Tags

, , , ,


why so serious,Taemin

Title                       : Why So Serious?; Just a Dream

Author                  : Chanyeonie

Main Casts          : Lee Taemin| Do Yoon Min (OC)

Support Casts    : SHINee’s members and other

Genre                     : Fantasy, Horror, Msytery, (Some) Comedy.

Length                  : Oneshot

Rating                   : General

Author’s Note   :

Hallo… I’m comeback. Mau ngucapin selamat gag buat author yang punya nama baru? (Dari Yunn Wahyunee jadi Chanyeonie) Tidak ada? Huuuuh…. STOP! Lagi-lagi aku muncul di blog tercinta ini dengan FF amburadul. Sepertinya tidak nyambung dengan judul dan genre-nya, tetapi ya sudahlah. Satu lagi, FF ini ada 2 versi loh ^^.RCL-nya sangat diharapkan.Pyong…

Warning              :

Typo yang mungkin akan menggangu. Gejala kebingungan yang akan  dialami reader karena narasi author yang ruwet. Penulisan yang –mungkin- tidak sesuai EYD. Dan kesoktahuan Author tentang berbagai hal mengenai SHINee.

-WSS-

“Hah…!”Aku menghempaskan diriku  di sofa.

Hari  ini aku sangat lelah, memang selalu lelah. Menjadi artis  ternama yang sudah melanglang buana hingga dunia internasional bukanlah hal yang mudah. Aku tidak bisa santai begitu saja. Latihan demi latihan adalah jadwal rutin yang tidak bisa dikurangi malahan sekarang bertambah. Jika setiap anggota tubuhku memiliki mulut, mereka pasti akan mengajukan petisi untuk diberikan cuti.Ya.Cuti untuk barang sejam saja  beristirahat. Jika hal itu juga mungkin, aku akan meminta bantuan mereka untuk menemaniku melakukan unjuk rasa kecil pada pria paruh baya –paman- yang memperkerjakanku non-stop di sebuah tim kecil ini.

Tim yang aku gawangi ini memang kecil. Tetapi jangan salah, kami bisa menggantikan matahari untuk menerangi alam semesta. Aku mulai melebih-lebihkan. Aku memang bukan pemimpin di tim ini. Tetapi kepopuleranku jangan dianggap hal sepele.  Kalau aku tidak ada, maka tidak akan ada SHINee.

“Hahahahahahaha!”

Pletak! Kepalaku terasa  pusing. Hantaman kecil pada bagian belakang kepalaku cukup untuk membuatku merintih kesakitan. Untuk beberapa detik ini, izinkan aku menikmati denyutan-denyutan di kepalaku ini. Selanjutnya aku akan memberi pelajaran pada orang yang dengan entengnya melepar sesuatu kepadaku. Tuhan, benda apakah yang dia lempar ke kepalaku? Aku bersumpah akan membalasnya dua kali lebih besar.

Apheuda?” suara menyebalkan itu mengalun dengan tidak mengenakkan di telingaku.

Aku menegakkan tubuhku, menatapnya dengan tatapan kesal. “Anio,” jawabku ketus. Aku ingin menunjukkan kalau aku marah besar.

Mianhae… aku hanya mengecek kemampuan melemparku. Kebetulan kamu ada disini, sekalian saja  jadi target.”

Cih…bisa-bisa dia tersenyum manis. Dan…alasan macam apa yang baru saja terlontar dari bibirnya? Dia memang selalu bertindak seolah penguasa di sini. Bunyi hukum yang dia buat adalah tidak ada kata ‘salah’ untuk penguasa –yaitu dirinya.

Hyeong… bisa cari alasan yang lebih masuk akal? Aku bukan lagi anak kecil yang bisa menerima alasan tidak berbobot seperti itu.”

Dia tertawa terbahak. “Lee Taemin sudah dewasa rupanya?” dia mencubit pipiku dan memperlakukanku seolah bayi berumur 2 tahun.

Hyeong, hentikan!!!” dead glare, berusaha aku tancapkan di jantungnya. “Jangan memperlakukanku seperti anak kecil, umurku sudah 21 tahun. Mohon diingat!” tegasku.

“Emmm… kamu memang sudah dewasa. Sampai-sampai tidak berpikir dua kali untuk ikut WGM,” sindirnya.

Dia selalu menguji kesabaranku, “Sudahlah,Hyeong. Aku mau tidur. Minggir-minggir!” aku mengusirnya dengan kakiku dari sofa panjang yang nyaman ini.

Ne… tidurlah yang nyenyak!” akhirnya dia mengalah dan menyingkir.

Lega rasanya. Aku harap untuk beberapa jam  ke depan aku bisa  memejamkan mata dengan tenang dan tertidur pulas. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku sangat lelah.  Akhir-akhir ini kami sangat sibuk. Setelah promosi album terbaru kami bagian pertama, jadwal kami kembali di padatkan oleh  penggarapan album  bagian kedua. Dan besok, adalah  hari pertama  promosi album bagiankedua kami. Bisa dikatakan, inilah kerja rodi ala artis hallyu.

“Kami pulang!!!” teriak tiga pemuda dengan suara yang dibuat-buat sumbang.

“Akhirnya kalian pulang, aku bingung harus memasak apa. Sudah membeli pesananku?” Suara menyebalkan itu kembali menusuk saraf pendengaranku.

“Oh, Kibom-ah! Taemin mana?”

Terdengar dia mendengus kesal, “Pangeran Taemin sedang tidur di sofa kebesarannya.”

“Teamin-ah!” suara Minho Hyeong terdengar mendekat.

Aku membuka mata perlahan, “NeHyeong?”

“Jangan tidur dulu. Apa kamu sudah hafal bagianmu?”

Ne…

Minho Hyeong menarik paksa tangan kananku hingga posisiku kembali terduduk. “Ironae!!!!”

Hyeong… aku lelah.  Aku janji akan menghafalnya, nanti,” aku nyengir kuda. “Izinkan aku tidur sebenar dan bangunkan aku saat makan malam siap. Oke?”

Minho Hyeong hanya bisa geleng-geleng kepala. Apa dia juga tidak lelah? Aku heran pada Hyeongdeul, mengapa mereka masih terlihat segar? Apa mereka punya vitamin super yang bisa membuat mereka tetap bugar?

“Minho-ya… biarkan dia tidur sebentar,” aku menoleh ke sumber suara dan mendapati Jinki Hyeong membawa  beberapa kantung plastik berwarna putih.

“Tetapi Hyeong,anak ini –.”

“ –Tidak apa-apa. Dia sudah bekerja terlalu keras akhir-akhir ini.”

Aku kembali melayangkan senyuman manisku, “Benar kata Jinki Hyeong. Biarkan aku tidur sebentar  hingga makan malam siap disantap. Oke Hyeong?”

“Baiklah!” akhirnya dia mengalah. “Jaljayeo!”

“Emmm…,” aku kembali merebahkan diri dan memejamkan mata.

Suara berisik mereka sayup-sayup menghilang dari pendengaranku. Hanya sesekali terdengar suara Jonghyun Hyeong dan Key Hyeong yang bercekcok. Mereka berdua memang pembuat ribut, persis seperti anak umur 5 tahun yang saling berebut mainan. Jinki Hyeong terkadang bosan melerai mereka. Tetapi tenang saja, mereka hanya bercanda. Tidak ada maksud serius. Kini tidak terdengar apa-apa lagi. Aku siap menjelajahi dunia mimpi.

-WSS-

Pletak…!

“Auch!”pekikku masih dengan mata terpejam. Tidak ada sedikit pun niat untuk membuka mataku.

Pletak…tak..tak!

“Yak… biarkan aku tidur sebentar, Hyeong!” Kesal, aku terbangun dari tidur nyenyakku.

Apa? Dimana aku? Ini bukan di dorm. Di sekitarku penuh dengan murid SMA yang sedang duduk manis di meja masing-masing. Mereka semua menatap ke arahku. Ada yang menahan tawa, ada juga yang terlihat marah. Beberapa diantara mereka terlihat familiar bagiku –orang dari masa lalu. Mereka teman-temanku semasa SMA.

“Lee Taemin!!!” nada membentak dan tidak suka itu membuat aku terkejut hingga hampir jatuh dari kursi yang aku duduki.

Nde?”

“Sudah berapa kali saya bilang, jangan pernah tertidur di jam saya!” aku sedikit merinding mendengar suara itu.

Ne… ssaengnim,” jawabku singkat.

Tunggu dulu, ssaengnim? Aku kembali melirik kanan kiri, terakhir adalah memperhatikan diriku sendiri. Aku mengenakan seragam SMA.  Aku sangat mengenali kemeja lengan panjang berwarna putih dengan dasi hitam dan celana hitam yang sekarang melekat di tubuhku. Aku murid  SMA?

“Kembali perhatikan papan tulis,” ssaengnim memukulkan  penggaris kayu itu keras-keras di atas meja. Ampuh, semua murid kembali berkonsentrasi pada papan tulis berwarna hijau tepat lurus di depanku.

“Hey!” aku harus menemukan penjelasan dengan bertanya pada siapapun  yang mampu menjawab.

Mwo?”  jawab pemuda yang duduk di sampingku dengan ketus. “Mwoya, Taemin-ah?” tambahnya.

“Ini di mana?”

Dia memasang ekspresi aneh, “Hey…kamu masih tertidur? Kita di sekolah, SMA Chungdam. Ingat?”

Mwo?”aku tidak percaya.

Aku yakin dia membohongiku. Tidak mungkin aku masih SMA. Aku sudah lulus hampir satu setengah tahun yang lalu dan aku sudah lama pindah dari SMA ini. Dia pasti mengerjaiku. Jangan-jangan ini adalah salah satu scene dari variety show yang aku ikuti. Pasti ada kamera di sekitar sini. Tetapi kenapa aku  tidak ingat?

Tanpa menyerah, aku terus melihat tiap sudut ruangan untuk menemukan kamera. Hasilnya nihil, tidak ada satupun.  Pencarianku terhenti ketika melihat tulisan berwarna putih pada sudut kanan atas papan tulis. Disana tertulis, ‘29 April 2009’. Aku memaksakan senyumku, lelucon  yang sama sekali tidak lucu.  Aku segera merogoh saku  celanaku dan mendapati ponsel kecil. Ponsel kecil itu adalah ponsel model lama,  tetapi aku tidak mau ambil pusing akan itu. Dengan cekatan jari-jariku menari di atas keypad ponsel.

“2009?” pekikku, refleks.

“Ada apa lagi, Lee Taemin?!!” geram ssaengnim, seingatku dia wanita paruh baya yang belum menikah hingga sekarang.

“Kim Ssaengnim, sepertinya aku  harus pergi. Ada jadwal pemotretan hari ini,” bohongku.

Tiba-tiba seisi kelas tertawa terbahak seolah kata-kata yang baru terlontar dari mulutku adalah lelucon. Aku tidak melucu  untuk saat ini. Jadi, apa yang lucu? Aku hanya bisa menimpali mereka dengan senyum terpaksa. Sedangkan ssaengnim berkacak pinggang di depan kelas. Dia terlihat sangat marah. Apa aku salah bicara?

“Sejak kapan kamu menjadi artis yang memiliki jadwal pe-mo-tre-tan?” dia mengeja kata terakhir yang dia ucapkan.

Nde?” tolong siapapun, bantu aku.

“Pemotretan untuk apa, Lee Taemin?”

Aku yakin wajahku sudah pucat pasi sekarang, “Nde?”

“Ya…ampun. Dia mulai lagi,” bisik seseorang yang  sebenarnya tidak bisa dikatakan berbisik.

Terdengar suara gadis cekikikan, “Dia memang  memiliki wajah artis. Tetapi sayangnya dia bukan artis.” Tawa mengejek kembali mengudara.

“Lee Taemin, sekarang keluar! Berdiri di koridor,” bentak ssaengnim super galak itu.

Aku yang belum benar-benar mengerti dengan apa yang terjadi hanya menuruti perintahnya. Aku berjalan terseok-seok dan sesekali menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Beberapa murid yang aku lewati hanya cekikikan dan berbisik sana-sini. 10 langkah kemudian, aku sudah tepat berada di koridor. Suasana sangat sepi, mungkin memang karena saat ini adalah jam pelajaran.

Pandanganku kembali tersebar ke berbagai sudut koridor. Sunyi senyap, hanya itu kesan yang bisa aku tangkap hingga detik ini. Seperti  ada sesuatu di saku kemejaku. Aku  merogohnya dan mendapati  mp4 kecil berwarna putih lengkap dengan earset-nya. Jempolku menekan tombol play –tentunya dengan earset yang telah terpasang di telinga- dan musik mengalun dengan volume kecil.

Why so serious?” gumamku.

Bukankah ini lagi di album bagian kedua SHINee? Tentunya albumku juga, tetapi… aku segera memperhatikan layar kecil pada mp4 itu. Aku ingin tahu siapa yang melantunkan lagu ini. Jawaban tidak mengenakanlah yang aku dapat. Tidak ada rincian lagu ini. Hanya satu hal yang dapat aku pastikan. Pemilik suara yang menyanyikan lagu ini adalah aku, Minho  Hyeong, Jonghyun Hyeong, Jinki Hyeong dan Key Hyeong.Tidak mungkin aku melupakan suara mereka dan tentunya suaraku sendiri.

Aku memutuskan untuk mengecek playlist di mp4 kecil ini. Berharap  bisa menemukan sedikit petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku yakin ada yang sedang mengerjaiku sekarang. Sekali lagi nihil. Tidak ada sedikit pun petunjuk tentang SHINee atau apapun yang menunjukkan aku adalah Taemin, maknae  sekaligus dangcing machine SHINee.

“Mungkin ini mimpi,” pernyataan itu yang paling masuk akal sekarang.

Tanpa pikir panjang, aku mencubit pipiku sendiri sekencang mungkin. Seperti kata orang, jika sakit; maka ini semua bukan mimpi.

“Auch!” ternyata sakit.

Jawabannya sudah jelas, aku tidak sedang bermimpi. Lalu aku di SHINee adalah…mimpi?  Sepertinya begitu. Aku  hanya bermimpi menjadi anggota SHINee dan menjadi  artis kebanggaan SM.

“Huuuh… mimpi yang indah,” gumamku sambil bersandar pada  dinding.

Beberapa menit aku hanya terdiam dan mencoba mengingat semuanya. Sama seperti sebelumnya, usaha yang tidak membuahkan hasil. Aku tidak bisa mengingat kejadian apapun sebelum aku dilempari  penghapus tadi. Yang teringat hanyalah ketika aku menjadi “Lee Taemin SHINee”, mimpi indahku.

Entah sejak kapan, seorang gadis berdiri tepat di depan pintu kelas –sebelahku. Aku merasakan  aura dingin menyeruak dari tubuh mungil gadis itu. Buktinya, bulu-bulu halus si tengkukku berdiri dengan gagahnya. Gadis itu terus saja tertunduk, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

“Taemin-ah, kamu kena hukuman lagi?” suara berat seseorang mengembalikan kesadaranku.

“Kang ssaengnim?”

Mwo? Cepat masuk!” perintahnya.

Dia adalah guru favoritku –seingatku. Dia satu-satunya guru yang –mungkin- tidak pernah marah dan menghukumku –dengan keterlaluan. Kang ssaengnim mengetuk pintu perlahan untuk mendapatkan perhatian penghuni kelas. Dia kemudian memberi salam kecil pada Kim ssaengnim, bersamaan dengan itu bel berbunyi. Kim ssaengnim menutup pelajarannya dan keluar kelas.

“Lee Taemin!!!” geramnya ketika melewatiku.

Aku hanya tersenyum, tersenyum kemenangan. Aku  tidak sudi lagi bertemu  dengannya. Dasar guru galak. Mungkin karena kegalakannya itu dia belum menikah hingga sekarang. Semua pria takut padanya.  Tidak perlu lagi membahasnya, hanya membuat emosi meledak-ledak. Dengan angkuhnya aku kembali memasuki kelas dan  duduk di tempatku.

“Baiklah… silahkan perkenalkan dirimu,” pinta  Kang ssaengnim lembut pada gadis  yang sebelumnya  membuat aku penasaran.

Gadis itu  menegakkan kepalanya. Tidak ada sedikitpun senyum di wajahnya. Rambutnya sedikit di bawah bahu tertiup perlahan oleh angin yang masuk melalui jendela kelas yang terbuka dan menutup separuh wajahnya –tepatny sebelah kanan. Rambut hitam lurus itu juga membentuk poni yang menutup dahinya. Dia terlihat seperti gadis yang pendiam, tipe yang sangat umum. Aku yakin ini hanya kesan pertama, karena dia  baru  di sini.

Jeoneun Do Yoon Min imnida, bangapseumnida!” dia mengangguk kecil –sopan  santun.

Aku tidak benar-benar memperhatikannya, karena aku masih bergelut pada kenyataan yang sedang aku alami sekarang.  Aku masih belum bisa menerima kalau kepopuleran yang aku dapat selama ini hanyalah mimpi. Semuanya jerih payahku hanyalah mimpi. Dan kenyataanya, aku adalah murid SMA tahun kedua.

“Yoon Min-sshi… ada apa dengan matamu?” pertanyaan yang sangat tidak sopan.

“Ini…ini…ini,”

Aku jadi  penasaran, mengapa mereka ingin tahu dengan mata anak baru itu. Aku menegakkan kepalaku dan mendapati pemandangan yang sedikit membuatku juga ingin menanyakan pertanyaan yang sama. Setelah merapikan rambutnya, jelas terlihat bahwa mata kanan  gadis itu tertutup sesuatu. Dia terlihat mirip dengan bajak laut, hanya saja penutup matanya berwarna putih dan terlihat tidak menyeramkan. Entah apa yang menyebabkan matanya harus di tutup benda putih berbentuk persegi yang memiliki tali penyangga pada kedua daun telinga gadis itu –eye-pad. Mungkin dia habis mengoperasi kelopak matanya. Remaja seumuranku biasa melakukan itu, jadi wajar saja.

“Sudah… tidak perlu dijawab. Kamu bisa duduk di  kursi kosong itu,” Kang ssaengnim menunjuk kursi kosong di  sebelah kananku. “Taemin, jangan mengodanya.”

Ne… memangnya aku –.”

“ –Baiklah. Bertemanlah dengan baik. Selamat belajar!” Kang ssaengnim mengacuhkan pembelaanku dan berlalu keluar kelas.

Kelas berubah gaduh. Keadaan ini berbanding terbalik dengan keadaan kelas beberapa menit yang lalu. Kertas melayang kesana-kemari.  Belum lagi cekikikan gadis-gadis yang memekakkan telinga. Aku rasa jika mereka tertawa tepat di lubang telingaku, aku bisa tuli permanen.

“Taemin-ah…,” seseorang menepuk pundakku.

Mwo?” aku mencoba mengingat namanya. “Hyunjung-ah?” nama itu dengan instan terbersit di otakku.

“Yak… mengapa kamu seolah melupakan namaku? Apa lemparan Kim ssaengnim membuatmu mengalami gagar otak?” dia memegangi kepalaku dan memeriksa tiap milimeternya.

Aku segera menepis tangannya, “Hentikan!” tiba-tiba tercetus sesuatu di kepalaku, “Hyunjung-ah… apa kamu  tahu grup SHINee?”

“SHINee?”dia menggeleng kencang. “Anio…, memang kenapa? Mereka siapa?”

“SHINee… kamu sama sekali tidak tahu? Mereka jebolan SM.” Jelasku.

Dia terlihat berpikir, “Aku hanya tau TVXQ, Super Junior, dan SNSD. Apa  mereka grup baru  yang akan diluncurkan SM?”

Anio… mereka sudah debut. Personilnya ada 5 orang. Mereka itu pemuda-pemuda tampan yang bertalenta.”

Molla…aku tidak  tahu.” Hyunjung terlihat frustasi.

Apa benar SHINee tidak terkenal? Atau memang  benar kalau grup ini tidak pernah ada. Semuanya hanyalah mimpiku. Tetapi mengapa ada lagu itu di mp4-ku.  Jelas-jelas lagu itu adalah andalan SHINee di album bagian kedua yang akan dipromosikan tahun ini –lebih tepatnya bulan ini. Tetapi…

“Tunggu… sekarang  tahun 2009?”

Ne…,” Hyunjung menganguk mantap.

“Bukan 2013?”

“Bukan Lee  Taemin… itu lihat, 29  April 2009.”  Hyunjung mengarahkan kepalaku pada kalender yang tertancap di dinding –bagian belakang kelas.

“Apa yang kalian bicarakan?” satu lagi pemuda yang wajahnya familiar bagiku sudah bertengger di atas mejaku.

Hyunjung menoyor  kepalaku, “Taemin kita ini masih belum terbangun dari tidurnya atau entah mungkin karena kepalanya yang terkena hantaman dari Kim ssaengnim membuat dia linglung, Kyumin-ah.”

“Hahahaha…,” pemuda yang bernama Kyumin itu tertawa terpingkal-pingkal. “Sekarang, apa lagi  yang membuat dia heboh?”

“Dia mengira sekarang tahun 2013 dan selalu bertanya tentang SHINee. Mana aku tahu!” Hyunjung juga ikut tertawa.

“SHINee? Sekarang ada cerita apa tentang SHINee-mu?” Kyumin bertanya padaku.

Aku yang tidak mengerti dengan hal yang di tertawakan kedua siswa SMA ini hanya melongo –terlihat bodoh. “Nde?aku terdiam sejenak. “SHINee, apa kamu  tahu?”

Ara,” Kyumin terlihat mantap.

“Dan…?” aku tidak sabar menanti penjelasan Kyumin.

“SHINee adalah grup khayalanmu.  Kamu selalu ingin membuat grup bernama SHINee yang suatu saat akan  diorbitkan SM. Dan kamu mengajakku.” Jelasnya, sejelas-jelasnya.

Mwo?” aku tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar.

“Sudahlah, Taemin-ah. Berhentilah bermimpi! Sekarang yang terpenting adalah kenyataan. Aku sebagai temanmu –,” Kyumin memegang kedua pundakku dan menatapku dengan serius. “ –khawatir dengan impianmu yang ingin menjadi artis. Kita tidak ditakdirkan sebagai artis. Ara? Kajja…makan siang.”

Kyumin meninggalkanku begitu saja. Dan Hyunjung bersusah payah menarikku agar mengikuti mereka –makan siang. Sepertinya aku memang bermimpi. Selama ini  aku bermimpi sebagai artis terkenal. Tetapi hebat sekali, aku rasa aku hanya tidur selama beberapa menit tadi. Lalu aku  bisa memimpikan kisah yang sangat panjang. Kisah seorang Lee Taemin yang menjadi anggota SHINee, grup terhebat di dunia.

-WSS-

“Aku duluan kembali ke kelas, eoh?” izinku pada Hyunjung dan Kyumin.

Mereka mengangguk hampir bersamaan. Mulut mereka berdua penuh dengan makanan, sehingga tidak mampu menjawab. Aku beranjak dari hadapan mereka dan melambaikan tangan kecil, lalu berjalan menjauh.

Sepanjang perjalanan  menuju kelas, aku mendapat sedikit gangguan. Beberapa pekikan nyaring menyapaku ketika melewati gerombolan gadis-gadis di koridor. Tidak tanggung-tanggung, aku mendapat beberapa bingkisan warna-warni dari mereka. Ternyata aku cukup terkenal di dunia nyata. Pada akhirnya, aku  tidak terlalu kecewa.

“Aku bilang buka!” teriak seseorang.

Beberapa detik lalu aku mengurungkan niatku untuk kembali ke kelas dan memilih ke halaman belakang sekolah, mencari ketenangan. Alih-alih mendapati ketenangan, aku malah mendapati keributan kecil yang di lakukan oleh beberapa gadis. Mereka  terlihat sedang  melakukan sesuatu pada seorang gadis bertubuh mungil –yang malang. Tidak mungkin aku tinggal diam melihat itu semua. Aku meletakkan begitu saja bingkisan yang aku dapatkan sebelumnya di tanah.

“Yak… apa yang kalian lakukan?” teriakku.

Salah satu di antara mereka melihat ke arahku dan segera memberi tahu  yang  lain. Mereka segera menjauh, dan tampak salah  satu diantara mereka membuang benda –yang aku rasa  dia dapatkan dari gadis yang tertindas itu- tepat di hadapan  sang gadis. Aku segera menghampiri gadis yang kini terduduk begitu saja di tanah.

Gwaenchanhayeo?” aku membantunya berdiri. “Yoon Min-sshi?” aku mengenali gadis ini.

Yoon Min hanya mengangguk kecil dan terus tertunduk. Salah satu tangannya terlihat menutupi mata kanannya. Apakah terjadi  sesuatu dengan matanya? Aku sedikit khawatir.

Gwaenchanha? Apakah ada yang luka?” Aku mencoba menyingkirkan tangannya yang menutupi matanya. Aku hanya ingin memastikan keadaanya.

Anio…,” jawabnya singkat, dia terlihat mencari-cari sesuatu.

Aku panik, jangan-jangan dia memang terluka, “Apakah matamu terluka?” Aku berhasil menyingkirkan tangannya yang menutupi matanya.

Anio…,” dia masih tertunduk. Tidak mengizinkan aku mengecek matanya yangmungkin terluka.

“Biar aku lihat,” paksaku.

Aku mundur selangkah, sedikit terkejut. Aku berhasil membuat dia berhenti tertunduk dan memberiku akses untuk memastikan keadaannya.  Tidak ada luka sedikit pun.  Hal yang mengejutkanku hanyalah kenyataan bahwa dia terlihat berbeda. Mata kanan  yang dia tutupi itu berbeda. Perbedaan yang akan mendapat respon negatif dari orang-orang yang melihatnya.

Mianhae…,” aku segera meminta maaf.

Dia kembali menutupi mata kanannya, kemudian memungut  benda yang tadi  dibuang oleh gadis yang menyerangnya.  Ternyata benda itu adalah eye-pad putih yang selalu menutupi matanya. Tidak terdengar respon darinya atas kelancanganku. Tanpa permisi, dia pergi begitu  saja. Meninggalkan aku yang masih terkejut sekaligus merasa bersalah padanya.

-WWS­-

Aku bangun kesiangan hari ini. Ibuku bilang, aku memang selalu kesiangan. Sepulang sekolah kemarin, aku kembali mencoba mengumpulkan bukti tentang hal aneh yang sedang aku alami ini. Beberapa tetangga dan anak-anak kecil di sekitar rumahku tidak luput dari interogasiku. Ayah dan ibu juga tidak akan terlewatkan.  Dari segala macam jawaban yang aku temukan, akhirnya aku mendapatkan kesimpulan. Kesimpulannya adalah  aku memang bermimpi menjadi Lee Taemin SHINee.

Sedikit cerita miris juga aku dapatkan dari ibuku. Aku pernah mengikuti audisi beberapa tahun lalu. Audisi untuk masuk agensi artis, tentunya SM. Dan nasib baik tidak berpihak padaku, aku tidak lolos. Kata ibu, aku sempat frustasi. Aku mengurung diri di kamar dan tidak bersekolah selama seminggu. Setelah sekolah pun, aku selalu membuat masalah. Tidur di kelas adalah salah satunya. Aku  di cap sebagai murid nakal di sekolah. Tetapi inti dari semuanya adalah aku tidak ingat sama sekali dengan kejadian yang diceritakan olehnya.

Bis yang aku tumpangi berhenti beberapa meter  dari tempat tujuanku –SMA Chungdam. Tidak  terlihat gerombolan-gerombolan murid yang akan berangkat sekolah.  Aku hanya menemui 1 atau 2 orang murid yang berlarian menuju gerbang. Bagaimana tidak,  sudah lewat 20 menit sejak bel berbunyi. Lalu apa yang aku lakukan? Berjalan santai mengitari pagar sekolah. Aku ingat kalau Kyumin sempat menyinggung tentang jalan masuk rahasia di bagian belakang sekolah saat  makan siang kemarin. Aku bisa masuk sekolah tanpa dihukum jika melalui jalan itu. Betapa pintarnya aku.

-WSS-

Sial, mereka menipuku. Ternyata jalan pintas yang mereka maksud adalah lubang kecil pada tembok pagar sekolah yang hanya muat untuk dilalui anak anjing. Mau tidak mau aku harus melompati pagar setinggi 2 meter lebih itu. Susah payah aku memanjat, dan akhirnya aku kembali bisa berpijak di tanah.

“Lee Taemin!!!”  aku seperti baru saja mendengar suara Kang ssaengnim, dan benar saja. “Kemari!” perintahnya.

Aku sudah tidak bisa kabur lagi. Tertangkap basah dan tidak bisa berkelit. Ternyata ada sekitar 15 orang murid yang tertangkap basah terlambat. Tetapi hanya aku  yang terlambat dan memanjat pagar. Satu hal yang aku lupa, halaman belakang sekolah merupakan tempat diadakannya hukuman bagi murid-murid yang terlambat. Aku sama saja dengan  menyerahkan  diri sendiri  untuk mendapat hukuman.

-WSS-

“Jangan lupa, sepulang sekolah kalian harus berkumpul lagi disini. Hukuman kalian  tidak berakhir sampai disini. Jangan mencoba kabur. Nama-nama kalian sudah ada disini,” Kang ssaengnim mengakhiri pidato singkatnya dengan berlalu  sambil mengacung-acungkan kertas berisi nama-nama murid yang terlambat.

Beberapa bulan ini, sekolah memberikan  hukuman yang cukup berat bagi murid-murid yang melanggar peraturan sekolah –tutur Hyunjung. Kami diharuskan mengikuti jam pelajaran tambahan hingga harus menginap di sekolah. Pelajaran yang diberikan adalah pelajaran keterampilan.  Mungkin, hukuman untuk malam ini adalah keterampilan merajut. Semoga saja tidak, semoga. Amin.

Satu persatu para murid yang dihukum membubarkan  diri, kembali ke kelas masing-masing. Aku masih  berdiri di tempat semula. Aku belum ingin pergi. Sosok seseorang  di kejauhan membuat aku penasaran. Dia berada di tempat yang sedikit jauh denganku, tetapi tentunya dia  juga salah satu  murid yang kena hukuman.

Kesal, itu yang aku rasakan saat beberapa gadis melewatinya  dan dengan sengaja menabraknya atau menoyor kepalanya. Lalu apa yang dilakukan gadis itu? Dia hanya terdiam dan menerima dengan lapang dada perlakuan yang tidak mengenakan itu.

“Yoon Min-sshi!” panggilku.

Dia hanya menatapku sekilas, kemudian segera pergi. Aku mempercepat  langkahku mengejarnya, setengah berlari. Tidak kusangka, gadis mungil itu cukup cepat juga. Aku hampir saja kehilangannya. Kini aku sudah menahan lengan kirinya.Dia hanya tertunduk dan seperti biasa tidak menolak, melawan.

“Yoon Min-sshi,” aku berusaha mengatur napasku.

Nde?”

Mianhae untuk yang kemarin.”

Gwaenchanha.”

“Kamu ada masalah apa dengan gadis-gadis  tengik itu? Mengapa mereka selalu menggangumu?”

Dia menegakkan kepalanya dan menatapku. Untuk pertama kalinya aku melihat dia tersenyum.  Tetapi senyumnya itu membuat aku ingin segera menjauhinya. Senyumnya terlihat menyeramkan. Aura dingin itu kembali menyeruak dari dalam dirinya. Refleks aku melepaskan cengkramanku pada lengannya dan mundur selangkah.

Setelah cengkramanku lepas, dia berlalu pergi. Aku masih mematung.  Bayangan senyum gadis itu membuat aku sulit bernapas. Dia terlihat begitu lugu dan rapuh. Tetapi mengapa  senyumannya serasa bisa membunuh orang?  Bayangan kejadian tempo hari berkelebat di otakku. Kejadian dimana aku melihat mata kanannya.

Mata kanannya itu aneh. Bola mata kanannya berwarna biru, berbeda dengan mata kirinya yang berwarna coklat gelap. Keanehan yang tidak pernah aku temui sebelumnya. Apakah mata itu dia dapatkan sejak lahir?  Atau dia baru mendapatkan mata itu dari operasi? Aku  rasa pertanyaan kedua lebih tepat, karena sekilas aku melihat bekas jahitan di matanya.

-WSS-

Hukuman macam apa  ini? Kami disuruh membuat benda apapun dari tanah liat yang bisa digunakan sebagai hiasan unik –pajangan. Yang ada di otakku hanya satu, membuat gundukan tanah liat. Aku rasa bentuk itu yang paling mudah. Aku melirik sekitarku, mereka semua sama. Tidak ada seorang pun yang mampu membuat hiasan yang unik.

Jam di dinding baru menunjukkan pukul 8 malam, masih tersisa 2 jam lagi. Kelas akan di tutup pada jam 10 malam. Beberapa menit yang lalu, Kang ssaengnim keluar kelas. Tidak ada yang bisa menebak apa yang dia lakukan. Aku mulai menguap lebar, merasa bosan. Sesekali  aku akan melirik Yoon Min yang duduk 3 meja  di sebelah kiriku. Dia terlihat serius mengerjakan tugasnya. Dan memang  hasilnya cukup memuaskan.

Bosan yang aku rasakan sudah mencapai batasnya. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur. Mungkin aku akan bisa bermimpi tentang SHINee dan kembali mendaki kepopuleran sebagai Lee  Taemin, walau hanya di  dalam mimpi. Aku melipat tanganku di atas meja, membenamkan  wajahku di sana dan mencoba untuk tertidur.

Sreg…srek…!

Gesekan kursi dan meja dengan lantai  membuatku terusik. Baru  saja aku akan memasuki dunia mimpi, tetapi suara-suara berisik itu mengusikku. Aku mengangkat kepalaku dan mendapati setengah dari isi kelas menghilang. Aku melihat kelebatan bayangan mereka di koridor kelas. Yoon Min juga tidak berada di tempatnya, mungkin ke toilet. Aku kembali membenamkan wajahku ke tempat sebelumnya, dan memejamkan mata.

“Hahahaha…!”

Lagi-lagi suara-suara menyebalkan itu mengusik tidurku. Kini gerombolan gadis-gadis centil itu yang membuat keributan. Entah apa yang membuat mereka bahagia hingga tertawa lepas seperti itu.  Yang jelas mereka  tidak punya sopan santun, tertawa  seenaknya tanpa peduli  orang lain yang sedang mencoba untuk tidur.

-WSS-

“Kalian bisa tidur sekarang. Yeoja di ruang musik dan namja di ruang kelas 2-3,”

Aku menggeliat kecil, meluruskan otot-ototku yang sedikit kaku. Akhirnya  aku bisa tidur dengan layak. Setelah berusaha sekuat tenaga untuk berdiri, kini aku menyeret kakiku menuju koridor. Murid-murid yang lain mendahuluiku. Langkah kaki mereka terlihat lebih mantap dariku, ingin segera merebahkan diri dan tidur rupanya.

“Kemana yeoja aneh itu?”celoteh seseorang.

“Sudahlah… mungkin dia sedang merenungkan kemalangan yang dia alami.” Jawab yang lain.

Aku pura-pura tidak peduli dengan yang mereka katakan dan terus menyusuri koridor menuju ruang kelas yang di maksud Kang ssaengnim. Gadis-gadis itu masih berceloteh ria di belakangku. Mengapa mereka tidak berjalan lebih cepat dan meninggalkanku jauh di belakang mereka? Aku rasa aku sudah berjalan selambat siput. Berarti  mereka lebih lambat dari siput.

“Ya ampun!” gumamku sambil menepuk dahiku sendiri.

“Kamu masih menggengam benda menjijikkan itu?!” pekik salah satu diantara mereka.

Gadis yang lain menimpali dengan suara khas mereka masing-masing. Berteriak aneh menunjukkan rasa jijiknya akan benda yang mereka maksud. Aku  hanya bisa menggelengkan kepalaku kecil. Berharap suara mereka tidak menghantam gendang telingaku secara langsung.

“Buang saja benda itu. Apa kamu mau tertular aneh seperti dia?”

Sembari kalimat itu mengudara, mereka pun mendahuluiku. Helaan napas lega meluncur begitu saja. Aku bersyukur tidak  perlu lagi mendengar ocehan mereka. Aku memperhatikan punggung mereka yang berlalu, dan sesekali menjulurkan lidah mengejek. Kelebat bayangan benda meluncur jatuh dari tangan salah satu diantara mereka.

Eya pad? Oh… ini pasti milik Yoon Mi. Mereka pasti mengerjainya lagi,” aku berbicara sendiri.

-WSS-

Pandanganku tidak pernah lepas dari eye-pad yang sekarang tergeletak di depanku. Aku merebahkan diriku dengan sempurna, meraih eye-pad itu. Lagi-lagi aku mendanginya dan sekali-kali memutar balik  benda putih berbentuk persegi itu. Aku baru menyadari bahwa salah satu talinya putus. Sepertinya ini adalah ulah gadis-gadis nakal itu. Mereka pasti  mengambil paksa dari Yoon Min.

Yoon Min? Tiba-tiba aku merasa khawatir dengan keadaannya. Apa dia baik-baik saja? Bukankah dia harus tidur di tempat yang sama dengan  mereka.  Tunggu  dulu!  Aku belum melihatnya lagi sejak Kang  ssaengnim meninggalkan kelas untuk beberapa waktu tadi. Aku segera bangun, berdiri dengan tegak.

“Yak… kamu mau kemana?” tanya pemuda   yang sekarang duduk dikelilingi yang lain. “Kamu tidak ikut mendengarkan cerita hantu?” tambahnya.

Aku menggeleng kecil, “Aku mau  ke toilet.” Bohongku

“Begitukah? Atau jangan-jangan kamu mau mengintip yeojadeul itu?”godanya.

Ani!!!” elakku.

Sontak mereka semua tertawa terpingkal-pingkal. Mungkin wajahku terlihat begitu lucu. Aku akui pipiku sempat memanas ketika dia menanyakannya. Aku tidak habis pikir, bagaimana seandainya aku  mengintip mereka. Tanpa aku sadari, pipiku kembali memanas.

“Lihat, wajahnya  memerah,” ejeknya.

“Sudahlah… aku pergi!”

Baru saja aku  melangkahkan kakiku melewati pintu.

“Aaaaakkk!!!” pekik beberapa orang gadis.

Aku terkejut luar biasa. Kenapa mereka berteriak? Dalam hitungan detik, mereka yang sedang berkumpul di belakangku tadi berhamburan keluar kelas. Mereka seenaknya menabrakku dan hampir membuatku terinjak-injak. Aku tidak tinggal diam, dan mengikuti mereka.

Ruang musik hanya berjarak 2 kelas dari tempat murid laki-laki tidur. Tidak memerlukan waktu yang lama untuk sampai di sana. Kang ssaengnim sudah berdiri di depan pintu dan sedikit menghalangi kami –para murid laki-laki-  untuk melihat apa yang terjadi.

“Kalian tenang, aku akan mengambil obat di ruang kesehatan.”Kang ssaengnim terlihat mencari sesuatu, “Oh…Taemin-ah, tolong pegang kendali selama aku pergi.”

Kang ssaengnim menerobos gerombolan murid dan segera  keluar dari ruang musik. Terdengar langkahnya yang berlarian di koridor. Seingatku –lagi, ruang  kesehatan berada di gedung lama. Jadi akan memakan waktu yang lama untuk sampai disana. Hampir saja aku melupakan tugasku. Aku segera mendorong menjauh beberapa murid agar dapat melihat pusat dari kerumunan ini, sebenarnya sampai saat ini aku tidak tahu apa yang terjadi.

“Minjung-ah… Minjung-ah!”

Aku rasa gadis yang terbaring itu bernama Minjung. Dia tidak sadarkan diri. Aku melihat  ada beberapa luka cakaran di lengannya. Dia pasti mencakar dirinya sendiri, karena terlihat ada darah pada ujung-ujung jari tangannya. Gadis ini melukai dirinya sendiri. Apa dia sudah gila?

Aku tidak mau ambil pusing. Aku cukup mengenalnya. Dia adalah gadis yang beberapawaktu lalu terlihat melakukan hal kasar pada Yoon Min. Rupanya  dia memang sedikit tidak waras. Alih-alih mengkhawatirkannya, aku lebih mengkhawatirkan Yoon  Min. Dia tidak terlihat di mana-mana. Bahkan tidak di ruangan ini.

“Hey… apa kamu melihat Yoon Min?  Yeoja dengan eye-pad di  mata kanannya,” tanyaku  pada gadis yang sedang menangis di sudut ruangan.

“Dia…,” gadis itu terisak. “Dia tidak ada disini sejak beberapa jam yang lalu.”

“Apa kamu melihat dia melakukan sesuatu atau keluar kelas tadi?”

Gadis itu mengangguk kecil, “Dia, Minjung dan yang lain terlihat keluar kelas bersama. Tetapi setelah itu Dia tidak kembali.”  Gadis itu menangis.

Uljima…”

“Taemin-sshi!”

“Oh… kamu  mengetahui namaku?”  senyum bangga terkembang di wajahku. “Ireumi –?”

“Park Hajin,” sambarnya.

“Oke, Hajin-sshi. Kamu  yakin tidak melihat Yoon Min lagi?”

Dia terlihat mencoba mengingat. “Aku  sempat melihat bayangan menyerupai  dia ketika menuju ke mari  tadi. Dia terlihat menuruni tangga.”

Gomawo!”

Tanpa pikir panjang , aku pun keluar dari kelas musik dan  berniat mencarinya.

“Taemin-sshi… kamu mau kemana?” panggil pemuda yang  sebelumnya mengajakku untuk mendengar cerita hantunya.

“Aku akan mencari Yoon Min sambil menyusul Kang ssaengnim. Aku percayakan padamu!” teriakku sambil berlari menjauh.

“Yakk!!!” hanya suara itu yang masih sempat tertangkap oleh telingaku.

-WSS-

Seluruh ruangan yang berada di lantai satu gedung baru sekolah telah aku telusuri. Tetapi aku tidak menemukan Yoon Min, tidak ada sedikit pun petunjuk tentang keberadaanya. Apakah Hajin salah melihat tadi? Mungkin saja Yoon Min tidak di lantai satu, tetapi di lantai tiga. Tidak tanggung-tanggung, aku mencari hingga keluar gedung.  Dan hasilnya tetap sama, Yoon Mi tidak ada.

Perlahan bulu kudukku merinding.  Angin malam berhembus pelan ditambah dengan suasana sekolah yang gelap. Entah berniat untuk berhemat atau memang pelit, hanya beberapa lampu saja yang menyala. Sebelum kembali ke lantai dua, tempat murid yang lain berkumpul; aku memutuskan untuk menyusul Kang ssaengnim ke ruang kesehatan.

Kakiku melangkah dengan mantap menuju gedung lama, tempat ruang kesehatan berada. Tidak ada ruangan  yang tersinari lampu. Semuanya terlihat gelap, begitu yang aku lihat dari luar. Setelah berpikir cukup lama, aku  mengurungkan niat untuk menyusul Kang ssaengnim. Mungkin dia sudah kembali ke ruang musik.

Lama kelamaan sendiri seperti ini membuat aku takut. Aku pun memutuskan untuk berlari menuju ruang musik. Napasku  berantakan saat berhasil menaiki tangga menuju lantai dua –ke ruang musik. Tidak jauh berbeda dengan suasana di lantai satu, lantai dua juga sunyi senyap. Jauh berbeda dengan kondisi sebelum aku tinggalkan sekitar 30 menit yang lalu.

“Hallo… kalian dimana?” panggilku.

Kini aku sudah berdiri tepat di depan ruang musik. Lampu masih bersinar dengan terang, tetapi tidak ada seorang pun disana. Kemana mereka semua? Aku segera berlari ke ruang kelas 2-3, dan hasilnya sama. Mereka semua menghilang. Aku hanya mendapati keadaan kelas yang berantakan. Kasur,bantal dan selimut berserakan tidak teratur. Bahkan beberapa bantal terlihat terkoyak-koyak.

“Kang ssaengnim!”  tidak ada seorang pun di ruang guru –di lantai 2 juga.

Kemana mereka semua? Mengapa mereka meninggalkanku begitu saja? Ini semua tidak lucu.

“Aaaakkkk!” lagi-lagi ada suara teriakan gadis.

Suara itu berasal dari lantai atas. Aku segera berlari ke sana. Lagi-lagi aku sulit mengatur napasku ketika menaiki anak tangga. Suara teriakan itu kembali terdengar, dan semakin menjauh. Aku menduga teriakan itu berasal dari atap sekolah. Sial, aku harus menaiki anak tangga lagi. Seandainya aku Lee Taemin SHINee, aku tidak akan kesulitan mengatur napas. Lee Taemin SHINee adalah dancing machine, tidak akan ada masalah dengan pernapasannya.

“Akhirnya…,” aku kembali berbicara sendiri.

Aku telah sampai di atap sekolah dengan keadaan masih bernyawa –untungnya. Butuh waktu 5 menit untuk kembali mengatur napasku. Bintang-bintang terlihat begitu jelas dari sini, indah. Rasa terkesimaku menghilang  begitu saja ketika angin malam kembali berhembus. Hawa dingin yang menusuk tulang. Angin  malam itu juga membawa suasana negatif untuk otakku. Pikiran-pikiran negatif dan suasana hati yang entah tidak bisa aku gambarkan rasanya, membuat aku ingin segera pergi dari tempat ini.

“Taemin-sshi,tolong aku!”

“Hajin-sshi?” aku mengenali suara itu sebagai suara Hajin.

“Taemin-sshi… aaaakkkkkh!”

Aku bingung,  dari manakah suara itu berasal? Cahaya yang berada di atap sekolah tidak cukup di serap mataku sehingga akan membuat aku melihat dengan jelas disini. Aku melangkahkan kakiku ke sembarang arah. Berharap keberuntungan akan membawaku menemukan Hajin.

“Taemin-sshi…,”lirihnya.

Sayup-sayup aku melihat bayangan Hajin di kejauhan.  Dia terlihat menyeret-nyeret kakinya.  Langkahnya terseok berusaha mendekatiku. Aku segera menghampirinya, ada banyak pertanyaan yang ingin  aku tanyakan padanya.

“Hajin-sshi,” aku melambaikan tangan dengan senyum sumringah ke  arahnya, aku rasa dia tidak akan melihat senyum itu.

Bug…!Hajin tersungkur, aku yang kaget terdiam sejenak. Bodohnya  aku malah mematung bukan membantunya. Menyadari kebodohanku, aku seger berlari ke arahnya. Tanpa mempedulikan sopan atau tidak  menyentuh tubuh seorang gadis, aku segera meraih tubuh Hajin dan berniat untuk menggendongnya –mencari tempat yang lebih nyaman.

“Taemin-sshi,” kata itu meluncur dengan tidak mulus.

“Hajin-sshi… gwaenchanhayeo?  Orang –orang kemana?” tanyaku.

Tidak ada jawaban yang aku dapatkan darinya. Malahan tubuhnya melemas. Jangan bilang kalau Hajin…

“Hajin-sshi… Hajin-sshi!” aku menggoyang-goyangkan tubuhnya, tetapi  tidak ada respon.

Sesuatu  yang hangat terasa mengalir ditanganku. Aku menyingkirkan tangan kiriku yang sedari tadi menyangga  kepala Hajin.  Rasa hangat itu masih terasa. Aku merasakan sesuatu yang basah,hangat dan sedikit kental di telapak tanganku itu. Rasa penasaran itu membersitkan ide gila untuk mendekatkan  tangan kiriku ke hidung.  Sial, tercium bau  anyir darah. Aku rasa itu  memang darah.

“Ggggrrrrm… emmm!” geraman terdengar beberapa meter dari tempat aku dan Hajin berada.

Geraman-geraman itu terus terdengar. Tidak hanya satu, tetapi beberapa geraman. Geraman-geraman itu membuat aku kembali merinding. Kelebatan bayangan melintas di depanku. Aku mengenali bayangan itu  sebagai sosok Yoon Min. Perlahan aku membaringkan  Hajin di lantai atap sekolah yang keras. Aku berani bersumpah, dia sudah tidak bernapas. Aku tidak tahu pasti bagaimana kondisinya, semuanya gelap.

“Yoon Min-sshi?!” panggilku.

Bayangan itu berhenti sejenak, menatap ke arahku. Entah bagaimana, aku bisa melihat dengan jelas mata biru milik Yoon Min. Mata biru itu bersinar dengan terang. Keberanianku yang sempat terkumpul kembali menciut. Mata biru itu menatapku dengan tajam, seolah menusuk-nusuk di tulangku. Langkahku terhenti untuk mengikutinya, hati kecilku memerintahku untuk tidak  mengikuti Yoon Mi yang kini telah melangkahkan kakinya dan menjauh.

“Yoon Min-sshi!”panggilku lirih.

Yoon Min terus saja melangkah menjauh. Kini dia telah menghilang dari pandanganku. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Hajin sudah tidak bernyawa lagi?

“Ggggrrrrm… emmm!”

Oh… tidak. Suara geraman macam apa lagi  ini? Apakah ada makhluk buas di sini? Grep…! Terasa sesuatu mencengkram salah satu  pergelangan kakiku. Apakah Hajin sadar?

“Hajin-sshi?” aku memutar badan.

Benar. Hajin-lah yang memegangi kakiku. Posisi tubuhnya adalah terlungkup. Sepertinya dia merangkak untuk mencapai tempatku. Mengapa dia tidak memanggilku saja? Bukankah lebih susah jika harus merangkak.

“Hajin-sshi… ternyata kamu masih hidup.” Aku sangat bersyukur dan ingin melompat karena sangat senang.

“Ggggrrrrm… emmm!”

Geraman itu terdengar begitu jelas. Aku rasa Hajin yang mengeluarkan suara itu. Hajin menggeram? Aku memutuskan untuk berjongkok, mensejajarkan diri dengan Hajin.

“Hajin-sshi?”

Geraman kesal kembali terdengar. Tangan Hajin mencengkrang kakiku dengan cukup kencang. Rintuhan kecil yang keluar dari mulutku menunjukkan kalau sebaiknya  Hajin  melepaskan tangannya dari pergelangan kakiku. Perlahan aku melepaskan cengkraman tangannya. Ya Tuhan… dia tidak mau melepaskan cengkramannya. Sebaliknya, dia semakin mempererat cengkramannya.

“Hajin-sshi… lepaskan cengkramanmu. Apheuda!” pintaku.

Hajin  mendongakkan kepalanya menghadapku, “Ggggrrrrm… emmm!”

“Omo…!!” pekikku hingga duduk terjengkang.

Hajin berubah menyeramkan. Air liur  dengan deras mengalir dari mulutnya. Matanya berubah hitam legam –seluruhnya. Aku tidak tahu harus menjelaskan seperti apa. Mungkin singkatnya, Hajin berubah  menjadi zombie atau mayat hidup –entahlah apa namanya- seperti yang aku  tonton  di film-film –resident evil contohnya.

“Aaaaak!!!” aku berteriak sekuat tenaga.

Aku menendang-nendangnya  sekuat tenaga untuk melepaskan kakiku. Aku bersyukur bisa lepas. Aku yang akan berlari menuruni tangga, mengurungkan  niat. Minjung dan beberapa murid lain yang terkena hukuman menghalangi jalan. Tetapi coba tebak,mereka  tidak hanya menghalangi jalan; mereka sama kondisinya seperti Hajin.

Akhirnya aku memilih berlari ke arah yang di pilih  Yoon  Min tadi, karena masih ada lagi makhluk seperti mereka di belakang Hajin yang telah berhasil berdiri. Aku tidak peduli  dengan napasku  yang terengah-engah, yang terpenting sekarang adalah mencari jalan untuk kabur.

“Yoon Min-sshi!” aku mendapati Yoon Min  berdiri di tepi atap sekolah. “Disini tidak aman. Kajja kita  lari!”

Yoon Mi tidak membalik badannya dan menatapku. Malahan dia terlihat menengadahkan kepalanya dan melihat permadani bintang di langit yang kini telah di tutupi awan yang begitu tebal. Beberapa datik kemudian dia kembali menegakkan kepalanya. Dengan kemampuan terbatas untuk  melihatnya, aku melihat pundaknya bergetar.

“Hahahahahaha!”  tawa nyaringnya  pecah, tawa  itu terdengar begitu jahat.

“Yoon Min-sshi?”

Dia memutar badannya. Lagi-lagi aku menemukan dia menatapku dengan mata birunya itu. Seperti yang aku lihat sebelumnya mata  birunya itu seolah berpendar sendiri. Tawa Yoon Mi masih belum berhenti, malah kini  semakin terdengar jahat.

“Yoon Min-sshi… apa ini semua adalah perbuatanmu?” tanyaku ragu, coba-coba.

Dia berhenti tertawa dan menatapku tajam, “Ne.” Jawabnya enteng.

Mworago? Ini tidak lucu Yoon Min-sshi.”

“Aku sudah mencoba bersabar. Mereka terus saja mengganguku, menghinaku. Mereka terus saja memancing emosiku. Aku tidak benar-benar membuat mereka mati. Aku hanya mengubah kepribadian mereka. Kepribadian yang haus akan darah, ingin membunuh dan memangsa.” Yoon Min mendekatiku, “Apa kamu takut  dengan  mata biruku, Taemin-sshi? Sudah sepatutnya kamu takut. Jika mata ini marah, maka tidak akan ada yang bisa menghentikannya. Kalian yang  membuatnya marah akan berakhir mengenaskan.” Tawa Yoon Min meledak.

“Yoon Min-sshi?”

“Selamat  jalan, Lee  Taemin yang baik hati.”

“Ggggrrrrm… emmm!”

Geraman itu kembali terdengar, kini tepat di belakangku. Aku segera memutar badan. Terlambat, mereka sudah mengepungku. Tidak ada jalan keluar. Apakah aku harus  menjadi seperti mereka? Yoon Min pasti punya cara  untuk menghentikan semua ini.

“Yoon Min-sshi!” panggilku sambil menoleh ke belakang.

Aku tidak mendapati  Yoon Mi di belakangku. Kemana perginya  gadis itu?

“Ggggrrrrm… emmm!”

Ya Tuhan… mereka semakin mendekat. Tamat sudah riwayatku. Mengapa kehidupanku sebagai  Lee Taemin –yang biasa-biasa  saja- harus berakhir dengan mati  mengenaskan? Ditambah aku  mati dengan cara yang aneh. Mati  di makan zombie. Mereka semakin mendekat  dan mulai menarik-narik tubuhku.

“Aaaaakkk!!!!” teriakan terakhirku.

­-WSS-

“Taemin-ah… ironae!”

Sayup-sayup aku mendengar seseorang memanggilku. Guncangan kecil di tubuhku juga membuatku sedikit tersadar.

Ironae!!!!”

Aku terkesiap.  Cahaya  yang menyilaukan menyambut mataku yang sedari tadi  hanya menjelajahi dunia yang gelap. Apakah  ini di surga?”

“Woy… Ironae!” teriak suara super nyaring di telingaku.

“Oh!!!”

Mataku sudah mulai terbiasa dengan cahaya itu. Aku celingukan kanan-kiri, mirip orang linglung. Keadaan di sekitarku saat ini mirip dengan dorm SHINee. Sepertinya  aku kembali bermimpi sebagai Lee Taemin SHINee. Tidak buruk juga mati setelah di makan zombie. Aku  bisa dengan puas bermimpi sebagai Lee Taemin  SHINee.

“Hey… makan malam sudah siap!” suara Minho Hyeong terdengar begitu  menenangkan  di telingaku.

“Aku  suka mimpi ini,” gumamku.

Pletak…!!!

“Auchhhhh!” pekikku tanpa rem.

Sakit sekali, kepalaku sangat sakit. Mataku mulai berair karena rasa sakit yang menjangkiti kepalaku. Mataku membulat sempurna ketika menyadari bahwa benda yang menghantap kepalaku adalah kaleng  pengharum ruangannya ukuran  sedang yang setengah kosong.

“Kibom-ah!” Bentak Jinki Hyeong. “Kalau mau lempar sesuatu kira-kira ukurannya. Kamu mau membuat Taemin gagar otak?!!!”

Mianhae Hyeong. Aku kesal, dari tadi  dia berteriak tidak jelas. Aku tidak bisa konsentrasi memasak. Tidak tidur, tidak bangun tetap saja selalu ribut.”

Minho Hyeong membantuku  mengelus kepalaku –yang terkena hantaman- untuk mengurangi rasa sakit. Ternyata apa yang aku alami tadi adalah mimpi. Dan aku sebagai Lee Taemin SHINee  adalah kenyataan. Syukurlah… tetapi mengapa aku selalu menderita? Mimpi dan kenyataan tidak ada bedanya.

FIN

Nb: AUTHOR POV

Mwo?!!!” pekik Taemin tiba-tiba.

Jinki dan Jonghyun yang sedari  tadi sibuk dengan latihan vocal mereka, sedikit  terkejut. Key juga mengomel tidak karuan di dapur. Sejak memejamkan matanya dan tertidur, Teamin terus saja mengigau. Tidak tanggung-tanggung dia akan  berteriak sekencang-kencangnya dalam keadaan  tidur.

Si kepala  dino dan sang leader, pada  akhirnya menghentikan latihan vocal mereka. Sifat penasaran sekaligus usil mereka, muncul di permukaan akibat Taemin yang terus mengigau saat tertidur.

“Yoon Min-sshi!!!”teriak Taemin lagi.

Jinki dan Jonghyun sudah duduk manis  di atas meja dan memperhatikan wajah Taemin yang tertidur dengan seksama. Sesekali Jonghyun akan mengerling nakal dan dijawab gelengan kepala oleh Jinki.

“Aaaakkk!!!” untuk kesekian kalinya Taemin berteriak.

Hyeong!” Jonghyun menyikut Jinki perlahan. “Anak ini mimpi apa? Mengapa dia terus  berteriak?”

“Mimpi horror mungkin!” tebak  Jinki asal  tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah Taemin.

“Ggggrrrrm… emmm!”  Taemin menggeram

Jonghyun dan Jinki menahan tawa dengan membekap mulut masing-masing.

“Sepertinya bocah ini bermimpi horror  tentang zombie,” tebak Jonghyun semakin ngasal.

Jinki mengangk kecil, mengiyakan. “Rupanya dia sampai terbawa mimpi tentang konsep comeback besok.”

“Ya ampun… Lee  Taemin!” Key yang juga mendengar perbincangan sesepuh SHINee itu ikut memberi respon.

Really FIN