Tags


You're not a bad boy, kwangmin ver

Title                       : You’re Not a Bad Boy, Kwangmin ver.

Author                  : Chanyeonie

Genre                   : Sad, Angst, (little) Action.

Rating                   : General

Length                  : One-Shot

Casts                     : You a.k.a Oh Jang Mi| Jo Kwang Min.

Support Casts    : Kim Jong Hyun (SHINee-OOC)| Lee Jung Hwan (Sandeul-B1A4)| and others.

Warning              : Ada adegan kekerasan dan kata-kata yang mungkin tidak mengenakan, jadi mohon kebijaksanaannya.

ooOoOoo

Siang ini aku sedikit sibuk, menyibukan diri. Beberapa jam lalu aku mendapatkan e-mail dari temanku yang bekerja di salah satu toko roti terkenal di Prancis. Dia mengirimiku resep baru kue yang menjadi andalan toko roti tersebut. Aku yang notabenenya sangat suka memasak tidak dapat lagi mengulur waktu untuk mencoba resep baru itu. Setelah menghabiskan waktu hampir satu jam berbelanja bahan pembuat kue, di sinilah  aku sekarang –dapur- bersiap memulai eksperimenku.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana  reaksinya nanti ketika mencicipi kue buatanku. Pipiku  sedikit memanas –bersemu merah- membayang ekspresinya. Sesekali aku akan bersenandung kecil disela-sela kegiatanku membuat kue. Udara di luar terasa  begitu sejuk dan menenangkan. Dapur di rumahku  memang langsung terhubung pada taman belakang rumah. Aroma khas taman di  siang hari menenangkan hati,sangat damai.

Klek…! Terdengar seseorang membuka pintu depan rumahku. Aku tak acuh, karena aku tahu siapa yang biasanya masuk ke rumahku tanpa permisi. Kemungkinannya hanya tiga; maling, perampok dan sahabat tebaikku, Choi Chan Yeon.

“Jang Mi-ya!!!” teriaknya. Tepat dugaanku, itu memang dia.

Ne… aku di dapur,” sahutku dengan suara yang cukup kencang.

“Jang Mi-ya… gawat, masalah besar. Gawat!!!” jeritnya tidak jelas dengan napas tersengal.

Aku hanya tersenyum nakal. Dia mulai lagi, kebiasaannya yang selalu membuat orang lain panik. “Tarik napas dulu,” pintaku datar.

“Jang Mi-ya, gawat!”ulangnya lagi tetapi  kini napasnya mulai teratur.

Mwoya?” aku mengambil kue yang sudah matang dari dalam oven.

“Kwang Min membuat  masalah lagi,” sambarnya dengan napas yang kini telah normal.

ooOoOoo

Author POV

Mwoya?” jawabnya sambil mengambil kue yang sudah matang dari dalam oven.

“Kwang Min membuat masalah lagi,” sambar Chan Yeon dengan napas yang kini telah normal.

Prang….!

Loyang yang baru saja  diambil Jang Mi dari dalam oven terjatuh. Kue-kue  yang sebelumnya berada di  permukaan loyang tersebut berceceran di lantai. Jang Mi masih berusaha mencerna kalimat yang baru saja  memasuki liang telinganya. Semoga dia hanya salah dengar.

“Kwang Min berkelahi dengan Jong Hyun sunbae,” jelas Chan Yeon.

Tanpa pikir panjang lagi, Jang Mi melepas sarung tangan dan apron yang dia kenakan dan berlari menuju pintu depan. Dia berlari dengan kencang di trotoar jalan yang entah mengapa cukup padat. Rumahnya dan Kwang Min hanya berjarak satu blok. Berlari ke sana lebih cepat dari pada harus menggunakan bis.

Sesekali dia akan menabrak orang di trotoar dan mendapatkan umpatan kesal. Jang Mi tidak peduli, dia terus saja berlari. Satu-satunya hal yang memenuhi otaknya adalah bagaimana keadaan Kwang Min. Jang Mi tidak habis pikir, mengapa Kwang Min masih mau berurusan dengan Jong Hyun yang notabenenya adalah berandalan di lingkungan kampus mereka.

Din…Din…Din!

Mobil melaju dari arah kanan Jang Mi. Jang Mi tidak peduli dan terus saja menyebrang, akhirnya mobil itu menyerepetnya dan membuat dia sedikit terpental ke sisi jalan. Lutut dan siku Jang Mi lecet, namun dia tidak mempedulikannya dan kembali berlari menuju rumah Kwang Min.

Lima belas menit kemudian, tibalah Jang Mi  di rumah Kwang Min. Seperti biasa rumah itu sangat sepi. Rumah yang sangat besar itu  hanya ditinggali oleh Kwang Min dan tiga orang pembantunya. Sedangkan kedua orang tuanya,tidak pernah singgah di rumah lebih dari tiga jam. Faktor itulah yang membuat Kwang Min seperti sekarang.  Bahkan keadaannya lebih menyedihkan –dalam arti lain- sebelum dia bertemu dengan Jang Mi.

ooOoOoo

Sesekali dia akan merintih kesakitan ketika handuk kecil yang telah dibasahi oleh air dengan antiseptic menyentuh pelan  memar di ujung bibirnya. Tangan kanannya yang bebas tidak pernah berhenti menekan remote televisi dan terus mengganti channel. Tidak ada satupun acara yang dapat memfokuskan dirinya. Semuanya membosankan –seperti biasa.

“Hiks!” isak seseorang yang membuat Kwang Min sedikit terperanjat.

Kwang Min menatap sosok di depannya dengan tatapan tidak percaya. “Jang Mi-ya?”

Pundak Jang Mi naik turun menahan tangisnya. Ada kelegaan di hatinya mendapati pemuda itu dalam keadaan baik-baik saja. Maksudnya, tidak separah yang dia bayangkan. Kwang Min masih melongo. Dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi.  Mengapa Jang Mi tiba-tiba ada di rumahnya dan menangis tersedu?

“Jang Mi-ya… wae geuraeyeo?” dia beranjak  dan menghampiri Jang Mi.

Jang Mi mengusap bulir airmata yang mengalir di pipinya, “Nappeneum!” gumamnya.

Mwoyae?” Kwang Min memperhatikan Jang Mi dari kepala hingga ujung kaki. “Uljima…”

Neun –.”

“Yak… mengapa lutut dan sikumu? Apa yang terjadi?” Kwang Min panik mendapati luka dengan darah segar di beberapa bagian tubuh Jang Mi.

Jang Mi menepis tangan Kwang Min kasar, “Jangan mengalihkan pembicaraan. Sekarang yang harus bertanya adalah aku. Mengapa kamu berkelahi dengan Jong Hyun Oppa. Bukankah aku sudah melarangmu untuk  tidak berhubungan lagi dengannya? Apa kamu ini mau pamer kekuatan, hah?!!!” Jang Mi marah besar.

“Jang Mi-ya… aku –.“

“ –mwo? Kamu mau beralasan apa lagi? Kenapa  kamu harus mencari masalah dengannya? Aku tidak mau kalau sampai –,” Jang Mi tidak dapat menyelesaikan perkataannya. Sesak di dadanya membuat dia sulit bernapas. “ –aku tidak mau –,” tidak dapat terbendung lagi, tangis Jang Mi meledak seketika.

Kwang Min semakin panik. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Apa yang bisa dia lakukan untuk menenangkan gadis tambatan hatinya itu? Hanya satu yang tersirat di  kepalanya. Dia segera mendekap Jang Mi ke dalam pelukannya. Membelai rambut Jang Mi lembut, berharap bisa sedikit  saja menenangkan hati Jang Mi.

Uljimamianhae.  Aku janji tidak akan melakukan hal itu. Aku janji!”

Jang Mi meronta, dia sangat kesal sekarang. “Kamu selalu bilang akan berjanji. Tetapi kamu selalu melanggarnya.”

Mianhae…kali ini aku sungguh-sungguh akan menepati janjiku.” Kwang Min melepaskan pelukannya dan menatap Jang Mi, “Uljima… sekarang lebih baik obati lukamu dulu.”

Author POV END

ooOoOoo

Dia dengan telaten dan hati-hati membersihkan luka yang ada di lututku. Sesekali aku hanya meringis menahan perih ketika kapas basah itu menyentuh lukaku. Berbarengan dengan itu dia akan meminta maaf dan meniup pelan lukaku, berharap untuk mengurangi sedikit rasa perih.

Aku pun tidak menduga. Ternyata aku mendapat cukup banyak luka saat terserempet mobil tadi. Kekhawatiranku padanya membuat aku tidak merasa sedikit pun sakit pada tubuhku. Benar, hanya dia yang mampu membuatku menjadi begini.  Lupa akan segalanya, bahkan yang berkaitan dengan diriku sendiri.

“Kwang Min-ah!” panggilku setengah berbisik.

“Emm…,” dia masih sibuk menempelkan plester luka pada  beberapa bagian tubuhku yang terluka.

“Mengapa kamu berkelahi dengan Jong Hyun Oppa?”

Dia mendongak –karena duduk lebih rendah dariku- dan tersenyum lembut. “Karena aku mencintaimu.”

Nde?” aku mengeryitkan dahi.

“Dia memberi aku pilihan. Menerima tantangan balapan motor dengannya dan taruhannya adalah dirimu. Jika aku menang, kamu tetap jadi milikku. Dan jika kalah –.”

Aku segera menyambar, “ –aku  harus menjauh darimu?”

Ne…”

“Lalu, kamu menuruti keinginannya?”

Dia mengangguk kecil sambil kembali membersihkan lukaku yang lain, “Aku tidak punya pilihan lain.”

“Jadi?” jawaban yang aku terima belum menjelaskan semuanya.

“Aku melakukan balapan motor lagi. Aku berhasil memenangkan balapan itu. Otomatis hadiahnya menjadi milikku. Aku tidak akan pernah melepaskanmu demi apapun, karena hanya kamu yang aku miliki; karena aku sangat mencintaimu.”

Ucapannya itu sempat  membuat amarahku menghilang –melumer, tetapi aku segera sadar. Aku tidak akan luluh. Amarahku tidak akan semudah itu lenyap dengan kata-kata manisnya. Walaupun sebenarnya, tidak dapat terelakkan bahwa hatiku meletup-letup dan kupu-kupu berterbangan ke sana- ke mari di dalam perutku.

Aku kembali mendengus kasar. “Lalu mengapa kamu bisa terluka seperti ini?” aku menekan pipi kanannya yang lebam.

“Auch!” dia meringis kesakitan. “Apheuda!!!” pekiknya.

“Katakan,  mengapa kamu bisa mendapatkan luka ini?!” tanganku  sudah berada di pinggang –mirip cangkir- dan mataku melotot dengan sempurna.

“Seperti yang kamu katakan sebelumnya,” dia menjawab ragu. “Kami akhirnya berkelahi.”

“Jangan katakan kamu yang terlebih dahulu memulai?”

Lama Kwang Min terdiam. Kini kedua tanganku telah terlipat sempurna di depan dada. Aku menghitung hingga dua puluh  di dalam hati. Tetap  tidak ada suara darinya. Dia hanya menunduk lesu, menghela napas. Sepertinya sedang mencoba mencari alasan yang tepat.

“Kwang Min-ah!” aku  mulai tidak sabaran.

Ne, aku yang memulai duluan.”

Otakku  serasa mendidih. Sudah kuduga, dia pasti yang membuat masalah terlebih dahulu. Kapan dia  akan berhenti melakukan semua ini? Kapan dia akan  berhenti balapan motor  dan berkelahi? Haruskah aku menyerah? Haruskah aku menyerah pada cintaku hanya karena sifat kekanak-kanakannya itu?

Mianhae, Jang Mi-ya. Aku –,” dia terdiam tiba-tiba.

“Mengapa kamu harus berkelahi dengannya? Tidak pernahkah kamu  mau mendengarkanku? Kamu sudah menang darinya, lalu mengapa harus berkelahi?” aku menutup wajahku dengan kedua tangan sejenak –beberapa detik.

Mianhae,” bujuknya.

Aku mencoba menenangkan diri, sedikit mengurangi rasa  sesak  di dada. “Aku  marah  bukan untuk membela Jong Hyun Oppa. Dia memang saudaraku –saudara tiri. Tetapi   yang terpenting itu kamu.  Aku tidak mau kamu berhubungan dengannya. Aku sangat mengenal dia. Aku tidak ingin kamu terluka. Aku tidak mau kehilanganmu,” jelasku panjang lebar.

Nan arayeo.”

“Jadi kamu yang memulai? Wae?” aku masih butuh penjelasan.

Dia segera membereskan segala isi dari kotak P3K itu. “Sudah beres, aku antar pulang!” dia nyengir kuda.

“Kwang Min-ah… wae? Beri aku alasan logis, mengapa kamu berkelahi dengannya?”

“Hanya masalah kecil,” dia terdiam sejenak. “Dia tidak mau mengakui kekalahannya.”

Tidak, bukan itu alasannya. Dia menyembunyikan sesuatu  dariku. Aku yakin ada hal yang dia sembunyikan dariku. Dia tidak pernah pandai berbohong, aku sangat tahu itu. Gelagatnya saat berbohong begitu jelas. Mengalihkan pembicaraan, tidak berani menatapku dan berbicara dengan intonasi yang rendah. Aku menghafal semua itu di luar kepala. Dua tahun bersamanya adalah waktu yang cukup untuk mengenali segala tabiatnya.

ooOoOoo

Beberapa hari ini aku harus  terus menahan kesal. Jong Hyun Oppa kembali tinggal di rumah. Mungkin dikarenakan ayah –ayah tiriku- pulang.  Ayah yaitu Tuan Kim sendiri adalah pengusaha real estate yang hanya tiga bulan sekali pulang ke rumah. Sejak aku  dan almarhum ibuku tinggal di kediaman mereka, Jong Hyun Oppa  tidak pernah tinggal di rumah super besar ini lagi. Dia memilih untuk tinggal di  salah satu apartemen keluarga Kim dengan dalih ingin hidup mandiri. Dan sesekali akan menginap jika ayah pulang.

Oppa…,” panggilku sedikit ragu.

Dia menghentikan langkah kakinya dengan enggan. Sejak kejadian dia dan Kwang Min berkelahi, setiap aku meminta penjelasan darinya; dia akan  menghindar dariku. Entah apa yang dia sembunyikan, begitu juga  Kwang Min. Untuk pertama kalinya aku bisa menyaksikan kekompakan mereka.

“Aku ingin bicara,” aku menatapnya dengan tatapan memohon.

Dia mendengus dan memalingkan wajahnya  sejenak. “Jo Kwang Min?”

“Emm…,” aku mengangguk kecil. Dia bisa membaca pikiranku rupanya.

“Aku hanya ingin kamu dan dia tidak lagi berhubungan, hanya itu.”

Aku menatapnya tidak percaya. Mengapa alasan itu lagi? Mengapa dia ingin aku dan Kwang Min berpisah?

Wae? Kenapa aku harus mengikuti perintah Oppa?” tanyaku kesal.

Dia menatapku dengan rahang mengeras. “Karena aku –.” Dia terdiam dan terlihat berpikir. “ –aku adalah Oppa-mu. Aku tahu apa yang terbaik untukmu.”

“Apa yang salah dengan Kwang Min? Lagian sejak kapan Oppa mempedulikan orang-orang yang berhubungan denganku?”

“Sudahlah… kamu tidak akan mengerti.” Dia memunggungiku dan berlalu pergi.

Oppa…!” panggilku.

Jong Hyun Oppa sama sekali tidak memutar badannya ataupun berhenti melangkahkan kakinya.  Dia hanya mengangkat tangan kanannya ke udara seolah mengatakan selamat tinggal atau sampai bertemu lagi. Gayanya itu membuat aku muak.

Aku memang tidak pernah akur dengannya. Kami selalu bertengkar sejak ibuku dan ayahnya menikah dua tahun yang lalu. Aku selalu memilih menangis di taman distrik yang berjarak tidak terlalu jauh dari rumahku. Di sanalah aku bertemu dengan Kwang Min. Mengapa dia membenciku? Mungkin karena dia tida menyukai ibuku dan tidak suka sang ayah membagi kasihnya padaku. Aku sama sekali tidak menemukan sosok seorang kakak padanya.

ooOoOoo

Author POV

Kwang Min dan teman-temannya mengemudikan masing-masing motor mereka dengan kencang di  jalan raya yang cukup padat. Mereka terburu-buru untuk sampai di suatu tempat. Beberapa umpatan kasar para penghuni jalan mengiringi aksi mereka di  jalanan. Polisi lalu lintas yang melihat aksi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka terlalu cepat, dan nekad.

Jelas tergambar di benak Kwang Min benda yang dia terima tadi pagi   di rumahnya. Benda itu sudah tidak berbentuk lagi sekarang. Dia telah menghancurkannya menjadi debu –membakarnya. Tertera dengan jelas siapa pengirim benda itu.

Terukir di ingatannya  wujud benda itu. Beberapa lembar kertas dengan cetakan gambar di permukaannya. Gambar dengan kualitas bagus, sehingga bisa dengan jelas menunjukkan wujud dari gambar tersebut. Bahkan orang rabun pun dapat dengan jelas melihat gambar itu. Lalu bagaimana bisa Kwang Min tidak mengenali pemeran dalam gambar itu?

Mengingat gambar apa  yang harus dia lihat itu membuat kepalanya mendidih dan hatinya teriris-iris. Dia merasa sangat dilecehkan. Bukan. Bukan dirinyalah yang menjadi permasalahan, tetapi seseorang yang menempati hatinya itu.  Semua ini pasti bukan keinginanya. Ini semua hanya ulah berandalan itu.  Dia tidak akan memaafkannya.

Author POV END

ooOoOoo

Seluruh indraku serasa mati rasa. Aku tidak bisa merasakan apapun, kebas. Pukulan yang baru saja aku terima berhasil membuat aku tumbang dan tidak mampu berdiri lagi. Aku membutuhkan bantuan untuk saat ini, aku sangat membutuhkannya. Cukup  bantuan untuk menyangga diriku agar mampu berdiri lagi.

Aku mencoba terlihat tersenyum dan baik-baik saja. Aku menarik napas sejenak, menenangkan diriku. Pria paruh baya yang kini duduk di hadapanku sepertinya sangat mengerti bahwa aku membutuhkan sedikit waktu. Sunyi senyap, segala kegaduhan yang terjadi di sekelilingku tidak dapat mengusik saraf pendengaranku.

Appa…,” akhirnya aku berhasil menghilangkan benda yang sedari tadi mencekat kerongkonganku.

Tuan Kim –pria paruh baya- menatapku dengan begitu lembut. “Appa akan mendengar penjelasanmu. Appa yakin  ini semua  tidak benar. Appa mengenal betul dirimu.”

Aku tersenyum padanya, mencoba senatural mungkin. Dia memang ayah yang bijaksana, baik bagiku maupun siapapun yang mengenalnya. Dia selalu mau mendengarkan orang lain sebelum memutuskan sesuatu. Dia adalah pendengar yang baik.

Appa semua itu tidak benar. Aku tidak pernah melakukannya. Aku  memang tidak  tahu bagaimana foto-foto ini bisa ada. Tetapi aku bersumpah, aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak mungkin melakukan itu.”

Pertahananku mulai hancur. Cairan bening itu sudah mendesak ingin keluar dari mataku. Kerongkonganku kembali tercekat. Dadaku serasa dihujam oleh beribu pukulan keras. Aku tertunduk, mencoba menyembunyikan wajahku yang aku yakin terlihat begitu menyedihkan. Akalku masih sadar, tidak mungkin aku lepas kendali di tempat ini –restoran.

“Jang Mi-ya…sudah jangan di pikirkan. Ini pasti hanya keusilannya saja. Appa akan berbicara dengannya.”  Ayah melirik jam tangannya. “Appa ada urusan sekarang. Kamu sebaiknya pulang dan beristirahat. Aku  percaya padamu. Kelakuan gila anak ini  tidak akan pernah Appa maafkan. Dia memang keterlaluan. Bagaimana bisa dia memintamu, yeodongsaeng-nya sendiri? Dasar anak kurang ajar.”

Aku hanya mengangguk kecil. Ayah beranjak dari kursinya, begitu juga aku. Dia mencoba menenangkanku dengan mengusap puncak kepalaku dan tersenyum manis padaku. Aku hanya bisa membalas dengan  senyum yang dibuat-buat.

“Jang Mi-ya…,”

Aku menatapnya, “Nde?”

“Kamu tetap anak perempuanku. Mian, selama ini Appa tidak bisa menjadi seseorang yang baik untukmu. Appa akan urus semuanya.”

Senyum ayah kali ini benar-benar membuat berbagai emosi di hatiku membuncah.  Ingin sekali aku berlari kepelukannya dan menyatakan betapa sayangnya aku padanya. Bagaimana besar rasa terima kasihku padanya. Dialah ayah terbaik di dunia.

ooOoOoo

Setelah beberapa menit lalu hanya duduk dan terdiam di dalam bis. Kini aku kembali mengembangkan senyumku dan melangkah dengan riang menuju rumah Kwang Min. Aku sangat merindukannya. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padanya, kecuali persoalan yang baru saja membuat aku hampir mengutuk ketidakadilan hidup ini. Persoalan itu memang seharusnya di sembunyikan darinya.

“Jang Mi-ya?!!!” panggil  seseorang dengan suara yang terlampau keras.

Aku menoleh  ke belakang dan mendapati  seseorang dengan motor berwarna putihnya. Menurutku ukuran  motor itu terlalu besar untuknya. Sang pengemudi  segera melepas helm yang sedari tadi menghalangiku untuk mengetahui wajah di balik helm itu. Senyum khas pemuda itu memang selalu membuat aku ingin tertawa terpingkal-pingkal.

Mwoya,  Lee Jung Hwan? Kamu mau memamerkan motor barumu?”  godaku.

Dia mengerucutkan bibirnya, “Ada masalah dengan motorku?”

Anio, hanya aneh saja mengakuimu sebagai pengemudi motor itu.”

“Aish…,” dia memelototiku.

Mian.”

Tiba-tiba dia menepuk dahinya sendiri, sepertinya dia baru ingat sesuatu. “Gawat, Jang Mi-ya. Gawat!”

“Kamu  ini seperti Chan Yeon. Gawat bagaimana?”

“Sebaiknya kamu ikut aku sekarang, aku akan menjelaskan segalanya nanti.”

Aku menggeleng kencang, “Aku mau menemui Kwang Min. Mian,” tolakku halus.

Dia berdecak kesal. “Palli, aku akan membawamu padanya. Dia tidak ada di rumahnya.”

Otthoke arayeo?Jinja?”

Nan arayeo, palli!”

Ne,” aku menuruti keinginannya.

Pikiran negatif mulai menjangkiti otakku. Apakah terjadi hal buruk lagi pada Kwang Min? Tidak. Semoga hanya perasaanku saja.  Dia  sudah berjanji tidak akan membuat masalah lagi. Aku percaya janjinya itu. Aku  yakin dia tidak akan mengingkarinya lagi.

Jung Hwang mengemudikan motornya dengan cepat. Memang tidak secepat Kwang Min, tetapi  menurutku mengemudikan motor dalam kecepatan ini termasuk gila. Aku berpegangan dengan erat pada jaketnya tanpa sedikitpun berniat memperkecil jarakku dengannya. Beberapa kali dia berteriak meminta aku untuk berpergangan dengan erat, tetapi menurutku ini sudah cukup erat.

“Bukankah ini menuju –.”

Aku mengenali jalan yang  kami lalui sebagai satu-satunya rute menuju tempat berkumpulnya Jong Hyun Oppa  dan teman-temannya. Aku pernah beberapa kali ke sana. Kita akan memasuki  daerah kekuasaannya, dia dan teman-temannya  memang geng motor yang cukup memiliki nama di Seoul. Firasat burukku sepertinya akan menjadi kenyataan.

ooOoOoo

Author POV

Suara gesekan ban dan aspal terdengar begitu keras, bahkan terlihat kepulan asap bersamaan dengan suara itu. Kwang Min segera melepas helmnya ketika sang motor telah diistirahatkan dengan sempurna. Dia dan beberapa temannya tidak mau mengulur waktu lagi. Mereka segera bersiap dan berjalan bergerombol mendekati  gerombolan pemuda yang jumlahnya tidak kalah banyak dari mereka.

Gerombolan pemuda-pemuda –yang dihampiri Kwang Min dan yang lain- rupanya telah menyadari  kedatangan mereka sejak lama. Mereka bahkan telah menduga Kwang Min akan datang dengan gengnya untuk menantang mereka. Pemimpin dari gerombolan itu  menampakan dirinya.

“Oh… kamu sudah menerima hadiah tambahan dariku?”

Kwang Min mencoba tenang, “Apa maksud semua itu? Apakah kekalahanmu tempo lalu tidak cukup, Kim Jong Hyun?!!” Kwang Min mulai geram.

Jong Hyun terkekeh. “Aku bertanya, apakah kamu suka hadiah dariku? Apa kurang banyak?”

Kwang Min hanya terdiam. Kedua tangan di sisi tubuhnya mengepal dengan kuat, hingga kedua kepalan tangannya memerah. Teman-temannya yang lain juga tidak jauh berbeda. Mereka sangat tidak suka dihina seperti itu.

“Kamu  pasti mau tahu,  bagaimana aku melakukannya?”

“Kim Jong Hyun!!!” teriak Kwang Min.

“Sangat mudah…,” Jong Hyun menunjukan seringainya. “Aku dan Jang Mi saling mencintai, bukan sebagai kakak dan adik. Jang Mi tidak menolakku sama sekali. Dia malahan senang. Kami melakukannya dengan sangat senang. Kami menikmatinya.”

“Cih… cerita karanganmu sangat bagus!” Kwang Min tidak mau terlihat mengalah.

Jong Hyun tertawa terbahak. “Kamu masih sangat polos, Kwang Min-ah. Apa semua  bukti itu terlihat sebagai sebuah karangan? Ini semua nyata. Ah… aku tahu, kamu pasti tidak tahu bagaimana rasanya.”

“Tutup mulutmu!!!”

“Jang Mi selalu menolakmu? Tentu saja, karena bunga mawarku itu hanya mencintaiku.” Jong Hyun mendekatkan wajahnya pada wajah Kwang Min. “Dia adalah milikku.”

Rahang Kwang Min mengeras. Dia tahu Jang Mi bukan gadis semacam itu. Jong Hyun pasti telah menjebaknya. Jang Mi hanya mencintainya. Jang Mi  tidak akan menghianatinya bahkan demi pemuda angkuh di hadapannya itu.

Wae? Kenapa kamu terdiam? Sebaiknya sekarang kamu pulang dan lupakan saja Jang Mi,” Jong Hyun menyapukan punggung tangannya pada  jaket yang dikenakan Kwang Min. “Tenang saja, aku akan mengundangmu di acara pernikahan kami. Dan sebagai penghormatan atas jasamu selama ini yang selalu membuat Jang Mi-ku bahagia. Kami akan memberi nama Kim kecil yang kini tengah berusaha tumbuh di dalam tubuh Jang Mi dengan namamu.”

Mwo?” Kwang Min membelalakan matanya.

“Kim kecil pasti akan memanggilmu dengan sebutan ‘Ahjusshi’. Tenang saja…”

“Hentikan bualanmu, Kim Jong Hyun!!!”

Buggg…!

Sebuah pukulan keras menghantam pipi kiri Jong Hyun. Pukulan itu tidak tanggung-tanggung, karena dia bisa terjerembab dan mencium tanah seperti itu. Sudut bibirnya mengeluarkan darah dan menyisakan perih yang cukup untuk sedikit mengeluarkan ringkihan  Jong Hyun.

Kwang Min gantian terkekeh. “Kamu memang pandai mengarang cerita. Mungkin kamu perlu beralih profesi menjadi pengarang novel. Aku tahu semua itu hanya kebohongan, imajinasimu saja.”

“Brengsek!”umpat Jong Hyun.

“Aku menemuimu hanya untuk mengatakan bahwa aku tidak pernah akan terpancing olehmu. Aku percaya Jang Mi. Aku kasihan padamu. Orang macam apa yang tega menghianati yeodongsaeng-nya. Dasar licik.”

Jong Hyun segera berdiri sambil sesekali meringis kesakitan. Tatapan benci dan menusuknya dipersembahkan khusus untuk Kwang Min.Tidak menunggu lama, dia berlari ke arah Kwang Min dan hendak melayangkan pukulannya. Tetapi sayangnya meleset.

Pada akhirnya tidak hanya perkelahian antara Kwang Min dan Jong Hyun. Teman-teman mereka juga ambil bagian. Terjadilah perkelahian yang cukup besar. Tidak akan ada yang melerai mereka. Lingkungan tempat mereka bergumul itu memang jauh dari hiruk pikuk orang-orang.

Perkelahian berlangsung cukup lama dan sengit. Kedua belah pihak dalam kondisi yang tidak bisa dikatakan baik. Mereka semua babak belur. Makin lama perkelahian mereka bukan lagi perkelahian dengan tangan kosong. Jong Hyun dan gengnya mulai mengeluarkan senjata mereka. Berbeda dengan Kwang Min dan teman-temannya yang tetap  dengan tangan kosong. Bukankah tidak adil?

Perbedaan itu tidak membuat kubu Kwang Min gentar. Mereka  tetap melawan hingga sang lawan benar-benar mengaku kalah atau hingga mereka tidak sanggup lagi bergerak. Kwang Min mendapat beberapa kali pukulan tongkat baseball dari Jong Hyun. Dia hanya bisa berteriak kemudian segera membalas jika ada kesempatan.

Tidak jauh dari tempat mereka berkelahi, sebuah motor  berwarna putih berhenti mendadak. Siapa lagi kalau bukan Jang Mi dan Jung Hwan. Jang Mi yang tidak menyangka akan menemukan perkelahian ini terbelalak kaget. Dia mulai panik karena mendapati beberapa orang yang telah tumbang dan tidak sadarkan diri

“Jung Hwan,  telepon polisi. Palli!!” pekik Jang Mi.

“Tetapi –.”

Jang Mi menatap Jung Hwan penuh amarah, “Palli, telepon polisi!”

Ne,” Jung Hwan segera meraih ponselnya.

Jang Mi yang panik dan gugup tidak henti-hentinya mengigit ujung kuku jempol tangan. Matanya terus mencari seseorang di  kerumunan perkelahian itu. Dia berdoa dalam hati, semoga orang yang dia cari tidak ikut terlibat.

“Aaaakkkh!!!”

Jang Mi mengenal sebuah suara.  Dia segera mencarinya dan mendapat Kwang Min tengah  beradu pukulan dengan Jong Hyun.  Sesekali terlihat Kwang Min dapat menghindari sabetan tongkat baseball  Jong Hyun dan balas menendang Jong Hyun hingga terjatuh.

Oppa… Kwang Min!!!” teriak Jang Mi.

Mendengar teriakan Jang Mi yang memanggilnya, Kwang Min sedikit lengah. Dalam hitungan detik, tongkat baseball Jong Hyun berhasil menghantap pelipisnya. Kwang Min tumbang seketika.  Jong Hyun terkekeh dan bersiap untuk melayangkan pukulannya  lagi. Tetapi beruntung upayanya itu di gagalkan oleh lembaran batu yang di layangkan Jang Mi padanya dan berhasil mengenai kepala Jong Hyun.

Kwang Min tidak kehilangan kesadarannya sepenuhnya. Dia segera bangkit dan melayangkan tendangan ke ulu hati Jong Hyun. Keadaan berbalik, Jong Hyun-lah yang kini terkapar menahan sakit. Keberhasilan Kwang Min menunbangkan lawannya juga di alami beberapa temannya.

“Kwang Min-ah!” Jang Mi tidak dapat memendung tangisnya, apalagi menyasikan Kwang Min penuh luka terutama pelipis yang terus mengucurkan darah.

Kwang Min melirik Jong Hyun sejenak yang masih terkapar karena rada sakit yang dia derita. “Jang Mi-ya!”  Kwang Min berusaha tersenyum.

Neun bhaboyae?”Jang Min perlahan menghampiri Kwang Min sambil terus tersedu.

Nde?” Kwang Min juga melangkah kecil menghampiri Jang Mi.

Bhabonika!!!” Jang Mi berlari ke pelukan Kwang Min. “Kenapa kamu berkelahi lagi, ha?”

Kwang Min mengaduh, “Aku hanya mau memberi pelajaran pada  anak kecil itu.” Dia terkekeh.

Jang Mi sudah mendengar semuanya dari Jung Hwan. Tentang beberapa kiriman foto yang di terima Kwang Min pagi ini. Jung Hwan yang pagi itu mengunjungi rumah Kwang Min karena harus mengantarkan titipan makanan –dari ibu Jung Hwan- melihat Kwang Mi yang marah besar. Jang Mi tidak menyangka bahwa Jong Hyun sampai berbuat seperti ini.  Dia  tidak ingat sama sekali kapan foto itu di ambil. Fotonya yang sedang tertidur hampir tanpa  busana dengan Jong Hyun –dalam kondisi yang sama.

Mianhae…,” ucap Jang Mi lirih.

“Emm…”

“Aku  tidak pernah menghianatimu.”

Arayeo… aku tidak menyalahkanmu. Aku melakukan ini hanya untuk memberi pelajaran pada  Oppa-mu itu. Berani-beraninya dia melecehkanmu seperti itu.”

Jang Mi melepas pelukannya dan menatap Kwang Min dengan mata berkaca-kaca. “Aku sama sekali tidak ingat tentang foto itu.”

“Sssst… sudah jangan di bicarakan lagi.Telingaku terasa panas  mendengarnya. Jang Mi tetaplah Jang Mi-ku. Aku mencintaimu apapun yang terjadi. Jha…  Kajja kita pulang. Urusanku sudah selesai di sini. Aku sudah lega.”

Jang Mi hanya terdiam. Semudah inikah masalah ini berakhir?

“Kembalilah bersama Jung Hwan. Ada yang perlu aku lakukan dulu.”

“Tetapi?”

“Sudahlah sana, pulang saja. Nan gwaenchanha.

Kwang Min memutar badan Jang Mi agar memunggunginya dan menyuruhnya segera pergi dengan sedikit mendorong pundak Jang Mi. Jang Mi akhirnya menurut, namun sesekali akan berbalik dan menatap Kwang Min.

“Jong Hyun-ah!”Kwang Min menghampiri  Jong Hyun yang masih menikmati kesakitannya. “Menyerahlah… aku sudah bosan harus terus berusaha membuatmu tersadar bahwa Jang Mi adalah yeodongsaeng-mu.”

“Kwang Min-ah!” panggil Jang Mi.

ooOoOoo

“Kwang Min-ah!” panggilku. Untuk apa dia harus kembali menemui Jong Hyun Oppa?

Kwang Min tersenyum dengan perlahan agar sudut bibirnya yang robek tidak menimbukan rasa sakit yang teramat sangat.  Dia melambaikan tangannya padaku  sejenak sebelum kembali mengatakan sesuatu  pada Jong Hyun Oppa. Aku menghentikan langkahku dan memutuskan untuk menyeretnya pergi.

Kajja!” akhirnya Kwang Min menyelesaikan urusannya.

Aku berlari kecil mendekatinya. Aku tidak mau lagi mengulur-ulur waktu. Selain itu Kwang Min terlihat berjalan dengan sempoyongan, sebaiknya aku membantunya. Di belakang Kwang Min, terlihat Jong Hyun Oppa berusaha berdiri. Tatapan bencinya terus jasa mengiringi Kwang Min. Pengawasanku juga tidak lepas darinya yang tengah mencari sesuatu.

“Jang Mi-ya…,” panggil Kwang Min yang kini terpisah sekitar tujuh meter dariku. “Aku ingin makan sup miso.”

“Cih…!”  ejekku.

Rasa kekhawatiranku pada Jong Hyun Oppa memang ada. Hal tersebut membimbingku untuk sedikit melihat keadaannya. Seketika aku panik. Jong Hyun Oppa berlari ke arah Kwang Min dengan pisau yang mengarah pada Kwang Min, bersiap untuk menusuk. Tidak perlu pikir panjang, aku segera berlari menghampiri Kwang Min; berusaha meraih apapun bagian tubuhnya dan menariknya menjauh.

Selangkah lagi Jong Hyun Oppa akan berhasil menikam Kwang Min, namun beruntung aku bisa menghalanginya. Aku berhasil meraih tubuh Kwang Min dan memutarnya. Aku berhasil menghalau pisau itu menancap di tubuh Kwang Min. Kini aku bisa tersenyum bangga dalam pelukan Kwang Min yang juga terkejut dengan aksiku.

“Jang Mi-ya… Andwae! Oh Jang Mi!” jelas terdengar teriakan frustasi dari Jong Hyun Oppa.

Aku merasakan tubuh Kwang Min gemetar, “Jang Mi-ya!” panggilnya lirih.

Tiba-tiba aku merasakan denyutan-denyutan tidak mengenakan di perutku sebelah kiri, hampir mendekati pinggang. Denyutan-denyutan itu membuat kakiku lemas dan pandanganku berkunang-kunang. Sesuatu serasa memaksa keluar dari kerongkonganku yang menyebabkan aku sedikit terbatuk-batuk. Kini aku mulai merasakan pusing dan panas membara di tempat denyutan-denyutan aneh itu berasal.

“Jang Mi-ya!” Kwang Min menyangga tubuhku.

Aku terkekeh, “Nan gwaenchana. Jangan menatapku dengan wajah menyedihkan itu, dasar jelek.” Godaku.

Andwae…!”sekali lagi pekikan Jong Hyun Oppa terdengar berbarengan derap kakinya yang menjauh.

Tubuhku dan Kwang Min merosot ke tanah. Aku terus menatap wajah Kwang Min. Dia terlihat aneh dengan bengkak dan lebam di mana-mana serta darah mengering di pelipisnya. Aku terkekeh, untuk pertama kalinya aku melihat dia menangis. Momen yang sangat langka.

“Isssh…,” kini perih yang mendominasi. Tanganku perlahan menelusuri sumber rasa sakit itu. “Tsk… pisau itu melukaiku.”

“Yak… mengapa kamu bisa tertawa?” Kwang Min memalingkan wajahnya dariku. “Jung Hwan-ah… jangan berdiri saja di situ, panggil ambulans. Dan kalian, cari mobil atau apapun!” bentaknya.

“Kwang Min-ah, jangan membentak seperti itu.” suaraku mulai susah untuk keluar.

“Diamlah… semuanya akan baik-baik saja.”

Aku memejamkan mataku sejenak. Luka tusukan itu terasa makin membara. “Nan gwaenchana.”

Bisa sekali saja dengarkan aku. Jangan buang-buang tenagamu dengan  terus terkekeh dan tersenyum seperti itu.”

Sayup-sayup suara Kwang Min mulai tidak terdengar. “Aku merindukan Eomma.” Ucapku tanpa sadar.

“Yak… apa yang kamu katakan? Aish… ini semua  salahku. Semua ini karena aku yang selalu mementingkan emosi. Nan nappeun namja.”

Anio…,” aku berusaha memelototinya dengan tenaga yang tersisa. “Neun nappeun namja ania,” Perlahan kelopak mataku memaksa untuk tertutup.

“Yak… Jang Mi-ya, buka matamu!”

Aku tidak bisa mendengar dengan jelas lagi. Hanya sesekali terngiang suaranya menyebut namaku. Kepalaku terasa berat, sangat berat. Rasanya aku ingin menutup mataku barang sejanak dan melepaskan rasa lelah ini. Aku serasa memikul beban yang sangat berat. Terasa tubuhku diguncang-guncangkan dan sesuatu yang dingin menyentuh pipiku. Dan kini aku kebas, tuli, bisu, buta dan merasa begitu damai.

FIN