Tags

, ,


stalker 3

Title                       : Stalker? [2 of 3]

Author                  : Yunn Wahyunee/ Choi Chan Yeon

Main Casts          : Bella Abell a.k.a Park Seul Gi| Choi Si Won

Support Casts    : Find by yourself.

Genre                   : Romance| Fluff| Sad

Length                  : Chaptered

Rating                   : General

Summary             : “Apakah aku seorang penguntit?”

AN                                          :

Hoy..hoy…! Maaf bella, telat lagi nge-post. Pasti udah nunggu ampe dongkol yah? Maaf banget ^^.Kesibukan kuliah, khususnya ujian sedikit menghambat penyelesaian FF ini. Dan terkadang aku  males tik. Hehe ^^… So, selamat membaca. Part terakhirnya segera deh. Janji… hehe

Warning              :

Typo yang mungkin tersembunyi . Gejala kebingungan yang akan  dialami reader karena narasi author yang ruwet. Penulisan yang –mungkin- tidak sesuai EYD.

ooOoOoo

Dengungan kumbang sayup-sayup terdengar di telinga Seul Gi begitu dia membuka jendela kamarnya  yang tepat mengarah pada sang surya. Pagi yang indah dan menenangkan, sudah pasti  itu yang terbersit di benak Seul Gi. Aroma embun yang masih bergelayut di ujung dedaunan menambah kesejukan pagi ini.

Seul Gi menggeliat kecil sebelum  kembali mengucek-ucek matanya untuk kesekian kalinya. Entah mengapa  dia merasakan  firasat baik hari ini. Sebuah kejadian menyenangkan akan menghampirinya hari ini –harapannya.

“Seul Gi-ya… sampai jam berapa kamu akan tidur?! Kamu tidak kuliah?!” teriak ibu Seul Gi entah dari sudut rumah yang mana.

Seul Gi berdecak kesal, “Ne  Eomma…aku sudah bangun.”

Mau tak mau Seul Gi terpaksa meninggalkan spot kesukaanya, jendela dengan pot kecil tanaman kaktus  yang telah berbunga. Seul Gi kembali menatap ke arah kaktus itu sebelum benar-benar memasuki kamar mandi. Bunga kecil  berwarna merah muda yang seolah pita bagi sang kaktus terlihat berkilauan karena embun pagi yang sempat membasahinya. Lagi-lagi Seul Gi tergoda dan enggan mengalihkan pandangannya.

“Seul Gi-ya… jangan melamun!”

Seul Gi tersentak, “Ne…

Dia heran, bagaimana sang ibu  bisa tahu kalau  dia sempat melamun tadi? Mungkin karena memang itu kebiasaannya di pagi hari, jadi sang ibu sudah hafal betul tabiatnya itu.

ooOoOoo

Pemuda itu tidak henti-hentinya memuji bayangan yang terpantul  di spion  mobil hitam yang dia kendarai. Seperti biasa, pagi ini dia melakukan rutinitas yang belakangan ini menjadi  kewajiban baginya. Tidak akan sekalipun dia melewatkan rutinitas barunya itu. Sekali lagi  dia memuji bayangan itu, siapa lagi kalau  bukan banyangan dirinya. Bisa  dikatakan dia sangat mengagumi dirinya secara berlebihan.

Annyeong haseyeo, haramonnim.” Suara merdu seorang gadis segera mengalihkan konsentrasinya dari bayangan dirinya sendiri.

Senyum pemuda itu merekah dengan sempurna. Gadis yang dia tunggu sejak 2 jam yang lalu akhirnya muncul juga. Segera dia menaikkan kaca mobilnya untuk menyempurnakan pengintaiannya. Pemuda itu tidak berhenti menggumankan nama sang gadis dengan nada suara yang memuja. Rupanya pemuda itu telah jatuh hati pada sang gadis.

ooOoOoo

“Wah… mobil yang bagus,” Jong Woon memuji mobil berwarna hitam yang baru saja dia lewati.

Tanpa mempedulikan  pemilik mobil, dengan percaya dirinya Jong Woon berkacak pinggang tepat di badan mobil yang mengkilap hingga tercipta bayangan dirinya di sana.  Tidak tanggung-tanggung, dia  dengan narsisnya memperbaiki tatanan rambutnya. Dan berujung memuji diri sendiri.

“Oh… Seul Gi-ya, saranghae! You’re so beautiful.”

Jong Woon tersentak kaget. Sepertinya dia mendengar gumaman seseorang dari dalam mobil. Perlahan tapi pasti, dia mengendap-endap mendekati bagian kemudi sang mobil hitam. Matanya telah terfokus sempurna untuk  menembus  kaca mobil yang berwarna  gelap dan melihat pemilik mobil  yang mungkin  juga pemilik suara tadi.

“Seul Gi-ya… kamu adalah milikku!”

Kalimat yang berikutnya terbawa angin ke telinga Jong Won membuatnya bergidik. Nada suara yang mengiringi kalimat itu begitu yakin. Seolah dia tidak main-main dengan apa yang dia ucapkan. Jong Woon tidak begitu jelas melihat wajah pemilik suara  sekaligus juga pemilik mobil.

“Jong Woon Oppa!” panggil seseorang.

Jong Woon lagi-lagi terkejut. Dia menoleh ke asal suara dan menemukan Seul Gi melambaikan tangan padanya dari halte bis yang berjarak sekitar 20 meter dari tempatnya berdiri. Jong Woon membalas lambaian tangan Seul Gi dengan canggung. Sepertinya pemuda yang ada di dalam mobil melihat ke  arahnya. Dia segera membelakangi mobil hitam itu dan berlari kecil menuju halte bis.  Harapan akan sang pemilik mobil misterius tidak terlalu memperdulikannya tadi terus terlontar di dalam hatinya.

Oppa akan berangkat bekerja?  Bukankah ini masih terlalu pagi?” Seul Gi melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya sambil menghujani  Jong Woon dengan pertanyaan. “Lagian, tumben sekali Oppa bangun pagi? Oppa sehat-sehat saja, eoh?” punggung tangan kanan Seul Gi telah menempel di dahi Jong Woon.

“Kamu ini banyak tanya. Memang tidak boleh aku bangun pagi?”

Seul Gi nyengir kuda karena Jong Woon terlihat kesal. “Mianhae… aku hanya  merasa aneh.”

“Aku mau ke kampus, ada urusan dengan dosen.”

“Eh… Oppa masih kuliah?”

Tanpa menunggu, jitakan mantap mendarat di kepala Seul Gi. “Maksud pertanyaanmu apa, eoh?”

Apheuda, Oppa!” Seul Gi meringis sambil mengelus kepalanya yang terkena  bogem dari Jong Woon.

“Aku mau konsultasi skripsi.”

Ne…,”  bibir  Seul Gi mengerucut  kesal.

“Seul Gi-ya…,” Jong Won berubah serius.

Nde?”

“Aku rasa ada yang membuntutimu. Lihat mobil hitam di sebelah sana? Di belakangaku…”

Seul Gi  mengarahkan tatapannya pada arah yang dimaksud Jong Woon. “Tidak ada apa-apa, Oppa.”

“Eee…jinjae?”

“Emmm…”

Jong Woon segera menoleh. “Hahh… mobilnya  hilang?”

“Tidak lucu, Oppa. Kajja, bisnya sudah datang. Mau kuliah ‘kan?”

“Mobil itu ke mana?” Jong Won garuk-garuk kepala.

Palli!!!” teriak Seul Gi  dari pintu bis.

ooOoOoo

Choi bersaudara terlihat gusar. Entah sejak kapan leher mereka bertambah panjang dan terjulur ke sana ke mari. Mereka  berdua terlihat sibuk dengan peng-scaning-an masing-masing. Mereka sibuk mencari sesuatu atau mungkin seseorang tepat di depan gerbang  masuk universitas. Mata besar Min Ho ternyata menjadi  kelebihan tersendiri baginya. Dia menjadi lebih mudah mencari sang buruan ketimbang kakak sepupunya itu –Si Won. Hampir dalam waktu yang bersamaan, senyum mereka berdua terkembang.

Hyeong… dia cantik sekali. Hyeong jangan sampai pingsan, eoh?” Min Ho tersenyum aneh.

Si Won hanya menganguk mengiyakan. “Emmm… dia memang selalu cantik. Nanti  siang kita makan Jjangmyeong lagi, eoh?”

Mwo?” senyun Min Ho luntur. “Jjangmyeon lagi? Aku bosan,Hyeong. Bisa ganti menu yang lain tidak?”

Ani…,” Si Won menggelengkan kepala kencang kemudian melangkahkan kakinya mengikuti sang buruan.

“Mau ke mana, Hyeong? Noona ke arah sana.” Min Ho menahan lengan Si Won.

“Eeee?”

Palli…!!!” Min  Ho terus memaksa Si Won untuk mengikutinya.

Akhirnya Si Won hanya bisa pasrah mengikuti kehendak Min Ho. Tatapan sendunya terus mengiringi kepergian seseorang yang sejak tadi dia tunggu dengan setia. Gadis yang selalu tersenyum dengan manis itu memang telah membuat dia gila. Senyum gadis itu seolah menghipnotisnya dan membuat dia enggan untuk berpaling pada yang lain. Gadis pujaan itu tidaklah sempurna, tetapi ketidaksempurnaannya itulah yang membuat Si Won jatuh hati padanya.

Hyeong… Hyeong!!!”

Si Won menatap Min Ho dengan senyum yang aneh. “Mwo?”

“Lihat-lihat… Noona sangat cantik. Dia sangat cocok untuk Hyeong.

“Eee?” Si Won kembali normal. “Maksudmu?”

“Sudah saatnya Hyeong maju. Mematai-matainya cukup sampai di sini. Aku sebagai sepupu Hyeong akan membantu dengan segenap jiwa dan raga.”

“Apa yang kamu bicarakan? Siapa yang memata-matai?”

“Aaaa… mungkin istilah yang lebih cocok adalah penguntit. Hyeong selalu menguntit kemanapun  Noona pergi. Benar bukan?”

“Eeee?” Si Won mengerutkan dahinya.

Min Ho  melotot. “Respon macam apa itu? Aku tahu  semua, Hyeong. Biarkan aku yang menentukan langkah berikutnya. Hyeong hanya perlu mengikuti. Aku berjanji akan membuat Noona menjadi milik Hyeong.”

“Kamu ini membicarakan apa dari tadi?”

Hyeong,michigesseo? Aigoo…, “ Min  Ho kembali memfokuskan diri pada objek di depannya. “Eee… Yoon Ah Noona kenal Seul Gi? Kesempatan besar…” Min Ho tersenyum licik. “Hyeong!”  Dia tidak menemukan Si Won di sebelahnya. “Aish… ke mana dia? Baiklah… operasi  mendekatkan Hyeong dan Noona di mulai. Park Seul Gi akan menjadi jembatan pertama,” tawa Min Ho kembali terbentuk.

ooOoOoo

Sebuah kotak berukuran cukup besar menghalangi pandangan orang yang membawanya. Dia terlihat kesulitan membawa kotak itu, bukan karena berat tetapi ukuran yang memang besar. Beberapa kali dia melirik secarik kertas berukuran tidak lebih besar dari kartu nama untuk sekedar memastikan kepada siapa kotak itu dialamatkan.

Bukk…! Sepertinya dia menabrak seseorang.

Mianhae…,”mohonnya.

“Seul  Gi-ya…  gwaenchanhayeo?”  Min Ae segera membantu Seul Gi berdiri.

Seul Gi hanya menganguk kecil. “Emm…”

Pembawa kotak sekaligus orang yang menabrak Seul Gi menjulurkan kepalanya ke  samping kotak. “Seul Gi Agasshi?”

“Yak… nugundae?” Min Ae berkacak  pinggang. “Seenaknya saja menabrak orang.”

Mianhamnida… apa Agashi ini Park Seul Gi?”

“Bukan aku, tapi dia!”

Seul Gi memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan. “Naega Seul Gi, waegurae?”

“Kebetulan sekali,” pemuda –pembawa kotak itu- tersenyum senang, penderitaanya akan berakhir sekarang. “Saya mengantarkan bingkisan untuk anda. Silahkan tanda tangani tanda terimanya.” Pemuda itu menyodorkan tanda terima kepada  Seul Gi. “Gamsahamnida,” tanpa basa basi pemuda itu meletakkan kotak besar itu di lantai dan  berlalu begitu saja.

Min Ae mengamati kotak itu, “Ige mwoyae?”

Molla,” Seul Gi  hanya memberi syarat dengan kedua pundaknya. “Bantu aku membawanya. Kita akan mengetahui isinya di tempat lain.”

Araseo.”

Kedua gadis itu menjadi  pusat perhatian sepanjang perjalanan menuju  ruang kuliah mereka. Bagaimana tidak, kotak persegi dengan warna mencolok dan –cukup- besar itu berada di antara mereka berdua. Warna  mencolok? Tentu saja. Kotak persegi itu berwarna merah dengan corak hati berwarna merah muda dan pita berwarna senada dengan warna hati. Otomatis warna cerah dan sedikit norak  itu mengundang berpuluh-puluh mata memandangannya, dan berpuluh-puluh bibir berbisik tidak jelas.

Akhirnya mereka berdua dapat menghela napas lega. Daripada memilih untuk membawa kotak itu ke dalam kelas, mereka lebih memilih membawanya ke sudut taman universitas yang belakangan ini  sangat sepi karena ada rumor penampakan hantu nenek-nenek. Seul Gi dan Min Ae tahu jelas bahwa rumor itu hanyalah perbuatan licik anak-anak theater yang diusir dari gedung Student Center  karena dianggap sebagai komunitas yang tidak menghasilkan apapun. Alhasil, mereka menciptakan tempat latihan sendiri dengan mengusir para mahasiswa dari sisi  taman ini.

“Mari kita buka!” Min Ae tidak sabaran.

Ne… kenapa kamu yang lebih antusias?”

“Banyak omong, aku buka!”

Tanpa menunggu persetujuan  pemiliknya, Min Ae mulai membuka kotak itu. Mata Min Ae berbinar-binar dalam sekejap. Isi dari kotak itu membuat mulutnya terbuka dan ber-wah ria. Berbeda dengan Seul Gi, ekspresi wajahnya malah menunjukan bahwa dia merasa heran. Mengapa kotak ini diberikan padanya? Apa maksud isi kotak ini? Dan siapa pengirimnya? Apa yang diinginkan sang pengirim darinya?

“Seul Gi-ya… ini  sangat romantis.”

“Romantis?” dahi Seul Gi berkerut. “Bukankah ini sangat aneh dan menyeramkan?”

Phabonikka? Lihat betapa lucunya boneka ini dan betapa wanginya bunga tulip ini.”

Seul Gi mengacak-acak isi kotak, “Tidak ada identitas pengirim?”

“Ini ada kartu ucapan,” Min Ae menunjuk kartu berwarna putih polos dengan sedikit gambar menyerupai ukiran di  setiap sudutnya.

“Tidak ada nama pengirimnya juga, hanya ada inisial  S.A? Apa maksudnya?” Seul Gi membolak-balik kertas itu.

Min Ae segera merebutnya, “Itu artinya Secret admirer, pengagum rahasia.”  Min Ae terdiam sejenak. “Omo… Seul Gi-ya, kamu punya pengagum rahasia? Chukkae!!!” dia segera meraih tangan Seul Gi dan menjabatnya dengan antusias.

Seul Gi mendelik kesal, “Mwoyae, shiroe!”

Wae?”

“Tidak akan ada yang bisa menggantikan Si Won Oppa.”

Phabo… sudahlah, benda-benda ini akan di apakan?”

“Untukmu saja! Aku tidak butuh.”

“Huuuh…,” Min Ae menoyor kepala Seul Gi. “Sebelumnya dengar dulu isi kartunya.” Sebelumnya  sahabat Seul Gi itu berdehem. “Aku harap senyummu itu hanyalah untukku. Tiada apapun di dunia ini yang dapat menandingi indahnya senyummu.  Periku, tersenyumlah selalu.S A…”

Seul Gi hanya mampu bergidik ngeri. “Kenapa  tersenyum seperti itu. Hiiih… aku  geli mendengarnya.”

“Ini romantis tahu!”

“Terserahlah…,” Seul Gi berlalu begitu saja.

ooOoOoo

Seperti malam biasanya, Seul Gi harus bekerja di café milik pamannya yang super galak itu. Dan untuk kesekian kalinya dia harus mengontrol dirinya agar tidak bertingkah aneh di depan Si Won, pemuda yang selalu membuat jantungnya berdetak tidak menentu. Tetapi ada yang sedikit berbeda malam ini. Jam telah menunjukan pukul 7:15, dan Si Won belum juga muncul. Seul Gi sedikit merasa gelisah akan hal itu.

Siang tadi –jam makan siang, dia tidak menemukan Si Won di kedai Jajangmyeon. Bahkan bisa dikatakan dia tidak melihat bayangannya barang sepersekian detikpun hari ini. Hari ini memang Seul Gi memiliki jadwal yang sangat padat, ditambah  dengan Min Ae yang selalu menghalanginya untuk sedikit mengintip keadaan Si Won. Mengingat itu semua Seul Gi kesal sendiri. Dia sudah sangat merindukan pangeran tampannya itu.

“Hoy… melamun terus!”

Seul Gi terlonjak dari bayangan wajah Si Won yang tersenyum padanya. “Oh…”

“Ada pelanggan tuh. Palli!” Yoon Ah mendorong punggung Seul Gi.

Ne, Eonni.”

Berat rasanya kedua kaki Seul Gi untuk berjalan. Dia sama sekali tidak memiliki gairah untuk menyapa pelanggan ataupun hanya berkedip. Kesal, lelah, kecewa, semuanya bercampur aduk di dalam dirinya. Si Won, hanya nama ini yang terus terngiang di kepalanya. Apa yang dia lakukan sekarang? Mengapa dia tidak datang malam ini? Banyak lagi pertanyaan-pertanyaan di kepalanya yang tidak mampu dia jawab.

“Yak… Park Seul Gi!”

Lagi-lagi Seul Gi terkejut , “Mianhamnida, ada yang bisa saya bantu?”

“Hey… ini aku, Min Ho.” Min Ho menunjuk-nunjuk wajahnya sendiri.

“Eee? Min Ho?” Seul Gi memasang wajah heran dengan ekspresi lucu.

Min Ho tertawa kecil. “Weo? Aku  tidak boleh ke sini? Kamu bekerja di sini juga?”   Min Ho pura-pura tidak tahu.

“Oh…,” Seul Gi masih tidak percaya dengan apa yang dia  lihat.

“Hey… kamu kenapa? Melamun lagi? Tsk…”

“Oh, mian. Kamu mau pesan apa?”

Min Ho mendekatkan wajahnya pada Seul Gi. Meja display penghalang diantara mereka tidak menjadi hambatan bagi tubuh Min  Ho yang jangkung. “Di sini ada Yoon Ah Noona?”

Eonni? Ada… dia ada di belakang. Mau aku panggilkan?” jawabnya polos.

Min Ho kembali menegakkan tubuhnya. Memang sejak dulu, ekspresi yang muncul dari wajah  cantik Seul Gi selalu menggelitik perutnya. Gadis di hadapannya ini sangat imut dan menggemaskan. Tingkahnya akan membuat orang-orang yang mengenalnya akan selalu merindukannya. Menyukai Seul Gi? Min Ho akui, dia memang pernah menyukai Seul Gi. Dan sekarang? Hanya dia yang tahu.

“Ssst.. jangan dipanggil. Seul Gi-ya, aku bisa meminta bantuanmu?”

Mwo?” jawab Seul Gi tidak bergairah.

“Kamu tahu ‘kan kalau Si Won Hyeong sering membaca buku di sini?”

“Emm…,” mendengar nama pangerannya disebut, Seul  Gi berubah bersemangat.

Min Ho melirik kanan kiri, takut-takut ada pelanggan lain yang ternyata sedang kesal  menunggu giliran mereka. “Huuuh…,” dia menghela napas lega karena  hanya dia pelanggan yang perlu diladeni malam ini. “Kamu tahu mengapa dia selalu ke sini?” Min Ho tersenyum bangga.

Seul Gi menggeleng pelan. Melihat ekspresi Min Ho, Seul Gi menebak pemuda dengan mata super besar itu tahu jawabannya. “Ani.”

Hyeong menyukai seseorang yang tentu saja bekerja di café ini.”

Mworago? Seseorang yang dia suka?”

“Emm…,” Min Ho kembali menganguk bangga.

Nugundae?”

“Kamu sangat mengenal yeoja ini.”

Nugu?” firasat buruk menjangkit  fikiran Seul Gi. “Yoon Ah Eonni?” tebaknya ragu.

Min Ho menjentikkan jarinya. “Tepat sekali!”

“Yoon Ah Eonni?” Seul Gi mencari kepastian, dia berharap salah dengar beberapa detik yang lalu.

Ne… kamu kenapa terlihat shock begitu?”

Senyum terpaksa merekah di wajah Seul Gi. “Obseoyeo…  aku hanya terkejut.”

“Aku juga tidak pernah menyangka. Jadi, sekarang aku butuh bantuanmu untuk mendekatkan mereka berdua. Hyeong itu terlalu pengecut untuk mendekati Noona. Dia hanya berani melirik dari jauh. Lalu pura-pura tidak peduli. Padahal dia selalu ingin tahu apa yang sedang dilakukan Noona detik itu juga. Buktinya dia pura-pura sebagai pelanggan tetap disini hanya agar selalu bisa melihat  Noona. Bisa dibilang dia hanya berani menguntit. Mana  ada penguntit tampan, pasti cuma dia.” Min Ho tertawa cekikikan mengingat betapa  konyol kelakuan kakak sepupunya itu.

“Si Won Oppa menyukai Eonni?”

Ne… apa kurang jelas ceritaku tadi?”

Seul Gi menggeleng lesu. “Sangat jelas.”

“Baiklah… kamu mau membantu? Sebagai temanku dan Hyeong  juga teman Noona , kamu harus membantu.”

Ne.”

“Nah… begini rencananya –.”

Sial. Begitu pemikiran Seul Gi sekarang. Dia berharap ada pelanggan lain yang akan mengintrupsi penjelasan panjang lebar Min Ho tentang rencana menjodohkan Si Won dengan Yoon Ah. Ingin rasanya dia berteriak dan menjabak Min Ho agar berhenti memaksanya untuk membantu rencana gila ini. Pemuda bermata kodok itu memang tidak peka dengan apa yang dia rasakan. Apa dia begitu polos untuk tidak mengetahui bahwa hati Seul Gi teriris-iris kecil sekarang?

Waktu terasa bergulir  dengan lambat. Telinga Seul Gi mulai panas mendengar ocehan Min Ho.  Entah berapa alam dia menyusun rencananya untuk menjodohkan Si Won dan Yoon Ah. Semuanya terdengar matang dan sempurna. Alih-alih memarahinya untuk  tidak mengobrol dengan Min Ho, sang paman malahan menyuruh mereka mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol.Dunia memang hanya selebar daun kelor. Manajer Shim –paman Seul  Gi- mengenal Min Ho dengan baik karena Min Ho adalah salah satu klien yang membeli rumah dari manajer Shim.

“Jadi, kita akan memulainya besok. Otthae?”

Seul  Gi menghela napas lega, akhirnya Min Ho mengakhiri juga  pembicaraan menyesakkan ini. “Terserah kamu, aku ikut saja.” Seul Gi mencoba tersenyum.

Gomawo, eoh?

Ne… aku sangat senang membantu.” Bohongnya.

ooOoOoo

“Kamu dari mana?” Si Won mengarahkan dead glare-nya pada Min Ho yang baru saja menapakkan kaki ke dalam rumah.

Min Ho mengacuhkan pertanyaan Si Won. Dengan santai dia melangkahkan kaki melewati Si Won yang sedang duduk santai di depan televisi dan menuju dapur. Beberapa detik  kemudian dari arah dapur terdengar dentingan benda berbahan kaca yang bertubrukan. Langkah kaki yang di seret-seret mendekati ruang televesi terdengar setelahnya. Si Won  kembali mengarahkan matanya pada pintu menuju dapur dan mendapati Min Ho sedang meneguk hingga tandas air es yang baru saja dia  ambil.

“Kamu dari mana? Appa dan  Eomma mencarimu. Katanya kamu janji akan menjemput, tetapi malah tidak datang dengan alasan yang tidak jelas.”

Hyeong…,” Min Ho meletakkan gelas kosong berwarna putih di atas meja tepat di hadapan Si Won dan duduk di sampingnya. “Aku tidak menjemput Ahjusshi dan  Ahjumma itu demi masa depan Hyeong juga.” Lengan kanan Min Ho tersampir di  bahu Si Won.

“Masa depanku?”

“Emmm… masa depan Hyeong.”

Dahi Si Won berkerut, “Masa depan aku yang mana?”

“Masa depan Hyeong.”

“Kamu ini dari tadi berbelit terus.” Si Won beranjak dari posisi duduknya.

“Mau kemana, Hyeong?”

“Keluar!” Jawabnya ketus.

“Kemana?”

“Keluar!”

“Keluar kemana, Hyeong?” Min Ho mulai kesal.

Si Won tersenyum licik, “Keluar!”

Aigoo… sudahlah keluar sana.” Sebuah bantal sofa melayang ke wajah Si Won.

Annyeong pangeran kodok.”

ooOoOoo

Geollibeo geollibeo geogeo geollibeo geollibeo geogeo geollibeo geollibeo geogeo geollibeo geollibeo geogeo…!

Bukk…!

“Auw…!” Pekik Seul Gi.

Geollibeo geollibeo geogeo geollibeo geollibeo geogeo geollibeo geollibeo geogeo geollibeo geollibeo geogeo…!

“Yakk… diam!” Teriaknya lalgi.

Geollibeo geollibeo geogeo geollibeo geollibeo geogeo geollibeo geollibeo geogeo geollibeo geollibeo geogeo…!

Susah payah Seul Gi mencoba bangun dari samping tempat tidurnya. Beberapa detik yang lalu dia memang masih berada di tempat tidur , dan dalam sekejap berpindah ke samping atau lebih tepatnya terjatuh dari tempat tidur. Suara dering ponselnyalah penyebab kesialannya pagi ini. Tidak biasanya seseorang menelepon di pagi hari.

Sang ponsel masih saja berteriak dengan  lantangnya. Seul Gi sudah berhasil bangun dan duduk di tepi tempat tidur. Tangan kirinya terlihat berada di belakang punggungnya.  Mungkin untuk mengelus-elus punggungnya yang sedikit ngilu karena terjatuh tadi.

Yeobeoseyeo?” jawabnya malas.

Morning Seul Gi-ya!”

Seul Gi segera memperhatikan layar ponselnya untuk memastikan dugaannya. Dugaanya benar. “Yak… Min Ho-ya! Kamu ini kurang kerjaan sekali? Membangunkan seenaknya, kamu menghancurkan mimpi indahku.” Seul Gi meledak.

Mianhae… aku cuma mau mengingatkanmu untuk misi pertama hari ini.  Jangan lupa, Noona akan berada di ruang sidang seharian.  Dan Hyeong ,aku yang akan mengurus.  Oke?”

Arasseo!”

Fighting!”

“Emm…,” sambungan telepon terputus.

Tarik  napas dan hembuskan perlahan. Seul Gi mencoba menenangkan diri. Bodohnya dirinya menerima permintaan Min  Ho. Tidak, bukan permintaan. Min Ho memaksanya untuk melakukan ini semua. Mengingat semua perkataan Min Ho membuat dia ingin menangis lagi seperti semalam. Benar. Semalaman suntuk dia menangis dalam diam. Meratapi nasibnya yang hanya bisa menjadi penguntit, tanpa bisa memiliki sang target. Bodohnya lagi, bagaimana bisa selama ini dia tidak tahu kalau pemuda pujaannya itu menyukai gadis lain? Seandainya dia tahu lebih awal, mungkin tidak akan menjadi dan sesakit ini.

“Seul Gi-ya… ada  bingkisan untukmu!”

Ne Eomma!” hembusan napas kasar menandakan bahwa  dia tidak akan menangis.

Satu persatu anak tangga di tapaki oleh jejak Seul Gi. Tanpa merapikan rambutnya, Seul Gi memenuhi panggilan sang ibu. Langkah kaki terseok Seul Gi mengiringinya menuju ruang keluarga. Tempat dimana mungkin bingkisan yang dikatakan ibunya berada. Dan tebakannya benar.

Eomma, ini dari siapa?”

Molla,” teriak ibu dari taman samping rumah yang berhubungan langsung dengan ruang keluarga. “Tadi pagi sekali, seseorang membunyikan bel di gerbang rumah. Begitu Eomma keluar, tidak ada siapa-siapa. Dan hanya ada bingkisan itu di depan pintu gerbang.”

Seul Gi memperhatikan bingkisan berbentuk hanta  berwarna merah itu dengan seksama. “Eomma yakin tidak melihat pengirimnya?”

Ani… tadi pagi sangat sepi. Hanya ada mobil mewah berwarna hitam yang melintas dan anak  muda pengantar koran.”

“Mobil hitam?”

“Emm… sepertinya  terparkir tidak jauh dari rumah.”

Seul Gi terlihat berfikir, “Gomawo,Eomma. Aku akan membawanya ke kamar”

Ne…

ooOoOoo

Bingkisan  merah berbentuk hati diletakkan dengan kasar ke atas sebuah meja kayu bundar. Dua buah mata sipit dengan bulu mata yang sangat lentik hanya bisa melotot –dipaksakan. Ekspresi mata itu berubah berbinar-binar ketika bingkisan itu terbuka. Dan binar-binar itu semakin menjadi ketika sang mata beralih membaca sebuah kartu kecil berwarna putih dengan aksen ukiran emas di setiap sudutnya.

“Jadi, kamu menerima bingkisan ini tadi pagi?  Romantis sekali…,”

“Romantis? Tidak ada kata yang lain?”

Min Ae men-dead glare sahabat karibnya itu. “Tentu saja.  Pengagum rahasiamu ini rupanya sudah tahu banyak tentangmu. Buktinya pagi ini dia memberimu setangkai tulip putih dan dark coklat.”

“Dia juga tahu rumahku.”

“Betul… jjang.”

“Hebat dari mana?”Seul Gi tidak mengerti jalan pikiran Min Ae. “Orang yang melakukan ini semua sama saja dengan psyco.”

“Kamu berlebihan Seul Gi-ya. Dia hanya mengagumimu. Dia lakukan ini semua karena dia menyukaimu,” jelas Min Ae.

Seul Gi memutar bola matanya, “Ini psyco, stalker, mungkin juga pembunuh bayaran. Atau bisa saja orang mesum. Intinya ini semua tidak benar.”

“Bukankah sama saja denganmu, stalker? Penguntit sejati Tuan Choi Si Won.”

Seul Gi menatap Min Ae serius. “Aku berbeda dengan orang ini.  Ini sudah termasuk psyco.”

“Kamu berlebihan. Jangan bilang kamu masih mengharapkannya? Sudah jelas ‘kan dia tidak tertarik padamu. Jadi hentikan saja!”

Seul Gi tertunduk. “Tetapi –.”

Mwo? Aku tidak mau bestfriend-ku ini menangis seperti semalam karena pemuda tidak jelas seperti itu. Untuk apa menunggu orang tidak jelas itu. Sebaiknya sekarang kamu buka jalan untuk stalkerman ini.Apa kamu tega melihat stalkerman ini sepertimu?”

I’m not stalker!”

“Baiklah…,” Min Ae hanya geleng-geleng kepala. “Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang? Benar-benar menyerah?”

“Menyerah?”

Ne… menyerah untuk mendapatkan Si Won. Atau kamu mau terus menjadi pengagum rahasia yang setia tersakiti?”

Seul Gi terdiam, “Molla.”

“Kamu tetap akan membantu Min Ho untuk menyatukan Si Won dan Eonni?”

Anggukan kecil mewakili jawaban Seul Gi.

“Lalu?”

Molla… aku bingung.” Seul Gi menyembunyikan wajahnya pada lipatan tangannya di atas meja. “Aku tidak ingin berakhir seperti ini. Tetapi aku juga tidak tahu harus melakukan apa.”

ooOoOoo

Ne Eonni, aku tunggu. Jangan lupa, meja nomor 5. Sampai bertemu nanti.”  Seul Gi menutup telepon terlebih dahulu.

Raut wajahnya terlihat gelap,mengalahkan mendung di langit yang tidak seberapa. Rupanya hari ini adalah jadwal sang langit untuk sedikit menyirami bunga-bunga musim semi di bumi agar terlihat segar dan indah. Ataukah langit sedang menyindirnya  yang sedang patah hati? Langit seolah ingin menemaninya menangis. Menangisi kisah cintanya yang berakhir menyedihkan. Cinta bertepuk sebelah tangan.

Seul Gi bergeming, perlahan tapi pasti kakinya melangkah meninggalkan lobi gedung perpustakaan. Rintik-rintik hujan mulai jatuh satu per satu. Tidak terlalu intens, hanya beberapa  bulir persekian detik.  Titik-titik hujan yang tidak akan mampu membasahi  apapun –untuk saat ini. Merek belum akan mengeroyok Seul Gi, membuat Seul Gi basah kuyup.

ooOoOoo

Pemuda berperawakan tinggi dengan  tubuh yang begitu atletis berdiri dengan tegap sambil bersandar pada salah satu tiang yang menopang bangunan berlantai 5 itu. Ponsel berwarna hitam melayang beberapa centi di atas telapak tangannya.Yap. Dia sedang melambung-lambungkan ponselnya di udara. Tidak melambukannya tinggi-tinggi –tentunya, dia hanya merasa bosan dan hanya ponsel tidak bersalah itu yang dapat dia jadikan penghilang rasa bosannya.

Hampir 30 menit dia menunggu sang adik sepupu yang tidak kunjung menampakkan batang hidungnya. Mereka ada janji untuk makan siang. Sang adik sepupu bermata kodok telah  mengultimatumnya untuk tidak menolak dan datang terlambat.Tetapi buktinya sekarang, dia  tidak kunjung datang dan mulai membuat kesal.

Hyeong, tunggu sebentar. Ini kunci mobil. Aku mau ke toilet sebentar. Mobil ada di tempat biasa, aku akan menyusul.” Tanpa basa-basi Min Ho yang sejak dari tadi ditunggu hanya muncul untuk memberikan Si Won kunci mobil. Dan secara tidak langsung memerintah Si Won seperti tukang valley parkir.

Si Won  hanya melongo mengiringi kepergian Min Ho. “Dasar anak itu.”

Mau tidak mau, sadar tidak sadar,pada akhirnya Si Won menuruti juga perintah tidak langsung Min  Ho. Terbukti dari  dia yang mulai melangkahkan kaki menuju tempat parkir.  Si Won sengaja memperlambat langkahnya, dengan harapan Min Ho akan dapat menyusulnya. Dia tidak ingin harus menyetir mobil, karena dialah yang memegang kunci mobil sekarang. Mungkin ini juga salah satu trik Min Ho agar tidak harus menyetir. Si Won telat menyadari alasan yang satu itu.

Byurrrr…

Titik hujan yang tadi tidak seberapa berubah deras. Si Won mempercepat langkahnya hingga setengah berlari menuju mobilnya dan langsung mengambil posisi di belakang kemudi. Beruntung dia segera masuk kemobil dan tidak terguyur hujan.  Dia tersenyum kecil melihat beberapa mahasiswa yang belari ke sana ke mari di depan mobilnya.

“Oh?”

Senyumnya sedikit meredup ketika melihat sosok seseorang yang juga berlari untuk mencari tempat berteduh.  Seorang gadis yang telah menempati hatinya belakangan ini. Gadis itu berteduh tepat di depan mobilnya –berjarak 10 meter.  Rambut gadis itu terlihat basah, bajunya pun tidak luput dari sentuhan sang hujan. Si Won masih memperhatikan gadis yang entah kapan akan menjadi miliknya.

Kedua tangan gadis itu bertemu dan bergesekan satu sama lain, mungkin untuk menciptakan kehangatan. Si Won baru menyadari bahwa udara di luar mungkin cukup dingin. Apalagi dengan keadaan basah kuyup, angin pasti akan terasa menusuk. Dan dia tetap akan merasa hangat karena pemanas yang ada di dalam mobil.

Si Won memutar otak. Apa yang harus dia  lakukan? Tiba-tiba ide gila itu menunjukkan diri. Sebaiknya dia menghampiri sang gadis dan memintanya untuk berteduh  sekaligus menghangatkan diri di dalam mobil.

ooOoOoo

Pedal rem pada mobil mewah berwarna hitam diinjak dengan perlahan oleh kaki sang pemilik mobil. Akhirnya dia benar-benar menghentikan laju mobilnya yang terus merangkak perlahan tadi. Mobil itu di paksa berjalan beringsut untuk menyamakan langkah dengan langkah gontai seorang gadis. Tentu saja gadisnya, gadis pujaannya. Gadis itu memang terlihat lesu dan tidak bersemangat sejak keluar dari rumahnya pagi ini. Dia ingin sekali tahu dan membantu masalah yang dihadapi gadinya itu. Tetapi bagaimana? Haruskah dia menunjukkan dirinya sekarang? Siapkah dia untuk  bertemu langsung dengan gadis yang selama ini hanya mampu dia lihat dari jauh?

Byurrr…

Hujan deras mengguyur. Gadisnya berlari kecil mencari tempat berteduh. Rasa  khawatir tergurat jelas di wajahnya.  Dia berdoa dalam hati agar gadisnya segera  mendapatkantempat berteduh. Hembusan napas  lega  menunjukan dengan jelas bahwa rasa khawatirnya telah berlalu. Hujan terus  mengguyur tanpa ampun.Dia berfikir, hujan yang jatuh hari ini adalah salah satu fenomena alam  yang aneh akibat dari  global warming.

Detik berganti menit,  dan tidak perlu menunggu lama  akan berubah menjadi jam. Hujan tidak kunjung reda. Bahkan  sekarang sang hujan di temani teman lamanya –angin. Teman lama yang baik hati membantu tetes hujan mendinginkan bumi.   Angin terus berhembus diluar,menggoyangkan dengan  pelan  daun-daun yang terguyur hujan. Sang angin juga tidak lupa untuk membelai kulit  dan meninggalkan hawa  dingin  disana. Kulit gadisnya pun tidak luput dari sapaan sang angin.

“Cukup… tidak mungkin dia terus berdiri disana!”  dia segera mengambil payung yang selalu siap sedia di mobil mewahnya dan membuka pintu perlahan.

ooOoOoo

“Aish…kenapa bisa hujan?” Gerutu Seul Gi kesal.

Rupanya gerutuannya itu tidak dapat diterima dengan lapang dada oleh sang hujan. Dia memanggil temannya –sang angin- untuk terus menggoda Seul Gi. Seul Gi hanya bergidik. Dia mulai merasakan dingin yang membelai permukaan kulitnya. Beberapa kali telapak tangannya mengosok-gosok lengan  tangannya yang tidak tertutup oleh kaos lengan pendeknya agar mendapat sedikit kehangatan.

Bosan dan dingin. Kedua rasa itu mendominasi Seul Gi saat ini. Seandainya dia tidak mengurusi permintaan Min Ho, dia pasti sudah berada di rumahnya sekarang dengan segelas coklat hangat. Ketukan demi ketukan kaki Seul Gi pada pinggir tempatnya berteduh yang lebih tinggi dari  jalan menjadi pengalih rasa bosan dan dingin.

“Huuuh…,” helanya pasrah.

“Seul Gi-ya!” suara seseorang mengintrupsi  gumaman lirij Seul Gi.

Rintik hujan tidak terlihat berjatuhan di dekat ujung kakinya, tetapi pemandangan lain menggantikannya.  Sepasang kaki dengan ukuran  yang lebih besar dari kakinya berjajar rapi di hadapannya. Seul Gi segera menegakan kepalanya yang sedari tadi tertunduk.

Annyeong!” senyuman tersuguh untuk Seul Gi.

“Emmmm, neun?” mata Seul Gi membulat sempurna karena terkejut mendapati sosok pemuda  di hadapannya.

Kajja… di sini dingin!”

ooOoOoo

To Be Continued…

Wuih… makin ancur nin FF. Ceritanya ngalor ngidul kagak?  Mianhae, karena sering jeda lama untuk menyelesaikan ini FF. jadinya malah begini? 1 part lagi akan menyusul,last part… yeye