Tags


My First OriFictWattpad-Dont

WHY YOU LEAVE ME? (DON’T)

 ––––––“Maaf… aku harus pergi. Maafkan aku! Jaga dirimu baik-baik. Kamu akan baik-baik saja tanpaku.” Dia terdiam, menatapku penuh harap. Lanjutnya, “Makanlah nasi yang banyak dan sesering mungkin, buah-buahan juga. Jangan hanya coklat dan makanan-makanan ringan itu.  Hentikan menimum kola. Sebaiknya minum susu rutin, bukan segalon dalam sekali  seminggu. Percernaanmu  bisa bermasalah tahu!” Dia memelototiku garang.

Tatapannya melemah, helaan napas kasar terdengar begitu jelas darinya. Dia tak akan memaksaku menanggapi nasehatnya. Dia juga tak berharap aku memperhatikan setiap ucapannya. Matanya yang biasanya menatap tajam dan penuh akan kharisma kini tidak memiliki kekuatan apapun. Entah sejak kapan mata itu berubah sayu. Semakin sering mata itu bertemu tatap dengan mataku, semakin serius pula kekosongan yang terbentuk di sana.

Hening semakin merasuk. Akhirnya dia memalingkan wajahnya, kurasa tidak ingin lebih lama beradu pandang denganku. Dia memilih mengalah, atau mungkin menghindar. Memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper menjadi pengalih yang sangat tepat.  Setelah semua pakaian-pakaian itu tersusun rapi pun, dia masih berpura-pura mengaturnya posisinya. Mengeluar-masukkan, melipatnya ulang, hingga berpura-pura berpikir apakah pakaian itu akan masuk dalam koper merah gelap itu atau tidak.

“Mengapa?” Suara serak yang menyedihkan terdengar. Aku terkejut sendiri mengetahui bahwa suara itu berasal dariku.

Responnya, “Eum?”

“Mengapa kau harus pergi?” Suara yang keluar dari mulutku semakin serak, tak sedap untuk didengar. “Meng-a-pa?” tambahku, terbata-bata.

Kulihat kedua tangannya mencengkram pinggiran koper yang terbuka dengan sangat kencang. Kulitnya memerah dan urat-urat yang menegang terlihat dengan jelas. Matanya terpejam, rahangnya mengeras. Kupikir sebuah bentakan kasar akan menyapa gendang telingaku, tetapi sebaliknya.

“Akan aku ambilkan air.” Dia jalan setengah berlari menuju dapur.

Sesak di dadaku terasa lagi. Kini semakin kuat, seperti teremas-remas. Mataku terasa  panas dan  mulai mengelurkan airmata, lagi.  Aku mengigit bibir, menahan isak tangis yang mungkin akan keluar. Aku memeluk lututku semakin erat. Kulit lenganku terasa  perih akibat kuku-kukuku tertancap di sana. Pundakku naik-turun beberapa kali. Rasa asin melebur di dalam mulutku. Bau anyir  tercium indra penciumanku. Dan aku tak peduli.

“Ya Tuhan!” Dia meletakkan air yang dia bawa dari dapur di atas nakas rendah tampat sebelumnya buku-buku tertumpuk rapi. Langkah kakinya besar-besar mendekatiku. “Bibirmu berdarah, berhenti mengigitnya!” perintahnya.

“Mengapa kau pergi?” tanyaku lagi.  Aku tak lagi ingat sudah berapa kali kalimat itu terlontar.

Lagi-lagi dia tak indahkan pertanyaan itu. “Besok kau harus ke dokter untuk memeriksa tenggorokanmu. Ini akibat kau terlalu banyak makan coklat dan ice cream. Dokter Lee pasti akan memarahimu.”

Aku segera menepis tangannya dari bibirku. Tisu putih dengan beberapa bercak merah terlempar ke lantai. “Kau benci padaku?” suaraku semakin buruk, kali ini terdengar seperti cicit tikus. “Kau benci padaku?  Merasa terganggu karenaku? Apa aku menyusahkanmu? Mengapa kau pergi? Ke mana kau akan pergi? Kapan kau berpikir dan memutuskan untuk pergi?”

“Kau akan baik-baik saja  tanpaku. Tidak akan ada yang berubah denganmu jika aku pergi, semuanya akan sama saja seperti sebelumnya.”

Aku terbatuk-batuk. “Bagaimana kau tahu aku akan baik-baik saja? Kau yang pergi, dan aku yang tinggal. Bagaimana kau tahu apa yang aku rasakan?”

Dia mengambil beberapa helai tisu dari kotak tisu di tangan kirinya. Seperti sebelum-sebelumnya, pilihan untuk bungkam telah terpatri di otaknya. Jari-jarinya yang panjang  mendekat ke wajahku, menyapukan tisu di pipiku.

Aku tak dapat menahannya lagi. Tangisku meledak hebat. Suara serakku memekakkan telinga, namun tak kuhiraukan. Pandanganku buram karena terhalang air mata yang mengalir deras. Samar-samar aku seperti melihat airmata mengalir di wajahnya. Menuruni pipinya perlahan dan  berakhir di dagunya yang tercukur rapi. Penglihatan itu segera terlahang karena dia mendekapku, membenamkan wajahku di dadanya yang bidang.

“Tidurlah jam 10 malam, jangan terjaga sampai pagi. Berhenti melakukan apapun setengah-setengah. Jika kau punya masalah, ceritalah pada seseorang. Mungkin mereka bisa membantumu. Kurangi badmood-mu, kau tahu ‘kan sifatmu yang satu itu mengacaukan segalanya?” Dia mengelus puncak kepalaku. “Jangan terlalu keras kepala, kau tidak akan punya teman jika seperti itu terus.”

“Eum…,” jawabku. Entah mengapa kali ini aku ingin mendengarkan nasehatnya.

“Maafkan aku. Aku yakin, seyakin-yakinnya, kau akan lebih baik tanpaku. Kau gadis yang sangat kuat. Kau bisa melalui ini semua. Kau bisa tanpaku, karena kau gadisku. Gadisku yang keras kepala, selalu.” pelukannya mengerat, “Aku tak ingin kau melupakanku, namun lebih baik jika kau hapus saja memorimu tentangku. Kau cukup mengingatku sebagi seserang yang kau kenal, tidak ada yang istimewa.”

Dia melepas pelukannya. Kedua tangannya mengapit wajahku, menutupi kedua telingaku. Bibirnya bergerak mengucapkan sesuatu. Pandanganku yang kabur karena airmata tidak dapat melihat dengan jelas pergerakan bibirnya. Gerak bibir itu sangat singkat dan  telah berganti menjadi senyum. Senyumnya yang menawan dan begitu menenangkan. Aku tidak pernah lupa senyum itu. Senyuman yang hanya ditunjukkan padaku.

Gege…,”ucapku lirih. (Gege, panggilan untuk kakak laki-laki)

Sekali lagi, tangannya yang besar membelai puncak kepalaku dan menekannya tanpa tenaga. Dia  kembali tersenyum, namun berbeda dengan yang sebelumnya kulihat. Pemuda yang selama dua tahun ini selalu menjadi malaikat pelindungku itu berjalan mendekati tempat tidur. Koper telah tertutup rapi, aku tak tahu kapan dia melakukannya.

Aku terisak kembali. “Gege…,” panggilku.

Dia tak berbalik. Dia tak acuhkanku yang duduk menyedihkan di sudut ruangan, terjepit antara nakas rendah itu dan jendela super besar. Aku jatuh terduduk di sini sejak tiga jam yang lalu. Sejak mendengar keputusan untuk pergi, aku bergeming dari tempat itu. Dari sinilah aku memperhatikannya membereskan beberapa barangnya yang tersisa. Barang-barang yang tersisa itu kini telah berada di dalam koper ukuran sedang itu.

“Aku pergi. Good bye!”

Roda-roda koper yang diseretnya berderak kencang di tengah keheningan. Punggungnya menghadap padaku. Menjauh dan semakin menjauh. Tak ada sedikit pun tanda bahwa dia akan membalik badannya  dan menunjukkan  wajahnya padaku, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Memang untuk terakhir kalinya. Punggung itu terus menjauh, hingga akhirnya menghilang  di balik pintu. Tanpa keyakinan seratus persen, aku merasa melihat matanya yang tergenang airmata mengintip dari celah pintu sebelum tertutup dengan rapat.

Sendirilah aku di ruangan ini sekarang. Semuanya kosong, tidak ada siapapun kecuali diriku yang menyedihkan. Sama seperti ruangan ini, hatiku pun merasa hampa. Sebuah lubang menganga tepat di dada kiriku. Suara seperti ranting-ranting kecil yang patah terdengar berulang kali. Kuku-kukuku tengah beradu dan menimbulkan suara menyedihkan itu. Aku sendiri, aku merasa berada di tengah hutan belantara, sendirian.

––––––Zi Lian berlari menghampiriku dengan wajah panik. “Huan Yue… apa yang kau lakukan di sini? Ada apa denganmu? Dimana Gege? Dia tadi memintaku segera ke mari, katanya ada hal yang penting.  Apa yang terjadi?”

“Mengapa dia pergi? Apakah karena aku?” Suara serakku masih saja membuatku terkejut.

“Siapa yang pergi?” Matanya yang besar menyerupai panda itu mencari sekeliling ruangan. “Kenapa kosong? Barang-barang Gege mana? Apa yang terjadi dengan Zhang Yi Gege?”

“Mengapa dia pergi?” Aku mengulang pertanyaan itu, padahal tak akan ada yang bisa menjawab.,

“Zhang Yi Gege pergi? Kenapa  tidak memberi tahuku? Ada apa ini? Ke mana dia?”

Gumamku, “Sepertinya karena aku”

Zi Lian menatapku iba. “Dia tidak mengatakan apapun padamu? Jadi, kau ditinggalkan seperti ini di sini? Huan Yue…”

“Huan Yue… ada apa denganmu? Zi Lian, ada apa ini? Gege menghubungi dari telepon umum dan memintaku segera ke mari.”

Aku tak mendengar Zi Lian menjawab, memenuhi rasa penasaran Kai. Kedua tangannya memegang kedua sisi lenganku dan membantuku berdiri. Perlahan-lahan dia menuntunku menuju pintu. Aku tak ingin pergi, namun tak sanggup pula menolak. Tubuhku lemas semua. Jika Zi Lian tak menahanku, aku mungkin akan terduduk lagi di lantai keramik yang dingin. Kai melakukan hal yang seperti Zi Lian. Menatapku iba dan membantu berjalan.

“Dia pergi, Zhang Yi Gege pergi entah ke mana dan tidak ingin kita tahu.”

Kai menegang, dapat kurasakan dari cengkramannya di lengan kiriku. “Mengapa dia pergi?”

“Karena aku,” jawabku singkat.

-END-

Author: Wahyuni Surya a.k.a Miss Fox