkannya. “Oppa hanya akan menyanyikan satu buah lagu. Oke?” tanyaku dengan nada riang yang dibuat-buat.

Tanganku membelai lembut belakang kepalanya sembari mulai menggumamkan nada-nada sumbang. Aku berusaha tetap bernyanyi walaupun pikiranku tak bisa fokus sama sekali. Suara-suara kecil di dalam kepalaku membisikkan ejekkan. Mereka mengejek keputusanku yang akan menikahi Hyora. Mereka bilang, aku mengambil keputusan yang salah dan aku akan menyesalinya. Aku hanya menyakiti diriku sendiri jauh lebih dalam dari sebelumnya

-xxx-

W Bulding. 02 October, 10:47 am.

Aku mondar-mandir dalam ruangan serba putih bergaya eropa bak penyedot debu otomatis. Kim Jonghyun, pendamping pengantinku, melipat tangannya di depan dada dan mulai geram melihat tingkahku. Dia masih setia menjaga pintu agar aku tak berlari menuju ruang seberang.

Hyeong… hentikan, aku pusing melihatmu!” bentaknya. “Tenanglah! Sabar!”

Aku tetap melangkahkan kakiku tak tentu arah sambil menatapnya frustasi. “Kamu tidak tahu! Sama sekali tidak tahu bagaimana rasanya. Aku hanya ingin melihat Hyora sebentar.”

Hyeong!” potong Jonghyun. “Mempelai pria tidak boleh melihat mempelai wanita dengan gaun indahnya sebelum wali mengantarkan mempelai wanita ke depan altar. Begitu peraturannya. Bahkan, tidak boleh me-nyen-tuh-nya sebelum sah menjadi istri. ” Pemuda menyebalkan ini tersenyum jahil saat membuat tanda kutip ketika menyebutkan kata menyentuh.

Aku mendengus. “Aku tahu. Aku tahu. Hanya,” aku tak melanjutkan.

“Apa?”

Pintu di belakang Jonghyun terbuka lebar. Pemuda berambut pirang bermarga Lee , Lee Taemin, menyapaku dengan senyum lebar. Jonghyun dengan iseng memukul lengan atasnya dan membuatnya memekik keras.

“Sakit, Hyeong!”

Jonghyun tertawa pendek. “Yak… Taemin-ah, rambut yang bagus. By the way, Ada apa?”

Time to show!” jawabnya bersemangat.

Aku menghembuskan napas untuk mengusir gugup dan juga perasaan tak nyaman. Jonghyun dan Taemin mengapit di kiri dan kananku. Mereka sangat bersemangat. Aura cerah mereka menutupi auraku yang notabenenya main actor hari ini. Sangat menyebalkan, tetapi aku tak bisa melakukan apapun.

-xxx-

Beberapa kali aku melirik jam tanganku. Rasanya aku sudah menunggu selama berjam-jam walaupun mungkin kenyataannya baru beberapa menit. Aku memelototi Jonghyun, meminta penjelasan. Jawabannya hanyalah, sebentar lagi Hyeong. Dan,  Hyora mungkin masih menyempurnakan penampilannya. Ibu juga berusaha menenangkanku dengan tatapan lembutnya. Sayangnya, aku tak bisa tenang sedikitpun.

Sejak melewati pintu ruang tunggu Hyora tadi, firasat buruk memenuhiku. Aku melihat Jieun–sahabat Hyora dan adik seorang teman lama–memasuki ruangan itu dengan ekspresi wajah tegang. Dia terlihat sangat berhati-hati seolah menyembunyikan sesuatu. Kini dia ada di sudut ruangan dan menatapku dengan tatapan sayu yang tak dapat kuartikan.

Di dekat pintu masuk utama aula pernikahanku, pengatur acara sepertinya meminta pengiring pengantin wanita untuk menjemput Hyora. Hal itu membuatku tersenyum lebar dan melupakan segala keresahan tadi. Beberapa menit lagi, dan semuanya akan berakhir.

Kurasa lima menit kemudian, semuanya memang berakhir. Pengiring pengantin wanita itu muncul seorang diri dengan napas terengah-engah dan wajah panik. Pengatur acara menghampirinya. Ibuku juga beranjak dari tempat duduknya dan melangkah dengan langkah besar-besar menghampiri kedua wanita itu.

Aku menunggu beberapa saat. Aku menunggu ibu menoleh padaku dan memberikan penjelasan dengan tatapannya. Wajahku mungkin terlihat pucat pasi sekarang. Sejujurnya, kakiku tak bertenaga lagi. Rasanya aku akan tumbang. Seluruh tubuhku berkeringat. Jantungku terasa diremas-remas.  Tetapi aku akan tetap menunggu.

Akhirnya ibu berbalik dan menatapku. Bibirnya bergerak menyebut namaku dengan sangat pelan. Aku segera mencari-cari Jieun di tempat aku melihatnya tadi. Dia masih di sana. Tertunduk, tak berani menatapku.

Tanpa pikir panjang. Aku segera berlari meninggal altar menuju pintu utama aula yang terbuka lebar. Kudengar ibu memanggilku, tapi tak kuhiraukan. Aku terus berlari keluar dari aula yang telah terhias dengan bunga-bunga imitasi berwarna-warni.  Aku berlari sepanjang lorong bangunan serba guna ini menuju pintu keluar.

Terik cahaya matahari menyambutku. Kulepas sarung tangan putih yang kupakai dengan terburu-buru dan membuangnya sembarangan. Bola mataku bergerak ke sana-ke mari, mencari sosok Hyora, sembari menuruni anak tangga satu persatu. Aku ingin berteriak memanggilnya. Tetapi tenggorokanku tercekat begitu saja. Hal yang aku takutkan pun terjadi, dia pergi. Dia kembali padanya.

-xxx-

Kakiku melangkah tertatih-tatih memasuki ruangan yang beberapa saat lalu diisi oleh calon istriku. Satu per satu kulepas kancing jas yang aku kenakan. Kemudian kulonggarkan dasi di leherku yang makin lama terasa mencekik.

Langkahku terhenti di tengah ruangan. Kuedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan. Semuanya putih, begitu suram. Tidak ada satu makhluk hidup pun kecuali diriku. Aku menghela napas kasar dan tertunduk. Tangan kananku memegang dada yang terasa sangat sakit.

Kepalaku berdenyut-denyut. Semakin intens. Membuatku ingin membenturkannya ke dinding. Kontrol diriku hancur, namun aku berusaha untuk tetap bertahan dari rasa sakit yang rasanya akan membunuhku.

Kedua tanganku terjuntai seolah tanpa tulang di kedua sisi tubuhku. Aku menegakkan kepala dengan tatapan lurus ke depan. Tepat di depanku, sebuah manekin bergaun pengantin terpajang. Kudekati manekin itu.

Begitu manekin bergaun itu berada dalam jangkauan tanganku, aku segera meraih kertas berwarna putih yang melekat pada gaun itu. Aku tersenyum lebar saat membaca tulisan yang ada di sana. Setelah hari ini, mungkin aku harus membencinya. Walaupun sedikit, aku harus membencinya.

“Aku membencimu, Han Hyora.”

-xxx-

Jinki Oppa.

Maafkan aku.

Maafkan aku, Oppa.

Dia kembali, Oppa. Dia menyesal telah meninggalkanku. Dia akan bertanggung jawab atas semuanya. Oppa tahu, aku sangat mencintainya. Oppa tahu itu bahkan melebihi diriku sendiri. Aku memilih untuk bersamanya, itulah yang terbaik. Keputusan inilah yang terbaik untuk kita, terutama untukmu Oppa. Maafkan aku karena menyakitimu. Terima kasih, Oppa.

Maafkan aku, Jinki Oppa.

Han Hyora.

-xxx-

H Apartment. 12 August, 03:23 pm.

Hyora terus memandangi Jinki yang tengah membalut luka di pergelangan tangan kirinya. Jika saja Jinki tak datang, dia mungkin tidak akan ada lagi di dunia ini. Dia akan menjadi pendosa yang mengakhiri hidupnya sendiri dan hidup calon manusia di dalam rahimnya dengan keji. Memang matilah jalan terbaik untuknya. Tiada gunanya lagi dia hidup.

“Menikahlah denganku, Oppa,” ucap Hyora tiba-tiba.

Jinki memandang keheranan. “Apa katamu?”

Hyora mengumpat dalam hati. Dia memang seharusnya mati saja. Otaknya yang sudah tak waras itu membuatnya mengatakan sesuatu yang tak sepantasnya. Tidak seharusnya dia meminta Jinki bertanggung jawab atas apa yang tidak dia lakukan. Atau mungkin harus.

“Menikahlah denganku, Oppa,” ulang Hyora dengan lebih lembut. “Oppa akan menjadi ayah dari bayi yang aku kandung.”

“Hyora-ya?” Jinki menatap Hyora penuh perhatian. “Aku… Bisakah aku…”

“Aku mencintaimu, Jinki Oppa,” sambar Hyora.

Jinki tersenyum lebar setelah sebelumnya merasa terkejut. “Emm… aku juga mencintaimu.”

Hyora merentangkan kedua tangannya dan meraih pundak Jinki kemudian memeluknya. Jinki membalas pelukan itu dengan hangat. Di balik pudak Hyora, senyum Jinki perlahan memudar. Sedangkan di sisi lain, Hyora menggerakkan bibirnya mengucapkan kata maaf tanpa suara.

END