Tags

, , , , , , ,


why so serious,Key

Title                       : Why So Serious?; Nightmare Gift.

Author                  : Chanyeonie

Main Casts          : Kim Ki Bum (Key)

Support Casts    : SHINee’s members, EXO and SMent family.

Genre                   : Fanstasy, Horror, (Little) Comedy.

Length                  : One-shot

Rating                   : General

Author’s Note   : Ini dia versi lainnya. Sepertinya akan amburadul kayak yang sebelumnya. Happy reading ajah deh. FF ini juga di post di WP pribadiku.RCL-nya sangat diharapkan.Pyong…

Warning              :

Typo yang mungkin akan menggangu. Gejala kebingungan yang akan  dialami reader karena narasi author yang ruwet. Penulisan yang –mungkin- tidak sesuai EYD. Dan kesoktahuan Author tentang berbagai hal mengenai SHINee dan  keluarga besar SMent. Keseluruhan cerita hanyalah fiksi –tidak pernah terjadi. Hanya beberapa bagian yang memang disesuaikan dengan apa yang sebenarnya penah terjadi.

-WSS-

Satu per satu potongan stroberi itu masuk ke dalam blender. Hampir setengah dari blender itu penuh oleh potongan stroberi yang telah aku singkirkan daun-daunnya. Kini tinggal dadu-dadu es batu yang meluncur. Tidak lupa sedikit gula dan susu. Aku rasa inilah jus troberi terenak dan tersegar di  dunia. Sombongku kumat lagi.

Suara mesin blender memenuhi hampir seluruh ruangan di dorm. Hanya suara inilah yang mendominasi. Tidak ada suara makhluk hidup lainnya. Hari ini aku memang kembali ke dorm lebih dahulu. Setelah selesai melaksanakan tes  terakhir untuk penampilan perdana album terbaru kami besok, aku langsung saja melenggang pergi tanpa memberitahukan siapapun.

Akhirnya jus stoberiku telah tercampur sempurna dengan bahan-bahan yang lain. Aku segera mengambil lima buah gelas. Untuk memperindah penampilan agar semakin terlihat segar, irisan tipis stroberi bertengger di bibir gelas. Tentu saja sebelumnya, bibir gelas itu sudah aku celupkan pada hamparan manis gula pasir. Sangat sempurna.

Entah  mengapa hari ini aku ingin sedikit membuat member yang lain merasa diperlakukan istimewa. Kasihan  juga melihat mereka yang harus selalu meneguk air mineral langsung dari botolnya setelah keluar dari  lemari pendingin setiap selesai melakukan aktivitas yang melelahkan itu. Latihan, rapat, rekaman, dan banyak lagi yang lain. Ditambah lagi kini kami hanya bekerja ber-empat. Sang lead vocal baru  saja mendapat kesialan. Jadi untuk kebaikan bersama, sementara ini tim kami bekerja hanya dengan empat orang pemuda  tampan.

Minuman spesial sudah selesai. Aku melirik jam dinding, sudah terlalu larut dan mereka belum pulang. Apa yang mereka lakukan hingga jam segini? Bukankah persiapan sudah  fix sejak tadi sore? Jangan bilang mereka bersenang-senang tanpaku. Terbersit niat di hatiku untuk membatalkan penyajian  minuman spesial ini. Tidak, jangan berpikir negatif dulu Kim Ki Bum.

“Pelan-pelan Hyeong!”

Aku mengenali suara kekanak-kanakan yang dibuat-buat dewasa itu. Siapa lagi kalau  bukan adik kecil tercinta yang katanya kini telah tumbuh dewasa.  Rupanya mereka sudah ada di depan pintu. Bersyukurlah, hampir saja aku membiarkan mereka kembali meminum air mineral. Terdengar suara beberapa barang yang jatuh.

“Yak… hati-hati!” Itu pasti  suara Jong Hyun Hyeong.

Arasseo… tanganku cuma dua Hyeong. Jadi wajar saja kalau ada yang jatuh, barang-barang ini terlalu berat dan  banyak,” rengek Tae Min.

Apa yang membuat mereka begitu lama masuk?  Lalu mengapa mereka ribut-ribut begitu? Ini sudah jam 10 malam, apa mereka tidak memikirkan tetangga? Aku masih menanti beberapa meter dari depan pintu dengan nampan penuh gelas-gelas berisis  cairan merah dengan sedikit buih putih. Tanganku mulai pegal dan aku sudah kesal.

“Buka pintunya!” perintah Jin Ki Hyeong. Aku hafal suara mereka, jadi jangan heran.

“Aku  tidak bisa, Hyeong,” yang satu  ini Min Ho.

Tae Min  mulai frustasi. “Hyeong, berat!”

“Bukankah Ki Bum ada di dalam?”

“Ki Bum-ah!” panggil Jin Ki Hyeong.

Sebenarnya aku malas menjawab mereka. “Ne… tunggu sebentar.”

Aku menaruh nampan di atas meja dapur dan sedikit berlari kecil menuju pintu. Tidak butuh waktu lama, pintu telah terbuka lebar. Seperti diberikan aba-aba, mereka kompak berdesakan masuk. Aku berteriak sekuat tenaga karena terdorong masuk dan hampir  terinjak-injak.

Mwoya!!!” pekikku kesal.

Mian Ki bum-ah… Palli, ini berat,” pinta Jin Ki Hyeong.

Dia terlihat kepayahan dengan beberapa  barang yang dibawa. Tingginya susunan barang-barang itu bahkan menutupi wajahnya. Tidak berbeda  jauh  dengan Tae Min dan  Min Ho. Tae Min kecilku begitu menderita. Sedangkan Jong Hyun, dia  hanya membawa 2 kotak kecil bingkisan dengan pembungkus  yang begitu mencolok.

Mwoya ige?” tanyaku sambil membantu mereka.

“Bingkisan dari fanss,” jawab  Min Ho enteng.

Aku hanya ber-oh ria. Mengetahui barang-barang yang banyak ini berasal dari para penggemar kami, amarahku sedikit sirna. Rupanya sebelum tidur kami akan mengadakan acara ‘membuka bingkisan’. Aku paling menyukai kegiatan yang satu ini. Barang-barang yang diberikan para penggemar –khususnya lockets- selalu menarik. Mungkin suatu hari nanti aku akan menyewa sebuah ruko sebagai showroom hadiah-hadiah dari mereka.

-WSS-

Mengapa aku tidak bisa menemukan namaku di setiap bingkisan berwarna-warni ini, tidak ada satupun. Semuanya berlabel nama Jong Hyun Hyeong. Ada sekitar 3 atau 5  yang berlabel nama member yang lain selain aku. Apakah ada yang melupakan bingkisan untukku di kantor –gedung SMent? Atau mereka lupa kalau ada seseorang bernama ‘Almighty Key’ alias  ‘Kim Ki Bum’ di dalam SHINee? Mungkin security  menghalangi para ‘lockets’ untuk menitipkan bingkisan mereka untukku? Ada yang salah.

“Kenapa tidak ada namaku di salah satu bingkisan aneh ini?” aku membuka pembicaraan setelah beberapa waktu lalu kami disibukan dengan kegiatan masing-masing.

Terlihat Tae Min meneguk hingga tandas jus stroberi milik Min Ho. “Coba dicari lagi. Mungkin Hyeong terlewat tadi.”

Obseyeo… semuanya atas nama Jong Hyun Hyeong,” aku melayangkan pandangan pada Jong Hyun Hyeong yang  sedang mencoba beberapa syal yang dia dapat. “Lihat… semua ini untuknya.”

Ne… benar sekali. Aku hanya dapat satu,” Min Ho menunjukan boneka Kkoboogi –karakter kartun di pocket monster.

Tae Min hanya berdehem, karena dia sedang menghabiskan jus milik Jin Ki Hyeong –gelas ketiganya. Dia mengangkat tangannya dan membentuk tanda ‘V’. Mungkin maksudnya, dia mendapatkan dua. Sedangkan Jin Ki Hyeong mendapatkan satu. Lalu aku? Tidak ada sama sekali. 90% dari total bingkisan-bingkisan itu adalah milik Jong Hyun Hyeong.

“Milikku mana?” wajahmu pasti terlihat sangat menyedihkan.

Hyeong tidak tahu ceritanya bagaimana kita dapat benda-benda ini?” Tae Min duduk dengan manis di sampingku. Apa yang ingin dilakukan anak ini?

Alhasil, mulailah cerita membosankan Tae Min. Inti cerita, semua bingkisan  ini  untuk menyambut comeback kami besok. Dan anehnya, mereka –para SHAWOL- hanya menyemangati Jong Hyun Hyeong yang tidak bisa ikut berpartisipasi. Mereka merasa prihatin atas kondisi Jong Hyun  Hyeong, walaupun mereka sebenarnya tidak tahu pasti bagaimana kondisi Jong Hyun Hyeong yang beberapa waktu lalu baru keluar dari rumah sakit dan menjalani rawat jalan sekarang.

“Bukankah yang bekerja keras itu kita?” aku tidak bisa terima.

Jin Ki Hyeong memelototiku dengan susah payah. “Sudahlah… jangan dibesar-besarkan.”

Jujur aku merasa sedikit kesal. Tidak. Sangat kesal. Aku sangat kesal dengan semua ketidakadilan ini. Mengapa  hanya aku? Mengapa hanya aku yang tidak mendapat bingkisan barang sebiji pun? Wajahku tertekuk, menahan letupan-letupan di hatiku yang memerintahku untuk menghancurkan apapun  yang ada di depanku.

“Ki Bom-ah!??” Min Ho terdengar khawatir karena aku yakin wajahku sudah merah membara sekarang. “Mungkin karena kamu tidak terlihat  tadi, makanya mereka mengurungkan niatnya memberikan bingkisan mereka untukmu. Mereka ingin memberikannya langsung padamu.”

Aku mendengus, “Lalu, memangnya ‘dia’ juga ada di sana?” aku menggerakan daguku sebagai gerakan untuk menunjuk Jong Hyun Hyeong.

“Anio… bagaimana mungkin Hyeong muncul di depan umum?” celetuk Tae Min.

Aku kembali mendengus kesal dan terkesan mengejek. Dari ujung mataku, dapat kulihat Jin Ki Hyeong menyikut Tae Min dan memelototinya. Entah sejak kapan bocah itu pindah ke samping Jin Ki Hyeong. Min Ho juga menyumbangkan dead glare-nya.

Sunyi senyap, kami  semua terdiam untuk waktu yang cukup lama. Bahkan Tae Min sudah bungkam dari tadi. Tidak protes atas tatapan menyalahkan dari yang lain. Beberapa detik kemudian aku bisa merasakan semua orang melihat ke arahku, termasuk Jong Hyun Hyeong. Tatapan bersalahnya itu terasa sangat. Cih… apa aku semenyedihkan itu? Aku tidak  butuh bingkisan apapun.  Aku  bukan anak kecil.

“Aku mau tidur,” kataku sambil berdiri dengan kecepatan kilat.

Kecanggungan ini setidaknya harus segera berakhir.  Sebaiknya memang aku yang mengakhiri. Mood-ku sedang sangat buruk. Bisa-bisa semua orang akan kena getahnya. Aku juga tidak mau terlihat jelek besok saat tampil karena terlalu banyak mengomel.  Aku harus terlihat sempurna. Dan caranya adalah dengan cepat-cepat tidur.

-WSS-

Bukankah senyumku terkembang dengan sempurna hari ini? Aku masih mampu tersenyum dengan manis setelah beberapa saat lalu menghabiskan tenagaku untuk ‘comeback stage’ kami di Music Bank. Tanganku melambai-lambai dengan girang dan sesekali melakukan aksi konyol di belakang MC. Tae Min tidak  mau kalah, tingkahnya mirip ikan lohan yang mencari makan.

Aksiku tidak hanya  sampai di situ, aku menarik Jin Ki Hyeong dan memaksanya berdiri tepat di belakang MC. Dia ternyata lebih gila dariku. Dia tersenyum konyol dan terus menatap sang MC berjenis kelamin pria. Aku yakin MC itu  merasa  geli akan tingkahnya. Sesekali aku akan melirik para grup lain yang juga melakukan  hal serupa. Sudah menjadi tren  rupanya.

Akhirnya acara ini berakhir juga. Terburu-buru aku berlari ke ruang ganti khusus SHINee –tentunya. Aku ingin segera merebahkan diri, kakiku sangat pegal. Entah ke mana member  yang lain. Mungkin mereka masih saling bertegur sapa dengan rekan sesama artis. Aku sedang sangat malas melakukan itu sekarang, lebih baik aku mengabiskan waktu untuk memainkan  ponselku atau malas-malasan sambil menunggu Jin Hyeong datang.

Tok…Tok…Tok!

“Masuk saja!” jawabku enggan.

Seorang staff Music Bank menghampirirku dengan kotak  super besar. Dia hanya tersenyum padaku dan terus memangut-mangutkan kepalanya. Pria yang aku yakini seumuran dengan Jin Hyeong  meletakkan kotak besar itu di hadapanku.

Ige mwoyae?”

“Seorang fans girl memohon-mohon memintaku untuk  memberikan ini pada Anda,” dia berbicara formal.

Gomawo,” tanpa aku sadari sudut bibirku membentuk lengkungan ke atas.

Cheonma,” dia kemudian  permisi untuk kembali bekerja.

Aku terus memperhatikan kotak besar berukuran sekitar 30×30 sentimeter  dan tinggi mungkin 5 sentimeter itu.  Bagian tutup kotak itu dirancang transparan. Semua orang pasti bisa melihat dengan jelas isinya. Semua orang pasti akan iri melihatku mendapatkan bingkisan super spesial ini.

Klek…!

“Hahahaha…!”

Aku segera menyembunyikan bingkisan itu dengan menutupi menggunakan jaket yang aku kenakan sebelum ke sini. Tae Min  menatapku heran. Apakah ekspresi wajahku dapat terbaca dengan jelas? Jangan sampai mereka mengetahui bingkisan ini. Aku tidak akan memberitahu siapapun.

Hyeong kenapa?” Tae Min terus saja memperhatikan gerak-gerikku.

Obseyeo…, wae?”

Jinja? Isanghae!” tatapan selidiknya membuatku semakin salah tingkah. “Apa yang Hyeong sembunyikan di bawah jaket itu?”

Obseyeo!”pekikku kesal.

“Dasar pelit,” dia menjulurkan lidahnya.

Dia  berjalan perlahan mendekatiku, kemudian mengambil duduk di sebelah kananku. Aku segera membetulkan letak jaketku agar bingkisan ini tersembunyi dengan sempurna. Mata tajam Tae Min terus saja memperhatikan gumpalan jaketku. Dia mengendus-endus tidak jelas dan sesekali mendekatkan kepalanya ke arah  benda yang berusaha aku lindungi ini. Kurang ajar sekali bocah ini, dia merapatkan posisi duduknya denganku. Kalau begini terus, dia bisa menduduki bingkisan spesialku.

“Yak… menjauhlah!!!” perintahku  kasar.

Hyeong menyembunyikan makanan?” tanyanya polos.

Anio.”

“Lalu ini apa?” telunjuknya menunjuk gumpalan jaketku.

Obseoyeo!”

“Ayolah Hyeong… aku tidak akan memberitahukan yang lain. Aku janji!” bocah di hadapan ini bertingkah manja. Lihat, dia menunjukan aegyo-nya yang tidak seberapa itu.

“Hentikan! Aku tidak pernah percaya mulutmu itu.”

Dia mendengus kesal. Bibirnya telah mengerucut sempurna dan tangannya terlipat di depan dada. Dia beringsut dengan cepat ke sisi lain sofa krem yang kami duduki. Aku menatapnya bingung. Dia  kemudian memalingkan wajahnya, marah rupanya. Baru saja  aku akan berucap, dia beranjak. Berjalan di depanku tanpa sedikitpun melirik dan kini telah  menghilang di balik pintu.

Kembali sunyi, mengapa aku merasa menyesal? Sepertinya sangat mengasyikan saat Tae Min memaksaku untuk memperlihatkan bingkisan ini. Tetapi saat dia mengalah, kesenangan itu sirna. Mungkin sebaiknya aku berbagi padanya.  Mengapa aku menjadi seegois ini sekarang?

Lama aku menunggu, mereka –Tae Min, Min Ho dan Jin Ki Hyeong- tidak kunjung menampakan batang hidungnya. Padahal baru saja terbersit di otakku untuk memamerkan bingkisan spesialku dan mungkin akan membaginya. Kordi-kordi juga tidak terlihat berseliweran. Hal yang tidak biasa jika mereka sudah menyelesaikan acara berbenah mereka sebelum kami selesai tampil.

Kini aku mulai bosan. Mungkin memang sudah waktunya aku menikmati bingkisan spesialku –seorang diri. Perlahan aku singkirkan jaket yang sejak tadi dengan setia menjaga  bingkisan spesialku. Lagi-lagi mataku berbinar-binar melihat isinya yang bisa dikatakan mengkilat diterpa cahaya lampu  di dalam ruangan ini.

Tutup sang kotak –bingkisan spesial- telah terbuka dan kini hanya bertengger di atas meja. Aroma khas yang memabukkan menyeruak. Aku tidak akan lupa aroma ini seumur hidupku. Menurutku inilah aroma terenak untuk kategori chocolate cookies. Yap… aku mendapatkan sekotak penuh chocolate cookies. Dan yang semakin membuatnya istimewa adalah bentuk sang chocolate cookies. Tentunya, tidak lain dan tidak bukan adalah wajahku.

Senyumku terkembang, jika memungkinkan bibirku akan tertarik hingga menyentuh telinga. Sempurna, sangat sempurna. Chocolate cookies ini menggambarkan wajahku dengan baik. Tidak benar-benar wajahku, hanya kartun wajahku. Tetapi intinya, sangat bagus.

Dia pasti lockets, gadis yang memberiku chocolate cookies ini pasti lockets. Dia sangat telaten membentuk wajahku dengan berbagai macam ekspresi. Semuanya hampir tanpa cacat. Jika ada yang berani menghina karya masterpiece ini, dia  harus berhadapan denganku. Tiba-tiba aku berimajinasi, chocolate cookies ini berterbangan di sekitarku. Aku  mulai gila.

“Ki Bom-ah! Apa yang kamu lakukan? Kami sudah lama menunggumu,” suara Min Ho menghentikan imajinasiku.

Aku gelagapan, tertangkap basah,“Mwo?”

“Apa yang kamu lakukan?” Dia menghampiriku, “Apa ini? Kelihatannya enak dan bukankah ini –.”

“Wajahku, mirip  tidak?” tanyaku penuh semangat.

“Lumayan… siapa yang buat? Kenapa hanya ada wajahmu?”

Aku nyengir kuda, “Rahasia.”

Min Ho mendelik dengan wajah aneh. “Katakan siapa? Yeojachingu?” tebaknya.

Aku menggeleng kencang. Tiba-tiba terbersit ide untuk sedikit mengerjai si mata kodok ini. “Min Ho-ya!” kataku manja.

“Yak!!!” bentaknya

“Boomie~ eung…eung… mau pulang, Kajja!” rengekku.

Min Ho merinding, dia paling benci jika aku mulai memberinya  aegyo.  Dia memelototiku dan perlahan menjauh. Aku mulai menikmati keusilanku ini. Aegyo-ku kembali meluncur dan menggodanya. Dia hanya berteriak dan memerintahku untuk segera berhenti.  Tentunya aku melakukan sebaliknya.

“Yakk… apa yang kalian berdua lakukan?” Jin Hyeong terlihat kesal. “Sampai kapan kalian akan bermain?”

-WSS-

Jong Hyun Hyeong menyambut kami setibanya di gedung SMent. Sejak kecelakaan itu dia mempunyai gaya baru saat ada di luar dorm. Dia tidak lagi memamerkan ototnya dengan hanya memakai kaos tanpa lengan. Sekarang dia  berubah, terlalu tertutup. Hari ini setelan dia adalah kaos lengan panjang yang hampir melekat sempurna di tubuhnya, celana jeans, jaket tebal nan besar ditambah dengan masker untuk menutupi wajahnya kecuali mata.

Mengapa dia perlu menutupi wajahnya? Wajahnya yang cukup tampan itu sedikit mengalami perubahan akibat benturan yang keras saat kecelakaan. Beruntungnya operasi yang beberapa waktu lalu  telah dijalaninya berjalan lancar dan wajahnya kembali cukup tampan. Cukup tampan.

Gedung SMent terlihat penuh sesak dan sedikit gaduh. Penyebabnya adalah bocah-bocah tengik tengah berkumpul. Siapa lagi kalau bukan EXO plus Tae Min. Kebetulan hari ini EXO-M ‘pulang’ karena mereka ada jadwal bersama dengan EXO-K. Beruntung ‘King of Hallyu’ –Super Junior- dalam tur mereka di benua Amerika. Senior-seniorku itu hampir sama dengan mereka.

Aku mulai pusing mendengar ocehan mereka, apalagi  Tae Min. Dia berkoar-koar tentang penampilan kami tadi di Music Bank. Dan untuk pertama kalinya Min Ho, Jin Ki Hyeong, dan Jong Hyun Hyeong nimbrung. Lagi-lagi aku merasa salah dengan semua ini. Terkadang aku merasa mereka bertindak seolah bukan diri mereka sendiri hari ini. Hanya akulah yang masih normal, seperti aku yang sebenarnya.

Alih-alih mengikuti kehebohan mereka, aku lebih memilih menuju ruang latihan yang pasti sudah sangat sepi sekarang. Para trainee pasti sudah hengkang sejak tadi. Kalau tidak, mereka akan dipaksa untuk ikut mendengarkan cerita ‘comeback SHINee’.

Benar dugaanku, ruang latihan  sunyi. Aku menyalakan lampu dan memilih duduk bersandar pada dinding di sudut ruangan. Aku tidak memilih ruang latihan yang sepi sekedar untuk menjauh dari mereka. Tetapi saatnya mencicipi chocolate cookies istimewaku. Lelah juga menahan hasrat ingin mencicipnya sejak tadi. Tidak mungkin aku memakannya di dalam mobil dalam perjalanan ke mari. Bukan karena pelit tidak mau berbagi. Aku hanya mau memakannya sampai puas dan tetap akan menyisakan untuk member  yang lain. Jika aku makan bersama mereka, bisa-bisa aku mendapat bagian paling sedikit.

Aroma khas nan sedap itu kembali menyeruak di udara. Untuk kesekian kalinya aku bersyukur memiliki indra penciuman  yang tajam. Kerja otakku serasa aneh saat aroma itu memenuhi paru-paruku. Aku yakin –sangat yakin- chocolate cookies ini akan sangat enak. Baru saja aku akan mengambil sebiji benda berwujut kepalaku itu, suara pintu yang terbuka mengganguku.

“Akh…  kamu di sini Hyeong?”

Lee Tae Min? Tidak. Dia tidak boleh dulu melihat benda berjenis makanan ini. Aku segera menyembunyikannya di sebelah kakiku. Sisi di mana kakiku akan menghalangi penglihatanya. Rupanya dia bersama Jong In –Kai. Dua bocah ini bertingkah seolah mereka adalah saudara kebar. Jika  sedang berada di perusahaan,  mereka akan kemanapun berdua. Tidak akan terpisahkan.

“Ada apa?” tanyaku ketus.

HyeongHyeong ada masalah denganku? Mengapa selalu bertingkah ketus padaku?” Dia dan Jong In menghampiriku.

“Siapa yang begitu? Perasaanmu saja. Ada apa mencariku?” Aku mencoba terdengar seperti biasanya.

“Jin Hyeong mencarimu,” sambar Jong In.

“Emm…betul itu.”

Aku hampir muntah melihat mareka berdua mencoba terlihat kompak. “Di mana?”

“Di mana Kkamjong-ah?”

“Di ruangnya katanya.”

“Mengapa dia ingin bertemu denganku?”

Molla!!!”Bentak mereka hampir bersamaan.

“Yak!!!” Gantian aku yang membentak. “Arasseo… aku akan ke sana.”

Hyeong, apa itu?”mata Tae Min hampir keluar karena berusaha melihat benda yang aku sembunyikan.

Obseyeo…kalian duluan saja. Aku akan ke sana sebentar lagi.”

Ne, Majesty!”

Mereka merangkulkan tangan mereka di pundak masing-masing dan berlalu pergi.  Untuk sementara aku akan menyembunyikan ‘kepala-kepalaku’ di sini. Membawanya bersamaku adalah tidak mungkin. Jin Hyeong lebih berbahaya dibandingkan kedua bocah tadi. Aku tidak mau ambil resiko.

-WSS-

Apa-apaan ini? Aku duduk hingga  keram selama hampir setengah jam menunggunya dan  setelah itu dia hanya menanyakan prihal kemarin malam. Kejadian ketika aku tidak mendapatkan bingkisan dari fans. Dia menganggapnya serius dan menasehatiku. Dia menginginkan aku untuk tidak seperti itu lagi. aku harus mengerti keadaan Jong Hyun Hyeong. Aku mengerti semua itu. Malam itu aku hanya lelah, jadi temperament-ku sedikit meningkat.

Leherku sedikit pegal karena harus mengangguk mengiyakan semua nasehatnya. Sesekali aku akan memijit  tengkukku sembari kembali menuju tempat persembunyian harta karunku. Aku sudah tidak sabar untuk memakan hingga puas ‘kepala-kepalaku’ itu. Menikmati bagaimana rasa manis coklat meledak di mulut. Aromanya akan memenuhi kepalaku. Membayangkan kenikmatan itu, aku hampir saja meneteskan liur.

Tunggu. Aku mendapati ruang latihan terang benderang dengan pintu yang sedikit terbuka. Dari celah pintu dapat terlihat dengan jelas ada orang di dalam sana. Aku mempercepat langkahku dan segera mendorong pintu agar  terbuka dengan lebar.

Mataku membulat sempurna. Rupanya para SHINee –kecuali aku- dan EXO sedang mengadakan acara makan-makan. Dan yang membuat aku geram adalah mereka memakan ‘kepala-kepalaku’. Tanganku mengepal menahan emosi, kepalaku serasa berasap, dan rahangku mengeras. Aku bisa mendengar dengan jelas gigiku bergemeletuk kesal.

Mereka menyadari kedatanganku dan mematung. Beberapa diantara mereka mencoba mengunyah, menelan, dan mengigit chocolate cookie-ku tanpa ketahuan olehku. Min Ho dan Jin Ki Hyeong terlihat membersihkan  remah-remah yang tersisa di wajahnya. Begitu juga dengan Kris dan Jong In.

“Yak!!!!” teriakanku menggema di seluruh sudut ruang latihan.

Hyeong… sudah bertemu Jin Hyeong?” Tae Min mencoba mencairkan suasana.

Aku tidak menjawab dan tetap memelototi mereka. Perlahan tetapi pasti, Kris dan Joon Myeon –Suho- memberi isyarat kepada member yang lain untuk segera meninggal ruang latihan. Aku melayangkan dead glare-ku, dan mereka mengurungkan niatnya. Tidak ada sedikit pun niat untuk tertawa melihat mereka yang menurutiku seperti puppy.

Hyeong… biskuitnya  sangat enak,” Tae Min kembali angkat bicara.

Sejauh ini hanya Tae Min yang angkat bicara. Rupanya dia menjadi juru bicara mereka. Jin Ki Hyeong hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan tersenyum aneh. Lalu Min Ho  hanya tertunduk. Mereka semua salah tingkah. Persis seperti maling yang tetangkap basah mencuri.

“Tenang Hyeong! Kami menyisakan beberapa untuk Hyeong. Kami hanya memakan masing-masing satu,” jelas sang ‘juru bicara’.

Sementara yang lain mengangguk mengiyakan, aku berjalan menghampiri kotak bingkisan spesialku. Tandas tidak ada yang tersisa. Bukankah Tae Min bilang menyisakan beberapa untukku? Tae Min yang ikut menyaksikan kotaknya kosong melompong sangat shock.

Hyeong aku yakin tadi masih ada?” dia terlihat mencoba menghitung. “Seharusnya tersisa tiga dari sembilan belas.”

Aku tahu pasti jumlah sembilas belas. Hitungan Tae Min seharusnya benar. Tetapi buktinya tidak ada yang tersisa, bahkan remah-remahnya pun tidak ada. Jantungku memompa darah dengan cepat. Andrenalinku serasa meningkat. Sepertinya aku akan  meledak sekarang.

“Yak… siapa yang makan lebih dari satu?” tanyanya.

Semua menggelengkan kepala mantap, kecuali Jong Hyun Hyeong yang  terlihat ragu. Aku dapat melihat mulutnya bergerak di balik maskernya. Noda coklat juga terlihat di beberapa bagian masker berwarna biru  tua itu. Dia mulai salah tingkah saat aku memelototinya.

Mian…,” ucapnya kurang jelas karena terhalang maskernya.

Sudah dapat disimpulkan, dialah yang menghabiskan semuanya. Ada apa dengannya? Mengapa dia sangat suka melihat aku kesal? Apa aku ada salah dengannya? Aku selalu menghormati privasinya. Hingga aku tidak pernah memegang barang sedikit pun benda-benda yang dia miliki di kamar. Benar. Kami tidur di kamar yang sama.

“Kalian semua,” aku akan meledak. “Semoga kalian sehat selalu. Semoga perut kalian tidak sakit. Semoga kalian tidak berubah jadi makhluk yang tidak punya hati dan selalu lapar.”

Aku memutuskan untuk segera meninggalkan  ruang latihan. Jangan sampai aku mengeluarkan kata-kata yang tidak mengenakan lagi dan membuat mereka saki hati. Sepertinya cukup aku yang sakit hati untuk saat ini. Aku mendengar dengan jelas mereka memanggilku dan mencoba meminta maaf. Tetapi aku tak acuhkan.

-WSS-

Tubuhku beristirahat dengan baik, tetapi otakku tidak. Bayangan kekecewaan yang aku dapatkan saat di ruang latihan tadi masih menghantuiku. Beberapa kali aku mencoba menghilangkan  dongkol di hatimu dengan memejamkan mata, menarik napas panjang serta menghembuskannya dengan perlahan. Kurang lebih mengikuti metode yoga, atau apalah namanya. Namun tetap saja tidak dapat menghilangkan stresku.

Mereka mungkin mencariku kemana-mana, berusaha meminta maaf. Di sinilah aku  sekarang,  tidur terlentang di ruangan kordi bersama beberapa kostum panggung dan  para aksesoris. Beruntung aku menemukan boneka berbentuk telapak kaki  yang cukup besar –entah milik siapa- dan menggunakannya sebagai bantal. Aku hanya sendiri di sini, para kordi sudah akau tutup mulutnya agar tidak memberitahukan siapapun tempatku  sekarang. Baru sekarang aku menyadari mereka tidak mondar-mandir lagi, mungkin sudah pulang.

Aku tidak ingat berapa lama sudah aku di sini.  Mencoba menenangkan diri dan berkutat dengan pikiran sendiri terkadang menghabiskan waktu yang sangat panjang. Sial, aku tidak membawa ponselku. Aku  buta akan waktu sekarang. Hanya satu keyakinanku, aku cukup lama di sini dan cukup sepi di luar.

Enggan untuk kembali menegakkan tubuh ini dan kembali hanya berpijak dengan kedua kaki. Namun aku harus tetap melakukannya. Mungkin sudah saatnya aku pulang. Mereka pasti sangat mengkhawatirkanku. Jika mengingat aku marah hanya karena makanan, sungguh kekanak-kanakan. Aku sangat konyol.

-WSS-

Hening, terlalu hening. Bukanlah  suasana yang biasa aku temukan di gedung SMent. Sepintas aku melirik jam dinding mewah  milik SMent yang terpampang jelas di ruang yang entah apa sebutannya. Yang aku tahu ruangan ini mirip kafe atau sejenisnya  karena perusahaan memperkerjakan barista di sini. Hal ini juga yang aneh, tidak ada barista yang seharusnya bekerja full time.  Ini baru jam 1 pagi, biasanya para manajer berkumpul dan berbincang satu-sama lain di sini.

Aku menekan tombol pada dinding lift menuju lantai dua. Tasku berada di sana, ruang latihan. Ketika aku menginjakan kaki keluar dari lift aku merasakn udara yang sangat dingin. Sepertinya penghangat ruangnya mati, atau  entahlah. Selain super dingin, lantai dua juga super sepi. Aku tidak bisa menemukan sedikit pun tanda adanya makhluk hidup.  Di mana semua orang berkumpul? Tidak mungkin mereka semua pulang.

Keadaan semakin aneh ketika aku masih menemukan barang-barang member SHINee yang lain bersama barangku  di ruang latihan. Itu berarti mereka belum pulang. Apakah mereka mencariku? Tetapi tidak mungkin hanya demi mencariku, satu perusahaan melakukannya. Tetapi kalau pun mereka mencariku, setidaknya aku berpapasan dengan mereka. Nyatanya  nihil, aku tidak pernah melihat satu orang pun.

Aku keluar dari ruang latihan berniat mencari mereka. Tasku dalam posisi yang nyaman di punggungku. Sesekali aku berteriak memanggil mereka. Tidak ada balasan. Sunyi senyap. Jangan katakan kalau mereka hendak mengadakan pesta kejutan untuk Luhan yang berulang tahun. Tetapi dia berulang tahun tanggal 20 April. Jadi, satu lagi hipotesisku  yang salah.

Akhirnya aku melakukan patroli. Setiap lantai aku telusuri. Mulai dari lantai paling atas  yang mirip dengan sky lounge, hingga lobby. Hasilnya tetap sama, tidak ada siapapun. Namun aku berani bersumpah, masih banyak mobil terparkir di luar sana. Bahkan mobil Jin Hyeong masih di luar. Ke mana semua orang? Aku mulai frustasi.

Otakku pun memberi saran untuk sebaiknya  pulang. Jujur aku sangat takut sekarang. Seluruh gedung memang terang benderang,  tidak ada nuansa mistis sama sekali. Tetapi dengan keadaanya yang sunyi senyap seperti ini, siapa yang tidak akan ketakutan dan memikirkan hal  yang tidak-tidak? Dan aku akui, aku sangat penakut.

Ting…!

Suara pintu lift terbuka. Perlahan aku menjulurkan kepalaku untuk menjawab rasa penasaranku. Kelebatan bayangan yang sangat cepat keluar dari  dalam lift. Bayangan itu tersungkur  saat tidak mampu mengontrol kecepatannya dan hampir menabrak dinding. Bayangan itu berlari ke arahku.

“Ki Bom-ah!” teriaknya sambil berusaha mengurangi kecepatan agar bisa tepat berhenti di depanku tanpa menubrukku.

“Min Ho-ya?” perlahan aku mundur, untuk jaga-jaga.

Dia berhasil berhenti tepat di depanku. Dia terlihat begitu berantakan. Setelan yang dia kenakan saat di Music Bank tadi terlihat compang-camping. Dia membungkuk 90 derajat untuk mengatur napas. Tangan kanannya berpegangan padaku sebagai penopang. Deru napasnya terdengar sangat jelas. Apa yang terjadi?

“Ki Bom-ah, gwaenchanayeo?” tanyanya, dia memang selalu memanggilku dengan nama itu.

Ne… apa yang terjadi? Kemana semua orang?”

“Kita harus keluar dari sini,” suara Min Ho terdengar bergetar.

“Apa yang terjadi?”

“Ki Bom-ah… mereka… mereka…,” Min Ho meneteskan airmata.

Aku semakin panik, “Kenapa dengan mereka?!!”

“Mereka berubah menjadi zombie.”

“Eeee?” dahiku berkerut, “Min Ho-ya, bukan saatnya bercanda.”

“Aku serius,” Min Ho mempererat cengkramannya pada kedua pundakku.

Dia memang serius. Aku mengenal ekspresinya saat berbicara yang sesungguhnya. Tetapi otakku tidak bisa mencerna dengan benar penuturannya. Zombie hanya ada di  lagu kami.  Bagaimana bisa sekarang menjadi kenyataan? Bagaimana ini semua bisa terjadi?  Banyak lagi pertanyaan yang berseliweran di otakku.

Kajja kita pergi!  Apalagi yang kamu tunggu?”  Min Ho menyeretku yang masih berusaha  melogikakan semuanya.

Aku dan Min Ho berhenti saat mendapati seorang gadis berdiri di depan pintu  masuk. Gadis itu berambut hitam panjang hingga punggungnya dan tergerai begitu saja. Dia mengenakan dress hitam selutut yang sangat simple. Semuanya terlihat jelas karena di dukung lampu yang super terang ini. Hanya saja aku tidak dapat melihat wajahnya karena sang rambut menghalangi.

“Min Ho-ya… siapa dia?” aku mulai ketakutan.

“Sial,”umpat Min Ho.

Dia meraih tangan kiriku, memutar badannya dan menyeretku untuk  ikut berlari, membatalkan niat untuk keluar dari gedung SMent. Mau tidak mau aku harus ikut berlari. Seperti biasa Min Ho berlari cukup kencang dan aku kepayahan untuk mengikutinya. Pada akhirnya aku kembali terseret.

Kami berhenti berlari ketika sampai di dalamn lift. Dia menekan tombol menuju lantai 8. Napas kami memburu, terdengar begitu  melelahkan. Aku yang paling kelelahan di sini. Lagi-lagi ada banyak pertanyaan yang muncul di otakku. Min Ho-lah yang mampu menjelaskan semuanya.

“Sial,” umpatnya lagi.

“Apa yang terjadi? Mengapa kita harus berlari dari gadis itu?”

Min Ho memandangku tajam, “Kamu tidak mengenalnya?”

Ani…,” aku  memang tidak tahu siapa gadis itu.

“Yakin tidak pernah melihatnya di suatu tempat?”

Anio… memang dia  siapa?”

Min Ho kembali  mengatur napasnya, “Lalu dari mana kamu dapatkan biskuit-biskuit itu?”

Chocolate cookies,” koreksiku dan dia melotot. “Staff Music Bank yang memberikannya padaku,  dia bilang ada fans girl yang menitipkannya.”

“Pasti dia.”

Nugu?”

Min Ho kembali memelototiku, “Yeoja di depan pintu masuk tadi.”

Aku ber-oh  saja. “Kamu mengenalnya?”

“Sebelumnya tidak, tetapi dua jam yang lalulah aku mengenalnya.”

Min Ho mulai menceritakan kejadiannya sejak aku marah dan memilih  pergi.  Benar dugaanku, mereka semua mengkhawatirkanku dan merasa bersalah. Tetapi bukan itu inti permasalahannya. Setelah selama 30 menit  berusaha mencariku hal aneh terjadi. Para SHINee dan EXO jatuh pingsan, kecuali Min Ho. Saat mereka membuka matanya –siuman, mereka tiba-tiba kejang-kejang. Seluruh penghuni perusahaan panik,tidak tahu harus berbuat apa.

Tidak perlu menunggu lama mereka kembali pingsan. Min Ho memberitahukan Jin Hyeong dan yang lain bahwa sepertinya mereka keracunan karena memakan chocolate cookies-ku. Mereka berniat untuk segera membawa para korban ke rumah sakit, tetapi hal aneh mulai terjadi  lagi.

Mereka yang pingsan siuman, namun mereka terlihat berbeda. Bola mata mereka berwarna hitam seluruhnya. Mereka mulai mengeluarkan suara-suara aneh. Tingkah mereka sangat aneh. Terutama ketika mereka tiba-tiba meraih apapun anggota tubuh orang di dekatnya kemudian mengigitnya. Tidak tanggung-tanggung, mereka mengoyak daging orang tersebut. Min Ho yang sigap berhasil kabur. Tetapi sayang bagi yang lain. Jadi sekarang, seluruh pegawai perusahaan yang kebetulan masih berada di  perusahaan telah berubah menjadi zombie.

“Tunggu…,” aku mengintrupsi cerita Min Ho. “Lalu mengapa kamu baik-baik saja?”

“Aku tidak memakan makanan terkutuk itu. Jin Ki Hyeong mengambil jatahku.”

Kami pun sampai di lantai 8. Min Ho bergerak hati-hati, sangat waspada. Jujur aku belum bisa percaya cerita Min Ho. Semuanya tidak masuk akal. Bagaimana bisa hal  tersebut terjadi? Dan penyebabnya adalah bingkisan spesial itu? Tidak dapat dipercaya.

“Lalu mengapa kita kabur dari yeoja itu?”

Min Ho menarikku menuju tempat yang menurutnya aman. “Aku melihat yeoja itu saat mereka semua berubah.”

“Bagaimana bisa dia masuk sesuka hatinya ke sini?”

Molla…  yang jelas dia  menghilang di waktu yang sama saat aku memastikan keadaan Tae Min.”

“Lalu bagaimana kamu bisa yakin dia fans girl itu?”

“Karena aku bertemu dia di ruang latihan saat mencarimu dan dia menawari aku biskuit terkutuk itu sambil tersenyum layaknya setan.” Min Ho terdengar frustasi.

Aku tersenyum mengejek, “Tidak masuk akal, semua ini tidak masuk akal.”

“Terserah mau percaya atau tidak. Sekarang kita hanya perlu berpikir bagaimana caranya keluar dari sini.”

“Aku akan meminta bantuan,” saranku.

“Percuma, mereka tidak akan percaya. Dan kalau pun mereka mau datang menjemput, sama saja dengan menyerahkan mereka untuk menjadi santapan zombie.”

“Kita harus keluar dulu dari sini, baru selamatkan yang lain,” Min Ho tertunduk. “Kita harus mengembalikan mereka seperti semula.”

-WSS-

Aku dan Min Ho beberapa kali menuju lobby sebagai jalan satu-satunya menuju pintu keluar. Tetapi selalu sia-sia, makhluk yang hanya aku lihat di film-film itu berkeliaran di sana. Sedangkan gadis itu tidak terlihat lagi. Satu lagi pertanyaan yang terlahir di otakku. Mengapa gadis itu melakukan ini semua?

Hampir saja aku dan Min Ho tertangkap. Napas terengah kami memecah keheningan malam. Kami kembali ke lantai 8, ke tempat persembunyian yang untuk sementara ini aman. Tidak ada tanda bahwa langit akan terang. Tidak terasa waktu baru berjalan satu jam sejak aku memutuskan pulang.

Min Ho melangkah gontai di depanku. Dia terlihat sangat lelah, begitu juga aku.  Bukanlah hal yang menyehatkan jika harus terus berlari di tengah malam begini. Rasa lelahku melebihi rasa lelah ketika harus  terus bekerja untuk persiapan album-album kami.

Bug…!

Sepertinya ada yang menghalangi jalanku. Tepat di depanku  Min Ho berhenti mendadak dan  membuatku harus mencium punggungnya. Aku hendak protes, namun aku urungkan. Wajahku pasti sama dengan Min Ho sekarang. Pucat pasi, mata membulat sempurna dan rahang mengeras. Bagaimana tidak? Gadis itu berdiri di depan kami.

“Yak…nuguya?!!!” teriakku  untuk menyembunyikan rasa takut.

Na-ya!”

“Aku tahu itu kamu. Ireumi mwoyeyo!!!?”kini aku lebih keras membentak.

Dia terkekeh, “Tidak perlu tahu namaku, karena kamu pasti sudah melupakannya.”

“Mengapa kamu melakukan ini, ha?” akhirnya akan ada yang bisa menjawab pertanyaanku itu.

Dia hanya terkekeh, “Harus memiliki alasan, eoh?” Dia terdiam dan berpikir. “Mungkin alasannya ada di masa lalu, permainan.”

Jawaban macam apa itu? Aku menarik tangan Min Ho, “Min Ho-ya… Kajja!”

Min Ho bergeming bagaikan batu. Dia terus saja berdiri tegap dan  menatap gadis misterius itu yang kini aku juluki ‘penyihir’. Benar saja, Min Ho seperti batu.  Aku mulai kesal karena dia tidak mau menurutiku dan bahkan tidak menjawabku. Aku harus segera menyadarkannya, mungkin saja dia terkena sihir gadis itu atau sejenisnya.

“Min Ho-ya!” aku mencubit lengannya.

Dia tetap bergeming. Apakah  ada yang salah dengannya? Ya. Ada yang salah. Aku menyaksikan dengan kepalaku sendiri kalau bola matanya berubah hitam sempurna. Dia menjadi  seperti mereka. Baru saja aku akan melarikan diri, Min Ho sudah menahan tanganku. Dia mencengkramnya sangat kuat. Aku mengaduh kesakitan.

“Min Ho-ya… sadarlah!!!” teriakku sambil meronta-ronta.

Min Ho mempererat cengkramannya. Tenagaku hampir habis, tetapi tidak mungkin aku menyerah begitu saja. Sialnya aku, ketika berhasil akan melepaskan cengkraman Min Ho dan  bersiap berlari di sekelilingku telah penuh oleh ‘mereka’. Aku mengenali mereka semua. Tae Min, Jin Ki Hyoeng, Jong Hyun Hyeong tanpa maskernya, dan korban yang lain. Mereka rupanya menularkannya pada karyawan SMent.

“Larilah!”

Aku menoleh dan mendapati Min Ho-lah yang membisikan kata-kata itu. Matanya kembali berubah putih walaupun hanya sebelah. Dia terlihat sangat menderita karena berusaha melawan hal aneh yang merasukinya.

“Larilah!” bisiknya lagi sambil melonggarkan  cengkramannya.

“Min Ho-ya?”

Mianhae…,” dia berkeringat sangat banyak dan terkadang menyeringai aneh. “Aku memakannya juga.”

Aku terbelalak, “Nde? Tetapi bukannya –.”

Dia tersenyum. “Aku membantu Jong Hyun Hyeong menghabiskan setengah biskuit itu, bagianmu; hanya setengah.”

“Yak!!!” pekikku.

Mata Min Ho kembali hitam sempurna. Ternyata ini alasan dia terus-terus berkeringat dan terkadang menggeram saat bersamaku. Dia telah menahan dirinya terlalu lama. Bodohnya aku tidak memanfaatkan kesempatan yang di berikan Min Ho.  Dia kembali mencengkram tanganku dan yang lain semakin mendekat. Aku menutup mataku.

“Tamatlah riwayatku,” gumamku untuk yang terakhir kalinya.

-WSS-

“Ki Bom-ah… ironae!”

Aku mendengar suara Min Ho. Aku yakin aku belum mati karena aku tidak merasakan sakit terkoyak-koyak. Apakah Min Ho kembali tersadar dan menyelamatkanku? Kini aku merasakan tubuhku di guncang dengan sangat kencang. Min Ho terus-terus memanggil namaku.

“Yak… ironae!!! Ini sudah siang!”

Kelopak mataku terbuka dengan cepat. Aku mendapati Min Ho duduk di sebelahku dan menatapku dengan bingung. Aku segera mengambil posisi duduk kemudian celingukan ke  sana- ke mari. Aku ada di kamarku dan Min Ho terlihat normal. Semuanya seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

“Kenapa kamu terlihat linglung begitu?” Dia beranjak dan melangkah keluar.

Beberapa detik kemudian Tae Min datang. “Hyeong… ada bingkisan untukmu. Keluarlah!”

Aku hanya mengangguk pelan. Perlahankan aku menapakkan kakiku pada permukaan lantai. Berdiri tegak dan melangkah terseok-seok menuju pintu kamarku yang akan terhubung langsung dengan ruang tengah. Tidak ada orang di sana, tetapi terdengar suara di dapur. Mungkin aku terlihat masih setengah terbangun saat mengambil tempat duduk di salah satu kursi kosong yang tersedia. Percakapan di sekitarku belum terdengar dengan jelas, hanya seperti gumaman yang mengganggu.

Hyeong… ini spesial untukmu!” Tae Min menyodorkan kotak yang cukup besar dan begitu familiar bagiku. “Bukalah!”

“Dari siapa?” suara pertamaku pagi ini terdengar parau.

“Minumlah…,” Jin Ki Hyeong menyodorkanku air mineral dan langsung aku teguk hingga tandas.

“Jin Hyeong yang mengantarkanya tadi pagi sekali,” jelas Tae Min lagi.

Aku hanya menganguk dan tidak  tertarik pada benda yang baru saja di sodorkan Tae Min. Aku masih bingung. Apakah aku hanya bermimpi tentang  zombie atau apalah jenisnya itu? Syukurlah kalau itu semua hanya mimpi. Mungkin aku hanya terbawa mimpi karena konsep lagu kami yang akan di tampikan secara langsung hari ini.

“Satu jam lagi kita berangkat!”Jin Ki Hyeong mengingatkan.

“Bukannya terlalu cepat?” protesku.

“Ki Bom-ah… ini sudah jam sembilan pagi,” Min Ho menaruh semangkuk dakjuk di hadapanku. “Mogo!”

“Siapa yang membuat ini?”

“Jong Hyun Hyoeng memesannyaa pagi-pagi sekali,” sambar Tae Min. “Karena Hyeong masih tidur, tidak ada yang membuat sarapan. Dan Jong Hyun Hyeong melarang kami membangunkan Hyeong.”

Aku melirik Jong Hyun Hyeong yang berpura-pura memperhatikan yang lain. Aku terkekeh,  rupanya dia berniat membuat aku senang pagi ini. Baiklah. Aku sangat senang dan berterima kasih. Aku sedang mereka semua baik-baik saja.

Hyoeng… coklat, biskuit!” pekik Tae Min.

“Berbentuk kepalamu plus wajahnya. Mirip  sekali!”

Penjelasan tambahan dari Jin Ki Hyeong membuat aku  tersedak. Mereka sontak panik dan segera mambantuku. Lega rasanya ketika susu hangat mengalir di kerongkonganku. Namun aku belum benar-benar lega. Aku harus memastikan wujud bingkisan yang di peruntukan untukku itu.

“Lihat!” Nada suaraku sedikit memerintah.

Tidak mungkin. Bingkisan itu sama persis dengan yang ada di mimpiku. Dari bungkus, isi, bentuk, bahkan aromanya.

“Pengirimnya…,” Jin Ki Hyeong terlihat membaca secarik kertas kecil berwarna putih.

“Aku akan mencicipinya,” Tae Min.

Na-ya?”  Jin Ki Hyeong.

Suara mereka berdua mengudara bersamaan. Suara Jin Ki Hyeong terngiang lebih lama di otakku. Seperti  gerakan di perlambat, aku segera meraih tangan Tae Min yang akan segera memasukkan  isi bingkisan itu ke mulutnya.

Andwae…!!!!”

THE END

Nb: AUTHOR POV

Gadis itu berdiri dengan kepala mendongak, hampir lurus menghadap langit. Tetapi sebenarnya tatapannya itu ditujukan pada bangunan yang menjulang dengan tinggi di hadapannya. Entah berapa lama dia berdiri di situ. Mungkin sejak matahari baru saja mengintip dari punggung bukit. Dia memang selalu melakukan hal ini. Di tempat dan waktu yang sama. Mungkin telah menjadi kegiatan rutinnya.

Angin bertiup dengan pelan, menerbangkan rambut  hitam sepunggungnya. Dress hitam selutut berbahan sifonnya juga tidak luput dari terpaan sang angin. Gerakan lembut rambut dan dress-nya  seirama dengan hembusan angin. Dia sangat menyukai saat-saat seperti ini. Dinginnya belaian jemari-jemari tak berwujud itu tidak pernah  mampu mengusiknya.

Dia hampir saja melupakan tujuannya ke sini. Beruntung deru mobil yang baru saja terparkir di bangunan yang sempat menjadi pusat perhatiannya itu, mengembalikan kesadarannya. Kaki mungilnya melangkah dengan terburu-buru, menghampiri mobil itu.

“Manajer Jin!” panggilnya namun tidak cukup keras.

Tenyata dia mendengarnya dan menoleh dengan cepat. “Nde?”

Annyeong haseyeo,” sapanya ramah.

Manajer Jin memperhatikan dengan sesama gadis mungil di hadapannya ini. Kemudian dia melirik jam tangannya, pukul enam pagi. Sasaeng fans, pikirnya. Jelas terlihat dari kenekatan si gadis melawan hawa dingin yang sangat ini. Dia tidak mengenakan jaket sama sekali, padahal angin bertiup cukup kencang. Manajer Jin yang notabenenya pria saja tidak mampu berkutik dari hawa dingin walaupun sudah mengenakan jaket tebal.

Annyeong haseyeo,” balasnya. “Ada perlu apa?”

“Bisa tolong berikan ini pada Ki bom?”

Manajer Jin mendelik mendengar gadis berbusana serba hitam itu memanggil Key-nya dengan begitu akrab. “Nde?”

“Aku mohon dengan sangat,” gadis itu memelas.

“Baiklah!”

Bingkisan itu telah berpindah ke tangan Manajer Jin. Manajer Jin mencoba membalas senyum gadis itu. Tidak biasanya dia akan menerima barang dari para fans. Tetapi melihat wajah gadis manis di hadapannya ini, dia luluh seketika.

gamsahamnida, jeongmal gamsahamnida.”

Ne… cheonma,” jawab Manajer Jin ragu.

Setelah mengucapkan terima kasih gadis itu berlari, meningalkan Manajer Jin sendiri. Manajer Jin hanya melongo, baru saja dia akan menanyakan siapa gadis itu. Tetapi rupanya dia harus menyimpan pertanyaan itu. Gadis itu sudah lenyap dari pandangannya. Manajer Jin memutuskan untuk segera masuk karena dia sudah tidak tahan dengan dingin ini.

Dia –gadia misterius- berhenti berlari dan menggantinya dengan berjalan santai. Napasnya sangat tidak teratur, tetapi tidak menghalanginya untuk tetap mengembangkan senyumnya. Dia tertawa terkekeh. Semakin lama tawanya semakin tidak enak di dengar. Sembari berjalan, dia memandangi secarik kertas. Lebih tepatnya foto yang sudah usang.

“Kamu tersenyum padaku, Ki bom-ah?” dia berbicara pada foto itu. “Kamu bilang ingin terus bermain denganku. Aku sudah mengirimu permainan yang cukup menegangkan. Nikmatilah! Aku yakin permainan ini sangat cocok untukmu sekarang. Ki Bom-ku sudah tumbuh dewasa bukan?” dia kembali terkekeh.

Really END