Tags

,


33 Days Contract

Title                       : 33 Days Contract [1, 2]

Author                  : Choi Chan Yoen/ Yunn Wahyunee

Main Casts          : Minho a.k.a Choi Min Ho, Go Han Ni (OC)

Support Casts    : Taemin a.k.a Lee Tae Min and others

Genre                   : Horror (mystery), Fantasy, Romance

Length                  : Two Shoot

Rating                   : PG-15

Summary             :

“Semua yang ada di depan matamu hanyalah ilusi. Aku mempermainkanmu karena aku menginginkanmu. Kamu tidak akan bisa pergi dariku, kamu akan selalu kembali padaku. Kamu akan menjadi milikku, selamanya”

Warning              :

typo di setiap pojokan (?). Gejala kebingungan yang akan  dialami reader karena narasi author yang ruwet. Penulisan yang –mungkin- tidak sesuai EYD. Bagi yang tidak menyukai  hal-hal berbau menjijikkan, jangan dilanjutkan bacanya. Tetapi  harus tetap baca! Eyyyy?

~xXx~

December 11th, 2012

Langit terlihat begitu muram siang ini. Hamparan salju di luar sana tidak lagi berkilauan seperti biasanya. Bahkan suasana jalanan yang selalu ramai oleh hiruk pikuk orang dan kendaraan yang berlalu-lalang berubah sepi sunyi. Udara yang sangat dingin memaksa untuk menembus kulit.  Rasa dingin itu menembus tulang, sangat dalam.

“Haaah…,” helaan napas kasar memecah kesunyian.

Seorang pemuda berkulit putih dengan rambut coklat gelapnya menyAndarkan punggungnya di sebuah dinding yang tidak terlihat kokoh. Sesekali dia  menoleh ke arah pintu di sebelah kanannya, menunggu seseorang keluar dari sana.  Dia  tidak memperdulikan angin dingin meniup kencang rambut dan syal hijau toskanya. Otaknya sedang sibuk memikirkan sesuatu, bukan hal sepele seperti rasa dingin.

35 menit sudah dia berdiri di sana, menghela napas berkali-kali. Dia mulai terlihat kesal, bukan karena orang yang dia tunggu tidak kunjung keluar, tetapi hal lain. Masalah yang selama ini menjadi perdebatan antara dia dan orang yang sedang berada di dalam rumah atap ini.

Rumah atap itu terlihat sederhana, bahkan terlalu amat sederhana. Mungkin untuk sebagian orang, rumah atap ini tidak layak huni. Dindingnya sedikit retak dimana-mana, jendela satu-satunya dari rumah atap itu hanya terbungkus koran yang disatukan selotip coklat ukuran besar. Beberapa tanaman bunga terlihat disekitar 1 meter di sebelah kanan pintu masuk, membentuk taman bunga kecil. Taman bunga itu terlihat terlalu rapi dan indah untuk ukuran rumah atap kumuh ini. Sama sekali tidak cocok.

Klek. Seseorang membuka pintu. Pemuda yang menunggu sejak tadi sigap menegakkan tubuhnya. Dia membantu membuka pintu itu lebar-lebar, dan menahannya agar tidak tertutup kembali. Koper besar berwarna biru gelap keluar lebih dahulu dari dalam rumah atap itu. Kemudian disusul gadis mungil, pemilik rumah atap ini.

“Tae Min-ah… apa kamu sudah lama menunggu? Kenapa tidak langsung masuk tadi?” Gadis itu menatap  Tae Min dengan mata bulatnya.

“Aku hanya tidak bisa membantumu membereskan barang-barangmu. Jadi daripada aku menganggu, aku tunggu saja di sini,” jawabnya santai dan acuh.

Go Han Ni –gadis pemilik rumah atap- hanya mengerutkan dahinya mendengar alasan aneh Tae Min. “Bukankah di luar dingin? Aku tidak berharap dan memaksa kamu harus membantuku, setidaknya masuk ke dalam, di luar dingin,” Han Ni menatap khawatir. “Lihat, bibirmu membiru.”

“Han Ni-ah…,” Tae Min membenamkan wajahnya ke dalam syal. “Apakah kamu yakin akan pergi?”

Ne.

“Tidak bisakah kamu membatalkannya? Aku sudah menemukan pekerjaan untukmu. Teman Abojhi akan memberikanmu pekerjaan. Dia berjanji untuk tidak akan menceritakannya pada Abojhi.

Jagiya… mianhae, aku tidak bisa. Aku sudah menAndatangani kontrak,” Han Ni memeluk Tae Min erat. “Aku hanya akan pergi selama 33 hari, setelah itu akan akan kembali.”

Tae Min membalas pelukan hangat Han Ni. “Tetapi tidak ada libur natal dan tahun baru. Pekerjaan  macam apa itu? Bagaimana dengan rencana natal bersama kita?”

Mianhae…,” Han Ni melepas pelukannya. “Kamu tahu ini kesempatan emas untukku. Aku hanya cukup bekerja selama 33 hari dan mendapat bayaran yang cukup untuk membayar kuliahku semester depan, bahkan aku bisa membelikan Dongsaeng-ku  kado natal yang saat dia inginkan.”

“Aku bisa membayarkan kuliahmu dan membelikan Dongsaeng-mu hadiah natal.”

Ania Tae Min-ah… aku tidak mau kamu berbohong dan meminta kepada  Abohi-mu demi aku. Kamu tahu kan bagaimana jadinya seperti waktu itu?”

Mianhae… aku memang salah waktu itu. Tetapi aku punya tabungan sekarang, aku bisa memakai tabunganku.”

“Jangan Tae Min-ah… aku janji ini yang terakhir, tahun berikutnya kita akan merayakan natal bersama, eoh?”

“Aku memang tidak bisa mengubah keinginanmu, dasar keras kepala,” Tae Min menyentil halus dahi Han Ni.

~xXx~

Han Ni menyeret kopernya perlahan keluar dari bAndara Pulau Jeju. Dia tertunduk sedih, wajah murung Tae Min masih terbayang di benaknya. Tae Min adalah pacarnya sejak 1,5 tahun yang lalu. Hubungan mereka sangat tidak di sukai oleh ayah Tae Min. Dia sangat tidak menyukai Han Ni yang bisa dikatakan berasal dari keluarga yang sangat tidak beruntung. Sedangkan Tae Min adalah anak laki-laki satu-satunya yang akan meneruskan perusahaan ayahnya.

Ayah Tae Min memang keras, tidak seperti ibu Tae Min yang sangat menyukai Han Ni. Han Ni adalah gadis yang mandiri, sopan dan pintar. Ibu Tae Min sangat menyukainya karena sejak Tae Min mengenal Han Ni, Tae Min menjadi pribadi yang berbeda. Pribadi yang tidak membantah, Han Ni mampu mengubah Tae Min menjadi pemuda yang dewasa.

Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Han Ni masih sabar menunggu jemputannya. Mulai besok dia akan menjalani pekerjaannya sesuai kontrak.  Beberapa minggu yang lalu Han Ni mendapat info lowongan pekerjaan yang cukup menggiurkan. Persyaratan untuk mendapat pekerjaan ini tidaklah sulit. Dia hanya perlu mengorbankan hari natal dan tahun barunya. Selain itu, gaji yang ditawarkan cukup besar. Dia bisa membayar kuliahnya semester depan, memperpanjang kontrak rumah atapnya dan membelikan adik kesayangannya kado natal dan tahun baru. Dan beruntungnya dia mendapatkan pekerjaan itu.

Agassi… apakah Anda Go Han Ni?” Tanya seorang pria paruh baya.

Ne.

“Mari silahkan, Agassi! Tuan Muda mengutus saya untuk menjemput Anda,” pria itu membukakan pintu sebuah mobil mewah berwarna hitam.

Han Ni hanya tercengang mendapati dirinya duduk di dalam sebuah mobil super mewah. Pekerjaan yang akan dia dapatkan ini hanyalah sebatas pelayan rumah tanggga. Walaupun dalam kontrak menyebutkan bahwa pekerjaannya adalah sebagai asisten rumah tangga. Dan menurutnya tidak ada bedanya dengan pelayan rumah tangga.

Pemandangan di sepanjang perjalanan menuju rumah sang majikan baru Han Ni sangatlah indah. Perlahan Han Ni menurunkan kaca mobil dan membiarkan angin laut yang dingin menerobos masuk. Sesekali dia melirik pria yang sedang menyetir didepannya, hanya untuk memastikan apakah dia merasa terusik dengan jendela yang terbuka.

~xXx~

Agassi… kita sudah sampai,” pria itu membangunkan Han Ni yang tertidur di kursi belakang.

Han Ni menggeliat kecil. “Oh… Mianhae, Ajushi.

“Tidak apa-apa Agassi, Anda pasti sangat lelah.”

“Emm… gomawo,” perlahan Han Ni keluar dari mobil.

Han Ni kembali tercengang menemui rumah yang sangat besar dan super mewah serta megah. Rumah itu mirip sebuah istana, istana yang sangat besar. Rumah bak istana itu di dominasi warna putih. Di samping rumah terdapat taman bunga dengan atap kaca yang jika dibandingkan dengan miliknya di Seoul, sangat amat jauh berbeda. Pohon-pohon pinus tinggi menjulang di halaman belakang rumah. Hamparan salju yang berkilauan sama sekali tidak mengurangi sensasi sejuk dari tanaman-tanaman hijau di sekeliling rumah.

Han Ni belum puas merasa tercengang. Mulutnya masih terbuka lebar melihat rumah ini dan sekelilingnya. Dia sangat beruntung bisa mendapatkan pekerjaan ini. Rasa kagum Han Ni yang berlebihan terintrupsi oleh suara pintu rumah yang terbuka. Pria separuh baya itu membawa koper Han Ni masuk. Han Ni yang sudah kembali normal mengejar pria itu, dia hendak membawa kopernya sendiri.

“Go Han Ni Agassi, selamat datang di kediaman Tuan Muda Choi.”

Han Ni sedikit terkejut oleh seorang wanita. “Oh,” Han Ni hanya memberi hormat kecil.

“Biarkan Pak Kim yang mengurus barang-barang Anda,” tambahnya. “Mari ikuti saya. Saya akan menunjukkan kamar Anda.”

“Baiklah… emm?”

“Panggil saya, Kepala Pelayan Jo. Saya adalah penanggung jawab di sini, dan saya yang menghubungi Anda waktu itu.”

Han Ni menunduk kaku. “NeJoeneun…”

Wanita itu segera memotong. “Siapkan perkenalan diri Anda untuk nanti. Sekarang saya akan menunjukkan kamar Anda dan setelah itu kita akan menemui Tuan Muda Choi.”

Han Ni hanya mengangguk mengiyakan. Wanita di depannya ini terlihat sangat cantik. Hasil pengamatannya mengatakan bahwa dia hanya lebih tua beberapa tahun darinya. Tetapi dari cara berbicara dan bertingkah lakunya sangatlah luar biasa. Dia sangat anggun, berkharisma, menawan, dan sangat dewasa. Diumurnya yang masih muda, dia sudah bisa menjadi kepala pelayan untuk orang sekaya Tuan Muda Choi ini.

“Ini kamar Anda.”

Mereka berhenti disebuah pintu ukiran yang sangat megah dan unik. Kepala Pelayan Jo membukakan pintu itu dengan susah payah, mungkin karena terlalu berat. Han Ni makin tercengang melihat isi dari kamar itu.  Sebuah tempat tidur double berwarna krem dan berpilar ukir yang sangat mewah bertengger di tengan ruangan yang sangat besar itu. Sebuah lemari yang sangat besar memenuhi satu sisi dinding kamar itu. Jendela super besar juga memenuhi sisi seberang dari lemari  itu. Nuansa krem yang klasik dan anggun memenuhi kamar itu. Han Ni mencari-cari kopernya, tidak ada diruangan itu. Dia berfikir mungkin kamar ini bukan kamarnya, dia hanya salah dengar tadi.

“Silahkan Agassi bersiap-siap. 1 jam lagi  Tuan Muda Choi ingin menemui Anda.”

“Ini kamarku?” Han Ni masih tidak percaya.

Wanita itu hanya menyungingkan senyum sepersekian detik. “Ne Agassi. Ini akan menjadi kamar Anda sampai 33 hari ke depan.”

“Bukankan aku  hanya pelayan rumah tangga?” Han Ni terdiam sejenak, dia berbicara dalam bahasa informal. “Mianhamnida, maksud saya bukankah saya hanya pelayan rumah tangga? Kenapa saya menempati kamar ini dan bukan kamar pelayan?”

Agassi,  Anda bukan pelayan rumah tangga tetapi asisten rumah tangga. Jabatan Anda di rumah ini berada di atas saya, Anda adalah tangan kanan langsung Tuan Muda Choi di rumah ini.”

Mwo?”

“Sebaiknya Anda segera bersiap Agassi. Barang-barang Anda sudah siap di dalam lemari. Sebelum Anda menemui  Tuan Muda Choi, saya akan menjelaskan tugas-tugas Anda yang belum terlampir jelas dalam kontrak.”

Han Ni hanya mengangguk kecil. “Ne.

“Saya permisi dulu,” wanita itu memberi hormat dan keluar dengan menutup pintu.

~xXx~

Han Ni sudah siap di dalam kamarnya. Dia masih memikirkan pekerjaan aneh yang akan dia lakukan ini. Sebenarnya memang sejak awal pekerjaan ini aneh. Dia hanya menjadi asisten rumah tangga dan menerima gaji yang sangat besar. Dia tidak terlalu pusing memikirkannya, yang ada dibenaknya hanya gaji yang bisa dia dapatkan. Han Ni mengenakan pakaian yang sudah di sediakan di dalam lemari. Awalnya dia ingin mengenakan pakaian yang dia bawa sendiri,  tetapi setelah mengingat penampilan wanita tadi, dia  berubah fikiran.

Dia kembali berdiri di depan cermin yang tentu saja mewah untuk memperbaiki jepitan rambutnya.  Rambut pendek sebahunya hanya bisa di berikan jepitan rambut simple untuk membuatnya terlihat rapi. Sesekali dia memutar tubuhnya, memperhatikan penampilan barunya.  Rok span diatas lutut berwarna hitam dengan atasan kemeja putih serta jas berwarna hitam melekat dengan pas di  badannya. Dia juga heran, kenapa pakaian ini bisa pas ditubuhnya.

Agassi, apakan Anda sudah siap?” panggil seseorang di balik  pintu.

Ne.

~xXx~

Sebuah kertas kontrak baru tergeletak di atas meja. Han Ni baru saja selesai membacanya. Dia terlihat berfikir keras, tetapi berusaha  untuk tidak terlihat.  Segala rincian tugas yang tercantum di dalam kontrak itu tidaklah berat, hanya saja dia merasa ada suatu kejanggalan. Dia diperlakukan secara special di rumah ini.

“Bagaimana Agassi? Apakah Anda sanggup?  Jika Anda menolak, Tuan Muda Choi akan memulangkan Anda. Beliau tidak akan menuntut atas kontrak sebelumnya yang telah Anda tAnda tangani. Kontrak itu  akan secara sah di batalkan. Kemudian untuk 20% pembayaran gaji Anda sebelumnya, Tuan Muda tidak akan memintanya kembali.”

Han Ni tercengang, Tuan Muda Choi itu pasti sangat kaya.  “Bagaimana bisa begitu?”

“Semuanya itu  dianggap sebagai bayaran bagi Anda  yang bersedia  meluangkan waktu untuk datang kemari. Bagaimana Agassi, apakah keputusan Anda?”

“Baiklah saya terima,” jawab Han Ni mantap.

Dia bukanlah tipe orang yang akan menerima sesuatu secara percuma. Dia juga sudah bertekad bulat untuk bekerja dengan serius.  Selain itu dari kontrak baru ini tidak ada yang merugikan baginya. Tugas yang dia emban juga tidak sulit. Dia hanya perlu menjadi asisten rumah tangga pribadi bagi Tuan Muda Choi.

“Tetapi apakah Agassi sanggup untuk tidak menghubungi  orang diluar rumah ini saat Anda bekerja kecuali Tuan Muda Choi mengizinkan? Anda harus menjaga setiap hal mengenai Tuan Muda Choi dan hal lainnya tentang rumah ini maupun isinya. Semuanya adalah rahasia yang tidak boleh diketahui oleh orang luar, termasuk keluarga dan orang terdekat Anda.”

“Baiklah… saya sanggup.”

“Satu lagi, Anda jangan pernah mencoba melanggar kontrak yang ada. Terutama masalah lama kontrak Anda. Anda harus menyelesaikan seluruh pekerjaan Anda selama 33 hari. Tidak boleh kurang, dan tidak boleh lebih. Setelah 33 hari Anda baru diizinkan pergi dari sini.”

Algessoyoe.

“Silahkan tanda tangan kontrak. Beberapa saat setelah Anda menanda tangani kontrak ini, gaji Anda sudah lunas terbayar.”

Han Ni mengurungkan niatnya untuk tanda tangan.“Tetapi aku belum selesai bekerja?”

“Tuan Muda Choi percaya pada Anda. Beliau yakin Anda tidak akan kabur begitu saja tanpa menyelesaikan tugas Anda.”

“Baiklah,” Han Ni  melanjutkan menanda tangani kontrak itu. ‘Kenapa Tuan Muda Choi sangat mempercayaiku, bisa saja aku kabur,’ katanya dalam hati.

“Tuan Muda Choi  yang  memilih Anda secara pribadi dari 3333 orang yang mendaftar,” jelas Kepala Pelayan Jo, dia seolah bisa membaca fikiran Han Ni.

“Oh..Ne.”

~xXx~

Seorang pemuda duduk di sebuah kursi dengan sAndaran yang sangat tinggi, bahkan melebihi tinggi tubuhnya sendiri. Pemuda itu tersenyum dingin. Wajahnya  tidak jelas terlihat. Dia duduk di sudut ruangan yang tidak terkena cahaya lampu, sudut tergelap di kamar itu. Kamar itu hanya bercahayakan sebuah lampu yang cahaya tidak seberapa, cahaya lampu itu mirip cahaya sebatang lilin.

Dekorasi kamar itu tidak jauh berbeda dengan kamar-kamar utama lainnya di rumah ini. Bisa di bilang semuanya sama. Sang pemilik rumah tidak terlalu menyukai ke istimewaan. Dia tidak ingin yang dia miliki lebih istimewa dari  yang lain. Kecuali beberapa hal yang tidak bisa dia rubah.

Pemuda itu mulai tidak sabaran. Dia terlihat memainkan jari-jarinya mengetuk lengan kursinya. Dia tidak sabar untuk menemui seseorang. Seseorang yang cukup lama dia nantikan. Seseorang yang dia pilih sendiri untuk selalu di sampingnya.

Krieeet…! Pintu kamar terbuka lebar. Cahaya yang lebih terang memasuki ruangan itu. Tepat di tengah-tengah pintu yang terbuka, terbentuk sebuah bayangan. Bayangan mungil seorang gadis, gadis yang dinanti oleh pemuda itu. Perlahan gadis itu masuh ke dalam kamar dan pintu di belakangnya tertutup. Gadis itu terlihat takut dan hanya menunduk.

“Akhirya Anda datang, Han Ni-ssi,” suara berat pemuda itu memecah kesunyian.

Ne… Tuan Muda Choi,” jawab Han Ni sedikit gugup.

Pemuda yang ternyata Tuan Muda Choi itu beranjak dari tempat duduknya. Dia meraih sesuatu di atas meja yang tepat berada di sebelah kirinya. Dia terlihat melakukan sesuatu pada benda itu, dalam sekejap kamar itu berubah terang benderang. Han Ni memincingkan matanya, terkejut oleh cahaya yang tiba-tiba berubah drastis.

“Bagaimana kabar Anda, Han Ni-ssi?”

“Baik, Tuan Muda,” jawab Han Ni kaku dan masih tertunduk.

“Panggil saja aku, Oppa. Bukankah kita akan menjadi teman dekat?”

Han Ni kaget dan reflek menatap lawan bicara.”Nde?”

“Dan aku bisa memanggilmu dengan lebih santai?” Min Ho –Tuan Muda Choi- berbicara lebih santai, informal.

“Semua itu terserah pada Anda, Tuan Muda,” Han Ni kembali tertunduk.

“Begitukah? Kalau begitu panggil aku Min Ho Oppa, Han Ni-ah?!”

Nde?”

“Bukankah kamu bilang terserah padaku? Sekarang sebagai tugas pertamamu, panggil aku Min Ho Oppa?!

“Emm…,” Han Ni terdiam sejenak. “Baiklah, Min Ho Oppa.”

“Han Ni-ah, aku harap kita tidak hanya menjadi teman dekat selama 33 hari  kedepan,” Min Ho tersenyum pada Han Ni.

Han Ni segera menunduk setelah menerima senyuman dari Min  Ho.

~xXx~

December 12th, 2012

Pagi-pagi sekali dan matahari baru saja terbit, Han Ni sudah siap di depan kamar Min Ho untuk membawakan sarapannya. Han Ni sesekali melirik gelas bening tinggi di atas nampan yang dia bawa. Dia tidak bertugas untuk menyiapkan makanan untuk Min Ho, dia hanya bertugas mengantarkannya. Min Ho tidak ingin siapapun selain asisten rumah tangganya, masuk ke dalam kamarnya. Sekali lagi Han Ni melirik gelas bening itu. Isi dari gelas itu bukanlah susu yang umumnya diminum orang di pagi hari. Tetapi sesuatu berwarna merah kental.

“Masuklah, Han Ni-ah!” teriak Min Ho dari dalam.

Kedua pelayan wanita yang berdiri di dekat pintu membukakan pintu untuknya. Han Ni mengucapkan terima kasih tanpa mengeluarkan suara. Kedua pelayan wanita itu hanya mengangguk tanpa ekspresi.

Min Ho terlihat bersAndar pada tempat tidurnya dan membaca sebuah buku. Buku yang tebal dengan sampul berwarna hitam dan terdapat gambar mirip percikan darah di buku itu. Han Ni melirik buku itu sebentar dan tidak menemukan judul buku. Tidak ada yang aneh dengan buku tanpa judul, hanya saja buku itu terlihat menyeramkan.

“Taruh saja di meja dekat jendela itu. Dan tolong buka jendelanya,” Min Ho menutup bukunya dan mengeliat kecil kemudian turun dari tempat tidur.

Han Ni segera menaruh nampan itu diatas meja. Dia berlari kecil menuju jendela super besar itu dan membukanya gorden yang menutupi. Dengan susah payah dia menarik gorden itu agar bisa terbuka. Gorden itu sangat berat dan cukup menguras tenaga tubuhnya yang mungil itu.  Min Ho sudah duduk pada sebuah kursi dan meja bundar yang menghadap jendela.

Han Ni berhasil membuka  gorden jendela. Berbondong-bondong cahaya matahari menyinari bagian dalam kamar Min ho. Min Ho hanya menyipitkan matanya sebentar kemudian mencoba membiasakan diri. Han Ni melirik ke arah Min Ho. Dia terlihat begitu indah, bahkan mengalahkan salju  dan pemAndangan indah diluar sana. Dia sangat tampan dengan kulit putih pucatnya. Dia sangat tampan mengalahkan malaikat.

“Apakah kamu tidak masalah merayakan natal di sini? Bukankah akan lebih indah merayakan natal bersama keluarga atau namjachingu-mu?”

Han Ni langsung terhentak dari lamunannya. Dia terlalu lama menatap Min Ho tadi, mungkin pipinya sangat merah sekarang menahan malu. Han Ni tertunduk, menarik napas untuk menenangkan diri. Apa yang dia lakukan tadi? Menatap majikannya dengan tatapan yang mungkin sangat mesum itu?

“Han Ni-ah.”

“Oh… Mianhae, Tuan Muda. UupssOppa.”

Min Ho tertawa kecil dan dia terlihat semakin tampan. “Apakah kamu tidak masalah merayakan natal di sini? Bukankah akan lebih indah merayakan natal bersama keluarga atau namjachingu-mu?” ulangnya.

“Emm… aku tidak keberatan menjalani natal di sini. Tidak ada bedanya merayakan natal di sini atau dimana pun. Bukankah yang terpenting semangat kita?”

Min Ho mengangguk kecil. “Kamu benar, Han Ni-ah.”

Han Ni memAndangi Min Ho tanpa berkedip. Pemuda di depannya ini terlihat tidak terlalu tua darinya. Dia terlihat masih muda dan seharuskan masih kuliah seperti dirinya. Tetapi mengapa dia tinggal sendiri di rumah sebesar ini, tanpa orangtua. Secara teknis, dia tidak tinggal sendirian. Sekitar 23 pelayan, termasuk Han Ni, tinggal di rumah besar dan terpencil ini. Han Ni juga baru menyadari bahwa tidak ada pemukiman penduduk sekitar radius 10 kilometer dari sini, hanya rumah besar ini satu-satunya pengisi wilayah ini.

Min Ho meneguk cairan merah kental yang ada di gelas bening tinggi. Isi gelas itu sempat menjadi pertanyaan besar bagi Han Ni. Min Ho meminum cairan itu kurang hati-hati, sehingga mengalir di sudut bibirnya. Perlahan  Min Ho membersihkan cairan yang mengalir di sudut bibirnya itu. Han Ni memperhatikan dengan seksama, cairan kental itu meninggal jejak merah di pipi Min Ho. Beberapa saat kemudian kulit pucat Min Ho berubah merona merah. Han Ni semakin bingung.

“Han Ni-ah… Kamu bisa keluar. Aku akan memanggilmu jika aku memerlukanmu,” Min Ho melayangkan senyumnya.

Ne… Oppa,” Han Ni berjalan keluar.

Sebelum benar-benar keluar, Han Ni menatap ke arah Min Ho yang akan memakan roti isinya. Han Ni memperhatikan roti isi itu dengan seksama. Bentuk roti isi itu tidaklah normal. Bagian tengahnya mengembung seperti sesuatu yang bulat adalah isinya. Tiba-tiba bagian tengah roti isi itu seperti bergerak, lebih tepatnya berdenyut. Han Ni mulai merinding dan menghapus anggapan aneh yang terlintas di kepalanya. Dia sudah siap membuka pintu, tetapi matanya tetap tertuju pada Min Ho yang akan mengigit makanannya.

Min Ho sudah mengigit makanannya. Bibirnya blepotan oleh suatu cairan kental berwarna merah. Han Ni berusaha memfokuskan mata, ingin melihat lebih jelas. Isi roti itu bergerak lagi. Dan sesuatu yang panjang menyerupai urat terjulur dari roti itu. Han Ni membelalakan mata, dia baru saja melihat isi roti isi itu. Dia menemukan jantung di dalam roti isi yang baru saja di makan Min Ho.

Secepat kilat Han Ni membuka pintu dan berlari keluar. Napasnya berubah tidak teratur karena keterkejutannya. Apakah dia baru saja mengantarkan segelas darah dan roti isi jantung? Apakah hanya imanjinasinya saja? Han Ni melangkah kakinya dengan cepat menuju kamarnya. Setelah sampai di sana, dia segera mengunci pintu. Dia mulai mondar-mandir, mencoba menelaah apa yang baru saja dia lihat.

“Tuan Muda Choi meminum darah dan memakan jantung? Apakah aku salah lihat tadi? Tetapi itu jelas-jelas jantung.”

Rrrrtrrrt…! Ponsel Han Ni memanggil. “Yeoboseo….?”  Han Ni mendengar dengan seksama lawan bicaranya. “Baik Oppa, saya akan ke sana.”

Han ni segera membuang jauh berbagai pemikiran gila, aneh dan tidak masuk akal yang baru saja melekat di otaknya. Dia tidak mau Min Ho melihat ekspresi wajahnya berubah karena terlalu memikirkan hal itu. Min Ho baru saja meneleponnya dan memintanya untuk segera ke kamarnya. Min Ho butuh beberapa bantuan.

~xXx~

“Apakah kamu sudah memutuskan pakaian yang cocok untukku, Han Ni-ah?” Min Ho keluar dari kamar mandi dan masih mengenakan handuk untuk mengeringkan seluruh badannya.

“Emm… saya tidak tahu apakah Oppa akan menyukainya,” ragu-ragu Han Ni menyodorkan satu setel pakaian pada Min Ho.

Min Ho meraih pakaian itu dan terlihat sedikit menimbang. Han Ni memilihkan sebuah sweater tebal berkerah V dan berwarna putih, dengan celana panjang berwarna hitam. Selera yang sangat sederhana, tetapi cukup untuk menarik senyum Min Ho.

“Aku suka,” Min Ho melangkah ke sebuah ruangan untuk berganti baju.

Han Ni hanya tertunduk menerima pujian dari Min Ho. Sudut mata Han Ni terus saja mengikuti kemana Min Ho pergi hingga lenyap di balik pintu. Han Ni menghela napas panjang dan kembali menegakkan tubuhnya. Min Ho bukanlah pemuda yang galak dan terlalu mengaturnya. Tetapi entah kenapa aura Min Ho membuat Han Ni terkadang takut dan segan padanya.

Salju kembali turun di luar, terlihat begitu indah dan menenangkan hati. Perlahan-lahan Han Ni berjalan mendekati jendela kamar Min Hoo untuk melihat lebih jelas salju yang berjatuhan dari langit. Sekelebat pemikiran tentang Tae Min melintas di otaknya. Dia sangat merindukan Tae Min. Dia masih terfikirkan janjinya pada Tae Min yang harus dibatalkan karena dia harus bekerja di sini demi mendapatkan uang.

“Han Ni-ah,” panggil Min Ho. Tidak ada jawaban dari Han Ni, dia masih bergulat dengan fikirannya sendiri. “Han Ni-ah,” Han Ni  masih terlihat memAndangi salju yang turun. Min Ho menghampiri Han Ni dan memegak pundaknya. “Han Ni-ah!”

“Oh…. Mianhae Oppa,” Han Ni segera menunduk, dia baru saja sedikit melalaikan tugasnya.

Gwaenchanha… aku akan pergi sampai malam. Jadi aku akan makan siang dan makan malam diluar. Tolong kamu bereskan kamarku. Jika kamu tidak mampu melakukannya sendiri, minta bantuan Kepala Pelayan Jo.”

“Baik, saya akan melakukannya,”

“Berhentilah berkata formal padaku, arassoe?”

Algessoyeo.

~xXx~

December 17th, 2012

Ini adalah hari ke-4 Han Ni mengurus segala keperluan Min Ho. Beberapa hari sebelumnya berlalu dengan normal tidak seperti hari pertama. Tetapi hari ini, kejadian aneh hari pertama itu terulang lagi. Han Ni harus mengantarkan sarapan dengan menu aneh ini. Segelas penuh cairan kental merah dan roti isi yang berdenyut. Han Ni ingin sekali mengecek makanan ini, tetapi dia tidak bisa.  Tatapan pelayan yang lain selalu mengawasinya.

Oppa… aku membawakan sarapan untuk Oppa.”

Kali ini Han Ni tidak menemukan sang pemilik kamar, Min Ho tidak ada di kamarnya. Han Ni berinisiatif sendiri untuk membuka gorden dan membiarkan cahaya masuk ke dalam kamar yang hampir setiap saat gelap dan terlihat pengap. Nampan sarapan yang dia bawa sudah bertengger di tempat  biasa, sebuah meja bundar di dekat jendela. Sepersekian detik setelah membuka gorden, cahaya menyinari seluruh ruangan.

Gelas bening tempat cairan kental yang menjadi menu Min Ho hari ini berkilauan di terpa cahaya. Han Ni memperhatikan isi gelas itu, sangat pekat dan kental. Cahaya matahari  tidak mampu menembus cairan itu.  Sedangkan roti isi itu bergerak semakin jelas, denyutannya semakin kencang. Han Ni bergidik dan menjauh dari nampan itu.

“Selamat pagi, Han Ni-ah,” suara berat yang sangat akrab baginya belakangan ini mengagetkannya.

Oppa… aku mengantarkan sarapan.”

Min Ho memperhatikan Han Ni. “Kamu seperti ketakutan. Ada apa?”

Obsoyeo…”

Min Ho terlihat sangat lemah hari ini. Apakah dia sedang sakit?  Han Ni terus menatap Min Ho yang sudah duduk di kursinya. Dia sangat pucat dan terlihat lebih kurus. Garis gelap di bawa kelopak matanya menunjukkan mungkin dia tidak tidur semalaman. Tetapi semua itu tidak menghapus sedikitpun ketampanan di wajahnya. Dia tetap tampan dengan piyama putihnya.

Gelas dengan cairan kental mencurigakan itu sudah berpindah ke tangan Min Ho. Sebentar lagi isi dari gelas itu akan melewati tenggorokan Min Ho. Han Ni memperhatikan dengan seksama. Dia tidak tega melihat cairan aneh itu masuk ke dalam tubuh Min Ho. Han Ni ingin sekali melarang Min Ho meminun cairan itu. Bukankah 4 hari yang sebelumnya sarapan untuk Min Ho normal? Segelas susu dan roti isi yang tidak berdenyut.

“Ada yang salah, Han Ni-ah?” Min Ho mendapati ekspresi wajah Han Ni yang berubah.

“Oh…itu!” Han Ni bingung harus mengatakan apa. “Sepertinya aku salah membawakan sarapan. Aku akan menggantikannya.”

Min Ho tersenyum. “Ini memang menu untukku hari ini. Apakah Kepala Pelayan Jo belum memberi tahumu?”

“Tetapi Oppa… sarapan itu…”

“Aneh? Ini hanya jus stroberi dan alpukat. Cobalah jika kamu tidak percaya.”

Nde?” Han Ni menerima gelas yang di sodorkan Min Ho.

“Cobalah! Ini bukan darah seperti yang kamu fikirkan.”

Han Ni langsung tercengang. Bagaimana Min Ho bisa tahu apa yang dia fikirkan?

“Oh satu lagi.  Roti isi ini tidak berdenyut, aku rasa hanya efek dari bias cahaya matahari. Ini hanya roti isi dengan daging domba dimasak medium rare.” Min Ho menyingkirkan roti di bagian atas agar isinya dapat terlihat jelas.

Han Ni hanya mengangguk kecil. “Mianhae.”

“Emm…,” Min Ho hanya tertawa. “Dan jangan mengkhwatirkan aku. Aku tidak sedang sakit. Aku hanya terlalu lelah mengurus beberapa pekerjaan perusahaan. Satu lagi, Kepala Pelayan Jo memang memiliki daftar sendiri untuk semua menu makanan setiap harinya, dan itu terus berulang.”

“Oh… ne,” Han Ni hanya menunduk.

Dia tidak menyangka Min Ho dapat dengan mudah membaca fikirannya. Apakah semuanya tergambar dengan jelas di wajahnya?

“Asisten rumah tangga sebelum dirimu juga menanyakan hal yang sama. Jadi aku bukan membaca fikiranmu, hanya menebak.”

Ne,” Han Ni hanya mengangguk kecil.

~xXx~

December 20th, 2012

“Beberapa hari lagi natal. Apakah  kamu tidak ingin pulang?” Min Ho memecah keheningan di antara mareka.

Han Ni masih tertunduk dan mengikuti Min ho dari belakang. Hari ini Min ho tidak pergi ke kantor seperti biasanya. Dia hanya berniat untuk istirahat di rumah. Pagi ini setelah selesai sarapan dan membersihkan diri, dia meminta Han Ni untuk sedikit berjalan-jalan di halaman rumah yang sangat luas ini. Beberapa pelayan hanya mengawasi dari jauh dan membiarkan mereka jalan berdua.

“Aku sudah lama tidak pulang. Aku selalu merayakan natal sendiri.”

“Ternyata kita memiliki beberapa kesamaan, aku juga selalu merayakan natal sendiri. Jadi aku sangat berharap kamu mau menemaniku.”

“Kenapa bisa begitu? Dimanakah Tuan Choi dan Nyonya Choi?”

“Aku tidak tahu.”

Han Ni terkekeh. “Bagaimana bisa begitu? Bukankah beliau orangtua Oppa.”

“Kepala Pelayan Jo  tidak mengizinkan aku menemui mereka.”

Weo? Kepala Pelayan Jo seolah sesepuh saja.”

Min Ho menatapku. “Dia memang sesepuh. Dia sudah bekerja di sini sejak umurku 3 tahun. Kamu tahu, dia sama sekali tidak berubah sejak dulu.”

Mwo?” mata Han Ni terbelalak. “Dia Ajumma?”

“Emm…”

Han Ni masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Min Ho. Apakah Kepala Pelayan Jo yang selama ini dia kagumi setua itu? Han Ni melirik ke belakang, tepat ke arah para pelayan dan Kepala Pelayan Jo yang mengawasi kami. Tatapan mereka sangat dingin, khususnya Kepala Pelayan Jo. Belakangan ini dia terlihat sangat tegang. Terutama sejak Min Ho terlihat kurang sehat.

Min Ho terus berjalan di depan Han Ni. Semakin jauh dari pengawasan Kepala Pelayan Jo. Han Ni hanya mengikuti dari belakang dan tidak banyak bertanya. Langkah Min Ho terhenti ketika mereka sampai di perbatasan hutan pinus dengan halaman belakang rumah Min Ho. Min Ho mengulurkan tangannya, meminta Han Ni untuk menggandengnya.

“Ayolah… aku hanya ingin agar kamu tidak terjatuh nanti. Tanah di sini sangat licin.”

Han Ni hanya menuruti keinginan Min Ho tanpa menggambarkan pertanyaan di wajahnya.  Han Ni kembali menatap kebelakang, Kepala Pelayan Jo dan yang lain sudah tidak terlihat lagi. Mereka tidak membuntuti lagi. Min Ho mengajaknya masuk ke dalam hutan pinus. Entah apa yang ingin di tunjukkan Min Ho padanya.

“Kenapa kita ke sini, Oppa?” Han Ni memberanikan diri bertanya setelah Min Ho menghentikan langkahnya.

“Aku hanya ingin menjauh dari mereka. Mereka tidak akan berani ke sini.”

Weo?”

“Mereka takut akan mitos di sini tentang manusia abadi. Mereka takut jika memasuki hutan, mereka akan dibunuh oleh manusia abadi.”

Han Ni mengerutkan dahi. “Mitos macam apa itu?”

“Apakah kamu tidak menyadari bahwa Kepala Pelayan Jo itu penyihir?”

“Eyyy?” Reaksi Han Ni sangat lucu.

Min Ho tertawa. “Dia itu penyihir yang mempunyai ramuan awet muda, oleh sebab itu dia masih sangat muda sekarang. Padahal mungkin saja umurnya 50 tahun atau bahkan lebih? 100 tahun, mungkin.”

Oppa terlalu banyak membaca buku horror. Mana mungkin ada hal seperti itu?”

“Aku serius! Aku tidak bisa mengatakannya dirumah karena dia memiliki pengawasan ketat di rumah itu. Hutan pinus ini satu-satunya tempat yang paling aman. Karena menurut mitos, penyihir itu takut memasuki hutan karena hutan adalah teritori manusia abadi.”

“Sangat hebat, Oppa. Cerita karangan Oppa sangat bagus. Kajja, Oppa! Kepala Pelayan Jo dan yang lain pasti menunggu. Sudah waktunya makan siang.”

Han Ni berjalan meninggalkan Min Ho yang tersenyum nakal. Dia terlihat senang bisa membohongi Han Ni dengan cerita aneh karangannya. Han Ni yang terlihat  sedikit kesal meninggalkan Min Ho begitu saja. Min Ho masih terdiam dan menatap Han Ni yang terus menjauh. Tawa nakalnya perlahan menghilang. Kini raut wajah dingin tergurat di wajah Min Ho dan senyum sinis tersungging di bibir merahnya.

~xXx~

Agassi, malam ini Tuan Muda Choi akan makan malam di kamarnya,” jelas kepala pelayan, tatapannya begitu sinis pada Han Ni.

Ne… Kepala Pelayan Jo. Algessoyeo.”

“Apakah keadaan Tuan Muda Choi baik-baik saja?” tanyanya penuh selidik.

“Saya rasa, iya,” jawab Han Ni santai

Kepala Pelayan Jo menatap Han Ni dengan kesal. “Saya tidak sedang bercAnda Agassi! Seperti yang saya lihat, Tuan Muda Choi tidak baik-baik saja. Beliau terlihat pucat dan kurus belakangan ini. Apakah Anda tidak menyadarinya?”

“Emmm… dia memang terihat seperti itu. Tetapi dia bilang, dia baik-baik saja. Dia hanya kurang tidur,” Han Ni tidak berani menatap Kepala Pelayan Jo yang sedang memelototinya.

“Kami di sini sangat peduli akan kesehatan Tuan Muda Choi. Tugas utama Anda di sini adalah mengurusi Tuan Muda Choi secara sungguh-sungguh. Saya harap  Anda jangan bermain-main dan awasi Tuan Muda Choi. Jika terjadi sesuatu pada Tuan Muda Choi, saya secara pribadi tidak akan membiarkan Anda baik-baik saja.”

Han Ni menelan ludah. “Mianhae… Kepala Pelayan Jo. Saya mungkin tidak terlalu memperhatikan Tuan Muda Choi.”

“Sebaiknya Anda harus berusaha keras mulai sekarang,” Kepala Pelayan Jo meninggalkan Han Ni.

Han Ni bergidik. Kepala pelayan yang selama ini dia kagumi ternyata sangat galak dan menakutkan. Wanita seangggun dan semenawan Kepala Pelayan Jo baru saja mengancamnya. Dia seolah ingin membunuh Han Ni, jika hal buruk dialami oleh Min ho. Sifatnya sekarang memang mirip penyihir.

‘Kenapa aku  menyangkut pautkan dengan cerita karangan Min ho Oppa?’ gumam Han Ni dalam hati.

~xXx~

Han Ni membawakan troli makan malam untuk Min Ho. Sepanjang perjalanan dari dapur menuju kamar Min ho, tatapan sinis menusuk-nusuk tubuh Han Ni. Dia tidak berani melirik dari mana asal tatapan sinis itu. Tetapi ada 1 hal yang bisa dia pastikan, seluruh penghuni  rumah Min Ho sangat membencinya.

Han Ni sama sekali tidak tahu penyebabnya. Min Ho selalu terlihat pucat dan sekarang sedikit kurus. Apakah itu salahnya? Dia hanya bertugas membawakan makanan dan menjalankan keinginan Min Ho. Sedangkan seluruh jadwal kegiatan dan menu makanan Min Ho diatur oleh Kepala Pelayan Jo. Bukankah semua ini salah Kepala Pelayan Jo? Dia terlalu membuat Min Ho lelah dan makanan yang diberikan kepada Min Ho sama sekali tidak bergizi.

Wajah Han Ni masih cemberut ketika memasuki kamar Min Ho. Min Ho sudah bersedia mengalihkan perhatiannya dari buku kesukaannya dan menyapa Han Ni. Tetapi Han Ni hanya terdiam dan sibuk dengan fikirannya sendiri.

“Makan malammu, Oppa,” kata Han Ni datar dan menaruh makan malam Min Ho dimeja persegi disisi lain kamar gelap itu. “Bolehkan aku menyalakan lampu?”

“Tentu,” Min Ho menutup bukunya dan menghampiri meja persegi dengan 3 buah kursi itu. “Apa menu makan malamku?”

“Aku tidak tahu. Kepala Pelayan Jo melarangku untuk membuka tudung saji. Dia tidak ingin udara kotor menyentuh makanan Oppa. Dasar nenek sihir,” gerutu Han Ni.

Min Ho tertawa, “Ternyata kamu percaya dengan ceritaku.”

“Mungkin ada benarnya juga. Dia memang seorang penyihir jahat.”

“Hey… jangan katakan keras-keras. Di sini ada kamera pengawas, Kepala Pelayan Jo memantau kita.”

Han Ni mencari kamera pengawas yang dikatakan Min Ho. “Mwo? Banyak sekali,” Han Ni langsung berbisik mendapati sekitar 4 kamera pengawas terpasang di setiap sudut. Entah ada berapa banyak lagi.

“Sepertinya aku akan mulai makan.”

Han Ni menyiapkan makan malam untuk Min Ho. Sebuah piring perak bundar lengkap dengan tudung perak bulatnya sudah tersedia di depan Min Ho. Han Ni membukakan tudung itu untuk Min Ho yang terlihat sudah sangat lapar.

“Silahkan, Oppa,” Han Ni tersenyum setelah membuka tudung saju. “Aaaakkkk!!!” Tiba-tiba dia berteriak dan menjauh dari meja.

“Ada apa?” Min Ho akan menyendok makan malamnya.

Andwae Oppa!” teriak Han Ni

Han Ni segera menjauhkan makanan itu dari hadapan Min Ho. Han Ni menatap makanan itu bergidik dan hendak muntah. Makanan itu adalah sebuah pasta dengan bola mata bundar sebagai pelengkapnya. Bahkan bisa dibilang sausnya adalah darah merah yang kental. Han Ni segera mengecek minuman untuk Min Ho. Seperti dugaannya, lagi-lagi minuman merah kental itu. Apakah kepala pelayan ingin membunuh Min Ho?

“Ada apa?”

“Jangan dimakan, Oppa!

Weo?”

Oppa tidak lihat? Kepala Pelayan Jo menyiapkan pasta bola mata untuk Oppa, dan…”

Min Ho terkekeh,bahkan tertawa terbahak. “Han Ni-ah… apa katamu? Pasta bola mata? Itu hanya pasta dengan bola daging dan saus tomat kesukaanku. Berikan padaku!”

“Tetapi Oppa,” Han Ni kembali melirik pasta dengan bola mata itu.

“Berikan Han Ni-ah… kamu ingin lihat aku mati kelaparan?” Min Ho mulai kesal.

Mianhae, Oppa,” Han Ni memberikan kembali piring perak itu.

Min Ho mulai makan dengan lahap. Han Ni menahan diri untuk tidak muntah. Pisau tajam di tangan kiri Min Ho memotong kecil-kecil bola mata bundar itu. Tanpa ragu Min Ho menancapkan  garpunya pada potongan bola mata itu. Cairan bening kental dan sedikit keruh keluar saat garpu tertancap pada potongan mata. Dalam beberapa detik potongan mata itu masuk ke dalam mulut Min Ho. Han Ni semakin ingin muntah.

“Hentikan!” Han Ni merebut piring perak itu dan membuang isinya.

“Han Ni-ah… ada apa denganmu?”

Oppa tidak lihat? Oppa  baru saja memakan bola mata.”

“Itu hanya bola daging. Lihatlah baik-baik!”

Han Ni dengan ragu kembali memungut bola mata itu dengan garpu. “Oh!” dia terkejut mendapati bahwa makanan itu memang bola daging, hanya bola daging.

“Apakah kamu membaca buku horror milikku, Go Han Ni?”

Ania… aku akan mengambilkan makanan untuk Oppa lagi,” Han Ni segera membereskan kekacauan yang telah dia buat.

“Apakah rumah ini terlalu mengunci kebebasanmu, Han Ni-ah?”

Han Ni hanya menoleh dan menggeleng kecil.

“Apakah kamu ingin pulang?”

Ania…. walaupun aku ingin aku tidak akan bisa pulang. Aku masih memiliki kontrak di sini. Aku harus menyelesaikannya dulu.”

“Aku bisa membatalkan kontrak itu.”

“Tetapi aku tidak mau, Oppa. Aku harus melaksanakan tugasku hingga akhir.”

“Baiklah… aku senang mendengar itu.” Min Ho tersenyum hangat

~xXx~

“Membacakan buku cerita?” kata Han Ni setengah berteriak.

Min Ho hanya mengangguk sambil nyengir kuda. Belakangan ini dia tidak bisa tidur saat malam tiba. Dan ide gila yang  tercetus di otaknya adalah dibacakan dongeng tidur. Han Ni tidak masalah dengan permintaan Min Ho, hanya saja Min Ho meminta dibacakan salah satu koleksi buku horrornya. Han Ni sudah menggengam buku usang dengan sampul hitam yang selalu dibaca Min Ho. Aroma khas buku yang telah sangat lama dan usang menyeruak.

Oppa tidak mau aku bacakan buku yang lain saja?”

Min Ho hanya menggelengkan kepala, persis seperti anak kecil. Kelakuan Min Ho memang terkadang kekanak-kanakan, sangat kekanak-kanakan. Tetapi dia lebih sering bersikap dingin dan misterius. Sudah 1 minggu penuh Han Ni bertugas mengantarkan makanan ke kamar Min Ho dan menjalankan keinginan aneh Min Ho. Selama itu pula kepribadian Min Ho berubah-ubah. Min Ho sama sekali tidak pernah keluar dari kamarnya dan berinteraksi dengan pelayan lain selain Han Ni dan pria paruh baya yang menjemput Han Ni di bAndara. Bahkan Kepala Pelayan Jo yang bertugas mengatur jadwal Min Ho hanya bisa menghubungi  Min Ho via telelpon, tanpa tatap muka.

Satu lagi peraturan aneh yang dikhususkan untuk Han Ni.  Dia dilarang untuk memasuki wilayah dapur utama, ruang cuci dan kamar pelayan –rumah bagian belakang. Dia sebagai asisten rumah tangga dilarang bergaul dengan para pelayan kecuali Kepala Pelayan Jo. Seperti hal itu juga berlaku bagi para pelayan. Mereka tidak pernah mengeluarkan sepatah katapun pada Han Ni. Mereka hanya bisa mengangguk atau menggelengkan kepala.

Han Ni juga memasak makanannya sendiri di dapur bersih –lebih kecil dari dapur utama. Itu semua bukan karena peraturan yang ada, tetapi dia yang meminta sendiri. Dia tidak sanggup harus memakan makanan yang disediakan di rumah ini setelah beberapa kali dia menemukan ada kejanggalan dalam makanan tersebut.

“Han Ni-ah… palli, bacakan aku halamam 313.”

Perlahan Han Ni membuka buku itu. Hawa menyeramkan serasa menyeruak dari dalam buku. Bau anyir juga tertiup menuju hidung Han Ni. Han Ni yang kaget segera menutup buku tersebut. Napas Han Ni berubah tidak teratur.

Weo?”

Obsoyoe” Han Ni kembali membuka buku itu, dia menahan napasnya sejenak. “Immortal Human?” Han Ni menatap Min Ho penuh tanya.

“Emm… bacakan untukku.”

“Bukankah ini mitos yang Oppa ceritakan?”

Ne… aku mengetahuinya dari buku itu. Buku yang kebetulan aku temukan di hutan pinus 2 tahun yang lalu. Kamu bilang aku mengarang cerita. Sekarang bacalah, kamu akan sadar kalau aku tidak mengarang.”

Han Ni menelan ludah. “132 tahun yang lalu…(dst)”

~xXx~

“…. Dan penyihir yang mengutuk namja itu menjadi manusia abadi akhirnya menjadi budak sang namja sebagai hukuman atas pelontaran kutukannya itu. Penyihir harus melayani namja itu selamanya demi keselamatan keturunan sang penyihir” Han Ni mengakhiri ceritanya. “Cerita macam apa ini? Kenapa si penyihir itu harus mengutuk namja itu kalau akhirnya takut dan menjadi budaknya? Dasar penyihir babo.

Krusuk…! Terdengar bunyi gesekan selimut saat Min Ho menggerakan badannya. Rupanya dia telah tertidur pulas. Entah jam berapa sekarang, tidak ada satu pun penunjuk waktu di kamar Min Ho. Han Ni menggeliat pelan, tubuhnya terasa kaku khususnya bagian rahang bawah. Dia sudah membaca dongeng horror aneh itu selama lebih dari satu jam. Itu bukan dongeng, lebih tepatnya cerita fiksi aneh.

“Hoaaam…,” Han Ni menguap kecil dan mulai jatuh tertidur.

Han Ni sudah jatuh tertidur dengan pulas di kursi tempat sedari tadi membaca buku. Entah kenapa dia tiba-tiba merasa sangat mengantuk dan tertidur di sana. Suasana malam ini sangat hening dan sedikit mencekam. Hawa dingin mengalahkan pemanas ruangan dan menusuk-nusuk tulang. Min Ho semakin membenamkan dirinya didalam selimut. Sedangkan Han Ni menerima dengan setengah hati angin dingin itu. Dia sama sekali tidak berniat pindah ke kamarnya. Dia sudah sangat lelah dan mengantuk.

Krieeeek…. Suara decitan engsel pintu terdengar sangat dekat. Seberkas cahaya kecil masuk ke kamar Min Ho melalui celah pintu yang terbuka. Seseorang terlihat mengintip dari celah itu. Terdengar suara berbisik yang hampir sama dengan hembusan angin. Han Ni masih tertidur pulas. Cahaya dari celah  pintu yang mengenai wajahnya tidak mampu mengusik tidurnya.

KrieeeekPintu itu di tutup perlahan  dan… klek,  menimbulkan suara yang cukup besar. Min Ho hanya menggeliat sedikit untuk memperbaiki posisi tidurnya  yang mungkin kurang nyaman. Ternyata suara yang satu itu cukup untuk mengusik Han Ni. Perlahan dia membuka matanya, mengerjap-ngerjapkan 2 kali perdetik, dan diakhiri dengan uapan yang kecil.

Aigoo… aku tertidur di sini. Emm…,” dia menggeliat. “Badanku pegal, tenggorokanku juga kering. Sebaiknya aku mengambil minum dan tidur dikamarku sendiri,” Han Ni berbicara sendiri, sepertinya dia belum sepenuhnya terbangun.

Dengan langkah sedikit terseok-seok, Han Ni berusaha keluar dari kamar Min Ho tanpa harus membuat empunya kamar terbangun. Pintu sedikit mengeluarkan bunyi ketika dia membukanya.  Suasana diluar kamar Min Ho tidak kalah sepi. Seluruh pelayan sepertinya sudah tertidur. Cahaya lampu di rumah super besar ini diatur sedemikian rupa dan menampakkan kesan misterius. Han Ni bergidik melirik beberapa sudut rungan yang sangat gelap. Perlahan Han Ni menuruni anak tangga dan hendak menuju dapur.

“Apa yang harus kita lakukan? Waktunya semakin dekat, Kepala Pelayan Jo,” terdengar suara wanita berbisik.

“Kecilkan suaramu. Aku juga sedang berfikir,” Han Ni mengenali suara yang satu ini, Kepala Pelayan Jo.

Terdengar suara berdehem. “Yoeja  itu sama sekali tidak membantu.”

“Kita belum bisa menyimpulkan seperti itu,” suara seorang pria yang sangat berat.

Han Ni terus berjalan, mengendap-endap. Dia mencoba mencari asal suara. Sepertinya ada yang belum tertidur dan sedang melakukan rapat sederhana di tengah malam begini.

Eomma….apa yang harus kita lakukan?” suara wanita yang lain  lagi.

“Pertama kita harus memastikan persediaan jantung, darah dan yang lain untuk Tuan Muda Choi adalah kualitas terbaik. Kalian harus mencari dengan benar,” nada suara kepela pelayan Jo mendominasi.

Han Ni segera menutup mulutnya sebelum memekik keras. Ternyata dugaan dia selama ini benar. Ada yang aneh dengan menu makanan yang diberikan kepada Min Ho. Han Ni sudah menemukan ruangan tempat orang-orang tersebut berada. Mereka sedang berkumpul di dapur utama. Han Ni melanggar sedikit aturan karena rasa penasaranya.

Eomma, itu semua tidak cukup,” suara pria yang selama ini adalah pelayan yang mengurusi kendaraan Min Ho angkat bicara.

Terdapat 5 orang, belum termasuk Kepala Pelayan Jo. Mereka terlihat sangat serius membicarakan sesuatu dengan berbisik diruangan yang bercahaya minim. Han Ni masih berusaha mengenali mereka satu persatu. Dia juga masih berusaha menangkap  arah pembicaraan mereka.

“Apakah kita harus segera menyingkirkan yoeja itu dan segera mencari yang baru?” salah satu pelayan yang selalu menjaga didepan pintu kamar Min Ho menunjukkan seringai sinisnya. “Bukankah kita membuang-buang waktu mempertahankannya? Dia sama sekali tidak membantu.  Dia bukan yang kita cari.”

“Tutup mulutmu!” Kepala Pelayan Jo sedikit membentak. “Kita tidak bisa melakukan itu. Dia dipilih sendiri olehnya. Setelah sekian lama, akhirnya dia turun tangan untuk memilih dari sekian banyak yang kita ajukan. Dia sepertinya menyukainya.”

“Tetapi eomma…” pelayan yang mengurusi makanan Min Ho memangil Kepala Pelayan Jo dengan sebutan ibu.

Han Ni membelalakan matanya. ‘Kepala Pelayan Jo punya anak seumuranku’ katanya dalam hati. ‘Apakah mereka semua anaknya?’

“Waktu kita semakin menipis. Semoga kali ini berhasil. Aku sudah bosan harus tunduk padanya. Aku tidak mau melihat salah satu diantara keturunanku diusik olehnya. Tidak akan ada lagi,” nada suara Kepala Pelayan Jo terdengar pasrah. “Aku tidak ingin kalian dan keturunanku yang lain dibantai olehnya.”

‘Dia siapa?’ fikir Han Ni.

“Sebelum tahun ini berakhir, yoeja itu harus menjadi miliknya. Apakah kalian sudah mendapatkan yang kita butuhkan untuk membuat ramuan itu?”

“Sudah, jagiya!”

Han Ni mundur selangkah. Pria paruh baya yang menjadi supir dan asisten Min Ho –yang menjemput Han Ni di bAndara- adalah suami Kepala Pelayan Jo.

“Kita hanya perlu menunggu dia pulih dan meminta kita untuk melakukannya. Tanpa darahnya ramuan itu tidak akan sempurna.”

“Akankah dia pulih? Belakangan ini dia terlihat kacau,” pelayan yang mengurus pakaian Min Ho angkat bicara. “Jika terus seperti ini. Dia akan marah dan menghancurkan kita seperti sebelumnya.”

Kepala Pelayan Jo tersenyum sinis di bawah redupnya cahaya. “Yoeja ini istimewa. Sepertinya dia hampir menyadari semuanya.”

“Apakah dia tahu kalau….?” Kalimat pelayan termuda  –yang mengurusi makanan Min Ho- terpotong.

“Sssssttt…. Hentikan! Dia di sini,” tatapan Kepala Pelayan Jo mengarah pada tempat persembunyian Han Ni.

Han Ni dengan gugup berusaha menjauh.­ Pranggg…!. Dia menyenggol sebuah vas dan menjatuhkannya hingga menimbulkan suara yang cukup besar. Han  Ni segera berlari menjauh dari tempat mereka. Dia berusaha berlari di rumah yang super besar dan tidak dia kuasai denahnya itu. Dia tidak begitu menghafal bagian demi bagian rumah.  Tetapi apa pedulinya? Dia terus berlari menjauh dari tempat tadi.Bukk. Han Ni menambrak sesuatu, atau mungkin seseorang.

Agassi… apakah Anda tersesat?”

“Emm… Kepala Pelayan Jo, Anda…Anda…?”

“Mari saya antar ke kamar Anda. Sepertinya Anda masih sangat mengantuk,” bujuk Kepala Pelayan Jo halus.

Han Ni segera berdiri. Dia berusaha mengatur napasnya yang semakin lama semakin tidak teratur dan mencekiknya. “Aku bisa sendiri” bantahnya sedikit kasar.

“Anda sebaiknya menerima tawaran saya, Agassi. Tidak baik terus berkeliaran dan mungkin secara tidak sengaja menguping pembicaraan orang. Uupss… sepertinya saya harus membuat Anda kembali tertidur dan melupakan apa yang baru saja Anda curi dengar.”

“Kamu… siapa kamu?”  teriak Han Ni

“Ssst… jangan berisik! Apa Anda mau membangunkan Tuan Muda Choi? Dia belakangan ini susah tidur, jadi jangan mengusiknya.”

Han Ni tidak mau berbicara banyak lagi dengan pelayan Jo. Dia segera menabrakan dirinya sekuat tenaga pada Kepala Pelayan Jo dan berlari menjauh. Kepala Pelayan Jo yang terjatuh hanya tertawa kecil namun dengan seringai yang sangat menyeramkan. Han Ni masih berlari, mencoba mencari jalan menuju kamarnya di lantai 1.  Tiba-tiba terasa seperti seseorang yang menahan kakinya. Dia tidak bisa bergerak dan diam terpaku di anak tangga.

“Dasar yoeja tidak berguna,” pelayan penjaga pintu kamar Min Ho menahan Han Ni entah dengan apa. “Aku akan membuatmu tertidur,” dia terlihat menghentakan tangannya.

Aaaaaakkkk!!!” teriak Han Ni, dan semuanya berubah gelap.

To be continued…