Tags

,


Strange Girl

 

|| Chapter One || Chapter Two|| Chapter Three || Chapter Four || Chapter Five || Chapter Six || Chapter Seven ||

 JOAH –Strange Girl “Chapter Eight”

MINHYE –Sejujurnya rahangku mulai pegal karena terus-menerus mengulum senyum sejak matahari terbit hari ini hingga matahari kembali terbenam. Saat aku membuka mata pagi ini, aku berkata pada diriku bahwa kesenangan yang tergambar di otakku saat itu hanyalah efek dari sebuah mimpi indah bahkan setelah aku terjaga dengan sempurna. Tetapi, dengan adanya pemuda di hadapanku ini–hampir sepanjang hari–telah menepis sugesti tersebut. Bersamanya lebih dari sepuluh jam, bukan bersama dalam ranah biasa-biasa saja, kami berkencan.

Tak henti-hentinya aku menggumamkan lagu-lagu cinta. Aku tak pernah mengira bahwa beginilah senangnya jika kita mengetahui bahwa orang yang kita sukai memiliki perasaan yang sama. Ungkapan-ungkapan sajak cinta yang terdengar aneh dan ketinggalan zaman entah mengapa terdengar begitu indah untukku saat ini. Aku harap ini benar-benar bukan mimpi.

Oppa, maaf membuat menunggu.”

Perlahan Minho Oppa meletakkan ponselku di atas meja. Aku sempat mengeryitkan dahiku mendapati kejanggalan sikapnya itu. Aku tidak masalah jika dia mengutak-atik ponselku dan mengubrak-abrik isinya. Hanya saja, mengapa ekspresi wajahnya terlihat terkejut.

“Ada telepon atau pesan masuk?” tanyaku sembari kembali duduk.

Minho Oppa menggeleng pelan. “Tidak ada.”

“Lalu, apa yang Oppa lihat?” selidikku.

“Mengecek apakah ada foto-fotoku yang kamu ambil tanpa persetujuanku.” Wajahnya yang tadi sedikit tegang berubah tenang.

Aku nyengir kuda. “Oppa menemukannya?”

“Tentu saja, banyak sekali. Kamu menyimpannya terpisah dengan foto-foto yang lain dan mem-password-nya dengan tanggal lahirku ditambah tanggal lahirmu.”

Bunyi pendek dari ponsel merangsang gerak refleksku untuk segera mengambilnya. Sebuah pesan masuk dari Kyuhyun Oppa.

“Siapa? Kenapa kelihatannya kamu tidak suka?”

Evil-Kyu!” jawabku pendek.

“Oh… Apa yang dia katakan?” Minho Oppa memperhatikan wajahku dengan seksama.

“Tidak penting.” Aku menghela napas, “Kenapa Kyungsoo belum membalas pesanku? Tidak biasanya.”

“Dia mungkin sibuk, tidak sempat.” Minho Oppa memberikan alasan yang masuk akal.

“Tetapi dia tidak pernah begini,” sangkalku. “Dia selalu sempat membalas pesanku. Apa dia marah padaku?”

“Mengapa dia marah padamu?”Minho Oppa menatapku tajam. “Mengapa dia harus membalas pesanmu? Ada kondisi istimewa?”

Aku segera menggeleng. “Tentu saja tidak. Aneh saja dia tidak membalas pesanku, tidak biasanya. Pesanku berjam-jam yang lalu. Dia pasti sangat sibuk.”

Minho Oppa beranjak dari kursinya. “Sudah aku bilang ‘kan? Kajja… sudah malam, kita pulang.”

Tanpa basa-basi lagi, aku menurutinya. “Bukankah kita akan Han dulu? Oppa!”

-Chapter Eight-

Seperti hari-hari sebelumnya, aku berada di sebuah ruang latihan dan menyaksikan sekelompok pemuda tampan dan terkenal di seluruh penjuru  dunia   berlatih  dengan keras. Teriakkan kecil sesekali terdengar di sela-sela musik yang terputar sangat kencang. Saat musik berhenti, desahan napas beratlah yang menggantikannya. Bulatan-bulatan kecil terpeta di lantai, karya dari tetes-tetes keringat kerja keras mereka. Menjadi seperti mereka  tidaklah mudah. Tidak ada yang benar-benar menyadari bahwa hidup mereka sangatlah keras.

“Sedang melihat apa?” Minho Oppa menghampiriku dengan dua gelas lemon tea.

“Sebentar Oppa,” jawabku singkat tanpa mengalihkan perhatianku dari layar ponsel.

“Baiklah.”

Minho Oppa memilih duduk di sebelahku, hanya berjarak dua atau tiga jengkal. Waktu latihannya belum berakhir, hanya sekarang dia sedang menikmati waktu  istirahatnya. Aku meliriknya sejenak karena tidak ada lagi suara darinya. Dia terlihat memperhatikan balok-balok kecil es batu di dalam gelas minumannya. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu yang  rumit. Aku tidak bisa menebak karena mengenalnya selama ini tidak pernah membuat benar-benar belajar bagaimana pola pikirnya.

“Kya!” teriakku nyaring tidak lama kemudian.

Minho Oppa  mendengus kesal. “Mengapa teriak!? Mengagetkan saja.”

Mian,” mohonku dengan aegyo.

“Mau ke mana?”

Minho Oppa menahan tanganku saat hendak berdiri. “Menemui Kyungsoo,”  jujurku.

“Untuk apa?”

“Ada hal yang harus segera dia tahu. Aku ingin dia  yang mengetahuinya pertama kali,” jelasku antusias.

Kulit dahi Minho Oppa membentuk  lipatan-lipatan kecil. “Mengapa harus Kyungsoo yang tahu pertama kali? Mengapa bukan aku?”

“Itu karena….”Aku tidak bisa menemukan alasan.

“Apa?” Minho Oppa tak sabaran.

“Dia hanya harus segera tahu tentang ini,”jelasku terbata. “Dia pasti tidak pernah menyangkanya.” Aku nyengir kuda karena alasan yang aku buat sepertinya tidak cukup menjawab pertanyaanya.

Alis Minho Oppa bertemu satu sama lain. “Aku juga ingin tahu. Lihat!”

Nde?” Aku menatap uluran tangannya dengan ragu.

Wae? Aku tidak boleh tahu dan Kyungsoo harus tahu?”

“Itu karena….”Aku kembali kehilangan kata-kata. “Emm… mungkin karena hal ini berkaitan dengannya,” jawabku terbata, lebih terdengar seperti bertanya. “Maksudku, beberapa saat yang lalu kita berdebat akan suatu hal. Aku hanya ingin menunjukkan bukti bahwa akulah yang benar.”

“Hanya karena itu?”

Aku mengeryitkan dahi. “Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja terbersit dalam otakku untuk segera memberitahu Kyungsoo.”

“Jadi alasan yang kamu sebutkan sebelumnya hanya kebohongan?” Minho Oppa melipat kedua tangannya di  depan dada. “Seorang Choi Minhye baru saja berbohong padaku?” ulangnya.

Aku  menelan ludah  dengan suah payah. “Oppa marah padaku?”

“Untuk apa aku marah?”

Oppa, mianhae.” Aku perlahan beringsut mendekatinya. “Oppa mau lihat? Silahkan!” aku menyodorkan ponselku.

Minho Oppa tak melirik sedikitpun. “Sudalah Minhye-ya. Bukan itu masalahnya.”

“Kalau begitu apa?” tidak ada clue sedikitpun dalam benakku.

“Aku akan mencari yang lain untuk melanjutkan latihan.” Minho Oppa beranjak meninggalkanku. “Pulanglah!”

Oppa…,”rengekku.

-Chapter Eight-

KYUNGSOO–Pertarungan sengitku dengan Baekhyun Hyeong untuk memperebutkan tempat di sebelah kemudi berakhir dengan kemenanganku.  Dia dengan setengah hati membuka pintu tengah van dan langsung menghempaskan dirinya di jok abu-abu tepat di belakangku. Mulutnya terus bergerak tanpa henti, mengomel ini-itu karena tak terima akan kekalahannya.

Baekhyun Hyeong memekik kecil  sembari memegangi  dada sebelah kiri. Seunghwan Hyeong tanpa sengaja menekan klakson mobil saat menaiki mobil sehingga mengagetkan Baekhyun Hyeong  dan juga aku. Dia juga cukup terkejut, karena tidak  menyangka mesin mobil dalam kondisi siap dinyalakan.

“Heuh… ternyata kuncinya sudah tertancap di sini. Aku  hampir  saja menyerah mencarinya.” Seunghwan Hyeong menengok ke belakang. “Di mana yang lain?”

Baekhyun Hyeong memperbaiki posisi duduknya. “Berdandan,” jawabnya singkat.

“Baiklah, kita tunggu  lima menit lagi. Kalau tidak  muncul juga, kita tinggal.”

“Memang mungkin? Aigoo Hyeong lucu sekali.”

Seunghwan Hyeong tersenyum menirukan gaya Baekhyun Hyeong. Baekhyun Hyeong  merasa sangat senang  akan hal itu. Sedangkan aku hanya geleng-geleng kepala, mereka berdua tidak biasanya akur. Baekhyun Hyeong bosan tertawa dan mulai bersenandung kecil sambil menulis sesuatu di kaca mobil dengan bantuan uap dari mulutnya. Aku juga akhirnya harus mengurungkan niat mengajak Seunghwan Hyeong mengobrol, sebab tablet-PC-nya membutuhkan seluruh konsentrasinya.

“Apa yang Hyeong lakukan?” Baekhyun Hyeong  memang tidak  peduli akan menggangu  apa tidak. “Wuah… sepertinya sesuatu yang  penting. Schedule kita?”

Seunghwan Hyeong menggeleng. “Bukan.”

“Bukankah itu….” Aku mendekatkan diri untuk melihat. “….skandalku?”

“Oh benar… itu fotomu  dan Minhye yang menggemparkan jagat raya itu ’kan?” Baekhyun Hyeong menyembulkan kepalanya di antara kursi.

Aku mendelik kesal ke arahnya karena perumpamaan yang  digunakan. “Hyeong apa ada masalah lagi? Bukankah kasusnya sudah ditutup?”

“Memang,” jawabnya singkat. Telunjuknya terus-menerus bergerak dari  bawah ke atas layar  benda menyerupai buku agenda tipis itu, berulang kali. “Tetapi sebelum menemukan penyebabnya, perusahaan  ingin terus menelusurinya.”

Baekhyun Hyeong mengangguk-angguk  pelan dan bibirnya membulat membentuk huruf ‘O’. Aku juga berusaha mengangguk sealami mungkin untuk menyembunyikan khawatiranku. Tidak ada alasan pasti yang dapat aku akui sebagai  penyebab kekhawatiran yang aku rasakan. Hanya, tiba-tiba terasa seperti itu.

Hyeong!” Baekhyun Hyeong sepertinya  ingin tahu lebih jauh. “Sudah sampai mana temuan Hyeong?”

Aku kira Seunghwan Hyeong tidak akan sudi berbagi informasi, tetapi ternyata sebaliknya. Dia sangat antusias menceritakan kronologi bagaimana dia menelusuri jejak pelaku. Matanya pun terlalu berkaca-kaca bahagia untuk ukuran pria dewasa.

“Jadi, semuanya itu berawal dari sini.”

Seunghwan Hyeong memberikan tablet-PC berwarna hitam itu pada Baekhyun Hyeong.  Baekhyun Hyeong memperhatikannya sekilas dan langsung memberikannya padaku. Dia memang tipe orang yang lebih suka mendengar cerita yang detail, dan tidak peduli pada bukti yang ada. Seunghwan Hyeong kembali berbicara panjang lebar tentang bagaimana cara menemukan akun Sang Pelaku. Aku tidak  terlalu memperhatikannya, tampilan di layar tablet-PC itulah yang lebih penting untukku.

“Kalian tahu situs itu?”

Aku menggeleng kencang. “Tidak,”  jawabku asal padahal tidak tahu hal yang dimaksud.

“Kayaknya aku pernah dengar.” Baekhyun Hyeong bergaya bak pemikir yang serius.

Seunghwan merebut tablet-PC-nya dari tanganku. “Junmyeon mungkin pernah menyebutnya.”

Baekhyun Hyeong menepuk tangannya cukup keras. “Aaa… Junmyeon Hyeong pasti tahu.”

“Tahu apa?”

Orang yang dibicarakan muncul tepat pada waktunya.Terkesan sepertinya dia tahu kalau kita menyebut namanya dan dia dengan ajaibnya datang. Di  belakang Junmyeon Hyeong, dua pengacau lainnya menunggu giliran untuk masuk ke dalam kendaraan beroda  empat jenis van  ini.

“Aku tahu apa?”  Junmyeon Hyeong mengulang pertanyaanya setelah semua duduk di posisi masing-masing, kecuali Sehun  yang belum juga muncul. “Ada apa?”dia tidak sabaran.

“Kamu tahu situs ini?”

Kali ini tampilan di tablet-PC itu berbeda. Sebelumnya hanya gambar halaman depan suatu situs yang statis, sekarang  mulai ada animasi yang bergerak di mana-mana. Junmyeon Hyeong rupanya ingin segera tahu hal yang membuatnya namanya tersebut. Dia memperhatikan dengan seksama. Tidak hanya itu, dia juga  menekan dengan ujung jarinya beberapa bagian halaman web itu.

“Oh…aku tahu situs ini. Beberapa bulan lalu aku sempat membuat akun untuk tahu apa isinya.”

Chanyeol mendesis di belakang. “Hyeong satu ini bahkan membuat akun di situs anti-fans kita.”

Junmyeon Hyeong hanya nyengir kuda sembari menggaruk-garuk tengkuknya. Seunghwan Hyeong dan Jongin menggeleng seirama. Sepertinya hanya Baekhyun Hyeong yang merasa bahwa apa yang dilakukan Junmyeon Hyeong itu hebat.

“Memangnya situs apa itu?” tanya Jongin.

“Hanya situs yang berisi kumpulan fans fanatik kita –mungkin sasaeng. Tetapi sebenarnya lebih mirip situs jual-beli.” Junmyeon Hyeong mencoba mengingat-ingat. “Intinya para fans EXO melakukan transaksi jual-beli semua hal tentang kita. Bahkan tisu bekas kita pun dijual. Sempat aku temukan…,” dia tertawa sendiri. “Ada…yang…menjual…,” ceritanya putus-putus. “…sedotan bubble tea bekasnya Sehun. Gilanya ada yang mau beli mahal.”

“Tidak masuk akal,” sangkal Jongin. “Sedotan di mana-mana sama saja. Kasihan pembelinya ditipu,”

“Jangan salah.”   Junmyeon Hyeong menggelengkan kepalanya dengan angkuh. “Ada bukti bahwa sedotan itu memang bekas Sehun. Sang Penjual menyertakan bukti video saat Sehun meminum bubble tea-nya sampai dibuang ke tempat sampah dan Sang Penjual memungutnya.”

Daebak,” pekik Baekhyun Hyeong.

Topik pembicaraan selanjutnya beralih dari membahas bukti-bukti  yang mengarah pada pelaku penyebaran fotoku dan Minhye menjadi membahas situs-situs aneh yang dikunjungi Junmyeon Hyeong diwaktu senggangnya. Semua situs itu didasarkan pada tema yang sama ‘Fans dan EXO’. Saat akhirnya Sehun bergabung dan van hitam ini mulai membaur pada kepadatan jalan raya, cerita Junmyeon Hyeong berakhir.

“Balik ke pembicaraan  yang sebenarnya,” bukaku.

Aigoo… Kyungsoo kita penasaran sekali dengan kelanjutan skandalnya,”  ejek Baekhyun.

Jongin bersin tertahan. “Benar Hyeong. Bagaimana foto itu bisa berasal dari salah satu akun di situs itu?”

“Aku belum tahu. Tidak bisa dilacak lagi karena selain akunnya sudah  dihapus data pribadi yang digunakan untuk registrasi juga palsu semua,” jelas Seunghwan Hyeong. “Yang pasti, pemilik akun itu yang meng-upload foto itu sendiri. Junmyeon-ah, coba kamu lihat file yang terbuka sebelah kiri.”

Sial sekali, aku tidak bisa melihat file yang dimaksud Seunghwan Hyeong karena aku duduk di depan. Rasanya tak sabar menunggu mereka selesai melihatnya. Seunghwan Hyeong melirikku sejenak dan tersenyum mengejek sebelum kembali berpura-pura berkonsentrasi  pada jalanan. Butuh sekitar tujuh belas menit untuk bisa mendapatkan kesempatan melihat file itu.

Seunghwan Hyeong mulai menjelaskan kembali tentang maksud file itu. Aku tidak dengan penuh perhatian mendengarkannya. Mengetahui isi file itulah yang terpenting. File itu merupakan kumpulan percakapan  pemilik akun yang diduga tersangka dengan akun-akun lainnya. Isi percakapan dan waktu percakapan tercantumkan dengan jelas. Akhirnya aku menemukan di sesi mana  fotoku muncul.

Rupanya fotoku menjadi bukti untuk meyakinkan pembelinya –akun Sang Pelaku berlaku sebagai penjual. Dari rekaman percakapan mereka,  aku bisa menyimpulkan bahwa  pelaku menggunakan sistem pre-order untuk transaksi penjualannya. Dia juga meminta setengah dari harga untuk dibayarkan dimuka.  Pada catatan waktu berikutnya, foto itu dihapus oleh pelaku.

“Tapi ‘kan fotonya dihapus tidak lebih dari tiga puluh detik kemudian. Dan tidak ada jejak foto itu diunduh.” Sehun sepertinya tertarik dengan temuan Seunghwan Hyeong.

“Aku tidak tahu masalah yang satu  itu. Memangnya kalian juga percaya aku yang menemukan semua ini?” Seunghwan Hyeong tertawa terbahak. “Tentu saja  bukan aku.”

“Kami sudah tahu dari awal, Hyeong. Jangan besar kepala,” ucap Baekhyun datar.

“Johwa-e, Johwa-eAgassi…,” gumam Junmyeon Hyeong berulang kali.

“Ada apa Hyeong?”

Junmyeon Hyeong tersentak dari lamunannya. “Tidak ada.”

“Apa masih ada penyelidikan selanjutnya?” tanya Chanyeol.

Seunghwan Hyeong menaikkan bahunya sejenak dan kembali menurunkannya ke posisi semula. “Tidak tahu, mungkin tidak. Sepertinya tidak ada pertanda  rumor itu akan keluar lagi. Popularitas kalian sudah menghempaskannya jauh sekali.”

“Tentu saja.” Jongin berucap dengan angkuh.

-Chapter Eight-

Suatu yang tidak mungkin jika aku melupakan eksistensi seseorang yang  sekarang tengah berjalan ke arahku. Rasanya cukup lama tak bertemu dengannya, setahun-dua tahun, tentu saja tidak selama itu. Dia tidak dengan sengaja berjalan ke arahku, melainkan karena dia sedang mengekori seorang pemuda jangkung. Senior  di perusahaan tempatku bekerja dan otomatis senior di dunia hiburan.

“Kyungsoo!” panggilnya dengan suara kencang.

Aku tersenyum canggung dan mengikutinya melambaikan tangan. Rupanya dia tertahan di depan pintu. Pemuda yang dia ikuti, masuk ke ruangan itu dan dia tidak diizinkan masuk. Mungkin ada rapat khusus untuk SHINee dan orang-orang yang terlibat.

“Kyungsoo!” teriaknya lagi dan lebih panjang sambil berlari menghampiriku.

Aku melirik kiri-kanan. Beberapa staff yang  kebetulan berada di sana terkekeh geli melihatku yang mungkin berwajah tegang–ketakutan–karena akan segera mendapat serbuan dari pengacau nomor satu di perusahaan. Ketenaran gadis bermarga Choi sepupu dari maknae Super Junior ini bisa dibilang mengalahkan artis SMEnt sendiri–dalam lingkungan perusahaan. Dia terkenal dengan keusilan dan kehebohan yang dia buat,  dia berhasil mengalahkan Kyuhyun Hyeong  yang sebelumnya berada diperingkat teratas.

Annyeong  Kyungsoo-ku. Lama tidak bertemu.” Dia memperhatikanku dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Joah… begini lebih baik.”

“Bagaimana kabarmu?” tanyaku kikuk. “Emm… sepertinya sangat baik,” jawabku sendiri setelah menyadari betapa tak berbobotnya pertanyaanku.

Minhye terkekeh. “Aku tidak sangat baik.”

“Kenapa?”  Menurutku seharusnya dia akan sangat baik karena bukankah selalu bersama Minho Hyeong adalah hal yang dia inginkan.

“Mereka  membosankan.” Minhye menoleh ke belakang sebentar. “Si Ahjussi  itu selalu melarangku melakukan sesuatu dengan Taemin. Padahal Si Maknae itu selalu punya ide gila yang menarik.”

Ahjussi?”

Minhye mengagguk kencang. “Tuan Choi Minho itu sudah seperti Ahjussi tua yang cerewet saja. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Memang ide gila Taemin sungguh gila. Apa dia tidak ingin aku celaka? Pasti begitu, iya ‘kan?”

“Oh…,” responku. Jika digambarkan alurnya, nada suaraku akan menyerupai parabola yang terlungkup.

“Ada apa?” Minhye sepertinya menyadari keengganan dalam sikapku.

“Tidak ada,  yang lain  ada di ruang latihan itu. Tetapi bukan ruang latihan yang biasa,” alihku segera.

“Aku bertanya ada apa? Mengapa responmu seperti itu? Ada yang salah?”

“Tidak ada apa-apa. Apa aku berbuat salah?” tanyaku balik.

Minhye menggeleng ragu. “Tidak ada. Hanya saja, rasanya  beda. Kamu terdengar seperti tengah kesal. Apa kamu marah padaku?”

“Marah untuk apa?” Aku menatap matanya untuk memberikan kesan bahwa tidak ada yang salah dengan diriku ataupun sikapku.

Untuk pertama kalinya  Minhye menghindari tatapanku.“Aku…akan menemui yang  lain.” Dia segera berlari meninggalkanku.

-Chapter Eight-

Minhye sedang asyik memotret Tao dan Sehun dengan kamera polaroidnya di sudut ruang latihan. Jongdae Hyeong dan Baekhyun Hyeong menghampiri mereka dan minta difoto juga. Sejak memasuki ruang latihan, dia tak acuhkanku.  Dia seolah-olah  tak melihatku dan terus bertegur sapa dengan yang  lain. Dia juga tidak mengaku bahwa akulah yang memberi tahunya bahwa member yang lain berada di ruang latihan ini, bukan  ruang latihan kami yang biasa.

“Oh…? Yak… Choi Minhye, ke mana saja kamu?” sambar Jongin yang baru saja datang.

Minhye tidak langsung menjawab. Dia malah mengarahkan kameranya ke Jongin dan memotret tanpa izin.  Tao  dan Sehun berebut ingin melihat hasil jempretan Minhye, apalagi Minhye terkekeh  geli sesaat setelah mengambil gambar Jongin tanpa izin dan persiapan Sang Model. Dia sama tak sabarnya dengan Tao dan Sehun. Dia mengibas-kibaskan lembar foto itu dengan cepat.

“Hey…hey..hey… seenaknya saja.  Berikan padaku!” perintah Jongin.

Tao tertawa terbahak. “Jelek sekali.”

“Oho!” dukung Sehun.

Jongin berhasil merebut foto wajahnya yang kini telah tercetak sempurna. “Kalian ini! Minhye-ya, sudah bosan bermain dengan Taemin?” Jongin terdengar iri.

“Oh….” Minhye berusaha merebut kembali foto Jongin hasil jempretan isengnya. “Eh… tidak juga. Mereka hanya sedang sibuk belakangan ini. Tetapi sebenarnya, aku merindukanmu,” goda Minhye. “Kkamjong-ku semakin tampan saja.”

“Bilang saja, kami  ‘teman bermain cadangan’-mu.” Jongin memasukkan foto itu ke saku celananya.

Tao menatap Minhye tajam. “ Maksudnya, karena Taemin sibuk Minhye mencari kita?”

“Ehe…,” Sehun geleng-geleng.

Anio….” Minhye menyerah untuk mengambil foto itu dari Jongin. “Aku merindukan kalian semua. Sejujurnya, aku mulai bosan bersama mereka. Kalian seratus kali lebih menyenangkan dibandingkan mereka.”

“Kyungsoo seratus kali lebih menarik dibandingkan Minho.”

“Tentu saja!”

Aku terbelalak. Sepertinya aku mendengar sesuatu yang tidak seharusnya. Minseok Hyeong yang sedari tadi diam tiba-tiba mengeluarkan pernyataan itu. Minhye pun mengiyakan tanpa perlu berpikir. Tetapi setelah menjawab, Minhye baru menyadari bahwa jawabannya salah.

“Eh… itu… maksudku,” jelasnya terbata.

Minseok  Hyeong terkekeh. “Kenapa? Kamu tidak menyukai Kyungsoo?”

“Itu… Oppa,” rengeknya. Minhye melirikku, namun detik berikutnya segera mengalihkan tatapannya. “Aku menyukai Minseok Oppa, Luhan Gege, semuanya, bukan cuma Kyungsoo. Sama rata,” jelasnya.

“Walaupun kelihatannya tidak seperti itu, tetapi… baiklah,” Minseok Hyeong mengedipkan sebelah matanya padaku.

Minseok Hyeong terus menatapku dan memasang mimik yang tidak dapat kuartikan. Luhan Hyeong yang baru bergabung pun seperti merasakan keanehan pada ekspresi Minseok Hyeong terutama gerakan alis yang naik turun. Rasa penasaran Luhan Hyeong terjawab ketika Minseok Hyeong membisikkannya sesuatu. Kali ini aku kebingungan dua kali lipat karena Luhan Hyeong menyikutku beberapa kali dan bersikap aneh seperi Minseok Hyeong.

“Hentikan kubilang!”

Bentakan Junmyoen Hyeong membuatku terperanjat hebat. Bentakan itu bukan untukku, bukan juga untuk member yang lain melainkan Minhye. Senyum Minhye luntur ketika mendapati Junmyeon Hyoeng memelototinya.

Oppa… berikan padaku,” mohonnya. “Aku… tidak akan mengambil gambar Oppa kalau Oppa tidak suka. Kembalikan kameraku.”

Junmyoen Hyeong mencengkrang kamera polaroid Minhye dengan sangat kencang. “Jangan foto siapapun lagi.”

Wae?” Minhye mengerucutkan bibirnya. “Kalau Oppa tak mau difoto ya sudah. Kembalikan kameraku! Aku mau berfoto dengan yang lain.”

“Untuk kamu jual?”

Minhye terkekeh kecil, “Memang aku apa? Tentu saja tidak. Oppa berikan padaku!” Minhye berusaha mengambil kameranya di balik punggung Junmyeon Hyeong. “Kamera itu sangat mahal tahu. Awas saja kalau sampai rusak. Berikan padaku! Oppa boleh meminjamnya kalau foto yang aku dapat sudah cukup banyak.”

“Kamu berpura-pura bodoh atau memang bodoh. Jangan foto siapapun!”

Minhye tersentak, “Oppa?”

Aku segera menghampiri Junmyoen Hyeong. “Hyeong, ada apa?”

Minhye menatapku dan yang lain bergantian. Dia terlihat gemetaran. Mungkin kemarahan Junmyeon Hyeong membuatnya shock. Junmyoen Hyeong memang tengah marah besar. Dia tidak biasanya marah sampai seperti ini.

Hyeong hentikan,” pinta Jongin. “Minhye-ya, kamu keluarlah! Nanti aku akan urus kameramu.”

Minhye mengangguk kecil.  Sesekali dia melirik Junmyoen Hyeong saat membereskan barang-barangnya. Dia juga menatapku dengan ragu. Jongin membantunya mengumpulkan lembar-lembar foto hasil jempretannya tadi.

“Jongin-ah,  kemarikan foto itu!”  perintah Junmyeon Hyeong sedikit lebih lembut dibandingkan saat berbicara dengan Minhye. “Berikan padaku semuanya, akan aku hancurkan nanti.”

Oppa!” pekik Minhye. “Kim Jongin, berikan padaku. Foto-foto  itu milikku.”

“Choi Minhye, jangan kekanak-kanakan. Kapan kamu akan berpikir layaknya orang dewasa? Tingkah konyolmu itu menimbulkan masalah bagi orang lain, tahu!?”

“Junmyeon-ah, sudahlah! Jangan berlebihan. Mereka hanya berfoto-foto saja. Apa salahnya?” bujuk Minseok Hyeong.

Memang tidak akan ada yang berani menegur Junmyeon Hyeong saat dia marah selain Minseok Hyeong. Kami  semua hanya bisa mematung dan gemetaran karena ketakutan. Junmyeon Hyeong adalah orang yang berbeda saat sedang marah.

“Awalnya memang begitu. Tapi ujung-ujungnya dia akan menyebabkan masalah. Kita semua sudah bekerja mati-matian untuk sampai seperti sekarang. Lalu hanya karena ulahnya kemudian hancur begitu saja. Memangnya dia mau bertanggung  jawab jika karir Kyungsoo hancur? Sikap egoisnya itu… orang macam apa yang mempertaruhkan orang lain demi keuntungannya.”

Ucapan Junmyeon Hyeong membuatku bingung,  terutama karena dia menyebut namaku. Aku menatapnya dan Minhye bergantian. Minhye tertunduk diam. Tangannya tidak bisa diam memainkan tali tas  di bahu kirinya. Pundaknya naik turun, namun tidak ada suara isak tangis.

“Minhye-ya,” Baekhyun Hyeong bersuara. “Jangan bilang kamu yang…?”

Aku memutar badanku dan langsung melangkah perlahan menuju pintu. Tangan kananku meraih gagang pintu,  kemudian menariknya perlahan. Aku mendengar ucapan maaf yang ditujukan padaku tepat sebelum aku menutup kembali pintu dari luar.

-Chapter Eight-

Aku menatap pemuda jangkung di hadapanku ini dengan mata terbuka lebar. Ucapannya tadi tidak main-main. Walaupun dia mengatakannya dengan nada bercanda, tetapi tergambar jelas di matanya bahwa dia serius. Dia tidak  sedang mempermainkanku atau sekedar ingin membuatku kebingungan dan terlihat dungu.  Menurutnya aku  memang perlu tahu hal itu.

“Itulah yang sebenarnya,” tutupnya.

Aku berusaha menghilangkan keterkejutanku. “Aku mengerti, Minho Hyeong.”

“Entah bagaimana reaksinya jika dia tahu aku mengatakan ini, terutama padamu.” Minho Hyeong terkekeh, “Kyungsoo-ya, bagaimana menurutmu?”

Mwo?”

Minho Hyeong mengangguk pelan dengan kedua tangan di dalam saku jaketnya. “Lupakan saja! Aku tak memaksa. Lebih baik jika aku tidak tahu isi kepalamu.”

Nde?”

Rapper SHINee ini mendongakkan kepalanya, dan menghela napas  kasar. “Sebentar lagi musim dingin.”

Aku mengangguk pelan. Aku sangat mengerti dengan pertanyaan yang dia lontarkan tadi. Aku tidak menjawab dan bertingkah polos–pura-pura tidak mengerti–agar dia  tidak bertanya lagi. Selain itu, aku memang tidak tahu jawabannya. Apa  yang terjadi padaku, apa  yang aku rasakan, dan apa  yang harus aku lakukan, aku  tidak tahu.

“Halo… ada apa Jongin-ah?”

Aku kembali terjaga dari lamunan. “Oh angin, dingin…,” gumamku kepada diri sendiri.

“Iya… aku ke sana sekarang.”  Minho Hyeong memasukkan ponselnya ke dalam saku kanan jaket yang dia kenakan. “Aku pergi!”

Ne….” Aku menundukkan kepala sejenak sebagai sopan santun.

“Kamu tidak ingin tahu mengapa Jongin meneleponku?”

Aku menegakkan kepala dan menatap heran. “O’?”

“Lupakan… jangan berlama-lama di sini, kamu bisa sakit!” Dia berlalu pergi

“Emm,” iyaku.

Beribu-ribu pertanyaan muncul di benakku. Aku mungkin memang benar-benar bodoh sehingga tidak dapat menemukan alasan di balik keharusan Minho Hyeong mengatakan semua itu padaku. Aku bahkan masih tak percaya dengan pengakuannya itu.

-Chapter Eight-

“Kyungsoo-ya!?” sambut Jongdae Hyoeng sesaat setelah aku menutup pintu. “Apa kamu baik-baik saja?”

Aku  mencoba tersenyum. “Memangnya terjadi sesuatu yang buruk?”

“Kamu tidak tahu kalau…?”

Ara.” Aku mengibas-kibaskan tanganku di udara dengan enggan. “Mana yang lain?”

“Menemui Seunghwan Hyeong,” jawabnya santai.

Mwo?” nada suaraku meninggi.

Jongdae Hyeong mengelus dada. “Mereka bukan mau memberi tahu Seunghwan Hyeong tentang Minhye. Jadi, kamu tenang saja.”

“Oh!” tanggapku senormal mungkin.

“Kyungsoo-ya, apa kamu marah pada Minhye? Maksudku,  sedikit merasa kecewa?”

Aku hanya diam seribu bahasa. Jongdae Hyeong mengangguk-angguk kecil seolah mengerti arti sikapku. Dia terlihat menahan diri untuk tidak bertanya ini-itu. Aneh rasanya jika orang di sekitarku lebih tahu tentang apa yang ada di dalam pikiranku dibandingkan diriku sendiri.

Kajja, kita susul yang lain.” Jongdae Hyeong menepuk pundakku. “Jangan melamun terus.”

“Siapa yang melamun?” bantahku.

Pemuda line 92-an ini memutar bola matanya. “Baiklah!”

Aku melangkah pelan mengikutinya. Terlalu banyak berpikir  membuat tenagaku hampir terkuras habis. Kaki enggan melangkah, terasa sangat berat. Sadar tak sadar, aku menghela napas beberapa kali sehingga mengundang decakkan Jongdae Hyeong.

“Jongdae-ya, mau ke mana?”

Sapaan seseorang menghentikan langkah Jongdae Hyeong. Aku juga melakukan hal yang sama. Kami berdua memberi salam hampir serempak. Kelakuan kami membuat Sang Penyapaterkekeh nyaring.

Hyeong, aku sepertinya mendengar suara tangis.” Jongdae Hyeong berusaha memanjangkan lehernya agar bisa mengintip dari celah pintu yang terbuka di belakang leader SHINee, Jinki Hyeong.

Jinki Hyeong menyentil dahi Jongdae Hyeong. “Mau apa kamu?”

Jongdae  Hyeong mengelus dahinya. “Tidak ada.”

Jinki Hyeong memekik pelan. Dua orang member SHINee yang lain menabraknya dari belakang. Dia hampir saja tersungkur dan mencium lantai. Pintu yang semula hanya terbuka beberapa milimeter saja, kini terbuka lebar.

“Oh… itu Minhye,” celetuk pelan Jongdae Hyeong.

Kelopak mataku yang awalnya terbuka hanya setengah saja kini terbuka sepenuhnya. Aku menatap pemandangan di depanku hampir tanpa berkedip. Saat itulah, aku dan Minho Hyeong bertemu tatap. Cukup lama kami bertukar tatap seolah dengan saling menatap seperti itu kami bisa membaca pikiran satu sama lain.

Kupikir kami akan terus melakukan hal itu tanpa batas waktu, tetapi ternyata Minho Hyeong mengakhirinya terlebih dahulu. Dia mengalah bukan berarti dia kalah. Dia hanya ingin menegaskan keseriusan percakapan kami di atap tadi. Bukan menghindari tatapanku yang menegaskan keseriusannya, melainkan mempererat pelukan Minhye padanya.

-TBC-

Sorry untuk typo. Aku tidak sempat mengecek ulang karena keterbatasan waktu.. hahah😀 Memang tidak banyak yang menunggu kelanjutan FF amburadul ini, tapi diriku berkewajiban menuntasannya. Ceritanya makin gag jelas? Mian… hahaha😀