Tags

, , ,


Tittle                     : You’re Not My Destiny –Part 1

Author                  :Choi Chan Yeon/ Yunn Wahyunee

Rating                   : PG-15

you're  not my destiny

Genre                   :Romance, Sad, Angst

Length                  :Two Shoot (SEQUEL:  Don’t Love Me Like That)

Main Casts          : Choi Yeon Ni (OC)| Kim Jong Won (Yesung)| Lee Dong Hae| Im Yoon Ah

Support Casts    : Kris|Kim Ki Bum (Key)| Tao| Soe Joo Hyun (Soehyun)| etc.

Summary             :

Aku mencintaimu, tetapi kamu bukan takdirku. Tidak seharusnya kita bersama, karena mereka akan tersakiti. Kita bukan orang yang egois kan?

Warning              : Typo bertebaran dan ada adegan yang mungkin tidak disukai (bukan yadong)

AN                          :

FF ini mengandung beberapa kalimat dalam bahasa inggris. Mohon maaf apabila bahasa inggrisnya berantakan. Maklum, orang Indonesia asli. Jangan mencela, jebal???No COPAS tanpa permisi.

ooOoOoo

@ Canada

Gadis itu mencoba dengan sabar menunggu. Beberapa orang melintas di depannya, tetapi ia tidak menghiraukannya.  Ketika ia sendirian, kenangan-kenangan itu mulai hadir kembali. Kenangan yang indah namun menyakitkan. Kenangan yang selalu ingin ia lupakan.

Miss Choi,” panggil seorang perawat.

Yes?” jawab Yeon Ni setengah terkejut.

Come in! Doctor waiting for you.

Thank you!” ia tersenyum pada perawat itu.

Yeon Ni memasuki sebuah ruangan yang sangat familiar baginya. Ia  tidak menemukan dokter yang dimaksud di ruangan itu. Yeon Ni memilih untuk duduk saja, ia tidak cukup kuat untuk berdiri lama. Ia memandangi meja dokter itu, ada sebuah foto di sana. ia mengambil foto itu dan tersenyum melihatnya.

“ kenapa senyam-senyum?” suara seorang pemuda membuat ia menoleh.

“Ooh… mianhae Dokter Lee,” Yeon Ni segera meletakkan foto itu. Gerak-geriknya kaku.

Dokter lee  tertawa. “ Jagi… ada apa denganmu?”

“Aku bercanda! Merong!” Yeon Ni tertawa  terbahak, “ Dari mana, Oppa?”

Ige…. Oppa habis mengambil hasil pemeriksaanmu!” dokter Lee geleng-geleng kepala.

Yeon Ni mengerutkan kening. “Otthe? Masih belum membaik?”

“Emm….”

“Bagaimana hasilnya?” Yeon Ni harap-harap cemas.

Dokter Lee menunjukkan ekspresi sedih. “ Sayang sekali…”

“Apa?” Yeon Ni semakin penasaran. “ Kakiku semakin parah?” Yeon  ni menunggu. Tidak ada jawaban. “Yak… Lee Dong Hae!Bagaimana hasilnya? Jangan buat aku penasaran.”

“Sayang sekali…,” muka Dong Hae serius. “ I will not see you again,” Dong Hae tersenyum dibuat-buat.

Moragoyeo? Maksudnya apa,Oppa?” rengek Yeon Ni

“Kakimu bisa dikatakan sudah sembuh… malapetaka,” Dong Hae kembali murung

Yeon Ni bingung. “Kenapa Oppa tidak senang?Oppa tidak suka aku sembuh?”

Dong Hae berdiri dari kursinya dan menghampiri Yeon Ni. Ia membantu Yeon Ni untuk berdiri. “Aku sangat senang,” ia memeluk Yeon Ni. “Tetapi aku juga sedih… kamu  akan meninggalkanku kan?”

Ania, Oppa,” Yeon Ni membalas memeluk Dong Hae dan mencoba menenangkannya.

“Kamu sendiri yang bilang. Jika kakimu sembuh, kamu akan kembali ke Korea,” Dong Hae semakin mempererat pelukannya.

Ne… aku akan kembali ke Korea. Tetapi aku akan tetap menyukai Oppa, dan itu tidak akan berubah. Aku tidak akan melupakan Oppa.

Dong Hae melepaskan pelukannya. “Aku akan percaya.”

Oppa!” Yeon Ni kesal. “Maksud Oppa apa? Oppa tidak percaya padaku?”

AniaOppa hanya tidak pernah dengar kata kamu ‘mencintai’ Oppa.

Yeon Ni tertawa kecil. “OppaOppa kekanak-kanakan sekali sih?” Yeon Ni melihat wajah Dong Hae berubah serius. “Saranghaeyeo, Oppa!”

“Kamu tidak terpaksa kan?”

Ania… sumpah! Aku sangat mencintai Lee… Dong… Hae,” Yeon Ni segera memeluk Dong Hae erat.

Me too.

“Ehem… ehem…,” Kris berdehem dari arah pintu. “ Do you enjoy it?”

Yeon Ni yang menyadari  ada Kris segera melepaskan pelukannya. “Kris Oppa?”

Neneomu joahe,” Dong Hae tidak mau melepaskan pelukannya.

ooOoOoo

2 tahun 33 hari, selama waktu itulah Yeon Ni meninggalkan Korea dan semua kenang-kenangannya di sana. 1 tahun 139 hari, Yeon Ni mengenal seprang Lee Dong Hae. Seorang namja yang mau menerima dia sebagai Choi Yeon Ni. Dan 369 hari sudah, keluarganya kembali utuh dengan ayah dan ibunya yang kembali bersatu.

Yeon Ni merasa keputusan yang dia ambil saat itu sangatlah tepat. Membuang kenangan itu membuat dia mendapatkan hidup yang lebih baik. Ia menemukan lagi keluarganya yang utuh dan seseorang yang sungguh-sungguh mencintainya.

Lee Dong Hae adalah seorang dokter orthopedic,  senior dan teman dekat Kris. Ia bagaikan keajaiban yang hadir  untuk Yeon Ni. Dialah pemuda yang mampu membantu Yeon Ni untuk  bisa berjalan kembali dan pemuda yang pada akhirnya mengisi  hati Yeon  ni.

Good bye!” Yeon Ni melambaikan tangannya kepada Dong Hae.

“Kris, aku titip nyawaku padamu!” teriak Dong Hae

Kris yang tidak  mendengar dengan jelas kata-kata Dong Hae karena suara musik di dalam  mobilnya hanya melongo. “Apa Hyeong?”

Dong Hae mendekat dan memasukkan kepalanya ke dalam mobil melalui jendela. “Jaga nyawaku baik-baik!”

Oppa!” Yeon Ni merasa malu karena wajah Dong Hae  sangat dekat dengan wajahnya. “Oppa… minggir!”

Ne,Hyeong! Percayakan padaku! Yeon Ni is my precious little sister,” Kris hanya tertawa.

Yeon Ni mencoba menjaga jarak dari wajah Dong Hae. “Oppa… keluar! Palli!”

Never!” Dong Hae semakin mendekatkan wajahnya. “Popo!” Dong Hae menyodorkan pipinya.

“Kris Oppahelp me!” Yeon Ni memohon

Kris memalingkan wajahnya. “Woooohuuuu… I’m not see it

Hurry up! Or you can’t go!

Araseo!” Yeon Ni mengalah dan  memberikan kecupan di pipi Dong Hae. “Pergi… aku mau pulang!”

“Gomawo…  jagi! AnnyeongOppa akan menemuimu nanti.”

Yeon Ni hanya  diam dan melambaikan tangan. Ia sangat malu saat ini, terutama pada Kris. Sedari tadi Kris hanya menoleh ke arahnya dan kemudian tertawa. Yeon merasa risih dengan  kelakuan Kris  itu. Selama  perjalanan Kris hanya diam dan sesekali bergumam mengikuti musik yang ia putar.

Oppa! Kalau ada yang dipendam katakan saja,” Yeon Ni sudah tidak sabar

AniaOppa tidak memendam apa-apa,” Kris menahan  tawa.

Yeon Ni mencubit Kris pelan. “Oppa!” rengek Yeon Ni manja. “Oppa tahu aku bukan tipe yeoja seperti itu. Aku hanya tidak mau mengecewakan Dong Hae Oppa.

And then?”

Oppa jangan senyum-senyum seperti itu! Menyebalkan sekali.”

Oppa tidak menertawakanmu!” Kris tetap berkonsentrasi pada  jalan. “Oppa hanya senang. Yeon Ni yang dulu Oppa kenal sudah kembali. Yeon Ni yang periang, manja dan nakal. Oppa juga senang kamu sudah bisa berjalan lagi. Oppa senang kamu baik-baik saja.”

“Aku memang selalu baik-baik saja kan Oppa?” Yeon Ni tidak mengerti.

“Yaaaa!” Kris  menghela napas. “You always fine…” Kris menatap Yeon Ni sejenak. “But not a few years ago!” tambah Kris dalam hati.

ooOoOoo

Noona!” Tao berlari menghampiri Yeon Ni yang baru turun dari mobil.

Mwo?” Yeon Ni heran melihat Tao yang berlari ke arahnya.

Kris segera menghalangi. “Mau apa kamu?”

“Yak… Hyeong!” Tao mengerem. “Hyeong… minggir!”

“Kamu mau apa? Yeon Ni masih sakit…”

What? Abojhi bilang Noona sudah sembuh! Aku mau kasih selamat.”

Kris menarik tangan Tao dan tangan Yeon Ni kemudian membuatnnya berjabat. “Sudah kan?”

“Hahahaha,” Yeon Ni tertawa. “Oppa… kasihan Tao!” Yeon Ni menyuruh Kris menyingkir. “Kajja… kamu mau mengucapkan selamat kan?”

“Merong!” diperuntukan bagi Kris. “ NoonaI love you,” Tao memeluk Yeon Ni erat. “Akhirnya Noona bisa lomba lari lagi denganku.”

“Ey…!” Kris menjitak kepala Tao. “Kamu ini ada-ada saja. Yeon Ni tidak boleh berlari.”

Mianhae Tao-ya… Noona tidak bisa berlari. Kita jalan-jalan saja,eoh?”

“Sudahlah Yeon Ni-ya… jangan dengarkan dia! Lihat umur Tao-ya!” Kris menggulat Tao.

“Kris Oppa dan Tao sama saja!” Yeon Ni memutuskan masuk kedalam rumah.

Selama di Canada Yeon Ni tinggal di rumah keluarga Kris. Ibu Kris adalah saudara ayahnya. Ayah Kris yang keturunan China asli sangat menyayangi Yeon Ni karena ia tidak mempunyai anak perempuan. Ayah dan ibu Yeon Ni sudah kembali ke Korea setahun yang lalu, jadi Kris dan keluargalah yang mengurusinya. Ayah dan ibu Kris sudah dia anggap seperti ibu dan ayah kandungnya sendiri.

Eomma!” Yeon Ni memeluk  ibu Kris erat. “Appa mana?”

“Anak perempuanku yang cantik! Selamat kakimu sudah sembuh. Tetapi sayang sekali kamu harus kembali ke Korea. Appa sedang di halaman belakang.”

Eomma jangan sedih…  Yeon Ni akan sering ke sini kok! Aku ke Appa dulu, eoh?” Yeon Ni  melangkahkan kakinya dengan pasti.

“Yeon Ni-ya… jangan jingkrak-jingkrak!” Kris menasehati.

Araseo Oppa!” Yeon Ni berjalan mengendap-endap.

“Tao mana?” tanya ibu Kris

“Tadi temannya datang, jadi ia langsung pergi.” Kris menyusul Yeon Ni.

ooOoOoo

Dong Hae tidak melepaskan pandangannya dari Yeon Ni, gadis yang sangat ia cintai. Ia terus mengenggam tangan Yeon Ni erat. Hari ini  ia sedang mendapat libur dari rumah sakit. Kesempatan ini tidak akan ia sia-siakan, karena mungkin ia  tidak akan bertemu lagi dengan  Yeon Ni.

Yeon Ni terus saja terdiam sejak tadi. Wajahnya terlihat murung, namun ia tetap  cantik dan manis. Kaos berwarna putih dengan sweater berwarna aqua blue membukus badannya. Celana warna hitam yang menutupi setengah pahanya membuat ia semakin manis. Sneaker yang membungkus kakinya tetap tidak merusak penampilannya. Dong Hae senyum-senyum sendiri memperhatikan gaya berpakaian Yeon Ni.

Oppa kenapa?” Yeon Ni memperhatikan dirinya dari kepala sampai ujung kaki. “Ada yang aneh?”

Aniacham yepposeo!  Hanya saja mianhae… kamu  tidak akan bisa memakai  high heels seperti yeoja pada umumnya. Oppa tidak berhasil menyembuhkan kakimu secara sempurna.”

Oppa…”  Yeon Ni tersenyum hangat. “Aku tidak suka pakai high heels, jadi Oppa tenang saja. Aku bisa berjalan saja suatu keajaiban. Oppa adalah keajaibanku.”  Yeon Ni terkekeh.

Dong Hae mempersilahkan Yeon Ni duduk disebuah bangku taman. “Kamu juga adalah keajaiban buat Oppa. Tetapi, keajaiban Oppa akan pergi meninggalkan Oppa.

Mianhae Oppa!” Yeon Ni menyandarkan kepalanya di pundak Oppa. “Seandainya aku bisa, aku ingin tinggal saja di sini.”

“Kalau begitu lakukan!” Dong Hae memohon

“Mustahil Oppaeomma dan appa memintaku untuk pulang. Sudah waktunya aku mengurusi café eomma. Eomma  dan appa seharusnya bisa santai sekarang.”

Dong Hae menghela napas.  tiba-tiba ada ide bagus yang terbersit diotaknya. “Yeon Ni-ya!”

Nde?” Yeon Ni menatap Dong Hae.

Oppa akan ikut bersamamu ke Korea”, kata Dong Hae yakin.

Morago?”

Dong Hae memegang pundak Yeon Ni erat. “Oppa akan meminta untuk dipindahkan ke  Korea.”

Andwae… pihak rumah sakit tidak akan mengizinkan. Oppa tahu sendiri, karir Oppa akan hancur jika Oppa meninggalkan Canada.”

Ania, jika ada rumah sakit di Seoul yang meminta Oppa untuk bekerja di sana, karir Oppa  tidak akan hancur.”

“Tetapi sekarang tidak ada kan?”

Oppa akan mencarinya. Maukah kamu menunggu Oppa?”

Yeon Ni terdiam. “Aku akan menunggu Oppa. Tetapi Oppa jangan  nekat meninggalkan Canada dan merusak karir Oppa hanya untuk menyusulku. Aku akan sangat marah.”

Araseo!” Dong Hae kembali menyandarkan kepala Yeon Ni ke pundaknya. “Oppa akan mencari cara terbaik dan tercepat untuk menyusulmu ke Korea. Saranghaeyeo, jagi.

SaranghaeyeoOppa! Emm…,” Yeon Ni menghentikan kalimatnya.

Waeyo?”

“Besok aku akan kembali ke Korea.”

Mwo?!!!”

Yeon Ni segera memeluk Dong Hae. “Mianhaeyeo Oppa! Aku harus kembali besok. Tidak bisa ditunda.”

“Tetapi besok adalah…!” Dong Hae  tidak mampu melanjutkan perkataannya.

Saengil chukka hamnida Oppa! Mungkin aku tidak akan sempat mengucapkannya besok. Jeongmal mianhae.” Yeon Ni mencium pipi  Dong Hae lembut. “Aku harus pulang Oppa! Aku harus menyiapkan barang-barangku.”

Dong Hae hanya diam. Ia tidak menyangka Yeon Ni akan pergi secepat itu. Ia  tidak habis pikir, Yeon Ni akan melewatkan ulang tahunnya dan  memilih kembali ke Korea. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam.  Semua rencana menyenangkan yang ia susun untuk hari  ini dan besok gagal total.

ooOoOoo

Ibu Kris meneteskan airmata. Ia tidak rela Yeon Ni harus meninggalkannya sekarang. Dong Hae hanya diam, ia tahu semuanya akan sia-sia jika ia mencoba menghalangi Yeon Ni pulang.  Ia tidak mau terlihat sebagai orang yang egois. Mungkin saja Yeon Ni sudah rindu dengan orang tuanya.

Eommagamsahamnida selama ini Eomma mau mengurusiku.” Yeon Ni memeluk ibu  Kris erat.

“ne… jagi!” ibu Kris masih meneteskan airmata.

Yeon Ni bergantian memeluk ayah Kris. “Appagamsahamnida! Appa  tidak memberi tahu  eomma dan appa di Korea kan? Aku ingin ini menjadi kejutan.”

Ne… rahasiamu aman pada Appa!”

kajja…,” Kris membawa barang-barang Yeon Ni. “Kamu tidak mau ketinggalan pesawat kan?”

NeOppa!”

Dong Hae membukakan pintu mobil untuk Yeon Ni. Raut wajahnya sedang tidak baik. Kris hanya tersenyum melihat Dong Hae yang mengambek. Kris duduk di kursi belakang dan Dong Hae yang menyetir. 46 menit kemudian mereka sampai di bandara.

Annyeong Oppa!” Yeon Ni mengucapkan kata perpisahan pada Kris.

“Jaga diri baik-baik… my lovely little sister.”  Kris memeluk Yeon Ni

“Aku akan merindukan Oppa! Oppa harus menjengukku ke Korea,eoh?”

Oppa janji!” Kris akan menyium kening Yeon Ni.

Andwae…,” Dong Hae yang tadi diam menghalangai. “Kalian ini sepupuan apa pacaran?”

“Keduanya Hyeong!” Kris semakin memeluk Yeon Ni erat. Ia senang melihat Dong Hae kesal.

Dong Hae memisahkan Yeon Ni dari Kris. “Gaemanhae… Yeon Ni milikku. Kamu mau mati,  hahh?!!!” Dong Hae memelototi Kris.

Mianhae…   Hyeong! Silahkan!” Kris mengalah

Yeon Ni menahan tawa. “Dong Hae Oppa kenapa?”

“Dengarkan Oppa!Jangan dipotong!” Dong Hae mengultimatum.

NeOppa!”

Oppa terima kamu memilih pergi dari pada merayakan dulu ulang tahun Oppa di sini. Tetapi Oppa berjanji akan menyusulmu segera. Oh ya…  jangan pernah berlari, jangan jingkrak-jingkrak dan jangan pakai high heels. Oppa  takut nanti kakimu kenapa-napa disaat Oppa tidak ada di sana. Arayeo?”

“Siap Oppa!” Yeon Ni hormat.

Palli kka!” Kris menghalangi Dong Hae yang mau memeluk Yeon Ni. “Palli!”

Yeon Ni hanya tertawa dan Dong Hae kesal bukan main pada Kris. Dong Hae dan Kris hanya melambaikan tangannya mengiringi Yeon Ni yang memasuki ruang tunggu penumpang. Beberapa menit kemudian Yeon Ni tidak terlihat lagi.

“Akhirnya dia pergi!” Dong Hae hampir menangis

Kajja… kita pulang!” Kris menyeret Dong Hae.

“Hey… bisa perlakukan Hyeong-mu dengan baik?”

ooOoOoo

Yeon Ni celingukan sana sini. Tao belum juga terlihat.  Kalau sampai Tao  tidak datang, semuanya akan gagal total. Di kejauhan Yeon Ni melihat Tao berlari tergesa-gesa.

MianhaeNoona! Tadi aku sedikit tersesat,” kata Tao dengan napas tersengal.

Araseokajja! Jangan sampai mereka sampai lebih dulu.”

Tao yang merencanakan semua ini. Keberangkatan Yeon Ni  ke Korea  adalah kebohongan. Tiket pesawat yang dimiliki Yeon Ni juga palsu. Dan petugas bandara yang mengizinkan Yeon Ni masuk ke ruang tunggu dengan tiket palsunya adalah sahabat Tao.

Tao segera memasukkan barang-barang Yeon Ni ke  bagasi mobil. Mereka  harus sampai terlebih dahulu di rumah Dong Hae sebelum Dong Hae dan Kris.  Tao sudah menyiapkan sebuah kejutan untuk Dong Hae di sana. Yeon Ni  tidak henti-hentinya melihat jam tangannya.

“Tao… palli!”

Ne, Noona! Kris Hyeong sudah menyusun rencana agar mereka datang terlambat.”

Sementara itu di dalam mobil Dong Hae. Kris mengambil alih untuk menyetir agar rencana mereka berhasil. Dong Hae terlihat gelisah. Ia selalu mencoba menelepon Yeon Ni tetapi tidak bisa tersambung.

“Kenapa  tidak bisa tersambung?”  Dong Hae kesal.

Hyeong, mungkin pesawatnya sudah take off. Hyeong ini kayak tidak tahu saja. Dokter kok babo?”

Moragoyeo?”

Aniaobseoyeo!”

“Ya…ya….ya! Kamu mau kemana? Bukannya kita harus belok kanan?” Dong Hae yang menyadari Kris salah  jalan,  memberi tahu.

Kris pura-pura lupa. “Oh… mianhae Hyeong! Hyeong sih membuyarkan konsentrasi.”

“Cepat berbalik!”

NeHyeong!” Kris menahan tawa

ooOoOoo

“Aku heran denganmu, kenapa bisa nyasar terus sih?” Dong Hae yang kesal berusaha membuka pintu rumah.

Mianhae Hyeong… ini semua gara-gara Hyeong yang terus cemberut. Aura negatifnya mengganggu konsentrasiku,” kata Kris

Tluit… tit…

Dong Hae berhasil membuka pintu rumahnya. Cahaya bulan di luar rumah menerobos masuk melewati pintu. Kris segera menghalangi, ia tidak mau cahaya bulan itu menerangi bagian dalam  rumah. Dong Hae bingung, kenapa lampu rumahnya tidak mau menyala.

“Kenapa gelap gulita?  Seharusnya lampunya menyala sendiri, apa sensor geraknya rusak?” kata Dong Hae. Ia meraba-raba tembok mencoba menyalakan lampu secara manual.

Ne… sepertinya rusak Hyeong!” Kris menutup pintu.

“Ini dia sakelarnya!” Dong Hae menekan sakelar itu.

Happy birthday to you, Supprise!” teriak beberapa orang

“Yak… how did you can  came in?” Dong Hae  tidak menduga teman-temannya memberikan kejutan dihari ulang tahunnya. “But, why do you use masks?”

“Lee Dong Hae… makes a wish!

Dong Hae memperhatikan sosok gadis  yang menggunakan topeng di depannya dan membawa sebuah kue. “Yeon Ni-ya… beraninya kamu membohongi Oppa?”

Sorry… Pardon me?” gadis itu membuat-buat suaranya.

“Sini!” Dong Hae merebut kue yang dibawa gadis itu. “Kamu pikir Oppa bodoh? Aku tahu itu kamu, jagi!”

“Ketahuan deh!” Kris tidur dengan malas di sofa. “Dia… Yeon Ni, Hyeong! Di sebelahnya Tao… ini ide Tao.”

“Kris Hyeong…,” Tao melepas topengnya. “Hyeong ini merusak rencana saja.”

“Benar kan! Ini Yeon Ni,”  Dong Hae mencoba membuka topeng Yeon Ni.

Yeon Ni pelan-pelan  mundur. “Ania… jangan dibuka Oppa!”Yeon Ni segera berlari kecil ke arah dapur.

“Hey… jangan berlari!” Dong Hae yang khawatir melihat Yeon Ni berlari segera mengejar.

Teman-teman Dong Hae yang lain akhirnya juga membuka topeng mereka. Kris memberi isyarat pada Tao untuk memulai saja pestanya tanpa menunggu Dong Hae dan Yeon Ni. Sedangkan  Dong Hae masih berusaha membuka topeng yang digunakan Yeon Ni. Yeon Ni terus bisa menghindar. Tetapi sayangnya ia akhirnya terpojok.

Oppa sudah bilang jangan lari-lari,” Dong Hae menyudutkan Yeon Ni.

Mianhae Oppa…,” Yeon Ni tidak bisa ke mana-mana lagi. Di belakangnya terdapat tembok yang menghalangi.

Dong Hae mendekatkan dirinya pada Yeon Ni yang terpojok. “Mau kemana lagi,eoh?” Dong Hae membuka topeng Yeon Ni.

“Hehehe… saengil chukka hamnida Oppa!”

“Kamu berani membohongi Oppa! Sebagai gantinya… popo!” Dong Hae memanyunkan bibirnya.

Shireo!” Yeon Ni memalingkan wajahnya.

Dong Hae memegang dagu Yeon Ni dan membuat wajah Yeon Ni berhadapan lagi dengannya. “Yak… hari ini ulang tahun Oppa. Tidak bisakah Oppa meminta hadiah yang istimewa?” Dong Hae semakin mendekatkan wajahnya pada  Yeon Ni.

“Emm…,” Yeon Ni mengecup bibir Dong Hae kemudian setengah berlari meninggalkan  Dong Hae. “saengil chukka hamnida, Oppa

“Aish… hanya begitu saja!  Yak… Choi Yeon Ni!”

ooOoOoo

 @Seoul, Korea Selatan

Akhirnya Yeon Ni tiba juga di incheon airport. Ada rasa sedikit menyesal  ia memilih kembali lagi ke Seoul. Ia berharap kenangan-kenangan itu telah lenyap semua dan tidak   menampakkan dirinya lagi. Yeon Ni berusaha sekuat tenaga menurunkan kopernya dari tempat pengambilan barang penumpang dari bagasi pesawat. Ia harus sedikit ikut terseret oleh benda itu saat berusaha mengambil kopernya.

“Mari saya bantu!” kata seorang pemuda.

Gamsahamnida!” kata Yeon Ni.

Ne… aku sarankan lain kali kopernya yang kecil saja Yeon Ni-ya!” kata pemuda itu sambil tertawa.

Yeon Ni yang sedari tadi sibuk dengan kopernya menoleh ke  arah pemuda yang membantunya. Yeon Ni kaget ketika menyadari bahwa  ia mengenali pemuda itu.

Annyeong… lama tidak bertemu,” sapa Ki Bum

Nde?” Yeon Ni pura-pura tidak mengenali Ki Bum. “Apa saya mengenal Anda?”

“Yeon Ni-ya… ini aku Kim Ki Bum! Kamu lupa?”

Mianhamnida… Anda mungkin salah orang. Gamsahamnida sudah membantu,” dengan susah payah Yeon Ni menyeret kopernya dan meninggalkan Ki Bum yang masih tertegun.

“Bukankah itu Yeon Ni? Tetapi kenapa ia tidak mengenaliku? Apa aku memang salah orang?” Ki Bum terus melihat ke mana arah Yeon Ni pergi. “Aku yakin itu Yeon Ni, Choi Yeon Ni.”

ooOoOoo

Butik khusus baju pengantin itu terlihat mewah sekali. Dinding butik itu dipenuhi dengan warna krem yang terlihat sangat elegan. Dekorasi berupa  pohon-pohon kecil tanpa daun membuat tempat itu semakin terlihat mewah. Lampu-lampu berwarna putih membingkai show room butik itu.

Jong Won terlihat suntuk menunggu di sebuah sofa berwarna senada dengan dinding butik itu. Gadis yang ia temani sedang asyik-asyiknya melihat sketsa gaun pengantin yang dibuatkan khusus oleh desainer butik itu untuknya. Sesekali  gadis itu  menoleh ke arah Jong Won dan meminta pendapat, tetapi Jong Won acuh tak acuh.

Oppajebal! Aku bingung harus pilih yang mana!” rengek gadis itu.

“Yoon Ah-ya… jangan ganggu aku! Aku sedang sibuk.”  Jong Won berlalu meninggalkan Yoon Ah ketika sebuah telepon masuk ke ponselnya.”Nesunbae!”

Adalah Im Yoon Ah, gadis yang cantik dan sangat sabar.  Sudah hampir 1 tahun ia menjadi kekasih  Jong Won.  Sejak Yeon Ni pergi meninggalkan Jong Won, dialah satu-satunya orang yang berada di sisi Jong Won. Mendengar segala keluh-kesah Jong Won, dan menerima setiap emosi yang diluapkan padanya.

Hingga akhirnya orang tuanya dan orang tua Jong Won menjodohkan mereka. Dengan senang hati Yoon Ah menerimanya, ia sudah mencintai Jong Won cukup lama, bahkan sebelum ia pindah ke paris.  Namun berbeda reaksinya dengan Jong Won, Jong Won tidak menolak perjodohan ini tetapi menerimanya dengan terpaksa.  Oleh sebab itu, Jong Won tidak pernah memperlakukannya sebagai seorang gadis yang akan menjadi pendamping hidupnya. Yoon Ah hanya bisa bersabar, yang terpenting sekarang,  Kim Jong Won adalak miliknya untuk selamanya.

Jong Won kembali duduk ditempatnya tadi setelah menutup telepon. “Kamu sudah menentukan pilihan?”

“Aku bingung Oppa… bantu aku memilih,eoh?”  kata Yoon Ah manja

Jong Won melihat-lihat sekilas sketsa-sketsa itu. “Ini saja!” Ia menyerahkan pilihannya pada Yoon Ah.

Mwo? Oppa ini terlalu simple.  Aku mau yang lebih anggun.”

“Argggg…” Jong Won kesal. “Tadi kamu meminta saranku, sekarang kamu menolaknya. Maumu apa Yoon Ah-ya? Seharusnya kamu bersyukur aku meluangkan waktuku untuk  menemanimu. Kamu tidak seberuntung Young Ni atau Yeon Ni.”

Oppamianhae! Baiklah, aku akan memilih ini.” Yoon Ah mengalah.

“Sebaiknya, iya… jangan buang-buang waktuku. Lagian untuk apa kamu memilih gaun hanya untuk pertunangan kita? Kamu bisa memakai gaun-gaunmu yang lain kan?”

“Itu adalah hari yang istimewa. Oppa tidak mau melihat tunangannya terlihat menawan?” Yoon Ah tersenyum lembut.

“Jangan senyum ke arahku seperti itu. Senyumanmu tidak akan bisa meluluhkanku, senyumanmu berbeda dengan Young Ni atau  Yeon Ni.”

Yoon Ah kesal. “Araseo! Kenapa Oppa selalu membandingkanku dengan mereka?”

“Kamu tidak suka? Baiklah, kita batalkan saja pertunangan ini,” Jong Won keluar butik itu meninggalkan Yoon Ah yang menangis.

Oppa…!” Yoon Ah mengejar. “Mianhae Oppa! Aku janji tidak akan menuntut apapun dari Oppa. Hanya saja jangan tinggalkan aku. Jangan batalkan pertunangan kita.” Yoon Ah mengusap air matanya. “Baiklah Oppa, aku tidak akan menggunakan gaun baru. Jebalmianhae,eoh?

Ne…,” Jong Won mengusap airmata  yang  masih tersisa di pipi Yoon Ah. Ada sedikit rasa bersalah dalam hatinya karena ia memperlakukan Yoon Ah dengan kasar. “Uljima…  kamu jelek ketika menangis.”

Jinja?” Yoon Ah segera mengambil cermin kecil dari dalam tasnya.”AniaOppa, kajja ki…”

“Kamu pulang saja!”  Jong Won memotong. “Aku harus ke kantor sekarang.”

Araseo… hati-hati Oppa!”

Yoon Ah melambaikan tangannya mengiringi mobil Jong Won yang melaju kencang dijalanan. Ia menghela napas panjang. Selalu seperti ini, Jong Won selalu memperlakukannya seperti ini. Kenapa ia tidak bisa melupakan Young Ni yang sudah meninggal 2 ½ tahun lalu? Kenapa ia juga tidak bisa melupakan Yeon Ni yang mencampakanya hampir lebih dari  2 tahun yang lalu?

Gwaenchanha Yoon Ah-ya… mereka tidak mungkin kembali. Young Ni sudah meninggal dan Yeon Ni tidak akan kembali ke Korea karena ia malu akan dirinya yang cacat.” Yoon Ah berbicara sendiri. “Jong Won Oppa akan menjadi milikmu selamnya, tidak ada yang akan merebutnya darimu.”

Yoon Ah berjalan dengan anggunnya menuju halte bis. Setiap tatapan mata pria di halte bis itu tertuju padanya. Siapa yang tidak akan melakukan itu? Ia sangat cantik, sempurna. Kakinya jenjang, kulitnya putih, badannya sangat ideal, ia juga pandai berdandan. Sangat beruntung bagi pria yang bisa memilikinya.

ooOoOoo

 @Canada

Dong Hae bolak-balik memasuki ruangan direktur rumah sakit. Beberapa kali ia mengalami penolakan atas keinginannya untuk dipindahkan ke rumah sakit di Korea. Ia melakukan segala cara untuk membujuk direktur rumah sakit, yang juga seniornya saat di universitas, untuk mengabulkan permohonanya.

Come on Tony! Can I move to Korea? Please…,” Dong Hae memohon.

I can’t do that.Dong Hae-ya…” Tony  mencoba berbahasa korea walaupun tidak fasih. “Tidak semudah itu… harus ada permohonan dari pihak rumah sakit di Korea yang memintamu ke sana. Kamu tidak bisa pindah seenaknya.” katanya dengan nada suara yang aneh.

Hyeong bisa kan mencarikan rumah sakit di Korea  yang menginginkanku?”

I can’t… you’re a precious doctor in here. I don’t want you out from here.” Tony kembali  sibuk dengan beberapa berkas dimejanya.

OK… but I still want move to Korea. You can’t prevent me!”Dong Hae keluar dari ruangan itu dengan kesal.

ooOoOoo

Dong Hae mencoba berpikir, mencari cara untuk bisa  pindah ke  Korea. Ia tidak memiliki satupun teman yang bisa dimintai tolong di Korea. Apakah ia kabur saja? Atau ia harus memalsukan surat-surat permohonan pindahnya?

“Hey… kenapa Hyeong?” Kris mengagetkan Dong Hae.

“Sedang menikmati suasana sore saja!” kata Dong Hae lesu.

Kris mengeryitkan kening. “Tumben sekali… setahuku Hyeong tidak pernah duduk-duduk di halaman belakang rumah ini. Aku  sempat berpikir Hyeong tidak ada tadi.”

“Aku merindukannya.”

“Yeon Ni?”

“Emm…,” tatapan Dong Hae mengarah ke langit sore Canada.

Hyeong sungguh-sungguh mencintai Yeon Ni?”

“Tentu saja!” Dong Hae menatap Kris serius. “Aku tidak pernah main-main.”

Nearaseo! Jangan melotot gitu dong.

Mereka berdua akhirnya hanya terdiam. Dong Hae sibuk dengan pikirannya sendiri, sedangkan Kris bingung harus melakukan apa. Kris pun memilih untuk bersenandung sendiri dan membiarkan Dong Hae tetap bergelut dengan pikirannya sendiri.

“Kris… bagaimana caranya aku bisa berada di Korea sebelum Yeon Ni ulang tahun?”  Dong Hae memecah keheningan.

“Emm… gampang. Hyeong cuti saja, terus terbang ke Korea.”

“Tetapi aku tidak mau harus kembali lagi ke sini.”

Weo?”

“Aku akan melamar Yeon Ni.”

Morago?” Kris tidak menduga Dong Hae akan mengatakan itu. “Hyeong yakin?”

“Tentu saja… aku akan memintanya menjadi istriku saat ia ulang tahun nanti. Ketika ia menerimaku nanti, aku ingin menetap di sana dan hidup bersamanya.”

“Kalau dia menolak bagaimana?”

Dong Hae merasa  aneh dengan pertanyaan Kris. “Nde?”

“Seandainya  Hyeong… Yeon Ni kan masih muda. Mungkin ia belum siap.”

“Emm… aku akan tetap  ingin selalu di dekatnya. Jadi aku  harus pindah dari sini.” Kata Dong Hae mantap.

“Baiklah  Hyeong!” Kris memegang pundak Dong Hae. “Aku akan membantu Hyeong. Ini sebagai ucapan terima kasihku karena Hyeong bisa membuat Yeon Ni berjalan kembali.” Kris terdiam sejenak. “Dan juga, karena Hyeong mencintai Yeon Ni dengan tulus.”

Nde?” Dong Hae bingung.

“Aku senang  Yeon Ni mengenal Hyeong. Aku  yakin Yeon Ni juga sangat merindukan Hyeong dan menanti Hyeong dengan sabar di sana. Hyeong adalah nyawa Yeon Ni.”

“Yak… kamu sok tahu sekali sih?”

ooOoOoo

@Seoul, Korea Selatan

Yeoboseo!” Yeon Ni menjawab panggilan masuk  yang sedari tadi membuat ponselnya bergetar.

“Annyeongjagi” kata Dong Hae di seberang.

Oppa…. Marry Chrismas!”

Natal masih besok! Oppa sudah mengirimkanmu sesuatu… Oppa pastikan akan sampai tepat waktu, pada malam natal

Jinja? Oppa tidak perlu melakukan itu. Oppa mengucapakan selamat natal saja, aku sudah senang. Oppa sehat kan? Makan teratur kan? Tidur yang cukup kan?”

Ey…. Oppa ini dokter. I know everything about keep healthy.”

“Hahahaha…  mianhae Oppa! Karena Oppa mengirimi aku kado natal, aku akan mengirimi Oppa juga. Tapi maaf kalau telat. Seoul Canada kan jauh. Santa cuma pake rusa terbang, jadi sedikit terlambat.”

Emm… baiklah kalau memaksa. Oppa akan sabar menunggu Santa di sini.” Dong Hae terdengar bahagia dari  telepon.

“Sudah ya Oppa? Ada banyak pelanggan. Annyeong?”

Ne… i love you.”

Sambungan telepon terputus. Yeon Ni memasukkan ponselnya ke saku celana. Sejak ia tiba di Seoul, ia sudah memaksa ibunya untuk mengizinkannya membantu di café baru yang dikelola ibunya. Bukan hanya karena ibunya tidak mau melihat Yeon Ni mengalami masalah dengan kakinya nanti, tetapi ibunya tidak mau ia bertemu lagi dengan Jong Won. Beruntungnya, hingga saat ini Jong Won tidak pernah menampakkan diri.

Eomma!?” panggil Yeon Ni

“Ada apa jagi?” ibu terlihat sibuk  mengecek pekerjaan koki café.

“Aku izin keluar sebentar,eoh? Ada sesuatu yang harus aku beli.”

Ara… pergilah!Eomma tidak pernah memintamu untuk tetap di sini kan? Kamu bebas melakukan apapun.”

Gomawo Eomma,” Yeon Ni mencium pipi ibunya. “Saranghae…”

Yeon Ni sudah mengenakan pakaiannya yang  biasa, bukan seragam karyawan café. Ia harus pergi ke sebuah mall, Coex Mall. Ia baru saja mendapat informasi tetang barang yang sangat ia inginkan tersedia di sana. barang spesial itu khusus untuk Dong Hae.

Yeon Ni terus melirik jam tangannya, cuaca siang ini sangat teduh. Cuaca seperti ini sangat bagus untuk berpiknik di taman, atau bersepeda. Yeon Ni berharap, seandainya ia boleh bersepeda. Kemampuan kakinya saat ini sangat terbatas. Bisa berjalan seperti biasa pun sangat berharga bagi Yeon Ni. Dong Hae  sudah berusaha keras untuk membuatnya bisa berjalan lagi tanpa bantuan kursi roda atau tongkat, ia harus menjaga itu.

ooOoOoo

Jong Won meninggalkan apartementnya tanpa membawa mobil. Siang ini ia hanya ingin berjalan-jalan, menikmati cuaca yang teduh dan sejuk. Salju belum menampakkan tanda-tanda akan jatuh ke bumi. Angin juga bertiup dengan normal, tidak berniat menusuk tulang dengan dinginnya.

Setelah 2 kali berganti bis, tiba juga ia ditempat tujuan. Ki Bum  meneleponnya tadi pagi dan meminta untuk bertemu di café milik ibu Yeon Ni. Sudah lama ia tidak bertemu dengan adik satu-satunya itu. Beberapa bulan terakhir ini Ki Bum selalu keluar kota atau keluar negeri untuk menghadiri acara fashion internasional. Adiknya itu memang sangat sibuk dan bisa kemanapun sepuasnya. Tidak seperti  dia yang harus terkekang oleh Yoon Ah.

Jong Won menyebrang dengan tertib bersama pejalan kaki yang lain. Sekitar 200 meter lagi, ia akan tiba di café itu. Ia melewati sebuah halte bis tepat berbarengan dengan sebuah bis yang berniat menaik turunkan penumpang di sana.  Jong Won geleng-geleng kepala melihat para calon penumpang yang berebut naik.

“Permisi…,” kata seorang gadis dari antrian calon penumpang itu.

Jong Won menoleh ke arah sumber suara. Ia mengenali pemilik suara itu.  Ia mencari-cari pemilik suara, tetapi percuma. Ia tidak menemukannya. Jong Won masih penasaran. Hingga bis itu melaju meninggalkan halte bis itu, ia tetap melihat ke arah jendela bis.

“Yeon Ni?” Jong Won seperti melihat Yeon Ni di dalam bis. “itu…Yeon Ni kan?” bis itu melaju kencang meninggalkannya yang masih penuh tanda tanya.

Jong Won memasuki café milik ibu Yeon Ni. Ki Bum terlihat sedang berbincang dengan ibu Yeon Ni. Jong Won langsung mengambil tempat duduk. Ia masih penasaran dengan apa yang ia lihat tadi.

Hyeong… kapan datang? Tidak ada salam sama sekali,” Ki Bum menghampiri Jong Won.

Mianhae…” Jong Won segera berdiri dan memberi salam pada empunya café. “Annyeong haseyeo Ommoni.”

Gwaenchanha… kalian santai saja. Ommoni mau mengecek di dalam dulu,” ibu  Yeon Ni pergi.

Ki Bum menepuk pundak Jong Won yang kembali melamun. “Hyeong… ada masalah apa? kapan acara pertunanganmu dengan Yoon Ah Noona?”

“Aku tidak tahu. Semuany dia yang mengurus,” jawab Jong Won cuek.

Hyeong… kenapa Hyeong berubah seperti ini sekarang? Noona sangat baik pada Hyeong, tidak bisakah Hyeong bersikap baik padanya?”

Jong Won menatap Ki Bum serius. “Kurang baik apa aku sama dia? Aku menuruti keinginannya untuk menjadi yeojachingu-ku, dan sekarang kami akan bertunangan.”

Hyeong melampiaskan semuanya pada Noona!Hah… pantesan saja Yeon Ni meninggalkan Hyeong, Hyeong melampiaskan cinta Hyeong pada Young Ni ke Yeon Ni. Siapa yang tidak akan sakit hati,” Ki Bum mulai kesal juga.

“Jadi… kamu mau bertemu denganku karena mau  mengguruiku?” Jong Won terlihat marah besar.

Ki Bum menelan ludah. “Bukan begitu Hyeong… maksud utamaku, aku hanya mau memberitahu Hyeong kalau aku melihat Yeon Ni di bandara beberapa bulan yang lalu. Mungkin sekitar akhir Oktober.”

Mwo?” Jong Won ingin tahu lebih jauh. “Kenapa kamu baru memberitahu aku sekarang?”

“Aku baru sempat, dari kemarin aku harus bolak-balik Jepang!” Ki Bum terdiam. “Tetapi tadi aku bertanya pada ommoni, katanya Yeon Ni masih di Canada.”

“Aku melihatnya juga tadi!” kata Jong Won mencoba kembali tenang. “Ommoni pasti berbohong! Yeon Ni ada di Korea sekarang, aku yakin.”

“Lalu apa yang akan Hyeong lakukan? Hyeong dan Noona akan bertunangan, apa Hyeong akan membatalkannya?”

Jong Won hanya terdiam. Ia terlihat berpikir keras. Ki Bum hanya geleng-geleng kepala. Sejak Yeon Ni pergi, kakaknya ini berubah menjadi temperamental dan kasar. Buktinya ia tidak pernah memperlakukan Yoon Ah dengan baik.

ooOoOoo

From: My Soul

Honey… sorry I can’t call you!

Oppa sedang sibuk sekali. Dimalam tahun baru, Tony sunbae menugaskan Oppa  untuk piket T.T

Oppa tidak bisa meneleponmu. Mianhae

Happy New Year… Happy 2015! I LOVE YOU

Yeon Ni tersenyum membaca pesan dari Dong Hae. Ia harus segera membalasnya.

To: My Soul

Arraseo Oppa! Don’t worry about that…

Aku mengerti, nyawa orang harus didahulukan. Oppa kerja yang semangat…  FIGHTING!!!

Happ New Year too… bogoshipeo

Pesan terkirim. Pipi Yeon Ni memerah mengingat pesan yang baru saja ia kirim.

“Ey… ini anak  mikir yadong?” Kris menyentil kening Yeon Ni.

“Aaa… apheuda!” Yeon Ni mengelus keningnya yang kena sentil. “Oppa ada apa ke sini?” Yeon Ni mengambil nampan yang sempat ia taruh di meja kasir tadi.

Oppa kangen kamu,” Kris memaksa untuk memeluk Yeon Ni.

Oppaandwae! Dilihat pelanggan tuh.”

Kris menoleh ke arah yang Yeon Ni tunjuk. “Biarkan saja… aku kan  Oppa-mu. Tidak boleh?”

“Malu Oppa… nanti mereka berfikir yang tidak-tidak.”

“Kamu yang berfikir aneh… tidak boleh Oppa memeluk dongsaeng kesayangannya?”

Yeon Ni berpikir sejenak. “Boleh deh… tapi sebentar saja.”

Ara…,” Kris memeluk Yeon Ni erat kemudian mengangkatnya.

Aaaa…,” semua pelangan café terheran-heran melihat kelakuan mereka. “Oppa…  turunkan!”

“Baiklah…,” Kris mencubit pipi Yeon Ni. “Kamu ini sudah hampir 22 tahun masih saja bikin Oppa gemes.”

Oppa yang aneh… aku bukan anak kecil lagi. Kenapa Oppa selalu memperlakukanku seperti ini?”

“Kita keluar yuk!!! Untuk apa kamu bekerja di malam tahun baru? Nanti aku meminta izin pada ahjumma untuk mengizinkanmu cuti kerja malam ini. Lihat pengunjung café tidak banyak.”

Kriiing…! Pertanda ada pelanggan café yang datang. Seorang pelayan café menyambutnya. Kris menoleh ke arah pintu masuk café.

Oppa… aku harus bekerja.”  Yeon Ni mengambil daftar menu dan berniat melayani pelanggan tersebut.

Andwae…,” Kris menghalangi.

Weo Oppa?” Kris menghalangi pendangannya.

“Kris?” panggil seseorang.

Perlahan Kris membalik badannya agar Yeon Ni tetap tidak terlihat. “Oh… Jong Won Hyeong. Annyeong haseyeo,” Kris menundukkan kepalaya, sebagai sopan santun.

Mwo?” ucap Yeon Ni tanpa suara. Ia segera merapat dirinya di belakang Kris.

“Sedang apa kamu di sini?” tanya Jong Won

“Oh… aku hanya berlibur dan ada urusan pekerjaan di sini!” Kris nyengir kuda. Ia juga memberi isyarat pada Yeon Ni untuk segera pergi. “Hyeong… sepertinya temanmu memanggil”

Chingu?” Jong Won penasaran dan menoleh ke belakang.

Gomawo,Oppa!” bisik Yeon Ni. Ia segera masuk ke dapur.

Mianhae  Hyeong… ternyata salah orang. Bagaimana kabar Hyeong?”

“Baik… emm, Yeon Ni? Apakah ia sudah kembali ke sini? Apa ia bisa berjalan lagi?”

Ania… Yeon Ni masih di Canada. Ia sudah bisa berjalan lagi,  tetapi belum sempurna. Jadi butuh perawatan lebih lanjut.”

Jong Won terlihat sedih. “Apa ia sudah menemukan orang yang ia cintai?”

Nde?” Kris kaget dengan pertanyaan Jong Won.ia tertawa kecil. “Setahuku, ia sudah menemukannya. Namanya Lee Dong Hae, ia seorang dokter. Ia sangat mencintai Yeon Ni, begitu juga sebaliknya.” Kata Kris blak-blakan. “Aku rasa dalam waktu dekat ini Dong Hae akan melamarnya.”

“Oh… begitukah? Syukurlah… aku senang Yeon Ni bahagia,”

Of course…

“Sepertinya ommoni tidak ada, sebaiknya aku pulang saja.” Jong Won mengalihkan pembicaraan.

Ahjumma ada di rumah sekarang. Aku dimintai tolong untuk mengawasi café sebentar.” bohongnya lagi.

“Baiklah… aku pergi. Selamat tahun baru!”

Ne, Hyeongannyeong!” Jong Won keluar dari café, Kris segera menghela napas. Ia merasa sedikit keterlaluan tadi. Akahkah Jong Won menyadari kalau ia berbohong?

ooOoOoo

Sejak pagi Yeon Ni sibuk di café. Ia hampir harus berlari untuk segera melayani pelanggan yang datang. Beberapa kali ibunya melarang ia berlari atau bekerja berat karena kondisi kakinya itu, tetapi Yeon Ni acuh tak acuh. Ia terlalu menikmati kegiatannya itu.

Eomma… ini tanggal berapa? Supplier menanyakan akan mengirim barang tanggal berapa?”

“Kamu lihat saja sendiri sana.” Ibunya sibuk melayani pelanggan yang akan membayar.

Ne…”

Yeon Ni berlari ke ruang kerja ibunya.  Sebuah kalender terpampang didindingnya. Yeon Ni segera menuju ke tempat kalender itu berada. ‘Maret 2015’ begitu yang tertera di halaman kalender itu. Ada sebuah lingkaran merah yang menandai tanggal di kalender itu.

“Sudah Maret ya? 3 Maret lusa?Hahahaha… tidak terasa juga.” Yeon Ni berbicara sendiri.

“Yeon Ni-ya… cepat kemari!” teriak ibunya.

NeEomma!” Yeon Ni segera menemui ibunya di meja kasir. “Ada apa  Eomma?”

“Itu…,” ibu menunjuk seorang pemuda yang baru masuk dan terlihat kebingungan.

“Siapa dia, Eomma?” Yeon Ni melihat dari ujung rambut hingga ujung kaki pemuda itu. “Apa ia teroris, Eomma?”

“Sudah… kasihan dia tuh!” ibunya mendorongnya.

Yeon Ni perlahan dan ragu-ragu mendekati ibu itu. Pemuda itu terlihat sangat mencurigakan dengan jaket hitamnya, topi hitam dan masker hitam yang hampir menutupi seluruh wajahnya kecuali mata. Pemuda itu hanya celingukan seperti pencuri.

“Permisi… selamat datang! Ada yang bisa saya bantu?”

Pemuda itu berbalik ke arah Yeon Ni dan langsung memeluknya. “Aaahhh… bogoshipeo!”

“Yak…,” Yeon Ni mendorong pemuda itu sekuat tenaga. “Nappenum….!” Ia menendang tulang kering pemuda itu.

“Auch… Neomu apheuda. Jaginaega wae?”

Morago? Nugu?!!!!” bentak Yeon Ni. Ia mungkin mengenali pemuda itu.

Pemuda itu melepas topi dan masker di wajahnya. “Honey… it’s me!

Omo…,” Yeon Ni kaget setengah mati. “Oppa… Dong Hae Oppa?Aa, mianhae. Habis Oppa mencurigakan sekali.” Yeon Ni segera menarik Dong Hae dan mempersilahkannya duduk. “Yang sakit mana? Mianhae…

“Kamu ini masih saja galak,” Dong Hae bersin. “Oppa kena flu setiba di sini, makanya Oppa berpakaian seperti ini.”

Oppa kenapa tidak bilang kalau mau ke Korea? Aku kan bisa menjemput Oppa di bandara.” Yeon Ni memberi isyarat, memanggil pelayan.

“Haccih… ini adalah supprise!

“Ey… kejutan apaan?” Seorang pelayan membawakan secangkir minuman. “Ini Oppa… teh hijau! Mungkin bisa meredakan flu Oppa.

Gomawo!” Dong Hae meminum seteguk. “Bogoshipeoseo!”

Na ttoneomu bogoshipeo. Oppa berapa lama mengambil cuti?”

Dong Hae tersenyum senang. “Oppa akan menetap selamanya di sini.”

Jinja?” Yeon Ni tidak kalah senangnya. “Tapi? Oppa tidak…”

AniaOppa dipindahkan dengan baik. Rumah sakit pusat Seoul meminta Oppa untuk bekerja di sana. Kris memang hebat.”

Nde?” Yeon Ni tidak mengerti.

“Kris yang membantu Oppa untuk pindah ke sini…”

“Kris Oppa memang jjang!” Yeon Ni terdengar bersemangat menyebut nama Kris.

“Kris saja yang begitu? Oppa bagaimana?”

Saranghae…,” Yeon Ni membentuk tanda hati melingkar di atas kepalanya.

ooOoOoo

Hari kedua Dong Hae di seoul, ia terlihat sedikit membaik. Ia menggandeng tangan Yeon Ni erat.  Yeon Ni menjelaskan setiap tempat yang mereka kunjungi. Mulai dari Apgujeong, jembatan Banpodaegyo, Myeondoeng, Insadong, hingga istana Chandoekgung, dan masih banyak tempat-tempat lainnya. Intinya hari ini mereka berniat  menghabiskan waktu bersama.

Di istana Chandoekgung hari sudah sore, tetapi mereka belum terlihat lelah.

Oppa… istana ini indah kan?” Yeon Ni duduk di beranda salah satu bangunan istana itu.

Neyeppeo!” Dong Hae menatap Yeon Ni lekat-lekat.

Yeon Ni yang tidak menyadari dirinya diperhatikan oleh Dong Hae sedang menikmati suasana tenang sore itu. Angin semilir meniup lembut rambutnya. Yeon Ni memejamkan mata dan menikmati semuanya. Dong Hae hanya memperhatikan apa yang dilakukan Yeon Ni dan terkadang tersenyum melihat tingkah Yeon Ni. Lama mereka terdiam. Yeon Ni terlalu larut dalam suasana di istana itu, dan Dong Hae larut akan keindahan wajah Yeon Ni.

“Wah… aku tidak mau pulang. Aku betah di sini… kalau Oppa bagaimana?” Yeon Ni membuka matanya dan menunggu jawaban Dong Hae. “Oppa?” Yeon Ni menoleh dan mendapati Dong Hae menatapnya. “Oppa…. Ada apa? Ada yang aneh lagi denganku?”

Nde?” Dong Hae tersadarkan. “AniaOppa juga mau kita terus seperti ini.”

Oppa berbicara apa sih? Ngelantur… kajja pulang! Oppa lapar tidak? Kita makan soondubu jiggae, ddukbokkie, dakjuk, hoedeok, bulgogi, atau bibimbap?” Yeon Ni mencoba mengingat semua makanan khas Seoul. “Oppa mau yang mana?”

“Hahahahah…,” Dong Hae tertawa. “Kamu cerewet sekali hari ini,” Dong Hae menarik hidung Yeon Ni. “Dari pagi mengoceh ini itu seperti guide, sekarang seperti waitress.

Oppaapheuda! Oppa lapar tidak?”

Ne,jagikajja!”

ooOoOoo

Oppa… ayolah!Sudah lama kita tidak berkencan,” rengek Yoon Ah pada Jong Won.

“Kamu ini seperti anak kecil saja. Aku tidak bisa, aku ada banyak pekerjaan.” Jong Won menarik paksa tangannya yang dirangkul Yoon Ah. “Kamu pergi saja sendiri!!!”

Oppajebal!” mata Yoon Ah berkaca-kaca.

“Baiklah… aku akan mengantar ke mana pun kamu mau!” Jong Won mengalah.

Yoon Ah kembali tersenyum. “Gomawo Oppa!”

Jong Won dan Yoon Ah melaju di jalanan dengan mobil berwarna merah milik Jong Won. Yoon Ah tidak henti-hentinya tersenyum dan melihat ke arah Jong Won. Jong Won sudah dipastikan acuh tak acuh, ia membiarkan saja Yoon Ah senang akan pikirannya sendiri.

“Sudah sampai…,” kata Jong Won setelah merapatkan mobilnya di trotoar jalan.

Mwo?”

“Kita sudah sampai! Bukannya kamu mau makan malam? Ini tempat yang aku rekomendasikan.”

Mereka berdua berhenti tepat di seberang sebuah restauran tradisional yang menyediakan menu khas makanan tradisional Korea di sekitar daerah taman Hangan. Yoon Ah hanya menatap ke arah restauran itu tidak mengerti. Jong Won keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Yoon Ah.

Oppa… aku tidak mengerti,” kata Yoon Ah polos. Ia keluar dari mobil.

“Silahkan turun, pergi ke restauran itu dan makan di sana. Ara?” Jong Won menutup pintu mobil itu dan melangkah menuju sisi di mana setir mobil berada.

“Lalu Oppa? Bukannya kita akan makan malam bersama?”

Jong Won tersenyum licik. “Aku kan hanya bilang akan mengantarmu ke mana pun kamu mau. Sekarang aku sudah mengantarmu. Beres kIan? Aku ada urusan di kantor,” Jong Won masuk ke dalam mobil.

Oppa!” Yoon Ah berusaha membuka pintu mobil, tetapi percuma. “Oppa…”

Annyeong…,” Jong Won melambaikan tangannya dan meninggalkan Yoon Ah begitu saja.

Yoon Ah melongo. “Yak… Kim Jong Won, tunggu aku!!!” mobil Jong Won melaju kencang meninggalkannya. “Ah… nappenum! Kenapa Oppa selalu melakukan ini padaku?”

Disisi lain, Yeon Ni dan Dong Hae turun dari bis.

Oppa… cepatlah! Aku sudah lapar sekali,” Yeon Ni menarik tangan Dong Hae agar lebih cepat berjalan.

“Kamu ini…,” Dong Hae hanya tersenyum. “Kalau memang lapar, kenapa  tidak makan di sekitar tempat tadi saja?”

“Tidak bisa…,” Yeon Ni bertingkah seolah ia seorang guru. “Karena Oppa baru kembali ke Korea lagi setelah sekian lama, Oppa harus makan makanan khas Korea dulu. Dan… restauran yang paling enak ada di sini.”

Dong Hae hanya mengiyakan. “Baiklah jagi… aku menurut saja.”

Kajja Oppa! Palli wa!”

“Jangan lari-lari dan jingkrak-jingkrak!”  Dong Hae tetap siaga.

Yeon Ni hanya tertawa dan meninggalkan Dong Hae. Ia terus saja tertawa dan berusaha membuat Dong Hae tetap senang. Hingga akhirnya ia berjalan mundur dan menabrak seseorang.

“Ah… mianhamnida!” Yeon Ni segera meminta maaf. “Jeongmal miannata.

“Kalau jalan yang benar! Kayak anak kecil saja, main-main,” orang itu marah.

Dong Hae segera menyusul Yeon Ni yang terlihat dalam masalah. “ Yeon Ni-ya! Gwaenchanha?”

Ne Oppa… hanya saja aku menyakiti Eonni ini!” kata Yeon Ni menunduk, karena merasa bersalah.

Sorry… Yeon Ni tidak sengaja. Mohon dimaafkan,” Dong Hae juga meminta maaf.

Gadis itu mengernyitkan kening, “ Yeon Ni?”

Nde?” Yeon Ni melihat ke arah gadis itu.

“Kamu Choi Yeon Ni?” tanya gadis itu lagi.

Ne… choi Yeon Ni imnida. Anda mengenal  saya?”

Gadis itu tertawa kecil. “Annyeongjeoneun Im Yoon Ah imnida.”

Nde?”Yeon Ni bingung. Ia melihat ke arah Dong Hae, meminta bantuan.

“Kamu kenal Kim Jong Won kan? Aku tunangannya. Kami telah bertunangan Januari kemarin,” kata Yoon Ah dengan bangga

“Oh… tunangan Jong Won Oppa! Selamat…,” kata Yeon Ni tersenyum.

Nugundae?” Yoon Ah ingin tahu

“Lee Dong Hae imnida… tunangannya Yeon Ni.”

Oppa?” Yeon Ni kaget.

“oh…. Kalian terlihat serasi. Emm… kalian akan makan di restauran ini? Ayo kita makan malam bersama. mungkin kita bisa berbagi cerita,” Yoon Ah menarik tangan Yeon Ni.

Dong Hae dan Yeon Ni hanya saling menatap dan bingung harus bagaimana. Akhirnya mereka ber-3 makan malam bersama. Yoon Ah terlihat antusias bercerita tentang dia dan Jong Won.  Tanpa canggung sedikit pun Yoon Ah menanyakan semua hal yang diketahui Yeon Ni tentang Jong Won. Yeon Ni sesekali menatap Dong Hae ketika Yoon Ah melontarkan pertanyaan tentang Jong Won. Dong Hae hanya tersenyum sopan. Dan Yeon Ni merasa bersalah akan itu.

ooOoOoo

Sejak keluar dari restauran itu, Yeon Ni dan Dong Hae hanya terdiam. Dong Hae sibuk dengan pikirannya sendiri dan Yeon Ni sibuk memikirkan apa yang sedang dipikirkan Dong Hae sekarang. Hingga sampai di sebuah halte bis dan menunggu bis, mereka tetap terdiam. Mereka duduk berdekatan menunggu bis, Dong Hae tidak menggenggam tangan Yeon Ni seperti biasa.

Setelah 5 menit menunggu bis  dan terus terdiam, Dong Hae pun berdiri dan hendak pergi.   Yeon Ni segera menahan Dong Hae, ia menarik ujung sweater Dong Hae

Oppa… mau ke mana? Jangan tinggalkan aku,” kata Yeon Ni, ia terdengar sedih.

Oppa hanya ingin membeli kopi hangat. Kamu tunggu saja, eoh?” Dong Hae tersenyum

Ragu-ragu Yeon Ni melepas tangannya yang menahan Dong Hae. “Aku tidak suka kopi, Oppa?”

Arayeo… tenang saja!”  Dong Hae menarik hidung Yeon Ni pelan.

Beberapa menit kemudian Dong Hae kembali dengan 2 buah gelas minuman hangat. Segelas kopi untuknya dan segelas coklat panas untuk  Yeon Ni. Tepat setelah ia mencapai halte, sebuah bis datang. Sepanjang perjalanan mereka kembali terdiam. Hangat dari minuman yang mereka minum tidak terasa sama sekali. Keheningan diantara mereka membuat cuaca menjadi semakin dingin.

Oppamianhae!” Yeon Ni kembali memecah keheningan antara mereka berdua setelah turun dari bis. “Joengmal mianhae??!”

Nde?” Dong Hae mencoba mencari penjelasan. “Minta maaf atas apa?”

“Selama ini aku berbohong pada Oppa. Aku tidak pernah menceritakan tentang Jong Won pada Oppa,” Yeon Ni tidak berani menatap Dong Hae. “Aku ingin melupakan Jong Won Oppa. Dia adalah masa lalu yang kelam. Aku sama sekali tidak mau mengingatnya,” Yeon Ni meneteskan air mata, langkah kakinya terhenti. “MianhaeOppa!”

Dong Hae yang 3 langkah di depan Yeon Ni memutar badan dan menghampiri Yeon Ni. “Gwaenchanha,” Dong Hae memeluk Yeon Ni. “Oppa tidak menyalahkanmu. Oppa mengerti kalau kamu memang tidak mau membahasnya.”

“Aku membencinya Oppa… sangat membencinya!” tangis Yeon Ni meledak.

Uljimauljimaseyeo! JebalOppa tidak bisa melihatmu menangis. Jebal uljimaseyeo!” Dong Hae mengelus rambut Yeon Ni pelan.

Mianhae Oppa! Aku mencintai Oppa. Oppa jangan tinggalkan aku. Jangan membenci aku.”

Oppa tidak menyalahkanmu. UljimaOppa sangat mencintaimu. Kamu adalah nyawa Oppa. Oppa percaya padamu. Yeon Niya, you’re my everything. Don’t cry, please!

ooOoOoo

Dong Hae berdiri di depan cermin kamar mandinya. Ia menyikat giginya perlahan.  Pikirannya tertuju pada sebuah nama, Kim Jong Won. Apakah yang terjadi diantara Yeon Ni dan Jong Won itu? Kenapa  Yeon Ni tidak pernah menceritakannya padanya? Yeon Ni bukan tipe orang yang akan menutup sesuatu. Ia selalu menceritakan apapun padanya. Yeon Ni bahkan menceritakan tentang Young Ni, saudara kembarnya, yang telah meninggal.

Ania Dong Hae-ya…,” setelah berkumur ia menatap dirinya lekat-lekat di cermin. “Yeon Ni pasti punya alasan yang kuat kenapa ia tidak menceritakan tentang Jong Won. Kamu harus mempercayakan semuanya pada Yeon Ni. Yeon Ni tidak akan menghianatimu.”

Dong Hae mencuci mukanya dan berjalan ke tempat tidur. Sekarang untuk sementara, ia tinggal di sebuah rumah dinas yang disediakan oleh rumah sakit. Semua hal yang ada di Seoul tidak berubah jauh. Kenangnya tentang masa kecilnya di Seoul kembali muncul.

10 tahun yang lalu, saat ia menginjak kelas 2 SMA, orangtuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Ia seorang anak tunggal yang akhirnya harus hidup sendiri. Ia anak yang cerdas, dan mampu mendapatkan beasiswa untuk kuliah kedokteran di Canada. Ia dapat menyelesaikan seluruh pendidikannya sebagai dokter dan dokter spesalis orthopedic selama 7 tahun. Selama di Canada  orangtua Tony, direktur rumah sakit di Canada, mengangkatnya sebagai anak. Sejak ia di Canada, ia tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di korea.

ooOoOoo

Yeon Ni terlihat sedang senam pagi ringan di halaman belakang rumah. Entah kenapa pagi ini ia sangat ingin berolah raga sambil menghirup udara pagi yang segar dan cukup dingin. Daun-daun terlihat ikut melambai mengikuti gerakannya. Beberapa tetes embun bergantung di ujung daun seolah tidak rela untuk jatuh ke tanah. Kumbang dan kupu-kupu terbang ke sana kemari, dari bunga yang satu ke bunga yang lain. Taman belakang rumahnya memang dipenuhi oleh bunga-bunga yang indah dan wangi.

“Yeon Ni-ya… ada telepon!” teriak ibunya dari dalam rumah.

Ne, Eomma… tunggu sebentar!” Yeon Ni berjalan santai menuju ruang keluarga, tempat telepon rumah berada. “Dari siapa Eomma?” tanya Yeon Ni

Ige… dari Dong Hae! Eomma mau menyiapakan sarapan dulu,” Ibu pergi ke dapur.

Gomawo Eomma!” telepon itu berpindah ke tangannya. “Yeoboseo?”

“Good morning…,”kata Dong Hae di seberang. “Tumben pagi-pagi sudah bangun. Kenapa ponselmu tidak dijawab?”

Yeon Ni tertawa kecil. “Ponselku ketinggalan di kamar. aku hanya berolah raga sedikit Oppa! Otot-ototku mulai kaku, harus dilatih.”

Baguslah kalau begitu… pagi ini kamu ada acara,eoh?

“Pagi ini?” Yeon Ni mencoba mengingat. “Aahh… mian Oppa! Jam 9 ini aku ada rencana ke suatu tempat. Emm… Oppa mau ikut?”

Oh… ania! Kalau begitu lain kali saja… tetapi setelah itu kamu tidak ada acara kan?”

Ne… aku free! Memang Oppa mau mengajak aku ke mana pagi ini?”

Ke suatu tempat… tetapi bisa kapan-kapan kok. Sepertinya rencanamu pagi ini lebih penting,”Dong Hae diam sejenak. “Baiklah…. nanti sore Oppa jemput! Oppa juga ada kejutan untukmu.”

Yeon Ni mengerutkan kening. “Apa Oppa?”

Rahasia… annyeong.Dong Hae menutup telepon.

Yeon Ni bingung. Apa yang akan ditunjukkan Dong Hae padanya? Ting… tong! Bel rumah berbunyi. Yeon Ni segera membukakan pintu. Seorang tukang pos berdiri di depan pintu rumahnya dengan 2 buah bingkisan yang besar. Setelah menandatangani bukti penerimaan, dengan susah payah Yeon Ni membawa masuk bingkisan itu.

Annyeong putri kesayanganku… saengil…”

Appa…,” Yeon Ni memotong. “Bantu aku!”

“Oh ne… dari siapa kado ini?”

“Tidak tahu… tapi…,” Yeon Ni mencoba melihat asal pengiriman kado itu. “Dari Kris Oppa dan Tao!” Yeon Ni senang bukan main.

Beberapa menit kemudian, kedua kado itu sudah terbuka. Kris memberikannya bola  Kristal yang sangat besar, sebesar bola voli. Bola itu persis seperti milik peramal-peramal itu. Ayah dan ibu Yeon Ni heran melihat kado dari Kris.

“Maksudnya apa?” ibunya ingin menghilangkan rasa penasarannya.

Yeon Ni tertawa, “Kris Oppa memang aneh. Saat malam tahun baru kemarin, kami berjalan-jalan dan bertemu peramal. Aku sempat bilang seandainya punya bola ramalam seperti itu. Ternyata Kris Oppa membelikan aku. Dasar aneh!”

Ayah Yeon Ni menemukan sebuah kartu ucapan. “Happy birthday to my lovely little sister! I bought you a crystal ball, like you want xixixi… Hope you can be a good diviner (peramal),” ayah Yeon Ni bingung, semakin bingung.

Sedangkan Tao memberikannya sebuah boneka panda sebesar anak umur 5 tahun. Yeon Ni, ayah dan ibu Yeon Ni tertawa karena di baju yang dikenakan panda itu ada foto Tao. Secarik kartu ucapan terselip di sana dan bertuliskan ‘Noona… If you miss me, hug this panda! Saengil chukka hamnida.’

ooOoOoo

Eonni…. Saengil chukka hamnida!” Yeon Ni menaruh sebuquet bunga tulip hitam kesukaan Young Ni di atas makamnya. “Bogoshiposeo, Oenni! Lihat Eonni… aku bisa berjalan lagi. Semuanya berkat Dong Hae Oppa. Eonni, aku merasa bersalah padanya. Apakah benar kalau aku menutupi tentang Jong Won Oppa darinya?”

Yeon Ni duduk dan membelai nisan Young Ni. “Eonne… Jong Won Oppa masih ada di sini,” Yeon Ni menunjuk dadanya. “Ia masih tinggal di sisi gelap hatiku. Aku tidak bisa menyingkirkannya. Aku tidak bisa melupakannya. Eonni… apa yang harus aku lakukan jika ia muncul lagi? Aku tidak mau Dong Hae Oppa tersakiti nantinya dan mungkin orang lain juga akan terluka. Ottheokae Eonni?” tanpa ia sadari  air mata mengalir dipipinya.

“Yeon Ni?” panggil seseorang di belakang Yeon Ni.

Yeon Ni menoleh. “Nde?”

ooOoOoo

To be continued….