Tags

, ,


oppa, ige mwoyeyo

Title                       : Oppa, ige mwoyeyo?

Author                  : Choi Ye Joon (Chan Yoen)/ Yunn Wahyunee

Main Casts          : Onew a.k.a Lee Jin Ki, Han Hyo Rae (OC)

Support Casts    : Key  a.k.a Kim Ki Bum, Jonghyun a.k.a Kim Jong Hyun

Genre                   : Romance, Comedy (semi)

Length                  : Vignette

Rating                   : General

Summary            :

Oppa, ige mwoyeyo?” Hyo Rae. “Apakah oppa mencariku? Aku tidak ada diantara mereka”——-“Aaah…aku mendapatkan informasi yang salah” Jin Ki. “mianhae, Hyo Rae~a. saranghamnida”

A/N                       :

Author khusus buat ini FF untuk even “FF PARTY 2012” di WP FF SHINee (shiningstory.wordpress.com).

Warning               :

Typo berguguran bak daun mangga atau ketombe (?). Gejala otak error akibat author garing DSB. Penulisan yang –mungkin- tidak sesuai EYD.

(o.O)

Malam tahun baru? Apa yang akan dilakukan sebagian besar orang dimalam tahun baru? Merayakan tahun baru dengan keluarga, seperti makan-makan, menyalakan kembang api, berkaraoke bersama dan kegiatan keluarga lainnya. Berbeda lagi cara yang dipilih untuk dilakukan para remaja untuk menghabiskan tahun baru mereka. Bukankah berkencan dimalam tahun baru itu mengasyikan?

Berkencan memang mengasyikan. Dan itu berlaku bagi sepasang kekasih. Sedangkan yang masih menjomblo, hanya bisa gigit jari. Tidak semua orang menyukai malam tahun baru kan? Tergantung situasi, mood, keadaan (bukankah sama dengan situasi?) dan faktor eksternal serta internal lainnya.

Taman kota Seoul, pusat dari perayaan malam tahun baru. Malam ini tidak ada bangku taman yang menganggur, semua terisi penuh. Diisi oleh sepasang kekasih atau mungkin calon sepasang kekasih. Tidak akan ada yang mau melewatkan moment malam tahun baru yang indah ini.

Disudut taman yang mungkin merupakan sudut kurang strategis untuk menyaksikan pertunjukan  kembang api yang akan berlangsung 2 jam lagi. Seorang gadis duduk sendiri. Dia terus menghela napasnya sejak dia mulai bertengger di bangku taman itu. Banyak sekali hal yang mengganjal hatinya. Sejak dia mengenalnya 2 tahun yang lalu, malam tahun baru adalah malam dengan seribu harapan. Harapan yang begitu menggiurkan, tetapi tidak pernah terwujud.

“Yakk…. Han Hyo Rae babo” dia memukul kepalanya sendiri.

Disinilah dia duduk diam, setiap malam tahun baru. Berdoa, memohon dan berharap tahun yang baru ini akan menjadi tahun terindah baginya. Tidak lebih dari 2 jam, tahun 2012 akan berlalu dan menjadi 2013. 13? Angka sial bukan? Akankah di tahun dengan angka jelek ini harapannya akan tercapai? Dia tidak akan duduk sendiri lagi disini?

“Hahhhhh….” Dia menghela napas kesal. “Kenapa dia tidak membalas pesanku? Oppa, kenapa kamu selalu menghilang disaat seperti ini.” Hyo Rae setengah berteriak. “Nappenum!”

(o.O)

Jong Hyung –Kim Jong Hyun- melipat tangannya didada. Dia terlihat kesal sekarang. Kepalanya terus bergerak ke kiri dan ke kanan, mengikuti sebuah objek yang tidak bisa diam. Dia mulai pusing. Tanpa banyak bicara, dia beranjak dari kursi santai di beranda rumahnya dan segera mendekap objek yang terus tidak bisa diam itu.

hyung hentikan! Kamu membuatku pusing jika terus mondar-mandir seperti setrikaan murahan yang tidak bisa panas itu” Jong Hyun mengunci targetnya dengan tangan super kekarnya.

“Lepaskan! Kamu jangan mengambil kesempatan begini memelukku. Aku masih normal. Aku menyukai yoeja.” Sang objek meronta.

Jong Hyun segera bergidik ngeri. “arassoe ,Lee Jin Ki~ssi”

“Apa aku harus melakukannya malam ini?” dia kembali terlihat gelisah.

“Lakukan Hyung. Sampai kapan Hyung  akan menunda? Dia bisa kesal dan ogah menunggu hyung terus. Apa hyung tidak sadar? Umur hyung, umur.”

“Yakkk….aku tidak setua itu. Aku hanya belum siap”

Jong Hyun mulai kesal. sekarang dia yang mondar-mandir tidak jelas. Mengacak-acak rambutnya yang tidak seberapa panjang. Dan merasa tidak puas dengan mengacak-acak rambutnya, dia beralih mengacak-acak rambut Jin Ki. Tentu saja sang empunya rambut meronta-ronta tidak terima. Tindakan Jong Hyun dapat merusak tatanan rambut mahalnya. Dia rela mengantri di salon 3 hari 3 malam, dan harus bersedia di dandani selama 3 jam. Lalu, Jong Hyun dengan gampang akan menghancurkan tidak lebih dari 3 menit? Tidak bisa diterima.

“hentikan! Kenapa kamu yang galau sekarang?”bentak Jin Ki

mianhae hyung. Aku geregetan, jadinya geregetan. Apa yang harus kulakukan?” sedikit bernyanyi dengan suara panci emasnya (?).

Jin Ki menutup lubang telinganya dengan jempol tangan. “Hentikan!!! Aku tidak mau budeg muda” plak. Jin Ki menampar Jong Hyun agar segera diam.

“Oh…mian. Sampai mana tadi?”

“Apa  kamu yakin ini akan berhasil? Semuanya sudah beres?”

“Tentu… hyung  hanya perlu mengikuti script yang ada. Aku sudah memastikan semuanya.  Semuanya pasti sesuai rencana. Sekarang hyung hanya perlu ke TKP, Ki Bum sudah menunggu dan menyiapkan semuanya”

Jin Ki menatap  Jong Hyun dengan mata berkaca-kaca. “Gomawo, kamu memang saengku yang paling Jjang. Apakah kamu tidak akan ikut? Aku tidak yakin dengan Ki Bum.”

“aku ada janji  hyung. Ini malam tahun baru, saatnya mendapatkan pacar baru” Jong Hyun menepuk pundak Jin Ki, memberinya semangat.

(o.O)

Duar…jdar….jdar…

Preeeet…prettt….. (?)

Suara ledakan kembang api dan terompet tahun baru bergemuruh di seluruh penjuru kota Seoul. Semua orang berteriak menyambut datangnya tahun baru yang akan menjadi wadah cerita hidup yang mungkin akan lebih indah dari tahun sebelumnya. Semua orang berdiri, berjingkrak sana sini, memeluk teman di sebelahnya, menyambut tahun baru dengan lapang dada (?)  dan penuh syukur.

“Haaaaah…” Hyo Rae menghela napas berat.

Dia tidak seperti orang-orang disekitarnya. Dia masih duduk ditempat semula dan terlihat lesu. Sesakali dia menatap langit, mencoba mengagumi percikan kembang api warna warni di langit malam Seoul. Tahun 2012 sudah berlalu, tidak ada yang spesial. Dia hanya merasa 2012 terbuang percuma. Dia tidak bisa terus menunggu seperti ini. Dia mau kejelasan, kejelasan dari seseorang yang selama ini ‘memberi harapan palsu’ padanya.

Pertunjukan kembang api selama tidak kurang dari 15 menit itu pun berakhir. Hyo Rae memutuskan untuk menikmat malam tahun 2013 sedikit lebih lama lagi di taman kota. Dia tidak bisa pulang sekarang, tidak akan bisa. Dia tidak sanggup harus melihat wajah orang menyebalkan itu, senyum menyebalkannya. Orang itu pasti akan mengejeknya malam ini.

‘Kim Jong Hyun, menyebalkan… Kenapa kamu  selalu benar?’ Teriak Hyo Rae dalam hati. Kedua tangannya mengepal kuat, menahan amarahnya.

“Ehem… tes..tes…hana…dul…hana…dul” terdengar suara mikrofon di ketuk.

“Ada apa sih?” Hyo Rae sedikit penasaran dengan suara yang baru saja mengusiknya.

Tidak hanya Hyo Rae, pengunjung taman kota yang lain pun terlihat sedikit penasaran dengan siapa dan apa yang akan terjadi. Sebuah panggung kecil yang beberapa jam lalu merupakan tempat dilaksanakannya pesta kecil penyambutan tahun baru berlangsung –dan telah berakhir- kembali berpenghuni. Apakah pestanya belum selesai?

“Ehemm…. Selamat malam semuanya. Selamat tahun baru 2013” Sapa seseorang dengan sangat kikuk dan basa basi yang basi tentunya.

Telinga Hyo Rae bergerak-gerak seperti telinga kelinci mendengar suara yang baru saja mampir di telinganya. Dia mengenal suara itu, suara yang sangat familiar. Bahkan dengan mata tertutup dan sang pemilik suara memalsukan suaranya pun, dia tahu siapa pemilik suara itu. Senyum Hyo Rae merekah,  apakah itu dia? Apa yang akan dia lakukan? Apakah……?

(o.O)

“Ehemm…. Selamat malam semuanya. Selamat tahun baru 2013” Sapa seorang pemuda. “Jeoneun Lee Jin Ki imnida.

“Kim Ki Bum imnida” teriak seseorang di belakang panggung, dan itu percuma. Tidak ada yang akan mendengarkan.

Jin Ki nyengir kuda. “Saya…emmm” Jin Ki menggaruk-garuk kepalanya yang memang gatal karena terlalu banyak memakai hair spray. “Bisakah saya mengganggu waktu kalian sebentar?”

Semua mata pengunjung taman kota Seoul menatap penuh tanya. Ada perlu apa pemuda ganteng itu meminta waktu mereka? Apakah  dia pejabat  kota? Atau orang penting yang perlu didengarkan?

Jin Ki menarik napas dalam dan menghembuskannya melalui mulutnya –untuk menghilangkan nervous.“Sebenarnya saya disini hanya mau membuat seseorang menyadari isi hati  saya” katanya mantap.

Sontak sebagian besar gadis, wanita, ibu-ibu dan nenek-nenek (?) yang sudah sedari tadi ber-‘wah’ ria, terlihat antusias. Mereka memang tidak yakin kalau mereka yang dimaksud Jin Ki, tetapi siapa tahu ada keajaiban di tahun baru ini. Orang gila, begitu sebutan untuk seluruh perempuan di dunia yang tidak menginginkan Jin Ki –bahkan orang gila juga menginginkannya. Dia sempurna dengan senyum bak kilauan berlian, suara yang melumerkan dan wajah –jangan ditanya.

“Saya….” Jin Ki mempererat genggaman tangannya pada mikrofon. “Saya akan menyatakan perasaan saya pada seseorang. Saya yakin dia masih disini. Mungkin sedang duduk sendirian –aku harap. Mungkin dia sedang bingung karena aku sangat nekad melakukan ini. Tetapi, ini aku lakukan demi dia”

“yuhuu… lanjutkan bung, aku mendukung!”

“bagus kawan!”

“pantang mundur! Buat dia jadi milikmu”

Begitulah teriakan beberapa pemuda, bapak-bapak hingga kakek-kakek yang salut akan usaha Jin Ki. Jin Ki terlihat makin bersemangat dan yakin. Dia  tidak akan mundur, tidak akan lagi. Dia tidak akan bersembunyi dibalik batu –seperti udang- (?) lagi. Tahun ini, dia akan memilikinya. Dia  akan membuat gadis itu menyadari keberadaannya –dalam arti yang berbeda.

“Baiklah… aku akan memulainya” Jin Ki memejamkan matanya sejenak, mengumpulkan keberanian.

Di belakang panggung, Ki Bum mengambil seluruh kendali.  Dia sudah siap dengan musik latar, dan beberapa efek yang akan mendukung acara ‘pengakuan cinta’ Jin  Ki. Dia sudah menghafal diluar  kepala tugasnya –itu menurutnya.

Jin Ki membuka matanya yang indah itu. “Hey…. Yoeja berbaju biru yang  telah mencuri hatiku, mendekatlah! Jangan  berani kabur dariku” Jin Ki terlihat sangat mantap dengan dialog pertamanya.

Berbaju biru? Entah kenapa malam ini banyak sekali orang memakai baju biru. Ada angin apa? Apakah konsep tahun 2013 adalah warna biru? Tidak ada yang mempedulikan itu sebelumnya. Dan sekarang, semua mulai menyadari –kenapa mereka berbaju biru?

“aku berbaju biru. Apakah maksudnya aku?” kata seorang gadis sambil jingkrak-jingkrak.

“Aku? Dia menyukaiku?” suara gadis lain –terdengar senang.

“kyaaaa…” teriakan gadis lain –merasa beruntung menggunakan baju biru.

“Aku, itu pasti aku. Apakah dia pengagum rahasia yang selalu mengirimiku bunga?”

“aku tidak mengenalnya. Tetapi aku tidak akan menolak menjadi pacarnya”

“Yakk…..kita putus! Aku menemukan yang lebih tampan darimu”

Begitulah sebagian kecil kutipan reaksi beberapa gadis dibawah umur hinggal diatas  umur(?) –nenek-nenek- yang kebetulan memakai baju biru malam ini. Mereka segera berbondong-bondong berlari mendekati panggung. Mengelilingi panggung itu, persis seperti para fans yang mengerubuti artis hallyu. Jin Ki terkejut setengah mati. Dia tidak menyangka akan ada sebanyak ini yang memakai baju biru. Jin Ki sedikit menyeret kakinya ke bagian belakang panggung.

“Ki Bum~a” panggilnya. “Ki Bum~a!”

“Oh…Ne hyung”

“Lihat…apakah kamu bisa menemukannya? Terlalu banyak yoeja yang menggunakan baju biru. Kenapa sih warna favoritnya sangat pasaran?” gerutu Jin Ki.

Ki Bum berdecak kesal. “Hyung… bisa tidak jangan mengeluh? Aku akan menemukannya. Jong Hyun sudah menjelaskan apa yang harus aku lakukan dengan berbagai kemungkinan terburuk yang terjadi. Hyung berkonsentrasi saja pada tugas hyung.”

“Apa kamu yakin ini akan berhasil?”

“Jong Hyun sudah memastikan semuanya. Sebelum ‘dia’ keluar rumah tadi, Jong Hyun sudah memastikan semuanya”

“Baiklah… doakan aku”

hwaiting..hyung!”

(o.O)

Hyo Rae terlihat penasaran dengan  keributan yang di perbuat seseorang yang sangat dia kenal itu. Dia tidak mendengar dengan jelas apa yang diucapkan sang pembuat keributan itu. Setelah menimbang disana-sini, Hyo Rae memutuskan untuk meninggalkan tempat duduknya dan mendekati panggung itu. Dia ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi.

“Aish… Apa yang dia lakukan?”

Syal hijau toska yang sedari tadi hanya terlilit dilehernya, kini telah menutupi hampir separuh wajahnya. Udara malam semakin dingin dan membuat bibirnya membiru. Mungkin lebih baik dia segera pulang, tetapi apa yang sedang dilakukan sang pembuat keributan itu membuat dia penasaran. Ada sedikit sengatan di hatinya yang meyakinkan dia kalau hal baik akan terjadi malam ini, jika dia menunda untuk pulang.

“Hey…. Yoeja berbaju biru yang  telah mencuri hatiku, mendekatlah! Jangan  berani kabur dariku” kalimat itu sampai ke telinga Hyo Rae.

“Berbaju biru?” Hyo Rae menatap dirinya sendiri. “Biru?”

Hyo Rae kembali melirik pakaian yang dia kenakan. Tidak ada satu pun benda berwarna biru yang melekat di tubuhnya.Pranggg. Seperti ada sesuatu yang pecah di dalam diri Hyo Rae. Pecah berkeping-keping, tidak berbentuk lagi.

“Jin Ki oppa… Dia menyukai yoeja lain? Yoeja itu ada di taman ini sekarang?” Hyo Rae merasakan sesak didadanya. Seandainya dia memilih untuk segera pulang tadi. “Aku harus bagaimana? Pulang? Atau melihat wajah yoeja yang sangat beruntung itu?” Hyo Rae mulai berbicara sendiri seperti orang gila –kebiasaanya. “Hiks… Lee Jin Ki, aku disini. Kenapa bukan aku yang oppa suka?”

Pundak Hyo Rae naik turun. Dia sesenggukan menahan tangis. Tanpa ragu dia melangkahkan kaki menuju kerumunan orang yang mengelilingi panggung itu. Hati sangat sakit dengan kenyataan ini, tetapi dia juga mau tahu siapa gadis yang disukai Jin Ki. Siapa gadis yang selama ini menutup mata Jin Ki untuk menatapnya. Bagaimana hebatnya gadis itu, sehingga Jin Ki hanya membatasi hubungan mereka –Jin Ki dan Hyo Rae- hanya sebatas teman dekat –hobae sunbae.

(o.O)

“emmm…” Jin Ki sudah berada di tengah-tengah panggung lagi. Menatap seluruh penonton berbaju birunya. Sesekali dia terlihat mencari orang yang dia maksud diantara kerumunan orang di depannya. Dia tidak bisa menemukannya.

“aku meminta maaf padamu. Kamu pasti sedang berada di sini, memperhatikan tindakan nekad yang sedang aku lakukan. Kamu mungkin sangat malu, sehingga tidak ada diantara yoejadeul berbaju biru di depanku ini.” Jin Ki berbicara tidak karuan –karena gugup.

“Ya ampun hyung”  Ki Bum terlihat kesal di belakang panggung.

“Baiklah… aku akan to the point. Aku menyukaimu, sangat menyukaimu” Jin Ki menggelengkan kepalanya. “Oh… aku tidak hanya menyukaimu. Aku mencintamu. Aku mencintai segala yang ada pada dirimu. Aku mencintai dirimu yang memanggil aku oppa. Aku mencintai senyum manismu itu. Aku mencintaimu sejak awal kita bertemu. Mungkin kamu sama sekali tidak menyangka, karena aku selama ini diam.”

Jin Ki menarik napas. “aku diam bukan karena aku menganggapmu biasa-biasa saja. Kamu sangat special bagiku. Aku diam karena aku takut kamu akan menjauhiku. Aku gila jika terus berpikiran negatif seperti itu. Dan setelah 2 tahun ini terus merasa takut dan bersembunyi, aku ingin menunjukkan ke semua orang. Bahwa…”

Ki Bum bersiap-siap dengan tugasnya. “Hyung…lanjutkan!”

Saranghamnida, Hyo Rae~a” teriaknya mantap.

Kembang api kembali meledak di langit –salah satu tugas Ki Bum.  Kembang api berwarna merah membentuk percikan indah di langit hitam. Percikan merah itu membentuk bunga mawar besar. Kembang api kedua kembali meluncur, kali ini berwarna merah muda. Kembang api itu meledak dilangit dan membentuk lambang hati.

Semua orang menikmati pertunjukan kembang api singkat tetapi sangat –cukup- romantis itu dengan tepuk tangan salut. Ki Bum yang juga sempat terpesona oleh keberhasilan kerjanya hampir melalaikan tugasnya. Dia segera berlari ke samping panggung. Mata jelinya men-scan puluhan gadis berbaju biru yang juga sedang ber-‘wah’ pada kembang api buatannya.

“Dimana dia? Kenapa tidak ada? Ah… merepotkan kalau harus mencarinya di kerumunan ini. mereka semua terlihat sama. Perubahan rencana, modifikasi rencana.” Ki Bum kembali berlari ke arah belakang panggung.

(o.O)

Saranghamnida, Hyo Rae~a” teriakan mantap Jin Ki sampai di telinga Hyo Rae yang berjarak kurang lebih 100 meter dari tempat Jin Ki berdiri.

Hyo Rae hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Jin Ki menyatakan cinta padanya? Dia menyatakan cinta dengan cara cukup aneh ini? Hyo Rae semakin terperanjat mendapati ledakan di langit hitam itu. Kembang api merah dan besar membentuk percikan menyerupai bunga mawar –kesukaannya. Setelah itu ledakan berikutnya membentuk percikan merah muda berbentuk hati.

mwoya?” Hyo Rae bergidik.

Dia memang senang dengan apa yang dilakukan Jin Ki. Tetapi, kenapa jadi berlebihan begini? Bukankah ini semua sangat kekanak-kanakan?

“Ini harus dihentikan!”

Hyo Rae berjalan mantap mendekati panggung. Kali ini dia akan bertatap muka langsung dengan Jin Ki. Dia akan menghentikan kegilaan ini. Cukup sudah Jin Ki mempermalukan dirinya sendiri.

“Kim Jong Hyun… ini pasti ulahmu!” katanya geram.

(o.O)

Hyung…”  panggil Ki Bum.

“emmm?”

“Aku tidak bisa menemukannya, terlalu banyak orang. Panggil saja dia dan suruh naik ke  atas panggung”

“Oh…baiklah”

Jin Ki kembali mengambil posisi. Sebelumnya dia mencoba mencari sendiri, men-scan buruannya. Ternyata memang sulit, dia tidak bisa menemukannya. Ada banyak sekali gadis berbaju biru malam ini, sangat sial.

“Hyo Rae~a… kemarilah! Bisakah kamu menemuiku dan memberikan jawaban?”

Gadis-gadis berbaju biru itu segera berubah ricuh. Mereka menoleh kanan kiri, bertanya siapakah di antara mereka yang bernama Hyo Rae. Tanpa diduga,  sekitar 10 orang mengaku bernama Hyo Rae dan berlari berbondong-bondong naik ke atas panggung. Wajah Jin Ki berubah pucat pasi, terkejut setengah mati.

“Ki Bum~a…tolong aku!” jerit Jin Ki.

Ki Bum segera naik ke atas panggung dan berdiri di samping Jin Ki. “Hyung…kenapa jadi begini?”

Molla… bukankah kamu yang lebih tahu?” Jin Ki hampir jatuh pingsang.

“Yakkk….” Ki Bum menopang tubuh Jin Ki. “sadarlah hyung!”

Otthokae?” Jin Ki terdengar frustasi.

Kesepuluh gadis berbaju biru itu berjejer dengan rapi di atas panggung. Mereka seperti para peserta Miss Seoul atau semacamnya. Semuanya terlihat tersenyum lebar –sangat senang. Ki Bum kini telah memegang mikrofon juga, dia mirip pembawa acara suatu ajang –Miss Seoul. Lalu Jin Ki? Dia terkulai lemas –Shock– Hyo Rae yang dia cari tidak ada. Tidak ada diantara gadis yang mengaku bernama Hyo Rae ini. Apakah Hyo Rae malu sehingga enggan untuk naik panggung? Atau ada yang salah dengan scriptnya? Mungkin Hyo Rae tidak ada ditaman ini, mungkin dia tidak mengenakan baju biru dan sebagainya. Dan yang paling parah, mungkin –atau pasti- Hyo Rae tidak menyukainya.

“Hey…. Nama kalian Hyo Rae?” tanya Ki Bum

Semuanya mengangguk semangat. Ki Bum berdacak kesal. Dia tahu mereka pasti mencuri kesempatan dalam peluang (?). Bak seorang petugas sensus penduduk(?), Ki Bum mulai mendekati satu persatu gadis-gadis berbaju biru itu.

Ki Bum tanpa basa basi. “Kartu pengenal, keluarkan!”

“Aku Hyo Rae, kenapa harus di cek?”

“Mungkin saja kamu mau menipu, mengaku bernama Hyo Rae agar bisa menjadi pacar hyung” jawab Ki Bum sinis. “Cepat serahkan!”

“Kenapa bukan dia yang melihat kita satu persatu dan mencari Hyo Rae yang dia cari?” usul gadis pertama.

“Dia sedang galau. Jangan banyak tanya, serahkan saja!”

“Ini!” Gadis itu memberikan dengan enggan.

Ki Bum melakukan hal yang sama pada gadis lainnya. Beberapa di antara mereka terlihat kesal. Seandainya bukan karena wajah Jin Ki yang tampan, mereka juga enggan melakukan ini. Tetapi mereka semua terlanjur jatuh hati pada Jin Ki.  Apapun akan mereka lakukan demi Jin Ki.

(o.O)

Ki Bum terbelalak. “Hyung…nama mereka memang Hyo rae. Hanya ada 3 orang yang memaksakan nama mereka Hyo Rae, padahal bukan”

“Ki Bum~a… yang aku cari Han Hyo Rae. Dan nama itu cuma ada satu di dunia” Jin Ki mulai frustasi.

“Lalu bagaimana? Tidak ada yang bernama Han Hyo Rae. Adanya Oh Hyo Rae, Kim Hyo Rae, Park Hyo Rae, Lee….”

Andwae….stop! Suruh mereka pergi. Aku pusing” Jin Ki mengacak- acak rambutnya. “Kim Jong Hyun… aku memang punya firasat ini ide gila. Kamu mengerjaiku”

Ki Bum dengan susah payah mengusir 10 gadis yang mengaku Hyo Rae. Semua yang mereka rencanakan memang tidak mencapai sasaran alis tidak berhasil. Jin Ki memeluk lututnya frustasi di sudut kiri belakang panggung.  Dia sangat malu sekarang. Apakah sebaiknya dia bunuh diri?

Kerumunan orang-orang mulai menjauhi panggung itu. Bahkan mereka terlihat kecewa –marah- dan melangkahkan kaki untuk pulang. Beberapa dari mereka merasa kasihan dengan acara ‘pengakuan cinta’ Jin Ki yang gagal. Tetapi tidak sedikit yang mengumpat kesal karena merasa dipermiankan.

Hyung…” Ki Bum menghampiri Jin Ki yang masih terduduk lemas.

“emmmm….”

Kajja, kita pulang!”

Jin Ki menghela napas berat. “Apakah aku memang tidak pantas untuknya, Ki Bum~a?”

Ania” Ki Bum geleng-geleng kepala. “Hanya waktu belum mengizinkan.

“Oppa, ige mwoyeyo?”

Jin Ki langsung mengangkat kepalanya. Dia sangat kenal suara ini. “Hyo Rae~a?”

“Hyo Rae~a?” Ki Bum berjingkrak senang.

“ada apa, oppa?”  katanya polos –pura-pura tidak tahu.

Ki Bum  memukul kepalanya sendiri. “Ah…pantesan tidak datang dari tadi. Bajunya coklat.  Tsk…”

“Hyo Rae~a” Jin Ki masih belum sadar dari rasa senang berlebihanya.

Hyo Rae terkekeh. “Ne….oppa mencariku? Aku tidak ada diantara mereka. Aku tidak memakai baju biru”

Annyeong….” Ki Bum mengendap-endap pergi.

Jin Ki berdiri tegap lagi. wajahnya pasti sangat merah sekarang menahan malu. Malu yang teramat sangat besar. Apalagi, sepertinya Hyo Rae mendengar semuanya dari awal –memang.

Mianhae Hyo Rae~a… anak-anak nakal itu memberi infromasi  yang salah. Mianhaeyoe!”

“apakah ini ide Jong Hyun oppa?” Hyo Rae kembali tertawa. “Sebelumnya, aku memang memakai baju biru. Tetapi karena sangat dingin, aku mengganti dengan yang lebih tebal. Dan  oppa harus tahu, warnanya coklat.”

Jin Ki memainkan jari-jarinya karena gugup. “Mianhaeyoe… nan babo, noemu babo”

“Ne…neomu babo

mianhaeyoe”

“Hentikan oppa. Oppa babo!babo!babo!babo!” teriak Hyo Rae kesal.

Wae?” Jin Ki membelalakkan matanya, tidak mengerti. Kenapa Hyo Rae marah?

oppa tanya kenapa? Kenapa oppa baru menyadarinya sekarang? Kenapa oppa baru mengakuinya sekarang? Apa oppa tidak tahu, aku menunggu cukup lama. Dan begini cara oppa menyatakan perasaan oppa padaku?”

Jin Ki menelan ludah. “Mian… aku….”

Mwo? Alasan apa lagi sekarang?” Hyo Rae mulai terisak –kelas.

Uljima…

Hyo Rae mulai menangis sekencangnya. Dia meluapkan semua kekecewaan dan kekesalan yang dia alami melalui tangisnya. Jin Ki semakin panik. Dia mondar-madir kesana kemari. Dia tidak tahu harus bagaimana meredakan tangis Hyo Rae. Akhirnya Jin Ki memutuskan mendekatkan sedikit wajahnya ke wajah Hyo Rae. CUP~~~. Hyo Rae membelalakan matanya. Jin Ki segera mundur. Ternyata dia salah perkiraan. Niat awal yang ingin mencium bibir Hyo Rae malah terhalang syal Hyo Rae yang menutup setengan wajahnya. Al-hasil, Jin Ki mencium bibir Hyo Rae tetapi terhalang syal. Sama saja seperti tidak terjadi apa-apa kan?

noemu babo!” Hyo Rae semakin kencang menangis.

“mianhae, Hyo Rae~a. saranghamnida” Jin Ki memutuskan untuk memeluk Hyo Rae saja. “Saranghae, Han Hyo Rae!” bisiknya pelan ditelinga Hyo Rae.

Hyo Rae membenamkan wajahnya dalam pelukan Jin Ki. “Emmm… joengmal saranghae, oppa!”

(o.O) END (o.O)