Tags


Eonnie manarikku paksa untuk mengikutinya. Genggaman tangannya pada pergelangan tanganku sangat kuat. Aku hanya tertunduk dan terpaksa mengikutinya. Ia menghentikan langkahnya dan melepaskan genggaman tangannya dengan kasar.

 

“eonnie-a..” kataku lirih.

#plakkk# ia menamparku. “kenapa kamu melakukan ini padaku?” teriaknya

Aku masih tertunduk, tidak bisa membela diri. aku tidak punya alasan untuk membela diri, karena semua yang eonnie dengar adalah kenyataan. Eonnie mulai menangis sejadinya. Aku tetap terdiam, tidak berani mencoba menenangkannya.

 

“kamu…apa benar yang mereka katakan? Kamu berniat merebut jung soo oppa dariku?”  bentaknya lagi sambil mendorongku.

 

“ania eonnie…aku tidak mungkin melakukan itu”  aku menatap eonnie, memohon agar ia percaya padaku. “aku memang mencintainya tetapi aku tidak akan merebutnya dari eonnie” kataku dalam hati.

 

“apa yang kamu pikirkan  eoh?” ia menarik rambutku. “apa kamu berniat menghianatiku lebih jauh?”

 

Aku mulai menangis. Bukan karena perlakuan eonnie padaku, tetapi karena hatiku yang sakit teriris. Kenapa aku harus suka pada jung soo oppa? Akulah yang dulu mempertemukan eonnie- seniorku di universitas- dengan jung soo oppa –tetanggaku yang sudah aku anggap kakakku-. Kenapa sekarang aku tidak rela mereka bersama?

 

“yakkk…hentikan” jung soo oppa datang tepat waktu dan menghalangi eonnie yang hendak menamparku lagi. “hentikan…kalian ini sudah gila?” melepaskan cengkraman tangan oennie dari rambutku.

 

“kenapa oppa membelanya?” bentak eonnie sambil menangis.

 

Jung soo oppa tidak mempedulikan eonnie yang marah padanya. Ia malah meraih tanganku dan menarikku untuk mengikutinya. Eonnie terus saja memanggil jung soo oppa, tetapi jung soo oppa tidak peduli. Ia terus saja menarikku dan menjauh dari eonni yang terduduk dan menangis.

 

Aku terdiam dan terus mengikuti jung soo oppa yang membawaku. Aku tepat berada dibelakangnya. Aku tidak menyangka jung soo oppa, orang yang aku kagumi selama ini lebih membelaku dibandingkan tunangannya sendiri. Sempat terbersit ide gila kalau jung soo oppa menyukaiku, tetapi segera aku tepis.

 

Aku masih tepat berjalan dibelakangnya. Aku hanya bisa melihat  punggungnya. Aku memang selalu berada dibelakangnya dan melihat punggungnya. Sekalipun aku tidak pernah bisa berada disampingnya, berjalan sejajar dengannya. Eonnie selalu mengambil posisi itu, dan aku hanya bisa iri. Jung soo oppa menghentikan langkahnya. Aku juga berhenti, tepat satu langkah dibelakangnya.

 

“phabo…” katanya dan berbalik menatapku. “apa benar yang mereka katakan?”

 

Aku masih tertunduk, tidak berani menatapnya. Aku ingin berlari menjauh, tetapi aku tidak bisa. Ia masih menggengam tanganku, seolah ia tahu kalau aku akan berlari meninggalkannya jika ia tidak menahanku.

 

“apa kamu mau kabur lagi?” tanyanya. “aku tidak akan membiarkannya. Aku bosan membiarkanmu selalu menghindar dari masalah. Sekarang aku mau kamu menghadapinya, eoh?”

 

Aku menggelengkan kepala kecil, menyakinkannya kalau aku tidak akan kabur. Aku hanya melihat ujung kakiku. Kepalaku seolah tidak ingin ditegakkan dan menatap lawan bicaraku.

 

“apa kamu menyukaiku?” jung soo oppa langsung ke inti permasalah.

 

Aku reflex menatapnya karena kaget dengan pertanyaannya. “morago? Ania….” jawabku segera dan kembali tertuduk.

 

“benarkah?” tanyanya serius.

 

“tentu saja…kenapa oppa jadi paranoid seperti eonnie. Aku tidak mungkin menyukai oppa.” Aku menatapnya dan tersenyum lebar. “aku adalah saeng oppa, dan oppa adalah kakakku. Hubungan kita sudah sangat bagus kan?”

 

Jung soo oppa menarik tangan kananku yang sedari ia genggam. Sontak seluruh tubuhku juga ikut tertarik. Aku mendarat tepat dalam pelukannya. Ia langsung memelukku erat. Aku mencoba melepaskan diri, tetapi jung soo oppa sudah mengunciku dalam pelukannya.

 

“kenapa kamu tidak mau mengakuinya?” tanyanya seperti berbisik.

“oppa…nanti eonnie lihat. Ia bisa marah!”kataku

“biarkan saja…biar ia tahu yang sebenarnya”

“mwo?” aku tidak mengerti. “oppa….maksud oppa apa?”

 

Ia mencium puncak kepalaku dan masih memelukku. “mulai hari ini dan selamanya, jangan berjalan satu langkah dibelakangku. Berjalanlah tepat disampingku.”

 

“oppa!” aku masih tidak mengerti.

 

“aku sudah lama menunggumu. Akhirnya aku tahu jawaban dari semua pertanyaanku. Bodohnya aku sempat menyerah dulu. Seandainya aku tidak menyerah, kamu tidak akan menderita sekarang”

 

“oppa?” aku membenamkan diri dalam pelukannya.

“saranghae!” katanya penuh makna dan menenangkan hatiku.