Tags

,


Strange Girl

|| Chapter One || Chapter Two || Chapter Three||

JOAH –Strange Girl “Chapter Four”

Sorry for typo.

Junmyeon Hyeong dan Jongin tidak kunjung pulang. Mereka memang tidak pulang bersama kami tadi. Kedua pemuda itu dan Kyuhyun Hyeong pergi ke rumah sakit bersama. Mereka memang harus ke rumah sakit segera karena seorang gadis bernama Choi Minhye tadi siang dilarikan ke sana. Jangan tanya mengapa! Aku hanya tahu sepertinya semua itu karenaku.

Member yang lain satu per satu mulai memasuki kamarnya. Kris Hyeong dan Lay Hyeong-lah yang pertama tadi. Setelah membersihkan diri dan mengisi perut hingga penuh, hawa kantuk menyerang. Aku sebenarnya  sangat mengantuk. Tetapi tidak mungkin aku tidur jika masih banyak hal yang  mengganjal seperti ini.

Aku ingat dengan  jelas bagaimana ekspresi wajah Minho Hyeong saat melintas di hadapanku  setelah kembali dari mengantar Minhye. Tatapannya itu seolah ingin  membunuhku, mungkin seperti itu. Jonghyun Hyeong yang sempat satu lift denganku saat menuju lobi untuk pulang saja bertingkah canggung. Dia memang tidak memelototiku. Dia  tersenyum padaku. Sayangnya senyumnya itu aneh. Dia juga tidak mengajakku mengobrol sepanjang perjalanan turun  lift. Tidak seperti biasanya.

Mengingat semua itu  semakin membuatku  yakin  bahwa Minhye masuk rumah sakit karenaku. Dia pingsan seperti itu karenaku. Tetapi, apa yang aku lakukan? Semua hal ini membuat aku gila. Kalau terjadi sesuatu yang fatal dengan Minhye maka aku yang harus bertanggung jawab. Oh Tuhan.

“Ada apa denganmu? Hyeong…,” Sehun berdiri di depanku dengan segelas air di tangannya.

“Sehun-ah,” aku merengek.

Sehun memandangku aneh, mengejek sepertinya. “Apa? Mengapa Hyeong bertingkah seperti itu?”

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Tentang apa?” dia meneguk air dalam gelas sedikit demi sedikit. “Apa yang harus Hyeong lakukan?”

Aku menggeleng, “Aku juga tidak tahu.”

“Tsk…,” dia berdecak kesal. “Sudah larut. Tidurlah Hyeong!”

“Aku akan menunggu Jongin dan Junmyeon Hyeong.”

Sehun memanyunkan bibirnya. “Baiklah… aku tidur duluan.”

Sehun meletakkan gelas yang telah kosong sembarangan. Bocah itu suka seenaknya saja. Dia hafal  betul jadwal bibi pembersih rumah yang memang akan datang besok pagi. Jadi ceritanya dia ingin membuat dorm berantakan agar bibi itu punya kerjaan.

Tluit…!

Reflekku sangat bagus. Tidak lama setelah bunyi kunci pintu yang terbuka, kepalaku menoleh dengan cepat. Mataku terfokus pada pintu yang perlahan terbuka sehingga menyebabkan lampu di depan pintu masuk menyala. Dua anak adam  yang aku nanti-nanti sejak tiga jam yang lalu menampakkan batang hidungnya.  Mereka harus menjelaskan semuanya padaku segera. Apapun kalimat yang keluar dari mulut mereka,  aku harus mendengarnya.

“Oh… mengagetkan saja!” pekik Junmyeon Hyeong setelah mundur selangkah dan tangan terposisikan memegangi dadanya.

“Mengapa belum tidur?” tanya Jongin setelah itu.

“Menunggumu dan Hyeong,” jelasku polos.

Jongin tertawa mengejek, “Hyeong ingin menanyakan sesuatu?”

“Menanyakan apa?” aku mengikutinya menuju dapur seperti anak itik yang mengikuti induknya.

“Aku  akan mandi dulu,” Junmyeon Hyeong berjalan menuju kamar mandi.

Kami berdua mungkin hanya mengangguk ringan sebagai jawaban. Sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak, kami sempat mengira Junmyeon Hyeong  tidak ada di antara kita. Aku spontan menghela napas begitu terdengar air berjatuhan dari shower dan menghantam lantai keramik kamar mandi. Terdengar cekikik Jongin kembali kemudian.

“Apa?” lagi-lagi aku bertanya dengan polosnya.

“Aku pikir Hyeong hanya bertingkah seperti ini…,” dia membulatkan matanya  dan bertingkah seperti orang kebingungan. “Di depan para fans,” tambahnya.

“Bertingkah apa?” Dia membuatku bingung.

“Mata membulat, tatapan sedikit kosong dan mendekati ke arah memelas atau kebingungan. Menengok kiri kanan seperti anak kecil kehilangan ibunya. Atau menatap lawan bicara seperti  Push in the Boots.”

Aku menautkan alisku, “Aku seperti itu?”

Ne, setiap saat. Dan Hyeong melakukan itu sekarang. Jadi, ada apa?”

“Itu tentang –.”

Belum sempat aku membuka mulut untuk kataku selanjutnya, Jongin memotong. “–Minhye? Dia baik-baik saja. Besok pasti sudah siuman dan  kembali seperti semula.”

“Mengapa dia –?”

“–Udang,” potong  Jongin lagi. “Dia  alergi udang, alergi yang parah.”

“Berarti karena spaghetti dariku?”

Jongin nyengir kuda, “Tepat. Tenang saja, ini  semua bukan karena Hyeong. Bocah itu saja yang ceroboh. Bagaimana dia tidak bisa mengenali aroma dan rasa bahan makanan ‘terlarang’untuknya itu? Sebenarnya, dia juga akan mengenalinya hanya dengan melihat potongan-potongan udang itu di spaghetti yang Hyeong buat. Dasar bocah bodoh dan ceroboh.”

Ocehan Jongin terdengar samar-samar. Seperti suara gema yang berasal dari pantulan gelombang terakhir, sehingga suaranya samar dan tidak terlalu jelas. Aku shock, terkejut luar biasa karena kenyataan bahwa aku memang yang menyebabkan Minhye seperti itu. Aku hampir saja membunuhnya.

Hyeong,” Jongin mendorong pundakku. “Tidak perlu  khawatir. Dia tidak mati, untungnya.”

“Aish…,” aku memelototinya.

“Wow,” dia menjauhiku seperti ketakutan. “Hyeong bisa melotot garang juga. Menyeramkan ternyata.”

Aku menghela napas, “Aku akan tidur duluan. Jalja!”

Berat rasanya kaki ini melangkah menuju kamarku –kami. Rasanya seperti ada dua –orang- hantu bergelayutan di sana, terseret-seret bersama kakiku. Tambahan, ada yang menduduki tengkukku dengan santai.  Terkesan horror bukan? Semua itu hanya caraku menggambarkan bagaimana kondisi sekarang. Tidak benar-benar terjadi.

Hyeong… besok  pagi sebelum ‘bekerja’ temani aku ke rumah sakit, eoh?” ajak Jongin.

Aku memutar leherku perlahan, “Ke rumah sakit, menjenguk Minhye?” perjelasku.

Dia mengangguk kencang. “Tentu saja. Bukankah Hyeong harus meminta maaf karena hampir membunuhnya?” Jongin menahan tawa.

“Benar juga. Baiklah,” jawabku datar.

Aku kembali melanjutkan perjalananku menuju tempat yang akan membawaku mengarungi mimpi. Semoga dengan bermimpi, aku bisa melupakan semuanya. Mengobrol dengan Jongin bukannya membuatku lebih baik. Dia memperparah keadaan. Aku sadari dia hanya menggodaku, hanya saja candaannya itu ada benarnya juga. Orang tuanya pasti akan membunuhku. Tidak. Kyuhyun Hyeong yang akan melakukannya terlebih dahulu. Atau…

-Chapter Four-

Hyeong pergilah dulu, kamar 108 lantai tiga. Aku mau membeli sandwich dan susu,” Jongin mendorong punggungku.

“Bukankah kamu sudah sarapan tadi, kkamjong-ah?” Lay Hyeong berkacak pinggang.

Jongin mendengus, “Bukan untukku.”

“Baiklah, terserah kamu saja.”

Lay Hyeong mengajakku untuk segera pergi dan melakukan apa perintah Jongin. Kebetulan Lay Hyeong bangun pagi hari ini. Jadi, untuk  memanfaatkan waktunya dia memilih mengikuti kami ke rumah sakit. Member yang lain juga merengek untuk ikut, khususnya Jongdae Hyeong dan Tao. Seunghwan Hyeong langsung mengomel sehingga mereka mengurungkan niat mereka.

Bagaimana kami pergi? Tentunya dengan penyamaran super dan ini baru jam lima pagi. Pengguna bis dan penghuni kota lainnya yang berkeliaran di luar masih bisa dihitung dengan jari, bahkan tidak ada sama sekali. Hari ini minggu, mereka pasti memilih bermalas-malasan dan melanjutkan tidur mereka. Untuk pulangnya nanti,  Seunghwan Hyeong dan yang lain akan menjemput.

Cukup menyeramkan juga berjalan di lorong rumah sakit berdua saja seperti ini. Hawa sedikit dingin –untuk musim panas- dan aroma khas rumah sakit, sedikit menambah  kesan tidak nyaman. Memang ide yang bodoh mengunjungi rumah sakit pada jam  segini. Jam besuk pun belum buka. Entah bagaimana Jongin bisa mendapatkan izin dari keamanan rumah sakit dan perawat di bagian resepsionis.

“Ini kamarnya,” pekik Lay Hyeong.

“Apa iya?”

“Kamar 108 bukan?”

“Iya,” aku  memperhatikan angka dan juga nama pasien yang terpampang jelas di pintu. “Choi Minhye. Benar  ini kamarnya.”

Kajja, pelan-pelan. Siapa tahu dia masih tidur.”

Perlahan aku membuka pintu, hanya sedikit untuk memberi akses sebelah mata ini mengintip. Dia tidak ada di tempat tidurnya. Infusnya juga tidak ada di sana. Ke mana perginya? Aku jadi berpikir dua kali untuk masuk. Siapa tahu Jongin mengerjai kami. Ini adalah kamar ‘Choi Minhye’ yang lain.

Aigoo… mengapa belum masuk?” Jongin mengagetkan.

Lay Hyeong menggeleng. “Aku tidak tahu. Kyungsoo tidak kunjung membuka pintu dari tadi.”

“Tsk…minggir,” dengan sedikit kasar dia mendorongku.

“Yak!” teriakku tertahan.

“Ssst… mian,” Jongin meraih gagang pintu dengan tangannya  yang bebas dari kantung makanan. “Minhye-ya!” panggilnya.

Pintu terbuka lebar. Pemandangan seorang pemuda yang tengah tertidur di sofa dan seorang gadis yang duduk berjongkok memperhatikan wajah pemuda yang tertidur itu menyambut kami. Kini gadis itu memandang kami  dengan tatapan ingin membunuh.

“Kalian ini berisik sekali,” omelnya.

“Berisik katamu?” nada suara Jongin meninggi.

Minhye beranjak dan menghampiri Jongin. “Kamu diamlah!” tangannya  membekap mulut Jongin dengan susah payah. “Minho Oppa sedang tidur. Jangan berisik!” bisiknya dengan penekanan di setiap katanya.

“Memm…,” suara Jongin tidak bisa keluar.

“Diam!” Minhye mencubit Jongin. “Kalau mau berisik di luar. Kajja!”

Minhye mendorong Jongin agar kembali ke lorong rumah sakit. Tentunya mulut Jongin masih terbekap. Aku dan Lay Hyeong hanya terdiam dan menjadi penonton yang setia. Gadis ini adalah pasien rumah sakit saat ini. Dia terlihat pucat dengan bintik-bintik merah di wajah dan tangannya. Tetapi tenaganya  seperti orang sehat.

“Akh…,” pekiknya.

“Infusnya,” tunjuk Lay Hyeong.

Jongin memundurkan kepalanya agar bekapan  Minhye lepas. “Dasar bodoh. Bukankah kamu sedang sakit?”  Jongin mendorong tiang penyangga infus untuk mendekat ke Minhye. “Lihat! Berdarah ‘kan?”

“Hanya sedikit,” elak Minhye.

“Kamu ini. Apa hobimu membuat orang lain khawatir?”

Minhye terlihat kesal, “Tidak sama sekali.” Minhye mengangkat tangannya yang bebas dari infus.

“Akh!”  jitakan sekuat tenaga mendarat di kepala Jongin.

“Temani aku jalan-jalan. Bosan berada di kamar terus, pegang ini!”

Bak putri kerajaan Inggris, Minhye memerintah Jongin membawakan tiang infusnya. Dia juga menggerakkan jarinya dengan angkuh meminta aku dan Lay Hyeong mengikutinya. Jongin terus menerus menggerutu  tanpa suara. Sedangkah Lay Hyeong kebingungan,  tertulis jelas di wajahnya. Ini seolah pertemuannya yang pertama dengan Minhye. Jadi, selama ini apa yang dia lakukan saat Minhye bertingkah sok kuasa di hadapan kami –EXO, SHINee, dan Super Junior.

-Chapter Four-

Minhye duduk dengan tenang di kursi taman rumah sakit. Matanya terpejam sempurna, mungkin tengah tertidur. Dia melakukan itu  dimulai saat dia duduk di kursi taman, sekitar dua puluh menit yang lalu. Mendiamkan kami bertiga seolah kami tidak ada. Herannya, kami juga terdiam seribu bahasa. Tanpa sadar berusaha untuk  menjaga suasana tetap tenang sehingga Minhye bisa menikmati pagi tenangnya.

“Yak… sampai kapan kami harus diam seperti ini?” Jongin angkat bicara.

Minhye membuka matanya, “Siapa yang menyuruh kalian diam?” tanyanya seolah tidak tahu.

“Tidak ada,” jawab Lay Hyeong.

Tepat sekali, ti-dak a-da. Lalu, mengapa kami harus protes?

“Benar kata Lay Oppa,” Minhye kembali memejamkan matanya. “Mengobrollah sesuka  kalian.”

“Minhye-ya,” panggilku dengan volume minimum.

“Emm?” dia membuka matanya dan menatapku yang duduk di hadapannya.

“Maaf soal spaghetti itu.”

Dia tertawa kecil, “Tidak apa-apa. Bukan salahmu, Kyungsoo-ya. Aku sengaja memakannya karena sudah lama aku tidak makan udang. Apalagi spaghetti yang kamu buat terlihat enak. Aku pikir tidak akan terlalu berpengaruh padaku dengan makan sedikit. Sayangnya aku tidak bisa menahan diri dan memakan semuanya.” Minhye menjulurkan lidahnya karena mengakui betapa nekadnya dia.

Jongin mendengus tidak percaya. Mulutnya terbuka lebar dan rahangnya mengeras. “Kamu sengaja?”

“Tentu…,” jawab Minhye enteng. “Kami pikir aku  bodoh dan ceroboh sepertimu yang tidak mengenali adanya udang di sana?”

“Bodoh,” Jongin kehabisan kata-kata.

“Kamu bahkan hampir mati karena kesengajaan itu,” tambah Lay Hyeong.

“Me-ning-gal Oppa, gunakan kata yang baik,” ralat Minhye. “Aku tidak akan meninggal hanya karena udang-udang kecil, bungkuk, dan amis itu.”

Lay Hyeong tetap terlihat serius. “Tetapi sesuatu yang buruk terjadi padamu.”

“Buktinya sekarang aku baik-baik saja,” Minhye tetap tidak mau kalah.

“Kamu yakin?”   tanyaku, aku masih  sangat khawatir.

Minhye tersenyum padaku, “Aku baik-baik saja, Oppa.”

“Sok manis sekali kamu. Jangan tebar pesona di sini.”

Minhye men-dead glare Jongin. “Diam kamu! Selalu saja berisik setiap mulutmu itu terbuka.”

“Kamu yang diam. Sakit parah pun tetap bisa mengoceh dengan lancar. Membuat orang khawatir saja.”

“Kalian mengkhawatirkanku? Kamu juga mengkhawatirkanku, eoh?” Minhye tersenyum menggoda. “Aku baik-baik saja kkamjong-ah, buktinya aku bisa melawanmu berdebat. Aku baik-baik saja.”

“Baik-baik apanya?”

Suara berat dengan napas terengah-engah  membuat kami beralih memusatkan perhatian kami padanya. Pemuda tinggi dengan potongan rambut cepak –tidak benar-benar cepak- berdiri tepat di belakang kursi yang diduduki Minhye dan Jongin. Dadanya naik turun tidak beraturan,  seperti habis berlari ke sana- ke mari.

“Apa yang kamu lakukan di sini dan bukannya beristirahat?” napasnya mulai normal.

Jongin tertawa renyah, “Minhye meminta untuk ditemani jalan-jalan.”

“Mengapa kalian membiarkannya?” tidak kearah bertanya, lebih mendekati membentak.

Oppa, aku bosan di kamar. Hanya mau menghirup udara pagi.”

“Minho Sunbae, dia yang memaksa kami,” jelas Lay Hyeong dengan sangat polos.

Aku hendak membuka mulutku dan  juga mengeluarkan pendapatku. Sayangnya, aku harus mengurungkan niatku itu. Aku merasa Minho Hyeong tidak menganggapku ada di sini. Alih-alih menatapku, dia akan memalingkan wajahnya atau menatap lurus pada Lay Hyeong.

“Kembali ke kamar, sekarang!” Minho Hyeong berjalan ke hadapan Minhye dan mulai memposisikan dirinya untuk menggendong Minhye.

“Jangan!” pekik Minhye. “Aku bisa berjalan sendiri. Oppa bisa lelah jika menggendongku hingga kamar.”

Anii… bagaimana kamu boleh berjalan jika kamu adalah seorang pasien rumah sakit yang masih dalam perawatan  ekstra?”

“Pakai kursi roda saja,” bisikku.

Minho  Hyeong  tak acuhkanku. “Jangan banyak membantah,” ditujukan untuk Minhye.

“Bukankah lebih nyaman  menggunakan kursi roda seperti kata Kyungsoo?” usul Lay Hyeong.Sunbae tidak terlihat dalam kondisi yang baik.”

“Seperti akan lebih baik jika aku berjalan sendiri,” Minhye segera berdiri.

Minho Hyeong mulai frustasi, “Kamu lagi sakit, dan hampir saja meninggal jika tidak segera dibawa ke rumah sakit. Kondisimu belum  membaik sekarang. Seenaknya keluar dari kamar, bermain-main seperti ini.” Minho Hyeong memperharikan selang infus yang tidak tersambung pada lengan Minhye. “Kamu seenaknya melepas infus begitu saja. Kamu sakit Minhye, sekarang kamu ini sakit.”

Oppa, aku baik-baik saja. Aku sudah kembali sehat seperti sedia kala,” Minhye mengambil celah antara Minho dan kursi taman lalu melangkah pergi.

“Aish.”

Minho Hyeong segera menyusul Minhye. Minhye yang notabenenya bertubuh kecil telah berada dalam gendongan Minho Hyeong dalam sekejap mata. Kami hanya tercengang dan tidak berniat melakukan apa-apa. Minhye meronta kecil, namun tatapan Minho Hyeong padanya membuat dia segera terdiam.

“Jongin-ah, bawa infus itu dan panggil perawat. Dia harus tetap diinfus.”

Mereka berdua berlalu begitu saja. Minhye mengalungkan kedua tangannya di leher Minho Hyeong. Wajahnya dia benamkan di pundak Minho Hyeong. Dia hanya terdiam. Tidak membantah seperti sebelumnya. Tidak menunggu lama, mereka lenyap setelah melewati  pintu kaca.

“Tsk… dia pasti menyukainya,” gumam Jongin dengan sebelah sudut bibir terangkat.

“Apakah Minhye dan Minho Sunbae berpacaran?”

Jongin menggeleng kencang, “Anii…

“Tetapi mereka terlihat begitu dekat.”

“Mereka memang begitu sejak dulu Hyeong.”

“Begitukah? Sangat aneh,” Lay Hyeong masih berusaha mencerna pengetahuan yang dia dapat hari ini. “Apakah  menurutmu ini tidak aneh, Kyungsoo-ya?”

“Aku tidak tahu.”

-Chapter Four-

Seingatku baru tadi pagi aku datang ke tempat ini dan memberikan kesan yang kurang baik bagiku. Dan dengan terpaksa aku harus kembali karena usul seseorang. Saat makan malam sehabis melakukan semua jadwal kami hari ini, kami melakukan sedikit permainan. Permainan ini  bertujuan untuk menentukan  waktu jenguk kami. Ya. Menjenguk Minhye. Karena tidak mungkin kami semua datang bersamaan. Pasalnya, jumlah pembesuk dibatasi tiap  harinya.

Mereka mengatakan aku beruntung, tetapi menurutku tidak sama sekali. Aku baru saja menjenguknya pagi ini. Lalu, sekarang aku datang lagi? Sehun, Tao dan Minseok Hyeong menjadi rekan setimku yang mendapat waktu jenguk malam ini. Sehun berjingkrak senang mendapat giliran pertama. Ini  semua memang idenya. Ide yang selalu menguntungkannya.

Annyeong haseyo,” Tao membuka pintu dan menjulurkan kepalanya.

“Oh… Tao Oppa!” teriak suara nyaring dari dalam.

Sehun mendorong Tao, tidak sabaran. “Night!” sapanya.

“Sehun-ah… kalian berdua?”

Anii… berempat,” Minseok Hyeong merangkulku seenaknya dan menarikku  masuk.

“Kyungsoo datang lagi?”

Ne…,” jawabku ragu. “Aku mendapat giliran malam ini.”

Sehun dan  Tao berlari kencang mendekati Minhye sehingga  kalimatku yang terakhir tenggelam dalam kegaduhan yang mereka ciptakan. Minhye hanya cekikikan melihat tingkah dua bocah itu. Mereka memang sama, maksudku kedua pemuda itu dan Minhye. Jalan pemikiran mereka sama. Otoriter, ceroboh, kekanak-kanakan dan yang lebih tepat untuk menggambarkan mereka adalah ‘aneh’.

“Kamu sendiri saja?” Minseok Hyeong mengambil tempat duduk di sofa dan bersandar dengan santai.

“Tidak juga. Sebelum Oppa datang, Noona menemaniku,” jelas Minhye.

Noona?” Tao ingin memastikan bahwa dia tidak salah dengar.

“Jieun Eonni,” pertegas Minhye.

Sehun memperhatikan  topi di atas meja dan juga jaket yang tergantung di tiang penggantungan. “Kyuhyun Hyeong juga?”

Anii… Evil-Kyu sedang keluar negeri. Itu barang milik Minho Oppa.”

Ketiga pemuda itu hanya ber-oh ria. Mereka tidak bertanya lebih jauh tentang alasan benda-benda Minho Hyeong ada di sini. Mereka lebih tertarik untuk menyodorkan beberapa makanan pada Minhye dan menceritakan hal lucu atau menarik yang mereka temui hari ini. Minseok Hyeong tidak terkecuali. Dia tetap bergabung dengan obrolan mereka walaupun memilih duduk di sofa, bukannya  duduk di atas tempat tidur seperti Sehun dan Tao.

Waktu terus berlalu seperti ini. Dengan aku yang sesekali tertawa menonton aksi mereka. Sesekali memperingati mereka untuk tidak berisik. Minseok Hyeong berpindah posisi duduk di sekitar tempat tidur Minhye setelah mendapati kursi yang menganggur. Apa yang mereka lakukan? Permainan yang sama dengan yang kami lakukan setelah makan malam. Bermain dengan makanan, memilih stik dengan ujung  coklat atau stik biasa. Banyak cara memainkan makanan ringan yang satu itu.

“Yak… kita kehabisan stik coklat. Ini semua karena kalian memakannya,” gerutu Minseok Hyeong.

“Aku haus,” Sehun melirik Tao. “Kajja beli minum. Aku mau jus.”

“Aku juga,” Tao segera turun  dari ranjang.

Minseok menatap Minhye, “Kamu mau minum apa?”

“Jus juga, leci.”

“Baiklah… Kyungsoo-ya, kamu tinggal di sini. Aku rasa untuk menemani Minhye.”

Ne,” jawabku singkat, padat.

Tidak memperlukan waktu yang banyak untuk mengosongkan ruangan ini, maksudku dengan menyisakan aku dan Minhye. Mereka dengan semangatnya pergi hingga melupakan ‘penyamaran’ mereka. Bagaimana mereka di luar sana tidak menjadi obrolan antara aku dan Minhye. Kami hanya terdiam, menunduk dan melakukan sesuatu pada jari masing-masing.

Detak jam dinding, suara sirine, bunyi roda pada ranjang yang terdorong melintasi lorong dan derap langkah terburu-buru beberapa orang di luar menjadi musik latar kebisuan kami. Sesekali aku akan melirik Minhye,  dia memilih infusnya sebagai pusat perhatian. Dia mungkin sedang menghitung berapa tetes infus yang mengalir ke dalam tubuhnya tiap menitnya. Sepertinya memang kurang kerjaan. Nyatanya memang tidak ada yang bisa dikerjakan.

“Heuh…,” dia bersuara.

Aku menegakkan kepalaku. Setidaknya ada  alasanku untuk menatapnya sekarang. Bukannya hanya mencuri pandang seperti  beberapa saat lalu.

“Ada apa?” tanyaku penasaran.

“Aku bosan,” rengeknya.

“Maafkan aku.”

“Mengapa kamu meminta maaf?” dahi Minhye berkerut.

“Karenaku kamu harus masuk rumah sakit dan berujung bosan seperti ini. Ah… bukan  bosan yang menjadi masalah, tetapi –.”

Minhye cekikikan, “Terima kasih banyak.” Dia duduk bersila di atas ranjang  rumah sakit. “Sudah aku bilang, aku melakukannya dengan sengaja.”

“Sengaja?”

“Emm… dengan sedikit pengorbanan ini, aku menemukan sedikit harapan. Menyakiti raga demi mendapat kepuasan batin. Apa aku terdengar seperti psikopat?”

Aku menggeleng. Dia sengaja melakukannya. Pengorbanan? Psikopat? Ini jadi menyeramkan.

“Hey… aku bukan psikopat. Mengapa ekspresi wajahmu seperti itu? Kyungsoo-ya!”

Aku tersentak, “Apa?”

“Aku menyukaimu…,” dia tersenyum sejenak kemudian segera merebahkan dirinya. “Aku menyukai ekspresi wajahmu itu. Lucu sekali,” dia tertawa terpingkal. “Kamu sepertinya ingin meninggalkan ruangan ini saat aku bilang ‘psikopat’.”

Dia kembali melakukannya, membuatku percaya akan kata-kata dramatis dan seriusnya. Mungkin  dia terlalu pintar berbicara atau aku yang terlalu mudah percaya. Sekali lagi aku terbawa alurnya dan tertipu mentah-mentah. Aku harus mengukir jelas dalam ingatanku bahwa jika dia berbicara serius itu berarti hanya tipuan liciknya. Lihatlah! Dia masih tertawa terpingkal-pingkal di sana karena puas membuatku berekspresi aneh.

“Heuh… aku pikir kamu benar-benar menyukaiku,” keluhku.

Dia berhenti tertawa seketika, “Apa?”

“Aku pikir kamu menyukaiku, sungguh-sungguh menyukaiku. Ternyata hanya lelucon,” volume suaraku mengecil.

“Soal itu, maaf… memang hanya lelucon. Aku tidak mengira kamu akan menganggapnya serius.  Tidak marah ‘kan?” Minhye mulai tidak enak hati.

Aku menegakkan kepalaku. “Padahal, aku sebenarnya menyukaimu juga. Tidak tahu sejak kapan. Sepertinya aku sangat menyukaimu,” ucapku dengan mantap dan berusaha tersenyum.

Minhye melotot tidak percaya. Pipinya merona merah bak tomat cherry. Wajahnya memang masih dipenuhi oleh bintik-bintik merah.  Namun aku yakin dengan sangat, bagian pipinya merona lebih merah. Bibir mungilnya terlihat bergerak kecil,  hendak mengucapkan sesuatu rupanya.  Aku menunggu beberapa detik, dia tidak kunjung berbicara. Padahal dia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.

Aku beranjak dari sofa, berjalan perlahan mendekatinya. Sesekali tersenyum dan menggaruk tengkukku yang tidak gatal sama sekali. Minhye hanya mesam-mesem . Dia salah tingkah, bingung antara bersembunyi di balik selimut atau turun dari ranjang dan berpura-pura meregangkan otot. Semakin aku mendekat, semakin tidak karuan dia.

“Aku sangat menyukaimu…,” ucapku berbisik di dekatnya. “Menyukaimu yang ternyata bisa juga tertipu!”

“Heuh!” dengusnya.

Aku ingin tertawa terpingkal-pingkal sepertinya. Aku tidak tahan melihat wajahnya beberapa  detik yang lalu. Ternyata begini rasanya mengerjai orang lain, menyenangkan. Haruskah aku meminta dia menjadi guruku? Belajar trik menipu darinya dan mempraktikannya pada member yang lain  khususnya Baekhyun Hyeong. Pemuda satu itu  kerap mengerjaiku seolah aku mainannya.

“Yak… puas?”

Aku mengangguk sembari mengusap sudut mataku yang tergenang. “Mengapa mereka lama sekali? Apa mereka terjebak fans?” alihku.

“Mana aku tahu,” jawabnya ketus. “Temani aku keluar!” perintahnya angkuh.

“Untuk apa?”

“Aku bosan,” dia memutar pelepas sekrup di tiang infusnya.

“Apa kamu boleh keluar kali ini?”

Minhye menunjukkan deretan giginya. “Sebelum Minho Oppa kembali, aku rasa boleh.”

“Tetapi nanti Minseok Hyeong dan yang lain kembali dan tidak menemukan siapapun.”

“Kyungsoo-ya, tinggal kirimi pesan. Beres bukan?” Minhye berhasil melepas tiang infusnya dan menjunjungnya menuju pintu. “Cepatlah sebelum Minho Oppa kembali bersama Cho Eomma!” dia terus memaksa.

-Chapter Four-

Jongin memintaku lagi untuk menemaninya menjenguk Minhye. Setelah tiga hari yang lalu hampir ditelan bulat-bulat oleh Minho Hyeong karena menuruti kemauan Minhye, aku memutuskan tidak akan pernah datang lagi.  Terbebas dari sikap Minho Hyeong di rumah sakit, bukan berarti sikapnya lebih  baik saat bertemu di perusahaan. Dia bertingkah dingin, khususnya padaku. Dia mungkin belum bisa menerima permintaan maafku karena  membuat Minhye seperti sekarang.

“Minho Hyeong mana?” tanyaku ragu.

Minhye mengigit buah apel dalam genggamannya. “Cho Eomma memintanya pulang karena dia terlihat sangat lelah. Oppa terlalu memaksakan diri. Tetap bekerja dan juga menjagaku.”

“Bukankah kamu menyukai itu. Dia akhirnya selalu berada di dekatmu,” sindir Jongin.

“Tidak sama sekali. Tidak jika dia sendiri akhirnya harus ikut dirawat.”

“Makanya jangan melakukan hal konyol lagi,”Jongin menyerahkan potongan  apel yang telah dia kupas padaku dan Minhye.

Minhye memperhatikan potongan apel pemberian Jongin. “Aku hanya kesal saat itu. Dan aku ingin tahu sesuatu,” gumamnya.

“Lalu kini kamu mendapatkan jawabannya? Apakah memuaskan?”

Minhye mengeleng, “Belum. Belum sepenuhnya memuaskan. Aku malah semakin bingung.”

“Jika membingungkan maka menyerah saja,” usul Jongin.

Aku tidak yakin paham dengan obrolan mereka. Mereka  sepertinya membicarakan hal yang berkaitan dengan perasaan. Aku hanya menebak, tidak benar-benar mengerti. Mereka memakai bahasa yang rumit. Tidak kusangka Jongin bisa menggunakan bahasa terstruktur seperti ini  dan memulai obrolan berat dengan Minhye.

“Sebelumnya Noona ke mari,” Minhye membelokan pembicaraan.

Ekspresi wajah Jongin berubah. Dia terlihat tidak tertarik. “Kamu mau lagi?” tawarnya.

Noona menanyakan tentangmu,” tambah Minhye. “Mengapa  kamu tidak membalas pesan maupun menjawab teleponnya. Ada apa denganmu? Apa terjadi sesuatu?”

“Aku akan ke toilet,” Jongin meletakkan nampan berisi kulit dan potongan apel di atas meja kaca lalu beranjak keluar ruangan.

“Bukankah di sini ada toilet?”

“Kyungsoo-ya, apa Jongin ada masalah? Apakah dia bertingkah aneh belakangan ini?” selidik Minhye.

Aku menggeleng, “Dia baik-baik saja.  Hanya sedikit pendiam sejak empat atau lima hari yang lalu.”

“Dia tidak bercerita sama sekali?”

Anii…”

Minhye menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa. “Minhye dan Jongin, sahabat seperjuangan. Terdengar aneh, sayangnya memang begitu kenyataannya. Aneh,” gumamnya dengan mata terpejam. “Mungkin aku harus menyerah.”

“Menyerah?” aku  hanya berpartisipasi dalam obrolan tanpa mengerti alur sama sekali.

“Menyerah dan membuka pintu bagi siapapun yang ingin masuk.”

Apa yang dia bicarakan? Menyerah dan membuka pintu bagi siapapun. Apakah semua ini tentang cinta?  Cinta yang penuh pengorbanan namun harus berakhir tanpa ada kepastian. Aku rasa seperti itu. Aku hanya menyimpulkan dari setiap perkataan mereka. Aku juga mulai mencoba menebak pemeran utama dalam pembicaraan mereka.

-Chapter Four-

Berdasarkan ucapan Minhye dua hari yang lalu, aku mulai memperhatikan Jongin. Dia memang jauh dari biasanya. Lebih suka terdiam. Kalau pun ikut bergabung dalam obrolan kami, dia hanya memposisikan dirinya sebagai pendengar. Tertawa jika diperlukan, mengeluarkan respon yang tepat jika diharuskan. Selebihnya dia memilih menyibukan diri dengan berlatih atau tidur lebih awal.

Kkamjong-ah!” panggil seseorang dari belakang.

Jongin tidak menoleh sama sekali. Sepertinya dia tidak mendengarnya karena earset yang terpasang di telianganya. Sebagai gantinya akulah yang menoleh. Jieun baru saja  keluar dari salah satu ruang latihan. Dia terus menatapku seolah memintaku untuk menunggunya. Karena seorang pelatih trainee menahannya tepat di depan ruang latihan yang sama.

“Jongin-ah!” aku menepuk pundak Jongin.

“Apa, Hyeong?”

“Jieun memanggilmu.”

Jongin melirik jam  tangannya, “Aku pergi dulu. Yang lain pasti sudah menunggu.”

“Mau ke mana?” bergantian menatapnya dan Jieun.

“Hari ini ada pemotretan dan entah apa lagi untuk F(x). Hyeong tahu  sendiri aku ikut berpartisipasi. Aku pergi!”

Jongin tidak menunggu jawabanku. Dia langsung berlari menuju lift dan beruntungnya langsung di sambut oleh lift itu. Dia kini meluncur turun. Meninggalkanku yang dihujam tatapan penuh tanya dari arah belakang.

“Jongin  pergi ke mana?” tanya Jieun padaku dengan wajah kecewa.

“Dia ada pemotretan dan harus pergi,” jelasku.

Jieun menghela napas, “Begitukah?”

Ne.”

“Aku pergi kalau begitu.”

Ne.”

Dia pun pergi meninggalkan sama seperti Jongin. Bedanya, dia sempat memberi salam sebelum membalik punggungnya. Aku tidak hanya tinggal diam memandang punggungnya pergi. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari member yang lain dan ikut bergabung. Mungkin bisa berlatih bersama Jongdae Hyeong. Atau sekedar mengobrol dan tertawa dengan yang lain.

Beberapa kali aku berpapasan dengan coordi SHINee yang sibuk bolak-balik. Tas-tas besar selalu menjadi barang bawaan mereka. Aku sempat mendengar dari Jongin bahwa SHINee akan memulai tour dan promosi mereka di Jepang untuk tahun ini. Belum lama setelah album terakhir dipromosikan, sekarang mereka harus ke negeri tetangga untuk promosi album baru mereka di sana. Kerja yang melelahkan namun memiliki kebanggaan sendiri.

Gamsahamnida.”

Riuh tawa menyapaku saat menemukan Jongdae Hyeong, Minseok  Hyeong, Chanyeol, Taemin, dan Jonghyun Hyeong mengelilingi seorang gadis bermarga Choi. Aku dengan mantap dan sedikit dipercepat berjalan menghampiri mereka.

“Oh… Kyungsoo-ya?” Minhye menatapku tidak percaya.

“Apa?”

Alisnya terangkat sebelah, “Lumayan. Walaupun terkesan sedikit memaksa.”

Mungkin maksudnya adalah rambut baruku. Aku baru menggantinya kemarin. Berwarna mendekati merah hati dengan terpangkas habis di bagian bawahnya. Temanya adalah bad guys, mengurangi sedikit image innocent-ku. Setidaknya dengan gaya rambut ini, aku  mungkin  akan  terlihat cocok dengan konsep album kami. Semoga saja.

“Kyungsoo-ya! Kimchi…”

Dia memotretku begitu saja. Chanyeol tertawa terbahak melihat ekspresi wajahku setelah kamera polaroid Minhye mencuri gambar wajahku dan menuangkannya dalam selembar kertas. Minhye masih mengibas-ngibaskan kertas  hitam dengan sisi putih  di tangan kirinya. Lima menit terdiam menunggu hasil. Dapatlah sudah.

“Tanda tangani di sini,” pintanya segera dengan fotoku dan spidol tersodor. “Cepatlah!”

“Yak… ini pemerasan,” perotes Taemin.

“Pemerasan bagaimana? Gunakan istilah yang benar,” Minhye memasang wajah polos. “Aku hanya meminta tanda tangan.Tidak lebih.”

“Tetapi kamu memaksa kami!” tambah Taemin.

Minhye melotot, “Aish… berisik.” Menatapku lagi. “Oppa, please.”

Mendengarnya memohon seperti itu aku menjadi tidak tega. Dalam benakku terngiang tingkahnya saat di rumah sakit itu. Suara di kepalaku mengingatkanku untuk tidak tertipu lagi rengekannya. Memberinya tanda  tanganku mungkin tidak akan masalah untuk saat ini. Ya. Aku memberikan tanda tanganku pada akhirnya.

Thank,” Minhye berjingkrak.

“Kamu sudah mendapatkan semua yang kamu butuhkan?” Sindir Jonghyun Hyeong.

“Sebenarnya aku masih butuh beberapa tanda tangan lagi,” Minhye menjulurkan lidahnya.

Chanyeol tiba-tiba tertawa, “Tidak lucu jika kamu mengoleksi tanda tangan kami untuk dijual.”

Hampir dalam waktu yang bersamaan kami melirik Minhye untuk mendapat jawabannya. Dia berdiri kaku seperti maling yang tertangkap basah mencuri. Menatap langit-langit, bersenandung dalam volume kecil, hingga pura-pura membersihkan lensa kameranya.

“Sudah kuduga,” gerutu Taemin.

Minhye nyengir, “Apa? Aku hanya mau menambah beberapa koleksi novelku. Aku ini bekerja juga, tahu!”

“Menjual kami untuk melengkapi koleksi novelmu?” Chanyeol cekikikan.

“Ralat, hanya tan-da tang-an. Lagian aku tidak sembarangan. Ini bisnis elit yang terorganisir  dengan baik. Sudahlah, aku mau mengirim paket,” Minhye berlalu.

“Mengirim paket?” Taemin mendesis kesal.

Minhye berbalik, “Oppa,  jangan lupa oleh-olehnya. Emm… titip Taemin dan Minho Oppa.” Dia melanjutkan langkah  kakinya yang tertunda.

Rrrt…!

Ponselku bergetar, pertanda pesan masuk. Choi Minhye, begitu yang tertera di layar ponsel.

-Chapter Four-

Latihan untuk persiapan album follow-up kami berakhir lebih cepat dari biasanya. Sesuai harapanku dan tentunya harapan yang lain juga. Aku segera membalas kembali  pesan Minhye beberapa saat lalu. Dia meminta tolong padaku  untuk menemaninya membeli buku di toko buku langganannya. Dengan jujur dia memintaku untuk menemaninya agar ada yang membantunya membawakan buku-buku super beratnya nanti. Aku tidak menolak karena malam ini tidak ada jadwal manggung atau sejenisnya.

Omo…,”  pekikku.

“Kamu kenapa?” tanya Luhan Hyeong.

Hyeong… aku akan kembali ke dorm sendiri nanti,”aku beranjak.

“Mau ke mana?” Kini Kris Hyeong yang ingin tahu.

“Menemani seorang teman. Aku pergi.”

Sebaiknya memang aku segera pergi. Selain untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan mereka berikutnya, juga karena alasan Minhye yang telah menungguku sedari  tadi di lobi perusahaan. Aku tidak enak hati membuat orang lain menungguku apalagi aku sudah menyanggupi sesuatu.

Aku memilih menuruni tangga dari  lantai lima  untuk sampai lebih cepat di lobi. Napasku sedikit kacau setelah mencapai anak tangga terakhir.  Aku berhenti sejenak,  mengatur napas dan merapikan penampilanku yang sedikit berantakan. Aku marasakan hal aneh dalam diriku. Apa ini?

Minhye tidak terlihat di mana-mana. Tidak pada kursi di sudut lobi, tidak ada di manapun. Aku berpikir mungkin dia menunggu di luar. Hasilnya tetap sama, dia tidak ada. Pesanku tidak dia balas sama sekali. Aku sempat ingin mencoba meneleponnya, tetapi aku mengurungkan niatku. Ke mana perginya gadis itu? Dia tidak mungkin membatalkan janji kami begitu saja. Beberapa saat lalu dia sudah mengiyakannya. Mungkin aku harus menunggunya. Aku memilih untuk menunggunya.

Tik…tok…tik…tok…

Waktu bergulir terus tanpa dapat dihentikan. Langit semakin gelap dan lampu-lampu gedung-gedung tinggi menyala dengan terangnya. Sejak tadi, satu persatu rekan setimku mulai meninggalkan perusahaan. Aku harus beberapa kali bersembunyi agar mereka tidak melihatku dan mulai bertanya ini-itu. Minhye tidak kunjung terlihat ataupun memberi kabar hingga jam makan malam berakhir.

Aku merebahkan diriku di sofa lobi. Cacing-cacing di perutku mulai meronta meminta jatahnya. Bekal yang biasanya aku buat sudah hilang tanpa bekas. Hanya tersisa wadah berwarna putih yang kotor oleh  lemak dan minyak. Aku kembali mengirimi Minhye pesan.

“Kyungsoo-ya!” panggil suara melengking.

Aku menegakkan kepalaku, cukup terkejut. “Ryeowook Hyeong.”

“Kamu tidak pulang bersama yang lain?” dia berjalan menghampiriku.

Ne.”

“Kamu menunggu seseorang?”

Ne,” jawabku lesu.

“Siapa?”

“Minhye,” bisikku.

Ryeowook Hyeong memasang ekspresi yang biasa. “Bocah itu? Aku rasa, tadi aku melihatnya dengan Minho.”

“Minho Hyeong?”

Ne… apa aku salah lihat? Seharusnya dia ada di Jepang sejak tadi siang.”

“Kapan Hyeong melihat mereka?”

Ryeowook Hyeong mencoba mengingat. “Sekitar jam lima tadi. Merek berdua berjalan bersama meninggalkan perusahaan.”

Jam lima sore. Itu adalah waktu janjianku dan Minhye. Jadi dia membatalkan janji tanpa memberi tahuku karena Minho Hyeong. Dia membuatku menunggu seperti orang bodoh karena Minho Hyeong. Huuh! Dada ini sesak.

“Kyungsoo-ya,” suara yang sangat aku kenal menyapa gendang telingaku. “Maafkan aku,” suara itu terdengar putus-putus.

Hyeong… aku pulang duluan. Permisi,” aku membungkuk hormat dan berlalu tanpa mempedulikan orang yang baru saja meminta maaf padaku.

To be continued…

Author’s Note:

Minhye membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa berat dan penglihatannya berkunang-kunang. Sekujur tubuhnya terasa nyeri, panas dan gatal. Tetapi dia merasa lega saat mengambil napas, tidak seperti saat sebelum dia pingsan. Minhye memperhatikan sekitar, serba putih dengan sorotan cahaya matahari dari luar.

Perhatiannya sekejap teralih pada sosok tubuh jangkung yang tidur tertekuk pada sofa hijau di sisi lain ruang rawatnya. Senyum terukir dengan sempurna di wajah Minhye saat mengenali sosok itu. Dia perlahan turun dari ranjang rumah sakit. Berjalan menghampiri pemuda yang tertidur itu dengan selimut yang dia seret-seret.

Dia perlahan menyelimuti tubuh jangkung itu, hampir dalam napas yang tertahan. Melakukannya dengan perlahan agar tidak menganggu pemuda jangkung itu. Pemuda itu terlihat sangat lelah. Minhye mengakui semua itu karenanya.

Oppa,” bisik Minhye perlahan.

Dia memilih berjongkok di hadapan wajah pemuda bermarga Choi itu dan memperhatikan wajahnya dalam posisi yang sangat dekat.

“Choi Minho, Choi Minhye… terdengar serasi bukan?” bisiknya lagi. “Maaf membuat Oppa khawatir dengan kesengajaan ini. Aku hanya kesal karena Oppa tidak pernah menyentuh bekalku. Aku tidak tahu apa alasan Oppa,” Minhye terdiam sejenak. “Apakah Oppa masih melihatku sebagai gadis kecil yang selalu merengek pada Oppa? Apakah semua perhatian Oppa saat ini hanya karena aku adalah si gadis kecil, adik kesayangan Oppa?

Aku menyukai Oppa. Oppa tahu itu. Lalu apa yang aku tahu? Dalam posisi yang mana aku harus menempatkan arti semua sikap Oppa ini? Mungkin akan lebih baik jika Oppa sendiri yang menjelaskannya padaku.”

“Minhye-ya!” panggil seseorang berbarengan dengan pintu yang terbuka.

“Tidurlah yang nyenyak, Oppa,” ucap Minhye sebelum menghampiri tiga pemuda yang berdiri di depan pintu. “Kalian ini berisik sekali.”

Minhye dan Jongin  mulai berdebat di depan pintu tanpa peduli Minho mungkin akan terbangun. Namun sebenarnya tanpa mereka sadari, mata besar itu  terbuka. Minho tidak pernah tidur.  Dia mendengarnya. Dia mendengar semuanya sejak awal.

EDITING BY

Minhye Harmonic