Tags

, ,


Love is Painful

Title                       : Love is Painful – Chapter One

Author                  : Chanyeonie

Main Casts          : Atika Sari a.k.a Kim Rae Ri| Kim Ki Bum (Key)

Support Casts    : Lee Jin Ki (Onew)| Kim Jong In (Kai)|Lee Ji  Eun (IU) and  others.

Genre                   : Sad, Romance, Angst, Drama

Length                  : Chaptered

Rating                   : PG-13

Disclaimer          : Idea is owned by Atika Sari, but plot is mine.

Warning              :

Typo yang mungkin akan menggangu. Gejala kebingungan yang akan dialami reader karena narasi author yang ruwet. Penulisan yang –mungkin- tidak sesuai EYD.

-LiP-

Tanpa disadari, kenangan itu kembali membuat  dia harus merasakan sakit. Sesuatu mengalir di kedua belah pipinya, dia kembali di luar kendali. Hembusan napas kasar merupakan pertanda  bahwa  dia sedang  mencoba mengendalikan dirinya. Dia tidak seharusnya seperti ini sekarang, tidak untuk saat ini.

Benda cair yang beberapa saat lalu membasahi pipinya, kini telah lenyap. Sudut bibirnya perlahan mulai terangkat  dan matanya berusaha memancarkan binarnya lagi. Inilah dirinya yang sesungguhnya, atau mungkin lebih tepat dirinya yang penuh kepalsuan. Kepalsuan yang harus dia lakukan demi seseorang yang harus segera menjauh dari kehidupannya.

Waktu bergulir begitu lambat, padahal dia ingin segera  mengakhiri ini. Kisah indah yang sempurna ini harus segera diakhiri. Kisah indah yang selalu membuat orang lain iri. Mungkin terdengar aneh, mengapa seseorang ingin mengakhiri kisah hidupnya yang begitu sempurna? Semua memiliki alasan, dan dia memiliki alasan yang sangat kuat.

Adalah Kim Rae Ri, gadis manis yang kini tengah duduk di  salah satu kursi taman  kota. Rae Ri menengadahkan kepalanya, menatap langit  yang berwarna jingga –twilight. Rupanya sang bulan tidak sabar lagi untuk muncul dan menggantikan posisi matahari. Cantik, sangat indah. Semua orang pasti akan berpikiran begitu. Taman kota yang tenang, langit yang indah dan udara yang begitu menyegarkan; semua orang pasti memberikan pujian pada suasana sore ini.

“Dia terlambat lagi,” gumam Rae Ri sambil kembali  menegakan kepalanya. “Dia terlambat lagi.  Huuuh…”

.

.

.

Rae Ri masih sabar menunggu, bahkan hingga langit telah menghitam sempurna.  Tidak ada bintang, dan bulan pun tertutup  awan. Beruntung cahaya beberapa lampu taman mampu sedikit mengurangi kegelapan yang  telah menguasai bumi.  Rae Ri bersenandung perlahan untuk mengusir kejenuhan. Dua jam sudah dia menunggu, seperti akan terus berlanjut.

Langkah kaki seseorang terdengar begitu keras. Tentu saja karena itu langkah kaki seseorang yang tengah berlari.  Telinga Rae Ri sigap mendengar. Dia sedikit merapikan dirinya. Derap langkah kaki itu terdengar mendekat, kini dibarengi dengan napas yang tersengal-sengal.

“Rae Ri-ya!”

Rae Ri tersenyum, “Kamu terlambat lagi, Ki Bum Oppa.”

-LiP-

Entah berapa lama sudah waktu terbuang. Kenangan indah itu terus saja berputar dalam otaknya. Kepingan-kepingan kenangan itu selalu mampu membangunkan wujud di hatinya yang menginginkan kehadiran seseorang. Seseorang yang telah lama menghilang, menghilang dari hadapannya.

Ki Bum berdiri mematung tepat di depan  gerbang besar sebuah rumah. Hal ini selalu  dia lakukan belakangan ini.  Perhatiannya selalu terfokus pada pintu kecil di sisi gerbang besar itu.  Dia menaruh harapan besar pada setiap pertanda yang akan muncul dari pintu itu. Dia sangat berharap bisa melihatnya lagi melalui pintu itu.

Kriek…!

Ki Bum harap-harap cemas.   Dia berdoa dalam hati, semoga kali ini ‘dia’ yang muncul. Namun lagi-lagi dia kecewa, untuk kesekian kalinya dia kecewa. Rasa itu kembali membuncah dan memaksa keluar. Dadanya kembali merasakan sakit, sakit yang begitu menyesakan.

“Tuan Muda?” sapa seorang wanita.

Ki  Bum menatapnya dengan tatapan sendu, “Apakah Rae Ri belum kembali?”

Wanita yang mungkin telah menjalani hidup selama setengah abad itu menunduk dan menggelengkan kepalanya perlahan. “Belum Tuan Muda. Agasshi masih bersama Nyonya –mungkin.”

“Apakah  Ahjumma  benar-benar tidak tahu alamatnya?” Gelengan kepala kembali memberikan jawaban yang tidak mengenakan bagi Ki Bum. “Ini sudah setahun berlalu,” Ki Bum bergumam kecil.

Tidak mau lebih lama berbasa-basi, jawabannya masih  sama yaitu Rae Ri menghilang. Rae Ri menghilang begitu saja dari kehidupannya. Ternyata Rae Ri  benar-benar memutuskan segala hubungan dengannya seperti yang dia katakan dulu. Rae Ri benar-benar lenyap seperti yang dia janjikan.

Kakinya kembali menuntun tubuh yang hampir tak memiliki jiwa itu ke sebuah taman. Taman di mana tempat terakhir dia bertemu Rae Ri. Tempat di  mana Rae Ri meninggalkannya. Lekat di ingatannya, Rae Ri tanpa ragu memutuskan hubungan yang telah mereka jalin selama lebih dari dua tahun.

Ki Bum menghembuskan napas kasar, tusukan jarum itu kembali terasa.  Rae Ri, gadis yang sangat dia cintai. Apakah semua ini adalah salahnya? Mengapa dia meninggalkannya tanpa alasan yang jelas? Dia akui selama ini dia sedikit tidak peduli, menggampangkan  semua masalah. Terlambat ketika kencan, lupa akan janjinya menemani Rae Ri ke suatu tempat; mungkin bisa dikatakan juga,  dia tidak memiliki sisi romatis. Tetapi itu bukan hal yang sulit untuk di maafkan oleh Rae Ri. Rae Ri adalah bidadarinya yang berhati lembut.

Rae Ri gadisnya yang manis, lugu, baik hati dan sangat sabar itu kini telah menghilang. Rae Ri yang sangat dia cintai itu menghilang. Jika waktu bisa dia putar ulang –seperti orang kebanyakan –dia ingin mengulang semuanya. Dia tidak akan pernah membuat Rae Ri kecewa. Dia butuh kesempatan kedua.

-LiP-

“Rae Ri-ya, Irona!” panggil sang ibu –Nyonya Park –sambil mengetuk pintu dengan kencang.

Rae Ri menggeliat, meluruskan otot-ototnya yang kaku. Dia mengomel dalam hati, dia masih sangat mengantuk. Jet lag, itu yang dia  alami sekarang. Selama  satu setengah tahun lebih hidup di negeri orang cukup membuat dia lupa akan tanah kelahirannya. Dia memang sengaja ingin melupakannya. Kembali ke negeri ini bukanlah hal yang dia inginkan, semua di luar kendalinya.

“Sampai kapan kamu mau tidur, Rae Ri-ya? Bukankah hari ini  kamu  harus mengurus kepindahanmu?” teriak Nyonya Park, dia mulai  tidak sabar.

Ne, Eomma.  Aku bangun!”

.

.

.

“Ini alamatnya,” Nyonya Park memberikan secarik kertas  berwarna kuning.

Rae Ri hanya mengangguk kecil dan sesekali terlihat mengunyah roti bakar yang telah di siapkan ibunya. Guratan pena di atas kertas itu cukup pajang. Sepeti biasa, sang ibu akan melakukan apapun secara rinci. Ibu yang perfectionist bukan?

Appa memintamu untuk segera mengunjunginya di Seoul,” tambah Nyonya Park.

Rae Ri  mengerutkan dahinya, “Bukankah Eomma berjanji  tidak akan memberitahukan kepulanganku?” protesnya.

“Tsk… dia selalu menekan Eomma. Eomma lelah harus terus berbohong.”

“Baiklah, kalau aku tidak sibuk,” jawabnya ketus.

Untuk sementara waktu Rae Ri dapat merasa lega. Nyonya Park kembali disibukan dengan acara panggang memanggang kuenya sehingga tidak sempat menceramahinya. Setelah cukup lama meninggalkan tempat ini, Nyonya Park ingin menyapa tetangga-tetangganya yang dulu. Dan dia mempersiapkan semuanya dengan berlebihan.

Eomma, aku berangkat!”

“Tunggu, kamu tidak melupakan –?”

“ –semuanya sudah lengkap, Eomma,” Rae Ri tersenyum sumringah.

Nyonya Park mengalah, “Baiklah, jangan membuat dirimu lelah.”

“Emm…. Algesseyeo!”

-LiP-

Tidak henti-hentinya Rae Ri memperhatikan secarik kertas yang diberikan Ibunya. Ternyata yang membuat guratan pena di sana terlihat panjang adalah bukan  karena Nyonya Park menuliskan alamat dengan sangat rinci tetapi beberapa pesan Nyonya Park. Pesan yang tidak mungkin tidak membuat Rae Ri tertunduk lesu. Membaca pesan itu membuat dia ingin segera berlari ke arah pelukan ibunya. Memeluk Nyonya Park dengan erat.

Agasshi, kita telah sampai,” pria yang sedari tadi mengemudikan taksi yang dia tumpangi mengintrupsinya.

Rae Ri segera menghapus bulir airmata yang hampir mengalir dengan bebas di pipnya. “Gomawo.”

Rae Ri segera turun dari taksi dengan sebelumnya membayar ongkos taksi. Tepat di depannya berdiri dengan megah sebuah universitas. Rae Ri tidak menyangka ibunya memilihkan universitas yang sangat bagus ini. Rae Ri merentangkan tangannya dan menghirup udara  dengan begitu bebas. Udara pagi yang menyegarkan memenuhi selurung ruang di paru-parunya, melegakan.

Kini Rae Ri telah membaur dengan mahasiswa yang sedari tadi berlalu lalang. Sisi pejalan kaki di dalam lingkungan universitas itu di naungi  beberapa pohon maple, cherry blossom, entah  jenis pohon apa lagi. Sebagian besar pohon-pohon itu berwarna hijau dan hanya cherry blossom yang menampilkan warna merah muda.

Bug…!

Sebuah benda mengenai pundak Rae Ri. Dia mengaduh kesakitan. Hantaman benda itu cukup keras dan hampir membuat dia terjatuh. Dia mencari-cari benda yang baru saja menghantamnya, sebuah bola basket berwarna oranye tergeletak begitu saja tidak jauh darinya. Jelas sekali bola itu yang telah menyakitinya.

Mianhae,”

Rae Ri berdiri tegak setelah memungut bola basket itu. “Ini milikmu?” tanyanya  dengan nada suara yang meninggi.

Ne, mianhae. Aku tidak sengaja.”

“Ini…,” Rae Ri melempar bola itu ke arah sang pemilik –seorang pemuda- sekuat tenaga dan segera berlalu pergi.

“Oh, tunggu!”

Rae Ri tidak mempedulikan panggilan pemuda itu. Dia tidak berniat membuat kejadian ini berkelanjutan menjadi kisah yang panjang. Cukup saja menjadi peristiwa ‘terkena lemparan bola basket secara tidak sengaja’ dan tamat.

“Tunggu!” Teriak pemuda itu di barengi derap kakinya. “Aku bilang  tunggu!” Kini terdengar memerintah.

Mwo?” Rae Ri menghentikan langkahnya dan memutar badan.

Pemuda itu berhenti tepat di depannya dan terlihat mencoba mengatur napasnya, “Aku sepertinya mengenalmu.”

Rae Ri memutar bola matanya, “Begitukah?”

“Emm…,” pemuda itu menarik napas panjang  dan menghembuskannya segera. “Aku tahu siapa kamu.”

“ Aku, siapa?”

“Kim Rae Ri,  benar bukan?” Pemuda itu terlihat sangat bangga.

Rae Ri mengeryitkan dahi, “Ott…,otthokae arayeo?!”

“Kim Rae Ri!” Jerit pemuda itu dan langsung memeluk Rae Ri.

Rae Ri meronta-ronta dalam pelukan pemuda tidak dikenal itu. Ini semua memalukan. Semua orang  melihat   ke arah mereka. Pemuda itu semakin mempererat pelukannya dan mengangkat tubuh Rae Ri ke udara kemudain berputar-putar. Rae Ri sudah tidak tahu lagi harus menyembunyikan wajahnya  di mana.

“Yak… lepaskan aku!” Pekiknya, sangat marah.

Pemuda itu menurut. “Kamu tidak mengingatku?”

“Siapa kamu?!!” Tanyanya  ketus.

“Kamu benar-benar tidak mengingatku? Kkamjong… ingat?”

Rae Ri terihat berpikir sejenak, “Kkamjong? Kim Jong In? Kya…!”

Kini Rae Ri yang memeluk pemuda yang bernama Kim Jong In itu dengan erat. Jong In hanya melongo dan tersenyum bodoh. Bukankah dia sangat beruntung hari ini? Bertemu seorang gadis manis dan mendapat pelukan hangat. Mungkin dia harus  mengucapkan terima kasih pada sang bola basket.

“Oh…,” Rae Ri segera melepaskan pelukannya. “Mianhae, aku terlalu senang.” Rae Ri nyengir kuda.

Jong In menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “Gwaenchanha…

“Syukurlah aku bertemu denganmu. Aku kira, aku tidak akan mempunyai teman di sini. Emm… bukankah dulu  kamu sempat bilang akan melanjutkan studi di Seoul?”

“Untuk apa  aku ke Seoul? Toh… kamu tidak ada di sana.”

Rae Ri salah tingkah. “Begitukah?”

Jong In mengangguk mantap, “Saat kamu tinggal bersama abojhi-mu di Seoul, aku memang bertekad akan berkuliah di sana. Namun dua tahun lalu kamu muncul dan berpamitan padaku, aku memutuskan untuk tetap di sini. Mungkin saja kamu kembali ke sini dan bukan ke Seoul. Dan aku benar.”

Lagi-lagi Rae Ri salah tingkah, pipinya sedikit memanas. “Hahaha…  kamu berlebihan,” Rae Ri tertawa dibuat-buat.

“Aku mengatakan yang sebenarnya,” jawab Jong In serius.

“Yak… apa kamu sedang mempermainkanku? Begini cara kamu menyambutku? Rupanya Jong In kecilku sudah jadi playboy, ha!!?”

“Sudahlah… kamu masih saja seperti dulu, pemarah. Dan aku bukan Jong In kecilmu. Berhenti memanggilku seperti itu! Kajja… apakah aku perlu mengantarmu ke suatu tempat?”

“Temani aku ke biro mahasiswa.”

“Baik, Tuan Putri.”

-LiP-

Tidak dapat dipungkiri, Rae Ri memang merindukan yang satu  ini. Momen di mana dia tertawa lepas bersama Jong In, sahabat kecilnya. Rae Ri memang dulu tinggal di sini, Ulsan. Hingga dia menginjak kelas satu sekolah menengah pertama dan sebelum Ayah dan Ibunya memutuskan berpisah, Ulsan adalah rumahnya. Namun, dia akhirnya harus meninggalkan rumahnya itu. Masa lalu tidaklah penting, yang terpenting dia kini telah kembali. Mungkin tidak buruk untuk kembali merangkai kisah baru di sini tanpa adanya ganguan dari apapun di masa lalu –kecuali  untuk beberapa hal.

Rae Ri kembali harus tertawa mendengar cerita Jong In, cerita masa kecilnya. Bukan dia sebagai pemeran utamanya, melainkan Jong In sendiri. Jong In sangat mengerti. Dia dapat mengartikan dengan jelas arti raut wajah Rae Ri saat dia akan sedikit mengulas masa kecil mereka. Jong In juga sadar, dia tidak akan bertanya apapun mengenai kehidupan Rae Ri –yang tidak dia ketahui.

“Hentikan, perutku sakit!” Rae Ri melambaikan tangannya di udara tanda menyerah.

“Aku belum selesai,” rengek Jong In.

Rae Ri menghebuskan napas perlahan. “Apa kamu tidak ada kelas?”

“Ada… tetapi menemanimu lebih penting dan menjadi prioritas utamaku mulai beberapa detik lalu.”

Rae Ri terkekeh, “Jangan menggodaku!”

“Lihat, kamu terlihat seperti kepiting rebus.”

“Yakk!!!”

Tiba-tiba Rae Ri mengaduh. Dia memegangi bagian perutnya –tidak benar-benar bagian perut –yang  berdenyut dengan kuat. Jong In melihat Rae Ri yang tiba-tiba seperti itu, panik seketika.

“Rae Ri-ya?”

Gwaenchanha,” ucapnya lirih.

“Kamu kenapa? Ada apa dengan perutmu,”

Rae Ri segera mengambil tasnya. Tangannya gemetar saat berusaha mengambil sesuatu di dalam tasnya. Jong In sigap membantu Rae Ri. Dia membantu Rae Ri untuk meminum obat. Mungkin obat penghilang rasa sakit. Tidak ada label pada tabung tempat obat itu bermukim.

Rae Ri tersenyum, “Sepertinya period!”

Nde?”

“Urusan rutin yeoja,” jelasnya.

Jong In menghela napas lega. “Kamu membuat aku panik. Apa selalu sesakit itu?”

Rae Ri hanya mengangguk kecil. Kini dia mulai tenang kembali, obatnya bereaksi dengan cepat. “Jadi apa yang akan kamu lakukan di sini? Cepat kuliah sana!!!”

“Aku ingin menemanimu,” rengeknya.

“Jong In-ah… kita masih punya banyak waktu untuk bersama. Kamu bisa main ke rumahku kalau memang mau.”

“Apa kamu akan menetap di sini?”

Rae Ri terkekeh untuk kesekian kalinya, “Tentu saja. Buktinya aku sudah resmi menjadi mahasiswa jurusan akuntansi di sini. Apa belum jelas?”

“Baiklah… pulanglah! Mulai besok kita akan berangkat bersama.”

Nde?” Rae Ri bergidik, “Aku akan berangkat sendiri. Memangnya kita pacaran harus –?”

“ –mungkin, suatu hari,”sambar Jong In dan segera berlalu pergi.

Rae Ri hanya melongo. Dia mencoba menyakinkan dirinya bahwa dia sama sekali tidak mengerti dengan perkataan Jong In yang baru saja tertangkap saraf pendengarannya. Tatapannya tidak lepas dari punggung Jong In. Dia berharap  Jong In akan berbalik dan menjelaskan semua. Dia ingin Jong In mengatakan sepatah kata yang akan menghancurkan asumsinya.

-LiP-

Sunyi senyap bukanlah hal yang ganjil di tempat ini. Jajaran-jajaran rak menjulang tinggi bak domino bukanlah pemandangan yang aneh, bukan benda yang menggangu. Aroma usang yang khas memenuhi seluruh penjuru tempat itu. Bisikan-bisikan penghuninya hanya sebatas hembusan angin, tidak terdengar.

Rae Ri menjulurkan jari tangannya dan mempertemukannya dengan deretan buku-buku usang, sumber aroma usang itu. Dia terus berjalan menelusuri  deretan buku-buku. Terkadang dia menemukan buku dengan sampul yang masih sangat sempurna terselip di antara buku-buku usang. Pekerjaan para penikmatnya yang tidak mengembalikan ke tempat semula. Rae Ri tidak hanya bermain dengan deretan buku-buku itu, dia sedang mencari sesuatu.

“Ketemu,” gumamnya sendiri. Dia membekap mulutnya setelah menyadari suaranya yang terlampau kencang.

Ne… aku akan mencarinya sekarang,” bisik seorang pemuda pada benda yang ada di genggamannya.

Rae Ri hanya menoleh sejenak karena sedikit terusik. Kemudian dia memilih untuk mengambil tempat duduk dan mulai membaca buku yang sudah lama dia idam-idamkan. Mungkin akan lebih nyaman jika dia meminjamnya dan membaca di rumah. Tetapi dia tidak ingin segera pulang walaupun hari ini kuliahnya telah berakhir.

Obseyeo…apa kamu yakin kalau bukunya masih ada?” pekik pemuda itu kesal.

Tidak hanya Rae Ri, seluruh  pengunjung yang membutuhkan ketenangan itu merasa terganggu. Pemuda itu menyadari kesalahannya. Dia berulang kali menunduk hormat untuk meminta maaf. Rae Ri hanya tersenyum dan membalas anggukan sang pemuda ketika mata mereka bertemu. Entah mengapa pemuda itu menjadi salah tingkat ketika Rae Ri membalas permintaan maafnya. Dia berulang kali menggaruk kepalanya dan terlihat  mondar-mandir sambil terus berbicara pada ponselnya.

“Judulnya tidak bisa diganti?” pemuda itu diam sejenak, menyimak lawan bicaranya di telepon. “Accounting Game: Basic Accounting Fresh from the Lemonade Stand karya Darrell Mullis? Buku itu tidak ada, sudah tidak ada.” Mata sipit pemuda itu sekali lagi mencoba menemukan buku yang dimaksud. “Obseyeo… sepertinya sudah ada yang meminjamnya. Apa tidak ada di perpustakaan kota?”

Pemuda itu mengakhiri perbincangannya dengan sedikit kesal. Seharusnya dia berada di kantin, kafe atau restoran untuk makan siang. Bukannya malah makan siang dengan para kutu buku –dalam arti sebenarnya. Jika diizinkan dia ingin berteriak kencang untuk melepaskan kekesalannya. Apalagi dia sampai susah begini bukan untuk dirinya sendiri, melainkan demi membantu juniornya. Junior yang sangat manja dan selalu merepotkannya.

Jaesonghamnida,” suara yang dikenali pemuda itu sebagai suara seorang gadis membuat dia sedikit terperanjat.

Nde?” jawabnya reflek.

Gadis itu adalah Rae Ri. “Emm… saya dengar sedikit tadi, Anda membutuhkan buku ini?” Rae Ri menunjukkan buku yang sempat dia baca sebelumnya.

Nde?” pemuda itu berubah sumringah ketika melihat buku yang ditunjukan Rae Ri. “Ne… saya mencari buku ini. Bagaimana Anda bisa tahu?”

Mianhae, suara Anda cukup kencang saat berbicara di telepon tadi. Jadi, saya secara tidak sengaja mendengarnya.”

Pemuda itu merasakan sedikit guncangan akibat perkataan Rae Ri. Dia menyadari dengan sangat kesalahannya itu. “Mian, saya pasti menganggu Anda,” pemuda itu terseyum canggung yang menyebabkan matanya hanya berupa garis saja.

Gwaenchanha,” Rae Ri menahan tawa melihat ekspresi pemuda di hadapannya. “Saya tidak merasa terusik sama sekali. Tetapi, mungkin berbeda dengan pengunjung yang lain.”

Lagi-lagi ada yang mengganjal di tenggorokannya, bukan jakunnya, benda lain. “Hehe…mianhae.”

“Sudahlah…ige!” Rae Ri menyodorkan buku sumber keributan itu.

Nde? Bukankah Anda terlebih dulu meminjamnya?”

Ne… Saya bisa membacanya lain kali. Sepertinya Anda lebih membutuhkan.”

Tanpa berpikir panjang, dia mengambil buku itu dari tangan Rae Ri. “Jeongmal gamsahamnida.

Cheonma…,” Rae Ri berlalu pergi.

“Oh… Jeoneun Lee Jin Ki imnida. Ireumi mwoyeyo?”

Rae Ri memutar badannya. “Kim Rae Ri,”senyumnya terkembang.

Detak jantung Jin Ki berubah. Iramanya berubah lebih cepat dari sebelumnya. Bahkan kini napasnya pun mulai sedikit  tidak teratur. Sensasi ini mirip sekali ketika dia habis berlari hingga sepuluh kilometer nonstop. Apa yang terjadi dengannya? Terbersit keinginannya untuk mengejar Rae Ri, tetapi hanyalah keinginan terpendam. Dia tidak memiliki keberanian.

-LiP-

Untuk kesekian kalinya dia tidak dapat mengendalikan dirinya. Pikiran bawah sadarnya kembali membimbing tubuh itu untuk sampai ke tempat ini. Tempat yang dengan sempurna dapat memproyeksikan kenangannya.  Tempat itu bukanlah sebuah gedung bioskop atau layar yang sangat besar lengkap dengan proyektornya. Hanyalah sebuah taman, taman biasa saja yang selalu  sepi. Taman yang menjadi awal dan akhir kisah indahnya.

Lamunan pemuda itu terusik oleh panggilan masuk pada ponselnya. Setengah hati dia meraih saku jaket yang dia kenakan dan mengeluarkan ponsel berwarna merah muda itu.  Keengganannya untuk menjawab panggilan itu semakin besar ketika menyadari siapa yang menghubunginya.

Yeboseyeo?”

Suara nyaring yang tidak pernah ingin dia dengar itu terus saja melintasi jaringan teleponnya. Karena hal tersebut, bisa dikatakan dia sama sekali tidak menyimak perkataan lawan bicaranya. Dia malah sibuk menjauhkan ponsel itu dari telinganya dan sedikit mengomel dengan suara kecil.

Arayeo…  sudah aku bilang kalau aku tidak akan pergi, Noona!”

“Yak.. bhabonika?” suara itu semakin kencang saja.

“Aku tidak akan ke mana-mana. Lebih baik Noona mencari pengganti yang lain. Aku tidak akan ke Ulsan. Titik.”

Gadis di seberang telepon berteriak kesal. “Ini kesempatan untukmu. Bukankah kamu ingin bertemu Professor Jung? Dialah ketua profesor untuk fakultas desain di Universitas Ulsan.”

Ara,” mendengar nama profesor itu membuat ingatannya kembali terproyeksi di hadapannya. “Tetapi aku sudah tidak tertarik lagi padanya,” bohongnya.

“Jangan bercanda. Ada apa denganmu Ki Bom-ah?”

“Sudahlah Noona… aku tidak akan meninggalkan Seoul,” dia terdiam sejenak. “Barang sedetikpun,” tambahnya dalam hati.

“Terserah…,” sambungan telepon terputus.

Semua alasan yang dia kemukakan adalah kebohongan.  Dia tidak mungkin melupakan ucapannya dulu. Dia selalu mengidolakan Profesor Jung. Dia dan gadisnya mengidolakannya. Gadisnya. Mungkin bukan lagi gadisnya, bukan miliknya. Dia selalu lupa bahwa gadis itu telah menghapus kepemilikannya atas hati sang gadis. Gadis itu telah meninggalkannya.

Hidupnya telah berubah. Kekosongan dalam hatinya membuat hidupannya menjadi tidak berarti. Keyakinan bahwa suatu saat gadis itu akan kembali dan memberikannya kesempatan kedua merupakan satu-satunya alasan dia tetap seperti ini. Walaupun dia sadari, dirinya sekarang tidaklah sama dengan dirinya yang dulu –saat gadis itu bersamanya.

Ki Bum melirik ponselnya. Semuanya masih sama seperti dulu. Kenangan dia dan  gadis  itu masih tersimpan dengan rapi. Bahkan dia masih menyimpan nomor teleponnya yang memang hampir sama dengan miliknya, padahal nomor telepon itu sudah tidak berfungsi lagi. Harapannya akan suatu saat nomor itu akan dapat dihubungi membuat dia tetap menyimpannya. Dia tidak akan melupakan hal sekecil apapun tentang gadis itu.

“Rae Ri-ya… kapan kamu akan kembali?”

Ponsel itu sudah menempel di telinganya. Bukan jawaban dari Rae Ri yang dia dapatkan, melainkan jawaban seorang operator yang memberitahukan setatus nomor yang Ki Bum  hubungi. Namun mungkin sekarang suara itu malah mengatai dia gila karena selalu menelepon nomor yang tidak lagi aktif. Konyol, sangat konyol.

Sesak di dadanya kembali menguasai. Untuk kesekian kalinya dia harus menahan rasa sakit itu. Rasa sakit pada kekosongan hatinya. Kekosongan hati yang berteriak meminta Rae Ri kembali. Rae Ri-lah yang dapat mengisi kekosongan itu, hanya Rae Ri. Hanya Rae Ri yang diinginkan hati itu.

-LiP-

Seperti biasa, pagi-pagi sekali Jong in sudah berdiri di depan pintu rumah Rae Ri. Sebuquet bunga daisy dan sebotol susu segar berada di kedua tangannya. Senyum Jong In merekah dengan sempurna. Kepalanya mendongak menatap langit. Seolah berbincang dengan matahari yang tengah bersinar cukup hangat. Perbincangan yang hanya dimengerti olehnya dan matahari itu sendiri.

Rae Ri, dia melihatnya. Dia hafal betul dengan tingkah Jong In sejak satu bulan yang lalu, saat mereka bertemu kembali. Dia mengerti, apa maksud semua tindakan Jong In. Tetapi untuk saat ini dia tidak ingin mengakuinya. Dia akan berpura-pura tidak tahu. Selalu berpura-pura tidak tahu.

“Jong In-ah?” usik Rae Ri.

Tanpa menunggu lama, perhatian Jong In telah beralih pada gadis di hadapannya. “Morning…,” sapanya lembut dengan senyum menggoda khasnya.

Rae Ri memutar bola matanya. “Hantikan senyuman itu.”

Weo? Anjoahae?” goda Jong In.

Ne… satu lagi. Sudah aku katakan jangan jemput aku, aku bisa sendiri. Dan, untuk apa kamu membawa bunga itu terus? Kamarku penuh oleh bunga itu,” Rae Ri menunjuk bunga daisy putih yang sedikit berkilau. “Emm, aku juga sudah minum susu buatan Eomma. Tidak perlu membawakan aku susu.”

Jong In mendengus, “Siapa bilang aku membawa bunga ini untukmu? Ini untuk ommonim.” Jong In tiba-tiba menundukkan kepalanya sepersekian detik. “Annyeong haseyeo, ommonim.”

Eomma?” Rae Ri menoleh  kebelakang dan mendapati ibunya berdiri di ambang pintu dengan senyum terkembang.

Jong In melangkah melewatinya dan menghampiri Nyonya Park. Bunga yang sejak tadi digengam erat tangan kekar Jong  In telah berpindah ke tangan Nyonya Park. Terlihat Jong In membisikkan sesuatu yang tidak bisa didengar Rae Ri. Setelah mendapat anggukan dari Nyonya Park, Jong In mendelik mengejek pada Rae Ri.

Mwoyae?” Rae Ri melotot.

Ommonim, minumlah susu segar ini. Aku tahu Ommonim tidak pernah minum susu pagi-pagi karena harus mengurus  yeoja sok dewasa namun manja itu,” sudut matanya menunjuk Rae Ri. “Suka dengan bunganya?”

Ne…,” jawab Nyonya Park singkat.

“Aku berangkat!” nada suara Rae Ri terdengar kesal. “kamu tidak, Jong In-ah?” tambahnya sebelum benar-benar pergi.

Ne Tuan Putri,” Jong In segera menyusul Rae Ri yang sudah mencapai gerbang.

Rae Ri berjalan dengan cepat, jauh di depan Jong In. Pemuda berkulit sedikit gelap itu hanya tersenyum kemenangan . Dia sangat suka melihat Rae Ri kesal. Sama seperti yang sering dia lakukan dahulu, membuat Rae Ri kesal. Rae Ri hampir mencapai halte bis, dia segera menyusulnya.

“Pelan-pelan!”

Rae Ri menoleh ke arah Jong In  dan menatapnya kesal. “Dasar buaya!”

Mwo?”

“Untuk apa kamu menggoda Eomma?”

Jong In terkekeh, “Siapa yang menggoda?”

“Lalu apa namanya memberi bunga dan susu, cih.”

“Itu karena kamu tidak mau menerimanya. Dari pada terbuang sia-sia,” bela Jong In.

“Lalu, apa yang kamu ucapkan pada Eomma sehingga Eomma tersenyum genit begitu?”

“Mau tahu?” Jong In membusungkan dada, meresa menang.

Anio… terserah kamu juga mau berbisik apapun pada  Eomma.”

Mencelos, mendengar jawaban acuh tak acuh Rae  Ri.  Rencananya untuk membuat Rae Ri memaksanya mengaku, gagal. “Usaha sedikit, paksa aku lebih keras untuk mengaku!”

Rae Ri menahan tawanya, “Shiroe!”

“Yak… Kim Rae Ri, kamu sama sekali tidak asyik, judes! Bagaimana bisa dapat pacar kalau begitu terus?”

Tidak perlu menunggu lama, bogem mentah mendarat di kepala Jong In. Jong In hanya bisa mengaduh kesakitan dan tertunduk takut mendapati Rae Ri melotot padanya seolah akan menelannya hidup-hidup. Entah sampai kapan Rae Ri akan memperlakukannya seperti itu –selalu memukulinya. Dia tidak akan mengeluh. Rae Ri, apapun akan dia lakukan demi dirinya.

-LiP-

Derap langkah kaki itu terdengar sangat pelan, bahkan terkesan ragu-ragu. Pemiliknya terlihat terlalu fokus pada buku yang dia baca dalam keadaan berjalan. Sesekali dia akan melirik ke depan untuk memastikan kalau dia tidak melewati tempat tujuannya.  Setelah itu dia kembali fokus pada bukunya dan melangkah pelan. Mungkin dia sudah hafal bahkan dengan tanpa melihat dan tanpa menabrak tembok di kedua sisi lorong yang dia lewati.

“Ki Bom-ah!!!” pekik seorang  gadis dari arah belakang Ki  Bum.

Ki Bum  berdecak kesal. “Dia lagi,” gumamnya untuk dirinya sendiri.

“Tunggu aku!!!” teriak gadis itu lagi.

Ki Bum segera menutup bukunya dan bersiap mengambil langkah seribu. Bersusah payah dia berusaha menghindari gadis yang bagaikan nenek sihir itu, namun ujungnya bertemu juga. Seingatnya fakultasnya itu sangat luas dengan lebih dari 1500 orang mahasiswa,  tetapi tetap saja dia bisa bertemu dengan sang nenek sihir.

“Yak… jangan bergerak atau aku lempar dengan buku ini!” ancam gadis yang satu tahun lebih tua darinya itu.

Menyerah, hanya itu yang dapat dilakukan  Ki bum untuk sementara waktu ini. Dia  tidak mau ambil risiko mendapatkan benjol di kepala akibat lembaran sebuah  buku dari salah satu pelempar terhebat se-Seoul. Kalaupun dia melarikan diri, ‘nenek sihir’ itu akan sanggup menangkapnya.

“Ada apa lagi Noona?” tanya Ki  Bum dengan enggan.

“Aku sudah lelah denganmu.”

Ki Bum memutar bola matanya, “Wae,  Soo Young Noona?”

“Cih… caramu menyebut namaku  sungguh menggelikan. Aku lelah denganmu yang terus saja lari. Mengapa kamu selalu menolak kesempatan emas ini? Apa yang membuatmu tidak ingin ke Ulsan?” Dia terdiam sejenak, “Ah… Anio. Kamu tidak pernah mau meninggalkan Seoul, bahkan untuk mengikuti kedua orangtuamu pindah ke  Jerman setahun lalu.”

Ki Bum tidak berani menatap mata gadis yang sudah seperti kakaknya itu.  Mengelak dengan memberi alasan pun akan percuma. Soo Young tahu segalanya. Dia tahu segala gerak-geriknya. Ki Bum segera membuka buku yang dia pegang dan tidak berniat menjawab. Dia rasa cuma  itu cara satu-satunya untuk menghindar.

“Yak… jangan sok rajin!” Soo Young  merebut buku Ki Bum. “Tidak ada gunanya kamu pintar dan menjadi kutu buku  dengan membaca buku ini. Bakatmu itu akan sirna dengan perlahan. Bertemu Profesor Jung akan menjadi awal yang baik. Beliau akan melihatmu sebagai harta karun. Beliau akan membantumu meraih semua mimpimu itu yang aku rasa sedang coba kamu lupakan.”

Noona… aku juga lelah, sangat lelah. Jadi berhentilah memaksaku. Mimpiku adalah selamanya di Seoul.  Titik.” Ki Bum menjawab dengan santai.

Soo Young semakin kesal melihat ketidakpedulian Ki Bum. “Apa kamu masih menunggu ‘dia’ kembali?”

Nde?”

“Kim Rae Ri, kamu masih berharap  dia akan kembali dan menemuimu? Kamu masih  setia menanti yeoja tengik kekanak-kanakan itu, yang  dengan sombongnya mencampakanmu?” Soo Young tertawa mengejek, “Terkadang aku malu mengakui diriku adalah seorang yeoja jika mengingat yeoja tengik itu.”

Noona?” Ki Bum terlihat tegang.

Soo Young menyodorkan buku yang  sempat dia  rebut dari Ki Bum sebelumnya. “Jika itu  alasanmu, percuma membujukmu. Cinta? Kamu terlalu membiarkannya lama tumbuh di  hatimu hingga berakar cukup dalam dan membuat otakmu tidak dapat berpikir rasional. Aku menyerah, terserah padamu. Aku tunggu sebelum nanti malam. Jika kamu tidak menghubungiku, maka akan aku cari pengganti yang lain.”

Soo Young berlalu begitu saja meninggalkan Ki Bum  yang hampir tidak memiliki detak jantung lagi akibat perkataannya. Ki Bum tertunduk menatap buku di tangan kanannya. Rae Ri, dia melihat wajah Rae Ri tersenyum di permukaan sampul buku itu. Dia memang tidak bisa berpikir rasional lagi. Kepergian Rae Ri membuat kemampuannya membedaan kenyataan dan imajinasi menghilang. Dia hampir  gila.

-LiP-

“Baiklah, Jin Ki-ssi. Saya ingin Anda untuk memegang tanggung jawab ini. Apakah Anda tidak keberatan?”

Jin Ki mengangguk perlahan dan tersenyum sumringah. “Tentu saja tidak, Profesor. Suatu kehormatan bagi saya.”

“Anda yakin tidak akan menggangu Anda? Saya dengar Anda sedang mempersiapkan  S-3 Anda.”

Sekali lagi Jin Ki melayangkan senyum khasnya. “Anio, Profesor. Persiapan S-3 sudah selesai. Saya tinggal menunggu surat penerimaan dan tahun depan jika  diterima saya akan pergi.”

“Jerman bukan?”

Ne, Profesor.”

“Saya yakin Anda akan diterima. Baiklah, mohon bantuannya.”

Jin Ki membalas uluran jabat tangan pria yang sudah berkepala lima dihadapannya itu dengan sopan,”Thank You.”

“Saya merekomendasikan seseorang untuk membantu Anda. Bisa dibilang rekan Anda untuk turut bekerjasama menghadapi ‘rekan jauh’ kita nanti.”

Nugundae?” Jin Ki penasaran.

“Dia akan sangat membantu anda dalam mengatasi berondongan kritikan dalam diskusi nanti. Dia cukup banyak tahu. Rasional, genius, cerdas; aku tidak bisa menggambarkan bagaimana cemerlangnya dia. Harta karun negara kita.”

Jin Ki hanya bisa mengangguk mengiyakan. Tidak pernah dia melihat pria yang sangat dia kagumi ini memuji seseorang dengan mata berbinar-binar.

“Saya akan memperkenalkannya dengan Anda. Anda pasti akan menyukainya. Jika Anda ingin bertukar pikiran dengan seseorang, aku merekomendasikan dia.”

Ne…

-LiP-

Jin Ki sudah sangat penasaran. Dia ingin segera mengenal orang yang mampu mendapat pujian dari dosen favoritnya itu.  Dia semakin penasaran ketika mengetahui rekannya itu baru menjalani tahun keduanya di Universitas Ulsan, jurusan akuntansi –sama seperti dirinya. Orang itu pasti lebih hebat darinya. Dia saja harus menempuh hingga tahun ketiga untuk mendapat pujian dari dosen yang tersohor namanya dimana-mana itu.

“Jin Ki-ssi… itu dia!” tunjuk asisten dosen yang diminta untuk mengantarnya.

“Yang mana?” Jin Ki masih mencari-cari.

“Gadis berbaju biru yang membaca buku itu. Anda temui dia sendiri, saya harus segera menemani Profesor. ”

“Baiklah… gamsahamnida.”

Jin Ki melangkah dengan yakin. Dia  sudah kepalang telanjur penasaran oleh mahasiswa yang mampu mendapat pujian super   itu. Apalagi ketika dia mengenali bahwa sosok yang di tunjukan padanya itu adalah seseorang yang berjenis kelamin berbeda dengannya.

Jaesonghamnida,”  sapanya.

“Emm…,” hanya itu jawaban yang dia dapat.

Jaesonghamnida,  saya dimintai Profesor  Shim  untuk menemui  Anda.”

Kini buku itu dengan kecepatan kilat telah berpindah ke atas meja dan menampilkan dengan jelas wajah yang tertutup sedari tadi. Kaca mata ber-frame hitam dengan bentuk sedikit kotak membingaki matanya yang besar. Jin Ki terbelalak, dia hampir saja berteriak. Bukan karena takut atau hal negatif lainnya. Dia terlalu senang, sangat senang.

“Rae Ri-ssi?”  tanyanya.

Rae Ri memiringkan kepalanya ke kiri –bingung, “Nuguseyeo?”

“Accounting Game: Basic Accounting Fresh from the Lemonade Stand, Darrell Mullis,” hanya hal itu yang terbersit di otaknya.

Rae Ri tertawa kecil, “Pemuda pembuat onar di perpustakaan?”

Jin Ki menggaruk tengkuknya. Mengapa dia bisa tiba-tiba mengeluarkan kalimat sulit itu –judul buku dalam bahasa inggris –dari mulutnya? Sedangkan Rae Ri malah mengingat kejadian konyol dan kekanak-kanakan yang dia lakukan. Malu, sangat malu.

Annyeong haseyeo,” sapa –ulang- Rae Ri.

“Oh… annyeong haseyeo,” ucap Jin Ki terbata-bata.

“Duduklah Sunbae!” Pinta Rae Ri masih dengan menahan tawa.

Gomawo,” Jin Ki tanpa henti memainkan jam tangannya –gugup. “Sudah lama menunggu?”

Anio…,” diperjelas dengan gelengan kepala Rae Ri.

“Sudah makan siang?” Segera Jin Ki mengutuk dirinya sendiri dalam hati atas pertanyaan yang baru saja dia lontarkan.

Anio… aku bingung mau makan siang dengan menu apa. Jong In masih ada kelas, dia yang selalu punya ide dalam memilih menu makanan.”

“Jong In?”

Rae Ri nyengir kuda. Tanpa dapat di kontrol, bibirnya melontar kalimat yang tidak penting. “Mian… aku  malah menggerutu –curhat.”

Gwaenchanha…,” Jin Ki melirik jam tangannya. “Jam makan siang sudah lewat satu jam yang lalu. Masih mau makan siang? Sekalian membicarakan permintaan Profesor Shim.”

“Baiklah…,”

-LiP-

Restoran bergaya tradisional itu tidak lagi tampak penuh sesak. Beberapa menit lalu para pengunjungnya mengakhiri acara makan siang mereka dan serempak keluar dari  restoran. Kini sangat lengang, hanya beberapa meja yang masih terisi. Rupanya ada juga pengunjung yang telat memenuhi jadwal makan siang mereka. Sedangkan meja lainnya sedang menjalani proses pembersihan.

Jin Ki dan Rae Ri mengambil tempat di dekat jendela agar dapat melihat kondisi jalan raya yang cukup padat. Rae Ri masih sibuk memilih makanan. Dan Jin Ki yang telah selesai sedari tadi tidak pernah berkedip memandang wajah Rae Ri.

“Emm… aku menyerah. Tolong pesanan saya samakan dengan dia,” Rae Ri menunjuk Jin Ki hanya dengan gerakan matanya.

Pelayan tersebut mengerti. Dengan sopan dia meminta Jin Ki dan Rae Ri untuk menunggu pesanan mereka kemudian dia berlalu pergi. Rae Ri masih belum puas memandangi daftar makanan dan minuman yang disajikan restoran itu. Dia masih membacanya dengan seksama.

“Apakah membaca menu itu menyenangkan?” usik Jin Ki.

Rae Ri nyengir kuda, “Ani… bukan makanan atau minuman yang ditawarkan yang membuat membaca menu itu menyenangkan. Tetapi melihat harga yang tercantum di sana.”

Mwo?”

“Harga yang tercantum di sini lumayan masuk akal. Aku percaya kalau kualitas makanan dan minumannya baik.”

Jin Ki tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Untuk pertama kalinya dia bertemu orang seperti Rae Ri, maniak keuangan. Sepanjang perjalanan ke restoran ini pun dia selalu membicarakan hal-hal berbau keuangan. Bahkan dia sampai mengomentari pedagang kaki lima yang kami temui di jalan.

Weo Sunbae? Apa aku  aneh?”

Jin Ki tertawa kecil, “Anio…kamu mirip dengan Profesor Shim. Tidak heran dia menyukaimu.”

“Begitukah?”  Rae Ri salah tingkah. “Sunbae… sebenarnya apa yang harus saya lakukan? Saya sama sekali  tidak mengerti dengan ditunjuknya saya sebagai pembantu Profesor Shim.”

“Berhentilah menggunakan bahasa formal. Rasanya begitu aneh. Jadi –.”

“Oke, Oppa,” potong Rae Ri

Jin Ki membulatkan mata sipitnya itu hingga batas maksimal. Beruntung Rae Ri tidak menyadari itu, karena memang tidak akan ada yang menyadari perubahan bentuk mata sipitnya itu. Jantungnya berdetak cukup kencang, lebih cepat dari detak jam dinding. Rasa senang membuncah, meluap-luap di dalam dirinya. Apa yang terjadi dengan dirinya? Mengapa kalimat manja Rae Ri yang sangat singkat itu mampu membuat dia ingin meloncat-loncat dan berteriak?

“Jadi Oppa, jelaskan padaku semuanya tentang event ini.”

Beruntung kesadarannya telah pulih kembali. Dia mulai menjelaskan event Universitas Ulsan yang dijalankan setiap tahunnya. Event ini sejenis studi banding atau kompetisi kecil antar universitas se-Korea Selatan. Memang tidak benar-benar semua universitas yang berpartisipasi, hanya beberapa universitas yang memiliki hubungan baik dengan Universitas Ulsan.

Penjelasan detail Jin Ki berlanjut hingga makanan pesanan mereka telah mereka santap setengahnya. Rae Ri  terlihat menyimak dengan baik. Dia begitu serius hingga terkadang tidak berkedip dan terus memandangi Jin Ki. Jin Ki yang notabenenya sudah merasakan hal aneh pada dirinya sejak pertama kali bertemu gadis di hadapannya ini semakin menjadi –aneh.  Dia mulai salah tingkah dan gugup.

“Jadi, untuk tahun ini fakultas manajemen dan desain yang akan menguasai event ini. Lalu kita sebagai jurusan akuntansi memiliki andil besar terutama untuk menunjukan kehebatan kita kepada mereka. Seperti yang aku katakan sebelumnya, kita akan sangat sibuk dan repot hingga dua bulan kedepan.”

Rae Ri hanya menganguk mengiyakan, “Gomawo Oppa.”

“Atas?”

“Penjelasannya yang sangat jelas. Joahe!”

-LiP-

“Tuan Muda?”

Ki Bum menegakan kepalanya yang sedari tadi menatap langit berwarna keoranyean itu. Indah, hanya itu kata yang terbersit di otaknya saat memperhatikan langit sore ini. Ki Bum hanya tersenyum dan memberi sedikit salam pada wanita yang sudah seperti ibunya itu.

Ahjumma… bagaimana kabar Anda?”

“Baik sekali,” wanita itu berjalan menuju tempat sampah hijau di samping gerbang rumah mewah itu dan meletakkan kantung besar berwarna hitam ke dalamnya.

Ahjumma, Anda selalu membawa beban berat. Kurangilah, demi kesehatan Anda.”

Wanita itu hanya tertawa kecil, “Tuan Muda terlihat lebih perlu menjaga kesehatan Tuan Muda. Tuan Muda terlihat begitu kurus.”

“Begitukah?”

Ne… pasti karena selalu makan mie instan,” ejeknya.

Ki Bum tertawa terbahak, “Ahjumma… aku sangat pandai memasak. Jadi jangan meremehkan aku seperti itu.”

“Saya senang melihat Tuan Muda bisa tertawa lagi. Sudah lama tidak melihat Tuan Muda tertawa, sejak Agasshi pergi.”

“Oh…”

Tiba-tiba wanita itu tersenyum sumringah, seperti baru saja memenangkan lotre lima juta won. “Tuan Muda, saya baru saja ingat.  Agasshi sudah kembali. Kalau tidak salah dengar, Agasshi bersama Nyonya di Ulsan.”

Nde?” Ki Bum ingin memastikan bawa dia tidak salah dengar atau ini semua imajinasinya. “Rae Ri sudah kembali?”

Ne… beberapa bulan lalu saya mendengar Tuan menelepon Nyonya dan meminta Agasshi untuk kembali ke sini. Tetapi Agasshi menolak dan memilih tetap bersama Nyonya.”

Ahjumma tahu alamat rumahnya?”

Anio… Tuan selalu merahasiakan segala hal tentang Nyonya.”

Gomawo Ahjumma… saya permisi dulu.”

Ki Bum segera memasuki mobil putih yang sejak tadi hanya menjadi sandarannya. Dia segera meluncur dan berbaur dengan mobil lainnya di jalanan padat Seoul. Langit sudah semakin gelap. Dia harus mencapai tempat yang ada di benaknya sebelum matahari benar-benar kembali ke peristirahatannya.

Tiga puluh menit menjumpai hiruk pikuk jalan raya, kini Ki Bum telah sampai di sebuah komplek perumahan yang sangat tenang. Dia melihat ke kiri dan ke kanan, mengecek perlahan nomor rumah yang tertera di tiap gerbang bergaya minimalis itu. Sejujurnya dia tidak yakin akan menemukannya. Dia hanya mengingat dengan tidak pasti alamat rumah itu. Tiba-tiba Ki Bum menghentikan laju mobilnya.

Noona… Soo Young Noona!” pekiknya.

“Oh…  Ki Bum-ah?”

Ki Bum segera keluar dari mobilnya dan berlari menuju Soo Young yang sedang mengantarkan kepergian seseorang  dari rumahnya. Ki Bum mengenali orang itu sebagai rekan satu angkatannya di jurusan desain komunikasi visual. Soo Young juga merupaka seniornnya di sana –jurusan yang sama.

Mwo? Wae geurae?” tanya Soo Young ketus.

“Aku akan menggantikan Noona untuk ke Ulsan,” senyum Ki Bum terkembang dengan natural. “Aku akan menjadi perwakilan Kyung Hee untuk mengikuti acara di Universitas Ulsan itu.”

“Ki Bom-ah…?”

To be continued