Tags


[drabble] Because of You II
Sedikitpun aku tidak pernah mengalihkan perhatianku darinya. Disaat ia tertawa dengan teman-temannya, aku akan mencuri sedikit percakapan mereka untuk tahu apa yang membuat ia senang. Mungkin dengan bertanya langsung padanya akan membuat lebih simple, tetapi tidak se-simple itu.
“kamu mau kemana?”  aku menghentikan langkahnya.
Ia menoleh. “emmmm….biasa, mau menonton pertandingan basket”
“aku ikut eoh?” pintaku, berharap ia mengiyakan.
“tumben,  hyuk jae-a?”
“aku hanya ingin tahu lebih jauh tentang basket. Mau mencoba olah raga baru. Sebagai awalnya, lihat pertandingannya dulu.” Aku harus terdengar meyakinkan.
ia terlihat berpikir. “Baiklah….kaja! Pakai motormu eoh?”
Untuk kesekian kalinya jantungku berdegup dengan kencang saat aku memboncenginya dengan motor kesayanganku. Tanpa ragu ia selalu melingkarkan tangannya dipinggangku. Sesekali ia mengajakku mengobrol, dan tidak jarang kami hanya terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
“sudah sampai!” kataku.
“yakkkk…goyangi-a!” seorang namja  melambaikan tangan ke arah kami. “goyangi-a…” panggilnya lagi
Dia tersenyum. “oppa….aku punya nama. Jangan panggil aku goyangi (kucing)” dia menghampiri namja itu.
“nugu?” namja itu melirik ke arahku.
“lee hyuk jae…” ia memperkenalkan aku pada seorang namja. terlihat dari bajunya, namja itu pemain basket.
“oh….. Choi Si Won imnida” ia menjabat tangannku. “namjachingu?” ia kembali menggodanya.
Dia terkekeh. “ania…kaenyang chingu!”
“kaja…pertadingannya akan dimulai”
Aku hanya mengikuti mereka dari belakang. Mereka terlihat sangat akrab. Dia melingkarkan tangannya di lengan siwon mesra. Entah kenapa aku begitu dongkol, kesal. Ingin rasanya aku menariknya dan memisahkannya dari siwon.
Lagi-lagi aku  tidak dianggap ada. Dia sedang asyiknya bersendau gurau dengan siwon. Mereka sangat menikmati itu, dan aku sebagai penonton hanya gigit jari. Syukurlah wasit memberi aba-aba untuk memulai pertandingan.
“Hwaiting oppa…. Awas kalau kalah” dia memberi semangat pada siwon.
Menarik hidungnya. “arayoe… goyangi-a”
“hahhhhh….” Dia menghela napas dan duduk disampingku.
Aku menatapnya terus. Kesal dan penasaran.
“mwo?” dia menoleh. “kenapa melihatku terus? Ada yang aneh denganku?”
“ania”  bantahku. “emmmmm….kamu menyukainya?”
“ne…noemu joahe!” dia tersenyum lembut. Fokus matanya terus mengikuti kemana siwon berlari dilapangan basket.
“oh….” Nada suaraku terdengar kecewa.
Dia menatapku lagi serius. “weo?”
“obsoyoe…” aku tertunduk. “apa karena dia kamu sampai berdandan feminim kemarin?” tanyaku ragu.
“mollayoe!” jawabnya enteng. “mungkin….atau juga tidak. Menurutmu?”
“kenapa bertanya balik padaku?”
Dia terkekeh. “hyuk jae-a…. kamu aneh sekali hari ini? Bukannya kamu benci basket? Kenapa tiba-tiba ingin ikut menonton pertandingan? Terus ada apa mengintrogasiku begini?”
“aku kan sahabatmu.…tidak boleh tahu? kamu tidak pernah cerita sey” aku membela diri.
“sekarang sudah tahu kan?” ia menyikutku.
“appo!” aku balik mencubit pipinya.
“yakkkk… lee hyuk jae! Appo…andwae” teriaknya.
Aku hanya tertawa. Mencoba menyembunyikan kekecewaaanku. Semuanya sudah terjawab. Namja itu –siwon- yang ia sukai. Siwon yang mampu merubahnya. Dan aku bukan apa-apa. sekali lagi aku ingin memastikan.
“benar kamu menyukainya?” tatapanku serius.
Tawanya perlahan menghilang. “ne…” dia melihat ke arah lapangan lagi. “noemu joahe!”
“chukkae!”  aku mencoba terdengar senang. “aku rasa ia juga menyukaimu”
Jawabannya hanya sebuah anggukan, tidak lebih. Aku mencoba tersenyum. Mencoba bahagia karena ia bahagia. Sempat terbersit, ia mungkin menyukaiku. Tetapi ternyata hanya khayalan. Dia adalah sahabatku, dan itu lebih dari cukup.