Tags

,


33 Days Contract

Title                       : 33 Days Contract [2, 2]

Author                  : Choi Chan Yoen/ Yunn Wahyunee

Main Casts          : Minho a.k.a Choi Min Ho, Go Han Ni (OC)

Support Casts    : Taemin a.k.a Lee Tae Min and others

Genre                   : Horror (mystery), Fantasy, Romance (?)

Length                  : Two Shoot

Rating                   : PG-15

Summary            :

“Semua yang ada di depan matamu hanyalah ilusi. Aku mempermainkanmu karena aku menginginkanmu. Kamu tidak akan bisa pergi dariku, kamu akan selalu kembali padaku. Kamu akan menjadi milikku, selamanya”

A/N                                        :

FF ini dibuat khusus untuk even “FF PART 2012” di WP shiningstory.wordpress.com

Warning               :

typo di setiap pojokan (?). Gejala kebingungan yang akan  dialami reader karena narasi author yang ruwet. Penulisan yang –mungkin- tidak sesuai EYD. Bagi yang tidak menyukai  hal-hal berbau menjijikkan, jangan dilanjutkan bacanya. Tetapi  harus tetap baca! Eyyyy?

~xXx~

December 22nd,  2012

Kepala Han Ni terasa  sangat berat, terasa berdenyut dengan keras. Dia berusaha menggerakan tubuhnya, tetapi tidak bisa. Rasa nyeri menjalar di seluruh tubuhnya. Dia hanya bisa  meringis menahan sakit. Perlahan dia mencoba membuka kelopak matanya yang sepertinya enggan untuk terbuka. Otak Han Ni memerintah dengan keras  sang kelopak mata agar mau terbuka. Susah payah Han Ni menggerakkan kelopak matanya.

Perlahan tetapi pasti, kelopak mata Han Ni terbuka. Berkas cahaya segera berbondong-bondong menyapa, begitu menyilaukan. Han Ni berhasil membuka matanya, semuanya terlihat memudar tidak jelas. Beberapa kali dia mengerjapkan matanya. Berusaha melatih matanya untuk menyesuaikan diri dengan cahaya yang menyilaukan ini.

“Han Ni~a… kamu sudah terbangun?” suara Min Ho sedikit menyadarkannya. “Han Ni~a, jawab aku. Gwaenchanayoe?”

Han Ni berusaha menjawab, tetapi suaranya tidak bisa keluar. Tenggorokannya terasa perih, kering. Mungkin pita suaranya sudah menyusut dan tidak bisa bekerja lagi. Mata Han Ni sudah bisa melihat dengan jelas lagi. Tepat dihadapannya terpampang makhluk paling indah yang pernah dia lihat. Dia adalah Min Ho, pemuda yang memperkerjakannya di rumah ini.

“Han Ni~a… Gwaenchanayoe?” Min Ho terdengar sangat khawatir, tetapi ada terselip amarah di nada suaranya itu.

oppa?” suara Han Ni tertahan.

Min Ho segera menuju pintu dan menyentak pintu itu dengan kasar. Dia terlihat marah besar. Dibukanya pintu itu lebar-lebar. Dua orang pelayan reflex menunduk memberi hormat, tetapi lebih tepatnya ketakutan.

“Panggil kepala pelayan Jo, sekarang” katanya halus, tetapi dengan penekanan di setiap katanya. “panggil dia sekarang” ulangnya.

Min Ho kembali masuk menemui Han Ni. Pintu yang tepat ada dibelakangnya tertutup perlahan oleh pelayan yang ada diluar. Min Ho mengembangkan senyumnya, menatap Han Ni dengan iba. Han Ni hanya terdiam. Dia sedang berusaha mengumpulkan ingatanya. Apa yang terjadi dengannya?

“ssstst… jangan buang-buang tenagamu yang sangat sedikit ini.” Min Ho duduk di sebelah Han Ni. Dia menghela napas, sangat berat.

Tanpa berkedip Han Ni memperhatikan wajah pemuda di depannya ini. Dia terlihat semakin pucat dan kurus. Garis hitam di bawah matanya sangat tebal, terlihat begitu jelas. Penampilannya juga sangat berantakan, tidak seperti biasanya. Dia hanya menggunakan kaos tebal lengan panjang berwarna merah dan celana panjang berwarna hijau toska, sedikit memiliki konsep natal. Tetapi pakaian yang dia kenakan tidak akan mampu menghangatkan dirinya dari udara yang sangat dingin ini.

Min Ho memperbaiki letak selimut Han Ni. “kamu memang keras kepala”

Han Ni hanya menatap bingung.

“aku sudah bilang jangan memaksa diri untuk menghias pohon natal itu, tetapi kamu tetap bersikukuh. Lihat sekarang, kamu terjatuh dan akhirnya seperti ini” Min Ho membelai rambut Han Ni perlahan.

‘menghias pohon natal?’ kata Han Ni dalam hati.

“aku hampir frustasi, takut kalau kamu tidak akan membaik dan terus seperti ini hingga natal”

Han Ni sedikit bergidik. Tangan Min Ho terasa sangat dingin. Sepertinya dia juga sedang tidak enak badan. Semua terlihat jelas dari pergerakan tubuhnya yang seperti tanpa tenaga.

“Syukur demammu sudah turun” dia tersenyum ke arah Han Ni.

Pintu kamar Han Ni terbuka lebar. Terlihat kepala pelayan Jo dan 3 orang pelayan lainnya memasuki kamar sambil tetap menunduk, menyembunyikan wajahnya. Min Ho membantu Han Ni untuk duduk dan menyandar dirinya pada bagian kepala tempat tidur. Han Ni terdengar meringis kesakitan. Raut wajah Min Ho semakin terlihat khawatir. Sedangkan kepala pelayan Jo dan pelayan yang lain semakin ketakutan.

“Taruh semuanya disana dan segera keluar” Min Ho menunjuk meja disamping tempat tidur. “Bawakan susu hangat itu ke sini”

Dengan langkah cepat, kepala pelayan Jo membawakan susu hangat. “ ini Tuan Muda”

“emmm….segera keluar!” Min Ho enggan menatap kepala pelayan Jo. “Minumlah ini Han Ni~a agar tenggorokanmu lebih baik”

Han Ni hanya menurut. Tatapannya tidak lepas dari Min Ho. Selain itu, dia masih berusaha mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Apakah benar dia terjatuh saat berusaha menghias pohon natal? Apakah natal sudah lewat? Kenapa dia sama sekali tidak bisa mengingat apa yang terjadi?

oppa” suara Han Ni terdengar serak. “tanggal berapa sekarang?”

“22 desember, kamu pingsan sekitar 2 hari. Tidak benar-benar pingsan, tetapi memang kamu demam tinggi” jelas Min Ho.

Han Ni menghela napas, dia tidak melewati malam natal. “lalu pekerjaanku?”

“jangan bahas pekerjaan. Selama kamu sakit tetapi dihitung sebagai hari kerjamu. Sekarang beristirahatlah. Jika kamu sudah merasa baik, kamu bisa kerja lagi” Min Ho berdiri dan hendak meninggalkan Han Ni.

“tetapi oppa…?”

Min Ho membalik badan dan menghentikan langkahnya. “ini perintah, jadi anggap saja kamu sedang bekerja. Satu lagi, ponselmu terus berdering dari kemarin. Sepertinya seseorang sangat mengkhawatirkanmu”

Han Ni segera melirik ponselnya sudah berada di sebelahnya. “oppa…” Min Ho sudah menghilang di balik pintu.

Han Ni menatap ponselnya lekat-lekat. Ada 24 panggilan tidak terjawab dan 56 pesan masuk. Han Ni segera mengeceknya, semua berasal dari Tae Min. semuanya tertanggal 2 hari lalu dan kemarin. Segera Han Ni menekan tombol untuk memanggil dan berharap segera tersambung pada Tae Min.

yumseo? Han Ni~a…” tersengar suara seseorang yang selama ini sangat dia rindukan. “Chagiyae… kenapa kamu tidak mengangkat teleponku  kemarin? Kamu membuat aku khawatir. Kamu baik-baik saja kan? Aku sangat merindukanmu

Han Ni hanya terdiam dan membiarkan Tae Min terus berbicara. Tanpa dia sadari, dia mulai meneteskan airmata. Dadanya terasa sesak, diremas-remas. Segala firasat buruk memenuhi batinnya. Semuanya menghujam  tanpa ampun.

Han Ni~a… apa kamu masih disana?

“Emmm… bogosiposoe!”

Hey… apakah kamu menangis?apakah terjadi sesuatu padamu?” Tae Min terdengar sangat khawatir.

“emm… aku tidak menangis, hanya sedikit flu. Aku baik-baik saja. Mianhae, tidak menghubungi. Aku sedikit sibuk belakangan ini” bohongnya.

Tae Min tertawa kecil. “Aku ada di Jeju

Mwo? Kamu di Jeju?”

“Ne… aku sangat merindukanmu. Katamu, kamu tidak diizinkan keluar sebelum kontrak habis. Jadi, aku yang akan menemuimu. Kita akan merayakan natal bersama. Bisakah kamu memberikan alamat rumah majikanmu?

“aku tidak tahu”

“eyy….kenapa bisa tidak tahu?”

“aku juga baru sadar sekarang kalau aku tidak tahu alamat rumah ini. Aku akan mencari tahu.” Han Ni diam sejenak. “Tae Min~a…”

“Nde?”

saranghamnida

Tae Min terkekeh. “Na tto…neomu saranghae” Tae Min kembali tertawa. “Ada apa denganmu? Kenapa terdengar sedih? Apakah kamu sangat merindukanku? Kamu merindukan wajahku yang tampan ini?

Han Ni mengangguk dalam diam. “Aku akhiri, eoh? Aku harus kembali bekerja”

“Ne… aku akan segera kesana untuk menemuimu

~xXx~

Min Ho terlihat gelisah di kamarnya, lebih tepatnya marah. Dia masih sangat marah atas kejadian yang menimpa Han Ni. Melihat keadaan Han Ni yang cukup parah itu membuat dia ingin mencabik-cabik seseorang yang seharusnya bertanggungjawab atas kejadian ini.

“Tuan Muda Choi, apakah Tuan Muda memanggil saya?”

Min Ho segera menoleh ke sumber suara. “Ne… saya memanggil Anda, kepala pelayan Jo”

“Ada  yang Tuan Muda inginkan dari saya?” kepala pelayan Jo tertunduk, takut.

“Aku ingin kamu musnah” kata Min Ho kasar setengah berteriak  dan dalam sekejap kembali normal.“Tetapi mungkin aku tidak akan melakukannya dalam waktu dekat ini. Tergantung kondisi Han Ni nanti. Emmm… dimanakah anakmu yang kurang ajar itu? apakah kamu sudah menyembunyikannya dengan baik?”

Kepala pelayan Jo hanya menunduk, menyembunyikan wajahnya makin dalam.

Min Ho melihat ke luar jendela kamarnya. “anak tertuamu itu memang sangat kuat. Penerusmu yang paling kuat, sayangnya dia sangat tidak tahu diri. Aku tahu selain karena rasa patuhnya padaku dan ingin melindungiku, dia juga ingin aku memilihnya kan?”

Sontak wajah kepala pelayan Jo berubah tegang. Dia terkejut dengan perkataan Min Ho. “Tuan Muda Choi”

“aku  tahu anakmu itu sangat menginginkanku. Aku tidak bisa menyalahkannya, karena aku memang patut untuk diinginkan. Apakah kamu sadar?  Hukuman dari kutukanmu  itu tidak akan pernah berakhir” Min Ho tersenyum sinis.

“Tuan Muda Choi, apakah tidak sebaiknya ingatan Agassi sedikit di…..” kepala pelayan Jo mengalihkan pembicaraan.

Min Ho segera menghampiri kepala pelayan Jo dan mencengkram lehernya. “jangan berani bermain dengan ramuan sialanmu itu. apa kamu ingin membuatnya gila, eoh?”

“tetapi Tuan Muda…” kepala pelayan Jo susah bernapas. “Agassi sudah mengetahui semuanya”

“karena itu dia istimewa dan kamu payah. Dia bisa mematahkan ilusi kampunganmu itu. kamu tahu? aku harus terus berusaha keras meyakinkannya kalau tidak ada yang aneh dengan makananku” Min  Ho membanting kepala pelayan Jo ke tanah. “sampai kontraknya habis, jangan pernah sekalipun menyentuhnya. Jika waktunya tiba,  aku sendiri yang akan memintamu untuk membuat ramuan sialmu itu. Untuk saat ini, aku masih ingin bermain dengannya. Biarkan dia tahu semuanya, karena dia akan menjadi milikku”

~xXx~

December 23rd, 2012

Pagi-pagi buta Han Ni sudah terbangun. Dia kembali mimpi buruk, mimpi buruk yang sama beberapa hari belakang ini. Kesehatannya sudah pulih kembali. Dia sudah bersiap-siap sejak tadi dengan seragamnya. Dia harus segera mulai bekerja untuk Min Ho, menjadi asisten rumah tangga.

Han Ni duduk dengan manis didepan cermin sambil menyisir rambutnya –yang tidak  terlalu panjang- perlahan. Beberapa kali dia menghela napas berat. Batinnya sangat tidak tenang. Kurang dari 2 minggu dia bekerja di rumah ini, tetapi entah mengapa terasa begitu lama. Kontrak kerjanya yang hanya 33 hari terasa tidak akan berakhir dengan cepat. Bukan karena dia bosan dan malas bekerja. Dia hanya ingin segera pergi dari rumah yang penuh misteri ini.

Mimpi buruk itu kembali berkelebat di benak Han Ni. Mimpi dimana dia berlari dengan kencang di dalam rumah, berusaha menghindari seseorang. Tetapi dia gagal melarikan diri dan tertangkap.  Kemudian tubuhnya terpelanting jauh dan membentur tiang kokoh di rumah ini. Dan mimpi itu berakhir disana.

“Hahh… mimpi itu terasa nyata. Apakah itu memang mimpi? Kenapa aku tidak bisa ingat tentang menghias pohon natal dan akhirnya cedera seperti ini? ingatanku hanya sampai membacakan buku untuk Tuan Muda Choi. Lalu apa yang selanjutnya terjadi? Apakah kepalaku terbentur terlalu keras dan  sedikit mengacaukan memoriku?” Han Ni bertanya pada dirinya sendiri yang terpantul di cermin.

Rrrrtrrt. Han Ni segera menjawab telepon yang masuk.

“emmm…”

“Chagiyae apakah kamu sudah mendapatkan alamatnya?” Tae Min terdengar tidak sabaran.

“Aku tidak bisa menemukannya. Rumah ini tidak pernah  mendapat surat, dan pelayan yang lain tidak tahu atau lebih tepatnya tidak mau memberi tahuku”

apakah kamu tidak bertanya pada majikanmu?”

ania… aku tidak berani. Belakangan ini dia sering keluar rumah, ke kantornya”

ah… bukankah dia pengusaha muda. Apa kamu tahu nama perusahaannya? Mungkin aku bisa menemukan alamatnya. Aku sangat merindukanmu”

“MH company… seingatku itu yang tertulis di kontrak”

“Gomawo, chagiya. Aku akan segera kesana.  Kamu merindukanku, eoh?”

Han Ni tertawa kecil mendengar godaan Tae Min. “emmm…”

~xXx~

Seperti sebelumnya, Han Ni kembali mengantarkan sarapan ke kamar Min Ho. Dia berjalan perlahan, menahan sedikit rasa sakit di kaki kirinya yang terkilir. Terpincang-pincang dia memasuki kamar Min Ho. Kamar itu terlihat sepi dan mencekam seperti sebelumnya. Bahkan kali ini lebih mencekam. Hawa dingin menusuk tulang. Tidak ada rasa hangat dari pemanas ruangan.

‘Apakah pelayan yang bertanggung jawab lupa menyalakan pemanas?’ fikir Han Ni.

Han Ni segera membuka gorden agar cahaya masuk dan mengusir hawa dingin ini. Dalam sekejap seluruh ruangan disinari cahaya matahari dari jendela super besar itu. Han Ni sedikit terkejut mendapati pohon natal besar, mungkin 2 kali tingginya, terpajang di sudut antara pintu dan jendela. Pohon natal itu sangat indah, dan dia mengenali beberapa hiasan disana. Hiasan itu, hiasan favoritenya. Han Ni selalu menghias pohon natal dengan cara dan bentuk yang sama setiap tahunnya.

“Itu pohon yang kamu hias, aku sedikit menambahkan hiasan yang belum terpasang. Apakah sesuai seleramu?” Min Ho terbangun dari tidurnya.

Han Ni kembali memperhatikan pohon natal itu. Pohon natal itu memang pohon natalnya. Pohon natal dengan gayanya. Jadi, apakah semua sudah terjawab? Dia benar-benar terjatuh saat menghias pohon natal dan sedikit mengalami ganguan pada memorinya karena kepala yang terbentur? Han Ni tidak benar-benar yakin.

“sarapan apa yang kamu bawakan untukku?”

“emmm…. Masakanku, oppa.” Han Ni memberikan sarapan buatannya pada Min Ho. “aku tidak tahu mengapa, kepala pelayan Jo memintaku untuk membuatkan oppa sarapan. Bukankah seharusnya pelayan dapur utama yang melakukannya?” Han Ni terlihat bingung.

Min Ho tersenyum. “aku yang memerintahkannya. Aku bosan dengan masakan pelayan dapur utama. Apakah kamu keberatan memasak untukku?”

ania… dengan senang hati. Tetapi, aku tidak yakin oppa akan menyukainya”

“Aku suka” Min Ho sudah mulai makan. “apalagi kamu tidak berteriak dan mencegahku untuk makan. Apakah sekarang makananku baik-baik saja?” godanya.

“emmm…mianhamnida”

~xXx~

December 24th, 2012

“Apa yang harus kita lakukan? Waktunya semakin dekat, kepala pelayan Jo”

“kecilkan suaramu. Aku juga sedang berfikir”

“yoeja  itu sama sekali tidak membantu”

“Kita belum bisa menyimpulkan seperti itu”

“eomma….apa yang harus kita lakukan?”

“pertama kita harus memastikan persediaan jantung, darah dan yang lainnya untuk Tuan Muda Choi adalah kualitas terbaik. Kalian harus mencari dengan benar”

“eomma, itu semua tidak cukup”

“Apakah kita harus segera menyingkirkan yoeja itu dan segera mencari yang baru? Bukankah kita membuang-buang waktu mempertahankannya? Dia sama sekali tidak membantu.  Dia bukan yang kita cari”

“Tutup mulutmu! Kita tidak bisa melakukan itu. Dia dipilih sendiri olehnya. Setelah sekian lama, akhirnya dia turun tangan untuk memilih dari sekian banyak yang kita ajukan. Dia sepertinya menyukainya”

“tetapi eomma…”

“waktu kita semakin menipis. Semoga kali ini berhasil. Aku sudah bosan harus tunduk padanya. Aku tidak mau melihat salah satu diantara keturunanku diusik olehnya. Tidak akan ada lagi. aku tidak ingin kalian dan keturunanku yang lain dibantai olehnya”

“sebelum tahun ini berakhir, yoeja itu harus menjadi miliknya. Apakah kalian sudah mendapatkan yang kita butuhkan untuk membuat ramuan itu?”

“sudah, chagiyae!

“kita hanya perlu menunggu dia pulih dan meminta kita untuk melakukannya. Tanpa darahnya ramuan itu tidak akan sempurna”

“Akankah dia pulih? Belakangan ini dia terlihat kacau. jika terus seperti ini. Dia akan marah dan menghancurkan kita seperti sebelumnya”

“yoeja ini istimewa. Sepertinya dia hampir menyadari semuanya”

“Apakah dia tahu kalau….?”

“sssssttt…. Hentikan. Dia disini”

“aaaaakkkkk”

Han Ni terbangun dari tidurnya. Dia baru saja mimpi buruk. Mimpi buruk yang selama ini menghantuinya. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Terus mengalir melalui pipinya yang merona merah dan menetes kepangkuannya ketika mencapai dagu. Han Ni susah payah mengatur napasnya. Dadanya naik turun dengan drastis. Dia sangat shock.

Napas Han Ni mulai teratur. Dia mencoba tenang, menenangkan diri. Sepertinya kali ini dia dapat mengingatnya dengan jelas mimpi buruknya. Dia bisa mengingat dengan jelas siapa, dimana dan bagaimana mimpi itu. Satu hal yang tidak bisa dia lupakan, kepala pelayan Jo dan ‘dia’. Entah siapa yang mereka maksud dengan ‘dia’. Han Ni mencoba mengingat, mungkin dia bisa menemukan jawabannya.

Ssssssss. Sekelebat bayangan melintas beberapa meter di depan Han Ni. Han Ni  tidak  bisa melihat bayangan itu. Kamarnya hanya diterangi oleh lampu tidur yang tepat berada disebelahnya, selebihnya gelap gulita. Han Ni turun dari tempat tidurnya. Dia berniat untuk menyalakan lampu, agar  seluruh ruangan terlihat dengan jelas. Sakelar lampu utama terletak di dekat pintu masuk. Perlahan Han Ni menyeret kakinya yang masih terkilir menuju sakelar.

Klek. Seseorang membuka pintu dan kelabat bayangan terlihat berlari keluar.  Han Ni hampir berteriak karena kaget, tetapi dia bisa menahan diri. Rasa penasarannya membawa dia untuk mengikuti bayangan itu. Han Ni segera keluar dan mengikuti bayangan itu. Entah jam berapa sekarang, mungkin jam 1 pagi atau 2 pagi? Han Ni tidak peduli akan itu.

Mata Han Ni terus berfokus untuk menemukan bayangan itu. Sebenarnya dia sangat takut, tetapi entah dorongan dari mana yang menyuruhnya untuk tetap mengikuti bayangan itu.Kresek. Terdengar suara dari arah anak tangga. Han Ni mempercepat langkahnya untuk menuju sumber suara. Sesosok bayangan seperti sengaja menunggunya tepat di anak tangga terakhir, lantai dasar rumah.

Han Ni semakin yakin untuk mengikuti sosok bayangan itu. Bayangan itu seolah meminta Han Ni untuk terus mengikutinya, mungkin ada sesuatu yang ingin dia tunjukkan pada Han Ni. Bayangan itu menunggu Han Ni dipintu keluar. Han Ni terus mempercepat  langkahnya agar tidak kehilangan jejak sang bayangan.

Wusssh. Angin malam yang sangat dingin berhembus kencang dan menyambut Han Ni didepan pintu. Langit malam tidak terlalu gelap. Bulan setengah purnama memantulan sinar matahari dengan baik. Han Ni merinding kedinginan. Ingin rasanya dia kembali ke kamarnya terlebih dahulu untuk mengambil mantel sebelum kembali mengikuti bayangan itu. Tetapi keinginannya itu tidaklah mungkin. Sang bayangan semakin terlihat tidak sabar dan memintanya untuk terus mengikutinya, bukannya diam terpaku diambang pintu.

Ragu-ragu Han Ni menapakan kakinya di hamparan salju yang tebal. Dinginnya salju menusuk syaraf-syaraf di telapak kaki Han Ni secara langsung. Dia nekat melangkahkah kakinya di salju yang dingin  tanpa alas kaki. Sang bayangan terus saja memerintah Han Ni untuk terus berjalan tanpa henti.

Han Ni mencoba menebak, kemana bayangan itu akan membawanya? Mereka terus saja menerobos angin malam tanpa ampun. Beberapa kali Han Ni menggosok telapak tangannya untuk mendapatkan sedikit kehangatan. Bibirnya mulai beku dan kedua pipinya merah menahan dingin.

“Oh… kemana dia?” Han Ni kehilangan bayangan itu di halaman belakang rumah.

“hahahaha” Han Ni mendengar tawa di kejauhan.

3 buah bayangan terlihat sedang berjalan menuju hutan pinus di belakang rumah Min Ho. Kali ini Han Ni dapat mengenali bayangan itu, setidaknya jenis kelamin mereka. 2 diantara mereka adalah wanita. Wanita dengan kaki jenjang dan rambut yang panjang bergelombang. Diantara mereka terdapat seorang pria, pria itu terlihat sangat bahagia diapit oleh wanita-wanita itu.

nuguseyoe?” Han Ni memfokuskan matanya. “Bukakah itu….?”

Han Ni seperti mengenali salah satu diantara mereka. Buru-buru dan perlahan Han Ni mengikuti mereka memasuki hutan pinus. Pasti ada alasan sang bayangan misterius itu membawanya ke sini. Dia pasti ingin Han Ni mengikuti 3 orang itu. Han Ni kembali melangkahkan kakinya yang tanpa alas menuju hutan pinus. Menginjak-injak salju yang semakin tebal.

~xXx~

“hahaha” tawa wanita yang berada di sebelah kanan Min Ho.

Min Ho hanya tersenyum melihat dua wanita yang sedang dia rangkul dalam kondisi setengah sadar. Kedua wanita itu adalah pengunjung pantai yang beberapa saat lalu dia kunjungi. Dia memang sengaja ke pantai itu untuk mendapatkan ‘mainan’. Tidak susah untuk membujuk kedua wanita untuk mengikutinya. Siapa yang akan menolak pria tampan, tinggi, kaya dan masih sangat muda seperti Min Ho. Kharismanya akan membuat para wanita lupa diri dan menyerahkan begitu saja dirinya pada Min Ho tanpa banyak tanya.

Min Ho membawa kedua gadis itu memasuki  hutan pinus. Hutan pinus yang sangat gelap dan dingin. Cahaya dari bulan sama sekali tidak bisa menerobos masuk karena pohon-pohon pinus yang terlalu rapat. Pohon-pohon pinus tersebut seolah menyembunyikan sesuatu di dalam hutan. Mereka tidak ingin siapapun tahu. Biarlah tetap gelap dan penuh dengan kemisteriusan.

“Tunggu dulu… kita akan masuk ke sana, oppa?” kata wanita bergaun hitam yang sangat sexy disebelah kiri Min Ho.

Min Ho hanya mengangguk kecil. “ada masalah? Apa kalian takut?”

Ania…”  geleng wanita di sebelah kanan Min Ho. Rambut wanita itu berwarna coklat, panjang hingga punggungnya dan sedikit bergelombang. “bukankah kita akan ke rumah oppa?”nada suaranya menggambarkan kalau dia sedang mabuk.

“dirumahku? Kita  tidak akan bisa bermain dengan puas disana” Min Ho menekankan pada kata ‘bermain’. “kita akan lebih leluasa didalam hutan. Tenang saja, aku punya gubuk sederhana disana” Min Ho tersenyum, senyumnya terlihat menawan di bawah sinar bulan.

“Baiklah… aku akan menurutimu, karena kamu sangat tampan” goda wanita sexy dan tertawa renyah.

“emmmm… aku suka namja sepertimu” wanita rambut panjang menambahkan.

gomawo” Min Ho ikut tertawa kecil.

Mereka melanjutkan langkah mereka yang sempat tertahan beberapa meter dari jalan masuk menuju hutan pinus itu. Min Ho terlihat meminta kedua wanita itu untuk berjalan dengan hati-hati. Tanpa mereka sadari, seseorang memperhatikan mereka dari jauh. Orang tersebut berusaha untuk tetap tidak terlihat. Dia  tidak ingin Min Ho dan kedua wanita itu menyadari keberadaannya. Beberapa menit kemudian, Min Ho dan kedua wanita itu telah memasuki hutan pinus. Mereka terus masuk, semakin dalam, menuju daerah yang benar-benar gelap dan tidak tersinari cahaya bulan.

~xXx~

Han Ni mengatur jarak sedemikian jauh agar Min Ho tidak menyadari keberadaannya dan juga tidak kehilangan jejak mereka. Han Ni sangat penasaran sekarang. Ini kali pertama dia melihat Min Ho membawa orang lain ke lingkungan rumahnya. Selama Han Ni bekerja disini, tidak ada seorang pun tamu untuk Min Ho. Dan sekarang dia membawa 2 wanita tidak dikenal. Tetapi tidak ke rumah, melainkan memasuki hutan pinus yang jelas-jelas cukup menyeramkan itu.

Kaki Han Ni yang tanpa alas kaki mulai terbiasa oleh dinginnya tanah yang dia pijak.  Dia terus masuk ke dalam hutan pinus, mengikuti Min Ho dengan hati-hati. Suasana di dalam hutan pinus sangat mencekam. Gelap, dingin, pengap dan sunyi, sangat sunyi. Han Ni bisa mendengar sendiri hembusan napas dan detak jantungnya. Kretek. Han Ni menginjak ranting kayu dan sedikit membuat suara. Dia berdiri terpaku, takut orang yang diikutinya akan mendengar patahan kayu itu. Dia melanjutkan langkahnya lagi perlahan dan ragu. Dia kehilangan jejak Min Ho dan 2 wanita itu. Sepertinya dia tersesat sekarang.

“Auch…” lengan Han Ni tergores sesuatu. Baju yang dia kenakan sedikit sobek, dan  terdapat luka goresan pada lengannya. “oh… appeun” Han Ni mengelus lengannya yang terluka oleh ranting kecil yang entah berasal dari mana.

Han Ni kembali melangkahkan kakinya. Dia benar-benar kehilangan jejak sekarang. Sesekali dia menggosok kedua telapak tangannya untuk mendapat kehangantan. Dia mulai mengigil, udara semakin dingin. Tidak banyak salju di permukaan tanah, tetapi dinginnya udara menusuknya tanpa ampun. Disekitar Han Ni gelap gulita, hanya ada  1 atau 2  berkas cahaya bulan yang berhasil menerobos lebatnya hutan pinus itu.

“aaaakkk” teriak seseorang.bukk. Kemudian terdengar sesuatu menghantam tanah atau pohon.

Tubuh Han Ni bergidik, jantungnya berpacu dengan kencang. Dia mulai ketakutan sekarang, sangat ketakutan. Apakah dia hanya berhalusinasi mendengar teriakan seorang wanita? Han Ni mengatur napasnya,menajamkan pendengarannya. Dia berharap dapat menemukan sesuatu.

“eeeemmm” terdegar geraman kecil seseorang, suaranya seolah  tidak dapat keluar.

Han Ni menerobos semak- semak. Dia tidak peduli dengan kulitnya yang mungkin akan tergores. Dia tidak peduli dengan kakinya yang mulai mati rasa, tidak dapat merasakan pijakannya di tanah -keram. Dia sepertinya menemukan arah suara itu berasal. Segala perkiraan apa yang sebenarnya terjadi melintas di benaknya. Segala kemungkinan  terburuk yang akan dia temui  jika terus melangkahkan kakinya seolah melarangnya untuk meneruskan pencariannya. Dia takut –sangat takut- tetapi rasa penasarannya jauh lebih besar lagi.

“aakk….lep….pas…lepas…kan” rintih seseorang dari balik batang super besar sebuah pohon pinus yang berjarak sekitar 3 meter dari tempat Han Ni mematung.

“Tsk…”

“lep…pas….kan” ulang suara itu lagi –suara wanita.

“Tsk…” hanya itu jawaban yang dia terima.

Selain 2 suara itu,  terdengar rintihan kesakitan dari orang lain. Han Ni perlahan mendekat, mendekat dengan ragu ke arah sumber suara. Dia menahan napas agar tidak ada yang menyadari keberadaannya. Keringat dingin mengalir dipelipisnya. Dia gemetar, entah karena kedinginan atau karena rasa takutnya. Bukk. Sekali lagi terdengar sesuatu yang di lembar dan menubruk sesuatu dengan keras. Suara itu terdengar begitu keras, sangat dekat dari tempat dia berdiri sekarang.

“hiks…” tangis pilu seseorang. “lepaskan aku! Jebal, lepaskan aku”

“Bukankah kamu ingin bermain denganku? Beginilah cara aku bermain”

Han Ni membekap mulutnya sendiri yang hampir berteriak. Dia tidak bisa percaya dengan apa yang dia lihat sekarang. Tepat di bawah kakinya –dibalik batang pohon pinus besar, seorang wanita dengan rambut panjang bergelombang tergeletak tak berdaya. Entah karena dia pingsan atau tidak bernyawa lagi. Darah segar mengalir dari pelipis dan hidung  wanita itu. Penampilannya sudah sangat berantakan. Beberapa memar menghiasi wajah dan permukaan kulit lainnya. Han Ni masih bersembunyi di belakang batang pohon. Perlahan dia menjulurkan tanganya untuk menyentuh wanita itu, memastikan apakah dia masih hidup atau tidak.

Bukk. “aaaakkk” terdengar teriakan lagi.

Han Ni reflek menarik tanganya, membatalkan niatnya. Airmata sudah mengalir deras di pipinya, membentuk sungai kecil. Kedua tangannya sudah membekap mulutnya, menahan isakan tangis yang mungkin akan keluar. Angin dingin kembali bertiup, membisikkan kata-kata yang akan membuat nyali seseorang menciut. Dedaunan bergemerisik, bergesekan satu sama lain. Han Ni kembali memberanikan diri untuk mengintip dari balik batang pinus. Dia ingin memastikan apa yang sebenarnya sedang terjadi.

“eeekkkk”

wae? Katakan saja apa maumu”

oppa?” kata Han Ni dalam hati.

Cahaya bulan sedikit membantu Han Ni untuk melihat apa yang terjadi didepannya. Seorang namja yang ternyata adalah Min Ho terlihat bersama wanita bergaun hitam. Mereka tidak mengobrol atau aktivitas normal yang mungkin dilakukan sepasang manusia. Tangan kekar Min Ho tidak merangkul pundak wanita itu atau  membelai rambutnya melainkan bertengger di leher wanita itu. Umumnya hal itu disebut, mencekik. Min Ho mencekik wanita itu tanpa rasa iba.

“Sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih  padamu” Min Ho tersenyum sinis, begitu kejam. “beberapa hari ini aku bingung harus melampiaskan kemarahanku kepada siapa. Dan kalian dengan senang hati mau menjadi wadah emosiku”

“le…lap….pas…kan…aku!” wanita dalam cengkraman Min Ho meronta-ronta tanpa tenaga.

Min Ho hanya terkekeh. Dia terlihat senang melihat wanita yang dia cekik mulai melemas. “Aku pasti akan melepaskanmu”

Tawa Min Ho semakin kencang, tawa yang menyeramkan. Suara tawa itu menggelegar di seluruh penjuru hutan. Beberapa serangga kecil sontak ketakutan dan menyembunyikan diri mereka. Tidak perlu menunggu lama, setelah puas tertawa Min Ho mempererat cengkramannya. Wajah wanita yang dia cekik berubah merah, matanya seolah akan keluar. Dia terus meronta, mencakar lengan Min Ho yang mencengkram lehernya. Min Ho tidak bergeming dengan cakaran itu. Dia malah terlihat semakin senang dan memberikan tenaga lebih pada cengkramannya.

Han Ni yang melihat kejadian itu, terduduk dan menangis. Dia sama sekali tidak memiliki tenaga untuk melarikan diri. Tenaganya hanya cukup untuk membekap mulutnya sendiri, menahan isakan tangisnya. Apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia memaksa dirinya berlari menyelamatkan diri dan membiarkan wanita itu mati? Atau haruskah dia menjadi pahlawan yang membentak Min Ho untuk menghentikan apa yang dia lakukan padahal semua itu percuma?

Bukkk. Wanita bergaun hitam itu sudah dilempar dengan kejam oleh Min Ho dan menabrak batang pohon pinus. Tidak terdengar teriakan ataupun rintihan kecil kesakitan. Sunyi sepi, tanpa suara ataupun perlawanan. Mungkin wanita itu sudah tidak bernyawa lagi sekarang. Sama seperti nasib temannya, wanita dengan rambut panjang bergelombang. Min Ho masih berdiri tegap  dan bangga, menatap dua ‘mainan’-nya yang sepertinya sudah tidak bernyawa lagi.

Kedua wanita itu bukanlah ‘mainan’ pertamanya. Sebelumnya dia pernah melakukan ini, mencari ‘mainan’ dan memperlakukannya dengan cara yang sama persis bahkan bisa lebih kejam, tergantung bagaimana perasaannya. Dia melakukan ini bukan karena darah ingin membunuhnya bergejolak, dia hanya marah –marah besar. Dia marah pada keadaan yang menimpanya, suatu ketidak-adilan yang menimpanya.

“uhuk…uhuk” Han Ni tanpa sengaja terbatuk setelah membekap mulutnya begitu lama.

Secepat kilat Min Ho menoleh ke batang pohon pinus terbesar yang ada disekitarnya –tempat Han Ni bersembunyi. Han Ni yang menyadari kesalahan fatal yang dia lakukan segera berdiri. Dia mengumpulkan segenap kekuatannya untuk segera pergi dari tempat itu. Min Ho semakin mendekat, senyum yang ada di wajahnya telah berubah menjadi seringai marah.

“Han Ni~a?” panggilnya.

Jantung Han Ni berdetak dengan kencang. Darahnya terasa membeku, tidak mengalir lagi didalam tubuhnya. Seluruh kulit Han Ni berubah pucat. Dia melangkah kakinya perlahan, mengambil ancang-ancang untuk berlari. Langkah kaki Min Ho terdengar sangat dekat, semakin dekat. Han Ni menelan ludah ragu. Kletek. Han Ni menginjak ranting kering.  Dia reflek menahan napasnya dan mulai menangis dalam diam.

“Han Ni~a… kajima. Aku tidak akan menyakitimu. Aku akan menjelaskan semuanya” nada suara Min Ho terdengar membujuk.

Tanpa fikir panjang Han Ni berlari menjauh, memecah keheningan malam hutan pinus itu. Dia terus berlari tidak  tentu arah, yang ada difikirannya adalah segera menjauh dari tempatnya tadi. Dia terus berlari sambil menangis. Tidak peduli semak-semak berduri merobek halus  kulitnya, meninggalkan luka kecil yang mengeluarkan darah. Dia tidak peduli pada telapak kakinya yang  kesakitan menginjak duri, batu tajam, dan benda lainnya. Dia terus berlari ditengah angin dingin yang membekukan darahnya.

“aaaakkk” Han Ni jatuh tersungkur. Dia tersandung akar pohon.

Dia melihat sekeliling, gelap mencekam. Dia tidak tahu, dimanakah dia sekarang. Apakah dia telah dekat dengan pinggir hutan atau semakin tersesat didalamnya? Han Ni berusaha berdiri, kakinya terasa nyeri. Celana panjang piyamanya  telah sobek dimana-mana, begitu juga bajunya. Han Ni kembali berusaha berlari, tetapi kakinya yang awalnya sudah terkilir dan belum sembuh total kini semakin parah. Dia terus merintih kesakitan, menyeret kakinya perlahan.

“Han Ni~a….kajima”Min Ho memeluk Han Ni dari belakang.

Han Ni yang terkejut terdiam, mematung. Sejak kapan Min Ho ada dibelakangnya? Dia sama sekali tidak merasakan kedatangan seseorang. Dia juga sudah memastikan kalau Min Ho tidak mengejarnya tadi. Min Ho mempererat pelukannya di pinggang mungil Han Ni. Dengan manja Min Ho menopangkan dagunya pada pundak Han Ni. Han Ni hanya bergidik merasakan hembusan napas Min Ho di sekitar leher dan telinga sebelah kirinya.

“Jangan lari lagi! kamu hanya menyakiti dirimu sendiri. Lihatlah luka-luka ini. Kamu ingin membuatku khawatir?” Min Ho mengecup pipi Han Ni lembut. “Kenapa kamu keluar ditengah malam begini?” tangan kiri Min Ho membelai rambut Han Ni. “Kajja kita pulang. Aku akan mengantarmu ke kamar”

Han Ni  kembali menangis. Dia ingin meronta dan melepaskan dirinya dari pelukan Min Ho, tetapi dia tidak bisa. Tenaga Han Ni seketika hilang, seolah terserap oleh Min Ho.

uljima… apakah aku membuatmu takut?” Min Ho membalik badan Han Ni agar berhadapan dengannya. “apakah ada yang sakit?”

Han Ni hanya menunduk dan menggelengkan kepalanya. Dia tidak berani menatap Min Ho. Dia teramat sangat takut menatap Min Ho. Pundak Han Ni naik turun, menandakan dia sedang menangis terisak. Pada waktu hampir bersamaan, kenangannya dengan keluarga, teman dan tentunya Tae Min berputar ulang dalam benaknya. Apakah ini pertanda kalau hidupnya akan berakhir disini, sekarang?

“Han Ni~a” Min Ho memegang dagu Han Ni dan memintanya untuk menatap wajahnya. “apakah aku membuatmu takut? Apakah kamu membenciku?”

Sedikit ragu Han Ni menatap mata Min Ho. Mata itu terlihat begitu tulus, tidak ada sinar kekejaman dan keinginan untuk membunuh disana. Han Ni masih menatap mata itu lekat-lekat, mencoba menemukan sedikit kebohongan, tetapi nihil. Penglihatan Han Ni semakin memudar, mungkin karena airmata yang sudah memenuhi matanya. Perlahan Han Ni tidak bisa melihat apapun, semuanya gelap. Dan akhirnya Han Ni tidak merasakan apapun.

Mianhae…” Min Ho membenamkan wajah Han Ni dalam pelukannya. Wajah yang terlihat sangat pucat dan tanpa ekspresi.  Mata Han Ni masih terbuka, tetapi tatapannya kosong seolah tidak ada ruh didalam jasad itu.

“Walaupun kamu membenciku atau mungkin takut” Min Ho mempererat pelukannya pada Han Ni yang sudah tidak sadarkan diri itu. “ aku akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu. Aku akan membuatmu menjadi milikku apapun caranya”

~xXx~

Matahari sudah cukup tinggi, hampir tepat dipuncak tertinggi langit. Cerahnya sinar matahari tidak mampu melumerkan salju di atas permukaan tanah. Han Ni terlihat masih tertidur, tidur dengan nyenyak di bawah selimut tebal yang menghangatkan tubuhnya. Dia tidak bergerak sedikitpun, matanya terpejam sempurna dan napasnya terdengar teratur –sangat nyenyak. Mungkin tidak akan ada yang bisa membangunkannya, dia tertidur pulas bak putri tidur.

“hahhh” mata Han Ni terbuka, dia sudah terbangun.

“apakah tidurmu nyenyak?” suara berat itu mengagetkan Han Ni.

op….pa?” kata Han Ni ragu. “apa yang oppa lakukan disini?”

Min Ho tertawa kecil. “Menunggumu terbangun” Min Ho menghampiri Han Ni.

“emmm…” Han Ni segera memperbaiki posisinya. Dia mulai takut sekarang.

“Han Ni~a… ada apa denganmu? Kenapa kamu terlihat ketakutan?” Tanya Min Ho polos, seolah tidak tahu jawabannya.

oppa, jebal!”

“ada apa denganmu?” Min Ho sudah duduk di tepi tempat tidur Han Ni.

Han Ni beringsut menjauh dari Min Ho ke sisi lain dari tempat tidur. “Mianhae, oppa”

“apa yang kamu katakan? Kamu tidak salah apa-apa” Min Ho terus memperkecil jarak diantara mereka. “apakah kamu demam?” Min Ho menyentuh pipi Han Ni dengan tangan dinginnya.

Oppa”  setetes airmata mengalir dipipi Han Ni.

Uljima… aku  tidak akan melakukan hal buruk padamu”

“tetapi kenapa oppa melakukan itu semua pada mereka? siapa oppa  sebenarnya?”Han Ni memberanikan diri bertanya.

“aku hanya marah” Min Ho tersenyum santai. “aku adalah Choi Min Ho, bukankah kamu sudah tahu itu?”

Han Ni  ingin tidak percaya. “apa yang oppa inginkan dariku?”

“apa kamu ingin sesuatu untuk makan malam natal kita?” Min Ho mengalihkan pembicaraan. “aku akan meminta kepala pelayan Jo menyiapkam makanan, makanan yang sewajarnya untuk kita”

oppa!” panggil Han Ni lirih.

Min Ho hanya membalas dengan senyum hangatnya. Kemudian meninggalkan Han Ni sendiri. Tangis Han Ni meledak setelah Min Ho benar-benar tidak terlihat lagi. Dia memeluk lututnya erat dan membenamkan wajahnya. Menyembunyikan suara tangisnya. Kenapa ini semua terjadi padanya? Kenapa dia harus menerima kontrak menggiurkan dan aneh ini?

~xXx~

“Apakah kamu habis menangis, Han Ni~a?”

Han Ni menggelangkan kepala perlahan. Dia dan Min Ho sudah siap dimeja makan, kali pertama mereka duduk di meja makan dan hendak makan bersama. Han Ni terus tertunduk, menyembunyikan matanya yang sembab. Dia tidak bertugas melayani Min Ho malam ini. Dia adalah pasangan Min Ho, yang akan menemani makan malam.

“Apakah tamu kita belum datang?” tanya Min Ho pada kepala pelayan Jo.

“Sepertinya sebentar lagi Tuan Muda choi”

“sebaiknya dia cepat!” kata Min Ho santai namun cukup membuat bulu kuduk merinding.

Han Ni berfikir keras, siapakah tamu yang akan datang? Min Ho sama sekali tidak pernah membawa orang luar ke rumah ini. Dia seperti menutup diri, tidak ingin identitasnya terbongkar. Han Ni sudah tahu semua sekarang. Kepala pelayan Jo adalah penyihir yang di katakan dalam buku horror yang pernah dibaca Han Ni dan juga mitos konyol yang diceritakan Min Ho.  Dan Min Ho? Sudah jelas siapa  dia,  manusia abadi yang dikutuk penyihir. Awalnya Han Ni tidak ingin percaya, tetapi semua kejadian yang dia temui  memberitahukan dengan jelas.

Seorang pelayan  wanita berlari  kecil dari arah ruang tamu. “Tuan Muda Choi, tamu  Anda sudah datang”

jinjae? Baiklah… aku akan ke sana” Min Ho tertawa kecil. “kajja  Han Ni~a! kamu pasti sangat menyukai tamu kita. Kamu pasti sangat mengharapkan kedatangannya”

Nde?” mata Han Ni membulat. Apa maksud perkataan Min Ho?

Min Ho menghampiri Han Ni yang masih duduk dan terpaku. Dia masih memikirkan, siapakah tamu yang sangat dia inginkan? Lalu apa maksud Min Ho mengundangnya? Apapun alasannya, semoga semua baik-baik saja. Min Ho tidak akan melakukan hal buruk pada tamu ini. Min Ho meraih tangan Han Ni dan memintanya secara halus untuk mengikutnya, menyambut sang tamu. Han Ni tidak bisa menolak, lebih tepatnya tidak berani menolak. Setidaknya hal ini yang bisa  dia lakukan agar dia tetap hidup, melakukan apapun permintaan Min Ho tanpa  perlawanan.

“selamat datang Lee Tae Min~ssi” Min Ho menyapa tamunya dengan sopan.

Han Ni membelalakan mata. “Tae Min~a?”

“Han Ni~a” Tae Min tersenyum.

“Apa….? Kenapa…?” Han Ni menatap Min Ho.

“Silahkan masuk!” Min Ho tidak mempedulikan tatapan penuh tanya dari Han Ni dan menyambut Tae Min, tamu istimewanya.

~xXx~

Min Ho terlihat sangat akrab dengan Tae Min. Mereka terlihat asyik mengobrol, bercerita ini dan itu. Han Ni hanya diam, tatapannya tidak lepas dari Min Ho. Dia terus mengawasi Min Ho, mengawasi tiap gerak geriknya. Han Ni tahu, senyum  dan tawa yang dilayangkan Min Ho  untuknya dan Tae Min adalah kebohongan. Bukankah memang Min Ho selama ini  membohonginya?

Mianhae… Min Ho~ssi” panggil Han Ni. “Boleh saya berbicara sebentar dengan Tae Min~ssi?” pintanya ragu.

Min Ho tersenyum. “Oh, silahkan. Kebetulan aku ada perlu sebentar dan harus meninggalkan kalian berdua. Silahkan…” Min Ho mempersilahkan dengan sopan. “Aku tinggal, eoh?”

Ne, Min Ho~ssi! Gomawo..”

Kini hanya ada Tae Min dan Han Ni diruang santai. Para pelayan yang lain  telah pergi mengikuti Min Ho menuju ruang kerjanya atau entah kemana. Han Ni segera menyeret Tae Min untuk mengikutinya. Setidaknya ke kamarnya, tempat yang mungkin sedikit aman. Tae Min hanya pasrah menuruti keinginan Han Ni. Dia tahu, gadisnya itu pasti sangat merindukannya dan akan sedikit manja.

Mereka sudah di kamar Han Ni. Han Ni segera menutup pintu, bahkan menguncinya. Setelah itu, dia kembali menyeret Tae Min dan memaksanya duduk di tepi tempat tidur. Han Ni terus menatap Tae Min tanpa berkedip. Pemuda didepannya ini sama sekali tidak tahu bahaya yang menantinya. Dia tersenyum pada Han Ni tanpa tahu bagaimana gejolak rasa takut didada Han Ni. Dia tersenyum polos, dia tidak tahu apa-apa.

“Yakk… babo”  bisik Han Ni pada Tae Min dan duduk disampingnya.

nde?

noemu babo… kenapa kamu kesini, hah?” Han Ni memandang Tae Min kesal.

Tae Min yang tidak mengerti hanya melongo. “apa salahku, Go Han Ni? Aku disini sekarang. Apakah kamu tidak merindukanku?” Tae Min merentangkan tanganya. “apakah kamu tidak merindukan pelukanku?” tanyanya nakal.

babo… babonikae?” Han Ni yang kesal menghujani dada Tae Min dengan pukulan tanganya. “Pulang sana! Cepat pergi!” Han Ni terisak. “Cepat pergi jauh dari rumah ini”

“Ada apa denganmu?” Tae Min bingung. Dia sudah menahan tangan Han Ni yang terus memukulinya. “Chagiyae… ada apa? Kamu kenapa?”

“seharusnya aku yang bertanya. Kenapa kamu disini? Bagaimana kamu bisa mengenal dia?” bentak Han Ni frustasi dan mulai menangis.

Tae Min segera memeluk Han Ni untuk menenangkannya. “Uljima…. Aku bertemu dengan Min Ho~ssi di resort. Dia mengenaliku, katanya pernah melihat fotoku di ponselmu. Jadi, disinilah aku sekarang. Bukankah dia majikan yang baik? Dia mengizinkan aku kesini dan menyiapkan makan malam yang enak.”

babo…” Han Ni memeluk Tae Min erat.

mwoya?

Han Ni melepaskan diri dari pelukan Tae Min. “Kamu harus pulang sekarang, palli. Sebelum terlalu malam. Kamu tidak boleh disini, jebal.”

ada apa denganmu? Berhentilah menangis, apakah terjadi sesuatu yang buruk?”

“Aku tidak tahu harus memulai dari mana menjelaskannya padamu. Tetapi aku mohon, pergilah dari sini. Demi aku Tae Min~a, jebal

“Kamu ini aneh sekali. Apa jangan-jangan, kamu dan Min Ho~ssi…?”

Ania, Tae Min~a. ini semua demi kebaikanmu. Cepatlah pulang, buatlah alasan apa saja untuk pamit pulang. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika kamu tidak segera keluar dari rumah  ini”

“Han Ni~a, sadarlah! Apakah Min Ho~ssi melakukan hal buruk padamu? Katakan padaku, aku akan menyelesaikannya malam ini jika ternyata dia berbuat buruk padamu. Aku sudah curiga kalau ada yang aneh dengan pekerjaan ini.”

“Bukan semua itu inti permasalahanya. Aku hanya mohon padamu, pulanglah sekarang juga”

“Han Ni~a, jangan menutupi apapun dariku. Kamu membuat aku bingung” Tae Min mulai kesal.

Han Ni bingung setengah mati untuk menjelaskan semuanya. Dia tidak bisa menjelaskannya. Bukan karena dia tidak mau, tetapi seperti ada yang menghalanginya untuk menjelaskan semuanya. Mulutnya seolah dibatasi oleh sesuatu. Mulutnya tidak bisa mengelurkan kata-kata yang akan menjelaskan semua. Dia ingin sekali menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Bagaikan ada sebuah sihir, mulut Han Ni terkunci rapat.

“Kamu sangat aneh Han Ni~a. Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan? Kenapa kamu menyuruhku untuk pergi dari sini?”

Han Ni terlihat gelisah. “Dia…” Lidahnya kelu. “Rumah ini…” kata-kata Han Ni tertahan. “Kamu harus pergi dari sini. Jebal, dengarkan aku Tae Min~a”

Tae Min terkekeh. “Kamu semakin aneh, Chagi.”

“Aneh… rumah ini dan dia yang aneh, Lee Tae Min”

Tok.Tok.Tok. Seseorang mengetuk pintu. Tae Min masih terkekeh. Dia mengacak-acak rambut Han Ni sebelum pergi membuka pintu. Han Ni hanya bisa cemberut, kesal, geram, dongkol, semuanya bercampur aduk. Kenapa Tae Min tidak mau mengerti? Kenapa juga dengan mulutnya? Kenapa dia tidak bisa menceritakan semuanya? Tae Min sudah membuka pintu kamar Han Ni dan mendapati Min Ho berdiri didepan pintu dengan senyum  ramah yang sangat menawannya.

Mianhae Min Ho~ssi. Kamu tahu? Han Ni terkadang sangat manja” Tae Min tertawa kecil.

“Oh…gwaenchana. Aku mengerti, dia pasti sangat merindukanmu” Min Ho ikut tertawa.

Han Ni segera berdiri disamping Tae Min dan menggandengan lengan Tae Min. Kini  dia menatap Min Ho bukan dengan tatapan takut, tetapi tatapan menantang. Dia tahu senyum itu palsu. Dia sadar Tae Min tidak akan dibiarkan baik-baik saja olehnya. Dia pasti memiliki rencana  buruk untuknya dan Tae Min. Mengapa Tae Min harus ikut campur?  Tidak cukupkah hanya dirinya?

Kajja… kita lanjutkan pesta kecil kita! Aku punya kejutan kecil untuk kalian”

‘kejutan?’fikir Han Ni.

~xXx~

Bukk. “Aaaaak” teriak lirih kesakitan seseorang.

Han Ni terduduk  di lantai rumah yang dingin. Dia menangis sekencang yang dia bisa. Airmata mengalir dengan deras dipipinya. Dia sudah tidak bisa bernapas lagi, dadanya terasa sakit. Dia terus menangis, mengutuk kebodohannya. Dia memohon, memelas, tetapi tidak ada yang peduli –menggubrisnya.

“Aku mohon hentikan!” teriaknya sekuat tenaga.

Min Ho hanya tertawa, tawa  yang kejam dan dingin. Dia senang bermain-main. Mempermainkan gadis didepannya ini. Seharusnya gadis didepannya ini tertawa, bukankah mereka sedang bermain? Tetapi anehnya dia menangis, terus menangis hingga airmatanya mungkin akan kering. Perlahan dia menghampiri Han Ni yang terduduk lemas disudut ruang tamu. Han Ni terlihat berantakan dengan wajah yang basah oleh keringat dingin dan airmata.

uljima… aku benci melihatmu menangis.  Suara tangismu menyayat hatiku”

‘Cih, hati?’ hal itu yang ingin Han Ni katakan disela tangisnya. Sayangnya dia tidak memiliki keberanian sebesar itu.

Min Ho sudah ada dihadapan Han Ni. Tangan kanan Min Ho membelai rambut Han Ni lembut. Menyingkirkan perlahan  beberapa helai rambut yang mungkin menghalangi wajah manis Han Ni. Han Ni terus tertunduk, menyembunyikan wajahnya dan terus terisak. Tangan kekar dengan kemeja hitam itu berpindah ke pipi Han Ni, membelainya dengan lembut. Jari-jari panjangnya mengusap perlahan airmata Han Ni.

“Apakah kamu sangat mencintainya?” katanya setengah berbisik.

Han Ni semakin tersedu-sedu. Dia memberanikan diri menatap Min Ho. “Apa maumu? Jangan sakiti dia!” bentaknya

Min Ho mulai mengerakkan tangan kirinya yang sedari tadi bersembunyi dibalik punggungnya. Dia menggenggam sesuatu di tangan kirinya. Sesuatu yang akan membuat Han Ni berteriak.

“Uuuupss… rupanya kamu sangat mencintainya, Han Ni~a. Dan aku pastikan dia juga sangat mencintaimu. Lihatlah!”

Benda yang tergenggam ditangan kiri Min Ho tepat berada didepan mata Han Ni. Sebuah benda berwarna merah –tidak benar-benar merah, tidak lebih besar dari kepalan tangan manusia. Min Ho mengenggam benda itu dengan bangga. Dia tidak jijik dengan cairan kental yang belepotan di tangannya dan mengotori lengan kemejanya. Benda itu bergerak seperti memompa, seperti  kerja pompa, mengembang dan mengempis. Ada sekitar 4 utas saluran menyerupai tali yang sangat panjang menghubungkan benda itu dengan sesuatu.

Tidak menunggu lama, Han Ni lupa cara bernapas. Organ yang menempati dada kirinya serasa ingin meloncat keluar dari tubuhnya. Han Ni menelusuri 4 utas saluran itu. Dia menggelengkan kepalanya keras. Merontokkan segala anggapan yang langsung terbersit diotaknya. Han Ni  membekap mulutnya,pangkal dari saluran itu merujuk pada  pemilik benda yang sedang digenggam  Min Ho.

“Lihatlah baik-baik! Seperti dia juga sangat mencintaimu. Jantungnya berdetak dengan kencang didekatmu. Jadi, kamu tidak perlu meragukan cintanya lagi” Min Ho tersenyum dingin sedangkan matanya menatap Han Ni dengan eyes smilenya.

“Aaaaaaaaa!” teriaknya sambil menangis dan mengutuk Min Ho dalam hati. “Tae Min~a, andwae! Lee Tae Min!”

~xXx~

December 25th, 2012

Tae Min menggoyangkan perlahan  tubuh Han Ni. Sedari tadi Han Ni  terus menangis dalam tidurnya. Dia terus memanggil, berteriak menyebut namanya. “Han Ni~a, irona. Ironaseyo!”

Setengah terkejut Han Ni membuka matanya. “Tae Min?” dia segera memeluk Tae Min dan menangis. “Hiks… Tae Min~a”

Gwaenchanayoe? Apakah kamu mimpi buruk,  chagi?” tangannya mengelus punggung Han Ni dengan lembut, berharap Han Ni dapat tenang kembali.

Han Ni menggeleng kecil, masih dalam pelukan Tae Min. Tae  Min hanya tersenyum. Han Ni tidak pernah seperti ini sebelumnya. Dia gadis yang kuat. Bahkan Tae Min tidak pernah melihatnya menangis.

“Hiks…” Han Ni memeluk Tae Min semakin erat.

“Yakk… Go Han Ni. Aku tidak bisa bernapas”

Han Ni segera melepas pelukannya. “Kita harus pergi dari sini sekarang!” kata Han Ni serius.

“Ini baru jam 2 pagi. Tidak bisakah menunggu matahari terbit?” Tae Min tampak bingung. “Oh…aku lupa. Marry Chrismas”

Han Ni tidak mempedulikan  ucapan selamat natal dari Tae Min. Dia turun dari tempat tidur dan segera membuka lemari, mengambil baju miliknya. Kemudian dia mengambil koper  biru gelapnya dan memasukkan bajunya tidak teratur ke dalam sana. Tae Min hanya menatap bingung. Kenapa Han Ni terlihat panik dan terburu-buru?

“Han Ni~a, ada apa? apa kamu masih mabuk?”

“Mabuk?” Han Ni mengeryitkan dahinya sambil terus membereskan barang- barangnya.

Ne. Semalam kamu meneguk segelas penuh anggur yang diberikan Min Ho~ssi padaku dan jatuh pingsan.” Dia terkekeh. “dan sekarang kamu mau pergi dari sini? Bukankah kontrak kerjamu belum habis?”

“Aku tidak peduli dengan kontrak kerja itu. kita harus keluar dari rumah ini sebelum mereka  bangun. Arassoe?!!” nada suara Han Ni memerintah.

Tae Min menghampiri Han Ni yang terlihat tidak bisa menutup kopernya. “Tenanglah, Han Ni~a. ceritakan semuanya perlahan. Kamu membuat aku bingung”

“Kita harus pergi dari rumah ini” Han Ni menangis. “dia, rumah ini dan semua yang ada dirumah ini adalah kebohongan. Aku tidak mau kehilangan dirimu. Kita harus pergi” Han Ni memohon.

Arrayoe… uljima. Baiklah kita akan pergi dari sini sesuai keinginanmu. Sepertinya kamu mulai bosan bekerja disini dan ingin sedikit bertindak nakal? Baiklah, yoejaku ingin bertindak curang rupanya. Kajja,kita akan mengendap-endap dan kabur” Tae Min memainkan alisnya, menggoda Han Ni.

~xXx~

Han Ni sudah selesai membereskan barang-barangnya. Sekarang dia dan Tae Min sedang mengendap- endap untuk keluar rumah secara diam-diam. Kebetulan Tae Min meminjam mobil hotel tempat dia menginap. Waktu baru menunjukkan pukul 2:46 pagi. Suasana rumah sangat sepi, seperti seluruh penghuni rumah masih tertidur pulas. Han Ni tidak yakin akan itu, tetapi setidaknya meyakini mereka masih tertidur cukup untuk memberanikan dirinya.

Tangan kedua sepasang kekasih ini  tergenggam erat. Mereka mirip sepasang pencuri yang berusaha kabur dengan barang curiannya. Tae Min menawarkan diri untuk membawa koper Han Ni yang tidak berat itu. Kedua tangan Han Ni bertengger di lengan Tae Min, dia tidak ingin terpisah dari pemuda ini.

“Han Ni~a… pintunya tidak terkunci” bisik Tae Min.

Han Ni menghembuskan napas lega. “palli..!

Arrasoe

Kini mereka berdua sudah bersiap di dalam  mobil putih yang dibawa Tae Min –mobil hotel. Tae Min tersenyum menatap gadis disampingnya ini yang seperti terlihat lebih tenang dari sebelum. Dia tidak menyangka Han Ni akan melanggar kontraknya ini begitu saja. Dia bukan tipe orang yang seperti ini. Apapun alasannya dia tidak peduli. Berbuat ‘kejahatan’ sedikit, bukan masalah besar kan?

“Apa yang kamu lamunkan? Kita harus segera pergi, nanti mereka terbangun”

“siap tuan putri nakal” Tae Min terkekeh.

Terdengar deru mobil yang baru saja dinyalakan Tae Min. Tanpa fikir panjang, Tae Min menginjak pedal gas dan melaju kencang meninggalkan rumah putih super megah, kediaman Choi  Min Ho. Han Ni menyandarkar dirinya dengan santai setelah mereka jauh dari rumah itu. Menyusuri jalan raya yang masih sangat sepi. Angin malam masih berhembus. Angin itu bagaikan kebebasan bagi Han Ni.

Semudah inikah dia keluar dari rumah itu? Tidak ada yang mencegahnya, menghalangi jalannya untuk keluar dari rumah itu. Semuanya berjalan sesuai keinginannya. Bukankah yang dia hadapi adalah makhluk yang seharusnya hanya ada didongeng? Seharusnya mereka akan menyadari tindakannya ini –kabur. Mereka adalah penyihir, manusia abadi atau entah apa nama aneh mereka. Apakah mereka hanya menipunya? Mereka sebenarnya hanyalah psicopat, orang aneh?

“hahahahaha” Han Ni tertawa, tertawa terbahak.

Tae Min menoleh kepada Han Ni yang bertindak aneh. “ada apa? kelihatannya kamu sangat senang, chagi. Apakah melanggar kontrak seperti ini sangat menyenangkan?”

Han Ni mengangguk keras. “Dasar penipu bodoh”

~xXx~

“Tuan Muda Choi…mereka sudah pergi” lapor kepala pelayan Jo.

Wajah Min Ho mengeras. “Baguslah… aku akan membiarkannya bersenang-senang sebentar”

“Apakah Anda yakin dengan keputusan Anda? Kami bisa mengejarnya sekarang jika Tuan Muda Choi berubah fikiran”

Ania… biarkan saja dia kembali ke kehidupanya seperti biasa. Karena dia tidak akan bisa menikmatinya lagi nanti”

Kepala pelayan Jo menundukan kepala. “Tetapi Tuan Muda…”

“Apa lagi kepala pelajan Jo?” Min Ho mulai kesal. “Jangan mencoba mempengaruhi keputusanku. Sebaiknya kamu urus anakmu itu. Beraninya dia membimbing Han Ni malam itu”

“Oh… Tuan Muda Choi” wajah kepala pelayan Jo berubah tegang.

“sekali lagi aku akan memaafkannya, karena aku sedang senang sekarang” Min Ho tersenyum sinis. Matanya mengarah pada halaman rumahnya yang masih diselimuti gelap. “sisa berapa hari lagi?”

“kontraknya akan berakhir tanggal 13 januari 2013, sekitar 19 hari lagi”

Min Ho tertawa. “Dia baru 2 minggu berada disini. Kenapa aku bisa secepat itu menyukainya? Dia memang menarik”

Kepala pelayan Jo hanya menganguk kecil.

“apakah ramuanmu akan selesai tepat waktu?”

“saya rasa bisa Tuan Muda Choi”

“kamu harus membuatnya dengan benar. Bukankah keberhasilanmu dalam membuat ramuan itu akan menjadi kunci untuk melepaskan diri dariku?”

Kepala pelayan Jo menghembuskan napas lega. “Ne,  Tuan Muda Choi. Saya akan menyiapkan ramuan cordage-nya. Setelah Agassi meminum ramuan ini, Agassi akan menjadi seperti Anda dan sepenuhnya milik Tuan Muda Choi”

“Kamu akan menjadi milikku selamaya, Go Han Ni. Mungkin lebih tepatnya Choi Han Ni”

~xXx~

January 12th, 2013

Udara cukup menghangat pagi ini. Seorang gadis terlihat sedang menyiram bunga di taman bunga mini miliknya. Bunga-bunga di taman baru miliknya ini lebih banyak daripada miliknya sebelumnya. Bagaimana tidak, dia memiliki tempat yang lebih luas untuk membuat sebuah taman bunga. Sudah hampir  1 minggu dia memiliki taman ini, disebuah rumah kontrakan mungilnya. Sekarang dia tidak tinggal lagi dirumah atap yang hampir tidak layak huni itu. Dia sudah pindah, demi keselamatan dirinya.

Semua orang pasti bertanya, dari mana dia dapat uang untuk mengontrak di rumah mungil ini. Tentu saja dari gaji yang dia dapatkan selama bekerja ditempat aneh itu. Dia tidak mengambil semuanya, dia hanya mengambil bagiannya. Dan yang bukan haknya, telah dikembalikan kepada sang pemilik dengan beribu kata maaf.

Chagi, Han Ni~a!” panggil Tae Min dari gerbang rumah.

“emmm…” Han Ni masih berkonsentari menyiram bunga-bunga indahnya.

“cuma itu caramu menyambutku? Aku ini namjachingumu, bisakah kamu memanggilku dengan baik? Misalnya oppa?”

“Yakk… Lee Tae Min, bagaimana bisa aku memanggilmu oppa? Bukankah seharusnya kamu memanggilku noona?” goda Han Ni.

Tae Min mengerucutkan bibirnya. “Yakk… Lee Han Ni”

“Lee?” Han Ni membelalakan matanya.

Ne, Lee Han Ni. Jangan merasa bangga hanya karena kamu lebih tua 4 bulan dariku, tidak lebih. Aku ini tetap namjachingumu dan akan menjadi appa  dari anak-anakmu nanti”

“Memangnya siapa yang mau menikah dengan anak kecil sepertimu? Shiroe!”

Tae Min terlihat kesal. “Diam ditempat!” perintahnya

“Apa yang akan kamu lakukan?”

“Menculikmu” Tae  Min merebut selang air yang dipegang Han Ni dan menarik Han Ni untuk mengikutinya.

“Kita mau kemana?”

“Menemui kedua orang tuamu. Akan akan melamarmu”

“eeeeek?” Han Ni membentuk ekspresi wajah yang lucu.

~xXx~

Han Ni masih memandang pemuda disampingnya ini. Dia terlihat serius mengemudikan mobilnya. Dan dia serius dengan ucapannya tadi. Han Ni mengenal tiap jalan yang mereka lewati. Ini adalah satu-satunya rute menuju rumah  kedua orang taunya.

“Tae Min~a… kamu serius?”

“emmm… aku serius” Tae Min tersenyum lembut.

Han Ni menunduk lesu. “sepertinya aku tidak bisa menolak”

“Tentu saja”

Lama mereka terdiam. Suasana jadi canggung. Sesekali han Ni hanya memainkan ujung syal yang dia kenakan dan Tae Min masih serius menyetir. Mungkin sekarang Tae Min sedang berusaha mengumpulkan segenap keberaniannya untuk berbicara kepada orang tua Han Ni.  Sedangkan Han Ni, sedang tertawa didalam hati. Tae Min serius akan melamarnya.

“Apa kamu lapar?” Tae Min memecah kecanggungan.

Han Ni mengangguk kecil. “Aku belum sarapan, dan kamu menculikku. Penculik macam apa yang tidak memberi makan?”

“ada sekotak coklat di kursi belakang. Tadi eomma menitipkannya untukmu, hampir aku lupa”

Han Ni mengambil coklat di  kursi belakang. “kenapa eommonim merepotkan diri untuk membelikanku coklat?”

eomma mendapat kiriman coklat itu dari temannya. Lagian tidak ada yang suka coklat dirumah, jadi itu milikmu”

gomawo” Han Ni segera melahap makanan kesukaannya itu. “enak sekali, kamu mau?”

Tae Min geleng-geleng kepala. “tidak akan, buatmu saja”

“dasar, ini enak sekali tahu”

Han Ni terus memakan coklatnya dengan lahap. Dia  memang mirip orang yang kesurupan jika sudah bertemu benda yang bisa dimakan, manis dan lumer dengan sempurna dimulut ini. Han Ni hampir memakan setengah dari kotak coklat ukuran medium itu.

“uhuk…uhuk…uhuk” Han Ni terbatuk.

Tae Min melirik Han Ni sebentar, dan kembali memandang lurus  ke jalan raya. “gwaenchana?

“uhuk…uhuk…uhuk… Tae Min~a, tenggorokanku” kata Han Ni tertahan.

“Kamu kenapa? Jangan membuat aku panik” Tae Min ingin menepi, tetapi tidak mungkin. Mereka sedang ada di jalan tol.

Kotak coklat yang dipangku Han Ni terjatuh, coklat- coklat itu berserakan di bawah kaki Han Ni. Han Ni menggeliat kesakitan, memegangi lehernya. Tae Min sontak panik. Han Ni tidak alergi pada coklat. Lalu kenapa dia merintih kesakitan setelah memakan coklat itu?

“hoekkk” Han Ni muntah.

“Han Ni~a!” Tae Min mencoba memijit tengkuk Han Ni dengan tangan kanannya. “Kamu kenapa? Tunggu sebentar, beberapa menit lagi ada rest area.”

Han Ni terus menunduk. Dia terbatuk-batuk dan memuntahkan isi perutnya. Tae Min semakin panik melihat Han Ni seperti ini. Han Ni kembali meronta-ronta. Sekarang dia memegangi dadanya. Dia merasakan sakit yang luar biasa, seperti sebuah batu menghujam dadanya.

“Han Ni~a… kamu kenapa?” Tae Min panik setengah mati.

“Tae Min~a” katanya lirih. “noemu appeun” Han Ni menangis menahan sakit. “uhuk…uhuk”

Tae Min membelalakan mata. Darah segar nan merah keluar dari mulut Han Ni. Han Ni baru saja memuntahkan darah. Beberapa menit kemudian Han Ni tidak bergerak. Tae Min terus memanggil namanya dan menggoyangkan tubuh Han Ni. Tetapi gadis itu tetap tidak bergerak. Tae Min tidak peduli ada di jalan tol atau tidak. Dia segera menginjak rem mobilnya, menghentikan mobilnya.

“Han Ni~a” teriak Tae Min. Dia memeriksa denyut nadi Han Ni. Nihil. “andwae, Go Han Ni”

Dinnn…Dinnn…Dinnnn…

Duarrrrrrrr……

~xXx~

2 keluarga yang berbeda marga terlihat mondar-mandir di depan pintu sebuah ruangan di rumah sakit Seoul. Kedua orang ibu dari kedua keluarga tersebut terlihat terus menangis.  Mereka menangisi seseorang yang ada didalam ruangan itu.

Klek. Seorang perawat membuka pintu lebar-lebar.  Kemudian perawat lainnya terlihat mendorong 2 buah tempat tidur yang terbuat dari besi. Di masing-masing tempat tidur terbaring seseorang yang diselimuti kain berwarna putih. Kedua ibu itu semakin menangis histeris melihat perawat itu membawa kedua tempat tidur itu menuju sebuah ruangan.

“Han Ni~a… kenapa kamu meninggalkan eomma? Kenapa kamu pergi dengan sangat cepat. Seharusnya eomma  yang berada di posisimu sekarang” ibu Han Ni terus menangis.

eomma” adik Han Ni ikut menangis.

“istriku…yoboe!” teriak tuan Lee, ayah Tae Min. Ibu Tae Min jatuh pingsan setelah melihat jasad anaknya di bawa  oleh perawat itu.

~xXx~

January 13rd, 2013

Kamar ini memang selalu gelap, pengap dan menyeramkan. Seseorang terlihat tidak sabar menunggu. Dia tidak pernah bergeming dari kursi santainya di dekat jendela kamar. Ini pertama kalinya gorden jendela kamarnya terbuka lagi setelah dia pergi. ‘Dia’ adalah gadis unik yang mampu meluluhkanya. Gadis yang dia pilih sendiri untuk mendampinginya. Gadis yang akan menjadi pasangan hidupnya, selamanya. Hari ini adalah hari yang telah lama dia nanti. Hari dimana  sang gadis akan datang dan menghampirinya. Kemudian menyerahkan dirinya seutuhnya kepada dirinya.

“Tuan  muda Choi”

“emmm…. Apakah semua berjalan lancar?”

Kepala pelayan Jo mengangguk kecil, namun sekarang tidak terlalu kaku seperti sebelumnya. “Ne, Tuan Muda. Saya sudah mengganti jasad Agassi dengan orang lain. Dan….”

Min Ho mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat untuk berhenti. “aku tidak butuh laporan bertelemu. Yang aku tanyakan lebih spesifik”

Agassi ada di kamarnya. Dia sedang bersiap-siap dengan pelayan yang lain”

“Baiklah… aku akan menemuinya” Min Ho tersenyum

Min Ho berjalan dengan gagah menuju sebuah kamar yang hanya berjarak 2 kamar dari kamar tidurnya. Seseorang yang selama ini dia tunggu telah berada dirumah ini. Dia sedang bersiap-siap untuk tampil sempurna demi dirinya. Min Ho memperbaiki jasnya sebelum membuka pintu kamar orang istimewanya.

“Kalian boleh keluar!” perintah Min Ho pada pelayan-pelayan yang ada dikamar itu. “Bagaimana kabar Anda nyonya muda Choi?” tanyanya dengan senyum menawan. Dia terlihat sangat tampan.

“Nyonya muda Choi?”

“emmm… Choi Han Ni. Apakah kamu lupa?”

Han Ni mencoba mengingat. “Mianhae, oppa. Aku memang sedikit pikun?” dia terkekeh.

Gadis di depannya ini tertawa dengan manis. Kulit putih pucat dengan bibir semerah darah, dia terlihat sempurna. Rambut sebahunya yang hitam mengkilat dan bola mata yang hitam, sesuatu keindahan yang tidak ada tandingannya. Min Ho menghampiri gadisnya itu, kemudian memeluknya erat.

oppa?” tanyanya polos. “apakah aku membuat oppa khawatir?”

ania…. Aku hanya ingin memelukmu. Aku selalu ingin melakukan ini, istriku”

Han Ni terkekeh. “oppa… kamu aneh”

saranghae… sekarang kamu akan menjadi milikku selamanya. Bahkan kematian tidak akan memisahkan kita”

Han Ni hanya mengangguk kecil. Pemuda tampan yang sedang memeluknya ini adalah suaminya. Dia tidak ingat jelas, kapan mereka menjalin hubungan ini. Tetapi yang terpenting adalah dia sangat mencintai pemuda ini. Pemuda yang akan selalu bersamanya, selamanya. Mereka akan abadi selamaya.

~END~