Tags


Last Miracle

Hanyalah sepenggal kisah tak bermakna. -Miss Fox

Dia diam membisu. Kepala tertunduk, menyembunyikan matanya yang indah. Hening tanpa suara, entah telah berlangsung berapa lama  dan entah kapan akan berakhir. Dia akan terus seperti itu. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku memang tidak pernah bisa melakukan apapun.

Aku meraba saku coat hitam yang aku kenakan. Kotak kecil itu masih di sana, menanti waktunya. Waktu yang sangat singkat namun tidak akan pernah terputar. Semuanya karenaku. Akulah yang telah menghapus waktu itu, lebih tepatnya kisah yang akan berlalu bersama waktu itu. Kisah yang bahkan belum pernah terjadi.

Fokusku yang sempat teralihkan kembali berpusat padanya. Dia sama seperti beberapa saat lalu. Duduk diam bak  manekin-manekin yang terpampang di etalase toko. Jari-jemarinya yang bertaut di atas tas merah kecilnya tidak terbalut sarung tangan. Warna biru samar mulai muncul di permukaan kukunya yang mengkilap. Tidak ada yang bisa aku lakukan.

Angin dingin terus berhembus pelan, memberiku satu lagi alasan untuk  tidak menggerakkan bibirku. Membuatku tidak terlihat seperti seseorang yang egois. Aku bisa saja mengatakan bahwa bibirku membeku karena dingin sehingga tidak  bisa berucap  maaf. Atau, tubuhku kaku  sehingga tidak bisa memeluknya dan mencoba membuatnya tenang.

Ya. Semua ini bukan tentang kehangatan. Bukan tentang menghalau dingin yang terus menusuk tulang. Tidak sedangkal itu. Bukanlah  salah Sang Angin sehingga membuat suasana sekaku ini. Bukanlah salah Sang Awan yang menutupi bulan sehingga malam sesuram ini. Tetapi, aku berusaha untuk mengkambinghitamkan mereka. Aku ingin lari lagi kali ini.

“Ayo, aku antar kau pulang,” pintaku setengah berbisik dan terbata.

Aku menunggunya  beberapa detik. Tidak ada jawaban. Bahkan sepertinya dia tidak mendengarkanku sama sekali. Dia masih saja seperti sebelumnya.Tenggelam dalam pikirannya sendiri. Pikiran yang tidak pernah bisa aku selami. Bukan  karena dia  yang menghalau, hanya aku yang tidak punya keberanian untuk masuk ke sana.

“Malam ini bintang tidak terlihat. Sepertinya  salju pertama musim ini akan turun malam ini,”gumamku,  bermaksud untuk mengajaknya berbicara namun  lebih kepada berbicara pada diri sendiri.

Oppa,”ucapnya lirih.

Aku menegakkan kepalaku yang menengadah ke langit sesegera mungkin. Aku menoleh ke arahnya dengan senyum yang terkembang. Dia tidak lagi seperti sebelumnya, tertunduk dan diam. Walaupun matanya masih terpejam saat dia memanggilku untuk yang kedua kalinya.

Oppa,”ulangnya sembari menghembuskan napas kasar.

“Emm?” tanyaku, mencoba terdengar antusias.

Dia membuka matanya perlahan. “Aku ingin….”

“Salju akan turun malam ini,” potongku segera. “Bagaimana kalau kita menikmatinya bersama seperti tahun-tahun sebelumnya?” usulku.

“Tidak, Oppa,”jawabnya terbata.

Mata kami bertemu tatap. Ini bukan yang pertama kalinya bagiku melihat jauh ke dalam tatapannya yang sendu. Kali ini aku berusaha untuk tetap masuk. Aku ingin tahu apakah ada satu lagi keajaiban untukku. Aku hanya ingin menemukan satu lagi kesempatan untukku.

Aku terkesiap mendapati tetes air di sudut matanya. “Jangan…,” pintaku.

“…kita akhiri saja.”

“Jangan katakan itu.”

“Keputusan ini yang terbaik, kita akhiri saja.”

Udara di sekitarku menipis. Dadaku terasa begitu  sakit. Tenggorokanku tercekat. Semua kata yang ingin aku ucapkan tertahan begitu saja.

“Terima kasih, Oppa.”

“Ma….”

Setetas air mata mengalir di pipinya yang merah merona. “Aku mencintaimu, selalu.”

Setelah mengucapkan kalimat itu dia pergi begitu saja. Langkah kakinya terseok-seok saat menuju bis yang baru saja berhenti tidak jauh dari tempatku sekarang. Pundaknya berguncang cukup kencang.  Beberapa orang melihat ke arahnya, tidak sedikit yang bertanya sesuatu padanya. Aku masih dapat jelas melihat tetes air mata yang terus mengalir dari mata indahnya. Bis itu berlalu. Aku melihatnya menangkupkan kedua tangannya di depan wajah.

“Maafkan aku,” bisikku.

Apa yang aku lakukan?

Aku seharusnya mengejarnya. Aku seharusnya mengucapkan maaf. Aku seharusnya membuatnya tenang. Tidak. Sebelum semua hal menjadi serumit ini, seharusnya aku peduli padanya. Aku hanya mementingkan diriku sendiri, itulah yang bisa aku lakukan.  Selama ini aku selalu egois. Aku terlalu percaya diri bahwa dia tidak akan meninggalkanku. Aku terlalu yakin dia akan bertahan bersamaku.

“Maafkan aku.”

Entah berapa sering dia menangis. Menangisiku yang bahkan hampir tidak peduli. Aku selalu berpura-pura tidak tahu. Aku tidak perlu meminta maaf untuk membuatnya tetap bersamaku. Sebelumnya aku tidak perlu  memeluknya untuk membuatnya berhenti menangis. Aku tidak bisa melakukan apapun selain diam dan berpura-pura tidak tahu.

“Aku mohon, kembalikan dia padaku,” harapku pada gumpalan benda putih yang baru saja terjauh dari langit. “Kembalikan dia padaku.” (Tbc)

-Xi Luhan-