Tags

,


Don't Love Me Like That

Title                       : Don’t Love Me Like That

Author                  : Choi Chan Yeon/ Yunn Wahyune

Length                  : One Shoot

Rating                   : PG13

Genre                   : Romance, Sad

Main casts          : Choi Yeon Ni (OC)| Choi Young Ni (OC)| Kim  Jong Woon (Yesung)

Support casts     : Kim Ki Bum (Key)| Im Yoon Ah| Kris Wu

Warning              : Typo bertebaran dan ada adegan yang mungkin tidak disukai (bukan yadong)

Summary:

“Aku mungkin adalah dia. Tetapi tolong cintailah aku, karena aku adalah diriku sendiri.”

AN                          :

Aku bingung mau berbicara apa. Salam kenal dan semoga menyukai FF ini. Oh, FF ini ada sequelnya –bagi yang menginginkan- karena ini FF lama banget dan pernah dipublis di suatu tempat sebelumnya. Setelah mengalami perbaikan EYD –entah benar apa tidak, aku titip di sini. Hehehehe…!Selamat membaca! FF ini original milik author (yunsungallery[dot]wordpress[dot]com)

ooOoOoo

Choi Young Ni sudah menjalin hubungan selama 3 tahun dengan Kim  Jong Woon. Keluarga dari kedua belah pihak sudah sangat menyetujui hubungan mereka. Tepat 4 bulan yang lalu mereka bertunangan dan 2 bulan lagi mereka akan menikah. Keduanya sangat sibuk mengurusi persiapan pernikahan mereka. mereka sudah jarang makan bersama, ataupun berkencan seperti dulu. Keduanya sibuk dengan urusan masing-masing.

Oppa!” Young Ni menyambut Jong Woon di pintu masuk.

NeJagi? Aku capek sekali.”

Young Ni membantu melepaskan jas Jong Woon. “Sampai kapan Oppa mau sibuk? Sebentar lagi kita mau menikah kan?” Young Ni manja

AraOppa juga tetap mengurusi semuanya. Tetapi pekerjaan kantor juga tidak bisa ditinggalkan,” Jong Woon merebahkan diri di sofa.

Young Ni menaruh jas Jong Woon di kamar. “Hari minggu besok Oppa sibuk? Temani memilih gaun pernikahan, eoh? Oppa juga harus memilih setelan tuxedo kan?”

MianhaeOppa akan ke luar kota akhir pekan ini. Kamu saja yang pilih, Oppa menurut saja,” Jong Woon memejamkan mata.

“Tidak bisa diwakili saja ke luar kotanya?” Young Ni cemberut. “Aku harus meminta pendapat siapa kalau begitu? Eomma  tidak mungkin bisa. Tidak mungkin ia meninggalkan bakery. Aku tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa diajak.”

Jong Woon duduk. “ Jagi… nanti Oppa meminta  Ki Bum yang menemani. Dia kan paling kritis masalah gaun dan sejenisnya.”

Shireo… yang mau menikah denganku siapa, eoh? Oppa apa Ki Bum?” Young Ni masuk ke kamarnya dan membanting pintu.

“Young Ni-ya… dengarkan Oppa sekali saja,”  Jong Woon mengetuk pintu.

ShireoOppa pergi saja sana! Biar aku yang urus semua!” dengan nada marah.

“Young Ni-ya… mianhae!” Jong Woon menghela napas.

Jong Woon sangat lelah malam ini.  Pekerjaan di kantor membuatnya pusing.  Ia berharap Young Ni bisa membuatnya lebih baik. Sayangnya, Young Ni malah semakin membuat ia pusing. Dengan lunglai Jong Woon masuk ke kamarnya. Ia dan Young Ni tinggal di apartemen yang sama sejak 6 bulan yang lalu. Namun mereka tidur di kamar yang terpisah. Ini semua ide ibu Jong Woon, katanya dengan tinggal serumah hubungan mereka akan semakin dekat.

ooOoOoo

Sudah 2 hari Young Ni uring-uringan di rumah. Ia selalu sendiri karena Jong Woon sedang keluar kota. Jong Woon tidak pernah menghubunginya sejak ia keluar kota, dan itu membuat Young Ni kesal. Beberapa kali Ki Bum –adik Jong Woon- datang dan menawarkan diri untuk menemaninya. Tetapi tetap saja Young Ni kesal.

“Young Ni-ya…,” Ki Bum datang dengan pizza di tangannya

Nde?” jawab Young Ni acuh tak acuh.

Ki Bum menaruh pizza di meja. “Young Ni-ya, waegerae? Kesal sama Hyeong?”

Ania!” Young Ni pura-pura membaca majalah.

Hyeong belum mengabarimu? Jangan-jangan…,” Ki Bum membekap mulutnya sendiri.

Young Ni segera menutup majalahnya. “Mwo? Jangan-jangan apa?”

Aniaania,” Ki Bum nyengir. “Obseoyeo… Young Ni-ya sabar saja,  eoh?. Hyeong pasti pulang. Hyeong terlalu sibuk sehingga tidak mengabarimu.”

“Sudahlah… jangan membicarakan dia. Membuat sakit hati.”

“Betul Young Ni-ya… emm, aku pulang dulu. Kamu makan ini saja tidak apa-apa?”

Negomawo.

ooOoOoo

Tluittt….!Terdengar ada yang membuka pintu. Young Ni mencoba untuk tidak peduli. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Jong Woon.

“Aku pulang!”

Ne,”  Young Ni bergeming dari posisinya.

“Kamu tidak mau menyambut Oppa dengan pelukan?” Jong Woon merentangkan tangannya.

Shireo… buat apa?”

“Ya sudah… Oppa mau istirhat dulu,eoh?” Jong Woon berjalan ke  kamarnya.

Young Ni kesal sendiri di ruang tamu. Bantal sofa yang tidak bersalah  ia pukuli. Ia mengomel sendiri dengan suara pelan. Sesekali ia sengaja melempar bantal sofa ke lantai dan menginjak-injaknya, sedikit menimbukkan suara. Harap-harap cemas, Young Ni berharap Jong Woon keluar dari kamar dan  membujuknya. Sayangnya nihil. Tidak ada respon.

Oppa!” Young Ni masuk ke kamar Jong Woon.

“Emm…”

“Bisa bangun sebentar?” Young Ni berdiri di samping tempat tidur Jong Woon. “Otthe? Bagus tidak?” Young Ni memamerkan gaun pengantinnya.

Ne…,” jawab Jong Woon tanpa membuka mata.

“Yak… Kim  Jong Woon. Mau kamu apa, eoh? Kamu sudah tidak  cinta lagi denganku?”

Jong Woon bangun. “Jangan  panggil  Oppa seperti itu. Oppa capek! kamu tahu? Proposal Oppa ditolak. Oppa bingung harus bagaimana sekarang.”

“Ooo…jadi pekerjaanmu lebih penting dari aku? Algesseoyeo…nikah sama pekerjaanmu saja sana,” Young Ni marah.

Jong Woon berdiri berhadapan dengan Young Ni. “Jangan panggil Oppa seperti itu. Itu tidak sopan,” Jong Woon memegang kedua pundak Young Ni. “ Kita bicara lagi besok ya,Jagi? Oppa butuh istirahat.”

Shireo…kamu memang tidak mencintaiku lagi. Kamu pasti selingkuh kan?” Young Ni berlari keluar kamar.

Jong Woon memagang tengkuknya. Young Ni benar-benar menguji kesabarannya. Ia tidak berniat mengejar Young Ni. Untuk malam ini, ia akan membiarkan Young Ni tenang dulu.

ooOoOoo

Pgi-pagi sekali, Jong Woon sudah ada di dapur. Ia  berencana membuat Young Ni senang hari ini. Ia akan membuat makanan kesukaan Young Ni dan mengajaknya kencan. Jong Woon tersenyum sendiri membayangkan bagaimana senangnya Young Ni nanti. Bagaimana Young Ni akan sangat manja padanya. Memikirkan itu semua membuat stresnya hilang.

Klek…! Young Ni keluar dari kamarnya dengan mata sembab. Jalannya sedikit sempoyongan karena ia belum terbangun betul. Jong Woon segera menghampiri dan menuntunnya menuju meja makan.

“Mau makan apa, Jagi?” kata Jong Woon halus.

Young Ni menjawab ketus. “Aku tidak lapar!”

“Jangan begitu… Oppa sudah memasak makanan kesukaanmu.”

“Aku bilang aku tidak lapar. Oppa jangan memaksa begitu!” bentak Young Ni

Jebalmianhae! Oppa janji tidak akan seperti itu lagi. Tidak  ada yang lebih penting di dunia ini selain kamu. Oppa sangat mencintaimu. Lihat, kamu pasti menangis tadi malam. Melihat kamu seperti ini hati  Oppa sakit”

Oppa pikir  hatiku juga tidak sakit? Oppa lebih memilih pekerjaan dari pada aku. Oppa tidak seperti ini dulu,” Young Ni mulai menangis. “Aku tidak mau Oppa melupakan aku. Aku tidak mau Oppa mengacuhkan aku.”

Jong Woon segera memeluk Young Ni. “Mianhaemianhae! Uljima, jebalOppa memang salah. Oppa tidak akan melupakanmu atau mengacuhkanmu. Uljima…”

Oppa…,” Young Ni terisak dalam pelukan Jong Woon. “Apakah Oppa tidak mencintaiku lagi? Apa karena aku ini jelek makanya Oppa mau meninggalkan aku?”

Saranghae… tidak ada yeoja secantik dirimu di mata Oppa. Oppa tidak akan meninggalkanmu. Kamu adalah  nyawa Oppa. Saranghae.”

Gomawo Oppasaranghae!” Young Ni memeluk erat Jong Woon.

ooOoOoo

Yeoboseyeo?” Young Ni menelepon Jong Woon. “Oppa! Aku sudah sampai. Oppa odiseoyeo?”

Oppa di tempat biasa. Oppa tunggu… apa Oppa jemput? Neo odiga?”

“Emm… ania Oppa. Oppa tunggu saja.”

“Ne…,” menutup telepon.

Young Ni berdandan dengan rapi sore ini. Jong Woon mengajaknya untuk makan malam. Mereka memang tidak berangkat bersama  karena Jong Woon ada urusan dulu tadi. Young Ni mengenakan gaun putih pemberian Jong Woon saat ulang tahunnya setahun yang lalu. Gaun putih selutut ini adalah favoritnya. Jong Woon selalu memujinya jika menggunakan gaun ini.

Sementara itu, Jong Woon sedang menunggu tak sabar di sebuah taman. Ia sudah menyiapkan kejutan di tempat lain untuk Young Ni. Hari ini ia harus mengembalikan image-nya.  Ia tidak mau selamanya Young Ni memandang dia dengan tatapan benci dan curiga.

Oppa?” panggil seseorang.

Jong Woon mencari asal suara. “Nugusaeyeo?”

Oppa lupa padaku? Tega sekali…ini aku  Im Yoon Ah. Ingat?” gadis itu tersenyum manis.

“Oh…ne!  kamu kan gadis kecil cengeng sebelah rumah  itu?”

Yoon Ah memukul Jong Woon pelan. “Ey…aku bukan gadis kecil lagi sekarang Oppa. Aku sering menangis karena Oppa yang mengangguku,” Ia mengerucutkan bibirnya.

“Ada apa kamu disini? Aku dengar waktu itu kamu pindah ke Paris.”

“Ne… aku kangen haramonni, jadi aku liburan kesini,” Yoon Ah memerhatikan Jong Woon dari ujung kaki sampai ujung kepala. “Wahh…Oppa sudah jadi sekeren ini sekarang. Emm… aku suka. Oppa sudah punya yeojachingu? Kalau tidak, aku mau menjadi yeojachingu Oppa.

Mwo?” Jong Woon kaget setengah mati.

“Hahahah… mianhae! Aku hanya bercanda. Akhirnya aku bisa membalas Oppa. Oppa menunggu seseorang?”

Ne,” Jong Woon tersenyum malu.

Geureom…aku pergi dulu Oppa. Senang bertemu lagi.”

Jong Woon berpikir sejenak. “ Tunggu…sudah lama kita tidak bertemu. Ige, sebagai salam karena bertemu lagi,”  Jong Woon memberikan bunga yang ia persiapkan untuk Young Ni.

Gomawo Oppa. Aku suka tulip! Tetapi, ini untuk yeojachingu Oppa kan?”

“Itu gampang! Ia tidak terlalu suka dengan  bunga.”

Gomawo Oppa!” Yoon Ah mencium pipi Jong Woon. “Oh… mianhae! Aku lupa ini bukan Paris,” Yoon Ah segera meminta maaf.

Gwaenchanha!” Jong Woon juga kaget

Annyeong Oppa!” Yoon Ah pergi.

Di sisi lain, Young Ni  melihat semuanya. Begitu hancur hatinya melihat Jong Woon dicium gadis lain. Apa lagi Jong Woon memberikan bunga kesukaannya pada gadis itu. Young Ni menguatkan diri untuk berbicara dengan Jong Woon.

Oppa!” ia terisak. Tepat berada di belakang Jong Woon

“Young Ni-ya…,” Jong Woon memutar badan dan langsung memeluk Young Ni

Young Ni menolak. “Oppa… kita akhiri saja semuanya,” tangisnya menjadi. “Aku sudah melihat semuanya. Oppa memang ingin menunjukkannya kan? Aku sudah lihat.”

“Lihat apa?” Jong Woon bingung.

“Aku memang tidak secantik dia. Aku tidak sebaik dia. Tetapi bisakah Oppa mengatakannya saja padaku?” kata Young Ni terbata.

“Maksudmu apa? Uljima…”

Oppa mencintai orang lain kan?”

Mwoya?Ania…”

“Jangan bohong padaku!” Young Ni melepaskan cincin pertunangannya. “Ige…,” Young Ni menaruh cincin itu di tangan Jong Woon. “Aku rasa sebaiknya kita sudahi. Aku benci Oppa!”

Young in berlari begitu saja meninggalkan Jong Woon. Sedangkan Jong Woon masih terpaku, ia belum mengerti  apa yang sebenarnya terjadi. Sebuah kado tergeletak di  tanah. Jong Woon memungutnya. Isinya sebuah dasi dan kartu ucapan dari Young Ni. Butuh waktu 15 menit untuk Jong Woon mencerna semua kejadian tadi.

“Young Ni marah padaku karena ia melihat Yoon Ah? Omo…,” Jong Woon segera berlari mengejar Young Ni.

ooOoOoo

Langit berangsur gelap. Lampu-lampu yang menyala di bumi berubah menjadi bintang untuk permukaan bumi. Sedangkan di langit, 1 bintang pun tidak terlihat. Petir mulai menggelegar, kilatan  cahaya sahut menyahut di langit. Sebagian besar orang berusaha untuk segera sampai rumah sebelum hujan datang.

Young Ni berjalan gontai. Airmatanya tidak berhenti mengalir. Dadanya terasa perih, sesak, sangat menyakitkan. Semua kenangannya dengan Jong Woon tiba-tiba berputar kembali  di otaknya. Semuanya terlihat sangat menyenangkan. Tetapi  kenapa sekarang berbeda? Kenapa di saat ia sangat mencintai Jong Woon, ia harus kehilangan dia?

Langit seperti  memahaminya. Langit ikut menangis bersamanya. Young Ni terus berjalan tanpa mempedulikan dirinya yang basah kuyup.  Ia terus saja berjalan. Tidak peduli kakinya mulai lecet. Semakin deras hujan, ia merasa semakin sendirian berjalan menelisuri trotoar jalan. Tidak ada satu orang pun yang mempedulikannya.

Jong Woon terus mencari. Ia sudah sampai di apartemen sebelum hujan turun. Tetapi ia tidak menemukan Young Ni di sana. Security apartemen juga tidak melihatnya. Jong Woon memutuskan untuk keluar mencari Young Ni di tengah hujan yang deras.

Jalanan cukup sepi. Hanya beberapa kendaraan yang melintas. Young Ni menunggu di seberang jalan dengan basah kuyup dan badan yang kedinginan. Tatapan matanya kosong. Entah kemana pikirannya melayang sekarang. Semuanya terjadi begitu cepat, dan itu pukulan keras baginya.

Young Ni mulai menuruni trotoar dan hendak menyebrang. Tidak ada kendaraan yang melintas. Young Ni berjalan perlahan karena kakinya lecet dan  perih terkena air hujan. Klekkk…! Heel high heels-nya patah di tengah jalan. Young Ni berusaha melepaskan sepatunya. Di kejauhan Jong Woon melihat Young Ni di tengah jalan.

“Young Ni-ya!” ia segera berlari menuju Young Ni

Young Ni yang tidak mengetahui Jong Woon memanggilnya masih berusaha melepaskan high heels-nya. Ia masih terisak.

“Young Ni-ya… menepi!” teriak Jong Woon. Masih terlalu jauh dari Young Ni

Akhirnya Young Ni berhasil melepaskannya. Namun sayang kakinya terkilir. Susah payah ia berjalan menuju seberang. Tiiitt…! Terdengar suara klakson mobil. Young Ni berusaha berjalan lebih cepat, tetapi ia malah jatuh. Ketika ia berhasil berdiri lagi, mobil itu sudah menabraknya.

“Young Ni-ya!!!” teriak Jong Woon berusaha menyelamatkan Young Ni, tetapi terlambat.

Mobil yang menabrak Young Ni segera kabur. Jong Woon tidak peduli lagi dengan mobil yang menabrak Young Ni. Ia segera berlari ke arah  Young Ni.

Jagi…. Gwaenchanhayeo? Bertahanlah… kita akan ke rumah sakit,” Jong Woon mencoba untuk tidak panik dan menelepon ambulance.

Oppa!” terdengar Young Ni memanggil. “Oppa,” katanya dengan tenaga yang tersisa.

Ne… bersabarlah. Kamu harus bertahan,” Jong Woon mulai menangis. “Kamu harus bertahan demi Oppa. Jebal… bertahanlah!”

Oppamianhae!”  Young Ni terbatuk dan darah keluar dari mulutnya.

AniaOppa yang salah. Jangan berkata seperti itu. Kamu akan baik-baik saja. Kuatlah!!!”

Oppasararranghae…”

Sarangahaeyeo! Jebal… bertahanlah!” Jong Woon melihat sekeliling. Tidak ada tanda ambulance yang datang. “Semua akan baik-baik saja. Bertahanlah, kamu tidak akan meninggalkan Oppa kan? Kamu sudah janji pada Oppa,eoh?

Young Ni tersenyum lirih. “Gomawo Oppa! saranghae!” Young Ni lemas

Jagiya… Young Ni-ya! Bangunlah, ini tidak lucu. Young Ni-ya… ironae!” teriak Jong Woon. “Ironaejebal!” Jong Woon  menangis sejadi-jadinya.

ooOoOoo

Bukkk…! Sesuatu mengenai kepala Choi Yeon Ni. Sebuah album foto yang terlihat tua. Ia sedang membersihkan gudang atas permintaan neneknya. Yeon Ni penasaran dengan isi album foto itu. Ada yang membuat ia kaget. Di dalam album itu terdapat fotonya sewaktu kecil dengan seorang anak perempuan yang mirip dengannya. Ia segera berlari mencari neneknya.

Haramonni! Odisoe?” Yeon Ni mencoba mencari.

Yeogi…”

“Aku menemukan ini. Nugundae?” Yeon Ni menunjukkan album foto itu.

Igeige…,” nenek bingung harus menjawab apa.

“Siapa ini haramonni? Kenapa  persis denganku? Apa aku punya saudara kembar?”

“Soal itu, tanya pada Appa-mu.”

“Ada apa?” ayah datang dengan sekotak coklat. “IgeAppa belikan coklat pesananmu.”

Appa… ini siapa? Dan yeoja ini siapa? Apa dia Eomma-ku? Jawab Appa! Selama ini Appa selalu bilang kalau Eomma meninggal dalam kebakaran dan tidak ada satu pun foto yang tersisa. Lalu siapa ini? Kenapa dia mengandengku dengan seorang anak perempuan yang sangat mirip denganku? ” Yeon Ni sangat penasaran.

“Ini cuma masa lalu. Makan saja coklatnya!”

Appa…aku sudah 20 tahun. Jangan perlakukan aku seperti anak kecil. Apa ini semua? Aku butuh penjelasan. Apa Appa menyembunyikan sesuatu dariku?”

“Masuklah…Appa akan menceritakannya,” ia menyerah

Yeon Ni mendengar semua kebenaran dari mulut ayahnya. Kebenaran yang telah lama dirahasiakan. Yeon Ni lahir di dunia ini tidak seorang diri, ia memiliki saudara kembar identik. Saat ia berusia 3 tahun, ayah dan ibunya bercerai. Mereka berpisah dan berjanji tidak akan saling menghubungi untuk selamanya. Mereka tidak akan meceritakan kepada anak mereka cerita yang sebenarnya.

“Jadi Appa menyembunyikan ini semua selama 17 tahun?” Yeon Ni kesal.

“Ini semua keinginan Eomma-mu!”

Weo? Kenapa Eomma tidak mau tahu tentang aku? Atau memberi tahu Appa tetang saudari kembarku?”

“Aku rasa karena Eomma-mu sangat membenci Appa. Jangan salahkan Eomma-mu. Ia mungkin mencarimu, tetapi Appa tidak ingin ia menemukanmu.”

Weo?” Yeon Ni tidak habis pikir.

Appa takut, ia akan mengambilmu dan menjauhkanku darimu seperti Appa dijauhkan dari Young Ni.”

“Young Ni Eonni?” Yeon Ni mencoba tenang. “Sekarang Appa tahu di mana Eomma dan Eonni?”

NeAppa selalu mengirim orang suruhan untuk memantau mereka.”

“Aku mau menemui Eomma!”

Ne… itu terserah kamu. Kamu sudah dewasa. Appa serahkan semua padamu.”

ooOoOoo

Yeon Ni berdiri terpaku di depan gerbang rumah ibunya. Pakaiannya serba hitam, begitu juga orang yang keluar masuk rumah itu. Yeon Ni melangkah dengan lunglai memasuki rumah itu. Sebuah karangan bunga besar dengan foto wajahnya terpampang di situ. Yeon Ni meneteskan airmata sambil berjalan memasuki rumah.

Ia melihat ibu menangis meronta di depan mayat yang menyerupai dirinya. Seorang pemuda juga terlihat menangis tidak jauh dari peti mayat itu. Yeon Ni melihat sekeliling. Orang-orang terlihat kaget melihatnya. Mereka seperti melihat hantu.

Eomma…,” suara Yeon Ni tertahan. “Eomma?”

Ibunya menoleh. Ia seperti melihat hantu juga. “Young Ni?”

Ania EommaNaega Yeon Ni imnida?”

“Yeon Ni-ya,” ia memeluk Yeon Ni. “Anakku… anakku!”

Eommamianhae! Aku baru menemui Eomma sekarang. Apa yang terjadi dengan Eonni?”

Eonni-mu sudah tidak ada… ia sudah meninggalkan kita,” ibu lemas seketika.

EommaEomma… bantu aku cepat!”

“Ah… ne!” Jong Woon yang sedari tadi juga merasa melihat hantu segera sadar dan membantu Yeon Ni.

ooOoOoo

Upacara pemakaman telah selesai. Yeon Ni dan Ki Bum sedang sibuk membereskan sisa-sisa upacara. Ibunya sekarang sedang berbaring di kamar. Ia sedang tidak enak badan. Selama upacara pemakaman tadi ia tidak henti-hentinya menangis dan jatuh pingsan. Ada sedikit perasaan bersalah di hati Yeon Ni. Ia seperti memperburuk  keadaan. Apalagi beberapa tamu terlihat keget melihatnya. Ia harus menjelaskan beberapa  kali kalau ia bukan hantu.

“Hey… Young Ni -ya?”

Nde?” lamunan Yeon Ni buyar. “Anianaega Choi Yeon Ni imnida.

“Syukurlah… saya kira hantu. Persis sekali sih… saya hanya bercanda.”

“Kita kan kembar identik. Anda siapa?”

Ki Bum mengulurkan tangan. “Kim Ki Bum imnida!”

“Oh… ne!  Anda temannya Eonni?”

Ania… tapi bisa dibilang begitu. Saya saeng-nya Jong Woon Hyeong, tunangannya  Young Ni.”

“Tunangan?” Yeon Ni kaget. “Eonni sudah bertunangan?”

Ki Bum mengangguk. “Kurang dari 2 bulan lagi mereka akan menikah. Tetapi sayang, Young Ni malah pergi untuk selamanya.”

“Saya juga belum sempat mengenalkan diriku padanya. Dia tidak akan pernah tahu kalau ia mempunyai saeng. Ia tidak akan pernah tahu kalau saya sangat mencintainya,” Tanpa sadar airmata Yeon Ni menetes.

“Ki Bum-ah…Hyeong akan menginap disini. Kamu pulang saja,” Jong Woon yang tiba-tiba datang langsung bicara.

“Yeon Ni-sshi… ini Hyeongku. Tunangan Young Ni!”

“Choi Yeon Ni imnida…,” Yeon Ni memberi salam

Ne… Kim  Jong Woon imnida. Saya tidak pernah tahu kalau Young Ni punya saudara kembar.”

“Saya juga baru tahu.Namun sayang, Eonni sudah tidak ada.” Ia menghela napas. “Gomapsumnida… kalian pasti selalu membawa kebahagiaan bagi Eonni. Jeongmal gamsahamnida,” Yeon Ni membungkuk 90 derajat.

Jong Woon pergi begitu saja. “Anda tidak perlu melakukan itu. Young Ni tidak pernah bahagia bersama saya.”

Hyeong…,” Ki Bum nyengir kuda. “MianhaeHyeong sedang tidak baik saat ini.”

“Oh… gwaenchanha! Ia pasti merasa sangat kehilangan. Mereka berdua pasti sudah saling memahami satu sama lain.  Eonni pasti sangat mencintainya. Ia namja yang baik. Saya yakin itu.”

“Hahaha… Yeon Ni-sshi pandai menilai orang. Kalau Yeon Ni-sshi butuh bantuan hubungi saja aku.”

Negomawo!”

ooOoOoo

“Selamat pagi Eomma!” Yeon Ni menyambut ibunya dengan pelukan hangat.

“Aku senang kamu ada di sini,” ibu terlihat sangat lemah. Ini hari pertama ia keluar dari kamar setelah 4 hari jatuh sakit. “MianhaeEomma malah merepotkanmu. Seharusnya Eomma yang mengurusimu. Kamu telah berpisah lama dengan Eomma. Kamu pasti tidak pernah merasakan kasih sayang dari Eomma.”

Ania Eomma…,” mempersilahkan duduk. “Aku sudah merasakan kasih sayang yang banyak dari Eomma, walalupun aku baru beberapa hari disini.”

“Kamu memang sangat baik. Sama seperti Young Ni!”

“Kita bersaudara,saudara kembar lagi. Ikatan batin kita sama, jadi kita pasti sama,”  memberikan sarapan pada ibunya. “Aku dengar dari Ki Bum, Eonni  sering membuatkan ini untuk Eomma. Mungkin rasanya akan beda. Tetapi semoga Eomma suka.”

“Hahhh…sudah lama Eomma tidak makan waffle. Sejak Young Ni tinggal dengan Jong Woon, tidak setiap hari  Eomma bisa mencicipi waffle buatan Young Ni.”

Eomma…maukah Eomma menceritakan bagaimana Eonni? Eonni itu seperti apa?”

“Ia sangat manja. Ia tidak pernah mau jauh dari Eomma. Ia hanya bisa membuat waffle dan omelet. Ia sangat periang, selalu bisa mencairkan suasana. Tetapi ia juga sangat keras kepala dan mudah terpengaruh. Ia juga ceroboh. Young Ni sangat suka coklat dan bunga tulip hitam. Ia akan kesal kalau kita mengacuhkannya. Ia haus akan perhatian. Kamu pasti sudah tahu kalau ia besar tanpa kasih sayang dari Appa kalian. Dan  Jong Woon memberikan itu semua.  Young Ni sangat mencintai Jong Woon. Jong Woon adalah segalanya bagi Young Ni.”

Eomma… aku memang berbeda dengan Eonni. Tapi aku akan berusaha sebaik mungkin agar aku bisa seperti Eonni,” Yeon Ni tersenyum

Eomma mencubit pipinya. “Ania… jadilah dirimu sendiri. Walaupun kalian memiliki  wajah dan fisik yang sama, kalian sebenarnya berbeda. Eomma tidak mau kamu menjadi Young Ni. Jadilah Yeon Ni, dirimu sendiri. Eomma akan lebih bahagia.”

Gomawo Eommasarangahe!” Yeon Ni memeluk Eommanya.

Saranghae! Eomma hanya mau satu, janganlah kamu pergi lagi dari sisi Eomma.

Ne…”

ooOoOoo

Tingtong….! Ada seseorang yang datang. Jong Woon yakin itu bukan Ki Bum, karena dia tidak perlu memencet bel.  Klek…! Jong Woon membuka pintu.

“Young Ni…ah, ania, Yeon Ni! Silahkan masuk.”

Gomawo Jong Woon-sshi…mianhae, saya pasti menganggu.”

Ania… ada perlu apa?”

Eomma meminta saya untuk membereskan barang-barang Eonni.

“Begitukah?” Jong Woon terlihat sedih

Eomma bilang Jong Woon-sshi mungkin tidak sempat. Jadi saya disuruh membereskannya.”

“Tidak bisakah barang-barang itu dibiarkan di sini?” Jong Woon memohon.

Nde?”

Jong Woon terlihat sangat berantakan saat ini. “Hanya ini yang saya miliki tentangnya. Tidak bisakah saya memilikinya?”

“Kalau itu mau Jong Woon-sshi…baiklah. Saya akan bilang pada eomma,” Yeon Ni tersenyum

Sontak Jong Woon kaget. Senyum itu mengingatkannya pada Young Ni. “Gomawo!”

“Kalau begitu aku permisi pulang! Annyeong…”

“Tunggu…mau menemani saya mengobrol sedikit?”

“Emmmm…baiklah!”

Akhirnya mereka berdua mengobrol. Jong Woon menceritakan semua yang ia tahu, ia rasakan tentang Young Ni. Yeon Ni dengan sangat senang mendengarkan.  Bukankah ia bisa mengenal Young Ni lebih dekat lagi? Hingga akhirnya Jong Woon menceritakan kejadian yang menyebabkan Young Ni tiada.

“Itu bukan salah Oppa!” Yeon Ni sudah mulai akrab dengan Jong Woon. “Aku yakin eonni tidak menyalahkan Oppa. Eonni saat itu sedang kalut. Ia pasti sudah menyadari kalau apa yang ia lakukan salah. Eonni tidak membenci Oppa. Jadi Oppa jangan menyalahkan diri Oppa terus.”

“Apa benar Young Ni berpikiran sama denganmu?”

Oppa…apa yang dirasakan eonni, aku juga merasakannya. Aku yakin, eonni selalu mencintai Oppa,” Yeon Ni tersenyum persis sama dengan Young Ni.

“Ah…ne!” Jong Woon tidak berani menatap   Yeon Ni lebih lama.

ooOoOoo

Yeon Ni sedang berbaring di kamarnya, tentu  saja sebelumnya itu kamar Young Ni. Semuanya tampak berbeda dengan kamarnya di rumah ayah. Kamar ini dipenuhi  dengan warna merah muda, warna kesukaan Young Ni. Sedangkan ia sangat menyukai warna biru. Barang-barang Young Ni juga sangat berbeda dengan yang ia miliki, sangat feminim. Sekarang ia baru menyadari kalau ia berbeda dengan Young Ni, jauh berbeda. Kesamaan mereka hanya fisik saja. Selebihnya berbeda.

Ibu sudah mengizinkannya untuk memiliki semuan barang milik Young Ni. Bukan ia yang meminta,  tetapi itu inisiatif ibunya sendiri. Sudah lama ia ingin membongkar barang-barang Young Ni, tetapi  ia tidak berani. Namun hari ini ia akan melakukannya, ada banyak hal yang ingin ia ketahui tentang kembarannya itu.

Ketika Yeon Ni sedang membuka lemari Young Ni, ia menemukan sesuatu.  Sebuah laci kecil yang tidak terkunci. Ia penasaran ingin mengetahui isinya.  Sebuah album foto mini ia temukan di situ. Yeon Ni kaget melihat isinya. Album itu berisi foto-fotonya. Ia sangat tahu kalau itu fotonya dari bagaimana gaya ia berpakaian. Ia tidak se-feminim Young Ni.

Foto pertama di halaman pertama album foto itu ada dirinya  dengan seragam SMP-nya.  Ia ingat, foto itu diambil oleh ayahnya ketika ia pertama kali masuk SMP. Ada foto dengan ukuran yang lebih kecil dijejerkan dengan fotonya.  Itu foto  Young Ni yang juga menggunakan seragam SMP. Terdapat beberapa kalimat dibawah foto itu.

Tada… ^_^

Hari ini hari pertama kita menjadi siswi SMP.Wahhh…senangnya! Bagaimana dengan dirimu saengi?  Seandainya kita bisa sekolah di tempat yang sama. Mari kita berusaha,FIGHTING!!!!  \(^.^)/

Yeon Ni-ya…Saranghae

Yeon Ni tersenyum sendiri sambil meneteskan airmata.  Ia tidak menyangka Young Ni sudah tahu tetang dia.  Dan selama ini Young Ni selalu memperhatikannya. Apakah ayah yang memberi tahu Young Ni? Dada Yeon Ni terasa sesak. Yeon Ni membuka halaman terakhir. Sekali lagi ia menemukan fotonya dan foto Young Ni dengan beberapa note di bawahnya.

Yeon Ni-ya… Saengil chukka hamnida!

Mianhae, Eonni lebih dulu akan meninggalkanmu. Lihat jari manis Eonni! Yappp… Eonni akan menikah dengan Jong Woon oppa. Eonni janji, setelah Eonni menikah Eonni  akan menemuimu. Eonni ingin lihat bagaimana ekspresimu. Pasti lucu…xixixixi. Kita selalu melakukan semuanya bersama, tetapi untuk yang satu ini Eonni mendahuluimu. Eonni janji ini yang terakhir, setelah ini kita akan melakukan apapun bersama. Satu lagi, Eonni harap kamu bisa menemukan namja yang baik seperti Jong Woon oppa. Kapan-kapan kita double date, eoh? Pyong… q(^.^)p

Eonni…Eonni sama sekali tidak  ada usaha untuk menepati janji. Aku terima Eonni menikah lebih dulu, tetapi kenapa Eonni juga harus meninggalkan dunia ini lebih dulu?” Yeon Ni menangis tanpa suara di kamar.

ooOoOoo

Ommonim!” panggil Jong Woon

Ibu Yeon Ni segera melepaskan peralatan berkebunnya. “Jong Woon-ah…akhirnya kamu ke sini lagi. Ommonim sangat kangen padamu. Aku kira kamu tidak akan mengunjungi  ommonim setelah Young Ni tidak ada.”

Mianhae ommonim…belakangan ini aku sibuk. Bagaimana kabar ommonim?”

“Baik…sangat baik. Ayo masuk…Ommonim buatkan minuman hangat.”

Gamsahamnida…”

Jong Woon dan  ibu Yeon Ni masuk kedalam rumah. Jong Woon dipersilahkan duduk di ruang tamu sedangkan ibu Yeon Ni membuatkan minuman di dapur.

Eomma…,” Yeon Ni  berlari kecil menuruni anak tangga. “Eomma…lihat!”

“Yeon Ni?” sapa Jong Woon.

“Ah…annyeong haseyeoOppa!” pipinya merah  karena malu sudah berlari-lari  seperti anak kecil. “Oppa, apa kabar?”

“Baik…kamu?”

Ne…,” Yeon Ni merasa percakapan mereka sedikit kaku. “Mianeomma mana?”

“Di  dapur!!”

Gomawo” Yeon Ni kembali berlari kecil.

Jong Woon senyum sendiri. Kelakuan Yeon Ni tadi sangat lucu. Jong Woon juga sempat terkesima melihat penampilan Yeon Ni. Biasanya gadis itu berpenampilan  sedikit tomboy, tetapi tadi ia terlihat berbeda. Jong Woon mengenali dress krem selutut yang digunakan Yeon Ni. Itu milik Young Ni, favorit Young Ni.

Eomma…,” panggil Yeon Ni dengan sedikit berbisik

Ne…”

“Kenapa Jong Woon Oppa ada di sini?”

“Memangnya tidak boleh? Ia kan mau mengunjungi Eomma…atau mungkin mau bertemu kamu?”

Mwo? Ey…tidak lucu Eomma!”

Ibu melihat ke arah Yeon Ni. “Omocham yeppoda! Kamu sangat cocok berpenampilan seperti ini.”

Eomma… kalau jelek bilang saja. Jangan terpaksa memuji begitu.”

Aigoo… nak Eomma  ini. Noemu yeppo… seterusnya kamu begini saja,” Eomma mencubit pipi Yeon Ni.

“Bolehkah Eomma? Apa aku mirip dengan Eonni?”

Nde?” Eomma mengerutkan kening.

“Aku ingin seperti Eonni. Apa dengan begini aku akan mirip Eonni?”

Ania… kalau begitu kamu jelek,” Ibu masih sibuk menyiapakan minuman untuk Jong Woon.

Weo? Tadi katanya yeppo?”

Eomma lebih suka kamu menjadi dirimu sendiri. Jangan pernah mau menjadi Young Ni. Kamu adalah kamu. Eomma  mencintaimu karena kamu adalah Yeon Ni. Kamu tahu? Young Ni akan marah kamu menirunya.”

Arayeo Eomma! Tetapi aku tetap boleh menggunakan benda-benda Eonni kan?”

Ne… asalkan kamu jangan berubah menjadi Young Ni. Ara?”

“O.K,  Eomma!”

ooOoOoo

Beruntungnya seluruh warga seoul hari ini. Weekend yang cerah, tidak boleh disia-siakan.

Oppa! Kita coba yang itu yuk?” Yeon Ni menunjuk sebuah roller coster.

“Kamu berani?” tanya Jong Woon.

Oppa meremehkanku? Tentu saja aku berani… kajja,” Yeon Ni menarik paksa Jong Woon.

Yeon Ni yang kegirangan memilih duduk di deretan paling depan. Jong Woon beberapa kali menolak, tetapi   Yeon Ni selalu bisa membujuknya –memaksanya. Sepanjang permainan Jong Woon hanya terdiam.  Ia sebenarnya sangat takut menaiki permainan ini, ia tidak  berani membuka matanya. Sedangkan Yeon Ni tertawa saking senangnya.

“Bagaimana Oppa?Seru? lagi yukkk!”

Andwaeshireo!Kita ke permainan yang lain saja.”

“Baiklah.”

Setelah  hampir seharian bermain mereka memutuskan untuk pulang. Yeon Ni yang kelelahan tertidur dengan pulas  di kursi penumpang. Jong Woon yang menyetir sesekali melirik ke arah Yeon Ni. Yeon Ni dan Young Ni, keduanya sama, tidak ada yang berbeda di  antara mereka. Senyum mereka, cara mereka berbicara, cara mereka membuat orang lain tertawa, semuanya sama. Entah kenapa Jong Woon merasa  kalau Young Ni berada di dekatnya sekarang. Dalam wujud yang nyata.

Eomma….Eomma!” Yeon Ni mengigau. “Eomma… jangan pergi Eomma.

Jong Woon membelai rambut Yeon Ni  pelan untuk membuatnya tenang. Tiba-tiba jantung Jong Woon berdetak lebih cepat. Napasnya tidak teratur. Ia segera menaruh kembali tangan kirinya di setir mobil.

“Perasaan apa ini? Aniaania,” gumamnya.

Oppa…ada apa?” Yeon Ni terbangun

Animmidagwaenchanha.

Oppa…aku lapar. Kita bisa  makan dulu tidak?” Yeon Ni nyengir.

ooOoOoo

Yeon Ni berjalan sedikit sempoyongan memasuki sebuah restauran. Jong Woon yang ada di belakangnya sedikit khawatir. Yeon Ni melihat sekeliling, mencari tempat duduk yang nyaman.

“Oh…di sebelah sana Oppa!”

Bukkk…! Seseorang menyenggol Yeon Ni. Sontak Yeon Ni  yang sedari tadi sempoyongan, hendak jatuh. Jong Woon dengan sigap menahan Yeon Ni sebelum jatuh.

Gwaenchanha?”

“Oh…ne Oppa! Gomawo,” Yeon Ni segera berdiri lagi.

“Kamu kurang enak badan?” Jong Woon tetap memegangi Yeon Ni dan menuntunnya ke meja mereka.

Ania…,” dug…dug…dug! Jantung Yeon Ni berdetak cepat.

“Kamu mau makan apa?” tanya Jong Woon perhatian.

“Emmm…,” Yeon Ni yang sedari tadi melamun, kaget. “Apa ya? Emm…,” ia membolak balik menu.

“Tolong…black paper schrimp pasta 2,” kata Jong Woon pada pelayan

Mwo?” Yeon Ni bingung

“Young Ni sangat menyukainya. Apa kamu tidak mau?’

Ania… aku akan mencobanya. Kalau eonni menyukainya, aku pasti suka,” Yeon Ni tersenyum. “ Tolong manggoberry soda juga,” katanya pada  pelayan.

Ania…jangan manggoberry soda. Kamu sedang kurang enak badan kan? Manggoberry juice dan  cappuccino!”

“Mohon ditunggu sebentar,” kata pelayan.

Gomawo Oppa!”

“Emm,” Jong Woon melihat ke arah luar restauran.

Restauran ini memang  mendesain tempatnya dengan jendela super besar di bagian depat restauran. Jadi hampir separuh restauran ini menggunakan kaca sebagai dindingnya. Yeon Ni sedang asik mengutak- atik ponselnya.

“Wah…sudah tanggal 3 oktober!” celetuknya.

Ne…,” jawab Jong Woon datar. Tatapannya masih ke luar restauran.

Yeon Ni penasaran dengan yang dilihat Jong Woon. “baju pengantin di butik seberang bagus sekali, yepposeo.

“Hahhh…,” Jong Woon menghela napas.

“Emmm…tunggu!” Yeon Ni berpikir sejenak. “Ahhh…hari ini kan?”

Ne…seharusnya hari ini pernikahanku dan Young Ni.”

Mianhae Oppa…”

“Ini bukan salahmu,” kata  Jong Woon lesu. “Ini semua salahku.”

Ania OppaOppa jangan bilang begitu.Emmm…. Oppa mau mengantarku ke suatu tempat setelah ini?”

“Kemana?”

“Ikut saja…oke? Aku janji akan membuat Oppa tersenyum lagi. Senyum, eoh?” Yeon Ni tersenyum.

ooOoOoo

Jong Woon merebahkan dirinya di kasur putih miliknya. Segala rasa penatnya seketika hilang, yang ada di otaknya hanya wajah Young Ni atau Yeon Ni. Jong Woon mengambil foto Young Ni yang ia simpan di dalam laci. Ia menatapnya lekat-lekat, timbul rasa bersalah itu lagi di hati Jong Woon.

“Young Ni-ya… mianhae! Oppa sedang kacau sekarang. Oppa melihat dirimu di dalam diri Yeon Ni, apakah Oppa salah? Kenapa kamu mengirim Yeon Ni pada Oppa, apa karena sebenarnya Yeon Ni adalah kamu? Jawab Oppa Young Ni-ya! Oppa tidak mau melupakanmu. Oppa ingin terus mencintaimu. Salahkah Oppa jika Oppa mencintaimu melalui Yeon Ni?”

ooOoOoo

Eomma…,” teriak Yeon Ni sambil berlari kecil menuju ibunya yang sedang menyiram bunga.

“Ada apa? Kelihatannya senang sekali?”

Naega chingu mau datang hari ini. Bolehkan Eomma?”

“Boleh! Yeoja atau namja?”

Namja… tidak boleh?”

“Boleh…,” Eomma tersenyum. “Belakangan ini Eomma sering melihatmu dengan Jong Woon. Apa kalian pacaran?”

Ania…mana  mungkin aku pacaran dengan tunangan eonni. Eomma jangan aneh-aneh.”

Eomma  tidak keberatan kamu bersama Jong Woon. Young Ni  juga pasti mengizinkan. Jong Woon namja yang baik. Eomma lihat dia sangat perhatian padamu.”

Shireo… aku tidak akan menghianati Eonni.”

“Tetapi bagaimana kalau Young Ni mengizinkan?”

“Tidak mungkin…Eonni sangat mencintai Oppa, Eonni tidak akan melepaskan Oppa untuk siapapun,” Yeon Ni mulai tidak sabaran.

“Bagaimana kalau…,” ibu senang menggoda. “Bagaimana kalau Jong Woon mencintaimu?”

Eomma…aku dan Eonni berbeda. Oppa hanya mencintai Eonni. Itu tidak akan berubah. Sudah deh Eomma, jangan berpikir yang aneh-aneh.”

Arayeomianhae. Tetapi Eomma akan senang melihatmu bisa bersama Jong Woon.”

Aishhh…,” Yeon Ni meninggalkan ibunya. Ia tidak mau mendengar kata-kata itu lagi.

ooOoOoo

Yeon Ni sedang santai di beranda rumah. Sore ini temannya berjanji akan datang. Sudah lama ia tidak bertemu dengannya. Sambil menunggu Yeon Ni kembali membuka album foto mini milik Young Ni. Ia membuka sembarang album itu. Ia menemukan halaman dengan fotonya yang sedang sakit. Ia ingat foto itu diambil 1 tahun yang lalu. Saat ia  pertama kali dirawat di rumah sakit. Di sebelahnya ada foto Young Ni dengan kompresan di kepalanya.

My lovely sister… T.T

Mianhae eonni tidak bisa menjengukmu. Eonni juga sedang demam. Sepertinya apa yang kamu rasaka, Eonni juga merasaknnya. Apa ini namanya ikatan batin anak kembar? Tetapi, seandainya Eonni meninggal lebih dulu, kamu jangan ikut ya? Tolong jaga Eomma, Appa dan Jong Woon oppa. Tolong gantikan posisi Eonni di samping Jong Woon oppa. Eonni kok ngomong ngelantur ya? Heheheh ^.^ bercanda… kita akan hidup bersama selamanya.

Pyong…cepat sembuh.

Eonni babo…maksudnya apa berbicara seperti itu? Ia seperti tahu saja kalau ia akan meninggalkanku lebih dulu.Tuh kan…akibatnya sekarang benar terjadi,” Yeon Ni kesal sendiri.

What wrong?” suara seorang pemuda mengagetkannya.

Omo…Kris Oppa?” ia memeluk Kris erat.

How are you? Are you Yeon Ni? You look so different,” Kris melihat ke arah Yeon Ni teliti.

AndwaeOppa ini aneh. Aku tidak mengerti  Oppa berbicara apa. Jadi hentikan!”

“Hahahaha…mianhae! Lumayan susah menemukan  rumahmu. Oppa kaget ketika tahu kamu sudah tidak tinggal dengan Ahjusshi.

Eomma lebih membutuhkanku…kajja!” Yeon Ni menarik tangan Kris dan mengajaknya masuk ke rumah. “Eomma…”

Ne…”

Eomma…ini Kris Oppa! Dia ini bodyguard-ku” Yeon Ni tertawa kecil.

Annyeong haseyo, Ahjumma!” Kris memberi salam.

“Ah…ne!”

ooOoOoo

Oppa mau kemana? Aku siap mengantar!”

“Kemana saja, Oppa menurut!” Kris mengacak-acak rambut Yeon Ni.

“Ihhh…Oppa!”

Mereka berdua bercengkrama di halte  bis sambil menunggu bis datang. Di kejauhan Jong Woon melihat mereka berdua. Ia memelankan mobilnya dan memarkirkannya tidak jauh dari halte bis

“Yeon Ni-ya,” panggilnya sedikit berteriak. Ia turun dari mobil.

“Siapa  itu?” tanya Kris.

“Mana?” Yeon Ni  melihat ke arah yang ditunjuk Kris. “Ooo…Oppa!” Yeon Ni melambaikan tangannya.

Annyeong haseyo…,” Kris memberi salam.

Ne…,” Jong Woon mengabaikan Kris. “Yeon Ni-ya, mau kemana? Oppa baru saja mau ke rumahmu.”

“Aku mau jalan-jalan dengan Kris Oppa. Oh iya, perkenalkan ini Kris Oppa.”

“Kim  Jong Woon imnida.

“Kris Wu imnida,” Kris menoleh ke arah Yeon Ni.

“Jong Woon Oppa adalah tunangan Eonni!” Yeon Ni menjelasakan.

“Aaaah…Algessoeyeo!” Kris tersenyum.

“Emmm…bagaimana kalau kalian aku antar. Aku juga berniat mengajak Yeon Ni jalan-jalan. Kebetulan sekali kan?

Jinja, Oppa? Kajja!!” Yeon Ni menggandeng Kris.

Raut wajah Jong Woon berubah. Ia kesal melihat Yeon Ni akrab dengan Kris. Yeon Ni dan Kris duduk di kursi belakang. Yeon Ni menolak untuk duduk di samping Jong Woon. Jong Woon hanya bisa menerima, walaupun hatinya sangat kesal. Kenapa ia  seperti supir saja?

Setelah sekian jam berjalan-jalan, mereka memutuskan untuk memasuki café ice cream. Jong Woon masih saja kesal. Sedari tadi ia tidak diacuhkan oleh Yeon Ni. Yeon Ni tidak pernah melepaskan gandengan tangannya dari lengan Kris. Kris juga memperlakukan Yeon Ni dengan sangat istimewa.

Oppa…coba yang ini,” Yeon Ni menyuapi Kris dengan satu sendok penuh ice cream coklat. “Otthe?”

“Tidak enak…coba yang ini,” Kris melakukan hal yang sama.

“Tidak enak juga,” mereka berdua tertawa dengan lelucon garing mereka.

Jong Woon hanya diam melipat tangan di dada. Yeon Ni tidak menganggapnya ada. Pemandangan di depan matanya sekarang membuatnya gerah. Ia memang berbeda dengan Kris. Kris terlihat tampan dengan kemeja coklat dan jeans. Sedangkan ia menggunakan setelan jas hitam dengan kemeja berwarna biru tua. Ia mau jalan-jalan apa ke kantor?

Oppa tidak mau coba?” tanya Yeon Ni kepada  Jong Woon.

Aniagomawo.

“Ayolah Oppa…enak tahu.”

Shireo,

“Ihk Oppa…dimana-mana kalau ke café ice cream itu untuk makan ice cream bukannya minum kopi,” Yeon Ni melirik ke gelas kecil moccacino di depan Jong Woon.

“Baiklah…,” setelah berpikir panjang Jong Woon mengiyakan.

Ige…,” Yeon Ni memberikan mangkuk ice cream-nya.

Jong Woon menatap bingung. “Nde?”

Ige…silahkan dicoba.”

“Baiklah!” Jong Woon nampak kecewa. Ia berharap Yeon Ni akan menyuapinya seperti Kris.

ooOoOoo

“Yahhh…Oppa harus kembali sekarang juga?” rengek Yeon Ni pada Kris

MianhaeI must go right now!”

Andwae, Oppa…aku masih kangen sama Oppa.

Jong Woon mengomel dalam hati melihat adegan perpisahan romantis di depannya. “Biarkan saja dia kembali ke asalnya,” gumamnya dengan suara kecil, sangat kecil.

Sorry, I will miss you! Oppa janji akan berkunjung lagi.”

“Baiklah…,” Yeon Ni mengalah. Ia memeluk Kris erat. “Oppa janji?”

Ne…”

“Yeon Ni-ah… sudahlah, Kris mau pulang. Jangan lama-lama memeluknya, nanti Kris malah ketinggalan pesawat,” kata Jong Woon jutek.

Morago?” Yeon Ni menangkap maksud lain dari perkataan Jong Woon.

He is jealous! I think he like you.”

Oppa…,” bibir Yeon Ni mengurut kesal.

Really… look at his eyes. He wants to kill me. Do you like him?”

Ania…,” Yeon Ni meminta Kris menunduk. “Sudah aku bilang tadi, dia tunangannya Eonni,” bisiknya

“Emm… but your sister dead,”

“Sudahlah Oppa…pulang sana! Palli kka!!!”

Arayeo… kamu ini masih suka mengambek,” Kris mencium kening Yeon Ni. “Good bye!?”

Annyeong!” Yeon Ni melambaikan tangan hingga Kris tidak terlihat lagi.

Jong Woon menarik tangan Yeon Ni.  Yeon Ni yang kaget hanya melongo.

Oppa… pelan-pelan.”

Kajja pulang!” nada suaranya masih jutek

Ara…”

Yeon Ni duduk di samping Jong Woon. Jong Woon masih saja cemberut. Yeon Ni yang tidak mengerti  juga acuh tak acuh. Setelah sekian lama diam, Jong Woon angkat bicara.

“Kamu sangat dekat dengan Kris.”

“Emm… sangat sangat dekat!”

“Apa hubunganmu dengan dia?”

“Kris Oppa adalah angel-ku! Segalanya…,” jawab Yeon Ni santai

“Kalian membicarakan apa saja tadi? Pakai acara menggunakan bahasa inggris segala,” Jong Woon mendengus.

Mianhae… tidak ada yang penting!  Kris Oppa memang sudah lama tinggal di Canada. Jadi sedikit susah berbicara bahasa Korea,  terlebih dia bukan orang Korea.”

“Terus apa maksudnya dia mencium keningmu? Apa  tidak malu dilihat orang?” Jong Woon terdengar semakin jutek.

Weo? Salah memangnya?”

“Jelas salah…  Oppa mengerti kalian pacaran. Tetapi lihat-lihat tempat kalau mau bermesraan.”

Tawa Yeon Ni langsung meledak. “Oppaania! Aku tidak pacaran dengan Kris Oppa. Dia sepupuku, dia sudah seperti kakak kandungku. Oppa aneh sekali.”

Mwo?” pipi Jong Woon berubah merah. “Jadi Kris sepupumu? Emmm…mianhae.

Oppa, kenapa sangat marah tadi? Dia hanya mencium keningku, bukankah masih wajar?” kata Yeon Ni polos.

“Hanya saja….emmmm…hanya saja…,” Jong Woon melirik ke arah Yeon Ni.

Mwondae  Oppa?” Yeon Ni meminta jawaban segera.

Aniaania… jangan dibahas lagi.”

Yeon Ni tertawa kecil. “Oppa aneh! Tapi…gomawo sudah mau mengantar kita jalan-jalan.”

ooOoOoo

“Ehem…ehem…,” ibu membuyarkan lamunan Yeon Ni.

Eomma?” Yeon Ni segera menyembunyikan sesuatu.

“Kenapa senyum-senyum sendiri? Sejak 2 hari lalu senyum terus.”

Obseyeo Eomma…tidak ada apa-apa,” Yeon Ni berbohong.

Eomma mencubit pipi Yeon Ni. “Jangan bohong… Eomma tahu kamu bohong. Kamu sedang jatuh cinta kan?”

Ania…”

“Sama Jong Woon kan?”

Nde?” Yeon Ni kaget mendengar kata-kata ibunya.

Eomma mendukung dengan sangat… Young Ni pasti senang.”

Eomma…,” rengek Yeon Ni manja. “Aku tidak sedang jatuh cinta, Eomma.

“Sudahlah… Jong Woon ada di bawah!” kata Eomma sambil berlalu dari kamar Yeon Ni.

Mwo?”

Yeon Ni lupa kalau ia ada janji dengan Jong Woon untuk makan malam. Ia segera berlari ke arah lemari. Mengubrak-abrik isi lemari, mencoba satu persatu bajunya. Tetapi tidak ada yang terlihat bagus dan cocok untuk ia kenakan. Yeon Ni uring-uringan di kamar. Tiba-tiba terlintas di benaknya untuk menggunakan baju milik Young Ni.

Eonni… aku pinjam bajunya, eoh?”

Ia kembali mencoba satu persatu baju Young Ni. Semuanya tampak bagus dan cocok untuknya. Ia akhirnya memutuskan menggunakan salah satu diantara baju-baju itu.

ooOoOoo

Jong Woon membukaan pintu mobil untuk Yeon Ni. Yeon Ni turun dengan perlahan. Ia terlihat sangat cantik malam ini dengan dress biru langit milik Young Ni. Ia juga pandai merias diri, walalupun sedikit dibantu oleh ibunya.

“Tumben sekali kamu berdandan kalau aku ajak makan malam?” tanya Jong Woon setelah mempersilahkannya duduk.

Oppa tidak suka? Hehe mianhae… tidak cocok, emm? Eomma yang memaksa… lagian ini punya Eonni. Aku cuma pinjam,” pipi Yeon Ni memerah.

“Kamu demam?” Jong Woon memegang kedua pipi Yeon Ni.

Yeon Ni hanya bengong. “ Oppa…”

“Pipimu semakin merah…,” Jong Woon mendekatkan wajahnya pada  Yeon Ni. “Gwaenhanahayeo?” tangan Jong Woon berpindah ke kening Yeon Ni.

“Emm,Oppa! Gwaenhanha,” Yeon Ni segera memalingkan wajahnya.

“Ah…mianhae!”

Pelayang datang dengan daftar menu. “Silahkan, Tuan kim!”

“Tolong makanan biasa!!?” kata Jong Woon

“Baiklah,” pelayan pergi.

Yeon Ni masih termenung. Ia mengatur napasnya dan mencoba tenang. “Oppa sering makan di sini?”

Ne…ini restauran favorit Young Ni. Aku rasa kamu juga akan suka.”

“Oh… aku rasa aku mulai menyukainya,” senyum Yeon Ni seperti terpaksa.

Beberapa menit kemudian, pelayan datang. “Silahkan…,” kata pelayan

Gomawo!” jawab Jong Woon.

“Ini apa?” tanya Yeon Ni melihat makanan di depannya

“Kamu tidak suka? Oh….mianhae. Young Ni biasanya memesan itu… jadi aku kira kamu akan suka.”

“Oh…. Aku suka Oppa!Neomu joa…,” bohongnya

“Baguslah kalau begitu. Aku senang kamu menyukai apa yang Young Ni suka.”

Ne…,” Yeon Ni tersenyum lirih.

ooOoOoo

Yeon Ni uring-uringan di kamar. Ia kesal karena acara makan malam tadi. Jong Woon selalu menyama-nyamainya dengan Young Ni. Padahal sebenarnya mereka berbeda. Yeon Ni memang sempat mencoba apa yang disukai Young Ni, itu pun hanya untuk mengenal lebih dekat dengan Young Ni. Tetapi kenapa Jong Woon seperti berusaha untuk merubahnya menjadi Young Ni.

Eonni,” kata Yeon Ni pada foto Young Ni. “Jujur… aku mulai menyukai Jong Woon Oppa. Dia orang yang baik, perhatian, dewasa walaupun memang sedikit aneh persis seperti yang Eonni ceritakan. Tetapi aku merasa Oppa melihatku sebagai Eonni, bukan diriku. Aku tidak berharap Oppa akan memiliki perasaan yang sama denganku. Karena aku tahu, Oppa sangat mencintai Eonni. Eonnimainhae karena aku  memiliki perasaan pada Oppa. Mianhae… kalau Eonni tidak setuju, aku harap Eonni bisa menjauhkannya dariku.”

ooOoOoo

Semakin hari Jong Woon semakin perhatian pada Yeon Ni. Yeon Ni menyukai itu, hanya saja ada rasa kecewa yang sangat besar di hatinya. Jong Woon memperlakukan Yeon Ni seperti Young Ni. Yeon Ni penasaran, apakah perhatian Jong Woon selama ini padanya hanya karena ia adalah saudara kembar Young Ni? Atau karena Jong Woon mencintainya?

Oppa!” panggil Yeon Ni.

’Nde?”

“Kenapa Oppa membawa aku ke sini?”

Mereka berdua sedang berada di pinggir sungai Han.

“Ada sesuatu yang ingin Oppa katakan padamu.”

Mwondae?” kata Yeon Ni polos.

Jong Woon memeluknya erat,“Saranghae.

Mwo?” Yeon Ni kaget. Ia pasrah saja dipeluk Jong Woon tanpa balas memeluk.

Saranghamnida, Yeon Ni-ya.”

“Tetapi kenapa Oppa?” Yeon Ni melepaskan pelukan Jong Woon pelan.

“Apakah harus ada alasan untuk mencintai seseorang?”

“Memang tidak… tetapi aku butuh.”

“Aku mencintaimu karena hatiku menginginkannya. Kamu hadir setelah Young Ni pergi, dan aku sangat bersyukur. Aku bersyukur bisa mencintaimu.”

Yeon Ni meneteskan air mata. “Oppa mencintaiku karena Eonni? Karena aku adalah saudara kembar Eonni?”

Ania…bukan begitu,” Jong Woon bingung.

Nan arayeo Oppa, aku bisa merasakannya. Setiap tatapan Oppa padaku hanya untuk Eonni. Perhatian Oppa untukku ditujukan untuk oennie. Di mata Oppa, aku adalah Choi Young Ni bukan Choi Yeon Ni. Cinta Oppa untuk Eonni dan Oppa melampiaskannya padaku.”

Ania Yeon Ni-ya… dengarkan Oppa!”

Yeon Ni mengusap airmatanya. “Mianhae Oppa… aku  tidak mencintai Oppa. Aku melihat Oppa sebagai calon suami Eooni, tidak lebih.”

“Jangan berbohong padaku…Oppa tahu kamu berbohong.”

“Apa yang Oppa tahu tentang aku?” tangis Yeon Ni meledak. “Selama ini Oppa hanya mengajarkan aku untuk menjadi Eonni. Aku berbeda dengan Eonni. Tidak semua hal yang Eonni suka, aku juga akan menyukainya.”

Mianhae… aku mencintaimu bukan karena kamu kembaran Young Ni. Dan aku tidak pernah berniat untuk merubahmu menyadi Young Ni,” Jong Woon mencoba menenangkan Yeon Ni.

“Lepaskan Oppa!” Yeon Ni menjauhkan diri dari Jong Woon. “Oppa tahu, aku benci berada di pinggir sungai sedangkan Eonni menyukainya. Di sungai ini pertama kali Oppa menyatakan cinta pada Eonni,” Yeon Ni tertawa mengejek. “Terus sekarang, Oppa mengulangnya padaku. Oppa, aku tidak bodoh.”

“Baik…Oppa tahu Oppa salah. Oppa berjanji akan melihatmu sebagai Yeon Ni bukan Young Ni. Tetapi yang terpenting, Oppa benar-benar mencintaimu.”

Mianhae Oppa… tetapi aku tidak.” Yeon Ni pergi meninggalkan Jong Woon yang berdiri terpaku.

ooOoOoo

Yeon Ni berjalan gontai meninggalkan Jong Woon. Entah kenapa  peristiwa yang terjadi pada Young Ni dan  Jong Woon terulang padanya. Udara cukup dingin, dan Yeon Ni tidak menggunakan jaket. Ia berjalan sambil menggosokkan tangannya satu sama lain. Ia mencoba tenang, jangan sampai ia menangis. Ia terus berjalan tidak tentu arah. Lebih tepatnya ia tersesat. Ia tidak bisa menemukan halte bis.

“Ah… itu halte bisnya!” akhirnya, Yeon Ni melihat  halte bis di seberang jalan.

Yeon Ni melihat ke kiri dan ke kanan memastikan keadaan sepi untuk menyebrang. Tempat penyebrangan terlalu jauh. Ia malas harus menyembrang ke sana. Setelah memastikan semuanya aman ia menyebrang. Ketika baru separuh menyebrang. Sebuah mobil dengan kecepat penuh menuju ke arahnya. Yeon Ni segera berlari, sebelum ia tertabrak.

Tinitinnnn…!

Orang yang mengemudi itu mengumpat kesal. Yeon Ni hanya bisa mengelus dada. Yeon Ni duduk menunggu bis. Ia melihat sekeliling untuk mengurangi bosan.  Tepat di tempatnya menyebrang tadi, ia melihat sebuah benda  yang berkilau.

“Itu kan?” Yeon Ni menyadari kalau jepitan rambut milik Young Ni yang ia pinjam terjatuh. “Omo… itu jepitan rambut favorit Eonni.

Sekali lagi Yeon Ni melihat ke kiri dan ke kanan, memastikan tidak ada kendaraan seperti tadi. Di kejauhan ia melihat sebuah mobil. Mobil itu tepat mengarah pada jepitan rambut itu. Yeon Ni panik, jangan sampai mobil itu menggilas jepitan itu. Yeon Ni segera berlari menyelamatkan jepitan rambut itu.

Tinnnn…tin…tin…tinnn!

Mobil itu  memberi isyarat untuk Yeon Ni agar menepi. Yeon Ni tidak bisa menemukan jepitan rambut itu. Kenapa ketika dicari lebih dekat malah tidak terlihat?

“Yeon Ni-ah… menepi!” teriak Jong Woon yang baru berhasil menemukan Yeon Ni.

Mobil yang berkecepatan tinggi itu berusaha untuk mengerem, tetapi gagal. Yeon Ni tertabrak, dan tidak sadarkan diri. Pemilik mobil segera membantu Yeon Ni dan membawanya ke rumah sakit.

Ahjusshi… aku mengenalnya. Aku ikut,” kata Jong Woon terengah-engah

ooOoOoo

Jong Woon berjalan pasti menuju kamar tempat Yeon Ni dirawat. Satu bucket bunga mawar berada di genggaman tangannya. Senyum Jong Woon merekah.

“Yeon Ni-ya,” panggilnya sambil membuak pintu. “Yeon Ni?” ia tidak menemukan siapapun di kamar kecuali perawat yang sedang membereskan kamar.

Mianhamnida…,” kata perawat

“Pasien  yang ada di sini kemana?”

“Nona Choi sudah pulang tadi pagi.”

Mwo? Gomawo!” Jong Woon segera berlari menuju basemen rumah sakit.

30 menit kemudian ia sampai di rumah Yeon Ni. Tanpa mengulur waktu ia segera masuk ke dalam rumah.

Ommonim!” panggilnya.

“Oh… Jong Woon!” ibu Yeon Ni kaget.

“Yeon Ni mana?” Jong Woon  melihat di sekeliling rumah.

Ibu Yeon Ni bingung harus menjelaskan seperti apa. “Mianhae… Yeon Ni Appa datang menjemptnya untuk dibawa ke Canada.”

“ke Canada?”

Ne… Kris merekomendasikan Yeon Ni untuk dirawat di sana demi kesembuhan kakinya. Kamu tahu sendiri bagaimana akibat kecelakaan tersebut?’

“Ah…ne.

Sejak kecelakaan itu Yeon Ni selalu berada di rumah sakit untuk menjalani perawatan. Akibat kecelakaan itu, kedua kaki Yeon Ni tidak bisa berfungsi lagi.

“Kapan Yeon Ni akan  kembali?” tanya Jong Woon lesu.

Ommonim tidak tahu. sebenarnya Ommonim juga akan menyusul ke sana. Tetapi Ommonim harus menyelesaikan semua urusan dulu di sini.”

“Jadi… bisa saja  Yeon Ni dan Ommonim akan menetap di sana?”

Ommonim tidak tahu… mungkin bisa seperti itu. Kaki Yeon Ni tidak bisa di sembuhkan dengan cepat.”

Jong Woon melihat ke arah jam. “Pesawat Yeon Ni berangkat jam berapa?”

“Jam 9 pagi katanya…”

“Aku permisi Ommonim!”

ooOoOoo

Yeon Ni hanya bisa duduk di kursi roda. Ayahnya sedang mengurus untuk persiapan keberangkatnnya. Kris berdiri di belakangnya.

“Kamu kenapa melamun?” tanya Kris

Obseyeo Oppa… aku hanya lelah.”

“Jong Woon tidak datang? Apa kamu tidak memberi tahunya?”

“Emm… ia tidak perlu tahu,” kata Yeon Ni lesu.

Kris berpindah ke hadapan Yeon Ni dan berlutut agar bisa melihat Yeon Ni jelas. “Lihat mata Oppa… apa kamu mencintainya?”

Ania…,” Yeon Ni masih tertunduk

“Lihat mata Oppa!”

“Jong Woon Oppa hanya mencinta Eonni… aku tidak pantas mencintainya.”

“Baiklah,” Kris menyentil kening Yeon Ni. “ Oppa harap ini keputusan terbaikmu.”

Ayah Yeon Ni datang dengan tiket dan passport mereka. “Kajja… kita harus masuk sekarang.”

Kajja Oppa!”

Kris mendorong kursi roda Yeon Ni pelan memasuki ruang tunggu penumpang.

ooOoOoo

Jong Woon berlari sekuat tenaga untuk mencapai lobby bandara. Sebuah pesawat terbang baru saja lepas landas. Jong Woon berharap itu bukan pesawat yang ditumpangi Yeon Ni. Jong Woon mencoba dapat kepastian dengan melihat notification board.

“Canada… Canada,” Jong Woon mencoba menemukan jadwal penerbangan. “Take off?” Jong Woon sangat kecewa.

Ia belum sempat menjelaskan semuanya pada Yeon Ni. Ia belum bisa menunjukkan kalau ia mencintai Yeon Ni karena ia melihat Yeon Ni sebagain Yeon Ni bukan Young Ni.  Jong Woon menyalahkan dirinya sendiri. Ini untuk kedua kalinya ia menyakiti seseorang.

~THE END~