you're not a bad boy, donghyun ver.

Title                       : You’re Not a Bad Boy, Donghyun version

Author                  : Chanyeonie

Genre                   : Sad, Angst

Rating                   : General

Length                  : Ficlet

Casts                     : Shin Hye Rin | Kim  Dong Hyun

Warning              :

Typo yang mungkin akan menggangu. Gejala kebingungan yang akan  dialami reader karena narasi author yang ruwet. Penulisan yang –mungkin- tidak sesuai EYD.

-YNBB-

Aku melihatnya duduk di kejauhan, cukup jelas. Dia tengah menungguku di sebuah café bergaya minimalis. Dia memesan tempat di luar café, mungkin agar leluasa menghirup udara segar. Secangkir minuman dan sebuah buku menemaninya. Sebuah kursi kosong tepat berada di hadapannya. Aku yakin, kursi itu diperuntukkan bagiku.

Senyumku tidak henti-hentinya terkembang. Aku senang bisa melihatnya lagi. Tanpa ragu aku melangkahkan kaki menuju tempat dia menungguku dengan sabar. Haruskah aku mengejutkannya? Tetapi pasti akan terlihat kekanak-kanakan.

Langkahku terhenti. Huuh. Apakah penampilanku sempurna? Aku tidak mau terlihat kacau di hadapannya.  Aku tidak mau terlihat aneh berada di sampingnya. Lihat! Dia begitu sempurna. Kemeja putih dengan lengan yang dia gulung hingga mencapai bagian atas sikunya dan celana berwarna biru gelap serta sepatu senada dengan bajunya, membuatnya sangat sempurna.

Sebelum nyaliku terkumpul untuk berhadapan dengannya, dia lebih dahulu melihat ke arahku. Dia menyadari  kedatanganku. Tanpa menunggu lama, perhatiannya kini teralih padaku. Buku tebal dengan sampul berwarna biru gelap itu terabaikan begitu saja di atas meja bundar café. Lambaian tangan terarah padaku, dia menyambutku dengan senyum khasnya.

Oh Tuhan. Dia begitu tampan. Aku ingin selalu melihat senyumnya sepanjang hidupku. Senyumnya itu mampu mengontrol sarafku untuk melakukan hal yang sama. Kedua sudut bibirku telah terangkat, membentuk sebuah lengkungan kecil.  Aku memantapkan hati untuk menghampirinya. Tas yang terselempang di pundak kananku sempat tergeser. Dengan gugup aku segera membetulkan letaknya seperti semula. Jantungku  tidak bisa diajak kompromi. Mengapa dia selalu berdetak dengan kencang?

Oppa!” Aku baru menyadari harus membalas lambaian tangannya.

Dia membalas lambaian tanganku. Bersamaan dengan itu bibirnya bergerak, entah apa yang dia katakan. Jarak antara aku dan dia semakin menipis.  Aku tidak sabar untuk duduk berhadapan dengannya. Mendengar dan berbagi beberapa cerita. Aku sangat merindukannya. Aku akan terus merindukannya hingga akhir hidupku –janjiku.

Tangggg…!

Kepalaku terasa sakit. Terdengar dentuman kecil berbarengan dengan rasa sakit pada tubuh bagian bawahku. Aku jatuh terduduk. Sesuatu menghalangi jalanku dan sekarang membuat kepalaku sedikit pusing. Setengah sadar aku melihatnya berlari ke arahku. Wajahnya terlihat samar –karena mataku berkunang-kunang. Namun aku dapat merasakan siratan kekhawatiran di wajah tampannya itu.

“Auch…,” aku memegangi kepalaku yang berdenyut.

Gwaenchanhayoe?” Dia mensejajarkan dirinya denganku dan memeriksa dahiku yang sepertinya benjol.

Aku nyengir kuda. “Gwaenchanha Oppa!”

“Bagaimana kamu tidak bisa melihat ada tiang di sini?” tanyanya.

Aku memincingkan mata, “Ah… molla.” Aku benar-benar baru menyadari ada tiang besi tepat di depanku. “Mianhae Oppa!”

Weo?” Dia membantuku berdiri,“Kamu tidak salah apapun.”

“Aku pasti membuat oppa malu,” aku membersihkan bajuku yang mungkin kotor.

Dia mengelus dahiku yang –mungkin- memerah, “Kim Dong Hyun tidak akan pernah merasa malu memiliki dirimu, Shin Hye Rin.”

Aku tertawa kecil. “Gojitmael!”

“Apa Oppa terlihat seperti pembohong?” Dong Hyun Oppa mendekatkan wajahnya padaku.

Ania…,” aku yakin, sekarang tidak hanya dahiku yang memerah melainkan seluruh wajahku.

Kajja… sampai kapan kita berdiri di sini?”

Kim Dong Hyun, begitulah namanya. Kenapa aku bisa jatuh cinta kepadanya? Kenapa dia bisa jatuh cinta kepadaku? Kami pun tidak tahu jawabannya. Semuanya mengalir begitu saja dan aku akan terus menikmatinya hingga akhir hidupku. Akhir hidup yang tidak akan lama.

Gomawo, Oppa!” Aku duduk di kursi setelah Dong Hyun Oppa menggesernya untukku.

NeJagi,” Dong Hyun Oppa kembali duduk. “Bogoshiposoe.

“Emmm… na tto,” aku berusaha tersenyum semanis mungkin.

Dong Hyun oppa menggenggam tangan kananku. “Oppa sangat khawatir. Kenapa kamu tidak bisa dihubungi selama 5 hari belakangan ini?”

Mianhae Oppa…,” aku menatapnya tanpa ragu. “Aku pernah bilang alasannya ‘kan? Aku mengunjungi halmonnie, dan di sana sinyal ponsel sama sekali tidak ada,” aku tertawa kecil.

“Memang di jaman modern begini masih tidak ada sinyal ponsel di rumah halmonnie-mu itu?” Dong Hyun Oppa terdengar tidak percaya.

Oppa tidak percaya padaku?” Aku mengeryitkan dahi.

Pemuda bermata super besar ini menyentil dahiku. “Baiklah… Oppa percaya.”

“Auch…,” aku memangi kepalaku. Entah kenapa, kepalaku terasa begitu sakit.

“Oh… mianhae! Apheuda?”

Aku berusaha tersenyum. “Gwaenchanha… tidak sakit kok.”

“Kamu selalu bilang tidak. Selalu bilang baik-baik saja,”nada suaranya terdengar khawatir.

“Memang tidak sakit… sentilan Oppa sama sekali tidak sakit. Mungkin hanya efek dari menabrak tiang tadi.”

Mwo?” pekiknya. “Kajja… kita ke rumah sakit! Mungkin terjadi sesuatu pada kepalamu,” Dong Hyun Oppa beranjak dari tempat duduknya.

Gwaenchanha Oppa… palingan sebentar lagi akan baikan. Oppa jangan meremehkanku. Aku tidak akan menjadi lemah hanya karena menabrak tiang,” aku memanyunkan bibir.

Arayoe… baiklah Oppa mengalah,” gerutunya. “Tetapi kalau kamu merasa tidak enak badan kasih tahu oppa, eoh?”

NeOppa! Algesseyeo,” aku tersenyum.

Jagi… mau minum apa?”

“Emm… jus stroberi saja.”

Ne…”

Tangan kanannya yang putih dan kekar teracung. Tidak menunggu lama, seorang pelayan café menghampiri kami. Dengan cekatan pelayan itu mencatat pesanan kami. Setelah mengecek pesanan kami, pelayan itu segera masuk ke dalam bangunan café.

Sembari menunggu pesanan minumanku datang, aku terus menatap oppa tercintaku ini. Oh Tuhan. Bisakah hentikan waktu ini? Aku sama sekali tidak mau kehilangan moment ini. Aku ingin terus menatapnya dari jarak sedekat ini; melihat dia tersenyum padaku, menerima kedipan mata nakalnya yang selalu membuat aku tertawa, mendengar suaranya yang begitu indah. Hah. Aku rela menukar segala yang aku miliki untuk terus bersamanya.

Mwoyae?” Dong Hyun oppa membuyarkan lamunanku. “Berhentilah menatap Oppa seperti itu!”

Aku tertawa kecil, “Oppa tidak suka?” Aku menurunkan tanganku yang sedari tadi menopang daguku dari atas meja. “Oppa merasa malu?”

Ania… hanya saja. Seharusnya Oppa yang melakukan itu.”

Oppa tidak adil. Mengapa Oppa boleh menatapku sesuka hati Oppa sedangkan aku tidak?”

Dong Hyun oppa tertawa kecil mendengar pertanyaanku. “Jagi… itu karena, kamu sangat cantik.”

“Emmm… gombal,” kedua tanganku terlipat di depan dada.

“Kamu memang sangat cantik.”

Pelayan café menghalangi kata-kata pengelak meluncur dari mulutku. Dia datang dengan membawa nampan berisi jus stroberiku dan sebuah kue dengan lilin di atasnya. Aku menatap pemuda dengan senyum indah di depanku ini, meminta penjelasan. Apakah hari ini ulang tahunnya? Seingatku tidak. Lalu?

Happy anniversary,” katanya sambil menyodorkan kue itu padaku.

Reflek aku meniup lilin diatas kue itu –mengikuti perintahnya. “Oppa?”

“Kamu tidak ingat?”

Mwo?” gelengan kepala yang cukup kencang semakin memperjelas ketidaktahuanku.

“Hari ini adalah hari jadi kita yang ke-2, ingat?”

Aku menutup mulutku dengan telapak tanganku. “Oops… mianhae. Aku lupa, Oppa.

Gwaenchanha.

Joengmal mianhae.

Ne… sebagai hukuman, potongkan kue ini untuku Hye Rin-ah.”

Hukuman yang aneh. “Baiklah Oppa. Wah… hukuman yang berat,” aku tertawa di buat-buat.

Palli… kemudian, aaaaa…,” Dong Hyun Oppa membuka mulutnya.

Aku mengerti apa maksudnya. Dia ingin aku menyuapinya dengan kue itu. Oppa-ku ini memang manja. Aku segera mengambil pisau yang juga di persiapkan pelayan café. Pisau itu tepat berada di sebelah kananku. Aku menjulurkan tangan untuk menggapai pisau itu. Ah. Kenapa aku tidak bisa menyentuh pisau itu. Pisau itu jelas-jelas ada di sana. Tepat beberapa millimeter dari telapak tanganku.

Palli!” Katanya tidak sabar menunggu.

Apakah ini? Apakah ini efeknya? Aku sadar suatu saat hal ini akan terjadi. Aku tidak boleh membuat pemuda yang aku cintai ini khawatir. Kupejamkan mataku sesaat  dan menggelengkan kepalaku sedikit. Berusaha mengembalikan penglihatanku seperti semula.

Arasseo Oppa,” aku berhasil mengambil pisau itu dan mulai memotong kue itu.

-YNBB-

Aku tidak bisa melihat apapun. Semuanya gelap, sangat gelap. Aku berjalan perlahan,  berharap tidak terjatuh atau menabrak sesuatu. Sayup-sayup aku mendengar suara langkah kaki. Aku tidak bisa menebak langkah kaki siapa itu, karena aku tidak bisa melihat apa-apa sekarang. Aku tepat seperti orang buta. Meraba-raba sekitar dan melangkah dengan  ragu.

Surprised!!!” Teriaknya.

Mataku mulai bisa melihat dengan jelas setelah Dong Hyun Oppa membuka penutup mataku. “Oppa?”

“Kejutan… apakah kamu suka, Jagi?” Memelukku dari belakang.

“Oh… noemu joahe. Aku selalu suka dengan apa yang Oppa berikan padaku,” aku tertawa kecil.

Dong Hyun oppa  melepas pelukannya dan kemudian menggandeng tanganku. “Kajja!”

Aku tidak pernah menduga akan menerima kejutan besar seperti ini. Aku tahu, Dong Hyun oppa adalah pemuda yang romantis. Tetapi aku tidak pernah menyangka dia akan lebih romantis dari biasanya. Sebuah taman kecil –yang entah ada dimana, aku tidak tahu –penuh  dengan lampu bohlam warna-warni. Sebuah gapura kecil berwarna putih ditempatkan sebagai pintu masuk menuju taman lampu itu. Sebuah meja bundar dan sepasang kursi berwarna putih tepat di depan pohon  tanpa daun yang juga sudah dihiasi bohlam-bohlam.  Semuanya terlihat begitu indah, sempurna.

“Silahkan duduk Tuan Putri!” Dong Hyun oppa mempersilahkan aku duduk.

Gomawo Oppa,”aku tersenyum. Aku sangat bahagia sekarang.

Dong Hyun Oppa terlihat mengambil sesuatu di belakang pohon tanpa ranting itu. “Saengil chukka hamnida.

Aku terlonjak, “Kyeopta… tetapi Oppa sekarang…?”

“Ini adalah pesta ulang tahunmu,” ia tersenyum dan memberikan aku boneka  beruang berwarna putih dengan dasi kupu-kupu berwarna biru tua.  Kemudian ia duduk.

Aku mencoba mengingat. “Bukankah ulang tahunku 3 hari lagi, Oppa?”kataku ragu.

Arayeo…. mianhae, jika oppa membuatmu bingung.”

Aku memiringkan kepalaku ke kiri. Aku selalu melakukan itu jika merasa bingung akan sesuatu.

Mianhae…,” decit Oppa sambil tertawa. “Berhentilah melakukan itu. Kamu terlihat terlalu manis jika melakukan itu.”

Mwoya?” Aku menegakkan kepalaku.

Dong Hyun oppa berdiri dan menghampiriku. “Kamu lucu sekali saat bingung… Uhh, kyoepta,” tanpa basa-basi dia mencubit pipiku.

“Oh… Oppa, andwae,” aku mengelus pipiku.

Aphaseo?” Dong Hyun oppa berubah panik.

AniaGwaenchanha,” aku nyengir kuda. “Kenapa oppa merayakan ulang tahunku malam ini?” Aku kembali ke topik pembicaraan.

Oppa hanya tidak mau melewatkan ulang tahunmu,” Dong Hyun Oppa duduk lagi di kursinya. “Oppa akan ke Jepang besok. Dan mungkin satu bulan tidak akan kembali. Jadi, Oppa tidak akan bisa merayakan ulang tahunmu  bersama.”

Tanpa sadar raut wajahku terlihat kecewa.  Dong Hyun Oppa akan pergi? Aku tidak akan bisa melihat senyumnya lagi. Aku juga tidak akan bisa melihat wajahnya secara langsung. Aku dan Dong Hyun oppa akan terpisahkan oleh jarak yang cukup jauh.

“Apakah kamu tidak suka, eoh?” Tanya Dong Hyun Oppa.

Ania OppaGwaenchanha. Oppa berhati-hatilah di jalan. Aku akan menunggu Oppa di sini. Aku janji.”

“Tetapi kamu terlihat kecewa.”

Aku tertawa kecil, “AniaGwaenchanha. Aku akan mendukung apapun keputusan oppa.”

“Tetapi ulang tahunmu?”

“Bukankah kita sedang merayakannya. Tidak ada bedanya dirayakan sekarang atau 3 hari lagi.  Umurku tetap bertambah ‘kan?”

Negomawo, Jagi.

Sekali lagi Dong Hyun oppa menghampiriku. Dia membantu aku berdiri. Kemudian tanpa menunda waktu, kedua lengannya telah melingkan ditubuhku –memelukku dengan erat. Aku tidak mengerti, kenapa dia memelukku sangat erat? Aku ada di sini. Aku tidak akan kemana-mana. Aku baik-baik saja. Pelukan Dong Hyun oppa semakin erat. Aku hampir tidak bisa bernapas.

“Tunggu aku kembali, eoh?” Nada suara Dong Hyun Oppa terdengar sedih.

Ne, Oppa. Bukankah Oppa sering meninggalkanku? Aku baik-baik saja. Aku akan menunggu Oppa dengan sabar.”

“Janji?” Ia masih memelukku.

NeOppa,” aku membalas memeluknya.

“Satu bulan kemudian kita ke sini lagi, oeh?”

“Ne… Oppa.

Akhirnya Dong Hyun oppa melepaskan pelukannya. Dia tersenyum ke arahku. Tetapi senyumnya  berbeda sekarang. Tersirat kesedihan di matanya. Dia memelukku seolah kita tidak akan bertemu lagi. Ah,tidak. Aku dan Dong Hyun Oppa akan bersama selamanya.

Kami kembali duduk. Entah berapa kali Dong Hyun Oppa beranjak dari duduknya dan menghampiriku. Hal yang aneh bukan? Kami mulai menyantap hidangan makan malam yang sedari tadi tersedia di meja dan hampir dingin. Beberapa kali Dong Hyun Oppa meminta maaf karena terlalu mengulur waktu dan membuat makanannya dingin.

Dan aku menjawab, “Gwaenchanha Oppa… tetap enak, kok.”

Aku tersedak saat mengobrol dengan Dong Hyun Oppa. Aku harus segera minum untuk melancarkan tenggorokanku. Ah. Tangan kananku lolos begitu saja. Aku tidak bisa mengambil gelasku. Aku melirik Dong Hyun Oppa, dia tidak melihatku. Sekali lagi aku berusaha meraih gelas itu, tetapi meleset.

“Ada apa?” tanya  Dong Hyun oppa. Mungkin aku terlihat mencurigakan?

“Hehe… obsoyeo.”

Aku berusaha memfokuskan mataku. Sialnya pandanganku semakin memudar –berkunang-kunang. Apa yang harus aku lakukan? Kepalaku mulai pusing. Oh Tuhan. Jangan sekarang. Aku mohon jangan sekarang. Aku tidak mau dia tahu. Reflek aku memegangi kepalaku. Kepalaku berdenyut dengan keras, sangat menyakitkan. Aku mencoba menahannya, jangan sekarang.

“Hye Rin-ah… ada apa?” Dong Hyun Oppa melihatku yang seperti kesakitan.

Gwaenchanha Oppa….,” aku berusaha menguatkan diri.

“Kamu yakin? Ada apa dengan kepalamu? Apheuda?” Dong Hyun oppa mengakhiri makan malamnya dan segera berlari ke arahku. “Apakah kepalamu sakit?”

Ania Oppanan gwaenchanha. Hanya pusing sedikit.”

“Sebaiknya kita pulang. Kamu sepertinya butuh istirahat.”

“Emm… mungkin sebaiknya begitu, Oppa.

*****

Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah satu bulan yang lalu aku datang ke tempat ini. Tidak banyak yang berubah. Lampu bohlam warna-warni masih terpasang di pohon itu. Meja bundar dan sepasang kursinya masih berada di posisi. Tidak ada yang berubah sedikitpun. Semunya masih sama seperti yang aku ingat satu bulan yang lalu.

Aku duduk dikursi yang aku tempati satu bulan yang lalu. Masih terasa sama, menyenangkan. Aku mencoba sabar menunggu. Aku memang selalu sabar menunggunya. Dia berjanji akan menemuiku lagi malam ini. Akankahd ia lupa janjinya? Dong Hyun Oppa-ku tidak akan mengingkari janjinya.

Aku melirk jam tangan porselen berwarna putih di pergelangan tanganku. Aku sudah menunggunya lebih dari 2 jam. Dong Hyun oppa belum menampakkan wujudnya. Apakah dia lupa? Benarkah? Setelah bosan duduk dan menunggu. Akupun berdiri dan mulai berjalan mondar-mandir, tidak sabar.

Jam sepuluh malam. Dong Hyun Oppa belum  juga datang. Dan mungkin tidak akan datang. Aku tertunduk lesu dan menyandarkan punggungku di gapura putih itu. Di manakah Dong Hyun Oppa? Semilir angin malam meniup dress putihku. Aku tidak merasakan dinginnya, mungkin karena kesal.

Terdengar langkah kaki di kejauhan. Aku segera menegakkan kepalaku. Aku berdiri dengan tegap dan memasang senyum andalanku. Dong Hyun oppa sudah datang. Dia akhirnya datang. Sebuah boneka beruang berwarna putih dengan dasi kupu-kupu biru tua berada dalam pelukannya. Boneka itu, boneka yang sama dengan boneka satu bulan yang lalu. Aku sempat kehilangannya. Bagaimana Oppa memilikinya? Aku menyambut Dong Hyun Oppa hangat. Tetapi senyumku hilang saat melihat wajah sedih Dong Hyun oppa.

Jagiya…,” katanya tepat di depanku. “Apakah kamu sudah lama menungguku?” tambahnya.

Ania Oppa,” jawabku, tetap dengan senyum  terkembang.

Mianhae…  aku membuatmu lama menunggu.”

AniaGwaenchanha,” aku tersenyum –lagi –lebih natural. “Oppa sama sekali tidak terlambat.”

Mianhae…,” Dong Hyun Oppa tertunduk.

Gwaenchanhaoppa,” kataku segera.

Dong Hyun Oppa meneteskan airmata. “Kenapa kamu selalu bilang kamu baik-baik saja? Kenapa kamu tidak pernah cerita apapun kepadaku? Kenapa kamu memendamnya sendiri? Apakah hanya agar Oppa tidak khawatir?” Dong Hyun oppa terdiam sejenak. “Oppa seperti orang bodoh, idiot. Oppa sangat jahat padamu. Bagaimana oppa bisa tidak tahu apapun tentangmu?” Dong Hyun oppa duduk berlutut di hadapanku dan menangis.

Oppa,” aku tidak tega melihat Dong Hyun Oppa menangis. “Gwaenchanha OppaOppa tidak salah. Oppaneun nappeun namja ania. Oppa selalu baik padaku. Aku hanya tidak mau Oppa khawatir. Akulah yang salah. Uljima…,” aku hendak memegang pundak Dong Hyun oppa.

“Hye Rin-ah… kenapa kamu meninggalkan Oppa sendiri? Oppa sangat menyesal tidak bisa terus bersamamu. Maafkan OppaOppa memang namja yang jahat dan bodoh.”

Aku menembus Dong Hyun Oppa? Sekarang aku benar-benar menembusnya. Ini bukan karena masalah pada penglihatanku atau kepalaku. Aku memang tidak bisa menyentuhnya lagi. Aku baru sadar, duniaku dan Oppa sudah berbeda.

Satu bulan yang lalu, tepat satu bulan yang lalu. Aku meninggalkan dunia ini. Aku meninggalkan Dong Hyun Oppa, pemuda yang sangat aku cintai. Tumor otak yang bersarang di kepalaku terus merusak sarafku. Dia –sang tumor- merusak penglihatanku. Dan perlahan menonaktifkan fungsi otakku. Dong Hyun Oppa tidak pernah tahu dan aku tidak ingin dia tahu.

OppaOppa bukan namja yang jahat. Oppa adalah malaikatku. Gomawo Oppa sudah selalu mengkhawatirkanku. Aku mencintai Oppa.” Aku berlutut dan berusaha memelukny, “Saranghae.” rengkuhan tanganku menembus badan Dong Hyun Oppa begitu saja.

_END_