Tags

,


Strange Girl

|| Chapter One || Chapter Two|| Chapter Three || Chapter Four || Chapter Five || Chapter Six || Chapter Seven || Chapter Eight ||

JOAH –Strange Girl “Chapter Nine

Aku tak tahu apa yang terjadi padaku. Emosiku campur aduk, tak beraturan. Aku marah, mungkin saja, atau kecewa, sepertinya lebih tepat. Entah aku yang bodoh atau memang secara tak sadar, sengaja pura-pura tidak tahu.  Aku memang aneh, tak dapat mengontrol diriku sendiri. Alam bawah sadarku menguasai semua, akal sehatku seolah koma.

Aku ingin sekali menyalahkannya, Choi Minhye, tetapi seperti ada yang menghalangi keinginan itu. Aku ingin meledak, tetapi seolah tombol pemicu ledakan itu terlindungi kotak kaca tanpa sisi yang dapat dibuka. Akal sehatku berteriak keras, tak ada yang acuhkannya. Hatiku, dia yang memegang kendali saat ini. Dia membisikkan kata-kata yang tidak kumengerti.

“Kyungsoo?”

Aku terjaga dari lamunan. “Nde?”

“Kebetulan bertemu di sini, aku mencari-carimu tadi.” Dia tersenyum ramah.

“Oh…?!” responku setengah kaget dan kebingungan.

“Hanya begitu saja tanggapanmu? Tsk…”

Aku menghela napas sebelum mengulas senyum. “Mianhae.”

“Oke…,” angguknya ringan.

Aku menunggunya untuk berbicara. Tetapi dia tetap bungkam. Seketika aku berpikir bahwa dia mungkin mencariku karena masalah yang terjadi antara aku dan Minhye. Bisa saja Minhye telah berlari kepelukannya dan mengadu. Sebegitu cepatkah Minhye memberi tahu seisi perusahaan?

“Minho Hyeong, mengapa mencariku?” tanyaku, lebih seperti menantang. Menerka-nerka apakah tebakanku benar atau tidak.

“Apa kamu tahu kalau Minhye menyukaiku?” tanyanya tiba-tiba.

“Emm…,”jawabku ragu. Rupanya dia belum tahu apa-apa. Dia mencariku karena hal lain.

Minho Hyeong menunduk sesaat sembari tersenyum kecil. “Jadi kamu sudah tahu? Tentu saja, Minhye sangat dekat denganmu. Apalagi yang kamu tahu tentang aku dan dia?”

“Hanya itu.”

“Apa dia bilang kalau aku juga menyukainya tetapi sebagai yeodongsaeng-ku?”

“Emm,” ucapku dengan sebelumnya berpura-pura mengingat-ingat.

“Apa dia juga bilang walaupun aku memperlakukannya seperti itu dia tidak akan menyerah?” Wajahnya serius saat menatapku. “Dia tidak akan menyukai orang lain selain aku.”

Hyeong?”

Minho Hyeong tiba-tiba tersenyum sumringah. “Dia tidak cerita sampai sejauh itu ya? Emm…”

Dia membuatku kebingungan setengah mati. Rasanya ada sesuatu di balik semua pertanyaannya itu.

“Sebenarnya, aku bukan tidak menyukainya. Tidak, kenyatannya aku mencintainya, Kyunsoo-ya. Tetapi aku tidak bisa mengatakannya. Kamu mungkin belum tahu Minhye. Maksudku, bagaimana Minhye dulu. Maksudku… apa yang pernah Minhye alami dulu.”

Aku mengangguk ringan, mengiyakan. Mendengarkan semua yang akan dia katakan.

Kemudian, lanjutnya, “Dia sudah cukup menderita sebagai sepupu Kyuhyun Hyeong, apalagi kalau sampai menjadi pacarku.” Dia tertawa kecil. “Kamu tahu? Dia suka sekali pamer pada teman-temannya kalau dia kenal artis-artis papan atas. Dia selalu memamerkan Kyuhyun Hyeong. Tidak sedikit fans yang akhirnya mendengar hal itu. Mereka cemburu, sangat tidak suka jika Minhye bisa seberuntung itu. Kamu tahu maksudku ‘kan?”

“Itu…,”

Minho Hyeong memotong. “Dulu…. aku takut terjadi apa-apa pada Minhye. Aku takut tidak dapat melindunginya jika fans tahu Minhye adalah gadis yang aku pilih. Meskipun begitu, aku juga tidak bisa melihat Minhye menganggap aku mempermainkannya.  Aku tidak sanggup lagi menyakitinya. Aku mencintainya, Kyungsoo-ya. Tidak wajar sekali aku terus menyembunyikan kenyataan itu, bukan?. Aku pasti bisa melindunginya, hanya aku yang bisa. Kamu mengerti maksudku?”

Ne, Hyeong,” ucapku ragu. Dia terus berbicara tak tentu arah.

Minho Hyeong kembali terlihat serius. “Minhye hanya menyukaiku, benar bukan, Kyungsoo-ya?”

Nde?”

“Minhye tidak menyukai orang lain selain aku, ‘kan? Katakan padaku jika kamu tahu siapa orangnya. Aku akan menemuinya dan memperingatinya dengan tegas bahwa Minhye milikku, menjauh darinya,” jelas Minho  Hyeong panjang lebar dengan berapi-api.

“Aku tidak tahu, Hyeong,” jawabku, lagi-lagi dengan cara sepolos mungkin.

Minho Hyeong menatapku selidik. “Pasti bukan kamu orangnya, ‘kan? Aku sedikit merasa curiga dengan hubungan di antara kalian berdua. Kulihat, Minhye memperhatikanmu melebihi yang lain.” Minho Hyeong memelototiku. “Kyungsoo-ya, menyerahlah!”tawanya tertahan. “Aku bercanda.”

Aku menatap pemuda jangkung di hadapanku ini dengan mata terbuka lebar. Ucapannya tadi tidak main-main. Walaupun dia mengatakannya dengan nada bercanda, tetapi tergambar jelas di matanya bahwa dia serius. Dia tidak  sedang mempermainkanku atau sekedar ingin membuatku kebingungan dan terlihat dungu.  Atau hanya bercerita tak tentu arah. Menurutnya aku  memang perlu tahu hal itu. Semua memiliki makna yang dalam dan tersembunyi.

“Itulah yang sebenarnya,” tutupnya.

Aku berusaha menghilangkan keterkejutanku. “Aku mengerti, Minho Hyeong.”

-Chapter Nine-

AUTHORKyungsoo berdiri mematung. Posisinya tubuhnya yang lurus dengan kepala menoleh ke kiri tentu akan membuat orang bertanya-tanya. Apa yang dia lihat atau apa yang dia pikirkan. Beruntungnya sejauh ini tidak ada yang menyadari kelakuannya itu, tidak ada yang peduli. Kecuali satu orang, seorang pemuda tinggi yang tengah beradu tatap dengannya.

Pupil mata Kyungsoo bergetar. Dadanya naik-turun dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Jantungnya memompa tak beraturan. Kakinya ingin melangkah, namun tertahan. Kyungsoo benar-benar bertingkah aneh. Beruntungnya, empat orang pemuda yang berada di dekatnya sibuk dengan urusan mereka sendiri dan mengabaikan dirinya.  Tidak ada yang akan mempertanyakan keanehan sikapnya itu.

“Kyungsoo-ya!”

Panggilan Jongdae–Chen, diabaikannya. Semua perhatiannya terpusat pada sepasang anak manusia yang ada di dalam ruangan berdinding kaca itu.

“Do Kyungsoo!” Jongdae menarik lengan Kyungsoo.

“Oh… Ada apa?” tanyanya linglung.

“Ayo kita pergi. Apa lagi yang kamu tunggu?” Jongdae melirik ke dalam ruangan. “Minhye…Minhye. Nanti saja kita olok-olok dia, maksudku memberi selamat. Sekarang kita pergi dulu.” Jongdae kembali menarik-narik Kyungsoo agar mengikutinya.

“Aku mengerti,” jawab Kyungsoo datar.

Jongdae tersenyum kepada tiga pemuda yang berdiri di depan pintu seperti penjaga. “Taemin-gunHyeong. Kami pergi dulu. Sampai jumpa!”

“Oke!” balas singkat Onew–Jinki.

Jonghyun melambaikan tangan. “Selamat bekerja!”

Tidak ada yang menyadari bahwa Kyungsoo tidak pernah ingin meninggalkan tempatnya berdiri tadi, bahkan dirinya sendiri. Tidak ada yang peka kecuali Minho. Jauh di dalam hati, Minho merasa tak enak hati harus melakukan semua ini. Tetapi, dia juga tak rela hati jika gadis yang kini berada dalam pelukannya jatuh ke tangan orang lain. Dia tidak bisa merelakan Minhye bahkan kepada Kyungsoo.

“Semua akan baik-baik saja, Minhye-ya,” ucapnya lembut. “Aku ada di sini. Oppa selalu ada untukmu.”

-Chapter Nine-

“Makan sarapanmu! Jangan cuma ditonton saja!”

Kyungsoo menghela napas. “Emm….”

“Kamu sakit?” Chanyeol mendekatkan punggung tangannya ke dahi Kyungsoo.

“Emm…,” geram Kyungsoo sembari menjauhkan kepalanya.

“Sudah tiga hari kamu seperti ini. Apa sebaiknya kita ke rumah sakit?” Chanyeol semakin khawatir.

Bukannya merespon ajakan Chanyeol, Kyungsoo memilih untuk meninggalkan meja dapur dan menuju kamarnya. Mangkuk berisi sereal jagung di hadapannya tidak tersentuh sama sekali. Chanyeol hanya geleng kepala dan memberikan sereal yang hampir mubazir itu kepada Baekhyun.

“Benar tidak ada yang  ingin kamu ceritakan?”

Kyungsoo sibuk memainkan ponselnya, tak acuhkan Chanyeol yang memutar bola matanya karena jengah akan sikap tertutupnya. Chanyeol terpaksa menyerah. Dia memutuskan untuk kembali ke dapur dan mengkritik Baekhyun yang makan berantakkan. Kyungsoo menghela napas diam-diam, lega. Dia masih harus bungkam sampai waktu yang tidak terbatas. Dia masih butuh banyak waktu untuk memastikan sesuatu sebelum meminta saran dari orang lain.

Dalam diam dia merenung. Berguling-guling di atas kasur yang telah dia rapikan saat bangun tidur tadi. Bak orang yang tidak punya pekerjaan, dia menggoreskan telunjuknya pada dinding di sampingnya. Entah apa yang ditulisnya. Seolah memang tertulis sesuatu di sana, begitu mendengar pintu terbuka, dia segera menyapukan telapak tangannya di atas permukaan dinding yang putih polos.

Hyeong, apa yang kamu lakukan?” tanya Jongin–Kai–heran. Dia memperhatikan dinding yang sama sekali tidak memiliki rahasia apa-apa.

Kyungsoo berdehem ringan. “Tidak ada. Hanya tidur-tiduran. Ada apa?”

Jongin tetap penasaran dengan dinding kosong itu. “Kamu baik-baik saja?”

“Iya.” Kyungsoo mengangguk ringan sembari mengambil posisi duduk. Kedok untuk menutupi dinding itu, walaupun tidak ada apa-apa di sana.

“Baiklah.” Jongin memiringkan kepalanya ke kiri sejenak, tanda kebingungan. “Mau ikut? Aku mau ke Perusahaan?”

“Untuk apa?”

“Aku, Sehun, dan Yixing Hyeong mau latihan sedikit,” ujar Jongin. “Ikut?” tambahnya.

Kyungsoo terdiam. Wajahnya terlihat seperti menimbang-nimbang keputusan yang harus diambilnya. Hari ini mereka libur. Menikmati libur dengan seharian di dorm untuk beristirahat adalah pilihan yang selalu dia putuskan. Tetapi ada bisikkan kecil makhluk tak terlihat yang menyarankannya untuk mengikuti Jongin dengan alasan yang ditolak mentah-mentah akal sehatnya.

Dering kencang ponsel Jongin membuat Kyungsoo kembali terjaga. Jongin juga tak kalah terkejut. Dia lupa mengembalikan pengaturan ponselnya ke volume sedang. Susah payah Jongin merogoh sakunya untuk mengeluarkan ponsel bermerek terkenal itu dan menghentikan dering yang memekakkan telinga mereka berdua.

Yeoboseyo?” Jongin nyengir kuda ke arah Kyungsoo. “Mian Hyeong,” bisiknya. “Siapa?”

“Ini aku,” jawab suara nyaring di seberang. “Tidak menyimpan nomorku lagi? Kamu dimana?”

“Aaaa…,” respon Jongin setelah mengenali Sang Penelpon. “Mian. Ada apa?”

Kyungsoo penasaran, tak tahan untuk tidak bertanya. “Siapa?” tanyanya antusias karena mendengar suara perempuan. “Eomma?”

“Siap… tunggu saja.” Jongin hendak menjawab rasa penasaran Kyungsoo tapi tertahan sebab tiba-tiba dia terpikir sesuatu. “Kenapa tidak ke dorm saja?”

“Aku tunggu di Perusahaan,” ujar Si Penelepon ngotot.

“Yak… ke dorm saja!”

Kkeut.” Penelpon di seberang memutus sambungan.

“Aish…,” desis Jongin pada benda mati di gengamannya. “Kenapa Hyeong? Minhye yang menelpon.”

Mata besar Kyungsoo membulat sempurna, hampir keluar dari liangnya. Ekspresi itu segera menghilang. Beruntung Jongin tidak memperhatikannya. Kyungsoo segera dapat mengendalikan dirinya. Dia bertingkah normal seolah nama yang mengudara dari mulut Jongin sama sekali tidak mempengaruhinya. Kebalikan dengan pemuda bermarga Do itu, Jongin terlihat tegang. Dia merasa tak enak hati pada rekannya itu. Insiden foto beberapa waktu lalu telah menyeret Kyungsoo dalam masalah besar, dan Minhye-lah penyebabnya.

“Emm… Hyeong?”

Kyungsoo masih mempertahankan ekspresi datarnya. “Aku ikut,” ucapnya. “Berangkat sekarang?”

Nde? Ikut ke mana?”

Dahi Kyungsoo berkerut, tetap memainkan perannya. “Bukannya ke Perusahaan? Kamu ajak aku ke Perusahaan ‘kan?”

“Oh iya!” Jongin cengengesan. “Hyeong ada urusan juga?” tanya Jongin. Dalam nada bicaranya terselip harapan Kyungsoo tidak jadi ikut.

“Aku ada janji dengan Ryewook Hyeong,” bohong Kyungsoo. Dia berusaha terlihat meyakinkan. “Kenapa?”

Jongin berusaha menyembunyikan kekecewaannya tetapi tidak berhasil. “Oh begitu.”

“Kenapa? Tidak suka aku ikut?”

Jongin menggeleng kencang sambil mengibas-kibaskan tangan kirinya. “Tentu saja tidak. Setelah dipikir-pikir, kalau kami bertiga latihan, Hyeong bisa mati bosan menunggu kalau tidak ada yang dilakukan di sana.”

“Aku bisa ikut kalian latihan atau aku berlatih vokal. Lagian yang lain akan keluar. Aku tidak ingin sendiri di rumah.”

Jongin mengiyakan. Melihat ekspresi Kyungsoo yang biasa-biasa saja membuatnya merasa sangat bersalah. Sebelumnya dia berpikir, sebaiknya Kyungsoo tidak ikut ke Perusahaan karena ada Minhye. Menurutnya Kyungsoo sebaiknya tidak bertemu Minhye. Dia cukup mengenal bagaimana watak Hyeong-nya yang satu ini. Dia tidak pernah memaafkan orang yang menghianatinya. Sudah barang tentu dia tidak akan mau bertemu dengan Minhye lagi.

-Chapter Nine-

Minhye tersenyum sendiri. Dia ingat betul kejadian saat pertama kali kembali ke Perusahaan. Duduk di sofa lobi seperti sekarang. Dia ingat bagaimana dia berusaha tidak mengacuhkan dua orang pemuda yang bersamanya. Mereka terus-menerus berbisik sembari menatapnya. Minhye hampir saja tertawa terbahak jika sesekali mendapati mereka menatapnya penuh selidik. Dia sadar, mereka pasti berdebat tentang hubungan macam apa yang dia miliki dengan Kyuhyun.

Seketika kegembiraan itu hilang. Kesadarannya kembali pada masa sekarang. Dia sudah tak punya muka lagi untuk bertemu salah satu pemuda itu, Do Kyungsoo. Sesungguhnya, dia tidak pernah punya keberanian untuk bertemu mereka semua. Jika saja Junmyoen dan Jongin tidak membujuknya seharian untuk melupakan kejadian kemarin, mungkin dia tidak akan ada di Seoul lagi sekarang. Dia akan memilih untuk bersembunyi seperti dulu.

Minhye mengutuk dirinya sendiri. Padahal sebelum dia turun dari tempat tidur tadi pagi, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengungkit apalagi memikirkan insiden yang terjadi karena dirinya itu. Memikirkan ulang semua kesalahannya itu dapat membuatnya semakin frustasi. Dia tidak ingin frustasi dan membuat orang-orang di sekitarnya khawatir, khususnya Ibu. Walaupun terdengar sangat egois dan tidak tahu diri, dia harus menganggap tidak pernah terjadi apa-apa.

Di kejauhan terlihat seseorang berjalan ke arahnya. Minhye segera mengatur dirinya. Bertingkah biasa, seperti dia yang biasanya walaupun sebenarnya sulit dan mungkin akan percuma. Dia tak pernah pandai menyembunyikan perasaan dan isi kepalanya. Apalagi pada pemuda itu.

“Kamu datang? Sudah makan?”

Minhye segera mengembangkan senyum walau terkesan terpaksa. “Ne… aku sudah makan.”

“Temani aku makan, eoh?”

“Aku sudah makan, Oppa.” Minhye menggeleng sembari tertawa kecil. “Aku sudah makan banyak tadi.”

“Hanya menemani, tidak makan juga pun tak apa. Aku mohon.”

“Aku tidak bisa. Kebetulan aku ada janji dengan Jongin. Mian…Minho Oppa.”

Minho menghela napas kasar. “Bertemu Jongin ya?”

Minhye langsung dapat menangkap maksud lain dari perkataan Minho. “Oppa tak suka? Hanya Jongin, aku hanya bertemu dengan Jongin. Dia ingin mengembalikan beberapa barangku. Tidak ada maksud lain.”

Nde?” Minho tertegun.

“Setelah bertamu Jongin, aku akan langsung pulang,” ucap Minhye dengan cepat. “Oppa percaya padaku ‘kan?”

Tenggorokan Minho terasa tercekat. Tanggapan Minhye membuat lidahnya terasa pahit. “Minhye-ya… kamu membuatnya terlihat begitu jahat.”

Minhye melongo, “Maksud Oppa?”

“Tidak ada apa-apa. Aku saja yang berlebihan. Kalau begitu, aku pergi.”

Minhye mengangguk ringan. Dia ingin mencoba tersenyum sebagai salam selamat jalan kepada Minho, tapi diurungkannya. Bukan karena dia tak sudi untuk tersenyum kepada pemuda yang selama ini dia kejar-kejar. Bukan juga karena dia sudah tak memiliki perasaan terhadap Minho sehingga senyumnya nanti akan terasa hambar. Melainkan, dia tak ingin Minho membaca seluruh kegelisahannya. Minhye tak dapat tersenyum untuk saat ini, terlalu banyak hal yang merisaukannya.

Entah Minho yang sengaja memperlambat langkahnya. Atau memang waktu tengah berputar dengan lambat. Pemuda itu tak kunjung menghilang dari jangkauan pandangan Minhye. Beberapa kali dia melihatnya menghela napas dalam, pundaknya pun merosot turun. Minho tidak terlihat dalam kondisi yang baik. Seketika itulah Minhye merasa sangat bersalah. Penolakannya tadi mungkin melukai Minho, begitu pikirnya.

Oppa!” panggil Minhye.

Minho segera menoleh. “Ne?”

“Aku rasa, aku mulai lapar lagi,” kekeh Minhye sembari berlari mengejar Minho. “Aku ikut!” Minhye nyengir kuda.

Jinja?” Sebelah alis Minho terangkat.

Minhye berusaha tampak semeyakinkan mungkin. “Perutku baru saja berbunyi,” akunya.

Minho menatap curiga. “Tak perlu memaksakan, Minhye-ya.”

Oppa…” rengek Minhye. “Apa Oppa lupa kalau aku sangat menyukai Oppa? Jadi, begitu bodohnya aku jika menolak makan siang dengan Oppa. Padahal aku bisa saja memamerkannya sebagai kencan kita.” Gumamnya, “Ini kencan kita yang ke berapa ya?”

“Yang pertama,” sela Minho.

Minhye terpaku. “Kurasa bukan,” koreksi Minhye.

“Kencan pertama kita sebagai sepasang kekasih,” ujar Minho lantang.

-Chapter Nine-

Berulang kali Minhye melihat ujung kakinya dan wajah Minho yang berdiri di sampingnya bergantian. Dia tak henti-henti memainkan kuku jarinya. Antara mimpi dan kenyataan, begitu yang dia rasakan saat ini. Sesuatu di dalam perutnya seperti tercampur aduk, bergerak berputar dan sesekali menambrak dinding perutnya. Telapak tangannya mulai berkeringat. Dia berusaha mengeringkannya dengan meremas-remas ujung kaos yang dia kenakan.

“Oh…,” pekiknya tertahan.

Minhye segera mencari sumber keterkejutannya. Tangan kanannya berada dalam genggaman pemuda tinggi nan tampan itu. Memberikan aliran listrik yang menurutnya cukup untuk memberhentikan sekaligus menghidupkan kembali detak jantungnya.

“Apakah udaranya sangat panas?”

Minhye mendongakkan kepalanya. “Ani, wae?”

Minho tersenyum dibalik masker yang dikenakannya. “Tidak ada apa-apa.”

Minhye menggerutu kesal tanpa suara. Bisa-bisanya aura yang menguar dari tubuh Minho saat dia menolaknya makan siang dan sekarang, jauh berbeda. Dia dapat mendengar samar-samar, Minho terkekeh. Minho menertawakannya di balik masker wajah itu. Begitu menyebalkan.

“Kenapa taksinya belum datang?” tanya Minho lebih pada dirinya sendiri.

Minhye hanya bergumam untuk merespon, karena dia tahu pertanyaan itu memang bukan untuknya. Selain itu, dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Dirinya terlalu gugup. Masih beruntung bagian-bagian otaknya yang mengatur sistem-sistem tubuhnya tetap berfungsi sehingga dia masih hidup. Sedangkan untuk berpikir jernih, rasanya tak mungkin.

“Kurasa itu taksinya.” Minho mengeratkan genggaman tangannya. “D109.”

Tak menunggu lama, taksi itu berhenti beberapa meter dari tempat mereka menunggu. Menurunkan beberapa penumpang. Minho yang tak sabar, segera berlari menghampiri taksi itu tanpa peduli bahwa Minhye tersentak kaget dan hampir terseret. Minhye mengaduh pun tak dihiraukannya.

“Minho Hyeong, mau ke mana?”

Minho tak memperdulikan pertanyaan itu. Yang ada di benaknya hanyalah harus segera masuk ke dalam taksi dan meluncur menuju restoran yang telah dia reservasi sebelumnya. Mereka  memang akan tetap sedikit terlambat dari waktu yang dijanjikan. Tetapi masih ada tenggat waktu sebelum reservasi dibatalkan oleh pihak restoran.

“Masuk, hati-hati kepalamu,” pesan Minho.

Dia membuka pintu belakang taksi dengan terburu-buru untuk Minhye. Minhye yang kebingungan hanya menuruti saja. Selain karena faktor gugup yang membuatnya tidak bisa berpikir jernih, dalam kondisi yang serba terburu-buru ini pun otaknya menjadi hampir kosong.

Hyeong, ada apa?” tanya Jongin dengan harapan tak diacuhkan untuk kedua kalinya. “Bukankah itu Minhye? Ada apa dengannya?” Jongin semakin panik karena melihat Minho yang seperti diburu waktu. “Dia baik-baik saja ‘kan?”

Lay yang baru keluar dari pintu depan taksi segera menyapa. “Annyeong haseyo!”

“Tidak ada apa-apa,” jawab Minho singkat hanya untuk membuat Jongin tak lagi bertanya.

“Minho Hyeong!” Kali ini Sehun yang menyapa setelah keluar dari pintu belakang taksi yang berseberangan.

Minho hanya merespon dengan anggukan pelan. Acara sapa-menyapa ini memakan waktunya. Tak mau menunda lagi, dia segera berlari ke arah Sehun. Menahan pintu yang akan Sehun tutup. Namun sialnya, suara menyerupai geraman harimau menghentikan langkahnya.

“Yak… Choi Minho, mau ke mana kamu?”

Minho mengumpat kecil. Dia ingin kabur. Sayangnya bayangan Sang Manager yang akan mengamuk nantinya membuat dia mengurungkan niatnya.

Ne, Hyeong?”

“Ke sini, ada yang perlu kubicarakan!” perintah Choi Jin.

Mau tak mau, sudi tak sudi, Minho akhirnya menuruti perintah Choi Jin. “Ne!”

-Chapter Nine-

“Masuk, hati-hati kepalamu,” perintah Minho.

Dalam hitungan detik, Minye sudah berada di dalam taksi dengan interior serba hitam. Dari kaca pintu taksi, Minhye dapat melihat Minho yang terlihat kesal kemudian Jongin yang entah mengapa terlihat panik. Wajah Minho makin masam saat Lay menyapanya. Rasanya lucu memperhatikan adegan di luar taksi itu. Apalagi dia sepertinya mendengar suara Sehun menyapa, dan Minho membalasnya dengan mendesis.

“Sehun-ah!” panggil Minhye sembari menoleh ke kiri. Dia berencana meminta Sehun untuk membuat Minho lebih kesal lagi. Rupanya, dia harus menelan bulat-bulat rencana itu. “Kyungsoo,” eja Minhye.

Kyungsoo terdiam. Wajahnya yang merah  dan pundaknya yang naik turun dengan cepat menunjukkan bahwa dia sempat menahan napas. Tampaknya, Minhye tak menyadari keberadaannya sedari tadi. Buktinya gadis itu terkejut setengah mati melihatnya. Senyumnya pun perlahan luntur.

Alih-alih saling memberi salam. Mereka malah bertingkah seolah mereka tak kenal satu sama lain. Minhye ingin membuka pintu di sebelahnya tapi tentunya akan terkesan sangat tidak sopan–jelas tak sopan. Sedangkan itu, Kyungsoo yang ingin keluar dari pintu yang lain terhalang oleh Sehun. Pemuda yang jauh lebih tinggi darinya itu tak kunjung menyingkir dari depan pintu taksi. Di tambah lagi, Minho sepertinya berlari mendekat.

“Yak… Choi Minho, mau ke mana kamu?”

Ne, Hyeong?”

“Ke sini, ada yang perlu kubicarakan!”

Ne!”

Tanpa alasan yang jelas, Kyungsoo merasa lega karena Minho berbalik menemui Choi Jin –Manager SHINee. Tak mau terlalu lama berpikir, perlahan tetapi pasti, Kyungsoo menyeret-nyeret tubuhnya menyusuri kursi belakang taksi yang berlapis kulit sintesis menuju pintu taksi yang masih terbuka. Saat sebelah kakinya berpijak di tanah, tiba-tiba ada perasaan yang aneh menerpanya.  Haruskah aku pergi begitu saja?, pikirnya.

Sedangkan di belakangnya, Minhye menatap punggung Kyungsoo dengan tatapan memohon. Memohonnya untuk setidaknya menganggapnya ada dalam taksi yang sama. Berdiam dan menunggu, takut untuk membuka mulut dan memulai percakapan kecil, bukanlah sifat Minhye. Meskipun begitu, dia berubah 180 derajat jika berhadapan dengan Kyungsoo. Anomali dirinya itu makin menjadi sejak masalah fatal yang dia buat.

“Kyungsoo-ya!” panggil Minhye dengan suara sekecil mungkin. Dia tidak berharap Kyungsoo akan mendengarnya. “Maafkan aku! Aku memang salah. Aku sama sekali tak bertanggung jawab. Maafkan aku?!”

Tidak ada tanggapan. Pintu taksi itupun tertutup. Minhye tertegun, mencelos. Dadanya sesak, tetapi bukan karena amarah atau merasa tersinggung–sebab diabaikan. Dia hanya kesal pada dirinya sendiri. Betapa egoisnya dia, tidak bertanggung jawab, ceroboh, kekanak-kanakan, dan sangat tolol. Apapun yang dia lakukan selalu berujung masalah. Akan lebih baik jika masalah itu hanya merugikannya, nyatanya merugikan semua orang yang ada di sekitarnya.

“Berangkat, Ahjussi!”

Minhye segera memalingkan wajahnya menghadap jendela. Dia tak ingin Minho melihat wajahnya. Bisa-bisa Minho tahu apa yang tengah dipikirkannya. Rasanya telah ada tulisan berjalan di dahinya yang dapat dengan leluasa di baca Minho atau siapapun.

Mian, Minhye-ya. Jin Hyeong menahanku tadi. Sepertinya kita perlu mencari restoran lain, sudah berlalu terlalu lama dari jam reservasi,” jelas Minho. Napasnya tak beraturan.

Gwaencana,” Minhye berusahan terdengar girang. “Ke mana pun sama saja. Tittle-nya tetap kencan ‘kan?” candanya.

Minho terkekeh, “Iya… Kamu suka akhirnya kita benar-benar berkencan? Kencan yang nyata.”

Minhye terdiam. Mendengar dari mulut Minho sendiri mengatakan bahwa mereka benar-benar berkencan sekarang, seharusnya membuat perasaannya tergelitik dan meledak-ledak. Namun, tidak terasa apa-apa. Begitu hampa dan hambar. Hanya terasa degup-degup yang menyakitkan. Meskipun begitu, sensasi itu tidak disebabkan pemuda di sebelahnya. Dia menyukai Minho, tentunya sensasi itu tidak akan terasa menyakitkan melainkan sebaliknya. Lalu apa penyebabnya?, batin Minhye.

“Minhye-ya… kamu mendengarkanku?” Minho menepuk pundak Minhye.

Minhye terhenyak, tak begitu kentara. “NeOppa bilang apa?”

“Kamu baik-baik saja?”

Minhye mengangguk kencang sembari tersenyum lebar. “Oppa bawa uang yang banyak ‘kan?” goda Minhye.

-Chapter Nine-

“Kyungsoo-ya!” panggil Minhye lebih seperti berbisik namun dapat tertangkap dengan jelas oleh telinga Kyungsoo. “Maafkan aku! Aku memang salah. Aku sama sekali tak bertanggung jawab. Maafkan aku?!”

Mendengar permintaan maaf Minhye, Kyungsoo menghentikan gerak tubuhnya. Getar dalam suara Minhye terasa bagaikan tusukkan pisau di ulu hati. Kyungsoo berharap, Minhye akan memaksanya seperti waktu itu. Berteriak dan menangis dengan kencang. Rasanya lebih ringan baginya. Akan lebih mudah baginya untuk mengatakan bahwa dia memaafkannya. Dan, akan lebih mudah untuk memulai kembali hubungan mereka. Pertemanan mereka.

Kyungsoo menunggu sebentar. Namun, harapannya itu tak kunjung terwujud. Minhye tidak bertindak seperti biasa. Jadi, tak ada alasan baginya untuk menunggu lagi. Pintu taksi dia tutup perlahan. Walaupun kakinya terasa berat saat melangkah, dia tetap memaksakannya.

Hyeong,” sapanya saat berpapasan dengan Minho.

Wajah Minho yang sebelumnya tampak terkejut, segera berubah datar. “Oh… Kyungsoo. Mau latihan juga?”

“Iya.”

“Oke… selamat berlatih,” ujar Minho terkesan enggan.

Kyungsoo mengangguk ringan dan mengucapkan salam dengan sopan. Dia segera berlari kecil menyusul Jongin dan yang lain. Mereka bertiga menunggunya di depan pintu masuk lobi.

“Mengapa begitu lama, Hyeong?” protes Sehun.

Tubuh Kyungsoo menegang. “Apa? Tidak ada apa-apa,” bantahnya.

Sehun memincingkan matanya. “Hyeong malah terlihat makin mencurigakan. Aku bertanya biasa-biasa saja. Mengapa sikap Hyeong jadi begini?”

“Sudahlah. Kita masuk saja sekarang,” lerai Lay.

Mereka berbondong-bondong menuju pintu. Sehun cekikikan, merasa senang mengganggu Jongin. Dia memang sengaja mendorong Jongin agar menabrak Lay di depannya.  Kyungsoo tahu betul Sehun akan melakukan hal itu, makanya dia memilih untuk berada di belakangnya saja.

Deru mesin taksi yang dinyalakan membuat Kyungsoo refleks menoleh. Taksi itu melintas di hadapannya dengan cukup pelan. Oleh sebab itu, dia dapat melihat dengan cukup jelas kursi belakang taksi. Tatapan Kyungsoo pun secara otomatis terpusat ke jendela pintu belakang. Si Gadis Pembuat Onar–Choi Minhye –menopang dagu menghadap jendela dengan tatapan kosong dan raut wajah yang tak bisa tertebak.

-Chapter Nine-

Taemin bertepuk tangan dengan semangatnya. Dia juga bersorak-sorai dengan kalap. Key–Kim Kibum –mendelik kesal karena iri. Dia ingin melakukan hal yang sama tetapi gengsinya teramat sangat besar. Sedangkan Jonghyun dan Onew memilih cukup dengan tersenyum saja sebagai ucapannya selamatnya kepada dua manusia bermarga Choi di hadapan mereka.

Minhye yang menerima perlakuan itu hanya tertunduk malu. Pipinya memanas, ciri dirinya yang merasa salah tingkah. Sedangkan Minho sedang berusaha menyuruh Taemin untuk diam. Dia tak ingin seluruh orang mengetahui hubungannya dengan Minhye, terlalu berbahaya.

“Aih… Kamu sudah mirip udang rebus, Minhye-ya. Kamu suka sekarang? Puas?” sindir Jonghyun.

Minhye mengerucutkan bibirnya. “Maksud Oppa apa?”

Taemin melompat ke arah Minhye dan merangkulnya dengan akrab. “Minhye-ya… Bagaimana rasanya? Setelah berjuang keras dan menderita karena Minho Hyeong terus menolakmu. Sekarang dia tunduk padamu.”

“Pergi kamu!” Minhye menyikut Taemin.

Taemin mengaduh, “Ish… sakit tahu?!!” Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Minhye. Bisiknya, “Bagaimana rasanya berpacaran dengan Minho Hyeong?”

Minhye mendelik kesal. “Aku tak berpacaran dengan Minho Oppa.”

Pernyataan Minhye membuat seisi ruangan terkena serangan jantung. Minhye tak pedulikan ekspresi mereka semua. Dia seolah tak tahu menahu dan tak mau tahu. Dia sudah terlanjur kesal dengan sikap berlebihan mereka dalam menanggapi hubungannya dengan Minho yang baru maju satu langkah saja. Walaupun awalnya terasa menyenangkan. Apalagi Minho tidak terlihat berusaha untuk membuat empat personil SHINee lainnya itu untuk bungkam dan berhenti menggodanya.

“Apa maksudmu, Minhye-ya? Bukankah kalian–“

Minhye menyela ucapan Taemin. “Kami tidak berpacaran. Jadi jangan melebih-lebihkan!” bentaknya.

Sadar dengan apa yang telah meluncur dari mulutnya, Minhye segera bungkam. Dia melirik Minho untuk mengecek tanggapan pemuda itu. Sedikit tidak berharap Minho membantah ucapannya yang meluncur begitu saja tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Tetapi pemuda itu hanya menatapnya datar.

Mian… kalian mau latihan ‘kan? Kalau begitu, aku pergi.”

Taemin, Key, Onew dan Jonghyun menatap penuh tanya pada punggung Minhye yang perlahan menghilang dari jarak pandang mereka. Tatapan yang meminta penjelasan itu beralih pada Minho yang sedari tadi terdiam dan hanya bersandar pada dinding ruang latihan.

“Ada apa dengannya? Sedang PMS?” gerutu Taemin. Ikut-ikutan merasa kesal.

Jonghyun menatap tajam pada Minho. “Kenapa kamu diam?”

Minho menegakkan tubuhnya. “Memang apa yang harus aku katakan?”

“Bukankah kamu sendiri yang bilang bahwa kalian sekarang berpacaran?” tanya Jonghyun tak sabar. “Kamu tidak lihat pipinya merona tadi saat kamu mengatakan hal itu?”

“Aku tidak bilang kami berpacaran,” jelas Minho. “Aku hanya bilang gelang yang kami kenakan adalah gelang yang secara khusus aku pesan dan aku memberikannya pada kencan kami kemarin. Itu yang aku katakan,” ujar Minho menegaskan.

“Jadi, kalian tidak… maksudku, belum berpacaran?” Key masih belum mengerti sepenuhnya.

“Kesimpulannya, yang dikatakan Minhye tadi benar?” tambah Taemin.

Onew berdecak, “Sudahlah, kita mulai latihan saja.”

“Brengsek kamu, Choi Minho,” sambar Jonghyun. “Kamu hanya diam, bukannya membantah pernyataan Minhye tadi. Apakah menyakiti Minhye sudah menjadi kegemaranmu?”

Tangan Minho mengepal dengan erat. “Aku memang brengsek,” akunya. “Bukankah akan lebih baik jika aku diam? Dia tak mengiya atau berkata tidak setiap saat aku menyinggung bahwa sekarang aku dan dia berpacaran. Dia hanya diam dan tersenyum, malah segera mengalihkan pembicaraan. Jadi, kesimpulan apa yang harus aku tarik?” tanyanya frustasi. “Bukankah dia sudah bilang tadi? Anggapan saja itu juga jawaban dariku.”

-Chapter Nine-

Aku tak berpacaran dengan Minho Oppa.

Kami tidak berpacaran. Jadi jangan melebih-lebihkan!

Minhye berusaha menghempaskan ingatan tentang kejadian beberapa menit lalu. Dia mengeleng-gelengkan kepalanya dengan kencang. Sesekali memukul-mukul kepalanya sendiri. Semua sudah dia lakukan untuk membuat otaknya melupakan kejadian tadi, tapi percuma saja. Minhye mendesah frustasi sembari menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke sandaran sofa.

Betapa bodohnya dia. Tanpa pikir panjang berbicara seenaknya. Tetapi di lain sisi, dia merasa cukup cerdik. Ucapannya tadi itu bisa saja menjadi salah satu cara untuk memastikan sesuatu. Benar. Dia telah memastikan sesuatu. Minho tak serius dengan hubungan spesial yang seperti telah mereka mulai. Minho yang hanya diam–malah terkesan acuh tak acuh–saat dia berbicara seperti itu tadi membuatnya semakin yakin. Minho terang-terangan mempermainkannya.

Minhye menegakkan punggungnya. Tangan kanannya terkepal di depan dada. Dia memukul dadanya beberapa kali dengan pelan. Raut wajahnya menunjukkan bahwa dia tengah kebingungan. Dia mendesis, masih dengan tangan terkepal di depan. Tak terasa apa-apa, pikirnya. Dia tidak merasa sakit hati setelah mendapat perlakukan seperti itu dari Minho.

“Aneh sekali,” gumamnya. Minhye menjerit kencang saat merasakan tarikan kuat di telinganya.

“Anak nakal!”

Oppa lepaskan, sakit!” perintah Minhye. “Kyuhyun, lepaskan!”

Kyuhyun tersenyum jahil. “Oke, aku lepaskan.” Dia duduk juga di sofa hitam itu.

Minhye memegangi telinganya yang berdenyut-denyut. “Jahat sekali,” gerutunya.

“Itu hukuman untukmu. Jangan ulangi lagi, eoh?” Kyuhyun menatap sayu pada Minhye.

Mian,” decit Minhye.

Kyuhyun merangkul Minhye agar menempel padanya. “Sudah…sudah. Toh tidak terjadi apa-apa. Semua berakhir dengan baik.”

“Emm.”

“Kyungsoo akan memaafkanmu, walaupun butuh waktu sedikit lebih lama.” Kyuhyun tiba-tiba menjepit pipi Minhye dengan jari-jarinya yang panjang. “Kamu mungkin harus menangis dan berteriak lebih kencang padanya sembari meminta maaf. Biasanya berhasil ‘kan?”

Minhye ingin membantah, tapi diurungkannya. Kyuhyun bisa saja menanyainya pajang lebar nanti. Dia juga tak memberikan perlawanan atas penyiksaan yang Kyuhyun lakukan. Menarik-narik pipinya ke kanan dan ke kiri sesuka hati seolah-olah pipi Minhye terbuat dari karet. Sejauh ini, dia hanya memilih untuh merintih kesakitan saja.

“Yak!” Kyuhyun melepas cubitannya. “Aku harus pergi. Bye my lovely cousin.”

Minhye mencibir tanpa suara. Kedua tanganya sibuk memijat-mijat pipinya yang juga berdenyut dan terasa panas seperti telinganya. Beruntung Kyuhyun hari ini karena dia tak akan membalasnya. Tetapi tidak untuk lain kali.

Minhye melompat dari atas sofa. Masih dengan memegangi pipinya, melihat ke kanan dan ke kiri. Menimbang-nimbang jalan mana yang harus diambilnya. Setelah memutuskan mengambil lorong di sebelah kanannya, dia melangkah dengan mantap.

Pikirannya kembali melayang entah ke mana. Segala ucapannya yang pernah meluncur dai mulutnya  tiba-tiba terngiang-ngiang di telinganya. Semuanya terdengar begitu egois. Semuanya salah. Dia tak lagi memijat-mijat pipinya. Tangannya itu beralih fungsi memukul-mukul bibir dan kepalanya bergantian.

Apa yang di lakukan Kyungsoo ya?, pikirnya tiba-tiba. Minhye menghentikan langkahnya. Menoleh ke pintu di sebelahnya. Dalam gerakan yang sangat cepat, dia sudah menempelkan tubuhnya di pintu itu. Dia sedikit berjinjit agar wajahnya sejajar dengan lubang kaca yang ada di pintu itu.

Sekitar selusin pemuda tengah berlatih dan bercengkrama di dalam sana. Pemandangan itu terlihat begitu seru bagi Minhye. Sesekali dia ikut tertawa jika pemuda-pemuda itu tertawa. Sedari tadi matanya yang gencar mencari akhirnya berhasil menemukan targetnya. Tanpa sadar Minhye merasa sangat senang karena berhasil menemukannya. Dia tersenyum saat target itu tersenyum. Dia mengumpat kesal saat ada yang menyakitinya. Dia bahkan ingin berlari menghampirinya.

Minhye terhenyak. Pintu tempatnya menumpukan seluruh bobot tubuhnya tiba-tiba bergerak. Tubuh Minhye pun codong ke depan mengikuti arah pintu yang rupanya di tarik oleh seseorang dari dalam. Beruntung dia dapat segera menarik tubuhnya dan berdiri dengan tegak kembali.

“Minhye?” tanya heran orang yang membuka pintu. “Apa yang kamu lakukan?”

Minhye salah tingkah. “Hai, Jongdae Oppa. Hai, Tao ­Gege,” sapanya kaku bak robot berkarat.

“Lama tak berjumpa,” kata Tao.

“Masuklah! Kita baru saja memesan ayam goreng dan akan mengambilnya di bawah. Ayo makan bersama,” ajak Jongdae.

Minhye menggeleng pelan. “Tidak, terima kasih,” bisiknya.

“Apa yang kalian lakukan? Cepat ambil sana. Aku lapar!” teriak Baekhyun.

Tao mengalihkan pandangannya dari Minhye. “Ini ada Minhye,” tuturnya dengan polos.

Minhye mengumpat dalam hati. Dia berpikir untuk lari sebelum keadaan menjadi makin buruk. Tetapi tentunya jika dia melakukan itu, semuanya akan terlihat dengan jelas. Memang dia tak ingin bergabung karena ada Kyungsoo di sana.  Walaupun demikian, setelah dipikir-pikir, tindakannya itu sangat egois. Dia yang salah, lalu mengapa dia yang harus menghindari Kyungsoo bukannya berusaha melakukan hal-hal baik kepada Kyunsoo agar Kyungsoo memaafkannya. Berteori memang lebih mudah dibandingkan  mempraktikkannya.

“Ayo masuk saja!” Tao menarik Minhye masuk.

Minhye tersenyum canggung. “Hai,” sapanya pada semua orang.

Atmosfer di dalam ruangan terasa aneh setelah Minhye masuk. Hampir semua orang tersenyum canggung padanya. Beberapa diantara mereka menatap bergantian antara Kyunsoo yang tertunduk dengan dirinya yang masih berdiri kaku. Di sudut ruangan, Jongin memukul dahinya frustasi.

“Sini, Minhye-ya!” pinta Minseok–Xiumin.

Walaupun Minhye tak ingin menuruti permintaan Minseok, dia tetap melakukannya. Baru beberapa langkah kecil yang diambilnya, suara berat yang dia kenali memanggil.

“Kamu di sini?”

Minhye menoleh ke arah pintu. “Nde Oppa?”

Minho tersenyum, “Kajja, yang lain sudah menunggu.”

“Minho Hyeong, ada apa?” tanya Sehun penasaran.

“Tidak ada apa-apa,” jawabnya. “Cepat Minhye-ya, apa yang kamu tunggu. Taemin dan Kibum bisa mengamuk.”

“Oh…Ne,” iyanya ragu-ragu.

Minhye tidak ingat bahwa dia punya janji untuk makan malam bersama member SHINee yang lain. Tetapi, dia tetap mengiyakan. Dia pun mengikuti Minho keluar dari ruang latihan dengan sebelumnya berbasa-basi karena tidak bisa bergabung dengan Minseok dan yang lain. Langkah kakinya terasa makin berat seiring semakin jauh dia dari ruang latihan itu. Menyadari Minhye yang berjalan dengan sangat lambat, Minho segera menggenggam tangan Minhye.

“Ayo Nona Choi, yang lain sudah menunggu.”

-Chapter Nine-

Kyungsoo refleks menyembunyikan wajahnya saat Minhye tiba-tiba muncul. Dia begitu terkejut. Sebenarnya, bukanlah hal aneh atau luar biasa. Minhye bisa muncul di sekitarnya tanpa harus ada alasan khusus. Jikapun Minhye tiba-tiba ‘bermain’ dengan member yang lain, tentu sudah biasa. Dan kalaupun Minhye tiba-tiba mengganggunya seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa, begitulah sifat Minhye.

Seharusnya memang aneh jika Minhye menjadikan masalah itu sebagai bebannya. Setahu Kyungsoo, Minhye bukanlah tipe orang yang akan mengingat-ingat masalah yang lalu. Istilahnya, yang lalu biarlah berlalu. Rupanya, tidak hanya Minhye yang seperti itu. Semua orang–member EXO–sudah melupakannya, kecuali dia. Jadi, bukankah seharusnya dia melakukan hal yang sama.

“Sini, Minhye-ya!”

Kyungsoo menegakkan kepalanya. Minseok meminta Minhye untuk duduk di antara mereka. Kyungsoo memang terkejut, tapi tidak untuk sebuah penolakan. Bahkan sebelumnya dia berharap akan ada salah satu diantara mereka yang mengajak Minhye bergabung. Sudut bibir Kyungsoo terangkat sedikit. Tidak ada yang menyadari betapa senangnya dia.

Sayangnya senyum itu luntur tatkala dia melihat seorang pemuda yang bukan bagian timnya memasuki ruang latihan dengan terburu-buru. Rahang Kyungsoo mengeras. Tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya.

“Minhye-ya! Kamu di sini?” panggil Minho.

Kyungsoo segera mengalihkan tatapannya kepada Minhye. Gadis itu terlihat terkejut. Hampir sama dengannya.

Nde Oppa?”

Minho tak langsung menjawab. Dia sempat menatap ke arah Chanyeol, Jongin, dan yang lainnya seolah mencari-cari seseorang. Dan saat matanya beradu dengan mata Kyungsoo. Raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan. Detik berikutnya dia memalingkan wajahnya dan tersenyum kepada Minhye.

Kajja, yang lain sudah menunggu.”

TBC

AN: Holla… lama gag update. Maklum yah, dah semester akhir. Emm… maafin typo dan segala-galanya yah? Next chap, semoga bisa cepat. Thank….