Tags


JOAH 1|| Chapter One || Chapter Two ||

JOAH: Strange Girl “Chapter Three”

This fiction still for you –OC-. Chapter special Miss and Mr. Moong moments.

-Chapter Three-

Aku  tidak ingat ini sudah hari yang keberapa sejak kami kembali tampil di panggung hiburan nan gemerlap. Kesibukan dan kesenangan ini membuatku lupa hari, jam, menit, dan detik. Aku hampir buta akan waktu. Aku hanya ingat akan akhir pekan, dimana kami akan menjadi pemuda-pemuda tampan dan keren yang membuat gadis-gadis menjerit. Aku tidak pernah bisa melupakan rasa bangga, bahagia, terhormat, dan… istilah apa lagi yang cocok?

Ada pengecualian untuk hari ini, aku ingat hari ini adalah hari Rabu. Sejak jam tujuh pagi  aku melakukan jadwal pentingku. Jadwal ini yang tidak boleh ditinggalkan karena akan berperan penting untuk karirku –khususnya- dalam dunia tarik suara. Youngmin Sajangnim memberiku kesempatan untuk mengambil peran dalam project album salah satu senior EXO. Aku tidak akan menolak dan mengecewakannya, tentunya.

Tidak kusangaka, jadwal ini dapat selesai dengan cepat. Hanya memakan waktu sekitar tiga atau empat jam. Lebih cepat dari yang biasa aku –dan EXO- lakukan. Tentu saja, karena  kami berdua belas dan bernyanyi dalam dua bahasa yang berbeda. Sangat melelahkan tetapi tetap saja menyenangkan. Pernyataan macam apa itu?

Kakiku dengan santai menapaki tiap guratan-guratan marmer dan petak-petak keramik yang menutupi seluruh permukaan lantai  bangunan berlantai delapan ini. Sepanjang perjalanan menuju lantai lima, aku tidak menemukan satupun member EXO. Rupanya mereka  sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ya. Sebelum jam tiga sore nanti, kami masih berpencar dan melakukan aktivitas masing-masing. Aku berani bertaruh Kris Hyeong tengah tidur di suatu tempat, Jongin dan Lay Hyeong mungkin berlatih menari, sedangkan Tao, Chanyeol dan Luhan Hyeong rencananya akan keluar berbelanja bersama.

Kami memang tengah menikmati hari bersantai kami sekarang. Jadwal tidak begitu padat. Kami diberikan waktu istirahat setelah beberapa hari ini harus bekerja keras untuk kejutan spesial bagi para fans kami. Hanya hari ini waktu kami bersantai. Setelahnya, kami harus menyiapkan tenaga dan mental ekstra.

Beberapa saat lalu aku memutuskan untuk memanfaatkan waktuku dengan berlatih, baik menari maupun menyanyi. Aku ingin lebih mengasah kedua-duanya. Mungkin suatu saat aku bisa sehebat Jongin dan Lay Hyeong dalam menari serta sehebat Baekhyun Hyeong dan Jongdae Hyeong  dalam sektor vokal. Bukannya aku serakah, aku hanya ingin mempersembahkan sesuatu yang terbaik atas nama EXO dan demi fans.

Aku menegakan kepalaku. Suara tawa itu membuatku merasa tidak nyaman. Ketidaknyamanan ini sama persis dengan yang aku rasakan  saat kembali dari Beijing beberapa hari lalu. Tawa itu terdengar semakin dekat, sepertinya berasal dari lorong di depan sana. Haruskah aku berputar dan mengurungkan niatku sebelumnya. Tentu saja tidak. Aku harus terus maju. Mengapa harus takut? Tidak ada hal yang menyeramkan sama sekali.

Oppa berposelah dengan benar. Tunjukan aegyo, palli!”

“Mengapa aku harus?”

Palli…  tanganku pegal terus seperti ini. Aku bilang lakukan aegyo!” dia membentak. “Joah… seperti itu. Tahan… oke. Get it!”

Apa yang sedang mereka lakukan? Kyuhyun Hyeong sepertinya hampir menangis menahan kesal. Sedangkan gadis yang tidak asing lagi itu tertawa renyah sembari mengibas-ngibaskan kertas berwarna hitam di tangan kanannya. Aku memutuskan untuk melewati  mereka tanpa mereka sadari.  Ruangan yang ingin aku gunakan berada di ujung lorong sana. Jadi hanya jalan ini satu-satunya.

Kepalaku tertunduk dan sedikit miring ke kiri  agar mereka tidak mengenaliku. Aku mempercepat langkah kakiku  satu meter sebelum tempat mereka berdebat. Paru-paruku hampir saja meledak karena terus menahan napas. Rasanya aku seperti tersangka pembunuhan yang harus menghindari  kejaran polisi. Oh Tuhan.

Tangan besar dan pucat mencengkram pundakku, memaksaku untuk menghentikan langkahku. Aku menghela napas kecewa, gagal. Tubuhnya yang sedari tadi tegang telah kembali melemas. Dan aku berusaha mengatur ekspresi wajahku agar terlihat natural.

“Oh…Hyeong?” tanyaku, padahal sebenarnya aku sudah tahu.

“Yak… ada apa denganmu? Terlihat begitu lesu dan tidak bersemangat hingga tidak menyadariku di sini.”

Aku tersenyum canggung, “Maaf Hyeong.”

“Tidak apa-apa, santai  saja,”  dia terkekeh. “Ah… kamu tidak ada jadwal hari ini?”

“Ada, mulai jam tiga nanti,” aku memutar badanku agar dapat menatap lawan bicaraku.

“Begitukah? Oh, kamu sudah kenal bocah ini?”

Orang yang dimaksud mengerucutkan bibirnya. “Dasar,Evil-Kyu. Bocah?  Tsk…,” gerutunya.

Dia?  Aku hampir  sangat mengenalnya. Tidak mungkin aku tidak mengenal gadis aneh yang hampir menginjak minggu kedua  ini –satu lagi pengecualian akan buta waktuku- selalu  berkeliaran di perusahaan seenaknya. Mengikuti kami seenaknya. Terkadang menyuruh-nyuruh kami seenaknya. Aku heran, mengapa bagian keamanan membiarkannya keluar masuk sesukanya? Apakah hanya karena dia saudara Kyuhyun Hyeong?

“Yak… jangan banyak basa-basi. Oppa mau menitipkanku padanya ‘kan?”

Mataku membulat dengan sempurna bahkan hampir melompat keluar. Aku tidak mungkin salah mengartikan ucapannya. Tetapi aku harap aku salah, salah besar. Hari ini aku ingin tenang, sendirian.  Berlatih hingga kakiku lemas atau tenggorokanku kering. Aku menatap Kyuhyun Hyeong dengan tatapan memelas. Semoga dia mengerti maksudku.

“Memangnya kamu barang, Nona Choi?”

“Bukankah Oppa memang sering menjadikanku barang yang bisa dititipkan di sana-sini. Stupid-Kyu is really stupid,” gerutunya lagi.

“Terserah mau bilang apa. Aku ada perlu di luar perusahaan. Kamu tunggulah!”

Aku menelan ludah dengan susah payah. Firasatku mengatakan bahwa hari ini aku akan terperangkap bersamanya lagi. Dari ucapan dan tingkah Kyuhyun Hyeong, aku dapat menebak bahwa tanggung jawab untuk mengawasi Minhye akan diberikan padaku.

“Aku pergi!” Kyuhun Hyeong mengacak-acak rambut Minhye. “Kamu tidak apa-apa aku tinggal? Jika mau ikut Kyunsoo, kamu bisa mengikutinya.” Kyuhyun Hyeong menatapku, “Tidak apa-apa ‘kan?”

Minhye menggeleng kencang. “Tidak… aku bisa sendiri. Aku  akan berjalan-jalan, melihat trainee latihan untuk menghabiskan waktu. Aku juga bisa duduk di sofa-sofa itu dan membaca atau menulis. Banyak hal yang bisa  aku lakukan sembari menunggu Oppa kembali.”

Kyuhyun Hyeong menghela napas, “Kenapa kamu tidak pulang saja? Eomma pasti mencarimu.”

“Cho Eomma akan baik-baik saja tanpaku. Oppa benar-benar akan pergi?”

“Aku tidak sendiri, bersama manager dan stylist. Sudahlah… semua akan baik-baik saja. Oppa akan berhati-hati. Jangan memasang wajah ingin menangis seperti itu.”

“Siapa yang mau menangis?” Minhye mengerucutkan bibirnya dan memalingkan wajahnya. Enggan menatap Kyuhyun Hyeong yang tersenyum jahil.

“Kyungsoo-ya… aku pergi. Ah, tidak perlu mengkhawatirkan dia,” Kyuhyun Hyeong menepuk pundakku dan berlalu ke arah datangku tadi.

Aku hanya mengangguk menimpali perkataan Kyuhyun Hyeong. Aku memang tidak perlu mengkhawatirkannya. Dia terlihat cukup tangguh untuk mampu mengurus dirinya sendiri. Dia bukan lagi anak kecil yang perlu selalu diawasi. Ya. Dia sudah dewasa.

Niatku untuk mengucapkan selamat tinggal harus aku urungkan. Ekspresi wajahnya membuatku ingin tahu dengan apa yang dia pikirkan. Matanya terus menatap kepergian Kyuhyun Hyeong dengan sedih. Dia menghela napas dan beberapa kali terlihat berniat mengejar Kyuhun Hyeong dan mencegahnya pergi. Apa maksud semua ini? Mungkin dalam benaknya, Kyuhyun Hyeong pergi dan tidak akan kembali. Dia bertingkah terlalu berlebihan, mendramatisirkah?

“Minhye-ssi… aku ada di ruangan ujung sana. Jika kamu membutuhkanku, aku ada di sana.”

Dia sama sekali  tidak menggubrisku. Tatapan sayunya masih menelusuri bekas jejak-jejak langkah yang ditinggalkan Kyuhyun Hyeong. Melihatnya terus seperti ini membuatku tidak tega untuk meninggalkannya sendiri.

“Minhye-ssi!” panggilku lagi.

Dia tetap tidak menjawab dan tak acuhkanku. Dia menundukkan kepalanya dan menghela napas lagi untuk kesekian kalinya. Dia memejamkan matanya dan bibirnya bergerak pelan. Apa dia tengah berdoa? Aku  memcoba membaca gerak bibirnya hanya kata ‘Oppa’ yang jelas terbaca. Mungkin dia berdoa  untuk Kyuhyun Hyeong. Mengapa?

Aku masih menunggu, dia tidak kunjung membuka matanya. Tiba-tiba terbersit ide aneh di otakku setelah melihat ponselnya yang tergeletak bersama beberapa barangnya  di kursi yang sebelumnya dia tempati. Aku mengambil pulpen dan secari kertas miliknya yang ada juga tergeletak di sana.

“Minhye-ssi… hubungi nomor ini jika butuh sesuatu atau bantunku,” aku tidak menunggunya menjawab dan lebih memilih menaruh kertas itu di dekat ponselnya agar dia melihatnya.

Kakiku dengan pasti melenggang santai, melanjutkan perjalananku yang sempat tertunda. Aku sudah memutuskan  materi latihan pribadiku hari ini. Aku tidak sabar ingin segera berlatih. Semoga saja ruang latihan yang ingin aku gunakan sedang kosong. Jadi, aku bisa menguasainya.

Belum setengah perjalanan yang aku tempuh, dering ponselku terpaksa membuatku menghentikan langkah. Nomor yang tidak aku kenali tertera di sana. Kedua alisku bergerak berdekatan dan menyapa satu  sama lain. Aku terus memandangi layar ponselku. Masih memikirkan tindakan yang harus aku ambil.

Yeoboseyeo?”

“Aku boleh ikut denganmu?”

Aku menoleh  ke belakang. Minhye berdiri dan menatapku seperti memohon. Tangan kanannya memegang sesuatu yang menempel sempurna di telinga kanannya. Bibirnya bergerak  mengucapakan sesuatu. Bersamaan dengan itu, sebuah suara sampai di telingaku melalui lubang-lubang kecil di ponselku.

“Aku boleh ikut denganmu, Kyungsoo-ya? Aku tidak akan menggangu,” suara itu terdengar memohon.

“Baiklah,” jawabku  singkat seperti tersihir.

Minhye tersenyum manis ke arahku. Dia segera menurunkan tangan kanannya dan membereskan barang-barangnya. Aku juga  melakukan  hal yang hampir sama, menurunkan ponselku yang sebelumnya melekat di daun telinga dan memasukannya ke dalam saku celana. Detik berikutnya, Minhye berlari kecil ke arahku. Dan kami berjalan bersama menuju ruang latihan.

“Kenapa menatapku terus? Ada yang salah dengan wajahku? Apa terlihat terlalu bulat, chubby?” Minhye manatapku tiba-tiba dan membuatku tersentak. “Hey… kamu kenapa? Apa aku memang terlihat chubby?”

“Emm… anii.”

Dia terkekeh, “Lalu mengapa menatapku seperti itu? Katakan saja, aku tidak akan marah.”

“Tidak ada alasan apapun,” jawabku sembari memalingkan wajah.

“Kamu sangat aneh, Kyungsoo-ya,”  dia tertawa kecil.

Aku hanya tersenyum kecil sebegai respon. Dia mengatakan bahwa aku aneh. Bukankah sebaliknya? Walaupun aku aneh –menurutnya, dia lebih aneh dariku. Manusia macam apa yang bisa berubah-ubah suasana hatinya dalam sekejap? Dia tidak bersandiwara atau pura-pura tertawa setelah beberapa saat lalu melipat wajahnya. Semua ekspresi  dan suasana  hatinya benar-benar asli tanpa rekayasa. Gadis aneh yang tidak dapat diketahui jalan pikirannya.

-Chapter Three-

Tidak disangka dia sungguh-sungguh dengan ucapannya. Dia sama sekali tidak mengusikku dan tidak merasa terusik dengan teriakan-teriakanku saat pemanasan vokal. Dia tetap terdiam hampir tanpa bergerak di sudut ruangan, bersandarkan pada tembok. Aku dapat memantau setiap gerak-geriknya dari pantulan bayangannya di cermin yang menutupi salah satu sisi tembok ruang latihan.

Sejak pertama kali masuk  ruangan,  dia hanya permisi akan duduk di sudut ruangan. Setelah itu dia mengeluarkan buku super tebal,  berbeda dengan buku  yang aku lihat sebelumnya. Dari sampulnya jelas terlihat buku itu masih sangat baru dan buku  asli, maksudku masih menggunakan bahasa aslinya yaitu bahasa inggris. Aku sedikit mengerti bahasa inggris.  Jadi aku bisa tahu bahwa itu adalah salah satu novel seri Sherlock Holmes. Walaupun aku tidak mengerti  maksud judul besar yang tertera di sana. Intinya pasti tentang kasus pembunuhan yang rumit. Selalu seperti itu bukan?

Aku melanjutkan sesi latihan pribadiku tanpa sedetikpun tidak memperhatikan gerak-geriknya. Dia tidak mengangguku sama sekali. Tetapi entah dorongan apa yang membuatku penasaran ingin mengetahui  setiap gerak-geriknya. Dia telah mengganti topik kegiatannya. Kini dia mengigit ujung pulpennya sembari berpikir keras. Beberapa menit hanya berlalu seperti itu. Seperti mendapat pencerahan, pulpen itu mulai menari di atas beberapa tumpuk kertas dan mulai menggurat garis-garis halus  pada secarik kertas teratas.

Senyum terkembang dengan sempurna saat dia menggerakan pulpen itu. Ekspresi yang sama saat dia membaca buku itu. Mungkin ada beberapa hal menarik yang dia temukan. Siapa yang tahu? Susah juga untuk kembali berkonsentrasi pada latihanku setelah sempat memusatkan konsentrasiku padanya. Tenggorokanku tak kunjung mengeluarkan suara. Rasanya ada benda sebesar kelereng yang menganjal di sana. Mungkin sudah saatnya aku mengganti jenis latihanku.

“Apa yang kamu lakukan?”  tanyanya saat aku mulai menggerakan tubuhku mengikuti irama musik yang mengalun pelan melalui ­earset yang terpasang pada kedua telingaku. “Menari?”

Aku mengangguk ringan. Aku tidak menunggu pertanyaan yang akan dia lontarkan lagi. Konsentrasiku harus kembali terpusat pada gerak tubuhku.

“Mengapa tidak menyalakan musik yang keras? Aku tidak apa-apa dengan itu,” celotehnya lagi.

Aku merogoh saku celanaku, mengambil ipod hitam milikku dan mematikannya. “Tidak perlu. Dengan ini saja cukup,”  jawabku.

“Ah… apa karena lagu baru untuk album kalian? Aku mengerti, orang luar tidak boleh tahu,” nada suaranya seperti menunjukkan bahwa dia tersinggung.

“Bukan begitu… aku hanya lebih nyaman berlatih seperti ini,” klarifikasiku.

Dia tertawa renyah, “Santai saja, aku mengerti. Lanjutkanlah, maaf mengintrupsi.

Lagi-lagi dia berubah dengan begitu cepat. Memang sebaiknya aku tidak terlalu mengambil hati setiap sikapnya. Dia akan berubah dengan  cepat. Dan pada akhirnya hanya  membuat bingung. Ya. Sebaiknya aku kembali berlatih.

“Bukan begitu caranya!”

Aku terperanjat karena  bentakannya. Suara nyaringnya bisa dengan mudah mengalahkan volume musik yang aku putar.

Nde?” aku berdiri terpaku sembari menatap bayangannya di cermin.

“Bukan begitu cara memutar lengan bawahmu. Seharusnya ke arah luar bukan ke dalam. Dan, bisakah lehermu bergerak lebih santai?”

“Maksudmu begini?” aku menggerakkan tanganku seperti yang dia katakan.

“Bukan,”  dia terlihat kesal.

Tumpukan kertas dan pulpen yang menyita seluruh perhatiannya sedari tadi kini terbengkalai begitu saja. Dia beranjak dari  tempatnya ‘bertapa’ dan berlari kecil menghampiriku. Tanpa permisi dia mengambil earset di telinga kananku dan memasangnya di telinga kirinya. Dia memberiku isyarat untuk mengulang bagian musik yang mengiringi gerakan yang dia koreksi.

“Seharusnya seperti ini,” dia bergerak dengan pelan tetapi terlihat elegan dan bertenaga. “Dan gerakan bahu serta lehermu dengan santai. Bukannya kaku  seperti robot.”

“Oh…. baiklah,” aku kembali seperti tersihir.

Entah aku harus senang atau mungkin kesal karena dia terus mengoreksi gerakanku, tentunya dia juga memberikan contoh gerakan yang seharusnya aku lakukan. Bisa dikatakan dia jenius. Hanya dengan melihat gerakan ‘salahku’ , dia dengan cepat menemukan gerakan yang benar. Dia seolah pernah mempelajarinya sebelumnya. Dia  seperti jelmaan Jongin. Jongin versi perempuan.

-Chapter Three-

“Aku yakin rangkaian dance  tadi akan sangat mengesankan jika kalian semua yang melakukannya,” dia kembali mengulang peryataannya itu entah untuk yang keberapa kalinya.

Ne,” jawabku singkat hanya untuk menanggapi peryataannya itu.

Dia kembali mengoceh. Sesekali akan kembali memperagakan gerakan favoritnya. Dia hampir menguasai setiap gerakan yang aku tunjukan saat latihan tadi. Matanya selalu berkaca-kaca bahagia setiap aku menunjukan gerakan demi gerakan tari yang menurutku cukup sulit tadi.  Dia terlihat sangat menyukainya. Seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan edisi terbaru ditambah sekotak permen dan semangkuk besar es krim.

“Apakah Jongin  sudah menguasai semuanya?” dia menghentikan langkahnya dan berbalik melihat ke arahku yang tertinggal di belakang.

“Dia dan Lay Hyeong menguasainya dengan sempurna,” akuku.

“Bocah itu memang pekerja keras,” gumamnya. “Gomawo, Kyungsoo-ya. Hari ini sangat menyenangkan. Aku pikir aku akan mati bosan karena writer block atau kehilangan mood untuk membaca. Sudah lama tidak menggerakan tubuh ini. Ini adalah hari menyenangkan pertamaku setelah kembali ke Seoul dan semua ini karenamu,” dia tersenyum manis. “Aku rasa, aku harus sering-sering berada di sekitarmu.”

Berada di sekitarku? Mungkin tidaklah buruk. Dia tidak seburuk yang aku bayangkan. Dia bukanlah pengacau yang selalu tergambar di benakku. Ketidaknyamanan yang selama ini aku rasakan saat bersamanya mungkin hanyalah imajinasiku, mungkin hanya karena aku yang merasa lelah saat itu.

Dia menyenangkan, aku merasa  tenang di sekitarnya. Aku tidak yakin harus bagaimana menggambarkan perasaan ini. Senyum dan ekspresi wajahnya saat berkutat dengan kertas-kertas itu tercetak dengan jelas di memoriku. Tawanya saat melihatku menari dengan gerakan aneh –salah-terus terngiang-ngiang di telingaku. Segala tingkah anehnya memang menyebalkan, tetapi aku rasa aku ingin selalu melihatnya.

“Kenapa kamu tersenyum seperti orang gila?” Suara Minseok Hyeong mengagetkanku. “Heol… ada apa denganmu? Seperti baru melihat hantu. Halo… Kyungsoo-ya?” dia melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku.

Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. “Nde? Mwo?”

“Tsk…,” Minseok Hyeong berdecak dengan senyum menyindir. “Kamu melamun sambil berjalan, eoh? Hebat sekali.”

Anii…

“Baiklah… aku akan percaya. Apa yang kamu lakukan sendirian?”

Aku menggeleng kencang. “Aku tidak sendiran. Minhye bersamaku sejak tadi.”

“Minhye?”

Aku mengangguk kencang. Minseok Hyeong menatapku heran dan sesekali melihat sekelilingku, mencari seseorang. Aku mengerti, Minhye telah hilang entah ke mana. Dia tidak ada lagi di sekitarku. Aku tidak menyadarinya meninggalkanku. Jadi, aku benar-benar melamun beberapa saat lalu.

“Apa kamu menyukainya?”

Aku menatap Minseok Hyeong tak mengerti. “Siapa?”

“Minhye.”

Anii…,” jawabku dengan serius.

Minseok Hyeong tertawa terbahak. “Yak… mengapa begitu serius? Aku hanya bercanda,” dia menepuk-nepuk pundakku. “Sebaiknya kita berkumpul dengan yang lain di atas. Pakai tangga darurat saja, eoh?”

Aku mengangguk kencang tanpa ragu. Minseok Hyeong melompat rendah dan meraih pundakku dengan lengan kirinya. Tindakannya itu hampir membuatku tersungkur. Aku memelototinya dan dia hanya tersenyum dan mengucapkan maaf. Terlepas dari itu semua, bola mataku bergerak ke sana-ke mari. Indra pendengaranku aku pertajam beberapa kali lipat. Aku sedang dalam misi mencarinya –Minhye. Gadis itu menghilang begitu saja tanpa memberitahuku. Tidak  dapat dipungkiri,  aku sedikit merasa khawatir.

Kekahwatiranku terjawab sesudah. Setelah mencapai lantai enam di mana semua member berkumpul, aku mendapati Jongin berdebat –seperti biasa- dengan Minhye. Tingkah mereka itu kembali menjadi pertontonan hangat semua orang di sekitarnya. Image Minhye yang beberapa detik lalu ter-upgrade di memoriku kembali berubah seperti semula.

“Hentikan, Nona Choi,” Jongin menahan emosinya agar tidak meremas-remas Minhye.

Noona, bocah ini selama sebulan tidak mau makan. Saat tidur dia akan mengigau mencari Noona. Aku tidak berbohong, tanya saja Taemin,” tuturnya menggebu-gebu.

“Jangan dengarkan ular ini, Noona. Dia berbohong,” Jongin memelototi Minhye. “Ah… kamu ingin mengajakku perang, eoh?”

Mwo?” Minhye menengadahkan kepalanya, menantang Jongin.

“Oke ‘Nona Choi’… apakah kamu bisa berkutik di depan ‘Tuan Choi’ nanti?”

Minhye tertawa dibuat-buat. “Awas kalau kamu berani mengatakan sepatah kata pun di hadapannya,” ancam Minhye.

“Aku  berani… Taemin  akan dengan senang membantuku.”

“Oh begitu? Jonghyun Oppa tidak akan membiarkanmu.”

“Begitukah? Kita lihat saja nanti.”

Noona, Jongin bilang dia tidak bi –,” kalimat Minhye terpotong.

Jongin membekap mulut Minhye dalam kecepatan hampir mendekati kecepatan cahaya. Minhye meronta-ronta, memaksa tangan kekar Jongin untuk melepasnya. Wajahnya mulai terlihat memerah. Sepertinya dia tidak bisa bernapas.

“Yak… Jongin-ah, lepaskan! Dia tidak bisa  bernapas,” bentakku.

Jongin segera melepas bekapannya. Minhye mengambil napas terburu-buru. Wajahnya perlahan mulai kembali seperti semula. Dia memutar tubuhnya dan menatap Jongin dengan garang. Sedangkan Jongin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Tatapan garang Minhye seolah ingin menelanjanginya.

“Maaf,” ucap Jongin terbata.

“Minhye-ya… kamu baik-baik saja?” Jieun menatap Minhye iba, mungkin juga merasa bersalah.

“Aku baik-baik saja, Noona.” Minhye menatapku,“Kyungsoo-ya… tolong temani aku ke lobi. Aku akan pulang.”

“Minhye-ya… maafkan aku. Aku tidak bermaksud,” rengek Jongin. “Aku tidak akan mengulanginya.”

Minhye meraih pergelangan tanganku, “Kajja!”

“Oh…”

-Chapter Three-

Hal yang paling dibenci Minhye: pertama, saat Kyuhyun Hyeong melakukan pekerjaannya di  luar perusahaan dan  harus menggunakan mobil pribadi atau hanya mini van dengan beberapa member Super Junior atau hanya dengan manajer dan coordi; dan kedua, ketika seseorang membekapnya dari belakang.

Jongin menjelaskan  semua itu panjang lebar semalam. Dia terus merengek padaku dan bertanya tentang apa yang dikatakan Minhye saat aku mengantarnya menuju lobi perusahaan kemarin. Dia juga terus menerus bertanya kepada member yang lain tentang bagaimana membuat Minhye berhenti marah padanya.

Hyeong… apakah Minhye tidak mengatakan sesuatu?”

Aku menggeleng, “Anii… dia terus terdiam. Dia hanya mengucapkan terima kasih sesaat sebelum keluar dari perusahaan.”

“Apa dia terlihat marah?”

Aku menaikan bahuku sepersekian sentimetir. Jongin menghela napas mendapat jawabanku itu. Kris Hyeong dan Lay Hyeong yang bersama kami di dalam lift hanya geleng-geleng kepala. Mereka jenuh terus menerus  melihat Jongin uring-uringan sejak tadi malam. Apalagi kalau  bukan karena Minhye tidak mau mengangkat telepon dan membalas pesannya. Tingkah mereka mirip sekali dengan orang yang berpacaran dan kini tengah bertengkar hanya karena hal sepele.

“Jongin-ah, mengapa kamu tidak membelikannya buku saja?” usul Kris Hyeong.

“Buku?”

“Novel maksudku. Bukankah dia sangat mencintai jenis benda yang satu itu?  Dia sering merengek memintamu dan Junmyeon membelikannya ‘kan?”

“Ah… itu tidak akan berhasil. Dia tidak akan terbujuk dengan itu.  Ini semua tidak semudah itu,” Jongin mulai frustasi.

Mungkin ada benarnya juga yang dikatakan Jongin. Minhye sudah pasti marah besar padanya. Buktinya, Minhye yang biasanya akan berubah-ubah setiap detiknya tidak kunjung menanggapi Jongin. Aku tidak menyangka dia cukup pendendam juga.

Oppa tahu dari mana?”

Pintu lift terbuka. Minhye, Jonghyun Hyeong dan Minho Hyeong berdiri tepat di depan lift. Pemuda yang sedari tadi terduduk di lantai lift sambil memeluk lututnya itu segera berdiri tegak. Dia menatap Minhye dengan tatapan memelas. Tetapi Minhye tak acuhkannya. Dia bahkan memalingkan wajahnya.

“Jongin-ah… kebetulan sekali, Minhye terus mencarimu sejak tadi,” Minho Hyeong membuka pembicaraan.

“Aku pergi,” ucap Minhye tiba-tiba sebelum dia berlari meninggalkan kami semua.

“Yak… kamu mau ke mana?” panggil Jonghyun Hyeong.

Minhye tidak menjawab dan terus berlari entah ke mana. Aku sungguh kasihan pada Jongin. Dia perlahan merosot dan kembali terduduk di lantai. Dia begitu tertekan dengan sikap Minhye. Sebenarnya hubungan seperti apa yang mereka punya? Aku tidak bisa menebaknya. Jika bertanya pun, aku tidak bisa percaya dengan jawaban mereka. Sangat membingungkan, seperti benang kusut yang tidak mungkin dapat diluruskan.

-Chapter Three-

Ada sedikit waktu untuk latihan sebelum jam makan siang. Kebetulan juga aku sedang sendiri, lebih tepatnya memilih untuk sendiri. Beberapa member memiliki jadwal masing-masing seperti Jongin, Junmyeon Hyeong, Chanyeol, Luhan Hyoeng, dan Jongdae Hyeong yang menjalani rekaman untuk sebuah acara talkshow. Sedangkan yang lain,  mereka pasti memiliki kesibukan masing-masing.

Tempat tujuanku menyendiri sudah diputuskan yaitu ruang latihan kemarin. Di sana cukup tenang karena berada di ujung lorong dan jarang di lewati orang. Tempat yang tepat untuk kembali berlatih memantapkan gerakan dance-ku. Aku masih ingat beberapa trik yang diajarkan Minhye kemarin. Mungkin dengan itu semua, aku bisa menjadi lebih baik.

Langkah kakiku terhenti tepat di depan pintu.  Musik yang cukup keras –keluar dari celah pintu yang terbuka- membuatku mengurungkan niat untuk segera masuk dan lebih baik mengintip. Jendela persegi kecil yang berada di  bagian atas pintu memudahkanku untuk mengetahui siapa yang ada di dalam ruang latihan. Ternyata Minhye. Dia sedang tidur-tiduran di lantai dan menyetel musik dengan keras sembari membaca buku. Aku juga melihat kertas berserakan di mana-mana. Kondisi di dalam ruang latihan mirip dengan taman kanak-kanak.

Aku menajamkan pendengaranku karena ingin tahu musik yang dia putar. Dia memutar ‘Why So Serious?’, lagu salah satu senior kami –SHINee. Bibirnya terlihat bergerak mengikuti irama musik. Dia ikut bernyanyi rupanya. Tetapi karena volume musik terlalu keras, suaranya tenggelam.

Aku jadi berpikir dua kali untuk melanjutkan rencana latihanku siang ini. Aku tidak mungkin masuk begitu saja dan meminta Minhye untuk menyingkir karena aku akan menggunakan ruang latihan. Walaupun memang berdasarkan peraturan tidak tertulis perusahaan, kamilah yang berhak menggunakan ruang latihan bukan  orang luar seperti Minhye.

Musik di dalam ruang latihan berhenti. Aku kembali mengintip di jendela persegi pintu untuk mengetahui apa yang terjadi. Aku tidak menemukan Minhye di dalam.  Buku dan kertas-kertas masih berserakan di sana, tetapi Minhye tidak  lagi terlihat.

Rrrt…Rrrt!

Ponselku bergetar di dalam saku celana. Aku segera merogoh kantungku  dan mengambil sang pembuat getaran itu. Layar ponsel hitamku berkedip-kedip, pertanda ada  panggilan masuk. Minhye, dia meneleponku.

Yeoboseyeo?”

“Kyungsoo-ya… kamu di mana? Aku menunggumu sejak tadi. Cepatlah ke ruang latihan,” ucapnya dari seberang. Lebih tepatnya dari dalam ruang latihan.

“Aku ada di depan pintu,” jujurku.

Terdengar derap langkah kaki dari arah dalam.  Tidak menunggu lama pintu di sebelahku terbuka lebar. Minhye tersenyum sumringah. Tanpa basa-basi dia meraih lengan kiriku dan menarikku masuk. Jika saja keseimbanganku hilang, aku mungkin akan menabraknya dan berakhir dengan tergeletak di lantai ruang latihan –berdua.

“Kamu sudah lama berdiri di sana? Kenapa tidak masuk?” tanyanya antusias.

“Emm… aku baru saja datang,” bohongku.

“Kamu akan latihan lagi? Aku akan membereskan kekacauan ini dulu.”

Minhye tidak menunggu jawabanku. Dia segera membereskan kertas-kertas yang berserakan. Aku memperhatikan tiap helai kertas itu. Semuanya hanya berisi coretan-coretan tidak berbentuk. Garis-garis yang ada di kertas itu hanya seperti bentuk gambaran emosi orang yang membuatnya. Ada beberapa kertas yang terlihat berlubang dan terkoyak. Jangan bilang, Minhye marah-marah dengan mencoret-coret kertas seperti itu.

Rrrt…

Ponselku kembali bergetar, tetapi kali ini lebih  pendek. Itu pertanda ada pesan yang masuk. Aku menatap layar ponsel yang masih aku genggam sedari tadi. Tertulis pesan dari Youngjun Hyeong. Aku segera menggerakan jariku di permukaan layar ponsel untuk mengetahui isi pesannya.

“Minhye-ya… maaf, aku harus pergi.”

Minhye menatapku tidak percaya, “Pergi?”

“Emm… Youngjun Hyeong  dan yang lain meminta jatah makan siangnya,” aku tertawa kecil.

Minhye menghela napas, “Kamu akan kembali ‘kan?”

“Mungkin,” jawabku singkat.

Tanpa basa-basi Minhye merebut ponselku. Dia tersenyum licik dan menatapku seolah akan melakukan hal  buruk  padaku. Aku menjulurkan tanganku, memintanya untuk mengembalikan ponselku. Tetapi dia malah menyembunyikan ponselku di balik punggungnya.

“Antarkan makan siang itu segera dan kembalilah!” pintanya dengan manja.

Aku menautkan alisku. “Mwo?”

Oppa… kembalilah segera. Aku ingin makan siang dengan Oppa juga. Oppa membuatkanku makan siang ‘kan?” dia mengerjap-ngerjapkan matanya.

Ada apa dengannya? Untuk pertama kalinya aku mendengarnya memanggilku dengan ‘Oppa’. Dari hasil pengamatanku dia hanya mau memanggil ‘Oppa’ pada semua member EXO-M dan juga Junmyeon Hyeong. Selain itu, dia hanya memanggil nama. Dia bahkan memanggil Kyuhyun Hyeong dengan ‘Devil’ atau ‘Evil-Kyu’. Lalu, mengapa dia berlaku manja di hadapanku?

Oppa… mengapa melamun?”

“Baiklah…,” aku harus mengalah. “Ini makan siangku. Jika kamu lapar, makanlah dulu. Aku akan mengantar untuk yang lain,” aku menyodorkan kotak makanan berwarna putih.

Pagi ini aku membuat spaghetti yang banyak. Aku memisahkannya dalam dua wadah. Wadah pertama hanya cukup untuk satu orang, yaitu aku atau hanya sebagai cadangan jika Sehun meminta jatahnya secara terpisah. Dan wadah satunya lagi sangat besar, untuk ‘anak-anak’ kelaparan itu. Mereka tidak pernah cukup  hanya makan siang dengan makanan yang di  belikan Youngjun Hyeong atau Seunghwa  Hyeong. Mereka butuh pengisi perut ekstra.

“Kembalikan ponselku,” pintaku halus.

Minhye tetap menggelengkan kepala. “Tidak akan. Cepat saja antar makanan itu dan kembali.”

“Minhye-ya.”

“Aku mohon. Temani aku makan siang di sini. Aku juga membuat bekal. Tidak mungkin aku menghabiskannya sendiri.  Ayolah, please.”

Entah mengapa aku tidak tega menolaknya. “Baiklah, tunggu aku.”

Joah… ah, jangan bilang Kkamjong kalau aku di sini.”

Aku hanya mengangguk. Dia melompat senang. Tanpa terbayangkan sebelumnya, dia mendekat ke arahku dan memelukku erat. Untuk kedua kalinya aku bisa mencium aroma khas tubuhnya dari dekat. Dan untuk kedua kalinya juga aku merasa aneh karenanya. Isi kepalaku berputar-putar dan dadaku rasanya ingin meledak. Aku tidak bisa bernapas.

“Cepatlah kembali,” ucapnya setelah melepas pelukan eratnya dengan senyum manis yang terukir di wajahnya.

-Chapter Three-

“Silahkan!”

Dia menyodorkan kotak bekal berwarna hitam dengan aksen mawar putih pada tutupnya padaku. Aku melihatnya mengambil kotak bekal ini di belakang  lemari kecil yang kebetulan ada di ruangan ini  sebelumnya. Dia membukakan tutupnya untukku. Aku  tidak dapat mencegah mataku untuk tidak terbuka dengan lebar. tidak ada yang istimewa dengan jenis makanan pada kotak bekal itu. Hanya ada nasi putih, kimchi, daging, telur gulung dan beberapa sayuran. Semuanya di masak dengan bumbu standar.

“Apakah terlihat aneh? Maksduku, terlihat tidak enak?” tanya.

Telunjukku bergerak mendekati nasi putih di bekal itu. Rasa penasaranku  akan maksud bentuk nasi putih itu membuatku tidak berpikir panjang dan hanya ingin tahu jawabannya. Minhye tertawa  kecil melihat ekspresi wajah penasaranku.

“Itu  bukan wajahmu, tenang saja. Aku membuatkan ini untuk seseorang. Tetapi dia sedang diet, jadi tidak boleh makan makanan seperti ini,” jelasnya.

Aku belum puas dengan jawabannya. “Siapa? Jongin?” tebakku.

Dia tertawa terbahak, “Anii…”dia menghela napas. “Menurutmu wajah ini mirip siapa?” tanyanya sembari menunjuk nasi putih yang telah dia bentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai wajah seseorang.

Aku memperhatikan  dengan seksama. “Kyuhyun Hyeong?” tebakku asal.

Anii…,” dia menatapku kesal. “Sudahlah, hentikan acara  tebak-tebakan ini. Sebaiknya kita makan saja.”

“Baiklah.”

“Kamu memakan bekal buatanku, aku akan memakan bekalmu.  Bagaimana?”

Tidak ada  salahnya bertukar  bekal. Jadi, aku sama sekali tidak keberatan. Walaupun spaghetti itu adalah makanan favoritku, aku bisa membuatnya lagi nanti. Sedangkan mencicipi masakan Minhye, mungkin hanya sekali ini saja. Ya. Sebelum dia kembali berubah.

Dia terlihat antusias melahap spaghetti buatanku. Dia akan mengeluarkan pujian di setiap gigitannya. Aku senang mendengar itu. Tidak berarti aku tidak pernah mendengar pujian atas masakanku. Hanya saja jika dia yang  mengatakannya, ada hal berbeda yang memenuhi hatiku. Rasa bangga yang tidak terkira. Mungkin terdengar berlebihan, tetapi begitulah kenyataanya.

“Kenapa hanya menatapku dan tidak makan?”

Minhye mencapit daging pada kotak bekalnya dengan sumpit besi yang aku bawa dan menyodorkannya di depan wajahku. Dia memaksaku untuk membuka mulutku. Tanpa aku sadari, aku menurutinya. Membuka mulutku dengan  lebar dan menerima potongan daging yang dia sodorkan.

“Jangan melamun terus, makanlah! Masakanku memang tidak seenak buatanmu. Tetapi tentunya tidak akan membunuhmu,” dia terkekeh.

“Tidak… ini enak sekali.”

Dia kembali terkekeh, “Benarkah? Gomawo… aku menyukai Kyungsoo. Jadi, mulai saat ini kita berteman.”

“Oh… Ne,” dia menyukaiku?

Dia berhenti menggerakan sumpitnya. Tangan pucatnya bergerak cepat mengambil tasnya dan mencari sesuatu di dalam sana. Mataku tidak lepas memperhatikan gerak-geriknya. Apakah yang dia cari?

“Kyungsoo-ah… nama panggungmu D.O ‘kan?”

Aku mengangguk. Jawaban singkatku itu membuatnya tersenyum sumringah. Ponselnya yang baru saja dia temukan menjadi pusat perhatiannya sekarang. Bukan lagi makanan yang tergeletak di lantai atau aku yang tidak kembali melahap bekal buatannya.

“Kyungsoo-ya, aku bisa meminta bantuanmu?”

Mwo?”

“Bolehkah aku mengambil gambarmu dan kamu menandatanganinya?”

Aku mengeryitkan dahi. “Untuk apa?”

“Temanku penggemarmu. Jadi mereka memintaku mendapatkan foto dan tanda tanganmu,” dia nyengir kuda.

Aku mengerti sekarang. Alasan dia sedikit manis dan manja padaku hari ini adalah demi mendapatkan foto dan tanda tanganku. Ya Tuhan!   Rasanya hatiku tercabik-cabik. Entah kecewa tingkat berapa ini. Haruskah aku marah padanya? Aku merasa tertipu. Jangan katakan bahwa cerita di balik bekal yang dia buat ini juga sebuah kebohongan.

“Aku akan mengambil air minum.”

“Kyungsoo-ya… bagaimana dengan fotomu, apakah boleh?”

Demi apapun, aku sangat kesal sekarang. Tidakkah dia menyadari bahwa aku sedang kesal. Aku bukannya tidak sudi memberikan fotoku dan juga tanda tangan. Tetapi mengapa dia harus bertingkah manis seperti itu? Aku jadi berpikir bahwa…

“Baiklah… tetapi, aku akan mengambil minum dulu,” jawabku ketus.

Dia tersenyum sumringah –lagi. “Oke… aku boleh menghabiskan spaghetti ini ’kan?”

“Tentu saja,” jawabku ketus –lagi- sebelum kembali menutup pintu ruang latihan.

Aku mengomel dalam hati. Mungkin beginilah kekesalan yang dirasakan Jongin dan Junmyeon Hyeong saat bersamanya. Aku bukan tipe orang yang mudah kesal begitu saja. Tetapi, dia dengan mudah membuatku seperti menelan bola bekel. Choi Minhye, beberapa saat lalu dia menerbangkanku ke langit dan menit berikutnya membuangku kembali ke bumi.

Hyeong!” teriak Sehun di  belakangku. Aku sangat hafal suara  manjanya saat merengek padaku.

“Ada apa?”

“Aku mau spaghetti lagi. Jongin dan Minseok Hyeong menghabiskan jatahku,” adunya.

“Wah… ada yang membicarakan makanan enak,” sambar Jonghyun Hyeong yang baru keluar dari ruang latihan SHINee.

“ Makanan apa?” tanya Minho Hyeong juga. “Aku bosan makan masakan Kibom satu itu,” sindirnya sembari melirik Kibum Hyeong.

“Spaghetti Hyeong,” jelas Sehun antusias. “Spaghetti dengan saus udang pedas. Emm… aku mau lagi Hyeong,” rengek Sehun makin menjadi.

Aku memutar bola mataku. Bisakah dia berhenti merengek seperti bayi? Spaghetti yang dia inginkan tidak ada lagi padaku. Aku sudah memberikan semuanya pada Minhye. Dan aku yakin dia hampir menghabiskan setengahnya sekarang. Jika mengingat tingkah  manisnya tadi karena ada yang dia inginkan dariku, ubun-ubunku serasa mendidih. Kenapa aku jadi sekesal ini?

“Tidak ada lagi, Sehun-ah,” jelasku.

Mwo?Wae?”

“Aku sudah memberikannya pada Minhye.”

Mworago?!!” pekik Minho Hyeong tiba-tiba membuat kami semua hampir mati terkena serangan jantung.

Minho Hyeong tidak menunggu jawabanku. Dia segera berlari ke arah datangku tadi. Jonghyun Hyeong segera menyusulnya setelah menatapku dengan aneh. Jinki Hyeong dan Taemin yang baru  saja bergabung ikut kebingungan. Tanpa diminta Kibum Hyeong menceritakan apapun yang dia tahu sebelum Minho Hyeong  dan Jonghyun Hyeong berlari tanpa sebab itu.

“Kyungsoo-ah… di mana Minhye?” tanya Jinki Hyeong. Dia terlihat khawatir namun mampu mengontrol dirinya agar tidak panik.

“Ruang latihan di ujung lorong sana,” jelasku polos.

Gomawo,” wajah keruh Jinki Hyeong menatapku seolah berkata telah terjadi hal buruk.

Ketiga pentolan SHINee  yang tersisa itu menyusul Minho Hyeong dan  Jonghyun Hyeong. Aku terus menatap punggung mereka tanpa mengerti  sedikitpun tentang apa yang terjadi. Mengapa aku merasa semua ini adalah salahku. Tatapan  mereka dengan jelas menyalahkanku.  Apa aku  yang salah mengartikan itu semua? Tidak. Aku tidak mungkin salah. Aku baru saja menjadi penyebab sesuatu hal buruk. Tetapi apa? Kesalahan apa yang aku perbuat?

Sehun menarik tanganku dan memaksaku mengikutinya. Kami melalui lorong yang sama dengan yang mungkin di lewati para SHINee  beberapa saat lalu. Belum setengah jalan menuju  ruang latihan tempat  aku meninggalkan Minhye. Kerumunan trainee dan beberapa member EXO yang lain menarik perhatianku dan Sehun. Aku memperhatikan tanda di atas pintu ruangan yang mereka kerumuni. Toilet perempuan.

Belum sempat Sehun bertanya pada Luhan Hyeong yang kebetulan berada di sana, Minho Hyeong terlihat keluar dari ruangan itu. Dia menggendong seseorang dan berlari terburu-buru menuju lift. semua orang memberinya jalan.  Dia melintas di depanku sekarang. Aku tidak mengerti apa yang terjadi, waktu terasa berputar dengan lambat. Minho Hyeong yang awalnya terlihat berlari kencang kini seperti melambat di hadapanku. Karena itu aku dapat melihat dengan jelas orang yang berada dalam gendongannya. Choi Minhye lagi. Wajahnya  terlihat memerah dan  dia tidak sadarkan diri.

To be continued…

Author’s note:

Minhye melangkah dengan sumringah menuju ruang latihan SHINee. Sebelah tangannya menjinjing sesuatu. Sebuah bungkusan dengan selayer bercorak hati dan bunga-bunga kecil. Sepanjang perjalanan dia terus bersenandung, menandakan bahwa suasana hatinya sedang baik.   Beberapa hari ini dia selalu melakukan aktifitas ini. Bangun pagi-pagi  sekali,  pergi ke pasar tradisional untuk membeli beberapa bahan  masakan, kemudian memasaknya sendiri dan membawakan hasil akhirnya untuk seseorang di SMent.

Dia mengintip dari celah pintu ruang latihan SHINee yang kebetulan terbuka.  Orang yang akan dia berikan hasil jerih payahnya pagi ini tengah  berbincang dengan teman-temannya. Mereka tertawa terbahak-bahak,  entah apa yang membuat mereka sangat senang.

“Mengapa Minhye belum datang?” Taemin melirik jam tangannya. “Aku sudah lapar,”  keluhnya.

“Cih… sekarang kamu sudah punya ‘eomma’ baru yang siap memasak  untukmu, eoh?” sindir Kibum –Key.

Taemin terkekeh, “Aku hanya membantu Minho Hyeong. Dia tidak pernah menyentuh makanan itu. Jadi, daripada mubazir. Minhye pasti lelah membuatnya. Dia dengan detail membuat replika wajah Minho Hyeong. Walaupun terkadang aku tidak dapat menahan tawa saat melihat wajah buatannya itu.”

Jinki –Onew- menatap Minho garang. “Mengapa kamu tidak mau memakannya?”

“Tidak ada alasan khusus,” jelas Minho tanpa berani menatap Jinki.

“Apa masakannya tidak seenak buatanku?” goda Kibum.

“Tidak mungkin,” Taemin mengganti posisi ‘tidur’-nya menjadi ‘duduk’. “Masakan Minhye sangat enak. Aku juga heran mengapa Minho Hyeong tidak memakannya, tidak pula menolaknya. Padahal Minhye selalu memasak makanan kesukaannya.”

“Kamu seharusnya bersikap tegas Minho-ya. Jika kamu terus seperti ini, Minhye semakin tidak bisa lepas darimu,”Jonghyun berdiri dan merenggangkan tubuhnya. “Aku akan mencari makan siang. Minie-ah, ikut?”

“Oh,” Taemin segera berdiri dan mengejar Jonghyun yang hampir sampai di pintu.

“Minhye-ya!” teriak Jonghyun setelah keluar dari ruang latihan.

Oppa!” jawab Minhye girang.

“Kamu dari mana?”

“Mencari Kyungsoo di ruang latihan ujung sana.”

“Makan siang untuk Minho Hyeong mana?” todong Taemin.

Minhye menggeleng kencang sembari nyengir  kuda. Bungkusan itu sudah tidak ada lagi di tangannya.  Dia telah menyembunyikannya di suatu tempat.  Sebaiknya memang itu  yang dia lakukan karena memberikannya kepada orang itu hanya akan membuatnya  sakit hati.

Explanations

Alasan Minhye tidak suka Kyuhyun melakukan  pekerjaan di luar perusahaan berkaitan dengan kecelakaan Kyuhyun tahun 2007 lalu. Kyuhyun sudah seperti kakak kandungnya sendiri karena Kyuhyun adalah pengganti kakak laki-lakinya yang meninggal dua tahun –2005- sebelumnya akibat kecelakaan. Dia takut kecelakaan itu akan terulang lagi.

Minhye marah pada Jongin karena Jongin membekap mulutnya di sebabkan trauma Minhye beberapa tahun silam. Semenjak Kyuhyun debut, Minhye yang selalu berada di dekat Kyuhyun dianggap sebagai hama bagi sasaeng fans. Akhirnya Minhye mendapatkan perlakuan buruk dari mereka. Salah satunya diculik di sekolahnya dan dibuang di taman saat tengah  malam. Karena itu orang tua Minhye pindah dari Seoul tiga tahun lalu.