Tags


Heart Attack

A Short Scene Story, The Series

HEART ATTACK

Seorang bocah laki-laki dengan sepeda berwarna merah cerahnya melaju dengan kencang ke arahku. Dia sepertinya terlalu bersemangat untuk menyambut pagi pertama tahun ini. Sebenarnya akupun tak jauh beda. Tetapi untuk bersepeda saat udara sedingin ini, tidak dan terima kasih. Aku memiliki cara lain untuk menyambut pagi dingin di awal tahun baru ini.

Duduk di bilik sebuah kedai yang hangat sembari menikmati semangkuk bubur yang masih panas. Itulah cara yang aku pilih. Jendela di sebelah kananku memperlihatkan kemilau beberapa bongkah salju di jalanan yang terterpa sinar matahari. Sudut bibirku terangkat seketika. Aku merasa yakin bahwa tahun ini hidupku akan sangat sempurna karena suatu hal.

Perut terisi penuh, hati pun tak kalah penuh. Kaki ini melangkah pasti  menelusuri  trotoar jalan dengan hati-hati. Hiruk-pikuk orang-orang yang memilih untuk berjalan-jalan pagi ini membuatku merasa semakin senang. Walaupun sesekali muncul rasa iri saat mendengar percakapan beberapa pasang kekasih yang tengah bermanja ria.

Angin yang berhembus cukup kencang berhasil mengalihkan perhatianku dari orang-orang di sekitarku. Aku merapatkan coat coklat tua yang melekat di tubuhku. Kerahnya kunaikkan untuk melindungi tengkuk dan separuh wajahku dengan  harapan siksaan dingin ini tidak terlalu terasa. Setengah berlari menuju rumah adalah proritas utamaku sekarang. Menikmati pagi pertama tahun ini kucukupkan saja.

Bukk!

Seseorang memekik tertahan berbarengan dengan tubrukkan yang diterima tubuh bagian depanku. Detik berikutnya bokongku membentur terotoar. Beban yang cukup berat menahanku untuk dapat berdiri lagi. Kata-kata maaf terucap dengan cepat dan bertubi-tubi dari  orang yang menindihku. Saat dia hendak menyingkir dari atas tubuhku, dia kembali berteriak.

Rupanya beberapa helai rambutnya tersangkut di kancing coat-ku. Aku rasa pasti sangat menyakitkan saat dia tanpa sengaja menariknya. Aku berhasil berdiri dengan bantuannya. Namun tentu saja dengan usaha ekstra karena rambutnya masih tersangkut. Dia yang tidak lebih tinggi dariku sedang sibuk mencoba melepaskan rambutnya yang tersangkut tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Hey kamu… jangan lari!” teriak segerombolan  pemuda  yang berlari ke arah kami.

Gadis yang secara teknis berada di hadapanku ini menoleh ke sumber suara. Tanpa basa-basi dia meraih lenganku dan menarikku untuk berputar arah. Kami berlari ke arah yang berlawanan dengan gerombolan pemuda itu. Pekikan kecil sesekali terlontar darinya saat aku tidak bisa mengimbangi langkah kakinya sehingga rambutnya yang masih tersangkut di kancing coat-ku tertarik.

“Ke sini!” pintanya setengah memaksa.

Kami memasuki sebuah lorong sempit yang gelap. Tubuh kami terpaksa dalam posisi  saling berhadapan dan teramat sangat dekat. Saat aku menundukkan kepala maka wajahku tepat di atas puncak kepalanya. Aroma apel tercium dari rambut hitamnya. Wangi yang lebih manis lagi menyeruak dari tubuhnya.

Sesaat setelah aroma-aroma itu menyentuh sarafku, aku kehilangan napas. Pupil mataku kehilangan fokus. Jantungku berdetak enam kali lebih cepat dari sebelumnya bahkan semakin cepat lagi. Oh Tuhan. Jantungku rasanya akan meledak.

Kenyataan bahwa hampir tidak ada jarak di antara kami membuat gejala-gejala tadi semakin menjadi. Indra pendengaranku sepertinya menangkap suara yang timbul dari detak jantungku. Suara itu bahkan lebih kencang dari suara yang muncul karena napas terengah-engahnya. Apakah mungkin dia mendengar suara detak jantungku yang sangat kencang ini?

“Maaf,” suara lembutnya  sedikit membuatku tersadar. “Rambutku tersangkut,  susah sekali melepaskannya.”

“Oh…,” jawabku singkat.

“Akhirnya!” Dia mendongakkan kepalanya dan menatapku dengan senyum lebar. “Akhirnya lepas juga,” kekehnya.

Rasanya seperti terhipnotis, aku tak bisa bernapas sama sekali. Jantungku terhenti selama lima detik sebelum kembali berdetak dengan teramat sangat kencang. Darahku meletup-letup bak magma gunung berapi di dalam sana. Wajahku rasanya sangat panas. Sepertinya aku akan mati.

Yeou-ya! Apa yang kamu lakukan di situ? Cepatlah!”

Dia mengucapkan terima kasih tanpa dapat aku balas. Aku seperti orang bisu yang tidak bisa mengatakan apapun.  Dia juga sempat tersenyum ke arahku sebelum menaiki sebuah motor besar berwarna hitam, tetapi aku hanya melongo seperti orang bodoh. Sepertinya aku sudah gila.

Entah berapa lama aku berdiri bak patung setelah motor yang membawa gadis itu lenyap di tikungan jalan. Aku gila, aku hampir  mati saat ini. Bukan karena dikejar segerombolan pemuda yang mungkin saja preman. Melainkan hanya  karena seorang gadis.

Gadis itu membuatku tak bisa bernapas. Dia menghentikan detak jangtungku. Dia membuatku  merasa tidak berpijak di bumi. Tidak ada yang tersisa darinya kecuali ingatanku tentangnya yang singkat. Dan sebuah kalung yang tersangkut di kancing coat-ku sebagai bukti bahwa dia nyata.

“The closer you are, the faster my heart beats.I live in the heart attack you gave me.”

-Heart Attack-