Tags

, ,


Love is Painful

Title                       : Love is Painful – Chapter Two

Author                  : Chanyeonie

Main Casts          : Atika Sari a.k.a Kim Rae Ri| Kim Ki Bum (Key)

Support Casts    : Lee Jin Ki (Onew)| Kim Jong In (Kai)|Lee Ji  Eun (IU) and  others.

Genre                   : Sad, Romance, Angst, Drama

Length                  : Chaptered

Rating                   : PG-13

Disclaimer          : Idea is owned by Atika Sari, but plot is mine.

Warning              :

Typo yang mungkin akan menggangu. Gejala kebingungan yang akan  dialami reader karena narasi author yang ruwet. Penulisan yang –mungkin- tidak sesuai EYD.

-LiP-

Soo Young meletakkan cangkir berwarna krem di hadapan Ki Bum kemudian menuangkan dengan perlahan cairan coklat yang cukup bening. Sepotongan strawberry cake –di atas piring kecil –menemani secangkir teh hangat itu. Setelah itu dia mengambil tempat duduk bersebrangan dengan tamunya yang kelihatan mulai tidak sabar. Bukan karena ingin segera menikmati suguhan yang dia berikan, melainkan ingin mendengar penjelasan panjang lebar darinya.

“Jadi Ki Bom-ah, ada apa kamu ke rumahku?” Soo  Young memulai pembicaraan yang cukup basi.

Ki Bum mendengus dan melipat tangannya di depan dada. “Bukankah aku sudah bilang? Berapa kali aku harus mengulangnya,  Noona?”

“Baiklah… aku tahu maksudmu. Kamu sudah tahu jawabannya ‘kan?”

Rahang Ki Bum mengeras,”Bukankah Noona bilang akan menunggu jawabanku sebelum malam? Lalu bagaimana bisa?”

Jeongmal mianhae… pihak universitas terus mendesakku. Mereka meminta aku untuk segera mengajukan penggantiku.  Kamu tidak memberiku harapan, jadi terpaksa aku memberikannya pada Min Seok. Kamu lihat sendiri tadi dia mengambil bahan untuk event itu. Pihak universitas tidak mau persiapannya kurang matang hanya karena menunggu penggantiku. Kamu tahu sendiri, dua minggu bukan waktu yang lama untuk mempersiapkan semuanya. Beruntung Min Seok  sudah bersiap sejak lama. Dia penuh obsesi yang kuat.”

“Aish…”  Ki Bum mengacak-acak rambutnya sendiri.

“Lagian kenapa kamu tiba-tiba ingin ikut tim yang akan ke Ulsan. Bukankah sebelumnya kamu selalu menolak? Apa yang merubah keputusanmu?”   Soo Young menatap dengan selidik.

Noona  tidak  perlu tahu. Yang perlu Noona lakukan hanya memberiku cara agar bisa ikut ke Ulsan.”

Soo Young terkekeh, “Kalau kamu ingin ke Ulsan, kamu tinggal naik kereta ‘kan?” tawa Soo Young meledak.

“Tidak lucu, Noona.”

“Jadi sekarang kamu menyesal dan ingin ikut tim agar bisa bertemu Profesor Jung? Apa kamu sudah terbangun dari tidur panjangmu?”

Ki Bum hanya terdiam. Dia tidak berniat menjawab pertanyaan Soo Young yang terus menatapnya dengan tajam. Ki Bum merasa risih terus dipelototi seperti itu. Dia segera meraih cangkir putih di hadapannya dan meneguk dengan canggung cairan yang hampir dingin itu. Kini giliran Soo Young yang menatap dirinya kesal.

“Aku rasa kamu punya alasan lain.  Jangan bilang kalau alasanmu itu konyol.”

Ki Bum berdehem  dan beranjak dari sofa empuk itu. “Aku permisi pulang.”

“Mencurigakan. Memang sebaiknya kamu tidak masuk tim. Aku punya firasat buruk  jika kamu ikut.”

-LiP-

Butuh waktu lama untuk mengurus semuanya. Ditambah lagi dengan kedua orangtuanya yang terus bertanya-tanya mengapa dia harus melakukan ini dan itu. Beruntung berbagai alasan yang dia sampaikan dapat diterima oleh kedua orangtuanya. Alasan-alasan itu  hanyalah karangannya saja. Siapa yang berpikiran bahwa Seoul itu lebih buruk dari kota lain se-Korea Selatan? Tidak ada, kecuali dirinya –mungkin.

Tetapi hal yang mengherankan adalah adanya seseorang yang ternyata lebih tidak menyukai keputusan yang dia  ambil itu. Menurutnya –orang itu –keputusan yang dia ambil tidak masuk akal. Menurutnya keputusan dan alasan-alasan itu sangat kekanak-kanakan. Namun semua itu hanya dianggap angin lalu.

Ne Eomma, aku ingat alamatnya. Aku juga sudah memberi tahu Ahjumma semuanya. Beliau sangat senang. Jadi, Eomma dan Abojhi  tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja.”

Dia terlihat seperti  orang gila sekarang. Setelah memutuskan sambungan teleponnya dia mulai tersenyum sendiri. Dia ingin sekali tertawa, namun tempat tidak mungkinkannya. Dia tidak ingin mengganggu penumpang kereta api yang lain. Dia tidak sabar menunggu waktu dua jam itu berlalu. Dua jam, dua jam lagi dia akan menemukannya.

-LiP-

Jong  In terus melirik jam tangannya. Beberapa kali dia tidak percaya dengan apa yang ditunjukkan jam tangannya, maka dia akan beralih pada jam dinding yang tepat tepat berada di depan pintu masuk rumahnya.  Hasilnya sama, tidak berbeda dengan jam tangannya. Dia mulai tidak sabar. Kakinya di ketuk-ketukkan dengan kencang pada lantai rumah yang tertutup  marmer.

Hyeong, palli. Aku bisa terlambat!” teriak Jong In.

“Tunggu sebentar, aku belum menemukannya.”

Jong In berdecak kesal. Dia akan terlambat untuk mengikuti acara penutupan hari ini.  Dia juga tidak bisa menemui  Rae Ri lagi hari ini karena harus menemani  pemuda merepotkan yang kini entah sedang melakukan apa di kamarnya.

Hyeong!!!”

Ne… aku turun sekarang.”

Pemuda yang ditunggu Jong In akhirnya menyelesaikan urusannya. Jong In menatap pemuda itu dengan kesal. Jika pemuda di hadapannya ini tidak lebih tua darinya, sudah pasti dia akan melayangkan bogem mentah pada kepalanya. Dia selalu mendapatkan kejadian buruk jika bertemu sang kakak sepupu  itu.

“Siap? Hyeong membawa semua berkasnya ‘kan? Aku  tidak mau harus kembali lagi nanti.”

Pemuda yang tidak lebih tinggi dari Jong In itu hanya tersenyum kekanak-kanakan, “Tenang  kkamjong-ah. Semuanya sudah beres, kajja!”

Jong In memutar bola matanya kesal, “Jangan memanggilku seperti itu di kampus nanti.”

Arasseo, Jonginnie…”

Hyeong!!!”

“Oke, Kim Jong In,” Pemuda itu hanya berlalu dan tertawa sendiri. Suasana hatinya sedang sangat bagus.

Kesabarannya akan benar-benar di uji. Kehidupan tenang Jong In akan segera berakhir, bahkan lebih tepatnya telah berakhir.  Penyebabnya hanya satu, yaitu kedatangan kakak sepupunya. Dia tidak hanya datang   untuk  berkunjung, melainkan menetap. Dia akan melanjutkan kuliahnya di universitas dan jurusan yang sama dengannya.

“Merepotkan,” gumamnya lirih.

“Yak…  bisnya sudah datang, palli.”

Ne Hyeong.”

Beruntungnya mereka tidak harus berdiri. Sepasang kursi kosong  menanti mereka di bagian kiri bis. Sebenarnya bukan hal biasa bis yang mereka tumpangi hampir penuh. Mungkin hari ini adalah hari penting dan sibuknya penghuni Ulsan, lebih spesifiknya adalah penghuni Mugeu-dong. Jong In memilih tempat duduk di dekat jendela. Dia berniat menghabiskan waktu ‘di dalam bis’-nya  dengan hanya menatap ke luar jendela dan mengacuhkan kakak sepupunya. Untuk kesekian kalinya, bis yang mereka tumpangi berhenti.

Hyeong berdiri!” perintah  Jong In.

Wae?”

“Tsk… biarkan yeoja itu duduk. Hyeong tega melihatnya berdiri?”

Naega wae? Kenapa bukan kamu atau penumpang yang lain?”

Jong In memelototi pemuda yang selalu sangat menyebalkan baginya itu. “Hyeong, palli.

Arasseo…,” akhirnya dia menurut juga. “Yak… Agasshi, di sini!” panggilnya.

Gadis yang dia panggil hanya melonggo dan melihat ke kanan dan ke kiri. Setelah menyadari hanya dia satu-satunya mahkluk yang berjenis kelamin ‘perempuan’ yang baru menaiki bis, dia menunjuk dirinya sendiri dan bertanya tanpa suara. Gadis itu kemudian tersenyum senang mendapat anggukan dari pemuda yang menawarkannya.

Gomawo…,” dia tersenyum.

“Emm…,”

Annyeong haseyeo, Jong In-ah,” sapa gadis itu lagi pada Jong In yang duduk di sebelahnya.

Jong In hanya menatap sekilas dan tersenyum, “Oh, kamu? Tumben naik bis?”

Appa pagi-pagi sekali berangkat dan meninggalkanku.  Pekerjaannya selalu lebih penting,” gerutunya.

Jong In hanya tersenyum kecil melihat ekspresi wajah Ji Eun, “Kamu jangan berpikiran begitu. Itu semua demi kebaikanmu ‘kan?”

Ehemmm…,” deheman itu mengusik perbicangan teman lama itu.

Wae Hyeong?”

“Kamu tidak ingat kalau aku ada di sini?”

“Oh…,” Jong In nyengir kuda. “Ji Eun-ah, dia kakak sepupuku.”

Ji Eun menatap pemuda yang berdiri di sebelahnya. “Lee Ji Eun imnida,” dia mengulurkan tangannya  dan tertunduk malu.

Bangapseumnida, Kim –“

Jong In mengintrupsi acara perkenalan mereka. “Jadi, bagaimana dengan laporan akhir panitia nanti?”

Ji Eun mulai  menjelaskan panjang  lebar.  Dia juga menunjukkan berepa berkas kepada Jong In yang merupakan ketua kelompoknya dalam  kepanitiaan event Universitas Ulsan periode ini. Sesekali Ji Eun akan melirik pemuda di sampingnya, tentunya yang dia tidak mengetahui namanya. Terkadang dia akan tersenyum mendengar gerutu pemuda itu karena diabaikan. Terkadang juga jantungnya akan  berdetak tidak menentu tiap melihat wajah pemuda itu.

-LiP-

Jin Ki terus memperhatikan Rae Ri. Dia terlihat pucat dan lemas. Kekhawatiran Jin Ki bertambah setiap Rae Ri meringis, menahan sakit atau entah apa. Sesekali dia juga terlihat sempoyongan.  Terburu-buru Jin Ki menyelesaikan urusannya agar dapat segera melihat keadaan Rae Ri.

“Rae Ri-ya?” panggilnya.

Rae Ri menoleh perlahan dan melayangkan senyum yang terlihat sangat lemah. “Emmm?”

Neun gwaenchanha?”

Ne…”

“Sebaiknya kamu beristirahat. Biar sisanya yang lain yang urus,”Jin Ki benar-benar khawatir.

“Aku bisa menyelesaikannya, Oppa.”

Jin Ki meraih pergelangan tangan kiri Rae Ri, “Kajja… kamu harus istirahat.”

“Tetapi, Oppa…

Jin Ki tidak memberi kesempatan Rae Ri untuk menolak. Dia menarik tangan Rae Ri sehingga membuat Rae Ri berada tepat di sampingnya. Tangan kanan Jin Ki yang bebas sudah tersampir di pundak kanan Rae Ri –merangkul. Dengan lembut dia mengajak Rae Ri keluar dari ruangannya yang berantakan itu. Akibat tindakannya itu, seluruh penghuni ruangan itu menatap mereka dan berbisik satu sama lain.

Entah apa yang harus dia lakukan, jujur dia sangat malu sekarang. Semua perhatian orang tertuju padanya dan Jin Ki. Apa yang akan dikatakan orang melihat Jin Ki merangkulnya seperti ini? Dia ingin sekali meronta dan melepaskan dekapan Jin Ki, tetapi tenaganya tidak cukup. Dia memang merasa sangat lemah hari ini.

“Tidurlah!” pinta Jin Ki.

Nde?” Rae Ri melihat sekitar  ruangan yang beberapa detik lalu mereka masuki.

“Ini ruangan asisten dosen –ruanganku, kamu bisa tidur di sofa untuk sementara. Aku akan mencarikan sesuatu yang bisa di jadikan bantal dan selimut,” Jin Ki menuntun Rae Ri agar  duduk di atas satu-satunya sofa panjang di ruangan itu. “Aku keluar sebentar. Tunggu di sini, jangan  keluar!”

Ne…,” Jin Ki mampu menaklukkannya yang notabenenya sangat keras kepala.

Terdengar suara pintu yang ditutup di sebelahnya. Bersamaan dengan itu kedua sudut bibir Rae Ri terangkat, pipinya bersemu merah dan sesuatu meletup-letup di dalam dirinya. Menyadari perubahan suasana hatinya, Rae Ri segera menggelengkan kepalanya kencang dan mengutuk dirinya sendiri. Seharusnya dia tidak boleh merasa begini. Ini semua tidak benar.

Deg…!

Rae Ri mengaduh. Bagian tubuhnya itu kembali merasakan sakit. Dia segera merogoh saku celananya. Sebungkus kecil obat yang telah dia pisahkan dari tempatnya semula seolah menyapanya. Beruntung tadi pagi dia berinisiatif memisahkan obat itu. Karena dia yakin akan meninggalkan tasnya di suatu tempat dan butuh obat cadangan.

Klek…!

“Rae Ri-ya, wae geurayeo?” Jin Ki melihat Rae Ri bercucuran keringat dan tengah memakan sesuatu.

Rae Ri berusaha menelan obat itu tanpa bantuan air. “Gwaenchanha.”

“Apakah kamu meminum obat? Ini minumlah,” Jin Ki menyodorkan segelas air.

Gomawo.

“Obat apa yang kamu minum? Kamu terlihat sangat pucat,”

“Hanya vitamin,” jelas Rae Ri.

“Kamu semakin terlihat tidak baik. Apa perlu aku carikan makanan? Atau aku antar pulang?”

Rae Ri menggelengkan kepalanya perlahan, “Anio… aku tidak lapar. Mungkin memang hanya perlu tidur sebentar.”

“Baiklah…,” Jin Ki menaruh bantal pada salah satu sisi sofa. “Tidurlah! Kebetulan aku mendapatkan bantal dan selimut di ruang kesehatan. Aku sudah mengganti sarung bantalnya, dan selimutnya masih baru. Ruang kesehatan sangat berantakan, jadi tidur saja di sini.”

Gomawo, Oppa.”

“Tidurlah! Emm… aku akan mengambilkan tasmu dan segera kembali.”

Rae Ri hanya membalas dengan anggukan kecil. Jin Ki sangat perhatian padanya. Buktinya dia membantunya untuk berbaring dan menyelimuti dirinya. Pemuda itu terlihat sangat mengkhawatirkannya. Beberapa kali dia menanyakan keadaanya, menanyakan apa yang dia butuhkan. Jin Ki begitu detail menanyakan apapun.

-LiP-

“Yak… michigesseo Hyeong?” tanya Jong In sembari mengejek.

Mwo?”

Hyeong, Ulsan itu tidak seluas daun kelor. Bagimana bisa Hyeong menemukannya?”

“Pasti ada cara,” jawab pemuda itu dengan penuh percaya diri.

Jong In menatap kakak sepupunya yang juga bermarga Kim itu. Apa orang bermarga Kim harus seaneh dia? Sepertinya tidak, buktinya dia sangat normal. Dia mulai tertawa terbahak, mengagumi dirinya yang sangat normal. Jauh lebih baik dari pemuda di hadapannya. Pemuda yang dia maksud melihatnya dengan tatapan aneh.

“Apa yang kamu tertawakan? Dasar aneh.”

Obseyeo… Jadi, Hyeong akan menetap di sini hanya karena untuk menemukan ‘cinta’ Hyeong itu? Sudahlah Hyoeng, di dunia ini bukan cuma dia gadis manis dan lugu. Aku akan memperkenalkan Hyeong pada seseorang. Aku yakin dia adalah tipe Hyeong.”

Mianhae… aku tidak tertarik.”

“Oke… bagaimana kalau  kita coba,” Jong In mencari ke sana- ke mari calon tikus percobaannya. “Ah… Ji Eun-ah! Lee Ji Eun!” teriaknya.

Ji Eun yang kebetulan melintas, mendekati mereka. “Apa ada Jong In-ah? Jangan bilang kamu mau mengerjaiku.”

“Tadi kalian tidak sempat kenalan ‘kan? Perkenalkan  Kim Ki Bum, kakak sepupuku.”

Ki  Bum memelototi Jong In. Beberapa detik kemudian tatapan ramah disuguhkan untuk Ji Eun, “Kim Ki Bum imnida.

“Lee  Ji Eun imnida.”

“Kamu mau ke mana? Sepertinya terburu-buru,” celetuk Jong In untuk mencairkan suasana yang membuat Ji Eun bertingkah aneh.

“Aku ada urusan mendadak. Profesor Jung memanggilku.”

Jong In  berdecak, “Baiklah, pergilah! Bisa-bisa Profesor Jung marah padaku karena menahan mahasiswa  kesayangannya.”

Mwo?” Ji Eun mengerucutkan bibirnya.

-LiP-

Ji Eun mempercepat langkah kakinya. Profesor Jung benar-benar memanfaatkannya dengan baik. Buktinya  sekarang dia diminta –lebih tepatnya ‘dipaksa’ –untuk membawakan beberapa berkas ke ruangan seminar yang di adakan Profesor Jung sore ini. Sebenarnya selain membawakan barang-barangnya dia juga harus menjadi asistennya. Dia harus pulang malam lagi, sepertinya.

Hembusan kasar napas Ji Eun memecah keheningan. Dia berdiri tepat di depan lift, menunggu terbuka. Selama itu pikirannya berkecamuk. Jika malam ini dia pulang terlambat, itu berarti dia tidak akan bisa menikmati waktunya bersama sang ayah. Ayahnya memang sangat sibuk. Mereka hanya mampu berbincang layaknya seorang ayah dan anak saat makan malam dan makan siang. Ayahnya memang sudah berjanji akan meluangan waktu itu untuknya.

Enam  tahun sudah ibunya meninggal. Ayahnya semakin sibuk saja dan hampir tidak memperhatikannya. Sejak hari itu kekosongan di hatinya semakin terasa.  Dia yang notabenenya tidak pandai bergaul hampir tidak memiliki teman. Jumlah temannya  bisa dihitung dengan jari,  dan sepertinya hanya Jong In yang bertahan hingga kini. Itu pun karena mereka berasal dari sekolah menengah atas yang sama dulunya dan kini mereka menjadi rekan sejurusan.

Ting…!

Pintu lift terbuka. Ji Eun menegakkan kepalanya. Tatapan matanya bertemu dengan tatapan seorang gadis yang terlihat begitu pucat. Seorang pemuda terlihat memapahnya, walaupun terlihat begitu canggung. Ji Eun menyeret kakinya untuk sedikit bergeser dan memberikan jalan agar gadis dan pemuda itu dapat lewat.

Bug…!

Gadis itu kehilangan tenaganya. Ji Eun sigap membantu pemuda itu. Pemuda itu terlihat sangat panik. Namun anehnya, sang gadis yang  jelas-jelas terlihat seperti kehabisan  darah itu –sangat pucat – hanya tersenyum dan terus mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Ji Eun yang menyangga bagian kepala gadis itu juga ikut panik.  Tubuh gadis itu sangat panas.  Herannya lagi, gadis itu terus meminta maaf padanya. Gadis bodoh, begitu pemikiran Ji Eun.

-LiP-

Angin bertiup dengan lembut. Meniup lembaran demi lembaran daun yang menghijau pada rantingnya. Matahari bersinar cukup terik. Membuat semua permukaan benda di bumi terlihat berkilauan. Hanya semilir angin yang dapat menghalau pancaran panas matahari itu   untuk tidak menyengat kulit dengan teramat sangat.

Harapan Ki Bum mulai sirna. Mungkin benar apa yang dikatakan Jong In, dia tidak akan bisa menemukan Rae Ri dengan cepat. Ulsan tidak selebar telapak tangannya atau daun kelor, entahlah. Dia terlalu bangga dengan hanya mendapatkan petunjuk bahwa Rae Ri ada di Ulsan. Dia  begitu terburu-buru. Lalu apa yang harus dia lakukan? Menyerah? Apakah dia harus selalu menyerah? Apakah dia harus melupakan semuanya dan menganggap tidak pernah terjadi? Apakah pada akhirnya dia harus melupakan ‘cinta’ itu?

Untuk kesekian kalinya dia melihat ke layar ponselnya. Dia kembali membuka kenangan-kenangan itu.  Kenangan indahnya yang bahkan tanpa cacat. Tidak akan yang dapat menduga bahwa kisah itu akan berakhir seperti ini. Semua orang hanya bisa berbisik iri.  Namun sekarang, orang malah mencemooh. Kepalsuan, kenangan indah itu hanya berisi kepalsuan. Tawa, canda,  perhatian, kesabaran, semuanya hanyalah kepalsuan.

Apakah dia yang sangat bodoh sehingga tidak menyadarinya? Atau apakah Rae Ri  terlalu  pintar bersandiwara? Jika memang semua itu hanyalah sandiwara, mengapa sandiwara itu harus berakhir? Tidak bisakah  sandiwara itu terus berlanjut dan tetap menjadi kenangan indah tanpa ada yang menyadari kepalsuan yang ada?

“Oh… Ki Bum-ssi?”

Ki Bum terperanjat dari lamunannya.  Dia merasakan dingin pada kedua belah pipinya. Memalukan, dia segera menghapus benda yang membuat pipinya itu merasakan dingin. Tubuhnya segera dia tegakkan dan bersandar pada batang pohon yang menanguinya sejak tadi.

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya suara itu lagi.

“Hanya menikmati siang yang terik ini. Bagaimana dengan Ji Eun-ssi?”

Ji Eun mengambil tempat duduk di samping Ki Bum, “Sama sepertimu, menikmati minggu siang yang terik namun menyegarkan ini. Taman selalu menjadi pilihan terbaik.”

“Oh….”

Hening, mereka berdua terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Gemerisik daun yang bergesekan akibat paksaan sang anginlah yang membisikkan suara ketenangan ke telinga mereka. Sesekali Ji Eun akan melirik Ki Bum yang hanya mendongak menatap langit dan mengacuhkannya. Dia melihatnya tadi, dia melihat cairan bening itu membasahi pipi Ki Bum.

“Ki Bum-ssi,” usiknya.

Nde?” Ki Bum hanya menoleh sejenak dan kembali menatap langit.

“Apakah kamu merasa kehilangan, kekosongan dan kesepian?”

Ki Bum segera menoleh dan menatap Ji Eun dengan mata yang sedikit membulat. “Nde?”

“Apakah kamu sedang menanti seseorang untuk kembali? Kembali padamu seperti dulu?”

Morago?”

“Lupakanlah,” Ji Eun beranjak dari posisi duduknya. “Aku harap kita bisa menjadi teman dekat. Sampai bertemu lagi.”

Ne,” anggukan kecil kepala Ki Bum dimaksudkan untuk membalas lambaian tangan Ji Eun.

Gadis itu perlahan meninggalkannya. Gadis itu melangkah dengan riang. Sebelah tangannya memegangi  topi yang dia kenakan dan satunya lagi memegangi rok selututnya agar tidak tertiup angin. Ki Bum memperhatikan Ji Eun yang meninggalkannya hampir tanpa berkedip. Ji Eun, Rae Ri, mereka seperti orang yang sama. Ki Bum melihat Rae Ri dalam sepersekian bagian dari Ji Eun. Walaupun dia tidak mengenal Ji Eun dengan baik. Tetapi dia sempat berpikir bahwa Ji Eun adalah  Rae Ri dalam wujud yang berbeda.

-LiP-

Kicau burung yang berasal dari jam waker berhasil membuat dia tersadar dari alam mimpinya. Rae Ri segera meraih segelas air pada meja kecil di sisi tempat tidurnya dan meneguknya hingga tandas. Rupanya dia sangat haus setelah lama mengarungi dunia mimpinya yang mungkin cukup indah.

Malas rasanya harus turun dari tempat tidur dan kembali beraktivitas. Tetapi apa boleh buat, bukankah dia punya kewajiban sebagai seorang mahasiswa? Perlahan dia menyeret kakinya agar turun dari tempat tidurnya yang empuk dan nyaman itu. Sial, entah mengapa kepalanya tiba-tiba berdenyut dengan kencang. Serasa seolah mahkluk aneh mengigiti isi kepalanya.

Dia berusaha berdiri dengan bertopang pada meja kecil itu. Namun dalam hitungan detik, dia kembali tumbang. Denyutan di kepalanya membuat pandangannya berkunang-kunang. Bersamaan dengan itu, kakinya lemas. Seluruh tubuhnya kehilangan tenaga. Apakah karena  tidur terlalu lama membuat dia kehilangan tenaga begitu saja?

“Rae Ri-ya, irona!” sayup-sayup teriakan Nyonya Park sampai ke telinganya.

Ne Eomma, aku sudah bangun!” balasnya dengan tenaga yang tersisa.

Palli! Sarapanlah dulu baru bersiap-siap.”

Ne Eomma, tunggu sebentar!”

Rae Ri memejamkan matanya sejenak. Mungkin dengan cara itu tenaga dan kesadarannya bisa kembali pulih. Berbarengan dengan itu dia memijat pelipisnya untuk mengusir denyutan itu. efektif, sepertinya dia kembali bisa berpijak di bumi dengan benar.

Tok…tok…

Rae Ri terkejut setengah mati, “Ne Eomma.

“Yak… Irona!”

Rae Ri kembali terkejut ketika mengetahui bahwa bukan suara ibunya yang merambat ketelinganya. “Kkamjong-ah?”

Ne… irona! Atau kamu mau aku masuk dan menyeretmu.”

Mwo?” Rae Ri  memperhatikan gagang pintunya yang mulai bergerak. “Yak… jangan main-main!”

Klek…! Pintu telah terbuka. Jong In berdiri di ambang pintu dengan nampan berisi roti bakar dan segelas susu coklat, kesukaan Rae Ri. Beruntung Rae Ri sempat menunda untuk  tidak melayangkan bantal yang tengah dia pegang sekarang, kalau tidak semua pasti akan berantakan. Jong In mendekatinya dengan senyum menggodanya –lagi. Rae Ri ingin muntah melihatnya.

“Sarapan datang,” Jong In menghampiri Rae Ri.

Rae Ri berdesis mengejek, “Kamu tidak punya sopan santun, eoh? Masuk kamar yeoja  tanpa permisi.”

“Memang kamu bisa di katakan yeoja?”

“Terserah kamulah.”

Jong In menyodorkan gelas berisi susu itu, “Minumlah… aku dengar dari Ommonim beberapa hari lalu kamu pulang dalam keadaan pingsan. Mianhae, aku tidak ada di saat seperti itu. Aku terlalu sibuk.” Senyum Jong In berubah.

Rae Ri menghela napas melihat perubahan ekspresi wajah Jong In. “Tetapi sekarang kamu ada ‘kan?”

“Emm,” gumam  Jong In masih dengan  sedikit nada bersalah.

“Berhentilah menekuk wajahmu seperti itu. Ini sudah jam berapa? Bukankah kamu harus berangkat pagi? Ingat, hari senin kamu masuk jam 9 dan katamu dosen yang mengajar sangat galak.”

“Aku bisa membolos,” jawabnya enteng. Rae Ri memelototinya. “Baiklah, aku akan pergi sekarang. Apa kamu akan masuk kuliah hari ini? Apa perlu aku jemput?”

Rae Ri menggeleng , “Ani…!”

“Baiklah, jangan lupa sarapan dan mandi!” Jong In menaruh nampannya di atas meja.

Ara…  pergilah cepat!!!”

Ne…,” Jong In segera berlari keluar dari kamar Rae Ri.

-LiP-

Kaki kirinya melangkah pertama menuruni bis. Ekspresi wajahnya tidak terlihat sebaik cuaca pagi ini. Tidak bisa dikatakan pagi, mungkin lebih tepatnya pagi menjelang siang. Dia melangkah dengan gontai memasuki gerbang besar nan mewah itu. Sapaan beberapa gadis –teman sejurusannya –sama sekali tidak dihiraukannya. Dia terlalu fokus pada pikirannya sendiri.

Otaknya masih terus bekerja dengan keras. Mencoba menemukan cara untuk menemukan ‘dia’. Hampir tidak ada cara masuk akal yang akan membuatnya sedikit lega. Semuanya serasa sia-sia dan membuang waktu. Bagaimana kalau ‘dia’ tidak lagi di sini? Pertanyaan itu selalu mematahkan semangatnya dan membuat  dia menyesal memilih keputusan konyol ini.

Takdir tidak pernah berpihak padanya. Malah, seolah-olah takdir sedang mempermainkan. Pengendali takdir itu sedang menertawakannya yang selalu bertindak konyol dan tidak masuk akal. Kapankah takdir akan membantunya? Kapan waktu akan memberikannya kesempatan kedua? Percuma, semua percuma. Dunia dan segala isinya ini tidak pernah memihaknya. Dia hanyalah pecundang yang terus mengejar ‘cinta’ yang sama sekali tidak mengharapkan kehadirannya.

Buk…!  Sial, mengapa dia kembali menimbulkan masalah? Kini apa lagi yang dia lakukan? Menabrak seseorang dan membuat semuanya menjadi kacau?

Mianhae…,” ucapnya, berusaha terdengar tulus.

Segera dia merunduk dan membantu memunguti barang-barang milik orang yang dia tabrak yang berserakan di tanah. Sang pemilik hanya berdiri terpaku tanpa membantunya. Sangat sombong, hal itu yang terbersit di otaknya saat menyadari orang yang hendak dia bantu hanya terdiam dan tidak mengucapkan sepatah katapun.

Mianhae,” ulangnya lagi sambil menyodorkan tiga buah buku kepada pemilik semula.

Kerongkongannya tercekat. Waktu serasa berhenti  dan dunia hening seketika. Desiran angin, kicauan burung, deru mobil, hingga tawa manusia di sekitarnya tidak mampu mengoyak gendang telinganya. Semuanya bergerak dengan lambat, bahkan tidak sama sekali. Darahnya serasa membeku. Jantungnya berhenti dan paru-parunya tidak mampu lagi menampung asupan udara yang masih mampu dia hirup.

“Kim Rae Ri?” pertanyaan itu terlontar dengan susah payah.

Gadis itu tidak jauh beda dengannya. Namun dengan cepat gadis itu mampu memulihkan dirinya. Entah sejak kapan buku itu berpindah ke tangan Rae Ri. Rae Ri hanya tertunduk mencoba menyembunyikan wajahnya. Walaupun dia sangat yakin, sudah terlambat dan percuma.

Gamsahamnida…,” suara itu tertahan.

“Rae Ri-ya!”

Rae Ri tidak mempedulikannya dan meninggalkan Ki Bum sendiri tanpa sepatah katapun. Bahkan dia tidak berbalik untuk sekedar melihat keadaan Ki Bum yang masih setengah sadar itu. Rae Ri mempercepat langkahnya. Berusaha menghindar sejauh mungkin sebelum Ki Bum berhasil mengenalinya. Mengenali? Ki Bum pasti sudah mengenalinya.

Tidak peduli berapa banyak orang yang telah dia tabrak selama perjalan melarikan dirinya. fikirannya kalut, sangat kalut. Semua yang dia dapati hari ini bukanlah sesuatu yang dia harapkan. Bahkan tidak pernah terduga sedikit pun. Kim Ki Bum, pemuda yang telah dia tinggalkan pada masa lalu ternyata sekarang  muncul di hadapannya. Apakah dia bermimpi sekarang? Semoga, semoga semua ini hanyalah mimpi semata.

Langkah Rae Ri terhenti setelah cengkraman kuat meraih lengannya. Rae Ri berharap cemas, perlahan dia memutar badannya. Tubuhnya hampir saja merosot menyentuh lantai. Kakinya tiba-tiba kehilangan tenaga. Beruntung cengkraman tangan itu menguat dan membantunya untuk tetap berdiri.

Gwaenchanhayeo?”

Rae Ri berusaha tersenyum, “Ne Oppa.”

“Mengapa kamu terlihat begitu ketakutan? Lihat dirimu begitu pucat. Apakah kamu masih sakit? Sebaiknya istirahat di rumah.”

Anio… Aku hanya mengira bahwa aku terlambat, tetapi sepertinya tidak.”

“Kamu yakin?”

Ne, Jin Ki Oppa.

Jin Ki memperhatikan setiap inci wajah Rae Ri. “Apakah ada seseorang yang menggangumu?”

Nde? Ani,” Rae Ri mencoba terdengar biasa saja.

“Katakan padaku, Rae Ri-ya.  Apa ada yang menyakitimu?”

Anio Oppa,” Rae Ri berusaha tersenyum.

Jin Ki terlihat tetap tidak percaya. Dia yakin ada yang disembunyikan Rae Ri. Jelas-jelas Rae Ri terlihat ketakutan dengan wajah memucat dan keringat dingin mengalir di pelipisnya. Apalagi saat dia meraih lengan Rae Ri tadi, dia hampir  saja jatuh lemas. Ingin rasanya dia memaksa Rae Ri untuk menceritakan semuanya. Namun, lebih baik tidak untuk sekarang.

“Kim Rae Ri!” Pekik seseorang.

Bak seekor kelinci dan menyadari musuhnya datang, Rae Ri mulai gelisah. “Oppa kajja… temani aku ke perpustakaan.”

Waeyeo?” Jin Ki menoleh kebelakang dan mendapati pemuda berambut  pirang terus melihat Rae Ri. “Dia temanmu?”

Anio,” sambar Rae Ri. “Palli Oppa!” paksa Rae Ri.

“Baiklah,” Jin Ki benar-benar bingung.

Secepat kilat Rae Ri meraih lengan Jin Ki dan merangkulnya dengan manja. Jin Ki hanya melongo menyadari perubahan sikap Rae Ri. Rae Ri yang biasanya terkadang canggung padanya kini berbeda. Dengan santainya gadis yang sedikit mencuri hatinya itu memperlakukannya sedikit berbeda.

-LiP-

Ki Bum terdiam, tertegun, membisu. Kakinya terus melangkah tanpa arah. Lubang di dadanya yang dengan susah payah dia tutupi kini memaksa untuk menampakkan eksistensinya. Lubang yang dengan susah payah dia acuhkan, mengangapnya tidak pernah terbentuk; kini mulai menguapkan rasa sakit yang teramat sangat. Apa dia harus menerima kenyataan itu sekarang? Kenyataan bahwa Rae Ri benar-benar mencampakannya, meninggalkannya, melupakannya.

Kepalanya yang sedari tadi tertunduk, ditegakkannya. Tatapannya terfokus pada batang pohon tepat di hadapannya. Kakinya menuntunnya ke tempat ini. Taman di sisi lain universitasnya yang jarang bahkan tidak pernah di jamah oleh manusia di sekitarnya.

Bug…!

Genggaman tangan kanan Ki Bum menghantam batang pohon yang tidak bersalah itu. Dia terus memukuli batang pohon itu tanpa mendapatkan perlawanan. Gemerisik dedaunan yang bergesekan seolah menertawakannya. Ki Bum semakin geram. Tanpa peduli bahwa tindakannya itu malah melukai dirinya, dia memukuli batang pohon itu bertubi-tubi.

“Aaaaarrrkgh…,” teriaknya, mengakhiri penyiksaannya.

Ki Bum terduduk dalam posisi berlutut. Darah mengalir  dengan deras dari punggung tangan kanannya. Darah itu juga meninggalkan jejak pada batang pohon dan beberapa noda pada rumput di sekitar pohon itu. Sesak di hatinya mendorong bulir-bulir air terproduksi di matanya. Dia terlihat sangat menyedihkan.

-LiP-

Tatapan mengawasi Rae Ri gencar memastikan keadaan. Dia tidak bisa tenang belakangan ini. Sejak beberapa hari lalu bertemu dengan Ki Bum, dia tidak bisa berhenti untuk tidak khawatir. Dia tidak ingin Ki Bum menemukannya. Dia tidak ingin berhadapan dengan Ki Bum untuk saat ini. Mengapa bagian masa lalunya yang seharusnya sudah terbuang jauh harus muncul di hadapannya sekarang? Apakah takdir sedang mempermainkannya?

“Rae Ri-ya?” Jong In mengguncangkan perlahan pundak Rae Ri.

Rae Ri tersentak dari lamunanya, “Nde?”

“Ada apa denganmu?  Belakangan ini terlihat begitu gelisah, ada masalah?”

Anio…,” bohongnya.

“Baiklah…,” Jong In kembali sibuk dengan ponselnya. “Oh… Rae Ri-ya, aku ada keperluan sebentar. Tunggu aku! Setelah ini kita ke toko buku seperti keinginanmu.”

“Aku akan pergi sendiri,” tawarnya.

Jong In  mengacak-acak rambut Rae Ri. “Aku bilang, tunggu aku yeoja nakal. Aku tidak akan lama.”

Rae Ri menghela napas pasrah. Jong In memang tidak mau menerima sedikit pun penolakan darinya. Anggukan kecil kepala Rae Ri membuat Jong In sangat bangga. Sebelum meninggalkan Rae Ri, Jong In menyempatkan diri untuk mencubit pelan pipi Rae Ri  yang menggemaskan –menurutnya. Rae Ri hanya bisa merintih dan memelototi Jong In yang telah berlari meninggalkannya.

Bayangan Jong In tidak terlihat lagi. Suram, Rae Ri kembali tenggelam dalam pikiran yang membebaninya itu. Tanpa mampu dia cegah, otaknya kembali memutar kenangannya bersama Ki Bum. Kenangannya yang menurutnya telah lama dia hapus dari memori otaknya. Tiga tahun yang dia habiskan  untuk menghapus kenangan itu ternyata terbuang percuma. Bak pemutaran film di bioskop, kenangan itu memamerkan dirinya.

“Kim Rae Ri!”

“Ki Bum Oppa?” jantung Rae Ri berdetak tidak menentu. Entah karena  rasa takut atau rasa lainnya yang tidak pernah mau dia akui.

Ki Bum tersenyum lembut padanya, “Lama tidak bertemu.”

Ne…,” Rae Ri segera merapikan beberapa barangnya yang kebetulan berserakan di  atas meja taman universitas –tempatnya sedari tadi.

“Kamu akan pergi?”

Rae Ri mempercepat gerakannya. “Ne… aku pergi!”  Tambahnya kaku.

“Bisa kita berbicara sebantar?” Ki Bum menahan Rae Ri dengan mencengkram lengan kiri  Rae Ri.

Oppa… aku harus pergi sekarang,” decit Rae Ri.

“Aku mohon dengan sangat, bisakah kita berbicara sebentar?”

Rae Ri terdiam, tenggorokannya tercekat. Di perhatikannya lekat-lekat tangan kanan Ki Bum yang penuh luka mengering. Luka itu terlihat cukup dalam. Perlahan Rae Ri mengangkat wajahnya dan memberanikan menatap wajah Ki Bum. Wajah itu terlihat begitu kacau. Lingkar hitam mengelilingi mata indah itu.  Ekspresi yang sama saat dia memutuskan untuk meninggalkan Ki Bum.

“Baiklah,” jawabnya ragu.

Mianhae… apa aku membuatmu takut?”

Anio,” ucapnya dibarengi gelengan kecil.

“Bagaimana kabarmu?”

“Baik.”

“Jadi selama ini kamu di Ulsan bersama eomma-mu? Aku hampir putus asa mencarimu. Aku bahkan takut meninggalkan Seoul karena suatu saat kamu pasti akan kembali dan mungkin mencariku,” Ki Bum tersenyum dengan riangnya. “Aku hampir saja percaya dengan leluconmu. Meninggalkanku? Mencampakanku? Kamu sangat jahil. Kini aku sudah –.”

“­ –Oppa…,” potong Rae Ri.

Ki Bum tidak mempedulikan intrupsi Rae Ri dan terus mengoceh. “ –aku sudah menemukanmu. Jadi, permainan ini berakhir. Bukan begitu? Kamu harus menerima hukumanku. Apa yang –.”

“ –Oppa!” Bentak Rae Ri.

Ki Bum bungkam, namun tetap mengembangkan senyumnya. Otaknya telah penuh dengan berbagai pemikiran positif tentang hubungannya dengan Rae Ri. Tidak ada kemungkinan terburuk, semua akan baik-baik saja. Yang perlu dia lakukan sekarang adalah menyudahi permainan Rae Ri dan kembali pada kisah indah mereka yang sesungguhnya.

Mwo? Kamu mau mengelak lagi, angel?” Ki Bum meraih tangan Rae Ri yang sedari tadi terlihat tidak bisa diam.

Oppa…,” Rae Ri menarik tangannya, menurunkannya dari atas meja. “Mianhae… ini semua bukan lelucon. Aku sungguh-sungguh.”

“Rae Ri-ya?” Tersirat di mata Ki Bum pengharapan yang besar.

Rae Ri tertunduk dan menghembuskan napas kasar. “Ki Bum-ssi!”

Nde?” Ki Bum heran mendapati perubahan intonasi suara dan cara berbicara Rae Ri.

“Aku tahu kamu menyadarinya, Ki Bum-ssi. Hubungan kita sudah berakhir. Ini semua bukan lelucon atau permainan. Apa menurutmu lazim mengerjai seseorang selama tiga tahun? Ki Bum-ssi, kita  sudah tidak memiliki hubungan apapun. Aku tidak main-main dengan perkataanku waktu itu.”

“Rae Ri-yasaranghae, jebal,”mohon Ki Bum.

“Tetapi aku tidak. Aku  tidak lagi mencintaimu, Ki Bum-ssi. Kamu hanya masa laluku dan  aku sudah lama membuang masa lalu itu.”

Rahang Ki Bum mengeras, “Jangan berbohong padaku. Aku tahu kamu mencintaiku. Kamu berjanji akan selamanya mencintaiku. Kita sudah berjanji.”

“Ki  Bum-ssi,” Rae Ri menarik napas mencoba tenang. “Bangunlah… berhentilah bermimpi kisah konyol itu. Aku sama sekali tidak berbohong. Aku tidak mencintaimu lagi. Bahkan cinta itu tidak membekas  sekarang. Semuanya sudah lama aku lenyapkan. Sebaiknya kamu memulai hidup barumu seperti apa yang aku lakukan.”

“Kim Rae Ri, hentikan lelucon ini!” Bentak Ki Bum.

Rae Ri tersenyum licik, mengejek. “Apa wajahku terlihat seperti sedang membuat lelucon?”

Ki Bum mulai frustasi.  Dia mengacak-acak rambutnya sendiri, kesal. “Rae Ri-ya… mianhae, jeongmal mianhae. Aku tahu  aku salah. Aku tidak pernah memperlakukanmu dengan baik. Aku tidak pernah berlaku romantis. Aku tahu, aku salah. Jadi, aku mohon beri aku kesempatan lagi. Nan noemu saranghae.”

“Cih…! tenang Ki Bum-ssi, aku sudah memaafkanmu  sejak dulu. Aku bahkan sudah menganggap semuanya tidak pernah terjadi. Lagian sekarang aku sudah  memberikan hati ini untuk orang lain. Tidak ada ruang untukmu lagi.”

“Kim Rae Ri?” Ki Bum berusaha menahan emosinya yang meledak-ledak di dalam dirinya.

“Aku harus pergi,” Rae Ri beranjak dengan angkuh dan meninggalkan Ki Bum.

Rae Ri terus melangkah dengan mantap tanpa sedikit pun menoleh. Persis seperti yang dia lakukan tiga tahun yang lalu. Namun kondisi Ki Bum menjadi lebih kacau sekarang. Rae Ri sadar, apa yang dia lakukan sangat  melukai Ki Bum.  Tetapi dia harus melakukannya. Demi dirinya, Ki Bum dan semua orang.

Tepat di hadapan Rae Ri sekarang, Jong In berjalan menghampirinya. Senyum pemuda itu selalu terbentuk dengan tulus untuknya. Pemuda itu mempercepat langkahnya untuk menghampiri Rae Ri. Tanpa Rae Ri sadari, Jong In mengenali Ki Bum yang tengah memandangi kepergiannya.

“Kim Rae Ri, kamu memang yeoja nakal. Aku sudah menyuruhmu menunggu ‘kan?”

Rae Ri  hanya tersenyum dan berlari ke arah Jong In. “Kamu sangat lama. Aku bosan menunggu,” Rae Ri memeluk Jong In erat.

“Rae Ri-ya… wae geurae?” Jong In merasa aneh. Mengapa Rae Ri tiba-tiba memeluknya?

Obseoyeo… aku hanya merasa bosan dan lelah.”

Nde?” Jong In perlahan melepaskan pelukan Rae Ri. “Kamu sakit?” Jong In mendekatkan punggung tangannya ke dahi Rae Ri.

Anio,” Rae Ri tersenyum sembari meraih tangan Jong In yang melekat di dahinya dan menggengamnya dengan erat.

“Aku rasa, bosan membuatmu sedikit gila,” ejek Jong In dan tertawa. “Ah… kebetulan sekali. Aku akan memperkenalkanmu dengan seseorang.”

Nde?”

Jong In mempererat genggaman tangan mereka berdua. Perlahan dia menuntun Rae Ri agar memutar dan kembali ke tempat yang harus dia tinggalkan tadi. Mata Rae Ri membulat dengan sempurna tatkala Jong In menyapa Ki Bum.  Ki Bum tidak jauh berbeda dengannya. Namun pemuda itu mampu menyembunyikannya. Wajah  Ki Bum terlihat sangat tenang.

Hyeong!”

Ki Bum hanya melambaikan tangannya perlahan, “Yo!”

Hyeong sudah lama?”

Anio… baru saja,” bohongnya.

“Oh… Hyeong perkenalkan, Kim Rae Ri. Dia sahabat masa kecilku yang  sering aku ceritakan.”

Rahang Rae Ri mengeras. Akankah Ki Bum mengatakan sesuatu tentangnya? Rae Ri terkejut, Ki Bum tersenyum dengan lembutnya. Tangan Ki Bum terulur ke arahnya.

“Kim Ki Bum iminida. Aku baru pindah dari Seoul. Jadi, mungkin suatu saat kita bisa berjalan-jalan bersama.”

Rae Ri juga berusaha tersenyum, “Kim Rae Ri iminida.

“Wah… kita bertiga bermarga ‘Kim’. Haruskan kita membentuk ‘Kim Line’?” Usul Jong In.

Ki Bum tiba-tiba tertawa terbahak. “Mungkin… tetapi aku takutnya akan terjadi perebutan hatimu –,” Ki Bum menatap Rae Ri. “ –antara aku dan Jong In.”

Hyeong…,” rengek  Jong In.

Rae Ri segera merangkul lengan Jong In dengan mesra. “Aku rasa percuma, karena sudah jelas siapa pemenangnya.”

Nde?” Jong In menelan ludahnya sudah payah.

“Jong In-ah…,” rengek Rae Ri manja. “Bukankah kita akan ke toko buku?”

“Oh, ne,” Jong In salah tingkah.

Ki Bum terlihat tetap  tenang, “Baiklah kalau begitu. Aku juga harus pergi.”

Kajja…,” Rae Ri makin menjadi. “Aku juga lapar. Bukankah ini waktunya makan siang?”

Jong In hanya mengangguk tak berdaya. “Hyeong tidak ikut kami makan siang?”

Anio… aku ada urusan penting.”

Palli…!”

Jong In benar-benar luluh oleh paksaan manja Rae Ri. “Ara.”

-LiP-

Setelah beberapa hari menenangkan diri, Ki Bum memutuskan untuk kembali menemui Rae Ri dan meminta penjelasan. Dia belum bisa menerima semua ucapan Rae Ri. Dia tahu betul bahwa gadis itu berbohong padanya. Semua yang dia katakan dan lakukan hanyalah kebohongan untuk membuatnya menjauh dan menyerah. Tidak, dia tidak akan menyerah untuk Rae Ri.

Dia melihat Rae Ri di kejauhan  tengah bersusah payah meraih buku pada jajaran rak buku yang menjulang tinggi. Ki Bum segera menghampirinya. Sudah pasti untuk membantu. Dia tahu Rae Ri tidak pernah bisa melakukan apapun sendirian. Dan sekarang Jong In sedang tidak bersamanya.

“Biar aku bantu,” usulnya.

Rae Ri  terdiam dan terus memandangi Ki Bum hampir tanpa berkedip. Ki Bum tidak menunggu jawaban Rae Ri. Tidak membutuhkan waktu yang lama dan membuang tenaga, Ki Bum dapat meraih buku yang akan diambil Rae Ri. Dengan senyum terbaiknya, Ki Bum menyodorkan buku itu pada Rae Ri. Tetapi apa yang dia dapat, Rae Ri memutar tubuhnya tanpa sepatah katapun dan berlalu.

“Rae Ri-ya, bukunya?” ucapnya untuk dirinya sendiri.

.

.

.

“Kim Rae Ri, tunggu aku!” dia berusaha mengejar Rae Ri di sepanjang koridor gedung perpustakaan universitas.

Rae Ri tak acuhkannya. Dia terus mempercepat  langkahnya, bahkan kini terlihat setengah berlari. Beruntung bagi Rae Ri, Jin Ki terlihat berjalan ke  arahnya. Dia segera merubah ekspresi wajahnya yang tegang sedari tadi. Kini wajah lugu dan manislah yang dia suguhkan untuk menyambut Jin Ki.

Oppa…,” Rae Ri melambaikan tangannya.

Jin Ki  terlihat senang bisa bertemu dengan Rae Ri setelah hampir sepekan tidak bertemu karena suatu urusan. “Hai…!”

Rae Ri berlari kecil menghampiri Jin Ki. “Annyeong haseyeo. Oppa, ada hal yang ingin aku bicarakan.”

Jin Ki mengeryitkan dahinya. “Mwoyae?”

“Bisa Oppa ikut denganku?” Rae Ri menunjukkan senyum manisnya yang pasti tidak akan mendapat penolakan dari siapapun.

“Baiklah,” Jin Ki hanya menagguk perlahan.

Gomawo,

Rae Ri meraih lengan Jin Ki dan merangkulnya mesra. Sesekali dia akan menoleh ke belakang untuk memastikan apakah Ki Bum masih membuntutinya atau tidak. Rae Ri menggerutu dalam hati sebab Ki Bum masih membuntutinya. Dan yang paling membuatnya kesal adalah adanya seorang gadis yang ikut membuntutinya.

-LiP-

 “Ki Bum-ssi? Apa yang kamu lakukan?”

Ji Eun yang kebetulan lewat di  sekitar  tempat Ki Bum mematai-matai, tidak lepas dari rasa penasaran. Ekspresi wajah Ki Bum membuatnya ingin tahu penyebabnya. Dia sudah cukup lama  berdiri di sebalah Ki Bum dan menyapa, namun Ki Bum sama sekali  tidak menyadari keberadaannya.

“Ki Bum-ssi, mereka siapa? Mengapa –.”

Tanpa basa basi Ki Bum meraih pergelangan tangan Ji Eun dan menariknya dengan paksa. Entah Ki Bum sadar atau tidak.  Dia  tanpa permisi mengajak Ji Eun untuk membuntuti Rae Ri yang tengah bersama Jin Ki. Genggamannya pada pergelangan tangan Ji Eun terus menguat setiap Rae Ri bertindak mesra pada Jin Ki. Ji Eun hanya merintih dalam diam. Bodohnya dia hanya terdiam menuruti Ki Bum.

Jantung Ji Eun berpacu dengan kencang. Dia hampir tidak bisa bernapas. Matanya terus terfokus pada wajah tampan penuh kekhawatiran milik pemuda yang tengah menyeretnya. Otaknya terus memerintah untuk meronta dan melepaskan cengkraman pemuda yang hampir tidak dia kenal itu. Bagaimana tidak? Dia hanya tahu nama pemuda itu –Kim Ki Bum, hanya itu.

Tiba-tiba  Ki Bum menghentikan langkahnya sehingga dia menabrak punggung Ki Bum. Hidungnya terasa begitu sakit. Dia sempat memekik kencang, namun Ki Bum seolah tidak mendengarnya. Ji Eun kembali memperhatikan wajah Ki Bum. Tampan, sangat tampan. Sayangnya, tidak ada sedikit pun kebahagiaan di wajah itu. Kesedihan, lelah, kesepian dan rasa bersalah yang besar menduduki setiap lekuk wajah itu.

“Akh!” pekik Ji Eun tak tertahan.

Pergelangan tangannya sungguh terasa sakit. Ki Bum menggengamnya dengan erat sehingga dari pergelangan tangan hingga jari-jarinya berwarna merah. Mungkin sebentar lagi tidak akan mendapatkan asupan darah.

Kembali  Ji Eun memperhatikan wajah itu. Rahang Ki Bum mengeras. Terlihat jelas bahwa gigi-gigi Ki Bum bergesekan dan sedikit menimbulkan suara. Mata itu penuh dengan kesedihan dan amarah. Tidak dapat dipungkiri, Ji Eun melihat genangan air mata siap untuk jatuh mengikuti gaya gravitasi.

Ji Eun mengikuti arah mata Ki Bum. Spontan dia membekap mulutnya agar tidak berteriak. Entah sebab apa yang mengharuskannya untuk  berteriak. Tepat beberapa meter dari  tempat dia dan Ki Bum berdiri, kejadian yang mungkin sesuatu yang biasa untuk sepasang manusia yang tengah diliputi cinta berlangsung. Gadis dan pemuda yang mereka buntuti itu sedang menunjukkan cinta masing-masing. Berulang kali Ji Eun melihat wajah Ki Bum dan kembali melihat kejadian di kejauhan itu. Kim Ki Bum merasakan sakit yang teramat sangat, itu kesimpulan yang dapat dia ambil.

To be continued