Tags


A Memory Of Sa-Rang

A Memory Of Sa-Rang

(A Memory Of Love)

“Cho Kyu-Hyun!” teriak Sa-Rang sekuat tenaga.

Kyu-Hyun segera menjauhkan ponselnya dari lubang telinga. Sejauh apapun dia menjauhkan benda putih berbentuk persegi itu dari telinganya, suara Sa-Rang tetap saja terdengar dengan kencang. Gadis yang berada di seberang sambungan telepon itu terus saja mengomel hampir dalam satu tarikan napas. Kyu-Hyun mengeryit geli. Sa-Rang tidak akan berhenti sampai benar-benar puas.

“Cho Kyu-Hyun… yeoboseyo? Yeoboseyo? Hey… apa kau masih di sana?”

“Emm…,”Kyu-Hyun menempelkan kembali ponsel itu ke telinganya. “Mianhae… Aku memang lupa. Mianhae,” akunya dengan penuh rasa bersalah. “Aku mengaku salah.”

Sa-Rang menghela napas. “ Gwaenchanayeo. Lagian kita bukan lagi remaja ingusan yang harus selalu merayakan hari jadi kita,” nada bicara Sa-Rang melunak

Kyu-Hyun semakin merasa bersalah. tanyanya, “Kau sudah makan tadi?”

“Belum, tidak berselera. Lagian aku sudah kenyang meminum bergelas-gelas air sambil menunggumu,” canda Sa-Rang. Ada sedikit getir terselip pada candaan Sa-Rang itu.

Hening kemudian. Kyu-Hyun tengah berpikir keras untuk menemukan kata-kata yang tepat. Sebenarnya, dia tidak pernah lupa dengan keistimewaan hari ini. Sayangnya, urusan di kantornya menghalanginya untuk beranjak dari meja kerja. Padahal dia telah menyiapkan sebuah kado istimewa untuk Sa-Rang. Gadis biasa yang entah mengapa sangat berharga baginya. Mungkin alasannya hanya satu, cinta. Dia sangat mencintai gadis itu.

“Kau sudah akan tidur?”

Ani.

Kyu-Hyun menghentikan langkahnya. “Tunggu aku di depan rumah. Lima belas menit lagi aku sampai.”

Tanpa menunggu jawaban, Kyu-Hyun segera memutus sambungan telepon. Dia kembali berjalan dengan langkah kaki besar-besar di trotoar jalan. Malam yang telah larut membuat jumlah pejalan kaki semakin sedikit. Dia pun mulai berlari kecil, semakin kencang, dan kencang. Senyum kebahagiaan terkembang di wajahnya tatkala mengingat apa yang akan terjadi malam ini.  Sa-Rang tidak mungkin pernah menduga sebelumnya. Ini akan menjadi kejutan.

~XXX~

Sa-Rang terdiam, menunggu pemuda di seberang mulai berbicara. Detak jarum jam mengusik keheningan. Jika saja tidak terdengar suara hembusan napas pada sambungan telepon yang sedang diterimanya, dia mungkin akan menganggap sambungan telepon telah terputus.

“Kau sudah akan tidur?”

Sa-rang terkejut. Jawabnya dengan buru-buru, “Ani.

“Tunggu aku di depan rumah. Lima belas menit lagi aku sampai.”

Mworago? Yak… Cho Kyu-Hyun. Yeoboseyo?”

Bunyi pendek tiga kali memberi Sa-Rang penjelasan bahwa sambungan telepon telah diputus. Sa-Rang mengecek layar ponselnya untuk memastikan. Memang telah diputus oleh penelepon di seberang. Sa-Rang merasa jengkel luar biasa. Dia memandangi layar ponselnya dengan geram. Tangan menggenggam benda mati tak bersalah itu begitu kuat. Beruntung Sang Akal Sehat segera mencegahnya untuk menghempaskan ponsel itu ke dinding.

“Tunggu, apa katanya tadi?” tanyanya pada diri sendiri. “Menyuruhku menunggu di depan rumah?” Sa-Rang melirik jam di dinding. “Dasar gila. Jam berapa sekarang ini?”

Walaupun dia merasa tidaklah benar keluar pada tengah malam begini, dia tetap keluar. Setelah mengenakan jaket dan berjalan mengendap-endap menuju pintu depan. Sa-Rang berhasil membuka pintu tanpa mengeluarkan bunyi yang keras. Tak lupa dia mengganjal pintu dengan pot bunga agar tak tertutup dan tentunya terkunci otomatis.

“Di mana dia?” Sa-Rang mondar-mandir tak sabar. “Katanya lima belas menit. Bukankah ini sudah setengah jam? Ani? Apa perasaanku saja?” Dia terus berbicara sendiri. “Mau apa dia? Tadi dia membuatku menunggu sampai lumutan dan berujung tidak datang. Sekarang apa? Dasar Kyu-Hyun, iblis licik. Kenapa juga aku mau menunggu? Dasar bodoh!”

Sa-Rang memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan tidur. Namun seperti orang bodoh, dia berulang kali melangkah maju kemudian mundur lagi. Setelah memukul kepalanya beberapa kali, dia pun memutuskan untuk mencari Kyu-Hyun.

Kemampuannya yang cukup hebat dalam bela diri membuatnya tak gentar sama sekali untuk berkeliaran sendiri pada tengah malam yang sepi. Selama kakaknya yang sekarang sedang tidur dengan nyenyak di rumah tidak tahu-menahu, dia akan aman. Memang benar, tidak ada makhluk di dunia ini yang dia takuti selain kakak laki-lakinya itu.

Sa-Rang merapatkan jaketnya. Dia sudah cukup jauh dari rumah.  Jalan raya sudah terlihat di depan mata. Sejauh ini tidak ada tanda-tanda Kyu-Hyun. Akhirnya dia pun memutuskan untuk kembali. Tidak lupa dia mengukir lekat-lekat di ingatannya untuk memberi pelajaran pada Kyu-Hyun keesokan harinya.

Suara benturan yang sangat keras dan decit rem yang memekakkan telinga membuat Sa-Rang terperanjat. Dia membalik badan. Terlihat sebuah mobil berhenti di tengah jalan sebelum kembali melaju dengan kencang. Sebuah firasat buruk tiba-tiba memenuhi otaknya.

Tanpa pikir panjang, dia berlari menuju jalan raya. Firasat buruk itu terus menjadi. Sa-Rang dapat merasakan jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Dia juga mulai kesusahan bernapas. Tangan dan kakinya gemetaran. Matanya mulai terasa perih dan berkunang-kunang.

Sa-Rang pun sampai di pinggir jalan. Tak jauh di arah kirinya, terdapat sosok bayangan yang tergeletak di jalan. Jantung Sa-Rang berdetak lebih cepat lagi. Firasat buruk itu makin menjadi. Mulutnya terbuka beberapa kali, ingin bersuara namun tak bisa. Semakin dekat, sosok itu semakin jelas. Sa-Rang membekap mulut sendiri menahan tangis. Langkah demi langkah semakin dekat. Kini Sa-Rang yakin seratus persen.

“Cho Kyu-Hyun!” jeritnya. Kakinya lemas, dia pun terduduk.

~XXX~

“Cho Kyu-Hyun!” jerit Sa-Rang.

Sa-Rang segera terduduk. Dia melihat sekelilingnya. Bukan warna putih yang mendominasi, tetapi warna biru. Di dekat pintu pun terdapat rak buku yang penuh dengan novel dan barang-barang favoritnya. Dia tidak di rumah sakit seperti dugaannya, melainkan di kamarnya sendiri. Tepat di samping tepat tidurnya, terdapat nakas rendah tempat sebuah foto berbingkai berdiri dengan bangga. Sa-Rang memandangi foto dirinya dan seorang pemuda tampan yang tengah mencium pipinya. Saat itulah dia teringat sesuatu dan segera meraih ponselnya pada nakas yang sama.

“Cho Kyu-Hyun… Cho Kyu-Hyun… Cho Kyu-Hyun…,” ulangnya terus sembari berusaha menghubungi pemuda tersebut.

Tidak menunggu lama, panggilan itu diterima. “Kau dimana?” tanya Sa-Rang tak sabaran. “Yak… jangan menyeberang jalan sembarangan. Tunggu aku di situ. Jangan kemana-mana sebelum aku datang. Aku bilang tunggu!”

Sa-Rang segera turun dari tempat tidur tanpa memutus sambungan telepon. Dia sempat mengecek penampilannya di depan cermin. Berdecak sejenak, namun tidak berniat merapikan diri. Dia hanya sempat mengambil selembar permen karet, menjejalkannya ke dalam mulut dengan tergesa-gesa. Kemudian berlari ke luar kamar.

“Aku bermimpi buruk tentangmu. Jangan banyak tanya. Tunggu saja aku!” pekiknya kesal.

Seorang pemuda yang tengah menyiapkan sarapan tersentak kaget sehingga hampir saja menumpahkan semangkuk sup yang dia bawa. Pemuda itu keheran-heranan melihat adiknya yang super pemalas itu sudah bangun sepagi ini tanpa dibangunkan.

“Lee Sa-Rang, kamu mau ke mana?”

“Oh, pagi Oppa!” sapanya tanpa menatap lawan bicara sama sekali. “Oppa tolong charger ponselku. Aku mau ke taman.”

“Tumben bangun pagi? Ada kuliah pagi?”

Sa-Rang mendengus. “Lee Sung-Min-ssi, jangan banyak tanya.”

“Yak!!!” teriak Sung-Min kesal.

Sayangnya teriakkannya itu tidak akan sampai ke telinga Sa-Rang karena pintu lebih dahulu tertutup. Sung-Min mengelus dada. Dia memang harus sangat sabar menghadapi adik semata wayangnya itu. Umur mereka yang walaupun terpaut cukup jauh, tidak berarti adiknya itu akan berlaku sopan padanya. Sudah sangat bersyukur dia mau memanggilnya ‘Oppa’.

Sung-Min menghela napas, “Dasar bocah ini.”

Setelah mematikan kompor, Sung-Min pun melangkah untuk mengambil ponsel Sa-Rang yang ditinggalkan di rak sepatu. Rasa penasaran Sung-Min akan siapa yang menelepon Sa-Rang pagi-pagi sekali membuatnya mengecek daftar panggilan di ponsel tersebut. Nama ‘Cho Kyu-Hyun’ berada di daftar teratas.

“Ya Tuhan, anak ini.”

~XXX~

Sa-Rang mencari ke sana-ke mari. Namun tidak terlihat batang hidung orang yang dicarinya. Padahal dia sudah rela keluar masih dengan menggunakan piyama. Dia juga rela menjadi bahan gunjingan orang karena tampangnya yang benar-benar baru bangun tidur. Dia pun hanya mengunyah permen karet untuk menghilangkan rasa laparnya. Lalu, di mana Cho Kyu-Hyun itu?

Akhirnya Sa-Rang menyerah dan memilih duduk pada kursi taman di pinggir danau buatan yang di posisikan menghadap danau. Dia memegangi perutnya yang mulai terasa perih. Permen karet di dalam mulutnya sudah terasa pahit. Sempat terpikir olehnya untuk menelan permen karet itu daripada membuangnya. Lumayan untuk mengganjal perut, begitu pikirnya.

Aigoo… siapa ini yang pagi-pagi sarapan dengan permen karet?”

Sa-Rang menoleh ke asal suara. “Kau ke mana saja? Bukankah kusuruh tunggu, jangan ke mana-mana.”

“Buang dulu isi mulutmu, sebelum mengomel. Jangan ditelan! Bisa-bisa permen karet itu mengganjal perutmu selamanya.”

“Siapa yang–?” Sa-Rang tidak melanjutkan kalimatnya. Dia kesal karena Kyu-Hyun bisa-bisanya membaca pikirannya.

“Sa-Rang-ah cepat buang permen karet itu. Makan yang ini saja,” goda Kyu-Hyun.

Sa-Rang segera memuntahkan permen karet pahit itu ke bekas bungkus permen karet yang kebetulan tidak dia buang. Kyu-Hyun segera mencegahnya ketika ingin membuang sampah permen karet itu ke sungai. Dia pun menawarkan diri untuk membuangkannya ke tempat sampah.

“Sok bersih. Sampah sekecil itu tidak akan mencemari danau.”

Kyu-Hyun duduk di samping Sa-Rang. “Kalau seluruh penghuni Seoul berpikiran yang sama denganmu, tentu saja danau ini akan menjadi danau permen karet.”

“Heuh…,” dengus Sa-Rang.

“Kenapa? Apa aku salah?”

Ani. Mana pernah Tuan Cho Kyu-Hyun berkata salah. Semuanya pasti benar.”

Kyu-Hyun terkikik, “Tentu saja.”

Kyu-Hyun tidak melepaskan tatapannya dari Sa-Rang yang tengah melahap roti isi yang dia bawakan. Cara makan Sa-Rang yang terbilang unik–menjejalkan roti isi ke mulutnya hingga penuh dan mengunyahnya dengan amarah–membuat Kyu-Hyun tak tahan untuk tidak tertawa.

“Minum dulu.”

Sa-Rang merebut susu yang disodorkan Kyu-Hyun. Meminumnya terburu-buru hingga lebih banyak yang menetes ke piyamanya dibandingkan yang masuk ke mulut. Lagi-lagi Kyu-Hyun terkikik.

“Sa-Rang-ah… kalau mau mandi susu, bukan dengan susu coklat, tetapi susu murni.”

Sa-Rang mendelik kesal. “Cerewet sekali sih?”

Kyu-Hyun berusaha menahan tawa. Tanpa mempedulihan tatapan membunuh Sa-Rang, dia mengambil roti isi dan susu yang ada di kedua tangan Sa-Rang. Kemudian, dengan ibu jarinya membersihkan remah-remah roti di bibir Sa-Rang. Tak lupa juga membersihkan beberapa tetes susu yang masih menetes di dagu Sa-Rang.

“Oke… sekarang terlihat cantik lagi.”

Pipi Sa-Rang yang sedari tadi merona karena sentuhan Kyu-Hyun, kini hampir berubah merah semerah-merahnya. Kyu-Hyun yang menyadari hal tersebut tak mampu lagi menahan tawa. Dia tertawa sekencang-kencangnya sembari memegangi perut. Tawa itu tak berlangsung lama, sebuah pukulan di pundak Kyu-Hyun membuatnya terdiam.

“Apa yang lucu, eoh?” bentak Sa-Rang.

“Tidak ada,” jawab Kyu-Hyun pendek.

“Lalu, apa yang kau tertawakan?”

Kyu-Hyun memasang wajah serius. “Pagi ini aku sangat senang. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari melihat wajahmu sepagi ini. Kau tahu, aku ingin sekali kau yang menjadi hal pertama yang aku lihat saat aku membuka mata setiap paginya. Dan aku ingin hanya satu kalimat ini yang aku ucapkan begitu aku membuka mataku di pagi hari. Aku mencintaimu, Lee Sa-Rang.”

Sa-Rang diam terpaku untuk beberapa detik. Setelah tersadar, “Dasar tukang rayu mesum!” Sa-Rang memelototi Kyu-Hyun seolah ingin mengulitinya. “Maksudmu, kau ingin tidur denganku ‘kan?”

Mwo?” Kyu-Hyun terbelalak. “Bukan itu maksudku.” Kyu-Hyun tak menyangka Sa-Rang salah mengartikan ucapannya.

“Dasar mesum! Kau pikir aku tidak tahu maksud rayuanmu ini?!!” Sa-Rang memukuli Kyu-Hyun berulang kali. “Kau pikir aku perempuan macam apa yang mau tidur denganmu?”

Tak mau babak belur, Kyu-Hyun segera beranjak dari kursi taman dan berlari menyelamatkan diri. Sa-Rang segera mengejarnya. Melemparnya dengan kerikil-kerikil kecil yang dia pungut di dekat kursi taman. Beberapa kali kerikil itu mengenai Kyu-Hyun. Pekik kesakitan Kyu-Hyun memberikan kepuasan tersendiri bagi Sa-Rang.

“Lee Sa-Rang!”

Panggilan itu membuat Sa-Rang menoleh dan untuk sementara mengabaikan Kyu-Hyun. Dahi Sa-Rang berkerut ketika mengenali sosok yang memanggilnya, Sung-Min. Sung-Min terlihat berusaha mengatur napasnya. Dia memang berlari dari rumah untuk mengejar Sa-Rang. Dia sudah berkeliling seluruh penjuru taman untuk menemukan adik perempuannya itu.

“Apa yang kamu lakukan di sini masih dengan mengenakan piyama?”

Sa-Rang mengerucutkan bibirnya. “Memangnya tidak boleh? Oppa sendiri sedang apa di sini?”

Sung-Min menghentikan langkahnya tepat di hadapan Sa-Rang. “Jawab dulu pertanyaan Oppa. Jangan bertanya balik.”

“Aish… mau menemui orang itu.” Sa-Rang menunjuk-nunjuk arah belakangnya.

Sung-Min mengikuti arah yang ditunjuk Sa-Rang. “Nugu?”

Sa-Rang memutar tubuhnya sedikit agar dapat menoleh ke belakang. “Oh… ke mana perginya? Kurang ajar, dia kabur. Awas saja!”

“Siapa maksudmu?” tanya Sung-Min makin penasaran.

“Cho Kyu-Hyun,” jawab Sa-Rang singkat.

~XXX~

Sa-Rang mempercepat langkahnya. Dia sudah terlambat untuk janji makan siang dengan Kyu-Hyun. Bukan kesempatan yang sering didapatkannya. Kyu-Hyun selalu saja sibuk dengan urusan kantornya. Dia selalu menghabiskan makan siang dengan Klien bisnisnya. Jadi, tidak seharusnya Sa-Rang menyia-nyiakan kesempatan ini.

Saat mendekati restoran yang mereka janjikan, Sa-Rang memperlambat langkahnya. Restoran itu memang tidak terlalu jauh dari Universitas S, tempatnya berkuliah.  Restoran itu sangat terkenal dan selalu penuh saat makan siang. Tetapi, baik Kyu-Hyun maupun Sa-Rang tidak perlu khawatir karena pemilik restoran adalah teman mereka. Jadi, selalu ada tempat untuk mereka berdua.

Setelah sempat bercermin di etalase toko yang dilewatinya. Sa-Rang pun memantapkan diri memasuki restoran. Di kejauhan dia melihat Kyu-Hyun menunggu pada salah satu meja untuk dua orang yang terletak di sudut ruangan. Meja itu letaknya cukup jauh dari meja-meja yang lain. Area yang cocok jika ingin tidak terusik oleh pengunjung yang lain.

Oppa!” panggil Sa-Rang manja.

Kyu-Hyun berdecak, “Tumben. Biasanya juga cuma memanggil nama.”

Sa-Rang tidak perlu menunggu Kyu-Hyun mempersilahkannya duduk. “Shiroe?” tanya atas ucapan Kyu-Hyun sebelumnya.

Ani. Hanya… tidak biasa saja. Terdengar aneh.” Kyu-Hyun berpura-pura membersihkan lubang telinganya. “Gendang telingaku terasa gatal mendengarnya.”

“Aku akan memanggilmu ‘Oppa’ mulai hari ini.”

Kyu-Hyun mencondongkan tubuhnya ke depan. “Wae?”

Sa-Rang melakukan hal yang sama hingga wajah mereka berhadapan dengan jarak yang sangat tipis. “Karena Oppa akan mengikuti semua keinginanku.” Sa-Rang menekankan pada kata ‘Oppa’.

“Jadi, ini sogokkan?” Kyu-Hyun menegakkan tubuhnya kembali.

Sa-Rang mengangguk kecil. “Bisa dibilang begitu.”

Kyu-Hyun mendengus, “Jadi, menurutmu… setelah hari ini aku mengiyakan ajakkan makan siangmu, kamu pikir aku akan menuruti keinginanmu selanjutnya?”

“Tentu saja. Oppa mencintaiku. Oppa akan menuruti keinginanku.” Sa-Rang melipat kedua tangannya di depan dada. “Oppa bilang begitu kemarin pagi, waktu di danau.” Sa-Rang berdehem. “Aku mencintamu, Lee Sa-Rang,” ucapnya memeragakan Kyu-Hyun.

Kyu-Hyun terkikik. “Lalu, apa kau mencintaiku juga?”

“Untuk apa tanya? Aku mengatakannya setiap hari. Lupa, eoh?”

Arasseo.” Kyu-Hyun mengalah. “Cepat pesan makanannya.”

Tanpa perlu membuka menu, Sa-Rang langsung siap memesan makanan. Seorang pelayan datang menghampirinya. Pelayan itu tersenyum ramah padanya. Selain karena memang seharusnya begitu, Pelayan itu juga mengenal Sa-Rang sebagai teman pemilik restoran.

“Sa-Rang-ssi mau pesan apa? Yang biasa?”

Kyu-Hyun segera memprotes sebelum Sa-Rang sempat membuka mulut. “Aku tidak mau makan yang itu lagi. Bosan.”

Arasseo. Aku juga bosan.” Sa-Rang menjulurkan lidahnya ke arah Kyu-Hyun.

Pelayan tersebut tampak heran melihat sikap Sa-Rang. “Jadi, mau pesan apa?” tanyanya lagi berusaha untuk tak acuhkan tingkah aneh Sa-Rang tadi.

“Emm….” Sa-Rang berpikir keras.

“Kenapa tidak lihat di menu saja?” saran Kyu-Hyun.

Sa-Rang membuka menu dengan enggan. “Ini saja!” tunjukkan Sa-Rang pada gambar sebuah makanan berbahan dasar daging. “Minumnya yang biasa saja.”

“Oh… baiklah. Satu Stinco D’agnelo Brasato dan Va–

Sa-Rang mendelik. “Dua! Pesanan kita sama,” koreksinya.

Joesonghabnida…. mohon tunggu sebentar.”

“Memalukan, itu saja tidak bisa baca,” cibir Kyu-Hyun.

“Biarkan saja!” Sa-Rang mengerucutkan bibirnya.

~XXX~

Kali ini Sa-Rang harus sedikit sabar menunggu. Dia dan Kyu-Hyun ada janji kencan malam ini. Nonton film di bioskop lebih tepatnya. Saat Sa-Rang hendak menelepon Kyu-Hyun, pemuda itu muncul tepat di belakangnya.

“Lama menunggu?” tanyanya.

“Baru tujuh menit, kurasa.” Sa-Rang memperhatikan Kyu-Hyun dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Emm… Oppa terlihat cukup tampan malam ini. Lebih muda beberapa tahunlah!”

“Cukup tampan,” ulang Kyu-Hyun dengan penekanan di setiap suku kata.

“Sangat tampan!” Perjelas Sa-Rang.

Kyu-Hyun tersenyum kemenangan. “Tentu saja.”

“Ayo filmya nanti keduluan mulai.”

Sa-Rang menggenggam tangan Kyu-Hyun agar mereka tak terpisah. Kyu-Hyun hanya tersenyum dan mengikuti kemanapun Sa-Rang membawanya. Ocehan Sa-Rang tentang film yang seharusnya dan tidak seharusnya mereka tonton tak terlalu diacuhkannya. Seperti kata Sa-Rang sebelumnya, kali ini dia akan menuruti apapun keinginan gadis yang dicintainya ini. Dan juga, hari ini dia tak ingin kehilangan setiap moment perubahan ekspresi wajah Sa-Rang yang menurutnya selalu menggemaskan.

“Aku ingin nonton film horror,” usul Sa-Rang.

Kyu-Hyun tersenyum, “Sa-Rang-ah.

“Atau fantasy?”

“Sa-Rang-ah.

Sa-Rang tak indahkan panggilan Kyu-Hyun. “Atau yang itu?” tunjuknya pada sebuah poster film. “Tetapi, aku ingin nonton horror. Anifantasy saja. Apalagi 3D pasti seru.”

“Sa-Rang-ah,” panggil Kyu-Hyun lagi.

Sa-Rang tak menoleh sama sekali. “Tetapi, aku kangen horror. Ada tidak ya film horror yang 3D?”

“ Lee Sa-Rang… kau masih tidak mau mendengarkanku?”

“Oh… Ne, Oppa? Ada apa?” Sa-Rang memasang wajah polos.

“Hentikan! Semua orang melihat ke arah kita. Mereka pasti merasa aneh melihat ahjumma antusias,” ejek Kyu-Hyun.

Ahjumma? Di mana?”

Kyu-Hyun mengacungkan telunjuknya di depan wajah Sa-Rang. “Ini!”

Geram oleh candaan Kyu-Hyun. Sa-Rang mengigit telunjuk Kyu-Hyun. Setelah Kyu-Hyun memekik keras dan mengucapkan maaf baru dia melepaskannya. Sa-Rang memperhatikan sekitar, semua orang memang melihat ke arah mereka. Setelah dipikir-pikir, ucapan Kyu-Hyun ada benarnya. Mereka bukanlah pasangan remaja yang harus ribut memilih film.

“Tak perlu pedulikan mereka,” kata Kyu-Hyun seolah menjawab isi kepala Sa-Rang.

“Tadi katanya aku memalukan.”

Kyu-Hyun mengacak-acak rambut Sa-Rang. “Bercanda, nae Sa-Rang.”

“Kalau gitu, film horror saja.”

Kyu-Hyun mengangguk mengiyakan. Tak menunggu lama mereka mendapatkan dua tiket film horror yang sangat diinginkan Sa-Rang. Film baru akan diputar 30 menit lagi. Kebetulan sekali fasilitas yang ada di gedung bioskop tersebut dirancang agar pengunjung tak pernah bosan menunggu. Mesin permainan ada dimana-mana. Disanalah mereka berdua menghabiskan waktu menunggu mereka.

YesOppa kalah lagi.”

Kyu-Hyun berpura-pura mengeluh. “Oh tidak.”

“Aku heran… permainan seperti ini tidak bisa Oppa mainkan? Katanya  ahli.”

Molla,” raut wajah Kyu-Hyun serius dibuat-buat. “Aku capek. Kita menunggu sambil duduk saja , eoh?”

Sa-Rang mengedipkan matanya tanda setuju.  Tak jauh setelah mereka melangkah. “Itu ada Eun-Ji dan Jang-Mi,” tunjuk Sa-Rang.

Kyu-Hyun juga melihat orang yang dimaksud. “Oh… itu memang mereka.”

“Ayo, kita sapa mereka.”

Kyu-Hyun segera menyela. “Aku ke toilet dulu. Duluan saja.”

“Baiklah.” Tanpa menunggu lama, Sa-Rang menghampiri kedua sahabatnya itu. “Hey kalian!”

“Sa-Rang!?” ucap kedua gadis itu hampir berbarengan.

Wae? Kenapa kalian terkejut seperti itu?”

“Tidak ada apa-apa,” bela Eun-Ji. “Kau mau menonton juga?”

Eoh, Ne.”

Jang-Mi melirik tiket yang dipegang Sa-Rang. “Film horror, tentu saja. Kesukaanmu. Ada dua tiket. Menonton dengan siapa?”

“Sung-Min Oppa?” tebak Eun-Ji penuh harap.

Sa-Rang menggeleng. “No,” dia tersenyum sumringah. “Kalian pasti tidak terbayang orang ini. Ini memang kali pertama kami nonton film bersama di bioskop. Biasanya kalau mujur nonton di rumah. Kalian tidak bisa mengolok-olokku lagi sekarang.”

“Memangnya siapa?” Jang-Mi penasaran.

“Cho Kyu-Hyun… siapa lagi?” jawab Sa-Rang dengan bangga. “Oppa-ku sangat penurut belakangan ini.”

Eun-Ji dan Jang-Mi saling bertatapan. Wajah mereka menunjukkan keterkejutan yang luar biasa. Ekspresi mereka berdua membuat Sa-Rang merasa menang. Kedua sahabatnya itu memang sering mengejeknya karena hampir tidak pernah menonton film di bioskop sebagai salah satu variasi kencannya dengan Kyu-Hyun. Sebab menurut Kyu-Hyun, kencan seperti ini kekanak-kanakkan.

“Kyu-Hyun sedang ke toilet. Aku akan membeli makanan. Kalau dia mencariku, katakan padanya aku membeli makanan.”

Eoh,” jawab Jang-Mi setengah melongo.

~XXX~

Sa-Rang: Oppa! ^^

Kyu-Hyun: Emm…

Sa-Rang: Mwohani?

Kyu-Hyun: Mengerjakan pekerjaan kantor.

Sa-Rang: Mian… aku mengganggu.😦

Kyu-Hyun: Ani, sudah selesai.

Sa-Rang: Oppa sudah mau tidur?

Kyu-Hyun: Ani, kamu sendiri?

Sa-Rang: Belum juga.

Kyu-Hyun: Kau mau apa? Katakan, eoh?

Sa-Rang: Oppa sibuk besok.

Kyu-Hyun: Ani.

Sa-Rang: Temani aku ke toko buku besok. Bisa?

Kyu-Hyun: Arasseo.

Sa-Rang: Jinja?

Kyu-Hyun: Ne.

Sa-Rang: Gomawo. Chu~

Sa-Rang memperhatikan layar ponselnya. Tidak ada balasan dari Kyu-Hyun. Jelas-jelas terlihat pesannya telah terkirim dan dibaca. Sa-Rang mengirim pesan kembali.

Sa-Rang: Chu~

Sa-Rang: Oppa.😦 ?

Sa-Rang: Jalja?

Kyu-Hyun: Chu~ 1-4-3

Tak dapat terbendung lagi. Sa-Rang bersorak-sorai bak meneriaki pemain bola yang memasuki area pertahanan lawan saat pertandingan piala dunia. Keributan yang dia lakukan mengundang rasa penasaran Sung-Min yang berada di kamar sebelah.

“Ya…ya..ya… sudah malam begini malah teriak-teriak. Ada apa?”

Sa-Rang menyodorkan ponselnya. “Lihatlah Oppa!”

“Ada apa? Sa-Rang-ah, kau sudah bukan siswa SMA lagi. Berhentilah bertingkah kekanak-kanakkan.”

Ara…. lihat ini.” Sa-Rang makin tak sabar ingin menunjukkan isi pesan Kyu-Hyun.

Sung-Min mengalah. Dia menerima ponsel yang di sodorkan Sa-Rang. “Apa ini?”

“Pesan dari Kyu-Hyun,” pamer Sa-Rang. “Dia membalas pesanku dan meninggalkan pekerjaannya. Hebat bukan? Oppa tahu sendiri, sebelumnya dia tidak pernah seperti ini. Apalagi mau meladeni pembicaraan sepele.”

“Sa-Rang-ah?”

~XXX~

Sa-Rang melompat girang menuruni bis. Kyu-Hyun mengekori di belakang. Mereka berdua terpaksa naik bis karena mobil Kyu-Hyun sedang masuk bengkel. Hal ini tidak membuat Sa-Rang kesal malah sebaliknya. Dia memang mengidam-idamkan menaiki bis bersama Kyu-Hyun, duduk bersebelahan, kemudian menyandarkan kepalanya di pundak Kyu-Hyun sepanjang perjalanan. Mirip adegan-adegan romantis pada drama.

“Kau terlihat senang,” kata Kyu-Hyun. “Kita hanya naik bis, Lee Sa-Rang.”

Sa-Rang nyengir kuda. “Sangat senang,” koreksinya. “Jarang sekali kita seperti ini.”

Jinja? Emm… kalau begitu kita akan sering-sering melakukannya.”

“Mungkin kita juga perlu melakukan perjalanan ke luar kota. Otthe?”

Kyu-Hyun berpikir sejenak. “Baiklah. Akhir minggu ini. Bagaimana?”

“Pakai bis loh.” Sa-Rang memastikan.

Ne.”

Sa-Rang mengeratkan pelukannya pada lengan kiri Kyu-Hyun. “Aku senang Oppa seperti sekarang. Tidak pernah menolak ajakkanku.”

“Memangnya, sebelumnya aku tidak?” Kyu-Hyun memasang wajah heran.

Sa-Rang mengangguk pelan. “Oppa lebih sering berkata ‘tidak’ dibandingkan ‘iya’.”

Mian, eoh?”

“Lupakan! Lebih baik kita memikirkan apa yang akan kita lakukan ke depannya. Yang terpenting adalah Oppa yang sekarang, bukan yang dulu.”

Kyu-Hyun menyentil pelan dahi Sa-Rang. “Aku selalu lupa kalau kamu seorang mahasiswa senior dan tetap merasa aneh mendengarmu berbicara seperti orang dewasa.”

Sa-Rang memelototi pemuda di sebelahnya itu kesal sembari mengelus dahinya. Dia memang sering bertingkah kekanak-kanakkan. Tetapi bukan berarti pola pikirnya juga kekanak-kanakkan. Dia suka bermanja-manja pada Kyu-Hyun dan Sung-Min. Tetapi bukan berarti dia tidak bisa lepas dari kedua orang itu dan mengurus dirinya sendiri.

Siapa yang tidak akan iri melihat Sa-Rang dan Kyu-Hyun yang terkikik bersama dengan begitu lepasnya. Mereka memiliki selera yang sama, pasangan yang serasi bagi siapapun yang melihat. Toko buku yang awalnya hening itu dipenuhi tawa mereka. Mereka tak acuhkan tatapan tak suka pengunjung yang lain. Bahan tawa mereka lebih penting dibandingkan apapun. Sesekali Kyu-Hyun mengusapkan punggung telunjuknya pada bagian bawah mata Sa-Rang untuk menghapus airmata yang keluar akibat tawa. Tiba-tiba Sa-Rang terbatuk.

Gwaenchana?”

Sa-Rang mengangguk, masih terbatuk-batuk. Kyu-Hyun menjadi panik. Dia mengelus-elus punggung Sa-Rang, berharap bisa mengurangi batuk-batuk yang dialami Sa-Rang. Dia juga memperagakan cara menarik dan menghembuskan napas agar Sa-Rang mengikutinya. Perlahan batuk itu pun hilang.

Gwaenchana?” tanya Kyu-Hyun, masih sangat panik.

“Emm.”

Kyu-Hyun menghela napas lega. “Kau terlalu berlebihan saat tertawa.”

“Habis lucu sekali. Mau bagaimana lagi.”

“Sebenarnya kita ke sini untuk membeli buku atau sekedar membacanya saja?”

Sa-Rang  menautkan alis. “Tentu saja beli. Tetapi kalau bisa, baca gratis juga.”

“Mau minum? Biar tenggorokkanmu baikkan.”

“Boleh… aku tunggu Oppa di sini.” Sa-Rang berdehem untuk mengembalikan suaranya yang berubah serak. “Air putih saja.”

“Apakah sakit?”

Sa-Rang menggeleng.

“Tunggu sebentar, eoh?”

Kyu-Hyun segera berlari ke luar toko buku. Bagian depan dinding toko yang terbuat dari kaca membuat Sa-Rang dapat melihat dengan jelas Kyu-Hyun memasuki sebuah toserba di seberang jalan. Sembari menunggu Kyu-Hyun, Sa-Rang memutuskan untuk mencari buku yang hendak dia beli. Lama waktu bergulir, Sa-Rang sudah mendapatkan lima buku yang disukainya. Kyu-Hyun belum juga kembali padahal setengah jam telah berlalu. Sa-Rang pun memutuskan untuk kembali menunggu dengan membaca komik yang sempat mereka baca bersama sebelumnya.

Langit mulai menghitam. Kyu-Hyun masih belum kembali. Sa-Rang mulai merasa khawatir. Beberapa kali dia menelepon ponsel Kyu-Hyun, namun tak ada jawaban. Hal tersebut membuat Sa-Rang semakin gelisah. Dia pun memutuskan untuk menyusul Kyu-Hyun ke toserba tersebut.

“Permisi, apakah tadi ada seorang pemuda menggunakan kemeja putih dan celana hitam ke sini? Tadi sekitar jam 5 sore.” Putus asa karena tidak menemukan Kyu-Hyun di dalam toserba, Sa-Rang memberanikan diri bertanya pada kasir toserba. “Rambut hitam dan tebal. Orangnya cukup tampan. Kalau tersenyum pasti terlihat menyebalkan sekaligus mempesona. Dia mungkin hanya beli air mineral.”

Kasir toserba itu mencoba mengingat-ingat. “Tidak ada Agasshi. Sejauh yang saya ingat, pemuda-pemuda yang berbelanja hari ini hanya membeli rokok atau ramyeon. Dan mereka tidak ada yang tampan.”

Sa-Rang mulai tak sabar. “Anda yakin? Kira-kira tingginya segini.” Sa-Rang memposisikan tangannya beberapa jengkal di atas kepalanya. “Wajahnya…,” Sa-Rang terdiam. Ingatannya akan Kyu-Hyun tiba-tiba memudar. “Kyu-Hyun itu…,” ulangnya ragu.

Agasshi… Anda baik-baik saja?”

Sa-Rang memegangi kepalanya yang terasa pusing. Sayup-sayup dia seperti mendengar suara Kyu-Hyun memanggil. Suara itu lama-kelamaan terdengar semakin dekat. Begitu dekatnya, sampai terasa berada di dalam kepalanya. Sa-Rang melihat sekeliling, mencari sumber suara. Nihil, dia tidak bisa menemukan Kyu-Hyun.

~XXX~

“Jadi, Oppa berusaha membujukku dengan ini?”gerutu Sa-Rang.

Kyu-Hyun menggeleng pelan. “Ani… aku memang ingin makan malam denganmu.”

“Tidak biasa sekali, mencurigakan,” cibir Sa-Rang.

“Kau lupa hari ini?”

Sa-Rang mengembangkan senyumnya. “Hari jadi kita. Ah…. jadi makan malam ini untuk hari jadi kita?”

Kyu-Hyun mengangguk kecil. “Aku sudah memesan makanan sebelumnya. Semoga kau suka.”

Sa-Rang memperhatikan lilin dan bunga yang ada di atas meja. “Apakah semua ini ide Hyo-Ra?”

“Emm…,” Kyu-Hyun mencoba untuk tak memberi jawaban berupa apapun.

“Eey… Lilin, bunga dan wine ini pasti berasal dari Hyo-Ra. Seleranya buruk sekali.”

Kyu-Hyun mendengus. “Seleramu tak jauh lebih baik.”

“Enak saja!” sangkal Sa-Rang.

Tak lama kemudian makanan yang di pesan Kyu-Hyun terhidang di atas meja. Sa-Rang mengacungkan jempol atas menu yang dipilih Kyu-Hyun. Kyu-Hyun tersenyum lebar dan membusungkan dada menerima pujian Sa-Rang.

“Lee Sa-Rang!”

“Ah… Hyo-Ra-ya.” Sa-Rang menyambut dengan semangat.

Hyo-Ra segera mengambil tempat duduk di hadapan Sa-Rang. “Lama tak bertemu.”

“Tentu saja. Kau terlalu sibuk. Padahal aku selalu makan siang di sini, tapi tak pernah melihat batang hidungmu.”

“Aku tahu.” Hyo-Ra memperhatikan makanan di atas meja. “Kau sedang makan malam?” tanyanya ragu.

“Pakai tanya. Tidak mungkin makan siang ‘kan?”

Hyo-Ra ragu-ragu untuk bertanya lagi. “Kau makan sebanyak ini?”

“Maksudmu?”

“Sebenarnya, aku sudah lama ingin menghubungimu dan bertanya soal ini.”

“Apa?”Sa-Rang memasukkan potongan-potongan kecil makan malamnya ke dalam mulut.

“Aku dengar dari Pelayan dan Manager, kau selalu memesan dua porsi makanan.”

“Iya… terus kenapa?”

“Malam ini kau juga memesan paket kencan makan malam.”

Sa-Rang tertawa kecil. “Bukan aku yang memesan.”

“Tetapi katanya–“

Sa-Rang segera memotong. “Kyu-Hyun yang memesan. Kurasa dia sedang ke toilet sekarang. Dia tiba-tiba saja pergi tanpa aku sadari sebelum kau datang. Aku akan memberinya pelajaran jika kabur seperti kemarin,” jelasnya panjang lebar. “Tunggulah. Kalian bukannya sudah lama tak bertemu?”

~XXX~

Sa-Rang mondar-mandir tak karuan mencari sesuatu. Dia memang selalu lupa menaruh barang-barangnya. Seluruh rumah telah dia geledah dan membuatnya seperti kapal pecah. Sung-Min masih tidur di kamarnya karena akhir pekan. Dia tidak tahu kalau adik kesayangannya itu tengah menghancurkan isi rumah.

Pagi buta sekali, Sa-Rang telah bangun untuk mempersiapkan barang-barang yang akan dia bawa untuk perjalan ke luar kotanya bersama Kyu-Hyun. Setelah menghancurkan seisi rumah untuk memenuhi tas bawaannya, kini dia mengambil posisi di dapur. Sa-Rang yang notabenenya tak begitu pandai memasak bertekad untuk membuat sendiri bekal perjalanan mereka.

Tak kalah dengan ruangan yang lain, dapur pun berubah wujud. Dapur yang awalnya bersih tanpa sebutir debu pun, berubah menjadi dapur di tempat pengungsian yang tak terurus. Jika saja Sa-Rang tak sengaja memecahkan gelas. Sung-Min tidak akan pernah bangun untuk mendapati dengan mata kepalanya sendiri pembuat onar di rumahnya.

“Ya Tuhan, apa yang kau lakukan?”

Sa-Rang hanya memamerkan deretan gigi putihnya. “Pagi menjelang siang Oppa-ku!”

“Kau… mau menghancurkan rumah, eoh?”

“Tidak juga,” Sa-Rang menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. “Aku hanya mencari barang-barangku tadi. Terus menyiapkan bekal untuk piknik ke luar kotaku dengan Kyu-Hyun.”

Mendengar nama itu di sebut, Sung-Min semakin berang. “Kyu-Hyun katamu?”

Sa-Rang mengangguk kencang dengan keheranan. “Ne. Cho Kyu-Hyun. Oppa tidak mungkin tidak mengenalnya ‘kan?”

“Lee Sa-Rang, hentikan!” bentak Sung-Min.

“Ada apa denganmu, Oppa?” Sa-Rang mulai ketakutan. “Kenapa Oppa seperti ini? Oppa tidak pernah menentang hubunganku sebelumnya dengan Kyu-Hyun. Oppa tidak mungkin bertengkar dengannya ‘kan?”

“Aku bilang hentikan! Sadarlah!” suara Sung-Min masih tetap meninggi.

Sa-Rang segera menyambar kotak bekal dan tas ranselnya. “Aku pergi. Kita akan berbicara nanti, Oppa. Sebaiknya Oppa mendinginkan kepala Oppa dulu. Aku tidak akan bertanya pada Kyu-Hyun apa yang terjadi di antara kalian. Aku akan pura-pura tidak tahu.”

Sung-Min menahan lengan kanan Sa-Rang. “Sadarlah! Kyu-Hyun itu tidak ada.”

Mata Sa-Rang membulat sempurna. “Apa yang Oppa katakan? Jangan bercanda!”

“Dengarkan!” Sung-Min tetap memegang erat lengan Sa-Rang. “Kyu-Hyun itu tidak ada. Tidak ada yang namanya Cho Kyu-Hyun.”

Oppa keterlaluan. Sama sekali tidak lucu. Jika memang Kyu-Hyun tidak nyata, mengapa ingatanku akan dia begitu jelas? Lalu, foto di kamarku. Bagaimana ada fotoku dan Kyu-Hyun di sana?!!!” teriak Sa-Rang frustasi.

Tanpa berniat berdebat terlalu lama. Sung-Min memutuskan untuk menyeret Sa-Rang ke suatu tempat. Rontaan Sa-Rang tak diindahkannya. Tak begitu jauh dari rumah mereka, Sung-Min menekan bel sebuah rumah. Sa-Rang yang mengenali rumah itu akhirnya berhenti meronta.

“Untuk apa ke rumah Kyu-Hyun?” tanya Sa-Rang.

Sung-Min tetap diam. Tak ingin menjawab. Dia kembali menarik tangan Sa-Rang agar mengikutinya memasuki rumah. Seorang pembantu mempersilahkan mereka masuk. Tanpa diberitahu, Sung-Min sudah tahu di mana pemilik rumah berada. Ke situlah dia membawa Sa-Rang.

Annyeong haseyo Ommonin,” sapa Sung-Min ramah.

“Oh… Sung-Min-ah. Kau datang terlalu cepat. Kami baru mempersiapkan upacaranya.” Wanita berumur sekitar 50 tahun itu memperhatikan kedua tamunya. “Ada apa ini?”

Joesonghabnida Ommonim,” nada bicara dan tatapan Sung-Min seolah memberi isyarat.

Wanita itu mengangguk pelan. “Baiklah. Aku akan mengurus yang lain di luar.”

Gamsahamnida,” ucap Sung-Min dengan hormat.

Sa-Rang yang sedari tadi terdiam akhirnya bersuara. “Kenapa ada foto Kyu-Hyun di sana?” tunjukkan pada meja di tengah ruangan. “Lelucon ini keterlaluan,” isak Sa-Rang.

“Hari ini peringatan kematiannya. Setahun yang lalu di hari yang sama, Kyu-Hyun mengalami tabrak lari. Dia pun terpaksa meninggalkan kita. Malam itu kau ada di sana. Kau melihat semuanya.”

Sa-Rang menggelengkan kepala dengan kencang sambil menangis. “Itu hanya mimpi. Semua itu mimpi. Kyu-Hyun tidak… tidak mungkin!” pekiknya. “Dia bersamaku. Dia makan siang bersamaku. Tertawa dan mengobrol denganku. Bahkan semalam kami makan malam bersama. Tadi pagi dia menelepon untuk membangunkanku. Oppa, hentikan lelucon ini!”

Kaki Sa-Rang kehilangan tenaga. Dia terduduk lemas tak berdaya. Tangisnya semakin kencang dan tak terkendali. Dia terus-menerus memohon Sung-Min untuk menghentikan lelucon yang sebenarnya bukanlah lelucon. Sedangkan Sung-Min hanya berdiam diri. Dia tak tahu harus berbuat apa. Dia tak ingin Sa-Rang terluka, tetapi Sa-Rang juga harus tahu kebenaran yang ada.

~XXX~

“Cho Kyu-Hyun… Cho Kyu-Hyun… Cho Kyu-Hyun…,”Sa-Rang menekan tombol satu pada layar ponselnya.

Tak menunggu lama terdengar suara perempuan yang menjawab. Sa-Rang sempat tertegun, namun segera diabaikannya.

“Kau dimana?” tanya Sa-Rang tak sabaran.

Pada saat yang bersamaan suara dari ponselnya berbunyi, “Panggilan Anda akan dialihkan ke kotak suara.”

“Yak… jangan menyeberang jalan sembarangan. Tunggu aku di situ. Jangan kemana-mana sebelum aku datang. Aku bilang tunggu!”oceh Sa-Rang.

Sa-Rang segera turun dari tempat tidur. Bunyi pendek sebayak tiga kali yang berasal dari ponselnya, dia anggap angin lalu. Tergesa-gesa dia menjejalkan permen karet ke dalam mulutnya dan berlari keluar kamar.

“Aku bermimpi buruk tentangmu. Jangan banyak tanya. Tunggu saja aku!” pekiknya kesal masih kepada Sang Ponsel.

Tidak ada suara lagi dari speaker ponsel. Sa-Rang mengeceknya, sambungan telepon telah terputus. Dia tidak marah, melainkan tersenyum kecil.

“Lee Sa-Rang, kamu mau ke mana?”tanya Sung-Min dari arah dapur.

“Oh, pagi Oppa!” sapanya tanpa menatap lawan bicara sama sekali. “Oppa tolong charger ponselku. Aku mau ke taman.”

~XXX~

Sa-Rang membuka menu dengan enggan. “Ini saja!” tunjukkan Sa-Rang pada gambar sebuah makanan berbahan dasar daging. “Minumnya yang biasa saja.”

“Oh… baiklah. Satu Stinco D’agnelo Brasato dan Va–”

Sa-Rang mendelik pada pelayan yang melayaninya. “Dua! Pesanan kita sama,” koreksinya.

Joesonghabnida…. mohon tunggu sebentar.”

Ragu-ragu pelayan itu menulis pesanan Sa-Rang. Beberapa kali dia mengintip dari ujung buku catatannya untuk mengecek pelanggan sekaligus teman dekat pemilik restoran tempatnya bekerja. Pelayan itu mengangkat satu alisnya, merasa janggal. Tak ingin berlama-lama, dia pun meninggalkan Sa-Rang sendiri.

Hyeong!” panggilnya pada manajer restoran. “Teman Hyo-Ra-ssi, Lee Sa-Rang-ssi, bertingkah aneh. Dia memesan dua porsi makanan dan minuman untuk sendiri.” Tambahnya, “Dia juga berbicara sendiri.”

~XXX~

“Kyu-Hyun sedang ke toilet. Aku akan membeli makanan. Kalau dia mencariku, katakan padanya aku membeli makanan.”

“Eoh,” jawab Jang-Mi setengah melongo.

Saat Sa-Rang mulai menjauh, Eun-Ji dan Jang-Mi menghembuskan napas lega seolah-olah sedari tadi mereka menahan napas. Wajah mereka berubah sendu.

“Apa kita harus memberi tahu Sung-Mi Oppa?” usul Jang-Mi

Eun-Ji mengangguk. “Kasihan Sa-Rang. Dia belum bisa melupakan Kyu-Hyun.”

~XXX~

“Ya…ya..ya… sudah malam begini malah teriak-teriak. Ada apa?”

Sa-Rang menyodorkan ponselnya. “Lihatlah Oppa!”

“Ada apa? Sa-Rang-ah, kau sudah bukan siswa SMA lagi. Berhentilah bertingkah kekanak-kanakkan.”

“Ara…. lihat ini.”

Sung-Min menerima ponsel yang di sodorkan Sa-Rang. “Apa ini?”

“Pesan dari Kyu-Hyun,” pamer Sa-Rang.

Sung-Min memperhatikan lekat-lekat tulisan-tulisan di layar ponsel Sa-Rang. Tak ada balasan dari semua pesan yang dikirim Sa-Rang. Bahkan tak terkirim sama sekali. Sung-Min menghela napas, menatap Sa-Rang penuh rasa iba. Dia harus mengakhiri ini semua.

~XXX~

 

 By: Wahyuni Surya (Miss Fox)