Tags


Langit semakin gelap, tidak hanya karena malam akan tiba tetapi mendung yang telahmenguasai langit. Aku berjalan tertunduk di tengah hujan yang semakin deras dan tidak ingin berhenti. Seluruh badanku basah kuyup, tetapi aku tidak peduli. Mataku terasa perih, sangat perih dan memerah.

 

Rasa bersalah yang sangat besar memenuhi dadaku. Aku  ingin menangis sekenanya, tetapi tidak bisa. Airmataku hanya tertahan di  pelupuk mata. Ia tidak ingin mengalir dengan bebas dipipiku. Dadaku terasa sesak karena tangis yang tertahan. Aku lelah, sangat lelah, tetapi aku  terus berjalan diiringi hujan yang semakin deras.

Pukulan demi pukulan aku terima dari sang langit yang menghukumku. Aku menatap langit, seolah memohon pengampunan. Tamparan keras dari tetes air hujan mencapai wajahku, aku mengerti, aku tidak pantas mendapat pengampunan.

 

Aku kembali tertunduk, menatap tiap tetes air  hujan yang bertemu tetes lainnya dipermukaan bumi. Langit semakin gelap, terus menggelap. Aku  belum tahu tujuanku sebenarnya, kemana aku harus melangkahkan kakiku. Kenangan itu terbersit lagi, kenangan nan pahit. Aku memang jahat, dan tidak terampunkan.

 

Langkahku terhenti, sepasang kaki terlihat menghalangi jalanku.  Aku masih tertunduk melihat sepasang kaki yang terbungkus benda yang disebut sepatu didepanku. Aku mulai menyadari, tidak ada pukulan lagi dari sang langit disekujur tubuhku. Aku menegakkan kepalaku, dan aku melihatnya tersenyum padaku. Senyum yang sangat hangat, terlihat sangat menawan dibawah lampu jalan yang tepat berada diatas kepalaku.

 

“apa yang kamu lakukan dibawah hujan deras begini?” tanyanya.

Aku terdiam  tidak menjawab, lebih tepatnya tidak mampu menjawab, lidahku kelu. Aku kembali tertunduk, menyembunyikan wajahku yang sangat menyebalkan ini.

 

“kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?”

“aku…” kata-kataku tertahan.

“ini bukan salahmu. Dia tidak menyalahkanmu, tidak ada yang menyalahkanmu. Semuanya hanya kecelakaan,   tidak ada yang dapat mencegahnya”

 

Aku masih tertunduk, mengumpulkan kekuatan untuk menggerakkan lidahku. “tetapi…”

“jangan menghukum dirimu sendiri” ia memelukku. “aku tidak akan membiarkanmu melakukannya”

“Kyung soo-a” aku membenamkan wajahku dalam pelukannya.

“menangislah…aku tahu itu akan membuatmu lebih baik.” Ia semakin mempererat pelukannya.

 

Aku  menangis, akhirnya aku bisa menangis.  Menangis dalam pelukan namja yang selalu tidak peduli padaku. Namja yang selalu mengacuhkanku. Namja yang mungkin sangat membenciku. Ia kembali mempererat pelukannya  padaku. ia menyadari tubuhku bergetar karena kedinginan.

 

“aku mohon berhentilah melakukan ini” ia mengintrupsi tangisku. “berhentilah pura-pura tegar, berhentilah membuat aku cemas. Aku tahu kamu yoeja yang kuat, tetapi berhentilah berpura-pura kamu bisa menghadapi segalanya sendirian.”

 

“hiks…” aku masih terisak. “kyung soo-a, wae? Bukankah kamu membenc…”

“saranghae” potongnya.

Aku tertegun,  mencoba mengerti kata yang baru saja diucapkan  namja yang sedang memelukku. “kyung soo-a?” tanyaku tidak percaya.

 

“saranghae… aku akan terang-terang menjagamu mulai saat ini. aku tidak akan bersembunyi lagi. aku tahu suatu saat kamu akan butuh bantuanku. Aku  tidak bisa tinggal diam melihatmu terluka seperti ini. aku berjanji  akan selalu ada disampingmu. Aku akan menyembuhkan tiap luka yang ada padamu”

 

Aku melepaskan pelukannya. “kyung soo-a… apa maksud semua ini?”

“kamu masih belum mengerti?” ia mengacak rambutku yang basah. “aku menyukaimu, sangat menyukaimu.”

 

“mwo?weo?” pertanyaan yang bodoh.

“karena aku adalah malaikat pelindungmu. Aku malaikat pelindung yang jatuh cinta pada seorang  yeoja. Yoeja yang selalu berpura-pura kuat dan menolak perlindunganku.” Ia tersenyum hangat.

 

Aku menatapnya serius. “bukankah kamu membenciku?”

“benarkah? Menurutmu begitu?”

Aku mengangguk kecil. “ne”

 

Kyung soo tertawa kecil, sepertinya menertawaiku. Entah kenapa ia memindahkan gagang payung yang sedari ia pegang didepan wajahnya menjauh dari wajahnya. Ia menunduk, mengarahkan wajahnya padaku. aku tidak bergeming, menatapnya bingung. Tanpa aku sadari, sebuah ciuman hangat mendarat di bibirku. Aku tertegun, kaget. Segera aku mundur satu langkah, menjauhi kyung soo. Hujan mengguyurku lagi.

 

“weo?” katanya setelah kembali berdiri tegak.

“ania….gaenyang (hanya)..” aku tertunduk, pipiku terasa panas.

“kamu tidak menyukainya?” pertanyaan nakal.

“gaenyang…”

Ia mendekatiku dan memayungiku lagi. “apakah kamu sangat benci padaku?”

“ania…aku tidak…”

“lalu?”

“semuanya begitu cepat, aku bingung”

“saranghae…noemu saranghae” kyung soo berubah serius. “apakah  semuanya belum jelas? Kamu masih tidak percaya?”

 

Aku menatapnya setelah mendengar nada suaranya yang berbeda. terdengar kecewa. “ania….aku percaya”

 

“lalu?” pertanyaan yang menyudutkan.

“aku…..aku rasa” aku kembali tertunduk. “aku rasa…aku juga”

“mwo?” ia menggodaku.

“aku juga sama sepertimu” kataku ragu, malu.

“aku tidak mengerti”

“aku….” Aku meyakinkan diri menatapnya. “na tto saranghae”

Ia tersenyum manis. “kaja….” Ia menarik tanganku.

“kita mau kemana?”

“kita harus pulang. Kamu harus membersihkan diri. apa kamu mau terus begini? Basah kuyup? Nanti kamu bisa sakit, aku tidak akan membiarkannya.”

 

“ne…”

“jangan pernah membuat aku khawatir. Aku selalu ada disisimu, jadi jangan pernah menanggung semuanya sendiri.”

 

“ne”

“setelah ini kita ke rumah sakit, sehun terus mencarimu” ia mempererat genggaman tangannya. “ia bilang, jangan terlalu pikirkan masalah itu. ini semua bukan salahmu, semuanya hanya kecelakaan. Ara?”

 

Aku tertunduk, rasa bersalah itu muncul lagi. “ara” jawabku setengah hati.

“itu hanya kecelakaan. Berhentilah merasa bersalah dan berubah murung begitu. Aku merasa tidak berguna jika kamu melakukan itu”

 

“mianhae…”

“aku yang seharusnya minta maaf, aku tidak bisa melindungimu dengan benar”

 

Aku menatap kyung soo penuh tanya. Ia selalu ingin melindungiku? Kamu memang telah melindungiku, do kyung soo.

Advertisements