Tags


그것을 잊지

Title                       : 그것을 잊지 (Lupakanlah)

Author                  : Miss Fox

Main Casts          : Choi Minho|OC

Support Casts    : –

Genre                   : Romance

Length                  : Vignette

Rating                   : Teen

Disclaimer          : Plot is mine, really mine.

Author Note      : Holla  aku kembali lagi.  Tsk… tidak kenal? Chanyeonie Imnida.

Warning            :  FF gag jelas. Mungkin akan membingungkan. Feeling tidak mengena. Maaf #bow

 ..::..::..

“Selamat ulang tahun, Song Jihyeon!”

Teriakan kencang itu berhasil membuatku terkejut. Aku segere berlari ke beranda rumah. Boneka beruang berwarna merah muda tergeletak begitu saja di sampingnya. Boneka itu sangat besar, hampir mendekati tinggi badannya. Di tangan kirinya pendar cahaya-cahaya kecil terlihat seperti terbang di udara. Tetapi yang  paling mengejutkan adalah senyumannya yang tidak pernah membuatku bisa melupakannya. Senyuman indah yang hanya dimiliki ‘Oppa-ku’.

Begitulah sepenggal kisah indah yang dia berikan padaku tahun lalu. Aku tidak akan lupa bagaimana tawaku malam itu. Semuanya serasa baru saja terjadi kemarin. Kenangan yang masih baru. Kenangan yang sangat berharga bagiku. Kenangan yang selalu membuatku bersyukur karena dua puluh dua  tahun yang lalu aku dilahirkan hari ini.

Aku  duduk dengan manis di salah satu kursi yang  mengelilingi meja bundar penuh dengan makanan. Semuanya makanan manis yang sangat aku sukai. Aku sudah menandai beberapa kue  yang harus masuk ke mulutku. Aku sudah tidak sabar. Tetapi dia memintaku menunggu, maka aku akan menunggu. Bukan menunggu waktunya makan, melainkan menunggu kejutan darinya.

“Jihyeon-ah, tutup matamu. Bukankah aku bilang untuk menutup mata dan jangan mengintip? Tunggu di situ, jangan bergerak kemanapun. Eit… jangan mengintip kataku!” dia terdengar mulai kesal.

Tidak mungkin seorang Song Jihyeon menurut begitu saja. Semakin dilarang  maka semakin senang  hati  melanggar. Karena itu Minho Oppa selalu kesal dan aku senang melihatnya. Dia terlihat lucu saat kesal. Mata besarnya yang melotot dan gerak tubuhnya yang tidak bisa diam karena menahan kesal, selalu berhasil mengocok perutku. Ya. Begitulah ‘Oppa-ku’.

“Kenapa tertawa?” dia memelototiku. “Tsk… kapan kamu akan mendengarkanku? Tutup matamu itu.”

Lihatlah! Kesabarannya hampir hilang. Aku kembali tidak dapat menahan tawaku. Jika dia tidak memelototiku lagi, mungkin aku akan tertawa terpingkal-pingkal sekarang. Bagaimana tidak? Dia menghentak-hentakan kakinya dan terus merengek agar mata itu tertutup.

“Yak… kamu ingin membunuhku karena mati kesal, eoh? Bagaimana ini semua bisa menjadi kejutan untukmu?”

Ingin sekali aku menjawab bahwa semua ini sudah membuatku terkejut. Tetapi berkata seperti itupun tidak akan berpengaruh. Dia akan tetap mengomel  karena kejutannya tidak pernah menjadi kejutan yang sesungguhnya.

“Duduklah yang manis,” perintahnya.

Aku mengangguk kencang. Dia terlihat puas dengan jawabanku.

“Ingat, jangan lipat kelopak mata itu sebelum aku perintah. Aku mohon,”

Lagi-lagi anggukan kencang itu membuatnya tersenyum bahagia. Dia mungkin berpikir, akhirnya gadisnya itu menurutinya juga. Walaupun dengan susah payah dan beberapa kali harus menelan kekesalan.

Lama menunggu dalam diam. Minho Oppa tidak kunjung muncul dengan kejutan yang dia maksud. Tangan dan kaki ini mulai tidak bisa  diam. Mengetuk-ngetuk meja dan menghentak-hentak tanah, sekarang kesabarankulah yang tengah diuji.

Duarrr…!

Ledakan hebat di udara membuat jantungku hampir saja berhenti berdetak. Percikan-percikan bunga api berwarna-warni menghiasi langit hitam  bersama sang bintang. Indahnya. Terus berulang, kembang api itu beberapa kali meluncur di udara dan meledak di sana. Percikan-percikan itu kembali membuatku berdecak kagum.

“Jihyeon-ah… buka matamu, bodoh!” teriak Minho Oppa.

“Ah… sekarang sudah boleh?”

“Song Jihyeon,” eja Minho Oppa.

“Aku tahu, hanya bercanda. Wuah… Indahnya. Lagi!”

“Lagi… sudah tidak ada lagi.”

Mwo? Kejutan macam apa ini? Payah,”

Minho Oppa memutar bola matanya. Kali ini  dia berusaha tak mengacuhkan semuanya. Emosinya harus terjaga demi lancarnya rencana yang telah dia susun untuk malam ini. Rencana yang telah lama aku ketahui. Aku tidak tahu, apakah aku harus senang atau sedih dengan rencananya itu? Kedua pilihan itu seperti buah simalakama bagiku.

“Song Jihyeon,” dia berlutut.

“Apa yang kamu lakukan?”

Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. “Kamu tahu, hal apa yang paling aku syukuri di dunia ini?”

Mwo?”

“Kelahiranmu  dua puluh dua tahun lalu,” jelasnya sembari mengedipkan matanya padaku.

Nde? Apa kamu sakit, Tuan Choi?”

Dia melotot, “Biarkan aku menyelesaikan ini.”

“Baiklah.”

“Ehem…,” dia melirikku sejenak sebelum kembali memejamkan matanya untuk mengumpulkan keberanian. “Song Jihyeon… sejujurnya aku sudah kehabisan akal untuk membuatmu terkejut dengan kejutan-kejutanku setiap tahun, tidak, setiap harinya.” Kekehan nyaring membuat dia kembali memelototiku. “Jadi, sekarang aku akan memberikan kejutan terakhirku.”

Aigoomwo?”

“Menikahlah denganku, Nona Song,” ucapnya mantap.

Dia mengatakannya, akhirnya dia mengatakannya. Aku tidak dapat menyembunyikan keterkejanku kali ini. Dia akhirnya mengucapkan kalimat yang selalu membuatku bimbang itu. Jawaban apakah yang akan dia dengar? Jawaban apakah yang harus aku dengar? Jawaban apakah yang akan keluar dari bibir mungil itu?

“Jieun-ah, apa aku bermimpi?”

Anii, Eonni,” senyum ini terukir begitu saja di wajahku.

“Ini bukan mimpi, bodoh,” Minho Oppa menarik hidung itu. Hidung yang sama dengan yang aku miliki. “Maukah kamu menjadi Nyonya Choi?” ulangnya.

Minho Oppa menggenggam tangan gadis itu. Gadis yang telah bersamaku sejak aku di dalam kandungan. Gadis yang ditakdirkan lahir  di dunia ini   bersamaku. Gadis yang ditakdirkan tumbuh bersamaku. Gadis yang ditakdirkan menjadi diriku. Namun, seiring berjalannya waktu takdir kami yang selalu sama  berubah.  Dia ditakdirkan dicintai dan mencintai seorang Choi Minho sedangkan takdirku hanyalah mencintai Choi Minho dan berbahagia atas cintanya kepada Song Jihyeon, saudara kembarku.

“Aku rasa,”  Jihyeon terlihat berpikir. Aku tahu itu hanya pura-pura. “Tentu saja,” dia mencium pipi Minho Oppa.

Minho Oppa segera berdiri dan meraih Jihyeon ke dalam pelukannya. Dia mengangkat tubuh mungil Jihyeon dan memutar-mutarnya di udara. Aku tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang. Aku ikut tertawa bersama mereka. Tetapi aku merasakan sakit di dalam diriku. Kedua rasa itu seperti bertubrukan, bercampur aduk, menghancurkanku secara perlahan.

“Mengapa melamun?” wajah Minho Oppa berada tepat di depan wajahku. “Selamat ulang tahun, Song Jieun. Ini untukmu,” dia menyodorkanku kotak kecil berwarna biru. “Bukalah!”

Aku mengambil kotak itu perlahan, mungkin aku sedikit gemetar. Dia tidak melepas tatapannya dariku. Tatapannya seolah menyuruhku untuk segera membuka kotak itu. Perlahan aku menarik pita putih yang menghias kotak itu dan kemudian membuka tutupnya. Sebuah kalung dengan bandul sepasang merpati. Kedua merpati itu membawa sesuatu di paruhnya. Mereka membawa benda itu bersama-sama, sebuah hati perak.

Gomawo,” bisik Minho Oppa. “Aku juga bersyukur karena kamu lahir di waktu yang sama dengan Jihyeon.” Minho Oppa melirik Jihyeon yang kini sibuk mencicipi kue di atas meja. “Dan aku lebih bersyukur kamu tidak seaneh dia,” dia terkekeh. “Jieun-ah, terima kasih karena membawa Jihyeon ke dalam hidupku. Ada hal yang ingin aku akui,” dia menatapku serius. “Aku mencintainya, dan aku juga  mencintaimu. Aku mencintai kalian berdua.”

Nde?” apa yang dia katakan?

“Maaf karena membuatmu bingung sekarang,” dia kembali terkekeh. “Lupakanlah ucapanku. Kamu suka dengan kadoku. Tidak  spesial sama sekali, bukan?”

“Aku menyukainya,” jawabku terbata.

“Jieun-ah… selamat ulang tahun,” teriaknya tiba-tiba sebelum berlari menggoda Jihyeon.

Hal  bodoh apa yang baru saja dia akui? Dia mencintai Jihyeon dan aku? Apa itu masuk akal? Tentu saja tidak. Aku mengenalnya dengan teramat sangat, bahkan melebihi dirinya sendiri. Jihyeon  adalah segalanya baginya. Dia rela mempertaruhkan nyawanya asalkan setetes airmata jangan sampai mengalir di pipi Jihyeon.

Sempat terpikir di benakku, mengapa Jihyeon bukan aku? Aku terlebih dahulu mengenalnya dibandingkan saudari kembarku itu. Waktuku lebih banyak bersamanya dibandingkan Jihyeon. Dia bahkan lebih mengenalku dibanding Jihyeon. Terkadang terasa tidak adil. Aku dan Jihyeon hampir tidak memiliki perbedaan. Lalu, mengapa tetap memilih dia?

Haruskah aku berteriak untuk memintanya memilihku? Egoiskah aku jika merebutnya dari gadis yang lahir di dunia ini bersamaku? Atau Egoiskah aku jika menyakiti diri sendiri seperti ini? Tertawa dalam tangis, bahagia dalam luka, menari di atas deritaku sendiri. Sanggupkah aku melakukan itu semua. Sampai kapan? Tidak  ada yang tahu.

“Jieun-ah!”

Aku menegakan kepalaku. Mereka tersenyum sembari melambaikan tangannya padaku. Sesuatu sepertinya mengalir di pipiku. Aku tidak bisa menghentikannya. Dadaku tiba-tiba terasa sesak. Rasanya sebuah tangan kekar meremas paru-paruku. Aku rasa, aku akan meledak.

Jihyeon berlari ke arahku. “Ada apa denganmu? Mengapa menangis?”

Lidah ini kelu untuk menjawab.  Apakah ini batas diriku? sepertinya sesuatu ingin keluar dari tenggorokanku, tetapi sulit. Rasanya ada benda sebesar bola bekel yang mengganjal.  Membuatku hampir tidak bisa bernapas.  Di  dalam sana tersayat-sayat, perih.

“Jieun-ah, ada  apa?” nada khawatir Jihyeon membuatku membuka mataku.

Aku menggeleng kencang. Susah payah aku  mengangkat ujung-ujung bibirku ke atas. Mungkin terlihat janggal, setidaknya aku telah berusaha. Bukankah sebelumnya tidak ada yang tidak mungkin bagiku. Bahkan aku mampu  menabur garam di atas lukaku sendiri. Lalu mengapa aku harus lemah sekarang? Semuanya sudah berlangsung sejauh ini. Tidak seharusnya aku menyesalinya.

“Jieun-ah?” Minho Oppa berlutut  di hadapanku.

Mwo? Mengapa menatapku seperti itu?” tanyaku setengah terisak.

“Seharusnya kami yang bertanya. Mengapa kamu tiba-tiba menangis?” Jihyeon terdengar kesal kali ini.

Aku terkekeh setelah menatap Minho Oppa  sejenak. Aku tidak mengerti arti raut wajahnya itu. “Aku menangis karena bahagia. Eonni dan Minho  Oppa akhirnya akan bersama selamanya. Bukankah ini semua membahagiakan?”

“Cih… kamu melebih-lebihkan. Berhentilah bertindak berlebihan. Berhenti membuat kami khawatir,” Jihyeon menjitak kepalaku  dan berlalu. “Aku mau ke toilet. Jangan habiskan makanannya.”

Aku  mengangguk kencang dengan senyum  terkembang. Perlahan bayangan Jihyeon menghilang di balik pintu. Kini hanya ada aku dan Minho Oppa yang masih berlutut di hadapanku. Dia masih menatapku dengan raut wajah itu. Apa maksud tatapannya itu?

Oppa… selamat,” ucapku dengan riang.

“Selamat?”

Aku memalingkah  wajah, sepertinya airmataku akan keluar lagi. “Selamat karena Jihyeon menerima lamaranmu. Semua berjalan sesuai rencana bukan?” kalimat itu keluar berupa bisikan.

“Emm… sesuai rencana kita,” dia juga berbicara setengah berbisik.

Lama kami terdiam. Aku masih memalingkan wajahku darinya. Jihyeon belum juga kembali untuk  memecahkan kecanggungan ini. Sampai kapan kami akan menebak isi otak masing-masing?

“Kamu tidak ingin aku  menghentikan ini?”

Apa yang dia katakan?

“Sampai kapan kamu akan bertahan?”

Apa maksudnya? Mau tidak mau aku harus menatapnya. Melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa  kalimat tadi keluar dari mulutnya.

“Kamu akan tetap  seperti ini?”

“Apa…?” tanyaku ragu.

“Lupakanlah, ini salahku,” dia berdiri.

“Apa?” tanyaku lagi, penasaran dengan maksud perkataannya apalagi arti raut wajahnya itu.

Dia mengacak-acak rambutku. “Lupakanlah! Lupakan semuanya sekarang. Lupakan yang kamu rasakan sekarang. Mungkin sepertinya terlambat, tetapi tidak akan menyesal jika kamu melupakannya mulai sekarang. Ini yang terbaik untukmu.”

“Apa?” aku benar-benar tidak mengerti.

“Lupakan!” Dia menyentil dahiku, “Selamat ulang tahun. Jangan pernah menangis saat aku tidak ada di dekatmu.”

END