[ficlet] you're not a bad boy, jeongmin ver.

Title                       : You’re Not a Bad Boy, Jeongmin ver.

Author                  : Yunn Wahyunee/ Choi Chan Yeon

Genre                   : Sad, Angst

Rating                   : General

Length                  : Vignette

Casts                     : You a.k.a Shin Ji Eun| Jeongmin a.k.a Lee Jeong Min| and others cast

 

oOoOo

Author POV

Musik mengalun dengan indah, memenuhi sebuah ruangan yang tidak terlalu besar. Ruangan tersebut berlantaikan kayu dengan celah yang sangat rapat dan telah dilapisi pernis, begitu mengkilap. Dinding ruangan itu dipenuhi cermin, ketiga sisinya dipenuhi cermin. Dua buah pot besar tanaman bonsai tertata di kedua sisi pintu.

Musik itu terus mengalun,mengiringi gerakan anggun tubuh seorang gadis. Gadis itu sedang menari, beberapa kali dia terlihat menjinjitkan kakinya. Kedua tangannya meliuk-liuk di udara, membentuk gerakan yang begitu sinkron dengan alunan musik lembut itu.

Gadis itu terlihat begitu menikmati dan meresapi musik lembut itu. Sesekali dia akan tersenyum mendapati bayangan dirinya terpantul di cermin. Dia memang terihat manis dengan rambut diikat seluruhnya dan membentuk bulatan kecil di bagian belakang kepalanya.  Celana panjang berwarna abu-abu menempel dengan sempurna dikulitnya, dan baju dengan warna hampir senada terlihat sedikit turun dari pundaknya –karena sepertinya kebesaran- dan menunjukkan ­tanktop hitam yang juga dia kenakan.

Dia tidak benar-benar kehilangan konsentrasinya. Dia kembali terlarut dalam tarian indahnya. Sekali lagi kakinya menjinjit dan menopang badannya untuk kembali bergerak dengan gemulai. Sepatu yang dia kenakan mempermudah gerakan kakinya, sepatu berwarna merah muda itu memang dirancang khusus untuk menari dengan caranya. Dia mencapai klimaks tariannya. Dia bertumpu pada satu kakinya –posisi jinjit, sedangkan salah satu kakinya tertekuk dan menempel di atas lututnya –membentuk setengah lingkaran. Lalu tangannya terentang di kedua sisi tubuhnya. Dia bersiap, bersiap untuk melakukan  putaran 360 derajatnya.

Dia mulai berputar. Sebuah gerakan dasar namun suatu hal yang istimewa untuk seorang penari balet sepertinya. Gerakan ini bagaikan pucak dari seluruh gerakan ballet yang dia pelajari selama ini. putaran pertamanya berjalan dengan sempurna. Putaran keduanya pun sama, senyum kepuasan terkembang di wajah manisnya. Putaran ketiga… putaran keempat… dan…

Klek…!

“Ji Eun-ah…,” teriak seseorang tiba-tiba.

Bukk…!

“Auw…!” pekik gadis itu, Shin Ji Eun.

“Oh…,” pemuda yang tadi memanggilnya begitu saja segera berlari menghampiri. “Ji Eun-ah… gwaenchanhayeo?

oOoOo

Shin Ji Eun POV

Klek…!

“Ji Eun-ah…,” teriak seseorang yang sangat aku kenal.

Bukk…! Aku yang terkejut dari konsentrasi tingkat dewaku, kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

“Auw…!” pekikku kesakitan.

“Oh…,” pemuda yang tadi memanggilku segera berlari menghampiri. “Ji Eun-ah… gwaenhanayeo?” dia terdengar sangat mengkhawatirkanku.

Aku hanya menganguk dan tersenyum. “Gwaenchanha… kamu sudah datang, Jeong Min-ah?”

“Sini aku lihat! Mungkin kakimu terkilir,” dia segera melepaskan sepatu balletku. “Mianhae… aku pasti mengagetkanmu tadi. Hah… aku memang babo.”

Aku terus memandangi wajahnya. Dia memang terlihat begitu khawatir dan merasa bersalah. “Aaak…!” pekikku lagi setelah dia menggerakkan pergelangan kaki kananku.

Apheuda? Aish… jinja babo. Seharusnya aku mengetuk pintu dulu, kemudian masuk dengan perlahan. Aah!!!” dia terlihat begitu gusar.

Aku tertawa kecil. “Gwaenchanha, Jeong Min-ah. Ini hanya terkilir kecil. Aku bisa mengatasinya. Emm… tolong ambilkan tasku, di sana ada obat.”

Ne,” dia segera mengambil tasku dan mencari-cari obat yang aku maksud. “Yang ini, eoh?” dia menunjukkan tabung berwarna putih.

Ne,” aku segera menjulurkan tanganku dan memintanya untuk memberikannya padaku.

Dia menggeleng, “Biar aku yang melakukannya.”

Ne.

Aku terus memperhatikan wajahnya yang terlihat serius. Perlahan dia menggerakkan kakiku, menentukan posisi yang tepat. Aku sesekali meringis menahan sakit. Hampir bersamaan dengan rintihanku, dia akan menatapku dengan wajah bersalahnya dan meminta maaf. Kenapa  dia melakukan itu?

“Apakah aku perlu menyemprotkannya lagi?”

Aku hanya mengangguk kecil dan tersenyum. “Ne… yang tadi terlalu  sedikit. Tidak ada efeknya.”

“Begitukah?”  dia kembali menyemprotkan isi tabung putih itu di pergelangan kakiku. “Begini cukup? Apa perlu aku memijitnya?”

“Tidak  perlu, aku bisa melakukannya sendiri.” Aku bersiap untuk memijit kakiku tetapi dia menghalangi.

Dia menatapku intens dan tersenyum. “Biarkan Lee Jeong Min menyelesaikan tugasnya, Agassi.

Algessoyeo! Gaenyang… pelan-pelan, eoh?”

Ne.

oOoOo

“Kenapa kamu begitu ringan, eoh?”

Aku mendengus, “Yak… menyindirku, eoh? Turunkan aku!”

“Siapa yang menyindirmu?” dia memperbaiki posisiku di punggungnya. “Ji Eun-ku memang sangat ringan. Padahal setahuku makanmu banyak sekali,” dia tersenyum mengejek.

“Hoh… Turunkan aku! Aku akan jalan sendiri,” ucapku dengan lembut namun memaksa.

“Kakimu terkilir kan? Bagaimana bisa jalan? Sebentar lagi kita sampai rumah, pegangan yang erat.”

Aku menghela napas. “Turunkan aku, Jeong Min ~a. Aku tidak mau nanti punggungmu sakit. Walaupun menurutmu aku ringan padahal makanku banyak, punggungmu bisa saja patah,” jelasku panjang lebar.

Shireo… aku lebih tidak rela jika kakimu semakin parah.”

Nan gwaenchanha.”

Dia kembali memperbaiki posisiku di punggungnya dan mengeratkan tanganku yang melingkar di lehernya. “Mianhae… gara-gara aku kamu harus terkilir. Bagaimana kalau kakimu tidak lekas sembuh? Bagaimana kalau kamu tidak bisa menari ballet lagi?  Hahh… aku memang pembawa masalah.”

Nan gwaenchanha!” akhirnya aku memilih untuk mempererat tanganku memeluk lehernya. “Ini hanya terkilir ringan. Beberapa hari lagi pasti sembuh,” hiburku.

Dia menghela napas berat, “Kalau tidak sembuh, otthokae? Ah… ini semua salahku. Aish… naega nappeun namja.

Aku mendekatkan pipiku ke pipinya. “Gwaenchanha, pasti sembuh. Agar kamu tidak terus menggerutu, antar aku sampai di kamar. Gendong aku sampai di kamar. Dan…”

Mwoya?” dia terdengar penasaran.

Aku tertawa kecil. “Jadilah pelayanku sampai kakiku sembuh. Otthae, Oppa?”

“Eyy… kamu memanggilku ‘Oppa’ saat ada maunya saja.”

“Mau tidak?” aku tersenyum jahil.

Algessoyeo… aku akan  melakukan semuanya untuk yeojaku  ini.”

Aku kembali terkekeh. “Saranghae, Jeong Min-ah.”

“Jeong Min?” pekiknya.

Jeongmael saranghae, Lee Jeong Min.”

“Tsk… seharusnya menggunakan ‘Oppa’. Aish…”

Nde? Kenapa aku tidak mendengar apa-apa dari mulutmu, eoh?” aku menjambak rambutnya.

Dia meringis  kesakitan. “Arasseo… na tto. Jeongmael saranghae, Shin Ji Eun.”

Joahe…” aku kembali mempererat tanganku.

oOoOo

Minggu pagi yang cerah, aku rasa. Aku membuka mataku perlahan, rasanya aku baru tidur beberapa menit saja. Mulut menguap lebar, tubuhku menggeliat sepuasnya untuk meluruskan otot-ototku yang sedikit kaku. Aku menatap sekililing, ternyata aku masih di kamarku. Pernyataan macam apa itu?

“Auw…,”pekikku setelah secara sadar membanting kaki kananku saat menuruni tempat tidur. “Ah… ternyata aku memang terkilir. Ternyata bukan mimpi, hihihi…,” aku tertawa kecil mendapati kebodohan yang baru saja aku lakukan.

Tidak lama kemudian aku sudah selesai melakukan ritual pagiku. Tentu saja mandi, membersihkan diri. Aku ini seorang gadis, bukankah sebaiknya harus berlaku bersih sejak bangun dari tidurnya? Perlahan-lahan aku berjalan menuju tangga. Ini memang masih pagi, sekitar pukul 6 lewat beberapa menit. Itulah sebabnya tidak ada yang memanggilku untuk turun dan segera sarapan.

“Oh…, Kamu sudah bangun?” sapanya sambil menguap lebar.

Aku segera mundur selangkah. “Jeong Min-ah… tutup mulutmu. Bau sekali!”

Mwoya? Pagi-pagi begini sudah mau mengajak aku bertengkar?”

“Sikat gigi dan cuci muka  sana!!!” Perintahku.

Dia menggodaku dengan terus menghembuskan napasnya ke arahku. “Haah… mulai sekarang kamu harus terbiasa.”

Shiroe…

Wae? Suatu saat kamu akan menjadi Nyoya Lee. Jadi biasakan dirimu untuk menghirup aroma khas dari tubuhku.” Jeong Min tertawa terbahak.

Aku memasang ekspresi ingin muntah. “Yiekk… aku tidak sudi menikah denganmu.”

“Aish… kajja, aku bantu turun.”

Tanpa basa-basi  dan menunggu persetujuanku, Jeong Min seenaknya menaikkanku ke punggungnya. Dia kemudian berlari kecil menuruni tangga. Aku hanya bisa menjerit tertahan karena sangat takut. Bagaimana kalau kita sampai terjatuh? Tamatlah semua.

“Yakk…. Kalian berdua! Jangan bermain-main! Dan kamu Jeong Min, mandi sana! Setelah itu baru boleh sarapan. Kalian ini seperti pasangan pengantin baru saja. Tunggu Abojhi dan Ji Eun Appa pulang, Eomma akan melaporkan tingkah kalian berdua.” Ibu Jeong Min memulai ceramah paginya.

Beginilah hubunganku dengan Lee Jeong Min. Ayahku dan ayahnya adalah sahabat sejak kecil. Dan awalnya aku dan Jeong Min mengikuti jejak mereka, tetapi sekarang sudah tidak lagi. sejak 2  tahun yang lalu, kami bisa dikatakan berpacaran. Kedua keluarga kami setuju-setuju saja. Memang awalnya kami akan dijodohkan. Jadi, tidak ada masalah.

Sejak ibuku meninggal setahun yang lalu, aku tinggal di rumah keluarga Lee. Tetapi lebih tepatnya  dititipkan oleh ayahku. Ayahku yang sangat sibuk dengan usahanya di luar negeri, hampir tidak punya waktu untuk mengurusku. Kemudian Nyonya Lee –Ibu Jeong Min- menawarkan diri untuk menjagaku dan memintaku menetap di rumahnya. Alasannya –selain karena memang sangat menyayangiku- dia merasa kesepian dirumah karena suaminya juga sama seperti ayahku dan Jeong Min selalu sibuk membuntuti kemana pun aku pergi. Jadi, jika ingin Jeong Min selalu ada di rumah maka aku harus tinggal di rumah keluarga Lee.

oOoOo

Sepulang sekolah, di sebuah toko roti…

Mwo?” pekikku kencang.

Jeong Min terlihat menutup kedua teliangnya. “Jangan berteriak seperti itu. Ji Eun-ah… mari kita mencoba. Kita mendaftar diri.”

Geundae, aku tidak yakin bisa lolos,” kataku sedikit ragu.

“Ji Eun-ku yang terpenting kita mencoba dulu. Aku yakin  kita pasti bisa.” Matanya terlihat berbinar-binar.

Aku tersenyum melihat ekspresi lucunya. “Call… mari kita mendaftar. Bukankah seleksinya 2 minggu setelah ujian? Ah… tepat 2 hari setelah pengumuman kelulusan. Jadi, kita bisa mempersiapkan semuanya.”

Gomawo,” dia langsung memelukku erat.

“Lepaskan! Malu dilihat orang.” Aku mendorongnya sekuat tenaga.

Dia meloncat-loncat senang namun masih dalam posisi duduk. “Kamu tahu, Ji Eun-ah? Kesempatan ini sangat langka, tidak ada setiap tahun. Tidak setiap tahun Arts University College at Bournemount membuka penerimaan mahasiswa baru di Seoul plus beasiswa. Wah… tahun ini memang keberuntungan kita.”

“Jeong Min-ah… kamu sangat ingin masuk universitas ini?”

“Tentu saja,” dia menarik kursinya ke sampingku dan merangkulku mesra. “Setelah lulus dari sana, kita akan kembali ke Korea. Ji Eun-ku pasti akan menjadi ballerina terkenal dan aku seorang pemusik terkenal. Pasangan yang serasi, bukan?” dia tersenyum ke arahku. “Aku akan berbicara pada  Abojhi untuk menyiapkan rumah untuk kita di Inggris.”

Nde?!!”

“Kita harus tinggal bersama kan? Aku tidak mau kita tinggal di tempat yang berbeda saat di Inggris  nanti. Kita harus selalu bersama. Tidak akan ada sedikit pun ruang untuk namja di sana merebutmu dariku.” Dia terkekeh. “Emm… mau rumah seperti apa, Ji Eun-ah?”

Mataku hampir meloncat dari tempatnya. “Siapa yang mau tinggal denganmu? Shiroe…

“Bukankah aku sudah berjanji akan menjagamu pada  ajumma? Jadi, aku harus selalu di dekatmu.”

Naega eomma?” Dadaku terasa sesak mengingat ibuku yang sudah tiada.

Dia hanya mengangguk kecil. “Ajumma ingin aku selalu menjagamu. Aku sudah berjanji. Itu berarti harus aku tepati.”

Airmataku terasa akan mengalir. Mengingat ibuku sering membuatku tiba-tiba menangis. Aku segera menundukku untuk menyembunyikan mataku yang mulai berkaca-kaca.

“Ji Eun-ah, apa kamu menangis?”

Ania.”

Uljima…” Jeong Min terdengar panik. “Uljima, jebal??!”

“Aku tidak menangis,” kataku segera sambil menegakkan kepalaku.

Dia segera merengkuhku dalam pelukannya. “Uljima,eoh? Mianhae, aku jadi membuatmu teringat akan ajumma. Ahk… aku selalu membawa masalah.”

Gwaenchanha… bukan salahmu.”

“Emmm…”

oOoOo

Hari terakhir ujian nasional…

Aku berlari kecil di tangga sekolah menuju kelas Jeon Min yang terletak satu lantai di bawah kelasku. Hari ini aku menyelesaikan soal ujian lebih cepat dari hari-hari sebelumnya. Entah karena aku bosan dan ingin segera menyelesaikannya atau karena soalnya memang sangat mudah, sepertinya alasan yang pertama.

“Uups…!”

Jantungku berdegup kencang. Hampir saja aku terpeleset dan terjatuh dari tangga. Aku memang ceroboh, sangat ceroboh. Bagaimana kalau aku terjatuh tadi? Mungkin saja aku akan terluka parah. Mungkin hal paling ringan yang akan terjadi adalah aku mematahkan kakiku. Mematahkan kaki? Aku seorang ballerina, kakiku adalah harta paling berharga. Aku mengatur napasku yang sempat berantakan karena keterkejutanku tadi. Sekarang aku harus berjalan dengan hati-hati  dan berhenti berpikir macam-macam.

Rrrttttrrttt… ponselku memanggil.

Yeoboseyo? Oh… Jeong Min-ah,”aku terdiam mendengarkan dia berbicara. “Baiklah, aku akan menyusulmu kesana. Emm… aku baru saja selesai. Ne…,” Sambungan telepon terputus.

oOoOo

Author POV

Jeong Min terlihat sedang bercanda dengan beberapa temannya. Mungkin ada obrolan  antara ‘pria’  yang sedang mereka lakukan. Sesekali dia terlihat melirik jam tangannya. Dia rupanya ingin segera menghentikan obrolan ini. Tetapi merasa tidak enak hati  pada teman-temannya, dia hanya terdiam dan terus mengukuti arah obrolan mereka.

Waktu terus bergulir, 15 menit sudah berlalu dari waktu yang dia janjikan dengan seseorang. Cuaca juga terlihat tidak bersahabat, sepertinya salju akan turun malam ini. Tiba-tiba terlintas hawa tidak enak di hati Jeong Min. Dia seperti  merasakan firasat buruk. Entah akan menimpa dirinya atau orang-orang yang dia kasihi. Setelah memberanikan diri berbicara pada teman-temannya untuk meminta pulang terlebih dahulu, dia segera berlari kencang untuk menemui gadisnya.

Di tempat lain terlihat Ji Eun berusaha dengan  sabar menunggu. Dia mengerti bagaimana sifat Jeong Min. Dia  pasti sedang berusaha keras untuk melepaskan diri dari cengkraman teman-temannya itu. Untuk menghilangkan  kebosanannya, Ji Eun memutuskan untuk mendengarkan musik. Sebuah headphone merangkap MP4 berwarna putih yang dia punya telah bertengger di kedua telinganya. Ji Eun memejamkan matanya, menikmati musik lembut yang menjalar menuju sarafnya itu. sesekali dia terlihat seperti membayangkan gerakan ballet yang biasa dia lakukan dengan  musik itu.

“Ji Eun-ah… aku datang! Ji Eun-ah!” Jeong Min melepaskan paksa benda yang sedari tadi menempel di telinga Ji Eun.

Gadis itu segera membuka matanya. “Yak… kamu mengagetkanku.”

MianhaeKajja kita pulang!” Jeong Min meraih tangan Ji Eun dan memaksa berdiri dari posisi duduknya. “Apakah kamu menunggu lama? Kedinginan?”

Ania… gwaenchanha.”

Jeong Min berjalan mundur dan menatap  Ji Eun. “Merindukanku?”

Aninde…” Elak Ji Eun.

Jinja? Bukankah kamu tidak bisa hidup tanpa aku?” Jeong Min mengambil headphone yang sedari tadi di genggam Ji Eun. “Kamu mendengarkan apa?” Kemudian mengenakannya.

Ji Eun hanya tersenyum . “Jalanlah yang benar. Nanti kamu menabrak orang, jalanan juga licin.” Jeong Min tidak sepenuhnya mendengarkan. “Jeong Min-ah!!”

Wae?” Jeong Min tidak mendengar apa-apa. Sekarang dia sibuk dengan bayangannya di etalase toko yang mereka lewati. Sesekali dia merapikan rambutnya. “Lee Jeong Min… kamu tampan juga,” pujinya dan kembali berjalan mundur dan menggoda Ji Eun.

“Dasar narsis,” Ji Eun mengerucutkan bibirnya.

Jeong Min hampir terus mengulangi tingkahnya yang narsis itu. Dia juga sesekali menirukan gerakan ballet Ji Eun karena terbawa suasana musik yang dia dengar. Ji Eun hanya bisa tertawa terbahak melihat tingkah aneh Jeong Min. Apalagi dia sampai bersusah payah berjalan mundur hanya untuk menggodanya.

Sementara itu beberapa meter dari tempat mereka berdua, sebuah pengendara sepeda tidak tahu aturan  melaju kencang di trotoar pejalan kaki. Pengendara sepeda itu melaju kencang menuju Jeong Min yang masih asyik menggoda Ji Eun. Dia tidak menyadari apapun. Tentu saja dikarenakan telinganya yang tertuju pada suara musik  dari headphone milik Ji Eun. Ji Eun juga terlambat menyadari karena terus tertawa dengan mata yang hampir terpejam.

“Jeong Min-ah, awas!” Ji Eun segera meraih lengan Jeong Min ketika menyadari  ada pengendara sepeda dengan kecepatan tinggi mendekat.

Ji Eun berhasil meraih tangan Jeong Min dan segera mendorongnya menepi. Tetapi naas karena trotoar yang licin oleh salju, mereka berdua pun terjatuh. Kaki kanan Ji Eun terlihat terjulur di lintasan yang akan di lalui sepeda itu, dan…

“Aaaak!!!” Ji Eun menjerit kesakitan. Ban belakang sepeda yang di kendarai seorang pria itu menggilas kaki kanan Ji Eun dengan sempurna.

Jeong Min segera melepas headphone di telinganya. “Ji Eun-ah, gwaenchanha?”

Ne,” Ji Eun hanya bisa meringis dan menahan airmatanya.

“Kita ke rumah sakit, eoh?” Jeong Min menyentuh kaki Ji Eun.

“Aaaak…,” jerit Ji Eun. Jeritan Ji Eun kali ini benar-benar terdengar pilu.

“Ji Eun-ah… kajja ke rumah sakit.”

Ji Eun hanya mengangguk kecil. Dia tidak bisa lagi menahan airmatanya karena kakinya memang benar-benar sakit. “Tenanglah Oppa! Nan gwaenchanha, sakitnya hanya sebentar.”

“Diamlah… cuma dokter yang tahu kondisimu baik apa tidak.”

oOoOo

Shin Ji Eun POV

Kejadian tiga hari lalu terus terbayang di benakku. Entah kenapa aku merasa trauma. Keadaanku tidaklah baik sekarang, walaupun aku selalu bilang aku baik-baik saja. Aku tahu seberapa parah cidera yang aku terima. Cukup hanya aku dan dokter yang tahu. Mungkin ayah juga perlu tahu, tetapi tidak sekarang.

Aku menatap intens pergelangan kakiku yang terbungkus benda putih dan keras itu. Tidak membutuhkan waktu lama untuk membuat benda putih polos itu penuh dengan gambar-gambar aneh. Semua itu adalah karya Jeong Min. Sebagian besar adalah gambar kartun wajahnya. Dia membuat komik di gip kakiku.

“Yak… siang bolong melamun,” Jeong Min mengagetkanku.

Aku mengelus dadaku. “Aish… kamu mau membunuhku, eoh?”

“Kalau pun Ji Eun-ku meninggal karena terkejut, aku pasti akan menyusul.”

Nde?”

Obsoyeo… kakimu bagaimana, gwaenhana?” Aku mengangguk kecil. “Jinja?” tambahnya.

Gaereom…  minggu depan sudah bisa dilepas.”

“Baguslah… jadi Ji Eun-ku bisa latihan lagi untuk persiapan tes masuk Arts University College at Bournemount. Haaah… aku bingung harus membawakan apa saat audisi?”

Senyumku seketika hilang. “Jeong Min-ah… Apakah kamu sangat ingin melanjutkan studi ke sana?”

“Tentu… Ji Eun-ku tahu sendiri, Arts University College at Bournemount adalah cita-cita terbesarku. Apa gunanya selama ini aku bekerja keras kalau tidak bisa terwujud juga. Aku sama saja dengan pecundang.”

“Oh… arasseo.” Aku berpikir sejenak. “Tetapi Jeong Min-ah, aku tidak yakin bisa lolos. Bagaimana seandainya kamu lolos dan aku tidak?”

Jeong Min terlihat terkejut. “Aku tidak akan pergi.” Dia tersenyum kembali.

“Tetapi, bukankah…,”  ucapanku terhenti oleh isyarat yang di berikan Jeong Min.

Jeong Min memelukku. “Aku tidak akan pergi kalau Ji Eun-ku tidak pergi. Aku tidak ingin terpisah denganmu. Arts University College at Bournemount  bukanlah apa-apa dibanding denganmu.”

“Tetapi…?”

“Sudahlah… suamimu yang tampan ini mau mandi dulu,” dia terkekeh dan berlari meninggalkanku yang masih duduk kaku di atas kursi roda, di ruang tengah.

oOoOo

Author POV

Hari keberangkatan, bandara Internasional Incheon…

Eomma… Ji Eun mana? Katanya akan kesini setelah melepas rindu dengan Ajushi. Kita bisa ketinggalan pesawat.” Jeong Min terlihat resah.

Sejak hari ujian –audisi- masuk Arts University College at Bournemount berakhir, dia tidak pernah bertemu lagi dengan Ji Eun. Ji Eun bilang, dia harus segera  menemui ayahnya di rumah kerabat. Ji Eun sama sekali tidak mau memberikan alamat kerabatnya itu. Alasannya, dia butuh waktu berdua dengan ayahnya dan ingin sedikit menyiksanya. Dia ingin melihat Jeong Min kesal setengah mati karena tidak bisa bertemu dengannya.

Mungkin demi rencananyan itu, Ji Eun hanya beberapa kali mengirimi Jeong Min pesan dan  tidak mau menjawab telepon Jeong Min. Ji Eun hanya menerima telepon dari Jeong Min sekali, yaitu hari pengumuman peserta yang diterima di Arts University College at Bournemount. Mereka berdua diterima setelah mendapat e-mail dari pihak universitas. Mendengar itu Jeong Min merasa  sangat senang dan semakin gencar mengurus rumah yang akan mereka tinggali di Inggris nanti. Seminggu kemudian –hari ini- mereka akan meninggalkan Korea.

Aish… kenapa dia lama sekali? Dia sudah janji tidak akan terlambat,” gerutu Jeong Min.

Tuan dan Nyonya Lee terlihat gusar. “Masuklah duluan, Jeong Min-ah.  Ji Eun mungkin masih di jalan, Eomma dengar alamat rumah kerabatnya memang agak jauh.”

“Kalau tahu jauh, kenapa tidak ke Seoul kemarin dan menginap di rumah? Kita bisa berangkat bersama.  Dia tidak akan terlambat. Ahh… Shin Ji Eun, eodiga?”

Terdengar pengumuman dari pihak bandara. “Sana masuk! Ji Eun pasti akan datang dan nanti menyusul.” Bujuk ibunya.

“Baiklah…,” dengan berat hati  Jeong Min mengalah. “Atau aku menunggunya saja Eomma? Bagaimana kalau dia terlambat dan ketinggalan pesawat? Aku harus menemaninya.”

“Yak… Lee Jeong Min, jangan bermain-main. Masuk sana!” bentak ayahnya, dia sudah tidak sabar melihat tingkah Jeong Min dari tadi.

Algesseoyeo…”

oOoOo

Jeong Min terlihat tidak sabar. 5 menit lagi dia harus masuk ke dalam  pesawat dan terbang meninggalkan Korea. Beberapa temannya yang juga memiliki nasib yang sama dengannya terlihat sudah  berkumpul semua. Tetapi, Ji Eun belum menampakkan batang hidungnya. Beberapa kali  dia mencoba menghubungi Ji Eun, namun hasilnya nihil. Ponsel Ji Eun tidak aktif. Segala  pikiran negatif memenuhi otaknya.

“Jangan-jangan Ji Eun tersesat atau kecelakaan? Oh… maldo andwae,” gumam Jeong Min.

Kajja, Jeong Min-ah.” seorang pemuda menarik paksa Jeong Min untuk memasuki pesawat.

Jeong Min sedikit memberontak. “Kalian duluan saja, aku akan menunggu Ji Eun.”

“Ji Eun?Shin Ji Eun? yeojachingumu?” tanya pemuda –teman Jeong Min- itu.

Jeong Min mengiyakan, “Ne… dia sepertinya terlambat.”

“Shin Ji Eun tidak akan datang.” Jawab salah satu teman perempuan Jeong Min.

Weo? Dia  tidak diterima? tetapi katanya…,” Jeong Min mulai bingung.

“Ji Eun-ssi mengundurkan diri. Dia mengundurkan diri dari ujian masuk. Sepupuku satu kelas dengannya. Awalnya dia bilang Ji Eun menyayangkan bakatnya  karena mengundirkan diri. Tetapi kalau tidak salah dengar, ternyata alasannya dia  sudah tidak  bisa menari lagi. Jadi, dia mengundurkan diri saat audisi.”

Mwo? Kamu sangat lucu. Jelas-jelas hari itu dia datang bersamaku.”

Pemuda yang tadi menarik Jeong Min memegang pundak Jeong Min. “Dia datang untuk mengundurkan diri. Kamu sama sekali tidak lihat dia ikut audisi atau tidak kan? Jadi, hari itu dia tidak audisi tetapi mengundurkan diri tanpa sepengetahuanmu.”

Mwoya?” Jeong Min tertawa sinis. Dia menahan emosinya. “Ji Eun-ah, kenapa kamu tidak memberitahuku?”

oOoOo

Shin Ji Eun POV

Sampai kapankah sandiwaraku ini akan berakhir? Tentu saja hari ini. Ayah dan kedua orangtua Jeong Min sudah mengetahui semuanya. Bahkan guru dan sebagian besar teman-temanku, tahu kondisiku sekarang. Yang tersisa hanya Jeong Min. Dia tidak tahu apa-apa, dan aku tidak berniat memberi tahunya dalam waktu dekat ini. Aku tidak berniat memberi tahunya bahwa kaki kananku sudah tidak normal lagi akibat insiden ‘tergilas sepeda’ itu. Insiden itu menyebabkan tulang di sekitar sendi pergelangan kaki ku retak. Pergelangan kakiku ini memang sering cidera ringan dan akibatnya, tulang kakiku sedikit rentan.

Kakiku ini sudah tidak sanggup lagi untuk menari ballet, aku harus berhenti menari ballet. Dokter mengatakan, kakiku mungkin masih bisa disembuhkan dengan terapi dan rehabilitasi. Tetapi tidak menjamin sepenuhnya berhasil dan pastinya tidak memerlukan waktu yang singkat. Rehabilitasi dan terapi  tidak menjamin aku bisa menari lagi. Jadi haruskah aku menceritakan itu semua pada Jeong Min?

Satu hal yang aku yakini akan dia perbuat setelah mendengar itu semua. Dia akan menyalahkan dirinya sendiri. Dia akan mengutuk dirinya sendiri.  Dia akan menghujam dirinya sendiri dengan beribu rasa bersalah. Dia akan berpikir semua ini salahnya. Dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Dia akan membuang cita-citanya itu. Aku tidak mungkin membiarkan itu semua. Dia tidak perlu tahu sekarang. Biarlah waktu yang membisikkan padanya.

Aku terus memandangi ponselku yang sejak  kemarin aku matikan. Dia tergeletak begitu saja di tempat tidur. Tidak terbersit sedikit pun niat untuk mehidupkannya kembali.  Entah untuk keberapa kalinya aku  melirik jam dinding di atas pintu keluar kamarku di rumah nenek. Waktu hampir menunjukkan pukul 9 pagi, hanya tinggal beberapa menit sebelum menuju angka itu. Mungkin dia sudah pergi sekarang. Mungkinkah dia  sudah tahu?

Tok… tok… tok!

“Ji Eun-ah,”  ayah membuka pintu kamar perlahan. “Ige… untukmu,” ayah memberikanku ponselnya.

Nde?”

Ige… palli.”

“Oh…,” aku menerima ponsel ayah. “Yeoboseo…?”

Shin Ji Eun?!”

Tubuhku  seketika kaku. Aku sangat mengenal pemilik suara ini. “Nde?” aku mencoba tenang.

Eodinyagu?” pemilik suara terdengar mengatur napasnya. “Kenapa kamu berbohong padaku? Kenapa kamu tidak memberi tahuku tentang kondisi kakimu? Kenapa kamu menyimpannya sendiri? Kenapa kamu menjalani derita itu sendiri?

“Jeong Min-ah… Nan Gwaenchanha,” aku berusaha menahan tangisku.

Jangan  berbohong lagi padaku, Shin Ji Eun! Kenapa kamu menyembunyikan akibat kesalahanku itu, eoh? Mengapa kamu bilang semaunya baik-baik saja. Apa kamu tidak bisa menari ballet lagi adalah hal sepele?!!” Jeong Min terdengar sangat marah. “Cidera di kakimu karena aku, karena kesalahanku. Aku selalu membawa masalah, nan nappeun namja. Ini semua salahku.”

Mianhae, Oppa! Nan gwaenchanha, Oppa,” Ji Eun berusaha mengendalikan diri. “Oppa… nappeun namja ania.”

Tunggu aku! Beberapa hari lagi aku akan menemuimu. Setelah aku mengurus semuanya di Inggris, aku akan kembali. Aku akan ada di sisimu selalu sesuai janjiku.

“Jangan…,” suaraku tertahan. “Jangan pernah kembali!!!” bentakku.

Ji Eun-ah,” Dia mungkin terkejut mendengarku membentaknya.

Nan gwaenchanha! Ini semua bukan salahmu, aku bilang ini bukan salahmu!” bentakku lagi. “Jangan pernah menginjakkan kakimu di Korea lagi sebelum kamu lulus. Jangan pernah  berani-berani menemuiku sebelum kamu menyelesaikan studimu. Sebelum kamu menyelesaikan studimu di sana, jangan pernah menghubungiku. Sebelum kamu menjadi pemusik terkenal, jangan pernah  berani mengingatku. Jangan sekali pun menyebut namaku jika semua itu belum terpenuhi. Bila perlu lupakan aku. Kita hentikan semua permainan ini di sini.” Aku  berusaha memarahinya.

Dia terdengar terisak. “Ji Eun-ah, mianhae.”

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Tidak ada yang salah di sini. Semuanya cukup sampai di sini. Lebih baik kamu melupakanku dan berkonsentrasi pada apa yang kamu inginkan sejak dulu. Jangan jadi pecundang besar, Lee Jeong Min. Annyeong…,” dengan berat aku memutus sambungan telepon.

Aku mulai memangis, menangis sekencangnya. Aku harus melakukan ini semua. Semua ini demi dia. Aku tahu dia pasti tersakiti dengan kata-kataku, tetapi ini semua demi cita-citanya. Aku tidak mau terus menjadi bebannya. Aku tidak mau dia terus menyalahkan dirinya dan menghancurkan masa depannya. Aku rasa sakit yang aku berikan saat ini akan cepat dia lupakan. Aku selalu mencintamu, Lee Jeong Min.

-END-