Tags

, ,


Love is Painful

Title                       : Love is Painful – Chapter Four [Final]

Author                  : Chanyeonie

Main Casts          : Atika Sari a.k.a Kim Rae Ri| Kim Ki Bum (Key)

Support Casts    : Lee Jin Ki (Onew)| Kim Jong In (Kai)|Lee Ji  Eun (IU) and  others.

Genre                   : Sad, Romance, Angst, Drama

Length                  : Chaptered

Rating                   : PG-13

Disclaimer          : Idea is owned by Atika Sari, but plot is mine.

Warning              :

Typo yang mungkin akan menggangu. Gejala kebingungan yang akan  dialami reader karena narasi author yang ruwet. Penulisan yang –mungkin- tidak sesuai EYD. Bold adalah flashback.

-LiP-

Rae Ri memandangi ayahnya. Pria yang selalu bersikap dingin namun  penuh kasih sayang itu terlihat tidak mau mempercayai kenyataan yang baru saja dia ketahui. Pria bermarga Kim itu tertunduk sembari mengacak-acak rambutnya. Dia terlihat begitu frustasi. Rae Ri memasang senyumnya untuk menghibur sang ayah.

Appa… nan gwaenchanha,” ucapnya dengan penuh keyakinan.

Tuan Kim menegakkan kepalanya, memandang Rae Ri sejenak  dan kembali terfokus pada pria  berjas putih di hadapannya. “Apa Anda yakin, Dokter?”

Ne… Tuan Kim. Mianhae, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Agasshi mengalami kanker hati stadium lanjut.”

Waeyeo? Rae Ri tidak pernah mengkonsumsi alkohol atau segala pemicu kanker hati,” bela Tuan Kim.

“Faktor genetik, Tuan. Penyebabnya bisa saja faktor genetik. Bukankah ada riwayat bahwa Nyonya Oh –ibu Tuan Kim –mengalami kanker hati?”

Rae Ri mengangguk ringan membenarkan pernyataan dokter yang telah bekerja menjadi dokter keluarga Kim cukup lama. Tuan Kim semakin kacau. Mengapa harus anak satu-satunya itu yang mengalami ini semua?

“Bukankah cangkok hati akan menyembuhkannya?”

Ne…

Appa!” Rae Ri menentang keras kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut Ayahnya.

Dokter menggelengkan kepalanya pelan. “Jika Tuan berniat mencangkok hati Anda untuk Agasshi, maka  akan percuma. Masih ada kemungkinan kanker akan kembali lagi karena faktor keturunan itu. Agasshi, harus mendapat cangkok yang cocok dari orang lain yang tidak ada hubungan darah.”

“Lalu kapan hati itu akan kami dapat?”

“Tidak dalam waktu dekat. Mungkin bisa bertahun-tahun. Operasi penyayatan hati dan terapi akan menjadi solusi terbaik untuk waktu dekat ini.”

LiP-

Perhatiannya tidak pernah  lepas dari gadis di sampingnya yang tengah  memakan ice cream coklat kesukaannya. Senyum gadis itu selalu membuncahkan rasa yang tidak dapat tergambarkan di hatinya. Senyum yang tidak akan pernah terhapus dari ingatannya. Entah sampai kapan senyum itu akan berwujud nyata di hadapannya bukan hanya proyeksi dari ingatan.

Gadis itu memandangnya dengan ekspresi heran dan dahi berkerut. Dia mungkin merasa tidak nyaman oleh tatapan pemuda itu. Perlahan gadis itu mendekatkan sesendok ice  cream ke wajah pemuda itu. Dan dengan sengaja mengenai  hidung pemuda itu.

Mwoyae?”

“Kamu melamun jorok ha?!! Jangan bilang kamu melamun jorok tentang aku. Dasar Kkamjong yadong!” pekiknya.

“Yak… tutup mulut cerewetmu itu. Apa kamu mau orang-orang mendengarnya?” Jong In menutup mulut Rae Ri dengan telapak tangan besarnya.

Rae Ri meronta-ronta. “Lepaskan,”  pekiknya lagi namun sekarang dengan suara tertahan bekapan tangan Jong In.

“Dasar toak!”

Rae Ri mendapat celah untuk mengigit telapak tangan Jong In, “Kkamjong yadong.”

“Auch… yay!!!” Jong In kesakitan akibat telapak tangannya digigit.

Apheuda?Merong…,” Rae Ri menjulurkan lidahnya.

“Rae Ri-ya…,” Jong In mendadak serius. “Apa dia tahu tentang penyakitmu?”

Nugu?”

Namja  yang memiliki mobil itu.”

Rae Ri mendelik kesal, “Bukankah aku sudah memberi tahumu namanya? Lee Jin Ki, namja itu Lee Jin Ki.”

“Baiklah,” Jong In memutar bola matanya. “Apa dia tahu  tentang penyakitmu?”

Rae Ri mengangguk kecil, “Dia tahu karena obatku. Dia sempat penasaran dan mencuri beberapa. Kapan Eomma memberitahumu?”

“Saat  kamu jatuh sakit karena kelelahan mengurus event universitas waktu itu.”

“Oh…,” jawab Rae Ri singkat dan kembali menikmati ice cream-nya.

Hyeong?”

Rae Ri hanya menggeleng kecil  tanpa menatap Jong In. Dia terus memperhatikan  lalu lalang kendaraanya di jalan raya. Sangat padat dan dapat dipastikan bahwa malam ini jalanan akan macet. Beberapa kali dia akan menengok ke kiri dan ke kanan, menantikan bis  yang akan membawa mereka  pulang.

Tatapan Jong In masih setia memperhatikan tiap gerak-geriknya. Dari kaki yang dia hentak-hentakkan di trotoar hingga tiap kedipan matanya. Rae Ri mencoba untuk  tidak merasa terusik dan tetap bertindak sewajarnya.

“Jin Ki Oppa akan pulang besok. Maukah kamu menemaniku menjemputnya di bandara?”

Jong In mengeryitkan dahinya, “Aku ikut menjemputnya?”

Ne… dia ingin melihat wujud nyata seorang Kim Jong In. Katanya dia membeli beberapa oleh-oleh untuk kita asli dari Jerman. Kamu mau tidak?”

Jong In tidak  yakin dengan pendengarannya. “Nde?”

Wae? Kamu tidak mau?” Rae Ri  menghembuskan napasnya lesu, “Kalian berdua adalah guardian-ku, sahabatku. Aku ingin kalian berdua juga bersahabat.  Jadi ketika aku pergi nanti, aku akan  tetap dapat tersenyum saat mengawasi kalian.”

Pletak…! Jong In menyentil dahi Rae Ri. Rae Ri berteriak sekencang mungkin karena sakit yang teramat sangatnya. Matanya terpenjam dan sebelah tangannya yang hanya memegang sedok ice  cream mengelus dahinya yang terkena sentilan Jong In. Jong In hanya tertawa cekikikan melihat mata Rae Ri yang berkaca-kaca  dengan  bibir mengerucut, sangat lucu.

“Berhenti mengatakan hal seperti itu. Kalau sampai kamu mengucapkannya lagi, kepalamu akan benjol kena jitakanku.”

Kkamjong yadong!” teriak Rae Ri kencang tepat di depan telingan Jong In.

-LiP-

Sepasang  kekasih ini sedang menikmati sore tenang mereka. Berjalan sembari bergandengan tangan di sebuah taman asri yang tidak akan terusik oleh bising kendaraan di jalan raya nan padat sana. Namun tidak ada sedikitpun perbincangan diantara mereka untuk sekedar melepas kecanggungan dan –mungkin –suasana yang terlalu tenang  ini. Mereka hanya sibuk dengan pikirannya masing-masing, mungkin juga sedang menebak apa yang sedang dipikirkan pasangannya.

Entah sudah keberapa kalinya mereka mengelilingi jalan berpermukaan batu buatan itu. Entah berapa kali mereka melewati danau buatan dengan perahu berbentuk bebeknya. Entah berapa kali lagi mereka harus melewati beberapa keluarga kecil yang tengah berpiknik. Berputar-putar, hanya itu yang mereka lakukan.

Langkah mereka terhenti. Salah satu di antara mereka memaksa untuk menghentikan perjalanan yang bisa dikatakan tiada akhirnya ini. Memang seharusnya seperti ini,harus ada yang menghentikan semua ini.

“Ada apa, Ji Eun-ah?” ucapnya hampir tidak bersemangat.

“Sebaiknya kita mencari tempat yang nyaman untuk duduk,” Ji Eun melihat sekeliling, mencari kursi taman atau rumput kosong yang naung.

“Apa kamu lelah? Aku carikan minum?” Kini suara itu terdengar sedikit khawatir.

Ji Eun menggelengkan kepalanya perlahan. Perlahan pula dia melepaskan genggaman tangan pemuda yang telah berlabel kekasihnya itu dan berjalan gontai menuju kursi taman yang berada di bawah pohon yang naung. Pemuda itu mengekor begitu saja tanpa mau bertanya lebih jauh tentang berbagai macam kecamuk yang tergambar jelas di wajah Ji Eun.

“Aku akan belikan minuman, tunggulah di sini!” pintanya lagi.

“Tidak perlu, Ki Bum Oppa.”

Ki Bum mengeryitkan dahinya. Ji Eun tidak pernah lagi memanggilnya dengan cara itu. “Apa kamu lelah? Kita pulang saja.”

Ji Eun menatap mata Ki Bum dan tersenyum, “Jangan merasa sangat bersalah seperti itu. Nan gwaenchana… duduklah, Oppa.”

Ki Bum menurut begitu saja tanpa membantah. Dia mengambil posisi di samping Ji Eun. Tingkahnya begitu canggung. Ji Eun hanya tersenyum kecil menyadari tingkah Ki Bum. Hening, mereka tidak mengeluarkan kata-kata lagi. Hembusan angin dan tawa anak kecil –entah dari mana –membantu mereka untuk masih tetap sadar dan tidak tenggelam dalam lamunan.

Sesekali Ji Eun akan  melirik Ki  Bum yang bersandar pada kursi dan memejamkan matanya. Dia memperhatikan dengan seksama tiap lekuk wajah  tampan itu. Ji Eun sangat menyukai ekspresi wajah Ki Bum saat memejamkan mata. Dia terihat begitu damai, tanpa beban. Ingin rasanya dia memainkan jari-jarinya menaiki tiap lekuk wajah itu.

“Apakah  aku tampan?” Ki Bum segera membuka matanya.

Ji Eun terkejut, dia salah tingkah. “Nde?”

“Mengapa kamu sangat suka melihat wajahku? Apa aku tampan?” Ki Bum memandang Ji Eun lekat, meminta jawaban.

Mwoyae?” Ji Eun memalingkan wajahnya dan tersenyum canggung.

“Lalu mengapa memandangiku hampir tanpa berkedip  seperti itu?”

Ji Eun memainkan ujung dress-nya karena gugup. “Karena… karena… wajah Oppa  terlihat begitu damai, tanpa beban.”

“Maksudnya?”

Eomma selalu bilang bahwa mata tidak bisa berbohong. Jika ingin mengetahui isi hati seseorang, lihatlah matanya. Aku tidak pernah berani menatap  wajah Oppa karena aku takut melihat ke dalam mata Oppa,” Ji Eun tersenyum manis. “Tetapi  aku bisa melihat wajah Oppa saat mata itu tertutup. Tidak akan yang menghantuiku dengan kata kebohongan. Aku tidak akan bisa melihat kebohongan itu, isi hati yang sebenarnya itu. Itu semua membuat aku senang.”

Ki Bum merasakan sesuatu mengganjal di tenggorokannya. Dadanya serasa diremas-remas. “Mianhae…,” hanya kata itu yang terpikir di otaknya saat  ini.

Ji Eun membalas dengan anggukan kecil dan senyum manis khasnya. Kepalanya tertunduk, terus terfokus pada ujung dress yang terus dimainkan tangannya. Kembali hening dan canggung. Ki Bum melirik Ji Eun dari sudut matanya. Dia sadar bahwa apa yang dia lakukan ini melukai Ji Eun. Entah kata-kata apa yang akan membuat Ji Eun tidak terluka. Mungkinkah? Adakah?

Oppa!”

“Ji Eun!”

Ucap mereka hampir bersamaan. Keduanya juga hampir bersamaan menghela napas. Mereka melirik satu sama lain seolah memberi aba-aba untuk saling mengatakan isi kepala mereka masing-masing  pertama.

“Baiklah… aku yang akan mulai,” Ji Eun angkat bicara.

“Emmm,” Ki Bum mengiyakan.

“Aku menyerah Oppa. Aku ingin mengakhiri semua ini.”

Mwo?”

“Ternyata setelah dipikir-pikir, aku tidak akan mampu jika harus kehilangan semua perhatian Oppa –walaupun hanyalah sandiwara–ketika  waktunya tiba. Jadi lebih baik aku keluar sekarang. Selain itu, aku bukan jalan keluar yang baik untuk masalah Oppa dan Rae Ri-ssi. Aku hanyalah penambah masalah,” Ji Eun semakin menundukkan kepalanya dalam. “Aku tidak terluka sama sekali –mungkin belum. Aku bukannya mau mencari aman. Tetapi aku memang tidak seharusnya ikut campur. Hayalanku tentang suatu saat Oppa akan dapat melupakannya jika aku selalu berada  di sisi Oppa, tidak membuatku bisa bertahan.

Karena aku tahu apa yang akan terjadi pada akhirnya. Munafik, sebenarnya aku takut. Aku takut terjebak dalam sandiwara ini terlalu dalam. Aku hanyalah pemeran pembantu yang harus di korbankan. Aku rasa aku tidak akan sanggup. Jadi aku sebaiknya keluar, sebelum rasa ini menjadi nyata. Sebelum gejolak aneh ini berkembang lebih jauh.”

Ki Bum membulatkan matanya, “Ji Eun-ah?”

“Aku menyukai Oppa. Sebenarnya aku ingin selalu berada di samping Oppa.  Tetapi semua akan percuma. Aku hanya akan menyakiti diriku sendiri, Oppa dan Rae Ri-ssi. Aku akan membebani Oppa nantinya dengan segala tuntutan yang muncul begitu saja. Aku  hanya akan terlihat sebagai seorang yeoja yang  buta karena tidak menyadari bahwa Oppa tidak akan memilihku. Aku hanya –,” Ji Eun terdiam. Sesuatu mencekat tenggorokannya sulit untuk bernapas dan mengeluarkan suara.

“Mengapa kamu berpikiran bahwa aku tidak akan memilihmu?” Ki Bum jauh menerawang langit senja. “Jangan pergi, jangan tinggalkan aku, jangan menyerah padaku. Tetaplah berada di sampingku walaupun kamu akan terluka. Tetaplah menjadi yeoja lugu dan polos yang selalu mampu membuat aku nyaman. Selalulah berada di sampingku, semakin dekat, agar aku bisa melupakannya. Tetaplah menyukaiku walaupun itu menyakitkan. Aku percaya padamu yang suatu saat akan membuka mataku. Menunjukkan padaku bahwa apa yang aku lakukan saat ini adalah salah. Jangan keluar dari permainan ini. Aku mohon…”

Ji Eun berpikir dengan keras. Mencermati setiap makna kata yang diucapkan Ki Bum. Dia ingin menemukan sedikit harapan dari perkataan Ki Bum itu. Harapan, harapan yang cukup untuk membuatnya bertahan. Mungkin terdengar konyol, tetapi sebenarnya diapun tidak ingin semuanya berakhir begitu saja. Egois dan gila? Dia rasa dia mendekati hal itu.

-LiP-

Gamsahamnida, perawat!” Rae Ri membungkuk hormat.

Perawat itu hanya membalas dengan anggukan kecil dan senyum ramah. Langkah demi langkah kaki Rae Ri melintasi lorong lurus dengan dominasi warna putih itu. Terkadang dia akan berpapasan dengan orang-orang berseragam putih dan menyapa mereka. Belakangan ini dia harus selalu melakukan rutinitas ini.  Hampir setiap hari dia harus melewati lorong putih ini. Jenuh, kata-kata itu selalu terngiang di otaknya.

Langkahnya terhenti. Keramaian di hadapannya sedikit menimbulkan rasa penasaran di dalam dirinya. Perhatiannya terfokus pada seorang ibu –mungkin- yang tengah menangis dalam pelukan pria yang telah berkepala lima yang mungkin adalah suaminya. Pria itu berusaha mengucapkan beberapa kata dengan harapan akan membuat ibu itu berhenti berteriak histeris.

Beberapa menit kemudian, sebuah ranjang rumah sakit berkerangka besi keluar dari ruangan tempat keramaian itu. Rae Ri segera merapat ke dinding memberi ruang bagi ranjang rumah sakit dan perawat-perawat yang mendorongnya. Jelas terlihat seorang gadis kecil dengan tubuh yang hampir menguning seluruhnya dan bibir yang menghitam tergeletak tak berdaya. Entah masih bernyawa atau tidak. Jeritan sang ibu terdengar semakin memilukan dan itu menyayat hati Rae Ri.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” kejut  Jin Ki.

“Oh… Oppa,” Rae Ri terdengar murung.

“Terapinya sudah selesai?” Jin Ki memperhatikan wajah Rae Ri yang tertekuk. “Ada apa? Mengapa menekuk wajahmu seperti itu?”

Rae Ri segera menegakan kepalanya dan tersenyum. “Kajja… aku lapar.”

“Selalu saja makan. Bisa-bisanya badan kecilmu ini meminta makan setiap menitnya.”

“Aku harus makan Oppa. Aku harus  makan selagi aku masih bisa makan. Apa Oppa berani jamin kalau di akhirat nanti makanannya akan  seenak  di sini?”

“Akhirat? Bisa berhenti melakukan lelucon itu?”

Rae Ri tertawa kecil, “Itu bukan lelucon Oppa. Sudahlah, aku lapar. Bisakah kita ajak Jong In?”

“Dia  sedang ke  toilet. Kita tunggu di lobi saja.”

Heol… kalian berdua lengket sekali. Aku jadi iri sekaligus senang,” Rae Ri tertawa terbahak.

-LiP-

Rae Ri melangkah dengan lunglai di sepanjang lorong menuju ruang kelas Jong In karena ada janji dengannya. Tubuhnya  tiba-tiba kehilangan  tenaga siang ini. Dia merasakan panas dan gelombang-gelombang aneh di dalam tubuhnya. Pandangannya pun berkunang-kunang. Keringat terus mengalir di pelipisnya. Dia sudah meminum obatnya sedari tadi, namun sepertinya belum bekerja sama sekali. Dia terus mensugesti dirinya bahwa dia baik-baik saja dan  obat itu  akan menuntaskan semuanya.

“Kim Rae Ri!”

Langkah kakinya terhenti. Ki Bum berdiri tepat di depannya. Rae Ri segera menegakkan tubuhnya yang sempat bertopang pada dinding sepanjang lorong. Dia mengerjapkan matanya  beberapa kali dan menghapus keringatnya yang sedari tadi tidak berhenti mengalir. Kini dia hanya perlu untuk tersenyum.

“Ki Bum-ssi?”

Ki Bum menghampiri Rae Ri dan segera meraih Rae Ri ke dalam pelukannya. Rae Ri hanya terdiam dan tidak membalas. Dia bahkan terlalu terkejut untuk menolak perlakuan Ki Bum. Tiba-tiba  terasa guncangan dari tubuh Ki Bum. Bersamaan dengan itu Ki Bum mempererat pelukannya  dan hampir membuat Rae Ri tidak bisa bernapas. Tetapi yang menjadi masalah  di sini adalah  Ki Bum yang akan menyadari  suhu badannya yang begitu tinggi.

“Ki Bum-ssi, apa-apaan ini?” Rae Ri meronta dengan tenaga yang tersisa.

Ki Bum melepas pelukannya, “Kim Rae Ri, aku mohon padamu.” Mata Ki Bum terlihat berkaca-kaca.

“Mohon padaku? Apa?” Rae Ri mengeryitkan dahinya.

“Hentikan permainan  ini!”

Rae Ri tertawa kecil untuk menyembunyikan kekesalannya. “Permainan? Lagi-lagi permainan? Kapan kamu akan menanggapi keputusanku ini  sebagai keseriusanku?” Rae Ri meringis.

“Aku tahu kamu tidak suka melihatku bersama Ji Eun. Jadi apa salahnya untuk mengakui itu? Apa gengsimu terlalu besar untuk menunjukkan kerapuhanmu?”

Rae Ri meringis kesakitan, dan senyum liciknya berhasil menyembunyikan itu semua. “Aku bahagia melihatmu bersama Ji  Eun. Aku sangat senang  melihatmu mendapatkan orang yang lebih baik daripada diriku. Dan aku bahagia mendapatkan orang-orang yang lebih baik darimu. Aku  bosan membahas masalah ini. Tidak bisakah kamu menganggapnya tidak  pernah terjadi? Bisakah kamu membenciku seperti seorang penjahat? Bisakah kamu menghapusku dari ingatanmu? Atau bisakah kamu mengingatku sebagai  seorang yeoja tengik yang mencampakanmu demi namja lain? Aku  ini sangat buruk. Lihat saja, aku bisa menyukai mereka berdua. Aku jahat, tidak tahu diri. Jadi, apa yang kamu harapkan dariku? Kesetiaan? Aku rasa Ji Eun lebih tepat dan bisa menjanjikanmu hal itu.”

“Aku mencintaimu, Kim Rae Ri!” bentak Ki Bum kesal.

“Mencintaiku?”  Rae Ri  meringis lagi dan kini tangannya menekan bagian perutnya. “Bodoh.”

“Selama ini aku memang bodoh. Aku dengan bodohnya mencintaimu. Aku dengan bodohnya menunggu selama dua tahun. Dan aku dengan bodohnya mengikutimu ke sini. Aku bersyukur bahwa aku bodoh, sangat bersyukur. Karena kebodohanku aku bisa mencintaimu.”

“Bodoh…! Aku membencimu, sangat membencimu!”  teriak Rae Ri. “Aku membencimu yang selalu bertindak bodoh seperti ini. Cinta bodohmu itu bagaikan duri bagiku. Cinta bodohmu itu hanya menjadi beban untukku. Cinta bodohmu itu mengganggu  hidupku. Cinta bodohmu membuatku tidak bisa tenang meninggalkan dunia ini!” Rae Ri mulai meneteskan airmata. “ Kapan kamu akan mendengarkanku? Aku membencimu!” Rae Ri terbatuk-batuk.

“Meninggalkan dunia ini? Apa maksudmu?” Ki Bum panik melihat Rae Ri yang terus mengeluarkan keringat.

“Bukan urusanmu!”

“Rae Ri-ya?”

“Aku muak dan benci padamu,” tangis Rae Ri menjadi. “Aku mohon Oppa, tinggalkan aku. Lupakan aku, bila perlu benci aku.  Aku mohon?!!”

“Kim Rae Ri?”

Rae Ri terbatuk-batuk lagi. “Jika Oppa bisa mencintaiku, maka Oppa juga harus bisa membenciku.”

“Tetapi…”

“Aku mohon, Oppa.”

-LiP-

Pria paruh baya itu terlihat gusar. Dia terus mondar-mandir di  ruang kerjanya sembari berbicara dengan seseorang di telepon. Tampaknya dia tengah berdebat dengan orang tersebut. Sesekali dia akan berteriak, membentak. Rae Ri hanya berani mengintip  dari celah pintu yang sedikit terbuka. Ayahnya tengah bertengkar dengan ibunya. Sudah lama dia tidak mendengar pertengkaran mereka. Dan kali ini dikarenakan olehnya.

Bosan mendengar berdebatan yang hanya –terdengar –searah itu, Rae Ri memutuskan untuk menghabiskan sorenya di kamarnya saja. Langkah kecil dan lunglai kakinya menaiki satu  persatu anak tangga yang akan membawanya ke tempat favoritnya itu –kamarnya.

Suara gesekan kaki kursi dan lantai memecah keheningan. Rae Ri memilih duduk di meja belajarnya, mungkin dia bisa menemukan sedikit kegembiraan. Mungkin dia bisa menemukan  secercah cerita yang akan membuat dia tidak melupakan bagaimana caranya tersenyum. Punggungnya terhempas  dengan kasar di sandaran kursi. Helaan napas kasar menunjukkan bahwa dia sedang memikirkan suatu cara.

Beberapa menit hanya terdiam. Mata terpejam  sempurna dan napas bekerja dengan teratur dan berirama. Rae Ri membuka matanya, titik  bulir airmata mengalir di kedua belah pipinya. Sakit ini membuat dia lelah. Jika  dia diberikan kuasa untuk memilih, dia ingin semuanya berakhir sekarang. Dia ingin semua ini  berakhir dengan cepat tanpa memperdalam luka pada siapapun.

Senyum  sepasang anak manusia yang tercetak di atas kertas dan berbingkai kayu itu membuat dia semakin tertekan. Dia masih bisa terseyum seperti itu, tetapi dia  tidak bisa  merasakan  apapun.  Kebahagian dari tawa itu tidak lagi ada. Dia hanya tersenyum untuk membahagiakan orang lain. Sedangkan  senyum orang lain itu hanya menjadi duri yang menyakitinya. Dia harus bertanggung jawab atas senyum yang suatu saat akan berubah menjadi tangis.

Rrrttt…

Rupanya sang ponsel tidak suka melihatnya terlalu  lama berpikir. Rae Ri segera menghapus airmatanya dan dengan sigap meraih ponsel biru miliknya. Dia menghela napas agar suaranya terdengar normal.

Yeoboseyeo, Oppa?”

-LiP-

Tubuhnya tidak lagi bisa di ajak kompromi. Tanpa dapat di cegah, tubuh itu tergeletak begitu saja di atas lantai marmer nan dingin kamar tidurnya. Dinginnya marmer itu tidak sanggup mengalahkan bara yang terus menyala di dalam tubuhnya. Panas, sangat panas. Rae Ri terus membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara saat terbatuk-batuk. Hanya tangannyalah yang masih mau mendengarkan perintah otaknya.

Semakin lama  rasa sakit di ulu hatinya menyiksanya. Dia terus meneteskan airmata menahan sakit yang teramat sangat. Butir- butir kapsul penghilang rasa sakit yang sedari tadi terus  dia telan bulat-bulat tidak kunjung memberikan reaksi. Bahkan sakit itu makin menjadi.

Dia terbatuk-batuk lagi  tanpa dapat ditahan. Sensasi hangat pada  telapak tangannya yang sedari tadi membekap mulutnya membuat dia terkejut. Gumpalan darah kental berwarna hampir mendekati hitam pekat terwadah di telapak tangannya. Sudut bibir Rae Ri terangkat, bersamaan dengan  itu airmatanya mengalir.

Tok… Tok…!

Rae Ri mengangkat kepalanya. Dia hampir saja akan  terus menahan napasnya karena terkejut. Jantungnya berdetak dengan kencang. Seirama dengan denyutan rasa sakit di ulu hatinya. Dengan tenaga yang tersisa dia berusaha mengangkat tubuhnya.

“Rae Ri-ya… Jong In mencarimu,”  suara Nyonya Park.

Rae Ri berhasil duduk. Sekali lagi dia terkejut mendapati bayangan dirinya di  permukaan cermin. Menyedihkan dan mengenaskan. Bibir  dan gusinya terus mengeluarkan darah. Sedangkan kulitnya hampir  mendekati warna kuning –salah satu ciri penderita penyakitnya. Rae Ri meringis kecil ketika hendak berdiri.

“Rae Ri-ya? Apakah kamu tidur? Mengapa mengunci pintu kamar?” teriak Nyonya Park dari balik pintu.

Rae Ri menelan ludah yang telah bercampur dengan beberapa  tetes-tetes darah. “Aku baru selesai mandi Eomma,” bohongnya.

“Begitukah? Kalau begitu segeralah turun. Kamu harus membantu Eomma mencetak beberapa kue. Dan segera turun untuk menemui Jong In.  Dia hampir menangis karena kamu tidak makan siang dengannya.”

Ne… sebentar lagi.”

“Bisakah kamu membuka pintunya sebentar? Eomma ingin berbicara.”

Kini tidak ada yang boleh menolak perintah otaknya. Tubuhnya harus bergerak, walaupun sangatlah mustahil. Dia masih bisa sadarkan diri hingga saat ini saja adalah suatu keajaiban, luar biasa. Rae Ri menyeret kakinya untuk mendekati pintu. Telapak  tangannya belum ternodai apapun kini tengah membersihkan beberapa  darah di bibirnya. Semoa saja Nyonya Park tidak menyadari perubahan atas dirinya.

Klek…! Rae Ri membuka pintu hanya untuk menunjukkan –menjulurkan-  kepalanya.

“Ada apa Eomma?”

Nyonya Park mengeryitkan dahinya, “Apa yang kamu sembunyikan? Mengapa tidak membuka pintu lebar-lebar?  Rae Ri-ya…  kenapa kamu –. Jangan bilang –.” Nyonya Park membekap mulutnya, menahan tangis.

Nan gwaenchanha, Eomma,” Rae Ri tersenyum.

“Kita harus ke rumah sakit,” Nyonya Park mulai menangis.

Eomma…Jong In ada di bawah,”  Rae Ri meringis. “Ini hanya gejala yang biasa. Tolong jangan panik. Aku akan ke rumah sakit, tetapi tidak sekarang. Tidak saat  Jong In –.”

Penglihatan Rae Ri mulai memburam. Kepalanya terasa berat. Sayup-sayup terdengar Nyonya  Park berteriak. Rae Ri dapat melihat –walaupun  tidak begitu jelas –ibunya meronta-ronta dan menangis tak terkendali. Bug…!  Dentuman benda yang menghantam  lantai adalah  hal terakhir yang dapat dia rasakan –dengar.

-LiP-

 “Rae Ri-ya!”

Rae Ri tersenyum, “Kamu terlambat lagi, Ki Bum Oppa.”

Ki Bum hanya tersenyum sembari  mengatur napasnya. Rae Ri tertawa  kecil tanpa sedikitpun mengalihkan  tatapannya  dari Ki Bum. Dia tidak ingin membuang sedikitpun waktunya untuk tidak terus menatap  pemuda yang   telah  lama  memenuhi  dirinya dengan kebahagiaan. Pemuda yang sangat dia cintai.

“Fiuh… mianhae,  aku lupa  lagi tentang janji kencan kita. Kalau kamu tidak mengingatkanku, maka Oppa-mu  yang pelupa ini  tidak akan ada di sini,”dia tertawa.

Rae Ri berlari kecil menghampiri Ki Bum. Ki Bum bergeming, heran. Gadisnya tiba-tiba memeluknya erat. Membenamkan wajahnya pada dadanya yang bidang. Kedua tangan Rae Ri memeluk tubuh Ki Bum  erat, sangat erat. Tingkahnya  itu membuat Ki  Bum semakin bingung.

“Rae Ri-ya?”

Tidak  ada jawaban dari Rae Ri. Alih-alih menjawab, Rae Ri membenamkan wajahnya semakin  dalam. Menyesap aroma tubuh  Ki Bum. Aroma yang sangat dia sukai  dan tidak akan pernah dia lupakan.  Dia akan selalu mengingat semuanya. Detak jantung Ki Bum yang terus berpacu, deru napas Ki Bum yang menerpa puncak kepalanya hingga  tiap telusuran jari-jari Ki Bum di rambutnya.

Mianhae Rae Ri-ya…,” Ki  Bum terdengar begitu panik.

“Emm…,” jawab Rae Ri singkat.

“Apakah ada masalah? Apa yang terjadi?”

“Aku hanya ingin memeluk Oppa. Biarkan aku memeluk  Oppa sebentar saja.”

Ki Bum mendengus mengejek. “Apakah begini  caramu menghukumku karena terlambat lagi? Baiklah, aku akan ikuti  saja,” Ki Bum balas memeluk.

Waktu terus berjalan, membawa kepekatan malam menyelimuti permukaan bumi.  Langit yang hitam kelam tanpa bulan dan bintang membangunkan nuansa keheningan, kesedihan, keterpurukan. Suasana malam ini seolah ingin menyatakan bahwa akan ada perpisahan. Perpisahan yang akan menegaskan bahwa cinta itu menyakitkan.

Saranghae…,” bisik Rae Ri.

Ki Bum merasakan sesuatu yang aneh. “Ada apa Rae Ri-ya?”

“Apakah  Oppa  mencintaiku?”

“Tentu saja,” Ki Bum berusaha melepaskan pelukan Rae Ri.

“Biarkan aku memeluk Oppa,” Rae Ri mempererat pelukannya.

“Kim Rae Ri, apa yang terjadi? Katakan padaku!”

“Bisakah  Oppa melupakanku?”

Ki Bum segera melepas paksa pelukan Rae Ri. “Mwo?”

“Lupakan aku!”  Rae Ri tersenyum manis.

“Ini tidak lucu, Kim Rae Ri. Bagaimana aku bisa melupakanmu begitu saja?”

“Lupakan aku, hapus aku dari  memori Oppa.”

“Melupakanmu? Apa  maksud –?”

Rae Ri mencium pipi Ki Bum sekilas. “Lupakan aku Oppa, semuanya berakhir. Aku berjanji akan menghilang dari kehidupan Oppa, dengan begitu Oppa akan bisa menjalani hidup Oppa seperti biasa tanpa ada gangguan dariku. Aku  berjanji.”

“Rae Ri-ya… apa  kamu marah karena aku  selalu lupa dan terlambat?  Mianhae… aku tidak akan melakukannya lagi. Aku berjanji tidak akan membuatmu menunggu.”

“Bukan karena itu, Oppa. Ini  bukan karena  kesalahan Oppa. Ini semua salahku. Melupakanku dan aku menghilang dari kehidupan Oppa  adalah jalan keluar terbaik.  Demi kebaikan kita semua.”

Ki Bum menahan Rae Ri yang hendak pergi. “Jika ini  salahmu, aku sudah memaafkannya. Hentikan lelucon ini!”  bentak Ki Bum.

“Ini bukan lelucon.”

“Kim Rae Ri, ini semua tidak lucu.”

Perlahan Rae Ri melepaskan cengkraman tangan Ki Bum di lengannya. “Ini bukan lelucon.  Mungkin sulit untuk melupakanku yang notabenenya   selalu membuat masalah untuk Oppa. Jadi, aku akan menghilang dari kehidupan Oppa.  Bila perlu untuk selamanya. Tidak ada di sekitar Oppa, berarti Oppa pasti akan bisa melupakanku dan menemukan yang lebih baik dariku. Mianhae…

Ki Bum mematung. Sesekali dia akan tertawa kecil mengiringi kepergian  Rae Ri. Dia  berhitung dalam hati. Menghitung tiap detik yan berlalu dan  tiap langkah Rae Ri yang menjauh. Hitungan Ki Bum telah mencapai angka terbesar –menurutnya, namun Rae Ri  tidak kunjung berbalik. Rae Ri tidak  kunjung mengakhiri leluconnya.

“Rae Ri-ya!” panggil Ki Bum.

-LiP-

Laju mobil merah itu melambat setelah memasuki sebuah kompleks perumahan asri. Akhirnya mobil ini melaju dengan normal, berbanding terbalik dengan beberapa menit yang lalu. Melaju tidak terkontrol di jalan raya Seoul nan padat. Pedal rem terinjak dan mobil merah itu mulai berhenti. Seorang gadis menatap heran, terkejut sekaligus senang melihat pengemudi mobil itu.

Noona!”

“Yak… kau?” gadis itu  melempar begitu saja selang air ke tanah.

“Temani aku berkeliling,” pinta pemilik mobil.

.

.

.

Pada akhirnya mereka hanya menghabiskan waktu untuk terus terdiam. Sang gadis selalu bertanya terlebih dahulu untuk memecah keheningan, namun hanya di jawab dengan gerakan kepala dan satu kata singkat. Gadis itu pun menyerah. Dia ikut menatap langit dan sesekali  membandingkan bintang di langit dengan titik-titik cahaya  lampu di permukaan bumi.

“Aku dengar dari beberapa anak kampus,  sudah hampir satu bulan kamu di Seoul. Apa kamu pindah lagi? Apakah Ulsan tidak semenarik Seoul?”

Lagi-lagi pertanyaan Soo Young diabaikannya. Soo Young hanya mendengus kesal. Dia tidak menyangka bahwa maksud Ki Bum memintanya  untuk menemaninya adalah menemaninya melamun. Berada di sekitar Ki Bum saat Ki  Bum tengah  kacau seperti ini adalah hal yang dia benci.

“Lama sekali tidak mengunjungi tempat ini,” gumam pemuda itu –akhirnya.

Gadis itu  mendelik, “Ne… sudah dua  tahun lebih. Sejak kamu gila  karena yeoja tengik itu.”

“Emmm… gara-gara yeoja tengik yang  mencampakanku itu.”

“Ki Bom­-ah?” Soo Young terkejut, “Kamu bilang ‘yeoja tengik’? Bukankah kamu selalu marah ketika aku memanggil Rae Ri dengan sebutan itu? Ada apa sebenarnya? Bukankah kamu bilang  kamu telah menemukannya? Lalu mengapa kamu kembali ke Seoul?”

“Yak… Noona.  Pertanyaanmu banyak sekali. Aku  harus menjawab yang mana?”

“Baiklah… singkatnya, apa yang terjadi?”

Ki Bum menghela napas, “Dia ingin aku melupakannya. Dia ingin aku membencinya. Jadi, sekarang aku harus membencinya dan melupakannya.”

Wae? Bukankah sejak dulu dia memang ingin kamu melakukan itu? Mengapa  kamu akan menurutinya sekarang?”

Ki Bum terdiam.  Perhatiannya kembali terfokus pada bintang-bintang. Beberapa kali dia akan meneguk  cairan dari kaleng yang dia pegang. Dia tak acuhkan tatapan ingin tahu Soo Young. Dia tidak tahu harus menjelaskannya dari mana karena sebenarnya diapun tidak tahu apa-apa.

“Ponselmu sejak tadi berdering. Angkatlah!”

Ki  Bum mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Kemudian memandangi layarnya sesaat. Memperhatikan tiap kelap-kelip cahaya dari layarnya. Sebaris nama yang sangat dia kenal tertera di sana. Foto pemilik  nama itu juga  tersenyum ke arahnya.

“Siapa yang menelepon? Sepertinya orang yang sama sejak beberapa jam yang lalu,”  Soo Young merebut ponsel Ki Bum. “Emmm… yeojaching-mu?”

Ki Bum mengangguk ringan sembari meneguk isi kaleng itu lagi. “Lee Ji Eun, namanya Lee Ji Eun.”

“Jangan katakan bahwa kamu mempermainkannya demi membalas Rae Ri?”

Ne… awalnya begitu,” Ki Bum menatap Soo Young dan tersenyum. “Aku akan menikahinya. Aku akan mencintainya.”

“Ki Bom-ah… jangan bertindak konyol. Kamu mau melukai yeoja ini, eoh? Aku tahu, yang ada di otak dan hatimu itu cuma Rae Ri. Lalu mengapa semuanya berubah? Aku tahu kamu bukan orang seperti ini.”

“Hanya ini yang bisa aku lakukan,” Ki Bum melempar kaleng kosong ke sembarang tempat. “Dia bahagia melihatku bersama Ji Eun,” Ki Bum tertunduk.

Nde? Kamu membuatku bingung,” Soo Young mengacak-acak rambutnya.

“Dia sekarat. Kim Rae Ri tengah sekarat,” jawab Ki  Bum singkat.

-LiP-

Tujuh tahun kemudian…

“Rae Ri-ya…bangunkan Appa!” bisik Ibu muda itu

Ne, Eomma,” gadis  itu cekikikan.

Gadis kecil itu terlihat mencari sesuatu di dalam tas  kecil berwarna putih miliknya. Dia  kembali tertawa kecil ketika mendapati benda itu. Ibunya juga ikut tertawa  melihat benda yang didapat malaikat kecilnya. Dia  juga memberikan anggukan kecil atas tindakan yang direncanakan gadis manis  itu.

Appa… wake up!”

“Emm…,” gumam sang ayah tanpa membuka matanya.

Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya kesal. Dia menoleh, menatap ibunya di sampingnya. Ibunya memberi  isyarat untuk segera melakukan ide itu.  Gadis itu merasa  tidak yakin dan  kembali bertanya. Rupanya dia takut akan membuat sang ayah marah.  Namun ibunya  berani menjamin bahwa sang ayah yang masih tidur itu tidak akan berani memarahinya.

Appa…wake up! Hurry!” ucapnya lagi dengan pelafalan khas anak kecil.

Sembari terus membisikkan kalimat itu, dia mulai memainkan benda yang dia dapatkan –dari tasnya- pada hidung ayahnya.  Dia manahan tawanya tatkala sang ayah mulai merasa geli dan  terusik oleh bulu unggas yang selalu dia bawa ke mana-mana. Dia terus mengulanginya hingga sang ayah benar-benar membuka mataya.

Aish…  hentikan,  Rae Ri-ya,” akhirnya ayah muda itu bangun juga.

Oppairona, kita sebentar lagi sampai. Cuci muka sana.”

“Akh…kalian berdua selalu kompak mengerjaiku,” berusaha untuk tidur lagi.

“Yak… wake up, Appa. Palli!” gadis kecil yang selalu dipanggil ‘Rae Ri’ itu sudah sangat kesal sekarang. “Ki Bom Appa pemalas, irona!” Pekiknya tepat di telinga sang ayah.

Aigoo… Ji Eun-ah, sudah aku larang dirimu untuk membiarkannya berbicara di telepon dengan Soo Young Noona. Sekarang lihat, dia seperti nenek sihir itu.”

“Ayolah, Oppa. Sebentar lagi pesawatnya mendarat. Apa Oppa ingin bertemu Jong In dengan liur mengering seperti itu? Cih… memalukan.”

“Liur mengering…,” cekikik  gadis kecil di pangkuan Ji Eun.

Araseo…

-LiP-

Hamparan logam mulia terjejer di etalase- etalase kaca. Semua orang pasti mau memiliki salah satu benda berkilau itu. Logam-logam mulia berbagai bentuk dan ukuran itu semakin berpendar di bawah sorot lampu. Memberi kesan mewah yang teramat sangat. Menanamkan keangkuhan bagi yang bisa memilikinya.

“Silahkan, Tuan dan Nyonya,” pelayan toko perhiasan itu menyodorkan kotak kecil berwarna biru gelap.

“Bagaimana, apakah ini bagus?” tanya pemuda berpenampilan cukup dewasa itu pada gadis di sebelahnya.

“Biar aku yang memilih, Oppa. Bukankah Oppa memintaku jauh-jauh ke sini untuk memberiku wewenang memilih cincin pertunangan?”

“Baiklah,” pemuda itu pasrah.

Gadis itu kembali sibuk memperhatikan tiap perhiasan di etalase  toko. Tidak ada satupun yang membuat dia tidak berdecak kagum.  Jika bisa, dia ingin memiliki semuanya. Lihat saja, matanya penuh dengan binar-binar kebahagiaan.

“Aku mau yang ini,” tunjuknya pada sepasang cincin dengan bentuk yang simpel.

“Kamu yakin? Tidak akan menggantinya?” Dia tidak mendapat jawaban. Gadis itu masih terlarut dalam dunia ‘perhiasan berkilau’-nya. “Kim Rae Ri, apa kamu yakin memilih yang model ini? Bukankah terlalu sederhana?”

Rae Ri hanya tertawa nyaring. “Aku menyukai ini. Selera wanita memang begini. Oppa mau aku memilih yang permatanya sebesar  stroberi, hah?!”

Anii…,”jawab pemuda itu gugup.

“Lihat, baru digertak begitu saja sudah keringat dingin,” Rae Ri tertawa terbahak. “Oh, Oppa tidak lupa mengundang Jong In di acara pertunangan nanti ‘kan? Aku merindukannya, sudah lama tidak bertemu dengannya. Lagian aku juga  mau  mengucapkan terima kasih secara langsung karena dia membantuku ‘bersembunyi’.”

Ne…aku  akan mengundangnya.”

“Bagaimana kalau dia menjadi pendamping Oppa saat upacara pernikahan nanti? Wuah… pasti seru. Bukankah Oppa juga menjadi pendampingnya waktu itu? Aku tidak bisa membayangkan kalau saat  itu pendeta mengira bahwa Oppa adalah pengantinnya. Sebenarnya alasan yang cocok apa karena Jong In menikah terlalu muda atau Oppa belum menikah hingga tua begini. Hahaha… seandainya aku bisa datang waktu itu.”

“Tertawalah Rae Ri, tertawalah  Kim Rae Ri. Pergaulan orang-orang Eropa membuatmu makin tidak terkontrol. Aku menyerah.”

Rae Ri tertawa kecil. “Bagus, Oppa memang harus menyerah padaku.Emm… Oppa  memang sudah menyerah. Ini buktinya,” Rae Ri menunjuk kotak cincin yang baru saja dia pilih itu. “Sekarang  kita perlu ke butik. Bukankah hari ini harus  fitting?”

-LiP-

Rae Ri memperhatikan dirinya dengan seksama di depan cermin. Gaun berwarna putih dengan bagian bawah yang mengembang bak kelopak bunga mawar melekat sempurna di tubuhnya. Beberapa payet dan kristal-kristal serta  replika bunga sakura, menghiasi beberapa tempat di gaun itu. Sesekali dia akan berputar-putar dan bertingkahs eolah dirinya adalah seorang putri.

“Wuah… it is so beautiful,” gumamnya.

Rae Ri segera keluar dari ruang ganti. Dia tidak sabar ingin menunjukkan gaun indah ini pada pemuda yang tengah menunggunya di sisi lain butik. Seorang pelayan butik terlihat membantunya mengangkat bagian bawah gaun agar tidak terseret-seret di lantai.

“Oh… ke mana Oppa?”

“Katanya keluar sebentar untuk membeli minuman,” jawab pelayan di ruangan itu.

Mwo? Aish…,” Rae Ri berlari kecil menuju pintu keluar.

Agasshi!!!” panggil pelayan butik.

“Aku  tidak akan jauh, hanya sampai pintu saja.”

Rasa tidak  sabar Rae Ri, membuatnya tidak peduli apakah pemilik butik akan marah atau tidak. Dia hanya ingin segera menunjukan penampilannya dengan gaun indah ini di hadapan pemuda itu.  Dia sama sekali tidak berniat mencurinya. Dia  cukup bertanggung jawab.

“Aish…,” umpatnya kesal.

“Kim Rae Ri! Jangan berlari, nanti kamu terjatuh!” pekik seseorang.

Rae Ri menoleh ke arah suara yang meneriakkan namanya. Bug…! Sesuatu menabrak kakinya. Dia menundukkan kepala. Seorang gadis  kecil terlihat terduduk dan hampir menangis.Rae Ri berubah panik dan tidak memperdulikan seseorang yang terus menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Susah payah dia mencoba duduk untuk membantu gadis yang menabraknya.

Mianhae… gwaenchanha,saengi? Apakah Eonni menyakitimu?”

Gadis itu menggeleng  pelan, namun terlihat jelas bahwa dia menahan tangisnya. “Are you princess?”

Nde? No… where is your mom?”

“Kim Rae Ri,” panggil seseorang.

Rae Ri segera mendongakkan kepalanya, begitu juga gadis kecil itu. Matanya membulat sempurna. Sedangkan gadis kecil itu segera berdiri dan berlari ke arah orang yang memanggilnya. Rae Ri  semakin terkejut mendengar bahwa gadis kecil itu menyebut kata ’ayah’.

Appa…,” rengek gadis kecil itu.

“Kim  Rae Ri, kamu masih –?”

Rae Ri segera merajut senyum. “Lama tidak bertemu, Ki Bum Oppa. Apakah gadis kecil itu bernama Rae Ri juga? Manis sekali… Ji Eun mana?”

“Bukankah kata Jong In  kamu sudah –”

Rae Ri kembali memotong, “Annyeong Rae Ri-ya… jeoneun Kim Rae Ri imnida.”

“Kim Rae Ri?” Rae Ri kecil mendongak ke arah Ki Bum. “Appa… namanya Kim Rae Ri juga, sama seperti namaku,” dia tersenyum kecil.

Ki Bum hanya mengangguk kecil. Dia kembai terfokus pada Rae Ri –dewasa. Penampilan Rae Ri dengan  gaun pengantin yang begitu indah memunculkan banyak pertanyaan di kepalanya. Tetapi di balik itu semua, terpesona oleh kecantikan  Rae Ri-lah yang membuat dia seperti sekarang –tercengang.

“Apakah kamu akan menikah?”

Rae Ri mengangguk bangga. “Tentu… karena itulah aku berpakaian seperti ini.”

“Siapa pemuda  beruntung yang bisa menikahimu?”

“Dia tidak bisa dikatakan beruntung,”  Rae Ri tertawa kecil. “Oh… itu dia. Jin Ki Oppa, ke mana saja?”

Ki Bum berbalik  badan. “Annyeong haseyeo,” sapanya.

Annyeong… Ki Bum-ssi? Dan –?” Jin Ki melirik gadis kecil di samping Ki Bum.

“Kim Rae Ri imnida,bangapseumnida,”celoteh Rae Ri kecil.

“Ini dia calon suamiku.”

Jin Ki melongo tidak percaya. “Oh…”

“Kalau begitu, selamat atas pernikahan kalian.”

Rae Ri kecil menarik-narik ujung jas Ki Bum. “Appa…  bukankah kita harus menjemput Eomma?”

“Baiklah… sampai jumpa.”

“Sampai jumpa,”  Rae Ri melambaikan tangannya.

Rae Ri terus melambaikan tangannya dan sesekali menggoda Rae Ri kecil yang beberapa kali menoleh ke arahnya. Dia menghela napas lega ketika bayangan anak dan ayah itu tidak lagi terlihat dengan jelas. Meraka telah menjadi titik di kejauhan.

“Kamu masih hebat berbohong, bahkan semakin hebat,” sindir Jin Ki.

Rae Ri mengerucutkan bibirnya, “Mianhae… aku berjanji ini yang terakhir. Aku tidak akan membawa nama Oppa lagi. Oh… bagaimana gaun ini?”

Yeppoyeo…”

“Lihat, memuji setengah hati. Memang seharusnya bukan aku yang memakai ini. Sesibuk apa calon istrimu itu? Mengapa aku yang harus mengurusi pernikahan kalian, hingga aku yang menjadi patokan untuk cincin tunangan dan gaun ini? Aigoo…

“Tidakkah kamu akan menjelaskan yang sebenarnya kepada Ki Bum. Kamu terlalu banyak menipunya. Bagaimana bisa kamu bilang bahwa kamu sudah meninggal tujuh tahun yang lalu.”

Oppa… aku memang akan meninggal. Hanya saja waktu itu Tuhan memberiku waktu lagi. Lalu  sekarang waktuku akan benar-benar habis, Oppa.  Tuhan tidak akan memberi waktu tambahan lagi. Oppa sendiri tahu, hati pemberian orang yang hanya setengah ini sudah mulai rusak.”

“Rae Ri-ya?”

Kajja… pemilik butik terus memelototiku. Dia berpikir aku akan membawa kabur gaun ini.”

-LiP END-