Tags

,


Strange Girl

|| Chapter One || Chapter Two || Chapter Three || Chapter Four || Chapter Five||

JOAH –Strange Girl “Chapter Six”

“Lama tak jumpa, lama tak nulis. Miss Fox mempersembahkan….hahaha. Sorry for typo.”

Seandainya manusia bisa mengatur secara sadar isi kepalanya –seharusnya bisa. Seperti membuang ingatan yang buruk, atau mungkin memodifikasinya menjadi ingatan yang baik. Jika semua itu bisa, aku adalah orang pertama yang akan memanfaatkannya. Aku akan mengubah kisah di balik ‘benda mati’ bernasib naas di hadapanku sekarang ini. Karena, melenyapkan benda ini tidak berarti ingatan itu juga lenyap bersamanya.

‘Benda mati’ berbahan kayu yang bertengger di atas meja serasa menertawakanku. Aku ingin berpaling darinya, tetapi sayangnya perhatian ini selalu terpusat padanya. Seolah berharap  akan tumbuh mulut di salah satu permukaannya dan menyalahkanku atas kesalahan kisah yang terbentuk di ingatanku tentang asal muasal ‘dia’ patah menjadi dua, sungguh menyedihkan.

Akulah yang mematahkannya menjadi dua dalam sekali gerakan. Entah emosi seperti apa yang menginfeksiku waktu itu sehingga memiliki tenaga yang cukup untuk mematahkan sepasang sumpit tepat di tengah-tengah. Seingatku, aku mendengar sebuah nama disebut dan… bang! sumpit yang malang menjadi korban.

“Sial… aku mengingatnya lagi,” rutukku.

Gaduh di luar sana membuatku terkesiap. Sumpit patah itu berpindah dengan cepat ke dalam laci meja. Tidak lama kemudian pintu di belakangku terbuka bersamaan dengan laci meja yang aku dorong ke dalam. Pasangan fenomenal pun muncul.

“Baru bangun, Hyeong?” Sehun merebahkan dirinya di atas tempat tidur.

Aku menggeleng kencang. Kata-kata yang ingin aku ucapkan untuk menjawabnya tak kunjung terbentuk.

“Sehun-ah, bukankah Kyungsoo yang membangunkan kita? Bagaimana bisa pertanyaanmu jadi masuk  akal untuk dipertanyakan?” Luhan Hyeong mengambil posisi di sebelah Sehun.

Sehun cemberut, “Siapa tahu tidur lagi.”

“Memangnya kamu?”

Pergumulan mereka dimulai. Luhan Hyeong  menjitak kepala Sehun pelan kemudian membenamkan paksa di dadanya. Kakinya mengunci tubuh jangkung Sehun agar tidak melawan lebih. Kelakuan mereka membuat tempat tidur yang baru saja aku bereskan kembali berantakan.

Hyeong, bantu aku. Lepaskan! Kyungsoo Hyeong, tolong!” sinyal S.O.S mengudara.

“Bukankah kita harus ke salon sebelum jam 11?” tanyaku sembari melirik jam waker merah di atas meja. “Hyeong, kajja!Sehun…!”

-Chapter Six-

Seharian ini aku tak melihatnya. Bahkan tidak ada satu orang pun yang menyinggung tentangnya. Memang kami tidak pernah menginjakkan kaki di perusahaan hari ini karena jadwal yang padat. Kami berpindah dari satu stasiun televisi ke stasiun televisi lain. Tidak ada waktu untuk beristirahat. Kami pun tidak berbicara satu sama lain karena kelelahan.

“Setelah ini, yang terakhir….”

Mendengar kalimat itu membuat kami serempak menegakkan kepala. Sepertinya semua memiliki pemikiran yang sama untuk mengerahkan seluruh tenaga demi pekerjaan terakhir ini.

Seunghwan Hyeong geleng-geleng ringan. “Aku tahu kalian lelah. Jadi, kumpulkan tenaga kalian di sudut bibir, pita suara dan pergelangan tangan. Jangan perlihatkan wajah lelah kalian yang berantakan itu kepada fans. Fighting!”

Fighting!!!” teriak kami serempak sebelum menuruni mini van putih.

Member-M juga terlihat menuruni van putih mereka dengan wajah sumringah. Ada dua alasan untuk ekspresi itu. Pertama, demi menyapa fans atau kedua, karena ini adalah jadwal terakhir hari ini  dan besok kami bisa libur walaupun cuma sehari.

Chanyeol berlari dengan kencang sembari melambaikan tangan  dan tersenyum menuju Kris Hyeong. Dia merangkul pundak Kris Hyeong tanpa mempedulikan Tao yang tampak tidak suka. Sepertinya ada ‘bisnis’ diantara mereka. Aku menunggu Jongin yang tak kunjung keluar dari van.

“Jongin-ah, apa yang kamu lakukan?”

“Emm…,” jawabnya saat kepalanya menjulur ke luar.

Wajahnya yang kusut membuatku khawatir. “Kamu baik-baik saja?”

“Tentu saja.”

Jongin segera merangkulku dan mendorongku  pelan agar mengikuti langkahnya. Dia tersenyum seperti biasa dan melambaikan tangan serta beberapa kali membungkuk hormat kepada fans yang mulai tak terkendali karena berteriak tak karuan. Aku menatap Jongin lekat-lekat. Dia tersenyum seolah dia baik-baik saja. Berbanding terbalik dengan beberapa menit lalu saat di dalam van.

Hyeong, ada apa? Kamu menakutiku,” kekehnya.

“Tidak ada. Ayo cepat!” pekikku, mengajaknya berlari kecil memasuki  area acara.

Satu jam…

Dua jam..

Dua jam lebih sudah tanganku menari di atas berbagai macam kertas yang tersodorkan untukku. Menuliskan kata-kata yang mereka minta dan tentunya tanda tanganku, sembari menanyakan kabar mereka, kemudian diakhiri dengan ber-high five. Aku mulai merasakan pegal yang luar biasa dan juga kantuk yang teramat sangat. Beruntung Baekhyun Hyeong sesekali menggodaku sehingga mataku dapat tetap terbuka lebar.

“Tolong tanda tangannya, Kim Pilsuk, I love you.”

Permintaan kasar yang aku dengar dari sisi kananku disambut tawa oleh Baekhyun Hyeong. Dia mengangguk-angguk kencang dan tidak berniat bertanya apapun kepada fans itu karena takut mendapat jawaban ketus lagi. Sepertinya tidak hanya dia, Chanyeol dan Kris Hyeong serta Tao yang mendapat giliran pertama juga mengalami hal yang sama. Rupanya ada fans yang merasa lelah dan mulai kesal sehingga tidak ramah sama sekali.

“Tolong tanda tangannya, Cho Minah, semoga berhasil dengan ujianmu.”

Suara itu ada di atas kepalaku sekarang. Aku menengadahkan kepalaku, menatapanya dengan mata bundarku. Aku yakin, aksiku mirip dengan tokoh kucing di film Sherk. Aku tidak tahu apa  dia tersenyum atau  cemberut karena wajahnya tertutup masker dan juga topi.

“Tolong tanda tangannya, Cho Minah, semoga berhasil dengan ujianmu,” ulangnya.

“Apa aku tidak salah dengar?  Bukankah Kim Pilsuk?” tanyaku penasaran.

“Cho Minah, bukan Kim Pilsuk,” jelasnya tegas. “Bisakah tanda tangani dengan segera? Langit semakin gelap dan masih banyak yang menunggu. Mereka semua mulai lelah dan ingin segera pulang.”

“Baiklah,” jawabku segera, secepat mungkin.

Malang sekali nasibku. Spidol yang akan aku gunakan terjatuh ke bawah  meja, mungkin karena aku gemetar ketakutan oleh fans di hadapanku ini. Aku tersenyum sekilas padanya seolah meminta izin untuk mengambil spidol yang terjatuh itu.

Aigoo… gunakan ini!” dia merogoh saku hoodie-nya. “Pungutlah lain kali.”

“Tidak perlu.”

“Ini… gunakan ini dan segeralah,” dia menyodorkan spidol hitam.

Aku lebih baik mencari aman.  Jadi, aku menerima tawarannya dan mulai menandatangani bagiannya agar dia segera pergi. Beberapa fans yang berada di belakangnya terlihat tidak suka dengan caranya memperlakukanku dan yang lain.  Tetapi dia rupanya sama sekali tidak peduli.

“Terima kasih.”

Dia berpindah ke ‘korban’ selanjutnya tepat di sebelahku. Aku harap dia lebih manis pada Junmyeon Hyeong. Perhatianku teralihkan pada spidol yang aku pegang. Sangat familiar, de javu. Rasanya aku pernah mengalami hari yang hampir sama dengan hari ini. Acara fansigning, bertemu fans aneh yang galak dengan masker yang menutupi wajahnya, meminjamkanku spidol dan ada kalimat yang tertulis di tubuh spidol.

“Uups… spidolku. Maaf….”

Sebuah tangan merebut spidol yang aku pegang. Akibatnya, aku tidak bisa membaca tulisan di tubuh spidol itu kecuali satu kata ‘johwa-e’ yang berarti harmony. Kata yang sering aku lihat dan baca, sayangnya ingatan burukku tidak bisa memberikan gambaran  bagaimana dan di mana.

“Yak… Choi Mmm –.”

Aku menoleh ke arah Junmyeon Hyeong. Mulutnya tersumpal choco pie. Dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak bisa. Matanya melotot sempurna, seolah tidak terima atas perlakuan yang dia  terima.

“Bagaimana Oppa? Enak? Aku pernah dengar kalau Oppa sangat suka choco pie, jadi aku membawakan choco pie yang terlezat,” fans galak tadi berubah manis. “Oppa cepatlah tanda tangani. Kasihan yang lain menunggu.”

Junmyoen Hyeong mengangguk, menurut begitu saja –serupa dengan puppy. Setelah fans itu berlalu, dia mulai mengunyah perlahan choco pie yang tersumpal di mulutnya. Dia mendengus beberapa kali sembari menahan tawa. Seteguk air mineral membantunya menelan choco pie nan lezat itu.

“Bukankah choco pie-nya pemberian fans sebelumnya?” tanya Lay Hyeong setelah memberi tanda tangan pada fans mencurigakan itu.

Junmyeon Hyeong tersenyum pernuh arti. “Emm… dia hanya menyuapiku.”

“Siapa dia? Ada saja fans yang aneh,” gerutu Lay Hyeong.

“Dia memang gadis yang aneh.”

Aku membenarkan ucapan Junmyeon Hyeong, fans  yang aneh dan familiar. Aku harus berulang kali berpikir bahwa fans itu familiar, potongan kejadian hari ini  sangat familiar.

-Chapter Six-

“Di mana kkamjong?”

Tuhan, hampir saja aku mati. Bagaimana tidak, aku sedang berkonsentrasi mendengarkan ‘ceramah’ Youngjun Hyeong. Tiba-tiba sebuah suara tanpa wujud mengalun di dekat telingaku. Beruntung aku tidak reflek melayangkan tinju atau berteriak. Aku bukan tipe orang yang takut pada hal-hal tak terlihat. Tetapi atas nama terkejut setengah mati, apapun bisa terjadi.

“Kamu mengagetkanku saja,” protesku.

“Maaf, Kyungsoo-ku,”  dia tertawa kecil. “Di mana dia?”

“Di dekat, ah… di balik Chanyeol,” tunjukku. Chanyeol memang menutupi Jongin jika dilihat dari posisiku ini.“Tunggu, apa yang kamu lakukan di sini? Kalau manajer Hyoengdeul melihatmu, mereka bisa mengamuk. Ini rapat penting, orang luar dilarang ikut campur.”

Minhye mengurungkan niatnya untuk menemui Jongin. “Aku tahu. Tetapi ada hal penting yang harus segera aku beri tahukan padanya.”

“Apa? Bisa lewat pesan bukan?”

“Oh iya.”

Tangannya menepuk dahinya pelan. Kemudian dengan sangat mendramatisir, tubuhnya seolah akan terjengkang dan bokongnya terhempas dengan kasar di lantai kayu ruang latihan. Aku menatapnya tidak percaya. Dia hanya membalas dengan cengiran kuda sembari merogoh sesuatu di dalam tas ranselnya.

“Aku tidak terpikir sebelumnya karena terlalu antusias,”  lidahnya terjulur,mirip Sehun saja. “Apa kabar? Lama tidak bertamu. Seminggu? Dua minggu?”

Aku tidak sekali pun melepas pandangan darinya yang tengah berkutat dengan ponselnya. “Baik-baik saja. Aku rasa tidak sampai seminggu.”

“Benarkah?” Dia menegakkan kepalanya sejenak sebelum kembali menatap layar ponsel. “Kamu merindukanku?”

Nde?!”

“Kenapa? Mengapa kaget seperti itu?”

Aku geleng-geleng perlahan. “Tidak ada. Bagaimana kuliahmu?”

“Kuliahku?” dia menetapku selidik. Tatapan tajamnya mengincar mataku. “Lancar. Beberapa ujian terselesaikan tanpa hambatan.”

“Oh, baguslah,” aku kembali terfokus pada orang yang berbicara di depan sana.

Youngjun Hyeong mengakhiri pidatonya yang berisikan rencana untuk beberapa bulan ke depan. Setelah itu Seunghwan Hyeong mulai menjelaskan bagian lain dengan detail. Aku bisa mengerti beberapa hal yang dia ucapkan, hanya saja sebagian besar penjelasannya ditujukan untuk para staf. Kami sebagai artis hanyalah ikut serta untuk sekedar tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Jongin­-ah, berhenti memainkan ponselmu. Bocah ini!” Omel Youngjun Hyeong.

Minhye terkekeh di belakangku. Dia bersembunyi dengan baik di sana. Puncak kepalanya menyentuh punggungku, entah apa yang dia lakukan. Aku akan membiarkannya saja, karena sepertinya Seunghwan Hyeong mulai mengatakan sesuatu yang penting tentang WoolimEnt dan coordi pinjaman. Setelah itu, satu per satu mereka memperkenalkan diri.

“Dia datang, dia datang,” oceh Minhye.

Aku perlahan membalik badanku dan dia mengerti sehingga menjauhkan kepalanya dari punggungku. “Dia siapa?”

“Choi Jieun Noona,” dia menggerakkan alisnya naik turun beberapa kali. “Sudahlah, balik lagi badanmu.”

Aku menurutinya saja. Tidak ada pertanyaan yang mampu keluar dari mulutku karena yang dia katakan memang benar. Jieun sedang memperkenalkan dirinya di depan kami semua dengan terbata dan seperti ketakutan atau  kemungkinan karena malu. Sedangkan Minhye kembali menyandarkan puncak kepalanya di punggungku tanpa berkata apapun.

-Chapter Six-

Seperti janji Seunghwan Hyeong, kemarin dan hari ini kami libur juga.  Walaupun tidak  benar-benar libur karena  masih harus mengurus beberapa hal di perusahaan, setidaknya bisa  jauh lebih santai. Beberapa saat yang lalu kami digentarkan oleh kembalinya Jieun yang belakangan dikabarkan melanjutkan sekolah ke Amerika setelah gagal memenuhi keinginan ibunya. Jongin sampai urin-uringan dan kami semua cemas. Intinya  sekarang dia telah kembali dan keadaan akan kembali normal.

Apa yang aku lakukan sekarang?

Tangan kiriku membawa dua  kantung plastik dengan warna yang berbeda, sedangkan tangan kananku berusaha memasukkan beberapa lembar uang ke dalam saku celana. Di penghujung musim panas aku mengenakan jaket tipis, topi dan masker untuk menutupi wajah. Kunclup jaket itu juga terpasang di atas kepalaku untuk memaksimalkan penyamaran. Terlihat aneh dan mencurigakan, tetapi apa boleh buat. Langkah kaki kupercepat agar segera mencapai perusahaan sebelum ada yang mengenaliku.

Di dalam lift perusahaan, aku melepas semuanya. Rasanya pengap, gerah luar biasa. Sesekali aku mengecek isi kantung-kantung plastik yang aku bawa. Sekedar untuk mengalihkan kesendirian di dalam lift. Sekitar tiga menit berlalu, aku pun sampai di lantai lima.

Untuk pertama kalinya Minhye menurutiku. Dia menungguku di tempat yang aku suruh. Wajahnya terlihat bosan. Mungkin jika aku datang sedikit terlambat dia akan menghilang dan berkeliaran ke sana- ke mari di perusahaan.

“Kesal menunggu?” tanyaku.

Dia segera menegakkan kepalanya. “Tidak.”

“Ini,” aku menyodorkan kantung-kantung plastik yang aku bawa.

“Apa ini?”

Bubble tea dan bungeoppang (kue ikan),” jelasku.

Minhye mengendus-endus plastik berisi kue ikan. “Untukku?”

“Siapa lagi? Makanlah!”

Minhye menatapku selidik, “Ada apa ini? Tidak seperti biasanya.”

Aku tidak memberi jawaban apapun dan lebih memilih untuk mengambil tempat duduk di sebelahnya. Ketika mulutku berusaha menyedot bubble tea dengan sedotan dan mengunyah roti ikan yang aku beli, otakku sedang bekerja dengan keras. Perkataan Minhye membuatku berpikir untuk menemukan alasan yang aku sendiri tidak tahu.

“Kyungsoo-ya, apakah kamu punya pacar?” dia memutar tubuhnya agar bisa berhadapan denganku. “Katakan padaku yang sejujurnya, aku pintar menjaga rahasia. Apa kamu punya pacar, eoh?”

Kunyahanku terhenti, “Mwo?”

“Kamu tidak mengerti? Pa-car, kamu punya pacar tidak? Atau orang yang kamu suka.”

Nde?”

Dia mendengus kesal. Posisinya duduknya kembali seperti semula. Dia mengigit makanan di genggamannya dengan kasar. Mulutnya bergerak tanpa suara. Sesekali terlihat dia melirikku dari sudut matanya. Aku harus mengalah lagi kali ini.

“Tidak ada,” jawabku pelan.

Minhye kembali memutar tubuhnya, “Pem-bo-hong.”

“Aku tidak berbohong.”

“Baiklah, aku percaya padamu. Garis wajahmu menggambarkan kejujuran,” dia terkekeh. “Tetapi…”

“Apa lagi?”  nada suara enggan khasku mulai keluar karenanya.

“Tidak adakah seseorang yang kamu sukai? Artis lain mungkin, artis yeoja.”

Apa dia tengah menginterogasiku untuk tujuan tertentu? Jika perkiraanku benar, maka aku harus menjawab dengan hati-hati. Salah berbicara sedikit saja, dia bisa membesar-besarkannya. Sejujurnya tidak ada hal sangat rahasia yang perlu aku sembunyikan. Tidak ada juga hal sensitif yang harus diungkapkan dengan hati-hati. Baiklah. Jawab seadanya saja.

“Tidak ada.”

“Benarkah?” bibirnya mengerucut. “Susah kalau begini.”

“Susah apanya?”

Minhye nyengir kuda, “Tidak ada. Oh… pakai topimu, cepat!”

“Untuk apa?”

“Cepatlah!”

Minhye segera memasangkan topi yang aku gunakan untuk menyamar tadi. Dia merapikan gaya rambutku dengan telaten. Decakan tidak puas dia lontarkan saat menurutnya ada yang salah dengan penampilanku. Bak seorang penata rias, dia terus menyuruhku tidak bergerak dan membiarkannya bekerja.

“Senyumlah!” pintanya.

Tubuhnya condong ke arahku. Kepalanya sejajar dengan kepalaku. Tangan kirinya teracung ke depan dengan ponsel yang tergengam. Jelas terlihat wajahku dan wajahnya di layar ponsel. Beberapa kali dia memposisikan ulang tangannya agar mendapat sudut pengambilan gambar yang bagus.

“Ayo senyum! 1….2…3!”

Gambar kami berdua terabadikan sudah di ponselnya. Dia tersenyum senang saat mendapati bahwa gambar yang terambil memuaskan. Tanpa berkata apapun. Dia kembali melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Memintaku tersenyum berulang kali atau melakukan pose yang sama dengannya. Kemudian mengambil gambar dengan kamera ponselnya.

“Aku akan menyimpan ini semua. Tenang saja, ini untukku bukan orang lain.”

“Emm…,” aku baru akan bertanya tetapi dia memotong.

“Aku menyukaimu, teman terfavoritku. Yah… sebenarnya aku tidak punya banyak teman,” jelasnya disambung tawa kecil. “Oh… sekali lagi. Pose yang gila.”

“Oh… iya.”

Belum sempat kami melanjutkan sesi foto berikutnya, ganguan datang. “Oho!” pekik Luhan Hyeong.

Minseok Hyeong berlari kencang ke arah kami dengan cara yang sedikit kekanak-kanakan namun terlihat cocok untuknya, imut. Luhan Hyeong hanya tertawa melihat teman seumurannya bertingkah tidak  sesuai dengan umur. Tertawa bukan berarti dia tidak akan meniru.

“Oho!” pekik Luhan Hyeong lagi setelah berada tepat di dekat kami. “Apa kalian berdua berfoto tanpa mengajak kami?”

“Kalian berkencan,  eoh?” selidik Minseok Hyeong.

“TIDAK!” penolakan keras meluncur dari mulutku dan Minhye hampir bersamaan.

Dua pemuda line 90-an itu saling menatap dengan ekspresi yang memberikan firasat buruk bagiku. Mereka senyam-senyum satu sama lain. Mengedipkan mata dan menaik-turunkan alis beberapa kali. Aku dan Minhye mematung menunggu aksi yang mereka rencanakan.

“Mari berfoto berempat,” usul Luhan Hyeong.

“Oke,” Minhye tidak keberatan. “Tetapi harus gaya yang gila. Oke?”

Minseok Hyeong mengambil posisi di sebelah kiriku sedangkan Luhan Hyeong tepat di belakangku. Kami merapatkan diri agar bisa masuk ke jangkauan kamera ponsel Minhye. Luhan Hyeong berkonsultasi pada Minhye tentang gaya yang harus dia ambil. Saat itulah bisikkan halus menyapa gendang telinga sebelah kiriku.

“Kyungsoo-ya… hati-hatilah! Jangan sampai ketahuan yang lain. Kami akan menjaga rahasiamu dengan baik. Hyeong-mu mendukung seratus persen.”

-Chapter Six-

Siang menjelang sore, waktu  berputar begitu cepat. Selain ketenaran tidak ada yang berubah dariku. Terkadang merasa jenuh teramat sangat, tetapi jika mengingat bahwa semua ini yang aku inginkan maka aku  seharusnya berbangga hati.

Choi Minhye, Minhye…

Sesekali aku memang memikirkan gadis aneh itu dengan serius. Jelas di ingatanku, beberapa hari lalu –saat Jieun kembali lagi ke perusahaan –Minhye bercerita panjang lebar tentang dirinya. Diawali dari aku yang menanyakan hal yang sama kepadanya, yaitu tentang orang yang dia sukai. Sesuai tebakan, jawabnnya adalah Minho Hyeong.

Dia mengenal Minho Hyeong  sejak berusia sebelas tahun. Saat itu dia direkrut oleh SMEnt untuk menjadi trainee. Bukan suatu kebetulan dia adalah sepupu Kyuhyun Hyeong dan menjadi trainee.  Saat Kyuhyun Hyeong memasuki SMEnt, Minhye telah dilirik. Namun setahun kemudianlah dia bergabung.

Sesuai tutur Minhye, Minho Hyeong adalah orang yang sangat dia sukai. Bisa dikatakan cinta pertamanya. Minho Hyeong adalah pangeran baginya sejak masa training itu. Walaupun akhirnya dia harus mengundurkan diri dua tahun kemudian, Minho Hyeong adalah hal yang paling sulit dilupakan dari masa itu.

Mengundurkan diri bukan berarti dia tidak bisa bolak-balik perusahaan. Dia tetap bisa bertemu dengan Minho Hyeong dan terus berusaha membuat pemuda itu melihatnya. Dia bilang, sampai detik ini dia masih mengejar Minho Hyeong. Padahal kenyataanya, Minho Hyeong hanya menganggapnya seorang adik.

Sejak menceritakan kisah cinta monyetnya, hampir tiada absen dia mengirimiku pesan dan bercerita ini-itu  setiap  harinya. Aku seolah teman perempuannya yang bisa memberi respon yan benar atas ceritanya, atau memberikan saran yang baik atas masalahnya. Tidak jarang aku tertawa karena tingkah konyol yang dia ceritakan, walaupun aku sama sekali tidak mengerti untuk apa dia melakukan itu semua.

Hari ini dia tidak mengabariku seperti biasa. Ponselku sepi, tak tersentuh. Jam di dinding menunjukkan pukul dua. Selain aku, Chanyeol, Jongdae Hyeong, Jongin dan Baekhyun Hyeong, yang lain telah memilih untuk tidur siang. Sedangkan Junmyeon Hyeong berpamitan untuk pulang mengunjungi ibunya sebentar.

“Mengapa Junmyeon Hyeong belum kembali?” Jongin memperbaiki posisi kepalanya di sandaran sofa. “Sebelum jam empat kita semua sudah harus bersiap ke KBS, bukan?”

Jongdae Hyeong melempar remote televisi ke pangkuan Baekhyun Hyeong. “Aku akan meneleponnya. Dia sepertinya terlena bermanja dengan Ommonim.”

“Katakan padanya untuk membawa beberapa kimchi buatan Ommonim,” teriak Baekhyun Hyeong mengiringi lari kecil Jongdae Hyeong menuju kamarnya. “Kimchi, Chen-ssi!”

“Oh, aku rindu masakan Eomma,” gumam Chanyeol.

Hyeong ponselmu.”

Aku mengikuti arah telunjuk Jongin. Benar saja, ada panggilan masuk rupanya. Ponselku berkedip-kedip tanpa henti. Getarannya menciptakan sedikit suara karena aku meletakkanya di atas meja kaca. Aku mengangkat bokongku sedikit agar dapat meraihnya.

Yeoboseyeo?”

Kyongsoo-ya,” suara serak menyapaku.

Aku memperhatikan kembali layar ponsel untuk mengetahui siapa yang menelpon. “O… ada apa denganmu?”

Tidak ada jawaban darinya, hanya isak tangis. Lama-kelamaan tangisnya semakin kencang. Jongin yang ada di dekatku mendelik ingin tahu. Aku tidak mengatur mode pengeras suara. Tetapi, sepertinya Jongin bisa mengdengarnya.

“Di mana kamu?” tanyaku panik.

“Bukankan itu suara Minhye?” tanya Jongin.

-Chapter Six-

“Minhye-ya!

Pintu terbuka, aku sempat bergidik saat langkah pertamaku menapaki lantai beton atap perusahaan karena angin bertiup semilir. Selain pemadangan gedung-gedung pencakar langit, tidak ada lagi yang aku temukan. Minhye tidak terlihat dalam jarak pandangku. Dia mengatakan bahwa dia ada di atap perusahaan, tetapi aku tidak menemukan wujudnya.

“Minhye-ya!” panggilku lagi.

Aku memilih untuk mencarinya di area atap yang tidak terjangkau penglihatanku. Di mana lagi  kalau bukan area belakang, belakang tembok tempat pintu melekat.  Keputusanku memang benar, di sanalah dia. Bersandar pada tembok, duduk bersila dan mata terpejam. Pundaknya naik turun secara teratur. Punggung tangannya berkali-kali mengusap airmata di pipinya.

“Minhye-ya, ada apa denganmu?”

Dia membuka matanya. “Kyungsoo-ya,” suaranya terdengar seperti akan menangis.

“Ada apa denganmu? Mengapa menangis di sini?” aku segera menghampirinya.

Dia terus menatapku dan tidak menjawab. Pergerakan otot-otot di wajahnya menunjukkan bahwa dia akan menangis lagi. Dia mengigit bibir bawahnya untuk menahan tangis, tetapi tidak  berlansung lama. Tangisnya kembali meledak. Airmata mengalir tanpa henti. Suara tangisnya pun cukup kencang. Semua itu membuatku panik setengah mati. Aku tidak tahu harus bagaimana.

“Minhye-ya, berhentilah menangis. Orang-orang  bisa mendengarnya dan mengira kalau…”

Tangisnya tak kunjung mereda, hanya suara tangisnya yang tidak lagi terdengar sebab kedua tangannya menutupi wajah. Pundaknya berguncang semakin intens. Aku yang tidak  tahu harus melakukan apa hanya menggerakkan tangan di udara,  gelagapan. Akhrinya aku memutuskan  untuk menepuk-nepuk pundaknya pelan, berharap berhasil membuatnya tenang.

“Minhye-ya, tenangkan dirimu. Tarik napas dan hembuskan perlahan. Tenangkan dirimu,” bimbingku.

Aku mengulangi tindakan dan perkataanku berulang kali. Sekitar lima belas menit kemudian, dia mulai tenang. Tangannya tidak lagi menutupi wajahnya, berganti tugas untuk mengusap airmata yang tersisa. Aku menyerahkan dengan sukarela  saputangan milikku untuk menghilangkan semua jejak airmata di pipinya.

“Lebih baik?”  Minhye hanya menjawab dengan anggukkan. “Aku belikan minum?” dia menggeleng. “Baiklah. Aku akan menurutimu.”

Hening beberapa saat…

“Kyungsoo-ya, apa aku sangat kekanak-kanakan?”

“Emm…,” aku tidak harus berkata jujur. “Terkadang.”

“Apakah aku benar-benar bukan gadis yang baik?”

Aku tidak mengerti betul dengan pertanyaannya. “Siapa yang bilang begitu?”

Dia hanya tertunduk dan diam.

“Mengapa kamu menangis?” tanyaku hati-hati. “Apakah ada orang yang memarahimu?”

Perlahan tetapi pasti, Minhye bercerita penyebab dia menangis hari ini. Lagi-lagi pemeran utamanya adalah Minho Hyeong. Minho Hyeong baru saja kembali dari Jepang. Jadi, itu juga alasan dia tidak menghubungiku hari ini. Minho Hyeong memarahinya, itulah intinya.

Penyebabnya adalah oleh-oleh yang dibawa Minho Hyeong dan juga drama To The  Beautiful You –Minho Hyeong  dan Sulli adalah pemeran utamanya. Minhye tidak menceritakan begitu detail. Dia tidak  menjelaskan bagaimana kata-kata Minho Hyeong membuatnya begitu kesal.

“Dia tidak akan pernah menyukaiku,” ucap Minhye setengah berbisik. “Aku bukanlah siapa-siapa di matanya. Yeodongsaeng, hanyalah alasan ‘halus’ untuk menolakku.”

“Bukan seperti itu, Minhye-ya,” hiburku.

Minhye memelototiku sejenak sebelum memalingkan muka dengan kesal, “Semua pria  sama saja.”

“A… itu….”

“Aku bukanlah gadis kecil lagi. Aku tidak perlu dibohongi hanya agar tidak menangis. Aku tidak butuh kata-kata manis yang palsu agar selalu dalam kondisi yang baik, tertawa terbahak. Tidak selamanya aku akan polos, aku seorang wanita dewasa sekarang. Aku tidak main-main akan apapun yang berkaitan dengan perasaaan. Apa aku terlihat seperti mangsa empuk untuk dipermainkan?”

Diam adalah emas. Biarkanlah dia meluapkan amarahnya padaku. Aku akan diam saja, takut akan salah memberi tanggapan. Dia adalah perempuan sedangkan aku laki-laki, memang sedikit sulit untuk mengerti dengan apa yang dia rasakan. Hanya saja,  yang dia katakan ada benarnya. Aku sendiri mengakui bahwa aku melihatnya sebagai gadis kecil pembuat onar di perusahaan. Kami semua memperlakukannya seperi gadis kecil yang tidak boleh lepas dari pengawasan. Tetapi setelah melihatnya hari ini, dia adalah wanita dewasa. Dia tidak bodoh sehingga bisa dibohongi dengan kata-kata manis atau tidak akan memasukkan ke hati sedikit saja celaan.

“Tiga hari lagi…”

Dia menatapku, “Nde?”

“Tiga hari lagi, temani aku jalan-jalan.”

Mwo?”

“Temani aku berjalan-jalan. Mungkin kita bisa menonton film. Kita akan menentukan filmnya nanti saat di bisokop. Yang terpenting, kita bersenang-senang.”

Minhye tertawa mengejek. “Jangan mempermainkanku.”

“Aku serius,” aku berusaha menunjukkan keseriusanku. “Sebenarnya aku hanya bisa menonton diatas jam dua belas malam. Jadi, apa kamu mau?”

“Tiga hari lagi, sekitar jam dua belas malam. Kamu mengajakku menonton.” Dia berpikir sejenak, “Baiklah, walaupun kedengarannya aneh karena bersenang-senang di atas jam dua  belas malam. Creepy.””

“Apa boleh buat? Aku akan menjemputmu.”

Minhye tersenyum, “Jangan! Aku yakin Jungho Oppa pasti akan mengantarmu. Kita bertemu saja di bioskop. Kyuhyun Hyeong akan mengantarku, atau mungkin Ryeowook Hyeong.”

“Oke, call?”

Call!”

“Kamu merasa  baikkan?”

Dia mengangguk kencang. “Aku bukan merasa tenang karena kamu mengajakku menonton film tetapi karena kamu mau mendengar ocehanku. Rasanya sangat lega.”

“Syukurlah,”   aku merogoh saku hoodie-ku. “Pakai kacamata ini untuk menutupi matamu.”

Gomawo, Kyungsoo-ya.”

-Chapter Six-

Aku memenuhi janjiku dengan Minhye hari ini. Walaupun tidak sesuai dengan hari yang aku janjikan, tetapi dia memakluminya. Jungho Hyeong mengemudikan mobil dengan perlahan. Dia tidak bertanya lebih saat aku meminta tolong untuk mengantarku ke bioskop.  Dia tidak mempertanyakan alasanku. Member yang lain juga  tidak bertanya karena aku lebih memilih  untuk menonton film larut malam dibandingkan tidur untuk mengumpulkan tenaga.

Satu jam lalu, aku telah mengabari Minhye. Dan sepuluh menit yang lalu dia mengabariku bahwa dia telah sampai di tempat janjian kami. Aku penasaran bagaimana cara dia membujuk Kyuhyun Hyeong untuk mengantarnya selarut ini.

Kyungsoo-ya di mana? Jangan lupa pakai topi. Gaya berpakaianmu tidak mencolok, bukan?”

Minhye menceramahiku lewat telepon,  saat aku  baru saja sampai di tempat parkir. Jungho Hyeong  memilih menungguku. Dia akan tidur di mobil sampai aku menyelesaikan urusanku. Aku merasa tidak enak hati padanya. Apalagi  dia hanya mengetahui bahwa aku menonton sendiri, aku membohonginya.

“Kamu di mana?” tanyaku, masih dalam sambungan telepon dengan Minhye.

Aku di sofa dengan counter makanan.”

“Oh… aku melihatmu.”

Minhye melambaikan tangan di udara. Dia terlihat sangat antusias. Aku tersenyum kecil jika harus mengingat sikapnya yang terus berubah-ubah. Haruskah aku mempertahankan image yang aku terima saat dia menangis di atap perusahaan?

“Aku sudah menentukan film yang akan kita tonton. Karena kamu yang mengajakku jadi…,” Minhye terdiam.

“Aku yang akan membayar. Aku yang menanggung semuanya,” sambarku.

Minhye terkekeh, “Call.”

Aku tidak tahu harus bagaimana. Dia membuatku tidak bisa berkutik. Minhye yang biasanya bergelayut manja pada Kyuhyun Hyeong atau Jonghyun Hyeong, kini bergelayut manja padaku. Sikapnya membuat diriku merasa tidak  nyaman.  Jantung berdegup kencang, dan aku berbicara tak tentu arah. Minhye tidak merasa aneh sama sekali dengan perubahan sikapku. Dia hanya tertawa.

Setelah membeli tiket, terdapat waktu sekitar dua puluh menit sebelum  filmnya diputar. Minhye menarikku ke sana- ke mari untuk mencoba wahana hiburan yang disediakan pengelola bioskop. Semuanya gratis.  Dari berfoto bersama hingga bermain game. Dari memasang wajah gila sampai sangat serius.

“Tunggu,” Minhye menghentikan pose gilanya di depan layar besar yang berfungsi sama dengan kamera.  “Kyungsoo-ya, apakah kita sedang  berkencan?”

Nde?”

“Kita tidak sedang berkencan, bukan?”

Aku menggeleng kencang. “Ani… kita tidak berkencan. Ini hanyalah waktu bersenang-senang bersama teman.”

“Emm… baiklah.”

Minhye kembali  melanjutkan kegiatannya. Tanpa aku sadari, aku menghela napas lega. Minhye melirik sekilas karena tindakanku itu. Aku tersenyum memamerkan gigiku, dan Minhye kembali fokus pada aksi-aksinya.

“Sebenar lagi filmnya dimulai. Ayo beli popcorn!”

Biarkanlah dia yang memegang kendali. Aku rasa, aku masih sanggup untuk menurutinya. Aku juga mulai terbiasa diseret-seret olehnya. Asalkan dia senang dan senyum  terukir di wajahnya. Aku senang saat dia kembali seperti Minhye yang aku kenal. Jangan sampai dia menangis seperti waktu itu. Bukan karena aku tidak mau  repot harus berada  disisinya saat menangis. Aku hanya tidak suka, dia sangatlah rapuh saat itu.

“Cola dua dan…,” Minhye melirikku.

“Aku  tidak makan popcorn, cukup nacos.”

“Oke… cola dua, popcorn satu dan nacos.”

Sembari menunggu, Minhye baru menceritakan bahwa dia menggunakan taksi untuk menuju ke bioskop. Kebetulan dia mengenali supir taksi itu, langganan katanya. Setelah itu dia menggodaku bahwa aku akan menjerit  ketakutan saat menonton nanti karena film yang kami tonton adalah film horor. Dan kenyataannya…

-Chapter Six-

“Sebenarnya hantu di film itu tidak menakutkan. Aku hanya terkejut karena hantunya muncul  tiba-tiba,” protesnya.

Minseok Hyeong dan Luhan  Hyeong mengangguk ringan. Mereka berhasil mengintrogasiku semalam setelah pulang menonton. Semua karena ulah Jongin. Dia memberitahukan akun instagram Minhye pada dua ‘Big Brother’ ini. Dan rasa ingin tahu mereka memuncak, mereka mengobrak-abrik isi akun Minhye. Saat itulah mereka mendapati foto terbaru Minhye saat sedang menungguku di bioskop. Dia tidak menyebut namaku di sana, hanya menggantinya dengan kata ‘teman’.

“Apakah kamu bersembunyi di bahu Kyungsoo saat hantunya keluar?” goda Minseok Hyeong.

“Tentu saja tidak,” sambarku.

Luhan Hyeong tersenyum penuh arti. “Oho!”

Dimulailah acara mem-bully-ku. Minhye tidak membantuku sama sekali. Dia sibuk dengan ponselnya, tersenyum sendiri seperti orang gila. Tatapan meminta tolongku tak pernah diindahkannya. Dan tatapan itu  diartikan lain oleh Minseok  Hyeong dan Luhan Hyeong.

“Kyungsoo-ya!” panggil Junmyoen  Hyeong. Dia tidak terlihat baik.

“Ada apa, Hyeong?”

Junmyeon Hyeong menunjukkan ponselnya. Aku  hampir tidak percaya dengan apa yang aku lihat. Banyak sekali komentar yang tidak enak untuk dibaca. Mereka semua menyumpahi Minhye. Ya. Fotoku dan Minhye beredar di internet. Netizen  mengatakan bahwa aku bersama pacarku. Wajah Minhye memang tidak terlihat jelas karena dia berpose dengan tangan yang menutupi separuh wajahnya dan hanya mata yang terlihat jelas.

“Bagaimana bisa?” respon Minhye terbata.

“Foto ini di ambil saat itu ‘kan? Saat kita berempat berfoto,” jelas Minseok Hyeong.

“Aku tidak pernah melakukannya. Bukan aku yang meng-upload-nya,” sangkal Minhye.

Jongdae Hyeong berlari ke arah kami. “Kyungsoo-ya, Minhye-ya… Youngjun Hyeong memanggil kalian.”

To be Continued…

Author’s  note:

Hal yang paling menyenangkan adalah saat orang yang disukai bisa terlihat lagi wujudnya karena lama telah pergi. Itulah yang dirasakan Minhye. Tidak ada kata yang dapat menggambarkan rasa senangnya itu. Pangerannya telah kembali dari negeri sakura. Dia hanya harus segera  menemuinya.

“Halo Oppadeul,”teriaknya girang sesaat setelah membuka pintu ruang latihan SHINee.

“Yo Minhye Yo!” balas Kibum –Key.

Jinki melambaikan tangannya. “Masuk…masuk. Jangan sungkan.”

“Untuk apa  aku sungkan,” kekeh  Minhye. “Bagaimana kabar Oppadeul-ku tersayang? Merindukanku tidak?”

“TIDAK!” jawab Taemin segera. “Yak… apa yang kamu lakukan di sini?”

Seperti waktu-waktu sebelumnya, Minhye menghabiskan waktu jumpanya bersama pemuda-pemuda itu dengan beradu mulut  melawan Taemin. Bagi Jonghyun, Jinki dan Kibum, suasana seperti inilah yang mereka rindukan dari Minhye. Gadis itu selalu mampu membawa kehangatan dan melepas penat mereka dengan tingkahnya. Entah bagaimana jadinya mereka jika Minhye tidak ada.

“Oleh-olehku mana?” todong Minhye.

“Kamu ini tidak sabaran sekali. Tunggu dulu, aku lupa menaruhnya di mana,” Jonghyun membongkar barang bawaannya.

Minhye sabar menunggu oleh-oleh untuknya dari empat pemuda tampan yang seruangan dengannya sekarang. Koper tergeletak di mana-mana, pertanda  bahwa mereka tidak sempat kembali ke dorm  mereka. Sepertinya ada jadwal lagi yang menunggu mereka tanpa peduli mereka lelah atau tidak.

“Ini punya siapa?” tunjuk Minhye pada kantung karton berwarna merah muda.

“Minho Hyeong,” jawab Taemin.

“Untukku? Boleh aku  intip?” tanya Minhye antusias.

“Jangan Minhye-ya,” nasehat Jinki. “Itu belum pasti milikmu.”

“Aku hanya mau melihatnya,  sedikit saja.”

Minhye memang tidak akan mendengarkan apapun larangan yang dilontarkan orang lain. Dia meraih kantung itu perlahan  dan membukanya dengan hati-hati. Terdapat kotak dengan warna senada di sana. Minhye hanya nyengir kuda  menanggapi larangan yang terus menyerangnya. Dia membuka kotak itu dan mendapati sepasang sepatu cantik di sana.

“Wah… cantik sekali.”

“Minhye-ya, taruh lagi,” Kibum mulai kesal karena Minhye tak pernah mengindahkannya.

Baru saja Minhye akan mencoba sepatu ber-heels itu, suara pintu yang ditutup cukup kencang membuatnya dia mengurungkan niat. Tepat di depan pintu orang yang sangat dia rindukan berdiri tegak. Minhye melayangkan senyum namun di sambut wajah cemberut.

“Hai, Oppa!” sapanya.

“Minhye-ya, taruh sepatu itu ke tempatnya,” perintah Minho.

Minhye mengangguk ringan. “Sepatu yang cantik, untukku?”

Ani… cepat taruh.”

“Untukku saja, eoh?” rengek Minhye.

“Taruh!” bentak Minho.

Minhye terperanjat karena bentakan Minho, apalagi Minho merebut sepatu itu dari tangannya dengan kasar. Saat Minho sibuk meletakkan kembali sepatu itu pada  tempatnya, Minhye melihat kartu kecil yang tercecer  di dekat kantung sepatu.

“Oh…  untuk Sulli?”

“Aku sudah menyiapakan oleh-oleh spesial untukmu. Jika ingin sesuatu yang lain lagi, silahkan. Asal jangan sepatu ini,” cara Minho berbicara kembali seperti biasa.

Minhye diam, tak berniat menjawab.

“Ini untukkmu,” sodor  Minho. “Bukalah, kamu pasti menyukainya.”

Oppa menyukai Sulli, eoh?” Minhye menatap Minho. “Oppa berpacaran dengan Sulli? Cinta lokasikah? Apakah setelah mencium Sulli Oppa jadi menyukainya?”

“Minhye-ya, itu hanya acting,” jelas Taemin.

“Jangan mulai, Choi Minhye. Jangan kekanak-kanakan seperti ini,” bujuk Minho.

“Aku menyukaimu,” aku Minhye. “Aku mecintai Oppa.”

Seisi ruangan menahan napas. Jinki dan Jonghyun memasang wajah khawatir. Mereka tahu betul jawaban yang akan dilontarkan Minho. Jawaban Minho akan sama persis seperti tiga tahun yang lalu. Tergantung apakah Minhye akan  menerimanya kali ini atau tidak.

“Jangan bertingkah konyol Minhye-ya,” Minho berusaha tenang. “Jangan hanya karena sepatu ini kamu berbicara ngawur. Berhentilah bersikap manja. Ayolah, jangan cemberut.”

“Aku menyukai Oppa. Kenapa Oppa tidak menjawab?”

Minho menghela napas  berat. “Sudahlah Minhye-ya, kami semua menyukaimu. Kamu adalah yeodongsaeng tersayangku.”

“Aku bukan yeodongsaeng-mu,” Minhye berbicara informal. “Aku seorang gadis yang meminta lebih dari sekedar ciuman di dahi dan elusan di puncak kepala. Aku bukan anak kecil. Aku marah, sangat cemburu saat Oppa mencium gadis lain. Aku sadar itu hanya bagian dari profesionalitas. Tetapi tetap saja, hatiku rasanya sakit. Kenapa? Karena aku menyukai Oppai. Aku mencintai pemuda bernama Choi Minho.”

Minhye memelototi semua orang. “Kalian yang selalu memperlakukanku seperti anak kecil. Karena itu Minho Oppa tidak pernah melihatku sebagai seorang wanita. Semua ini salah kalian. Gara-gara kalian Minho Oppa tidak pernah menyukaiku.  Dia tidak pernah sudi membalas perasaanku. Semua ini salah kalian. Aku benci kalian!”

“Choi Minhye, hentikan!” bentak Minho. “Jangan salahkan orang lain atas sikapmu sendiri. Kamu memang kekanak-kanakan, manja, egois. Kamu selalu membesar-besarkan masalah sepele.”

Oppa bilang masalah sepele? Perasaanku adalah masalah sepele?  Oppa selalu mempermainkan perasaanku. Selama ini Oppa menarik ulurku seolah aku ini mainan yang menyenangkan. Apa susahnya menyatakan yang sejujurnya? Apa susahnya memikirkan dengan serius setiap pengakuanku?”

Hening, tidak ada yang berani berkomentar. Minhye manatap  mata Minho lekat-lekat menunggu jawaban. Minho hanya mematung dengan otak yang berpikir keras. Jelas terukir kebimbangan di wajahnya.

“Tentu saja aku menyukaimu, sangat mencintaimu karena kamu adalah yeodongsaeng-ku.”

Minhye mendengus kesal dengan kepala tertunduk. Setelah itu badannya berbalik membelakangi Minho. Kakinya melangkah pelan menuju pintu. Seisi ruangan bisu, tidak berani mencegahnya yang akan keluar dari ruangan. Semua seolah menahan napas sampai Minhye benar-benar menghilang di balik pintu.

“Choi Minho,” panggil Jinki Hyeong untuk maksud tertentu. (Tbc)

#Merong… jika merasa aneh, lihat judulnya kembali. Hahahaha… apa yang tidak mungkin? Semua bisa saja masuk akal. Ingat ini hayalah fiktif. Beberapa  bagian memang disesuaikan dengan keadaan aslinya. Namun, sebagian besar  hanyalah karangan  belaka.😀