Tags


JOAH 1 copy

|| Chapter One||

JOAH –Strange Girl “Chapter Two”

“Special for someone that likes EXO because of me. She love D.Xi –D.O and Xiumin.”

-Chapter Two-

Kami terdiam seperti tersihir. Hanya bola mataku yang bergerak ke sana ke mari untuk menyaksikan adegan drama di hadapanku. Mungkin tidak hanya aku yang melakukan itu, hampir semuanya. Kapankah kita harus bertepuk tangan atas adegan brillian ini?

“Tsk… Minho-ya, hentikan! Kamu membuat mereka  semua terkena serangan jantung,” gerutu Jonghyun Hyeong mematahkan mantra ‘penyihir’ itu.

Berikutnya adalah tawa cekikik Kibum Hyeong yang dibarengi decak meremehkan Jinki Hyeong.  Ya. Sudut SHINee sudah terbebas dari ‘sihir’ itu, sedangkan kami sudut EXO masih terdiam tidak mengerti dengan seribu satu macam pertanyaan berterbangan di otak.

Wae? Minhye dan aku memang berpacaran sejak dulu ‘kan?” protes Minho Hyoeng, masih berdiri di ambang pintu.

“Choi Minho,” gemeletuk gigi Jinki Hyeong terdengar.“Kyuhyun Hyeong tidak akan mengampunimu.”

Minho Hyeong nyengir kuda. “Baiklah… aku menyerah. Mengapa kalian tidak tertawa? Bukankah tadi itu lucu? Bukankah drama-drama remaja sekarang seperti itu?”

Jonghyun Hyeong melempar sesuatu ke arah Minho Hyeong  namun tidak berhasil mengenainya. Selanjutnya, ruangan  ini kembali penuh dengan  tawa.  Tawa yang entah dibuat-buat  atau memang karena kejadian beberapa detik lalu lucu. Aku hanya menghela napas dan kembali bersandar di dinding.

Mata besarku  mengiringi perjalanan Minho Hyeong menuju sudut SHINee. Perhatianku teralih darinya ke arah seseorang yang tersenyum dengan begitu canggung. Dia memang tertawa lepas, namun tidak terlihat bahwa dia menikmati tawanya itu. Minho Hyeong memilih untuk duduk di dekatnya.

“Lama tidak bertemu,” ucapnya samar sembari mengacak-acak rambutnya.

Dia –Minhye- hanya mengangguk dengan lemah. Senyum di wajahnya tetap terukir, sayangnya terkesan hambar. Apakah hanya aku yang menyadari perubahan  auranya? Auranya menggambarkan dengan jelas bahwa dia begitu kecewa, sangat kecewa. Jonghyun Hyeong yang duduk di sebelahnya sesekali menepuk-nepuk  pundaknya dan  kembali melontarkan  lelucon agar semua dapat tertawa dengan lepas.

“Mengapa kamu ke sini? Kamu terlambat, makan malam gratisnya sudah berakhir,” sindir Kibum Hyeong.

Minho  Hyeong merangkul pundak Minhye. “Ey… aku ke sini karena merindukan gadis ini. Kyuhyun Hyeong meneleponku tadi dan menyerahkan Minhye dalam tanggung jawabku. Dia tidak mempercayai Junmyoen dan Jongin.”

“Jongin?” Minhye kembali normal. “Di mana kkamjong?”

“Yak… aku di sini sedari tadi? Kamu tidak mengenaliku,eoh?!!” bentak Jongin tidak terima.

Minhye menyipitkan matanya. Memfokuskan penglihatannya pada Jongin. “Oh… ternyata benar-benar kkamjong. Tsk… kamu semakin jelek saja. Rambut macam apa itu?”

Jongin melotot tidak percaya. Dia tidak terima atas peryataan Minhye. Gadis itu memiliki mulut yang tajam. Jongin tidak pernah semarah ini saat kami yang membuat lelucon atas gaya rambutnya itu. Efeknya berbeda jika gadis itu yang mengatakannya. Dia marah besar hingga ingin mencekik Minhye. Apalagi Minhye terus menerus menjulurkan lidahnya dan melakukan gerakan yang memang terlihat sangat menyebalkan.

“Oh,” Minhye menghentikan tingkah kekanak-kanakannya. “Junmyoen Oppa dan kkamjong sudah debut?” tanyanya dengan polos.

Demi apapun, pertanyaan polosnya itu tidak hanya melukai harga diri Junmyeong Hyeong dan Jongin tetapi kami semua –EXO. Aku tidak habis pikir, bagaimana dia tidak tahu bahwa EXO itu ada?  Bisa dikatakan dia tidaklah asing dengan keluarga besar SMent. Buktinya dia begitu akrab dengan SHINee dan Super Junior, khususnya Kyuhyun Hyeong yang notabenenya dalah sepupunya. Lalu, apakah semua ini masuk akal?

Wae?”  dia kebingungan. “Apakah ada yang salah dengan pertanyaanku? Aku memang tidak tahu apa-apa,” belanya.

Minho  Hyeong dan  Kibum Hyeong tidak dapat menahan diri. Mereka tertawa dalam diam sembari memegangi perut. Sedangkan dua Hyeong lainnya hanya geleng-geleng kepala, tidak percaya. Tao yang baru saja mengerti dengan perkataan Minhye –setelah Kris Hyeong menerjemahkannya-  terlihat begitu marah. Aku hanya bisa menghela napas dan bersabar.

“Tidak adakah yang mau menjelaskannya padaku?”

“Yak… haruskah kami memperkenalkan diri secara formal seperti saat di depan kamera  atau fans?” Jongin terdengar kesal.

Ne…,” Minhye tidak terima dengan nada bicara Jongin.

“Kami EXO,”   jelasku tanpa gairah.

Minhye mencari-cari sumber suara. Mungkin dia merasa mendengar sebuah bisikan tanpa wujud. Aku sama sekali tidak berniat menunjukan diriku padanya.   Beruntunglah aku karena Jongin dan Tao duduk di sebelah kananku  dan menghalangi Minhye untuk melihatku.

“Ah,  EXO?” dia tertawa renyah. “Jadi, Junmyoeng Oppa dan kkamjong menyebalkan itu debut dalam EXO. EXO?!! Daebak…”

“Bagaimana kamu bisa tidak tahu?” tanya Minho Hyeong.

Minhye berdehem, “Emm…itu karena hampir satu setengah tahun ini Eomma memasukanku ke dalam asrama. Tujuannya agar aku konsentrasi belajar untuk ujian kelulusan dan tes masuk universitas. Eomma benar-benar memperlakukanku seperti tahanan. Asrama itu menutup segala akses tentang dunia hiburan. Bahkan tidak di perbolehkan membaca buku selain buku  pengetahuan. Dan  malangnya aku, Eomma menyumbangkan semua buku koleksi berhargaku ke panti asuhan hanya karena aku sempat mencoba melarikan diri.”

Kibum Hyeong berdecak, “Oh… itu semua memang salahmu.”

“Sudahlah, Oppa akan membelikan untukmu beberapa,” janji Minho Hyeong. “Kita tinggal menentukan toko buku mana yang akan kita rampok.”

“Benarkah?” Minhye berubah  sumringah.

Ne… sebagai hadiah atas kelulusan tes masuk universitas. Aku akan membelikan berapa  pun untuk yeodongsaeng tersayangku.”

Yeodongsaeng?” gerutunya dengan wajah tertekuk.

Jongin  mendengus, “Tsk… dia masih berharap Minho Hyeong menyukainya. Dasar!”

Aku mengerti sekarang. Jadi, Minhye menyukai Minho Hyeong. Itulah sebabnya dia terlihat kecewa saat Minho hanya bercanda  mengatakan bahwa dia adalah pacar Minhye. Aku mulai bingung dengan semua ikatan ini. Aku harap Youngjun Hyeong segera kembali dan membawa kami pergi agar aku tidak perlu ambil pusing memikirkan semua ini.

Kkamjongah… nama panggungmu apa?” tanya Minhye. Gadis ini cepat sekali berubah suasana hatinya.

“Kai,” jawab Jongin santai. “Dan Junmyoen Hyeong, Suho.”

“Ey?” Minhye menautkan alisnya. “Berarti cita-citamu menjadi lead dance terwujud,” Minhye tertawa terbahak. “Aku hanya tahu nama-nama member EXO tanpa tahu wujudnya. Tidak disangka ‘Kai’ itu kamu.”

Heol, menurutmu itu lucu?”

Ne…,” Minhye kembali tertawa.

“Dasar aneh. Bagaimana makhluk sepertimu bertahan di zaman ini?”

Morageuyo?!!”

Sekarang semua senior SHINee hanya menggeleng pelan dan berdecak. Mereka terlihat sudah terbiasa dan mulai bosan melerai dua anak manusia itu.  Junmyeon Hyeong juga tidak terlihat akan bertindak. Selain mereka yang aku sebutkan di atas, hampir sama denganku. Menjadi penonton yang memendam kesal, merasa terganggu dan juga bingung.

Telingaku  mulai panas mendengarkan perdebatan mereka yang tidak kunjung usai. Waktu serasa begitu lambat mengiringi percekcokan mereka. Rasanya sudah hampir satu jam mereka melancarkan bom cemoohan, namun nyatanya baru sepuluh menit berlalu.  Tidak kusangka mereka berdua sangat dekat, buktinya mereka sangat tahu kebiasaan buruk masing-masing. Minhye bahkan lebih tahu Jongin dibandingkan diriku yang menjadi rekan sekamarnya.

“Kalian tidak akan berhenti, eoh?” tanya Jinki Hyeong.

“Tidak akan sebelum dia diam,” Minhye menunjuk Jongin.

Jongin memalingkan wajahnya angkuh. “Aku tidak akan diam sebelum kamu menarik semua kata-katamu.”

“Cih… tidak akan pernah.”

Aigoo… bagaimana kalian bisa bermusuhan seperti ini? Bukankah dulu kalian begitu dekat?” cibir Kibum Hyeong.

Junmyoen Hyeong mengangguk kencang. “Bukahkah kalian  dulu berpacaran?”

“Begitukah?”Minho Hyeong terlihat terkejut.

Heol… kamu tidak tahu itu, Minho-ya?” Kibum Hyeong memutar bola matanya.

Anii…,” Minho Hyeong menggelengkan kepalanya dan memasang wajah polos.

Apakah ini gadis yang pernah diceritakan Jongin? Aku memang pernah mendengar darinya bahwa dia tengah menanti seorang gadis yang dia sukai. Dia tidak pernah bercerita banyak tentang gadis itu. Dia hanya bilang bahwa dia menyukainya. Aku tidak akan lupa ekspresi wajahnya saat menceritakan bagaimana indahnya cinta pertamanya itu. Hanya saja, apakah gadis ini?

“Aku tidak pernah berpacaran dengannya,” sangkal mereka bersamaan.

“Tidak mungkin. Kalian sangat dekat waktu itu.  Buktinya sering berlatih menari bersama,” goda  Jonghyun Hyeong.

Minhye terlihat mencari sangkalan yang masuk akal. “Oppa… itu hanya karena kami sama-sama suka menari. Kami  hanya berbagi ilmu. Berlatih bersama.”

“Kalian juga sering berkencan, aku melihatnya,” tambah Kibum Hyeong.”Bukankah itu pertanda bahwa kalian berpacaran? Jangan-jangan kalian masih berpacaran hingga sekarang. Cinta yang tetap ada walau tiga tahun telah berlalu,” Kibum Hyeong berbicara seperti membaca puisi.

“Kami tidak berpacaran. Titik,” Minhye menatap  dengan kesal.

“Lalu apa namanya?”  tanyaku.

Jongin menatapku dengan kesal. Minhye juga begitu. Apakah aku mengucapkan sesuatu yang salah? Aku hanya bertanya karena ingin tahu lebih jelas  hubungan mereka. Mereka memang seharusnya menjelaskan  hubungan mereka yang sebenarnya agar orang di sekitar mereka tidak salah paham. Aku hanya membantu mereka memperjelas semuanya –dengan bertanya.

Wae? Aku hanya ingin tahu,” belaku gugup. “Kalian bersahabat, bukan begitu?”

“Aku tidak su–.”

“ –Ne… kami sahabat dekat,” Jongin memotong kalimat Minhye. “Itulah alasan di balik semua itu.”

“Cih…,” Minhye melipat tangannya di depan dada. “Emm… kami sahabat seperjuangan. Puas?”

Baekhyun Hyeong terlihat akan menyatakan sesuatu. Tetapi beruntungnya –bagi Jongin dan Minhye-  Seunghwan Hyeong datang menjemput kami. Kami harus segera menyelesaikan jadwal kami hari ini dan kembali ke dorm untuk istirahat. Masih banyak lagi jadwal melelahkan menanti besok.

“Jongin-ah!” Minhye menyusulku dan Jongin sesaat sebelum memasuki mini bus kami.

Mwo?”

Minhye meminta Jongin merapat dan merendahkan tubuhnya. “Noona sudah kembali, bukan?” bisiknya, namun tidak bisa di katakan berbisik.

“Aku tahu. Aku bertemu dengannya tadi siang.”

Minhye menegakan tubuhnya dan mengangguk santai. “Baguslah. Apa kita harus melakukan hal itu lagi? Aku rasa kita masih seperjuangan. Aku yakin kali ini akan berhasil. Noona akan me –.”

“Yak…!” Jongin segera membekap mulut Minhye. “Tidak, terima kasih.”

“Baiklah,” Minhye melepaskan bekapan Jongin dengan kesal. “Kita lakukan dengan cara kita masing-masing. Semoga berhasil!”

Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak mengerti dengan jalan pemikiran, tingkah, intinya apapun tentang gadis itu. Setelah bertengkar dengan Jongin beberapa saat lalu, kini dia seperti mengajak Jongin untuk bekerja sama. Aku tidak bisa menebak orang seperti apa dia. Aku tidak pernah seburuk ini dalam menilai orang.

Dia tidak ikut kami ke Sukira seperti rencana awal. Minho Hyeong-lah yang akan mengantarnya pulang. Syukurlah, dia tidak akan membuat keributan lagi. Tetapi, lihatlah dia sekarang! Berlari berjingkrak-jingkrak saat Minho Hyeong memanggilnya. Apakah seperti itu cara seorang gadis berprilaku di hadapan orang yang dia sukai?.

Kajja Hyeong… apa yang ditunggu?” Jongin menarikku agar segera masuk ke dalam mini bus.

“Jongin-ah… bukankah tadi dia bilang ‘Noona’? Bukankah seharusnya ‘Eonni’?”

“Tidak perlu dipikirkan. Dia memang begitu. Lihatlah kerutan di dahimu Hyeong, memikirkan tingkahnya akan membuatmu terkena hipertensi.”

“Oh…,” aku hanya mengangguk ringan.

-Chapter Two-

 Aku tidak yakin jam berapa Jongin pulang semalam. Dia tidak kembali ke dorm bersama kami setelah rapat evaluasi di perusahaan semalam. Semalam –tepatnya dini hari- dia meminta izin untuk membantu Taemin, Taemin sendiri yang meyakinkan Youngjun Hyeong. Bukanlah hal yang biasa Jongin memilih diam di perusahaan dan tidak pulang sesegera mungkin –jika untuk membantu orang. Dia hanya akan betah di perusahaan untuk berlatih. Selebihnya,  lebih baik pulang –ke dorm– dan beristirahat.

Tubuhku yang terasa kaku ini menggeliat dengan tidak nyaman. Mataku belum jelas melihat sekeliling. Hanya terlihat bayangan samar Kris Hyeong, Jongdae Hyeong dan Jongin yang tidur di tempat mereka masing-masing. Kalau tidak salah, aku sempat mendengar Kris Hyeong mengigau saat Jongin pulang. Dia  tidur dengan posisi yang paling benar –mungkin- dan dia sangat pulas. Tidak seperti dua orang lainnya yang tidur dengan gaya aneh.

Suara berisik di luar kamar membuatku segera melirik jam waker yang tergeletak tengkurap di  atas meja. Salah satu diantara kami mungkin yang melakukannya  saat berusaha menghentikan panggilannya. Pukul delapan pagi kurang beberapa menit. Aku kesiangan.

“Ah… apa aku  membangunkanmu?” sambut Minseok –Xiumin- Hyeong saat pintu kamar aku tutup perlahan.

Anii, Hyeong,” jawabku dengan suara serak sembari berjalan ke dapur. “Butuh bantuan?”

Dia menggeleng pelan, “Hampir selesai,setelah ini aku akan membantumu menyiapkan sarapan.”

Aku mengangguk mengiyakan. Minseok Hyeong memang selalu begini. Bangun pagi-pagi sekali, membereskan  dorm dari kekacauan adik-adiknya dan membantuku menyiapkan sarapan. Sosok kakak laki-laki yang hampir sempurna. Dia sangat memperhatikan kami melebihi dirinya sendiri. Siapa yang akan menyangka dia memiliki sisi itu di balik wajah polos dan linglungnya?  Dia memang tidak terlihat memiliki itu semua. Tetapi siapa menduga, dialah ‘Big Brother’ EXO.

Tiga puluh menit berlalu untuk menyiapkan sarapan, baru selesai dua per tiganya. Aku dan Minseok Hyeong hanya menyiapkan sarapan sebagai ‘ganjal perut’. Setelah ini, barulah kami akan sarapan yang sesungguhnya.  Hanya  perlu menunggu Youngjun Hyeong atau Seunghwan Hyeong membelikannya untuk kami. Tidak memungkinkan bagiku untuk menyiapkan sarapan ‘sesungguhnya’ bagi mereka. Kami dua belas pemuda yang masih dalam masa pertumbuhan, jadi makan kami tidaklah sedikit.

Satu per satu pemuda dari ‘planet’ entah berantah itu bangun. Sebenarnya  Minseok Hyeong dan juga Junmyeong Hyeong yang  membangunkan mereka. Dan yang  paling susah di bangunkan adalah Jongin serta Luhan Hyeong, terkadang Lay Hyeong dan Kris Hyeong juga. Untuk Luhan Hyeong, Sehun-lah yang akan mengurusnya. Sedangkan Kris Hyeong akan diurus Tao dan Chanyeol. Sisanya, kami hanya menunggu keajaiban atau manajer Hyeongdeul yang akhirnya bertindak.

“Oh… tidak mungkin!” pekik Junmyeon Hyeong sembari melihat layar ponselnya.

“Ada apa?” tanya Luhan Hyeong yang baru memasuki ruang makan.

“Kalian… apapun yang terjadi, jangan membuka pintu. Algesseoyeo!?!”

Ne…,” jawab mereka kompak dengan mata terpejam.

Aku dan Minseok Hyeong hanya saling menatap heran. Minseok Hyeong bertanya tanpa suara tentang apa yang terjadi dengan Junmyeon Hyeong. Tentu saja aku tidak tahu. Tidak biasanya Junmyoen Hyeong panik  seperti itu. Tunggu, dia sering sekali panik tetapi yang satu ini berbeda.

Ting…tong!

Junmyoen Hyeong menghentikan aktivitasnya. Matanya membulat sempurna. Telinganya tiba-tiba berubah, terlihat lebih besar seolah ingin menangkap suara lebih banyak lagi. Sehun beranjak dari tempat duduknya  berniat untuk membukakan pintu setelah bel kedua berbunyi. Junmyeon Hyeong mencegahnya tanpa suara. Sehun menurutinya begitu saja tanpa bertanya.

Ting…tong!

Setelah bunyi bel yang kesekian kalinya itu, bunyi selanjutnya adalah suara pintu yang terbuka. Leader EXO-K itu menahan napas dan terlihat seperti terkena serangan jantung.  Kami semua kebingungan dan panik melihat dirinya sekarang. Apakah  sesuatu yang salah terjadi dengannya?

Oppagood morning!” teriak nyaring seseorang dari arah pintu masuk. “Aku membawakan sarapan,” tambahnya.

Chanyeol dan Jongdae Hyeong sigap berlari menghampiri suara itu. Beberapa detik berikutnya mereka datang dengan masing-masing dua plastik putih besar. Pemilik suara nyaring itu mengikuti di belakang. Dia menyapa  kami semua dengan senyum paginya yang cerah.

“Jongin-ahpalli!” dia berbalik  dan menyeret Jongin yang berjalan seperti mayat hidup di belakangnya, dia baru saja bangun. “Maaf, aku hanya membawakan dakjuk sebagai sarapan. Cho Eomma tidak memiliki persediaan sayuran yang cukup banyak. Tetapi lain kali aku berjanji akan membuatkan sarapan ala rumahan.”

“Cho Eomma?” tanya Sehun.

“Dia  memanggil eomma Kyuhyun Hyeong seperti itu,” jelas Junmyeon Hyeong.

“Gomawo atas sarapannya,” Sehun segera melahap bagiannya.

Junmyeon Hyeong menghela napas. “Dari mana uang untuk membeli ini semua. Apa kamu memintanya pada orangtua Kyuhyun Hyeong.”

Anii… Jonghyun Oppa yang memberiku uang,” jawabnya santai sembari mendudukan Jongin dan  mengambil tempat di antara kami berdua.

Nde? Biasanya semua uangmu akan lenyap untuk membeli buku. Sejak kapan makanan lebih penting dari pada  buku-buku itu. Apalagi membelikan makanan untuk orang lain.”

Minhye nyengir kuda. “Oppa-lah yang akan membelikan aku buku.”

Mwo?” Junmyeon Hyeong terbatuk-batuk. Dia salah menelan makanannya karena terkejut.

NeOppa yang akan membelikanku buku. Ah, Jongin juga.”

Jongin melambaikan tangannya di udara sebagai tanda penolakan. “Tidak akan pernah. Aku tidak akan mengeluarkan sepersen pun untuk buku-bukumu,” tolak Jongin dengan suara serak khas ‘manusia yang masih mengantuk’.

Minhye mengerucutkan bibirnya. “Dasar pelit… Junmyoen Oppa adalah orang kaya dan berpenghasilan sendiri. Dan Jongin juga begitu, sudah memiliki penghasilan sendiri sebagai artis terkenal. Apa susahnya membagi sedikit denganku?”

“Tidak akan!” bentak Junmyeon Hyeong dan Jongin berbarengan.

Arasseo…, aku harap kalian suka dengan sarapan yang aku bawa,” Minhye beranjak dari tempat duduknya.

“Yak… mau ke mana?” panggil Jongin.

“Kuliah!” jawab Minhye singkat.

“Apa kamu marah?”

Minhye memutar badannya sebelum keluar dari wilayah dapur. “Anii… Apa untungnya marah? Sudahlah aku hampir terlambat untuk hari pertama kuliahku.”

“Minhye-ah!” Junmyeon  Hyeong terlihat merasa tidak enak dengan Minhye. “Aku akan membelikanmu buku, apapun. Jangan marah, eoh?” Junmyoen Hyeong panik.

“Tidak perlu!” teriak suara dari arah pintu masuk. “Aku akan membeli ‘mereka’ dengan uangku sendiri.”

Belum sempat Junmyeon membalas pernyataan Minhye, terdengar suara pintu yang terbuka kemudian kembali tertutup. Junmyeon Hyeong menelan ludah dengan susah payah sedangkan Jongin terlihat tidak peduli. Dia menyantap sarapannya dengan mata setengah terpejam.

“Kyungsoo-ah, bagaimana ini?”

“Aku tidak tahu Hyeong. Dia tidak marah.”

“Apa begitu?” Junmyeon Hyeong cemas. “Lay, bagaimana?”

“Emm… dia tidak terlihat marah. Tenang saja!”

“Betul Hyeong. Orang seperti dia akan melupakan sesuatu dalam sekejap,” tambah Chanyeol.

“Jangan sok tahu,” sindir Kris Hyeong.

“Tetapi dia terlihat seperti itu,” Chanyeol berpikir keras.

Aku membenarkan pemikiran Chanyeol. Mungkin dia akan melupakan kejadian ini setelah beberapa jam berlalu. Jika sifatnya berubah-ubah seperti yang aku liat beberapa waktu lalu, berarti masalah kecil seperti ini akan segera dia lupakan. Siapa yang tahu? Tidak ada yang mampu membaca jalan pikirannya.

-Chapter two-

“Kamu baik-baik saja?” Kris Hyeong merangkul pundakku dengan santai.

Aku mengangguk kencang, berusaha sesemangat mungkin. Jujur, aku sangat letih. Tidur di dalam pesawat selama perjalanan kembali dari China sama sekali tidak membuat tubuh ini merasa lebih baik. Aku merasakan pegal di sana-sini. Tetapi sangat tidak baik jika aku mengeluh. Member yang lain pasti merasakan hal yang sama.

Butuh tenaga ekstra untuk melewati kerumunan fans yang menyambut kami di bandara. Jongin dan  Kris Hyeong sudah seperti bodyguard karena berdiri di kiri-kananku dan menghalau tangan-tangan jahil yang terkadang menarik apapun yang bisa mereka tarik. Jika sedang sial, pipimulah yang akan terkena sapaan kuku-kuku indah mereka.

Beruntungnya sekarang tidak lagi seperti itu. Para fans sudah mengerti dengan sangat privasi artis  idola mereka. Mereka hanya akan berteriak mengelukan nama kami, mengambil gambar dan maksimal menjulurkan tangan untuk memberi beberapa bingkisan.

Setengah rombongan manajer dan coordi berada di barisan depan saat keluar dari bandara, sisanya menjaga di belakang dengan beberapa barang panggung kami. Jongin tengah berbicara dengan seseorang di belakang kami –rombongan coordi.  Dia bertingkah cukup aneh, seperti menggoda mereka atau entahlah. Apakah dia sedang tebar pesona? Sedangkan Kris Hyeong hanya tersenyum-senyum melihat tingkah Jongin.

Rasa penasaranku akhirnya membimbing kepalaku untuk berputar dan melihat ke belakang. Begitu.  Jongin bercanda dengan seorang gadis yang selama di China menjadi penerjemah kami. Dia  bukanlah penerjemah untuk kami, lebih sebagai penerjemah yang membantu para manajer dan coordi. Dia memang tidak mau muncul di televisi saat kami berpartisipasi dalam sebuah variety show di China, lebih tepatnya di kampung halaman Lay Hyeong –Changsha. Dia lebih nyaman berada di belakang panggung dengan coordi. Kalau tidak salah, dia adalah adik Jin Hyeong –manajer SHINee.

Mini bus berwara putih dengan foto official album kami –mirip dengan ‘EXO school bus’- menanti beberapa meter di hadapan kami. Dua van hitam lainnya dan sebuah mobil box terparkir tidak jauh dari mini bus itu. Coordi dan menajer setengah berlari menghampiri mobil box untuk menaruh tas-tas besar berisi kostum dan segala tetek bengeknya. Sedang para artis yaitu kami, melompat girang menuju mini bus kesayangan kami.

Mereka berbondong-bondong untuk segera masuk ke mobil  –mini bus. Aku dan Kris Hyeong tetap berjalan dengan santai. Beda dengan Jongin yang segera berlari hingga menyenggol Jongdae Hyeong. Tingkahnya yang susah sekali hilang di manapun dia berada. Dan hal itu menjadi hal terlucu  dan terimut untuk fans.

Kris Hyeong memintaku untuk masuk terlebih dahulu. Dia seolah mengatakan, dialah yang sebaiknya menjadi yang terakhir bukan  aku. Baiklah. Aku akan menurut. Aku  juga merindukan tempat duduk favoritku dan ingin segera menempatinya. Baris ketiga di sini kiri  dekat dengan jendela. Biasanya Jongin yang akan duduk di sebelahku atau Junmyoen Hyeong. Sayangnya aku harus kecewa, tempat duduk favoritku telah ditempati tuan barunya. Luhan Hyeong mengambil tempatku dan duduk bersama Jongin. Ternyata hal itu di karenakan Tao mengambil tempatnya di samping Sehun. Tidak biasanya.

Hyeong… di belakang saja bersama Kris Hyeong,” saran Jongin sembari menunjuk tempat duduk paling belakang.

Nde?”

“Ayolah…,” rengek Jongin.

“Baiklah,” aku mengalah.

Aku berjalan perlahan menuju  kursi belakang. Langkah kakiku terhenti di dua baris sebelum baris kursi panjang itu. Sesosok orang tertidur di sisi kiri dengan kepala bersandar pada jendela. Kacamata bulat besar membingkai matanya hampir sampai di pipi –karena sangat besar.  Dia memeluk buku super tebal bersampul hitam dengan gambar seorang pria berpakaian mirip detektif zaman dulu. Buku itu dalam keadaan terbuka. Aku mendekat perlahan, mencoba mengenali ‘orang yang tengah tidur’ itu.

“Oh… gadis pengacau tertidur,”  celetuk Kris Hyeong tepat di belakangku.

“Gadis pengacau?” gumamku. “Minhye?” pekikku baru mengenalinya.

Kris Hyeong tiba-tiba menerobos posisiku. Hampir saja aku tersungkur dan menindih Lay Hyeong. Rupanya Kris Hyeong menginginkan posisi di sisi kanan dekat jendela. Itu berarti aku harus duduk di tengah, diantara dia dan Minhye yang tertidur.

“Apa yang dia lakukan di sini?” tanyaku ingin tahu sembari meletakkan tas ranselku di dekat kaki.

Jongin berbalik agar dapat melihat dengan jelas ke spot Minhye. “Tidak tahu. Tiba-tiba saja dia ada di situ dalam keadaan tidur pulas.”

“Tidakkah sebaiknya kita membangunkannya?” usulku.

“Jangan!” Junmyeon Hyeong melambaikan tangannya di udara. “Biarkan dia tetap tidur.  Jika dia bangun, kita tidak  akan bisa beristirahat.”

“Betul…biarkan saja. Selain itu, dia tidur dengan begitu nyenyak. Tidak etis membangunnya,” tambah Kris Hyeong.

Tidak etis? Aku tidak dapat menemukan sisi mana yang tidak etis. Aku tidak sempat menyangkal karena pintu mini bus kembali terbuka. Youngjun Hyeong sepertinya akan mengecek kami. Apakah lengkap atau tidak.

“Siapa yang tidur di belakang?” tanyanya dengan suara yang cukup kencang.

“Ssst!” Jongin dan Junmyeon Hyeong hampir bersamaan menghalau teriakan Youngjun Hyeong berikutnya.

Kembali terdengar pintu mobil yang dibuka dan ditutup beberapa  detik kemudian. Aku melihat   supir  ‘pribadi’ kami –Jungho Hyeong– menempati singgasananya.

“Ada apa?” tanyanya.

“Siapa gadis yang tidur di belakang?” tanya Youngjun Hyeong.

“Ah… dia yeodongsaeng Kyuhyun. Sooman Sajangnim mengizinkannya ikut tadi. Aku  tidak mungkin menolak.”

Youngjun Hyeong berdecak. “Baiklah. Semua sudah berkumpul? Tidak ada barang yang tertinggal?” dia berbicara setengah berbisik.

Kami hanya mengangguk kompak. Setelah menerima tanggapan seragam kami, Youngjun Hyeong bergerak menuju tempat dia seharusnya berada –sebelah Jungho Hyeong. Tetapi tunggu,  dia tidak duduk di sana. Sepertinya dia akan bergabung dengan manajer yang lain di van hitam, yang terparkir tepat di depan mini bus ini.

Tidak perlu menunggu lama, rombongan kami mulai meninggalkan area bandara. Fans kembali berteriak-teriak di luar sana. Aku hanya mampu melambai-lambai di dekat jendela dengan harapan mereka melihatnya. Tetapi aku rasa tidak akan, karena jendela di dekatku hanya terbuka setengahnya. Sedangkan setengahnya lagi tertutup korden dan tempat Minhye bersandar.

Bug…!

“Oh… suara apa itu?” pekik Jongin.

Aku melirik Minhye di sebelahku. Dia tengah mengelus-ngelus kepalanya dengan mata masih terpejam. Buku yang dia peluk sedari tadi telah tergeletak di dekat kakinya. Apakah dia akan terbangun?

Daebak… apa itu suara kepala Minhye yang terantuk di jendela?”  tebak Jongin.

“Maaf…,” ucap Jungho Hyeong. “Aku kurang hati-hati saat melintasi ‘polisi tidur’.”

“Ey… dia tidak terbangun?” Sehun memutar tubuhku untuk melihat ke belakang.

Benar kata Sehun, Minhye kembali melanjutkan tidurnya. Kepalanya kembali bersandar pada jendela. Posisi yang hampir sama dengan sebelumnya kecuali untuk bagian buku yang dipeluk. Benar-benar menakjubkan, dia sama sekali tidak terusik oleh benturan itu. Padahal dia sempat mengelus kepalanya dan meringis kesakitan tadi.

“Awas  kepalanya bisa terbentur lagi! Sepanjang jalan keluar bandara ada beberapa ‘polisi tidur’,” peringat Jungho Hyeong lagi.

Hyeong!” Jongin terdengar khawatir.

“Apa yang harus aku lakukan?”

“Perlahan pindahkan kepalanya ke bahumu,” ajar Kris Hyeong.

Nde?”

Junmyoen Hyeong melakukan hal yang sama dengan Jongin dan Sehun –melihat ke belakang. “Mendekatlah ke dia, dan perlahan gerakan kepalanya agar bersandar di bahumu.”

Palli, Hyeong tega kepalanya terbetur lagi?” Sehun tidak sabaran.

“Baiklah,” aku menyerah.

Aku menggeser bokongku hingga jarak kami kurang dari sejengkal. Perlahan tangan kananku meraih  pipi kirinya. Dia sempat bergerak  dan membuat tanganku terjepit di antara kepalanya dan jendela. Perlahan aku menarik kepalanya  mendekat ke bahuku. Tubuhnya mengikuti kepalanya untuk bergerak condong ke kanan dan bersandar di bahuku. Berhasil, dia telah bersandar dengan nyaman di bahuku. Hebatnya, dia tetap tidak terusik.

“Kalian terlihat serasi,” gumam Kris Hyeong.

Hyeong,” rengekku.

Kris Hyeong hanya menatapku sekilas dan tersenyum penuh arti. “Sudahlah, jangan berisik. Dia akan terbangun nanti.”

Bagaimana dia akan terbangun? Aku mendengus kesal. Walaupun aku berteriak hingga tiga oktaf, dia tidak akan terbangun. Dia tertidur seperti beruang  yang tengah berhibernasi. Tidak. Seperti putri tidur yang di sihir penyihir untuk tidur selamanya. Dia tidak akan terbangun apapun yang terjadi –mungkin.

Aku kembali mendengus. Sialnya, hal itu membuat adanya pergerakan pada gadis yang tidur di bahuku sekarang ini. Aku menahan napas. Apa yang harus aku katakan jika dia terbangun dan mendapati dirinya tengah tidur di bahuku? Apakah dia akan marah? Bukankah seharusnya aku yang marah? Semoga dia  tidak terbangun.

Aku mulai tidak nyaman dengan semua ini, bukan karena aku ingin beristirahat seperti yang lain, hanya saja rasanya aneh. Bagaimana aku bisa menarik napas dengan bebas jika wajahnya begitu dekat dengan wajahku? Mungkin karena aku tidak bernapas dengan teratur, pipiku terasa mulai memanas. Tubuhku juga, sepertinya aku akan terkena demam. Tidak, mengapa jantungku juga ikut bekerja dengan aneh?

Hampir satu jam aku  bertahan dalam posisi ini. Diapun sudah tidak bergerak lagi sejak tadi. Member yang lain tengah tidur dengan nyenyak. Apalagi pemuda tinggi keturunan China yang tidur di sebelahku. Dialah pangeran tidur, istilah yang aku buat sendiri. Tubuhku terasa pegal. Namun apa daya, dia masih berbantalkan bahuku.

Aku bersyukur pada Tuhan karena akhirnya semua  ketidaknyamanan ini berakhir. Jungho Hyeong menghentikan mini bus tepat di depan pintu masuk lobi perusahaan. Tanpa dibangunkan pemuda-pemuda sukses itu –member EXO- terbangun dari tidurnya. Mereka kembali berbondong-bondong turun dengan tubuh sempoyongan. Kris Hyeong menggeliat di sebelahku. Dia mengintip sejenak pada jendela sebelum beranjak.

“Bangunkan dia!” perintahnya sesaat sebelum turun dari mini bus.

Hyeong, bagaimana?”

Kris Hyeong tidak mendengarku. Aku melirik kursi kemudi,  Jungho Hyeong juga tidak ada. Kemana perginya? Pandanganku beralih pada Minhye yang masih memejamkan matanya. Apa yang harus aku lakukan untuk membangunkannya? Entah mengapa aku menjadi gugup untuk mengeluarkan suaraku. Rasanya ada yang menahan suaraku di kerongkongan.

Beberapa menit berlalu, dia tidak kunjung bangun. Aku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru mini bus, berharap akan ada yang naik atau ternyata masih tertinggal di dalam selain aku dan Minhye. Atmosfer macam apa ini? Kenapa terasa sumpek? Sepertinya udara mulai menipis, aku susah bernapas.

“Oh… kalian masih  di situ?” tanya Jungho Hyeong yang kembali menduduki kursi kemudi. “Dia belum bangun?”

Aku menggeleng pelan. Segera aku memasang wajah memelas meminta bantauannya.

“Yak… bangunkan dia perlahan. Guncang-guncangkan pundaknya atau tepuk-tepuk pelan pipinya. Palli, aku harus memindahkan mobil.”

“Ah…Ne.”

Aku mengguncangkan pundaknya perlahan. Dia tidak kunjung membuka matanya ataupun sekedar menggeliat sebagai respon. Aku mendekatkan  wajahku agar dapat melihatnya lebih dekat.

“Minhye-ssi, bangunlah!” bisikku pelan. “Oh!” pekikku tertahan saat matanya tiba-tiba terbuka. “Kita sudah sampai,” tambahku.

Gamsahamnida,” ucapnya segera setelah menegakan kepalanya.

Ne…,” jawabku terbata, kebingungan.

Dia tidak terlihat seperti orang yang baru saja bangun tidur. Dia bahkan tahu –ingat- di sebelah mana bukunya terjatuh. Setelah memungut bukunya dan mengambil tasnya di sudut mini bus, dia berjalan cepat menuju pintu keluar. Apakah dia melupakanku di sini? Dia tak acuhkanku saat memintanya berhati-hati menuruni tangga mini bus. Sangat aneh.

“Apa kamu masih akan diam di situ?” Suara Jungho Hyeong memecah lamunanku.

Anii… aku akan turun sekarang.”

-Chapter Two-

Aku tidak tahu harus menyebutnya apa, teriakan atau jeritan? Yang jelas aku dapat menangkap namaku yang di lontarkan dengan lantang oleh mereka. Mereka –fans– bisa di katakan cukup  tenang sekarang, tidak seperti beberapa saat lalu ketika kami baru saja  turun dari EXO school bus. Mereka terus menjerit  seperti orang yang kesurupan. Baiklah, tidak seharusnya aku mengatakan itu.

Seperti artis kebayakan yang baru saja mengeluarkan album, saatnya mengadakan acara fansign. Beruntungnya bagi fans Busan karena kami mengadakan fansign  di sini. Sebenarnya kamilah –EXO- yang beruntung karena bisa mengadakan fansign dengan fans sebanyak ini. Tanganku harus kuat menandatangai setiap lembar yang mereka sodorkan. Semangat!

Antrian fans masih sangat panjang.  Aku salut pada mereka yang rela menunggu selama ini walaupun harus terjemur di bawah terik sinar mataharisiang tadi. Semoga mereka sedikit terbantu dengan beberapa stan makanan dan minuman yang di persiapkan pihak penyelenggara dan staf.

Minseok Hyeong yang duduk di sebelah  kiriku terlihat begitu semangat. Dia tidak henti-hentinya diminta untuk menunjukan ekspresi ‘baozi’-nya oleh fans. Aku dan Jongdae Hyeong –yang duduk di sebelah Minseok Hyeong–  terkadang ikut tertawa. Siapa yang akan mengira dialah yang tertua di EXO? Tidak akan ada. Di ujung lain meja, Kris Hyeong dan Chanyeol terus menerus berpose sebagai couple. Mereka sadar betul kalau fans selalu menangkap pergerakan kita dan mengabadikannya.

Annyeong  haseyeo…,” sapa seorang fans ketika berdiri tepat di hadapanku.

Annyeong haseyo,” balasku dengan ramah.

Aku menunggunya menyerahkan sesuatu yang harus aku tanda tangani tetapi dia tidak kunjung memberikannya. Aku menengadahkan kepalaku, menatapnya dengan mata bulat dan sedikit bertingkah polos.  Sayangnya dia sama sekali tidak melihat ke arahku. Aku melihat matanya dengan jelas bergerak ke sana –ke mari. Dia fans teraneh hari ini. Tidak biasanya fans menutupi wajahnya. Namun beda dengan yang satu ini. Dia menutup wajahnya dengan masker biru bertotol hitam dan topi hitam. Terlihat misterius.

“Kamu adalah fans ke-222-ku hari ini. Aku akan memberi bonus. Kamu boleh memberiku apapun. Aku berjanji akan menggunakannya dan memamerkannya  pada fans yang lain,” godaku.

“Tolong tanda tangannya,” dia menyodorkan secarik kertas yang berisikan fotoku mengangkat kursi.

Dia tidak tertarik sama sekali dengan tawaranku. “Baiklah, namamu?” aku tetap mengumbar senyum walaupun sedikit kecewa.

“Bae Sang Gon.”

Nde?” aku kembali menengadahkan kepalaku, melihat ke arahnya yang tidak kunjung mensejajarkan dirinya denganku seperti kebayakan fans. “Bukankan itu nama namja?”

Ne…,” jawabnya santai. Sebenarnya aku tidak terlalu jelas menangkap suaranya karena masker itu.

“Baiklah… dia namajachingu-mu?” aku sekedar berbasa-basi.

Aniyeyo… bisakah tanda tangani dengan segera? Langit semakin gelap dan masih banyak yang menunggu,” jawabnya ketus.

“Baiklah…,” aku mulai takut dengan fans yang satu ini.

“Ah,tambahkan…,” dia berpikir sejenak. “Tolong tambahkan sedikit catatan ‘Kamu pasti bisa mencapainya’.”

Aku hanya menganguk mengiyakan. Mungkin sebaiknya aku melakukannya dengan segera atau dia akan terusmenatapku dengan kesal. Aku merasakan tatapan tajamnya itu seperti menghujamku. Sebenarnya dia sasaeng fans atau  anti-fans? Sial. Tinta spidolku habis.

“Maaf, spidolnya habis. Tunggu sebentar,” aku melihat sekeliling mencari staf. Minseok Hyeong tidak mau membagi spidolnya.

Aigoo… gunakan ini!” dia mencari sesuatu di tasnya. “Fansign macam apa ini?  Spidol saja bisa habis,” dia masih mencari.

“Tidak perlu.”

Dia tidak menggubrisku. Jengkel karena tidak kunjung menemukan benda  yang dia cari, dia mengeluarkan isi tasnya. Buku tebal bersampul hitam dengan gambar seorang pria berpakaian mirip detektif zaman dulu mendarat di  atas meja dan menimbulkan sedikit suara. Aku memperhatikan buku itu dengan seksama, sepertinya aku pernah melihatnya. Apalagi dengan detail tulisan tangan menggunakan tinta putih di sudut kanan atas buku.

“Ini… gunakan ini dan segeralah,” dia menyodorkan spidol hitam.

Aku masih memperhatikan buku itu. “Novel berbahasa inggris? Tidak banyak yang membacanya. Kamu memiliki kegemaran yang sama dengan seseorang yang aku kenal.”

Dia segera mengambil dan memasukkan buku itu ke dalam tasnya. “Sudah selesai ‘kan?”

Ne…,” aku menyodorkan  kertas berisi  fotoku yang telah kau tanda tangani.

Gamsahamnida.”

Dia membungkuk hormat dan berlari kecil menjauh tanpa mempedulikan uluran tanganku. Bukankah seharusnya kita berjabat tangan? Fans yang aneh. Walaupun begitu dia tetap fans kami. Setelah dia tidak terlihat lagi, aku baru menyadari bahwa spidolnya tertinggal. Aku memperhatikan dengan seksama spidol itu. Terdapat kalimat pendek yang ditulis tangan sepanjang tubuh spidol. Kalimat itu mirip dengan yang ada di buku –novel- tebal itu –kalau tidak salah lihat.

조화에 따라 읽기

(johwa e ttala ilg-gi)

To be continued…

Author ‘s Note:

Bug…!

Kepala Minhye terantuk dengan keras, pasti akan menyisakan benjolan yang besar. Suara yang cukup keras itu mengalihkan perhatian hampir seluruh isi mini bus terutama pemuda bermata besar yang duduk di sebelahnya. Dia hendak membuka matanya dan  melayangkan umpatan, namun dia urungkan. Suara menyindir dan tawa kecil beberapa pemuda membuat dia mengurungkan niatnya. Malu, dia sangat malu. Lebih baik dia lanjutnya saja tidurnya. Ya. Dia harus berpura-pura tidur sampai seseorang membangunkannya.