Tags

, , ,


you're  not my destiny

Tittle                     : You’re Not My Destiny –Part 2, END

Author                  :Choi Chan Yeon/ Yunn Wahyunee

Rating                   : PG-15

Genre                   :Romance, Sad, Angst

Length                  :Two Shoot (SEQUEL:  Don’t Love Me Like That)

Main Casts          : Choi Yeon Ni (OC)| Kim Jong Won (Yesung)| Lee Dong Hae| Im Yoon Ah

Support Casts    : Kris|Kim Ki Bum (Key)| Tao| Soe Joo Hyun (Soehyun)| etc.

Summary             :

Aku mencintaimu, tetapi kamu bukan takdirku. Tidak seharusnya kita bersama, karena mereka akan tersakiti. Kita bukan orang yang egois kan?

Warning              : Typo bertebaran dan ada adegan yang mungkin tidak disukai (bukan yadong)

AN                          :

FF ini mengandung beberapa kalimat dalam bahasa inggris. Mohon maaf apabila bahasa inggrisnya berantakan. Maklum, orang Indonesia asli. Jangan mencela, jebal???No COPAS tanpa permisi.

ooOoOoo

Yeon Ni menoleh. “Nde?” Jong Won berdiri di belakangnya. “Oppa?” Yeon Ni segera berdiri. “Annyeong haseyeo!” Yeon Ni mulai gelisah.

“Kamu sudah sembuh sepertinya. Kamu terlihat baik-baik saja. Oppa betul kan?” Jong Won tersenyum lembut. Senyum yang sudah lama menghilang kembali lagi.

Ne Oppa… aku sangat baik,” Yeon Ni mencoba membalas senyum Jong Won.

Jong Won mendekati Yeon Ni. “Diamlah!” Jong Won mengerakkan tangannya menuju wajah Yeon Ni. “Kamu habis menangis?” Jong Won mengusap airmata di pipi Yeon Ni.

Ania…,” Yeon Ni menepis halus tangan Jong Won. “Sepertinya hanya kelilipan tadi,” Yeon Ni kikuk. “Oppa mau berziarah juga?”

Ne… aku tidak pernah melupakan Young Ni dan tentu saja dirimu,” Jong Won menaruh bunga yang ia bawa di atas makam young ni.

“Ah ne…  ini sudah siang. Aku harus segera pulang.  Permisi Oppa!” Yeon Ni melangkahkan kakinya pergi.

“Tunggu!”  Jong Won menahan Yeon Ni dengan memegang tangannya. “Tidak bisakah kita berbicara sebentar?”

“Mungkin lain kali saja Oppa! Eomma sudah menungguku…,” Yeon Ni berusaha menolak dengan halus.

Jong Won tetap tidak mau melepaskan cengkraman tangannya di pergelangan tangan Yeon Ni. “Jebal…. Ada yang harus aku jelaskan padamu.”

“Menjelaskan apa Oppa?” Yeon Ni pura-pura tidak mengerti

“Semuanya… aku akan menjelaskan kesalahpahaman di antara kita. Aku tidak mau kamu terus membenciku.”

Yeon Ni sekali lagi mencoba melepaskan tangannya. “Aku tidak membenci Oppa… semuanya jelas kan? Sekarang lepaskan aku. Aku harus pulang!”

“Yeon Ni-ya jebal…,” Jong Won memohon

Oppa… lepaskan!”

Sebuah mobil berwarna putih berhenti di jalan yang tidak jauh dari posisi Jong Won dan Yeon Ni. Pemilik mobil itu menurunkan kaca mobilnya dan berusaha melihat keluar. Itu adalah Dong Hae, ia rupanya ada di pemakaman juga.

“Yeon Ni-ya….jagi!” Dong Hae turun dari mobilnya.

“Lepaskan Oppa…,” Yeon Ni sekuat tenaga menarik tangannya dari cengkraman Jong Won dan berhasil.

Nugundae?” tanya Jong Won sinis.

Oppa… aku di sini,”  Yeon Ni melambaikan tangannya pada Dong Hae.

Dong Hae melihat ke arah Jong Won. “Sedang apa kamu di sini, jagi?” tanyanya pada Yeon Ni.

“Aku habis mengunjungi eonni.”

“Oh…,” Dong Hae sekali lagi melirik ke arah Jong Won. “Dia siapa? Chingu?”

“Dia…,” Yeon Ni berpikir sejenak. “Dia Jong Won Oppa, tunangan eonni sebelum eonni meninggal”

“Kim Jong Won imnida!”

“Lee Dong Hae imnida… berarti dia tunangannya Yoon Ah-ssi sekarang?”

Nde?” Jong Won terkejut. “Kalian mengenal Im Yoon Ah?”

Ne… kami bertemu dengannya tadi malam di restaurant,” kata Dong Hae tetap tersenyum.

Yeon Ni hanya terdiam dan akhirnya angkat bicara. “Oppa… kita pulang?” katanya pada Dong Hae.

“Baiklah… kajja! Kami duluan Jong Won-ssi,”Dong Hae menganggandeng tangan Yeon Ni erat.

Jong Won kesal sendiri di pemakaman. Tatapannya tidak hentinya mengiringi ke mana Yeon Ni pergi. Sesekali ia juga melihat Yeon Ni menoleh kepadanya dan segera berpaling lagi.

ooOoOoo

Yeon Ni dan Dong Hae hanya terdiam sepanjang perjalanan pulang. Dong Hae tidak berniat untuk menanyakan apapun, karena ia ingin Yeon Ni menjelaskannya sendiri tanpa paksaannya.

Oppa ada apa ke pemakaman?” Yeon Ni memecah keheningan.

Oppa habis mengunjungi almarhum orangtua Oppa,” Dong Hae menjawab dengan senyuman.

“Aahhh… kenapa Oppa tidak mengajak aku ke sana? Jangan-jangan tadi pagi tempat yang Oppa maksud adalah makan orangtua Oppa?”

Ne… tetapi kita bisa pergi lain waktu,”  Dong Hae kembali terdiam. “Rencana kita sore ini jadi kan?”

“Tentu saja Oppa…,” Yeon Ni mencoba terlihat santai. “Oppa mau mengajak aku ke mana?”

“Rahasia…,” Dong Hae menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Yeon Ni. “Sudah sampai!” ia membukakan pintu mobil untuk Yeon Ni.

Gomawo Oppa!”

Neannyeong!” Dong Hae melangkah menuju pintu mobil bagian pengemudi.

Oppa!” Yeon Ni berlari kecil dan memeluk Dong Hae dari belakang.

“Kamu kenapa?”

“Biarkan aku memeluk Oppa sebentar saja!” Yeon Ni memendamkan wajahnya di punggung Dong Hae.

Dong Hae membalik badannya. “Kamu kenapa?” ia memeluk Yeon Ni erat.

“Aku hanya mau memeluk Oppa!” suara Yeon Ni tertahan.

“Baiklah… silahkan tuan putri”

Hampir 10 menit Yeon Ni memeluk Dong Hae. Dong Hae hanya membelai rambut Yeon Ni pelan. Pikirannya juga melayang entah kemana. Lebih tepatnya memikirkan Jong Won. Ia ingin tahu siapa Jong Won. Mengapa Yeon Ni menjadi aneh belakangan ini?

ooOoOoo

Eommaotthae?”  Yeon Ni memutar badannya bak model.

Yeppodae! Anak Eomma mau ke mana sih?” Ibu membantu merapikan rambut Yeon Ni.

“Dong Hae Oppa mengajakku ke suatu tempat. Mungkin akan merayakan ulang tahunku?” tebak Yeon Ni

Ting… tong!

“Sepertinya itu Oppa! Aku bukakan pintu dulu ya Eomma?” Yeon Ni terlihat senang sore ini.

Klek…

Yeon Ni membuka pintu depan rumahnya. Seorang pemuda dengan setelan jas yang rapi berdiri di depannya. Senyum Yeon Ni hilang ketika menyadari kalau pemuda itu bukan Dong Hae, melainkan Jong Won.

Annyeong…  kelihatannya kamu akan pergi ke suatu tempat?” sapa Jong Won ramah.

“Ah….ne! Eomma ada di dalam, jadi langsung masuk saja,” Yeon Ni tidak mau lama-lama berbasa basi.

“Aku ingin bertemu denganmu,” Jong Won to the point.

“Ada apa, Oppa?”

Igesaengil chukka hamnida. Semoga kamu menyukainya.”

Yeon Ni terpaksa mengambil kado pemberian Jong Won. “Gamsahamnida… aku juga mau mengucapkan selamat atas pertunangan Oppa dengan Yoon Ah-ssi.”

“Ah ne… itu hanya formalitas. Belum tentu ia akan menjadi istriku. Pilihanku bisa berubah. Dan kamu mungk…”

Yeon Ni memotong. “Oppa tidak boleh seperti itu. Yoon Ah-ssi orang yang baik. Oppa pasti sangat mencintainya. Kalian pasangan yang serasi.”

“Tetapi…” Jong Won ingin menjelaskan semuanya sekarang.

Mianhae,” Yeon Ni memotong lagi. “Sore ini aku ada janji dengan seseorang. Lebih baik Oppa pulang!”

Algesseoyeo... sampai bertemu lagi,” Jong Won pergi begitu saja.

Yeon Ni berdiri terpaku di tempatnya semula. Ia hanya bisa melihat punggung Jong Won yang berlalu meninggalkannya. Terbersit pikiran untuk mengejar Jong Won dan memeluknya erat, tetapi segera ditepis oleh akal sehat Yeon Ni. Sebelum mencapai  gerbang, Jong Won berpapasan dengan Dong Hae.

Dong Hae dan Jong Won hanya menatap satu sama lain dan memberi hormat. Kemudian Jong Won lenyap di balik pintu gerbang. Yeon Ni masih mematung dengan kado dari Jong Won yang ia genggam erat. Beberapa kali Dong Hae tersenyum ke arahnya, tetapi  ekspresi wajah Yeon Ni aneh. Ia tidak melihat kedatangannya Dong Hae.

Jagi!”panggil Dong Hae setelah ia dekat dengan Yeon Ni.

“Oh… omo!” Yeon Ni kaget.

Weo? Kamu tidak menyadari Oppa datang?” Dong Hae terdengar kecewa.

Ania Oppaaniagaenyang…”

Dong Hae mengelus puncak kepala Yeon Ni. “Sudahlah lupakan… kamu siap?”

Ne…” Yeon Ni menengok ke dalam rumah. “Eomma… Aku pergi”

Kajja!” Dong Hae menggandeng tangan Yeon Ni.

Sesampai di luar gerbang rumah, Yeon Ni seperti mencari sesuatu. Tepat di samping gerbang rumahnya ia melihat tempat sampah. Kado yang tadi diberikan oleh Jong Won ia buang. Ia mencoba untuk tidak di lihat oleh Dong Hae,  tetapi Dong Hae melihatnya.

“Apa yang kamu lakukan tadi? Mencari sesuatu?” tanya Dong Hae setelah mereka melaju dengan mobil di jalanan.

Nde? Aniaanimmida,” Yeon Ni tersenyum.

“Oh… baiklah!” Dong Hae kembali berkonsentrasi pada jalan raya.

Yeon Ni melihat sana sini. Ia  baru menyadari kalau mobil yang di beli Dong Hae sangat bagus. “Oppa… mobil Oppa bagus sekali. Daebakk!”

“Kamu menyukainya?” Dong Hae tertawa kecil. “Baguslah kalau begitu. Oppa sengaja membeli mobil ini, khusus buatmu.  Karena mobil ini akan siap sedia mengantar tuan putri ke mana pun tuan putri mau.”

“Ey… Oppa ada-ada saja,” Yeon Ni melihat ke arah dasbor. “Ini kan?” ia mengambil sebuah foto. “Oppa membawa juga foto ini?”

Neweo?”

Ini jelek Oppa… lihat! Aku menggunakan baju rumah sakit dengan kaki di gipp? Ahhh… shireo. Ganti Oppa! Neomu   isangae,” rengek Yeon Ni.

Dong Hae merebut foto itu dari tangan  Yeon Ni. “Andwae… kalau masalah yang ini Oppa tidak mau mengalah. Ini akan tetap di sini.”

“Aah…Oppa! Kalau chingu Oppa naik di mobil ini dan melihatnya  bagaimana? Aku malu Oppa.

“Kenapa kamu harus malu?” Dong Hae menarik hidung Yeon Ni. “Kamu sangat cantik di sini, walaupun dengan baju rumah sakit dan kaki di gipp. Oppa menyukainya.”

Yeon Ni cemberut. “Lihat saja nanti… aku akan mencuri foto itu.”

“Hahahaha,” Dong Hae hanya bisa tertawa.

ooOoOoo

Dong Hae membentuk tangannya seolah berkacak pinggang dan meminta Yeon Ni untuk menggandengnya. Yeon Ni hanya tersenyum dan menurut saja. Dong Hae tidak mengira kalau malam ini Yeon Ni akan sangat cantik dengan dress model rumbai tanpa lengan berwarna krem dan pantopel berwarna senada dengan manik-manik dibagian atasnya. Dong Hae juga tidak kalah sempurna dengan kemeja lengan panjang berwarna caramel dan celana berwarna hitam. Lengan kemejanya di gulung sampai siku.

Mereka masuk ke sebuah restauran yang terletak di sebuah bukit  kecil. Lantai dua restauran itu terlihat sepi namun romantis. Dindingnya dipenuhi kaca yang menyajikan pemandangan kota Seoul dimalam hari. Sebuah meja di ruangan itu sudah dipersiapkan untuk mereka. Para pemain musik standby di tempat mereka. Rupanya Dong Hae telah menyewa tempat ini khusus untuk Yeon Ni.

“Silahkan duduk!” Dong Hae mempersilahkan Yeon Ni duduk.

Oppa… jangan bilang Oppa menyewa tempat ini?”

Ania… teman Oppa hanya meminjamkannya untuk Oppa,” bohongnya, Dong  Hae tidak mengenal banyak orang di Seoul.

Jinja?” Yeon Ni masih tidak percaya.

Dong Hae menjentikkan jarinya dan memberikan kode kepada seseorang. Musik mulai mengalun lembut. Kemudian seorang pelayan datang dengan hidangan pembuka. Pelayan itu hanya menunduk, tidak berani menampakkan wajahnya. Kebetulan juga Yeon Ni tidak memperhatikan, ia terlalu terlena dengan pemandangan di luar.

“Yeon Ni-ya!” panggil Dong Hae

NeOppa?” Yeon Ni menatap Dong Hae

Sebuquet bunga mawar kecil berwarna putih di sodorkan Dong Hae ke arah Yeon Ni. “Saengil chukka hamnida!”

Oppa… sejak kapan Oppa membawa bunga?” Yeon Ni bingung

“Aku memang selalu membawanya,” Dong Hae tersenyum

Mereka pun berbincang satu sama lain. Sesekali Dong Hae melontarkan lelucon yang membuat Yeon Ni tertawa. Obrolan mereka terus berlanjut hingga makanan penutup tiba .Pelayan datang dengan sebotol wine  putih dan 2 buah gelas. Pelayan itu menaruh masing-masih gelas di hadapan Dong Hae dan Yeon Ni. Kemudian menuangkan wine ke dalamnya, setelah itu ia pergi.

Oppa… aku tidak bisa meminumnya,” kata Yeon Ni menunjuk gelas wine di hadapannya.

“Baiklah…Oppa yang minum”

Dong Hae akan mengambil gelas Yeon Ni, tetapi tanpa sengaja menyenggolnya. Gelas itu jatuh, serta wine di dalamya tumpah dan hampir mengenai Yeon Ni.

Omo…,” Yeon Ni reflek berdiri.

Mianhaejagi,” Dong Hae panik

Yeon Ni mengambil tissu di meja dan mencoba membersihkan diri. “Gwaenchanha Oppa!” ia melihat ada yang berkilau di meja. “Oppaige mwoya?” Yeon Ni mengambil benda itu. “Cincin?”

Dong Hae meminta dengan lembut cincin yang ditemukan Yeon Ni. Ia mengelapnya dengan tissu. Kemudian di hadapan Yeon Ni Dong Hae berlutut.

Oppa…kenapa Oppa?” Yeon Ni bingung

Musik latar berubah seketika. Sebuah musik yang berbeda dengan yang sebelumnya mengalun. Dong Hae nampak serius. Ia menarik napas sejenak  untuk menenangkan diri. Setelah itu, tetapannya kembali terfokus pada gadis pemilik hatinya yang masih berdiri dengan wajah terkejutnya.

“Choi Yeon Ni… aku tahu mungkin ini terlalu cepat bagimu. Tetapi bagiku, ini sudah terlalu lama. Aku sudah terlalu lama menunggumu, berharap kamu muncul dihadapanku. Dan kini kamu muncul, apa aku harus menundanya lagi? Tentu saja tidak.”

Oppa?” pipi Yeon Ni memerah.

Jagi….. aku mungkin bukan namja yang sempurna atau bukan tipe namja yang kamu idamkan. Tetapi yang terpenting adalah, kamu yeoja terindah yang ditunjukkan tuhan untukku. Aku mencintaimu setulus hatiku, walaupun kamu tidak mencintaiku. Aku menyayangimu sepenuh hatiku, walaupun kamu tidak. Aku tidak berharap balasan lebih darimu. Aku hanya ingin menguangkapkan semuanya padamu malam ini. Karena kau tahu, memendam perasaan itu sangat melelahkan.”

Yeon Ni tidak menyangka Dong Hae akan melakukan ini. “Oppa… ini?”

“Choi Yeon Ni… will you marry me?” Dong Hae menundukkan kepalanya dan terus mengarahkan cincin itu pada Yeon Ni.

Yeon Ni melihat sekeliling. Ia melihat seorang pelayang di kejauhan yang berjingkrak-jingkrak tidak karuan. Ia mengenalinya, itu adalah Tao dan di sebelahnya berdiri Kris yang mengatur para pemusik. Ia meminta pendapat mereka. Tao mengangguk keras sedangkan Kris acuh tak acuh.

“Emm…,” Yeon Ni berpikir keras. “Oppasaranghae!”

Dong Hae mengangkat  kepalanya. “Jinja?”

Ne…,” Yeon Ni mengangguk.

Dong Hae memasangkan cincin itu di jari manis tangan kiri Yeon Ni. “Gomawo!”

Na tto!” Yeon Ni memeluk Dong Hae erat. “Neomu saranghae!”  wajah Yeon Ni terlihat murung.

ooOoOoo

Dong Hae tidak berhenti tersenyum sejak tadi. Semua yang Ia alami hari ini bagaikan sebuah mimpi. Setengah berlari ia menuju kamarnya dan menyalakan musik. Ia menari sekuat tenaga. Loncat sana sini, sesekali berteriak mengikuti lagu yang ia putar.

Sungguh melelahkan. Ia merebahkan dirinya di kasur sambil terus tersenyum dan tertawa. Beberapa detik ia memejamkan matanya dan akhirnya memutuskan untuk mandi. Plug…! Sesuatu jatuh dari saku celananya. Dong Hae segera memungutnya.

“Aaah… benda ini. Aku hampir lupa,” seketika wajahnya berubah murung. “ Kenapa Yeon Ni membuang benda ini? Aku rasa ini kado dari seseorang.”

Dong Hae terus memperhatikan kado sebesar  kotak tempat cincin itu. Ia tidak berniat membukanya dan mengetahui apa isinya. Setelah mengantar Yeon Ni pulang tadi, ia penasaran akan   benda yang dibuang Yeon Ni tadi  sore. Beruntung ia masih menemukannya di tempat sampah dan kemudian mengambilnya.

“Apa ini dari Jong Won?” Dong Hae ingat sempat berpapasan dengan Jong Won di rumah Yeon Ni. “Apa benda ini hadiah ulang tahun dari Jong Won? Tetapi kenapa Yeon Ni membuangnya? Apakah…”

Pikiran itu menghampiri Dong Hae. Ide gila tentang apa yang terjadi sebenarnya diantara Yeon Ni dan Jong Won. Ia sangat berharap kalau tebakannya itu salah. Karena jika itu benar, berarti selama ini dia hanya wadah pelampiasan bagi Yeon Ni. Dan jika itu memang benar, apa yang terjadi malam ini adalah suatu sandiwara dan kebohongan besar.

ooOoOoo

Pagi yang cerah, dan sangat berisik. Yeon Ni terbangun dari tidurnya dengan perasaan sedikit kesal. ia berencana untuk bangun sedikit lebih siang dari biasanya, tetapi semuanya gagal. ia menggeliat dengan malasnya dan berjalan perlahan untuk membuka jendela. Jendela kamarnya mengarah ke halaman belakang rumah.

Noonaironae!” teriak seseorang di halaman belakang.

Yeon Ni memincingkan matanya. “Nugu?” katanya pelan

Noonagood morning. Come on! Kajja… kita olah raga,teriak Tao lagi

“Yak… kalian sedang apa pagi-pagi di sini?”

Kris hanya tersenyum dan terlihat menawari Yeon Ni kopi. Ia duduk santai sambil membaca koran. Sedangkan Tao, berlari sana sini dengan kucing peliharan Yeon Ni. Yeon Ni hanya mendengus.

“Turunlah Noona…!” teriak Tao lagi

Ara!!!” balas Yeon Ni.

Ia segera menuju kamar mandi dan membersihkan diri. 20 menit kemudian ia sudah berada di ruang makan. Sudah lama Yeon Ni sekeluarga tidak sarapan bersama, apalagi plus Tao dan Kris di meja makan, suasana menjadi semakin cerah.  Selesai makan Tao sibuk membantu ibu Yeon Ni dan melarang Yeon Ni membantu. Akhirnya Kris menarik Yeon Ni dan mengajaknya mengobrol di halaman belakang.

Otthe?” tanya Kris

Yeon Ni mengernyitkna dahi. “Mwo?”

“Apa kamu yakin dengan pilihanmu sekarang?”

“Oh…,” Yeon Ni mengerti. “Aku yakin! Aku rasa ini pilihan terbaik untukku.”

“Untukmu?” tanya Kris

“Ne…,” Yeon Ni mengangguk serius.

“Lalu bagaimana dengan mereka? Apa alasanmu hanya karena dirimu saja?”

Yeon Ni menghela napas. “Aku juga tidak tahu,Oppa! Apakah keputusanku ini terbaik untuk mereka, khususnya Dong Hae Oppa. Aku tidak peduli dengan Jong Won Oppa.

“Apa kamu mencintai Dong Hae Hyeong?”

Nde?” Yeon Ni terdiam sebentar. “Aku rasa aku mencintainya.”

“Lalu Jong Won Hyeong? Apa kamu masih mencintainya?” Kris menekankan pada kata ‘masih’.

Mollayeo!” katanya ragu.

Kris menatap Yeon Ni serius. “Apakah kamu lebih mencintai Jong Won Hyeong dibanding Dong Hae Hyeong?” Yeon Ni tidak menjawab. “Hahh…,” Kris pasrah. “Aku pernah mendengar suatu kalimat yang sangat bagus.”

Mwondae?” Yeon Ni ingin tahu.

“Apa kamu percaya takdir?” tanya Kris balik.

“Aku percaya,” Yeon Ni serius.

Sometimes the people you love are not your destiny!”  Kris mengelus kepala Yeon Ni dan pergi.

Yeon Ni mencoba mencerna perkataan Kris. “Apakah itu benar?”

ooOoOoo

Yoon Ah berjalan dengan anggun menuju kantin rumah sakit Seoul untuk menemui sahabatnya yang juga bekerja di sana. Ia memilih tempat duduk dengan sofa dan untuk dua orang. Beberapa perawat menyapanya, karena ia memang sering mengunjungi sahabatnya yang juga sekaligus dokter di rumah sakit itu.

Eonni!”

Yoon Ah melambaikan tangannya. “Joo hyun-ah!” ia menyambut  sahabatnya, Soe Joo Hyun, dengan pelukan hangat.

Eonniyepposeo!” kata joo hyun. “Kelihatanya Eonni sedang senang.”

Ania…,” Yoon Ah berubah murung.

Weo?”

Oppa menolak untuk menikah denganku secepatnya!” suara Yoon Ah tertahan.

“Lagi?” Joo Hyun kesal. “Sudah berapa kali ia menolak? Sekarang alasannya apa?”

“Katanya ia belum siap!” Yoon Ah hampir menangis.

“Alasan kuno… belum siap apa lagi? Kalian hampir 4 bulan lebih bertunangan dan 2  tahun lebih berpacaran. Sampai kapan akan ditunda pernikahan kalian? Eonni harus tegas padanya.”

“Aku sudah melakukannya… tetapi…,” tangis Yoon Ah meledak.

Joo Hyun segera mengambil tissu. “Uljima!”

“Tetapi ia selalu mengancam akan membatalkan pertunangan ini. Aku sangat mencintainya. Aku tidak mau kehilangan Jong Won Oppa. Aku tidak mau kehilangan dia lagi.”

Arayeouljima Eonni,” Joo Hyun mencoba menenangkan.

“Kamu tahu sendiri kan?” Yoon Ah mencoba tenang. “Jong Won Oppa adalah cinta pertamaku. Aku mencintainya sejak aku berumur 7 tahun. Aku tidak mau dia pergi lagi dariku seperti dulu.”

Ne Eonniaraseo! Aku tahu bagaimana Eonni akhirnya memilih kembali ke Korea dan menolak kontrak dengan designer itu kan? Aku tahu semua alasan Eonni kembali ke Korea. Itu semua demi Jong Won Oppa,” Joo hyun mencoba mengingat. “ Wah… Eonni sangat berantakan waktu itu.”

“Ne…,” Yoon Ah mengangguk.

Eonni seperti mayat hidup waktu itu. Seandainya Eonni tidak mendengar berita kalau Jong Won Oppa akan menikah dengan… emmm… dengan… aku lupa. Eonni sudah menjadi model terkenal sekarang. Eonni sudah dibutakan cinta.”

Yoon Ah memukul Joo Hyun pelan. “ Jangan ungkit itu lagi. Karena aku sudah mengorbankan semuanya, Oppa harus menjadi milikku. Apapun caranya dan bagaimanapun resikonya,” Yoon Ah membara. “Aku tahu, ini pasti karena dia. Kenapa dia harus kembali?” gumam Yoon Ah.

Ponsel  Joo Hyun berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk. Joo Hyun segera membukanya, dan isi pesan itu membuat ia terkejut. “Mwoya?”

“Ada apa, Joo Hyun-ah?” Yoon Ah masih terisak.

Daebak…,” Joo Hyun memasukkan ponselnya ke saku jas putihnya. “Eonni… tahu dokter Lee? Yang pernah aku ceritakan itu. Dokter spesialis orthopedic yang keren itu.”

“Ah… arayeo. Weo?”

“Dia sudah bertunangan… dan dalam waktu dekat akan menikah. Ah… beruntungnya yeoja yang bisa mendapatkannya,” Joo Hyun kecewa. “Eonni tahu… yeoja yang beruntung itu siapa?”

Nugu?” entah kenapa Yoon Ah jadi penasaran, padahal ia sudah tahu jawabannya.

“Dia adalah  pasiennya saat di Canada dulu. Dan itu juga alasan dia pindah ke Korea, demi mengejar yeoja itu. Aku penasaran bagaimana wajah yeoja itu? Apa ia sangat cantik?”

Anindae…”, Yoon Ah tiba-tiba menjawab.

“Morago?”

Ahanimmida,” Yoon Ah segera mengalihkan pembicaraan.

ooOoOoo

Berita tentang pertunangan Yeon Ni dan Dong Hae juga sampai di telinga Jong Won. Ki Bum yang kebetulan menghadiri acara pertunangan Yeon Ni dan Dong Hae menceritakan semuanya. Pertunangan Yeon Ni dan Dong Hae secara resmi diadakan 1 minggu yang lalu. Acara pertunangan itu hanya sebatas acara keluarga saja. Yeon Ni hanya mengundang keluarga dan kerabat dekat, sedangkan Dong Hae hanya  mengundah beberapa keluarga yang masih ia punya dan tentu saja keluarga angkatnya di Canada.

Jong Won uring-uringan di apartemennya. Yoon Ah hanya bisa bersabar menghadapi sikap Jong Won  yang kasar padanya. Jong Won melampiaskan amarahnya ke pada Yoon Ah. Beberapa kali Jong Won menginginkan pertunanganya dibatalkan dengan Yoon Ah. Yoon Ah harus meminta bantuan Ki Bum dan  orangtua Jong Won untuk meminta Jong Won mengurungkan niatnya.

Disatu sisi Yoon Ah sangat senang Yeon Ni akhirnya bertunangan dengan Dong Hae dan akan lenyap dari kehidupan Jong Won dan dirinya. Tetapi disisi lain, kejadian itu merubah Jong Won menjadi orang yang jahat dan kasar.

Oppa mau kemana?” teriak Yoon Ah dari arah dapur.

“Bukan urusanmu!” Jong Won terlihat berantakan. “Untuk apa kamu berada di sini? Aku sudah mengusirmu kan?”

Yoon Ah terisak. “Aku khawatir dengan keadaan Oppa! Eomma dan appa juga khawatir.”

Mwo? Kalau kamu memang mengkhawatirkanku, pergi dari hadapanku!” bentak Jong Won

Oppa… kenapa Oppa jadi seperti ini sekarang? Apa lagi-lagi karena nappeun yeoja itu, ha?” Yoon Ah tidak tahan lagi. “Oppa tahu… ia tidak mencintai Oppa lagi. Buktinya dia akan menikah dengan namja lain.  Sampai kapan Oppa tidak mau menerima ini? Yeon Ni sudah melupakan masa lalunya dan menemukan kehidupan barunya. Oppa adalah pecundang. Oppa babo!”

Moragoyeo?”

Oppa babo,” tangis Yoon Ah menjadi. “Oppa egois! Oppa hanya memikirkan diri Oppa sendiri. Oppa tidak pernah peduli orang di sekitar Oppa yang sangat mencintai Oppa. Oppa tidak tahu? Keadaan Oppa sekarang membuat kami cemas. Hanya kami yang peduli pada Oppa. Nappeun yeoja itu tidak peduli  sama sekali. Apa yang Oppa harapkan dari dia, ha?”

Jong Won mengepalkan tangannya. “Diam…diam!!! Jangan katakan apapun lagi!!! Yeon Ni selalu mencintaku. Aku tahu itu. Kamu tidak tahu apa-apa, karena kamu tidak pernah merasakan bagaimana dicintai seseorang.”

Yoon Ah membanting mangkuk yang sedari tadi ia pegang. Prang…! “Oppa egois!” Ia mengambil tasnya dan hendak pergi. “Oppa terlalu yakin tentang perasaan Yeon Ni pada Oppa. Coba Oppa pikir, jika ia memang sangat mencintai Oppa seperti yang Oppa katakan. Kenapa ia meninggalkan Oppa? Kenapa ia lebih memilih Dong Hae dibanding Oppa? Aku yakin Yeon Ni pernah mengatakan alasannya.” Yoon Ah mendekatkan wajahnya ke Jong Won. “Tetapi Oppa tidak pernah mempedulikannya. Karena Oppa egois! Oppa bangunlah, jangan terus bermimpi!” Yoon Ah membanting pintu dan pergi.

Jong Won berdiri terpaku. Ia memikirkan apa yang dikatakan Yoon Ah.  Apa yang dikatakan Yoon Ah benar? Apa benar  Yeon Ni tidak mencintainya?

ooOoOoo

Dong Hae dan Yeon Ni baru saja pulang dari sebuah butik. Pernikahan mereka sebentar lagi.  Segala persiapan telah  dilakukan, hanya tinggal menunggu menyebar undangan saja. Yeon Ni telah memikirkan semuanya masak-masak. Ini adalah keputusan terbaik. Ia menyadari bahwa ia masih mencintai Jong Won. Tetapi ia juga mencintai Dong Hae, walaupun tidak sebesar kepada Jong Won. Yeon Ni yakin  suatu saat ia akan mencintai Dong Hae sepenuh hati.

Yeon Ni memandangi Dong Hae lekat-lekat. Pemuda di hadapannya ini sangat mencintainya. Mencintainya sebagai Yeon Ni, dirinya sendiri. Tidak mungkin ia mengecewakan perasaan Dong Hae yang tulus. Kata-kata Kris saat itu sangat berpengaruh padanya. Dong Hae adalah takdirnya, dan itu tidak akan berubah. Kita pasti akan mencintai seseorang yang ditakdirkan untuk kita, walaupun itu membutuhkan waktu.

Ttrrrrrrt… Ponsel Yeon Ni bergetar.

Ia tidak mengenali nomor yang meneleponnya “Oppa…,” Yeon Ni menatap Dong Hae

Weo? Angkat saja… mungkin chingu,” Dong Hae tetap berkonsentrasi pada jalanan.

Yeoboseo?” Yeon Ni mengangkat telepon itu.

“………….”

Nuguseyeo?”

“………….”

“Oh… ada apa?”

“………………”

“Aku…,” Yeon Ni berpikir sejenak. “Aku tidak bisa. Katakan saja sekarang!”

“……………..”

Araseoodiseo?”

“………….”

Ne…!” Yeon Ni menghela napas. “Oppa… bisa mengantar aku ke suatu tempat? Sebentar saja!”

Arayeo!” Dong Hae tersenyum. “Aku akan mengantar ke mana pun tuan putri  mau.” Dong Hae menarik hidung Yeon Ni, lagi.

Gomawo, Oppa!” Yeon Ni tersenyum

ooOoOoo

Oppa yakin tidak mau ikut?” Yeon Ni menawarkan

Ne… kamu pergi saja. Mungkin neo chingu hanya ingin berbicara 4 mata denganmu. Oppa akan menunggu di sini”.

“Baiklah…,” Yeon Ni melangkah meninggalkan Dong Hae, ada sedikit perasaan ragu menghinggapinya.

Jong Won terlihat menunggu dengan tidak sabar. Penampilannya tidak terlalu buruk, ia tidak mau terlihat kacau di depan Yeon Ni. Taman itu cukup sepi, hanya terlihat beberapa orang yang berjalan. Bising suara kendaraan di jalanan tidak terlalu menganggu karena terhalangi pohon-pohon.

Yeon Ni melangkah ragu. Ia melihat orang yang meneleponnya tadi sedang terduduk  disebuah kursi. Cahaya di sekitar tempat duduk itu remang-remang. Yeon Ni berhanti tepat di bawah lampu taman yang berjarak sekitar 6 meter dari kursi itu.

“Ada apa Oppa ingin menemuiku?” kata Yeon Ni dengan suara kecil.

Jong Won segera berdiri. “Kamu sudah datang? Duduklah!”

Ne…” Yeon Ni melangkah ragu menuju kursi itu. Ia tidak bisa melihat wajah Jong Won dengan jelas.

Chukkae!” kata Jong Won. “Aku rasa ia pilihan yang tepat,” Jong Won berkata setengah hati.

Ne….” Yeon Ni menunduk.

“Emm…,” Jong Won terdiam sejenak. “Apa kamu bahagia?”

Neneomu  haengbeokhae ,” Yeon Ni menghela napas. “Aku sangat mencintainya”

Jong Won sontak berdiri. “Jangan mencoba membohongiku. Kamu tidak mencintainya, Yeon Ni-ya.”

“Aku tidak mau berdebat soal itu,” Yeon Ni berdiri dan hendak pergi.

Jong Won menahannya. “Jebal… dengarkan aku dulu! Ini yang terakhir, dan aku tidak akan menggangumu lagi.”

“Baiklah!” Yeon Ni mengalah.

“Apakah sekarang kamu mencintaiku atau dia?”

Yeon Ni berpikir, memilih kata-kata yang tepat. “Aku mencintainya, sekarang dan selamanya.”

Weo? Aku tahu kamu mencintaiku.”

Oppa jangan seolah mengetahui perasaanku. Aku akui, sebelum bertemu Dong Hae Oppa aku  mencintaimu. Tetapi sekarang semua berubah, aku mencintai Dong Hae Oppa. Karena ia mencintaiku diriku, bukan orang lain. Ia tulus mencintai, bukan sebagai pelarian.”

“Hahhh…,” Jong Won kesal. “Tetapi kamu mencintainya karena pelarian kan?”

Ania… aku sungguh-sungguh mencintai Dong Hae Oppa. Mungkin Oppa benar, awalnya aku mencintainya karena pelarian darimu. Tetapi sekarang, aku belajar untuk mencintainya setulus hati.”

“Belajar? Cinta tidak untuk di pelajari.”

“Dong Hae Oppa adalah takdirku. Dan aku harus belajar mencintai takdirku. Aku rasa Oppa juga harus melakukan itu. Cintailah orang yang ditakdirkan untuk Oppa. Jangan Oppa menjadi orang yang egois. Yoon Ah-ssi sangat mencintai Oppa, dan Oppa harus membalasnya”

Jong Won memegang kedua lengan Yeon Ni. “Kamulah orang yang ditakdirkan mencintaiku dan ditakdirkan untuk aku cintai.”

Ania Oppa!”

“Persetan dengan takdir. Aku mencintamu, kamu juga mencintaiku kan? Ini adalah takdir yang kamu inginkan,eoh?”

Yeon Ni melepaskan lengannya perlahan. “Orang yang kamu cintai belum tentu adalah takdirmu,” Yeon Ni melangkah pergi.

Jong Won segera menghadang Yeon Ni. “Akan aku buktikan kalau kamu mencintaiku hingga sekarang. Dan aku tidak peduli dengan takdir itu.”

Mwo?” Yeon Ni bingung.

Jong Won memegang kedua pipi Yeon Ni dan kemudian menciumnya. Yeon Ni meronta, dan mendorong Jong Won sekuat tenaga.  Tangan kanan Jong Won berpindah ke bagian belakang kepala Yeon Ni dan menahan Yeon Ni menjauh, begitu juga tangan kirinya yang menahan Yeon Ni di pinggangnya. Jong Won melampiaskan emosinya dengan mencium Yeon Ni. Yeon Ni tidak bisa mendorong Jong Won menjauh dan melepaskan ciumannya karena tenaganya tidaklah cukup.

Yeon Ni hanya bisa menangis. Bayangan wajah Dong Hae yang tersenyum padanya melintas begitu saja. Senyum yang begitu hangat dan tulus. Senyum yang selama ini selalu memenuhi  hari dan hatinya. Ia melakukan perbuatan yang salah saat ini. Dong Hae pasti akan sangat terluka. Sekali lagi sekuat tenaga Yeon Ni melawan.

Plakk…! Sebuah tamparan melayang ke pipi Jong Won setelah Yeon Ni berhasil melepaskan diri. Jong Won hanya terdiam dan memegangi pipinya. Yeon Ni menangis terisak, airmatanya terus mengalir. Ia mengusap bibirnya dengan punggung tangan dan menatap Jong Won dengan jijik. Ia pun berlalu dan meninggalkan Jong Won yang akhirnya jatuh berlutut.

Weo, Yeon  ni-ya?” tanyanya.

“Karena aku mencintai Dong Hae Oppa, dan aku tidak mencintaimu lagi. Oppa hanya masa laluku.  Dan aku ingin melupakan itu,” Yeon Ni masih terisak.

ooOoOoo

Yeon Ni berjalan tertatih dan terus menangis. Ia tidak mau mengingat lagi apa yang terjadi tadi. Semuanya berlalu begitu saja tanpa bisa dicegah. Yeon Ni terus mengusap bibirnya yang kotor itu. Ia mengigitinya, kesal pada dirinya sendiri. Ia tidak menyadari kalau bibirnya mulai berdarah karena ia mengigitnya.

Dong Hae terlihat keluar dari sebuah café coffee dengan 2 gelas  minuman. Yeon Ni yang melihat Dong Hae dari kejauhan menangis semakin menjadi. Ia berlari menghampiri Dong Hae. Dong Hae hanya terpaku dan tidak mengerti apa yang terjadi pada Yeon Ni.

“Jangan berlari!” teriak Dong Hae.

Klek…! Terdengar sesuatu di telinga Yeon Ni. Kakinya terasa sakit dan ia pun jatuh tersungkur. Dong Hae panik dan menjatuhkan minuman yan ia bawa. Sesegera mungkin ia menghampiri Yeon Ni.

Gwaenchanha?” Dong Hae segera membatu Yeon Ni bangun.

Yeon Ni hanya menangis dan memeluk Dong Hae. “Oppa!”

“Kamu kenapa? Ada yang terluka?”

Oppa,” Yeon Ni tidak mau melepaskan pelukannya.

UljimaOppa tidak akan kemana-mana. Kajja!” Dong Hae mengendong Yeon Ni dan mendudukkannya di sebuah kursi di luar café itu. “Coba Oppa lihat.”

“Auch!” Yeon Ni meringis kesakitan.

“Lihat… lututmu berdarah, sikumu juga,” Dong Hae melihat wajah Yeon Ni. “Kenapa bibirmu juga berdarah?”

Yeon Ni hanya terdiam dan terisak. Ia menunduk, tidak berani menatap Dong Hae.

“Apa terjadi sesuatu antara kamu dan neo chingu?”

Yeon Ni geleng kepala. “Ania…”

“Lalu kenapa menangis?”

Oppa tidak lihat?” Yeon Ni mencoba tersenyum. “Aku baru saja jatuh dan itu menyakitkan. Sepertinya aku menghancurkan lututku.”

Dong Hae tertawa. “Dasar cengeng! Siapa suruh berlari? Oppa kan sudah melarangnya.”

“Karena… karena…,” Yeon Ni ragu-ragu. “Aku merindukan Oppa.

“Ey…. Kajja pulang!”

Dong Hae mengendong Yeon Ni kedalam mobil. Sebelum sampai dirumah , ia mengurusi dulu luka-luka Yeon Ni.

ooOoOoo

“Dia memang sembrono!” kata ibu Yeon Ni. “Dong Hae-ya… sebaiknya kamu menginap saja. Ini sudah larut malam.”

Ania Ommoni! saya pulang saja,”  tolak Dong Hae sopan.

Oppa… jangan pergi Oppa. Dong Hae Oppa!” Yeon Ni mengigau

Dong Hae segera menghampiri Yeon  ni. “Oppa di sini!” Dong Hae memegang kening Yeon Ni. “Ommoni, ia demam.”

AigooOmmoni akan mengambil air panas untuk mengompresnya.”

Ania… biar saya yang merawatnya.”

Araseo… akhirnya kamu akan menginap juga kan? Kalau butuh sesuatu bilang pada ommoni.

Negomapsumnida!”

Tidak lebih dari 15 menit, Dong Hae sudah mengompres Yeon Ni. Melihat keadaan Yeon Ni, Dong Hae merasa tidak tenang. Apakah ini karena kejadian tadi?

~FLASHBACK~

Trrrrtrrrt…! Sebuah ponsel bergetar. Dong Hae mencoba mencari letak ponsel itu. Ia akhirnya menemukannya, dan itu milik Yeon Ni. Tertera nama Kris di layarnya.

Yeoboseo… ada apa?” jawabnya.

“Hyeong….Yeon Ni mana?”

“Ia pergi menemui temannya dan kurasa ponselnya tertinggal!”

Aish…ada hal penting yang harus aku bicarakan padanya. Bisakah Hyeong menyusulnya dan memberikan ponselnya?”

“Apakah tidak bisa nanti?”

“Jebal Hyeong!” Kris memohon. “Ini darurat… please?!”

“Arayeo… nanti aku telepon balik.”

“GomawoHyeong,sambungan telepon terputus.

Sedikit susah menemukan Yeon Ni disebuah taman yang cukup luas. Hingga ia akhirnya menemukan Yeon Ni dengan seorang pemuda, dan terlihat seperti Jong Won. Dong Hae berniat berteriak untuk memanggil, tetapi… Jong Won mencium Yeon Ni. Dong Hae segera memalingkan wajahnya dan berlalu pergi.

~FLASHBACK END~

“Apakah kamu sangat mencintainya?” Tanya Dong Hae dalam hati. “Jika kamu memang mencintainya, kenapa kamu memilih aku?”

Dong Hae mengenggam tangan Yeon Ni erat dan akhirnya tertidur.

ooOoOoo

Tidak terjadi hal yang serius dengan lutut Yeon Ni. Ia hanya butuh waktu dua hari untuk sementara memakai tongkat. Dong Hae tidak henti-hentinya mengomel pada Yeon Ni.

Mianhae Oppa… tetapi sekarang sudah sembuh kan?”

“Ey… beruntung cepat sembuh. Kenapa kamu tidak pernah bisa mendengarkan apa kata Oppa? Kalau Kris yang berbicara selalu kamu dengarkan.”

Mianhae Oppa!” Yeon Ni tersenyum manja.

Ara…,” Dong Hae mengalah.

Dong Hae memapah Yeon Ni berjalan perlahan menuju loby rumah sakit. “Yakin tidak mau Oppa antar?”

Ne…  aku bisa pakai taksi. Oppa tidak perlu memapahku, aku bisa jalan sendiri!”

AlgesseoyeoOppa hanya khawatir.”

“Dong Hae-ssi, Yeon Ni-ssi!” panggil seseorang dari belakang.

Yeon Ni menoleh. “Oh…. Yoon Ah-ssi.”

“Kalian mau kemana?” tanyanya.

“Yeon Ni mau pulang! Aku ingin mengantarnya, tetapi ia menolak. Jadi sekarang harus mencari taksi,” jawab Dong Hae.

“Ooo… bagaimana kalau ikut denganku. Seingatku rumah kita searah,” Yoon Ah menawarkan.

Yeon Ni tersenyum. “Gomawo…. Aku bisa pakai taksi!”

“Ayolah…!” paksa Yoon Ah

Jagi… akan lebih baik kamu pulang dengan Yoon Ah-ssi,” bujuk Dong Hae

“Tetapi nanti merepotkan!” Yeon Ni tetap menolak.

Ania…,” Yoon Ah tersenyum. “Tidak akan merepotkan.”

“Baiklah…,” kata Dong Hae tiba-tiba. “Jagi…dengarkan aku, eoh?”

Araseo…”

Akhirnya Yeon Ni menumpang pada Yoon Ah untuk pulang.

ooOoOoo

Ternyata Yoon Ah tidak mengantar Yeon Ni pulang. Melainkan membawanya ke sebuah rumah di pegunungan. Villa itu miliknya sebagai hadiah pertunangannya dengan Jong Won.

“Wahhh…. Aku senang kamu mau menemaniku untuk mendekorasi ulang rumah ini,” kata Yoon Ah setelah mempersilahkan Yeon Ni duduk.

NeEonni! Rumah yang bagus, aku senang bisa membantu. Lagian aku tidak ada kerjaan jika harus berdiam diri di rumah.”

Gomawo…Yeon Ni-ya,” Yoon Ah tersenyum licik. “Semoga ada yang bisa di makan!” ia menuju dapur.

Yeon Ni melihat sekeliling rumah. Villa ini sangat bagus. Pemandanganya juga sangat indah. Rasanya ia ingin tinggal di situ.

“Aku hanya menemukan apel. Apa kamu mau?” Yoon Ah datang dengan sekeranjang kecil apel dan pisau.

Gomawo!” Yeon Ni kembali duduk.

Eonni kupaskan, eoh?” Yoon Ah memperlakukan Yeon Ni seperti adiknya.

Ania Eonni… aku lebih suka memakan dengan kulitnya.”

“Baiklah!”

Yoon Ah memotongkan  kecil buah apel itu agar lebih mudah dimakan. Beberapa buah apel ia kupas dan beberapa juga tidak.

“Kamu tahu?” Yoon Ah angkat bicara. “Aku mencintai Jong Won Oppa sudah lama, dan Paris memisahkan kita. Suatu hari aku kembali dari Paris dan menghancurkan karirku demi menemuinya.”

Nde?” Yeon Ni tidak mengerti.

“Aku kembali ke korea begitu mendengar ia akan menikah dengan seorang yeoja. Aku kira ia akan menungguku seperti janjinya dulu, ketika kami bermain bersama. Ketika umurku hanya 9 tahun. Aku mempercayainya akan menungguku. Tetapi seperti kamu tahu, itu hanya  janji anak kecil dan bodohnya aku percaya hingga sekarang”

Eonni?”

“Kenapa Jong Won Oppa tidak bisa mencintaku? Kenapa ia lebih memilih yeoja itu? Aku menjadi gila memikirkannya. Terbersit keinginanku untuk memisahkan mereka berdua. Dan Tuhan memihak padaku.”

~FLASHBACK     ~

Yoon Ah hanya bisa melihat dari jauh pemuda idamannya itu. Pemuda itu seperti menungggu seseorang. Yoon Ah hanya terdiam, ia bingung harus melakukan apa. haruskah ia mendekatinya? Akankan ia ingat padanya? Ia akhirnya memutuskan untuk mendekati pemuda itu.

“Jong Won Oppa!” katanya.

Perbincang singkat diantara mereka pun terjadi. Yoon Ah hanya bisa mengagumi Jong Won dan tidak lebih. Tepat sebelum ia pergi, ia melihat seorang gadis mendekat. Gadis itu terlihat bahagia dengan  sebuah kotak persegi panjang kecil ditangannya.

Gomawo Oppa. Aku suka tulip! Tetapi, ini untuk yeojachingu Oppa kan?” Yoon Ah menerima bunga dari Jong Won.

“Itu gampang! Ia tidak terlalu suka dengan  bunga.”

Gomawo Oppa!” Yoon Ah menyium pipi Jong Won. “Oh… mianhae! Aku lupa ini bukan Paris,” Yoon Ah segera meminta maaf.

Gwaenchanha!” Jong Won juga kaget

Annyeong Oppa!” Yoon Ah pergi.

Ia tersenyum nakal ketika melihat ekspresi gadis itu. Ia tahu bahwa gadis itu adalah calon istri Jong Won. Mencium pipi Jong Won adalah rencana yang bagus.

~FLASHBACK END~

Yeon Ni tercengang mendengar penuturan Yoon Ah. Apakah Yoon Ah  serius dengan ucapannya? Yeon Ni menelan ludah.

“Sayang sekali kamu juga muncul. Dan semuanya menjadi percuma. Kematian Young Ni memang diluar perkiraanku. Tetapi aku bersyukur ia meninggal, jadi aku tidak perlu mengotori tanganku.”

Eonni… ini tidak lucu,” Yeon Ni berdiri dan hendak pergi. “ Yoon Ah-ssi… ini hanya bercanda kan?”

“Aku serius… sepertinya sekarang aku harus mengotori tanganku. Kamu mau ke mana, Choi Yeon Ni?”

ooOoOoo

Diwaktu yang sama, Jong Won baru saja terbangun. Kamarnya berbau tidak sedap, alkohol. Jong Won segera keluar dari kamar itu dan menuju dapur. Tenggorokannya sangat kering, ia butuh air.

Ttrrrrrt…! Ada pesan masuk ke ponselnya. ‘OPPA… AKU AKAN MENGAKHIRI SEMUANYA SEKARANG!’

Jong Won melihat siapa pengirimnya, dan itu adalah Yoon Ah. Jong Won sama sekali tidak mengerti maksud pesan tersebut. Tiluittt… Seseorang membuka pintu.

Hyeong… sudah sarapan atau makan siang?” tanya Ki Bum terburu-buru.

Ania… aku belum lapar!” jawab Jong Won acuh.

Ki Bum mengeluarkan makanan yang ia bawa. “Ini dari Eomma… kata Noona, Hyeong jarang makan akhir-akhir ini. Jadi Eomma membuatkan makanan kesukaan Hyeong.

“Yoon Ah mengatakan itu pada Romma?” Jong Won mendengus.

“Oh iya… tadi aku melihat Noona saat lampu merah, tidak jauh dari rumah,” Ki Bum masih menyiapkan makanan.

“Aku tidak peduli.”

Noona memiliki hubungan baik dengan Yeon Ni. Mereka berdua terlihat akrab,” Ki Bum menyodorkan sarapan pada Jong Won yang sedang asyik menonton tv. “Hyeong tidak kerja?”

“Tunggu… kamu melihat Yeon Ni dan Yoon Ah dalam satu mobil?”

Ne… sepertinya mereka akan ke villa!” Ki Bum mencoba mengingat.

Jong Won segera melihat pesan dari Yoon Ah. “Kapan kamu melihatnya?”

“Sekitar….” Ki Bum mencoba mengingat. “Aku rasa 1 jam atau lebih. Pokoknya setelah aku ke rumah mengambil makanan in, aku sempat mampir ke sebuah distro.”

“Gawat… tidak mungkin Yoon Ah…,” Jong Won segera mengambil kunci mobilnya, ia masih berantakan.

Hyeong ada apa?”

“Temui dokter Lee dirumah sakit Seoul… dia spesialis orthopedic. Ajak dia menuju villa Yoon Ah. Araseo?”

NeHyeong!” Ki Bum bingung.

ooOoOoo

“Aaaaaaak…!” Yeon Ni terjatuh. “Yoon Ah-ssi… apa ini jalan keluarnya?” Yeon Ni mencoba berdiri.

Ne… cuma ini. Aku senang kamu ke Canada waktu itu. Aku berharap kamu tidak kembali, tetapi kenapa kamu kembali? Rencana pernikahanmu dengan Dong Hae juga tidak memberi keuntungan padaku. Jong Won Oppa semakin bertingkah menyedihkan mengetahui kalian akan menikah. Apa maumu. ha?” Yoon Ah menendang kaki Yeon Ni.

Bruk…! Yeon Ni terjatuh lagi. Kakinya terasa  sakit sekali. “Yoon Ah-ssi… mianhae! aku tidak akan merebut Jong Won Oppa darimu. Aku tidak mencintainya lagi,” Yeon Ni hampir menangis.

Babo… selama kamu masih hidup, Jong Won Oppa akan selalu mengingatmu. Ia tidak pernah mau melihat ke arahku. Yang ada dipikirannya cuma kamu. Itu menyakitkan… seharusnya kamu tidak terlahir.”

“Yoon Ah-ssi… andwae,” Yeon Ni memohon.

Yoon Ah terus mengacungkan pisau buah itu ke arah Yeon Ni. “Aku akan mengakhiri semuanya di sini! Mianhae Yeon Ni… aku mencintai Jong Won Oppa,” Yoon Ah berusaha menusuk Yeon Ni.

“Yoon Ah….!!!!”  Teriak Jong Won tepat dibelakang Yoon Ah. “Michosseo?!!!!”

Annyeong Oppa… aku memang sudah gila. Semuanya karena kamu, Oppa.

Yeon Ni berusaha menjauh dengan menyeret tubuhnya. Kakinya terlalu sakit. “Yoon Ah-ssi… mianhae!”

“Buang pisau itu sekarang!” bentak Jong Won.

“Tidak bisakah Oppa memintanya dengan sedikit lembut padaku?” Yoon Ah kembali mengacungkan pisau itu pada Yeon Ni.

Jebal…Yoon Ah-ya! Jangan buat aku semakin marah. Jebal… buang pisau itu!”

Ania Oppa… aku harus mengakhiri semuanya sekarang,” Yoon Ah kembali menatap Yeon Ni yang tidak berdaya.

Jong Won tidak  bisa bersabar. Ia segera menghampiri Yoon Ah dan hendak merebut pisau itu. Akhirnya terjadilah insiden saling tarik menarik pisau antara Jong Won dan Yoon Ah. Yeon Ni hanya bisa berdoa, semoga pisau itu tidak melukai siapapun. Ujung pisau itu tepat mengarah pada Jong Won. Dan…..

“Aaaarggg…,” pekik Jong Won lirih.

OppaaniaOppa!” teriak Yoon Ah. Tiiing…! Pisau itu jatuh  di lantai marmer yang dingin. “Oppa!”

Jong Won terkapar. “Pergi… pergi sana.Palli kka!!!” bentaknya pada Yoon Ah.

Sial bagi Jong Won. Pisau  buah itu menembus perutnya. Darah segar mengalir dari luka tusuk itu. Yeon Ni hanya terdiam, dadanya sesak. Sedangkan Yoon Ah sudah menangis sekuat tenaga.

Oppa!” Yoon Ah ingin menyentuh Jong Won.

“Pergi kamu!” bentak Jong Won lagi. “Kamu mau dipenjara, eoh? Palli kka,kka!!!” Jong Won berusaha mengambil pisau yang tadi menusuknya.

Oppa…,” tangis Yoon Ah. “Oppa!”

“Pergilah! Sekarang!!!” Jong Won berhasil mengambil pisau yang terkena darah itu. ia berusaha menghapus bekas sidik jari Yoon Ah. “Kenapa masih di sini? Kka!” Jong Won meringis.

Oppa…,” Yoon Ah akhirnya menurut pergi.

Jong Won menoleh ke arah Yeon Ni. “Yeon Ni-ya… kamu juga pergi. Tunggu Dong Hae di luar villa ini. Kamu bisa berjalan kan?”

Oppa!” suara Yeon Ni tertahan, airmata terus mengalir. “Ania… aku tidak bisa meninggalkan Oppa!” Yeon Ni mendekati Jong Won dan berusaha menutup luka Jong Won agar darah bisa berhenti keluar. “Oppa bertahanlah!?”

“Pergilah..!” Jong Won meringis kesakitan. “Aku mohon dengarkan aku. Pergilah!!”

Aniashireo! Aku tidak bisa meninggalkan Oppa seperti ini,” Yeon Ni terus menangis.

“Yeon Ni-ya… saranghamnida. Mianhae, selama ini aku hanya bisa menyakitimu. Saranghae,” kata Jong Won terbata.

Brakkk…! Dong Hae membanting pintu. Ia segera berlari kearah Yeon Ni. Di belakangnya ada Ki Bum yang terlihat susah mengatur napasnya.

Hyeong…,” Ki Bum segera  berlari menghampiri Jong Won yang terkapar tidak berdaya. “Hyeong… siapa yang melakukan ini? Noona mana?”

Gwaenchanhayeo?” Dong Hae memeluk Yeon Ni. Berusaha membuatnya tenang. “Mianhae Oppa terlambat.”

Oppa… Jong Won Oppa bagaimana?” Yeon Ni menangis dalam pelukan Dong Hae

“Ki Bum-ssi… cepat telepon ambulan. Jong Won terlalu banyak mengeluarkan darah. Cepat!!!”

Ne…”

Gwaenchanha!” Dong Hae masih  berusaha menenangkan Yeon Ni. “Jong Won akan baik-baik saja!”

ooOoOoo

Dong Hae berlutut di depan Yeon Ni sambil membersihkan kedua tangan Yeon Ni yang berlumuran darah. Yeon Ni masih terus menangis. Dong Hae tidak tahu harus berbuat apa, Yeon Ni tetap saja menangis dan menyalahkan dirinya sendiri.

Seorang dokter keluar dari ruangan di mana Jong Won berada. Hampir berbarengan Ki Bum juga datang dengan kedua orangtuanya.

“Dokter bagaimana?” tanya Ki Bum.

Miannata… Tuan Kim sudah…”, dokter itu berubah sedih, ia menundukkan kepalanya.

“Anakku… anakku!” ibu Jong Won jatuh pingsan.

Ayah Jong Won segera  menangkapnya sebelum jatuh. “Ki Bum-ah… kamu urus semuanya! Ayo Istriku!”

Yeon Ni yang juga mendengar langsung dari dokter hanya terpaku. Ia berharap ini hanya sebuah mimpi. Ia berharap sekarang bisa segera terbangun dan tidak ada yang terjadi. Di pojok lorong Yoon Ah, terlihat mengintip. Ia hanya bisa menangis dalam diam. Ia telah membunuh Jong Won, orang yang ia cintai.

“Yeon Ni-ya…,” Dong Hae menghampiri Yeon Ni yang terlihat shock.

Ania… Jong Won Oppa belum… ania,” tangis Yeon Ni meledak.

Uljima… Tuhan berkehandak lain pada Jong Won-ssi. Mungkin ini yang terbaik.”

Ania… ini semua salahku. Jong Won opppa meninggal karena aku. Seharusnya aku yang meninggal, bukan Jong Won Oppa,” Yeon Ni menangis dalam pelukan Dong Hae.

“Apakah kamu mencintainya?” kata Dong Hae dalam hati.

“Aku sudah menyakiti Jong Won Oppa. Aku yang pantas mati.”

Uljima… Jong Won-ssi ingin kamu terus hidup. Itu sebabnya ia melakukan ini.”

Ania…”

Dong Hae memeluk Yeon Ni semakin  erat. “Uljimajebal,” wajah Dong Hae murung,   entah kenapa hatinya terasa sakit.

ooOoOoo

Yeon Ni duduk dengan anggun di ruangan khusus pengantin perempuan. Gaun pengantin berwarna putih dengan design yang simple dan elegan melekat di badannya. Rambutnya ia gulung di belakang sedikit ke atas, terlihat begitu anggun. Tok… tok…! Seseorang mengetuk pintu dan membukannya perlahan.

Jagi…”kata Dong Hae lembut.

Oppa?” Yeon Ni terkejut. “Oppa dilarang masuk ke sini kan?”

“Ada hal penting yang ingin Oppa bicarakan,”Dong Hae menghampiri Yeon Ni. “Sebelumnya, Oppa rasa ini milikmu,” Dong Hae memberikan Yeon Ni sebuah kado kecil.

“Ini kan?” Yeon Ni mengenali benda itu. “Aku sudah membuangnya. Kenapa Oppa bisa memilikinya?”

“Ini dari Jong Won kan? Aku rasa ini sangat berarti buatmu.”

Yeon Ni membuka kado itu. Sebuah liontin berwarna perak yang indah berada di balik bungkusan itu. Yeon Ni membukannya dan mendapati fotonya dan foto Young Ni. Terdapat sebuah tulisan di sana ‘aku mencintai kalian berdua’, begitu yang tertulis. Yeon Ni tersenyum membacanya namun juga meneteskan airmata.

Uljima…,” Dong Hae mengusap airmata yang mengalir dipipi Yeon Ni. “Oppa sudah memikirkan semuanya masak-masak. Sebaiknya kita batalkan pernikahan ini.”

Mwo?” Yeon Ni terkejut dengan pernyataan Dong Hae. “Maksud Oppa apa?”

Oppa tidak mau memaksakan keinginan Oppa. Oppa tahu kamu sangat mencintai Jong Won. Oppa tidak mau menjadi penghalang lagi. Walaupun Jong Won sekarang sudah tiada. Oppa sadar, seseorang pasti ingin menikahi orang yang ia cintai. Dan untuk saat ini kamu belum mencintai Oppa. Jadi  sebaiknya pernikahan ini dibatalkan saja dan kita memulai semuanya dari awal. Oppa akan berusaha membuat kamu mencinta Oppa sepenuhnya. Dan disaat itu tiba, baru Oppa akan melamarmu lagi.”

Oppaania Oppa! Pernikahan ini tidak bisa dibatalkan semudah itu.”

“Gampang… Oppa tinggal bilang kepada semua undangan bahwa pernikahannya dibatalkan. Selesai!”

“Tetapi?” Yeon Ni tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

Oppa pergi dulu… Sebelum mereka menghabiskan makanan, Oppa harus membatalkan acara ini,” Dong Hae melangkah pergi dengan senyumnya yang hangat.

Oppa!” Yeon Ni meneteskan airmata, jantungnya berdegup tidak karuan. “Oppa… tunggu!” Yeon Ni berusaha berdiri dan mengejar Dong Hae.

Tinggal 3 langkah lagi Dong Hae mencapai pintu. Ia menghentikan langkahnya ketika mendengar Yeon Ni memanggil.

Oppa…,” Yeon Ni menyeret kaki kirinya. “A…a….a…a,” Yeon Ni hampir terjatuh.

“Yak…,” Dong Hae segera menangkapnya. “Ada apa pengantin perempuan dengan kaki digipp?”

Oppa!” Yeon Ni memeluk Dong Hae erat. “Andwae… jangan batalkan pernikahan ini. Aku tidak mau. Aku tidak mau batal menikah dengan Oppa. Aku mencintai Oppa, dan masih akan terus mencintai Oppa.”

“Apa kamu yakin?” Dong Hae tersenyum nakal. “Jika pendetanya sudah datang, pernikahan ini tidak bisa dibatalkan.”

“Yak… Lee Dong Hae! Kamu tidak percaya padaku? Harus aku buktikan dengan apa?”

Dong Hae berpikir sejenak. “Mungkin seperti ini.”

Dong Hae memegang dagu Yeon Ni dan mengangkatnya sedikit, sehingga seolah Yeon Ni mendongak. Dong Hae mendekatkan wajahnya pada wajah Yeon Ni. Yeon Ni memejamkan mata, jantungnya semakin berdetak tidak menentu. Akhinya sesuatu yang lembut menyentuh bibir Yeon Ni. Dong Hae mencium Yeon Ni dengan lembut dan penuh cinta.

Klekk…! Terdengar pintu terbuka. Dong Hae segera mengakhiri ciumannya. Yeon Ni hanya tertegun dan tersenyum bahagia.

“Hey… permisi maaf menganggu. Pengantin pria, pendetanya sudah datang,” kata Kris menggoda. “Ckckckc… kalian tidak bisa menunggu sebentar,eoh? Hyeong tahu kan… pengantin pria dilarang menemui pengantin perempuan sekarang. Aigoo…,” Kris geleng-geleng kepala.

Oppa…” rengek Yeon Ni pada Kris. “Oppa ini penguntit,eoh?”

“Ey…kenapa jadi aku yang salah. HyeongPalli! Nanti bisa dilanjutkan kok,” Kris meninggalkan mereka.

Gomawo!” kata Dong Hae

Na tto!” Yeon Ni kembali memeluk Dong Hae. “Saranghae

“Emm…,” Dong Hae mencium Yeon Ni dikeningnya. “Oppa pergi dulu. Oppa tunggu di altar.”

Ne Oppa!” tatapan mata Yeon Ni mengiringi kepergian Dong Hae.

ooOoOoo

Epilog

Yoon Ah terlihat berdiri di pojok ruangan itu. Tatapannya terus mengarah pada Yeon Ni yang sedang melempar buquet bunganya. Yoon Ah menatap Yeon Ni dengan penuh kebencian. Tidak ada yang menyadari kehadiranya di situ. Para tamu yang lain sedang bersenang-senang sehingga tidak ada yang menghiraukannya.

Gaun penganti tanpa lengan berwarma putih melekat di tubuh Yoon Ah. Ia juga menggunakan blazer putih lengan pendek untuk  menutupi pundaknya yang terbuka. Rambutnya tergerai begitu saja. Tidak ada sedikit pun make up melekat di wajahnya. Kakinya tidak menggunakan alas sama sekali. Di pergelangan tangan kirinya terdapat perban yang melingkari pergelanganan tangannya itu. Terdapat sedikit bercak darah di perban itu.

Yeon Ni hanya bisa pasrah mendengar ejekan Kris dan Tao tentang kejadian tadi di ruangan pengantin wanita. Dong Hae sama sekali tidak membelanya.

Oppagaemanhae,” Yeon Ni memukul Kris pelan. Yeon Ni melihat sekeliling. “Yoon Ah-ssi?”

Nugu?” tanya Dong Hae.

Oppa tunggu sebentar,” Yeon Ni berusaha mendekati Yoon Ah di sudut ruangan. Susah payah ia menyeret kaki kirinya yang masih digipp. “Yoon Ah-ssi!”

Yoon Ah hanya tersenyum sinis. Kemudian hilang begitu saja.

“Ada apa?” Dong Hae menyusul Yeon Ni.

“Aku melihat Yoon Ah-ssi!” Yeon Ni menunjuk tempat Yoon Ah berada tadi.

“Mungkin hanya khayalanmu… kajja,” Dong Hae menuntun Yeon Ni perlahan.

THE END