Tags

, ,


please don't go

Title:

Please Don’t Go part 2

Author:

Choi Ye Joon a.k.a Choi Chan Yoen/ Yunn Wahyunee

Genre:

Romance, Fantasy, Sad (?)

Length: Two Shoot

Rating: PG-17

Main Casts:

Kim Chan Yoon (imajinated/you)

Kris a.k.a Wu Yifan

Support Casts:

Luhan a.k.a Xi Luhan

Suho a.k.a Kim Jun Myeon

Sehun a.k.a Oh Sehun

Etc.

Summary :  Aku mohon jangan  pergi. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menunggumu disini. Aku mohon, bawalah aku.

A/N:  FF ini milik author. Wu Yifan (kris) milik author juga #plak#. Casts yang lain milik kalian dan Tuhan semata. Ini adalah FF pertama author yang dipublish diWP ini dengan castnya member EXO. Semoga tidak membosankan. Maaf apabila ada kesamaan nama, tempat dan kejadian. Semuanya terjadi karena semata-mata ulah author yang notabennya manusia. Mianhae #bow# apabila ditengah jalan(?) reader tidak menemukan kesinambungan antara judul dengan isi. Author juga bingung kenapa. Jadi mianhamnida. Bye……

Warning: Typo bertebaran dan kebingungan yang mungkin akan reader alami. Tulisan bold+italic adalah flashback. Keseluruhan plot adalah choi chan yoon, kecuali ada pemberitahuan (?). Ada beberapa sceen yang mungkin tidak sepantasnya. Jadi mohon kebijaksanaannya.

Wu Yifan POV

Langit sudah gelap dengan cahaya merah oranye di sebelah barat. Aku membuka gerbang rumah dengan malas. Aku merasa kecewa dengan hari  ini. Aku selalu merasa kecewa setelah malam tiba belakangan ini. Dengan kepala terunduk aku melangkahkah kaki menyusuri pekarangan rumah yang dipenuhi salju. Aku tetap berhati-hati  berjalan, jangan sampai aku terpeleset.

“hyung…baru pulang?” tanya sehun yang sedang mengobrol dengan luhan di beranda rumah.

Aku mengangguk kecil.

“otthe hyung? Dia tetap tidak datang?” tanya luhan.

“ne…mungkin dia tidak akan datang lagi” jawabku lesu sambil berjalan menghampiri mereka dan ikut bergabung. “haaah… aku menghawatirkannya”

“nugu?” tanya sehun.

“nona syal…yoeja yang selalu membuntuti hyung”

“aaaa…” sehun menujukkan ekspresi mengertinya. “noona yang sering memakai syal dan menutup sebagian wajahnya itu? aku sering melihatnya bersembunyi dan mengikuti hyung diam-diam. Bukankah dia aneh? Jangan-jangan dia noona mesum lagi” sehun tertawa sendiri.

Aku memelototinya. “dia tidak seperti itu” batahku dengan nada sedikit meninggi.

“neun!” luhan menyikut sehun. “dia bukan yoeja seperti itu”

“oh…mian hyung” sehun segera merasa bersalah.

Aku kembali menghela napas. “apa benar kamu melihatnya dirumah sakit waktu itu?”

“aku yakin hyung. Walaupun memang dia tidak menutupi wajahnya dengan syal. Tetapi aku yakin itu dia. Tidak ada yoeja didunia ini yang akan menggunakan piyama dan sandal tidur berbentuk kepala kucing, dan menemui hyung begitu saja. Perawat resepsionis jelas-jelas bilang, dia mencari hyung.” Luhan menarik napas sejenak. “aku yakin itu dia. Yoeja yang sangat peduli tentang hyung. Kalau yoeja lain pasti tidak akan berpenampilan seperti itu untuk bertemu hyung. Tetapi perawat itu juga bilang, yoeja itu terlihat sakit. Itu pasti dia, yoeja yang tergila-gila pada hyung” luhan mencoba mengingat kembali. “dilihat dari fisiknya sih memang mirip nona syal. Aku tidak bisa memastikan karena hanya berpapasan dengan dia. Lagian kita juga tidak tahu wajah nona syal seperti apa” tambahnya panjang lebar.

“ne…Apakah terjadi sesuatu padanya? Atau dia sudah menyerah denganku?”

“molla” luhan mengangkat pundaknya.

“hyung…noona hantu masih di kamar?” sehun mengganti topik pembicaraan.

“emmm… dia tidak bisa keluar dari kamarku”

Sehun mengangguk kecil. “noona itu pasti masih memiliki urusan penting didunia, jika urusannya telah selesai baru dia bisa pergi dengan tenang”

“bagitukah?” tanyaku.

“percaya pada sehun hyung…dia memang ada bakat paranormal sedikit”

“ne…hyung” sehun nyengir kuda.

***

Aku menarik napas sejenak sebelum membuka pintu kamarku. Aku tidak boleh kesal padanya. Ia tidak salah apapun. Tuhan pasti punya maksud tertentu mempertemukan aku dengannya. Tuhan pasti ingin  aku membantunya agar bisa pergi dengan tenang.

Klek. Aku membuka  pintu perlahan. Aku mengulas senyumku, siap menjawab sapaannya. Pintu sudah terbuka, tetapi tidak ada yang mengucapkan selamat datang padaku. Apakah dia tidak ada disini? Aku menatap ke arah jendela, dia masih disana. Konsentrasinya tertuju penuh pada salju yang mulai turun lagi diluar.

“ehemmm…” aku berdehem kecil.

Dia tidak bergeming. Dia masih memeluk lututnya dan menatap keluar jendela dengan tatapan sedih. Aku sempat berpikir kalau dia nona syal. Tetapi melihat dia yang selalu bersedih, aku yakin mereka orang yang berbeda. Nona syal tidak mungkin seorang hantu, dia seorang manusia. Itu salah satu alasanku menepis anggapan itu. Aku juga tidak mau berpikir bahwa nona syal telah meninggal.

“ehemm…” ulangku

“oh…” dia segera duduk seperti biasanya. “selamat datang, oppa. Mianhae, aku tidak menyadari oppa sudah pulang”

Aku berjalan menuju meja belajar dan menaruh tasku. “kwaenchana…apa yang baru saja kamu lakukan?”

“hanya memandangi salju yang turun” dia tersenyum. “oppa tidak berjalan diluar saat salju turun kan?”

“ania…aku sudah pulang dari tadi, tetapi sebelumnya aku mengobrol sebentar dengan luhan dan sehun di beranda rumah”

“oh… syukurlah. Oppa bisa sakit kalau berjalan dibawah salju yang turun.” Dia kembali menatap keluar.

Aku hanya mengangguk  kecil. “Tunggu…apakah kamu yang membersihkan kamarku?”

“ne…ada beberapa debu. Kata eomma, debu tidak baik untuk pernapasan. Debu itu bisa saja mengganggu pernapasan oppa” nada suaranya merendah.

“nama kamu kim chan yoon kan?”

“emm…weo oppa?”

“ania… kamu mengingatkanku pada seseorang”

Dia menatapku ingin tahu. “benarkah? Nugu?”

“Seseorang yang aku sukai. Aku senang kamu ada disini. Kamu mengingatkanku padanya dan sedikit mengobati rinduku padanya”

Wu Yifan POV

***

Seseorang yang wu fan oppa sukai? Huuu~~ yoejachingu wu fan oppa? Ternyata wu fan oppa sudah memiliki yoejachingu. Aku berusaha tersenyum. Apapun yang membuat wu fan oppa bahagia, pasti membahagiakan juga untukku.

“yoeja?” tanyaku. Suatu pertanyaan yang bodoh.

“emmm…yoeja yang sangat manis dan sedikit aneh” wu fan duduk disampingku, dia terlihat begitu senang saat menyebut yoeja itu. “hari-hariku selalu dipenuhi olehnya. Aku rasa,  aku tidak akan bisa menjalani hariku dengan indah tanpa melihat matanya yang selalu berkaca-kaca, berbinar”

Aku tertunduk. Aku ingin tahu siapa yoeja beruntung yang bisa meluluhkan hati wu fan oppa. Tetapi hati kecilku berbisik dan melarangku. Disatu sisi aku senang melihat wu fan oppa tersenyum. Tetapi disatu sisi lagi hatiku sakit mengetahui wu fan oppa mencintai yoeja lain.

“lalu bagaimana tentang dirimu?” wu fan oppa membuyarkan lamunanku.

“nde?”

“aku ingin tahu tentang dirimu”

Aku mencoba tersenyum senatural mungkin. “tidak ada yang istimewa tentang diriku. Aku hanya yoeja biasa dengan banyak kelemahan”

“menurutku kamu tidak begitu. Kamu terlihat menyenangkan.”

“emmm…lumayan menyenangkan, lumayan”

“boleh aku bertanya? Kenapa kamu disini bukannya diatas sana? Kata sehun, kamu pasti masih memiliki urusan yang belum selesai didunia ini”

“nde?oh…aku rasa urusan itu akan cepat selesai, dan aku akan segera pergi”

“otthe? Kamu sama sekali tidak pernah keluar dari kamar ini. lalu bagaimana urusanmu bisa selesai? Jika kamu membutuhkan bantuanku, aku akan membantu”

“oppa sudah membantu banyak. oppa mengizinkan aku tetap disini adalah bantuan terbesar untukku” kataku ragu.

Wu fan oppa menatapku. “aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Tetapi sepertinya kamu menyembunyikan sesuatu. Cha… aku senang mengobrol denganmu”

“ne” aku tertunduk lesu.

***

Apakah selama ini apa yang aku lakukan sia-sia? Apakah selama ini aku mengharapkan sesuatu yang tidak akan pernah menjadi milikku? Haruskah aku menyerah dan pergi? Untuk pertama kalinya aku merasa putus asa. Aku ingin segera menyerah dan mengakhiri semua.

Aku menatap keluar jendela. langit gelap gulita tanpa bintang dan bulan. Detak jam terdengar dengan sangat jelas, seirama dengan detak jantungku. Bukan, itu bukan detak jantung milikku. Detak jantung itu milik wu fan oppa yang sedang tertidur.

Wu fan oppa mencintai seorang yoeja? Yoeja itu pasti sangat istimewa bagi wu fan oppa. Dia  juga pasti jauh lebih baik dariku. Jawabannya sudah jelas, wu fan oppa  tidak mencintaiku. Aku bukan apa-apa baginya. Huehhh~~ bagaimana mungkin aku bisa menjadi seseorang yang istimewa baginya? Aku hanya penguntit, mungkin benar aku hanya penguntit mesum.

“aku ingin pulang. Oppa, aku ingin pulang” aku menangis terdiam, menahan rasa sakit yang memilukan.

***

“ironae…” seseorang membangunkanku.

Aku perlahan membuka mata. “nde?” aku tertidur?

“mianhae membangunkanmu… sebaiknya kamu tidur di atas tempat tidurku. Walaupun kamu hantu, seperti butuh tidur juga”

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Aku baru saja tertidur? “oh…gomawo  oppa”

“ne…choenma” wu fan oppa mengambil tasnya bersiap pergi.

“apakah oppa akan pergi sampai sore lagi?”

“emmm…aku rasa begitu. Aku tidak apa-apa meninggalkanmu sendiri, eoh?”

Aku mengangguk. “aku memang selalu sendiri. Kwaenchana…”

“baiklah….aku pergi” wu fan oppa  melangkah menuju pintu.

“apakah oppa akan ke taman dan bertemu Ace?” pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulutku.

Wu fan oppa berhenti dan menatapku. “bagaimana kamu bisa tahu?”

“emmm….aku hanya…aku…” aku bingung mencari alasan. “bukankah aku hantu. Aku tahu semuanya”

“begitukah?” wu fan oppa berpikir sejenak. “tetapi kamu tidak pernah keluar dari sini”

Oh~~apa yang harus aku lakukan. “emmm….sehun pernah menceritakan padaku kalau oppa memiliki anjing lucu berbulu putih, dan namanya ace”

“Sehun tidak pernah tahu tentang ace” wu fan oppa terus menatapku curiga.

“emmm…oppa sudah terlambat” aku mengalihkan pembicaraan. “hati-hati dijalan”

Wu fan oppa masih menatapku penuh tanya. “baiklah….bye”

***

Wu fan oppa sedang duduk di meja belajarnya. Dia terlihat sibuk dengan sesuatu. Aku merasa lega dia tidak menanyakan pertanyaanku tadi pagi. Aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku. Entah kenapa pertanyaan itu terlontar saja dari mulutku. Aku sama sekali tidak berniat membuat wu fan oppa tahu siapa aku sebenarnya. Aku hanya ingin pergi tanpa dia tahu siapa aku.

Aku masih menatap  wu fan oppa yang sedang sibuk. Dia terlihat sangat serius dan sepertinya tidak mau diganggu. Aku mengalihkan pandanganku menuju luar jendela untuk membuat wu fan oppa lebih nyaman. Aku tahu dia tidak suka jika harus terus aku pandangi seperti itu. Ada suasana canggung antara aku dan dia. Ternyata aku tidak tahan jika tidak menatapnya walaupun cuma sebentar. Sesekali aku meliriknya, mengalihkan kebosanan menatap langit penuh bintang dengan bulan sabit sebagai pemimpinnya.

“apa yang kamu lakukan?” wu fan oppa menangkap basah aku. “kenapa melirik-melirik seperti itu?”

“nde?obsoyoe…” aku segera menatap langit lagi.

Dia tertawa kecil. “ini” dia memberiku sebuah buku. “sepertinya kamu suka membaca buku. Bacalah, kamu pasti suka. Lumayan untuk menghilangkan kebosanan.”

“gomawo” aku melihat sampul buku. “oh…daebak. Bukankah ini buku yang oppa cari selama ini. oppa sampai-sampai keluar masuk toko buku untuk mendapatkan buku ini. akhirnya oppa mendapatkannya juga. Kalau tidak salah oppa keluar masuk 25 toko buku kan? Oppa sampai mencari keluar Seoul. Belum lagi oppa salah naik bisa waktu itu. hahaha…. Oppa nyasarnya jauh sekali” aku tertawa sendiri sambil membuka lembar pertama buku itu.

“chan yoon~ssi…. Bagaimana kamu bisa tahu?”wu fan menatapku serius.

“nde?” apa aku salah bicara?

“bagaimana kamu tahu secara rinci tentang usahaku mendapatkan buku itu?”

Aku  menyembunyikan separuh wajahku dengan buku itu. aku salah bicara lagi. “memangnya aku bicara apa oppa?” elakku, masih dengan separuh wajah dibalik buku.

Wu fan oppa terus menatapku. “sebenarnya kamu siapa? Sepertinya kamu tahu banyak tetang aku. Dan…” oppa memperhatikan aku yang bersembunyi di balik buku.

“aku hanya…aku…” bagaimana ini?aku tidak pandai berbohong. “aku hanya yoeja biasa yang lemah”

Wu fan oppa semakin menatapku selidik. “apakah aku mengenalmu?”

“ania…bukankah oppa sendiri yang bilang oppa tidak mengenalku” aku terus mundur, menjauhi tatapan selidik wu fan oppa. Buku itu tetap menutup separuh wajahku. Aku harus menyembunyikan wajahku, jika ingin terus aman.

“tunggu!” wu fan oppa seperti memerintahku.

Dia segera berlari menuju lemarinya. Dia seperti mencari sesuatu. Aku menurunkan buku yang sedari tadi menutup wajahku. Apa yang wu fan oppa lakukan? Kenapa aku bisa berbicara seperti itu tadi? Aku memukul mulutku sendiri kesal. Aku sama sekali tidak bisa mengontrol diriku tadi. Apakah Tuhan yang melakukan ini padaku? apakah Dia ingin menghukumku yang sama sekali tidak bersyukur dengan kesempatan yang Dia berikan?

Entah sejak kapan wu fan oppa didepanku. Aku sama sekali tidakmenyadarinya. Aku terlalu terlarut dan bergelut dengan pikiranku sendiri. Aku menatapnya heran. Apa yang akan dia lakukan? Dia memegang sebuah benda. Benda yang sangat akrab denganku, sebuah syal. Apa yang  akan wu fan lakukan dengan syal biru itu?

“tolong diamlah, eoh?” pintanya.

Aku hanya mengangguk kecil.

“tolong jangan menolak, eoh?”

Sekali lagi aku mengangguk kecil, bingung. Wu fan oppa melilitkan syal biru itu dileherku. Aku hanya diam dan membiarkan dia melakukan apapun yang ingin dia lakukan. Aku tidak bisa menebak maksud wu fan oppa sebenarnya. Kenapa dia melilitkan syal itu padaku? aku tidak merasa kedinginan. Wu fan mengatur sedimikian rupa syal tersebut.  Syal itu menutupi separuh wajahku.

“oppa…” aku mendongak menatapnya. “apa maksud oppa?”

“neun?” wu fan oppa tersenyum padaku. Senyum hangat yang menawan.

Aku baru menyadari sesuatu. Jika aku seperti ini maka, aku adalah….. aku segera berusaha melepaskan syal itu. “maksud oppa apa?” tawaku pura-pura. “aku tidak kedinginan” tambahku.

“neun…nona syal?”

“nde?” aku tidak mengerti maksudnya.

“akhirnya…” wu fan oppa langsung memelukku.

Ada apa ini? kenapa wu fan oppa memelukku seerat ini? apa sebenarnya yang terjadi? Nona syal? Aku? Adakah yang bisa menjelaskan semuanya padaku?

“chan yoon~ssi…” wu fan oppa melepaskan pelukannya dan menatapku bahagia. “apakah kamu nona syal? Yoeja dengan buku super berat dan tebal itu?”

“nde?” dia mengingatku?

“ini kamu kan?”

“emmm…o! itu aku” jawabku ragu.

Wu fan oppa kembali memelukku. “bogoshiposoe…noemu bogoshiposoe”

“oppa?” dia merindukanku? Apakah aku salah dengar?

“aku hampir frustasi. Kenapa kamu menghilang begitu saja? Aku selalu menunggumu di taman bersama ace. Kenapa kamu tidak muncul lagi? apakah kamu menyerah padaku?”

“oppa….aku tidak mengerti maksud oppa” aku memang tidak mengerti. Dia menungguku?

Wu fan oppa menatapku. “aku rasa, aku menyukaimu chan yoon~ssi. Aku tahu selama ini kamu mengikutiku”

“mwo?” wu fan oppa tahu? apa yang harus aku lakukan? Aku pasti terlihat seperti yoeja aneh.

“tunggu….aku tidak menganggapmu aneh. Walaupun awalnya memang begitu. Aku senang kamu mengikuti. Aku merasa punya teman sejati. Dan, aku mulai menyukaimu. Tetapi kamu menghilang begitu saja. Lalu sekarang kamu adalah hantu”

Aku menunduk. “emmm… aku adalah hantu”

“aku tidak peduli kamu manusia apa hantu. Sekarang aku akan mengatakan semuanya. Selama ini aku hanya diam, aku egois. Seharusnya aku mengataknnya sejak dulu. Tetapi tidak ada kata terlambat” wu fan oppa menata manik mataku. “saranghae…joengmal saranghae.  Aku harap ini belum terlambat”

“aku juga mencintaimu oppa” kataku malu. “aku disini karena oppa. Dan urusanku didunia ini adalah oppa”

Wu fan oppa kembali memelukku. Aku tidak menyangka wu fan oppa juga mencintaku. Apakah aku bermimpi? Ini semua kenyataan? Penantianku selama hampir 1 tahun ini terjawab. Aku yoeja yang selalu mengikuti wu fan oppa kemanapun dia pergi dan terus berharap dia mencintaiku. Sekarang aku mendapatkan apa yang aku mau. Walaupun aku adalah hantu, wu fan oppa tetap mencintaku? Bukankah semua keinginanku terwujud? Bukankah ini waktunya aku untuk pergi?

***

Aku duduk ditempatku semula. Tepat seperti posisiku sebelumnya. Sama persis dengan yang aku lakukan 1 bulan yang lalu. Saat dimana wu fan oppa belum bisa melihatku. Tetapi ada yang berbeda denganku, aku tidak tersenyum seperti sebelumnya. Aku bahkan tidak merasa senang sama sekali. Aku  tidak merasa bahagia mengetahui wu fan oppa mencintaiku.

Kenapa aku tidak merasa senang, bahagia? Bukankah ini yang selama ini aku inginkan hingga aku menjadi seperti ini? bukankah hal itu yang selama ini aku nanti dari wu fan oppa? Wu fan oppa mencintaiku. Bahkan dia mau menerimaku apa adanya.

“chan yoon~a…apa yang kamu pikirkan?”

“nde?”

“apa yang kamu pikirkan, chagi?” wu fan oppa menghampiriku dan duduk disampingku. Dia baru saja selesai mandi. “apakah kamu melamun yang tidak-tidak?”

“ania…” aku tertawa kecil. “aku hanya merasa terlalu bahagia”

“begitukah? Apa yang bisa membuat princess syalku bahagia hingga melamun begini?” wu fan oppa meraih tanganku dan mengenggamnya. “apakah itu oppa?”

Aku menatap terus tanganku yang digengam wu fan oppa. “molla” nada suaraku terdengar sedih.

“ada apa chagi? Apakah ada yang membuatmu sedih?”

“obsoyoe…” aku tidak menyadari setitik airmata menetes dan jatuh ke lengan tanganku yang terlipat diatas pahaku. “obsoyoe, oppa”

“chan yoon~a” wu fan oppa memegang wajahku yang terus tertunduk, dan membuat aku menatapnya. “uljima…apa yang membuatmu menangis seperti ini?”

“molla” hanya itu yang bisa aku jawab. “mollayoe”

“uljima, eoh? Oppa disini… sekarang oppa adalah milikmu. Apa yang membuatmu gusar”

Aku mencoba mengatur napasku. “mungkin setelah ini aku akan pergi oppa”

“mwo? Weo?”

“seperti kata oppa, jika urusanku sudah selesai, aku akan pergi. Dan aku pasti akan pergi sebentar lagi. aku sudah menemukan jawaban apa yang aku mau. Berarti aku akan pergi secepatnya”

“andwae” wu fan oppa memelukku yang mulai menangis. “itu hanya kata-kata sehun.  Hal itu tidak benar. Oppa ingin kamu terus disini, jadi tidak ada yang bisa mengambilmu dari oppa. Bahkan Tuhan tidak akan bisa”

“tetapi  aku pasti akan pergi” jelasku.

“ania…kamu tidak akan pergi. Oppa akan mencegah siapapun dan apapun yang mencoba mengambilmu dari oppa.” Wu fan oppa semakin mempererat pelukannya. “oppa baru menemukanmu, oppa sangat merindukanmu. Oppa tidak mau kamu pergi lagi dan meninggalkan oppa”

“oppa” aku melepaskan diri dari pelukan wu fan oppa perlahan. “aku adalah hantu oppa. Tempatku bukan disini”

Wu fan oppa memegang pundakku dan menatapku serius. “oppa tidak peduli kamu hantu atau bukan. Kamu tetap kamu, yoeja yang sangat oppa cintai. Yoeja yang mampu membuat oppa mencintainya dengan cara yang sedikit unik. Jika Tuhan ingin mengambilmu, oppa akan ikut”

“mwo? Oppa…apa maksud oppa?”

“selama ini kamu pasti sangat menderita harus terus mengharapkan oppa. Apa salah oppa yang akan mengorbankan segalanya demi membalas sakit yang kamu alami?”

“tetapi oppa…”

“aku tidak akan membiarkan kamu pergi. Kamu tidak ingin pergi dari oppa kan?”

Aku mengangguk, mengiyakan.

“oppa yakin Tuhan tidak akan bisa berbuat apa-apa sekarang. Mana mungkin Tuhan akan memisahkan dua orang yang ingin bersama. Tuhan tidak punya hak atas itu.” wu fan oppa menghapus airmata dipipiku. “sekarang berhentilah berpikir yang tidak-tidak. Kamu tidak akan kemana-mana. Arasoe?”

“oh…algessoyoe” aku mencoba untuk tersenyum lagi.

***

Wu Yifan POV

Aku membuka mataku dan menggerakkan tubuhku perlahan. Aku takut yoeja yang sedang berbaring disampingku dengan berbantalkan lengaku terbangun. Dia sudah tidak menangis lagi seperti semalam. Dia sudah mulai tenang sekarang. Aku mengintip wajahnya sedikit, apakah dia tertidur? Aku tersenyum melihat wajah manisnya dengan mata terpejamnya. Mata itulah yang membuat aku menyukainya. Dialah yoeja manis yang selalu membuntutiku selama ini.

Aku tersenyum sendiri mengingat masa-masa itu. Saat dimana dia diam-diam membuntutiku. Saat dimana aku menahan tawa melihat tingkahnya yang konyol dan menggemaskan. Disinilah dia sekarang, berada dalam pelukanku, dalam wujud yang berbeda.  Aku belum mendapatkan waktu yang tepat untuk bertanya padanya. Apa yang terjadi padanya sehingga dia menjadi seperti ini sekarang? Apakah  dia benar-benar sudah meninggal dunia?

Perlahan aku kembali merebahkan kepalaku pada bantal. Aku berbaring lagi, mencoba menikmati waktu bersamanya. Aku memeluknya erat. Mendekapnya penuh kerinduan. Memeluknya seolah dia akan pergi dan meninggalkanku.  Aku tidak akan menyia-yiakan waktu bersamanya. Secara tidak sadar, aku takut kehilangannya lagi. Aku takut Tuhan akan mengambilnya dariku.

Ternyata aku tidak setegar yang aku tunjukkan padanya. Aku tidak benar-benar sanggup melawan kehendak Tuhan. Aku hanya bisa menghibur diri. Aku tidak mau kehilangannya, tidak akan mau. Mungkin aku sangat egois menahannya disini. Tetapi aku hanya ingin mencintainya, menunjukkan cintaku padanya. Aku sudah terlalu lama mempermainkannya, dan sekarang aku akan menunjukkan keseriusanku.

Aku memeluknya erat. “saranghae…mianhae, chan yoon~a” aku mengecup pelan puncak kepalanya.

Dia terlihat masih nyenyak tidur. Mungkin ini kali pertama dia tidur. Dan sudah pasti, pertama kali tidur dalam pelukanku.  Dia sampai begitu dekat denganku. Dia membenamkan wajahnya dalam, sangat dalam. Wajahnya sangat dekat dengan jantungku. Akankah dia mendengar detak jantungku yang sangat kencang sekarang?

“apakah oppa tidak akan kuliah?” dia membuka matanya perlahan.

“nde?” aku kaget. Apakah aku membangunkannya?

“apakah oppa tidak akan kuliah? Hari ini oppa ada  presentasi  di kelas kan?”  dia menatapku sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.

Deg.deg.deg. aku bisa mendengar detak jantungku  sendiri. “oh…oppa baru saja mau bersiap-siap” perlahan aku bangun.

Dia juga mengganti posisinya ke posisi duduk. “ oppa kenapa? Apakah oppa demam?”

“oh…ania” apakah pipiku sangat merah? dia kembali mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia terlihat begitu manis melakukan itu. “oh…oppa mau mandi dulu” aku segera berlari ke kamar mandi.

“ne…oppa” katanya, terdengar seperti masih mengantuk.

Aku berdiri tepat didepan cermin yang hampir memenuhi satu sisi kamar mandiku. Aku melihat pantulan diriku dicermin dengam pipi yang sangat merah. Kenapa dia terlihat sangat manis dan cantik? Apakah itu sebabnya selama ini dia menutup wajahnya dengan syal? Dia tidak ingin semua namja sepertiku, terpesona hingga gila?

Aku memang sering melihatnya mengerjap mata seperti itu. Tetapi dengan seluruh wajahnya yang terlihat? Oh~~ aku tidak bisa menahan diriku. Bukan berarti aku akan melakukan hal macam-macam. Aku hanya tidak bisa menahan diri untuk tidak memeluknya dan… apa perlu aku sebutkan?

***

Aku berlari sekuat tenaga dari halte bis. Jam baru menunjukkan pukul 12 siang. Bukanlah rutinitasku untuk pulang pada jam ini. Tetapi entah kenapa aku ingin segera pulang. Aku ingin segera menemui yoejaku, princess syal. Dia pasti sedang bosan menunggu sekarang. Atau dia sedang menangis karena merindukanku. Semua pemikiran gila dan karanganku sendiri berlarian diotakku.

Aku segera membuka pintu gerbang dan tidak menutupnya kembali. Aku bahkan tidak peduli, jika aku terpeleset di jalan setapak yang licin oleh salju ini. luhan terlihat baru akan keluar dari rumah. Dia hampir tidak dikenali dengan baju super tebal dan penutup kepala yang hampir menutupi seluruh wajahnya.

“oh hyung…cepat sekali pulang?” tanyanya.

“apakah kamu akan keluar?”

“ne..weo?”

Aku tersenyum. “bisakah kamu membantuku?”

“ne, mwo?”

“tolong berikan ace makan”

Luhan terlihat akan menolak. “aku sedang terburu-buru hyung. Aku tidak bisa! Minta tolong sehun saja”

“dia bisa cerita pada jumma…kamu mau aku diusir?

“ya sudah….hyung kasih makan sendiri. Kenapa harus aku?”

“karena princess syal menungguku”

“nde? Nona syal? Hyung menemukannya?”

“oh…aku minta bantuanmu, eoh?”aku segera masuk ke dalam rumah.

“yakkkk…hyung”

Aku tidak mempedulihan luhan yang sepetinya tidak rela melakukan permintaanku. Tetapi aku yakin dia akan melakukannya. Hey~~ dia tidak akan berani membantahku. Aku berlari kecil didalam rumah. Aku berusaha tidak membuat suara gaduh. Aku tidak mau ajumma –sehun eomma- memarahiku nanti.

Klek. Segera aku membuka pintu. Mungkin suara yang aku timbulkan lebih besar dari biasanya.

“chagi…chan yoon~a”  panggilku, mataku tertuju pada sofa didekat jendela. “chan yoon~a” aku tidak menemukannya disana.

Satu hal yang langsung terbersit di otakku, dia sudah pergi. Tuhan sudah mengambilnya dariku. Kenapa Tuhan mengambilnya saat aku tidak ada disini? Apakah Tuhan berniat tidak ingin aku melihat chan yoon menghilang?

“chan yoon~a….odioseo?”aku menepis anggapan itu dan terus mencarinya. “ini tidak lucu. Dimanakah kamu bersembunyi?”

Apakah dia tidak terlihat lagi  olehku? Apa dia sekarang sedang duduk di dekat jendela menjawabku panggilanku? Tetapi aku tidak bisa mendengar suaranya? Aku mendekati sofa itu.

“chan yoon~a…apa kamu disini?” aku terlihat seperti orang gila, berbicara pada angin.

Aku hampir putus asa. Aku  tidak bisa menemukannya. Aku duduk disofa dekat jendela itu dan tertunduk lesu. Kenapa aku harus pergi tadi dan bukannya menemaninya? Mungkin dia sangat ketakutan sekarang. Mungkin dia sedang menangis, menyebut namaku.

“Kim chan yoon, oedisoe?”

“ne oppa?” aku mendengar suaranya.

Aku mencari sumber suara. Tatapan mataku terhenti pada sosok yoeja yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi. Di lehernya terkalung headphone milikku. Headphone itu tersambung pada i-pod yang tergenggam ditangan kirinya.  Sedangkan ditangan kanan, terlampir bajuku. Dia menatapku bingung namun tetap tersungging senyum di wajahnya.

“oppa mencariku?” tanyanya polos.

Aku langsung berlari ke arahnya dan memeluknya erat. “syukurlah kamu masih disini” aku memeluknya sangat erat, mungkin dia tidak akan bisa bernapas. “syukurlah kamu masih disini” ulangku.

“oppa, ada apa? aku hanya mengambil baju ini dikamar mandi dan hendak menaruhya ditempat baju kotor” katanya lagi. Dia terdengar bingung.

“kenapa kamu tidak menjawab saat oppa memanggil?” aku menatapnya serius bercampur khawatir.

“mianhae…aku terlalu asyik mendengarkan musik. Jadi tidak mendengarkan oppa memanggil. Minhae…” dia sekali lagi tersenyum manis.

Aku kembali memeluknya. “kamu harus janji tidak akan meninggalkan oppa,eoh?”

“ne oppa….aku berjanji” dia balas memelukku

Wu Yifan POV END

***

Aku berbohong padanya. Dan untuk pertama kalinya, aku berhasil melakukan sebuah kebohongan. Hebatnya aku bisa berbohong pada orang yang sangat berarti bagiku, kepada orang yang sangat aku cintai. Aku sangat hebat bersandiwara. Bukankah senyuman dan actingku tadi sangat sempurna. Cukup dengan i-pod dan sehelai baju, aku bisa menyakinkannya. Aku adalah aktris yang hebat.

Aku tidak akan bisa menepati janji pada wu fan oppa. Tidak akan pernah bisa. Beberapa menit sebelum dia pulang, aku mulai mengalami hal aneh. Aku mulai memudar,  menghilang. Tetapi itu hanya berlangsung beberapa menit. Tubuhku seolah bisa hilang dan muncul dengan sendirinya. Dan hal itu masih berlangsung ketika aku mendengar langkah wu fan oppa didepan pintu. Aku segera berlari dan menyembunyikan diri dikamar mandi. Aku berhasil dengan lancar.

“oppa akan pergi sebentar besok…apakah kamu mau oppa belikan sesuatu?” wu fan oppa terlihat ceria kembali.

“oppa akan pergi kemana? Apakah lama?” nada suaraku mungkin terdengar tidak rela. Tetapi aku berusaha menyembunyikannya.

Dia berpikir sejenak. “emmm…molla. Weo?”

“obsoyoe…aku hanya ingin bercerita banyak pada oppa”

“eyyy…” dia menarik hidungku. “bukankah kita masih punya banyak waktu? Begitu yang selalu kamu katakan kan?”

“emmmm…ne” aku mencoba tersenyum santai.

“apakah kamu terbawa pikiran oleh tingkah oppa kemarin? Mianhae…”

Aku menggeleng. “ania…aku tidak masalah oppa terlalu menghawatirkanku. Aku menyukainya”

“mianhae…oppa janji tidak akan paranoid seperti itu lagi.  bukankah kita sudah berjanji?”

“oh….”

Oppa beranjak dari tempat duduknya disampingku dan mengambil  sesuatu didalam tasnya yang tergeletak di atas  meja. Beberapa saat kemudian dia kembali dan duduk di sampingku lagi. aku masih menatap ke luar jendela saat dia menyodorkanku sesuatu.

“ini…” katanya lagi.

“apa ini oppa?” aku menatap kotak dengan bungkus berwarna gold yang tersodor padaku.

“ponsel…aku rasa kamu membutuhkannya”

Aku terkekeh. “oppa, aku hanya hantu. Bagaimana mungkin memerlukan ponsel?”

“yak…tetapi aku yang memerlukannya. Aku memerlukannya untuk menghubungimu. Mengetahui bagaimana kondisimu disini. Dan agar kamu tidak bosan” jelasnya panjang lebar.

“algessoyoe…” aku masih tertawa kecil. “gomawo,oppa”

***

Aku membantu wu fan oppa membereskan barang-barangnya. Dari yang aku lihat, wu fan oppa akan pergi cukup lama. Dia akan pergi sangat lama bagiku. Mungkin ini akan jadi hal terakhir yang bisa aku lakukan sebelum aku benar-benar lenyap. Iya~~ benar-benar lenyap, bukan hanya tidak terlihat. Egoiskah aku jika melarangnya pergi? Salahkah aku jika membiarkannya pergi dan dia kembali tanpa menemukanku? Apakah aku sudah benar mengambil keputusan ini, berbohong padanya?

“apa yang kamu pikirkan?” dia mengusik lamunanku. “apakah kamu mau oppa tidak pergi?”

“nde? Ania…” jawabku lesu

“jika itu maumu, oppa akan membatalkannya dan meminta chingu oppa yang menggantikan. Oppa tidak akan pergi dan menemanimu disini”

Aku menghela napas. “oppa tidak boleh begitu. Aku akan menunggu  oppa disini” dan cepatlah kembali, tambahku dalam hati.

“baiklah…oppa pergi. Oppa akan menghubungimu,  jadi jangan mengkhawatirkan oppa”

Aku mengangguk kecil “emmm….” Aku tertunduk.

“katakan pada oppa, apakah oppa harus pergi?” tanyanya sekali lagi.

“ne…oppa harus pergi” aku menatapnya dan berusaha tersenyum.

Wu fan oppa tersenyum balik padaku. Dia mendekatiku dan merengkuhku dalam pelukannya. Aku balas memeluknya hangat. Aku ingin waktu berhenti saat ini. Aku ingin terus memeluknya seperti ini. Aku membenamkan wajahku dalam pelukannya. Menyesap aroma tubuhnya, aroma yang tidak akan pernah aku lupakan.

“chan yoon~a” panggilnya lembut.

“emmm…” aku mendongak dan menatapnya.

Dia melepaskan pelukannya dan membuat sedikit jarak antara aku dan dia. Dia menatapku serius, kedua tanganya menempel di kedua pipiku. Wu fan oppa mendekatkan wajahnya padaku, bahkan sangat dekat. Aku bisa melihat tiap lekukan indah wajahnya. Menikmati bagaimana indahnya wajah wu fan oppa. Dia begitu tampan, sangat tampan dengan jarak yang sedekat ini. Aku mengerjapkan mataku, berusaha menebak situasi yang akan terjadi. Wu fan oppa menciumku, dia mencium bibirku.

Aku memejamkan mataku perlahan. Mencoba menghayati sentuhan bibir wu fan oppa pada bibirku. Dia mencium lembut, sangat lembut. Aku tidak diam begitu saja. Naluriku membawaku untuk balas menciumnya. Melakukan hal yang hampir sama dengannya. Aku bisa merasakan hembusan napas wu fan oppa diwajahku, begitu hangat.

Dia menarik dirinya dariku, menatapku dengan senyum menawannya.  Mungkin lebih tepatnya, dia tertawa kecil menatapku yang bersemu merah. Bagaimana aku bisa bersemu merah? Aku adalah hantu, tanpa darah. Apakah aku bukan hantu?

“emmm…kenapa oppa menatapku seperti itu?” kataku malu.

Dia tertawa kecil. “obsoyoe…oppa  hanya merasa senang”

“emmm…apakah oppa tidak terlambat?” aku mengalihkan pembicaraan dan menatap jam di dinding.

“baiklah…oppa akan pergi”

“emmm…” jawabku dengan anggukan kecil.

Sekali lagi wu fan oppa mendekat padaku. “tunggu oppa!” dia mencium keningku.

***

26 jam sudah aku menunggu wu fan oppa disini. Ditempatku yang biasa, duduk di sofa dekat jendela. salju diluar sana semakin tebal. Natal tinggal menunggu hari, hanya tinggal 2 hari. Masihkan aku disini hingga natal tiba? Biasakah aku merayakan natal pertamaku sebagai hantu dengan wu fan oppa? Aku berharap  aku bisa, setidaknya itulah permohonan terakhirku.

Tiba-tiba pikiranku melayang ke rumah. Rumahku yang sebenarnya, dimana jun myoen oppa, eomma, dan appa menungguku. Apakah yang mereka lakukan sekarang? Apakah mereka merindukanku? Apakah mereka sekarang tengah menatap fotoku? Bukankah aku sudah tiada. Dan itu sebabnya aku berada disini dalam wujud seperti ini.

Sebuah suara membuyarkan lamunanku. Ponsel pemberian wu fan oppa berdering diatas  tempat tidur. Aku sedikit meloncat karena senang. Aku segera menuju tempat tidur dan meraih ponsel itu. ponsel itu lolos begitu saja dari genggaman tanganku. Aku tidak bisa menyentuhnya? Aku menjadi panik, sangat panik. Beberapa detik kemudian ponsel itu tidak berdering lagi.

Aku sangat panik sekarang. Wu fan oppa pasti akan sangat khawatir disana. dia pasti bertanya-tanya kenapa aku tidak mengangkat teleponnya. Aku gusar, mondar-mandir tiada henti. Sesekali aku menatap ponsel itu dan mencoba mengambilnya. Tetapi sekali lagi tidak bisa.  Aku hendak menangis karena sangat kesalnya. Kenapa aku tidak bisa menyentuhnya? Wu fan oppa pernah memegang ponsel ini, seharusnya aku juga bisa.

Ponsel itu berdering lagi. aku berjingkrak menahan kesal. apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus berteriak memanggil sehun untuk membantuku? Sepertinya itu ide bagus. Aku segera berlari menuju pintu. Aku membuka pintu, hanya membukanya.

“sehun~a…odisoe?” panggilku sekuat tenaga. Tidak akan ada yang marah, karena hanya sehun yang bisa mendengarku. “sehun~a….oh sehun” teriakku lagi.

Tidak ada jawaban sama sekali. Rumah sunyi sepi, tidak ada tanda-tanda sang empunya rumah. Ponsel itu sudah tidak berdering lagi. aku membanting pintu perlahan, tidak peduli dengan reaksi orang yang mendengar kegaduhan yang aku buat. Aku menghampiri ponsel itu dan jatuh terduduk. Aku mulai menangis, menangis sejadinya.

Rrrttttrrrttt. Ponsel itu berdering untuk ketiga kalinya. Aku meraihnya dengan enggan, toh~~ tidak akan bisa aku sentuh. Grep. Aku menggenggamnya sekarang. Tangisku berhenti dan berubah menjadi senyum. Aku harus segera menjawab telepon dari wu fan oppa.

“yumseo” kataku setelah sebelumnya mengatur napas.

***

Aku tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutku. Wu fan oppa sangat lucu dengan topi sinterklas bertanduknya dan hidung merah bulat yang dia kenakan. Dia mirip rusa sinterklas yang memakai topi merah, hanya saja dia lebih tampan. Wu fan oppa hanya menatapku kesal dan berkacak pinggang. Dia rupanya tidak senang mengenakan semua itu. Sebenarnya itu semua ideku. Rencananya aku yang akan mengenakannya, tetapi aku memaksa wu fan oppa untuk mencoba.

“yak…kim chan yoon. Bukankah kamu berjanji tidak akan tertawa. Kenapa sekarang kamu tertawa?” wu fan oppa segera melepas hidung merahnya.

“mianhae oppa. Noemu yoepta…joahe” aku kembali cekikikan.

Wu fan oppa menghampiriku. “sekarang kamu yang pakai”

“arayoe…aku tidak masalah oppa tertawa. Bukankah ini memang lucu. Berikan!” aku mengambil topi dan hidung merah itu, dan memakainya. “otthe?”

“hoamm…” wu fan oppa menguap. “tidak ada yang istimewa, biasa saja” ekspresinya datar.

“mwo? Aku sama sekali tidak terlihat kyoepta?”

Wu fan oppa geleng kepala.

“chinca?”

Dia hanya mengangguk.

“aish…” aku melepas topi dan hidung merah itu, kemudian membuangnya jauh. “shiroe” kataku kesal.

Tiba-tiba wu  fan oppa tertawa terbahak. “kyoepta!”

“mwo?”

“kamu sangat lucu ketika marah. Hahahaha”

“aaa…oppa” aku menghampirinya dan memukulinya. “aish…oppa ini menyebalkan”

“appo…hentikan” katanya tetap sambil tertawa.

Aku terus memukuli wu fan oppa. Aku sangat kesal padanya sekarang. Dia terus mundur untuk menghidari pukulanku. Aku mengambil ancang-ancang untuk memukulnya dengan tangan kananku. Hup. Sayangnya bisa dia tangkis, sekarang wu fan oppa menggenggam tangan kananku. Aku tidak mau kalah dan kembali melancarkan pukulan dengan tangan kiriku. Bukk. Wu fan oppa kehilangan keseimangannya. Dia pun terjatuh di atas tempat tidur. Aku ikut tertarik  dan sekarang tepat berada diatasnya.

“ey…oppa lepaskan” aku berusaha berdiri.

Wu fan oppa tertawa kecil. “shiroe…bukankah kamu sengaja membuat kita dalam posisi ini”godanya.

“mwo? Oppa mesum…”aku berusaha berdiri lagi. tetapi wu fan oppa menghalangi. Dia memelukku erat dengan tangannya yang bebas. “oppa…lepaskan”

“a…a..a tidak akan”

Wajahku dan wu fan oppa sangat dekat sekarang. Begitu dekat hingga hidung kami saling bersentuhan. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku. Aku sangat malu. Apa yang sedang kita lakukan?  Bukankah posisi ini sangat tidak nyaman, dan…..? ah~~ aku harus menjauh.

“oppa…. Hentikan. Lepaskan aku” pintaku memelas.

“jangan bergerak” kata wu fan oppa serius.

Sekali lagi wu fan oppa mendekatkan wajahnya padaku. Aku menutup mataku. Aku sangat grogi sekarang. Apakah wu fan oppa akan menciumku lagi? aku mendengar napas wu fan oppa. Sepertinya hal itu akan terjadi lagi. Klek.

“hyung…kaja. Bukankah kita akan menonton festival kembang api?” luhan yang tiba-tiba  masuk kamar mengintrupsi.

Aku menghela napas lega. “oppa….luhan oppa tuh”

“biarkan saja. Toh dia tidak bisa melihatmu” wu fan oppa tersenyum.

Luhan terlihat bingung melihat wu fan oppa terlentang ditempat tidur dengan posisi yang aneh. “apa yang hyung lakukan?” tanyanya ragu.

“bukan urusanmu…tunggu aku diluar” perintah wu fan oppa.

“oh…ne”luhan masih bingung, bahkan makin bingung.

Gubrak. “hyung jadi tidak?” sehun menerobos masuk begitu saja sebelum luhan keluar. “omo” katanya reflex.

“oppa…” aku meronta.

Wu fan oppa akhirnya membebaskanku. “oh…sehun~a. ada apa?”

Aku segera menjauhi wu fan oppa dan duduk di sofa dekat jendela. “emmm…annyeong sehun~a” aku berusaha tersenyum.

“aigoo…hyung, kamu merusak suasana” sehun berbicara pada luhan.

“na…weo? Apa yang aku lakukan?” luhan tidak mengerti.

“mian….hyung, noona” sehun tertawa cekikikan untukku dan wu fan oppa. “kami akan keluar” menarik luhan.

“yak…sebenarnya ada apa?” luhan masih bingung.

“hyung…kami tunggu dibawah” sehun dan luhan menghilang dibalik pintu.

Wu fan oppa menatapku sambil nyengir kuda. Aku menatapya kesal dan marah. Sehun pasti akan berpikir yang tidak-tidak tentangku. Dia akan beranggapan bahwa aku adalah yoeja mesum. Oh~~ Tuhan, kenapa malam natalku jadi seperti ini? wu fan oppa menghampiriku dan meminta maaf. Tetapi aku terlanjur kesal dan enggan berbicara dengannya.

“baiklah kalau kamu masih marah” wu fan oppa mengambil mantel dan syal yang tergantung di kursi, dia terlihat akan keluar.

“oppa mau kemana?” tanyaku.

“oppa akan keluar dengan bocah-bocah itu. oppa sudah janji akan meneraktir mereka difestival kembang api”

Aku tertunduk lesu. “apakah oppa harus pergi?”

“jika kamu mau oppa disini, oppa akan melakukannya”

Aku berpikir sejenak. “tetapi sehun dan luhan sudah lama menunggu ini”

“mereka bisa pergi sendiri”

“emmm…oppa pergilah. Aku akan menunggu”

Wu fan oppa duduk disampingku. “kaja…ikutlah. Kita melihat kembang api bersama” wu fan oppa mengulurkan tangannya.

“nde? Otthoke? Aku tidak bisa keluar dari kamar ini”

“kaja…kita akan mencobanya. Mungkin dimalam natal akan ada keajaiban?”

“begitukah?”

“emmm…kaja”

***

Wu Yifan POV

Aku menawari melakukan hal gila ini. aku ingat terakhir kali dia mencoba keluar dari kamar ini. aku ingat dia terpelanting dan terhempas di jendela dan meringis kesakitan. Aku tahu itu menyakitkan, dan aku tidak mau dia terluka.

Aku masih berdiri di depan pintu kamarku,  tepatnya disisi luar kamarku. Aku menatapnya khawatir. Aku tidak mengira dia akan mencoba ide  gila ini. Awalnya aku hanya bercanda, dan dia menanggapinya serius. Aku semakin tidak tega melarangnya keluar ketika matanya berbinar-binar membayangkan melihat kembang api bersamaku.

“oppa” panggilnya.

“nde?”

“aku akan mencobaya sekarang” katanya yakin, sangat yakin.

Aku menghela napas. “oppa rasa sebaiknya jangan. Oppa tidak akan pergi. Tunggu oppa sebentar disini! Oppa akan memberi  tahu luhan dan sehun”

“andwae” cegahnya.

“chan yoon~a”

Dia tersenyum padaku. “oppa, aku itu keras kepala. Aku harus mendapatkan apa yang aku mau” dia memantapkan diri melangkah mendekati pintu.

Kali ini tidak hanya telunjuknya, tetapi dia memastikan seluruh tubuhnya melewati ambang pintu bersamaan. Aku hanya bisa berharap cemas. Apa yang akan terjadi jika seluruh tubuhya mencoba melewati pintu? Efek dari hanya jari telunjukknya saja sangat menyakitkan. Bagaimana dengan seluruh tubuhnya? Aku segera mendekap tubuh mungilnya. Menghalanginya melewati pintu itu.

“oppa” katanya terkejut.

“mianhae….oppa tidak mau melihat kamu terpelanting seperti sebelumnya lagi”  aku masih memeluknya.

Dia berdecak. “tsk…ania, lihat. Oppa seperti membuat jalan untukku”

“mwo?” aku menoleh ke belakang dan tidak melihat apapun. “maksudmu?”

Chan yoon hanya tersenyum. Dia seperti mengambil ancang-ancang dan berusaha mendorongku. “oppa jangan menahanku” suara terdengar tertahan. “oppa mundurlah…palli”

“nde?” aku menurutinya setengah hati.

“palli” dia mendorongku. Mendorong di dadaku sekuat tenaga.

“hahhh…”

“mwo?” aku bingung melihat tidak terjadi apa-apa setelah dia melewati pintu dan keluar dari kamar. “otthoke?”

“molla…” dia nyengir  kuda. “saat oppa berdiri di bibir pintu. Tubuh oppa seolah merobek pembatas disana. lebih tepatnya seperti menghalangi sensor. Kaja oppa…aku tidak sabar”

Aku masih tidak mengerti. Semudah inikah dia bisa keluar dari kamarku? Tidak adakah konsekuensinya? Dia mengandeng tanganku dan menarikku untuk mengikutinya menuju luhan dan sehun. Dia terlihat tidak sabaran.  Sebegitu inginnyakah dia melihat kembang api? Dan bersamaku?

***

Dia tersenyum padaku, senyum yang sangat manis dan selalu manis. Dia seperti seorang gadis kecil yang diajak kedua orang tuanya bermain ke taman hiburan. Lihatlah dirinya,  loncat sana-sini. Dia terkadang merentangkan tangannya dan menarik napas panjang kemudian menghembuskannya dengan bangga. Dia seperti seekor burung mungil yang akhirnya bisa keluar dari kandang dan terbang bebas kesana- kemari.

Aku  memperhatikannya dengan perhatian penuh. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengannya, walaupun sebenarnya telah terjadi sesuatu  padanya. Dia sekarang berbeda denganku, berbeda dalam arti yang sebenarnya.

“hyung…apa yang dilakukan sehun? Apa dia sedang bersama chan yoon?” sehun menyamakan langkahnya denganku.

“ne…” aku tertawa kecil. “mereka seperti kakak beradik dan kita kedua orang tuanya”

“ey….”

Perhatianku kembali ke chan yoon. Aku sedikit khawatir melihatnya yang berjalan di atas trotor dingin ini tanpa alas kaki. Bahkan dia tidak mengenakan mantel dan pelindung dari udara dingin lainnya. Dia hanya mengenakan mini dress selutut dan berlengan panjang. Dress hijau olive yang selalu dia kenakan selama ini. apakah dia tidak merasa kedinginan?

“chan yoon~a” panggiku.

Dia menghentikan langkahnya dan menoleh padaku. “ne oppa….ada apa?”

Aku berlari kecil menyusulnya yang cukup jauh didepanku. “berhentilah…berjalanlah denganku. berhenti bermain-main dengan sehun”

“arayoe…” dia tersenyu menyambutku. “apakah oppa cemburu?”

“ania…” aku meraih tangan kanannya. “apa kamu tidak kedinginan?”

“ania… tidak sama sekali”

“tidak mungkin” aku mengenggam tangannya dan memasukkan  tangan kami ke dalam saku kiri  mantelku. “berjalanlah disamping oppa. Jangan jauh-jauh dari oppa”

“ne oppa…oppa kenapa paranoid lagi? aku tidak akan kemana-mana” dia tersenyum.

Apakah aku mulai aneh? “arayoe”

Aku terus menggenggam tangannya erat. Hatiku memang tidak tenang sejak tadi. Aku tidak tahu alasanya. Aku hanya punya firasat buruk. Dan  dia tidak  terlihat seperti dia yang biasanya. Chan yoon yang sekarang terlalu ceria, bersemangat, cerewet dan cuek. Kenapa dia berubah setelah keluar dari kamar? Dia terlihat sangat pucat, tidak ada rona merah diwajahnya seperti sebelumnya. Sekarang dia benar-benar terlihat seperti hantu.

***

Dia berteriak senang  melihat percikan kembang api dilangit. Dia seolah tidak pernah melihat kembang api sebelumnya. Aku hampir tidak mengerjapkan mata memandangi wajahnya yang hanya disinari cahaya dari percikan kembang api. Dia terlihat sangat cantik, dan selalu begitu. Tetapi suatu saat aku pasti akan kehilangannya. Dia akan pergi dariku.

Rasa menyesal memenuhi dadaku. Membuat aku merasa sesak dan tidak bisa bernapas. Kenapa selama ini aku mengacuhkannya? Dia yang selalu berusaha keras agar bisa melihatku. Dia yang selalu melirik ragu dan takut padaku. Dia takut aku menyadari kehadirannya. Dia takut aku akan mencercanya yang telah seenaknya membuntutiku. Aku yang selalu mengabaikannya dan mempermainkannya. Aku sama sekali tidak menghargai usahanya.

“oppa…aku sangat senang sekarang” suara nyaringnya yang indah membuyarkan lamunanku.

“na tto”  jawabku singkat tanpa mengalihkan pandangku darinya.

Dia masih mendongak ke langit. “aku berharap mimpi ini tidak akan berakhir”

“nde? Mimpi?”

“emm..sepertinya aku sedang bermimpi, mimpi yang panjang dan indah. Aku hanyalah yoeja penguntit  yang sangat mengagumi oppa. Aku sebelumnya hanya melihat oppa dari jauh. Dan sekarang aku berada disamping oppa. Duduk dengan tenang seolah sangat akrab dengan oppa, seolah aku dan oppa sepasang kekasih”

“kita memang sepasang kekasih” jawabku mantap.

Dia menatapku dengan mata bulatnya. Kemudian tersenyum. “gomawo oppa! Mimpi ini sangat indah”

“mimpi?” aku bingung. Aku juga berharap ini adalah mimpi. Aku ingin segera terbangun dan menemui dirimu yang sesungguhnya. Dirimu yang baik-baik saja, tidak seperti sekarang –seorang hantu.

“oppa…apakah oppa mencintaiku? Sejak kapan? Mengapa?”

“noemu saranghae…oppa tidak ingat sejak kapan. Tetapi oppa merasa gelisah tidak lagi menemukan dirimu di belakang oppa. Membuntuti oppa”

Dia tertawa kecil. “ternyata oppa menyadari aku yang membuntuti oppa?”

“tentu saja…penampilanmu sangat mencolok dengan syal yang selalu menutupi  wajahmu”

“oppa, aku sangat senang”

“ara…”

“dan aku rasa, aku terlalu senang sekarang. Tuhan akan mengakhirinya”

“maksdunya?”

Dia hanya tersenyum kecil dan menatap langit. “padahal aku masih ingin disini” dia menghela napas.

“mwo?”

“gomawoyoe oppa”

Duarrr. Pertunjukan peluncuran kembang api akan berakhir. Sebuah kembang api super besar telah diluncurkan. Meledak diudara dan membentuk percikan yang sangat indah. Aku sama sekali tidak tertarik pada kembang api itu. Aku masih menatap chan yoon. Dia tersenyum lebar melihat kembang api itu. Cahaya yang berasal dari kembang api itu menyinari seluruh tubuhnya.

“chan yoon~a” aku membelalakkan mataku.

Dia tidak menjawabku dan terus menikmati pertunjukan kembang api. Aku mulai panik melihatnya yang mulai tembus pandang. Apakah ini efek dari keluar kamarku? Aku tidak tahu harus melakukan apa. aku terus memanggilnya, tetapi dia tidak menjawab.

“Chan yoon~a” aku meraih tangan kanannya. Dan aku berhasil, tubuhnya kembali normal.

Dia menatapku dan tetap tersenyum. “annyeong…oppa”

Perlahan tubuhnya melebur membentuk butiran debu dan hilang ditiup angin. Tangan kanannya yang sedari tadi aku pegang mulai hancur dan terbang bersama debu tubuhnya yang lain. Aku masih termenung. Aku belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi. Chan yoon menghilang dan tidak ada didepanku sekarang. Apakah dia hanya bercanda?

“hyung…noona mana?”sehun mengembalikan kesadaranku.

“dia…” aku terdiam. “…pergi”

“mwo?”

“dia sudah benar-benar pergi” kataku kaku karena shock.

Wu Yifan POV

***

Aku duduk memeluk lutut di lantai kamarku dan bersandar pada tempat tidur. Selang oksigen masih terpasang dihidungku. Aku merasa terganggu dengan selang ini, tetapi dengan cara ini akan bisa terus bertahan. Aku menatap keluar jendela, namun  tetap ditempatku semula. Dedaunan mulai mengering diluar sana. Beberapa pohon bahkan mulai kehilangan daun-daunnya satu persatu. Aku mencoba menyesap aroma  dedaunan kering yang mungkin saja terbawa oleh udara. Tetapi nihil, tidak ada sama sekali.

 

Aku berjalan pelan menuju jendela kamar. Membukanya perlahan dan membiarkan udara dari luar masuk lebih leluasa ke dalam kamarku. Aku mulai bisa mencium aroma daun kering yang mulai hancur ditanah,begitu menenangkan. Aromanya menjalar melalui saraf penciumanku dan memuhi otakku, memberi intruksi untuk melupakan rasa sakit yang aku alami.

 

Aku seperti rhapunzel, hanya saja tidak dengan rambut panjang, terkurung dimenara tinggi dan memiliki sahabat seekor naga dan kelinci. Tetapi aku dan dia memiliki  kesamaan, tidak akan pernah keluar dari suatu ruangan dalam jangka waktu tertentu. Dan aku tidak seberuntung dia, memiliki seorang teman. Aku hanya sendiri disini, merasa jenuh dan hampir putus asa. Dia juga menerima hukuman tanpa suatu kesalahan, sedangkan aku dihukum dengan kesalahan yang besar.

 

Tok.tok.tok. Seseorang mengetuk pintuku dari luar, meminta izin untuk diperbolehkan masuk. Aku melirik jam dindingku, kemudian menghela napas. Perlahan aku menutup  kembali jendela kamarku. Aku sebenarnya tidak rela harus berpisah dengan aroma daun kering itu, tetapi aku harus melakukannya. Bukankah aku harus menerima hukumanku tanpa perlu menolak?

 

“tunggu sebentar, oppa” aku berjalan menuju pintu. Klek.

Sebuah senyum hangat menyambutku. “apakah oppa menganggu?”

“ania” aku menggeleng kecil dan berlalu, mengambil tempat duduk di pinggir tempat tidur.

“apakah kamu tidak akan turun untuk makan, saengi?” suara lembut itu mencoba merubah wajahku yang cemberut.

 

“ania…aku akan makan dikamar saja”

Oppa berlutut didepanku, menatap wajahku yang tertunduk. “ayolah…eomma dan appa ingin kamu turun”

 

“shiroe… aku akan tetap dikamar. Bukankah itu keinginan eomma dan appa?” aku memalingkan wajahnya, tidak ingin menatap mata oppa.

 

Oppa duduk tepat disampingku. “ini untuk kebaikanmu juga kan?emmm…oppa ada berita bagus untukmu”

 

“mwo?” kataku ragu, agar tidak terdengar antusias.

“wu fan sudah keluar dari rumah sakit. Dia sudah sembuh total dan kembali seperti dulu”

Aku tersenyum, tanpa sadar. “joahae….”

“jadi sekarang, turunlah untuk makan. Oppa akan membantumu”

“shiroe!” aku kembali cemberut. “aku tidak akan keluar sebelum eomma dan appa mengizinkan aku kuliah dan keluar rumah”

 

“kamu akan keluar dengan  selang oksigen ini? apa kamu tidak akan malu, eoh?” ejek oppa.

“aku bisa tanpa benda ini. aku tetap kuat tanpa benda ini” nada suaraku meninggi.

Oppa terlihat kesal dan beranjak dari tempat dudukku. “oppa akan mengantarkan makan siangmu”

“oppa….aku mau keluar!” teriakku sambil menangis.

“keluar untuk bertemu wu fan? Begitu?” menatapku penuh emosi. “oppa tidak akan mengizinkan kamu keluar apapun alasannya. Apa kamu tidak tahu, oppa sangat menyayangimu. Oppa tidak mau kamu mati konyol hanya karena mengejar cintamu yang bahkan tidak tahu siapa kamu”

 

“aku mau keluar oppa” aku memohon dan menangis. “izinkan aku keluar sekali saja. Izinkan aku bertemu wu fan oppa sekali saja. Aku hanya ingin tahu keadaannya”

 

“ania chan yoon~a” oppa menghilang di balik pintu.

 

Aku merebahkan diriku di tempat tidur dan mulai menangis. Aku sadar tindakanku ini gila dan tidak masuk akal. Tetapi tidak bisakah aku merasakan bahagia ini. Tidak bisakah aku melihat senyumnya sekali lagi,  mungkin ini akan menjadi yang terakhir. Aku sudah mulai tidak waras, dia membuat aku tidak waras.

***

Hari ini tepat 1 bulan sejak aku pulang dari rumah sakit. Aku hanya ingat  kalau aku jatuh pingsan didepan ruang rawat wu fan oppa. Lima hari kemudian aku tersadar, mendapati diriku dengan peralatan medis yang melekat di tubuhku. Dan aku harus menjalani rawat inap sekitar dua bulan lebih. Ketika aku diperbolehkan pulang, eomma langsung mengultimatumku untuk tetap dirumah. Dia bahkan mengajukan surat permohonan cuti ke universitasku. Dia memaksaku untuk tetapi dirumah sampai aku benar-benar pulih,sembuh total. Mungkin membutuhkan waktu setengah tahun, setahun, bahkan dua tahun.

 

Guk.guk.guk. Aku mendengar gonggongan seekor anjing. Suara itu seperti berasal dari luar. Aku segera mengintip dari jendela kamar. Seekor anak anjing putih dan lucu menunggu tepat dibawah jendelaku. Dia mengibas-ngibaskan ekornya dan mendongak ke arah jendela kamarku dilantai 1.guk.guk.guk. Ulangnya lagi, seolah memanggilku. Aku segera membuka jendela.

 

“ace~a” aku mengenali  anjing itu.

Guk. Balasnya, seolah mengiyakan.

“bagaimana kamu bisa ke sini?” tanyaku, pada seekor anak anjing.

Dia hanya mengibas-ngibaskan ekornya. Sebuah kantung kecil berwarna merah tergelatak ditanah dekat tempatnya berdiri. Dia mengigit  tali kantung itu kemudian berlalu pergi.

 

“yakkk…ace~a! kamu mau kemana?” panggilku. Dia tidak terlihat lagi.

Guk. Aku terkejut.

“ace~a? bagaimana bisa kamu masuk? Tadi kamu…” kata-kataku terpotong, bingung.

Anjing putih nan lucu itu menghampiriku. Dia menjatuhkan kantung merah yang dia bawa didepanku.

“apa ini?” aku memungutnya.

Guk. Hanya itu jawaban darinya. Dia pun berbalik dan berlari keluar, menghilang dibalik pintu.

“kamu mau kemana?” aku mengikutinya, mencarinya keluar kamar. “anjing itu cepat sekali” aku tidak bisa menemukannya.

 

Aku kembali masuk ke kamar. Aku sedikit mengantuk dan hendak tidur siang sebenar. Kantung pemberian ace masih aku pegang erat. Aku menyandarkan diri di tempat tidur. Posisiku siap untuk tidur. Tetapi sebelumnya kau membuka kantung merah seukuran 10×7 sentimeter. Sebatang coklat dengan dibungkus kertas krep berwarna perak berada didasar kantung. Aku mengambil dan sedikit tertarik untuk mencobanya. Aku adalah penggila coklat. Haruskah  aku menunda untuk memakannya?

 

“Coklat?emmm….tidak akan masalah bagiku” kenapa ace memberi aku coklat? “Anjing pintar”

 

Aku membuka kertas krep pembungkus coklat itu dan mulai memakannya.   Aku sangat suka rasa manisnya yang lumer dimulut. Aku rasa ini coklat terenak didunia yang pernah aku makan. Aku menguap ketika gigitan coklat pertamaku telah berpindah dari mulut ke tenggorokan.  Akhirnya aku memutuskan untuk tidur. Entah kenapa aku merasa sangat mengantuk dan ingin segera tidur. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Perlahan kelopak mataku memaksa untuk menutup dan membawa aku ke alam mimpi. Beberapa detik kemudian semuanya gelap dan aku tidak mengingat apapun.

***

Perlahan mataku terbuka. Semuanya terlihat tidak jelas, semuanya buram.  Aku berusaha mengerjapkan mataku perlahan, mengembalikan penglihatanku. Kepalaku terasa berat, sedikit pusing. Aku melirik sekelilingku, aku berada di kamarku. Apakah aku baru saja bangun tidur? Tetapi aku merasa tidur terlalu lama, sangat lama. Aku mencoba mengumpulkan kesadaranku sepenuhnya dan mencoba mengingat apa yang terjadi. Apakah yang sebelumnya aku alami adalah  sebuah mimpi? Seseorang membuka pintu kamarku terburu-buru. Dia bahkan tidak mengetuk pintu atau permisi. Aku paling membenci hal itu.

“oppa….seharusnya oppa mengetuk pintu dulu” kataku tiba-tiba.

Oppa terkejut. “chan yoon~a….dongsaengku? kamu sudah bangung?” oppa seperti melihat hantu. “tunggu sebentar” oppa berlari keluar, terdengar langkah kakinya menuruni tangga.

Ada apa? kenapa oppa terlihat aneh. Aku hanya bangun dari tidur dengan mimpi indah yang panjang. Aku mulai ingat sekarang, aku bermimpi bertemu wu fan oppa. Aku setiap hari bersamanya, bahkan dia menyatakan dia mencintaiku. Aku bisa gila jika harus terus mengingat mimpi aneh itu. Aku menggerakkan tubuhku perlahan. Tubuhku terasa kaku, seperti tidak penah mengganti posisi tidurku berbulan-bulan.

“auch…” aku meringgis kesakitan. Aku tidak menyadari jarum infuse bersarang di tangan kiriku. “hey….kenapa aku diinfus? Aku hanya tidur, bukan pingsan” susah payah aku berusaha mencopot jarum infuse itu.

Selang oksigen tidak lagi bertengger di hidungku, dan itu sangat nyaman. Hati-hati aku turun dari tempat tidur dan menuju jandela kamarku. Cuaca hari ini terasa sangat dingin. Terlalu dingin untuk cuaca musim gugur. aku membuka korden jendela agar bisa melihat leluasa keluar. Apa? seluruh permukaan tanah ditutupi salju. Semuanya putih, bukan kuning atau oranye atau coklat,  warna khas musim gugur.

“anakku” eomma berlari ke arahku dan memelukku. “maafkan eomma…eomma akan menuruti semua keinginanmu mulai sekarang. Tetapi jangan pernah meninggalkan eomma”

Aku membalas pelukan eomma. Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi. “oh…eomma”

“anak appa…appa senang kamu baik-baik saja” appa menambahkan dan tersenyum padaku.

Sedangkan oppa terlihat menahan tangisnya di belakang appa. “oppa….oppa kenapa? Kenapa menangis? Aku memang baik-baik saja kan?” aku sama sekali tidak mengerti.

“chagi…eomma dan appa akan keluar sebentar. Kamu  istirahatlah dulu, lain kali kita keluar bersama.” eomma melepas pelukannya. “kamu baik-baik saja, eoh?”

“ne eomma….kwaenchana”

Eomma merangkul tangan appa dan memberi isyarat untuk pergi. “jun myoen~a… jaga dongsaengmu”

“algessoeyoe, eomma”

Sekarang hanya aku dan oppa yang tersisa di rumah. Aku masih menatap keluar jendela. bagaimana bisa ada salju diluar, bukannya dedaunan kering? Oppa terlihat menyiapkan makanan untukku. Aku duduk dengan manis menunggunya di meja makan. Tetapi aku benar-benar tidak tenang. Aku tidak bisa menemukan jawaban dari pertanyaanku.

“makananya sudah siap. Makanlah chan yoon~a, kamu pasti lapar” oppa duduk di depanku dan menyodorkan bubur hangat untukku.

“oppa…berapa lama aku tertidur? Bukankah sekarang musim gugur? kenapa ada salju dihalaman?” tanyaku polos.

Oppa hanya tersenyum. “mungkin sekitar 4 bulan? Kamu tahu, natal terasa sepi tanpamu”

“natal? Berarti ini desember?” tanyaku ragu

“emmmm…. Tanggal 30 desember”

“bagaimana bisa? Aku tidur selama itu?”

“ne… dokter sampai bingung menjelaskan gejala yang kamu alami. Oppa tiba-tiba menemukanmu tertidur pulas dikamar dan tidak bisa dibangunkan. Dokter bilang gejalamu seperti hibernasi. Sesuatu yang tidak dialami manusia”

“hibernasi? Aku seperti beruang saja” aku tidak percaya mendengar penuturan oppa.

“emmm…kamu seperti beruang. Hanya saja salah musim. Tetapi sepertinya itu adalah awal yang baik”

Aku menyuapi diriku dengan sesendok penuh bubur buatan oppa.

“makannya perlahan saja” oppa cekikikan. “kata dokter jung, asma mu menghilang”

Aku terkejut dan hampir menyemburkan bubur yang aku makan. “oppa ini tidak lucu. Bagaimana mungkin asmaku bisa hilang dan  sembuh? Ini bukan penyakin flu atau demam yang bisa sembuh begitu saja”

“oppa serius… awalnya kami juga tidak percaya. Tetapi memang benar. Apakah kamu tidak merasakan ada yang berubah dalam tubuhmu?”

Aku mencoba menelusuri tiap inci tubuhku, luar dan dalam. Aku mencoba merasakannya dengan perasaanku. “aku bisa bernapas dengan nyaman”

“benar kan? Oppa sangat senang… tidur panjangmu yang awalnya membuat kami semua hampir putus asa, ternyata itu suatu proses jalannya keajaiban bagimu”

Aku tersenyum, setengah percaya. Apakah aku bermimpi sekarang? “jadi aku bisa keluar sesuka hatiku? Dan aku bisa kuliah lagi? dan….”

“membuntuti wu fan lagi,seperti penguntit mesum?” sambar oppa

“ne…” aku mengangguk kecil. Akankah mimpiku  selama tidur panjang itu menjadi kenyataan?

***

Aku berjalan dengan percaya  diri menuju kelasku. Aku tertinggal satu semester dan akanmengulanginya lagi tahun ini. Semua mata tertuju padaku ketika aku memasuki halaman universitasku. Apakah ada yang aneh denganku? aku hanya tidak kuliah 1 semester, apakah itu salah?

“Agassi” panggil seorang ajushi.

“oh…ajushi!” aku tersenyum padanya. Dia adalah keamanan di universitasku. Aku dan dia cukup akrab sebelumnya. “apa kabar ajushi?”  sapaku ramah.

“apakah Agassi tersesat? Tahun pertama untuk mahasiswa ekonomi disebalah sana” dia menunjuk gedung berada di seberang gedung yang akan aku masuki.

“ajushi…ini aku, kim chan yoon”

“nde?” dia mencoba memperhatikanku. “oh… chan yoon agashi. Agassi terlihat berbeda tanpa syalnya” katanya sambil tertawa kecil. “rupanya Agassi sudah sehat. Selamat datang kembali”

“ne…gomawo. Aku masuk dulu” aku melangkahkan kaki pasti.

“oh…tunggu Agassi”

“ne?”

“ sekitar dua bulan yang lalu, kalau tidak salah mendekati musim dingin. Seorang namja mencari Agassi”

“nugu?”

“setiap hari dia kesini dan menanyakan Agassi. Awalnya ajushi tidak mengerti dia mencari siapa. Dia hanya bilang mencari mahasiswi yang selalu menggunakan syal  dan meminta alamatnya. Ajushi tahu yang dia maksud Agassi. Karena ajushi tidak mengenalnya, ajushi bilang tidak tahu”

Siapa? “apakah dia pernah kemari lagi?” tanyaku ingin tahu.

“sudah hampir sebulan dia tidak datang lagi”

“oh….gomawo ajushi”

“ne….selamat datang lagi, chan yoon Agassi. Dan selamat tahun baru”

“emmm…. Selamat tahun baru juga”

***

Aku sedang mengendap-endap dan bersembunyi di belakang pohon yang cukup besar. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, seharusnya dia sudah terlihat sekarang. Cukup lama aku menunggu dan dia belum terlihat sama sekali. Aku hampir bosan dan berniat pulang karena langit mulai gelap. Apakah jadwalnya sudah berganti? Seharusnya berganti, karena ini tahun ajaran baru. Aku harus memulai menjadi detektif lagi dari awal. Aku harus mulai mencatat setiap jadwal kegiatan barunya.

Ragu, kecewa dan sempat putus asa, semua perasaan itu aku seret bersama kakiku menuju halte bis. Aku tertunduk lemas dan berjalan gontai menuju halte bis. Halte bis itu berjarak sekitar 50 meter dari universitas K –universitas wu fan oppa. Bagaimana aku bisa menemukannya? Haruskah aku membolos kuliah dan kembali membuntutinya setiap hari untuk mengetahi jadwalnya? Atau aku harus ke rumahnya dan bertanya langsung? Hey~~ aku tidak seberani itu. Kedekatanku sebelumnya dengan dia hanya mimpi, hanya di alam mimpi.

Aku turun dari bis setelah beberapa lama melintasi jalanan seoul yang rame dan padat, macet dimana-mana. Aku kembali berjalan terseok-seok, seperti seseorang yang tidak ada semangat hidup. Beberapa kali aku menghela napas dengan kasar. Aku bisa melakukan itu dengan leluasa sekarang, pernapasanku tidak akan tergangu lagi.  aku sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas semua itu. Tunggu~~ sepertinya aku salah naik bis. Ini bukanlah lingkungan rumahku. Ini ingkungan rumah wu fan oppa. Apa yang aku pikirkan sejak tadi? Kenapa aku bisa tidak sadar naik bisa yang salah? Mungkin  ini dikarenakan aku yang selalu membuntuti wu fan oppa sampai dirumahnya.

Akhirnya aku memutuskan untuk menuju taman yang tidak jauh dari sini. Tempat aku biasanya menemukan wu fan memberi makan ace. Yap~~ ace, anjing putih lucu peliharaan wu fan oppa dan anjing yang memberikanku keajaiban. Aku melirik semak-semak tempat kandang ace di sembunyikan. Ada sedikit raut kecewa di wajahku saat tidak mendapti wu fan oppa disana, hanya ace.

“annyeong ace~a…noona kembali. Bagaimana kabarmu? Lama sekali kita tidak bertemu. Gomawo atas coklat waktu itu. kamu memberi keajaiban pada noona dan mimpi yang indah” kataku sambil mengelus bulunya. Dia terlihat senang dengan makanan yang aku bawakan.

“apakah wu fan oppa sering kesini? Apakah tadi dia datang?”

Guk. Hanya itu jawabanya, mungkin bisa aku artikan ‘iya’

“apakah dia sering membicarakan noona?” pertanyaan penuh harapan palsu.

Guk. Aku artikan ‘tidak’

“oh….ania? emmm…algessoe” nada suaraku terdengar kecewa. “apakah noona harus menyerah saja? Sepertinya wu fan oppa tidak pantas buat noona. Begitu kan?”

“hey…!”

Aku terkejut. Apakah ace yang baru saja berbicara? “apakah kamu yang berbicara ace?”

“yak…aku bukan ace” suara itu berasal dari belakangku.

Aku segera menoleh. “wu fan oppa?” kataku reflex. Aku segera berdiri,salah tingkah.

“chan yoon~a” panggilnya lembut, berbeda dengan nada suaranya tadi.

“nde?”  dia mengetahui namaku?

“apakah kamu  kim chan yoon?” tanyanya lagi.

Aku malu setengah mati. Jangan-jangan  selama ini dia tahu aku membuntutinya, sama seperti didalam mimpiku. Apa yang harus aku lakukan? Aku harus segera pergi.

“mianhae….aku permisi” aku berlari kecil sambil tertunduk dan melewatinya.

“tunggu….tolong jangan pergi” wu fan oppa menahan tanganku. “tolong jangan pergi lagi. jangan tinggalkan oppa lagi”

“nde?” apakah aku bermimpi lagi?

Wu fan oppa menarikku dalam pelukannya “chagiya…jangan pergi lagi. apa kamu tega meninggalkan oppa?”

“emmm… wu yifan~ssi mianhe. Aku tidak mengerti” kataku ragu.

“mwo?” wu fan oppa melepas pelukannya dan menatapku. “ada apa denganmu chan yoon~an?”

“maksud wu yifan~ssi apa? baiklah aku meminta maaf karena selalu membuntutimu dan menganggu privasimu. Tetapi apakah cara ini tidak terlalu berlebihan?” pipiku mulai merah. “candaan anda keterlaluan” kataku ragu.

“yak….kim chan yoon, apa yang terjadi padamu? Setelah kamu tiba-tiba menghilang saat festival dan tidak kembali lagi, aku menjadi stress. Aku mengira kamu benar-benar lenyap. Aku akan menerimamu apa adanya, walaupun kamu seorang hantu. Tetapi tolong jangan pergi lagi”

Mataku membulat reflex. Apa yang baru saja dikatakan wu fan oppa? Bagaimana dia tahu tentang cerita di dalam mimpiku? Apakah sebenarnya itu semua bukan mimpi? Aku menatap manik matanya. Apakah dia berkata jujur? Ataukah cerita karangannya kebetulan sama dengan mimpiku?

“aku bukan hantu” itu kalimat pertama yang keluar setelah aku mencoba menyadarkan diri.

“nde? Benarkah?” wu fan oppa terlihat senang.

“dan bukankah yang oppa katakan sebelumnya tadi adalah mimpiku? Bukankah itu mimpi?”

“mimpi? Wu fan oppa menatapku bingung. “kamu selama 3 bulan menetap dikamarku tanpa terlihat adalah mimpi? Lalu kamu yang tertidur di pelukanku adalah mimpi?”

Aku semakin membelalakkan mata. “bagaimana oppa tahu?”

“karena itu bukan mimpi dan kamu bukan hantu”

“mungkin aku masih tertidur” aku menepuk pipiku sendiri beberapa kali.

“hentikan” wu fan oppa menahan tanganku. “jangan sakiti dirimu sendiri. ini bukan mimpi, dan aku bersyukur”

Wu fan oppa mendekatkan dirinya padaku dan mengecuk keningku. Kemudian dia mencium kedua pipiku yang sedikit memerah karena pukulan kecilku tadi. Dan tanpa aku duga, dia mencium bibirku lembut. Dia melumatnya lembut dan penuh kehangatan. Mataku terpejam seketika, menghayati tiap sentuhan bibirnya. Aku hanya terdiam, tidak membalas ciumannya. Aku membiarkannya memperlakuakn bibirku sesuka hatinya. Otakku masih berpikir keras. Apakah ini masih mimpi?

Perlahan wu fan oppa melepaskan ciumannya.  Aku masih menutup mataku. Terdengar suara napasnya yang sedang diatur. Aku membuka mata perlahan. Aku sedikit terkejut ketika mendapati wajahnya masih sangat dekat denganku. dia tersenyum nakal padaku.

“apakah ini mimpi?” tanyanya

“emmm…aku rasa tidak, oppa” jawabku ragu dengan pipi merah.

“sepertinya kamu masih berpikir ini mimpi, chagi”

“nde?”

Wu fan oppa kembali mempertemukan bibirnya dengan bibirku. Dia kembali melumat bibirku lembut, tetapi sekarang lebih bergairah dari sebelumnya. Naluriku tidak mengizinkan aku hanya terdiam. Dia –naluriku- memaksaku untu membalas ciuman wu fan oppa,  bukannya hanya terdiam. Wu fan oppa melingkarkan kedua tangannya di pingangku dan memperkecil jarak di antara kami.

Guk.guk.guk.guk. ace mengintrupsi, dan aku segera menjauhkan diriku dari wu fan oppa.

“emmm…mianhae” kataku.

“weo?” wu fan oppa tersenyum.

“aku akan pulang oppa. Eomma menungguku” aku tertunduk malu, pipiku terasa panas.

Wu fan oppa menggenggam tanganku. “kaja…oppa akan mengantarmu”

“oh…ne” aku mengangguk ragu.

“aku tidak mau kamu menghilang lagi dan terjadi apa-apa padamu. Oppa akan mengantarmu sampai rumah” dia tersenyum hangat padaku.

“ne, oppa! Gomawo” jadi semuanya bukan mimpi. Itu semua keajaiban, keajaiban yang sangat indah.

The END

Sangat tidak jelas bukan? Tetapi ini buah dari buahnya pikir author. Jadi sangat berharga bagi author. Hehe :D…RCL