Tags

, , ,


please don't go

Title:

Please Don’t Go part 1

Author:

Choi Ye Joon a.k.a Choi Chan Yoen/ Yunn Wahyunee

Genre:

Romance, Fantasy, Sad (?)

Length: Two Shoot

Rating: PG-17

Main Casts:

Kim Chan Yoon (imajinated/you)

Kris a.k.a Wu Yifan

Support Casts:

Luhan a.k.a Xi Luhan

Suho a.k.a Kim Jun Myeon

Sehun a.k.a Oh Sehun

Etc.

Summary :  Aku mohon jangan  pergi. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menunggumu disini. Aku mohon, bawalah aku.

A/N:  FF ini milik author. Wu Yifan (kris) milik author juga #plak#. Casts yang lain milik kalian dan Tuhan semata.  Semoga tidak membosankan. Maaf apabila ada kesamaan nama, tempat dan kejadian. Semuanya terjadi karena semata-mata ulah author yang notabennya manusia. Mianhae #bow# apabila ditengah jalan(?) reader tidak menemukan kesinambungan antara judul dengan isi. Author juga bingung kenapa. Jadi mianhamnida. Bye……

Warning: Typo bertebaran dan kebingungan yang mungkin akan reader alami. Tulisan bold+italic adalah flashback. Keseluruhan plot adalah kim chan yoon, kecuali ada pemberitahuan (?) Ada beberapa sceen yang mungkin tidak sepantasnya. Jadi mohon kebijaksanaannya.

Chek This Out……

Aku selalu berada disini. Aku tidak pernah beranjak dari tempatku ini. Aku tidak berniat untuk beranjak sedikitpun atau bahkan merubah posisi dudukku. Disinilah aku, duduk dengan manis disebuah sofa minimalis tanpa sandaran berwarna hijau toska yang berada tepat di bawah jendela.

Badanku tegap mengarah ke pintu.  Aku hanya cukup menolehkan kepalaku ke kanan untuk melihat ke arah tempat tidur dan ke  kiri saat  ingin melihat ke spot meja belajar. Aku selalu disini, tidak bergeming. Aku bahkan tidak tidur, aku tidak akan tertidur.

Sesekali aku melirik keluar jendela yang kadang terbuka, namun lebih sering tertutup. Kali ini jendela tersebut  terbuka dengan lebar. Angin musim dingin dengan leluasa memasuki kamar tempat aku berada sekarang. Salju belum memberikan pertanda akan mendarat dibumi. Aku tidak sabar menunggunya. Tetapi aku akan tetap disini, tidak akan kemana-mana.

Klek. Pintu kamar terbuka. Seorang namja  dengan  tubuh yang begitu tinggi dan rambut coklat kepirang-pirangannya berjalan menuju meja belajar. Aku  menyapanya dengan senyum hangatku. Dia menaruh tasnya begitu saja dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

Tatapanku mengiringinya pergi. Dia membelakangiku, menunjukan punggungnya yang lapang, berkharisma dan mempesona. Aku sedikit kecewa karena dia terlihat begitu murung. Tidak seperti biasanya dia terlihat murung. Sebenarnya, dia juga tidak pernah tersenyum. Bukan berarti dia tidak tahu cara tersenyum, dia hanya sedikit dingin.

Aku sabar  menunggunya, menunggunya keluar dari kamar mandi. Hey~~ aku bukanlah penguntit dengan pemikiran mesum. Aku hanyalah seorang yoeja biasa yang setia menunggunya disini. Klek. Dia membuka pintu kamar mandi. Aku kembali melayangkan senyumku.

Aku tertawa nakal melihatnya hanya dengan sehelai kain yang disebut handuk menutupi bagian bawah badannya. Rambutnya terlihat basah. Oh~~ aku ingin berteriak. Dia terlihat  sangat tampan, selalu sangat tampan. Dadanya yang begitu bidang. Oh~~ Tuhan, dosakah aku melihatnya dengan kondisi seperti itu? Ini bukan kemauanku, dia yang berjalan dengan  santainya didepanku.

Lagi-lagi aku tertawa. Dia membuka lemari pakaiannya. O o o o~~ Dia akan menggunakan pakaian. Aku yoeja yang baik, aku tidak akan melakukan tindakan memalukan dengan membiarkan mataku terbuka dan melihat semuanya. Aku memejamkan mata, aku benar-benar memejamkan mata.

Tunggu dulu, jendelanya terbuka. Apa dia tidak menyadari kalau jendelanya terbuka? Aku tahu betul siapa pengisi rumah sebelah. Dia adalah seorang eonnie atau lebih tepatnya ajumma yang selalu menggoda setiap namja yang ia temui. Dan namja yang ada bersamaku di kamar ini adalah salah satu mangsanya. Aku yakin ajumma itu sedang mengintip dengan teropongnya sekarang.

Aku masih memejamkan mataku gelisah. Apa yang harus aku lakukan? Terdengar langkah kaki mendekatiku. Tanpa membuka mata, aku mengeser dudukku sedikit. Aku menyeret diriku ke ujung sofa itu. Klek. Syukurlah, dia menutup jendela. Dia tidak seceroboh dan sebodoh itu.

Beberapa menit kemudian, aku mendengar dia merebahkan dirinya dikasur empuk miliknya. Akhirnya, aku bisa membuka mataku kembali. Ujung mataku meliriknya yang tertidur dengan posisi terlentang. Apa yang dia pikirkan sekarang? Seandainya aku bisa membaca pikiranya. Seandainya dia mau membagi sedikit ceritanya padaku.

Dia terlihat murung. Dan itu membuatku menjadi gelisah. Aku tidak mau dia bersedih. Seandainya aku bisa menanggung semua bebannya. Aku ingin dia terus terseyum. Walaupun dia tidak tersenyum untukku, cukup untuk dirinya sendiri.

“Tuhan, aku mohon untuk yang terakhir kalinya. Izinkan aku untuk membuatnya tersenyum” gumamku mengiringnya memejamkan mata dan tertidur. Aku masih disini dan akan selalu disini. Aku tidak akan kemanapun. Aku tidak akan bisa kemanapun.

***

Aku berlari menuruni anak tangga. Matahari sudah selesai menyapa seluruh penghuni bumi,  dia bersiap untuk bersinar lebih terang lagi. Aku melanjutkan langkahku menuju halaman belakang rumah. Benda  berwarna putih yang mirip parutan es batu bertebaran dimana-mana. Salju turun tadi malam. Walaupun tidak sebanyak yang aku bayangkan, cukup untuk memperindah halaman belakang rumah dengan kilauannya saat diterpa sinar matahari.

 

Aku merentangankan tanganku, menarik napas dalam-dalam. Sekarang aku sedang menikmati atau mendramatisir  hari bersalju pertama di tahun ini. Tenang, begitu damai. Aku seperti bisa mendengar kepakan sayap kupu-kupu dan langkah demi langkah sang ulat yang menaiki sebuah batang kecil. Disela-sela itu semua, detak jantungku terdengar lebih jelas. Begitu berirama, mungkin aku bisa menciptakan lagu dari setiap detakakan jantungku.

 

“chan yoon-a” panggil eomma. “masuklah…palli”

“ne eomma…arasoe” aku cemberut dan melangkah masuk.

“apa yang kamu lakukan diluar? Udara sedang dingin sekali. Jangan keluar rumah tanpa mantel, sarung tangan, syal, dan sepatu yang hangat”

 

“arayoe eomma….algesseoyo”

“sarapanlah dulu baru berangkat kuliah” eomma memberikan sepotong roti dengan selai coklat dan segelas susu coklat kepadaku.

 

“emmm… gomawo!”

***

Aku membetulkan letak penutup telinga berwarna biru yang dipasangkan eomma padaku. Eomma terlalu memanjakanku, seolah aku masih berumur 5 tahun. Aku memang patut dimanjakan, bukan, maksudnya dikhawatirkan. Aku hanya yoeja biasa dengan kelemahan yang cukup merepotkan.

 

Langkah demi langkah  aku nikmati dengan sepenuh hati. Setiap detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun, sangat berarti bagiku. Aku senang memaknai tiap hal yang aku alami. Semuanya begitu berkesan dan memiliki makna. Semuanya begitu menyenangkan.

 

Aku tersenyum, aku suka tersenyum. Harus berdiri didalam bis yang penuh sesak bukanlah sesuatu yang perlu dibenci. Aku menyukainya, menikmati setiap hentakan yang aku rasakan saat sang supir menginjak pedal rem.

***

Aku tersenyum, aku suka tersenyum. Walaupun  aku harus membawa setumpuk buku super tebal dan super berat menuju perpustakaan yang ada dilantai 4 gedung ini. Aku tidak menolak jika temanku meminta bantuan untuk mengantarkan buku-buku ini dari lantai dasar gedung –tempat aku sakarang- menuju perpustakaan.

 

Susah payah aku mencoba menorobos memasuki lift. Tetapi selalu gagal. Aku tidak diberikan kesempatan.  Aku tidak marah atau kesal, mengapa aku harus marah? Mungkin mereka sedang terburu-buru dan memiliki urusan yang lebih penting?

 

Bukk. Buku-buku itu jatuh dari tanganku setelah beberapa orang kembali mendahuluiku masuk lift. Aku tidak menyalahkan mereka. Ini semua salahku, tanganku tidak cukup kuat menahan buku-buku tersebut.

 

“kwaenchana?” sebuah suara indah mengalun ditelingaku.

Aku menatap pemilik suara. “nde?”

“kwaenchanayoe? Sepetinya kamu kesulitan dengan buku-buku ini.” dia membantu merapikan kembali buku-buku berat itu.

 

“animmida… gomapsumnida” aku siap menerima tumpukan buku itu berpindah dari tangannya ke tanganku.

 

“kaja…” dia memberiku tanda untuk segera masuk lift.

Aku menatap heran. “bukunya?”

“woow” kami sudah didalam lift. “buku-buku ini sangat berat, dan kamu sanggup membawanya selama itu?”

 

“ne…” aku tertunduk malu.

Ting. Pintu lift terbuka. Aku sampai dilantai 4. Aku menatapnya, menjulurkan tangan untuk mengambil buku-buku itu lagi. Tetapi dia malah tersenyum dan keluar dari lift. Aku mengikutinya. Brukk. Buku-buku itu sudah berpindah ke atas meja.

 

“gomapsumnida” aku sedikit menundukkan kepalaku.

“ne…choenma. Lain kali jangan bawa buku-buku seberat itu” dia tersenyum padaku dan berlalu pergi.

 

Mataku enggan berkedip. Aku terus mengiringnya yang pergi. Siapakah dia? Seorang malaikat? Tiba-tiba aku bisa mendengar darah yang mengalir di tubuhku. Aku bisa mendengar sebuah simponi detak jantung, tidak, dua buah simponi. Apakah itu milikku dan miliknya? Detak jantung kami seperti saling mengiringi, membentuk irama yang indah. Aku bisa mencium aroma tubuhnya dengan jelas. Dia seperti berada sangat dekat denganku. Oh~~ Tuhan, aku tidak bisa bernapas.

***

1 minggu sudah aku mengikutinya. Selama itu pula aku mencari tahu semua tentangnya. Aku memang aneh. Tidak sepatutnya seorang yoeja melakukan hal ini. Aku tidak peduli, karena aku tidak merugikan siapapun. Aku tidak tahu kenapa aku melakukan ini. Mungkin aku menyukainya? Tidak salah untuk menyukai namja seperti dia.

 

Wu Yifan, nama yang indah bukan? Aku tidak tahu arti nama itu, tetapi aku tahu nama itu indah. Awalnya aku sempat bingung, kenapa namanya wu yifan. Korea selatan tidak memiliki nama seperti itu. Bodohnya aku tidak mengetahui kalau ia berasal dari China. Aku tidak peduli dia darimana, aku tetap menyukainya. Dan akan terus menyukainya, mencintainya.

***

Dia menggeliat, merenggankan tubuhnya. Dia tidak perlu bantuan alarm untuk bangun sepagi ini. Nalurinya yang akan membangunkannya. Aku masih disini, aku tidak bergeming. Aku disini terus menatapnya yang tertidur dengan pulas. Segala beban yang sebelumnya tersirat diwajahnya menghilang saat itu. Dia tertidur dengan nyenyak dan damai.

Senyum selamat pagiku menyambutnya yang melangkah menuju jendela. dia menghampiriku dan duduk disampingku. Matanya masih setengah terbuka. Apakah dia masih mengantuk? Tangannya bergerak perlahan membuka tirai jendela. Dia sempat memincingkan matanya saat sinar matahari tiba-tiba mengagetkan dengan kilauannya. Aku tertawa kecil melihatnya yang merasa silau.

Jendela telah terbuka lebar. Udara dingin kembali bebas masuk ke dalam kamar ini. Sinar matahari tidak mau kalah, tetapi ia tetap harus mengalah. Tidak ada rasa hangat di seluruh ruas sinarnya. Aku tercengang, salju sudah menutupi seluruh permukaan tanah. Aku tidak menyadarinya turun semalam. Aku terlalu asyik menatap namja  disebelahku ini yang sedang tidur.

Ujung-ujung bibir namja disebelahku membentuk sebuah senyuman. Senyum itu sangat indah, mengalahkan kilauan salju diluar sana. Aku menatapnya tanpa berkedip, dan tidak akan berkedip. Senyum itu, senyum itu yang aku rindukan. Senyum seorang, Wu Yifan.

***

Aku melirik jam dinding yang tepat berada  didepanku. Aku mulai khawatir. Tidak biasanya dia terlambat pulang. Dia selalu pulang tepat waktu. Tidak ada aturan dirumah ini, tetapi dia yang membuat peraturan sendiri.

Jarum jam itu seperti tidak bergerak. Menunggu itu memang membosankan. Tetapi aku mencoba tetap bersabar. Dia akan pulang dan menerima senyum hangatku. Klek. Seseorang memutar gagang pintu. Aku memasang senyum khasku untuk menyambutnya. Aku duduk disini, memberikan senyuman hangat padanya.

Bulan bersinar terang diluar. Sinarnya masuk melalui jendela yang terbuka lebar –lagi. Sinar bulan  menerpa tubuhku, tetapi tidak membentuk  sebuah bayangan. Dia menyalakan lampu, mengusir sinar bulan. Senyum manisku sudah merekah.

“selamat datang, oppa” kataku menyambutnya.

Dia tiba-tiba terkejut. Ekspresi yang tidak pernah aku lihat darinya sebelumnya. Dia seperti ketakutan, terkejut melihat sesuatu. “noen?” katanya sambil menunjuk ke arahku.

Aku menoleh kanan-kiri. Adakah selain aku dan dia disini? “na?” tanyaku konyol.

“bagaimana kamu bisa masuk ke kamarku? Kamu masuk lewat jendela, eoh?” dia kembali tenang.

“oppa berbicara padaku?”aku masih celingukan.

“ne…siapa lagi? cuma ada kamu dan aku disini. Kamu siapa?”

Sekarang gantian aku yang terkejut. Apakah dia baru saja berbicara denganku? Tetapi aku, aku tidak terlihat. Aku…. “bagaimana oppa bisa melihatku?”

Dia berkacak pinggang. “jangan bercanda. Mana bisa aku tidak melihatmu yang jelas-jelas duduk disitu? Kamu   bukan seekor semut” jelasnya.

“tetapi aku…aku…”

“baiklah…kembali ke inti permasalahan. Siapa kamu? Bagaimana masuk ke kamarku? Dan sejak kapan kamu ada disini? Satu lagi, apa yang kamu lakukan disini?”

Aku menghela napas. “joeneun kim chan yoon imnida. Aku tidak ingat bagaimana bisa berada disini. Aku disini sejak 3 bulan yang lalu. Dan aku hanya duduk disini oppa. Aku tidak melakukan apapun”

“mwo?” dia terlihat tidak percaya. “kamu sudah 3 bulan disini? Jadi selama 3 bulan kamu memanjat jendela dan masuk ke kamarku?”

“ania….aku tidak memanjat jendela. Aku selalu duduk disini selama 3 bulan. Aku tidak pernah kemana-mana. Aku menunggu oppa pulang disini”

“maksudnya?” dia bersandar pada tembok dan melipat tangannya didada.

“oppa tidak mengenalku? Tidak mengingatku sama sekali?”

“ania…memang kita pernah bertemu?”

“ah…oppa pasti tidak ingat. Tidak apa-apa. Aku selalu duduk disini menunggu oppa pulang dan memperhatikan setiap aktivias oppa didalam kamar ini. Aku sudah melakukannya selama 3 bulan. Aku menemani oppa saat oppa tertidur. Aku menyambut oppa dengan senyuman saat oppa pulang. Aku mendoakan oppa agar oppa selamat saat oppa keluar rumah. Dan aku yang cemas menunggu oppa pulang”

“kata-katamu seolah kamu tinggal denganku”

Aku tersenyum. “aku memang tinggal dengan oppa. Aku juga penghuni kamar ini” aku tertawa kecil. “lebih tepatnya penghuni tak diundang sejak 3 bulan lalu”

“tidak masuk akal. Memangnya aku tidak sadar jika memang selama 3  bulan kamu terus dikamarku. Kamu bukan hantu yang bisa begitu. Maksudku, kamu duduk disitu selama 3 bulan tanpa aku sadari?”

“memang aku” jawabku singkat.

“mwo?”

“aku memang hantu” aku tertawa kecil. “aku adalah hantu”

***

Aku berusaha mengatur napasku lagi. Seharusnya aku tidak boleh berlari seperti tadi. Seandainya eomma tahu, dia akan sangat marah. Aku menurunkan syal yang hampir menutupi hidungku. Menarik napas seleluasa mungkin. Aku segera menggeledah tasku untuk mencari sang  pelindung nyawaku. Aku sulit bernapas, terdengar suara aneh saat aku berusaha menarik napas.

 

“yak…” aku menarik napas. “dimana kamu?”

 

Aku semakin sulit bernapas. Apa yang harus aku lakukan?  Aku tidak bisa menemukan obatku. Aku Hampir putus asa. Untuk terakhir kalinya, aku menumpahkan semua isi tasku ke trotoar jalan. Itu dia, sang pelindung nyawaku –obat. Aku memasukkan ujung berlubang dari wadah obat itu ke dalam mulutku, kemudian menekan bagian atasnya. Aku menghirup  sesuatu yang keluar dari wadah obat berbentuk aneh berwarna biru langit itu –inhaler.

 

Butuh beberapa menit untuk mengatur lagi napasku. Beginilah aku yang sebenarnya. Seorang yoeja biasa dengan penyakit asma akut dan animeanya. Jangan heran jika aku selalu terlihat pucat. Aku memang menderita animea yang cukup parah. Asmaku juga tidak mau kalah. Itu semua bukan karena kebiasaan hidupku yang buruk. Jangan juga salahkan  genetikku. Mereka hanya bagian dari alat takdir Tuhan.

 

Sebuah bis berhenti di halte bis yang berjarak 5 meter dari tempatku sekarang. Aku segera merapikan barang-barangku yang berserakan di trotoar. Aku harus naik bis  ini. aku harus naik.

 

“ajushi…tunggu” teriakku.

 

***

Aku turun dari bis disebuah halte. Halte yang setiap hari selalu aku kunjungi. Padahal sebenarnya, aku hanya membuang waktu jika harus  menunggu bis di halte ini. Bis yang akan aku naiki sekarang tidak akan menuju universitasku. Tetapi tidak ada yang sia-sia jika untuk bertemu dia.

 

Dia sedang membaca bukunya sambil berdiri dan bersandar pada tiang halte. Aku menatapnya dengan mata berbinar. Namja yang berada 5 meter di dekatku ini begitu mempesona. Ia terlihat begitu tampan dengan kemeja abu-abu dan calana jeans hitamnya. Sepatu dan tas ransel berwarna putih membuat dia semakin sempurna.

***

Aku menatap diriku didepan cermin. Aku terlihat semakin pucat. Eomma tidak akan menyukai ini. Beberapa hari ini penyakitku sering kambuh. Tetapi beruntungnya tidak terjadi dirumah. Aku bisa mengendalikanya, aku sudah terbiasa dengan rasa sakitnya. Aku  membuka laci di sebelah kanan meja riasku. Disanalah tempat tinggal obat-obatku. Kalau dihitung, semuanya persediaan untuk waktu 3 bulan. Aku mengambil sebuah tabung pompa berwarna biru –inhaler- untuk asmaku dan beberapa pil untuk animeaku.

 

“chan yoon-a…turunlah! Sarapannya sudah siap” panggil eomma.

 

Aku segera turun, menuju ruang makan. Aku melihat eomma dan appa sudah menungguku. Aku tersenyum manis pada mereka.  Aku tidak mau terlihat sedih didepan  mereka. aku tidak mau membuat mereka khawatir.

 

“apa kamu melupakan  syalmu lagi?” eomma geleng-geleng kepala.

Aku mengurungkan niat untuk duduk. “oh….mianhae eomma. Aku akan mengambilnya”

“duduklah…makan saja dulu. Biar nanti eommamu yang ambilkan”  pinta appa.

“ne…mianhaeyo eomma?”

“kwaenchana….” Eomma menuju kamarku.

 

Sekarang bukan musim dingin lagi. ini musim semi, hanya penghujung musim semi. Mungkin orang-orang tidak akan memerlukan syal. Tetapi tidak denganku. Aku harus tetap menggunaknnya untuk melindungiku dari berbagai macam ancaman yang akan mengacaukan pernapasanku. Aku tidak  akan mengeluh. Aku menyukainya, hanya memang aku sering lupa mengenakannya.

 

“oppamu akan pulang sebentar lagi”

Aku menatap appa. “jinjae? Kapan appa?”

“Mungkin  1 bulan lagi? Oppamu menanyakan, apa kamu mau dibelikan sesuatu?”

“oh…aku hanya mau oppa segera pulang. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan. Dan, aku bosan dirumah” aku tertawa kecil.

Appa tersenyum. “apakah eomma mengurungmu lagi?”

Aku mengangguk kecil.

“ini semua demi kebaikanmu kan? Jangan salahkan  eommamu. Eomma pasti tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi  padamu”

“algesseoyo” aku tersenyum manis.

“chagi….obatnya sudah dibawa?” eomma datang dengan syal merahku.

“emm…sudah”

“sudah  di cek? Kamu sering mencampur inhaler kosong dengan yang baru”

“ey…sudah beres eomma” aku tertawa nakal.

***

Aku mengendap-endap di belakangnya. Aku sangat beruntung hari ini. Aku di kejutkan dengan pengumuman bahwa semua mata kuliah diliburkan karena hari ini ulang tahun universitasku. Tanpa pikir pajang aku memilih untuk pulang dibandingkan mengikuti pesta ulang tahun itu. Dan satu lagi, aku berbohong pada eomma bahwa aku ada kuliah tambahan hingga  sore.

 

Disinilah aku sekarang. Mengikutinya –Wu Yifan- kemanapun dia pergi. Aku terlihat seperti penguntit,  tetapi aku tidak mesum. Aku hanya mengaguminya tidak lebih. Sampai detik ini, aku tidak pernah berbicara padanya lagi setelah insiden buku-buku berat itu. Aku hanya yoeja biasa yang mengaguminya dan ingin selalu melihatnya. Aku hanya yoeja biasa yang selalu mengikutinya selama 4 bulan terakhir ini.

 

Tunggu sebentar, aku kehilangan jejaknya. Bukkk. Aku menabrak seseorang. Aku jatuh terduduk di trotoar. Perlahan aku mengintip dari balik syal merahku. Oh Tuhan~~ dia, dia berdiri didepanku. Dia mengulurkan tangannya dan membantuku berdiri.

 

“kwaenchanayoe?mianhamnida” suara itu melumerkanku.

“oh…ne” aku menyembunyikan wajahku didalam syalku.

“Apakah aku mengenalmu? Aku sepertinya pernah melihatmu?”

Aku semakin membenamkan wajahku dalam. “begitukah?”

“oh…aku ingat. kamu yoeja gigih dengan buku-buku  super berat dan tebal itu. Aku benar, eoh?”

“ne…” mataku  berbinar-binar. Dia mengingatku, setelah 4 bulan dia masih mengingatku?

“kebetulan sekali kita bertemu disini. Mian membuatmu jatuh tadi”

Ini bukan kebetulan oppa, teriakku dalam hati. “oh…suatu kebetulan”

“cha…” dia melirik jam tangannya. “aku harus segera pergi. Jika kita bertemu lagi, aku ingin sekali mengobrol denganmu.   Bye” dia berjalan ke arah sebaliknya dari arahnya tadi.

 

“bye” kataku lesu.

***

Dia mondar mandir didepanku sambil memegangi kepalanya. Pernyataanku sebelumnya, tidak bisa dia terima. Dia mencoba mencari alasan yang lebih masuk akal. Kenapa aku bisa ada dikamarnya? Dan kenapa aku mengaku bahwa aku hantu?

“apa kamu yakin?” tanyanya lagi. “kamu tetap tidak mau mengaku?”

“aku sudah bilang yang sesungguhnya pada oppa. Beginilah aku, aku adalah hantu” jelasku ragu.

“jangan mencoba membohongiku” dia duduk disampingku, kemudian memegang pundakku. “lihat, aku bisa memegangimu. Jika kamu adalah hantu, aku  tidak akan bisa menyentuhmu”

“mwo?” aku kaget. “bagaimana oppa bisa menyentuhku?”

“kamu malah bertanya padaku?” ia tertawa kecil. “Karena kamu juga manusia. Apakah kamu mabuk?”

Aku menggelang. “aku tidak mabuk” apa yang terjadi padaku Tuhan? Dia bisa melihat dan menyentuhku? Apakah ini jawaban dari doa-doaku? Apakah semua orang bisa melihatku?

“ah…aku tahu. Kamu pasti temannya Luhan.” Dia berjalan menuju pintu. “anak itu membawa yoeja ke rumah dan menyembunyikannya dikamarku? Awas saja kamu Xi Luhan“ gumamnya, dan dia menghilang dibalik pintu.

Aku merasa gugup sekarang. Bagaimana kalau ternyata  Luhan, sepupu wu fan –nama panggilan Wu Yifan- oppa , melihatku dan tentu tidak mengenalku? Dia akan semakin memperkuat kalau aku adalah yoeja mesum yang memanjat jendela demi melihat namja idamannya. 15 menit sudah berlalu, dan dia belum kembali.

“ada apa, hyung?” luhan ditarik paksa masuk ke dalam kamar.

“masih bertanya ada apa? siapa dia?” wu fan oppa menunjukku.

Luhan mengikuti arah tangan wu fan oppa. “mwo? Tidak ada apa-apa? hyung mabuk?”

“jangan berakting deh…aktingmu sangat payah. Kamu tidak akan pernah menjadi artis” wu fan oppa terlihat kesal. “kenapa kamu menyembunyikan seorang yoeja dikamarku? Kamu mau ajumma dan ajushi marah padaku?”

“ania hyung…” luhan terlihat takut. “bagaimana mungkin aku melakukan ini pada hyung. Kita sama-sama menumpang disini. Dan aku sepupu hyung, aku tidak mungkin melakukan itu.” luhan mengendus. “apakah hyung meminum alcohol tadi?” tanyanya ragu.

“tentu saja tidak…kamu tahu aku membenci itu. jangan mengalihkan pembicaraan”

“lalu kenapa hyung aneh? Jelas-jelas cuma kita berdua yang ada disini. Dimana yoeja yang hyung bilang?”

“itu…yang duduk dekat jendela”

Luhan menatap ke arahku. “mana hyung? Tidak ada siapa-siapa?”

Aku masih terdiam menyaksikan perdebatan antara wu fan oppa dan luhan. Luhan tidak melihatku? Aku sangat bersyukur akan itu. jadi intinya hanya wu fan oppa yang bisa melihatku dan menyentuhku. Tuhan memang telah mengabulkan permohonanku. Terima kasih Tuhan. Aku tersenyum bahagia, sangat bahagia.

Klek. Seseorang membuka pintu dan menyembulkan kepalanya. “hyung….kata eomma, kalian bisa ambil sendiri makan malamnya di dalam kulkas.  Jangan lupa panasi dulu biar enak” kata namja yang baru saja membuka pintu.

Wu fan menarik masuk namja itu dan segera menutup pintu. “ssst…sehun~a jangan bilang pada ajumma dan ajushi, eoh? Aku mohon. Dia itu temannya luhan, tetapi anak ini tidak mau mengaku” memelototi luhan.

“hyung ini aneh…tidak ada yeoja disini” luhan kesal.

“maksud hyung, noona itu?” sehun menghampiriku dan duduk disampingku. “maksud hyung noona ini?”

Wu fan tertawa kemenangan. “luhan…kamu masih tidak mau mengaku?”

Aku terkejut luar biasa. Namja disebelahku ini bisa melihatku. Berarti luhan juga, dia hanya berbohong tadi. Aku memang sering melihat namja imut dan tinggi ini. Dia oh sehun, anak pemilik rumah ini. Aku sering melihatnya masuk diam-diam ke kamar wu fan oppa dan mencoba beberapa barang wu fan oppa. Dia sangat lucu dan lugu.

“sehun~a…kamu jangan berbohong” luhan memelototi sehun.

“aku tidak bohong hyung…noona ini kan?” melirik ke arahku. “dia memang  selalu duduk disini. Sekitar 3 bulan yang lalu dia mulai terlihat disini.  Dia tidak pernah kemana pun, dia selalu duduk disini”

“jadi dia sering masuk ke kamarku? Jadi dia memang memanjat masuk melalui jendela?” wu fan gantian memelototiku.

“oppa, aku tidak melakukan itu” belaku

“buat apa dia memanjat jendela?” jawab sehun enteng. “noona kan bisa terbang, jika mau. Oh tunggu…hyung melihat noona ini?”

“nde?” wu fan mengeryitkan dahi.

“daebak…hyung juga bisa melihat makhluk seperti  dia?” sehun tertawa.

Aku menatap sehun  heran. “maksud kamu apa?”

“noona tidak tahu? aku tahu noona selalu disini dan tertawa melihat aku yang  mencoba beberapa barang wu fan hyung. Aku sengaja mengacuhkan noona” dia tertawa kecil. “noona adalah hantu”

Senyum lebar langsung terbetuk dibibirku. Aku memang tidak terlihat oleh siapapun keculai wu fan oppa dan sehun. Aku melirik wu fan oppa dan menatapnya penuh kemenangan. Aku seolah mengatakan ‘aku memang hantu’ padanya. Luhan hanya melongo, dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

***

Aku masih disini, dan terus akan ada disini. Aku terus menatapnya tanpa berkedip. Dia sedang sibuk dengan laptopnya. Tetapi kali ini tidak sesantai dan seacuh sebelumnya. Sesekali dia melirikku dari sudut matanya. Saat itu aku akan menyambutnya dengan senyumku.

Dia menghela napas. “berhentilah memandangiku”

“weo oppa? Oppa tidak pernah bermasalah dengan ini sebelumnya”

“karena sebelumnya aku tidak tahu kalau kamu ada disitu” jawabnya ketus.

“oppa tidak mengingatku?” tanyaku ragu.

“apa aku mengenalmu?aku tidak mungkin mengenal yoeja aneh sepertimu”

Aku tertunduk. “apakah oppa marah?”

“hey…siapa yang tidak akan marah. Selama 3 bulan kamu memperhatikan kehidupan pribadiku. Kamu duduk disitu dan tersenyum menatapku. Kamu mengusik privasiku”

“mianhae oppa”

“kalau begitu, bisakah kamu pergi?” pintanya.

“aku tidak bisa, oppa”

“weo?”

“aku tidak bisa keluar dari kamar  ini”

“jangan membohongiku”

Sekali lagi aku menghela napas. aku beranjak dari  tempatku selama3 bulan ini. Aku melangkah pasti menuju pintu. Aku sebenarnya sedikit ragu untuk melakukannya. Bukan ragu, aku takut. Aku pernah melakukan ini, dan aku harus mengulanginya. Aku berbalik menatap wu fan oppa. Memohon agar dia melarangku melakukan ini.

Tanganku sekarang ada di gagang pintu. Ragu-ragu aku membukanya. Tidak terjadi apa-apa, maksudku belum terjadi apa-apa. Kaki kananku bergerak ragu untuk melewati pintu. Tunggu, aku akan mencobanya dengan ujung telunjukku dulu. Perlahan aku menggerakkan telunjuk tangan kananku untuk melewati bibir pintu. Dan……

“aaaa…” aku terhempas dan mendarat di tempatku sebelumnya.Bukk. Tubuhku membentur jendela. Aku merasakan sakitnya, aku bisa merasakannya.

“mwo?” wu  fan oppa terlihat tidak percaya. “kenapa kamu tidak bisa keluar dari kamar ini? kenapa harus kamar ini?” dia sama sekali tidak peduli dengan aku yang meringis kesakitan.

“aku tidak tahu oppa. aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa keluar dari kamar ini” aku menunduk.

“aargg…. Omong kosong macam apa  ini?”

“oppa”

Dia tidak mempedulikanku dan keluar dari kamar. Sekarang aku merasa sangat bersalah. Aku mengira dia akan senang hati menerimaku disini. Tetapi ia tidak menyukainya. Dia tidak seramah yang aku tahu dulu. Apakah karena aku yang  lancang berada disini?

***

Aku celingukan sana-sini. Dia tidak  terlihat. Apakah dia tidak kuliah hari ini? Tetapi aku yakin, sangat yakin dia pasti kuliah. Sekali lagi aku mengecek jadwal yang ada diponselku. Aku sudah mencatat seluruh kegiatannya. Aku mencatat seluruh rutinitasnya. Dia tipe namja yanga teratur. Dia memiliki jadwal sendiri untuk setiap harinya. Aku menghafalnya, aku mencari tahunya. Mungkin terdengar sangat aneh. Aku yoeja biasa yang terobsesi pada seorang namja tampan. Apakah itu salah? Aku tidak berbuat sesuatu yang  aneh. Aku hanya mengikutinya dan melihatnya dari jauh. Dia aman, aku tidak mengancam keamanannya.

 

Trrrrrtrrrt. Ponselku memanggilku. Aku segera merogoh kantung celana biru sepahaku dan mengambil ponselku. “yumseo?” kataku sambil berbisik.

 

“chan yoon-a! yumseo….yumseo” kata orang diseberang.

“yumseo?”

“chan yoon-a…yumseo. moragoyoe?”

Aku baru sadar kalau mulutku tertutup syal –match dengan celanaku. “oh…mianhae” suaraku terdengar jelas. “nuguseyoe?”

 

“tsk…. Ini oppa. kim jun myoen. Apa kamu lupa sama oppamu?”

Aku segera melirik layar ponsel.”oh…mianhae oppa. Aku tidak menyadarinya”

“oedisoe? Oppa sudah  didepan kampusmu. Oppa akan masuk sekarang. Tunggu oppa di lobby”tut tut tut tut. Sambungan telepon terputus.

 

Aku mematung, sangat shock. Bagaimana oppa bisa ada didepan kampusku? Bukankah kata appa ia baru akan pulang bulan depan? Aku mengutak atik ponselku untuk mengecek. Seharusnya oppa baru pulang 2 minggu lagi. Apa yang harus aku lakukan? Sekarang aku berada sekitar 20 km dari universitasku. Taksi, aku akan naik taksi.

***

Aku berlari sekuat tenaga, walaupun tenagaku tidak sekuat itu. Intinya aku berusaha berlari. Oppa pasti sudah lama menunggu. Aku melihat mobil oppa terparkir tidak jauh dari kampusku. Aku dalam masalah, masalah besar. Beberapa langkah lagi sebelum aku sampai di lobby.

 

“kim chan yoon!”  panggil seseorang dari arah belakang.

Aku segera menoleh. “oppa” aku berlari dan memeluknya.

“hey…” oppa membalas pelukanku. “kamu kemana saja?”

“aku….aku habis dari perpustakaan”

“jangan bohong… oppa bertanya pada temanmu tadi. Katanya kamu sudah pulang duluan. Padahal kata eomma, sore ini ada kuliah tambahan” oppa melipat tangannya didada.

 

“aku…” napasku masih berantakan. “aku…” sekarang terdengar bunyi aneh itu lagi. Aku kembali susah bernapas. Dadaku terasa sesak, seperti ada yang meremas paru-paruku.

 

“chan yoon-a…” oppa terdengar panik. “obatmu mana?” dia meraih tasku dan segera mencari obat. Tidak butuh waktu lama, oppa menemukan obatku. “palli” dia menyodorkan  obat itu padaku.

 

Tubuhku melemas, tetapi napasku berangsur membaik. Oppa segera menyambar tubuhku yang hampir tumbang. Oppa menatapku dengan tatapan sayunya. Dia terlihat begitu kasihan padaku. Apakah aku terlihat begitu menyedihkan?

 

“apakah kamu dari suatu tempat? Lalu  kamu segera kemari untuk menemui oppa. apakah kamu berlari dari gerbang tadi?”

 

Aku tersenyum nakal. Aku ketahuan. “ne…oppa”

***

Aku masih terduduk lemas didalam mobil. Tenagaku lenyap semua. Tidak pernah aku megalami hal seperti ini. Aku tidak pernah merasa sesakit ini. Oppa terus menatapku, dia terlihat khawatir. Seharusnya dia aku sambut dengan senyum hangatku bukan dengan wajah pucat seperti ini.

 

“apakah belakangan ini asmamu sering kambuh?”

Aku berusaha tersenyum. “ania”

“ayolah…jangan berbohong pada oppa. Kebohonganmu tidak akan membuat oppa berhenti khawatir padamu”

 

“hanya beberapa kali” aku mengaku.

“lalu, apa sudah periksa ke dokter Jung?”

Aku menggeleng kecil. “eomma dan appa pasti akan mengetahinya. Aku tidak mau mereka khawatir”

 

“kalau kamu memang tidak mau mereka khawatir, kenapa kamu menyiksa dirimu begini? Apa yang kamu lakukan selama oppa tidak ada?”

 

“aku tidak mengerti maksud oppa” aku tertunduk.

“eomma bilang kamu selalu dikampus hingga sore. Katanya kamu banyak kegiatan organisasi. Organisasi apa? oppa tahu kamu tidak suka bersosialisasi. Kamu bahkan tidak punya teman dekat. Kamu selalu sendiri”

 

“aku ada banyak tugas dan…”

Ciiiit. Terdengar rem mobil berdecit. Oppa membanting setir dan menepi. “jangan bohong pada oppa” bentaknya.

 

“oppa” aku terkejut mendengar oppa membentakku. Ia tidak pernah membentakku.

“oh…mianhae. Oppa hanya sangat khawatir padamu. Oppa tidak mau kehilangan saeng oppa. Oppa sangat sayang padamu. Jadi oppa mohon,  jangan menyembunyikan apapun dari oppa”

 

Aku merasakan sesuatu memaksa keluar dari mataku. “mianhae oppa…mianhae selalu membuat oppa khawatir.” Tanpa aku sadari, aku menangis.

 

“uljima” oppa segera meraihku dan memelukku. “oppa janji tidak akan memberi tahu eomma dan appa. Tetapi sekarang kita ke dokter, ke dokter yang lain. Baru setelah itu kita pulang. Dan oppa menunggu penjelasan darimu”

***

Huuh. Aku menundukkan kepalaku. Aku merasa frustasi sekarang. Wu fan oppa mengabaikanku, memang sebelumnya ia juga mengabaikanku. Tetapi sekarang berbeda, aku ada disini dan dia mengetahuinya. Dia sama sekali tidak mau mendengar penjelasanku. Bahkan ia tidak mau mengetahui lebih jauh siapa aku.

Dia memunggungiku untuk pertama kalinya. Dia tidur membelakangiku. Dia tidak ingin aku menatap wajahnya yang tertidur. Apakah dia membenciku? Apakah aku melakukan hal yang salah? Aku hanya menyukainya, mencintainya. Hanya dengan cara beginilah aku bisa selalu bersamanya. Aku tidak meminta lebih. Aku hanya ingin melihat wajahnya. Aku hanya ingin dia mengizinkanku melihat wajahnya, senyumnya.

Aku memeluk lututku dan menunduk, memendamkan wajahku dalam. Apa yang harus aku lakukan? Mungkin aku harus pergi dari sini dan mengembalikan ketenangan dalam hidupnya. Tetapi bagaimana? Aku tidak bisa keluar dari kamar ini. Aku juga tidak bisa mengembalikan diriku seperti semula, tidak terlihat. Aku hanya ingin membuat dia senang bukan sebaliknya. Dan jika keberadaanku ini membuat dia gusar, haruskah aku pergi?

***

“oppa….selamat pagi” aku menyapanya.

Dia tidak menjawab dan terus melakukan aktivitas rutinnya, bersiap untuk keluar dari kamar  ini.

Aku kembali mengembangkan senyumku. “selamat pagi, oppa. Apakah oppa akan ke kampus sekarang? Apakah oppa akan ke taman setelah pulang kampus?”

Dia tetap acuh  tak acuh. Bahkan enggan untuk menatapku. Dia mengambil bajunya didalam lemari dan melangkah ke kamar mandi. Dia selalu melakukan itu sekarang, karena aku ada disini. Aku seorang yoeja biasa, duduk dengan  manis disini.

Aku masih menunggunya. Sekarang tatapanku jauh menerawang keluar. Melihat beberapa butir salju kecil jaut ke tanah. Begitu indah, sangat indah. Seandainya aku bisa keluar, aku ingin bermain salju sepuasnya. Aku rasa sampai kapanpun aku tidak akan bisa bermain dengan salju. Tidak akan pernah bisa.

***

Wu Yifan POV

Apa yang dia lakukan? Kenapa dia terlihat sedih melihat salju yang terus turun diluar? Apakah dia ingin keluar dan bermain dengan salju? Tsk… kalau begitu, keluar sana. Keluar dari kamar  ini dan bermain sepuasnya. Aku tidak mengenalnya dan aku tidak tahu apa alasan dia ada dikamarku ini. Aku tidak menyangka dia telah memata-mataiku selama 3 bulan. Duduk dengan tenang disana dan terus memantau apapun yang aku lakukan.

Aku melangkah keluar dari kamar mandi dan mengambil tasku. Aku sedikit menimbulkan suara. Sigap ia menatapku dan tersenyum. Senyumnya sangat manis, begitu polos. Tsk…kenapa aku merasakan hal yang aneh saat melihatnya tersenyum? Dia hantu, dan sepertinya dia menyihirku dengan senyumannya. Aku segera memalingkan wajahku.

“oppa akan sarapan dulu, eoh? Jangan lupa sarapan agar oppa tetap sehat” dia menasehatiku.

Aku menatapnya tanpa ekspresi, bukan, ekspresi dingin. Aku sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaannya. Aku tidak berniat berbicara dengan orang, bukan, hantu yang tidak aku kenal. Setelah semuanya aku rasa cukup, aku segera keluar dari kamar. Aku membanting pintu pelan dan menimbulkan sedikit suara. Aku hanya berniat memberi dia pertanda bahwa aku tidak suka dia tetap disitu.

Wu Yifan POV END

***

Akhirnya aku merasa bosan. Bosan harus terus duduk terdiam. Akupun memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Sejak wu fan oppa bisa melihatku, aku bisa menyentuh semua benda yang pernah dia pegang. Aku bisa sesuka hati membuka jendela, membuka lemarinya dan terkadang membaca buku. Aku membaca seluruh buku yang pernah dibaca wu fan oppa. Terkadang aku membereskan kamarnya –yang tidak perlu dibereskan. Hanya itu yang bisa aku lakukan, untuk menghabiskan waktu menunggunya.

Klek. Aku segera duduk ditempat semula. Duduk tegap dan memandang ke arah pintu. Aku melirik jam dinding, ini waktunya wu fan oppa pulang. Aku ingin menanyakannya sesuatu. Aku sudah lama ingin menanyakannya. Semoga dia mau mendengarkanku dan menjawab pertanyaanku.

“oppa” panggilku sambil tersenyum.

Tidak ada yang menjawab, dan itu bukan wu fan oppa. Aku sedikit kecewa karena tidak mendapati wu fan oppa, dan malah bertemu luhan. Apa yang aka dia lakukan? Dia tidak pernah masuk ke kamar wu fan oppa sebelumnya.

“emmm….aku tidak tahu kamu dimana dan sedang apa. aku hanya mau mengambil barang-barang wu fan hyung. Permisi…”

Luhan mengambil beberapa baju wu fan oppa. Kemudian dia mengambil buku dan laptop di meja belajar. Dia juga mengambil kacamata baca milik wu fan oppa. Kemudian dia pergi begitu saja. Aku bingung, ada apa? Luhan mengambil barang-barang milik wu fan oppa? Beberapa menit kemudian luhan kembali.

“mianhae, aku kembali” katanya ragu. “ada yang ketinggalan” ia berlari menuju kamar mandi.

Aku masih melongo. Aku ingin bertanya padanya, tetapi bagaimana? Aku mendapat ide setelah melihat pulpen dan kertas yang semalam pernah disentuh wu fan oppa. Segera aku meraih kertas itu dan menulis sesuatu. Aku tidak perduli membuat luhan takut dengan kertas yang melayang-layang. Aku hanya mau bertanya.

“omo…” luhan terkejut melihat kertas yang aku pegang.

KENAPA KAMU MENGAMBIL BARANG-BARANG WU FAN OPPA? Itu yang aku tulis.

“oh…wu fan oppa yang memintaku. Dia akan tidur dikamarku untuk beberapa waktu”

Aku segera menulis. WEO? APAKAH WU FAN OPPA SUDAH PULANG?

“dia belum pulang. Dia mengirimi aku pesan. Aku tidak tahu alasannya kenapa aku melakukan ini. Dia hanya memintaku mengambil barangnya. Mianhae…emmm”  luhan terlihat ingin tahu namaku.

CHOI CHAN YOON.

“ne… chan yoon~ssi. Mianhae, aku rasa hyung butuh ketenangan. Aku yakin dia akan kembali lagi ke kamar ini. Aku tidak tahu kenapa kamu disini. Tetapi aku tahu, kamu yoeja yang baik. Kamu pasti tidak berniat jahat pada hyung. Kapan-kapan kita mengobrol lagi. bye”

BYE…KAMU JUGA NAMJA YANG  BAIK. LUHAN~SSI, BOLEH AKU MEMANGGILMU OPPA?

 

“oh…tentu. Annyeong…etabayoe” luhan keluar dan menutup pintu perlahan.

“etabayoe…Luhan oppa” kataku lesu.

Aku kembali memeluk lututku dan membenamkan wajahku. Aku merasa sesak, bukan karena asmaku. Tetapi hatiku yang begitu sakit. Aku tidak bisa menahan diri lagi. aku mulai menangis sambil memeluk lututku. Apa yang harus aku lakukan? Seandainya oppa –jun myoen oppa- ada disini, dia pasti akan membantuku.

“oppa…otthoke? Salahkah aku menjadi hantu yang bisa terlihat oleh wu fan oppa? Apakah aku ini memang tidak pantas untuk melihat senyumnya? Oppa, aku merindukanmu. Aku ingin pulang” tangisku menjadi.

***

Oppa adalah penyelamatku. Dia berhasil membuat eomma dan appa tidak mengintrogasiku. Eomma dan appa tidak curiga dengan kondisiku yang semakin melemah. Aku semakin yakin bahwa sebaiknya kedua orang tuaku tidak boleh tahu kondisiku setelah oppa membawaku ke dokter.

 

Sekarang aku terbaring dikamar. Hampir dua hari penuh aku terbaring di kamar. Oppa yang merawatku. Eomma dan appa yang memang sedikit sibuk belakangan ini hanya sesekali menengokku. Mereka hanya tahu kalau aku terkena flu. Oppa memang pandai berbohong, tidak seperti aku.

 

“oppa…kenapa oppa tidak memberitahu eomma dan appa?” tanyaku.

Oppa menyuapiku dengan sesendok bubur. “bukankah kamu sendiri yang meminta?”

“bukankah oppa selalu menolak permintaanku?”

“begitukah? Jangan menjelekkan oppa. Oppa selalu mengabulkan permintaanmu kan?” oppa menarik hidungku.

 

“xixixi… saranghae, oppa. Mian, selalu merepotkan oppa. Aku berjanji ini yang terakhir”

“shiroe” kata oppa buru-buru. “oppa akan selalu menuruti kemauanmu walaupun merepotkan. Tidak ada permintaan terakhir darimu untuk oppa”

 

“algessoyoe…”

“sekarang oppa ingin mendengar ceritamu. Apa yang kamu lakukan selama ini hingga berbohong pada eomma dan jadi sakit begini?”

 

“aku hanya menjadi detektif” kataku polos.

Oppa memutar bola matanya. “jangan membuat oppa tertawa. Maksudmu kamu jadi penguntit?”

 

“ania…aku hanya mengikutinya hingga gerbang rumahnya, tidak lebih. Aku hanya mencari tahu segala tentangnya. Dan aku hanya mengikuti kemanapun dia pergi, tidak lebih” jelasku.

 

Oppa tertawa terbahak. “itu kamu bilang ‘hanya’ ?” oppa menekankan pada kata hanya. “apakah kamu sangat menyukainya?”

 

Aku mengangguk malu. “emmm…”

“apakah dia lebih tampan dari oppa?”

“kerrom… dia begitu baik”

“tsk… saeng kecil oppa sudah tahu yang namanya jatuh cinta. Dan kamu rela sakit begini hanya demi membuntutinya seperti penguntit mesum?”

 

“oppa…” rengekku. “aku bukan penguntit mesum. Aku hanya pengagum rahasia.”

“kapan kamu akan menyatakan cintamu?”

“haruskah?”

“kerrom”

Aku terkejut dan langsung tertunduk. “apakah begitu? Apakah dia akan menyukaiku? Aku yoeja biasa yang lemah, penyakitan dan jelek”

 

“mwo?” oppa menaruh mangkuk bubur di atas meja. “siapa berani bilang begitu?”

“obsoyoe…hanya saja, semua orang pasti berpikir begitu”

“kim chan yoon itu tidak lemah, penyakitan dan jelek. Dia juga bukan yoeja biasa-biasa saja. Kim chan yoon adalah yoeja yang cantik, manis, selalu bisa membuat orang tersenyum, dan semua orang  menyayanginya” oppa terdiam “hanya saja…”

 

“mwo oppa?”

“hanya saja dia tidak percaya diri” oppa tersenyum padaku. “sekarang cepatlah sembuh dan kita akan melanjutkan perjuanganmu”

 

“kita?”

“ne…oppa akan membantumu. Oppa akan membuat dia jadi milikmu”

“gomawo, oppa” aku memeluk oppa erat. “saranghae, joengmal saranghae”

***

Aku duduk didepan jendela kamarku. Senang melihat burung-burung kecil terbang kesana-kemari. Aku masih sakit –begitu kata oppa- jadi aku tidak boleh kemanapun. Aku merindukannya –wu fan oppa, sangat merindukannya. Apakah yang sedang dia lakukan sekarang? Mungkinkah dia memikirkanku? Ah~~ tidak mungkin. Dia bahkan tidak tahu siapa aku. Haruskah aku kabur dan menemuinya, maksudku membuntutinya lagi?

 

Aku memutuskan untuk keluar dari kamar. Aku akan memohon pada oppa agar membiarkan aku keluar sekali saja. Perlahan dan terlihat sedikit tertatih, aku menuruni satu demi satu anak tangga itu. Aku melihat sekeliling, terlihat sepi. Kemanakah orang-orang?

 

“oppa….oppa” panggilku, tidak ada yang menyahut. “oppa dimana?” gumamku.

 

Pikiran jahat mulai merasuki. Aku berniat untuk keluar sebentar dan menemui wu fan oppa, kemudian kembali. Aku seperti seseorang yang kecanduan akan sesuatu. Aku kecanduan melihat wu fan oppa, dan aku harus melihat senyumnya walaupun cuma sekali.

 

“andwae…chan yoon~a andwae” aku duduk disofa ruang keluarga. “aku harus tetap dirumah hingga keadaanku benar-benar membaik” gumamku lagi sambil menyalakan televisi.

 

Aku duduk dengan manis menonton televisi. Tanpa henti aku memainkan remote televisi, mengganti channel sesuka hati. Aku pun menghentikan mengganti channel saat menemukan acara yang bagus. Seperti biasa, drama. Aku sedang menonton drama. Selang beberapa menit, drama yang aku tonton diselingi oleh iklan dan breakingnews.

 

“berita lagi” kataku kesal. “memangnya apa yang mau diberitakan?”

Aku mencoba memperhatikan breakingnews yang sedang on air sekarang. Berita tentang kecelakaan lalu lintas? Huuuh. Itu sering terjadi di seoul. Kota besar dengan jumlah kendaraan dan orang tidak bertanggungjawab yang banyak. Aku memperhatikan seksama, walaupun aku tidak terlalu menyukainya.

 

“korban adalah seorang mahasiswa universitas K. Dia mengalami luka yang cukup serius dibagian kaki dan tulang  belakangnya” kata sang pembawa  berita. “sampai berita ini diturunkan, belum diketahui pasti bagaimana kondisi korban selanjutnya” tambahnya.

 

Universitas K? bukankah itu universitas wu fan oppa? Aku mencoba berpikir positif. Ada banyak mahasiswa disana, tidak mungkin korbannya adalah wu fan oppa. Aku kembali memperhatikan berita. Sekarang ditampilkan  kejadian saat korban dievakuasi. Degg. Degg. Degg. Aku mematung, mataku terbuka dengan lebar.

 

Tanpa pikir panjang aku segera berlari keluar rumah. Aku masih mengenakan piyamaku  dan sandal  tidur berbentuk kepala kucing itu. Aku berlari sekuat tenaga. Airmataku mengalir dan terbawa angin saat aku berlari kencang. Aku harus ke rumah sakit. Apapun caranya aku harus ke rumah sakit. Wu fan oppa, bertahanlah? Tuhan, selamatkanlah dia. Aku akan memberikan apapun, asalkan selamatkan dia.

***

Aku terus memeluk lututku dan menangis. Aku  telah menangis seperti ini hampir 1 minggu. Beberapa  kali aku mendengar sehun masuk ke dalam kamar dan menyapaku. Tetapi aku tidak menghiraukannya. Aku terus menangis dalam diam. Hanya terkadang pundakku terlihat bergerak naik turun.

“uljima” tangisku terintrupsi oleh suara yang sangat aku kenal. “uljima” ulangnya.

Perlahan aku mengangkat kepalaku dan menatap sang pemilik suara. Aku menatapnya dengan mataku yang sembab.

“uljima” dia duduk disampingku. “aku kira hantu tidak bisa memiliki mata sembab” dia memberiku sapu tangan.

“kenapa oppa disini?” kataku lirih.

“bukankah ini kamarku? Apakah hanya karena hampir 1 minggu aku tidak menempati kamar ini, kamu menganggap ini kamarmu?” nada suaranya berbeda dari sebelumnya. “ini…aku rasa hantu juga perlu menghapus airmatanya.

“oppa tidak marah lagi padaku?”

Wu fan oppa hanya tersenyum dan mengusapkan sapu tangannya dengan lembut ke pipiku. “apakah aku terlihat seperti pemarah?”

Aku menggeleng kecil.

“mianhae”

Aku menatap manik matanya. “untuk apa oppa meminta maaf?”

“karena aku telah membuatmu menangis. Aku memang jahat. Bagaimana bisa aku memperlakukan yoeja sepertimu dengan  kejam begitu”

“ini bukan salah oppa” aku segera mengklarifikasi. “ini salahku yang dengan lancang berada disini. Ini semua salahku yang meminta Tuhan untuk selalu membuatku berada disamping oppa” aku salah bicara. Aku segera menunduk, menyembunyikan wajahku.

Wu fan oppa terlihat bingung. “jadi kamu sengaja memilih kamarku?”

“mianhe oppa. Maksud aku….aku hanya….aku..” aku kembali tertunduk. “mianhae oppa. Aku tidak menyangka kalau aku akan terkurung disini dan menjadi penganggu buat oppa”

“kwaenchana… kita akan mengobrol lagi lain kali” dia berdiri. “kita masih punya banyak waktu untuk mengobrol kan?”

“ne…”

“boleh kan aku menempati kamarku lagi?”

“nde? Kerrom…”

“baiklah…sampai ketemu lagi” wu fan oppa meninggalkanku dengan senyumannya sebagai salam selamat tinggal.

***

Wu Yifan POV

Aku kembali ke taman ini. Aku selalu kembali ke taman ini setiap hari. Bahkan jika mungkin, aku ingin tinggal disini. Taman ini tidak terlalu jauh dari rumah tempatku tinggal. Sekitar 3 km dengan waktu tempuh 10 hingga 15 menit dengan berjalan kaki. Disinilah aku biasanya merenung, menunggu sore tiba sepulang dari kampus.

Aku menghela napas kecewa. Dia tidak terlihat lagi. Kenapa dia tidak pernah datang lagi? Aku menghampiri tempat yang biasa dia kunjungi. Ada sebuah rumah mungil –untuk hewan peliharaan- yang tersembunyi di semak-semak. Aku yang menaruhnya disitu. Aku membuka bungkusan kecil yang aku tenteng sejak tadi. Aku membawa sedikit makanan untuk penghuni rumah mungil.

“Ace~a…palli, aku membawakanmu makanan” panggilku.

“guk..guk” seekor anjing berumur sekitar 10 bulan keluar dari rumah mungil itu.

“oh…pelan-pelan. Kamu pasti sangat lapar. Apakah noona itu tidak datang lagi?”

Dia mengibaskan ekornya dan menatapku. “gug..guk..gukk” aku artikan itu ‘tidak’

“begitukan? Kamu tidak berbohong padaku, eoh?”

“gukk” dia menatapku seolah kesal.

“baiklah…aku percaya padamu. Makanlah yang banyak”

Aku hanya melihatnya yang sedang asyik makan. Aku menemukan ace 8 bulan yang lalu. Ia terlihat sangat menyedihkan karena terlunta-lunta dijalanan. Aku ingin membawanya pulang, tetapi ajumma sangat benci dengan anjing. Akhinya aku memutuskan untuk membuatkannya rumah disini. Di sisi taman yang memang jarang dikunjungi orang.

Beberapa hari sejak aku menemukan ace, aku sering melihat seorang yoeja memberinya makan. Biasanya saat sore begini dia akan datang dan bermain dengan ace. Aku mengenali yoeja itu, walaupun aku tidak tahu namanya. Aku biasa memanggilnya nona syal. Dia selalu menggunakan syal untuk menutupi separuh wajahnya. Dia adalah yoeja yang aku temui di sebuah universitas saat aku berkunjung disana. Dia yoeja yang lugu dengan matanya yang berkaca-kaca dan selalu menyiratkan senyum.

Dia memang sedikit aneh. Aku tahu dia selalu mengikutiku. Aku tahu dia membuntutiku kemanapun aku pergi. Aku hanya pura-pura tidak tahu dan membuatnya tetap merasa aman. Dia pasti akan menjauhiku seandainya aku bilang aku tahu dia membuntutiku. Apakah yoeja itu menyukaiku? Sebegitu inginnyakah dia mengenalku hingga melakukan itu?

“tsk….” Aku tersenyum kecil. “ace~a…kira-kira dimana dia sekarang?”

“gukk” hanya itu jawaban ace.

Entah kenapa aku merasa ada yang hilang dari diriku sejak dia tidak muncul lagi. Aku merasa kehilangannya dan merindukannya. Tidak ada lagi yang bisa membuatku tersenyum dengan tingkah anehnya saat aku menatap ke arahnya ketika dia memata-mataiku. Tidak ada lagi pembuat onar, seperti menjatuhkan tempat sampah saat matanya tertuju ke arahku dan tidak melihat jalan. Tidak ada yang membuat hari-hariku berharga.

Wu Yifan POV END

***

Akhirnya aku sampai di rumah sakit yang berjarak 17 km dari rumahku. Aku yakin ini adalah rumah sakit tempat wu fan oppa dirawat. Aku tidak mungkin salah. Entah aku menempuh waktu berapa lama untuk berlari ke sini. Aku tidak tahu dapat kekuatan darimana untuk berlari sejauh ini.

 

Tertatih-tatih aku berjalan menuju meja resepsionis. Aku merasakan tubuhku begitu dingin, tetapi keringat tetap mengucur di pelipisku. Aku merasa tubuhku ringan, seperti kapas. Aku juga hampir tidak bisa merasakan kakiku berpijak dibumi. Aku merasa tanpa beban.

 

“permisi…ada pasien bernama wu yifan? Dia korban kecelakaan” tanyaku lirih pada perawat di resepsionis.

 

Perawat resepsionis menatapku heran. “Agassi…anda terlihat pucat sekali. Tidakkah sebaiknya anda menemui dokter?”

 

“ania…kwaenchana” aku mencoba tersenyum. “adakah pasien yang aku tanyakan?”

“tunggu sebentar Agassi” perawat itu tetap menatapku khawatir. “ada..di kelas lavender nomor 32. Dilantai 3”

 

“gomawo….” Aku berjalan tertatih dan terlihat tanpa tenaga.

“Agassi…anda terlihat tidak sehat” panggil perawat itu lagi.

 

Aku mengacuhkannya dan terus berjalan ke arah lift. Airmataku terlah bercampur dengan keringat dingin yang terus keluar melalui pori-pori tubuhku. Aku terus mengulas senyum, menyambut setiap orang yang aku temui. Aku harus menemuinya, aku harus tahu keadaanya. Kata-kata itu memberiku semangat untuk terus melangkah kakiku.

 

Mungkin aku terlihat aneh dan menyedihkan dengan kondisiku sekarang. Mencoba menghampiri namja yang aku sukai dengan raga yang sepertinya tidak kuat lagi. Perlahan aku membuka ruang rawat bernomor 32 itu. Aku mendapatinya tertidur diatas tempat tidur berwarna putih. Tidak ada yang menemaninya, dia hanya sendiri.

 

Aku melangkahkan kakiku ragu untuk menghampirinya. Dia terlihat begitu damai, walaupun dengan alat bantu pernapasan diwajahnya. Sesuatu berwarna putih membungkus kaki kanannya dan ada tiang dari besi yang menyangganya. Seutas perban juga melilit disekitar kepalanya.

 

“oppa…kwaenchanayoe?” tanyaku sambil berlinang airmata. “aku disini oppa. Oppa harus bertahan dan mencoba untuk sembuh. Oppa harus kembali seperti oppa yang dulu. Oppa, bukalah matamu” aku menggenggam tangannya. “aku ada disini oppa. Aku mohon, bukalah mata oppa. Ironae oppa, jebal”

 

Aku mulai menangis sejadinya. Dadaku terasa sakit melihat kondisi wu fan oppa yang terbaring tidak berdaya. Seandainya aku bisa, aku ingin menggantikan posisinya. Aku terduduk dilantai dan masih mengenggam tangannya. Oh~~ Tuhan, kenapa ini terjadi padanya? Aku mohon selamatkanlah dia. Aku akan memberikan apapun asalkan wu fan oppa bisa menjalani hidupnya lagi seperti biasa.

 

Tiba-tiba napasku tercekat. Aku tidak bisa bernapas sama sekali. Dadaku terasa diremas-remas, sangat menyakitkan. Sebelah tanganku yang sedari tadi memegang tangan wu fan oppa sudah berpindah memegangi dadaku. Suara aneh terdengar saat aku berusaha menarik napasku.

 

Perlahan aku mencoba berdiri dan berusaha meninggalkan ruangan ini. aku tidak boleh pingsan disini. Aku menyeret kakiku dengan tenaga yang masih tersisa. Perlahan aku membuka pintu dan melangkahkan kakiku keluar.

 

“chan yoon~ssi” sapa seorang perawat.

Aku menatapnya, dia perawat yang sering berkerja dengan dokter Jung. “oh…perawat Cho” pandanganku mulai kabur.

 

“kwaenchanayoe?…kamu terlihat pucat dan napasmu?”

Aku tersenyum “kwaenchana” napasku tiba-tiba terhenti dan semuanya berubah gelap.

 

Bukk. Aku merasakan tubuhku tumbang dan menyentuh lantai. Aku tidak merasakan sakit sedikitpun. Badanku mati rasa. Sayup-sayup terdengar perawat cho meminta pertolongan. Dan dalam beberapa detik, aku tidak mendengar apapun. Semuanya sunyi, sepi, gelap dan mati rasa.

***

To Be Continued…

Bagaimana gag jelas dan membingungkan kan? Tenang dan sabar! Part  selanjutnya akan lebih membingungkan. Imajinasi author sedang buntu, jadi ceritanya lari sana-sini…biar gag lari sana sini, tunjukin minatnya oeh? Like bisa, komen Alhamdulillah. RCL

Pyong ^.^