Tags


[drabble] Because Of You III

Rrrrttttt…! Ponselku bergetar, mengusikku yang sedang mencoba berkonsentrasi mengikuti perkuliahan. Aku menghela napas, kesal. Hyuk Jae yang duduk di sampingku menatap penuh tanya. Sepertinya ia juga merasakan getaran ponselku yang hampir 3 skala Rither. Aku hanya nyengir kuda dan meminta maaf.

Plakkk…! Sebuah penghapus tepat melayang diantara kami. Aku segera menatap ke arah penghapus itu jatuh, sedangkan Hyuk Jae segera menatap ke arah dosen.

“Kalian berdua… kalau mau pacaran diluar saja. Di sini bukan tempat yang tepat,” bentak dosen.

Sontak seisi kelas tertawa cekikikan. Aku dan Hyuk Jae hanya bisa meminta maaf. Membela diri lebih jauh pun percuma.

Terburu-buru aku segera menuju parkiran kampus, mengambil motorku. Seseorang telah menungguku disuatu tempat. aku tidak mau mengecewaknnya. Aku harus segera menemuinya.

“Hey…!” Panggil Hyuk Jae. “Mau ke mana? Sepertinya terburu-buru,” ia menatapku serius.

“Emm…,” aku memainkan rambutku. “Ada acara mendadak!”

Ia menatapku selidik. “Kenapa ikat rambutmu kamu lepas? Bukannya tadi kamu mengikat rambut?”

“Emm… sebenarnya…,” entah kenapa aku merasa tertangkap basah.

“Si Won-ssi? Ia yang mengirimi pesan tadi? Mengajak ketemu?” Ekspresi Hyuk Jae seolah tidak suka, dan meremehkanku. “Terus  karena itu kamu sampai dandan begini?” Nada suaranya sedikit membenak.

Aku tersenyum sinis. “Ne… terus? Kamu tidak suka? Kenapa sih kamu aneh sekali?” Aku menatapnya serius, “Baiklah… aku pergi!”

Aku meninggalkannya dengan hati teriris. Kenapa ia marah padaku? ada yang salah dengan yang aku lakukan?. Kenapa ia tidak meng-support-ku sedikit pun? Mataku mulai panas. Sepertinya aku akan menangis. Aku berusaha menahan napas. Aku berjalan menunduk, berusaha menenangkan diri.

Andwae!”

Aku menabarak seseorang. “Mwoya?” Aku mendongak, ingin tahu siapa yang menghalangiku.

“Jangan pergi…!” Ia mempertegas kata-katanya.

“Hyuk Jae-ya… minggir! Aku sedang malas berdebat denganmu,” aku mencoba menghindarinya.

Tanpa berbicara panjang lebar, ia meraih pergelangan tanganku. Ia menarikku, memaksa mengikutinya ke suatu tempat. Aku hanya bisa meronta, dan itu tidak berarti. Ia terus menarikku untuk mengikutinya.

Setelah memaksaku berjalan cukup jauh dan menjadi perhatian mahasiswa lain yang kami lewati sepanjang perjalanan, ia menghentikan langkahnya. Aku melihat sekeliling, tidak banyak orang. Tanpa alasan yang jelas ia menyeretku ke taman belakang kampus. Tempat yang sepi dan sangat tenang.

“Kamu mau apa,eoh? Kenapa menarik paksa aku ke sini?” Aku memegangi pergelangan tangan kiriku yang sedikit nyeri karena ia genggam dengan kuat. “Oppa menungguku… ini sudah terlambat tahu,” aku cemberut.

“Kamu benar-benar menyukainya?” katanya serius.

Aku tertawa kecil. “Kamu menanyakan itu lagi? Aku sudah pernah bilang kan?”

“Kamu menyukainya? Mencintainya?” Ia memegang pundakku serius.

Woe? Lepaskan… apa-apaan sih?”

Ia menatap aku serius, “Jawab pertanyaan aku dulu. Kamu mencintainya?”

Aku menelan ludah. Tidah pernah Hyuk Jae menatapku seserius ini. “Nenaneun joahe.

“Kamu menyukainya? Apa kamu mencintainya juga?” Ia terkekeh.

“Apa bedanya?”Aku melepaskan pegangannya dipundakku, “Sama saja kan?” aku membalik badan. “Aku pergi! Kita bicara lagi nanti. Aneh…,” jantungku berdegup kencang.

Selangkah demi selangkah aku mulai menjauh darinya. Tidak ada reaksi darinya. Aku menghela napas, lagi. Aku sempat berpikir ia akan menahanku lagi,aku sangat mengharapkan itu. Sebab ia menghalangiku karena ia menyukaiku? Hahhh… tidak mungkin. Ia melakukan itu hanya karena ia sahabatku. Ia ingin yang terbaik untukku.

Tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pundakku, memelukku dari belakang. Aku tertegun, terdengar suara napas yang seperti memburu satu sama lain. Jantungku hampir tidak berdetak lagi.

“Jangan pergi… jebal?!”

Suara itu kembali membuat jantung aku bekerja. Hyuk Jae memelukku?

Weo?” aku tertawa kecil. “Kamu kebanyakan nonton drama,eoh? Lepaskan!” kataku bercanda.

Ia melepaskan pelukannya dan membalik badanku agar menatapnya. “Saranghae!”

Deg…! “Morago? Ini tidak lucu,” dadaku mulai sesak.

“Aku mencintaimu. Aku ingin hubungan kita lebih dari sahabat. Jadi aku mohon jangan menemuinya.”

Tanpa sadar, airmata mulai mengalir di pipiku.“hahhh… bercandamu keterlaluan. Aku membencinya,” aku memukuli dadanya pelan dengan tangan kananku yang tidak tercangklong tas. “Aku tidak suka kamu mempermainkanku. Cepat minta maaf!” Tangisku menjadi.

“Aku tidak mempermainkanmu,”iIa menahan tangan kananku untuk memukulinya lagi. “Aku sungguh mencintaimu. Aku mohon beri aku kesempatan.”

“Jangan mencoba membodohiki, Hyuk Jae-ya,” aku mencoba tertawa. “Baiklah akan aku akui! Aku menyukainmu, mencintaimu. Aku berdandan feminim karenamu, bukan karena Si Won Oppa. Puas sekarang, kamu mau mendengar itu?”

Perlahan Hyuk Jae memelukku. Tangisku semakin menjadi dalam pelukannya. Aku tidak percaya akhirnya aku mengatakan semuanya. Mungkin ini terakhir kalinya aku dapat memeluknya. Setelah ini? Aku tidak tahu.

“Baguslah!” katanya, mengintrupsi tangisku. “Aku mencoba bermain basket juga karenamu. Aku mau selalu bersamamu. Aku mau kamu menyemangatiku ketika aku bermain. Hahhh… aku sempat gila bila terus membayanginya.”

Morago?” Aku mencoba menghentikan tangisku.

Saranghae… ini bukan kebohongan. Saranghanda…!” Ia melepaskan pelukannya dan menatapku lembut. “Maukah kamu menerima cintaku?”

“Hyuk Jae-ya?” Aku meminta penjelasan.

“Eyy…,” ia mencubitku. “Aku serius, sumpah! Tatap mataku…”

Aku menurutinya. Aku menatap matanya serius. Mencoba menemukan adakah kebohongan disana? Secepat kilat,  sesuatu yang lembut menyentuh bibirku. Aku terdiam,tidak bergerak.

Saranghae…,” Hyuk Jae mengakhirinya.

Nde?” Aku masih setengah sadar.

Ia tertawa, “Babo… mukanya biasa saja kali,” ia meledekku.

“Yak… kamu mencuri ciuman pertamaku,” aku kesal dan memukulinya.

Lagi-lagi ia menahan tanganku. Dan… ia menciumku lagi. Kali ini aku coba untuk menikmatinya perasaan yang dia berikan padaku.

“Sekarang aku sudah mencuri ciuman keduamu,” ia tertawa. “Kamu mau apa?”

“Hyuk Jae-ya,” teriakku. Aku langsung memelukknya erat. “Sarangahe!”

“Emm… saranghanda!” Ia mencium keningku.