Tags

,


Strange Girl

|| Chapter One || Chapter Two || Chapter Three || Chapter Four || Chapter Five || Chapter Six ||

JOAH –Stranger Girl “Chapter Seven”

INTRO(AUTHOR POV)Senyum itu terukir kembali di bibirnya. Tidak untuk waktu yang lama, hanya beberapa detik saja namun terus berulang. Sebuah benda sejenis kertas tebal berukuran tidak lebih besar dari telapak tangannyalah penyebab senyumnya itu. Sesuatu yang tercetak di permukaan kertas itu selalu mampu menggali ingatan masa lalunya.

“Teruslah tersenyum seperti itu. Aku tinggal menelepon rumah sakit jiwa jika keadaan semakin tak  terkendali,” ejek seorang pemuda dengan  kepala yang bisa dikatakan cukup besar. Efek dari rahangnya yang memang besar.

“Oh… Hyeong, ada apa?”

Pemuda yang lebih tua darinya tidak lebih dari satu tahun itu mendesis. “Choi Minho, aku tidak mengerti isi kepalamu.”

Wae?”

“Kamu bertanya mengapa?” Kim Jonghyun, begitulah nama pemuda yang suka sekali menggoda Minho. “Tidak perlu disembunyikan,” Jonghyun merebut kertas yang akan Minho masukkan ke dalam buku agendanya.

Hyeong, kembalikan,” pinta Minho dengan  nada malas.

Jonghyun memperhatikan kertas itu dengan seksama. “Foto ini diambil empat atau lima tahun yang lalu bukan?Lama juga…,”nilainya

“Emm,” jawab Minho singkat.

“Kamu aneh, menyimpan foto ini hingga lusuh dan sesekali menatapnya sembari tersenyum. Kamu mencintainya, bukan?” Jonghyun menyerahkan foto tua itu pada Minho. “Maksudku, tidak seperti yang kamu akui padanya. Lebih dari itu. Itulah sisi aneh darimu.”

Minho menyelipkan foto itu kembali ke tempatnya. “Ani, apa yang aku akui adalah yang sebenarnya.”

“Tidakkah terasa sesak di sana?” Jonghyun menekan-nekan  dada Minho. “Di sini, sampai kapan akan terkurung?”

Minho menepis pelan tangan Jonghyun dan tersenyum kecil. Dia beranjak dari tempat duduknya dan melangkah perlahan untuk meninggalkan Jonghyun.

“Choi Minho… bukan begini caranya.”

Minho memutar badannya dan lagi-lagi tersenyum tipis. “Beginilah caraku, Hyeong.”

-Chapter Seven-

KYUNGSOO –Youngjun Hyeong marah besar. Dia tidak banyak bicara seperti Seunghwan Hyeong tetapi ekspresi wajahnya jelas sekali menunjukkan bahwa dia berusaha untuk menahan diri –menahan emosinya. Minhye yang duduk di sebalahku diam membisu. Dia tidak menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Tatapannya lurus ke depan namun tak ada jiwa di sana.

Aku sesekali melirik layar laptop yang jelas-jelas terarah pada kami berdua. Komentar-komentar pedas terus bertambah jumlahnya, mungkin mencapai ribuan. Komentar yang mendukung pun ada, namun tak sebanyak yang mencela. Sampai saat ini belum ada yang tahu identitas Minhye. Semoga mereka tidak akan pernah menemukannya.

“Jadi, bagaimana ini sekarang?” Seunghwan Hyeong yang baru saja diam selama lima menit kembali bersuara. “Apa yang akan kalian berdua lakukan?”

“Aku tidak tahu,” jawabku setengah berbisik.

Seunghwan Hyeong melipat tangan di depan dada. “Kalian berdua tidak berbohong? Kalian benar-benar tidak berpacaran? Akan lebih mudah bagi kami jika kalian mengatakan yang sejujurnya.”

Aku menggeleng ragu-ragu. Aku tidak mengerti mengapa aku harus ragu.

“Agensi sedang mengurus ini semua untuk menemukan pelakunya dan bagaimana foto ini bisa tersebar. Kemungkinan hacker menyusup di sistem ponsel  atau laptopmu. Kami akan memikirkan cara untuk menutup rumor ini. Kami akan mencari alasan.”

Setelah menerima telepon, Youngjun Hyeong kembali bergabung dalam rapat kecil ini. “Kalian bisa keluar. Jangan lakukan apapun atau katakan apapun sebelum agensi menemukan jalan keluarnya.”

Ne, Hyeong.” Aku melirik Minhye dan dia tetap seperti sebelumnya.

“Minhye-ya,” panggil Seunghwan Hyeong lembut.

Minhye sedikit tersentak. “Nde, Oppa?”

“Untuk sementara ini jangan ke perusahaan. Fans di luar sana mungkin akan mengenalimu saat keluar-masuk perusahaan. Saat semuanya kembali normal, kamu boleh melakukan apapun seperti biasa. Kamu mengerti?”

Ne… aku mengerti,” suara Minhye seperti akan menangis.

“Tidak akan terjadi apa-apa. Tenang saja, semua akan baik-baik saja,” tambah Youngjun Hyeong.

Minhye mengangguk ringan. Sejak dia melihat foto itu tersebar di internet dan mendapat respon negatif, Minhye berubah pendiam. Wajahnya menunjukkan rasa bersalah yang sangat besar. Tiap dia bersuara, ada sedikit getar di sana. Tatapan sendunya juga terlihat kosong. Entah apa yang dia pikirkan.

Seunghwan Hyeong memperbolehkan kami untuk keluar ruangan sebagai pertanda rapat dadakan ini ditutup. Minhye membungkuk sejenak dan mengucapkan maaf saat beranjak dari kursi. Kami berjalan beriringan menuju pintu. Minhye terlihat tak bertenaga saat membuka pintu sehingga aku harus membantunya.

Dia sepertinya sangat terpukul. Mungkin komentar-komentar itu begitu menyesakkannya. Walaupun tidak secara langsung menyebut dirinya. Tetapi tetap saja komentar itu ditujukan untuk gadis dalam foto, dan gadis itu Minhye.

Tiga anggota tertua EXO –Kris Hyeong tidak masuk hitungan –dan Jongdae Hyeong menanti kami tidak jauh dari ruangan  tempat aku dan Minhye diinterogasi. Junmyeon Hyeong menatap cemas, lebih kepada Minhye. Sebelum kami sampai di tempat mereka, seorang pemuda tinggi berjalan tergesa-gesa ke arah kami. Di belakangnya Jinki Hyeong dan Jonghyun Hyeong mengikuti.

“Choi Minhye,” panggil pemuda tinggi bermarga Choi itu.

Minhye menegakkan kepalanya. “Emm,” jawabnya acuh tak acuh.

“Apa yang kamu lakukan, ha’?” Minho Hyeong membentak.

Minhye melotot tak percaya. Mungkin Minho Hyeong tidak pernah membentak seperti ini sebelumnya.

“Kamu… sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini? Semua tindakan yang akan kamu ambil harus dipertanggungjawabkan. Biasakah berpikir dahulu sebelum bertindak? Sifat kekanak-kanakan, manja dan cerobohmu itu tidak hanya merugikanmu tetapi juga orang lain. Kamu harus tahu itu.”

Jinki Hyeong mencengkram lengan Minho Hyeong. “Hentikan Minho-ya.”

“Kapan kamu akan berpikir dewasa, eoh? Kamu bukan anak kecil lagi,” suara Minho Hyeong meninggi.

Bibir Minhye bergetar,“Sudah selesai.” Benda sebening kristal mengalir di pipi Minhye. “Jika sudah… permisi, aku mau pulang.”

“Minhye-ya,” panggil Jinki Hyeong. Dia terlihat sangat khawatir.

Minhye tak indahkan penggilan dari Jonghyun Hyong dan Jinki Hyeong. Dia terus berjalan menjauh tanpa menoleh sekali pun.  Atas pemintaan sang leader, Jonghyun Hyeong segera menyusul Minhye. Junmyeon Hyeong juga melakukan hal yang sama. Sedangkan Minho Hyeong, dia hanya berdiri terpaku. Dia bahkan tidak merubah posisinya sejak Minhye memilih untuk pergi dari hadapannya. Dia juga tidak berusaha memanggil Minhye untuk kembali.

“Minho-ya, kamu keterlaluan,” Jinki Hyeong frustasi. “Aku akan menanyakan hal yang sama padamu. Apa yang baru saja kamu lakukan?”

Minho  Hyeong tidak menjawab.  Kepalanya yang sempat tertunduk kembali tegap dan menatapku. Tatapannya begitu tajam. Dia seperti menyalahkanku. Menyalahkanku atas sesuatu yang tidak aku ketahui. Dia marah padaku. Dan aku tidak tahu mengapa. Tatapannya yang tidak lebih dari dua puluh detik itu membuatku merasa aneh. Ada aura membenciku menyeruak dari tubuhnya. Alasan dia membenciku bukanlah sesuatu yang dapat aku ketahui. Aku sama sekali tidak mengerti.

-Chapter Seven-

Untuk sekelompok bintang baru yang mencapai popularitas terlalu tinggi, sebuah rumor kecil bisa menjadi sangat besar. Apalagi jika berkaitan dengan pasangan –asmara. Tidak ada yang akan merelakanmu dimiliki oleh satu orang saja. Jiwa dan ragamu adalah milik umum. Begitulah dunia ini, duniaku.  Membawakan bergalon-galon madu dan setetes racun. Hanya setetes racun, namun mematikan.

Tidak menunggu lama. Sehari setelah fotoku dan Minhye beredar, SMEnt langsung mengambil tindakan. Foto itu telah dihapus dari dunia maya. Dua hari kemudian, melalui situs resmi SMEnt mengklarifikasi rumor tersebut. Mereka mengatakan bahwa Minhye adalah coordi  EXO. Untuk meyakinkan, mereka juga memberikan  bukti beberapa foto Minhye, aku, Minseok Hyeong dan Luhan Hyeong.

Sayangnya tidak semua orang percaya. Mereka bertanya mengapa wajah Sang Coordi harus di samarkan. Mereka terus mendesak agar SMEnt mengatakan yang sesungguhnya. Mereka bisa mencium adanya kebohongan. Mereka hanya mau tahu rupa wajah gadis yang diakui SMEnt sebagai coordi. Selanjutnya, mereka akan menentukan sendiri.

Hampir dua minggu sejak SMEnt memberikan klarifikasi, rumor-rumor yang telah berkembang mulai meredup. Mungkin mereka tidak menemukan titik temu sehingga memilih untuk menyerah. Teriakan-teriakan fans yang membela privasi Sang Artis rupanya mendapat perhatian. Mereka sangat membantu. Haruskah aku katakan bahwa merekalah fans sejati?

Musibah lenyap, begitu juga Minhye. Tidak ada kabar darinya sama sekali.Kesibukan EXO mungkin membuat Jongin dan Junmyoen Hyeong serta yang lain tidak merasakannya. Tetapi bagiku, dia benar-benar lenyap. Tidak ada lagi pesan-pesan darinya. Tidak ada lagi keributan-keributan yang dia buat. Rasanya ada yang hilang.

Klek! Pintu terbuka perlahan. Aku menanti dengan penuh harap pada seseorang yang akan muncul.

“Jieun-ah!” pekik Naejoo Noona. “Cepatlah… aku akan menghukummu setelah ini.”

Aku menghela napas sembari menghempaskan  punggungku di sandaran kursi. Tanpa menunggu perintah lagi, Jieun langsung mengurus rambutku. Menyisirnya guna merapikan. Tangannya cekatan menata rambutku, memindahkan helai-helai rambutku ke sana ke mari. Dia akan berjengit jika bayanganku di cermin tidak sesuai keinginannya.

“Ada apa denganmu?” tanyanya. “Ada masalah?”

Ani, tidak ada.”

Jieun tersenyum kecil. “O.K… finish.”

“Jieun-ah…  rambutku!” Kris Hyeong melambaikan tangannya.

Jieun segera berlari menuju pelanggan selanjutnya. Aku memandangi diriku di cermin. Lama terdiam sembari menatap mataku sendiri. Perlahan aku menarik sudut bibirku. Terlukislah senyum pada bayanganku di cermin.

-Chapter Seven-

Kayuhan kakiku semakin cepat. Seolah pembalap sepeda profesional, aku berhasil mendahului mereka semua. Sehun berteriak tidak terima. Dia tidak mau kalah. Kaki panjangnya berusaha mengimbangi kakiku yang lincah. Aku mencondongkan tubuhku ke depan dengan harapan bisa berguna untuk menambah kecepatan. Lagi-lagi Sehun mengikuti caraku.

Hyeong, aku yang akan menang.”

“Tentu saja tidak,” timbalku setengah berteriak.

Kemenanganku tidak berlangsung lama. Mereka yang tertinggal di belakangku segera menyusul. Kini akulah yang menjadi urutan terakhir, kehabisan tenaga. Aku jauh tertinggal dan sendiri. Merasa tak ada gunanya untuk berusaha menyusul mereka, kayuhanku melamban.

Di kejauhan terlihat deretan sepeda terparkir dan kerumunan pemuda-pemuda jangkung tidak jauh dari mini market 24 jam. Aku mempercepat kayuhanku, tidak ingin tertinggal sesuatu. Decit rem sepeda menimbulkan protes dari mereka saat aku sampai.

“Oh… Kyungsoo ikut rupanya?” sindir Baekhyun. “Kamu ketiduran di mana, eoh?”

Aku hanya tersenyum, tak berniat menjawab. Sepuluh pemuda itu sudah siap dengan makanan masing-masing. Aku berkata sepuluh bukan karena aku tidak bisa berhitung. Park Chanyeol sedang berada di hutan belantara sekarang.  Itulah yang menyebabkan kita tidak lagi selusin.

“Siapa yang belum dapat?” tanya suara feminim di belakangku.

“Minhye?”

Minhye nyengir  kuda. “Annyeong, Kyungsoo-ku.”

Annyeong haseyo,” sapa suara yang lain, Jieun.

Tanpa terlebih dahulu membalas salam mereka, aku segera melirik jam di ponselku. Jam satu pagi. Sebeles pemuda berkeliaran jam satu pagi adalah hal yang tidak perlu di khawatirkan. Lalu, jika dua orang gadis berkeliaran jam satu pagi. Masalah besar.

Annyeong haseyo, Kyungsoo,” dengan ‘o’ yang panjang.

Taemin nyengir kuda. Aku langsung dapat menebak. Dialah sang penculiknya.  Kalau ada dia, pasti ada…

Tepukan kencang di pundakku membuatku meringis kesakitan. “Mari makan.” Kim Jonghyun lead vocal SHINee.

Terlihat seperti acara makan malam yang terlambat atau  sarapan yang terlalu cepat. Sebelas pemuda dari planet tak berwujud, dua orang penculik yang digilai gadis-gadis, dan dua orang gadis yang beberapa waktu belakangan ini membuat hidupku sedikit lebih menyenangkan. Kami semua mengelilingi tiga meja persegi yang telah digabungkan. Cupcup besar dan kecil memenuhi meja. Cola, air putih, dan beberapa minuman tak teridentifikasi melengkapi. Beginilah kami berpesta.

Setelah duduk, tidak harus menunggu lama untuk memulai menyantap hidangan sederhana yang tersedia. Jonghyun Hyeong duduk di sebelah kananku. Jauh di depan sana, Taemin diapit Minhye dan Jieun. Di sebelah Jieun, Jongin tertawa terbahak sehingga menyebabkan Junmyeon Hyeong yang berada di sisi kirinya tersedak karena terkejut. Bukannya menolong, kami semua menertawakannya.

“Minhye-ya, kamu ke mana saja?” tanya Baekhyun Hyeong.

“Dia bertapa,” ejek Taemin.

Minhye mendesis kesal. “Diam.”

Jieun terlihat melirik kanan-kiri. “Sepertinya ada yang menghilang. Nugu?”

Na?” Kris Hyeong mengajukan diri. “Mencariku?”

Jieun menggeleng pelan sambil tertunduk, menatap cup makanannya.

“Siapa yang kamu cari, eoh? Bukankah dia sudah duduk manis di sampingmu?”

Jieun menatap orang di sebelahnya bergantian. “Bocah ini?” tunjuknya pada Jongin. “Tentu saja tidak. Aa…,” pekiknya dengan telunjuk mengetuk-ngetuk pelipisnya. “Chanyeol… aku tidak melihatnya.”

“Untuk apa melihat orang yang tidak ada. Lebih baik melihatku saja,” goda Kris Hyeong lagi.

“Ish…,” protes Minhye. “Hentikan! Bulu kudukku berdiri semua.”

Tawa pun kembali pecah. Sejak tadi ada hal yang ingin aku tanyakan, namun selalu terhalang. Bisa dikatakan aku menggunakan hal itu menjadi alasan. Alasan yang sebenarnya adalah tidak ada keberanian. Keberanianku belum cukup untuk memuaskan rasa penasaranku.

“Kenapa kalian berdua di sini?” akhirnya aku bertanya juga.

“Jongin mengajak untuk bersepeda bersama. Jadi kami kemari,” jelas Jonghyun Hyeong. “Tapi, tiba-tiba aku diperintah seseorang untuk menjemput Minhye di bandara. Karena kediaman Minhye Agasshi melewati tempat ini kami memilih untuk mampir dulu.”

“Lalu,” tambah Taemin. “Jongin ingin dibawakan sesuatu yang membuatnya senang. Kebetulan gadis ini…” Dia menunjuk Jieun. “… uring-uringan di perusahaan karena buku-buku tebalnya. Sekalian saja aku membawanya, untuk kesenangan Tuan Kai.”

“Aku ada simulasi ujian masuk universitas besok. Aku sedang belajar. Bukan uring-uringan,” bela Jieun.

“Bukankah cuma simulasi. Untuk apa serius?” celetuk Minhye dengan fokus pada makanannya.

Taemin menyentil dahi Minhye. “Jangan samakan denganmu.”

“Apa yang Minhye lakukan di bandara?” tanyaku lagi.

“Dia pulang dan kembali lagi,” jawab singkat Jonghyun Hyeong.

“Untuk apa dia pulang?”

Jonghyun  Hyeong menatapku selidik. “Banyak tanya juga, eoh?”

“Itu berarti Kyungsoo sedang tertarik atau terlalu antusias.” Baekhyun Hyeong tersenyum penuh arti padaku.

Ucapan Baekhyun Hyeong menyebabkan mereka berbisik satu  sama lain dan menatapku serta Minhye bergantian. Sedangkan Minhye, dia tidak sadar dengan apa yang terjadi di sekelilinya. Entah kelaparan atau apa, sup di dalam cup kecil miliknya adalah hal terpenting saat ini. Dia meniupnya perlahan agar cepat dingin.

“Apakah kuliahnya sedang libur?” suaraku kini mengecil agar hanya Jonghyun Hyeong yang mendengar.

Ani…,” Jonghyun Hyeong mulai jengah.

“Berarti dia bolos?”

Jonghyun Hyeong memelototiku. “Ani… Mengapa terus bertanya padaku? Tanya pada orangnya langsung.”

Aku memperkecil jarak dengan Jonghyun Hyeong. “Apakah karena insiden itu makanya Minhye pulang?”

Jonghyun Hyeong tidak menjawab. Dia hanya diam seribu bahasa. Mungkin itu artinya aku harus menyerah. Aku hanya ingin tahu dengan apa yang terjadi padanya. Alasan dia pulang dan harus menghilang sementara seolah memutus kontak dengan orang di sekitarnya. Namun, tidak untuk beberapa orang. Sayangnya pengecualian itu tidak termasuk Do Kyungsoo.

“Minhye-ya, mengapa kamu pulang? Seoul mulai membosankan?”

Aku menegakkan kepalaku dan mendapati Minseok Hyeong yang bertanya. Minhye menatap Minseok Hyeong sejenak dan menggeleng kencang sembari tersenyum.

Eomma merindukanku.”

“Tentu saja,” sambar Taemin. “Ajummonim takut kalau dia akan depresi karena rummm…”

Mulut Taemin tersumpal oleh potongan besar usus sapi rebus. Minhye-lah yang melakukannya. Dia mendorong-dorong makanan itu agar masuk sepenuhnya ke mulut Taemin yang tidak seberapa besar. Jongin tertawa kencang melihat saudara kembarnya–tidak sesungguhnya–diperlakukan secara tidak manusiawi. Jieun berusaha melerai Minhye dan Taemin yang sepertinya akan memulai adu mulut. Namun mau bagaimana lagi? Sudah terjadi.

-Chapter Seven-

Haccih…!

Hyeong,  flu?” Jongin menepuk pundakku dengan tangannya yang bebas.

Aku menggeleng pelan. “Mungkin  tidak.”

“Sampai jumpa!” pekik Taemin dengan tangan terlambai  kencang.

Minhye menatapku dengan  tatapan selidik. Terlihat dia sedang memperhatikan diriku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Jika bukan karena tangannya memegang lengan Jieun, dia tidak akan beranjak dari tempatnya. Dia pasti akan diteriaki Taemin karena tidak kunjung masuk ke dalam mobil. Aku mulai merasa risih karena tatapannya itu. Serasa ada yang aneh dengan diriku.

Kajja Hyeong…,” Jongin bersiap mengayuh sepedanya.

Aku mengangguk ringan. Posisiku sudah siap untuk mengayuh sepeda, sama seperti Jongin. Belum sempat sampai pada kayuhan kelima,  terdengar seperti ada yang memanggilku. Kucoba tak indahkannya, karena ada sedikit   rasa  was-was bahwa yang  memanggilku bukanlah sosok yang berwujud. Maksudku, hanya imajinasi saja. Tetapi, Jongin  juga berhenti dan menoleh.

“Kyungsoo-ya!” suara itu mulai mendekat. “Yak… tunggu!” teriaknya kesal.

Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti, sejajar dengan Jongin. Sedangkan yang lain, telah berada jauh di depan sana. Lekat di ingatanku rambutnya tidak sepanjang itu saat aku pertama kali bertemu dengannya. Kini, rambutnya yang semakin panjang tergerai  dan tertiup angin saat dia berlari kecil ke arahku. Tiba-tiba kilatan memoriku tentang dirinya terputar. Bukannya kenangan indah dan berkesan, hanya aneh. Choi Minhye, kesan yang dia timbulkan selalu saja aneh di mataku.

“Ini…,” napasnya tak teratur. “Sesampai di dorm nanti… sebelum tidur, minum kapsul ini dan tempelkan ini…” tunjuknya pada benda serupa plester luka berukuran besar. “… di dahimu untuk mencegah demam. Lalu saat bangun pagi setelah sarapan minum kapsul itu lagi dan jangan lupa berkumur dengan obat kumur  hijau ini. Jika hidungmu terasa gatal atau mampet, hirup tabung ini. Ingat, jangan minum air dingin. Banyak-banyak minum air  hangat.”

Tiada yang bisa mengintrupsinya. Dia terus berbicara tanpa henti tentang tumpukan obat-obatan yang tiba-tiba berada di genggamanku. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Takjub padanya, karena dia mirip sekali dengan  Junmyoeng Hyeong.

“Minhye-ya… Junmyeon Hyeong juga punya obat-obat ini. Kami cukup meminta padanya. Tidak usah repot.” Jongin hendak mengembalikan obat-obat yang ada di tanganku kepada pemiliknya.

Andwae… kualitasnya berbeda. Eomma selalu memilih obat-obat manjur.”

Jongin mengangguk enggan. “Baiklah… lalu untukku mana? Mengapa cuma Kyungsoo Hyeong yang dikasih? Aku juga akan terkena flu.”

“Ini khusus untuk Kyungsoo.” Minhye melipat kedua tangannya di depan dada. “Kalau kamu, minta pada Junmyeon Oppa.” Kemudian dia memutar badan dengan angkuh.

“Minhye-ya… cepatlah!” panggil Taemin.

Annyeong… jangan lupa diminum yah?!” perintahnya halus tanpa berbalik.

Aku mengangguk mengiyakan. Sebenarnya percuma, dia tak akan melihatnya.

-Chapter Seven-

Mau tak mau, aku harus menjadi pusat perhatian di sore yang melelahkan ini. Semua mata yang ada di ruang  latihan ini tertuju padaku dan Minhye. Aku tak ingin tahu apa isi otak mereka. Sepertinya bukanlah hal yang bagus untuk di dengar. Mungkin aku melebih-lebihkan.

“Ini… tiup dulu, masih panas.”

Aku menerima cup plastik berukuran sedang yang di sodorkan Minhye padaku. Kami tidak sedang berpiknik di dalam ruang latihan atau memainkan sebuah permainan anak-anak. Kalau tidak salah permainan itu dinamakan ‘main rumah-rumahan’.  Permainan peran yang bertemakan kehidupan berumah tangga. Bukan. Aku dan Minhye tidak bermain permainan itu. Kami tidak sedang bermain.

“Kenapa, masih sangat panas? Mau aku tiupkan?” Minhye hendak merebut cup yang diberikan padaku, tetapi aku menolak dengan halus.

Junmyeon Hyeong geleng-geleng kepala. “Kalian berdua,”decaknya.

“Menikah… menikah… menikah.” Sehun menyuarakannya berulang kali.

Wae? Mengapa kalian mengerubuti kami seperti semut? Ada yang aneh?” tanya Minhye polos.

“Ada,”  jawab Jongin singkat.

Minhye memperhatikan isi termos berukuran sedang yang dia bawa. “Kalian mau juga? Aku rasa Kyungsoo tidak mungkin menghabiskan semuanya. Akan aku ambilkan cup lagi. Tunggu!”

Sebelum berlari keluar, Minhye menutup rapat termos yang  dia bawa. Dia juga mengingatkan Jongin dan Junmyeon Hyeong agar tak menyentuh termos itu atau membiarkan siapapun melakukan hal yang sama. Setelah dia benar-benar menghilang di  balik pintu. Diriku yang lemah ini mendapat serbuan.

Hingga sup dalam cup yang aku pegang dingin total, Minhye tak kunjung kembali. Tao, Sehun dan yang lain sudah memulai pemanasan. Aku  memutuskan untuk menyusulnya. Ada kemungkinan dia butuh bantuan –kedengarannya tidak mungkin.

Di sepanjang lorong dan beberapa tempat yang menurut perkiraanku akan bisa menemukan dirinya berujung nihil. Tidak mungkin dia harus pergi sangat jauh hanya untuk menemukan cup kosong. Kalau pun dia keluar perusahaan, dia tidak akan meninggalkan  tasnya di ruang latihan.

“Amber-ah!”

Amber menoleh dalam sekali panggil. “Ada apa?”

“Lihat Minhye? Sepupu Kyuhyun Hyeong. Kau tahu?”

“Minhye?” Amber  terkekeh, “Tentu saja aku tahu. Kalau tidak salah dia bersama Minho Oppa tadi.”

“Di mana mereka?” tanyaku santai.

Amber menggerakkan bahunya pertanda tidak tahu. “Mungkin atap?”

“Oh… gomawo.”

Anggukan Amber membuatku merasa lega. Dia tidak  terlalu peduli dengan alasanku bertanya ini-itu. Memang sebenarnya tidak ada alasan. Atau, aku tidak tahu alasannya. Aku hanya harus segera menemukan Minhye. Mendengarnya bersama Minho Hyeong membuatku mendapatkan firasat buruk. Minho Hyeong mungkin saja memarahinya seperti waktu itu. Intinya, dia akan membuatnya menangis.

Bukan lift yang aku pilih, anggapanku sambilan pemanasan maka aku menggunakan tangga untuk menuju atap. Tidak memerlukan waktu yang lama, tanganku sudah ada di gagang pintu. Perlahan aku mendorong pintu itu. Dari celah pintu aku dapat melihat dua sosok manusia. Salah satunya lebih tinggi daripada yang lain. Minhye dan Minho Hyeong tengah mengobrol.

Langkah kakiku terhenti. Niatku yang semula ingin menampakkan diri dan memanggil Minhye kukubur dalam-dalam. Perlahan aku menyeret kakiku mundur. Menutup pintu dengan hati-hati. Beruntung tak menimbulkan suara. Kalimat ‘Kyungsoo sadarlah’ bergejolak di otakku.

-Chapter Seven-

“Kyungsoo-ya… apa yang kamu lakukan? Konsentrasi!”

Teguran Youngjun Hyeong membuat semua mata tertuju padaku. Aku mengangguk pelan, setengah hati mengiyakannya. Usahaku untuk berkonsentrasi tak kunjung  berhasil sejak  beberapa jam yang lalu. Oleh sebab itu, aku putuskan untuk menyerah. Aku tidak bisa mengenyahkan pikiran-pikiran itu. Maka, biarkanlah mereka berkeliaran sesuka mereka.

Sesi foto untuk sebuah brand pakaian berakhir sedikit kurang memuaskan. Beberapa kali aku menghancurkan foto-foto  yang telah diambil karena ekspresi wajahku  yang  menurut mereka tidak sesuai. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain meminta maaf. Bukannya aku tidak berusaha yang terbaik. Akupun tak tahu apa yang terjadi  denganku.

Hyeong… apa kamu sakit?” Jongin menatapku iba.

Junmyeon Hyeong tidak berpikiran yang sama dengan Jongin. “Apa terjadi sesuatu yang buruk sehingga mengganggu pikiranmu?”

Gelengan kepalaku dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan mereka berdua. Tanpa memberi kesempatan mereka untuk bertanya lagi, aku segera masuk ke dalam kamar. Merebahkan diri di kasur dan menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Sepatu yang aku kenakan belum sempat terlepas, apalagi untuk mengganti baju. Rambut  dan wajahku saja belum bersih dari riasan sisa pemotretan tadi. Aku lelah dan ingin segera tidur.

Keinginanku untuk tidur harus tertunda. Ponselku tak kunjung berhenti berdering. Aku terbangun dari persiapan tidurku dan meraih ponsel yang aku letakkan di dalam tas yang aku bawa. Aku memang tidak berniat untuk menjawab telepon itu,  hanya akan menggantinya ke mode getar. Tetapi, lagi-lagi harus aku urungkan.

Kyungsoo-ya, kamu di dorm? Cepat ke taman, ada hal yang ingin aku ceritakan.” Minhye terdengar sangat gembira.

-Chapter Seven-

Minhye tersenyum tanpa henti. Lima belas menit berlalu hanya untuk menyaksikan tawa-tawa kecilnya. Dia memintaku untuk diam dan tidak bertanya. Dia butuh waktu untuk mengekspresikan  kebahagiannya yang tak terkira itu. Sayangnya, aku tidak bisa merasakan bahagia itu. Aku merasakan sebaliknya.

“Kyungsoo-ya,” panggilnya penuh semangat.

“Emm,” jawabku singkat. Lebih  terdengar seperti geraman harimau.

Minhye menoleh padaku dan kembali tertawa kecil. “Aku sangat senang.”

Tanpa dia katakan pun, aku tahu dia merasa sangat senang. Dia bahkan hampir gila karena tak bisa membendung rasa itu. Orang yang tidak mengenalnya kemungkinan akan menyangka dia benar-benar gila.

“Kamu tahu kenapa?”

Aku menggeleng pelan. Gelengan kepalaku membuat dia merasa puas.

“Kamu tahu hal apa yang paling aku idam-idamkan?”

“Buku karangan pengarang favoritmu telah terbit dan kamu berhasil mendapatkannya,” tebakku asal. “Atau…”

“Atau apa?”

Aku kembali menggeleng untuk kesekian kalinya. Alasan lain yang kuketahui rasanya tidak ingin aku ungkapkan. Aku takut  kalau alasan itu yang dia pilih. Ketakutan tak berdasar itu muncul lagi.

“Kamu benar-benar tidak tahu?” dia memaksa.

“Tidak. Sama sekali tidak.”

Minhye terkekeh mengejek. “Cih… curhatanku selama ini hanya kamu anggap angin lalu. Dasar laki-laki, tidak sensitif sama sekali.”

Aku tak menjawab, cukup diam. Minhye menatapku menunggu respon, tetapi aku diam. Dia tidak mempedulikan sikapku. Kedua tangannya bertumpu di kedua sisi tubuhnya. Tubuhnya  sedikit condong ke belakang dan kepalanya mendongak menatap langit.

“Kyungsoo-ya….” Dia masih menatap langit  tanpa bintang itu. “Kebohongan itu lama-kelamaan pasti akan terendus. Tanpa disadari, orang yang berbohong itu akan mengakui kebohongannya.”

“Maksudmu?”

Minhye tersenyum sumringah. “Aku tahu dari dulu, dulu sekali. Minho Oppa juga memiliki perasaan yang sama denganku. Dia tidak mau mengakuinya, tetapi aku tahu. Aku sangat mengenalnya. Bagaimana menurutmu, Kyungsoo-ya? Apa aku benar?”

“Aku tidak tahu. Kamu menyukainya? Maksudku, masih menyukainya?”

Minhye tidak menyadari penekananku pada kata ‘masih’. “Tentu… aku menyukainya dari dulu sampai sekarang. Jangan kamu pikir hanya sebatas menyukainya, aku mencintainya. Kamu tahu, cinta seperti dalam drama. Sehidup semati.”

“Walaupun dia sering membuatmu menangis?”

“Aha…,” Minhye mengangguk antusias. “Aku sudah memaafkannya. Aku tidak pernah memendam terlalu lama setiap omelannya itu. Inilah cinta Kyungsoo-ya.”

Tatapanku dan Minhye bertemu. “Cin-ta?” tanyaku terbata.

“Iyap… walaupun dia jahat, baik, aneh, abnormal, kamu akan tetap mencintainya. Cinta tidak butuh logika. Kamu mungkin tidak menyadari bahwa sikapmu sendiri berubah saat berhadapan dengan cinta. Cinta juga tak kenal menyerah. Separah apapun halangan di depan mata, bukanlah apa-apa.”

“Jadi, kamu tak akan menyerah?”

Minhye tertawa renyah. “Kyungsoo-ku… Minho Oppa sudah mengakuinya. Dia memang belum memintaku untuk menjadi pacarnya. Tetapi kami mulai berkencan dan….”

Selanjutnya aku tak mendengar apapun. Suara Minhye hanya terdengar seperti gema yang terus mengecil  dan mulai lenyap. Sekitarku berubah buram dan bergerak dengan lamban. Sebaliknya, tubuhku seperti bergerak begitu cepat. Jantung memompa kencang. Paru-paruku memaksa menghirup udara lebih cepat  lagi. Memori otakku memutar kejadian demi kejadian bak film yang dipercepat. Saat itulah sebuah rasa tercipta, menyesakkan seperti mencekikku.

-Chapter Seven-

Aku tak tahu harus menyampaikan unek-unekku kepada siapa. Keinginan untuk menutup diri membuatku tidak ingin berbagi dan memilih memendamnya sendiri. Tetapi di satu sisi  aku butuh suatu penjelasan. Aku butuh penjelasan tentang apa yang aku rasakan. Terdengar tidak lazim meminta pendapat dari luar atas apa yang kita alami sendiri. Aku hanya bimbang dan butuh bantuan.

Jika perkiraanku benar, maka aku butuh alasan yang jelas atas tebakkanku itu. Memang, seharusnya alasan itu muncul dari diriku sendiri. Lagi-lagi aku harus berkata bahwa aku tak dapat menemukan alasan itu, apalagi membuatnya sendiri. Tidak puas  dengan hasil observasi sendiri lebih tepatnya.

“Kyungsoo-ya?”

Mwo?” jawabku ketus.

Lengan putih dan cukup kekar melingkar di pundakku. “Lagi datang bulan? Galak sekali.”

Ani… Hyeong,” nada suaraku merendah.

“Ceritakan padaku! Apa kamu ada masalah?”

Aku menggeleng pelan. “Tidak ada. Aku baik-baik saja.”

“Ayolah…,” member tertua EXO ini mulai merengek untuk memaksaku buka mulut. “Kamu sama sekali tidak  terlihat baik-baik saja. Terlalu pendiam, selalu murung, memilih untuk  sendiri, dan terkadang suka marah-marah tak jelas. Kyungsoo yang aku kenal tidak begitu.”

“Maaf.”

Minseok Hyeong mulai gemas. “Aku mohon ceritalah! Aku mungkin bisa membantumu. Hyeong-mu ini khawatir padamu. Anak-anak juga khawatir padamu. Jangan sampai Manajer Hyeongdeul menyadari perubahan sikapmu. Katakan padamu… emm,”  bujuknya.

Aku menghela napas kasar. “Aku juga tidak tahu, Hyeong.”

“Apa karena Minhye?”

Mwo?!”

Minseok Hyeong tersenyum. “Sudah kuduga. Kamu menyukainya, eoh?”

Aku menggeleng kencang. “Ani!”

“Tidak apa-apa, jangan tegang begitu.”

“Mengapa aku bisa menyukainya? Aku tidak menyukainya.”

Minseok Hyeong tertawa sembari melepas rangkulannya. “Memangnya harus ada alasan untuk menyukai seseorang? Kalau kamu memang tidak menyukainya, mengapa uring-uringan  seperti ini? Aku dengar dari Jongin, Minhye dan Minho berkencan bukan? Maksudku berpacaran.”

“Emm,” aku mengiyakan tak bersemangat.

“Tuh ‘kan!” Minseok Hyeong memukul pundakku dengan kencang. “Kamu menyukai Minhye, Do Kyungsoo-ssi.”

-Chapter Seven-

MINHYE –Aku mengkhawatirkan kesehatan Kyungsoo. Belakangan ini cuaca memang sedang tidak bagus. Orang-orang mudah terkena flu, begitu  juga Kyungsoo. Kesibukannya sebagai penyanyi terkenal yang tengah naik daun membuat daya tahan tubuhnya menurun. Sebenarnya bukan hanya dia, semua pemuda-pemuda jangkung dan tampan itu juga –member EXO. Tetapi semalam, Kyungsoo terlihat mulai menunjukkan gejala.

Pagi-pagi sekali aku menelepon Ibuku untuk menanyakan resep sup sehat yang  selalu beliau buatkan untukku. Walaupun tidak yakin seratus persen akan rasanya. Aku percaya diri saja membawakan Kyungsoo setermos penuh. Masalah dia suka atau tidak, urusan belakangan.

Aku tak dapat menahan tawa melihat ekspresi mereka. Mereka terlihat seperti anak yatim piatu yang memelas meminta makan. Aku sudah tahu kalau membawa makanan ke perusahaan itu tidak bisa sedikit. Niat untuk membawakan Kyungsoo harus dalam porsi besar, karena akan muncul Kyungsoo-kyungsoo yang lain.

Setumpuk cup kosong berukuran sedang telah ada di tangan. Sekarang aku hanya perlu kembali ke ruang latihan untuk membagikan sup yang aku bawa kepada sebelas pemuda yang belum kebagian. Senang rasanya bisa memberi makan mereka, anggap saja sebagai ucapan terima kasih. Aku sering sekali memanfaatkan mereka. Jadi, inilah balas budiku.

“Minhye-ya!”

Deg! Minho Oppa menghalangi jalanku. Raut wajahnya tak mengenakkan. Aku selalu menghindarinya belakangan ini, sejak insiden ‘foto itu’. Aku sengaja mematikan ponselku dan tidak memberi tahunya saat Ibu menyuruhku pulang. Sampai hari ini pun aku belum berani menemuinya. Dia pasti akan marah lagi padaku.

“Minhye-ya!” panggilnya semakin keras.

Aku pura-pura tak melihatnya dan memutar badan. Langkah kakiku kupercepat, secepat yang aku bisa. Tetapi sia-sia, Minho Oppa dapat menjangkau lenganku dan menarikku sedikit kasar agar berhenti. Dia berdiri tegap di depanku. Aku memilih tertunduk, menghiraukan tatapan tajamnya.

“Aku memanggilmu. Mengapa menghindar?” tanyanya halus.

Aku diam tak bersuara. Sejujurnya aku masih takut padanya. Bentakannya saat insiden ‘foto itu’ membuatku sangat takut. Dia tidak pernah semarah itu sebelumnya. Dia bahkan tidak pernah benar-benar memarahiku. Namun saat itu, dia tidak seperti Minho Oppa.

“Mengapa menghindar, emm?” ulangnya. “Jawab aku. Jangan diam saja, Minhye-ya.”

Aku tetap diam dan semakin  dalam menyembunyikan wajahku. Minho Oppa menghela napas. Cengkramannya di lenganku berpindah ke pergelangan tanganku yang bebas. Cup kosong yang aku bawa berpindah ke tangannya, lalu diletakkan begitu saja di atas sofa. Kemudian, dengan hati-hati dia menarikku untuk  mengikutinya.

-Chapter Seven-

Kami berdiri berhadapan. Kali ini Minho Oppa memilih untuk diam, sama sepertiku. Aku belum berani menegakkan kepalaku. Hanya sesekali saja aku mengintip gerak-geriknya dari balik poniku. Dia menatap lurus kepadaku  hampir tanpa berkedip. Rahangnya tidak menegang seperti sebelum. Dia terlihat lebih santai.

“Sampai kapan akan menunduk seperti itu? Tengkukmu tidak sakit?”

Tiupan kencang angin musim gugurlah yang menjawabnya. Aku masih bersikukuh  untuk diam.  Walaupun dalam hati aku mengumpat karena dingin  yang menusuk  tulang. Di musim gugur dengan angin dingin yang terus-menerus bertiup ini Minho Oppa memilih atap perusahaan untuk berbicara empat mata. Bodoh.

“Choi Minhye, kamu sangat marah padaku? Karena itu kamu mogok berbicara dan juga menghindar dariku, hemm?”

Tekadku bulat, aku akan diam selamanya. Dia tidak akan mampu memancingku untuk buka mulut.

Minho Oppa menghela napas untuk kesekian kalinya. “Kamu benar-benar marah. Apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkanku? Aku mengaku salah. Maafkan aku, eoh?” mohonnya.

Angin kembali bertiup, kali ini lebih kencang. Menerbangkan anak-anak rambutku yang tak terikat. Rasanya aku ingin bergidik karena dingin, tetapi aku menahannya.

“Minhye-ya, bisakah tegakkan kepalamu? Aku ingin melihat wajahmu. Dua minggu lebih tak melihatmu membuatku hampir gila.”

Aku menegakkan kepalaku segera. Mataku membulat sempurna sebagai pertanda bahwa aku terkejut dengan ucapannya. Aku tidak merasa bahwa aku salah dengar.

Minho Oppa tersenyum. “Kelihatannya baik-baik saja.” Wajah Minho Oppa mendekat. “Walaupun agak sedikit bengkak di sekitar mata. Jangan bilang kamu menangis setiap malam selama berada di rumah.” Tangannya mengacak-acak rambutku dan wajahnya menjauh dari wajahku. “Perusahaan sudah mengurusnya. Aku rasa sudah benar-benar beres. Tidak akan terjadi hal-hal seperti ‘masa’ Kyuhyun Hyeong dulu.” Mata besarnya  kembali memperhatikanku. “Kamu sedikit gemuk.”

“Aku tidak gemuk!” protesku atas penilaiannya.

“Akhirnya berbicara juga.” dia tersenyum penuh kemenangan.

“Aku membencimu,”  rutukku dengan volume rendah.

Senyum Minho Oppa menghilang. Raut wajahnya berubah. “Tolong jangan katakan itu. Maafkan aku karena membentakmu waktu itu. Saat itu aku bukannya marah padamu. Aku sangat mengkhawatirkanmu. Kamu tahu sendiri, jika insiden kemarin membesar maka itu berita buruk bagimu. Tidak akan terjadi apa-apa dengan Kyungsoo, kamulah yang akan menanggung semuanya.

“Jika semua itu terjadi, aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku mungkin tidak bisa melindungimu. Jika terjadi sesuatu padamu, maka semua itu salahku. Aku tidak bisa melihatmu tersakiti oleh fans yang terkadang sangat keterlaluan. Aku tidak bisa membiarkan gadis yang  aku sayangi disakiti oleh mereka. Jadi, aku mohon jangan  melakukan hal-hal seperti itu. Kamu tidak perlu mengulang kenangan pahit itu lagi. Kamu sendiri tidak ingin mengalaminya lagi ‘kan?”

“Aku mengerti.” aku mengalihkan fokus tatapanku dari matanya ke segala arah. “Kekhawatiran Oppa adalah hal yang wajar. Yeodongsaeng nakal sepertiku pasti sering menyusahkan. Aku tahu  Oppa marah padaku karena Oppa menyayangiku. Oppa  mengkhawatirkan yeodongsaeng-nya yang nakal ini. Aku memang nakal, dasar bocah nakal.” Kalimat terakhirku aku tujukan untuk diriku sendiri.

Ani….” Minho Oppa mendekat dan memelukku. “Aku khawatir padamu karena kamu adalah gadis yang aku sayangi.”

-Chapter Seven-

“Ini minumanmu Agasshi.”

Aku  menerima dengan senang hati segelas lemon tea yang disodorkan Minho Oppa. “Terima kasih.”

“Sedang melihat apa?” tanyanya ingin tahu.

“Sebentar Oppa,” jawabku singkat tanpa mengalihkan perhatianku dari layar ponsel.

“Baiklah.”

Hening kemudian. Aku dan Minho Oppa sedang menunggu member SHINee yang lain di ruang latihan mereka. Beberapa hari ini Minho Oppa seolah  tak ingin melepas pengawasannya dariku. Selama aku berada di perusahaan, aku harus menemaninya. Jika dia ada waktu luang, kami memilih untuk keluar. Sejauh ini hanya sebatas menemaniku membeli buku atau ke perpustakaan. Kami seperti berpacaran. Seperti berpacaran.

“Kya!” teriakku nyaring.

Minho Oppa  mendengus kesal. “Mengapa teriak? Mengagetkan saja.”

Mian,” mohonku dengan aegyo.

“Mau ke mana?”

Minho Oppa menahan tanganku saat hendak berdiri. “Menemui Kyungsoo,”  jujurku.

“Untuk apa?”

“Ada hal yang harus segera dia tahu. Aku ingin dia  yang mengetahuinya pertama kali,” jelasku antusias.

Kulit dahi Minho Oppa membentuk  lipatan-lipatan kecil. “Mengapa harus Kyungsoo yang tahu pertama kali? Mengapa bukan aku?”

“Itu karena….”Aku tidak bisa menemukan alasan.

Tbc…..