Tags

, ,


stalker 3

Title                       : Stalker? [3 of 3]

Author                  : Chanyeonie

Main Casts          : Bella Abell a.k.a Park Seul Gi| Choi Si Won

Support Casts    : Find by yourself.

Genre                   : Romance| Fluff| Sad

Length                  : Chaptered

Rating                   : General

Summary             : “Apakah aku seorang penguntit?”

AN                                          :

Part terakhirnya… ye ye! Akhirnya rampung juga. Ada cast kejutan loh. Sebelumnya maaf, mungkin cast kejutan ini akan out of the real character cast-nya. Maksudnya karakter atau sifatnya akan berbeda dari  orang aslinya. Yo sudah… selamat membaca. Mampir juga  di yunsungallery.wordpress.com yah?

Warning              :

Typo yang mungkin tersembunyi . Gejala kebingungan yang akan  dialami reader karena narasi author yang ruwet. Penulisan yang –mungkin- tidak sesuai EYD.

ooOoOoo

Si Won bersusah payah mencari payung di dalam mobil. Dia mencoba mengingat-ingat di mana terakhir kali dia meletakkan payungnya. Dia mulai dongkol karena tidak menemukan payung itu. Sesekali dia akan melirik tepat  ke arah gadis yang sedang berteduh di bawah pohon yang cukup rindang, yang mungkin bisa mengurangi intensitas air hujan membasahi tubuh gadis itu.

Setelah sekian lama mencari, akhirnya dia menemukannya. Payung lipat berwarna putih itu ternyata terselip di kantung bagian belakang kursi yang dia duduki. Senyum Si Won mereka, sesaat lagi dia akan tampak seperti pahlawan dimata gadis itu. Dia sudah membulatkan tekad untuk membantu gadis itu. Entah akan bagaimana kesannya nanti, yang terpenting sekarang adalah mengakhiri penderitaan sang gadis.

Pintu mobil sudah siap terbuka. Ketika kaki kirinya baru saja menapakkan di tanah, dia berhenti seketika. Gadis itu ternyata sudah tidak lagi sendiri. Seseorang pemuda dengan perawakan tinggi dan tubuh yang sedikit kurus menemani sang gadis. Si Won hanya bisa menelan ludah, dia kecolongan. Siapakah pemuda itu? Dan apa hubungannya dengan gadisnya?

ooOoOoo

“Huuuh…,” helanya pasrah.

“Seul Gi-ya!” suara seseorang mengintrupsi  gumaman lirih Seul Gi.

Rintik hujan tidak terlihat berjatuhan di dekat ujung kakinya, tetapi pemandangan lain menggantikannya.  Sepasang kaki dengan ukuran  yang lebih besar dari kakinya berjajar rapi di hadapannya. Seul Gi segera menegakan kepalanya yang sedari tadi tertunduk.

Annyeong!” senyuman tersuguh untuk Seul Gi.

“Emmmm, neun?” mata Seul Gi membulat sempurna karena terkejut mendapati sosok pemuda  di hadapannya.

Kajja… di sini dingin!”

Seul Gi masih berdiri mematung. Dia tidak percaya dengan apa yang terpampang jelas di depan matanya sekarang. Seorang  pemuda  tampan dengan senyumnya yang menawan memandangnya dengan lembut, penuh perhatian. Tangan pemuda itu terulur, memintanya untuk menggenggam tangan itu.

“Seul Gi-ya… Palli,kajja!”

Seul Gi menggelengkan kepalanya perlahan untuk kembali  tersadar dari fenomena yang beberapa detik lalu mengusik kerja otaknya. “Nugundae?” tanyanya ragu.

Naega?” pemuda itu tersenyum lagi, dan kembali membuat Seul Gi tidak berpijak di bumi. “Joenenun Shim Chang Min imnida. Kajja, kamu bisa basah kuyup nanti.”

Seperti tersihir, Seul Gi mengikuti permintaan pemuda yang tidak dia kenal itu. Tangannya kanannya menyambut uluran pemuda tampan itu. Entah mengapa seluruh tubuhnya seperti tidak mau menuruti perintah sang otak.

Tidak jauh dari tempat Seul Gi berteduh tadi, terdapat mobil hitam yang terlihat sangat mewah.  Pemuda tampan itu –Shim Chang Min- mulai mengarahkan Seul Gi ke mobil itu. Genggaman tangannya terasa begitu hangat. Seul Gi masih belum tersadar betul. Dia masih berusaha mencerna apa yang seenarnya terjadi. Siapa pemuda tampan yang sedang menggandeng tangannya dengan lembut, terasa sekali bahwa pemuda tersebut berusaha melindunginya dari berbagai macam ancaman yang ada.

Seul Gi memperhatikan pemuda di sebelah kirinya itu dengan tatapan bingung. Dari kepala hingga ujung kaki, dia sangat sempurna. Pemuda itu bahkan rela basah kuyup demi melindungi Seul Gi dari hujan. Benar. Lebih dari setengah badan bagian kiri Chang Min tidak ternaungi payung. Payung tersebut di monpoli oleh Seul Gi.

“Silahkan masuk!” Chang Min membukakan pintu mobil untuk Seul Gi.

Seul Gi hanya menganguk kecil dan mengikuti permintaan Chang Min. Dia belum benar-benar sadar dari lamunannya, jiwanya belum masuk sempurna ke dalam raganya. “Emm…”

Beberapa detik berikutnya, terdengar pintu sebelah terbuka dan Chang Min duduk di kursi kemudi. “Apa masih kedinginan? Apa perlu aku menaikkan suhu pemanasnya?” tanya Chang Min sambil mengutak-utik tombol-tombol yang ada di dasbor mobil.

“Sudah hangat…,” jawab Seul Gi singkat. Matanya menatap Chang Min dengan intens.

Chang Min yang menyadari tatapan Seul Gi padanya segera balas menatap Seul Gi dan tersenyum, “Aku antar pulang, eoh?”

“Kamu siapa? Mengapa kami –?”

Chang Min terkekeh, “ Chang Min, Shim Chang Min. Apa harus ada alasan untuk membantumu?”

“Chang Min-ssi?”

Ne… Kamu akan pulang ‘kan?”

Seul Gi menganguk kecil. “Ne…

“Baiklah… Kajja!”

Chang Min menyalakan mesin mobilnya dan bersiap untuk melaju menuju rumah Seul Gi. Sesekali dia akan mengambil tissue dan mengelap bajunya yang hampir basah kuyup. Sedangkan Seul Gi tidak pernah mengalihkan pandangannya dari Chang Min barang sedetikpun. Dia masih bingung, sangat bingung.

ooOoOoo

Seul Gi bertopang dagu pada meja kasir. Dia masih terus memikirkan kejadian tadi siang. Apakah dia bermimpi, atau semua itu hanya khayalannya saja? Entah bagaimana pemuda yang bernama Chang Min itu mengetahui namanya dan berbicara seolah sangat akrab dengannya. Dia seolah sudah mengenal Seul Gi lama,  seolah teman lama Seul Gi. Yang paling mengejutkan adalah, Chang Min mengetahui alamat rumahnya sangat mengantarnya pulang. Padahal dia tidak memberitahukannya sebelumnya.

“Park Seul Gi!” panggil seseorang dengan suara cukup kencang.

Omo…,” Seul Gi mengelus dadanya karena jantungnya hampir saja loncat dari tempatnya. “Wae gurae?!!!” bentaknya.

“Kamu ke mana saja tadi? Bukannya berjanji akan membantuku?” rengek pemuda bermata kodok –Min Ho.

“Oh…mianhae. Aku ada urusan tadi, jadi langsung pulang,” bohongnya. “Jadi, bagaimana?” tanya ragu, sebenarnya dia tidak ingin mendengar jawabannya.

“Berhasil dengan sempurna. Mereka terlihat sangat cocok. Dilihat dari cara mereka berbicara dan saling menatap, aku jamin mereka akan berpacaran dalam beberapa hari.” Min Ho bercerita dengan antusias.

Seul Gi menghela napas kasar, “Berarti usaha kita tidak sia-sia.”

“Tentu saja,” Min Ho melirik jam tangannya. “Sebentar lagi Hyeong akan datang. Noona masuk kerja ‘kan?”

Ne…

“Tolong kamu mata-matai. Nanti kabarkan aku, Eoh?” Min Ho mengedipkan mata sebelah kanannya untuk menggoda Seul Gi.

Ne, saejhangnim!”

Gomawo, annyeong!” Min Ho pun pergi.

Tepat beberapa menit setelah Min Ho pergi, Si Won pun datang. Sebuah  buku yang cukup tebal dan buku catatan kecil bertenger di tangan kanannya. Seul Gi yang menyadari kedatangan Si Won mulai salah tingkah. Dia mulai mondar-mandir sana-sini dan memainkan kukunya karena gugup. Haruskah dia bertatap muka dengan pemuda yang dia sukai tetapi ternyata menyukai gadis lain? Betapa perihnya hati ini.

Annyeong haseyo, ada yang bisa saya bantu?”Seul Gi nekad menghadapi Si Won, dia berusaha keras menahan diri.

Si Won tersenyum ramah, “Tolong seperti biasa.” Pinta Si Won.

Ne…,” Seul Gi segera mengurus pesana Si Won.

Neun gwaenchanhayeo?” tanya Si Won ragu.

Seul Gi menatap Si Won, bingung. “Nde?”

“Emm… kamu tidak demam, flu atau semacamnya?”

Anindaewae?”

Obseoyeo!” Si Won segera membayar dan pergi ke tempat biasa menghabiskan waktu membaca buku.

Seul Gi masih memandangi Si Won dengan heran. Apa maksud pertanyaan Si Won barusan? Apakah wajahnya terlihat seperti orang sakit? Dia rasa tidak. Ujung mata Seul Gi tidak lepas dari Si Won yang sedang asyik dengan bukunya dan terkadang melihat lalu lalang kendaraan di jalan raya Seoul yang memang tidak pernah sepi. Pemuda itu tidak pernah akan menjadi miliknya. Mengingat itu, hati Seul Gi serasa teriris.

“Hey… mengapa melamun?” Yoon Ah mengejutkan Seul Gi. “Ini pesanannya sudah jadi. Ini pesanan Si Won Oppa ‘kan?”

“Si Won Oppa?” tanpa dia sadari, pertanyaan itu terlontar dari mulut Seul Gi.

Wae?”

Obseoyeo… Ne,itu pesanannya. Meja biasa.”

“Aku akan mengantarkannya ke sana.” Usul Yoon Ah girang.

Pemandangan tidak sedap kembali menyayat hati Seul Gi. Jelas sekali mereka berdua saling menyukai dan sangat cocok satu sama lain. Beberapa kali Seul Gi harus mengutuk dirinya sendiri agar tidak melihat ke spot sudut kafe tempat meja Si Won berada. Karena dia akan mendapati Si Won dan Yoon Ah sedang mengobrol dengan santainya. Untuk pertama kalinya selama dia bekerja di kafe, dia ingin kafe segera tutup agar dia tidak lebih lama lagi melihat adegan pendekatan Si Won dan Yoon Ah.

ooOoOoo

Ting… Tong…!

Seul Gi sedikit terperanjat ketika hendak membuka pintu.  Tepat ketika dia memegang gagang pintu, bel berbunyi. Tanpa menunggu waktu lama pintu itu pun terbuka lebar. Senyum seorang pemuda tampan menyambut Seul Gi. Wajah tampan itu tidak akan terlupakan oleh Seul Gi karena baru kemarin wajah tampan itu memperkenalkan diri sebagai Shim Chang Min.

Good morning!” sapa Chang Min.

Seul Gi memasang tampang bersungut. “Neun? Ada apa pagi-pagi ke rumahku?”

Ige…,” se-bouquet bunga mawar merah tersodor di hadapan Seul Gi.

Mwoyae?” Seul Gi enggan untuk mengambil  bunga itu. “Minggir… aku mau kuliah!”

“Aku antar?” sambar Chang Min.

“Tidak perlu,” Seul Gi terus melangkahkan kakinya menuju halte bis, dan Chang Min masih mengekor.

“Aku antar, eoh?” pinta Chang Min lagi.

“Aku bilang tidak perlu.  Kamu siapa? Aku sama sekali tidak mengenalmu.”

Chang Min menghalangi jalan Seul Gi, “Aku  antar!” paksanya. Sekarang terdengar sekali nada Chang Min yang memerintah Seul Gi untuk menuruti keinginannya.

Seul Gi mendelik kesal, “Aku bilang tidak perlu.  Jangan mencoba memaksaku atau –.”

Mwo?” potong Chang Min. “Kajja, aku antar!” Chang Min meraih pergelangan tangan Seul Gi dan memaksanya untuk mengikutinya.

Seul Gi tidak  tinggal diam, dia meronta sekuat tenaga. Sayangnya Chang Min menggenggam tangannya terlalu erat. Pemuda asing tersebut terus saja menyeretnya pelan menuju mobil hitam mewah yang juga kemarin digunakan untuk mengantarnya pulang. Tenaga Seul Gi memang  tidak ada efeknya bagi Chang Min yang bereparawakan kurus namun terlihat kekar.

“Lepaskan! Aku bilang aku tidak mau!” bentak Seul Gi.

“Aku antar!” nada suara Chang Min mengintimdasi.

Seul Gi tidak menyerah, dia masih terus meronta. “Yak… kamu tidak berhak memaksaku.  Aku sama sekali tidak mengenalmu. Kita tidak saling mengenal. Apa maumu? Lepaskan!”

Chang Min menghentikan langkahnya, “Aku mau kamu menjadi milikku.” Katanya perlahan dengan penekanan di setiap katanya.

Seul Gi mencelos. Kalimat yang baru saja terucap dari mulut Chang Min bukannya membuat dia tersanjung tetapi sebaliknya, dia merasa takut. Seul Gi menelan ludah, jantungnya  berdegup dengan kencang. Rasa was-was menjalar di setiap aliran darahnya. Ada yang salah dengan apa yang dia alami sekarang. Pemuda asing ini berbahaya.

“Seul Gi-ya!!!” panggil seseorang yang sontak membuat Chang Min dan Seul Gi menoleh hampir bersamaan.

Oppa!” suara Seul Gi terdengar gemetar. Dia pun berhasil melepaskan cengkraman Chang Min di pergelangan tangannya saat lengah karena Jong Woon memergokinya. “Jong Woon Oppa!” Seul Gi segera berlari menuju Jong Woon.

Chang Min mengumpat di dalam hati. Seseorang baru saja menggagalkan keinginannya untuk seharian ini bersama dengan Seul Gi. “Tsk…,” dengusnya, dia pun berlalu pergi.

Jong Woon masih memasang ekspresi sangar. Sedangkan Seul Gi sudah mengapit lengan Jong Woon dan bersembunyi di balik punggung Jong Woon. Dia berusaha mengatur kembali napasnya. Kejadian yang baru saja terjadi hampir menguras setengah tenaganya. Dia mencoba mengingat, apakah dia punya musuh yang kemudian mengirim pembunuh bayaran –Chang Min- untuk membunuhnya atau menculiknya?

Gwaenchanhayeo?” tanya Jong Woon.

Ne…

“Apakah dia temanmu?”

Seul Gi segera menggelengkan kepalanya kencang, “Anio… bahkan aku tidak mengenalnya. Dia  mengaku bernama Shim Chang Min. Dia sepertinya mengenal aku dengan sangat baik.”

Bersamaan dengan jawaban Seul Gi, sebuah mobil mewah berwarna hitam melintasi di depan mereka. Kaca mobil bagian kemudi terbuka dan dengan jelas menunjukkan sang pemilik. Siapa lagi kalau bukan Chang Min. Dia terlihat kesal, rahangnya mengeras, menunjukkan kekesalan yang dia alami.

“Ah… aku ingat!” celetuk Jong Woon. “Aku ingat mobil itu.”

Moraguyeo,Oppa?”

“Aku sering melihat mobil hitam itu di sekitar kafe dan juga di sekitar tempat kamu berada.”

“Ey?” Seul Gi membelalakan matanya. “Maksud Oppa?”

“Aku rasa dia stalker? Setelah dipikir-pikir dia selalu membuntutimu.”

Stalker?”

Jong Woon mengangguk kecil, “Emm… kamu harus hati-hati.”

Oppa, jangan menakut-nakutiku.”

ooOoOoo

Seul Gi ingin berteriak kencang saat ini juga dan di tempat ini juga. Dia  ingin sekali meluapkan kekesalannya, kekecewaannya. Betapa bodohnya dia. Mengapa sekarang dia berada di tempat ini? apa sebenarnya yang dia inginkan? Tidak ada sedikitpun kebahagiaan yang akan dia dapat.

Berbeda dengan Seul Gi yang  hampir mati menahan gejolak di hatinya yang meronta kesakitan, orang di sebelahnya malah tersenyum dengan senang. Siapa lagi kalau bukan Min Ho. Pemuda itu terlihat sungguh bahagia. Kebahagiaannya menutup hatinya untuk tahu apa yang diderita Seul Gi sekarang.

“Seul Gi-ya… gomawo,” ucap Min Ho memecah keheningan diantara mereka  yang sedari tadi sibuk dengan pikiran masing-masing.

Seul Gi mencoba terseyum. “Nde? Cheonma…”

“Sepertinya sudah cukup campur tangan kita dalam hubungan Hyeong dan Noona.

Weo?” ada sedikit bisikan kecil di hati Seul Gi yang tidak rela melepas pengawasannya terhadap Si Won.

“Aku hanya berpikir, bantuan kita cukup sampai disini.Biarkan mereka yang menentukan langkah selanjutnya.” Min  Ho tersenyum dengan lembut. Terlihat tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.

“Begitukah?”

“Emm…,” jawabnya singkat.

Ne…

Min Ho beranjak dari tempat duduknya, “Aku lapar.Kajja kita makan. Aku traktir!” ajak Min Ho.

Gomawo… aku mau sekalian mencari buku untuk bahan tugasku, mumpung di perpustakaan.” Bohongnya.

“Baiklah…bye.”

“Bye.”

Min Ho meninggalkan Seul Gi sendiri di tempat pengintaian mereka. tempat itu memang paling pas untuk memata-matai Si Won dan Yoon Ah yang mungkin sedang belajar bersama atau yang paling tepat adalah berkencan, berkencan di perpustakaan.Yap… memang sedang menjadi tren di kalangan mahasiswa.

Selangkah demi selangkah, Seul Gi menyeret kakinya perlahan. Sedikit lagi dia akan mendekat ke tempat dimana Si Won dan Yoon Ah mengobrol. Setan di  dalam dirinya membisikkan perintah padanya untuk mendekat dan menguping pembicaraan mereka. Hampir sampai, sedikit lagi sampai. Kini Seul Gi berdiri tepat di balik rak buku  dekat tempat mereka. Dari sini dia bisa mendengar percakapan mereka.

“Apa yang kamu lakukan?”  tanya seseorang yang membuat Seul Gi terkejut setengah mati. “Seul Gi-ya… apa yang kamu lakukan?” ulangnya.

Seul Gi mendengus kesal. Siapa yang berani menggangu aksinya? Kalau sampai dia ketahuan, bisa gawat. “Yak… jangan ganggu aku –,” Seul Gi membekap mulutnya sendiri segera. “Neun?” dia seperti melihat hantu.

“Apa yang kamu lakukan di sini, jagi?”

“Chang  Min?” Seul Gi segera memutar badan dan melangkah pergi.

Chang Min menahan pergelangan tangan Seul Gi –lagi. “Khajima…

Nde?”

Khajima… bukankah kamu mau bertemu dengannya?” Chang Min menarik paksa Seul Gi untuk mengikutinya. “Si Won-ah!”

Mwo?” Seul Gi tidak menyangka, ternyata Chang Min mengenal Si Won.

“Chang Min-ah?”

“Lama tidak bertemu,” Chang Min tersenyum dengan manis. “Oh… perkenalkan, naega yeojachingu.” Chang Min memperkenalkan  Seul Gi sebagai pacarnya.

Nde?” jawab Si Won dan Seul Gi hampir bersamaan.

Chang Min terkekeh, “Kenapa Si Won-ah? Bukankah aku pernah bercerita tentang  yeoja yang aku sukai? Inilah dia. Aku kembali dari Belanda hanya untuk dia, karena dia adalah milikku.”

“Dia… temanmu, Oppa?” tanya Yoon Ah kebingungan. “Dan kamu, Seul Gi-ya –.”

Ne.” jawab Si Won singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari Seul Gi yang masih berusaha melepaskan genggaman erat Chang Min di tangan kanannya.

ooOoOoo

Dia memandangnya tanpa berkedip. Pemuda yang duduk di sampingnya ini sama sekali tidak tertebak. Dia bertindak seolah mengenal Seul Gi dengan baik, dan dia memang mengenalnya dengan baik. Dia tahu segala hal tentang Seul Gi bahkan melebihi dirinya sendiri. Seul Gi malah sebaliknya. Dia sama sekali tidak mengenal pemuda itu sedikitpun. Dia memang tidak mengenalnya.

“Kamu siapa?” Seul Gi bertanya dengan suara berbisik.

“Shim Chang Mi, apa kamu lupa lagi?”

Seul Gi memutar matanya, “Bukan itu maksudku.”

Chang Min menginjak rem mendadak dan segera menepi. “Shim Chang Min, Chang Min. Pemuda yang telah mencintaimu sejak berumur 15 tahun hingga kini. Dan kamu selalu mengabaikannya. Kamu bahkan tidak pernah mengakui keberadaannya hingga sekarang. Kamu tidak pernah tahu bahwa dia selalu melindungimu, selalu berada di sekitarmu.”

Mwo?” Seul Gi menelan ludah.

“Heehhh… kamu memang sama sejak dulu, Seul Gi-ya. Kamu selalu mengacuhkanku. Tetapi kali ini aku akan membuatmu mengakui keberadaanku. Kamu tidak akan pernah melupakanku.”

Tanpa pikir panjang, Seul Gi segera meraih gagang pintu dan hendak kabur. Tetapi pintu mobil terkunci. Itu berarti usahanya sia-sia. Chang Min hanya terkekeh melihat gadis tercintanya itu   mulai ketakutan. Memang benar apa yang diceritakan Chang Min. Hampir setengah tahun ini dia memata-matai, membuntuti kemanapun Seul Gi pergi. Sepertinya julukan stalker memang sangat cocok untuknya. Setelah sekian lama,  barulah sekarang dia muncul karena Seul Gi selalu mengabaikannya. Buktinya, setiap bingkisan yang dia berikan kepada Seul Gi selalu berujung di tempat sampah –dibuang. Yang membuat dia semakin geram adalah  Si  Won, Seul Gi selalu saja mencoba dekat dengan Si Won.

“Yak… cepat buka pintunya!”  bentak Seul Gi.

Chang Min mengacuhkannya. Dia malah menyalakan kembali mesin mobilnya dan bersiap untuk pergi.

“Yak… psycho, buka pintunya!”

Alih-alih mendengarkan permintaan Seul Gi yang sebenarnya lebih mirip perintah, Chang Min malah mengemudikan mobilnya dengan kencang di jalanan. Seul Gi hanya bisa melotot, ketakutan.  Jalanan Seoul cukup ramai pada jam ini, dan dengan santainya Chang Min mengebut di jalanan. Apa dia ingin bunuh diri sekaligus  membunuhnya?

“Yak… apa maumu?!!”

Chang Min tersenyum sinis, “’Aku hanya mau kamu.”

Morago? Michigesseo?”

“Aku memang gila, dan itu karena kamu.”

Mwo? Aku bahkan tidak mengenalmu. Hentikan mobilnya!!!!”

ooOoOoo

Mwo? Romantis sekali,” Min Ae tidak henti-henti tersenyum aneh.

Seul Gi mati kesal,  sahabatnya itu memang berselera aneh. “Romantis apanya? He is psycho stalker.” Seul Gi bergidik ngeri. “Coba kamu bayangkan, aku hampir mati muda karena serangan jantung  semalam. Orang sinting itu mengebut dengan santai di  jalanan Seoul yang super padat itu. Kamu tahu ‘kan?”

Nan arayeo! Daebak… mirip film romance action yang aku tonton di bioskop kemarin. Kapan Jong Woon Oppa akan bisa seperti stalkerman-mu itu? Huuh…,” dia mengerucutkan bibirnya.

“Jung…Min…Ae!” Seul Gi memegangi kepalanya yang sakit karena ulah kekanak-kanakan Min Ae.

“Kalian membicarakanku?”

Seul Gi menahan napas. Orang yang untuk saat ini dan seterusnya –sepanjang hidupnya- tidak ingin dilihat lagi malah dengan santai duduk disebelahnya. Dia tersenyum manis dan menawan pada Min Ae dan hampir membuat Min Ae terjengkang. Yap, Min Ae terpesona –sangat terpesona- oleh senyum yang menurut Seul Gi adalah senyuman penggoda iblis.

Annyeong haseyo,” sapanya, ditujukan pada Min Ae –masih  dengan ekspresi wajah memalukan.

Ne…,” Min Ae menangguk kecil.

Seul Gi segera beranjak dari tempat duduk ternyamannya –beberapa detik  lalu. “Min Ae-ya…kajja, kita ada kelas ‘kan?”

Nde?”

Tanpa basa-basi lagi, Seul Gi menyeret Min Ae untuk segera hengkang dari tempat itu. Chang Min hanya tertunduk, mengembangkan senyum liciknya dan menghembuskan napasnya kasar. Terlihat jelas dia berusaha menahan emosinya. Dia diabaiakan, diacuhkan –lagi.

ooOoOoo

Min Ho  tidak henti-hentinya mondar-mandir di hadapan Si Won. Si Won  hanya bisa mencoba bersabar dan kembali memfokuskan diri pada buku super tebal yang bertengger dengan nyaman di tangannya. Ocehan Min Ho sesekali membuat dia jengah, tetapi sekali lagi dia hanya bisa menelan amarahnya bulat-bulat.

Hyeong… apakah aku tidak salah  dengar?”

Rupanya Min Ho belum terima dengan kenyataan yang baru saja dia ketahui. Si Won hanya menganguk kecil. Semoga jawaban singkatnya itu bisa membuat Min Ho sedikit tenang. Sayangnya, Min Ho tidak mau menerima jaban singkat itu.  Dia membutuhkan penjelasan yang panjang dan tentunya harus sangat jelas.

Hyeong!” dia merebut buku yang di baca  Si Won, “Jelaskan  semuanya sekarang, dengan alasan yang masuk akal. Jangan bilang usahaku selama ini sia-sia.”

“Tidak ada yang sia-sia, Min Ho-ya!” Si Won kembali mengambil bukunya pada tangan kanan Min Ho.

Min Ho mengacak-acak rambutnya  sendiri. “Hyeong… jadi selama ini bukan Noona tetapi Seul Gi?”

Ne,” Si Won mengangguk mantapdan tersipu malu.

Mendengar nama Seul Gi selalu bisa membuatnya bersemu merah. Bayangan akan senyum Seul Gi yang manis, membuncahkan rasa bahagia yang super hebat di dalam dirinya. Setiap mendengar nama Seul Gi di sebut, bayangan akan  segala hal mengenai Seul Gi agar terputar di otaknya. Sekali lagi, hal itu membuat dia tersenyum seperti orang yang sedikit tidak waras.

“Ya ampun, Hyeong. Kenapa tidak memberitahuku? Aku seperti orang bodoh saja yang berusaha menjodohkan Hyeong dengan Yoon Ah Noona.”

“Jangan salahkan aku. Kamu selalu sok tahu dan memotong penjelasanku. Tetapi seperti kataku tadi, tidak ada yang sia-sia. Berkatmu, aku bisa meminta bantuan Yoon Ah untuk sedikit membuat kejutan untuk Seul Gi di hari  ulang tahunnya nanti.”

Min Ho geleng-geleng kepala, “Jadi, kencan kalian selama ini adalah proses wawancara untuk mendalami apapun tentang Seul Gi.”

Si Won hanya mengangguk kecil dan nyengir kuda. Lagi-lagi membayangkan beberapa rencana yang telah dia susun untuk Seul Gi ke depannya, membuat dia tertawa sendiri. Min Ho yang melihat perubahan yang dialami kakak sepupunya itu bergidik ngeri.  Beginikah seorang Si Won yang sedang jatuh cinta.

“Tetapi…,” Si Won menutup bukunyadan berubah murung.

Wae geurae?”

“Seul Gi sudah memiliki namjachinguc.”

Mata kodok Min Ho hampir melompat dari tempatnya, “Mwo? Nugundae?

“Shim Chang Min.”

“Chang…Min? Bagimana bisa dia mengenal namja aneh itu?”

Kedua pemuda ini mengenal betul, siapa Shim Chang Min. Bagaimana tidak. Keluarga mereka memiliki hubungan yang dekat. Orang tua mereka adalah sahabat dekat. Kedua pemuda ini sudah sangat jengah dengan tingkah Chang Min semasa mereka masih selalu bersama. Chang Min selalu bertingkah seenaknnya dan tidak tanggung-tanggung membuat masalah besar yang berujung pada meningalnya salah satu teman mereka dulu.

Beruntung orang tuan Chang Min mampu mengatasi semuanya. Untuk meredakan suasana, sejak menginjak SMA Chang Min tinggal di Belanda. Syukurlah selama di sana, dia tidak membuat masalah yang berarti.

“Bagaimana  bisa Hyoeng tahu mereka mempunyai hubungan khusus?”

“Chang Min yang mengatakannya. Dia  memperkenalkan Seul Gi sebagai yeoja yang selama ini dia sukai dan  sekaligus sebagai pacarnya sekarang.”

Min Ho berdecak kesal, “Dia pasti berbohong.”

“Aku rasa juga begitu. Yoon Ah bilang, Seul Gi tidak pernah dekat dengan namja manapun kecuali Kin Jong Woon.”

“Lalu?”

“Hanya itu yang aku tahu.” Si Won mulai kesal.

Min Ho nyengir kuda. “Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Psycho itu hanya ingin membuat Hyeong marah. Yang terpenting sekarang adalah, rencana kita 24 Maret nanti.”

“Sejak kapan ini menjadi rencana kita?” Si Won menekankan pada kata ‘kita’.

ooOoOoo

Seul Gi bisa merasa tenang belakangan ini. Chang Min tidak bisa lagi mendekatinya. Mungkin dia memang terlihat masih sering membuntutinya, tetapi dia tidak akan bisa mendekat. Entah suatu kebetulan atau tidak, Jong Woon selalu berada di dekat Seul Gi pada saat yang tepat. Min Ae, Yoon Ah dan Min Ho juga hampir melakukan hal yang sama. Hebatnya, Jong Woon-lah yang lebih bertugas sebagai pengawal Seul Gi.

Beruntung lagi bagi Seul Gi, hari ini Chang Min tidak terlihat sama sekali baik sejak keluar dari rumah hingga detik ini. Seul Gi melenggang dengan riang menuju kafe tempatnya bekerja dari halte bis yang memang berjarak tidak terlalu berjauhan. Mood-nya sedang sangat bagus untuk memulai waktu kerjanya hari ini. Dia tidak mau ambil pusing –mencoba untuk tidak- tentang Si Won yang akan datang ke kafe –seperti biasa- untuk menemui pujaan hatinya yang tanpa dia ketahui adalah dirinya sendiri.

Annyeong haseyeo, Oppa!” sapanya pada Jong Woon yang sedang sibuk melayani pelanggan di meja pesanan –sekaligus kasir- itu.

Jong Won hanya  menganguk kecil. “24.000 Won,”jelasnya pada pelanggan yang akan membayar.

Seul Gi kembali melanjutkan langkah rianganya menuju runag ganti –loker. Tidak lupa dia menyapa  3 orang   koki kafe, manajer dan Yoon Ah. Suasana hatinya memang sangat baik, sepertinya juga berfek untuk orang-orang disekitarnya.

“Seul Gi-ya!” panggil Yoon Ah sebelum Seul Gi memasuki ruang loker.

Ne, Eonni.”

Yoon Ah mendorong Seul Gi tidak sabaran agar segera masuk ke ruang loker. Sesekali dia akan melirik jam tangan putih yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Tanpa basa-basi, dia memaksa Seul Gi untuk duduk di kursi yang baru kali ini tepat berada di depan cermin.

Eonni, ada apa ini?”

Saengil chukkae!” ucap Yoon Ah buru-buru.

Seul Gi tetap tidak mengerti apa yang terjadi.  Apalagi di tambah dengan apa yang sedang diperbuat Yoon Ah padanya. Yoon Ah memerintahyan untuk duduk dengan tenang dan dilarang bergerak sedikit pun. Sesekali Yoon Ah akan mengacak-acak rambutnya dan memperhatikan dirinya dengan seksama persis seperti pelukis yang sedang mengukur perspektif bentuk dari benda yang akan dia lukis. Seul Gi sama sekali tidak diizinkan bertanya.

“Ganti bajumu dengan ini!”

Mwo? Sejak kapan seragam kafe kita seperti ini?”

“Jangan banyak tanya, ganti bajumu sekarang.Palli!!” Yoon Ah memerintah dengan tegas.

Mau tidak mau Seul Gi menuruti juga perintah gadis yang sudah seperti kakaknya sendiri itu. Dia terus saja memandangi baju yang sebenarnya berjenis mini dress berwarna soft pink itu. Gaun itu sangat cantik –indah. Sudah lama Seul Gi tidak mengenakan mini dress seperti ini. Mungkin terakhir adalah saat menghadiri ulang tahun temannya semasa SMP.

“Seul Gi-ya! Palli!!” Yoon Ah berteriak tidak sabaran.

Seul Gi mendengus kesal, “Ne.”

Beberapa menit kemudian Seul Gi sudah berdiri di hadapan Yoon Ah. Senyum sumringah Yoon Ah terkembang. Dia merasa bangga akan buah pikirnya itu. Tidak salah dia bersusah payah ke Mall untuk memberli mini dress super elegan itu.

“Sekarang duduk!”

Nde?”

“Jangan banyak tanya.”

Ne.” Seul Gi menurut saja.

ooOoOoo

Mulut Jong Woon terbuka dengan lebar. Pemandangan di depannya ini tidak bisa di percaya.  Bagaimana bisa seorang Seul Gi yang tidak pernah peduli dengan penampilannya bisa menjad isecantik ini? Seul Gi hanya tertunduk malu  dan terus memainkan ujung pita mini dress-nya –ada di bagian pinggang.

“Tutup  mulutmu itu, Oppa.” Yoon Ah memukul kepala Jong Woon.

Cham yepposeo, Seul Gi-ya,” puji Jong Won sambil mengelus kepalanya yang kena pukul.

Yoon Ah segera meraih tangan Seul Gi, “Kajja…sebentar lagi dia datang.”

“Dia?Nugundae?”Seul Gi memasang wajah anehnya.

Yoon Ah tidak menjawab dan langsung saja menyeret Seul Gi untuk segera keluar dari kafe. Sesampai di luar kafe Yoon Ah celingukan kesana kemari. Pencariannya terhenti ketika mobil hitam berhenti tepat di depan kafe. Yoon Ah berlari kecil, meninggalkan Seul Gi berdiri mematung dengan seribu satu macam pertanyaan di otaknya.

Tok..tok!

Yoon Ah mengetuk kaca jendela mobil bagian kemudi. Tanpa menunggu lama kaca itu pun meluncr turun. Yoon Ah sedikit terkejut ketika mendapati bahwa pemilik mobil bukan orang yang dia cari.

Mian… sepertinya aku salah menebak. Aku pikir ini mobil Si Won,” Yoon Ah nyengir kuda.

Pemuda pemilik mobil itu membetulkan letak topinya, “Emm… Si Won Hyeong memintaku untuk menjemput seseorang.” Jawab pemuda itu terbata-bata.

“Oh… begitukah? Baiklah… tunggu sebentar.”

Yoon Ah memutar badan dan melambaikan tangannya pada Seul Gi. Seul Gi tetap saja berdiri di tempat semula. Yoon Ah melambaikan tangannya lebih cepat. Sepertinya bermaksud untuk meminta Seul Gi menghampirinya. Maksud Seul Gi itu di pertegas oleh gerak bibir Yoon Ah. Akhirnya dengan berat hati Seul Gi menghampiri Yoon Ah.

Palli!”

Eonni… ini sudah waktunya aku bekerja,” rengeknya.

“Jong Woon Oppa yang akan menggantikan shift-mu. Sekarang masuk ke dalam mobil.” Pintu belakang mobil terbuka dengan lebar.

Eonni,” Seul Gi berusaha terlihat memelas.

Palli!!!” Yoon Ah memasang wajah sangar.

Nyali Seul Gi menciut melihat ekspresi Yoon Ah yang mulai kesal. Perlahan dia memasuki mobil. Yoon Ah segera menutup pintu mobil dan melambaikan tangan pada Seul Gi yang masih sedikit kesal dan tantunya bingung. Mesin mobil kembali menyala. Tidak menunggu lama, mobil  itu sudah membaur dengan keramaian  jalanan Seoul.

Yoon Ah menepuk-nepukan kedua tangannya, seolah  membersihkan debu atau sejenisnya.  Tugasnya malam ini sudah selesai. Dia sudah mengeluarkan semaksimal mungkin kemampuan yang dia miliki. Selanjutnya adalah terserah yang memiliki urusan.  Yoon Ah membusungkan dada, membanggakan diri.

Reeegkkk….!

Sepertinya ada yang baru saja mengerem mendadak dan berhasil membuat rodanya mulus. Yoon Ah hampir saja mengumpat karena terkejut. Dia memutar badannya, dan ingin mengetahui siapa pengemudi gila yang hampir membuat jantungnya copot. Tepat dihadapan Yoon Ah, mobil berwarna biru gelap berhenti. Terdengar pintu mobil terbuka dan seseorang  berlari ke  arah Yoon Ah.

“Si Won, Oppa?!!!”pekik Yoon Ah.

“Seul Gi mana? Di dalam?” Si Won buru-buru berlari  ke arah kafe.

Yoon Ah berhasil mengumpulkan kesadarannya dan segera  menyusul Si Won. Terlihat Jong Woon tengah menjelaskan tentang keberadaan Seul Gi. Yoon Ah yang baru saja masuk ke dalam kafe segera mendapatkan berondongan tatapan penuh tanya dari Si Won.

“Bukankah kamu menyuruh seseorang menjemput Seul Gi?”

Si Won menggelengkan kepala kencang, “Anio.”

Namdongsaeng-mu baru saja membawa Seul Gi pergi,” Jelas Yoon Ah.

“Min Ho?”

Anio… dia baru saja pergi dengan mobil berwarna hitam. Sepertinya mobil mahal.”

“Aku tidak meminta siapapun untuk menjemput Seul Gi,” Si Won mulai panik.

Jong Woon yang hanya terdiam dari tadi, tiba-tiba memekik. “Stalker itu… namja psycho itu. Pasti dia yang membawa Seul Gi tadi.”

Si Won mengumpat tanpa suara, “Shim Chang Min.” Dia segera berlari keluar kafe.

ooOoOoo

Konsentrasi Seul Gi terfokus pada bangunan-bangunan yang menjulang tinggi di sepanjang jalan yang dia lewati. Tentu saja dia masih berada di dalam mobil hitam itu. Pengemudi yang mengaku sebagai adik Si Won tidak kunjung mengeluarkan suara dari tadi. Seul Gi semakin heran dengan tingkah pemuda itu yang selalu saja membenarkan topi yang dia kenakan agar menutupi wajahnya.

Mian… kita mau kemana?”

Pemuda yang tentunya adalah Chang Min hanya terdiam. Sesekali dia akan mencuri pendang ke belakang melalui kaca spion. Seul Gi  mulai kesal karena terus menerus diacuhkan. Mengapa Chang Min –tidak diketahui Seul Gi- selalu mengacuhkan pertanyaannya? Jawabanya sangat mudah,Chang Min tida ingin Seul Gi mengenalinya.

Lebih dari setengah jam berlalu. Jalanan yang mereka lalui mulai lenggang oleh kendaraan. Persimpangan-persimpangan jalan juga  mulai ada yang tidak memiliki lampu lalu-lintas. Perasaan buruk menjangkit otak Seul Gi. Semuanya mulai tidak benar. Sampai kapan dia harus berada di dalam mobil ini bersama pemuda menyebalkan ini. Kemana dia akan di bawa?

“Yak… kita mau kemana?” Seul Gi sudah hilang kesabaran. Chang Min tetap bungkam. “Hey… jawab aku.” Seul Gi beranjak dari posisi duduknya dan dengan lihai berhasil menaggalkan topi yang di kenakan Chang Min. “Oh!!!” Seul Gi kembali terduduk.

Senyum licik Chang Min terkembang, “Annyeong, Seul Gi sayang!”

“Yak… hentikan mobilnya sekarang!” teriak Seul Gi sekuat tenaga.

Chang Min hanya memasukkan telunjuknya ke lubang telinga, mungkin untuk mengurangi dengung akibat suara teriakan Seul Gi. “Tenanglah, jagi. Aku akan membawamu ke tempat yang indah. Bersabarlah!”

“Kalau kamu tidak menghentikan mobilnya sekarang, aku akan loncat.”

Klekk…!Terdengar pintu mobil tertutup otomatis. Tawa Chang Min meledak. Tawa yang sangat jahat. Seul Gi mulai susah bernapas. Matanya terasa panas  menahan tangis.   Dia tidak akan meneteskan sedikitpun air mata di hadapan pemuda  ini.

“Kamu akan menjadi milikku sebentar. Milikku  seutuhnya tanpa ada yang bisa merebutmu dariku,” gumam Chang Min.

ooOoOoo

Dugaan Si Won tepat, Chang Min membawa Seul Gi ke villa kelurga Shim.  Mobil yang dikatakan Yoon Ah dan Jong Woon tepat terpangkir di halaman villa itu. Si Won segera turun dari mobil dan berlari menuju pintu masuk villa. Dia tidak perlu susah payah mendobrak pintu, beruntung  karena pintu tidak terkunci.

“Yakk… mejauh dariku!” teriak suaar yang dia kenali sebegai suara Seul Gi.

Si Won segera berlari ke sumber suara. Dugaannya  menyatakan bahwa mereka ada di lantai satu. Si Won menaiki dua anak tangga sekaligus demi segera sampai ke tempat dimana Seul Gi berada.  ketika sampai di anaktangga terakhir, Si Won disuguhkan oleh kejadian yang membuat emosinya meledak-ledak. Chang Min sedang berusaha melakukan sesuatuyang tidak senonoh pada Seul Gi.

Bug…! Si Won berhasil menumbangkan Chang Min dalam sekali pukul. Chang Min yang mendapatkan hantaman keras di kepalanya jatuh pingsan seketika.

“Seul Gi-ya, gwaenchanhayeo?”Si Won menghampiri Seul  Gi yang menangis kencang di sudut ruangan.

“Si Won,Oppa,” Seul Gi berhambur ke pelukan Si Won.

Uljima…”

ooOoOoo

Kejadian yang terjadi begitu cepat tumasih meninggalkan trauma pada diri Seul Gi. 3 hari penuh dia mengurung diri di kamar dan tidak sudi keluar. Yoon Ah, Min Ae dan Jong Woon selalu datang untuk membujuknya. Nihil, Seul Gi tidak mau menuruti salah satu diantara mereka. Yoon Ah merasa sangat bersalah atas kejadian itu. Semuanya dikarenakan dia yang seenaknya membiarkan Seul Gi dibawa oleh orang yang tidak di kenal.

Si Won pun hampir selalu mencoba membujuk Seul Gi.Tetapi hasilnya sama saja.  Sungguh malang nasib Seul Gi, di hari ulang tahunnyadia harus mengalami kejadian itu. Bagaimana nasib  Chang Min? Tidak ada yang benar-benar tahu. Sebelum sempat dilaporkanke polisi, dia menghilang. Mungkin kedua orang tuanya kembali bisa menyelematkannyadarihukuman yang seharusnyadia terima.

Seul Gi menghembuskan napas kasar.  Hari ini dia akan kembali memulai kehidupannya seperti biasa. Rupanya dia mulai menyadari bahwa terus terpuruk tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik. Seul Gi menggoyangakandirinya ke kiri dan ke kanan, ke depan  dan ke belakang untuk meng hilangkan bosan menunggu bis yang tidak kunjung  datang. Beberapa orang yang juga menunggu sepertinya menggunakan cara lain untuk menghilangkan kebosanan mereka.

15 menit menunggu, bis yang akan mengantar Seul Gi ke tempat tujuannya berhenti di halte bis. Seul Gi  berlari kecil untuk segera memasuki bis  dan agar menemukan tempat yang nyaman. Ternyata tempat favoritenya masih kosong. Dia segeramenuju ke sana dan duduk denganmanis. Tempat duduk yang nyaman di sisi jendela. Seul Gi selalu merasakan kedamaian ketika menegok keluar jendela dan mendapati pemandangan indah sepanjang perjalanan.

“Boleh aku duduk disini?” pinta seseorang.

Seul Gi segera membenarkan caranya dudukdan mempersilahkan orang itu. “Ne.” sedetik kemudian dia kembali terlarut pada pemandangan di luar jendela.

“Apakah yang menarik di luar sana?”

Seul Gi tidak menoleh dia  juga tidak berniat menjawab pertanyaan orang –seorang pemuda- yang duduk disampingnya.

“Apakah apapun yang ada diluar sana lebih menarik dariku?”

Seul Gi tersenyum sinis, “Percaya diri sekali?” Seul Gi terkejut, “Oppa?!!”

Moorning, senang  kembali melihatmu di sini. Apakah kamu baik-baik saja?”

“Si Won Oppa, bagaimana –?” pertanyaan Seul Gi terpotong.

“ –ssst… apa kamu  tidak takut padaku?  Aku juga stalker-mu.”

Mwo?”

“Ini semua karena kamu yang  terlalu manis. Semua orang jadi ingin selalu membuntuti kemanapun kamu pergi. Misalnya di mulai kamu naik bis ini. Kemudian makan  siang dan mencari beberapa buku di perpustakaan.”

Seul Gi mengeryitkan dahi tidak mengerti. “Aku tidak mengerti.”

Si Won menyentil dahi Seul Gi perlahan. “Kenapa kamu selalu makan sinag dengan jjangmyeon? Aku sudah sangat bosan dan tidak akan makan jjangmyeon lagi seumur hidupku.”

Nde?”

“Lama-lama ususku bisa menjadi lengket karena terus makan jjangmyeon. Apa jajngmyeon makanan favoritmu, Seul Gi-ya?”

“Aku masih belum mengerti.”

Si Won mulai kesal. Dia menoyor kepala Seul Gi seenaknya. “Apa kamu belum sadar atau terlalu bodoh untuk menyadari sesuatu? Aku merelakan untuk selalu makan siang dengan jjangmyeon dan menghabiskan waktu semalaman duduk di kafe  demi kami. Punggungku sampai sakit karena terus-terusa duduk lama.”

“Yak…,” Seul Gi tidak terima. “Aku selalu makan siang dengan jjangmyeon karena Oppa juga. Lalu aku rela bekerja terus di kafe itu karena Oppa. Oppa pelanggan tetap disana. Itu merupakan kesempatanku untuk bisa terusmelihat Oppa.” Tanpa rem, Seul Gi melepaskna semuanya.

Lama mereka  berdua terdiam dan saling  menatap satu sama lain. Tiba-tiba tawa mereka berdua meledak. Sontak mereka menjadi pusat perhatian  di dalam bis.

Saranghae, Seul Gi-ya!”

Na tto!”

FIN