Tags

,


Strange Girl|| Chapter One || Chapter Two || Chapter Three || Chapter Four ||

JOAH- Strange Girl “Chapter Five”

Sorry for typo. TT.TT

MINHYE –Oppa, bisakah kamu menyukaiku?” bisikku mengiringi punggungnya yang menghilang di balik pintu.

Aku selalu menanyakan pertanyaan yang sama  sejak aku pertama kali merasakan hal aneh itu. Kelopak-kelopak mawar berguguran, jantungku serasa  terhenti lima detik dan kembali berdetak dengan cepat; serasa terkena serangan jantung. Aku tidak bisa bernapas, makhluk-makhluk jahil –bukan lagi kupu-kupu –menggelitik dari dalam perutku. Anehnya semua ketidaknyamanan itu membuatku merasa senang. Orang kebanyakan menyebutnya ‘jatuh cinta’. Aku rasa, aku memang jatuh cinta padanya. Perasaan yang –mungkin –tidak seharusnya ada pada gadis tengik sepertiku. Apa aku salah?

Komik percintaan anak sekolah. Minho Oppa masih mencekokiku dengan bacaan gila seperti itu. Kisah seorang gadis yang tidak menarik sama  sekali, yang entah bagaimana bisa jatuh cinta pada pemuda yang bahkan tidak pernah sudi meliriknya. Mereka dengan ajaibnya selalu dipertemukan karena masalah yang diperbuat gadis aneh itu. Terus menerus seperti itu. Beruntungnya, pemuda itu akhirnya menyukainya. Pemuda itu jatuh cinta pada sang gadis. Berakhir dengan baik, indah, dan membahagiakan bagi sang gadis seolah sesuai rencananya.

“Kenapa dia membawa komik menyebalkan seperti ini? Dia pikir aku masih anak ingusan yang akan terbawa  imajinasi dengan cerita tidak bermutu seperti ini? Apa Minho Oppa tidak tahu kalau aku sudah tidak lagi ‘mengonsumsi’ bacaan yang satu ini?”

Aku tidak tahan untuk tidak mengomel. Aku memang bukan lagi anak kecil yang akan terbuai cerita manis seperti ini. Aku tahu di dunia nyata yang kejam ini, hal seperti ini tidak akan terjadi. Minho Oppa tidak pernah menyukaiku sebanyak apapun aku membuat masalah di sekitarnya. Dia tidak pernah menganggapku gadis manis yang patut mendapat predikat ‘dicintai’ darinya. Aku hanyalah ‘yeodongsaeng-nya’. Aku hanyalah Choi Minhye, pembuat onar yang harus dia lindungi. Minho Oppa hanya guardian  yang tidak akan jatuh cinta pada orang yang dia lindungi.

Klek!

“Apa yang kamu lakukan? Mengapa bibirmu terlihat lebih panjang dari sebelumnya?” dia menarik bibirnya, mirip bebek.

“Baru terlihat sekarang, ke mana saja?” aku melipat tangan di depan dada. “Seolah kamu itu artis terkenal yang padat jadwal, menjengukku pun  mengirim utusan.”

“Sepertinya ada yang merindukanku. Merindukanku setengah mati.”

Aku menatapnya garang  setelah naik sembarangan ke singgasanaku. “Yak… turun. Aku ini pasien rumah sakit, segala sesuatu yang ada di sekitarku harus steril. Dan kamu membawa kuman, bakteri, virus dan…,” aku mengendus, semakin dekat ke tubuhnya yang berbalut hoodie merah.

“Apa yang kamu lakukan?” dia memencet hidungku keras.

Aku menepisnya  segera. “Lepaskan bodoh! Kamu belum mandi sejak kapan? Bau sekali!”

Hyeong ke mana?”

“Minho Oppa?” tanyaku memastikan. Jongin tak acuhkanku.

“Oh, kamu masih suka membaca komik cengeng ini?”

Aku merebut komik yang masih terbungkus rapi itu. “Kkamjong-ah, berikan padaku. Ini bukan komik cengeng.”

“Kamu sendiri yang bilang, aku hanya mengutip,” dia mengambil komik lain yang telah terbuka.

“Minho  Oppa yang membelikannya.”

Jongin tersenyum mengejek, “Dia memintamu untuk terus berusaha.”

Nde?”

“Temukan cara yang lebih efektif. Siapa tahu di komik-komik ini ada clue,” Jongin tertawa terbahak.

“Terserah apa katamu…,” aku menyipitkan mata. “Noona menanyakanmu kemarin. ‘Apakah Jongin tidak datang hari ini?’, tanyanya. Dia bertanya seolah tidak pernah  bertemu  denganmu sama sekali, seolah kamu sulit dihubungi untuk sekedar bertanya keberadaanmu. Tidak lucu kalau kamu tidak pernah membalas pesannya, atau kamu tidak berinisiatif melaporkan  sendiri kegiatanmu padanya. Bukan seperti ‘Kim Jongin’ saja. Sepertinya Noona mendapat masalah lagi.”

Jongin terdiam sejenak. “Aku akan menemanimu malam ini,” ucapnya tiba-tiba seperti berusaha mengalihkan pembicaraan.

“Minho Oppa sudah pasti akan menemaniku. Kamu sebaiknya pulang dan beristirahat.” Aku tidak akan terpancing dengan pengalihannya. “Noona belum menceritakan apapun tentang masalahnya? Kamu tidak ingin tahu?”

Dia hanya terdiam dengan berpura-pura sibuk mengutak-atik isi tas yang dia bawa.

“Aaa… kalian belum bertemu sama sekali untuk berbincang, eoh? Kamu yang menghindar ‘kan? Apa kalian bertengkar? Apa Noona melakukan sesuatu yang kamu benci tanpa dia sadari? Sampai kapan kamu akan mengabaikannya?” aku terus  melontarkan pertanyaan tanpa ada yang terjawab.

“Aku akan mandi sebentar, jangan mengintip.”

“Hei… kamu pikir ini hotel? Jawab dulu pertanyaanku!”

Tidak ada lagi respon darinya. Jongin segera mengambil tas ransel yang dia bawa dan menuju  pintu kamar mandi yang kebetulan ‘satu paket’ dengan ruang rawatku. Sedikit kesal juga karena dia tidak menjawab pertanyaanku. Sebenarnya, kebisuannya itu cukup untuk menjawab  semua pertanyaanku. Jongin tidak ingin berhubungan dengan Jieun Eonni  untuk beberapa waktu karena suatu alasan. Alasan yang hanya dirinya yang tahu. Alasan yang melukainya.

Sudahlah. Aku tidak mau ambil pusing  dengannya. Biarlah dia ‘menjagaku’ malam ini seperti perkataannya. Tidak buruk, bertengkar dengannya adalah cara ampuh untuk mengusir  bosanku. Mungkin sebaiknya aku memberi tahu Minho Oppa agar tidak perlu kembali dan beristirahat di dorm-nya saja.

“Menyingkir!”

Aku hampir berteriak, “Omo… kamu sudah selesai mandi?”

“Tentu saja! Minggir sedikit,” dia mendorongku bahuku pelan.

“Apa yang kamu lakukan?”

“Aku mau beristirahat seperti saranmu. Aish… bereskan komik-komik ini.”

Aku membelalakkan mata tidak percaya. “Yak… tidur di sofa.”

“Punggungku bisa sakit. Apa kamu lupa kalau aku ini lead dance?”

“Apa?” hembusan napas kesalku tidak  membuatnya sadar diri. “Jadi, kita tidur berdua  di ranjang sempit ini?”

“Siapa yang bilang kita tidur berdua? Kamu bereskan benda-benda di atas ranjang ini, kemudian seret tiang  infusmu menuju sofa. Kamu boleh membawa selimut ini jika mau.”

Kepalaku serasa mengepulkan asap. “Kim Jongin,” ejaku dengan gigi bergemeletuk.

-Chapter Five-

Aku hampir berteriak saat mendapati Minho Oppa membereskan barang-barangku. Seingatku sebelum memasuki kamar mandi Cho Eomma yang melakukannya. Hari ini dokter sudah memperbolehkanku pulang. Memang seharusnya aku pulang sejak beberapa hari yang lalu. Namun Minho Oppa bersikeras agar aku mendekam lebih lama. Sebelum bintik-bintik merah di tubuhku menghilang tanpa bekas, aku tidak boleh hengkang dari rumah sakit.

“Cho Eomma mana?” aku mendekatinya masih dengan  handuk yang menari di atas kepala.

“Keluar,” jawabnya singkat.

Aku memperhatikan wajahnya lebih dekat. Ada lingkaran hitam yang sangat pekat di bawah matanya. Pipinya juga terlihat begitu tirus. Jelas terlihat bahwa dia kelelahan, sangat. Dia mencoba menyembunyikannya dengan tersenyum. Mencoba mengelabuiku rupanya.

“Berapa hari tidak tidur?” nada suaraku menginterogasi.

Minho Oppa menarik resleting tasku dan memilih duduk di ranjang rumah sakit yang telah rapi. “Hanya terlambat tidur beberapa jam.”

Oppa harus beristirahat, makan yang banyak. Minum vitamin dan  perbanyaklah tidur. Gunakan semua kesempatan untuk tidur. Aku tidak mau harus menjaga Oppa di rumah sakit. Membosankan.”

“Tidak menjagaku pun tak apa-apa,” jawabnya serius.

Aku menatapnya memohon. Aku hanya bercanda. Maksud ucapanku hanya untuk menggodanya. Bukan itu jawaban yang aku harapkan. Jika begini, aku yang rugi. Skenario percakapan yang aku susun dalam otak jadi berantakan.

Aku nyengir kuda, “Hanya bercanda. Aku akan menjaga Oppa. Mau berapa lama pun, aku sanggup.”

“Tenang saja. Aku tidak akan masuk rumah sakit. Oppa-mu ini sangat kuat,” Minho Oppa terkekeh.

Hening menyelimuti. Aku hanya tersenyum untuk merespon kalimat terakhirnya, setelah itu kikuk. Aku menggerakkan mata ke segala arah, bersenandung kecil sembari mencoba mengeringkan rambut yang tidaklah panjang ini. Minho Oppa juga sama. Dia memejamkan mata dan beberapa kali mengetuk-ngetukkan tumitnya.

Tik tok…tik tok!

Detak jam terdengar sangat keras. Dengan latar belakang musik dari detak jam dinding kami berdua mengarungi dunia di dalam pikiran masing-masing. Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Yang pasti aku memikirkannya. Memikirkan dirinya yang suatu saat pasti akan membalas rasaku. Haruskah aku mempertegasnya lagi sekarang?

Oppa, aku meny–,” tercekat tiba-tiba karena suara pintu yang terbuka.

Minho Oppa menoleh. “Apa?”

“Sudah siap?”

Aku memelototi mahluk tampan yang berdiri di ambang pintu dengan senyum mautnya –kata orang. Satu lagi anak manusia yang selalu mengganggu hidupku. Dia bisa   dikatakan berada pada level dibawah Jongin dalam urusan  menganggu ketentraman hidupku. Tidak seperti Jongin, dia tidak pernah berniat menganggu. Hanya saja tanpa dia sadari, dia sangatlah menganggu dengan kepolosannya itu.

Oppa!” pekikku.

“Wuah… kamu sangat senang aku datang? Karena kemarin-kemarin aku tidak bisa selalu menjengukmu, sebagai gantinya aku akan mengantarmu pulang,” dia berjalan ke arah kami dan mengambil tas pakaianku.

Oppa,” rengekku lagi.

Dia terlihat heran, “Apa?”

Ketika aku akan merengek lagi, sebuah belaian lembut mendarat pada rambutku yang setengah kering. Tangan yang lebar itu mengacak-acak rambutku sembari menekan kepalaku pelan. Aku  tidak berniat protes. Perlahan dagu ini terangkat untuk menatap empunya tangan.

“Aku ikut… tenang saja,” suaranya seperti obat penenang bagiku.

“Yak… Kim Junmyoen-ssi, kamu membawa mobil?”

Junmyeon Oppa mendelik kesal karena caraku memanggilnya. “Ne,  Agasshi.”

Aku cekikikan. Senang rasanya  jika situasi masih dibawah kendaliku. Pengganggu yang satu ini  masih bisa aku kendalikan. Semoga saja Sang Raja Penggangu dan penasihatnya tidak datang. Siapa kalau bukan Jongin dan Taemin. Dua kancil itu berbahaya.

-Chapter Five-

Acara berkeliling dan menyapa  beberapa orang yang aku kenal di agensi artis korea terbesar ini berakhir sudah. Saat bertemu dengan tua bangka pendiri agensi ini adalah  saat terberat. Dia terus menerus membujukku untuk ikut terlibat dalam proyek besarnya lagi. Apa itu masuk akal?

Dia memang berkata bahwa aku tidak perlu memikirkan apapun, hanya setuju dan aku akan terlibat secara instan. Kalau Kyuhyun Oppa tahu, jangan harap dia mau menemaninya untuk minum dan mengobrol. Lagian,  aku tidak tertarik. Dunia mereka begitu rumit. Aku yang hanya sebagai tamu saja sering dibuat repot dan merasakan pahitnya. Aku lebih suka menjadi tamu, karena aku bisa keluar masuk sesukaku.

Rrrt!

Aku bisa menemanimu.

Lama juga menunggu dia membalas pesanku. Tetapi lebih baik telat dari pada tidak sama sekali. Kabar baik, aku tidak harus berkeliling sendiri mencari buku-buku berharga itu. Setelah aku pikir, bodoh juga mengajaknya. Aku sama saja dengan mengumpankannya pada semut-semut merah ganas. Aku yakin, dia belum  tahu bagaimana caranya berkamuflase. Membayangkan wajah ketakutannya saat makhluk-makhluk sepertiku mengelilinginya dan menatapnya seolah ingin membawanya pulang membuat perutku serasa digelitik beribu-ribu tangan. Mata besar dan wajah polosnya yang memelas membuatku berpikir dua kali untuk memintanya menemaniku.

Sore ini jam 5. Lebih mudah untukku pada jam segitu.

Sial. Aku tidak dapat membatalkannya. Dia mungkin sudah bersemangat untuk menemaniku. Padahal aku sudah mengatakan bahwa aku mengajaknya lebih untuk membantuku membawa buku-buku itu. Bukankah jelas aku hanya memanfaatkannya. Namun dia tetap tidak menolak. Apa dia tidak mengerti maksudku itu?

Aku tidak memikirkan resiko-resiko yang  mungkin terjadi sebelumnya. Dia bisa dikatakan baru dalam hal ini. Maksudku berkeliaran di luar perusahaan tanpa manajer atau ‘penjaganya’, bukanlah hal yang bagus. Aku ingat bagaimana ‘ganasnya’ fans mereka –EXO. Bodoh. Bagaimana aku membatalkannya? Alasan apa yang akan membuatnya mengerti?

“Gelisah sekali. Ada apa?”

Jantungku hampir saja melompat. “Mengagetkan saja!” pekikku pada dua orang pemuda yang berdiri di hadapanku sekarang. “Apa yang kalian lakukan di sini?”

“Memang  tidak pernah sopan,” gerutu pemuda berambut pirang mendekati putih. “Mondar-mandir seperti setrika dan membuat orang lain penasaran. Seharusnya kami yang bertanya, apa yang kamu lakukan di sini?”

“Bukan urusan kalian,” jawabku ketus.

“Tsk… menyebalkan sekali. Pasti sedang menunggu artis lain untuk dipaksa memberikan tanda tangan.”

“Menggerutulah sesukamu Lee Taemin. Oh… Kibum Oppa kalian  akan pergi sekarang?”

Kibum Oppa mengangguk pelan. “Tentu saja. Ada beberapa pekerjaan yang menanti untuk diselesaikan segera. Mungkin akan lama. Sebulan, dua bulan…  tidak tahu pasti.”

“Tenang saja. Kami akan bolak-balik beberapa kali karena masih ada kontrak kerja yang belum selesai di Korea. Jadi, jangan terlalu merindukan kami,” koar Taemin.

Aku mendengus, “Merindukanmu sangatlah tidak mungkin.”

“Dasar tidak sopan,” Taemin mulai naik pitam.

Aku menjulurkan lidah untuk menggodanya. Hal itu membuatnya semakin kesal. Kibum Oppa berusaha melerai kami. Kali ini akan aku biarkan usahanya berhasil.

“Mengapa ada di sini dan bukannya pulang?  Seharusnya kamu beristirahat ‘kan? Kamu baru saja keluar dari rumah sakit,”  ceramah Kibum Oppa panjang lebar.

“Bermain…  aku bosan di rumah.”

“Bermain? Sejak kapan perusahaan jadi taman bermain?”

Aku melirik Taemin, “Sejak anak kecil ini ada di sini.”

Taemin melotot.

“Kalian berdua bisa berhenti tidak?” Kibum Oppa naik pitam. “Sebentar lagi kami  akan  ke bandara? Ikut kami pulang? Seingatku searah…”

“Tidak,”  jawabku tanpa pikir panjang.

“Kenapa?” Taemin menatapku penuh selidik. “Hey… kamu menolak satu mobil dengan pangeranmu? Kami akan mengatur agar kamu duduk di sebelahnya dan bisa bermanja-manja sampai puas,” sindirnya.

Aku melupakan hal yang satu itu.  Aku sangat ingin, tetapi… “Aku ada urusan, jadi tidak bisa pulang sekarang.”

“Apa?”

“Membeli buku-buku, novel. Hem… harta karunku.”

Taemin berdesis, “Tsk… baiklah. Kamu menolak kesempatan emas. Bertahanlah beberapa bulan untuk tidak mengendus aromanya. Menderitalah kamu.” Taemin tertawa terbahak-bahak.

“Diam,” Kibum Oppa menoyor kepala Taemin. “Kami pergi, eoh?”

“Oke. Jangan lupa oleh-olehnya.”

Sempat-sempatnya pemuda sok dewasa itu menoyor kepalaku sebelum pergi mengekor Kibum Oppa menuju  pintu keluar.  Ingin aku melempar sepatu ini untuk membalasnya. Beruntung bagi dirinya karena lobi sedang penuh orang.  Aku tidak mau menjadi topik pembicaraan karena mencederai artis hallyu dalam sekali lemparan sepatu.

“Tunggu pembalasanku,” gerutuku.

-Chapter Five-

Setelah sekian lama menanti, akhirnya dia kembali mengirimku pesan bahwa dia telah selesai dan  bersiap kabur. Ide yang bagus untuk kabur.  Aku juga tidak ingin bertemu dengan  pemuda-pemuda aneh itu dan mendapat cemoohan. Bukan  berarti aku malu berhubungan dengan Kyungsoo. Ini demi kebaikannya. Biarlah dia hidup dengan tenang. Karena, aku ini pembuat masalah. Berhubungan denganku berarti dekat dengan masalah apapun.

Aku memutuskan untuk menunggu di depan pintu keluar. Sekalian menunggu taksi yang sudah aku hubungi terlebih dahulu. Dan juga, mengawasi sekitar. Siapa tahu ada fans fanatik yang bersembunyi di seberang jalan sana dan siap membidik target mereka dengan kamera mahal nan canggih. Wajahku pasti tertangkap dengan indah sedang bersama D.O EXO-K. Malapetaka.

“Menunggu seseorang?” bisik seseorang di telingaku.

“Oh!” pekikku sembari memutar tubuh. Entah keberapa kalinya aku terkejut hari ini. Bisa-bisa aku masuk rumah sakit lagi karena kena serangan jantung.

“Apa yang kamu cari menengok kanan-kiri?” tanyanya lagi.

“Minho Oppa?”

Dia hanya tersenyum. “Iya ini aku. Mengapa ekspresimu seperti melihat hantu?”

“Bagaimana–?” aku kehabisan kata-kata.

“Sudah datang.”

“Apa?”

Minho Oppa meraih pergelangan tanganku dan menarikku pelan. Sebuah taksi tepat berhenti di depan beranda perusahaan. Minho Oppa membuka pintu dan memintaku masuk. Selanjutnya dia membuka pintu di sisi satunya. Dia duduk di sebelahku sekarang.

“Kita akan ke mana?”

Aku tidak peduli dengan pertanyaannya. Seharusnya akulah yang bertanya. Mungkin wajahku terlihat begitu bodoh sekarang. Lihat saja, dia menahan tawanya.

Ahjeossi, jalan!”

Aku masih menatapnya hampir tanpa berkedip. Sesekali aku mencubit pahaku untuk memastikan bahwa aku tidak tengah bermimpi. Mungkin saja aku tertidur di sofa lobi beberapa saat lalu. Dan sekarang aku bermimpi sedang bersama Minho Oppa dalam satu taksi, padahal seharusnya dia dalam penerbangan ke Jepang sejak beberapa jam lalu.

“Halo… kapan kamu akan tersadar?” Minho Oppa melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. “Minhye-ya, kamu baik-baik saja?”

“Bagaimana Oppa bisa ada di sini?” semprotku.

Dia terkekeh, “Aku warga negara Korea Selatan. Jadi wajar kalau aku berada di negara ini.”

Oppa,” aku memutar bola mata. “Seharusnya Oppa di Jepang ‘kan?”

“Tidak juga. Aku seharusnya memang ada bersamamu sekarang untuk menemanimu mencari novel atau apalah, harta karunmu,” jelasnya.

Dia pasti bercanda. Tidak mungkin dia membatalkan penerbangannya ke Jepang setelah Taemin atau Kibum Oppa memberitahunya bahwa aku akan ‘memburu’  buku-buku favoritku. Aku pasti bermimpi. Dia pasti kena marah Jin Oppa kalau berada di sini bukannya di Jepang. Nekad.

“Jadi, ke toko buku mana?”

Oppa, tidak lucu,” protesku.

Dia menautkan alisnya. “Aku tidak sedang melucu.”

Ahjeossi, ke bandara.”

“Yak!” Minho Oppa memelototiku. “Aku sudah berusaha keras untuk bisa bersamamu sekarang dan menemanimu berburu buku-buku idamanmu itu. Kenapa kamu mengusirku?”

Aku berdecak, “Oppa, berhenti bermain.”

“Aku serius. Hari ini aku ingin berkencan denganmu.”

Jduar!

Aku tersambar petir di hari yang panas dan tidak berawan ini. Kebisingan di luar sana hanya terdengar seperti bisikan belaka. Gema teriakan yang berasal dari dalam diriku membuatku ingin ikut berteriak, berpesta. Tetapi, aku tidak boleh percaya begitu saja. Ini mimpi atau ada yang salah dengan Minho Oppa.

Oppa, apa kamu demam?” punggung tangan kananku menempel di dahinya. “Oh…!”

“Aku tidak demam. Apakah aku harus demam dulu untuk mengajakmu kencan?”

Aku menggeleng, masih setengah sadar.

“Jadi, kamu tidak akan menolak ajakanku ‘kan?”

Sebuah remote kontrol menggerekkan anggota tubuhku untuk bergerak. Ya. Aku mengangguk kencang dengan senyum yang lebar.

Ahjeossi, berhenti di depan distro itu!” perintahku dengan girang.

Minho Oppa keheranan, “Ada apa?”

Oppa butuh penyamaran.”

“Ah… baiklah.”

Taksi yang kami tumpangi pun berhenti.

Oppa tunggu saja. Oke?”

Minho Oppa mengangguk pelan. Tanpa mengulur waktu aku berlari ke dalam distro dan mulai mencari beberapa benda yang bisa Minho Oppa gunakan untuk menyamarkan identitasnya. Aku seperti menang jackpot. Tidak akan aku tolak. Semua ini yang selalu aku impikan. Kita memang sering keluar berdua. Tetapi tidak beratasnamakan kencan. Dan kali ini adalah kencan. Aku tidak akan menyesal jika harus mati setelah ini.

-Chapter Five-

Memalukan, dasar Choi Minhye bodoh. Aku menghabiskan setengah uang anggaranku untuk membeli novel guna membelikan Minho Oppa kostum penyamarannya. Aku memilihkannya produk-produk terbaik dan mahal tadi. Karena itu, uangku tidak cukup dan Minho Oppa yang akhirnya harus membayar. Betapa malunya aku.

“Ada apa lagi?”

Aku menoleh ke arah Minho Oppa dan memasang wajah ingin menangis. “Maaf Oppa,” sembari melirik dua kantung besar penuh buku di dalam taksi. “Oppa harus membayar semua ini. Aku janji akan mengembalikannya segera.”

“Kenapa?”

“Apa?” aku kebingungan.

“Kenapa kalau aku yang membelikanmu selalu saja kamu merasa perlu mengganti uangku. Sedangkan yang lain, bisa dikatakan kamu merampok mereka.”

Aku nyengir kuda, “Dari mana Oppa tahu?”

“Tidak ada yang tidak aku ketahui tentangmu, Choi Minhye.”

Pipiku memanas, “Ooo…”

“Emmm,” Minho Oppa melirik jam tangannya. “Sepertinya aku harus masuk sekarang.”

“Sudah waktunya berangkat?” aku mengutuk diriku sendiri karena nada suaraku terdengar sangat kecewa.

Minho Oppa memegang kedua pundakku dan membuat kami berhadap-hadapan. Pipiku kembali memanas. Rasanya semua orang melihat ke arah kami. Memang Minho Oppa masih dalam mode penyamaran. Namun, besar kemungkinan orang-orang mengenalinya.

“Jangan membuat masalah selama aku pergi, eoh? Khususnya masalah yang akan berdampak untuk dirimu,” ucapnya serius.

“Tenang saja Oppa,” aku nyengir kuda.

Tubuh Minho Oppa sedikit condong ke arahku. Dia juga merendahkan tubuhnya. Apakah dia akan….?

Chu~

Dia mencium dahiku lembut. Di tengah keterkejutanku, dia mengacak-acak rambutku dan menekan kepalaku pelan. Samar-samar aku mendengarnya mengucapkan sesuatu. Entah apa. Aku tidak bisa menangkapnya dengan jelas. Aku masih sangat terkejut.

“Minhye-ya!” teriaknya dan berhasil membuatku menoleh. “Segeralah pulang, eoh?!”

Aku  mengangguk kencang tanpa suara dan masih dalam keadaan terkejut. Perlahan Minho Oppa menjauh dan tenggelam di tengah keramaian. Senyumku terkembang begitu saja. Tangan kananku mengelus-elus dahi yang mendapat kecupan hangat dari Minho Oppa.

“Haahh… senangnya,” gumamku berulang-ulang sambil berjingkrak-jingkrak senang menuju taksi sewaan. “Ahjeossi, jalan.”

“Oh Nona, ponsel Anda terjatuh tadi.”

Aku meraih ponsel putih yang pria paruh baya itu sodorkan. “Terima kasih.”

Aku tidak pernah terpikir akan ponselku sejak tadi. Aku pun tidak sadar menjatuhkannya di dalam taksi. Beruntung taksi ini adalah taksi yang sama sejak awal, karena kami memang hampir menyewanya seharian. Ponsel, ada yang mengganjal.

Omo,” pekikku kencang membuat supir taksi terperanjat.

Ahjeossi, kembali ke gedung SMent.”

Supir taksi itu hanya mengangguk tanpa banyak bertanya.

-Chapter Five-

KYUNGSOO – “Kyungsoo-ya,” suara yang sangat aku kenal menyapa gendang telingaku. “Maafkan aku,” suara itu terdengar putus-putus.

Hyeong… aku pulang duluan. Permisi,” aku membungkuk hormat dan berlalu tanpa memedulikan orang yang baru saja meminta maaf padaku.

“Tunggu!” suara itu memerintahku. “Maafkan aku,” rengeknya.

Aku tidak berniat untuk bermutar dan menatapnya. Sejujurnya aku sangat kecewa, tidak pernah sekecewa ini sebelumnya. Aku sangat marah. Tetapi akal sehatku jelas-jelas tidak dapat menemukan alasanku harus marah. Masalah seperti ini tidak seharusnya membuatku merasa sangat kecewa dan marah. Tidak seharusnya aku masukkan ke hati sikapnya ini. Seharusnya aku tidak berharap lebih padanya tadi.

“Emm… aku maafkan,” kataku tetap  tanpa berbalik dan menatapnya.

“Maafkan aku!” teriaknya lagi.

Aku mendengus, “Iya… aku memaafkanmu. Aku pulang!” masih tidak ada niat untuk menatap lawan bicara. Aku pun melanjutkan langkahku untuk pulang.

“Do Kyungsoo!” teriaknya lagi membuatku menghentikan langkah seketika.

“Minhye-ya,” suara Ryeowook Hyeong terdengar aneh. “Dia sudah memaafkanmu,” tambahnya.

“Tunggu kataku!” teriaknya lebih kencang tapi kali ini bercampur isak tangis. “Aku bilang tunggu!”

Akhirnya aku memilih untuk melihat kondisinya. Tuhan. Dia menangis tersedu-sedu seperti itu. Dia menangis seolah-olah seseorang memukulnya atau melakukan hal buruk padanya. Dua kantung besar di tangan kanan dan kirinya masih kuat dia genggam. Airmatanya mengalir deras dan membuat Ryeowook Hyeong panik. Suara tangisnya pun semakin kencang.

“Minhye-ya, jangan menangis. Hentikan!” Ryeowook Hyeong memohon-mohon. “Orang-orang melihat ke arah kita. Ayolah, hentikan!”

Minhye tidak menjawab dan terus menatapku dengan mata yang tergenang. Pundaknya naik turun dengan cepat. Suara tangisnya perlahan mereda. Dia terlihat berusaha mengatur dirinya agar bisa berbicara dengan normal. Dia membuatku merasa sangat bersalah. Apa aku melakukan sesuatu yang salah?

“Maafkan aku,” ucapnya terbata-bata. “Maafkan aku, Kyungsoo-ya.”

Aku menggaruk tengkukku dengan mata yang terbuka lebar, kebingungan. Ryeowook Hyeong juga menatapku dengan tatapan memohon dan memintaku untuk menjawab sesegera mungkin. Tidak sulit untukku memaafkannya. Tetapi, aku lebih tidak enak hati karena dia harus meminta maaf dengan cara seperti ini. Dia terlalu membesar-besarkan.

“Iya, aku maafkan,” aku berusaha tersenyum dengan normal walaupun sebenarnya ini semua terasa aneh.

Mendengar jawabanku, senyum Minhye merekah. Sekali lagi aku harus bilang ini aneh. Dia tersenyum dengan mata yang berlinang dan pundak yang masih turun naik tak beraturan. Di sebelahnya Ryeowook Hyeong menghela napas lega. Dia juga meminta Minhye untuk membiarkannya membawa kantung-kantung yang mungkin cukup berat.

“Kalian belum makan malam ‘kan? Kajja, kita makan malam. Setelah mengantar Minhye, aku akan mengantarmu,” Ryeowook Hyeong berjalan ke arahku dan diikuti Minhye di belakangnya yang tersenyum tiada henti.

Aku masih terbengong-bengong saat Ryeowook Hyeong melintas. Detik berikutnya aku mengikutinya setelah seseorang menarik tanganku. Cengkramannya sangat erat di pergelangan tanganku. Isakkannya membuatku tersadar bahwa Minhye-lah yang menarikku. Gadis aneh, apa maksud semuanya tadi? Apakah dia tidak terlalu memaksakan kehendaknya? Aku merasa dia mengancamku dengan tangisnya tadi. Gadis ini, dia membuatku gila dan….

-Chapter Five-

Sejak malam itu, aku serasa memiliki asisten pribadi. Aku tidak perlu menyiapkan makanan lagi untuk keadaan darurat. Bahkan, aku tidak perlu berkata haus untuk mendapatkan air minum. Terkadang aku berpikir, semua ini terlalu berlebihan. Aku bukanlah raja. Semua ini sama sekali tidak membantuku, aku  tertekan.

“Jongin-ah!”

Dia tak mengindahkan panggilanku. Aku tidak bisa menyalahkannya. Sesuatu tengah mengganjal pikirannya belakangan ini. Hanya ada satu petunjuk. Tanpa aku utarakan, kami semua tahu. Asal tebak dan pasti benar. Membiarkannya tetap seperti itu adalah pilihan yang baik, karena Jongin tidak suka diusik.

“Kyungsoo-ya!”

Aku menoleh ke sumber suara dan mendapati pemuda dengan tubuh tinggi dengan kulit pucat berjalan ke arahku. Senyumnya membuatku harus waspada.

Hyeong?”

“Lama tidak bertemu. Kalau bukan karena bocah itu, kita pasti tidak  akan bertemu sekarang.”

Kedengarannya dia terpaksa menemuiku. “Ada apa, Hyeong?”

“Ini!” dia menyodorkan kantung berwarna hitam.

“Apa ini?”

“Minhye… dia tidak bisa  datang untuk memberikannya padamu karena ada urusan. Dia berpesan,” Kyuhyun Hyeong berdehem. “… selamat pindah rumah dan latihan yang benar, serta jaga Jongin.”

Aku menautkan alis, “Oh… iya.”

Gadis itu.  Tidak sadarkah dia bahwa ini  semua memalukan? Aku senang dia menyempatkan diri untuk menyiapkan semua makanan ini. Akan lebih senang jika dia yang memberikannya langsung.  Karena kalau  situasinya seperti sekarang, mau ditaruh di mana mukaku? Ini aneh.

“Kyungsoo-ya, apa Minhye mengatakan sesuatu padamu?”

Aku menegakkan kepala setelah lama memandangi isi kantung itu dan tak hiraukan Kyuhyun Hyeong. “Mengatakan sesuatu?,” tanyaku polos.

“Dia mengatakan sesuatu yang blak-blakan, aneh?”

Kyuhyun Hyeong pasti bercanda. Gadis itu selalu berbicara tanpa rem. “Iya.”

“Apa?” respon Kyuhyun Hyeong berlebihan. “Kapan?”

Aku teringat kejadian malam dia menangis tersedu-sedu. Mungkin itu yang paling ekstrim. “Setiap kita bertemu dan seminggu yang lalu adalah yang paling membuatku terkejut.”

“Sudah kuduga,” gumam Kyuhyun Hyeong.

“Apa dia memang seperti itu?” sejujurnya aku penasaran juga.

Kyuhyun Hyeong menepuk pundakku, “Semoga berhasil.”

Mataku membulat sempurna dan mungkin hampir melompat keluar sekarang. Mengapa Kyuhyun Hyeong menyemangatiku seperti itu? Apakah akan terjadi hal yang buruk jika aku memantapkan dirimu untuk berurusan dengan Minhye? Mau tidak mau aku akui, ada magnet yang menarikku untuk menyusup ke dalam kehidupannya. Sekuat apa aku mencoba mengelak, aku selalu kembali  berhasil tertarik. Alasannya? Itulah yang aku cari.

-Chapter Five-

D-Day

Happy comeback!” pekiknya girang.

Aku hanya memutar bola mata melihat tingkahnya. Tao, Sehun,  dan Baekhyun Hyeong mengikuti gayanya sesekali. Tidak sesekali, bisa dikatakan mereka dalam misi yang sama malam ini. Mereka berempat menari-nari di tengah ruangan seperti orang mabuk. Kris Hyoeng yang berada di sudut ruangan  ikut bergoyang tetapi secara diam-diam. Sedangkan Chanyeol memamerkan giginya seperti  biasa dan terus bertepuk tangan dan berteriak menyemangati  empat orang aneh itu.

“Mau ke mana?” tanya Junmyeon Hyeong pada  Jongin yang terlihat hendak keluar.

“Aku lelah. Aku akan tidur sebentar di luar,” jawab Jongin  acuh tak acuh.

“Kamu sakit?” aku tidak bisa tidak  bertanya.

Dia hanya menggeleng pelan dan mengembangkan senyumnya dengan terpaksa. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak bersedia bercerita. Aku juga tidak bisa memintanya, apalagi kini kamar kami terpisah. Junmyoen Hyeong yang sekamar dengannya pun tidak berarti tahu sesuatu.

“Bocah itu aneh belakangan ini,” gumamnya.

Aku hanya mengangguk kecil dengan perhatian yang terpusat pada manusia teraneh dan tidak dapat ditebak di ruangan ini. Kami semua sedang berada di salah satu ruangan yang tidak pernah terbayangankan akan ada di suatu agensi artis seperti SMent.  Ruangan dengan luasnya hampir sama dengan ruang latihan –bahkan lebih besar –dengan lampu disko besar bergantung di atapnya, inilah ruang pesta SMent. Dibandingkan kami harus merayakan sesuatu di tempat umum yang berisiko, manajemen mendesain ruangan khusus ini.

“Minhye-ya,  berhenti!” perintah Junmyeon Hyeong setengah berteriak.

“Tidak mau!” balasnya.

“Berhenti!” Junmyeon Hyeong menarik paksa Minhye agar duduk di sampingnya. “Aku akan mengadukanmu pada Jonghyun Hyeong kalau tidak menurutiku.”

Minhye mengerucutkan bibirnya. “Laporkan saja!”

“Oke… Jonghyun Hyeong pasti akan memberitahunya tentang sikapmu ini.”

“Oke, aku kalah,” Minhye menghempaskan diri di sofa.

“Aku mau melihat Jongin. Jangan macam-macam, eoh?” Junmyoen Hyeong meninggalkan Minhye bersamaku. Tidak mungkin.

Canggung. Sejak malam itu aku merasa canggung berada di dekatnya –sedangkan dia tidak. Terdengar tidak masuk akal, tetapi memang itu yang aku rasakan. Aku mencoba untuk tak menghiraukannya, walaupun diam-diam aku memperhatikannya. Ya. Aku sadar betul kalau dia melihat ke arahku. Sepertinya ingin mengatakan sesuatu tetapi dia mengurungkannya. Tidak seperti  dirinya.

“Emm, Kyungsoo-ya!” panggilnya setengah berbisik.

“Apa?” jawabku dengan cepat.

Dia mengacungkan jempolnya di depan wajah. “Kamu keren sekali.”

Aku menautkan alisku. Apa maksudnya?

“Penampilanmu tadi  sangat keren. Aku tidak henti-henti berteriak dan melompat-lompat. Tenggorokanku sampai sakit begini,” dia terkekeh. “Tidak sia-sia mengantri dan harus berdesak-desakan,” dia kemudian menggumamkan lagu baru kami.

“Kamu datang menonton langsung?” aku mau memastikan.

“Tentu saja. Sayangnya kalian tidak mengadakan fansign kejutan seperti sebelumnya. Aku  ti–,” dia membekap mulutnya dalam gerakan cepat dan menatapku dengan mata membulat sempurna.

“Kamu?”

Minhye segera mengambil tasnya. “Oh, aku hampir lupa. Aku membawakan sesuatu untukmu,” dia mengalihkan pembicaraan.

Aku baru saja akan membuka mulut dan menginterogasinya, tetapi benda persegi menutupi wajahku.  Minhye terus menyodorkan benda itu dan memberi isyarat agar aku menerimanya. Setelah aku menerimanya, dia kembali sibuk dengan  tasnya sembari bersenandung kecil. Rupanya mencari sesuatu yang tidak kunjung dia temukan.

“Sumpitnya ke mana?” gumamnya.

“Apa ini?” tanyaku penasaran. Hidungku bekerja otomatis mengendus benda persegi yang ternyata adalah kotak bekal.

Minhye tertawa kecil dan masih mencari. “Tentu saja makanan. Aku terlanjur membuatnya tadi. Sudah kebiasaan, jadi makanlah!”

“Aku ‘kan sudah memaafkanmu. Tidak perlu seperti ini,” terangku.

“Aku tahu,” dia mengeluarkan sebuah buku tebal dari dalam tasnya. “Aku sudah bilang, aku kebiasaan membuatnya.  Tanpa sadar aku selalu menyiapkan bekal seperti ini setiap terpikir akan ke perusahaan. Jadi, kamulah yang harus memakannya.”

Aku menautkan alis. “Kenapa aku?”

“Tidak tahu,” dia mengedikkan pundaknya. “Seingatku aku membuat bekal ini untukmu, khusus untukmu.”

“Eee?”

Minhye menyodorkanku sumpit berbahan kayu. “Kenapa? Merasa berhutang budi? Kalau begitu, buatkan aku bento.”

Lagi-lagi maksud terselebung. Dia memberi semua perhatian ini karena ada udang di balik batu. Bento? Tidak. Aku tidak pernah dan tidak akan membuatnya untuk siapa pun. Bento buatanku bukanlah produk komersial yang bisa dinikmati siapa saja.

“Baekhyun bilang kamu sangat tertarik dengan seni bento? Bisakah kamu membuatkannya untukku? Tolong…,” mohonnya. “Sudah lama tidak ada yang membuatkannya untukku. Emm… sejak Oppa tidak ada. Jadi, maukah?”

Gelengan kencang kepalaku  adalah simbol penolakan keras. “Aku tidak bisa membuat bento. Baekhyun Hyeong bohong besar.”

“Pembohong,” dia merajuk. “Beri aku alasan yang lebih berkelas.”

Alasan berkelas? Istilah yang tidak tepat. “Aku tidak bisa membuatnya, hanya itu.”

“Oke, akan kucari tahu sendiri alasannya. Cepat makan! Aku rasa masih enak.”

Aku mengangguk kencang dan segera membuka tutup kotak bekal itu. Entah apa yang direncanakan Baekhyun Hyeong  dengan memberi tahu Minhye soal bento. Dia ingin mengejekku. Sejauh mana dia  bercerita kepada Minhye? Aku akan melakukan sidang kecil padanya nanti.

“Yak!”pekik Minhye membuatku terjaga dari aktivitas makan brutal.

“Apa?” tanyaku dengan mulut penuh makanan.

Minhye segera mengangkat kotak bekal yang aku taruh di atas buku tebal miliknya. Dia mendelik kesal padaku. Ada kilatan halilintar di sudut matanya saat menatapku. Aku reflek menelan ludah, ketakutan. Dia terlihat menyeramkan.

“Kenapa menatapku seperti itu?”

Dia menyodorkan buku miliknya di depan wajahku. “Seenaknya saja menjadikan bukuku alas makan.”

Gadis ini hobi sekali menyodorkan sesuatu di depan wajahku.  Dia membuatku terlihat konyol. Dan juga, dia sendiri yang menaruh buku tebal bersampul hitam dengan gambar seorang pria berpakaian mirip detektif zaman dulu di atas meja yang penuh sesak itu. Tidak ada ruang untuk kotak bekal. Jadi, aku terpaksa menaruhnya di atas  buku kesayangannya. Tunggu! Buku yang familiar. Tentu saja, Sherlock Homes novel terkenal bukan? Bodoh. Tetapi, di sudut buku…

“Boleh aku meminjamnya?” Baekhyun Hyeong tiba-tiba datang dan berusaha merebut buku Minhye.

“Tidak,” tolak Minhye keras. “Jangan yang ini. Aku punya versi bahasa korea di rumah. Aku akan meminjamkan yang itu.”

“Kenapa?” protes Baekhyun Hyeong. “Aku ingin membaca versi aslinya.”

“Memangnya Hyeong bisa berbahasa inggris?” sindir Sehun.

Baekhyun Hyeong  menggeleng, “Aku akan meminta Kris Hyeong menerjemahkan.”

“Tidak akan,” lagi-lagi penolakan untuk Baekhyun Hyeong yang berasal dari sudut ruangan –Kris Hyeong.

Akhirnya Baekhyun Hyeong menyerah dan memilih untuk kembali menggila bersama Chanyeol. Di sisi Minhye, dia tengah mengelus novel Sherlock Holmes itu dengan sayang dan memasukkan ke dalam tas dengan hati-hati. Apakah buku itu barang antik yang sangat berharga baginya?

“Bagaimana, enak?”

Aku mengangguk kencang. Mulutku masih penuh brokoli rebus buatannya.

“Makan yang banyak dan tumbuh tinggi, Kyungsoo-ya. Menu buatanku adalah menu diet yang enak. Jadi, tenang saja. Coba yang itu!” dia menunjuk nuget sayuran.

“Iya… ini enak. Kamu mau makan juga?” tawarku.

Dia mengangguk kencang dan membuka mulutnya. Bukankah artinya dia memintaku menyuapinya? Hening, sekelilingku tiba-tiba berubah hening. Tidak ada suara musik dan teriakan Luhan Hyeong dan Jongdae. Tidak ada juga pekik girang Lay Hyeong yang terlalu bahagia. Waktu berhenti.

“Suapi!Suapi!” tiba-tiba suara itu memenuhi otakku.

Tanganku gemetar saat mengambil makanan yang dia mau. Hasilnya, aku tidak kunjung bisa mendapatkannya. Seperti penjinak bom, keringat mulai bercucuran di pelipisku. Panas sekali. Tidak mungkin pendingin ruangannya mati.

“Tsk… kalian berdua,” decak Junmyoeng Hyeong membuatku menghentikan pergerakan ujung sumpit menuju mulut Minhye. “Minhye-ya, ponselmu berbunyi.”

Alhasil, Minhye menjauhkan wajahnya dari makanan yang aku sodorkan. Ya Tuhan. Memalukan,  sangat memalukan. Setelah tersadar dengan pipi yang memanas, aku baru tahu kalau mereka semua menatapku selidik. Mereka melihat kebodohanku tadi.

Yeoboseyo,” sapa Minhye pada penelepon di seberang. “Ne, Oppa. Aku akan pulang sekarang. Aku hanya bermain sebentar dengan Junmyoen Oppa dan yang lain. Aku tahu. Aku mengerti, Minho-ssi.”

Ttak!

Sumpit di genggamanku patah.

To be  continued…

Author’s note:

Beberapa menit berlalu dan Minhye belum juga kembali. Rapper SHINee bermata besar itu masih setia menunggu di dalam taksi. Sesekali dia akan mengajak supir taksi mengobrol. Sekedar untuk mencairkan suasana. Namun, obrolan hangat mereka terintrupsi orang dering pendek ponsel  yang tidak Minho kenali.

“Bocah itu meninggalkan ponselnya,” gumam Minho ketika menemukan sebuah ponsel berwarna putih  di sebelahnya.

Ekspresi wajahnya berubah ketika melihat layar ponsel. Ponsel itu kembali berdering pendek –tanda pesan masuk. Rasa penasaran Minho membuatnya membuka salah satu dari beberapa pesan dari pengirim yang sama itu. Ekspresinya kembali menunjukkan ketidaksukaan atas isi pesan.  Atau mungkin pengirimnya.

Ahjeossi, bisakah saya meminta bantuan?” tanya Minho dengan ramah.

“Bantuan apa?”

“Saya bisa meminta nomor pribadi Ahjeossi. Saya berencana kembali menggunakan jasa Ahjeossi nanti untuk berkeliling. Lebih mudah jika menghubungi Ahjeossi secara langsung.”

Pria paruh baya itu tersenyum senang. “Tentu saja!”

“Dan juga.  Bisa tolong simpankan ponsel ini? Berikan pada gadis yang bersama saya saat dia akan pulang. Katakan saja ponselnya tertinggal.”

“Tentu saja bisa. Saya akan melakukannya.”

Minho mengucapkan terima kasih beberapa kali dengan senyum sumringah. Sebelum memberikan ponsel yang dia temukan kepada sang supir. Dia mengaturnya agar tidak bersuara jadi Minhye tidak menyadari apapun.

“Ini,” Minho menyerahkan ponsel itu. “Terima kasih, Ahjeossi.”

Editor: Minhye Harmonic