Tags

, ,


stalker 3

Title                       : Stalker? [1 of -]

Author                  : Yunn Wahyunee/ Choi Chan Yeon

Main Casts          : Bella Abell a.k.a Park Seul Gi| Choi Si Won

Support Casts    : Find by your self.

Genre                   : Romance| Fluff

Length                  : Chaptered

Rating                   : General

Summary             : “Apakah aku seorang penguntit?”

AN                                          :

Hai… Aku cuma mau bilang terima kasih pada Bella  Abell yang sudah  mempercayakan aku membuatkan FF ini untuknya. Semoga tidak kecewa dengan buah pikir author  gaje ini. Have fun! Do you like it, Saengi? Owned by yunsungallery[dot]wordpress[dot]com. SAENGIL CHUKKA HAMNIDA… walaupun telat, tidak apa-apa kan? hehe

Warning              :

Typo yang mungkin tersembunyi . Gejala kebingungan yang akan  dialami reader karena narasi author yang ruwet. Penulisan yang –mungkin- tidak sesuai EYD.

ooOoOoo

Dua orang gadis terlihat sedang berusaha mengerjakan tugas dari sang dosen yang harus dikumpulkan saat itu juga. Mereka saling melirik satu sama lain, memastikan jawaban mereka hampir sama. Sang dosen yang memang terlihat sangat sangar itu sedang menaikkan kacamatanya yang sedikit melorot. Dia tidak  peduli dengan keadaan kelas yang sedikit gaduh. Dia membiarkan saja para mahasiswanya menyontek satu sama lain. Dia yakin semua itu percuma. Tugas yang dia berikan tidaklah mudah.

Beberapa  menit kemudian sang dosen melirik jam tangannya. Dia tersenyum sinis dan meninggalkan korannya yang telah terlipat rapi diatas meja. Dia  berdiri dengan angkuh, memandang seluruh kelas yang semakin gaduh itu. Senyuman sinis kembali terkembang.

Prok… prok… prok!

Tepukan tangan sebagai  isyarat bahwa waktu habis menggema di seluruh kelas. Sontak semua aktifitas gaduh itu terhenti. Telinga mereka sangat jeli mendengar isyarat tepukan tangan yang tidak begitu keras itu. Sebagian besar dari mahasiswa itu mendengus kesal. Rela tidak rela, mereka harus mengumpulkan tugas mereka yang sebenarnya tidak sampai setengah jadi.

“Baiklah, kuliah saya akhiri.” Dosen itu melangkahkan kaki keluar pintu.

Tidak menunggu lama kelas sudah kosong. Disela-sela keributan  yang ditimbulkan oleh keluh-kesah mahasiswa jurusan Marketing Management itu, dua orang gadis tadi terlihat bercecok mulut.

“Yak… Kita harus ke perpustakaan dulu! Aku harus mengembalikan buku, sudah terlambat 1 bulan.  Bangkrut aku kena denda,” dengus salah seorang gadis.

Gadis satunya menggelengkan kepala  kencang. “Shireo… Kita harus  makan dulu. Kajja! Aku lapar!”

“Park Seul Gi, lepaskan!”

Gadis yang dipanggil ‘Park Seul Gi’itu hanya tersenyum kemenangan. Sahabat karibnya itu tidak  pernah sanggup berkata ‘tidak’ padanya. Dengan sedikit kasar  dia menyeret sahabatnya,  Jung Min Ae, untuk segera menuju kedai  langganan mereka –belakangan ini.

ooOoOoo

Min Ae segera meneguk minuman miliknya. Dia hampir saja mati karena tersedak. “Uhuk… uhuk… haah!” Alih-alih menunjukkan wajah lega, wajahnya malah terlihat heran memandang Seul Gi yang hanya memainkan makanannya. “Seul Gi-ya… katanya tadi lapar. Kenapa tidak dimakan?”

Seul Gi acuh tak acuh. Dia sama sekali tidak mendengarkan ocehan Min Ae. Konsentrasinya sedang terpusat di suatu tempat. Dia terus saja menatap ke sebelah kanannya, tepat ke sudut kedai itu. Beberapa kali dia terlihat tersenyum, entah apa yang membuat dia senang.

“Yak… Park Seul Gi!!!” Min Ae menjitak kepala Seul Gi.

“Auw…!” pekik Seul Gi sambil mengelus kepalanya. “Wae?”

“Jangan hanya mengaduk-aduk tidak jelas itu jajangmyeon!” perintah Min Ae.

Seul Gi menjawab malas, “Aku tidak lapar.”

“Aish…,” kembali menjitak kepala gadis aneh di depannya itu.

Wae…?!!”

“Tadi kamu yang menyeretku ke sini karena lapar. Lalu sekarang kamu bilang tidak lapar?” Min Ae naik pitam.

“Aku tidak selera siang-siang makan jajangmyeon, puas?!!” Seul Gi kembali melakukan aktifitasnya yang sempat tertunda.

Neo? Aish…  kamu yang memaksa ingin makan jajangmyeon. Aku sampai mengalah begini, padahal aku ingin sekali makan bibimbap.” Min Ae membanting sumpitnya kesal. “Huuuh…”

Seul Gi kaget setengah mati melihat Min Ae yang marah. Untuk pertama kalinya sejak mereka saling mengenal, Min Ae marah pada Seul Gi. Min Ae bukan tipe orang yang mudah marah. Dia sangat sabar dan selalu mengalah –khusunya pada dirinya. Tetapi kali ini, dia marah –marah besar. Seul Gi menelan ludah, takut sekaligus merasa sangat bersalah.

Mianhae, Min Ae-ya,” Seul Gi segera memakan jajangmyeonnya.“Oh… mashita! Hehe…,” dia nyengir kuda. “Mianhae, eoh?” Seul Gi menunjukkan puppy eyes-nya.

Min Ae menghela napas berat. Dia akhirnya mengalah. “Ne… aku memang tidak bisa marah padamu.”

“Gomawo…

“Haaah…,” hela Min Ae. “Kenapa kita selalu makan siang dengan jajangmyeon?” dia kembali menyumpit isi mangkuk di depannya. “Seingatku hampir dua bulan terakhir ini  kita makan di sini. Aku mulai bosan. Seul  Gi-ya…?”  Tidak ada jawaban. “Seul  Gi-ya…?!!”

“Auw… wae?”

Min Ae melotot kesal. “Kamu tidak mendengarkan aku dari tadi? Kamu lihat apa, eoh?” Min Ae mengikuti arah pandangan Seul Gi.

“Auw… wae? Kamu punya hobi baru,eoh? Seenaknya saja menjitak kepala orang,” gerutu Seul Gi.

“Ooh… jadi karena dia kita selalu makan di sini? Aigoo…

Nde? Aninde,” Seul Gi salah  tingkah.

“Jangan berbohong padaku. Kamu menyukainya,eoh? Kamu pikir sahabatmu ini tidak tahu kalau kamu selalu membuntuti kemana pun dia pergi?”

Seul Gi tersedak saat menyeruput mienya –jajangmyeon. “Eyy… kamu mengarang cerita, Min Ae-ya.”

“Begitukah? Lalu… apa  maksudmu  menyimpan fotonya di ponsel dan komputermu?” Min Ae tersenyum licik.

Sekali lagi Seul Gi tersedak. “Otthokae arayeo?”

“Kamu pikir dengan mem-password-nya berarti aku tidak bisa membukanya? Dasar penguntit mesum.”

Neo?!!”

“Kalau  tidak salah ada sekitar 500 megabyte lebih. Aku rasa untuk kapasitas foto, pasti sangat banyak.”

“Min Ae-ya…,” rengek Seul Gi.

Mwoya?”

Gaemanhae.

“Jadi, sejak kapan kamu menyukainya? Kenapa tidak pernah bercerita padaku?”

Seul Gi  berpikir sejenak. “Emm…”

ooOoOoo

Palli! Katanya mau ke perpustakaan?”

Min Ae berusaha mengatur napasnya. “Kenapa harus  terburu-buru. Aku kekenyangan, oh… perutku sakit.”

Palli wa…!”

“Aish…,” Min Ae tidak berniat bergerak dari tempatnya.

Seul Gi hanya menghela napas. “Aku tinggal, eoh? Jangan lama-lama, susul aku segera!” Seul Gi melangkahkah kakinya dengan cepat, meninggalkan Min Ae.

“Dasar,” Min Ae segera mengambil tempat duduk pada sofa di sudut lobi  gedung perpustakaan.

Seul Gi sempat berbalik sejenak melihat keadaan sahabatnya. Dia hanya bisa menggelangkan kepala melihat Min Ae yang sudah tepar tak berdaya. Menyadari dirinya membuang-buang waktu, dia mempercepat langkahnya untuk masuk ke bagian utama dari gedung perpustakaan.

Rak-rak buku  menjulang tinggi dan berderet rapi. Mirip seperti domino yang dijejer rapi dan siap untuk dirobohkan. Aroma buku menyeruak memenuhi udara. Aroma buku-buku itu terkadang terasa mistis. Belakangan ini Seul Gi telah terbiasa dengan aroma dan pemadangan buku dimana-mana. Belakangan ini dia memang rajin ke perpustakaan. Selain untuk meminjam buku demi kelancaran kuliahnya, juga dikarenakan seseorang yang selama ini dia puja.

Seul Gi memulai pencariannya di sudut membaca. Tatapannya yang tajam mencoba mencari sang target. Kebetulan sekali suasana perpustakaan sedang sepi –tidak terlalu banyak pengunjung, Seul Gi dapat dengan mudah menyelesaikan pencariannya. Pencarian yang paling sulit adalah pada deretan rak-rak buku yang memiliki celah sangat sempit dengan aroma buku usang yang sangat menyengat. Perpustakaan ini memang masih setia menyimpan buku usangnya.

“Bisnis? Apa dia di sekitar situ?Emm…,” Seul Gi mencoba menggali insting detektifnya. “Ah… ania, dia pasti di manajemen. Tidak salah lagi,”  Seul Gi segera melangkahkan kakinya menuju deretan rak buku tentang manajemen.

Binggo…! Dia menemukan targetnya. Seul Gi segera memperlambat langkah kakinya dan berjalan menuju posisi sang target. Dia berusaha bertingkah normal. Memang tidak ada yang melihatnya, setidaknya  berjaga-jaga. Seul Gi masuk ke celah rak buku di sisi yang berbeda dari sang target. Mengendap-endap, pura-pura mencari buku, memasang telinganya dengan baik dan berkonsentrasi.

ooOoOoo

Dua orang pemuda terlihat sedang sibuk mencari buku yang mereka butuhkan. Tetapi sebenarnya hanya satu  pemuda yang benar-benar sibuk mencari buku. Sedangkan pemuda satunya lagi terlihat tidak bisa diam. Mulut dan tangannya bergerak tanpa henti. Dia terlihat sedang menceritakan sesuatu yang sangat menarik tetapi tidak cukup menarik untuk pemuda yang bersamanya.

Hyeong… apa  yang harus aku lakukan? Noonadeul itu sangat menyeramkan. Mereka selalu memaksaku menerima hadiah dari mereka. Hyeong tahu apa yang mereka berikan?”

Pemuda yang dipanggil ‘Hyeong’ hanya menggelengkan kepala sekali dan kembali membuka lembar demi lembar buku yang sedang dia pegang. Tidak pernah sekali pun dia menatap sang lawan bicara. Dia hanya berkonsentrasi pada bukunya  dan sesekali terlihat berpikir.

“Mereka memberi aku coklat, cake, dan makanan sejenisnya. Mereka tidak tahu lemak dan gulanya sangat banyak dan tidak baik untuk kesehatan. Itu semua sumber penyakit kan, Hyeong?” Tidak ada respon sama sekali. “Hyeong… Hyeong…. Choi Si Won-ssi!!” teriaknya.

Pemuda yang bernawa Choi Si Won itu hanya memandang dengan kesal. Detik berikutnya dia menaruh buku yang dia baca tadi dan mengambil buku yang baru.

Hyeong…,” rengek Min Ho –Choi Min Ho, pemuda satunya.

Wae? Kalau begitu kamu buang saja.  Tolak pemberian mereka.  Gampang sekali, kan?” Si Won hanya tersenyum sepersekian detik.

“Tetapi aku tidak enak hati. Bagaimana kalau mereka menangis, terus membenciku?”

Si Won menutup wajah Min Ho dengan buku yang dia pegang. “Berisik… ini perpustakaan.”

Hyeong…,” Min Ho menyingkirkan buku itu dari wajahnya. “Saat makan siang tadi Hyeong tidak mengizinkanku bicara, jadi dengarkan aku sekarang. Hyeong… tunggu aku!”

Si Won terus berjalan meninggalkan adik sepupunya yang cerewet itu. Sepupunya itu memang selalu di gandrungi oleh gadis-gadis. Dari yang lebih muda sampai yang lebih tua darinya. Itu semuanya salahnya yang selalu tebar pesona. Apalagi kalau dia sudah menunjukkan mata besarnya yang berbinar-binar, begitu merepotkan.

Sebenarnya dua pemuda ini tidak beda jauh. Si Won memiliki nasib yang sama. Bedanya dia lebih dingin dan acuh tak acuh. Alhasil, para gadis yang menyukainya hanya berani meliriknya dari jauh tanpa mendekat. Mereka terlalu takut untuk merasakan aura dingin yang menyeruak dari tubuh Si Won.

Bugg…!

Terdengar suara yang berasal dari benturan dua buah benda atau lebih. Lebih tepatnya bukan benda, tetapi orang.  Tanpa direncanakan Si Won menabrak seseorang setelah memberikan tatapan membunuh pada  Min Ho. Dia sedikit kaget mendegar pekik kecil orang yang bertabrakan dengannya.

“Auch…,” pekik orang itu.

Gwaenchanhayeo?  Mianhamnida, saya tidak memperhatikan dan akhirnya menabrak Anda.” Si Won menundukkan kepalanya meminta maaf.

Gwaenchanha… saya  juga tidak melihat kedatangan Si Won sunbae.

Si Won terdiam dan hanya melayangkan senyum hambar.

Hyeong… ada  apa?” Min Ho menatap gadis yang sedang menunduk malu di hadapan Si Won. “Seul  Gi-ya, Park Seul Gi? Wah… bagaimana kabarmu?”

Nde?” gadis yang di tabrak Si Won adalah Seul Gi. “Emm…,” Seul Gi kikuk.

Si Won menyikut Min Ho, “Bagaimana kamu bisa menggunakan banmal pada seseorang yang baru kamu temui?”

“Dia temanku saat SMA. Jadi  tidak masalah kan?” Min Ho tersenyum pada Seul Gi. “Ah… kamu sudah mengenal Hyeong-ku. Aish… padahal dia baru 4 bulan di sini. Dia memang terkenal.”

Seul Gi hanya tersenyum, “Ne… aku hanya pernah melihatnya beberapa kali dan mendengar yeojadeul itu berteriak histeris memanggil namanya,” bohongnya.

“Begitukah?HeolHyeong memang popular. Auw…,” pekik Min Ho  karena disikut oleh Si Won.

“Oh… Ne,” Seul  Gi berusaha menahan tawa. “Emm… aku pergi! Min Ae sudah menungguku.”

Ne…,” Si Won menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda kesopanan.

Ne… sampai berjumpa lagi.” Min Ho melambaikan tangan santai.

Seul Gi membalas lambaian tangan Min Ho. “Annyeong!” Seul Gi berjalan meninggalkan mereka.

Min Ho terus menatap Si Won. “Hyeong… kenapa pipimu merah?”

Mwoya?”

ooOoOoo

Senja mulai berganti. Langit yang berwarna keoranyean, perlahan namun pasti berubah gelap. Langit malam siap menyambut Seoul seperi biasanya. Kehidupan malam di Seoul tidaklah jauh berbeda dengan saat siang hari. Jalanan tetap ramai oleh kendaraan dan orang-orang yang berlalu-lalang. Gang-gang kecil penuh sesak dilalui manusia yang mencari pelipur kepenatan mereka.

Kring… kring…!

“Selamat datang di Zoo Café,” sapa seorang pemuda dengan ramah.

Annyeong haseyeo,Oppa?!!” sapa dua orang bersuara nyaring secara bersamaan.

Aigoo…  kalian berdua. Kalau tahu kalian, tidak perlu aku menyambut kalian. Dasar merepotkan,” gerutunya.

Min Ae mengerucutkan bibirnya. “Jadi,  Oppa tidak suka aku datang? Oh…joahe.  Aku pergi!” Min Ae memutar badan dan  pergi begitu saja.

“Min Ae-ya, tunggu! Oppa hanya bercanda,” terdengar panik.

“Tsk…,” Seul Gi hanya menggelengkan kepala dan menunjukkan ekspresi mengasihani pemuda di hadapannya ini. “Jong Woon-ssi… malang nian nasibmu.”

Jong Woon –Kim Jong Woon–mendelik kesal pada Seul Gi. “Neo… bukankah sekarang sudah waktu kerjamu? Palli… gantikan aku!”

Araseo Oppa, sini! Walaupun sebenarnya jam kerjaku masih 15 menit lagi, tetapi baiklah. Mungkin aku bisa dapat tambahan,” Seul Gi melangkah menuju pintu masuk bagian belakang café –khusus karyawan.

“Eh…?” Jong Woon tidak mengerti dengan maksud perkataan Seul Gi.

Seul Gi hanya mengedipkan matanya beberapa kali. “Palli kka, Oppa! 15 menit ini sudah menjadi milikku.”

Neo…?”

Palli kka… Min Ae bisa sangat marah nanti,” goda Seul Gi.

Jong Woon hanya bisa mendengus kesal, “Baiklah, araseo! Aku pergi!!!”

“Tidak ganti baju dulu?”

“Tidak perlu!” Jong Woon sudah berlari keluar café, ke arah Min Ae menghilang tadi.

Seul Gi berjalan perlahan sambil bersenandung, berniat menuju ruang ganti. Kring… kring…! Seul Gi mengurungkan niatnya untuk mengganti baju karena ada pelanggan. Dia segera berlari ke meja kasir sekaligus tempat pemesanan tanpa menggunakan seragamnya.

“Selamat datang di Zoo Café,” Seul Gi menyambut dengan sopan sambil sedikit menundukkan kepalanya. “Ada yang bisa saya bantu? Anda ingin memesan apa?” Seul Gi sudah standby dengan layar monitor di depannya. Tangannya sudah siap untuk menyentuhkan jarinya di layar itu sesuai pesanan pelanggan. “Menu istimewa kami hari ini adalah Waffle Blueberry Vanilla Almond, Banana Chocolate Pudding, Pancake –“

“–Saya ingin memesan seperti biasa saja,” suara berat nan dalam dan penuh wibawa itu menghentikan aktifitas Seul Gi dan segera menatap sang pemilik suara. “Tolong… Carrebian Nut dan Pancake Cherry Vanilla, untuk satu orang.”

“Oh… ne, tunggu sebentar. Saya akan mengecek pesanan Anda,” Seul Gi merasakan gugup yang luar biasa. Dia bahkan tidak mampu menelan ludahnya. “Carrebian Nut dan Pancake Cherry Vanilla?” tanyanya ragu.

“Emm…,”

Seul Gi terlihat tidak bisa mengontrol dirinya. Jari-jarinya gemataran dan melemas. Dan entah mengapa, layar monitor itu tidak merespon sentuhan tangannya. Sesekali dia melirik sang pelanggan dan sedikit melayangkan senyum. Pelanggan itu hanya membalas seadanya dan terlihat terus memperhatikan Seul Gi. Untuk kesekian kalinya Seul Gi berusaha menelan ludah yang terasa seperti  batu di tenggorokannya.

“Apakah Anda Park Seul Gi?” tanya pelanggan itu seperti berbisik.

Nde?” Seul Gi terkejut, tentu saja dia akan mengenalinya.

“Saya Choi Si Won, sepupu Choi Min Ho. Bukankah kita pernah bertemu –lebih tepatnya bertabrakan- di perpustakaan universitas beberapa waktu yang lalu?”

Seul Gi memberanikan diri menatap Si Won. “Oh… begitukah?”

“Kamu tidak mengingatnya?” terdengar nada kecewa di sela-sela kata yang di ucapkan Si Won.

“Oh… ania, mianhae. Saya memang sedikit memiliki ganguan pada memori otak. Jadi  sulit mengingat nama dan wajah orang, “ Seul Gi mengutuk dirinya sendiri dalam hati. “Semuanya 21.500 won.”

Si Won segera memberikan 3 lembar uang dengan nominal 10.00 won. “Kamu bekerja di sini?”

Nde?” Seul Gi sedikit tersentak mendengar Si Won berbicara informal padanya, ditambah isi dari pertanyaannya.

“Sepertinya, aku baru melihatmu,” tambahnya.

“Oh… ania. Aku sudah lama di sini,” Seul Gi mengigit bibir bawahnya. “Ini kembaliannya, dan ini… jika bergetar dan menyala hijau, berarti Anda bisa mengambil pesanan Anda. Gamsahamnida,” Seul Gi menunduk hormat.

“Emm… gomawo.”

Setelah memastikan Si Won berjalan menjauhi tempatnya, tubuh Seul Gi segera merosot dan terduduk. Kakinya seketika lemas dan tidak mampu menopang tubuhnya lagi. Keringat dingin mengucur di pelipisnya. Apa yang baru saja dia lakukan? Kenapa dia bisa mengeluarkan semua kalimat-kalimat itu dari mulutnya tanpa berpikir panjang.  Semua sudah berakhir, kehidupannya sudah berakhir.

“Kamu sedang apa?”

“Oh…! Eonni mengagetkanku saja.”

“Apa yang kamu lakukan di situ. Ganti bajumu sana, kalau dilihat manajer bisa dimarahi kamu.”

Seul Gi segera berdiri. “Aigoo…Eonni gantikan aku sebentar.”

Ne, palli!”

ooOoOoo

Jarum jam terus bergerak, tetapi pergerakannya terasa begitu lamban. Suara percakapan orang-orang dan suara musik mellow di café yang mengalun membaur menjadi satu. Bahkan suara kendaraan di luar sana juga ikut bercampur menjadi satu, membentuk suatu bunyi yang membingungkan. Tetapi semua itu tidak sedikit  pun mampu mengusik Seul Gi. Dia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Sesekali terlihat hembusan napas kasar darinya. Tidak jarang pula dia menunduk lemas, seperti tidak ada gairah sama sekali.

Tuk… tuk… tuk…

Jari-jari lentik Seul Gi terus saja mengetuk meja tepat dia bertopang dagu. Dia sama sekali tidak peduli dengan konsekuensi yang akan dia dapat dengan tindakannya itu. Bisa saja dia mendapat teguran dari manajer atau mendapat tatapan menusuk dari para pelanggan.

“Seul Gi-ya… apa yang kamu lakukan? Cepat bersihkan meja nomor 8!”

Seul Gi segera beranjak dan melaksanakan perintah senior sekaligus rekan kerjanya itu. “Ne… Eonni.

“Tunggu… tumben tidak memakai kacamata?”

“Ssst…,” Seul Gi menelan ludah. “Eonni…?!” rengek Seul Gi.

Wae?”

“Nanti aku ceritakan,” Seul Gi segera berlari untuk mengerjakan tugasnya.

Seul Gi menjalankan tugasnya dengan ragu-ragu. Intinya dia tidak mau melakukan perintah seniornya tadi. Meja nomor 8, berada di ujung ruangan dekat jendela super besar yang akan menyajikan pemandangan jalan raya Seoul yang super padat. Sebenarnya bukan itu masalahnya, tidak hanya  meja nomor 8 yang ada di spot itu, dia ditemani meja nomor 9. Bukan nomor meja juga inti permasalahanya, tetapi makhluk  yang menempati meja nomor 9 itu.

Perlahan dan dengan wajah tertekuk, Seul Gi melangkah menuju meja nomor 8. Dia dengan cekatan dan dipercepat membersihkan semua benda  yang ada di atas permukaan meja itu. Lap  berwarna hijau tua sudah  menari indah di atas meja. Lagi-lagi  Seul Gi melakukannya dengan terburu-buru. Pelanggan yang melihat caranya bekerja pasti akan mengira dia sedang marah besar pada sang meja nomor 8 yang tidak berdosa.

“Yak…Dalamjwi (tupai)!!!”panggil seseorang dan terdengar seperti geraman.

Seul Gi tidak mengacuhkan suara gaib itu –menurutnya. Dia terus saja menggosokkan lap itu kasar. Kepalanya masih tertunduk sempurna,  tidak  terselip sedikit pun niat  untuk menegakannya.

Dalamjwi!”

Jitakan mantap dan sekuat tenaga mendarat di kepala Seul Gi. “Auww!!”pekiknya kencang tanpa mempedulikan pelanggan-pelanggan yang memelototinya.

“Apa yang kamu lakukan? Kerjakan dengan benar. Kalau kamu  melakukannya dengan cara seperti  ini, mejanya bukan bersih tetapi hancur.”

Akhirnya Seul Gi  menegakkan kepalanya  yang sedari tadi tertunduk. “Manajer Shim?”  dia mengelus ubun-ubun kepalanya yang terkena jitakan tadi. “Apheuda!” rengeknya.

Apheuda?”Manajer kembali mengambil ancang-ancang.

“Yak…gaemanhae,”Seul Gi segera menghindar. “Ahjusshi macam apa yang menyiksa keponakannya sendiri?”

“Salah keponakannya yang tidak bisa melakukan apapun dengan benar.”

Mianhae,” Seul Gi mengerucutkan bibirnya.

Manajer Shim menghela napas, “Minta maaf pada Tuan itu. Kamu membuatnya terusik dengan kelakuanmu tadi.”

Mwo?”

“Tuan di meja nomor 9 merasa terusik olehmu. Cepat minta maaf,”

Seul Gi melirik melalui sudut matanya. “Ahjusshi?!!” rengeknya lagi.

“Lakukan sekarang, Dalamjwi!” Manajer Shim menunjukkan seringainya.

Ne…

Seul Gi  berjalan ragu menuju meja nomor 9 yang tepat berada di belakangnya. Seorang pemuda terlihat  begitu asyik dengan buku-bukunya. Sesekali dia akan membenarkan kaca mata frame budarnya  jika terasa tidak nyaman. Setelah itu dia akan menyesap minumannya, sekedar untuk memberi rasa nyaman pada tenggorokannya. Sepiring kecil cake yang diketahui Seul Gi adalah Pancake Cherry Vannilla, sama sekali tidak tersentuh.

“Permisi,  mianhamnida,” Seul Gi memberi hormat dengan menundukkan kepalanya beberapa derajat.

Pemuda itu segera menutup bukunya dan melepas kacamatanya. “Nde?”

Mianhamnida untuk kelakuan saya yang telah mengangu Anda,” Seul Gi tidak berani menatap lawan bicara.

Gwaenchanha, Seul Gi-ya,”

Mata Seul Gi hampir meloncat dari tempatnya. Apa dia tidak salah dengar. “Oh?”

“Nama panggilanmu Dalamjwi di sini? Sepertinya aku sering mendengar nama panggilan  itu belakangan ini. Apakah ada orang lain yang memakai nama panggilan itu selain kamu di sini?”

Nde?” Seul Gi tidak bisa bernapas. “Obseoyeo…permisi,” Seul Gi segera meninggalkan pemuda itu.

ooOoOoo

Hyeong, baru pulang?”

Si Won hanya mengangguk kecil.

“Baca buku lagi?”

Si Won melakukan hal yang sama lagi.

“Lalu sambil melakukan itu  lagi?”

Langkah kaki Si Won terhenti. “Oh?”

Min Ho tidak bergeming. Dia terlihat mencoba berkonsentrasi, tetapi juga perlu berintraksi dengan Si Won. “Hyeong tidak usah terkejut dan pura-pura tidak mengerti begitu. Cukup mengangguk untuk ‘Ne’  dan menggeleng untuk ’Ani’, gampang sekali. Jadi?”

Si Won mengambil tempat duduk di samping Min Ho. “Maksudmu?”

“Ayolah Hyeong,” Jari tangan Min Ho terlihat sibuk menekan joystick yang tersambung dengan pemutar game dan televisi flat berukuran besar.

Mwo?”

Min Ho tertawa mengejek. “Hyeong ke tempat itu lagi kan?”

“Emm…,” Si Won tertunduk malu.

Noona itu pasti  sangat cantik sampai membuat Hyeong  hampir gila begini,” Min Ho cekikikan.

Si Won mengerutkan dahinya, “Dia sangat cantik dan manis, tetapi kenapa kamu memangg–,”

“–benar apa kataku. Walaupun aku cuma melihatnya sekilas, aku tahu dia sangat cantik.  Teruslah berjuang Hyeong!” Min Ho masih tidak mengalihkan pandangannya dari game –yang entah apadi  hadapannya.

“Terserah kamulah!” Si Won melangkah menuju kamarnya.

ooOoOoo

Seul Gi uring-uringan di kamarnya pagi ini. Hari minggu yang dia nanti akhirnya datang,  tetapi diabaikan olehnya.  Dia lebih memilih uring-uringan, bermalas-malasan, melamun hingga mengutuk dirinya sendiri. Tindakan bodoh –baginya- yang telah terjadi  2 hari yang lalu masih saja  menghantui. Baru kali ini dia mengakui bahwa dia memang benar-benar bodoh.

Kejadian yang menghantuinya itu terus saja berputar di otaknya,  persis seperti pemutaran film di bioskop tempo dulu.  Saat film di otaknya itu selesai, dia akan berteriak marah dan kesal. Kemudian film itu akan berputar lagi.  Terus seperti itu hingga detik ini.

Kejadian itu adalah saat Si Won mengetahui dia bekerja di Zoo Café. Bukan karena perkerjaan yang di lakukan di situ, lebih parah dari itu. Si Won pasti akan  menyadari  kelakuan tidak terhormat dan merendahkan harkat serta martabat dirinya sebagai seorang gadis. Setelah Si Won mengetahui itu semua, tidak akan ada lagi sedikit pun harapannya untuk mendapatkan Si Won; bahkan untuk bertemu dengannya pun, dia tidak akan berani.

Begini duduk perkaranya. Seul Gi baru-baru ini mulai bekerja di Café itu, kurang lebih 3 bulan yang lalu. Alasan pertamanya memang untuk mempelajari langsung bagaimana marketing management sesungguhnya. Tetapi sebenarnya lebih tepatnya itu bukan alasan utamanya. Alasan utamanya adalah agar bisa selalu bertemu dengan Si Won. Kebetulan sekali pemilik café itu adalah pamannya, jadi dengan mudah dia bisa mendapatkan pekerjaan itu.

Setelah melakukan survei selama 1 minggu di café itu, Seul Gi dapat mengambil kesimpulan bahwa Si Won adalah pelanggan tetap di café itu. Karena alasan itu, Seul Gi semakin mantap untuk bekerja di  café milik pamannya itu. Dia sampai memutar otaknya keras untuk menyembunyikan identitasnya. Kebetulan sekali di café milik pamannya itu, para pegawai menggunakan nama hewan-hewan lucu sebagai panggilan. Seul Gi merasa aman akan itu, karena Si Won tidak akan tahu identitas sesungguhnya.

Selama bekerja disitu, Seul Gi tidak membuang waktu. Ditambah dengan penyamarannya –yang tidak seberapa- Seul Gi bisa dengan puas memandangi pemuda pujaannya –Choi Si Won. Namun karena tingkah anehnya itu –menggunakan kacamata super besar dan membuat tahi lalat palsu di sudut kiri dagunya- sang paman dan pegawai lain terkadang dibuat kesal dan heran serta bingung.

Tok…tok… tok!

Seul Gi tersentak dari lamunannya. Dia mengelus dadanya pelan karena memang sangat terkejut. Dia mengumpat kecil –hampir tidak terdengar- karena jantungnya hampir saja melompat keluar. Seul Gi beranjak dari tempatnya berbaring tadi dengan malas dan melangkah menuju pintu kamarnya.

Mwoya?” sambutan kasar terhidang untuk orang di balik pintu.

“Tumben kamu mengunci pintu?” orang itu masuk saja tanpa di persilahkan. “Ommonim bilang kamu belum keluar kamar dari tadi pagi. Apa terjadi sesuatu?” tanpa  dipersilahkan lagi, dia duduk di atas tempat tidur sambil memeluk  toples kaca berukuran sedang yang berisi biskuit coklat –diambil di atas meja dapur sebelumnya.

Seul Gi menutup pintu tanpa tenaga. “Aku akan berhenti bekerja,” jawabnya lesu.

Weo?”

“Aku rasa memang harus,” Seul Gi  duduk di samping sahabat baiknya itu –Jung Min Ae.

Dahi Min Ae berkerut, “Apa terjadi sesuatu yang  buruk?”

“Sangat buruk, rasanya aku ingin mati saja,” Seul Gi merebahkan dirinya kasar.

“Si Won sunbae?” tebak Min Ae.

Seul Gi mengedipkan matanya intens. “Dia sudah tahu aku bekerja  di sana.”

Mwo?” terdiam sejenak dan tiba-tiba tawa Min Ae meledak. Dia memegangi perutnya yang sedikit sakit karena tertawa kencang.

“Apa yang lucu?” Seul Gi segera kembali duduk. “Apa yang lucu?  Berhentilah tertawa!!!”  bentaknya kesal.

Min Ae mengatur napas. “Kamu itu yang lucu? Apa masalah dia mengetahuimu kerja di sana? Dia bahkan tidak mengenalmu –setahuku.”

“Kamu tidak mengerti. Aku bekerja di café ahjusshi karena dia. Dia adalah pelanggan tetap di sana.  Dia selalu  datang jam 7 malam, tepat 1 jam setelah jam shift-ku. Dia akan memesan makanan dan minuman yang sama setiap malamnya. Kemudian duduk di sudut café, meja nomor 9.  Dia selalu membaca buku di sana hingga jam tutup café. Dia akan meninggalkan café 30 menit sebelum café tutup. Dan tadi malam dia memergokiku bekerja di sana, dia juga mendengar ahjusshi memanggilku dengan nama itu,” Seul Gi berusaha mengatur napasnya setelah berbicara panjang lebar.

“Lalu?”

Seul Gi terkejut mendengar respon Min Ae, “Maksudmu?”

“Lalu apa masalahnya? Teruslah bekerja di sana. Aku yakin dia tidak mengetahui tindakan gilamu itu.”

“Maksudmu?!!”

Babonikha? Anggap saja yang selama ini menjadi penguntitnya –mengambil foto diam-diam dan memandanginya tanpa berkedip sambil tersenyum mesum- itu adalah si Dalamjwi.  Dan sekarang kamu adalah Park Seul Gi, kamu akan menjadi  dekat dengannya dengan cara yang wajar. Berhentilah bersembunyi dan tunjukkan dirimu yang sesungguhnya,” tangan Min Ae mengepal di udara –memberi semangat.

“Begitukah?”

“Tentu saja! Sekarang saatnya kamu muncul sebagai Park Seul Gi. Kamu harus menunjukkan eksistensimu. Kamu harus menunjukkan perasaanmu padanya. Stop menjadi penguntit ‘me-sum’!” Min Ae menekankan pada kata ‘mesum’.

Seul Gi melotot. “Apa katamu? Kamu yang selalu berpikir mesum bersama Jong Woon Oppa. Dasar kalian pasangan aneh plus mesum.”

Morago?” Min Ae langsung menyumpal mulut Seul Gi dengan biskuit coklat berukuran besar. “Tutup mulutmu itu, Dalamjwi!”

ooOoOoo

Akhirnya Seul Gi kembai bekerja walaupun dengan rasa malu yang mencuat di ubun-ubun. Seperti yang di katakan orang, berbicara itu sangat gampang tetapi melaksanakannya tidak semudah mengucapkannya. Hari-hari bekerja Seul Gi di Zoo café terasa begitu berat. Bukan hanya berat karena Si Won yang mengetauinya bekerja di sini –mungkin tanpa tahu kelakuan Seul Gi  sebelumnya, tetapi di tambah  oleh beberapa godaan nakal dari rekan kerjanya –gadis yang dipanggil ‘Eonni’. Satu lagi yang sangat memberatkannya, dia tidak bisa melakukan apapun sesukanya –mengambil foto, dan memandang Si Won sampai puas- tanpa diketahui sang objek. Sebelumnya, tanpa rasa malu dia akan mengambil foto Si Won dan beberapa kali mengganggu Si Won.

“Yak… apa yang kamu lakukan?”

Seul Gi hampir saja berteriak karena terkejut. “Im Yoon Ah… kamu mau mati, hah?” bentaknya.

Mwo?” Yoon Ah mencubit lengan Seul Gi tanpa ampun. “Beraninya memanggilku seperti itu?Aku lebih tua darimu, ara?”

Mianhae Eon… ampun?!” Seul Gi meringis kesakitan.

“Masih belum berani unjuk gigi di depannya? Dasar pengecut!” ledek Yoon Ah sambil mendengus.

Seul Gi balas mendengus, “Siapa yang pengecut? Aku sedang memikirkan langkah yang tepat.”

“Alasan saja… mau aku bantu?”

“Bantu apa, Eonni?”

Yoon Ah memberi isyarat agar Seul Gi merapatkan wajahnya. “Berikan ponselmu!”

“Untuk apa?” Seul Gi ikut setengah berbisik.

“Sepertinya  dia akan ke toilet, Eonni akan mendapatkan foto bagus untukmu.Otthe?” Yoon Ah tersenyum licik.

Mwo? Eonni pikir aku yeoja mesum?!!” Seul Gi reflek berteriak.

Yoon Ah tertawa cekikikan. “Kalau tidak mau, tidak apa-apa. Sepertinya akan menjadi koleksi pribadiku saja.”

Eonni!!!”

Da-lam-jwi…,” hawa dingin nan seram membelai cuping telinga kiri Seul Gi.

N…n…ne?” Seul Gi menoleh dengan hati-hati ke arah sumber suara. “Ah-jus-shi?”

“Me-min-ta ma-af se-ka-rang ju-ga… a-ta-u te-ri-ma hu-ku-man da-ri-ku…,”  Manajer Shim mendikte perintahnya.

“Emmm… segera!”

Seul Gi segera berlari menuju meja pelanggan, satu per satu. Kemudian membungkuk meminta maaf. Beberapa pelanggan tertawa kecil melihat tingkahnya, tidak sedikit juga yang tersenyum sinis dan menganggap Seul Gi gadis yang aneh.  Bagaimana tidak? Dia baru saja berteriak dan membuat gaduh seisi café.

ooOoOoo

Seseorang terlihat mengawasi 2 orang gadis yang baru saja keluar dari sebuah café. Café itu  terlihat dipenuhi gambar  jerapah, gajah, rusa dan hewan-hewan khas kebun binatang lainnya di bagian dinding-dinding kacanya. Satu persatu lampu di café itu dipadamkan.  Orang itu masih  saja  mengawasi kedua gadis yang sedang bercengkrama sambil berjalan menuju halte bis.

Perlahan dan tidak ingin dicurigai, orang tersebut menginjak pedal gasnya dengan hati-hati dan membuntuti kedua gadis  itu –lagi. Lampu mobil hitam itu sengaja di padamkan untuk tidak menarik perhatian. Mata tajam sang pemilik mobil terus mengawasi. Tatapan mata itu sangat dingin, namun tidak dapat terbaca arti tatapan itu.

Kedua gadis itu terlihat menaiki bis yang baru saja tiba. Mengetahui bis itu akan membawa buruannya pergi, lampu mobil hitam itu pun dinyalakan. Tanpa membuang waktu, mobil hitam itu mengikuti bis yang baru saja bertolak dari halte bis yang beberapa menit lalu berpenghuni.

Pengemudi misterius sang mobil hitam terlihat berkonsentrasi  mengemudikan mobilnya. Dia berusaha menjaga jarak dengan bis itu agar tidak dicurigai.  Sesekali dia akan  berdecak kesal jika kehilangan jejak si bis karena terjebak di lampu merah dari traffic light. Sebenarnya dia dapat dengan mudah mengikuti bis itu lagi, karena dia sudah hafal di luar kepala rute yang akan diambil si bis.

100 meter dari halte bis yang akan menjadi pemberhentian berikutnya, mobil hitam itu mematikan lampu mobilnya dan kembali mengendap-endap. Beberapa detik setelah bis berhenti, salah satu gadis yang dia lihat keluar dari café itu turun. Sesekali terlihat sang gadis memijit tengkuknya, mungkin karena lelah. Jam digital pada dasbor mobil menunjukkan angga 22:01, tidak terlalu malam  tetapi  entah mengapa lingkungan di sekitar tempat itu sangat sepi.

Orang itu masing mengawasi dengan mata elangnya. Dia tidak akan pergi sebelum gadis itu memasuki pekarangan rumahnya yang  berjarak sekitar 150 meter dari halte bis. Sesosok bayangan menghampiri gadis itu. Orang misterius di dalam mobil hitam terlihat gelisah. Dia berharap  bayangan itu bukanlah orang jahat yang akan mengganggu gadis itu.

ooOoOoo

Seul Gi bersenandung ria sambil memijit tengkuknya yang pegal.  Dia sempat ketiduran di dalam bis tadi, dan hal tersebut membuat tengkuknya sakit karena terus saja tengantuk-antuk. Sesekali dia akan menguap  karena memang sangat letih. Hari ini pelanggan sedikit ramai dan dia cukup kewalahan.  Apalagi beban pikirannya semakin membuat kepalanya terasa berat dan sang tengkuk tidak mampu menyangganya lagi.

Yak!!” panggil sebuah sosok di depan Seul Gi.

Deg…! Jantung Seul Gi tiba-tiba bergejolak. Dia mencoba menerka siapa yang memiliki siluet bayangan itu. “Nugundae?”

Bayangan itu semakin dekat. Langkah kaku banyangan itu semakin cepat, dan sekarang setengah berlari ke arahnya. Seul Gi terdiam, dia berusaha menangkan dirinya yang mulai ketakutan. Dia mengutuk dalam hati sang lampu jalan yang sepertinya rusak lagi. Alhasil, daerah tempatnya berdiri menjadi sangat gelap.

“Park Seul Gi!?” Suara berat dan terdengar bergetar membuat bulu kuduk Seul Gi berdiri.

Nuguseyeo?”

Sosok itu semakin mendekat, memperkecil jarak diantara mereka. Seul Gi memincingkan matanya, mencoba menyerap cahaya sebanyak mungkin dengan harapan dapat melihat jelas dalam gelap. Jarak Seul Gi dan sosok itu semakin dekat, siluet bayangan sosok itu semakin jelas.

Seul Gi menghela napas, “Neun?Aish…”

“Dasar tidak sopan!” sentilan kecil mendarat didahi Seul Gi.

“Auw… Jong Woon-sshi, hentikan!”

Jong Woon hanya tertawa kecil melihat Seul Gi yang mengelus dahinya. “Mianhae…hahaha.”

Oppa dari mana? Min Ae?”

“Emm…  seperti biasa, berkencan,” Jong Woon menyombongkan diri.

Seul Gi mendengus, “Dasar me-sum!”

“Yak..  kamu ini kenapa? Cuma berkencan saja, kenapa bisa jadi mesum?”

“Sudahlah… aku mau pulang.” Seul mengerucutkan bibirnya dan berjalan melewati Jong Woon.

“Aku temani,” Jong Woon memutar badan dan mensejajarkan langkahnya dengan Seul Gi.

Seul  Gi mendelik, “Tidak perlu,  Oppa. Tidak perlu repot-repot,  pulang sana!” Seul Gi menunjuk arah sebaliknya.

“Ini perintah, bukan permintaan. Aku akan tetap mengantarmu.”

“Tumben sekali… aku bisa pulang sendiri. Lagian rumahku cuma di depan sana, tidak jauh dan perlu untuk ditemani atau diantar.”

Wajah  Jong Woon menegang, “Pokoknya aku antar.” Sesekali terlihat Jong Woon menoleh ke belakang.

“Ada apa, Oppa?” Seul Gi bingung melihat tingkah Jong Woon yang sepertinya begitu gelisah.

“Jalan saja seperti biasa, tetapi kalau bisa dipercepat.”

Seul Gi menunjukkan wajah  bingungnya. “Ada apa, Oppa? Dari tadi menoleh ke belakang. Apa yang dilihat?” Seul Gi mencoba menoleh ke belakang.

“Sudah jangan banyak tanya,” Jong Woon menarik tangan Seul Gisebelum sempat menoleh ke belakang. “Ini sudah malam, tidak baik seorang yeoja berlama-lama di luar rumah.”

Oppa,  pelan-pelan. Jangan main tarik-tarik. Oppa aneh sekali.” Seul Gi hanya bisa protes tanpa benar-benar melawan  kehendak Jong Woon.

ooOoOoo

To be continued…

Author note (part 2): Ye…. Akhirnya selesai juga walaupun baru part 1. Dan semoga part 2 dan part selanjutnya –yang mungkin akan ada- bisa segera selesai. Kenapa tidak selesai-selesai? Karena aku males banget buat nge-tik, padahal ide  dikepala sudah bertumpuk banget.  Selain itu tugas  numpuk. Hehe malah curcol. Jadi maaf abel, baru jadi sekarang –part 1nya. Hehe… Hayo tebak… bagian  akhirnya seharusnya bikin penasaran –mungkin. Xixixixixi… jangan seneng dulu yah. Tebakannya belum tentu bener ^^