Tags


JOAH 1 copy

Title                       : JOAH –Strange Girl “Chapter One”

Author                  : Chanyeonie

Main Casts          : Do Kyungsoo (EXO-K)| Choi Minhye (OC)

Support Casts    : Find by your self ^^

Genre                   : Romance, Fluff

Length                  : Chaptered.

Rating                   : Teen

Warning              :

Typo yang mungkin akan menggangu. Gejala kebingungan yang akan  dialami reader karena narasi author yang ruwet. Penulisan yang –mungkin- tidak sesuai EYD. Beberapa kesoktahuan tentang SM Familly khususnya EXO.

“Special for someone that likes EXO –especially D.O and Chanyeol –because of me.”

-Chapter One-

“Oke… Kyungsoo-ah,Truth or Dare?” Tanya Suho

“Aku truth saja, Hyeong,” jawab Kyungsoo –DO- dengan enggan.

“Baiklah… ada yang punya pertanyaan? Pertanyaannya harus benar-benar bagus.”

Hampir seluruh member EXO mengangkat tangan dengan antusias. Suho menggeleng-gelengan kepalanya dengan santai.

“Aku Hyeong.”

“Ah… Jongdae-ah! Seharusnya memang kamu yang bertanya. Bukankah tadi kamu yang terakhir?”

Chen –Jongdae- mengangguk ringan. “Ehem… Kyungsoo­-ah, apa yang akan kamu lakukan untuk menyatakan perasaanmu pada seorang gadis yang kamu sukai? Cara yang unik dan hanya kamu yang mungkin melakukannya.”

“Yak… pertanyaanmu itu mengarah ke mana? Truth apa Dare?” sindir Kris. “Jangan bilang kamu mau mencontek cara Kyungsoo. Kamu lagi menyukai seseorang, Chen-chen?” selidik Kris.

“Aku tidak sedang menyukai siapapun saat ini,” sambar Kyungsoo, tetap dengan ekspresi wajah datar.

“Ey… seandainya, seandainya. Tsk…,” Chen mengerucutkan bibirnya.

“Pertanyaan basi,” lagi-lagi terdengar suara menyindir. “Kyungsoo kita akan membuatkan bento spesial  untuk gadis yang dia sukai,” jelas Baekhyun.

Mwo? Nasi bekal?!!” pekik Sehun.

Aigoo…,” Kai menoyor kepala Sehun. “Bento… bento. Bekal khas Jepang yang antik dan ‘wah’ dekorasinya –isi- itu.”

“Intinya tetap nasi bekal,” gerutu Sehun.

“Emm… seperti kata Baekhyun Hyeong, aku akan memberinya bento spesial.”

“Lalu?” Luhan menunggu kelanjutan jawaban Kyungsoo.

“Yah… bento spesial, hanya itu. Hanya bento spesial,” Kyunsoo masih menjawab dengan datar.

“Tanpa ada adegan-adegan romantis? Misalnya menghias pohon dengan lampu warna-warni?” Lay  ikut penasaran.

Kyungsoo menggelengkan kepalanya perlahan. “Anii… hanya memberinya bento  dan selesai.”

-Chapter One-

Aku bercermin  beberapa kali untuk memastikan tidak ada lingkar hitam di sekitar mataku. Semalam aku tidak dapat tidur dengan tenang. Beberapa kali aku terbangun karena mendapat mimpi buruk. Baekhyun Hyeong yang bersamaku sedari tadi juga melakukan hal yang hampir sama. Kami berdua bercermin tanpa mempedulikan rasa malu –karena kami hanya berdua- pada dinding lift yang kebetulan berlapis kaca.

Aku memperhatikan dengan seksama kedua mataku. Aku rasa aku melihat sedikit lingkar hitam tetapi tidak lebih hitam dari yang dimiliki Tao. Aku harap para kordi mampu membuat lingkar hitam ini tidak terlihat saat di atas panggung nanti.

Hari ini adalah hari bersejarah kedua kami –EXO- setelah  hari debut kami.Ya. Penampilan pertama untuk promosi album pertama kami akan berlangsung dalam hitungan jam. Sekitar tiga jam dari sekarang. Aku dan Baekhyun Hyeong memilih untuk menunggu yang lain di lobi gedung SMent. Kami berniat untuk menghindari beberapa aura negatif yang menyeruak akibat semua member gugup total. Khususnya Junmyeon –Suho- Hyeong dan Jongin­ –Kai. Entah mengapa mereka merasa sangat terbebani hari ini.

Ting…!

Baekhyun Hyeong menyikut perutku perlahan karena ternyata pintu lift terbuka. Aku tertunduk malu. Semoga mereka –penumpang lift selanjutnya- tidak melihatku yang bercermin dengan cara yang aneh beberapa detik lalu. Aku terus tertunduk  tanpa ada sedikitpun niat untuk mengetahui siapa yang berdiri di sebelahku. Aku hanya yakin bukan Baekhyun Hyeong karena aroma parfumnya berbeda.

“Kyungsoo-ah… apakah kamu gugup?” ucap suara di sebelahku.

Aku menegakan kepalaku dengan cepat. “Emm… Ne, sangat gugup… Hyeong,” jawabku terbata.

“Tsk…tenanglah. Para staff dan fans tidak akan  memarahimu jika salah. Jadi, santai saja. Pikirkan  para fans, dan gugupmu akan sedikit berkurang. Ingat,  tampil yang terbaik untuk fans bukan untuk mendapat penghargaan. Bukan begitu Baekhyun-ah?”

Aku melirik Baekhyun Hyeong di sudut  lain lift , dia mengangguk mengiyakan dengan antusias. Ryeowook Hyoeng menepuk pundak kami berdua. Tidak ada yang salah dengan yang dia katakan. Bukankah dia lebih dahulu terjun di dunia ini. Bahkan aku yakin, perjuangnya lebih besar dari kami. Tidak dapat dipungkiri, EXO bisa  memiliki nama besar karena para pendahulunya yang luar biasa.

Ting…!

Pintu lift kembali terbuka ketika mencapai lantai dua. Seorang pemuda berkulit putih dengan rambut ikalnya masuk dengan terburu-buru. Semua  orang mengenalinya sebagai maknae Super Junior. Siapa lagi kalau bukan Kyuhyun Hyoeng, salah satu dari tiga lead vocal di  Super Junior. Dan Ryeowook Hyeong termasuk di dalamnya.

“Bagaimana dia bisa hilang?”  tanyanya dengan gusar pada seseorang di seberang sambungan telepon. “Oh… annyeong haseyeo!” sapanya pada  kami bertiga.

“Kyuhyun-ah, ada apa?”

Eomma  membuat masalah,” jawabnya dengan cepat dan kembali fokus pada ponselnya.

Nde? Ahjummonim membuat masalah? Tidak salah dengar?”

Kyuhyun Hyeong tak mengacuhkan pertanyaan Ryeowook Hyeong. “Aku sebentar lagi ada jadwal. Bagaimana aku bisa membantu mencari bocah itu? Kenapa  Eomma tidak berbohong saja, bilang aku yang jemput.”  Dia  terdiam sejenak, menunggu jawaban. “Aish… aku akan mencoba menghubungi ponselnya. Semoga  dia mau mengangkatnya.”

“Ada apa?” Ryeowook Hyeong ikut gusar. “Ah… bukankah kamu bilang akan menjemput Minhye hari ini?”

Kyuhyun Hyeong menghela napas berat. “Memang, tetapi ternyata aku ada jadwal untuk persiapan comeback Henry.”

“Oh… lalu?”

“Karena aku tidak jadi menjemputnya, dia kabur. Eomma sudah mencari di seluruh bandara, tetapi tidak ketemu. Dia dengan pintarnya menitipkan barang-barangnya di bagian keamanan dan menghilang. Anak ini selalu membuat masalah,” Kyuhyun Hyeong mengutak-atik ponselnya.

Baekhyun Hyeong dan aku hanya saling menatap. Hampir dalam waktu yang bersamaan kami menggerakkan  dagu seolah bertanya apa yang terjadi. Namun pada akhirnya kami hanya saling menjawab dengan gerakan bahu saja –pertanda tidak tahu apa-apa.

“Kalian akan comeback stage malam ini?” tanya Kyuhyun Hyeong tiba-tiba tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel hitam miliknya.

Ne, Hyeong,” Baekhyun Hyeong menjawab dengan girang demi menyembunyikan rasa gugup yang telah membuncah.

“Selamat berjuang… lakukan yang terbaik. Dan, perhatikan Junmyeon! Dia selalu membuat masalah jika tengah gugup.”

“Kami tahu,” jawab kami hampir bersamaan.

Ting…!

Akhirnya lift ini menyentuh landai dasar gedung SMent yang  mencapai delapan lantai. Lagi-lagi aku dan Baekhyun Hyeong melakukan suatu hal yang sama dan hampir bersamaan yaitu menghela napas. Ryeowook Hyeong mulai terlihat heran karena ulah kami. Bagaimana tidak, dia berada di antara kami berdua dan memperhatikan gerak-gerik kami dengan seksama.

“Yak… kamu di  mana?” Pekik Kyuhyun Hyeong bebarengan dengan  pintu lift yang terbuka.

“Di hadapanmu, Evil-kyu,” ucap santai seorang gadis dengan wajah yang tertutup topi dan kacamata hitam besar.

Kyuhyun Hyeong terkejut. Dia terus melotot tidak percaya. “Kau?”

Mwo? Bukankah kamu bilang akan menjemputku? Cih, Evil-kyu pembohong.”

“Bocah  ini,” geram Kyuhyun Hyeong.

Dia segea keluar dari lift, mencengkram pergelangan tangan gadis itu, dan menyeretnya pergi. Ryeowook Hyeong segera menyusul. Dia sepertinya telah memiliki bayangan tentang apa yang akan terjadi dan dia harus segera menghentikannya.  Sedangkan aku dan Baekhyun Hyeong hanya menjadi penonton yang kebingungan.

“Apa yang terjadi?” tanya Baekhyun Hyeong padaku sembari keluar dari lift.

Aku hanya menggeleng pelan. Sebenarnya aku juga ingin tahu –sangat ingin tahu- apa yang terjadi antara Kyuhyun Hyeong dan gadis itu.  Jadi, aku terus memperhatikan pertengkaran kecil mereka  di dekat pintu masuk gedung SMent. Perhatianku tetap terfokus di sana dan Baekhyun Hyeong-lah yang menuntunku menuju sofa di sudut lobi.

“Kamu ingin ke sana ha’? Menonton percekcokan itu?”ajak Baekhyun Hyeong.

Anii… untuk apa?”

“Tsk… mukamu itu menyiratkan dengan jelas kalau kamu ingin tahu,”Baekhyun Hyeong menajamkan penglihatannya. “Emmm, sepertinya aku pernah melihat gadis itu. Wajahnya sangat familiar,” gumam Baekhyun Hyeong.

“Seingatku kamu selalu mengatakan itu kepada  setiap trainee baru di sini.”

“Aku yakin dia bukan trainee. Tsk… aku yakin sering melihatnya, tetapi tidak berwujud orang. Foto? Ya… dia mirip seseorang di sebuah foto. Emmm, foto siapa?”

Aku menanti celotehan Baekhyun Hyeong selanjutnya. Dia tengah berpikir keras, dan akan berdecak kesal karena otaknya bekerja dengan lambat untuk mengingat hal yag dia inginkan. Sesekali dia akan bertanya padaku dengan harapan aku mampu membantunya mengingat sesuatu. Kenyataannya aku tidak bisa membantunya karena aku memang tidak tahu apa-apa.

“Aish… aku yakin pernah melihatnya. Siapa namanya tadi?”

“Mana aku tahu,” jawabku acuh tak acuh.

Daripada  ikut pusing melihat Baekhyun Hyeong ataupun percekcokan Kyuhyun Hyeong yang masih berlangsung sampai sekarang, aku memutuskan untuk melakukan hal yang lebih berguna. Baekhyun Hyeong sudah menemukan cara untuk melupakan gugupnya yaitu ‘mencari tahu siapa gadis yang bersama Kyuhyun Hyeong’. Lalu aku harus mencari caraku sendiri.

Tangan kananku terbenam di dalam tas hitamku. Meraba-raba ke setiap sudut bagian dalam tas. Akhirnya aku menemukan benda yang aku cari. Sebuah ponsel hitam pertama yang aku beli dengan uangku sendiri.

Jari jemariku dengan cekatan menekan layar ponsel yang kini tengah berada di genggamanku. Aku mendapat sedikit pencerahan untuk menghilangkan sedikit gugup ini. Aplikasi pencari di ponselku mulai melakukan perintah yang aku berikan. Senyumku terkembang dengan sempurna ketika aku mendapatkan apa yang aku mau. Ini dia obat gugupku.

“Kenapa kamu tersenyum?” usik Baekhyun Hyeong.

“Tidak ada,” jawabku singkat tanpa mengalihkan tatapanku dari layar ponsel.

“Oh… lihat!”

Aku menyodorkan ponselku sepersekian detik dan kembali menariknya. Baekhyun Hyeong mengerucutkan bibirnya kesal. Menyenangkan sekali bisa menggodanya. Dia akhirnya merebut ponselku dan tak mengacuhkan protesku.

“Kelihatannya enak. Kapan kamu akan membuatnya?”

“Tidak akan dalam waktu dekat ini dan mungkin tidak akan pernah.”

Wae?” Baekhyun Hyeong menyerahkan ponselku. “Ah… aku baru ingat. Bento tidak untuk umum,” ejanya pada kalimat terakhir.

Aku mengangguk kecil sembari tersenyum. Dia juga ikut mengangguk dengan ekspresi wajah yang aneh, sedikit menyindir –meremehkan.

“Mereka kemari,” Baekhyun Hyeong  mencolekku.

“Siapa?” aku menegakan kepalaku.

Tepat di hadapanku Kyuhyun Hyeong dan gadis itu –yang terlihat sangat kesal –menghampiri kami. Kyuhyun Hyeong melingkarkan tangan kirinya di pinggang sang gadis dan terlihat membisikan sesuatu. Hal itu ternyata membuat kerutan kesal di wajah gadis itu melunak.

“Apakah mereka pacaran?” bisik Baekhyun Hyeong.

“Mana aku tahu, mungkin.”

“Wah… Sooman Songsaengnim bisa mengamuk.”

Anii… Tuan CEO kita yang akan lebih mengamuk.”

Baekhyun Hyeong menggeleng kencang. “Prince Manager akan membunuhnya.”

“Ah… Junghoon Hyeong?” aku mengangguk menyetujui.

Kami segera kembali  bertindak normal walaupun aku yakin tidak. Kyuhyun Hyeong dan gadis itu kini semakin mendekat ke arah kami. Bahkan Kyuhyun Hyeong terlihat tersenyum ke arah kami dengan manis.

“Kyungsoo-ah, Baekhyun-ah… kalian masih di sini?”

Ne… yang lain akan turun sebentar lagi,” Baekhyun Hyeong kembali menjawab dengan antusias.

“Itu Jongin…  dia sepertinya akan ke salon duluan,” tambahku.

Wae?” tanya Kyuhyun Hyeong heran.

“Rambutnya.”

Aku mengangguk mengiyakan jawaban Baekhyun Hyeong yang seratus persen benar. Tatanan rambut Jongin memang membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya.

“Kamu tunggu di sini!” perintah Kyuhyun Hyeong pada gadis itu.

Nde? Aku ikut!” bantahnya.

“Choi  Agasshi, tunggu Eomma di sini! Dia akan menjemputmu. Aku berjanji akan menemanimu dan membelikan apapun keinginanmu, nanti.”

Gadis itu terlihat berpikir, “Baiklah… nanti malam, eoh?”

Nde?”

“Nanti malam kamu harus mengantarku membeli buku ‘Snow Upon The Desert’.”

Kyuhyun Hyeong membulatkan matanya terkejut. “Bukankah kamu sudah punya buku itu?”

“Dulu, tetapi Eomma menyumbangkan semua bukuku ke panti asuhan. Aku akan mulai mengoleksi dari awal. Dan buku karangan pertama Agatha itu akan menjadi awal. Kata temanku salah satu toko buku di daerah Gangnam masih menjual seri itu.”

Nde? Berarti harganya akan mahal?”

“Tentu saja… akh! Aku tidak peduli. Oppa  harus membelikannya untukku atau aku akan –.”

“Baiklah… tunggu di sini!” Kyuhyun Hyeong menghela napas. “Baekhyun-ah, Kyungsoo­-ah… tolong awasi bocah ini. Hubungi aku jika dia berbuat yang tidak-tidak.”

Kami mengangguk  kompak. Sedangkan gadis itu hanya tersenyum girang, mungkin karena berhasil membuat Kyuhyun Hyeong stres.  Ini adalah kejadian pertama dalam sejarah yang dapat kami saksikan secara langsung. Di mana seorang Kyuhyun Super Junior hampir terkena serangan jantung karena ulah  seorang gadis yang tidak aku ketahui namanya.

Kyuhyun Hyeong berjalan dengan lunglai menuju lift. Dan gadis itu melompat-lompat kegirangan. Sepertinya dia sangat senang bisa mengerjai Kyuhyun Hyeong seperti itu. Beakhyun Hyeong memperhatikan tingkah gadis itu dengan seksama. Mungkin dia masih penasaran tentang penemuannya sebelumnya  bahwa dia pernah melihat gadis itu.

“Emmm… aku boleh duduk?” tanyanya membuyarkan lamunan Baekhyun Hyeong.

Ne…,” Baekhyun Hyeong tersenyum manis.

Aku memperhatikan gadis itu sejenak sebelum kembali bergelut dengan ponselku. Celana jeans sepaha berwarna hitam, kaos  lengan  panjang hijau, topi hitam, kaca mata hitam dan snakers. Apakah tipe gadis yang di sukai  Kyuhyun Hyeong seperti ini? Tidak mungkin gadis ini adiknya, setahuku dia tidak punya adik.

“Jongin sedang berbicara dengan siapa? Kenapa dia kembali?”

Celetuk Baekhyun Hyeong membuat aku kembali menegakkan kepalaku.  Benar katanya, Jongin kembali dengan seorang gadis. Lagi-lagi gadis asing yang tidak pernah aku lihat. Apakah mereka semua trainee? Atau aku saja yang tidak tahu menahu dengan keluarga besar SM? Apakah hampir tiga tahun lebih tidak  cukup untukku mengenal SMent?

“Kyungsoo-ah, aku akan menghampiri Jongin,” Baekhyun Hyeong pergi menghampiri Jongin.

“Oh,” jawabku sedikit terlambat.

Entah bisikan apa yang menyuruhku untuk mengecek apakah gadis ‘titipan’ Kyuhyun Hyeong masih ada dan baik-baik saja. Aku bernapas lega ketika mendapatinya bersandar dengan santai di ujung lain sofa yang aku duduki. Dia telah melepas kacamatanya, namun  topi yang dia kenakan masih menyembunyikan wajahnya dengan baik. Aku bahkan tidak tahu sepanjang apakah rambutnya karena topi itu menutupinya. Mungkin sangat panjang dan dia melipatnya di balik topi ‘pengaman’ itu.

Kruiuk…!

Aku tersentak –terkejut, begitu juga gadis itu. Tangannya dengan sigap menyentuh perutnya dan mengelusnya perlahan. Aku yakin sekarang, suara tadi berasal dari perutnya yang keroncongan. Dia hanya tertunduk menatap perutnya dan mengucapkan sesuatu yang hanya dia dan perutnya –mungkin –yang mengerti.

Suara itu terdengar lagi. Kali ini hampir membuat aku tertawa. Rupanya suara tawaku yang tertahan sampai juga di telinganya. Dia mengangkat dagunya dan menatapku dengan garang. Tampaknya dia marah sekali. Aku merasa bersalah akan hal itu. Dia masih menatapku garang, dan aku menciut.

“Hah… demi kalian aku rela tidak makan,” gumamnya dengan tatapan memelas atau entahlah pada tas ransel kecil yang dia pangku.

Beberapa menit hening. Hanya sesekali suara perut itu akan terdengar lagi. Bodohnya aku karena baru ingat kalau aku memiliki beberapa potong sandwitch di dalam tas yang aku bawa. Aku sengaja membuatnya tadi pagi sebagai jaga-jaga jika seandainya Sehun atau Minseok –Xiumin- Hyeong menggerutu karena lapar. Aku rasa masih enak untuk di makan  setelah beberapa jam  berlalu.

“Ini, makanlah!” aku menyodorkan sepotong sandwitch ke arahnya.

Dia menatapku heran. “Nde?”

Aku menggeser dudukku agar lebih dekat dengannya. “Makanlah ini!”

“Apa ini?” Dia memperhatikan dengan sesama bungkusun putih yang aku sodorkan.

Sandwitch… emmm, roti isi,” jelasku dengan suara lebih besar.

“Isinya apa?”

Mwo?” aku melongo. Bisa-bisanya dalam keadaan kelaparan memilih-milih makanan. “Telur, tomat, selada dan bawang bombay serta keju.”

“Bolehlah… aku tidak suka bawang bombay, jadi maaf jika aku menyisihkannya nanti.”

Aku mengangguk asal. Dia tersenyum manis padaku  dan mengambil dengan sopan sandwitch yang aku sodorkan. Bibirnya terlihat bergerak mengucapkan terima kasih. Sekali lagi aku hanya menjawab dengan anggukan.

Hening kembali terjadi di antara kita. Hanya terdengar suara gesekan kertas pembungkus sandwith yang aku berikan tadi. Topinya masih saja terpasang dan hingga saat ini aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, terutama matanya. Sedari tadi hanya bibir dan hidungnyalah yang menyapaku.

“Yak… Lee Taemin!” pekik seseorang di kejauhan.

Dengan mata tertutup pun aku mengenal suara itu. Jonghyun Hyeong, siapa lagi kalau bukan dia yang memiliki suara melengking saat memanggil Taemin. Ada dua kemungkinan mengapa dia berteriak;  pertama, Taemin mengganggunya dan kedua, Taemin sedang mengalami sindrom malasnya.

“Jonghyun Oppa?” pekik gadis di sebelahku.

Aku menoleh ke arahnya. Akhirnya dia melepas topinya. Setelah memasukan topi yang dia kenakan ke dalam tas, dia beranjak. Rambutnya yang sebahu tergerai dan bergerak ke sana ke mari saat dia berlari kecil menuju tempat  Jonghyun  Hyeong dan Taemin.

Oppa!” teriaknya nyaring dengan tangan terlambai.

Jonghyun Hyeong terlihat terkejut begitu juga Taemin, sebenarnya aku juga. Satu lagi pertanyaan yang muncul di otakku. Apakah semua senior mengenal gadis ‘aneh’ –unik – dan misterius ini? Lihat saja sekarang, dia telah berada dalam pelukan Jonghyun Hyeong. Tidak ada penolakan sedikit pun dari  Jonghyun Hyeong, dia malahan terlihat senang. Seperti bertemu teman lama.

Ponselku  berbunyi, menyadarku dari pemikiran ‘ingin tahu urusan orang’. Baekhyun Hyeong mengirimiku pesan yang memberitahukan bahwa mereka sebentar lagi turun. Tidak lebih dari tiga menit kemudian, mereka telah mencapai lobi. Buktinya Baekhyun Hyeong, Chanyeol, Kris Hyeong, dan tiga member berkewarnegaraan China lainnya tengah berjalan beriringan melintasi lobi. Baekhyun Hyeong melambaikan tangannya padaku, meminta  untuk segera menghampirinya. Tanpa menunggu lama, aku berlari ke arah mereka.

Oppa, jangan pernah menggunakan mobil pribadi lagi!”

Aku memperlambat langkahku  saat melewati   Jonghyun Hyeong, Taemin dan gadis itu. Jonghyun Hyeong mencoba menenangkan gadis itu yang mulai terisak. Sedangkan Taemin hanya menggaruk tengkuknya, mungkin karena bingung harus melakukan apa.

Oppa  tidak tahu, aku hampir tidak lulus ujian karena memikirkan Oppa,” isaknya lagi.

“Yak… jangan menangis. Oppa-mu yang tampan ini baik-baik saja. Ssst, berhenti menangis. Apa kamu mau Minho melihat wajah jelekmu itu?”

Nde? Minho Oppa? Di mana dia?”

Taemin cekikikan, “Kamu bukan tipenya.”

“Kamu pikir kamu tipeku?” skak gadis itu.

Aku kembali menahan tawa. Apalagi ekspresi wajah ingin membunuh Taemin yang tergambar jelas. Aku yakin, Taemin ingin sekali mencekik gadis itu. Aku  mungkin  agar berpikir seperti itu juga.

“Dasar manja, kekanak-kanakan,” gerutu Taemin tidak mau kalah.

“Yak, Lee Taemin… mentang-mentang kamu ikut WGM,  terus kamu merasa sudah dewasa? Anii, kamu tetap ‘baby Taem’. Berhentilah berakting manly di depan kamera, aku  lelah tertawa,” gadis itu menjulurkan lidahnya.

“Aish… apapun katamu. Yang terpenting sekarang, Minho Hyeong  tidak akan melirikmu sama sekali. Kamu pikir setelah tiga tahun dia akan berubah pikiran? Kamu tetaplah yeodongsaeng-nya. Si tukang merengek yang manja.”

“Awas kamu!” Ancam gadis itu.

Jonghyun Hyeong yang hanya menonton mulai kesal juga. Dia berusaha menghentikan pertengkaran mulut itu. Tetapi kedua orang yang bercekcok  tidak ada yang mau mengalah.

“Kyungsoo-ah, kajja!” Kris Hyeong menepuk pundakku.

“Oh, Ne.”

“Siapa dia?”

“Aku tidak tahu,” jawabku santai dan memilih berjalan beriringan dengan Luhan Hyeong agar tidak terlihat begitu pendek.

“Sepertinya aku pernah melihatnya. Tetapi di mana?”

Aku melirik Kris Hyeong. Dia hampir sama dengan Baekhyun Hyeong. Merasa pernah melihat gadis itu. Mungkin dia trainee sebelum aku dan sudah mengundurkan diri. Ya. Tidak sedikit trainee yang mengundurkan diri karena begitu beratnya pelatihan di sini.

“Jungmyeonnie-ah!”

Aku terkejut mendengar jeritan nyaring itu. Bersamaan dengan mengudaranya jeritan yang memekakan telinga, Junmyeon Hyeong berlari mendahului kami dengan kecepatan super. Dia berlari dengan kencang menuju pintu keluar seolah di kejar hantu. Tanpa komando dari siapa pun dia berlari menuju mini bus kami dan mengambil posisi  di dalam bus.

“Ada apa dengannya?” tanya Luhan.

“Tidak tahu,” jawabku dibarengi gerakan bahu.

-Chapter One-

“Akh… aku lelah dan lapar,” keluh Sehun.

Aku sudah menduga hal ini akan terjadi. Gugup yang berlebihan dan juga melakukan gerakan dance yang cukup menguras energi dipastikan akan membuat perut keroncongan. Aku beranjak dari  sofa di ruang make  up kami –EXO- dan berjalan menuju  sudut ruangan untuk mengambil tas milikku.

“Kamu kenapa?” tanya Junmyeon Hyeong yang baru saja masuk pada Sehun.

“Ini, makanlah!” aku menyodorkan sandwitch pada Sehun yang terlihat lemas.

“Ah…,” Junmyeon Hyeong berdecak mengejek. “Lapar, eoh? Selalu begitu… tahanlah sebentar, setelah ini kita akan makan besar.”

“Benarkah?” Sehun berubah segar bugar. “Hyeong akan meneraktir kita lagi?”

Anii… Youngjun Hyeong yang bilang tadi. Jadi, sepertinya perusahaan yang bayar.”

“Wuah… berapa menit lagi acara ini berakhir?”

Chanyeol dan yang lain masuk. “Sekitar 20 menit lagi?” jawabnya, namun terdengar seperti bertanya karena tidak yakin.

“Hah… aku juga lapar sekali,” suara sumbang yang berasal dari Minseok Hyeong. “Kyungsoo-ah, apakah masih ada sesuatu yang bisa aku makan?”

Aku menggeleng pelan. Aku merasa bersalah padanya. Sebenarnya aku menyiapkan sandwitch untuknya, tetapi gadis tadi sianglah yang memakannya. Apa yang harus aku katakan? Dia pasti marah karena jatahnya aku berikan pada orang lain.

“Tidak ada, Hyeong,” jawabku setengah berbisik.

Nde? Sehun­-ah, kamu memakan jatahku juga?”protes Minseok Hyeong.

Sehun menelan susah payah gigitan terakhir sandwitch-nya. “Anii… aku hanya makan satu.”

“Maaf Hyeong, potongan terakhir milik Sehun. Aku tidak membuat banyak.”

Wae?”

“Dia memberikan jatahmu pada gadis  tak dikenal di lobi tadi,” jelas Baekhyun Hyeong. “Rupanya Kyungsoo kita menyukai gadis itu –sepertiya trainee. Dia akan saingan dengan Kyuhyun Hyeong,”  sindirnya lagi.

Aku memelototinya dengan kesal. Aku memberikan makanan itu bukan karena aku suka padanya. Apa aku tega melihat orang mati kelaparan di hadapanku? Telingaku juga sakit –mendengar suara perutnya- dan perutku tidak kalah sakit karena menahan tawa yang di sebabkan suara perutnya.

Anii,” bantahku.

“Yak… kalian berdua mau mati?” celetuk Junmyeong Hyeong.

“Berdua? Aku  dan Baekhyun Hyoeng? Wae?” tanyaku heran.

Anii,  kamu dan  Chanyeol. Chanyeol baru saja jatuh cinta dengan yeodongsaeng Jin Hyeong,” jelasnya. “Dan sekarang kamu dengan trainee?”

Anio… aku tidak menyukainya. Kyuhyun Hyeong meminta aku mengawasinya. Suara perutnya menggangguku, jadi aku memberinya makanan,” aku memasang wajah kesal. “Baekhyun Hyeong juga di sana tadi.”

“Tetapi aku tidak ada saat kamu menggodanya dengan makanan.”

“Aish… terserah kalian,” aku memilih menutup telingaku dengan earset dan mendengarkan lagu dengan kencang.

“Chanyeol-ah… Jin Hyeong tidak akan merestui hubungan kalian,” sayup-sayup Jongdae Hyeong menggoda Chanyeol.

“Aku tidak menyukainya. Aku hanya bilang suaranya bagus,  hanya itu,” bantah Chanyeol.

-Chapter One-

Kepalaku hampir meledak, begitu juga dengan Chanyeol. Selama perjalanan menuju restoran  tempat kami akan mengadakan perayaan kecil-kecilan atas comeback kami hari ini, semua member menggoda kami berdua tiada henti. Apalagi para manajer tidak satu kendaraan dengan kami. Youngjun Hyeong sudah lebih dulu ke restoran untuk memesan tempat. Sedangkan manajer yang lain dan para kordi masih membereskan perlengkapan comaback tadi.

Mereka tidak memperdulikan supir mini bus official kami. Karyawan SM yang satu ini sangat mendukung kami. Kami hanya perlu memintanya untuk menutup mulut, dan dia akan melakukannya. Mungkin dia mengerti bagaimana beratnya kehidupan di dunia entertainment ini. Dan tentunya dia pernah muda.

“Oh… sudah sampai,” Sehun mengintip melalui jendela. “Wah… kita makan daging!” pekiknya girang.

“Siapa yang sampai duluan boleh makan sepuasnya tanpa ada pembatasan,” usul Jongin dan dia mencuri start.

Kkamjong-ah!” teriak Tao dengan pelafalan yang aneh.

Mereka berbondong-bondong keluar dari mobil dan berlari kencang menuju pintu restoran. Mereka akan bertingkah normal saat pelayan di depan pintu masuk menyapa dan kembali bertingkah layaknya anak kecil setelah melewati pintu. Aku dan Kris Hyeong bertingkah sewajarnya saja. Berjalan santai layaknya manusia normal sesuai usia masing-masing.

Berbarengan dengan kedatanganku dan Kris Hyeong, para pelayan membawa masuk makanan yang ternyata telah di pesan sebelumnya oleh Youngjun Hyeong. Bocah-bocah abnormal itu hampir meneteskan air liur karena tidak sabar ingin segera memenuhi perut mereka yang kosong. Baekhyun Hyeong, Sehun, Jongdae, dan Minseok Hyeong sedang bertaruh –membuat permainan kecil dengan taruhan makanan. Entah kegilaan apa yang akan mereka lakukan. Sedangkan Chanyeol dan Tao  melambaikan tangan  mereka sebagai ajakan  untuk Kris Hyeong duduk di antara mereka.

Hyeong, sebelah sini!” panggil Jongin.

Aku  hanya mengangguk dan berjalan layaknya zombie. Tingkah berlebihan mereka membuatku malu. Apakah selama ini aku kurang memberi mereka makan? Seingatku mereka tidak pernah seantusias ini saat aku membuatkan mereka sarapan atau kudapan. Tuhan, pelayan-pelayan itu menertawakan tingkah buas mereka.

“Banyak sekali. Apa kita bisa menghabiskannya?” tanyaku setelah berhasil duduk di antara Jongin dan Junmyeon Hyeong.

“Tentu saja,” Jongin nyengir kuda. “Apa Hyeong lupa kalau diantara kita ada banyak rajanya makan?”

“Ah… kalian semua tukang makan. Awas kalau sampai lupa diet.”

Arasseo!” teriak kompak Baekhyun Hyeong, Sehun dan Minseok  Hyeong dengan mulut penuh daging.

“Di mana manajer Hyeongdeul?”

Junmyeon Hyeong menelan dengan susah payah. “Mereka dan para kordi makan di tempat lain. Tidak jauh dari sini. Tempat ini tidak cukup untuk menampung kita semua.”

“Bukankah itu berarti kita bebas melakukan apapun?” Kalimat yang meluncur dari mulut Tao membuat kami semua bingung.

Kris Hyeong berdehem, “Dia bilang, Bukankah itu berarti kita bebas melakukan apapun?”

Kami semua ber-‘a’ ria karena baru mengerti. Tao memang masih butuh belajar banyak untuk bahasa Korea-nya. Tidak hanya pelafalan, dia payah dalam segala aspek. Jauh berbeda dengan Kris dan Luhan Hyeong yang lumayan lancar.

Menit-menit berikutnya berlalu dalam keriuhan acara makan kami. Sesekali akan diselingi oleh  keributan yang terjadi karena Tao menggunakan bahasa  korea  amburadulnya dan teriak kemenangan mereka yang membuat permainan kecil. Seperti siapa yang lebih cepat mengunyah daging atau minum segelas penuh air mineral.

“Bukankah seharusnya kita foto-foto juga?” Usul Lay Hyeong.

“Akh… betul. Mana kamera?” Jongin menegadahkan tangannya meminta kamera.

“Ups! Aku meninggalkannya di bus,” Jongdae menggaruk tengkuknya.

Seolah diberikan aba-aba, mereka kompak mentapku dan Junmyeon Hyeong. Aku menundukan kepala, pura-pura tidak tahu. Tetapi sapuan telapak tangan Junmyeong Hyeong di punggungku membuatku menghela napas. Sebelum beranjak dari hadapan makan malamku, aku menyempatkan meneguk air setengah gelas.

“Baiklah aku mengerti. Bukankah aku Eomma kalian yang harus memenuhi setiap keinginan kalian,” gumamku tidak jelas.

“Kyungsoo-ah!”

Ne, arasseo. Aku akan meneleponnya dan menanyakan di mana dia kemudian mengambil kunci mobil, dan seterusnya.”

“Tolong, Eomma!” Teriak mereka kompak.

Aku hanya melambaikan tangan di udara dan mengangguk-angguk. Mereka kembali bersorak mengelu-elukan namaku. Sungguh aku sangat malu. Suara mereka terdengar sampai di luar ruangan yang kami tempati. Dapat di pastikan, pelayan dan beberapa pengunjung tersenyum-senyum menyaksikan secara langsung bagaimana perbedaan EXO di atas panggung dan tidak.

-Chapter One-

Kamera yang dengan susah payah aku dapatkan telah terkalung dengan aman di leherku. Aku mempercepat langkahku karena tidak sabar untuk menghabiskan makan malamku. Selain itu, untuk menyelamatkan makan malamku dari perut-perut karung itu.

Langkah kakiku melambat beberapa meter dari restoran. Sebuah mobil yang sangat aku kenali terparkir di depan restoran itu. Pintu kemudi terbuka begitu  juga pintu di seberangnya. Seorang pemuda dengan pakaian kasual dan gadis yang bergaya hampir sama dengannya  berjalan beriringan menuju pintu masuk restoran. Ada sedikit perdebatan yang  muncul sesaat sebelum salah satu diantara mereka mengenaliku –dan juga memasuki restoran.

“Kyungsoo?” pemuda itu menyipitkan matanya untuk memastikan penglihatannya.

Ne Hyeong,” jawabku santai dengan langkah  kecil mendekatinya.

Oppa aku lapar, sampai kapan kita menunggu?”

Kyuhyun Hyeong –pemuda  berpakaian kasual –memelototi gadis dihadapannya. “Tunggu sebentar, Choi Minhye,” kedua rahang Kyuhyun Hyeong mengeras, kesal.

Oppa,” rengeknya.

Gadis yang bersama Kyuhyun Hyeong saat ini adalah gadis yang sama dengan gadis yang bersamanya tadi pagi. Gadis yang bisa membuatnya kesal. Dan gadis yang aku berikan jatah makanan Minseok Hyeong. Tetapi kali ini dia terlihat berbeda, sangat berbeda.

Celana krem sepaha, dengan atasan kaos abu-abu dan cardigan hijau gelap, serta rambut tergerai sebahu. Ternyata beginilah  rupa gadis itu. Gadis yang manis.  Begitulah kesan yang dapat aku tangkap saat ini, pertemuan kedua kami.

Oppa… ayo makan!”

Kajja, tetapi ke tempat itu,” tunjuk Kyuhyun Hyeong pada restoran di sebelah restoran tempatku dan yang lain –EXO- merayakan pesta kecil.

Shiroe… aku dengar olahan daging di restoran ini lebih enak.”

Kyuhyun Hyeong melotot, “Dan juga lebih mahal. Kamu baru saja merampokku dengan membeli buku-buku itu. Lalu kamu ingin makan enak?Heol….

Gadis itu hanya mengangguk  antusias dengan ekspresi wajah memelas.

“Aish… aku tidak akan  tertipu olehmu lagi,” Kyuhyun Hyeong menatapku seolah meminta bantuan. “Kyungsoo-ah, apa yang kamu lakukan di sini?”

“Kami sedang makan malam di  restoran ini,” tunjukku pada restoran daging glamor –tempat member EXO makan malam.

“Ah… kebetulan sekali,”  Kyuhyun Hyeong meraih pergelangan tangan Minhye –gadis yang tidak kuketahui namanya sebelumnya. “Bawa  anak ini. Berikan apa  saja yang tersisa di dalam. Apa setelah ini kamu ada jadwal?”

Aku mengangguk, “Sukira.”

“Bagus… Minhye-ah, kamu ikut Kyungsoo ke Sukira. Ryewook yang akan mengantarmu pulang nanti.

Nde? Kamu mau membuangku, evil-kyu.”

Anii… aku ada latihan terakhir malam ini bersama Henry dan Taemin. Yak… di dalam ada Junmyeonnie, sekarang giliran dia yang kamu rampok. Annyeong!” Kyuhyun Hyeong berlari menuju mobilnya.

“Cho Kyuhyun… aku akan mengadu pada Noona!” jerit Minhye kesal.

Kyuhyun Hyeong membuka kaca mobilnya. “Kyungsoo-ah, aku titip bocah itu lagi. Hubungi Jonghyun kalau dia macam-macam.”

Belum sempat aku menjawab, mobil yang di kemudikan Kyuhyun Hyeong telah berbaur dengan kepadatan jalan raya. Aku menelan ludah dengan susah payah. Sepertinya aku baru saja mendapat kesialan. Kesialan estafet dari Kyuhyun Hyeong. Gadis ini berbahaya –kesan ketigaku.

“Kenapa diam saja? Aku lapar…,” ucapnya judes.

Aku menghela napas pasrah. “Kajja!”

“Oh… apa benar Junmyeon Oppa ada di dalam?” tanyanya.

Ne.”

Joah,” jawabnya girang. “Tunggu aku!”

Dia yang hanya berdiri terpaku sedari tadi, kini berjingkrak girang. Langkah kaki girangnya terhentak-hentak di trotoar tepat di belakangku. Bukankah tingkahnya itu mirip anak kecil? Gaya berpakaiannya itu sama sekali tidak sesuai dengan tingkahnya. Dia lebih baik diam saja, terlihat lebih manis dan anggun.

“Tunggu aku!” pintanya.

Ne,” aku menghentikan langkahku enggan.

Kajja!”

Sesuatu terasa di tangan kiriku. Kepalaku bergerak dengan cepat untuk melihat benda apa yang ada di tangan kiriku. Aku  hampir berteriak. Dia menggenggam tanganku dengan santai. Dia bahkan tidak meminta izin padaku. Hei. Kita tidak sedekat ini. Bagaimana kalau orang lain lihat?

“Ada apa?” dia mengerjap-ngerjapkan matanya. “Kamu  tidak takut jatah makan malammu di makan mereka?”

“Ah, Ne.”

Sial, kenapa aku terbata-bata. Niatku  untuk melepaskan genggaman tangannya tidak sempat aku lancarkan. Dia menggenggam tanganku semakin erat dan sedikit menyeretku masuk ke dalam restoran. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia memutar tubuhnya dan menatapku intens.

Mwo?”

“Ruangannya di mana?”

“Di sudut sana,” tunjukku dengan enggan.

Dia kembali menyeretku menuju ruang VIP di bagian terdalam restoran –tempat seluruh member EXO makan malam. Aku terpaksa berlari kecil untuk menyeimbangkan langkah kakinya. Dia terus bergumam sepanjang langkahnya mencapai pintu masuk ruang VIP tanpa aku mengerti maksdunya.

“Junmyeon Oppa!” teriaknya kencang saat berhasil masuk ruang itu.

Sontak semua terdiam dan melihat ke arah pintu. Junmyeong Hyeong memiliki reaksi yang sedikit berlebihan dibandingkan yang lain. Dia menjatuhkan sumpitnya dan mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia seperti baru saja melihat hantu. Tunggu. Apa mereka berpikir kalau aku membawa pacarku?

“Oh… Jonghyun Oppa?” Minhye mengacungkan telunjuknya ke sudut ruangan.

Aku mengikuti arah telunjuknya. Entah sejak kapan Kibum Hyoeng, Jinki Hyeong dan Jonghyun Hyeong bergabung. Mungkin saat aku pergi mengambil kamera. Hingga dua menit berlalu, hanya hening yang aku rasakan. Kegaduhan yang sebelumnya  memenuhi ruangan ini lenyap begitu saja. Bahkan mereka tidak bergerak sama sekali.

Annyeong haseyo, Choi Minhye imnida. Bangapseumnida,” sapa Minhye ramah.

“Ah, Choi Minhye,” Baekhyun Hyeong angkat bicara.

Detik berikutnya mereka kembali seperti semula, gaduh. Kecuali untuk Junmyeon Hyeong dan Jongin. Mereka berdua bertingkah tidak biasanya. Bergerak dengan canggung dan terus menerus menekuk wajah mereka.

“Minhye-ah, ke mari!” ajak Jonghyun Hyeong.

Ne,” Minhye mengambil tempat duduk di dekat Jonghyun Hyeong.

-Chapter One-

Akhirnya makan malam kami berakhir. Kami masih punya waktu sekitar satu jam sebelum melaksanakan jadwal kami selanjutnya. Aku menyandarkan punggungku pada dinding di belakangku. Sepertinya aku terlalu kenyang sehingga sulit untuk bergerak. Keadaanku tidak jauh berbeda dengan yang lain. Minseok Hyeong saja hampir pingsan karena terlalu banyak meminum air, akibat dia selalu kalah dari Sehun dalam permainan mereka.

“Youngjun Hyeong akan membunuh kita,” gerutu Kris Hyoeng.

Wae?” tanya Tao polos.

“Kita makan seperti sapi. Itu berarti berat badan kita akan bertambah. Aish… diet  ketat lagi,” Kris Hyeong melipat tangannya di atas meja dan membenamkan wajahnya di sana.

Anii… Kyungsoo yang akan  mendapat masalah.”

Nde?” aku tidak mengerti dengan jelas maksud Tao. Aku hanya yakin dia menyebut namaku.

“Kamu akan kena masalah,” terjemah Kris Hyeong.

“Aku, wae?”

“Kamu membawa pacar,” Tao mengarahkan matanya pada Minhye di sudut ‘SHINee’.

“Yak… dia bukan pacarku.”

Tiba-tiba Jonghyun Hyeong tertawa terbahak. Dia mungkin mendengar pekik penolakanku  atas argument Tao. Junmyeong Hyeong dan Jongin juga cekikikan menahan tawa. Sedangkan Minhye memasang wajah bingung yang lumayan imut.

“Aku bukan pacarnya!”

Ne… dia bukan pacarku,” tambahku.

Jonghyun Hyeong mengangkat tangannya di udara. “Bocah ini sepupu Kyuhyun Hyeong. Dan dia pengacau.”

Minhye memelototi Jonghyun Hyeong dengan mulut mengerucut dan pipi menggembung. Jonghyun Hyeong hanya tertawa renyah. Dia menggoda Minhye beberapa kali agar berhenti menatapnya seperti itu.

“Kyungsoo-ah, kenapa kamu menghela napas lega seperti itu?”

Nde?” Aku menghela napas lega?

“Apa kamu lega kalau Minhye bukan pacar Kyuhyun Hyeong. Aku dengar dari Baekhyun, kamu mengira Minhye pacar Kyuhyun Hyeong,” Jonghyun Hyeong menyindirku.

Mwo? Aku tidak pernah mengatakan itu. Baekhyun Hyeong yang mengatakannya.”

“Aish… siapapun  yang mengatakannya aku tidak peduli,” Minhye angkat bicara. “Asal kalian tahu, devil itu bukan tipeku. Kalaupun dia bukan sepupuku, aku  tidak akan mau menjadi pacarnya,” tegas Minhye.

“Tentu saja, karena kamu adalah pacarku!”

Semua orang yang ada di ruangan ini hampir bersamaan melihat ke arah pintu, ke sumber jawaban yang mengejutkan itu.

“Minho Oppa?”

To be continued…