the rival 2

Title                       : The Rival –Chapter 2 [END]

Author                  : Choi Chan Yeon/ Yunn Wahyunee

Genre                   : Family, Friendship, semi romance, school life

Rating                   : General

Length                  :  Two Shoot

Main casts          :

~Cha Na Mi (imaginated)

~Kwang Min a.k.a Jo Kwang Min

~Young Min a.k.a Jo Young Min

Support casts     :

~Min Woo a.k.a No Min Woo (member yang lain ketinggalan di Jepang)

~Hyorin (SISTAR) a.k.a Miss  Rin

~K. Will a.k.a Kim Seonsangnim

~Eunhyuk a.k.a Lee Seonsangnim

~Siwon a.k.a Choi Seonsangnim…..etc

Summary

Cha Na Mi           : “Sejak hari itu aku seperti kena kutukan. Kenapa aku selalu bertemu mereka? kenapa mereka selalu berusaha menghalangi jalanku? Aku putuskan,  mereka adalah rivalku.”

Jo Kwang Min    : “Sudah lama aku tidak dapat rival yang sebanding. Permainan baru saja dimulai.”

Jo Young Min    : “Kenapa kamu harus menjadi rivalku? Tidak bisakah kita berteman?”

AN                          : Sebelumnya author meminta maaf karena baru sempat merevisi FF ini dan mengirimnya kembali. Mian apabila author sok tahu tentang hubungan antar member boyfriend, Kwang Min dan Young Min akan tertukar. Author juga baru mempelajari(?) mereka. Author  juga mengarang tentang sistem akademik SOPA. Satu lagi, member boyfriend dalam FF ini bukan idol, hanya namja biasa.

Warning: Typo bertebaran.

Cha Na Mi POV

Aku  kembali, akhirnya aku kembali. Aku tertawa mengingat kata-kata itu sempat terucap tadi ketika aku mulai menapakkan kaki lagi memasuki gedung SOPA –sebutan buat School Of Performing Art Seoul. Jam baru menunjukkan pukul 7:15, dan dipastikan aku sudah terlambat. Anggap saja aku tidak terlambat, karena ini baru hari pertamaku sekolah lagi.

Aku berdiri tepat disamping meja guru kesayanganku. Ia belum terlihat sampai sekarang. Guru-guru yang lain hanya menatapku penuh tanya,  mereka tidak mengenalku? Mungkin memang seharusnya begitu, karena aku memang tidak terkenal disekolah ini. aku bukanlah artis.

Miannata… saya terlambat!” Guru yang aku tunggu, menyambut seisi ruang guru dengan  suara merdunya.

Aku menoleh ke arahnya. “Miss  Rin!” Panggilku sambil tersenyum.

Nugu?” Ia menaruh tasnya di atas mejanya. “Nuguseyoe?”

Aku segera mencari sesuatu di dalam tasku. “Miss  Rin… belum mengenaliku?”

“Cha Na Mi?” Ia mulai mengenaliku yang sudah memakai kacamata.

Ne… Miss  Rin. Kelasku dimana?” Aku tersenyum manis padanya.

“Aaa… aku sudah mengurus semuanya sejak sebulan yang lalu. Kajja… aku tunjukkan kelasmu,”   ia menuntunku menuju kelasku. “Kamu lebih cantik jika melepas kacamatamu,” katanya saat kami memasuki lift.

Aku tertawa kecil dan memperbaiki letak kacamataku. “Aku sudah mencoba memakai kontak lens seperti kata Miss  Rin, tetapi…,” aku nyengir kuda. “Lebih enak memakai kacamata.”

“Aigoo…,” ia menepuk lenganku pelan. “Oh… selamat datang, eoh? Nanti kalau ada waktu, kita mengobrol dan…,” Miss  Rin memainkan alisnya.

“Ne…Miss  Rin. Aku sudah mempersiapkannya,” tawaku dan dia meledak seketika.

Cha Na Mi POV END

:::::::::::::::::::::::::::::::::

Author POV

Kim Seonsangnim sedang mulai mengabsen siswanya. Dia adalah guru yang selalu ditunggu oleh murid-murid SOPA. Kenapa tidak? Selain memang kemampuannya yang bagus dalam bernyanyi, ia juga guru yang baik. Tidak galak atau menakutkan.

“Baiklah… sepertinya tidak ada yang membolos di kelasku,” Ia menutup buku absensi berwarna hijaunya. “Aku dengar dari Miss  Rin, hari ini akan ada wajah baru dikelas kita,” ia melihat sekeliling, mencoba menemukan wajah baru itu. “Emmm… aku rasa dia belum datang.”

tok…tok..tok!

Kompak seisi kelas melihat ke arah pintu. Mereka sebenarnya mulai penasaran dengan wajah baru yang dikatakan Kim Seonsangnim. Mereka berharap dan menebak, bahwa yang ada dibalik pintu kelas mereka sekarang adalah wajah baru itu.

“Kim Seonsangnim!” Miss Rin perlahan masuk ke dalam kelas. “Mianhamnida… sepertinya saya menganggu Kim Seonsangnim?!”

“Ooh… animminda. Ada apa, Miss  Rin?”

Miss  Rin menoleh ke arah pintu yang masih terbuka. “Masuklah… palli!” Miss  Rin tersenyum ke arah Kim Seonsangnim. “Aku membawa murid berbakat untuk Kim Seonsangnim,” ia tertawa cekikikan.

Cha Na Mi, siapa lagi? Dialah wajah baru yang akan mengisi kelas 3-2 –kelas tempat Kim Seonsangnim mengajar sekarang. Na Mi membenarkan kacamatanya dan perlahan masuk  ke dalam kelas. Ia  melirik isi kelas, semua menatapnya penasaran. Ada rasa sedikit kecewa dihatinya, tidak ada yang mengenalinya sama sekali.

“OK, Kim Seonsangnim! Saya ada kelas dan sudah terlambat,” sekali lagi Miss  Rin tersenyum sedikit menggoda pada Kim Seonsangnim. “ Na Mi-a… selamat belajar,” ia berlalu dan menghilang di balik pintu.

Kim Seonsangnim menghampiri Na Mi  yang masih terlihat kikuk. “Jadi kamu wajah baru itu? Saya rasa, wajahmu begitu familiar. Perkenalkan dirimu!”

“Emmm… annyeong haseyo. Joeneun Cha Na Mi imnida. Aku bukan siswi pindahan dari manapun. Aku adalah siswi SOPA juga, hanya sudah 1 tahun terakhir aku mengikuti program pertukaran pelajar dan berada di Jepang.  Senang bisa kembali lagi,” Na Mi tersenyum canggung.

“O… jadi kamu adalah siswi pertukaran pelajar itu? Silahkan duduk… saya rasa kursi kosong itu memang milikmu,” Kim Seonsangnim menunjuk sebuah kursi yang letaknya paling belakang.

Na Mi menghela napas dan berjalan ragu menuju kursi itu. ia paling benci duduk di belakang. Adakah yang mau bertukar kursi dengannya? Na Mi tidak mau terlalu mengulur waktu. Ia segera duduk di kursinya dan mengeluarkan buku pelajaran.

“sssttttsss…,” seseorang mengusiknya yang ingin memulai berkonsentrasi belajar.

Na Mi menoleh kanan kiri. Ia mencoba mencari orang yang memanggilnya.

“Na Mi-ssi!” Bisik suara itu lagi.

Na Mi celingukan, ia tidak menemukan sang pemilik suara.

“Na Mi-ssi,” sebuah penghapus melayang ke arah mejanya.

Neun?” Na Mi kaget setelah tahu siapa sang pemilik suara. Suara itu berasal dari seorang namja dengan badan mungil yang tepat duduk disebelah kanannya, tetapi satu kursi lebih depan darinya.

“Kamu ingat aku?”

Na Mi mengangguk kecil. “Kamu kan temannya nappen namja.”

“Hehe… No Min Woo imnida,” Min Woo nyengir kuda. Pletak! Sebuah penghapus mendarat di kepala Min Woo. “Auchh!” pekiknya.

“No Min Woo…,” suara Kim Seonsangnim, menggelegar. “Jangan mengobrol dikelasku. Kamu kira aku tidak bisa marah?”

Min Woo segera menunduk meminta maaf. “MiannataSeonsangnim

“Konsentrasi semuanya!” Perintah Kim Seonsangnim.

Na Mi menahan tawa melihat Min Woo yang masih memegangi kepalanya yang terkena penghapus. Tanpa sengaja Na Mi melirik namja yang duduk tepat didepan Min Woo. Ia seperti mengenali namja itu. Na Mi terus menatapnya, berharap ia menengok ke belakang dan ia bisa melihat wajahnya.

“Dasar pecicilan!” Namja itu secepat kilat menoleh ke arah Min Woo dan mengoloknya.

Mata Na Mi hampir keluar karena kagetnya. “Nappen namja?” Ia sangat sial.

Konsentrasi Na Mi sudah buyar, lebih tepatnya tidak bisa berkonsentrasi. Ia terus saja mengomel dalam hati. Kenapa ia bisa bertemu orang yang sama, dan sama menyebalkannya dalam dunia yang luas ini? Seoul itu tidak selebar daun kelor. Tetapi kenapa bertemu dia lagi?

::::::::::::::::::::::::::::::

Jam pelajaran pertama telah usai. Kim Seonsangnim memberikan tugas yang cukup sulit sebagai buah tangan –begitu ia menyebutnya. Na Mi masih mengomel dalam hati –bukan karena buah tangan itu. Ia ingin pindah kelas saja, ia harus menemui Miss  Rin usai  sekolah.

“Na Mi-ssi!” Min Woo menghampiri meja Na Mi. “Selamat datang!”

Na Mi melepaskan kacamatanya. “Negomawo!” katanya malas.

“Oh… kamu sama sekali tidak mengingatku?” Min Woo menatap memohon.

Na Mi tersenyum garing, “Kamu temannya nappen namja itu kan?” Na Mi melirik namja yang duduk didepan Min Woo. “Kita bertemu di Jepang beberapa waktu lalu.”

“Yang kamu ingat cuma itu? Kamu tidak ingat kalau kita 1 kelas waktu kelas 1?”

Jinjae?” Na Mi membenarkan duduknya. “No Min Woo?” Ia mencoba mengingat.

Min Woo bersabar menunggu Na Mi ingat sesuatu. “Rumah kita satu kompleks kan?”

Ting…! Otak Na Mi menerima wangsit. “No Min Woo? Jangan bilang kamu…”

Min Woo mengangguk mengiyakan. Ia tersenyum sangat lebar.

“Kamu mau sok kenal denganku?” ekspresi Na Mi berubah.

Gubrak! “Hehehe… mungkin suatu saat kamu ingat. Oh… itu Jo Young Min,” Min Woo menunjuk Young Min –namja yang duduk didepannya- yang sedang pura-pura sibuk membaca buku.

“Dia bukan nappen namja?” Na Mi tidak percaya.

Ania… Kwang Min ada di kelas 3-3.”

“Tetapi rambutnya?”

“Oh… itu?” Min Woo garuk-garuk kepala. “Kamu tahu sendiri di SOPA tidak boleh mewarnai rambut seenaknya, kecuali ia adalah artis. Hyung langsung mengganti warna rambutnya sepulang dari Jepang kemarin. Tetapi lihat, model rambutnya masih sama kan?”

Na Mi memakai kacamatanya lagi. “Ah… kamu benar, Min Woo-a,” Na Mi tersenyum ke arah Min Woo. “Panggil aku santai saja. Mianhae jika aku tidak mengingatmu. Aku akan mencoba  bertanya pada Eomma… maklum, aku cepat melupakan seseorang.”

Ne Gwaenchana!” Min Woo segera berlari ke kursinya ketika seorang guru masuk tanpa permisi. “Nanti kita makan di kantin bersama, eoh?”

Na Mi mengangguk kecil, mengiyakan.

Author POV END

::::::::::::::::::::::::::

Jo Kwang Min POV

Hari yang cerah, hatiku juga cerah. Aku seperti anak taman kanak-kanak saja berlari menuju kelas Young Min hyung. Sebenarnya ada maksud terselubung aku menemuinya siang ini. Walaupun kita saudara kembar, tidak selamanya kita selalu bersama. Ada saat aku lebih nyaman dengan teman-temanku, dan dia dengan teman-temannya.

Hyung…!” Aku segera masuk ke dalam kelasnya tanpa mengecek sang guru sudah keluar atau tidak.

Weo?” jawab hyung santai, ia sedang memasukkan bukunya ke dalam tas.

Aku menghampiri mejanya. “Kajja… makan siang!”

“Jangan bilang kamu lupa membawa dompet?” Young Min memelototiku.

NeHyung,” aku nyengir kuda. “Min Woo eodiso?” aku  tidak melihat Min Woo

“Sudah ke kantin duluan.”

“Ooo… kajja Hyung. Aku lapar!”

“eyy… araseo. Aku juga lapar.”

Butuh waktu sekitar 7 menit untuk sampai di kantin sekolah yang cukup mengenakkan dipandang mata itu. Tempatnya juga nyaman. Makanan yang dijual tidak pernah membuatku mengeluh.

Hyung… Min Woo mana? Tidak kelihatan,” aku mencari Min Woo disekeliling kantin.

“Sudahlah… mau makan apa mencari Min Woo? Tidak usah makan bareng dia,” Young Min terdengar ketus.

Weo?”

“Sudah… dengarkan aku saja kalau kamu mau hidup tenang,” Young Min segera mengambil tempat duduk setelah selesai membayar.

Aku mengikutinya. “Weo Hyung? Hyung bertengkar dengan Min Woo? Tumben?” Min Woo memang tidak sedekat aku jika dengan Young Min, tetapi suatu yang jarang mereka berkelahi. “Hyung…,” aku meminta penjelasan.

“Bukan karena aku berkelahi dengannya, aku baik-baik saja dengannya. Hanya saja…”

Kalimat Young Min terintrupsi. “Hyung!”

“Tuh anaknya!” aku melambaikan tanganku ke arah Min Woo.

“Aish…,” Young Min mendengus

“Tunggu… dia dengan siapa?” aku mencoba melihat lebih jelas.

Min Woo dan temannya itu makin mendekat ke meja tempat aku dan Young Min duduk. Semakin dekat, aku semakin mengenali seseorang yang bersama Min Woo. Aku tersenyum getir. Jangan-jangan benar kalau dunia ini cuma selebar daun kelor(emang dikorea ada kelor?).

Hyung… jangan bilang itu…?”

Young Min mengangguk pelan. “Ne… Cha Na Mi”

Mwo?” nafsu makanku hilang. “Kenapa dia bisa ada disini?”

“Dia sekelas denganku. Dia memang siswi SOPA, tetapi mengikuti pertukaran pelajar ke Jepang 1 tahun yang lalu,” jelas Young Min.

Hyung… dia sepertinya memang ditakdirkan untuk selalu bersaing sama kita deh. Setelah ini apa yang akan kita perebutkan?”

Young Min menatapku heran. “Kita? Kayaknya cuma kamu. Kalau aku, terima saja. Aku tidak menganggap dia rival.”

Mwo?”

Waeyo?” Min Woo sudah duduk didekatku, dan Na Mi duduk di samping Young Min.

Aku melirik Na Mi sebentar, kemudian menatap Min Woo. “Kamu kenapa bisa akrab dengannya?”

“Oh… Na Mi itu ternyata teman sekelasku waktu kelas 1, terus kami tetanggaan.”

Sekali lagi aku melirik Na Mi, ia mengiyakan dengan anggukan. “Lalu?”

Mwo?” Min Woo bingung

“Lupakan!” hariku yang cerah akan berakhir setelah makan siang ini.

:::::::::::::::::::::::::::::

Aku tidur terlentang di kursi malas dekat jendela kamarku. Tatapanku lurus ke arah langit-langit kamar. Aku sedang meratapi nasib, atau mungkin aku hanya terlalu mendramatisirnya. Tiba-tiba sebuah bayangan wajah seperti terproyeksi di langit-langit kamarku. Aku langsung membulatkan mata.

“Yakkk… aish! Yeoja babo itu menghantui hidupku,” teriakku sendiri.

Young Min menatapku heran. “Kamu kenapa? Teriak tidak jelas. Dari tadi bertindak aneh. Kamu belum makan?”

Hyung…,” aku merubah posisi tidurku ke posisi duduk. “Hyung tidak kesal harus terus bertemu dengan Na Mi?”

AniaWeo?”

“Dia kan menyebalkan Hyung! Hyung tidak lihat tatapannya padaku? Dia mengabaikanku. Dia menganggap aku tidak ada. Dia meremehkanku.” Aku semakin kesal mengingat Na Mi yang selalu mengacuhkanku beberapa hari ini.

“Lalu?” Young Min berdiri didepan cermin, memastikan semuanya terlihat sempurna.

“Semoga bulan depan kita tidak bertemu dengannya, saat kelas art tambahan. Ia tidak mungkin mengikuti kita kan? Banyak kelas art yang lain. Ia tidak mungkin memilih kelas yang sama dengan kita.”

“Kamu ini kenapa sih? Sejak mengenal Na Mi jadi tukang ngedumel dan marah-marah?”

Hyung juga… berubah. Sok baik,” aku menunggu jawaban Young Min. “Hyung… mau kemana, eoh?” Aku meliriknya yang terlihat sangat rapi, tidak seperti biasanya.

“Aku mau mengerjakan tugas dirumah Min Woo,” ia tersenyum sangat manis padaku.

“Mwo? Tumben… biasanya Min Woo yang kesini,” aku mulai mencium niat lain.

“Memangnya tidak boleh? Ganti suasana.”

“Aku ikut!” Paksaku.

Andwae!”

Weo? Aku juga sudah lama tidak bermain ke rumah Min Woo,” menyeret Young Min keluar dari kamar.

Young Min gelagapan, ia bingung harus melarangku dengan cara apa. “Kwang Min-a!”

Jo  Kwang Min POV END

:::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Author POV

Suasana berubah tegang, tidak, memang sejak awal suasananya tegang. Na Mi dan Kwang Min yang duduk berhadapan terus saling memelototi. Young Min dan Min Woo hanya bisa gigit jari dan bersabar. Arah takdir menuntun mereka sudah jelas, perdebatan sengit dimulai.

“Yak… babo!” Na Mi menyerang Kwang Min.

“Kau lebih bodoh dariku. Mana bisa hasilnya begini?” Kwang Min menunjuk-nunjuk kertas yang berisi buah pikir Na Mi. “Jelas-jelas kamu mengarang.”

Sok tahu kamu… dimana-mana mengerjakan limit itu sepeti itu,” Na Mi tidak mau kalah.

Kwang Min tertawa mengejek. “Sini… aku kasih tahu cara yang benar,” Kwang Min mulai mencoret sana sini.

Min Woo berbisik ditelinga Young Min. “Hyung… cara yang benar mana nih? Aku jadi bingung?”

“Kita lihat saja… biar mereka puas,” Young Min balas berbisik

“Tetapi kita kan berniat untuk mengerjakan PR bersama dengan damai. Kenapa Kwang Min bisa ikut sih?” Protes Min Woo.

“Ia menyeret aku,” Young Min terlihat menyesal. “Aku tidak pernah berniat mengajaknya.”

 

Bukk! Kwang Min memukul meja. “Ini baru benar,” Kwang Min terlihat bangga.

“Lihat?” Min Woo segera merebut hasil pekerjaan Kwang Min. “Bukannya ini?” Min Woo membandingkan dengan milik Na Mi. “Hasilnya kan sama?”

Jinjae?” Young Min melirik. “Oh… benar sama,” ia meneliti sekali lagi. “Cara yang dipakai Na Mi lebih singkat, mudah dimengerti,” Young Min mengangguk kecil.

“Ne… aku setuju Hyung!” Min Woo ikut mengiyakan.

“Aku sering mengerjakan dengan cara Na Mi. Seonsangnim pernah mengajarkan cara ini,” tambah Young Min.

Kwang Min memelototi Young Min. “Jinjae? Aku tidak ingat!”

“Jadi aku yang benar kan?” Na Mi penuh harap.

“Semuanya benar, hanya memang cara yang dipakai Na Mi lebih mudah,” Young Min tersenyum ke arah Na Mi.

Aish… membosankan! Hyungkajja pulang!” Kwang Min menarik tangan Young Min.

“Yak.. PRku belum selesai,” kata Young Min halus.

“Dari tadi belum selesai?”Ejek Kwang Min.

“Bukannya dari tadi kita hanya berkutat sama satu soal. Masih ada 9 lagi. Kalau kamu mau pulang, duluan saja!” Young Min acuh tak acuh.

Palli Hyung!”

“Jo Kwang Min!” Bentak Young Min, ia mulai kesal. “Seandainya kamu tidak berdebat dengan Na Mi, PRnya pasti sudah selesai. Ini semua salahmu. Jangan keras kepala dan mau menang sendiri!” Young Min marah besar, inilah Young Min yang asli.

Kwang Min mendengus. Ia tidak menyangka Young Min akan membela Na Mi bukan dia. “Arasseo… aku pulang!” Tanpa permisi kepada tuan rumah, ia pergi begitu saja.

Young Min terdiam melihat Kwang Min yang berlalu pergi dengan kesal. Ia merasa bersalah telah membentak Kwang Min. Kwang Min pasti akan sangat marah padanya. Semoga Kwang Min tidak benar-benar marah seperti yang ia bayangkan.

Mianhae,” Na Mi memecah keheningan.

Young Min yang sedari tadi menunduk dan mencoba mengerjakan PRnya melirik Na Mi sejenak. “Weo?”

“Kamu dan Kwang Min bertengkar karena aku.”

Ania… kami hanya bertengkar kecil, nanti juga baikan. Lagian memang dia yang salah. Keras kepala, kekanak-kanakan. Sudahlah jangan diambil pusing,” Young Min tersenyum.

Min Woo menambahkan. “Ne… Na Mi-a. Besok juga mereka  baikan.”

“O… Ne.

Mereka kembali terdiam dan sibuk dengan pekerjaan masing- masing. Young Min yang terlihat paling serius. Ia terlihat serius bukan karena berusaha mengerjakan PRnya, tetapi memikirkan Kwang Min. Saudara kembarnya itu sangat keras kepala, ia pasti sangat marah padanya.

Author POV END

:::::::::::::::::::::::::::

Jo Young Min POV

Perlahan aku buka pintu kamar Kwang Min. Kamarnya sangat gelap, apakah mungkin ia sudah tidur? Aku mengendap-endap masuk, jangan sampai ia terbangun. Meraba-raba aku berjalan menuju tempat tidur. Aku akan tidur dengannya malam ini. Ia tidak pernah semarah ini sebelumnya. Semoga dengan melakukan ini, ia tidak marah lagi padaku. Plug! Aku merebahkan diriku perlahan di atas tempat tidurnya.

“Kwang Min-a,” bisikku. “Kwang Min-a,” tidak ada yang menjawab. “Kwang Min-a!”

“Emmm…,” Kwang Min hanya menjawabku dengan erangan.

Mianhaejoengmal mianhae,” kataku lagi.

“Aku mengantuk, pergi!” Nada suaranya terdengar kesal.

Mianhae, eoh?” Aku masih berusaha membujuknya.

Kka…!” bentaknya lagi sambil mendorongku.

Buggg! Aku terjatuh dari atas tempat tidur. “Mianhae…,” aku menyalakan lampu tidur disebelah tempat tidur Kwang Min. “Ironae… aku mau bicara.”

Mwo?” Jawabnya masih kesal sambil membuka selimut yang menutupi kepalanya. “Kamu maunya apa sih?”

Kwang Min menggunakan kata ’kamu’ untuk memanggilku. Itu berarti ia marah besar padaku.“Mianhae, oeh?” mohonku lagi.

Wae?” Ia pura-pura tidak tahu.

“Masalah tadi sore, di rumah Min Woo.”

“Terus?”

Mianhaemianhae karena aku membentakmu.”

Kwang Min tertawa terkekeh. “Kamu masih peduli denganku?”

“Tentu saja…,” aku harus terdengar meyakinkan.

“Kamu bela saja Cha Na Mi sana. Buat apa kamu peduli denganku?” Ia memunggungiku.

Mianhae Kwang Min-a?!”

Kka… aku mau tidur.”

Aku kembali mengambil posisi di sebelah Kwang Min. “Boleh kan aku tidur disini?”

“Kamu ini… mengganggu! Pergi sana!” bentaknya lagi tanpa menatapku.

Aku menghela napas. “Baiklah… kamu mau apa dariku? Aku akan melakukan apapun asalkan kamu memaafkanku.”

“Jangan mencoba membohongiku.”

Ia memang keras kepala. Aku harus bersabar. “Aku tidak akan bohong. Ini serius, janji antar pria.”

“Janji?” Ia membalik badannya dan menatapku. “Janji?” Ia mengulangi sambil menunjukkan kelingkinnya padaku.

Ne… Janji!” Ternyata Kwang Min memang kekanak-kanakan.

“Oke… deal. Hyung harus mendengarkan semua permintaanku mulai sekarang dan sampai seterusnya, selamanya.”

Ne…,” akhirnya ia tidak marah lagi. “Oke… aku mau tidur.”

“Jangan tidur disini,” perintahnya.

Ara… siapa juga yang mau tidur denganmu,” aku berlalu pergi meninggalkannya.

:::::::::::::::::::::::::

Sejak pagi Kwang Min mulai membacakan daftar hal-hal yang harus aku lakukan dan tidak harus aku lakukan pagi ini hingga malam hari. Telingaku terasa panas dengan berbagai ancaman yang ia berikan jika aku melanggar perintahnya. Aku hanya bisa mengiyakan dan mengucapkan kata ‘aku janji’ beberapa kali.

Hyung…,” Min Woo membuyarkan lamunanku.

“Emmm…”

Min Woo duduk  dikursi kosong tepat didepanku.“Aku dengar minggu depan akan ada seleksi kelas khusus.”

“Lalu?”

Nde?” Min Woo menatapku bingung. “Sudah jelas kan Hyung? Kita belajar bersama, yuk!”

“Boleh… nanti aku tanya Kwang Min. Dia maunya  belajar dimana.”

Ragu-ragu Min Woo menambahkan. “Di rumahku saja, mungkin Na Mi bisa ikut nanti.”

Shiroe…,” aku memelototi Min Woo. “Andwae!”

Weo?”

“Karena aku tidak suka,” Kwang Min tiba-tiba muncul dan menatap Min Woo kesal. “Min Woo-a… jangan bawa-bawa nama Na Mi didepanku, eoh?”

Min Woo menelan ludah melihat ekspresi Kwang Min yang menurutku memang cukup menyeramkan. “Ne Hyungarasoyoe. Mianhae?!

Hyungkajja!” Kwang Min melirikku yang sekarang menjadi budaknya. “Kamu juga, Min Woo-a!”

“Kita mau kemana?” tanya Min Woo.

“Makan… kamu tidak lapar?” Kwang Min menarik Min Woo.

“Tetapi Kwang Min-a, aku…”

Kwang Min melotot lagi. “Kajja!”

Ne…”

“Sabar Min Woo-a,” aku menepuk pundak Min Woo.

Entah sejak kapan Kwang Min jadi begitu menakutkan –galak. Min Woo yang biasanya banyak membantah perintah Kwang Min, sekarang menurut begitu saja. Dan aku yang biasanya mengendalikan Kwang Min, malah menjadi budaknya. Aku tidak bisa berkata tidak padanya.

Jo Young Min POV END

::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Cha Na Mi POV

Hampir satu bulan aku menempati kamarku lagi. Hampir satu bulan aku mengenakan seragam berwarna kuning, putih dan hitam, kebanggaan sekolahku –SOPA. Dan hampir satu bulan aku harus menahan emosiku ketika melihat Young Min yang sangat mirip nappen namja –Kwang Min- dan Kwang Min sendiri. Aku selalu kesal jika melihat wajah itu. Mereka –khususnya Kwang Min- sangat menyebalkan. Aku tidak bisa melupakan kejadian di Jepang saat itu. Tidak akan pernah aku lupakan.

Beruntung ada No Min Woo, namja dengan badan kecil nan imut itu. Ia selalu mau menemaniku yang notabennya tidak mempunyai teman  di SOPA ini. Tidak ada yang mau berteman denganku. Jangan tanya aku apa alasanya, aku tidak tahu.

Sungguh aku tidak tahu. Mereka –teman sekelasku- semua seolah menjauhiku. Mereka  hanya akan mendekatiku saat  ada PR dan sejenisnya. Mereka selalu menatapku kesal saat aku segera mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan dari para Seonsangnim. Adakah yang salah dengan itu?

“Min Woo-a!”  Aku berlari kecil melihat Min Woo yang baru keluar dari perpustakaan.

“O… Na Mi-a,” Min Woo melambaikan tangannya.

Aku mencoba mengatur napasku yang berantakan hanya karena berlari tidak lebih dari 10 meter. “Kamu… huuuh!” Aku menarik napas lagi dan membetulkan kaca mataku. “Kamu mencari buku apa di perpustakaan?”

Ige… bererapa buku untuk persiapan  seleksi kelas khusus,” Min Woo menunjukkan buku yang baru ia pinjam.

Aku tersenyum. “Kalau begitu, nanti aku ke rumahmu. Kita belajar bersama,” ajakku.

“Oh… mianhae. Aku sudah menyusun rencana dengan Young Min Hyung dan…”

Aku memotongnya. “Emmm… aku ikut??!”

Mianhae… Kwang Min juga ikut dan ia melarangku untuk mengajakmu,” Min Woo tertunduk lesu.

“Oh…,” aku berusaha tersenyum. “Gwaenchana… aku bisa belajar sendiri. Kalau kamu butuh bantuan, hubungi aku.”

Mianhae Na Mi-a?”

Gwaenchanabye!” Aku meninggalkan Min Woo yang terus menatapku dengan puppy eyes-nya.

Setelah memastikan aku tidak akan bertemu Min Woo secara tidak sengaja, senyumku menghilang. Aku menghela napas dengan enggan. Min Woo juga menjauhiku secara tidak langsung –perintah Kwang Min. Aku sendiri lagi. Seandainya Mizune ada disini, aku ingin menceritakan semuanya padanya. Aku ingin mengeluarkan semua unek-unekku kepadanya.

“Aku tidak bisa  begini terus. Aku tidak bisa terus menahan diri seperti ini,” aku berteriak dalam hati. “Aku tidak bisa bersabar terus. Nappenum…!!!” Sambungku masih tetap dalam hati.

::::::::::::::::::::::::::::::::::

Aku duduk bersandar pada kursi malasku di didekat pintu menuju kamar mandi. Posisiku tepat menghadap ke arah jendela yang tepat sejajar dengan kursi malas itu. jendela kamar aku buka selebar-lebarnya agar angin malam bisa masuk dengan bebas. Cahaya bulan yang menerobos masuk menyinariku.

Sebuah kertas aku pegang erat di tangan kananku. Sesekali aku membacanya kemudian menimbang-nimbang. Tangan kiriku memeluk boneka monyet kesayanganku. Beberapa kali aku mengajaknya –boneka monyet- berdiskusi.

“Apa yang harus aku ambil? Miss  Rin memaksaku untuk mengambil salah satu kelas art tambahan ini. Aku harus mengambil yang mana?” Tanyaku pada milo –boneka monyet.

Aku kembali membaca kertas itu. Diatas kertas itu tertulis daftar kelas art tambahan yang di tawarkan SOPA. Sudah pasti aku akan mengambil vocal modern dan instrument musik modern. Tetapi Miss  Rin mengharuskanku mengambil 4 kelas. Sebelumnya aku tidak pernah mengambil kelas tambahan. Saat tahun pertama di SOPA high school, belum ada keharus memilih kelas art tambahan.

“Aku harus mengambil apa lagi?” Aku membenarkan kacamataku dan kembali fokus pada kertas itu.

Ada sekitar 20  kelas art tambahan. Semuanya menjurus pada spesialisasi bidang. Seperti kataku terdapat kelas vocal modern, vocal tradisional, instrument musik modern, instrument musik tradisional, theater, acting, musical, tari modern, tari tradisional,  seni lukis dan masih banyak lagi. Aku bingung,  sangat bingung. Aku membuat kertas itu begitu saja dan merebahkan diri di kursi malas itu. hidup tidak selamanya berjalan mulus.

Cha Na Mi POV END

:::::::::::::::::::::::::::::::::

Author POV

Semua murid tahun terakhir SOPA high school terlihat lemas. Sangat jauh berbeda dengan tiga hari yang lalu. Para murid SOPA terlihat antusias belajar untuk bisa lolos kelas khusus. Siapa yang tidak akan bangga masuk kelas khusus? Mereka semua harus berkerja keras.

Kelas khusus adalah kelas yang diperuntukkan bagi murid SOPA yang memiliki kemampuan spesial dan diatas rata-rata. Tidak hanya pengetahuan umum yang dijadikan soal pada saat seleksi kelas khusus. Semua pengetahuan tetang art juga di ujikan.

Murid yang masuk kelas khusus akan dicap sebagai murid pilihan dan istimewa. Mereka akan  mendapat nama baik dan perhatian khusus dari pihak sekolah. Tidak sedikit murid kelas khusus akan mendapat lirikan dari managemen artis dan sejenisnya. Kelas khusus hanya diperuntukkan bagi murid tahun terakhir di SOPA high school.

 

10 menit lagi pengumuman murid yang lolos seleksi kelas khusus diumumkan. Untuk pertama kalinya di tahuan ajaran baru ini, kantin sekolah kosong. Seluruh murid terlihat bergerombol di lorong kelas. Semua mata tertuju pada televisi 29 inci yang tergantung di ujung tiap lorong gedung SOPA high school.

Mereka semua terlihat tegang. Menanti siapakah diururtan pertama yang lolos seleksi kelas khusus. Urutan pertama merupakan murid yang mendapat nilai tertinggi dan akan menjadi sangat popular disekolah. Urutan selanjutnya tidak akan kalah popular. Intinya  10 besar akan mendapatkan nama di mata seluruh SOPA.

Layar mulai menyala. Bel tanda adanya pengumuman di layar pengumuman berbunyi dengan nyaring. Sontak semua mata tertuju pada layar dan mencoba fokus. Sebagai pembuka, ucapan selamat atas usaha keras para murid muncul dan tertanda dari kepala sekolah muncul dilayar. Selanjutnya adalah 10 besar murid yang lolos akan ditampilkan selama  5 menit dan seterusnya hinggal 50 besar. Nama mereka sudah keluar. Semuanya detak jantung terdengar saling memburu.

Hyung… Min Woo-a,palli!” Kwang Min menerobos kerumunan murid yang menghalangi pandangan dan jalannya.

Setelah berhasil menerobos, Kwang Min langsung memfokuskan matanya pada layar. Young Min dan Min Woo mengikuti dari belakang. Mereka melakukan hal yang sama dengan Kwang Min.

Hyung… aku urutan ke-3. Mansae!” Kwang Min  meloncat girang.

“Aku ke-2,” Young Min cukup puas.

Kwang Min tertawa cekikikan. “Kita kalah dengan Min Woo dong?”

Ania…,” Young Min  menatap Kwang Min yang masih tersenyum senang.

“Aku ke-4 Kwang Min-a… syukurlah,” Min Woo mengelus dada.

Kwang Min membelalakkan mata. “Mwo? Jinjae?”

“Ne,” jawab Min Woo polos.

Mwo? Lalu siapa yang pertama?” Kwang Min  melihat layar pengumuman lagi. “Cha…,” ia memfokuskan matanya.

Young Min dan Min Woo saling menatap. Hampir berbarengan mereka mengangkat kedua pundak mereka. Mereka seolah mampu membaca pikiran lawannya dan langsung memberi jawaban. Sementara itu,  Na Mi muncul dari ujung lorong yang dibelakangi oleh layar pengumuman. Ia terlihat membenarkan kacamatanya sambil meminum jus wortel miliknya.

Na Mi menghentikan aktivitasnya. Ia menyadari ada yang aneh. Semua  mata yang ada dilorong menuju kelasnya itu menatapnya. Na Mi melihat sekeliling. Memang benar semua mata tertuju padanya. Ia berubah kikuk.

“Cha Na Mi?” Kwang Min membaca dalam hati. Tangannya mengepal kuat. “Cha Na Mi?” suaranya keluar. Kwang Min kembali menegakkan kepalanya dan ia melihat Na Mi. “Yeoja babo itu?”

“Ada apa ini? Pengumumannya sudah keluar?” Na Mi nyengir kuda. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

“Kenapa harus dia?” Kwang Min terlihat kesal.

“Kwang Min-a… andwae!” Young Min mencoba menenangkan.

Kwang Min menatap Na Mi tajam. “Dia…”

“Ada apa sebenarnya?” Na Mi mulai paranoid. Ia melihat Kwang Min memelototinya. “Yakkk… nappen namja. Ada apa melihatku seperti itu?” Na Mi menghampiri Kwang Min.

Kajja…,” Young Min menarik Kwang Min menjauh.

Kajja… Kwang Min-a!” Min Woo membantu. “Chukkae Na Mi-a,” Min Woo tersenyum dan berlalu.

Gomawo,” Na Mi masih bingung. Ia mendongak melihat layar pengumuman. “Oh… hasilnya sudah keluar?” Ia kembali membenarkan kacamatanya. “Daebak… aku ditempat pertama?” Senyum sumringah terkembang di pipi Na Mi. “Wahhh… daebak.

::::::::::::::::::::::::::::::

Pembagian kelas sudah dilakukan. Terdapat 2 kelas khusus. Peringkat pertama sampai ke-25 mengisi kelas khusus A dan sisanya di kelas khusus B. Tempat duduk mereka juga sudah ditentukan, sesuai urutan peringkat mereka. Kelas khusus akan menjadi kelas permanen hingga mereka lulus. Na Mi melirik ke arah kanannya.  Sesuai urutan, Young Min tepat dikanannya kemudian Kwang Min dan didekat pintu ada Min Woo. Miss  Rin memasuki kelas sebagai wali kelas khusus A.

Annyeong haseyo yoerobuen?” Sapa Miss  Rin. “Bangapseumnida,” Miss  Rin melihat sekeliling, memperhatikan muris-muridnya. “Daebak… aku sudah memperkirakan kalau kalian akan mengisi kelas khusus ini,” ia melirik deretan paling depan. “Oh… ada Jo bersaudara dan No Min Woo . Juga ada  kamu, Cha Na Mi.” Miss  Rin terlihat senang. “Kelas ini penuh dengan bakat-bakat yang bagus. Jjang!”

Na Mi hanya tersenyum, begitu juga Young Min dan Min Woo. Sedangkan Kwang Min hanya cemberut dan melipat tangannya didada. Ia tidak bisa terima semua ini. Bukan karena Na Mi yang sekelas dengannya, tetapi karena Na Mi ditempat pertama. Selama ini ia, Young Min dan Min Woo yang merebut posisi 3 besar. Ia akan terima jika orang lain yang menempati posisi pertama, asalkan jangan Na Mi.

:::::::::::::::::::::::

Kelas art tambahan dimulai juga. Seluruh murid tahun kedua dan ketiga SOPA high school berbondong-bondong memilih kelas art tambahan sesuka hati mereka. Tiap murid diwajibkan memilih 4 kelas dan maksimal 6 kelas.

Sore ini adalah saatnya kelas art vocal modern yang di  pegang oleh Miss  Rin dan Kim Seongsangnim. Lagi-lagi Kwang Min cemberut. Tepat didepan matanya duduk yeoja yang paling ia benci sedunia, Cha Na Mi. Young Min dan Min Woo hanya bisa mendesah dan menatap lesu satu sama lain. Kwang Min tidak henti-hentinya memelototi Na Mi, begitu juga sebaliknya.

“Baiklah… sekarang kita mulai latihannya. Kalian semua berdiri!” Perintah Kim Seonsangnim. “Taruh tangan kalian di atas perut, tarik napas perlahan hitung sampai 5 kemudian hembuskan lewat mulut. Arasseo?”

NeSeonsangnim,” teriak semuanya hampir bersamaan.

Author POV END

:::::::::::::::::::::::::::

Jo Kwang Min POV

Aku berdiri didepan jendela. Menerawang jauh entah kemana. Dipikiranku hanya ada satu hal, Cha Na Mi. Kenapa yeoja itu harus selalu ada satu langkah didepanku? Kenapa aku tidak bisa mengalahkannya? Apakah aku yang lemah atau dia yang terlalu kuat?

Aku tersenyum sendiri mengingat tiap pertengkaran antara aku dengannya. Ia sama sekali tidak mau kalah dariku. Yeoja itu tidak pernah menatap aku dengan mata berinar-binar seperti yeoja lain disekolahku. Hey~~ aku sangat popular di sekolah. Siapa yang tidak tahu tentang trio boyfriend di SOPA? Aku, Young Min dan Min Woo sangat terkenal. Kami tidak pernah mendapatkan sedikit coklat saat valentine tiba.

Tunggu… Kenapa aku tersenyum saat memikirkan yeoja babo itu? Maldo andwae… aku berharap ia melihatku dengan mata berbinar seperti yeoja lain? Ada apa denganku?

Aku merebahkan diri di kasur berwarna kuningku. Aku mencoba memejamkan mata, menenangkan diri. aku –Jo Kwang Min- adalah namja yang baik hati, murah senyum dan tidak gampang marah. Tetapi, sekarang aku namja yang selalu merasa kesal, cemberut dan emosional? Kenapa? Sejak aku bertemu Yeoja babo itu aku berubah? Kenapa?

“Aaaah… yeoja itu membawa pengaruh buruk padaku,” aku bangun dari tidurku dan segera keluar dari kamar.

Jo Kwang min POV END

::::::::::::::::::::::::::::::::::

Jo Young Min POV

Aku sedang melakukan hal gila sekarang. Mau tahu apa? Aku sedang mendengarkan suara Na Mi yang aku rekam saat kelas vocal modern –kelas art tambahan. Ia menyanyi dengan merdunya walaupun tanpa iringan musik sedikitpun. Suaranya mengalun dengan indah ditelingaku melalui headphone yang terpasang ditelingaku.

Senyum mengembang dengan indahnya dibibirku. Aku tidak tahu apa yang terjdi padaku. Aku hanya mau menikmatinya. Suara Na Mi menghilang, berhenti. Aku menghela napas, sedikit kecewa.  Aku bangun dari tidur malasku dan duduk dimeja belajar.

Aku –jo Young Min- namja yang berkharisma, gampang marah, dan tidak mau mengalah. Tetapi, sekarang aku tidak bisa menjaga image-ku, aku bisa mengontrol emosiku dan aku mau mengalah  baik pada Kwang Min maupun Na Mi. Apa yang sebenarnya terjadi? Aku rasa, aku menjadi begini sejak mengenal Na Mi. Ia membawa sedikit pengaruh positif padaku. Benarkah begitu?

Jo Young Min POV END

::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Author POV

Annyeong haseyeo…  kita bertemu lagi. Emmm… sepertinya masih wajah yang sama dari tahun kemarin” Lee Seonsangnim –spesialisasi dance modern.

Senyum Kwang Min merekah. Ia terlihat sangat senang. “Hyung…Na Mi tidak ada kan?”

“Emm…,” Young Min mengangguk kecil.

“Na Mi tidak menyukai dance,” tambah Min Woo.

“Benarkah? Akhirnya kita terlepas juga,” Kwang Min tertawa tanpa suara.

“Young Min-a!” Panggil lee Seonsangnim, sedikit terdengar kesal. “Apa yang kamu tertawakan?”

Young Min bingung. “Naega…?Seonsangnim?” Young Min  mengangkat tangannya.

“Ah… aku salah. Maksudku Kwang Min!”

Sontak seisi ruang latihan –kelas art tambahan dance modern– menahan tawa. Lee Seonsangnim memang selalu salah dalam membedakan  Kwang Min dan Young Min. Lee Seonsangnim hanya tertawa. Ia bahkan tidak bisa berhenti tertawa.

Stop!” semua terdiam. “Baiklah…kita akan mulai dari…”

Tok… tok… tok! Seseorang mengetuk pintu.

“Baiklah… masuk!” perintah Lee Seonsangnim.

Mianhae Seonsangnim… aku terlambat.”

Young Min tersenyum. “Na Mi?”

“Dia lagi?” Kwang Min kesal.

Lee Seonsangnim melirik Na Mi. “Kamu siapa? Mau masuk kelasku?”

Ne… Lee Seonsangnim. Tetapi jika Seonsangnim tidak mengizinkan aku akan pergi.”

Ireumi mwoyeyeo? Aku baru melihatmu.”

Joenenun Cha Na Mi imnida.

Lee Seonsangnim mencoba mengingat. “O h…Cha Na Mi? Baiklah,masuk! Ini terakhir kalinya kamu boleh terlambat dan simpanlah kacamatamu saat mengikuti kelasku.”

Na Mi melepas kacamatanya. “Ne… Seonsangnim.

Na Mi berjalan perlahan menuju kursi kosong disebelah Kwang Min. Ia tidak mengenali Kwang Min dari jauh tanpa kacamatanya. Sepertinya ia memang harus mengenakan kontak lens mulai besok. Kwang Min menatap Na Mi yang tersenyum padanya. Ini pertama kalinya yeoja itu tersenyum padanya.

Annyeong?!” sapa Na Mi ramah. Ia belum mengenali Kwang Min dan duduk disampingnya.

“Yak… kamu tidak melihatku?”

“Kamu?” Na Mi memincingkan matanya. “Ohhh…,” ia terkejut. “Nappen namja? Kenapa kita…?”

Kwang Min mendengus. “Kamu sengaja mengikuti kami? Dan, untuk apa mengambil kelas ini? percuma jika kamu tidak punya mata yang jeli.”

“Mwo?” Na Mi kesal.

“Bagaimana kamu mau mengikuti pelajaran jika kamu tidak bisa melihat?”

“Terserah aku,” nada suara Na Mi meninggi. “Lihat saja besok, aku akan mengalahkanmu. Dance itu gampang. Aku hanya tidak mau dan sekarang terpaksa. Tahu?”

Lee Seonsangnim berkacak pinggang. “Yakkk… kalian berduaT Jo yang satunya dan Na Mi, perhatikan gerakan yang aku contohkan!”

Ne,” jawab Kwang Min dan Na Mi hampir bersamaan.

:::::::::::::::::::::::::

Na Mi sedang memohon pada Miss  Rin. Miss  Rin tidak peduli, ia terus saja berkutat pada komputernya. Hari ini Na Mi tidak memakai kacamatanya, ia memakai soft lens. Pagi-pagi sekali sebelum kelas dimulai, ia sudah menunggu Miss  Rin di mejanya. Ia harus menuntaskan semuanya sekarang juga.

“Miss  Rin… jebal. Izinkan aku mengambil kelas yang lain?!” Rengek Na Mi.

“Tidak bisa… jika kamu mau menjadi penyanyi terkenal, kamu harus mengikuti saranku. Jangan lupa nanti sore ada kelas acting bersama Choi Seonsangnim.

Na Mi cemberut. “Baiklah… aku tidak akan menuruti Miss  Rin.”

Morago?”

“Aku tidak akan masuk kelas acting maupun dance modern. Aku cukup masuk kelas vocal modern dan instrument musik modern.” Na Mi terdengar mantap.

“Morago?” Miss  Rin tersenyum sinis. “Kalau kamu tidak mau menuruti perintahku, jangan harap kamu bisa mengikuti kedua kelas itu.”

“Aaaa… andwae,” Na Mi kembali memohon. “Mianhae, Miss  Rin.”

Miss  Rin geleng kepala. “Kamu sudah menantangku tadi.”

Aniamianhae. Aku cuma bercanda. Baiklah, aku akan masuk kelas art tambahan yang Miss  Rin sarankan.”

“Bagus…turuti apa kataku,” Miss  Rin tersenyum kemenangan. “Oh… satu lagi. 2 bulan lagi atau kurang, akan ada projek kelompok untuk ajang pensi seluruh SMA art di Seoul. Jadi, mungkin kamu akan jadi perwakilannya.”

Mwo? Tetapi aku…”

Miss  Rin memukul pundak Na Mi. “Kamu tidak bisa menolak. Ini sudah keputusan kepala sekolah dan ketua yayasan. Jadi, rajinlah berlatih!”

Arayoe,” Na Mi lemas.

“Yakk… sana masuk kelas!”

Gomawo, Miss  Rin.” Na Mi memberi hormat.

Author POV END

:::::::::::::::::::::::::::

Jo Kwang Min POV

Aku melirik tempat duduk Na Mi. Ia belum menunjukkan dirinya hingga jam segini. Kelas hampir terisi penuh dan sebentar lagi bel akan berbunyi.  Young Min sedang sibuk bercanda dengan Min Woo. Entah apa yang membuat mereka  sangat senang belakangan ini.

Bel telah berbunyi. Aku mulai khawatir. Mengapa Yeoja babo itu belum terlihat? Yakkk~~~ Kwang Min-a, apa yang kamu lakukan? Mengkhawatirkan Na Mi? Aku segera menggelengkan kepalaku keras. Mencoba membuang pikiran tentang Na Mi.

Gedebruk! Sesuatu menabrak pintu. Terdengar napas terengah-engah. Seisi kelas melihat ke arah pintu. Ada seorang yeoja dengan rambut pendek diatas bahu yang mencoba mengatur napasnya disana.Tas ransel berwarna biru –senada dengan kaos kaki dan pita dirambutnya- tergeletak di lantai. Sepertinya ia menyeret tasnya tadi.

Perlahan yeoja itu menegakkan badanya dan berjalan masuk. Aku menatapnya heran. Wajahnya sangat familiar. Yeoja itu duduk di kursi Na Mi. Aku masih melihat ke arahnya. Ia mengambil tissue di dalam tasnya, kemudian mengelap keringat yang mengalir di plipisnya.

“Apa kamu lihat-lihat?” yeoja itu membentakku yang terus melihatnya dengan mulut yang mungkin sedikit terbuka. “Mwo?” Ia melotot ke arahku.

Yeoja phabo?” Aku baru mengenalinya. “Neun…?”

Mwo? Wae?” Na Mi mulai kesal.

Aku langsung melirik sekeliling. Ternyata memang cuma aku yang terus memandanginya. “Kamu… kenapa telat? Tumben?” Aku mengalihkan pembicaraan.

“Terserah aku… urusan kamu apa?”

“Kamu… kamu sangat mengganggu. Merusak konsentrasi.” Aku segera mengambil buku yang ada diatas mejaku. “Aku sedang belajar tahu,” padahal sedari tadi buku itu menganggur.

Aish… kalau mau belajar, belajar saja,” ia terlihat kesal. “Kenapa aku yang salah?” Gumamnya sambil menantap ke arah luar jendela.

Dia Cha Na Mi? apa aku bermimpi? Mataku tertuju pada buku pelajaran yang aku buka di atas meja. Tetapi mataku tidak sebenarnya menatap buku pelajaran itu. Ujung mataku sesekali melirik Na Mi yang mengipas-ngipas dirinya dengan buku.

Yeoja tanpa kacamata yang ada di sampingku ini adalah Cha Na Mi? ia terlihat berbeda, sangat berbeda. ia tidak terlihat seperti Na Mi yang menyebalkan. Ia terlihat begitu bersinar. Kalian tahu? seperti ada cahaya yang berpendar disekitar tubuhnya. Ia sangat cantik. Aku akui ia sangat cantik tanpa kacamatanya.

Jo Kwang Min POV END

::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Jo Young Min POV

 

Gedebruk! Aku sangat terkejut. Konsultasiku pada Min Woo tentang beberapa trik dance terhenti. Reflek aku menoleh ke arah sumber suara. Ada seorang yeoja yang baru saja menabrak pintu. Ia mencoba mengatur napasnya yang tidak teratur.

Aku seperti mengenali sosok yeoja ini. Aku yakin, aku tahu siapa ia dari tas yang ia bawa. Yeoja itu menegakkan badannya dan menyeret tasnya menuju tempat duduk Na Mi. Tebakanku benar, ia adalah Na Mi.

Na Mi tidak menggunakan kacamatanya. Dan itu, membuatnya terlihat berbeda. Ia terlihat begitu cantik. Aku melirik Kwang Min, ia terus menatap Na Mi. Tatapannya pada Na Mi tidak seperti biasanya. Apakah Kwang Min…? ‘Ania, maldo andwae.’ Aku membuang jauh pikiran itu.

Kwang Min segera membaca bukunya setelah bertengkar dengan Na Mi. Kwang Min mengalah? ‘Ania, maldo andwae.’ Haruskah aku mengakuinya sekarang? Aku cemburu, cemburu melihat Kwang Min yang terus bertengkar dengan Na Mi. Setidaknya ia bisa mengobrol –bertengkar- dengan Na Mi.

Baiklah~~ aku menyukai Na Mi. Sejak kapan? Mungkin sejak aku mendengarnya bernyanyi –kompetisi di Jepang. Ia terlihat begitu menawan dengan dress terusan berwarna krem diatas lutut dan high heels berwarna senada, serta kacamatanya saat itu. Kacamata itu sama sekali tidak merusak penampilannya. Ia terlihat sangat menawan.

Aku masih menatap Kwang Min yang bertindak aneh. Aku memutuskan untuk menuju kursiku dan menghalangi lirikan ujung mata Kwang Min yang terus mengarah pada Na Mi. Apa yang aku lakukan? Menghalangi saeng 6 menitku untuk melirik yeoja yang aku sukai? Tentu saja. Mungkin aku tidak bisa mengalah padanya untuk yang satu ini.

Jo Young Min PON END

:::::::::::::::::::::::::::::::::::

Author POV

Na Mi duduk  disebuah kursi tanpa sandaran. Sekitar 15 yeoja lainnya atau lebih, melakukan hal yang sama dengannya. Didepannya berbaris  3 orang namja, dan mereka mengemban tugas.

Plok… plok! Terdengar tepukan tangan singkat. “Beruntung jumlah yeoja di kelas ini cukup, kita tidak perlu menyuruh salah satu diantara namja untuk menjadi target,” Choi Seonsangnim menjelaskan. “Sekarang kalian sudah saya bagi, dan tugas kalian adalah acting pengakuan cinta.”

Semua murid menatap Choi Seonsangnim tidak mengerti.

“Tugas kalian adalah menyatakan cinta pada yeoja yang ada didepan kalian. Kalian harus ber-acting dengan sungguh-sungguh. Jika acting kalian sungguh-sungguh, tidak ada yang akan tertawa. Kalian akan menjadi serius,” Choi seonsangnim mondar mandir. “Aktor dan aktris yang profesional akan sanggup mentransfer feeling-nya. Sebagai contoh sekarang, kalian para namja harus mampu menyampaikan perasaan cinta kalian. Buat yeoja didepan kalian melting dan akhirnya menerima cinta kalian. Walaupun hanya acting, perasaan kalian harus nyata.”

Seluruh isi kelas acting –kelas art tambahan- mengangguk mengiyakan. Entah karena mereka sangat mengerti atau mereka tidak mengerti sama sekali.  Senyum Choi Seonsangnim merekah. Ia merasa puas karena para murid mengerti. Semoga benar-benar mengerti.

“OK… mulai,” Seonsangnim memberi aba-aba. “Oh… satu lagi. Kalian boleh memakai property yang ada. Kalian bebas melakuakan apapun. Improvisasi!”

Kwang Min menatap Min Woo, menyuruhnya untuk melakukan perintah Choi Seonsangnim lebih dulu. Min Woo segera menatap Young Min, meminta bantuan. Dan bodohnya, Young Min meminta pendapat Na Mi.

Mwo? Kenapa kalian cuma saling lirik?” Na Mi protes. Ia tidak pernah merasa bersyukur harus ada diposisi ini. “Yakkk…kalian ber-3. Palli!”

Hyung… siapa yang duluan?” Min Woo menyikut Young Min.

“Kwang Min tuh!”

Naega? ShireoHyung saja yang duluan,” Kwang Min membantah.

“Kamu sana!” Perintah Young Min.

Shireo…. Pas dulu maunya keluar duluan. Sekarang malah nyuruh aku duluan,” gerutu Kwang Min.

Young Min mendengar gerutu Kwang Min. “Eyy…”

Choi Seonsangnim mulai kesal melihat kelompok Na Mi yang tidak memulai perintahnya. Mereka malah terlihat berdebat. Menyuruh satu sama lain.

“Kalian…!” Choi Seonsangnim marah besar. “Kapan mau dimulai kalau berdebat terus. Kamu, Kwang Min… kamu yang pertama,” menunjuk Kwang Min.

Kwang Min mendengus perlahan. Jangan sampai choi Seonsangnim melihat. “NeSeonsangnim.

Na Mi terlihat kecewa. Kenapa harus Kwang Min yang memulai? Ia memutar bola matanya saking tidak terima. Kwang Min mengambil sebuah boneka di tumpukan property. Kemudian ia melangkah mendekati Na Mi. Awalnya ia terlihat ragu, tetapi kemudian langkahnya semakin mantap.

Author POV END

:::::::::::::::::::::::::::

Jo Kwang Min POV

Choi Seonsangnim memang gila. Aku harus menyatakan perasaanku, perasaan cinta pada yeoja babo itu? Memangnya aku menyukainya? Tentu saja tidak. Baiklah, ini hanya acting. Aku pasti bisa melakukannya. Tidak akan ada yang berpikir macam-macam. Ini hanya acting. Kenapa aku menjadi gugup?

“Na Mi-a…,” aku berdiri tepat dihadapan Na Mi yang seperti enggan menatapku. “Aku menyukaimu!” kataku ragu.

Jantungku berdegup kencang. Entah kenapa aku merasa deg-degan. Bukankah ini cuma acting? Malu-malu aku menyodorkan boneka –yang aku ambil ditumpukan property– kepada Na Mi. Aku memalingkan wajah –acting malu- dan harap-harap cemas menunggu jawaban.

Mianhae… Aku tidak bisa,” jawab Na Mi enteng.

Mwo?” Aku menatapnya dengan mata yang terbuka lebar. “Weo?”

Actingmu payah… masih jaman menyatakan cinta dengan cara seperti itu?”  Na Mi memalingkan wajahnya. “Kampungan,” tambahnya.

Wajahku pasti sudah sangat memerah sekarang. Aku melempar begitu saja boneka itu ke tanah. Aku mendengus kesal, aku diremehkan olehnya lagi? Sehebat apakah ia? Aku menatapnya kesal. Dengan pasti aku menghampirinya, berusaha sedekat mungkin dengannya.

“Kamu…,” aku memegang pundaknya.

Mwo?” tanyanya heran.

Aku semakin mendekatkan wajahku padanya. “Aku serius kali ini,” tambahku.

Wajahku dan wajah Na Mi hanya berjarah tidak lebih dari 2 sentimeter. Bahkan lebih dekat lagi. Aku bisa merasakan hembusan napas Na Mi. Aku bisa melihat dengan jelas manik matanya –walaupun dengan soft lens.  Aku semakin mendekatkan wajahku, reflek ia bergerak menjauh.

“Kwang Min-a,” katanya ragu. “Wajahmu terlalu dekat, aku…”

“Aku menyukaimu,” potongku. “Aku sangat menyukaimu,” ulangku.

“Tetapi…kita…,” Na Mi terdengar terbata. Ia tidak berani menatap mataku.

Aku terus menyerangnya. “Selama ini aku mungkin terlihat membencimu. Tetapi sebenarnya aku menyukaimu. Sekarang aku sadar, aku sangat menyukaimu. Aku tidak pernah mau kehilangan perhatianmu. Walaupun aku harus menarik perhatianmu dengan selalu membuatmu kesal, tetapi aku senang. Kamu mau berbicara padaku. Aku menyukaimu, sangat menyukaimu.”

Na Mi menelan ludah. “Kwang Min-a… wajahmu terlalu dekat.”

“Tidak bolehkah aku memandang wajahmu  sedekat ini? Aku selalu ingin melihatmu sedekat ini.  Kamu memang manis, sangat manis. Tidak bolehkah aku melihat yeoja manis yang aku sukai ini lebih dekat? Hanya sebentar saja.”

“Kwang Min-a,” Na Mi mulai salah tingkah.

Aku tersenyum kemenangan dan menjauhkan wajahku darinya. “Otthe… Choi Seonsangnim?”

Jjang… hampir sempurna. Dan kamu Na Mi…”

Nde?” Na Mi terlihat mengatur napasnya.

“Kamu bisa dengan cepat menerima feeling dari Kwang Min. Terus kembangkan… yang lain juga harus lebih baik,” Choi Seonsangnim  pergi mengontrol kelompok lain.

Aku tida bisa menahan tawaku melihat ekspresi Na Mi. Ia terlihat terkejut aku memperlakukannya seperti itu tadi. Aku senang bisa membuatnya kehabisan kata-kata. Young Min dan Min Woo terlihat berpikir keras. Mereka berusaha mengumpulkan ide untuk acting mereka.

“Kamu kenapa?” godaku pada Na Mi.

Ia memelototiku. “Neun… kenapa kamu melakukan itu?” teriaknya.

“Hahaha… jangan-jangan kamu menganggap aku serius? Lihat wajahmu, sangat lucu. Kamu seperti kepiting rebus sekarang.”

Nappenum…!” Na Mi terlihat sangat marah.

:::::::::::::::::::::

Aku tidak bisa mengontrol diri sekarang. Aku sangat bahagia, sangat amat bahagia. Aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya.

“Hahahaha…,” aku tertawa sendiri.

Tidur-tiduran berbantalkan lengan tangan kiriku di rumput halaman belakang rumahku dipagi hari memang menyenangkan. Selain karena cuaca yang bagus, hatiku juga sedang bagus. Pikiranku tidak henti-hentinya memutar kejadian kemarin. Kejadian saat aku membuat Na Mi terdiam, aku mengalahkannya.

Kejadian itu seolah berputar kembali diotakku. Aku ingat, bagaimana wajahku begitu dekat dengannya. Bagaimana suara napasnya yang gugup. Bagaimana ia terlihat begitu manis dari jarak sedekat itu. Matanya yang bulat dan besar dengan kontak lens berkilau disana. oh~~ sangat indah. Bibirnya yang berwarna pink  natural. Dan pipinya yang merona merah.  Ia begitu cantik.

“Oh… maldo andwae,” aku segera terduduk. “Kenapa aku jadi memikirkan yeoja babo itu?”

Tetapi ia memang cantik, sangat mempesona. Apakah aku mulai menyukainya? Aku benar-benar menyukainya, bukan acting? Oooh, aku mulai gila sekarang. Mana mungkin aku bisa menyukai yeoja menyebalkan itu? yeoja yang selalu meremehkanku. Ia yang mengusik hidupku yang aman tentram dan… membosankan. Ia mengubah hidupku jadi menyenangkan dengan mengizinkan aku menggangunya. Cha Na Mi, sebenarnya kamu siapa?

Jo Kwang Min POV END

:::::::::::::::::::::::::::::

Cha Na Mi POV

Aku terus manatapnya, mungkin tanpa berkedip.  Untuk pertama kalinya aku senang bisa sekelas dengannya. Aku berjanji akan mengontrol emosiku. Aku tidak akan kesal hari ini. Aku akan menikmati tiap detik bersamanya. Aku akan menikmati tiap detik memandangi wajahnya. Apakah aku mulai menyukainya? Syukurlah….

“Wah…wajah-wajah yang cerah,” Miss  Rin mengusik konsentrasiku.

Tunggu, kenapa Miss  Rin? Ini adalah kelas Lee Seonsangnim. Apa aku salah masuk kelas? Aku melirik Min Woo yang duduk disebelah kiriku bersama Young Min dan Kwang Min. Dengan berbisik aku memanggilnya.

“Min Woo-a!”

Nde?” Ia menoleh dan tersenyum padaku.

“Ini kelas Lee Seonsangnim kan?” pertanyaan bodoh. Dimana ada trio ini dan aku, berarti kelasnya benar.

Ne… katanya ada project baru buat kita,” bisik Min Woo

Mwo?” Aku penasaran.

Plok…! Miss  Rin menepuk tangannya, meminta perhatian. “Pasti kalian penasaran kenapa saya ada disini. Tentunya bukan untuk menggantikan Lee Seonsangnim. Tetapi kalau bisa, boleh juga,” ia tertawa kecil.

Andwae Miss  Rin… ini lahanku,” Lee Seonsangnim datang. “Baiklah langsung saja. Kita ada project untuk acara pensi seluruh SMA art di Seoul.”

Miss  Rin menambahkan, “Tema tahun ini adalah musical. Murid tahun terakhir ditugaskan untuk mengambil project ini.”

Aku melihat Min Woo, Young Min dan Kwang Min. Mereka terlihat begitu senang. Tetapi ada pertanyaan yang mengganjal di benakku. Jika temanya musical, kenapa kelas dance modern –kelas art tambahan- yang diberi tahu?

“Permisi,” aku mengacungkan tangan.

Ne… Na Mi,” Miss  Rin tersenyum padaku.

“Miss bilang temanya musical. Kenapa harus kami? Kenapa bukan kelas musical? Bukankah mereka lebih tepat?”

“Masalah itu…,” Miss  Rin nyengir. “Kelas musical ada project sendiri, jadi tidak bisa. Jadinya kelas dance modern, vocal modern dan acting akan melakukannya.”

“Siapa diantara kalian yang mengambil 3 kelas tersebut atau bisa 2 diantaranya?” tanya Lee Seonsangnim.

Sekitar 23 orang, termasuk aku dan si trio mengangkat tangan. Miss  Rin dan Lee Seonsangnim mengangguk puas. Aku mempunyai firasat buruk soal ini.

Cha Na Mi POV END

::::::::::::::::::::::::::

Author POV

Setelah mencoba menolak dengan berbagai alasan, Na Mi pun menyerah. Ia terpaksa harus menerima perannya dalam project musical ini.  Ia sama sekali tidak bisa membantah keputusan kepala sekolah dan ketua yayasan yang memilihnya sebagai pemeran utama yeoja dengan Min Woo sebagai pemeran utama namjanya.

Naskah sudah ada ditangan Na Mi dan yang lain. Mereka tinggal mengatur waktu untuk berlatih. Mereka hanya punya waktu 1 bulan, tidak lebih. Mereka sebagai pemula, dituntut untuk berperan sempurna dalam  project musical ini –drama musical.

Na Mi kaget luar biasa setelah membaca naskah itu. Judulnya adalah Love Princess dan pengarangnya adalah  Miss  Rin. Na Mi melirik Miss  Rin, ia terlihat agresif didekat Lee Seonsangnim. Na Mi menghela napas dan kembali membuka lembar  naskah itu. Ia memulai membaca synopsis yang ada dihalaman kedua naskah.

Min Woo, Kwang Min dan Young Min berusaha keras menahan tawa mereka setelah membaca synopsis dan beberapa dialog didalam naskah itu. Terlihat jelas kalau Miss  Rin sangat serius dalam mengerjakan naskah itu. Ia pasti mencurahkan seluruh imajinasinya untuk menghasilkan ide cerita naskah ini.  Entah bagaimana reaksi Choi Seonsangnim jika membacanya.

Secara garis besarnya, beginilah cerita didalam naskah itu. Pemeran utama yeoja –Na Mi- adalah seorang putri modern korea selatan. Sebagai seorang putri yang dianggap cukup umur, Na Mi harus segera menikah. Kemudian Na Mi dijodohkan dengan 2 orang anak pengusaha sukses di Seoul –Kwang Min dan Young Min. Na Mi harus  memilih salah satu diantara mereka berdua. Kwang Min dan Young Min bukanlah saudara dalam naskah ini. Dan perusahaan keluarga mereka adalah saingan besar. Jadi terjadilah perebutan Na Mi untuk memajukan perusahaan masing-masing.

Singkat cerita, Na Mi  tidak bisa memilih mereka berdua. Na Mi tidak bisa menerima cinta palsu dari mereka. Dan disaat membingungkan itu, Na Mi hanya bisa berkeluh kesah pada pemeran utama namja –Min Woo. Min Woo adalah sahabat baik Na Mi di kerajaan.  Ia adalah anak mentri. Na Mi menyukai Min Woo. Namun karena kekuatan politik mereka tidak bisa bersatu. Di fakhir cerita, Na Mi memilih kabur dengan Min Woo dibandingkan mempertahankan gelar putrinya.

Kwang Min memegangi perutnya. “Xixixixixi…,” tawanya cekikikan.

“Yak… hentikan!” Young Min menyikut Kwang Min. “Miss  Rin bisa tersinggung nanti.”

Hyung lihat… kita harus memerankan ini? Aigoo… ini sangat lucu. Miss  Rin sangat berbakat.” Kwang Min menepuk pundak Min Woo. “Berusahalah, Min Woo-a!”

Ne… aku akan berusaha keras,” Min Woo terlihat serius, berapi-api.

Kwang Min dan Young Min hanya saling tatap. Min Woo begitu polos, ia tidak mengerti kalau naskahnya sangat payah? Dan ia suka rela dan senang hati, memerankan perannya? Kwang Min dan Young Min memegangi kepala mereka. Reaksi Min Woo membuat mereka pusing.

::::::::::::::::::::::::::::

Waktu latihan sudah ditentukan, 4 kali seminggu. Semua pemeran harus menghafal naskah diluar kepala. Tidak diperkenankan membawa naskah saat latiha. Mereka benar-benar harus menghafalnya dirumah, dimanapun mereka berada. Mereka juga dituntut untuk sering berlatih dirumah. Semuanya harus bekerja keras.

Oleh sebab itu, Na Mi dan si trio –Kwang Min,  Young Min dan Min Woo- harus selalu berlatih bersama. Herannya, untuk kali ini Kwang Min tidak menolak. Ia tidak protes sama sekali. Ia malah menganggap ini ide bagus. Tingkah Kwang Min membuat yang lain merasa bingung dan menebak-nebak isi otak Kwang Min. Mereka menebak-nebak, apakah ada yang salah dengan Kwang Min?

Author POV END

:::::::::::::::::::::::::

Jo Young Min POV

“Kwang Min-a… mau kemana?” Aku melirik Kwang Min sebentar kemudian kembali menatap televisi.

Langkah Kwang Min terhenti. “Ke suatu tempat,” jawabnya singkat.

Morago?” Aku menoleh ke arahnya. “Kamu wangi sekali,” aku mengendusnya.

“Aku memang selalu wangi.”

“Aku ikut, eoh? Aku bosan dirumah,” aku beranjak dari tempat dudukku.

Ekspresi wajah Kwang Min langsung berubah. “Andwae… jangan-jangan!” Ia melarangku keras.

Weo?”

“Pokoknya Hyung tidak boleh ikut,” tingkahnya mencurigakan.

Aku tertawa licik. “Kamu mau pergi kencan?”

Ania…,” ia tidak berani menatapku. “Siapa yang mau kencan?”

“Mengaku saja…!” Aku menggodanya. “Kamu akan berkencankan? Dengan siapa? Apa Hyungmu yang tampan ini mengenalnya?” Aku semakin senang melihat dia yang salah tingkah.

“Ania… aku tidak berkencan. Hyung hentikan mengangguku. Aku harus pergi!” Kwang Min meninggalkanku begitu saja.

“Yakkk… semoga berhasil,” aku tertawa.

Kwang Min pasti akan berkencan. Ia tidak akan serapi itu jika hanya untuk bertemu seseorang yang tidak spesial. Wah…aku jadi iri padanya. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Latihan untuk project daram musical sedang di liburkan. Para Seonsangnim sedang berbaik hati. Mereka ingin kami tidak jenuh.

::::::::::::::::::::::::::

Akhirnya aku berjalan-jalan sendiri. Min Woo tidak mau menemaniku. ia sedang sibuk menghafal naskahnya, ia  berusaha keras. Kenapa ia tidak berhenti dan memanfaatkan hari libur ini? Rupanya ia terlalu menganggap serius project musical ini.

Aku menarik napas dalam, menikmati udara di taman kota yang begitu sejuk. Udara yang sangat menenangkan hati. Udara segar ini memenuhi paru-paruku. Aku sangat senang sekarang. Mungkin semuanya akan lebih lengkap jika aku tidak berjalan sendiri. Seandainya Na Mi menemaniku.

Sempat aku akan mengajaknya tadi. Tetapi aku tidak punya keberanian. Aku tidak punya alasan untuk mengajaknya keluar. Aku tidak ingin ia berpikir, kalau aku mengajaknya berkencan. Yah~~ secara teknis memang mengajaknya berkencan.

Bayangan Kwang Min yang sedang berkencan dengan seorang yeoja membuat aku semakin iri. Saengku itu memang terkadang menyembunyikan sesuatu dariku. Dan itu selalu menjadi kejutan yang tidak terduga darinya. Aku kembali berjalan menyusuri jalan setapak di tengah-tengah taman. Beberapa remaja seumuranku terlihat sedang berkencan. Sepertinya begitu mengasyikkan.

“Yak…!!!”

Aku menoleh mendengar suara itu. aku sangat mengenal suara itu.

“Bukan begitu… kamu harus melakukannya dengan lemah lembut. Apa kamu tidak pernah merayu yeoja?”

Suara itu terdengar jelas. Aku semakin dekat.

“Bisakah kita menghentikan latihannya? Mari kita nikmati pemandangan yang indah ini, udara yag sejuk ini.”

Aku sangat mengenal suara yang satu ini. aku yakin aku mendengarnya sejak aku dilahirkan ke dunia. Aku tidak akan mungkin salah. Ini suara Kwang Min, saeng 6 menitku.

“Bukankah  kamu menyuruhku ke sini untuk berlatih? Katamu kamu kesulitan dan butuh bantuanku? Kenapa sekarang jadi malas-malasan begini?”

“Na Mi-a… memang awalnya begitu. Tetapi lihat, jalan-jalan akan lebih tepat sekarang.”

Aku menemukan mereka, Na Mi dan Kwang Min. Mereka sedang bertengkar dibawah pohon yang cukup besar. Begitu rindang disana. aku mencoba mendekat.

“Ayolah Na Mi… kita jalan-jalan saja. Kebetulan ada aku tahu café ice cream yang baru buka. Kamu mau mencoba?” Kwang Min terlihat membujuk Na Mi.

Aku terus melihat Kwang Min. Ia tiba-tiba berubah baik pada Na Mi. Bahkan sekarang secara tidak langsung ia mengajak Na Mi kencan. Apakah Kwang Min menyukai Na Mi? Kwang Min yang selama ini selalu merasa kesal pada Na Mi, berubah. Tatapan mata Kwang Min pada Na Mi memperjelas semua. Aku sangat mengenal Kwang Min, ia menyukai Na Mi. Aku yakin itu.

Jo Young Min POV END

:::::::::::::::::::::::::::::

Jo Kwang Min POV

Aku terus membujuk Na Mi agar mau memenuhi permintaanku. Aku menatap matanya, mencari adakah pertanda baik. Ia terus menolak permintaanku. Ia menatapku curiga. Mana mungkin tidak. Aku yang selalu jahat padanya, begitu membencinya, sekarang menjadi  sangat baik padanya.

Aku tidak bisa langsung menyatakan perasaanku padanya. Aku tidak mau ia langsung menolakku hanya karena kami selalu tidak akur dulu. Perubahan sifatku yang begitu mendadak pasti akan membuatnya curiga. Ia akan berpikir aku akan melakukan hal buruk padanya.

“Kamu kenapa? Ada apa denganmu? Aku bilang aku tidak mau. Kalau kamu tidak mau latihan, aku pulang saja,” dengan wajah yang mencurigaiku, Na Mi membereskan barangnya dan hendak  pergi.

“Na Mi-a… mianhae, aku hanya mau memperbaiki hubungan kita.”

Na Mi menatapku heran. “Ini bukan kelas acting, Jo Kwang Min. Jangan mencoba mempermainkanku. Aku tahu, kamu dan aku adalah rival. Tetapi aku tidak keberatan membantumu. Dan sekarang apa maksudmu? Kenapa kamu tiba-tiba sangat baik padaku? Apa maumu?”

“Apakah kamu sangat membenciku? Aku hanya mau memperbaiki kesalahpahaman diantara kita. Mianhae masalah di Jepang itu. Aku ingin kita berteman.”

Na Mi tersenyum. “Kita memang berteman. Kamu, Young Min dan Min Woo adalah temanku,”Na Mi tertawa kecil. “Aku tidak membencimu, hanya kesal. Tidak lebih,” Na Mi membalik padan dan pergi.

“Na Mi-a… aku menyukaimu!”

Ia berbalik dan tersenyum“Na tto,” ia tertawa kecil dan terus melangkah pergi.

Saranghaesaranghantagoyoe!”

Mwo?” Na Mi terlihat kaget.

Aku menghampirinya dan memeluknya yang masih diam terpaku. “Mungkin ini terdengara aneh. Tetapi, aku serius. Aku menyukai. Noemu joahemianhae kalau selama ini aku selalu membuatmu kesal.”

Jo Kwang Min POV END

::::::::::::::::::::::::::::

Cha Na Mi POV

Apa yang dilakukan Kwang Min? Kenapa ia memelukku? Kenapa ia bilang, ia mencintaiku? Apakah ini semua lelucon untuk mengerjaiku? Aku berusaha keras berpikir. Aku tidak mendapatkan ide tentang apa maksud semua ini, semua yang dilakukan Kwang Min padaku.

“Kwang Min-a,” ia masih memelukku. “Bisakah kamu melepaskanku? Aku butuh bernapas.”

“Oh… mianhae,” Kwang Min melepaskan pelukannya.

Aku menatap matanya. Mencari kebohongan yang tersembunyi disana. aku tidak menemukannya. Kenapa aku tidak menemukannya? Aku melihat pipi Kwang Min memerah. Ia tidak pernah seperti ini. aku tahu dia dengan baik, dia rivalku. Aku tahu semua tentangnya.

“Kwang Min-a… aku…,” aku bingung harus mengatakan apa. “Aku harus pulang, sampai bertemu di sekolah,” aku berlari meninggalkan Kwang Min.

“Na Mi-a…,” sayup-sayup aku mendengarnya memanggil.

:::::::::::::::::::::

Aku duduk sendiri didalam bis,hanya aku sendiri –dan supir. Kemanakah penumpang yang lain? Apakah mereka bosan menggunakan bis? Pemikiran yang bodoh. Sebenarnya aku hanya mengalihkan perhatianku. Aku sengaja memikirkan hal-hal yang tidak penting selama perjalananku pulang. Aku tidak mau mengingat kejadian di taman tadi.

Jo Kwang Min, apa yang kamu lakukan? Kamu sangat bodoh. Apa yang kamu lakukan tadi? Aku mengomel sendiri. Permasalahanya sekarang, apa yang harus aku lakukan? Aku bingung. Kwang Min, si nappeun namja, menyukaiku? Mencintaiku?

“Oh Tuhan… kutukan ini masih berlanjut?” Aku menundukkan kepala. “Kenapa kutukan ini berubah?”

:::::::::::::::::::::::::

Pagi-pagi sekali Kwang Min sudah ada di kelas. Tidak biasanya ia datang sepagi ini. Ia selalu datang dengan Young Min dan Min Woo. Tetapi kedua namja itu belum menunjukkan batang hidungnya. Aku berjalan ragu menuju kursi, melewatinya begitu saja tanpa menatapnya. Ia terus tersenyum ke arahku.

“Morning… Na Mi-a. Kamu sudah sarapan?” Ia menhampiriku yang baru saja duduk.

“Oh… aku,” aku menunduk. “Aku sudah sarapan, gomawo.” Aku melirik sekeliling. “Kenapa Young Min dan Min Woo belum datang?”

“Sepertinya kesiangan,” jawabnya singkat. “Apa kamu sudah siap untuk latihan nanti?”

“Oh… Ne.

“Sepulang sekolah nanti…,” kalimat Kwang Min dipotong oleh sebuah suara.

“Yak… Kwang Min-a! Kenapa kamu…,” Yongmin tiba-tiba terdiam. “Oh… Na Mi-a. Kamu sudah datang?!”

Min Woo berjingkrak-jingkrak menghampiriku. “Annyeong Na Mi-a… kamu sudah menghafal naskah?”

“Jangan membicarakan naskah itu disini,” Kwang Min mengacak-acak rambut Min Woo.

Aish… Kwang Min-a! Aku butuh waktu 1 jam untuk mengatur rambut ini dan kamu merusaknya?” Gerutu Min Woo.

Aku tertawa melihat Min Woo yang kesal. Ia berusaha memperbaiki rambutnya. Kwang Min meninggalkannya begitu saja dan duduk di kursinya. Young Min juga terlihat mengeluarkan bukunya dari dalam tas.

Cha Na Mi POV END

:::::::::::::::::::::::::::::

Author POV

Hyung… mau ikut?” tanya Min Woo pada Young Min. “Aku lapar!”

“Memangnya kantin sudah buka? Kamu tidak sarapan tadi?”

Min Woo geleng kepala. “Aku bangun kesiangan.”

“Sebentar lagi bel masuk berbunyi… nanti saja ke kantinnya,” Young Min serius membaca buku.

“Min Woo-a!” Panggil Na Mi.

Mwo?”

“Aku ada membawa bekal. Makanlah, kamu terlihat pucat,” Na Mi tertawa kecil.

Gomawo,” Min Woo berlari mengambil kotak bekal di atas meja Na Mi. “Gomawo… aku menyukaimu Na Mi-a. Kamu sangat baik,” kata Min Woo polos.

Nde?” Na Mi kaget.

“Emm… aku menyukaimu. Kamu teman terbaikku. Tidak seperti mereka,” memberi isyarat untuk melihat Young Min dan Kwang Min.

“Oh… Ne, na tto.

::::::::::::::::::::::::::::

“Na Mi-a… kamu mau kemana?” Tanya Kwang Min menghentikan langkah Na Mi didepan pintu.

“Aku mau ke perpustakaan dengan Min Woo.”

“Aku ikut?!”

Palli…!” Min Woo yang sudah duluan keluar dari kelas kembali. “Oh… kamu mau ikut?” tanya Min Woo pada Kwang Min.

Ne.

“Emmm… kajja!”

“Kwang Min-a… kamu bantu aku dulu, baru  ke perpustakaan.”

“Ada apa Hyung?”

“Aku mau berbicara denganmu sebentar,” Young Min menatap Kwang Min serius.

“Baiklah… Na Mi-a, Min Woo-a duluan saja. Nanti aku menyusul,” Kwang Min tersenyum manis ke arah Na Mi.

Na Mi  dan Min Woo sudah pergi. Kelas menjadi sepi, tersisa Kwang Min dan Young Min saja. Young Min terdiam. Ia terlihat sedang berpikir. Kwang Min menatap Young Min heran. Ada apa dengan hyungnya? Belakangan ini ia terlihat sensitive. Ia selalu murung.

“Ada apa Hyung?” Kwang Min tidak sabar.

“Apa kamu menyukai Na Mi?”

Kwang Min tertawa kecil. Menyembunyika kekagetannya. “Oh… ania! Maldo andwae.

“Benarkah? Lalu kenapa kamu sangat baik padanya?”

“Aku bosan terus bermusuhan padanya. Bukankah lebih baik berteman?”

“Jangan berbohong padaku. Kamu menyukai Na Mi?” Young Min semakin serius.

Kwang Min menelan ludah. “AniaYeoja babo begitu.”

“Baguslah,” Young Min tersenyum. “Karena aku menyukai Na Mi.”

Mwo?” Kwang Min menghampiri Young Min yang masih duduk ditempatnya. “Hyung bercanda?”

Ania,” Young Min menatap Kwang Min yang berdiri di depan mejanya. “Aku menyukai Na Mi. Aku mencintainya. Apa sudah jelas?”

Hyung…,” Kwang Min terlihat marah.

Weo? Bukankah kamu tidak menyukainya? Jadi aku bisa menyukainya.”

“Bagaimana kalau aku bilang aku menyukainya?”

“Aku akan tetap menyukainya.”

Kwang Min mendengus. “Hyung…”

Mianhae Kwang Min-a… aku tidak bisa mengalah darimu untuk yang satu ini,” Young Min meninggalkan Kwang Min begitu saja.

::::::::::::::::::::::::

Mulai dari hari itu –saat Young Min mengaku menyukai Na Mi pada Kwang Min- Kwang Min dan Young Min tidak akur. Bukan dalam arti mereka berkelahi. Mereka hanya selalu bersaing dalam segala hal. Dari hal sekecil –siapa yang menyelesaikan makannya lebih dulu- hingga yang sangat besar –menarik perhatian Na Mi. Na Mi sampai kebingungan dibuatnya. Ia sama sekali tidak mengerti apa sebenarnya yang terjadi.

Latihan untuk project musical semakin di perketat. Setiap senin hingga jumat, mereka harus berlatih. Kwang Min yang awalnya malas-malasan mulai serius.  Dan Young Min tidak mau kalah. Miss  Rin memuji mereka berdua yang –katanya- sangat mendalami peran mereka sebagai sangingan –rival.

“Na Mi-a,” Kwang Min berlari menghampiri Na Mi.

“Ada apa?” jawab Na Mi cuek.

Kajja… kita pulang bersama!”

Na Mi mengangkat alisnya sebelah. “Rumah kita tidak searah. Aku akan pulang dengan Min Woo,” Na Mi mencangklong tasnya dan menghampiri Min Woo. “Min Woo-a… kajja!” Na Mi tersenyum manis.

Aish…,” Kwang Min garuk-garuk kepala. “Kenapa aku bisa suka sama yeoja menyebalkan itu?” gumanya sendiri. “Ah… aku bisa gila.”

Dikesempatan yang lain………

“Young Min-a,” Na Mi menghampiri Young Min.

“Oh… Nde?” senyum Young Min merekah.

“Kamu bisa mengajari aku ini?” sebuah buku kimia tersodor ke arah Young Min. “Kemarin aku tidak terlalu memperhatikan. Bisa tolong ajari  aku?”

“Tentu saja… dengan senang hati,” Young Min melirik Kwang Min yang terlihat kesal.

Keberuntungan Young Min dan Kwang Min berbeda. Kwang Min –yang sudah menyatakan perasaannya- hampir selalu mendapat kesulitan untuk mendekati Na Mi. Na Mi selalu menatapnya curiga, kesal. Sedangkan Young Min –yang belum menyatakan perasaannya- tidak perlu ambil pusing, karena Na Mi yang akan mencarinya.

::::::::::::::::::::::

1 bulan berlalu sejak dibentuknya poject musical itu. Setelah bekerja keras dan mendapat acungan jempol dari kepala sekolah, ketua yayasan dan staf guru waktu untuk kompetisi datang. Tepat hari ini, acara pensi SMA Art seluruh Seoul diadakan. Na Mi dan yang lain telihat sedikit grogi namun antusias.

Mereka mencoba tetap tenang menunggu giliran mereka –urutan ke-9. Na Mi terlihat tidak tenang dipojok ruang tunggu khusus bagi perwakilan SOPA. Ini adalah pertama kalinya ia harus ber-acting, bernyanyi dan menari sekaligus dalam sebuah panggung dan ajang yang cukup bergengsi. Young Min yang melihat Na Mi menyendiri segera menghampiri.

Gwaenchanayoe?” ia duduk disebelah Na Mi.

“Oh… aku rasa tidak. Dan sepertinya memang tidak.”

“Tenanglah… kita akan naik kepanggung itu bersama. Jangan pedulikan penonton. Anggap mereka tidak ada.”

Na Mi menatap Young Min. “Tetapi tidak segampang itu. Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Aku hanya bernyanyi sambil memainkan gitarku di atas panggung. Tidak lebih. Bagimana kalau aku lupa dialogku?” Na Mi terdengar panik.

“Tenang saja, Na Mi-a,” Min Woo datang dengan senyum imutnya. “Bukankah kita sering berlatih? Kamu menghafal semuanya diluar kepala.”

“Begitukah?” Terlihat sedikit senyum dibibir Na Mi.

“Emmm… aku yakin Cha Na Mi pasti bisa. Jangan pikirkan menang atau kalahnya. Yang paling terpenting tunjukkan yang terbaik,” Min Woo mengedipkan matanya. “Benarkan Hyung?”

Nde?” Young Min kaget. “Oh… Ne.

Miss  Rin segera berlari menghampiri mereka bertiga dan menyuruhnya bersiap. Sebentar lagi adalah giliran mereka.

Kajja… Na Mi-a, my princess!” Min Woo mengulurkan tangannya dan tersenyum pada Na Mi.

Ne…,” Na Mi tertawa kecil dan menerima uluran tangan Min Woo.

Young Min masih diam ditempatnya, tidak bergerak. Ia sedang memutar ulang kejadian yang baru saja terjadi. Ada apa antara  Na Mi dan Min Woo? Mereka begitu dekat. Dan ekspresi mereka berdua saat saling menatap sangat, aneh? Young Min mencoba menepis kemungkinan yang terbersit dibenaknya. Ia berharap untuk kesekian kalinya, dugaannya salah.

:::::::::::::::::::

Pertunjukan kemarin berjalan dengan lancar. Sayangnya mereka tidak bisa mengetahui hasilya hari itu juga. Hasil dari pertunjukan kemarin akan diterima sekolah siang ini. Sejak pagi, seluruh pemeran dalam project musical SOPA  tidak bisa tenang. Hampir sebagian besar dari mereka tida konsentrasi belajar. Gejala yang sama juga dialami Miss  Rin –penulis cerita,naskah- tidak bisa tenang mengajar murid-muridnya. Ia terus menghubungi Choi Seonsangnim atau Lee Seonsangnim untuk mendapat kabar.

Tepat saat jam makan siang, tersiar rumor kalau hasilnya sudah keluar. Na Mi yang sudah menunggu sejak kemarin hingga tidak bisa tidur, memilih untuk menunda makan siangnya dan menunggu pengumuman di kelas. Jam makan siang sudah setengah berjalan, hasilnya belum diumumkan.

“Hahhh…,” Na Mi menghela napas dan merebahkan kepalanya di meja. “Kenapa lama sekali?”

“Kamu  tidak makan?” Kwang Min datang dan mengagetkan Na Mi.

Omoaish!”

“Oh… mianhae. Kamu kaget?”

Ne…,” Na Mi cemberut.

Young Min juga memasuki kelas. “Ini… makanlah!” Young Min menyerahkan sebuah plastik putih pada Na Mi. “Kamu belum makan siang kan? Makanlah dulu!”

Na Mi tersenyum sumringah. “Gomawo, Young Min-a.”

Ey… Kamu tersenyum saat menyambut Young Min, sedangkan aku tidak,” Kwang Min ngambek.

Young Min tertawa mengejek. “Karena kamu datangnya tidak baik-baik.”

“Maksudnya?” Kwang Min melotot.

Aigoo…hentikan! Akhir-akhir ini kalian sering berkelahi. Heran deh,” Na Mi melahap kimbab pemberian Young Min. “Kalian berdua saudara kembar, kenapa tidak akur? Dan kenapa sifat kalian jauh berbeda? Kwang Min itu menyebalkan dan Young Min itu baik hati.” Na Mi menatap mereka berdua. “Bukankah kalian sudah sangat memahami satu sama lain. Kenapa kalian bisa bertengkar?” Na Mi melahap kimbabnya lagi.

Kwang Min gregetan mendengar pertanyaan Na Mi. “Itu semua karena kamu!” teriaknya.

Na?”  Na Mi bingung. “Naega wae?”

“Karena aku dan Hyung itu…,” mulut Kwang Min terbungkam.

Young Min nyengri kuda. “Ania…  bukan karena kamu. Kita memang ada salah paham sedikit.”

Hyung…,” Kwang Min berhasil membebaskan diri.

Kwang Min yang mau  membela diri segera terintrupsi. Terdengar suara microfon dinyalankan dari pengeras suara.  Sigap Na Mi berdiri. Kwang Min dan Young Min juga berhenti saling menyikut. Mereka serius mendengarkan setiap suara yang akan keluar dari pengeras suara.

“Ehem…baiklah,” terdengar suara merdu Miss  Rin. “Saya ada pengumuman untuk anda semua. Saya  harap anda semua suka,” terdengar nada bahagia dari suara Miss  Rin. “Kemarin kita baru mengikuti sebuah kompetesi. Tidak hanya 1, tetapi 3 kompetisi.  Berikut beberapa juara yang kita dapat. Pertama, dari kelas theater. Mendapat juara 2 dalam kompetesi theater Seoul. Kedua adalah kelas musical, mendapat juara 1 dalam kompetisi musical internasional di Jepang. Dan terakhir, yang tidak terduga…,” Miss  Rin tertawa kecil. “Kelas dance modern, vocal modern, dan acting yang telah bekerjasama mengikuti kompetensi di ajang pensi seluruh SMA art di seoul mendapat juara…,” Miss  Rin terdiam sejenak. “Juara 1, selamat semuanya.”

Mwo?” Na Mi melirik Kwang Min dan Young Min meminta penjelasan. “Aku tidak salah dengar kan?”

Ania,” jawab Kwang Min dan Young Min hampr bersamaan.

Na Mi loncat sana sini karena gembira. Wajahnya terlihat begitu gembira. Min Woo berlari kecil ke dalam kelas. Ia juga terlihat sangat senang. Reaksi kedua pemeran utama ini terlihat berlebihan. Kwang Min dan Young Min hanya geleng kepala.

“Min Woo-a,” Na Mi berlari kearah Min Woo dan memeluknya.

“Yak… kalian berdua!” Kwang Min kesal. “Kenapa kamu memeluk Min Woo?”

Na Mi segera menjauh dari Min Woo. “Oh… mian,” ia nyengir. “Aku terlalu senang.”

“Kalau memang begitu, kenapa bukan memeluk salah satu diantara kita tadi? Kenapa harus Min Woo yang baru datang?” Protes –cemberu- Kwang Min.

“Itu karena…,” Min Woo menundukkan kepala.

Aish…,” Plokk…! Young Min memukul jidatnya. “Jangan bilang kalian…?”

“Min Woo tidak cerita?” Na Mi terlihat bingung. “Aku dan Min Woo sudah pacaran setelah tes seleksi kelas khusus,” jawab Na Mi enteng.

Mwo?” Kwang Min sangat kaget. “Kalian… lalu saat ditaman itu?” kata Kwang Min terbata.

“Kamu mengerjaiku kan?”

Ne…,” Kwang Min tertawa terpaksa. “Itu cuma lelucon jadi lupakan!”

Merong! “Kamu pikir aku akan tertipu lagi?”

Hhyung, Kwang Min… mianhae. Aku tidak berani cerita karena takut Kwang Min marah. Dia sangat membenci Na Mi kan?” Min Woo garuk kepala.

Young Min terdiam, ia shock berat. Sedangkan Kwang Min terus saja menghela napas dan keluar dari kelas. Min Woo dan Na Mi hanya saling menatap. Mereka tidak mengerti apa yang terjadi pada mereka, khususnya Young Min.

END

::::::::::::::::::::::::::::::

Epilog

Jo Kwang Min

“Aku sudah tahu kalau semuanya ini adalah ide gila. Aku menyukai yeoja yan salah. Aku yang sudah berusaha membuat ia mengerti perasaanku, tetapi malah mengabaikanku. Aku hanyalah rivalnya. Aku dan dia ditakdirkan untuk terus menjadi rivalnya. Aku benci yeoja   ini.”

Jo Young Min

“Syukurlah aku bisa menjadi teman yang baik. Firasat burukku selama ini memang benar. Pertama, Kwang Min menyukainya. Kedua, ia dan Min Woo  punya hubungan khusus. Haruskah aku jadi peramal. Sebenarnya aku berencana untuk mengejarnya hingga dapat. Tetapi, aku sebaiknya mengalah. Bukan demi Na Mi atau Min Woo. Tetapi demi Kwang Min. Aku tidak mau bersaing lagi dengan saudaraku.”

Cha Na Mi

“Aku menyukai mereka berdua. Jujur aku menyukai mereka berdua. Tetapi aku tidak bisa memiliki mereka berdua, dan aku tidak bisa memilih salah satu. Aku melihat mereka seperti satu orang, dengan kepribadian ganda. Gomawo, No Min Woo. You’re my angel.”

 

Sangat aneh bukan? Otak author hampir buntu. Bagaimanapun responsnya, tolong kasih tahu author. Jangan dipendam dalam hati. Oke?