[Ficlet] You're Not a Bad Boy, Hyunseong ver.

Title                       : You’re Not a Bad Boy, Hyungseong ver.

Author                  : Choi Chan Yoen/ Yunn Wahyunee

Genre                   : Sad, Angst

Rating                   : General

Length                  : Ficlet

Casts                     : You a.k.a Song In Yoon| Hyunseong a.k.a Shim Hyun Seong| And others cast

 

Tubuhku mulai mengigil kedinginan. Pipiku terasa panas dan bibirku membiru. Di sinilah aku sekarang, duduk sendiri di halte bis menunggu seseorang. Aku melirik jam tanganku, waktu menunjukkan pukul 9 malam. Aku sudah menunggu sekitar 3 jam di halte bis yang berjarak sekitar 50 meter dari pintu masuk universitasku.

Sesekali aku mengosokkan kedua tanganku yang terbungkus sarung tangan biru untuk mendapatkan sedikit kehangatan. Sebagian wajahku sudah terbenam dengan tidak begitu nyaman di balik syal yang berwarna senada dengan sarung tanganku. Salju perlahan turun, tidak teralu banyak tetapi cukup untuk menurunkan suhu malam ini.

“In Yoon-ah!” Aku segera menoleh. “Ige…”

Oppa… xixixi,” aku cekikikan dan menerima segelas coklat panas yang di sodorkan padaku.

Dia duduk disampingku. “Mianhae… apakah aku membuatmu menunggu lama? Apakah kamu kedinginan?” Dia memaksa aku menatapnya dan menangkupkan kedua telapak tangannya di pipiku. “Oh… kamu membeku. Mianhae…

Gwaenchanha, Oppa! Aku tidak membeku, jadi Oppa jangan melebih-lebihkan.Oh… gomawo,” aku meminum coklat panasku dengan susah payah karena tangannya masih berada dipipiku “Wahh… Mashita.”

Yak… tidak bisakah memintaku melepas tanganku dulu sebelum minum? Bukankah akan lebih memudah meminumnya?” Dia melepaskan tangannya, “Dasar aneh!”

Aku tertawa cekikikan. “Mianhamnida, mama!”

Aigoo… kamu masih bisa tersenyum dengan bibir membiru itu?”

Gwaenchanha,  Shim Hyun Seong-ssi. Nan Gwaenchanha. Bibirku tidak membiru dan membeku,” elakku. “Lagian, siapa bilang aku lama menunggu Oppa di sini? Aku baru saja datang 3 menit yang lalu.”

“Bukan 3 jam yang lalu?” Dia menatapku serius.

Aku tertawa kecil. Bagaimana dia bisa tahu? “Tentu saja tidak. Aku hanya menunggu 3 me…,” kalimatku terpotong.

Chu~~~. “Jangan berbohong. Bibirmu terasa dingin tahu. Kajja, kita pulang!”

Aku masih terkejut setengah mati. Dia baru saja mencium –kilat- bibirku? Pipiku semakin memerah sekarang. Tubuhku membeku kaku, bukan karena dingin tetapi karena kelakuakn tanpa permisinya tadi.

Yeoja sok kuat… mau sampai kapan duduk di situ. Kajja!” Hyun Seong oppa meraih tanganku dan sedikit memaksa aku berdiri dan mengikutinya. “Mianhae…,” tambahnya, terdengar ada nada penyesalan dan sedih pada suaranya.

Nan Gwaenchanha. Oppa tidak salah apapun. Aku tahu Oppa sangat sibuk.”

“Kenapa tidak langsung pulang saja?”

Aku tersenyum dan merangkul lengannya manja. “Shireo… aku sudah janji akan menunggu Oppa, jadi akan aku tunggu sampai kapanpun.”

“Walaupun kamu mati membeku?” Hyung Seong menatapku serius.

“Emmm…,” aku menganguk kecil. “Aku akan melakukannya.”

Andwae… kalau kamu tidak ada, siapa yang akan menungguku lagi?”

Aku pura-pura berpikir. “Yeoja yang Oppa sukai?”

“Dan itu kamu, hanya kamu.”

Gomawo!” aku terkekeh.

Saranghae.

“Emmm… arayeo!”

Aku masih bergelayut manja pada lengan kanan Hyung Seong oppa. Beberapa kali dia menatapku dan tersenyum kemudian mengacak-acak rambutku. Kami akhirnya harus berjalan kaki menuju stasiun kereta api terdekat karena bis terakhir menuju rumah kami sudah lewat 30 menit yang lalu. Rumah kami? Aku dan Hyung Seong oppa adalah tetangga, dan itu hubungan biasa kita. Dan yang spesial adalah aku dan dia berpacaran sejak 2 tahun yang lalu.

~xXx~

“Kenapa cemberut, my angel?” Hyung Seong oppa menggodaku.

Obsoyoe… gwaenchanha.

Dia menghela napas. “Selalu begini, baik-baik saja. Apakah kamu selalu baik-baik saja? Ayolah… katakan pada Oppa apakah ada masalah?”

“Hanya masalah kecil, tentang ujian akhir mata kuliah instrument musik…,” jawabku ragu. Tanganku tidak bisa berhenti memainkan sendok ice cream coklat di atas  meja bundar berwarna putih milik café ice  cream langganan kami di seberang universiasku.

“Kamu butuh partner? Baiklah… oppa akan menjadi partner-mu. Kapan ujiannya?”

“5 hari lagi.”

“Baiklah… hubungi Oppa jika kita perlu latihan.”

“Gomawo, Oppa!”

“Popo…,” Hyung Seong menepuk-nepuk pipi kanannya dengan telunjuknya.

Aku cekikikan –lagi. “Oppa…,” aku menggelengkan kepala sekencang mungkin. “Tunggu… bagaimana oppa tahu ujian akhir mata kuliah ini membutuhkan partner?”

“Pertanyaan bodoh, neomu babo. Aku sudah lebih dulu menjadi mahasiswa jurusan musik. kamu lupa?”

Mianhaeyeo…

Dia menjitak kepalaku. “Nanti kita pulang bersama lagi, eohOppa janji tidak akan telat dan keasyikan latihan dengan anak-anak nakal itu.”

Aku hanya menganguk mengiyakan. Aku tidak pernah bisa berkata tidak atas permintaanya. Apakah mungkin karena aku sangat mencintainya? Sudah pasti itu jawabannya.  Walaupun sebenarnya aku terkadang kecewa dengan sikap acuh tak acuhnya, tetapi aku sangat mencintainya –bagaimana pun sifatnya.

Terkadang aku nyaris menyerah, menyerah pada sifatnya yang terkadang tidak peduli padaku. bisikan-bisikan aneh dari orang-orang disekitarku selalu membuat aku hampir meninggalkannya –dalam  arti mengakhiri hubungan kita. Dia tipe orang yang suka ingkar janji, menganggap segalanya hanya masalah tidak penting, dan mengiyakan segalanya tanpa berpikir panjang. Tetapi dari itu  semua, dia adalah namja yang baik. Dia namja yang selalu membuat aku tersenyum, berdebar-debar dan hidup. Mungkin hanya aku yang sanggup menjalani hubungan ini dengannya, karena seperti katanya –aku yeoja yang kuat.

Saranghae…,”  suara indahnya membuyarkan lamunanku.

“Emm…,” aku segera menatapnya. “Morago?”

Dia meraih tangan kananku dan menggenggamnya erat. “Saranghae… aku mohon jangan pernah menyerah padaku,” dia menatapku makin serius. “Apakah kamu lelah terus bersamaku, In Yoon-ah? Aku selalu membuatmu menungguku hinggal kesal, melanggar janji. Kemudian membuatmu kesal. Aku sadar itu salahku. Aku selalu   berusaha merubah sifatku itu. Nan nappeun namja.

Oppa,gwaenchanha. Oppa  bukan orang seperti itu. Aku tidak akan menyerah, sampai kapanpun. Oppa bukan masalah untukku. Oppa adalah anugrah buatku,” aku berusaha tersenyum semanis mungkin untuknya.

Jinjae?  Ternyata Yeoja-ku bisa nge-gombal juga.” Hyung Seong oppa mencubit kedua pipiku.

Oppa, apheun. Lepaskan!” aku meronta.

“Jadi…,” dia melepaskan tangannya. “Alat musik apa yang akan kamu mainkan. Gitar,biola atau  piano?”  Hyung Seong oppa melahap sesendok penuh ice cream tiramissunya. “Lalu… kita akan memainkan lagu apa?”

“Emm…,” aku berpikir keras.

~xXx~

Aku berusaha tersenyum dan melupakan masalah yang selama hampir 5 hari ini membuat aku sangat dongkol. Aku mencoba untuk tidak marah dan menganggap semuanya hanya masalah tidak penting, namun  entah mengapa dadaku selalu sesak mengingatnya. Aku terus menyibukkan diri dengan menyetel ulang senar gitarku. Ingin rasanya aku membanting gitar ini dan berteriak sekeras mungkin.

“In Yoon-ssi… mianhae, aku terlambat,”  terdengar suara napas yang tersengah-engah.

Aku menatap  pemilik napas itu dengan senyum merekah yang dibuat-buat. “Oh… Jin Young-ssi. Hampir terlambat, tetapi tidak sepenuhnya terlambat. Gomawo, aku pasti sangat merepotkan sunbae.

Choenma… aku senang bisa membantu,”  dia  duduk disampingku.

Aku hanya membalasnya dengan senyumanku. Hari ini adalah adalah hari  ujianku. Semua  orang menatapku dengan tatapan aneh mereka. Dan secara bergantian mereka akan menatap ke arah sepasang orang yang duduk 3 kursi didepanku –sedikit kebawah, menurun. Mereka terlihat senang, tertawa dengan bahagia.

Aku tidak berpasangan dengan Hyung Seong oppa –tidak jadi atau dibatalkan- dalam ujianku ini.  Ujian akhir instrument musik  hari ini mengharuskan peserta ujian memainkan alat musik  untuk mengiringi seseorang yang akan bernyanyi. Dan diharuskan memilih senior yang notabennya –lumayan- mahir bernyanyi.   Peserta ujian harus mampu mengimbangi permainan sang penyanyi. Begitulah garis besar penilaian untuk ujian akhir ini. Seperti kataku tadi, aku tidak jadi  berpasangan dengan Hyung Seong oppa. Bukan karena tidak boleh, tetapi dia berpasangan dengan orang lain.

Hyung Seong membatalkan janjinya setelah secara tidak sengaja berkata ‘Ne… aku bisa’ pada seorang yeoja yang setahuku  selalu mengejar-ngejarnya. Lalu apa yang aku lakukan? Aku  hanya bisa mengalah dan meminta bantuan seorang senior yang ditawarkan Hyung Seong oppa untuk menggantikannya.

Gwaenchanha, In Yoon-ssi?”

Nde?” Aku segera menghentikan tatapan kesal yang tertuju pada Hyung Seong oppa dan Go Mi Sun –yeoja perebut pasanganku.

“Kamu yeojachingu-nya Hyung Seong kan?”

“Emmm…”

“Lalu, kenapa bukan berpasangan dengannya. Kenapa dia bersama Mi Sun?”

Aku mencoba tersenyum senatural mungkin. “Bukankah sunbae sudah tahu? oppa tidak  cerita?” Aku menghela napas.

Jin Young sunbae menggelangkan kepalanya.

Oppa­-ku hanya tidak bisa berkata tidak. Lagian aku tidak keberatan.”

“Tidak cemburu?”

Aku mengeleng pelan. “Sedikit… tidak tahu,” jawabku singkat.

“Hyung Seong mengambil keputusan yang salah. Dia keterlaluan.”

Nde?” Aku menatap Jin Young sunbae penuh tanya.

“Aku memang tidak mengenal dia cukup lama. Tetapi aku sudah tahu luar dalam sifatnya. Bukannya aku ingin menjelek-jelekkan dia didepanmu. Kamu pasti lebih tahu bagaimana  dia.  Tetapi tidakkah kamu terlalu memaksakan diri?”

“Aku mengerti maksud sunbae. Aku sudah terikat dengannya. Dan aku tidak bisa memutuskan ikatan itu begitu saja, kecuali  dia yang memintanya sendiri.  Entah itu keluar langsung dari mulutnya, atau dengan tingkahnya. Beruntungnya sampai saat ini dia belum mendepakku,” aku tertawa terkekeh, menyembunyikan sedikit rasa sakit di hatiku.

“In Yoon-ssi… gwaenchanha?”

“Emm…”

~xXx~

Received message……

From: My angel

My angel… pertunjukanmu tadi sangat bagus. Dosen sok galak itu sampai tepuk  tangan. Oppa yakin kamu pasti mendapat  nilai tertinggi. Oppa saja sampai terbawa suasana mendengar petikan gitarmu.  Jangan menunggu oppa terlalu lama  di halte. Jika  oppa belum datang dalam 30 menit, tolong susul oppa di tempat latihan,eoh?”

Aku tersenyum senang, sekarang tanpa dibuat-buat. Pesan panjang lebarnya itu membuat pipiku merona merah. Aku sudah hampir  bisa melupakan masalah sebelumnya.

To: My angel

Ne, oppa ^^  gomawo. Baiklah aku akan menunggu. Aku janji! Dan aku harap jangan membuat aku mencarimu ke tempat latihan. Aku benci harus bertemu chingudeul oppa yang menyebalkan itu. kekeke

Message  send….

~xXx~

Aku rasa sudah 30 menit aku menunggu. Hyung Seong oppa  belum kunjung terlihat. Haruskah aku menunggu sedikit lebih lama? Atau aku harus mengikuti kata-katanya, menyusulnya? Mungkin sebaiknya aku menelepon dia dulu. Aku menekan nomor 4 pada ponselku dan akan terhubung padanya. Suara seorang yeoja  yang menjawab teleponku. Jangan salah sangka, itu hanya suara operator provider. Seperti biasa, ponsel Hyung Seong oppa tidak aktif. Aku memang lebih baik menyusulnya.

Keadaan  universitasku tidak terlalu sepi. Jam tanganku baru menunjukkan pukul 7 malam. Masih banyak aktifitas yang terjadi di sini. Sedikit bersenandung aku melangkah menuju tempat Hyung Seong oppa dan chingudeulnya latihan. Dia terkadang latihan bernyanyi dan dance dengan beberapa temannya. Namun lebih sering hanya mengobrol sana sini dan tidak jelas.

“In Yoon-ssi… kamu mau kemana?” panggil seseorang.

“Oh… Jin Young sunbae. Aku akan menemui Hyung Seong oppa.Dia meminta aku untuk menemui jika dia telat lagi.

Jin Young sunbae terlihat sedikit  aneh. “Emm… tadi aku melihat dia di sekitar gedung UKM. Mungkin dia masih disana,” katanya ragu.

Gomawo, sunbae,” aku menatapnya curiga. Dia seperti menyembunyikan sesuatu.

“Jaga dirimu, In Yoon-ssi,” Jin Young sunbae meninggalkanku begitu saja.

Aku hanya melambaikan tangan. “Oh…,” sesekali aku lihat dia masih menatapku, tatapanya menyiratkan rasa iba padaku. Apa yang terjadi sebenarnya?

Aku kembali melanjutkan perjalananku untuk menjemput angelku. Setelah beberapa kali berpikir, aku memutuskan untuk mengajaknya menonton film sebentar sebelum pulang. Semoga dia tidak menolak. Tidak lama lagi akan akan sampai di tempat yang dikatakan Jin Young sunbae. Tinggal belok kekanan di depan sana, dan aku akan sampai.

“Hyung Seong oppa,” aku mendengar rengekan seorang yeoja di sisi lain jalan yang akan aku tempuh. “Weo, Hyung Seong-ssi?” nama seseorang yang sangat aku kenal terdengar lagi.

Mwoya? Kamu kenapa sih?” Aku tahu itu suara Hyung Seong oppa. Aku mengendap-endap menuju sumber suara.

~xXx~

Author POV

Chu~~~. Yeoja aneh dan sepertinya sekarang kurang waras itu mengecup bibir Hyung Seong  tiba-tiba. Hyung Seong berusaha keras untuk melepaskannya.

“Mi Sun-ssi… apa yang…?”

Pranggg…! Suara berisik yang mungkin berasal dari benda jatuh yang pecah sontak membuat mereka langsung menoleh ke arah sumber suara. Kelebatan bayangan terlihat berlari menjauh.  Kelebatan bayangan itu pasti manusia, tidak mungkin hantu atau sejenisnya. Hyung Seong memperhatikan dengan seksama pot bunga yang sudah hancur berantakan dan tanahnya berceceran dimana-mana. Selain itu dia juga melihat benda lain, sepertinya dia mengenalinya.

“Lepaskan!” katanya kasar dan sedikit mendorong Mi Sun menjauhi. Dia segera memungut benda familiar itu. “Ponsel In Yoon? In Yoon? Oh… andwae,” Hyung Seong segera berlari mengejar bayangan itu. Semoga  belum terlalu jauh.

Author POV END

~xXx~

Aku berlari semampuku, sekuat tenaga yang masih aku punya. Aku terus berlari, berusaha sejauh mungkin. Beberapa kali aku menabrak orang yang aku temui di trotoar jalan. Mereka mengumpat kesal dan marah padaku. aku mencoba mengabaikan mereka, aku menutup rapat kedua telingaku. Aku berlari, masih terus berlari.

Dadaku sesak, sangat sesak. Hidungku terasa tersumbat, udara tidak bisa masuk dan memenuhi paru-paruku. Aku lupa cara bernapas. Aku lupa bagaimana aku harus mengambil napas, mengolahnya dalam paru-paruku dan menghembuskannya lagi. Bahkan aku lupa cara bertahan hidup. Aku lupa, aku ini hidup atau mati?

Bayangan kejadian itu terus saja berputar di otakku, tiada  henti. Semakin memperjelas bagaimana bodohnya aku. Mataku perih, benda aneh dan menyebalkan itu memaksa keluar dari mataku. Mereka terus mendesak ingin keluar. Akhirnya mereka berhasil keluar, membuat genangan di pipiku. Mereka –airmata- membuat aku terlihat semakin bodoh dan menyedihkan.

“Hiks…,” suara isak tangisku tidak tertahan lagi.

Aku berhenti berlari. Bukan karena aku lelah,  hanya saja jalannya sudah berakhir. Bukan benar-benar berakhir, hanya aku hanya harus menyebrang dan melanjutkan lagi langkahku yang terhenti. Aku terus menangis, tidak bisa berhenti. Aku ingin berlari agar tangis ini terhenti. Aku rasa hanya itu jalan keluarnya.

Agassi… gwaecnhanhayoe?” seseorang yang berbaik hati terlihat mengkhawatirkanku yang semakin kencang menangis.

“Emmm… nan gwaenchanha,” kata-kata yang keluar dari mulutku seperti tertahan di tenggorokan, begitu sulit di keluarkan. “Nan gwaenchanha,” tambahku.

Aku menangkupkan kedua tanganku di depan wajah. Menutup wajahku seluruhnya, menyembunyikan airmata yan semakin deras mengalir. Tatapan iba, kasihan dan mencercaku menghujam tanpa ampun. Apa yang aku lakukan? Aku menangis sekenannya di kerumunan orang yang sedang menunggu lampu penyebrangan berwarna hijau? Aku sangat tidak waras sekarang, membiarkan orang lain menganggap tangisanku adalah sebuah tontonan.

~xXx~

Author POV

Hyung Seong berlari dengan langkah sebesar dan secepat mungkin. Dia harus segera menemukannya. Gadisnya pasti sangat terpukul dengan apa yang telah terjadi tadi. Dia tidak mungkin baik-baik saja –lagi. Hyung Seong tahu, In Yoon tidak sekuat itu. Dia adalah angelnya yang pasti akan terluka juga.

“In Yoon-ah….,” panggilnya saat menemukan In Yoon dengan badan yang bergetar, menahan tangis.

In Yoon segera menoleh ke arah Hyung Seong yang ada di belakangnya. Ekspresi wajahnya begitu menyedihkan. Matanya terbuka lebar, dia sangat terkejut mendapati Hyung Seong  tepat didepannya sekarang. In Yoon segera mengusap airmata yang telah membasahi seluruh wajahnya. Airmata itu tetap meninggal warna merah dipipi dan disekitar matanya.

Oppa? Apa yang Oppa lakukan disini?” In Yoon mengembangkan senyumnya. Senyum itu terlihat begitu sakit, miris.

Gwaenchanhayoe?”

“Emm…,” Setetes airmata kembali mengalir. In Yoon segera memalingkan wajahnya.

Hyung Seong melihat airmata itu. “In Yoon-ah!”

Oppa tunggu aku di halte bis saja,” kalimat In Yoon terdengar terputus-putus karena berusaha menahan isak tangisnya. “Aku ingin membeli sesuatu di seberang sana,” suaranya hanya terdengar seperti gumaman.

“In Yoon-ah,”  hanya itu yang bisa keluar dari mulut  Hyung Seong mendapati gadis didepannya itu sedang menangis, berusaha menyembunyikan tangisnya.

Ting…! Lampu penyebrangan berwarna hijau. Berbondong-bondong orang disekiar In Yoon berjalan meninggalkannya –menyebrang jalan. In Yoon masih tertunduk, mengatur napasnya. Entah apa yang dia pikirkan sekarang. Dia sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan?  Haruskah dia marah dan meminta penjelasan Hyung Seong? Atau dia harus pura-pura tidak mengetahui kejadian yang dia lihat sebelumnya dan bertindak normal?  Bertindak normal? Akankah semudah membalikkan telapak tangan?

Oppa, aku pergi dulu. Nanti tokonya tutup,” In Yoon kembali menyuguhkan senyuman miris untuk Hyung Seong. “Tunggu aku di halte!” In Yoon melangkah pergi.

“In Yoon-ah,” panggil Hyung Seong lirih. “In  Yoon-ah!” dia mengejar In Yoon dan segera menyambar tangan kanan In Yoon dan menahannya. “Gwaenchanhayoe? Mianhae…

Nan gwaenchanha, oOpa!” In Yoon berusaha terdengar mantap. Dia tidak berani menatap Hyung Seong, karena airmatanya sudah mengalir lagi. “Tunggu di halte,” In Yoon menarik tangannya dari cengkraman Hyung Seong.

In Yoon kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertahan. Langkah kakinya gontai melintasi  jalan raya dengan garis-garis putih di atasnya. Dia berjalan tertunduk, berusaha tetap terihat baik-baik saja di depan Hyung Seong yang masih menatapnya dari seberang jalan.

“In Yoon-ah!!!!” Hyung Seong berteriak sekencang mungkin. “In Yoon-ah!!!!!”

Nan gwaenchanha, Oppa,” guman In Yoon.

Tiiiiit………ttttiiiiiiitt….tiiiitt…..cietttttt….Brakkk.

“Song In Yoon!!!!!”

~xXx~

Ige…,” segelas coklat panas tersodorkan untuk seseorang. Orang itu duduk diatas kursi roda.

Gomawo,” orang yang disodorkan segelas coklat itu hanya menjawab asal, tanpa senyuman diwajahnya. “Kenapa ke sini lagi?”

Orang itu hanya tertawa terkekeh. “Kamu masih tidak suka aku ke sini, In Yoon-ah?”

Mwoya? Jangan sok akrab denganku,” bentak In Yoon. “Pulang sana!”

“Bukankah aku sudah janji akan selalu menemanimu disini? Aku tahu, rumah sakit itu tempat yang paing membosankan. Aku hanya ingin terus menemanimu agar kamu tidak bosan,” dia tersenyum.

“Janji apa yang kamu maksud? Aku tidak pernah merasa mendengar kamu berjanji padaku. Lagian kamu siapa? Aku tidak mengenalmu sama sekali. Kenapa kamu sok baik dan dekat denganku?” In Yoon meminum dengan kasar coklat panasnya.

Joeneun Hyung Seong imnida. Masih belum ingat?” Hyung Seong tersenyum ramah.

In Yoon menggelengkan kepalanya kencang. “Ania… lagian aku tidak mau berusaha keras untuk mengingatmu. Aku sangat senang sekarang. Aku punya firasat buruk jika aku ingat tentangmu.”

“Bagitukah?” hati Hyung Seong terasa begitu sakit. “Gwaenchanha…. kamu tidak perlu mengingat diriku yang dulu. Cukup ingat diriku yang sekarang saja. Aku janji akan membuat kamu terus senang, tersenyum. Aku tidak akan menyakitimu. Aku akan membuat kenangan indah untukmu. Aku janji akan melakukan semua itu,” Hyung Seong tertawa kecil. “Sebagai langkah awal, mari kita berteman.”

In Yoon hanya menatap pemuda disampingnya ini dengan tatapan bingung. Pemuda itu tersenyum padanya, tetapi senyum itu terlihat menyiratkan kepedihan. Dia sama sekali tidak mengenal pemuda itu.  Atau lebih tepatnya, dia sama sekali  tidak mengingat Hyung Seong. Siapa sebenarnya pemuda itu, dan apa hubungannya dengannya? Dia tidak tahu, dan sebaiknya tidak perlu tahu.

_END_